TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Sisi Lain Atlet Binaraga: Berprestasi tapi Seperti Tak Dianggap

Google Adsense 2016

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya
Ngebolang Menikmati Eksotisnya Kawasan Timur Pulau Jawa

Mengupas Sisi Lain dari Sudut Pandang Blogger...

Sabtu, 05 Desember 2015

Sisi Lain Atlet Binaraga: Berprestasi tapi Seperti Tak Dianggap


Tiga atlet binaraga berprestasi. Dari kiri ke kanan: Dody Syahputra, Syafrizaldi, dan Hendra Zein

"DATANG tak dijemput, pulang tak diantar." Sebagai bagian dari generasi 1990-an yang marak dengan film horor, tentu saya tidak asing lagi dengan peribahasa tersebut. Dalam artian, kehadiran "mereka" tidak dikehendaki.

Analogi itu yang mungkin, menurut saya tepat ditujukan untuk atlet binaraga nasional saat ini. Bagaimana tidak, mereka kerap berprestasi mengharumkan bangsa pada level internasional. Ironisnya, justru atlet-atlet itu seperti "tak di anggap" oleh pemerintah dan juga organisasinya. Dalam hal ini, Persatuan Angkat Besi, Angkat Berat, dan Binaraga Seluruh Indonesia (PABBSI).

Fakta berbicara, untuk mengikuti kejuaraan dunia edisi ketujuh (WBPF) di Bangkok, Thailand, mereka harus modal sendiri. Baik itu persiapan, keberangkatan, saat turnamen, hingga ketika tiba di Tanah Air. Jangan berbicara mengenai sambutan dari masyarakat luas. Bahkan, untuk urus surat di bandara pun, mereka mengerjakannya sendiri!

Beruntung, mereka merupakan profesional. Meski harus berdarah-darah, tetap mampu mengharumkan bangsa ini di mata dunia. Yaitu, dengan menggondol medali emas pada kategori Men's Master Bodybuilding 50-59 Years dan perunggu (Men's Bodybuilding 70 kg) atas nama Syafrizaldi serta rekannya, Jefry Johanis Wuaten (perunggu di kategori Men's Bodybuilding 60 kg).

*        *        *
SIANG itu, Kamis (3/12) suasana di restoran yang terletak di lantai satu sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, mendadak ramai. Itu berkat kehadiran tim dari binaraga Indonesia yang sedang mengadakan acara jumpa dengan blogger. Saya beruntung bisa hadir berkat undangan dari Komunitas Blogger Laki yang terdapat di grup Facebook. Apalagi, lokasinya hanya seperlemparan batu dari kantor saya di Gelora Bung Karno (GBK).

Kebetulan, sejak kecil saya merupakan penggemar olahraga yang hingga kini pun bekerja di bidang yang sama. Namun, jujur saja, untuk binaraga, saya masih asing. Memori saya pada binaraga itu hanya sebatas Ade Rai. Atau, dulu tahunya pas menyaksikan parade manusia berotot kekar dari Hulk Hogan, The Rock, dan Kurt Angle beraksi di panggung gulat hiburan Smackdown!

Selain itu, nyaris dibilang nihil pengetahuan saya mengenai binaraga. Itu mengapa ketika mengetahui undangan dari Komunitas Blogger Laki melalui grup Facebook, saya langsung menyambarnya dengan antusias.Ya, pepatah mengatakan "Tak kenal maka tak sayang." Maka, saya pun bersama belasan rekan blogger larut untuk berbincang dengan tim binaraga Indonesia.

Saat itu, Syafrizaldi hadir bersama dua rekannya sesama atlet, Dody Syahputra dan Hendra Zein. Mereka turut didampingi manajer timnas binaraga, Kemalsyah Nasution dan Budiarto (Pengurus Bidang Pertandingan Binaraga).

Terus terang saja, awalnya saya kira dengan status atlet yang berprestasi mendunia itu, mereka sulit untuk didekati. Ternyata, dugaan saya salah. Malah, mereka yang aktif menyapa kami, Tak jarang, di antara ketiganya saling melempar guyonan. Bahkan, rela untuk bergantian diajak foto bareng! Itu membuktikan, adagium lawas "tak kenal maka tak sayang" terbukti.

Apalagi, ketiga atlet itu benar-benar menerapkan ilmu padi. Yaitu, semakin merunduk semakin berisi. Dalam artian, mereka tak segan-segan berbagi cerita yang menginspirasi untuk kami. Salah satunya diungkapkan Syafrizaldi, bahwa untuk memiliki otot sepertinya, tidak instan. Melainkan, harus ditempa latihan setiap hari. Mulai dari yang ringan seperti lari-lari pagi, angkat berat dengan peralatan fitness, membentuk tubuh di gym, hingga memerhatikan asupan makanan dan pola gizi. Ya, saya setuju dengan atlet berusia 50 tahun itu seperti peribahasa "Kota Roma memang tidak bisa dibangun dalam semalam!"

