TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Mengenal Tokopedia Lebih Dekat

Google Adsense 2016

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya
Ngebolang Menikmati Eksotisnya Kawasan Timur Pulau Jawa

Mengupas Sisi Lain dari Sudut Pandang Blogger...

Minggu, 28 Juni 2015

Mengenal Tokopedia Lebih Dekat



Tokopedia.com (ilustrasi @roelly87)


TAK kenal maka tak sayang. Demikian adagium lawas yang masih saya ingat sejak kecil hingga kini. Yaitu, istilah sehari-hari tentang sesuatu yang awalnya tidak diketahui dan baru dimengerti ketika sudah dicoba. Dalam hal ini, saya ambil contoh nyata mengenai transaksi lewat internet alias online yang dalam satu dekade berkembang pesat di Indonesia.

Di antaranya yang saya kenal  seperti Lazada, Olx, Kaskus Forum Jual Beli (FJB), Bhinneka, dan sebagainya. Dalam beberapa kesempatan, saya kerap melakukan transaksi dengan beberapa toko online tersebut. Sejauh ini, responsnya beragam. Adakalanya saya senang karena pesanan saya tepat waktu. Tak jarang, saya harus kecewa lantaran kiriman yang lambat dan sebagainya.

Oke, yang namanya orang atau pihak ingin berjualan, tentu mau untung. Itu relatif dan saya harus memahaminya. Apalagi, di antara beberapa toko online tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya serta segmentasi tersendiri. Misalnya, saya ingin nyari barang bekas  ke situs a, ponsel ke b, pakaian ke c, dan lain-lain.

Oh ya, selain berbagai situs toko online itu, saya mendapat referensi tambahan. Yaitu Tokopedia yang mengusung motto "Membangun Indonesia Lebih Baik Lewat Internet". Jujur saja, hingga kini saya baru sekadar registrasi saja dan belum pernah membeli atau transaksi di situs yang beralamat di www.tokopedia.com tersebut.

Lantaran memang saya masih belum membutuhkan barang atau peralatan yang biasanya saya ganti secara berkala seperti ponsel, elektronik, busana, atau action figures. Maklum, saya membeli sesuatu di toko online itu jika memang perlu atau karena sulit mencarinya di toko fisik. Kemungkinan pertengahan Juli mendatang saya baru mencobanya untuk membeli action figures Ant-Man yang filmnya bakal rilis di bioskop Indonesia sekaligus me-review pengalaman bertransaksinya.

Meski begitu, sebagai blogger yang berusaha mengikuti perkembangan di ranah internet, dalam beberapa tahun terakhir ini saya sering membaca info mengenai Tokopedia. Baik melalui media online atau iklan mereka di media sosial seperti facebook dan twitter. Puncaknya, ketika saya mendapat memenuhi undangan dari pihak Tokopedia dan komunitas Kumpulan Emak Blogger (KEB) dalam acara bertema #TemuBloggers.

Pada acara yang berlangsung di Restoran Gokana Ramen, Sarinah, Jakarta Pusat, Sabtu (30/5) itu, saya baru sadar jika Tokopedia berbeda dibanding toko online lainnya. Terutama setelah saya kembali memenuhi undangan yang diselenggarakan KEB bersama Jarvis Store di Menara Multimedia, Jakarta Pusat (9/6).

Dalam dua kesempatan berbeda itu, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa Tokopedia memang salah satu toko online yang memiliki prospek cerah di Tanah Air. Namun, perusahaan yang berdiri pada 6 Februari 2009 dengan nama PT. Tokopedia hingga meluncurkan produknya tokopedia.com (17/9/2009) ini berbeda dibanding online shop lainnya yang telah ada.

Salah satunya karena Tokopedia merupakan marketplace, yaitu menyediakan platform untuk pengguna internet agar bisa menjadi penjual atau pembeli. Sementara, tiga kategori e-commerce lainnya dengan sektor yang beragam seperti iklan baris (Olx), online retail (yang terkenal di dunia, Amazon), dan dailydeals (Groupon).

