TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Presiden dan Kepala BNN Kompak: Bandar Narkoba harus Dihukum Mati!

Google Adsense 2016

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya
Ngebolang Menikmati Eksotisnya Kawasan Timur Pulau Jawa

Mengupas Sisi Lain dari Sudut Pandang Blogger...

Rabu, 04 Februari 2015

Presiden dan Kepala BNN Kompak: Bandar Narkoba harus Dihukum Mati!



Presiden Jokowi didampingi Kepala BNN Anang Iskandar (Sumber foto: dokumentasi pribadi/ www.roelly87.com)

PRESIDEN Indonesia Joko Widodo (Jokowi) tampak berapi-api saat mengeluarkan pernyataannya terkait narkotika dan obat terlarang (narkoba). Menurut pria 53 tahun itu, dirinya geram menyaksikan banyaknya rakyat Indonesia yang tewas secara sia-sia karena narkoba. Jokowi menyebut, setiap harinya sekitar 50 orang meninggal terkait benda haram tersebut.

Maka, mantan Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta ini pun, menyatakan "perang" terhadap narkoba. Jokowi meminta kepada jajarannya di seluruh Indonesia untuk lebih aktif dalam bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam rangka memberantas peredaran narkoba. Itu diungkapkan Jokowi dalam penyambutan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) BNN di Birawa Assembly Hall, Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Rabu (4/2).

"Situasi di negara ini sudah dalam status darurat narkoba," tutur Jokowi yang terlihat letih akibat memikirkan nasib bangsa ini. Khususnya dalam sebulan terakhir yang berkaitan dengan persoalan dua lembaga tinggi negara, KPK dan Polri. Dari kejauhan, tampak kantung matanya yang sudah membesar dan berbeda drastis ketika dirinya sewaktu kampanye yang tampak cerah.

"Dalam setahun, 18 ribu orang meninggal sia-sia akibat narkoba. Itu berarti, dalam sehari sekitar 50 orang yang tewas," kata Jokowi menjawab pertanyaan saya yang mewakili blogger saat konferensi pers seusai melakukan sambutan. "Untuk itu, kita harus bersama-sama menyatakan perang dengan narkoba. Termasuk dalam menerapkan hukuman mati terhadap bandar. Meski mendapat tekanan dari dalam dan luar negeri, atas dan bawah, saya tidak pernah mau memberikan grasi kepada terpidana mati kasus narkoba."

Pernyataan Jokowi itu menjadi cambuk bagi bawahanya, seperti jajaran kepala daerah dan aparat berwenang untuk bahu-membahu memberantas narkoba. Maklum, di negeri ini, adakalanya menganut standar ganda bak mata pedang. Yaitu, "tajam ke bawah", khususnya untuk rakyat jelata yang mendapat sanksi berat bila tersangkut hukum. Sementara, "ke atasnya tumpul", yang berarti kalangan elite seperti pejabat dan aparat negara tidak tersentuh hukum sama sekali.

Hal serupa juga sebelumnya diungkapkan Kepala BNN Anang Iskandar yang memberi sambutan kepadar jajarannya dari berbagai daerah di Indonesia. Menurut Komisaris Jenderal (Komjen) Polisi yang saat ini disebut kuat sebagai calon Kapolri itu, pihaknya masih konsisten untuk membuat Indonesia bebas narkoba pada 2015. Terutama untuk merehabilitas 100 ribu pengguna  sepanjang tahun ini.

Untuk itu, Anang juga berharap turut sertanya peran masyarakat dalam membendung alur peredaran narkoba. Termasuk menggandeng blogger dalam mengedukasi bahwa bandar itu layak dihukum mati. Sementara, untuk pengguna, wajib direhabilitasi. "Ya, dari peran serta kalian (blogger). Bahkan, tidak tertutup kemungkinan kami akan mengirimkannya kepada UNOCD (Kantor PBB Urusan Narkotika dan Kejatahan) dalam forum PBB," tutur Anang yang memiliki blog pribadi di alamat anangiskandar.wordpress.com dan akun twitter @anang_iskandar ini.

*       *       *

*       *       *


*       *       *
Pemeriksaan ketat sebelum masuk

*       *       *
Anang Iskandar dan Jokowi melewati karpet merah

*       *       *
Jokowi tetap tersenyum meski wajahnya terlihat letih

*       *       *
Jokowi di hadapan ribuan peserta Rakornas BNN 2015 di Birawa Assembly, Hotel Bidakara

*       *       *
*       *       *
- Pasar Minggu, 4 Februari 2015

4 komentar:

  1. Wah, pak anang iskandar blogger juga ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mas, beliau blogger aktif dan juga sering kul-tweet :)

      Hapus
  2. Itu Pak Anang masih bilang tentang peran serta blogger dalam kampanye BNN.
    tapi kenapa program sepuluh ribu halaman kita dg BNN dulu tidak dilanjut ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukan tidak lanjut mbak, tapi terkait anggaran waktu itu yang seluruh instansi pemerintah kena potong ;)

      kalo 2015 ini ada lagi, pasti saya kasih tahu...
      hehehehhe

      Hapus

Maaf ya, saat ini komentarnya dimoderasi. Agar tidak ada spam, iklan judi, obat kuat, penjual gunting kuku, dan sebagainya. Silakan komentar yang baik dan pasti saya kunjungi balik. Satu hal lagi, mohon jangan menaruh link hidup...

Terima kasih :)