TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Ketika Pep di-PHP Max

Google Adsense 2016

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya
Ngebolang Menikmati Eksotisnya Kawasan Timur Pulau Jawa

Mengupas Sisi Lain dari Sudut Pandang Blogger...

Jumat, 26 Februari 2016

Ketika Pep di-PHP Max

Ketika Pep di-PHP Max


Massimiliano Allegri ditemani Fernando Llorente saat berkunjung ke Indonesia 


DUA wajah diperlihatkan Josep Guardiola di Juventus Stadium. Demikian pandangan mata saya saat menyaksikan pertandingan Juventus versus Bayern Muenchen di layar televisi pada Rabu (24/2) dini hari WIB.

Sepanjang 90 menit, pria yang akrab disapa Pep itu sangat ekspresif. Beberapa kali Guardiola geregetan saat menyaksikan serangan timnya dimentahkan Leonardo Bonucci dan kawan-kawan. Namun, eks pelatih Barcelona ini melonjak kegirangan ketika Arjen Robben membuat timnya unggul 2-0 pada menit ke-55.

Ya, unggul dua gol di markas lawan dengan dominasi penguasaan bola -saat itu- 72-28  tentu membuat mayoritas penggemar sepak bola di kolong langit yakin: Muenchen bakal memenangkan pertandingan.

Apalagi, Guardiola dikenal sebagai pelatih cerdas yang pada pergantian milenium, kadarnya hanya di bawah Jose Mourinho, Marcello Lippi, dan Carlo Ancelotti. Pria asal Katalunya ini merupakan master taktik yang selalu mempelajari strategi lawan.

Itu karena Guardiola mengadopsi salah satu dari seni berperang ala Sun Tzu, “Kenali musuh Anda. Ukur dengan kekuatan diri sendiri. Jika sudah tahu, Anda 100 kali berperang, 100 kali pasti menang.”

Strategi itu berlangsung dengan baik. Setidaknya hingga satu jam pertama, Juventus tampil bak macan ompong. Lantaran Guardiola mengetahui jelas pergerakan para pemain tuan rumah dengan taktik mengurung musuh ala Sun Tzu.

Sayangnya, Guardiola alpa. Sebab, kali ini lawannya Massimiliano “Max” Allegri. Pria 48 tahun ini jelas bukan pelatih kacangan. Mungkin, secara prestasi, Allegri tidak sementereng Mourinho, Ancelotti, apalagi Lippi. Namun, untuk sekadar mengalahkan Guardiola dan pasukannya, saya berani mengatakan taktik yang dimiliki Allegri sudah lebih dari cukup.

Gol pertama Juventus jadi bukti Allegri benar-benar penganut aliran catenaccio tulen. Mengenai strategi ultra-defensif ini, mengingatkan saya saat Lippi membungkam publik Jerman di semifinal Piala Dunia 2006. Ya, serangan balik sudah jadi ciri khas Italia. Jauh sebelum Enzo Bearzot berpesta di Stadion Santiago Bernabeu 34 tahun silam.

Serangan balik “I Bianconeri” yang diawali pergerakan Juan Cuadrado di sisi kanan pertahanan Muenchen jadi bukti sahih. Gelandang pinjaman asal Chelsea itu memberikan umpan tarik ke kotak penalti yang celakanya malah membentur Joshua Kimmich.

Jebolan VfB Stuttgart itu gagal mengontrol bola dengan baik hingga mampu diserobot Mario Mandzukic. Top score Piala Eropa 2012 ini dengan cerdik langsung menyodorkan bola ke arah Paulo Dybala yang langsung dikonversi jadi gol. Skor 1-2 dengan Guardiola tetap terlihat kalem sambil memasukkan kedua tangannya di balik saku jas.

*       *       *

Pucak kegeniusan Allegri terlihat saat melakukan pergantian pemain. Sami Khedira yang agak kedodoran ditarik untuk memberi kesempatan Stefano Sturaro pada menit ke-69. Tak lama, Allegri mengambil keputusan krusial dengan memasukkan Alvaro Morata yang menggantikan Dybala.

Pada periode ini, intuisi Allegri sebagai pelatih papan atas benar-benar teruji. Sebab, dua pergantian itu seperti perjudian yang akhirnya sukses membuat mayoritas penonton di seluruh dunia terpesona. Lantaran, Morata berhasil memberi assist yang diselesaikan Sturaro dengan ciamik.

Kali ini, Manuel Neuer ikut andil secara tidak langsung dalam memungut bola dari gawangnya. Sebab, umpannya gagal dikuasai Philipp Lahm hingga direbut Paul Pogba untuk diteruskan kepada Mandzukic. Lagi-lagi striker asal Kroasia ini membuat bencana untuk mantan timnya dengan mengoper kepada Morata yang disundul ke arah gawang.

