TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Covid-19

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label Covid-19. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Covid-19. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Desember 2021

Deteksi Dini, Cegah Disabilitas akibat Kusta

Deteksi Dini, Cegah Disabilitas akibat Kusta

Ilustrasi: NLRInternational.org


SEBAGAI ojek online (ojol), saya paling merinding alias takjub jika melihat dua hal di jalanan. Tepatnya, kepada sesama rekan driver yang sama-sama mencari nafkah mengandalkan aplikasi. 

Pertama, rekan ojol yang difabel. Misalnya, yang saya sering lihat sehari-hari, driver tersebut hanya punya satu tangan, kaki, hingga bagian anggota tubuh lainnya yang tidak lengkap. Pun dengan penyandang disabilitas seperti tuna rungu dan wicara.

Selanjutnya, lady ojol. Yaitu, julukan untuk rekan driver wanita yang rela panas-panasan di bawah terik matahari saat siang hingga menari di bawah guyuran hujan deras. Tak jarang, lady ojol ini ada yang bawa anaknya demi mengantar makanan atau barang orderan customer.

Kedua tipe itu yang bikin saya takjub, sekaligus sangat hormat serta respek. Sebab, dengan keterbatasan fisiknya, ojol difabel mampu mandiri. Jujur, saya kadang suka kesal sama anak muda yang masih segar dan sehat jasmani, tapi malas bekerja.

Kadang, jika sedang bersama rekan ojol difabel, saya suka malu sendiri. Jika penyandang disabilitas saja giat mencari nafkah, tentu saya yang fisiknya lengkap tidak boleh loyo. Harus semangat seperti mereka.

Ya, kekurangan fisik tidak jadi halangan bagi penyandang disabilitas. Itu berlaku pada semua profesi. Alias, tidak hanya ojol saja. 

Contoh, saya sering membeli jajanan seperti kerupuk atau cemilan dari pedagang yang tuna netra. Hebatnya, beliau tidak ingin dikasihani. Alias, hanya mau menerima harga yang sudah disebutkan. 

Misalnya, kerupuk satu bungkus Rp5.000. Maka, pedagang tersebut dengan tegas menolak jika ada yang ingin memberi Rp10.000 atau lebih. 

Sikapnya, wajar. Pedagang itu enggan menjual drama kepada calon pembeli. Hebatnya lagi, beliau bisa tahu berapa nominal yang diterima hanya dari memegang lembaran kertas berdasarkan insting dan pengalaman sehari-hari. 

Bahkan, pendengaran dan penciumannya jauh lebih tajam ketimbang orang normal. Ya, Tuhan selalu memberi kelebihan lain di saat hambanya memiliki kekurangan.

Terkait difabel, saya baru ingat bahwa 3 Desember lalu merupakan Hari Penyandang Cacat Internasional. Momen yang setiap tahun diperingati di seluruh negara di kolong langit ini, termasuk Indonesia, jadi momen penting bagi banyak pihak untuk mengkampanyekan topik disabilitas dari berbagai sudut pandang.

Termasuk, yang terkait dengan kusta. Ya, sebagai ojol yang hobi menulis di blog, saya memang kerap mendengar tentang penyakit yang mitosnya akibat kutukan tersebut. 

Faktanya, kusta bisa disembuhkan. Hanya, memang butuh proses. Bahkan, jika orang yang menderita kusta tidak segera diobati dan luka yang ditimbulkan tak langsung ditangani, tentu berisiko mengalami disabilitas. 

Akibatnya, kualitas hidup mereka juga berpotensi menurun. Terlebih, stigma negatif kusta masih terus ada di masyarakat. 

Demikian, informasi yang saya dapat saat menyimak Talkshow Ruang Publik KBR - Yuk, Cegah Disabilitas karena Kusta! Bincang-bincang yang saya ikuti pada laman https://www.youtube.com/watch?v=Evr6v_6AUKo ini berlangsung Senin (20/12).

Talkshow itu terwujud berkat kolaborasi KBR dengan NLR Indonesia yang merupakan organisasi non-pemerintah alias Lembaga Swadaya Masyarakat untuk mendorong pemberantasan kusta dan inklusi bagi orang dengan disabilitas termasuk kusta.

Maklum, berdasarkan data pada 2017 lalu, angka disabilitas penyandang kusta masih cukup tinggi. Yaitu, 6,6 per 1 juta penduduk. 

