TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol

Kamis, 15 Oktober 2015

Sisi Lain Budi Waseso (Buwas): Pasukan Khusus, Ceplas-ceplos, dan Kritik Feodalisme di Kalangan Pejabat


Budi Waseso dalam acara Saresehan Advokasi P4GN bagi Kalangan Media


"TANPA berkelahi tidak akan jadi sahabat."

Jika Anda penggemar cerita silat Jin Yong, pasti tidak asing dengan penggalan kalimat itu yang ada di novel Ie Thian To Liong. Alias, dalam versi Indonesia dikenal sebagai Pedang Langit dan Golok Pembunuh Naga.

Demikian persepsi yang saya dapat ketika pertama kali bertemu dengan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Budi Waseso. Maklum, sejak Januari lalu, stigma saya terhadap pria 54 tahun ini bisa dibilang agak gimana gitu. Meski, tidak seekstrem kalimat dalam novel tersebut. Namun, kesan saya terhadap mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Polri (Bareskrim) ini tetap ya begitu.

Di sisi lain, saya juga mengingat jelas adagium lawas yang mengatakan, "Tak kenal maka tak sayang."

*      *      *

RATUSAN manusia tampak antusias memadati ruangan di Avara Function Hall, Epicentrum Walk, Jakarta Selatan, Selasa (13/10). Wartawan, pejabat undangan, praktisi, hingga blogger, tumplek jadi satu menyorot ke panggung.

Penyebab dari antusiasme mereka bukan lain demi mendengarkan pidato Budi yang jadi narasumber dalam Sarasehan Advokasi P4GN di Kalangan Media Elektronik bersama Roy Suryo dan Antar Sianturi. Pria yang tak masalah disapa Buwas -meski kadang mengaku kerap diplesetkan jadi "buas"- ini dengan bergelora menyatakan visi BNN untuk memerangi peredaran narkotika dan obat terlarang (narkoba).

Apalagi, kalau bukan mewacanakan hukuman mati atau minimal isolasi di pulau terpencil untuk bandar dan pengedar. Bahkan, tanpa tedeng aling-aling, Budi, mengaku sudah menyiapkan pasukan khusus untuk memerangi narkoba!

"Nanti (keberadaan pasukan khusus) ini pasti akan bikin gaduh. Apalagi, dari teman-teman wartawan ini pasti digaduhkan biar ramai. 'Memang nih pak Buwas ini bikin gara-gara terus.' Tapi yang terpenting bagi saya ini dari tujuan itu. Untuk bekerja memerangi narkoba. Untuk menyelamatkan nyawa. Menyelamatkan generasi bangsa ini. Itu yang paling penting. Akibatnya? Pasti ada. Tapi ya, kita harus hadapi," kata Budi sambil tersenyum seperti yang saya rekam dan unggah videonya di laman youtube.

Dalam kesempatan itu, Budi, membuktikan sebagai Kepala BNN tidak gentar terhadap siapa pun demi memerangi narkoba. Apalagi, jenderal bintang tiga itu menegaskan, posisinya saat ini sudah di bawah langsung presiden (Joko Widodo). Jadi, apa pun yang dilakukannya untuk memberantas narkoba, terkait pro dan kontra, tergantung kebijakan presiden.

Bagi saya, pernyataan itu sangat menarik. Sebab, berbeda 180 derajat dibanding Kepala BNN sebelumnya yang kini menjabat Kabareskrim, Anang Iskandar. Sebab, Budi lebih blak-blakan, ceplas-ceplos, dan agak -menurut saya- slengean dalam mengungkapkan sesuatu. Sementara, Anang, yang saya kenal, selain blogger aktif di blog pribadinya www.anangiskandar.wordpress.com, lebih kalem dalam menyikapi sesuatu.

Misalnya, menurut Budi, pengguna narkoba merupakan kriminal. Sedangkan, Anang menyebut pemakai sebagai korban yang memang harus direhabilitasi. Meski berbeda, bagi saya, keduanya merupakan putra terbaik bangsa ini yang mengemban tugas mahapenting di divisi masing-masing. Kesamaannya, baik Budi dan Anang sudah berpengalaman dalam tugas sebelumnya. Menurut saya yang termasuk masyarakat awam, mereka juga sama-sama komitmen dalam menunaikan jabatannya.

Sebagai blogger yang sejak 2012 lalu tergerak untuk ikut dalam kampanye BNN, tentu saya mendukung rencana Budi. Hanya, untuk saat ini memang, masih belum tepat. Itu mengingat usia jabatannya sebagai Kepala BNN yang baru sebulan setelah dilantik pada 8 September lalu. Mungkin, akan lebih elok jika penanganan soal hukum mati, kriminalisasi, isolasi, dan pasukan khusus untuk memerangi narkoba, diwujudkan dalam beberapa bulan ke depan sampai sarana dan prasarana tersedia.

