TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Apalah Artinya Sebuah Nama

Google Adsense 2016

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya
Ngebolang Menikmati Eksotisnya Kawasan Timur Pulau Jawa

Mengupas Sisi Lain dari Sudut Pandang Blogger...

Selasa, 23 Februari 2016

Apalah Artinya Sebuah Nama

Apalah Artinya Sebuah Nama

Trofi asli Liga Champions



MALAM itu di sebuah restoran cepat saji yang terletak di jantung ibu kota tampak ramai. Mayoritas pengunjung terpaku pada layar tipis berukuran 40 inci yang tengah menayangkan pertandingan sepak bola.

Di pojok ruangan, tampak beberapa pemuda asyik menikmati kopi dan cemilan ringan. Sesekali mereka mengomentari jalannya pertandingan di salah satu kompetisi elite Eropa. Perbincangan kian menarik ketika di antara keempat pemuda itu membahas pertandingan leg pertama 16 besar Liga Champions antara Arsenal versus Barcelona.

 “Bro, gimana menurut elo peluang ‘The Gunners’ di Arsenal Stadium?” tutur pemuda tanggung membuka obrolan.

Rekannya yang ditanya sambil mengunyah paha ayam goreng terlihat agak bingung. “Arsenal Stadium? Stadion baru bro?

“Udah lama keles. Itu kan markas Arsenal yang menggantikan Highbury.”

“Serius lo? Gue tahunya Emirates Stadium. Kalo Arsenal Stadium malah gue baru tahu.”

“Iya sih. Tadi gue lihat di situs resmi UEFA namanya Arsenal Stadium bukan Emirates…”

Obrolan mereka kian menarik ketika salah satu rekannya yang sebelumnya sibuk menatap layar tv turut menimpali, “Tapi, itu cuma di UEFA aja bro. Kalo di media cetak, online, dan televisi, tetap aja namanya Emirates Stadium.”

Yaelah, apa pun nama stadionnya, yang penting gue jagoin Arsenal. Menurut gue peluang pasukan Arsene Wenger 60-40.”

“Yakin lo?”

“Yakinlah kan maennya di kandang. Ga tahu juga kalo di Camp Nou…”

“Pasti jadi bulan-bulanan. Ha ha ha.”

“Ya gitu deh. Lo kan tahu sendiri gimana kualitas Barcelona dibanding Arsenal. Dari zaman lo kecil sampe sekarang lo udah punya anak kecil lagi juga mereka mah susah buat menang.”

“Ha ha ha.”

*         *         *

YA, demikian percakapan empat pemuda itu di sebuah resto franchise tersebut. Sekilas, bagi saya yang posisinya hanya terpaut dua meja dari mereka, obrolan itu tidak ada yang menarik. Bahkan, sama sekali tidak menarik mengingat yang dibicarakan tidak jauh dari dominasi Barcelona dan Arsenal. Toh, saya bukan penggemar dua klub itu.

Namun, saya jadi lebih intens untuk “menguping” ketika mereka mempersoalkan mengenai nama stadion. Tentu, ini sangat menarik. Sebab, nama itu bisa penting atau tidak penting tergantung siapa yang menilai.

Pujangga asal Inggris, William Shakespeare, pernah berseloroh yang sejak abad ke-16 hingga kini masih relevan, “Apalah artinya sebuah nama? Mawar tetap harum meski diberi nama lain.”

Apa yang dikatakan penulis roman Romeo dan Julia ini tidak salah. Sebab, memang diberi nama apa pun, mawar tetap wangi. Pun begitu dengan Filippo Inzaghi saat memperkuat AC Milan dijuluki “raja offside”. Bahkan sempat disindir legenda hidup Manchester United (MU), Alex Ferguson, bahwa Inzaghi dari lahir sudah offside.

Nyatanya, Inzaghi tetap Inzaghi sebagai salah satu striker terbaik sepanjang masa. Dua golnya ke gawang Liverpool pada final Liga Champions 2006/07 jadi bukti Inzaghi tidak terpengaruh dengan julukan tersebut.

Di sisi lain, nama sangat penting bagi yang berkepentingan. Dalam hal ini Federasi Sepak Bola Eropa (UEFA) yang berwenang mengatur Liga Champions. Otoritas tertinggi bal-balan di benua biru itu tidak pernah main-main dengan nama. Bahkan, mereka sangat tegas karena menyangkut relasi dengan mitra dan sponsor.

Contohnya, seperti obrolan empat remaja tersebut mengenai stadion Arsenal. Menurut versi resmi klub yang bermarkas di London itu, markasnya bernama Emirates Stadium. Nama itu juga sudah familiar di kalangan fan dan media.

