TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Jadi Penonton di Rumah Sendiri (II)

Google Adsense 2016

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya
Ngebolang Menikmati Eksotisnya Kawasan Timur Pulau Jawa

Mengupas Sisi Lain dari Sudut Pandang Blogger...

Jumat, 15 April 2016

Jadi Penonton di Rumah Sendiri (II)

Jadi Penonton di Rumah Sendiri (II)

Trofi Liga Champions milik Italia yang terakhir diraih FC Internazionale pada 2009/10


PUBLIK dibuat gempar ketika Antonio Conte resmi memilih Chelsea sebagai pelabuhan berikutnya pada 4 April lalu. Keputusan pria 46 tahun ini membuktikan Italia sebagai gudang pelatih berkualitas. Apalagi, Conte memiliki jejak yang meyakinkan dengan tiga scudetto beruntun bersama Juventus dan meloloskan negaranya ke Piala Eropa.

Sebelumnya, akhir tahun lalu, CEO Bayern Muenchen Karl-Heinz Rummenigge, mengumumkan keputusan penting. Mereka memilih Carlo Ancelotti sebagai pengganti Josep Guardiola awal musim nanti. Alasan Rummenigge jelas karena faktor Liga Champions. Kompetisi yang sudah tiga kali dimenangkan Ancelotti bersama AC Milan (dua kali) dan Real Madrid.

Dominasi pelatih asal Italia kian kentara dengan tangan dingin Claudio Ranieri bersama Leicester City. Sosok yang sebelumnya dijuluki “Mr. Runner-up” ini sukses mendekatkan timnya dengan titel Liga Primer. Hingga pekan ke-33, Leicester memuncaki klasemen sementara yang unggul tujuh poin atas Tottenham Hotspur.

Memang, mereka belum tentu menjuarai Liga Primer karena masih menyisakan lima pertandingan lagi. Namun, Ranieri sudah pasti meloloskan Leicester untuk kali pertama dalam sejarahnya ke Liga Champions musim depan. Sebab, “The Foxes” unggul 15 poin dari Manchester United yang berada di peringkat empat.

Pada 18 September 2014, Stadion Giuseppe Meazza atau dikenal dengan San Siro ditunjuk Federasi Sepak Bola Eropa (UEFA) untuk menyelenggarakan final Champions 2015/16. Ini kali keempat markas AC Milan dan FC Internazionale itu dipilih untuk laga pamungkas turnamen terelite di kompetisi Eropa tersebut. Sebelumnya, Meazza sukses jadi penyelenggara final 1965 yang dimenangkan Inter, 1970 (Feyenoord), dan 2001 (Muenchen).

*       *       *
KEMARIN, mayoritas pencinta sepak bola di seluruh dunia tertuju pada Nyon. Di kota kecil negara Swiss yang berbatasan dengan Prancis itu terdapat markas UEFA. Otoritas bal-balan tertinggi di Eropa ini sudah melakukan undian semifinal dan final Liga Champions serta Liga Europa 2015/16.

Direktur Kompetisi UEFA Giorgio Marchetti dengan perlahan memutar bola-bola yang berisi kertas undian. Di belakang tubuh suksesor Gianni Infantino yang kini jadi Presiden FIFA itu terdapat tulisan yang ikonik: Road to Milano. Ya, Marchetti mengambil undian semifinal bersama Dejan Stankovic.

Mendengar ketiga nama itu tentu tidak asing lagi di telinga. Infantino merupakan Italia tulen yang lahir di Brig, Swiss. Sementara, Marchetti sebelumnya menjabat sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Seri A.

Bagaimana dengan Stankovic? Karier eks gelandang 37 tahun ini dimulai bersama Red Star Belgrade pada 1995-1998. Setelah itu, Stankovic memperkuat Lazio dan mencapai kejayaan bersama Inter hingga pensiun 2013. Setelah gantung sepatu, pria asal Serbia ini seperti enggan meninggalkan tanah Italia.

