TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: The Revenant: Tertolong Sinematografi dan Totalitas Di Caprio

Google Adsense 2016

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya
Ngebolang Menikmati Eksotisnya Kawasan Timur Pulau Jawa

Mengupas Sisi Lain dari Sudut Pandang Blogger...

Rabu, 10 Februari 2016

The Revenant: Tertolong Sinematografi dan Totalitas Di Caprio


Poster internasional The Revenant (sumber: 20th Century Fox)

"REVENGE is in God's hand, not mine." Demikian salah satu adegan dalam The Revenant yang saya saksikan di salah satu teater di selatan Jakarta, akhir pekan lalu. Ekspekstasi saya langsung pecah saat menonton film yang disutradari peraih Academi Awards (Oscars) 2015, Alejandro Gonzalez Inarritu.

Ya, The Revenant bukan sekadar film bak-bik-buk dengan tema balas dendam. Melainkan, agar sang tokoh utama Hugh Glass yang diperankan Leonardo Di Caprio mampu bertahan hidup dari berbagai rintangan.

Mulai dari ketika tubuhnya dikoyak-koyak beruang Grizzly, menghindari serbuan maut dari suku Indian Ree, hingga puncaknya ketika empat orang terdekatnya tewas: Istrinya yang diperankan Grace Dove, anaknya Hawk (Forrest Goodluck), rekannya Indian suku Pawnee, Hikuc (Arthur Redcloud), dan mentornya kapten Andrew Henry (Domhnall Gleeson).

Bisa dipahami mengingat The Revenant terinspirasi dari kejadian sebenarnya pada 1823 di Dakota, Amerika Serikat (AS). Insiden itu dijadikan novel berjudul sama karya Michael Punke yang terbit 2002.

Jadi, sekedar informasi dan meluruskan, The Revenant bukan berdasarkan kisah nyata (Based on True Story) seperti yang digemborkan media. Melainkan, terinsiprasi dari kejadian sebenarnya (Inspired by True Event) seperti yang ditegaskan dalam poster edisi internasional.

*       *       *
KISAHNYA dibuka dengan tim eskspedisi yang sedang melakukan perburuan untuk mendapatkan kulit di wilayah Montana. Tak lama, tim yang berjumlah 45 orang hanya menyisakan tidak lebih dari seperlimanya. Itu akibat serangan dari suku Ree. Puncaknya, ketika Glass yang sedang ronda diterkam beruang.

Ketika dalam kondisi memprihatinkan, Andrew mengambil keputusan penting: Mengorbankan satu orang untuk kepentingan kelompok atau mengorbankan semuanya demi Glass. Itu karena Glass yang sudah tertolong dalam keadaan cacat. Dan, seluruh tim kesulitan mengangkatnya untuk kembali ke kamp karena kondisi alam AS yang keras ditambah cuaca ganas.

Pilihan kedua dipilih Andrew dengan menugaskan dua anggotanya, John Fitzgerald yang diperankan aktor watak Tom Hardy dan Jim Bridger (Domhnall Gleeson) dengan bayaran besar untuk menjaga Glass hingga maut menjemput.

Keputusan sang kapten itu memengaruhi alur cerita secara keseluruhan. Sebab, pada akhirnya, Fitzgerald dengan tega melakukan tiga hal demi mengambil bayaran besar: Membunuh Hawk, membohongi Bridger, dan mengubur Glass hidup-hidup. Sikap Fitzgerald ini yang jadi titik tolak kebangkitan Glass hingga seperti mempunyai nyawa sembilan.

*       *       *
OKE, saya sudahi dulu sinopsisnya agar tidak jadi spoiler berhubung film ini masih tayang di berbagai bioskop di Tanah Air. Secara keseluruhan, saya harus jujur mengatakan, tidak ada hal baru dalam film ini. The Revenant bertema survival seperti yang banyak diperlihatkan insan Hollywood lainnya.

Namun, yang membuat saya kagum pada film berdurasi 156 menit ini karena dua hal: Sinematografinya yang sungguh memesona dan totalitas akting Di Caprio. Pantas jika film yang diproduksi 20th Century Fox ini mendapat 12 nominasi dalam Academy Awards ke-88.