Namun, jika sudah tampil di kompetisi Eropa yang jadi domain UEFA, kandang Mesut Oezil dan kawan-kawan otomatis berubah jadi Arsenal Stadium. Pergantian nama itu bukan tanpa alasan. Pasalnya, UEFA ingin melindungi delapan perusahaan yang jadi mitra di Liga Champions. Yaitu, Nissan, Gazprom, Heineken, MasterCard, Sony, UniCredit, Pepsi, dan Adidas.

Sementara, Emirates yang merupakan maskapai ternama asal Uni Emirat Arab (UEA) bukan rekanan UEFA. Alias, hanya sebagai sponsor utama Arsenal. Tepatnya meminjam nama stadion dengan kontrak 15 tahun sejak 2004 hingga 2019 senilai 150 juta pound (sekitar Rp 2,8 triliun). Tak heran jika kita tidak pernah melihat logo Emirates pada sisi lapangan ketika Arsenal tampil di Liga Champions.

*         *         *

SELAIN Arsenal, pada 16 besar Liga Champions musim ini terdapat lima klub yang “berganti” nama stadion terkait sponsorship. Misalnya, markas Bayern Muenchen, Allianz Arena, yang jadi Fussball Arena, PSV Eindhoven (Philips Stadium – PSV Stadion), Gent (Ghelamco Arena – KAA Gent Stadium), Manchester City (Etihad Stadium – City of Manchester Stadium), dan VfL Wolfsburg (Volkswagen Arena – VfL Wolfsburg Arena).

Nah, yang menarik pada markas Wolfsburg yang sepenuhnya didanai Volkswagen Group, produsen otomotif terbesar ketiga di kolong langit setelah Toyota dan General Motors. Lantaran setiap “The Wolves” tampil di Liga Champions, mereka harus rela menyaksikan deretan kendaraan dari kompetitornya, Nissan, berseliweran di papan elektronik stadion.

Tentu, untuk mendapatkan hak eksklusif itu tidak murah. Apalagi mengingat Liga Champions merupakan kompetisi antarklub paling elite sejagat raya. Kadarnya, hanya kalah dari Piala Dunia dan Piala Eropa yang berlangsung setiap empat tahun sekali. Sejauh ini, UEFA memang tidak mengungkapkan nilai nominal setiap mitranya.

Namun, menurut BBC, nilai kontrak Nissan yang menggantikan Ford untuk Liga Champions mencapai 54 juta euro per musim atau nyaris Rp 800 miliar! Itu jadi bukti, bagi UEFA, adagium “apalah artinya sebuah nama” sama sekali tidak berlaku.

*Artikel ini dimuat di Harian TopSkor edisi Rabu, 24 Februari 2016


*         *         *
- Jakarta, 23 Februari 2016

14 komentar:

  1. Balasan
    1. kalah itu kemenangan yang tertunda, mas :)

      Hapus
  2. Arsenal barca berapa-berapa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang pasti, barca-arsenal 50:50 mas :)

      Hapus
  3. #gulung tiker
    #nyimak percakapan lelaki tentang bola

    Klo sepakbola inggris aku pesti ingetnya si om mourinho hahaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu pelatih favorit saya juga mbak :)
      waktu di inter sama madrid dulu...

      Hapus
  4. Udah pensiun jadi penggemar sepak bola ,sekarang jadi tim hore aja hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aiiiih, pensiun kayak pegawai negeri aja :)
      he he he

      Hapus
  5. ah udah gak ngerti sekarang tentang bola, ketinggalan banyak

    BalasHapus
    Balasan
    1. lha, katanya fan berat mu?
      hi hi hi

      Hapus
  6. Nama itu penting mas, hati2 salah sebut nama hehehe..
    hixhixhix sabar yaa Arsenalnya kalah, mas..
    kalo MU MU MU pie??? hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya begitulah pis :)
      mu ya seperti itu, jalan di tempat he he he

      Hapus
  7. Aku fans Arsenal sih nggak masalah sama penggantian nama stadium emirates jadi arsenal stadium di liga champion :' masalahnya cuma Arsenal kemarin kalah dan peluang besok di camp nou besok berat banget :'

    BalasHapus
    Balasan
    1. hi hi hi
      sabar ya mas, di camp nou masih ada peluang kok
      menurut saya sih 50-50
      secara, arsenal aja mampu ngalahin muenchen di fussball arena, apalagi "cuma" barcelona :)

      Hapus

Maaf ya, saat ini komentarnya dimoderasi. Agar tidak ada spam, iklan judi, obat kuat, penjual gunting kuku, dan sebagainya. Silakan komentar yang baik dan pasti saya kunjungi balik. Satu hal lagi, mohon jangan menaruh link hidup...

Terima kasih :)