Terbukti, musim lalu, Stankovic dipercaya Roberto Mancini sebagai asistennya di Inter setelah sebelumnya dengan Udinese. Kehadiran sosok yang akrab disapa Deki ini di Nyon sebagai Duta Final Liga Champions musim ini yang kebetulan dihelat di stadion yang jadi markasnya selama sembilan musim.

Ketika tangan Stankovic menunjukkan kertas bertuliskan Real Madrid CF, seketika tamu yang memadati markas UEFA tersebut bergemuruh. Sebab, raksasa Spanyol itu akan melakoni laga kandang pada leg kedua saat menghadapi Manchester City (4/5). Begitu juga saat Stankovic merogoh bola dengan nama FC Bayern Muenchen, yang berhadapan dengan Atletico Madrid.

Itu berarti, ada dua opsi untuk final ideal yang berlangsung di jantung kota Milan pada 28 Mei mendatang. Pertama, terciptanya “All-Spanish Finale” antara Madrid versus Atletico. Kedua, duel bertajuk “Clash of the Titans” yang melibatkan –lagi-lagi– Madrid dengan Muenchen yang merupakan raksasa dari Jerman.

Alternatif lainnya bisa Madrid versus City dan Atletico kontra City. Apa pun itu, yang pasti, untuk kali ini, trofi “si Kuping Lebar” bakal terbang di antara tiga negara: Spanyol, Jerman, dan Inggris. Sementara, publik Italia, khususnya warga Milan, hanya bisa duduk manis menyaksikan pertandingan paling bergengsi di antara klub Eropa tersebut.

Sebab, jangankan bernostalgia dengan melihat trofi ada di lemari klub. Bahkan duo tim sekota Milan saja sudah lama absen di Liga Champions. Kali terakhir “I Rossoneri” tampil pada 2013/14 ketika didepak Atletico pada 16 besar. Inter lebih parah karena belum pernah bermain di Liga Champions lagi sejak dieliminasi Marseille pada perdelapan final (2011/12).

Jadi, pada 28 Mei mendatang, mereka harus bersiap jadi tuan rumah yang baik untuk dua finalis. Para pemain Milan dan Inter, bisa duduk manis sebagai penonton di stadion berkapasitas 80 ribu kursi itu untuk menyaksikan laga pamungkas di kompetisi terelite Eropa tersebut.

Pertanyaannya, bagaimana dengan tim Italia lainnya? Sebelas dua belas, alias sama saja. Dari enam klub yang mewakili Seri A di Eropa, seluruhnya rontok jelang perempat final. Padahal, musim lalu, ada tiga tim Italia yang melaju hingga semifinal. 

Meski, ending-nya kembali hampa gelar seperti yang diperlihatkan Juventus saat ditekuk Barcelona di Berlin. Atau, Napoli yang dipermalukan “tim antah berantah” Dnipro Dnipropetrovsk dan Fiorentina yang dicukur Sevilla, agregat 0-5 di semifinal.

*       *       *
JUDUL “Jadi Penonton di Rumah Sendiri” bagi saya merupakan déjà vu karena telah menulisnya pada opini dua tahun lalu. Tepatnya, edisi Sabtu, 3 Mei 2014, usai Juventus ditahan Benfica 0-0 pada leg kedua semifinal Liga Europa setelah sepekan sebelumnya takluk 0-1 di Da Luz. Ironis mengingat saat itu, “I Bianconeri” butuh kemenangan demi lolos ke final yang berlangsung di Juventus Stadium, 14 Mei 2014.

Sayangnya, seperti yang sudah-sudah, Juventus seperti mengidap sifat ambiguitas. “Si Nyonya Besar” merupakan klub terhebat di Italia tapi ketika tampil di Eropa berubah jadi medioker.  

Yang pasti, final Liga Champions musim ini bak anomali bagi sepak bola asal negeri piza tersebut. Berlangsung di Milan dengan tidak ada satu pun klubnya yang tembus hingga perempat final. Mungkin, sepak bola Italia terlanjur puas karena merasa keberadaannya sudah cukup dengan diwakili Infantino, Marchetti, dan Stankovic. Bisa jadi.