Sturaro yang jeli melihat arah bola dari sisi kanan pertahanan Muenchen langsung maju dengan mengangkangi Kimmich. Melalui sentuhan liar, pemain yang didatangkan Juventus dari Genoa senilai 5,5 juta euro (sekitar Rp 81,3 miliar) ini langsung mencocor bola menembus jala.

Neuer kembali geleng-geleng kepala menyaksikan gawangnya kebobolan hanya dalam durasi 13 menit. Sementara, Sturaro mencetak gol perdana di Liga Champions sepanjang kariernya hanya tujuh menit setelah berada di lapangan.

Dari layar televisi, Guardiola tampak memandang jauh ke papan skor yang berganti otomatis dari 1-2 jadi 2-2. Sekilas, raut wajahnya seperti seorang pria yang sudah yakin cintanya diterima wanita, namun setelah sekian lama menanti malah ditolak.

Pada saat yang sama, Wakil Presiden Juventus Pavel Nedved mengangkat kedua tangannya dengan histeris. Kontras dengan tatapan nanar Franck Ribery yang bersiap ke lapangan.

Akun twitter resmi UEFA, @championsleague, melukiskan proses gol tersebut dengan indah bak goretan kubisme ala Pablo Picasso, “Kombinasi antarpemain pengganti. Morata memberi umpan dari sisi kiri yang diteruskan Sturaro untuk melewati Neuer.” Pertanyaannya, di mana posisi dua bek “FC Hollywood” lainnya saat itu, David Alaba dan Mehdi Benatia? Hanya Tuhan yang tahu.

*       *       *

Dua gol balasan Juventus itu memperlihatkan Allegri yang sebenarnya. Guardiola boleh menerapkan strategi Sun Tzu dengan nyaris sempurna. Namun, Allegri menjawabnya pun dengan tanpa cela seperti ketika Zhuge Liang mengecundangi Sima Yi melalui siasat kota kosong. 

Ya, tanpa Giorgio Chiellini yang masih cedera membuat Allegri harus mengganti skema dari 3-5-2 jadi 4-4-2. Di atas kertas, kecepatan Patrice Evra di sisi kiri dan Stephan Lichtsteiner di kanan jelas sulit mengimbangi pergerakan Arjen Robben dan Douglas Costa.

Tapi, dengan amunisi seadanya, siasat kota kosong yang populer sejak era Tiga Kerajaan ini ternyata ampuh untuk meredam dominasi Guardiola. Sebab, kelemahan Evra dan Lichtsteiner membuat penggawa Muenchen bernafsu untuk lebih menyerang. Imbasnya, tuan rumah jadi lebih leluasa untuk untuk memberi terapi kejut.

Terbukti, statistik UEFA mencatat, penguasaan bola Muenchen mencapai 64 persen yang jauh mengungguli “Si Nyonya Besar” (36 persen). Hanya, hingga wasit Martin Atkinson meniup peluit panjang, nyatanya kedua tim sama-sama mencetak dua gol.

Ya, adagium lawas berkata, kosong adalah isi dan isi adalah kosong. Itu yang terjadi saat ini, ketika Allegri seperti melakukan PHP –pemberi harapan palsu- kepada Pep.***


*       *       *

Artikel sebelumnya:
- Apalah Artinya Sebuah Nama
(Esai Foto) Di Balik Liburan ke Curug Nangka (I)
11 Tahun Harian TopSkor
Chiellini: Antara Suarez, Indonesia, dan Kedekatannya dengan Juventini
- Kenangan Bersama Andrea Pirlo saat Masih Perkuat Juventus
Wawancara Eksklusif: Giorgio Chiellini: Saya Cinta Juventini Indonesia!
Wawancara Eksklusif: Andrea Pirlo: Allegri bisa Memberi yang Terbaik 
Wawancara Eksklusif: Claudio Marchisio: Cuaca di Jakarta Seperti di Manaus
*       *       *
*Artikel ini dimuat di Harian TopSkor edisi Senin (29/2) - Jakarta, 26 Februari 2016

2 komentar:

  1. waah seru banget bacanya, hahaa gak kebayang mukanya pas liat sekor 2-2 kayak di tolak wanita yang sebelumnya yakin diterima.

    aku gak ngerti bola, jadi mau koment apa pun bingung, tapi baca ini seru serasa nonton.

    BalasHapus

Maaf ya, saat ini komentarnya dimoderasi. Agar tidak ada spam, iklan judi, obat kuat, penjual gunting kuku, dan sebagainya. Silakan komentar yang baik dan pasti saya kunjungi balik. Satu hal lagi, mohon jangan menaruh link hidup...

Terima kasih :)