*      *      *

CEPLAS-ceplos seperti sudah identik dengan Budi yang saya ikuti beritanya di media sejak menjabat Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Gorontalo. Menurut saya, apa yang dilakukannya sangat positif. Sebagai bagian dari generasi muda, jujur saya jadi berbalik mengaguminya setelah menghadiri acara BNN tersebut. Itu karena Budi dengan lantang mengaku tidak menyukai birokrasi yang bisa menghambat kinerjanya dalam memberantas narkoba.

"Kadang-kadang saya harus bertemu Ketua DPRD DKI, ya saya datangi. Tanpa harus saya kirim surat atau atur waktu. Bahkan lagi di mobil pun, jika perlu, saya telepon orangnya, saya langsung ke situ. (Tapi) kadang-kadang orang kan enggan, dengan mengatakan, masa malah Kepala BNN yang ke sini!" tutur Budi, yang tidak malu mengakui sebelumnya sempat jadi tukang ojek. "Kan kita kadang-kadang kebiasaan feodal masih dibawa-bawa. Minta dihargai, minta dihormati. Padahal, kita sendiri enggak pernah buat apa-apa. Nah ini yang selalu saya tanamkan kepada anggota (BNN) saya juga. Bahwa Kepala BNN punya tanggung jawab yang lebih."

Mendengar penuturannya itu jelas membuat saya merinding. Sangat sedikit pejabat di negeri ini yang seperti Budi. Jadi, selain wajahnya yang terkesan menyeramkan karena sudah terdoktrin "buas" sejak Januari lalu, ternyata penikmat kopi ini memiliki sisi lain yang positif. Ironisnya, itu jarang diketahui publik mengingat stigma negatif yang sudah kadung melekat.

"(Setiap hari) saya jam enam sudah di kantor dan jam 11 (23.00 WIB) baru pulang, itu karena beban tugas saya yang berbeda dengan anggota saya. Gaji saya dengan anggota saya sudah berbeda. Begitu juga fasilitas yang diberikan negara untuk saya dan anggota saya sudah berbeda. Jadi, sudah kewajiban saya yang bekerja lebih. Tidak boleh saya menuntut seperti anggota saya. (Kalau tidak mau seperti itu) ya jangan jadi Kepala BNN. Ini biasa bagi saya untuk kerja maksimal," Budi, menjelaskan.

*      *      *

TEGAS, berani, disiplin, dan sangat membela anak buah. Demikian kesimpulan yang saya dapat usai berbincang dengan Budi dari awal acara hingga lift saat mengantar kepergiannya. Namun, apakah benar demikian? Sebagai blogger, saya punya kewajiban untuk melakukan "verifikasi" alias cover both side dengan menggali sumber dari pihak kedua (ho ho ho, bahasanya berat).

Singkat kata, saya menemui beberapa anggota BNN lainnya untuk menanyakan komentar mereka terkait keberadaan Budi selama satu bulan di Cawang (markas BNN). Berdasarkan penuturan mereka, ternyata selain tegas, berani, dan disiplin, Budi juga merupakan sosok yang konsisten. Dalam arti, jika lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1984 ini sudah mengatakan A, ya harus A.

Mungkin, saya menyamakan Budi dengan Huang Yaoshi/Oey Yok Su, tokoh fiktif dalam novel Pendekar Pemanah Rajawali, yang mengatakan, "Nyemplung ke laut atau lompat ke api, sama saja. Ucapan ksatria laksana kuda yang dicambuk dan tidak bisa dikejar lagi."

"Pak Budi orangnya asyik. Beliau sangat disiplin dalam bekerja. Semangatnya tidak pernah kendur untuk memerangi narkoba. Meski baru sebulan, tapi kami berasa sudah lama mengenal beliau," ucap salah satu pejabat BNN. Pernyataan bernada sama diungkapkan anggota BNN lainnya ketika kami bertemu di depan pintu masuk mal, "Kalau perbedaan -dengan Anang, maksudnya- tentu banyak. Tapi, kami ambil sisi positifnya saja. Beliau (Budi) menularkan semangat kepada kami untuk bekerja keras demi negara."

*      *      *
Budi bersama Kabag Humas BNN, Slamet Pribadi

*      *      *
Tanya jawab Budi dengan media, undangan, dan blogger

*      *      *
Roy Suryo jadi narasumber dengan latar layar isu yang sedang hangat saat ini

*      *      *
Deputi Pencegahan BNN Antar Sianturi  

*      *      *
Data dan fakta peredaran narkoba hingga menyandang status "Darurat Narkoba"

*      *      *
Fakta: Setiap 100 orang, dua di antaranya ternyata pengguna narkoba!