Final Liga Champions yang Berlangsung di Italia

1965/65 Giuseppe Meazza, Milan (FC Internazioanle vs Benfica 1-0)
1969/70 Giuseppe Meazza, Milan (Feyenoord vs Celtic FC 2-1)
1976/77 Olimpico, Roma (Liverpool vs Borussia Moenchengladbach 3-1)
1983/84 Olimpico, Roma (Liverpool vs AS Roma 1-1, pen)
1996/97 Olimpico, Roma (Juventus vs Ajax Amsterdam 1-1, pen)
2000/01 Giuseppe Meazza, Milan (Bayern Muenchen vs Valencia 1-1, pen)
2008/09 Olimpico, Roma (Barcelona vs Manchester United 2-0)
2015/16 Giuseppe Meazza, Milan (?)

*       *       *
Seri Liga Champions 2015/16:
- Nobar dengan Suasana Pantai
Titik Nadir Sepak Bola Italia?
Akhir Tragis dari Strategi Memunggungi Sungai ala Han Xin (Bei Shui Yi Zhan)
Menanti Juventus Menguji Sejarah
Tujuh Tempat Nobar Asyik di Jakarta
Apalah Artinya Sebuah Nama
Ketika Pep di-PHP Max
- Jadi Penonton di Rumah Sendiri (I)
*       *       *

Artikel ini dimuat di Harian TopSkor edisi 16 April 2016
- Jakarta, 16 April 2016

15 komentar:

  1. Kalo boleh tahu akang ini pegang klub yang mana nih kang di liga liga champion 2016 ini ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya mah absen mas :)
      secara, "si Nyonya Besar" udah pulang kampung...

      Hapus
  2. Hmmm sama nih saya juga sering nonton dirumah sendiri.

    BalasHapus
  3. saya selain juventus belum tertarik membaca beritanya kang hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwkkw
      asyik ada juventini juga :)

      Hapus
  4. aku pingin ngerasain nonton di lapangan lgs, pingin ke negara mana yaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. negara prancis ajaaaa, biar bisa romantis sama suaminya mbak :)

      Hapus
  5. kalau paling ideal memang Real Madrid vs Bayern Muenchen yang melaju ke final, sama-sama tim yang tengah on fire saat ini, dan juga memang banyak sekali pemain bintang di kedua kubu, bahkan bisa dibilag semua pemainnya adalah pemain bintang. jadi jika keduanya bertemu, pasti akan seruuu

    BalasHapus
    Balasan
    1. setujuuuu :)

      btw, banyak opsi juga sih tapinya he he he
      madrid-atletico: all spanish finale
      muenchen-city: duel calon pelatih
      atletico-muenchen: ulangan final ucl 1974

      Hapus
  6. klub2 italia lagi melempem .... ga apa2 mereka bukan klub favorit saya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hik hik hik
      sedih mas, secara saya fan juventus :)
      he he he, tapi next time semoga mereka bisa berjaya...

      Hapus
  7. saya sih setuju yang masuk final Real Madrid vs Athletico, karena pasti bakal seru. Athletico bakal habis2an buat balas dendam pas kalah di final sebelumnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. yupz, kalo menang bakal jadi revans yang sempurna antardua tim asal spanyol :)

      *jadi inget juve kalah sama milan pada 2003 (hik hik hik)

      Hapus
  8. bawa tipinya ke teras rumah, ntar tetangga juga pada dateng sendiri, nobar edisi hemat duit :D

    BalasHapus

Maaf ya, saat ini komentarnya dimoderasi. Agar tidak ada spam, iklan judi, obat kuat, penjual gunting kuku, dan sebagainya. Silakan komentar yang baik dan pasti saya kunjungi balik. Satu hal lagi, mohon jangan menaruh link hidup...

Terima kasih :)