Hanya, kebahagiaan kami bisa bertemu atlet berprestasi seperti mereka jadi sedih. Itu setelah mendengar penuturan ketiga binaraga tersebut tentang perjalanan jadi atlet. Lantaran, mereka seperti di anaktirikan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dan PABBSI.

*        *        *

"Bagi saya, usia bukan halangan. Apalagi, jangankan usia, segalanya bakal saya lakukan demi mengharumkan negeri ini," kata Syafrizaldi kepada saya dengan pandangan jauh ke depan. "Sayangnya, dukungan pemerintah kepada kami sangat minim. Biasanya, kami setiap mengikuti kejuaraan (dunia) memakai dana sendiri. Seperti ini ke Thailand, harus cari dana belasan juta rupiah untuk persiapan. Saya berharap, Menpora, PABBSI, dan pemerintah lebih memerhatikan cabang olahraga yang kami geluti."

Mendengar penuturan dari pria asal Medan, Sumatera Utara ini jelas membuat saya miris. Kok bisa ya? Demikian dalam hati saya bertanya. Mereka sudah berkorban segalanya, namun seperti tidak dihargai. Itu jadi ironis ketika mengetahui, pemerintah jor-joran mengeluarkan dana untuk olahraga populer seperti sepak bola yang sayangnya minim prestasi di dunia.

Tentu, sebagai penggemar olahraga, khususnya sepak bola sejak 1994, saya paham dengan keadaan ini. Bahkan, untuk turnamen lokal saja seperti bulan lalu, pemerintah begitu memusatkan perhatian. Termasuk dengan kehadiran kepala negara di GBK untuk memberi pengalungan medali.

Tapi, kejuaraan binaraga di Thailand yang levelnya internasional dan masuk dalam kalender resmi World Bodybuilding and Physique Sports Federation (WBPF) malah adem ayem. Dan, ini juara lho. Level internasional kelasnya. Bukan "lokalan" lagi! Hanya, jangankan sambutan dari masyarakat, beritanya di media pun sangat minim. Bisa dihitung dengan jari.

"Yah, mas. Jangankan sambutan, buat berangkat saja kami pakai biaya sendiri. Untuk ngurus (surat) saja susah. Kita berprestasi sama sekali tidak dianggap. Jadi, kalau kami habis menang, ya sudah begitu saja," Dody, dengan tertawa getir. "Di bandara sepi? Bukan sepi lagi. Kita-kita saja yang bikin ramai. Paling yang menyambut porter.yang bawa barang dan juga keluarga."

Kecuali hati saya terbuat dari batu, tentu mendengar penuturan tersebut biasa saja. Sayangnya, hati saya terdiri dari gumpalan daging. Alhasil, saya yang membayangkan saja sudah gimana gitu. Apalagi, mereka sendiri sebagai atlet yang sudah seharusnya diperhatikan karena membawa nama baik negara di mata dunia.

Sudah cukup? Belum. Dalam kesempatan itu, Hendra turut menambahkan, "Selama ini, saya pergi pakai uang pribadi, tabungan. Tapi, bagi saya, kebanggaan jadi atlet tidak bisa dinilai dari uang yang sudah saya keluarkan. Sebab, inilah kesempatan bagi saya untuk membela negara di bidang olahraga. Sempat berpikir saat kami juara di turnamen internasional mendapat sambutan meriah dari masyarakat. Tapi ya sudahlah. Bagaimanapun, saya bersyukur bisa mengharumkan negara meski pemerintah belum mendukung kami sepenuhnya."

*        *        *

LANGIT di kawasan Senayan tampak cerah. Lalu lalang kendaraan bermerek melewati saya yang melangkah menuju kantor. Saya melihat deretan gedung pusat perbelanjaan, hotel, dan kementerian yang sangat mewah. Saya ingat, tempat yang sedang saya pijak itu awalnya dibangun sebagai pusat olahraga. Namun, entah kenapa beralih fungsi jadi gedung komersial.

Sepanjang menyusuri Jalan Pintu Gelora 1, saya teringat dengan kalimat masa lampau yang sangat populer, "Jangan bertanya apa yang negara berikan kepada Anda, tapi tanyakan sudah apa yang Anda berikan untuk negara."

Ah, dalam hati kecil saya bertanya. Apakah kalimat itu masih relevan hingga kini?