Padahal, pemerintah sudah menetapkan, target angka disabilitas kusta kurang dari 1 per 1 juta penduduk. Tingginya grafik itu mengindikasikan adanya keterlambatan penangangan dan penemuan kasus kusta.

Terutama, saat ini yang masih masa pandemi akibat koronavirus. Alhasil, untuk penelitian dan sebagainya, pun sangat terbatas yang tentu harus dimaklumi.

Nah, dalam talkshow itu, ada banyak yang bisa kita petik dan bisa disebarluaskan demi manfaat untuk khalayak ramai. Terdapat, dua narasumber yang turut hadir.

1. Dr. dr. Sri Linuwih Susetyo, SpKK(K) - Ketua Kelompok Studi Morbus Hansen (Kusta) Indonesia PERDOSKI

2. Dulamin - Ketua Kelompok Perawatan Diri (KPD) Kec. Astanajapura Cirebon


*      
*      *

"KITA harus saling edukasi, terutama kepada masyarakat terkait kusta merupakan penyakit yang membahayakan. (Akibat) guna-guna. (Padahal), kusta akibat bakteri," kata Dulamin terkait pengalamannya yang selama ini berkecimpung dengan penderita kusta.

"Ini terjadi ketika orang lagi sakit (kusta), stigma masyarakat sedang tinggi. Akibatnya, penderita malah makin sakit. Ini merupakan reaksi orang yang mengidap kusta. Jadi, kita harus rileks. Agar, tidak menimbulkan reaksi lagi," Dulamin, menjelaskan terkait penderita kusta yang tertekan hingga bisa menyebabkan disabilitas.

Pernyataan senada diungkapkan Linuwih. Menurutnya, kusta tidak menimbulkan komplikasi. Namun, obatnya iya, terkait alergi yang bereaksi terkait saraf.

"Disabilitas yang menjangkiti penderita kusta akibat kuman itu sendiri. Saraf yang menyerangnya. Menyebabkan mati rasa, kelumpuhan, atau kekeringan pada kulitnya. Jadi, harus segera diperiksa. Sebab, mati rasa kan tidak disadari. Itu yang menyebabkan cacat jika terus berlanjut," ujar Linuwih.

"Ada kecenderungan kusta bisa menyebabkan disabilitas. Walaupun, tidak semua. Itu karena bisa kita cegah jika (terindikasi) kusta ditemukan lebih awal dapat ditangani. Hanya, kuman ini tempat utamanya bersarang pada saraf yang bisa jadi cacat," Linuwih, mengungkapkan.

*      *      *

Ya, mari kita sama-sama responsif terkait suatu penyakit, termasuk kusta. Untuk lebih jelasnya, bisa disimak pada laman youtube tersebut. Atau, di portal KBR.id dan NLRIndonesia.or.id.

*      *      *


Artikel Terkait Kusta:
Karena Kusta Bukan Kutukan
Kolaborasi Semua Pihak untuk Hapus Stigma Negatif Kusta

Artikel Terkait Disabilitas
Asian Para Games 2018 Bukan sekadar Menang atau Kalah, tapi...
Lewat Bahasa Isyarat, Volunteer Buktikan Keramahan Indonesia
Ngobrol Bareng Christie Damayanti: Ngeblog sebagai Terapi Otak
- https://www.kompasiana.com/roelly87/59f2b720c226f95795022c92/galeri-foto-christie-damayanti-selenggarakan-pameran-filateli-ke-13?page=all
- https://www.indonesiana.id/read/63461/christie-ubah-keterbatasan-jadi-kelebihan


*      *      *

Jakarta, 21 Desember 2021

Jumat, 26 November 2021

Kolaborasi Semua Pihak untuk Hapus Stigma Negatif Kusta

Kolaborasi Semua Pihak untuk Hapus Stigma Negatif Kusta


Ilustrasi @roelly87


GRAFIK penurunan penderita Koronavirus sejak beberapa bulan terakhir jadi momentum terbaik bagi masyarakat Indonesia. Itu setelah Covid-19 melanda negeri ini sejak Maret 2020. 

Namun, seiring waktu berjalan, kerja sama semua pihak, mulai dari pemerintah pusat, daerah, swasta, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), hingga seluruh rakyat di nusantara sukses menekan laju penyebaran Koronavirus. Ini jadi kabar baik bagi semua orang. 