Itu menandakan, The Revenant memang tidak hanya membuat penonton kagum, melainkan juga memikat juri Oscars. Sebab, dua pesaing terdekatnya, Mad Max yang diperankan Hardy hanya mendapat 10 nominasi dan The Martian (Matt Damon) tujuh nominasi.

Di antara 12 nominasi itu, saya menjagokan The Revenant meraih minimal tiga: Best Actor untuk Di Caprio, Best Director (Inarritu), dan Best Cinematography (Emmanuel Lubezki). Sebagai pencinta film, saya memiliki alasan jelas dengan mengenyampingkan faktor subjektif karena memang penggemar Di Caprio.

Pertama, menurut saya film ini memang dibuat agar Di Caprio memenangkan Oscars setelah tiga kali di-PHP sebagai Best Actor dalam The Wolf of Wall Street, Blood Diamond, dan The Aviator. Apalagi, di antara nomine tahun ini, tidak ada yang tampil lebih baik dibanding Di Caprio.

Faktanya, menurut saya pribadi, Damon terjebak nostalgia dengan film-film bertema penyelamatan, Michael Fassbender terlalu kaku untuk memerankan Steve Jobs, dan Bryan Cranston aktingnya kurang menggigit. Paling, yang menurut saya bisa merebut juri Oscars hanya Eddie Redmayne yang tampil ikonik dalam The Danish.

Jadi, 2016 ini kesempatan terbesar Di Caprio untuk mendapat Oscars setelah 10 Januari lalu memenangkan Golden Globe sebagai Aktor Drama Terbaik. Jika pria 41 tahun ini kembali gagal, entah kapan lagi bisa memenangkan penghargaan paling prestisius tersebut.

Selanjutnya, Best Director, secara logika Inarritu bisa mempertahankan pialanya. Itu jika melihat lima nomine seperti Adam McKay dengan The Big Short, Lenny Abrahamson (Room), Tom McCarthy (Spotlight), dan George Miller (Mad Max: Fury Road). Di antara empat rivalnya, nama terakhir yang mungkin bakal mengganjal Inarritu.

Terakhir, untuk sinematografi terbaik, sulit melepas dari Lubezki. Pasalnya, di tangan pria 51 tahun dan timnya ini membuat pemandangan dalam The Revenant mirip aslinya. Jujur, ini bukan film terbaik yang pernah saya tonton. Namun, The Revenant bisa dibilang sebagai film dengan sinematografi terindah yang pernah saya saksikan di bioskop.

*       *       *
TIADA gading yang tak retak. Pun, begitu dengan The Revenant. Secara cerita, plotnya datar dan nyaris tidak ada twist. Ini bukan hanya menurut saya pribadi, melainkan juga berdasarkan tanggapan dari berbagai kritikus.

Tolok ukurnya bisa dilihat dari Rotten Tomatoes hanya memberi rating 82% dari 282 reviewers dengan nilai rata-rata 8/10. Bagi saya, ini cukup menyedihkan untuk film sekelas The Revenant yang mendapat 12 nominasi Oscars. Bahkan, salah satu kritikus ternama, Carlos Boyero yang merupakan jurnalis El Pais, menilai, "Dalam durasi yang luar biasa panjang, saya hanya fokus pada keindahan gambar dan tata cahaya alami dari Lubezki."

Setali tiga uang dengan laman Metacritic yang memberi nilai 76 dari 100 untuk The Revenant. Pun begitu dengan laman Internet Movie Databes (IMDb) yang merating 8,2/10.

Beruntung, kritik negatif itu diimbangi sajian positif dari laman TIME edisi 22 Desember melalui kolumnisnya, Stephanie Zacharek, "Selain Lubezki (dalam sinematografi), film ini tertolong dengan tangan dingin Inarritu dan akting Di Caprio yang tampil menjiwai dalam perannya sebagai Glass."

Nah, bagaimana dengan Anda?