*      *      * *      *      *
*      *      * *      *      *
 *      *      * *      *      * 
      

Rekaman video: "Saya tidak senang birokrasi! Kebiasaan feodal tidak boleh dibawa-bawa"
*      *      *

Rekaman video: Pasukan Siluman BNN
*      *      *

Rekaman video: Kami sedang melatih "Tim Pasukan Khusus" 
*      *      *

Keterangan: Seluruh foto dan video di artikel ini merupakan dokumentasi pribadi (www.roelly87.com)

Artikel tentang BNN dan Narkoba lainnya:
- Komitmen Slank Rela Tidak Dibayar untuk Konser Anti Narkoba/ Lomba Blog BNN
- Presiden dan Kepala BNN Kompak: Bandar Narkoba harus Dihukum Mati!
- Profil Anang Iskandar: Calon Kapolri yang Merupakan Blogger Aktif
- Kenapa Harus Blogger yang Kampanye?
- Diskusi Blogger dengan Kepala BNN yang Juga Blogger
- Sinergi BNN dan Blogger untuk Mengatasi Darurat Narkoba 
- Narkoba: Berawal dari Coba-coba, Ketagihan, hingga Maut Menjemput (Artikel di Okezone.com)

- Pentingnya Terapi Keluarga untuk Kesembuhan Pengguna Narkoba
- Mengapa Pecandu Narkoba Harus Lapor?
- Alasan Rehabilitasi bagi Pengguna Narkoba
- Bagaimana Menjauhkan Anak dari Narkoba?
- Yuk, Mengenali Ciri-ciri Pengguna Narkoba
- Kenapa Harus Blogger yang Kampanye?
- Narkoba dan Faktor “Kegalauan” Anak Muda
- Yuk, Hadiri Diskusi bersama BNN bertema 2014 Bebas Narkoba
- Narkoba: Berawal dari Coba-coba, Ketagihan, hingga Maut Menjemput
- Kisah Inspiratif Dua Kompasianer di Acara Titik Balik
- Mengenalkan Bahaya Narkoba melalui Game Online
- Peran Orang Tua dalam Mengatasi Tren Merokok di Kalangan Remaja
- Langkah Awal BNN dalam Memberantas Narkoba

*      *      *

- Cikini, 15 Oktober 2015

Senin, 12 Oktober 2015

Memetik Manfaat dari Tokopedia Roadshow Jakarta 2015


CEO Tokopedia, William Tanuwijaya pada acara Tokopedia Roadshow Jakarta

"BELANJA di Tokopedia itu enak. Pesan pakai ponsel Smartfren, bayar di Bank Mandiri, dan barang diantar melalui JNE. Mudah banget kan." Demikian pernyataan Arie Kriting, salah satu narasumber di acara Tokopedia Roadshow Jakarta 2015.

Apa yang dikatakan comic -pelaku Stand-up Comedy- yang dalam beberapa tahun sukses malang melintang di blantika hiburan Tanah Air ini beralasan. Maklum, di era globalisasi ini, kemunculan banyak toko online, termasuk Tokopedia, memang sangat membantu masyarakat.

Khususnya saya pribadi yang meski tidak rutin, namun kerap membeli barang via online. Dalam beberapa bulan ini, Tokopedia merupakan salah satu yang paling sering saya kunjungi terkait kelengkapan produk dan sistem keamanan yang sudah terjamin.

*      *      *
PAGI itu, Sabtu (10/10) di Assembly Hall lantai 9 Plaza Bapindo, Jakarta Selatan, sudah dipenuhi ratusan orang. Kehadiran mereka tidak lain demi mengikuti acara bertajuk Ciptakan Peluangmu yang diselenggarakan toko online ternama di Indonesia, Tokopedia.

Roadshow di Jakarta ini merupakan satu dari rangkaian acara di 10 kota besar di Indonesia sepanjang 2015. Bagi saya, ini kali kedua mengikuti talk show yang diselenggarakan Tokopedia setelah acara bertajuk Temu Blogger (30/5).

Sebagai blogger yang kerap belanja online, kesempatan mengikuti Tokopedia Roadshow Jakarta 2015 ini tentu wajib diikuti. Meski malamnya harus begadang terkait banyaknya tugas dan sore harinya sudah ditunggu agenda yang setumpuk, talk show ini "haram" untuk dilewatkan.

Sebab, berdasarkan info yang saya dapat melalui twitter resminya @tokopedia, terdapat lima narasumber yang berbagi pengalaman inspiratif. Salah satunya, tentu yang sudah saya nantikan sejak Mei lalu. Yaitu, CEO Tokopedia William Tanuwijaya.

Bisa dipahami mengingat saya sering mendengar kisah "kenekatan" dari pemilik akun twitter @liamtanu ini. Alhasil, saya pun kian penasaran untuk melihat langsung sosok beliau. Ya, jarang-jarang bisa bertemu langsung dengan salah satu pendiri -bersama Leontinus Alpha Edison- Tokopedia ini.