Termasuk, saya yang sehari-hari berada di jalan. Tepatnya, sebagai ojek online (ojol) yang sangat menyambut gembira. Itu terlihat dengan kemacetan di berbagai sudut ibu kota. 

Pertanda, situasi pada mayoritas wilayah di Tanah Air sudah membaik. Memang, belum normal seperti sediakala. 

Di sisi lain, sudah menunjukkan bahwa kehidupan di nusantara ini akan pulih kembali. Ya, itu jadi harapan semua pihak. 

Nah, bulan ini juga kita memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) yang jatuh setiap 12 November. Ini jadi momentum yang baik untuk mengingatkan semua pihak tentang pentingnya kesehatan.

Bisa dipahami, sebab seperti yang kita ketahui, kesehatan merupakan hak dan pelayanan dasar yang harus dipenuhi negara. Ini sebagaimana tercantum dalam UU No 39/tahun 2009 tentang kesehatan, perlu diselenggarakan secara berkeadilan dan tidak diskriminatif.

Artinya, setiap warga negara, tak terkecuali penyandang disabilitas, termasuk orang dengan atau yang pernah mengalami kusta, memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang bermutu.

Hanya, berbagai tantangan dan keterbatasan sumber daya membuat pelayanan ksehatan seingkali belum aksesibel bagi mereka. Untuk itu, penyelenggaraan program layanan kesehatan inklusif terus diupayakan banyak pihak. Termasuk, LSM dan berbagai badan usaha melalui program CSR (Corporate Social Responsibility) alias tanggung jawab sosial perusahaan.

Eit... Kenapa saya mengaitkan kusta dengan situasi pandemi saat ini?

Sebab, memang sangat berkolerasi. Seperti yang saya sempat bahas di blog pada bulan lalu. Jujur saja, menulis tentang kusta ini sangat berat. Beda jika harus mengulas terkait tema kesehatan lain. Misalnya, diabetes yang sering saya tulis di blog ini berdasarkan pengalaman ibu saya.

Sementara, kusta, untuk saat ini saya belum bersinggungan secara langsung. Beruntung, saya merupakan penggemar cerita silat (Cersil) yang dalam kisah Tiga Dara Pendekar disinggung terkait mitos penyakit kutukan ini.

Apalagi, setelah saya rutin menyimak kabar di KBR yang kerap berkolaborasi dengan para blogger. Termasuk, Komunitas Indonesian Soial Blogpreneur, yang biasa berbagi informasi terkait kehidupan sehari-hari, kesehatan, wisata, edukasi, hingga hobi.

Itu yang saya alami saat menyimak webinar terkait kesehatan dalam Ruang Publik KBR: Bahu Membahu untuk Indonesia Sehat dan Bebas Kusta. Bincang-bincang itu saya ikuti pada laman https://www.youtube.com/watch?v=NfKl_Qt21xA yang berlangsung Rabu (24/11).

Terdapat dua narasumber yang aktif berbagi info kepada seluruh peserta, termasuk blogger yang rutin bertanya. Itu meliputi, Ketua TJSL PT DAHANA (Persero) Eman Suherman, SSos dan Junior Technical Advisor NLR Indonesia dr Febrina Sugianto.

"HKN 2021 ini jadi momen yang ditunggu. Kami, dari NLR Indonesia berharap, lebih banyak partisipasi dari masyarakat," kata Febrina. "Partisipasi dari banyak pihak akan membuat kusta bisa diketahui masyarakat umum. Kami juga bersama banyak pihak melakukan edukasi terkait kusta beserta mitos yang menyertainya."

Eman menambahkan, "Dari kami sebagai bagian dari BUMN, ada banyak program. Termasuk,kusta untuk penanganan yang lebih luas sasarannya. Selain itu, ada peran dari semua pihak, terutama kami, dalam sosialisasi kepada masyarakat penderita kusta. Salah satunya, pengobatan gratis kepada warga. Juga, menghapus diskriminasi terkait penderita kusta kepada masyarakat."

Saya setuju dengan pernyataan tersebut. Untuk menghapus stigma negatif kusta di masyarakat, dibutuhkan kerja sama banyak pihak. Tidak hanya pemerintah saja, melainkan swasta, LSM, hingga masyarakat itu sendiri, termasuk saya dan Anda, pembaca blog ini. 