*        *        *
Dua piala yang berhasil dimenangkan
*        *        *

Medali dan sertifikat 

*        *        *

Syafrizaldi bercerita mengenai atlet yang kurang mendapat perhatian pemerintah dan PABBSI

*        *        *


Manajer timnas binaraga, Kemalsyah Nasution (dua dari kiri) dan Budiarto (kanan)

*        *        *         *        *        *
*        *        *         *        *        *
*        *        *         *        *        *



Video di Youtube: Ketika Atlet Berprestasi malah di Anak Tirikan Pemerintah
*        *        *



Video di Youtube: Bincang Atlet Binaraga dengan Blogger
*        *        *

Artikel tentang Olahraga dan Atlet Nasional sebelumnya:
- Harapan Atlet Binaraga Agar Pemerintah Lebih Perhatian
*        *        *

- Jakarta, 5 November 2015

14 komentar:

  1. baru nyadar ternyata atlet binaraga dipandang sebelah mata oleh pemerintah, emang sih selama ini gak ada pemberitaan juara atlet via media cetak maupun TV. miris juga.
    yah semoga mereka segera mendapat tempat di hati pemerintah deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo pemberitaan media ada mas, tapi ketutup gaung olahraga populer lainnya seperti sepak bola...

      ya, dengan tulisan kita sebagai blogger, semoga sampe ke telinga petinggi negeri ini. Aamiin

      Hapus
  2. asyiknya bisa ketemu dengan mereka ngobrol bareng.
    bacanya sampe terbawa suasana seakan-akan merasakanya. salut sama perjuangan mereka, bangga sama mereka.terharu juga tapi juga miris.

    seharusnya yang beginilah yang didukung lebih. kalo bola aja heboh yang lain di biarkan sampe-sampe yang berprestasi, padahal bola ya cuma gitu-gitu aja *setauku sih.

    sama media aja gak di liput.

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah itu dia mas, jadi ironis kan
      saya sendiri pecinta sepak bola, tapi pas tahu kondisi atlet binaraga seperti itu jadi miris banget...

      padahal, mereka itu (atlet binaraga) punya segudang prestasi yang mengharumkan Indonesia di blantika olahraga dunia

      Hapus
  3. hebat .. mengharumkan nama negara .. dengan modal sendiri pula .... koq bisa ya .. ga diperhatikan pemerintah bertahun tahun ... #Garuk2Kepala ..

    btw ... lihat otot2-nya bikin minder ... koq saya one pack ya ....

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah itu dia mas, miris kan
      tapi, dapat kabar katanya pihak PABBSI sudah tergerak danbakal beri penghargaan mereka...

      Aamiin

      Hapus
  4. Daripada ngurusin bola yg nggak beres2, mending ngurusin cabang olahraga yg udah nyata2 berkontribusi utk negara ☺

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju mas
      salah satunya binaraga yang memang banyak memberi prestasi dalam olahraga kita :)

      Hapus
  5. ibarat kata mereka pahlawan yang tak dianggap.....


    sepertinya masa depan seorang Atlet kurang menjanjikan yah mas? mending jadi blogger D

    BalasHapus
    Balasan
    1. "ibarat kata mereka pahlawan yang tak dianggap....."

      setuju banget mas
      beruntung sekarang dapat kabar kalo PABBSI memberi apresiasi

      semoga aja ke depannya atlet binaraga kita mendapat perhatian lebih dari pemerintah atau organisasi yang menaunginya
      Aamiin

      Hapus
  6. wuiiih ototnya gede-gede gitu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. he he he
      iya, keren banget sampe six pack kayak aktor di film 300 :)

      *jadi pengen nge-gym lagi

      Hapus
  7. Hendra turut menambahkan, "Selama ini, saya pergi pakai uang pribadi, tabungan. Tapi, bagi saya, kebanggaan jadi atlet tidak bisa dinilai dari uang yang sudah saya keluarkan. Sebab, inilah kesempatan bagi saya untuk membela negara di bidang olahraga.


    -----> WOW .. luar biasa nasionalisme mereka. Salut. Insya Allah, TUhan yang akan membalasnya dengan yang baik2.

    BalasHapus
    Balasan
    1. dahsyat ya, salut sama mereka
      saya aja sampe merinding pas dengernya
      kebetulan, rekaman mereka masih ada
      kadang suka saya puter ulang...

      semoga saja 2016 ini pemerintah lebih memerhatikan mereka, aamiin

      Hapus

Maaf ya, saat ini komentarnya dimoderasi. Agar tidak ada spam, iklan judi, obat kuat, penjual gunting kuku, dan sebagainya. Silakan komentar yang baik dan pasti saya kunjungi balik. Satu hal lagi, mohon jangan menaruh link hidup...

Terima kasih :)