Nah, yang menjadi pertanyaan saya sejak mengenal Tokopedia adalah, perusahaan yang dibentuk duet William Tanuwijaya dan Leontinus Alpha Edison ini, ternyata tidak memungut komisi dari penjualnya. Nah lho? Yakin? Hari gini masih ada yang gratisan? Apalagi, sebagai pengguna internet, saya juga sering membaca berita mengenai Tokopedia yang sejauh ini belum mendapat untung.

Namun, untuk yang terakhir ini saya tidak heran. Sebab, banyak perusahaan yang memang "berdarah-darah" sejak awal sebelum akhirnya mendapat profit melimpah. Contoh, twitter atau whatsapp pun, sejauh ini belum mendapat untung. Namun, kedua aplikasi itu tetap jalan terus dan diminati ratusan juta pengguna internet di seluruh dunia. Begitu juga dengan Amazon yang setahu saya baru dapat untung setelah sembilan tahun berdiri!

Lalu, bagaimana cara Tokopedia bisa bertahan hidup hingga menjelang tahun keenamnya berdiri? Apalagi, sejauh ini situs tokopedia.com sudah diakses jutaan pengguna internet dalam sebulan. Ternyata, mereka "mengandalkan" peran investor. Bahkan, akhir 2014 lalu, ranah internet di Indonesia dihebohkan dengan berita adanya kucuran dana dari SoftBank Internet and Media dan Sequoia Capital untuk Tokopedia.

Tidak tanggung-tanggung, nilainya mencapai 100 juta dolar Amerika Serikat (AS) yang kalau di kurs saat ini mencapai Rp 1,3 triliun! Sekilas info, yang saya tahu sedikit tentang SoftBank merupakan investor terbesar Alibaba di Tiongkok dan Yahoo Jepang. Sementara, Sequoia Capital merupakan dibalik kesuksesan beberapa perusahaan terkemuka di kolong langit ini, misalnya membantu pendanaan Apple, Google, Cisco, dan sebagainya.

Dengan dana sebesar itu, wajar jika hingga kini Tokopedia tetap menggratiskan layanannya. Toh, dengan begitu mereka dapat menarik pangsa lebih besar lagi. Itu sesuai motto mereka "Membangun Indonesia Lebih Baik Lewat Internet" dengan membantu dan mengembangkan Unit Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia.

Apakah setelah besar nanti Tokopedia tetap gratis seperti saat ini? Biarlah waktu yang menjawabnya.*

*      *      *
Suasana temu bloggers bersama KEB dan Tokopedia (@roelly87)

*      *      *

Acara KEB bersama Jarvis Store sambil menyimak perkembangan Tokopedia (@roelly87)
*      *      *
Selanjutnya:
- Kenapa Harus (Belanja) ke Tokopedia?
*      *      *

- Cikini, 28 Juni 2015

4 komentar:

  1. Tokopedia ibarat mall raksasa yang di dalamnya menjual berbagai jenis barang. Daan... Aku baru tahu kalau Tokopedia belum mendapatkan untung dan mendapat kucuran dana sebesar itu. Keren!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo untung itu relatif 'ra, kayak Amazon aja harus "berdarah-darah" dulu sebelum akhirnya sekarang sukses :)

      Bisa jadi, Tokopedia seperti Amazon-nya Indonesia...

      Hapus
  2. Wah aku jg dtg loh acara Temu Bloggers di gokana ramen kmren. Hihi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. he he he
      rame banget mbak, kan banyak dari undangan KEB :)

      Hapus

Maaf ya, saat ini komentarnya dimoderasi. Agar tidak ada spam, iklan judi, obat kuat, penjual gunting kuku, dan sebagainya. Silakan komentar yang baik dan pasti saya kunjungi balik. Satu hal lagi, mohon jangan menaruh link hidup...

Terima kasih :)