*      *      *

Artikel Terkait:
- Karena Kusta Bukan Kutukan

Artikel Terkait Disabilitas
Asian Para Games 2018 Bukan sekadar Menang atau Kalah, tapi...
Lewat Bahasa Isyarat, Volunteer Buktikan Keramahan Indonesia
Ngobrol Bareng Christie Damayanti: Ngeblog sebagai Terapi Otak
- https://www.kompasiana.com/roelly87/59f2b720c226f95795022c92/galeri-foto-christie-damayanti-selenggarakan-pameran-filateli-ke-13?page=all
- https://www.indonesiana.id/read/63461/christie-ubah-keterbatasan-jadi-kelebihan

*      *      *

- Jakarta, 26 November 2021

Sabtu, 30 Oktober 2021

Karena Kusta Bukan Kutukan


Ilustrasi penanganan kusta (Foto: WHO.int)



UNTUK kali kedua secara berturut-turut, Hari Dokter Nasional yang diperingati setiap 24 Oktober ini berada dalam suasana kesunyian. Itu akibat Koronavirus yang melanda di muka bumi, khususnya Tanah Air sejak awal tahun lalu. Ya, pandemi memaksa mayoritas manusia di seluruh Indonesia untuk membatasi dalam aktivitas.

Namun, tidak dengan beberapa pihak, termasuk dokter dan tenaga kesehatan. Mereka tetap bekerja dalam senyap meski dalam situasi tidak menentu. Bahkan, akibat Covid-19 ini, hampir 2.000 tenaga kesehatan gugur, termasuk dokter.

Padahal, rasio dokter di Indonesia tergolong minim. Yaitu, hanya mencapai 0,4 per 1.000 jiwa. Alias, hanya terdapat empat dokter untuk melayani 10.000 penduduk. Bayangkan, dengan jumlah penduduk Indonesia yang berdasarkan sensus terbaru mencapai lebih dari 250 juta jiwa.

Nah, dengan banyaknya tenaga kesehatan yang berguguran, jelas berdampak pada layanan kesehatan yang tidak optimal. Salah satunya, kelompok yang terdampak adalah pasien kusta. Maklum, pada beberapa kasus, mereka harus terpaksa putus obat dan tidak mendapat layanan.

Akibatnya, temuan kasus baru menurun karena aktivitas pelacakan terbatas. Serta, angka keparahan atau kecacatan meningkat. Lalu, bagaimana perjuangan dokter untuk memberikan layanan kesehatan yang optimal. Termasuk, apa saja tantangan yang dihadapi para dokter dan tenaga kesehatan dalam mengatasi penyakit tropis terabaikan seperti kusta di tengah pandemi ini?

Fakta itu yang baru saya ketahui usai menyimak webinar bertajuk “Lika-Liku Peran Dokter di Tengah Pandemi”. Cerita menarik dari para dokter tangguh dalam talkshow itu disiarkan di laman youtube KBR, https://www.youtube.com/watch?v=88CKd4xSq4M.

Yaitu, portal penyedia konten berita berbasis jurnalisme independen yang berdiri sejak 1999 silam. KBR berkolaborasi dengan NLR Indonesia yang merupakan organisasi non-pemerintah alias Lembaga Swadaya Masyarakat untuk mendorong pemberantasan kusta dan inklusi bagi orang dengan disabilitas termasuk kusta.

Acara tersebut disiarkan streaming pada Jumat (9/10) pukul 09.00 WIB. Namun, saya hanya mengikutinya tipis-tipis akibat malamnya ngalong sebagai ojek online (ojol) hingga membuat mata berat. Beruntung, dalam informasi yang saya dapat dari Komunitas Indonesian Social Blogpreneur (ISB), terdapat siaran ulang yang bisa saya saksikan di youtube KBR.

Dalam perbincangan itu terdapat dua narasumber. Yaitu, dr. Ardiansyah yang merupakan Pengurus Ikatan Dokter Indonesia dan dr. Udeng Daman (Technical Advisor NLR Indonesia).

Sebagai masyarakat awam, saya mengakui, topik tersebut berat. Namun, sebagai ojol yang menghabiskan mayoritas waktunya di jalanan, tentu sedikitnya saya mengenal tentang kusta. Beserta, mitos yang menyertainya.