The Revenant versi www.roelly87.com
Cerita: 7/10
Pameran utama: 9/10
Pameran pembantu: 8/10
Alur: 7/10
Musik: 7/10
Sinematografi: 9/10
Keseluruhan: 8,5/10

Catatan: Tidak disarankan nonton film ini dengan membawa anak kecil atau bersama wanita hamil!

Artikel ini juga dimuat di blog Kompasiana dengan judul sama
*       *       *

Film ini tertolong sinematografi yang gila banget dan akting Leonardo Di Caprio (sumber foto: Facebook The Revenant)

Referensi:
- Time, Rotten Tometoes, Metacritic

Artikel terkait:
Tentang Film "I Am Hope" dan Harapan Jelang Ajal Menjemput
Nostalgia dengan Dragon Blade Bersama Celestial Movies
Tujuh Film Terlaris Tahun Ini 
Setelah Ultron Giliran Ant-Man Beraksi
Lebih Dekat dengan Komunitas Marvel Indonesia
Age of Ultron Tembus 1 Miliar Dolar AS: Apakah Mampu Mengejar Furious 7?
Ternyata Thor Bisa Bahasa Indonesia!
Antara Hammer Girl, Palu, dan Senjata Unik Lainnya dalam Film
Ekspekstasi Berlebihan di Film The Raid: Berandal
Komik The Raid: Dari Warna Merah ke Hitam Putih
Barcelona vs Chelsea Mirip Kisah The Raid
Joe Taslim dan Wakil Indonesia di Hollywood
Nostalgia Dua Dekade Jurassic Park
Mencari Hilal: Tontonan Sekaligus Tuntunan Film Berkelas
Ironi Film Indonesia: Terasing di Negeri Sendiri
Antara Guardian dan Sepinya Penonton Akibat Spiderman
Gempuran Film Horror Berbau Esek-esek di Tengah Lesunya Penonton

*       *       *
- Jakarta, 10 Februari 2016

13 komentar:

  1. Film ini bagus, Leo menampilkan sisi lain dr seorang tertindas dgn brjuang smpai titik akhir. Siap-siap duka panjang krn film ini bukan happy ending.

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju mas...
      ini bukan film dengan akhir bahagia :)

      btw pas liat leo minum di sungai, terus dari lehernya keluar air bekas kecabik2 beruanug itu rasanya gimana gitu...

      Hapus
  2. suka detail film ini.. cuma memang kayanya terlalu panjang yah sampai bertanya tanya masih lama ngga sih ujungnya. hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. hi hi hi 156 menit mas, lumayan lama sih
      sekalinya deadpool malah sebentar :)

      Hapus
  3. baru mau tanya aman gak bawa anak hehehe ternyata udah ada warning. Cari yg mau jaga anak dulu deh baru bisa lihat Leo :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. untuk the revenant sama deadpool mending jangan bawa anak kecil mbak, banyak adegan sadis sama kalimat yang vulgar...

      *sekadar info :)

      Hapus
  4. knp wanita hamil dsarankn tdk ikut nntn?

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini banyak adegan sadis mas, makan daging mentah, kepalanya ditembak, dll...
      jadi kalo wanita hamil nonton dikhawtirkan trauma gitu

      *sekadar info

      Hapus
  5. hahaaa.. ini aku malah lagi nonton, baru mulai sih filmnya nonton di kost temen.
    seru juga kayaknya ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. asyik...

      lah di kostan?
      streaming ya?
      di luar film ini udah rilis dari 2 bulan lalu sih , tapi tetep liat di bioskop lebih mantep :)

      Hapus
  6. wah keren juga nih kyaknya filmnya..
    salam kenal
    sutopo

    BalasHapus
  7. Di caprio salah satu idola saya :)

    BalasHapus
  8. Klo film si akang leonardo entah kenapa selalu bagus *tiba2 inget titanic #ehh haha

    BalasHapus

Maaf ya, saat ini komentarnya dimoderasi. Agar tidak ada spam, iklan judi, obat kuat, penjual gunting kuku, dan sebagainya. Silakan komentar yang baik dan pasti saya kunjungi balik. Satu hal lagi, mohon jangan menaruh link hidup...

Terima kasih :)