Apalagi, saya juga penggemar cerita silat (cersil). Seingat saya, ada salah satu tokoh rekaan Liang Yusheng berjudul Tiga Dara Pendekar (Jiang Hu San Nu Xia). Atau, dalam terjemahan populer bahasa hokkian yaitu, Kang Ouw Sam Lie Hiap yang berlatar pada abad 17 di Cina.

Dalam kisahnya, ada jagoan bernama Tok-liong Cuncia yang mahasakti tapi menderita akibat kusta yang menyebabkannya dikucilkan masyarakat. Hingga, dalam perjalanannya, sosok yang awalnya antagonis berubah jadi baik.

Bahkan, dengan hasil penemuannya di pulau terpencil bisa mengobati masyarakat yang menderita kusta. Maklum, dulu pengidap kusta mendapat sorotan negatif hingga dijuluki penyakit kutukan. Sebab, saat itu, teknologi belum secanggih sekarang.

Nah, kembali lagi. Seiring perkembangan zaman, saat ini, kusta bisa disembuhkan tanpa disertai kecacatan. Kuncinya, pengobatan secara tepat dan tuntas sejak dini. Itu mengapa, dokter dan tenaga kesehatan sangat dibutuhkan kehadirannya. Terutama, pada situasi pandemi ini yang membuat para dokter bekerja ekstrakeras untuk membantu penyembuhan penyakit.

“(Pada pandemi ini) kami, para dokter tetap bekerja seperti biasa. Selain itu, kami juga turut memberi edukasi. Namun, intinya peran serta masyarakat dalam kesadaran menjaga protokol kesehatan. Ini yang kami harapkan kerjasamanya, baik dari masyarakat, media untuk edukasi, dan seluruh elemen,” kata Ardiansyah.

Pada saat yang sama, terkait situasi pandemi yang berpengaruh pada dunia kesehatan, Udeng menegaskan, pelayanan terkait kusta berjalan lancar. Kendati, tidak seoptimal saat situasi normal.

“Di lapangan, (para dokter dan tenaga medis) menyesuaikan dengan kebijakan pada daerah masing-masing. Misalnya, ada PPKM level 1, 2, dan 3. Kegiatan pun terbatas. Namun, tetap ada solusi. Jika normal pemeriksaan door to door, sekarang bisa konsultasi via teknologi. Intinya, ada solusi di tengah pandemi ini untuk penanganan kusta,” Udeng, mengungkapkan.

Ya, stigma kusta yang masih negatif sekarang ini perlahan berkurang. Memang, ini penyakit jika tidak diobati berpotensi menularkan kepada orang lain dengan kontak erat dan dalam periode sama. Namun, jika melakukan pengobatan secara intensif, kusta bisa disembuhkan. Alias, bukan lagi kutukan seperti mitos yang selama ini beredar di masyarakat.***

*      *      *

Artikel Terkait Disabilitas
Asian Para Games 2018 Bukan sekadar Menang atau Kalah, tapi...
Lewat Bahasa Isyarat, Volunteer Buktikan Keramahan Indonesia
Ngobrol Bareng Christie Damayanti: Ngeblog sebagai Terapi Otak
- https://www.kompasiana.com/roelly87/59f2b720c226f95795022c92/galeri-foto-christie-damayanti-selenggarakan-pameran-filateli-ke-13?page=all
- https://www.indonesiana.id/read/63461/christie-ubah-keterbatasan-jadi-kelebihan


*      *      *

- Jakarta, 30 Oktober 2021

Jumat, 30 April 2021

Kenapa Ojol Wajib Divaksin?

Kenapa Ojol Wajib Divaksin?

Saya saat divaksin pada Kamis (29/4)



SEBAGAI ojek online (ojol), mendapat vaksinasi Covid-19 jadi salah satu momen yang paling saya tunggu sepanjang 2021 ini. Terutama, sejak koronavirus mewabah pada awal tahun lalu yang hingga kini masih berdampak.

Itu mengapa, saya sangat antusias ketika aplikator tempat saya nencari nafkah, Gojek, memberikan tiket untuk vaksinasi pertama. Undangan tersebut terdapat di pesan aplikasi saya pada 26 April lalu.

Saya pun bergegas untuk daftar lewat aplikasi Halodoc yang terjadwal pada 29 April. Sangat mudah, karena setiap ojol dengan KTP DKI Jakarta yang diundang mendapat kode khusus.

Lokasinya, ada dua:

1. JIExpo Kemayoran Parkir Hall C, Jakarta Utara

2. West One Cengkareng, Jakarta Barat

Saya pun memilih yang pertama. Waktunya, kemarin, pukul 13.00 WIB. Alasannya jelas, sehabis vaksinasi, rencananya saya langsung ngebid hingga menunggu waktu berbuka puasa. Ya, sambil menyelam minum air tebu.

Kebetulan, kawasan Kemayoran, ramai untuk mengambil berbagai orderan. Itu meliputi GoRide alias penumpang, GoFood (makanan), GoSend (kirim barang), GoShop (belanja), dan sebagainya.

*       *       *

SIANG itu, Kamjs (29/4), cuaca di ibu kota sangat terik. Sambil membelah jalanan dari kawasan barat, saya pun akhirnya tiba di JIExpo. Arloji di saku kiri saya menampakkan pukul 12.31 WIB. Alias, masih ada waktu untuk registrasi vaksinasi Covid-19.

Saya pun ikut antrean dengan ratusan rekan ojol lainnya. Ada beberapa tahap sebelum vaksinasi. 

Pertama, registrasi dengan membawa KTP asli dan fotokopi. Sekaligus, mengisi data diri yang formulir dan kertas sudah disiapkan Gojek.

Selanjutnya, memperlihatkan undangan yang tercantum di Halodoc. Kurang dari seperminuman teh, kami pun bergiliran untuk divaksin dengan membawa sepeda motor masing-masing. 

Setelah itu, tinta sejarah turut mencatat. 

Ya, vaksinasi sangat singkat. Usai disuntik, saya pun diminta istirahat sekitar 30 menit. Tujuannya, untuk mengetahui apakah ada dampak lebih lanjut. Sekaligus, mendengar arahan dari perwakilan Gojek terkait vaksinasi kepada kami, mitranya.

Bisa dipahami mengingat tidak semua pihak setuju dengan adanya vaksinasi. Namun, menurut saya ini wajar. Toh, bagian dari dinamika kehidupan.

Bagi saya pribadi, mengikuti vaksinasi yang diselenggarakan PT Aplikasi Karya Anak Bangsa yang merupakan induk dari Gojek yang berkolaborasi dengan PT Media Dokter Investama (Halodoc) ini merupakan kewajiban.

Mengapa?

Alasannya jelas. Itu mengingat saya sebagai ojol yang merupakan mitra Gojek. Tentu, saya ingin memberikan yang terbaik terhadal partner saya.

Setidaknya, ada tiga alasan versi saya pribadi terkait kewajiban vaksinasi.

1. Ini sangat penting bagi kesehatan saya sendiri dan keluarga. Sebab, saya harus melindungi keluarga di rumah. Dengan sudah divaksin, setidaknya saya tidak khawatir lagi saat pulang seusai ngebid. Tentu, saat ngojol, saya tetap mengikuti protokol kesehatan (prokes)  Itu meliputi memakai masker, sarung tangan, dan bawa hand sanitizer.

2. Sebagai bentuk dukungan terhadap program pemerintah. Ya, saat ini, pemerintah sedang melakukan program vaksinasi sebagai upaya penanggulangan virus Covid-19. 

Sejak awal tahun, vaksinasi diberikan kepada masyarakat lanjut usia (lansia) dan petugas layanan publik. Nah, saya dan rekan-rekan ojol lainnya yang merupakan mitra Gojek termasuk dalam kategori tersebut.

Kelompok ini, masuk dalam prioritas pemerintah. Mengapa? Sebab, kita-kita ojol ini, memiliki interaksi dan mobilitas tinggi yang berhubungan dengan masyarakat.

Apakah, Gojek mewajibkan mitranya? Saya tidak bisa menjawab. Setidaknya, hingga saat ini. 

Yang pasti, sebagai mitra, alias bukan karyawan dari PT Karya Anak Bangsa, tentu kita punya hak untuk setuju atau menolak. Pilihan ada pada diri kita masing-masing. 

Namun, saya pribadi meyakini, vaksin merupakan solusi untuk keluar dari pandemi. 

Ya, selain profesi sebagai ojol, saya juga blogger. Jelas, kangen dengan situasi yang berkaitan dengan acara offline. Apalagi, bertepatan dengan Ramadan. Biasanya, sebelum 2020, saya kerap ikut buka puasa bersama (bukber) dengan rekan-rekan blogger lainnya.

Lalu, apakah kita akan mendapat sanksi dari Gojek jika tidak ikut vaksinasi. Ini kabar burung yang saya dengar.

Kenyataannya adalah tidak. Gojek sudah pasti tidak akan sewenang-wenang memberikan sanksi kepada mitranya yang menolak vaksinasi.

Secara, vaksinasi merupakan program pemerintah, alias bukan Gojek atau PT Karya Anak Bangsa. Namun, sebagai ojol, kita memang dianjurkan untuk mengikuti arahan pemerintah.

Kenapa? Sebab, vaksinasi ini bukan hanya untuk melindungi diri sendiri, tapi juga demi melindungi keluarga kita, orang terdekat, tetangga, masyarakat di Tanah Air, hingga warga dunia. Itu karena target vaksinasi adalah kekebalan kelompok atau herd immunity.

3. Yeeei, poin kedua pada paragraf di atas, panjang pake banget. Saya pun yang mengetiknya sambil ngalong di salah satu kawasan kuliner di jantung ibu kota, jadi lupa nulis.

Yupz. Alasan ketiga saya ikut vaksinasi demi memastikan rasa aman dan nyaman kepada customer. Sebab, bagaimana pun, sebagai ojol, tentu kita akan berinteraksi dengan customer baik langsung atau tak langsung.

Contoh, dalam layanan GoRide, saya kerap bersentuhan saat memberikan helm, haircap, dan hand sanitizer. Nah, dengan kepastian sudah divaksinasi, setidaknya tidak membuat customer was-was. 

Apalagi, ketika saya tempel stiker pemberian Gojek bertuliskan, "Saya Sudah Divaksin!" di depan sepeda motor, banyak customer (GoRide) yang antusias. Bahkan, mereka memberi apresiasi, bahwa ojol memang jadi salah satu garda terdepan dalam situasi pandemi ini.

Saya pribadi, tentu bangga. Kendati hanya setitik di samudera, setidaknya saya sudah turut ikut berkontribusi dalam perputaran ekonomi bangsa ini melalui antar penumpang kerja, sekolah, kuliah, makanan, kirim dokumen, dan sebagainya.

Nah, saya sudah divaksin. Saya tunggu cerita dari rekan-rekan ojol lainnya!

*       *       *

Saya Sudah Divaksin!


*       *       *

Dapat suvenir dari Gojek berkat menceritakan kesan usai 
divaksin pada postingan instagram, @roelly87


*       *       *

Perwakilan Gojek foto dengan latar "Saya Sudah Divaksin"


*       *       *

Usai divaksin, saya dapat SMS
untuk jadwal kedua, bulan depan


*       *       *

Sertifikat Vaksinasi Covid-19 yang bisa diunduh
pada laman pedulilindungi.id


*       *       *

Stiker "Saya Sudah Divaksin" yang jadi nilai lebih
di mata customer


*       *       *

Artikel Terkait Catatan Harian Ojol (#CHO):


Artikel Terkait Covid-19

Pentingnya Vaksinasi di Tengah Pandemi
Bersama Halodoc Cegah Covid 19 secara Dini

*       *       *

DISKLAIMER: Artikel ini merupakan murni reportase saya sehari-hari sebagai blogger yang independen alias tidak terkait dengan pihak mana pun. Juga tanpa bermaksud menggurui.

Referensi:
- https://mui.or.id/berita/29845/fatwa-mui-nomor-13-tahun-2021-vaksinasi-injeksi-tak-membatalkan-puasa

Seluruh foto/gambar merupakan dokumentasi pribadi (www.roelly87.com)

*       *       *

- Jakarta, 30 April 2021

Senin, 27 April 2020

Bersama Halodoc Cegah Covid 19 secara Dini


Cara melakukan rapid test Covid 19 di aplikasi Halodoc

RAMADAN 2020 kini terasa beda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sebab, bulan puasa sekarang, di seluruh penjuru dunia, termasuk Tanah Air, sedang dilanda pandemi. Yaitu, Corona atau Covid 19 yang mewabah sejak Februari lalu.

Itu mengapa, pemerintah, baik pusat maupun daerah, menetapkan Social Distancing yang berujung Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Tujuannya, demi mencegah wabah lebih lanjut sejak 10 April lalu. Bagi saya yang berprofesi penuh sebagai ojol (ojek online), tentu mendukung kampanye ini.

Kendati, ini berpengaruh pada penghasilan sehari-hari yang sedikit menurun. Namun, tak mengapa, mengingat kesehatan jauh lebih penting. Ya, mencegah lebih baik dibanding mengobati.

Tak heran jika sejak awal bulan, saya sudah melakukan social distancing. Hanya keluar untuk membeli makanan, obat, hingga keperluan rumah, disela-sela pekerjaan.

Selain itu, saya juga mencari info, untuk diri sendiri, keluarga, orang terdekat, hingga sekitar, demi pencegahan. Salah satunya, melalui Halodoc. Yaitu, startup aplikasi kesehatan. Saya sudah melakukannya sejak 10 April lalu, dengan konsultasi terlebih dulu melalui dokter yang bekerja sama dengan Halodoc. Caranya, melalui vitur chat yang bisa diakses, baik secara gratis maupun berbayar.

Dari hasil konsultasi itu, saya masih belum ada tanda-tanda gejala Corona. Semoga, ini bertahan. Aamiin...

Di aplikasi Halodoc terdapat berbagai fitur yang bisa diakses masyarakat luas. Itu meliputi:
- Tes Covid 19
- Periksa Covid 19
- Chat dengan dokter
- Beli obat
- Kunjungan Rumah Sakit
- Pengingat obat
- Update berita Covid 19

Bagi masyarakat yang memiliki tanda-tanda atau gejala Covid 19, bisa periksa di Halodoc lewat layanan Rapid Test. Harganya, variatif. Mulai Rp 295.000 hingga Rp 1.900.000, yang dilakukan di Rumah Sakit yang bermitra dengan Halodoc.

Tentu, kita berharap agar tidak sampai terkena gejala. Namun, demi lebih meyakinkan, dan tentunya punya dana cukup, tidak ada salahnya melakukan Rapid Test yang tersedia di Halodoc.

Btw, apa sih Rapid Test? Berhubung saya bukan orang medis, alias hanya kenal kulit-kulitnya saja terkait kesehatan, saya sedikit menjabarkan secara sederhana. Rapid Test merupakan pemeriksaan yang menggunakan sampel darah untuk diuji.

Nah, darah yang diambil ini kemudian bakal digunakan untuk mendeteksi imunoglobulin. Yaitu, antibodi yang terbentuk saat tubuh mengalami infeksi. Sehingga, pasien pada tahap awal infeksi dapat diidentifikasi lebih lanjut.

PBB melalui badan kesehatan (WHO), dalam berbagai kesempatan juga menekankan urgensi kehadiran layanan tes yang efektif bagi masyarakat luas.

Saya pribadi, hingga kini -semoga sampai seterusnya- memang tidak ada gejala. Namun, tetap saya harus rutin menjaga kesehatan dan kebersihan.

Seperti yang dikatakan Dr. Andri J. Girsang, saat saya melakukan konsultasi. Menurutnya, pemeriksaan rapid test diutamakan pasien dengan risiko sedang dan risiko tinggi. Itu berarti, jika tidak ada gejala, ya kita tidak perlu.

Pengecualian, jika memang kita ada kontak erat dengan pasien Covid 19. Bahkan, jika hasilnya positif pun, tapi masih tanpa gejala, penanganan dengan melakukan isolasi di rumah. Yaitu, secara mandiri 14 hari sejak gejala awal. Selanjutnya, konsumsi obat dan vitamin.

Jika keluhan memberat, seperti batuk kering, sesak nafas, dan demam tinggi, segera ke rumah sakit.

Nah, konklusi dari artikel ini, mari sama-sama untuk mencegah Covid 19. Kurangi keluar rumah jika tidak perlu. Selalu pakai masker dan sarung tangan. Jika kita memiliki gejala seperti batuk yang tidak biasanya, bisa konsultasi ke dokter. Nanti, mereka akan melakukan analisis, apakah kita bisa dirujuk untuk layanan Rapid Test atau tidak.

Semoga artikel ini bisa membantu dan selamat menunaikan ibadah Ramadan bagi yang menjalankan.*

*         *         *
Riwayat konsultasi yang dilakukan saya
dengan beberapa dokter di Halodoc,
seperti penyakit dalam, diabetes, umum,
hingga Covid 19 

*         *         *

*         *         *

*         *         *

*         *         *

- Jakarta, 27 April 2020