Beruntung, William bukanlah tipe pengusaha sukses yang pelit akan informasi. Sebaliknya, lulusan Bina Nusantara University ini begitu rela memberikan tips keberhasilannya dan membeberkan pengalaman hidupnya.

"Membangun (Tokopedia) tidak mudah. Saya dan beberapa rekan harus jatuh bangun untuk mengenalkan kepada khalayak ramai," kata William yang memakai setelan jas berwarna hitam. "Sering kali saya diremehkan karena saat itu tidak dikenal. Ada yang bilang, saya ini siapa, pengalamannya apa, ada modal berapa, keturunan dari mana, dan sebagainya. Namun, itu semua tidak membuat saya putus asa. Sebaliknya, hal itu jadi tantangan untuk saya."

Bagi saya, pernyataan itu tentu sangat menarik sekaligus memberi motivasi. Seperti halnya adagium lawas yang mengatakan, "Jangan takut ombak jika ingin berlayar." Itu karena William merintis Tokopedia dari kecil hingga kini jadi salah satu toko online (Marketplace) terkemuka di Indonesia.

Bahkan, di kalangan pengguna internet seperti blogger dan netizen, Tokopedia sudah jadi nama generik. Lantaran jika kami ingin membeli barang atau produk melalui internet, pasti menyebutnya ke Tokopedia. Padahal, toko online di Tanah Air sangat banyak.

Namun, Tokopedia seperti sudah mendoktrin kami jika ingin membeli sesuatu, hanya mereka yang mampu menyediakannya secara lengkap disertai garansi, verifikasi penjual, keamanan transaksi, hingga harga yang kompetitif untuk berbagai produk.

"Negara ini sangat besar. Keberadaan Tokopedia ini untuk mewujudkan mimpi besar masyarakat Indonesia. Kami membuka peluang untuk bisa sama-sama dinikmati. Untuk itu, saya berusaha membangun kepercayaan dalam bisnis (online) ini. Agar, kita bersama membangun Indonesia lebih baik melalui internet," William, mengungkapkan.

Dalam kesempatan tersebut, William juga menceritakan masa lalunya. Ternyata, saya baru tahu jika beliau pernah jadi operator warung internet (warnet)! Sebuah pengakuan yang sudah tentu membuat kami terkejut sekaligus jadi terlecut. Ya, William yang dulunya operator warnet, kini menjelma jadi CEO salah satu startup ternama di nusantara yang sukses menggaet investor kakap sekelas Sequoia Capital dan SoftBank Internet and Media .

Jujur saja, jika bukan karena mengikuti Tokopedia Roadshow Jakarta 2015 ini, tentu saya tidak akan mengetahuinya. Sebab, awalnya saya mengira, William mendirikan perusahaan tersebut karena dukungan finansial dari keluarganya atau lantaran warisan keluarga. Ternyata, saya salah!

*      *      *

TOKOPEDIA Roadshow Jakarta 2015 tidak hanya menampilkan sang CEO dan comic saja yang dipandu MC kondang Kemal Mochtar. Melainkan juga turut mengundang beberapa narasumber yang kompeten untuk berbagi pengalaman dan kisah inspiratif.

Talkshow dibuka CEO Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) Abdul Rahim Tahir, yang membongkar kesuksesan perusahaannya di tengah pesatnya persaingan antarperusahaan pengiriman barang. Yaitu, bersedia menerima kritik dan saran dari pelanggan.

Selanjutnya, ada perwakilan Bank Mandiri, Narullah Saptija, yang membeberkan tips perencanaan keuangan untuk investasi. Lalu, Rizki Auliadi yang sukses menjadi penjual di Tokopedia karena sigap melihat peluang yang ada melalui Evriz Clay. Terakhir, Alit Susanto penulis buku best seller Shitlicious dengan mengatakan, pentingnya membangun self branding demi membuat pelanggan lebih percaya.

Bagi saya pribadi, keberadaan -meski terkantuk-kantuk- di acara Tokopedia Roadshow Jakarta 2015 itu tidak hanya sekadar ingin menyaksikan narasumber atau mendengarkan tips dan pengalamannya saja. Melainkan, bagaimana caranya agar -suatu saat- saya bisa seperti mereka. Ya, seperti yang ditegaskan William, bahwa peluang bukan dicari, melainkan (harus) diciptakan.*

*      *      *
Persiapan panitia menyambut peserta Tokopedia Roadshow Jakarta

*      *      *
Salah satu booth untuk cetak foto gratis via instagram

*      *      *
Foto saya di antara ratusan foto lainnya

*      *      *
Berbagai properti yang disediakan selama acara berlangsung

*      *      *
CEO JNE, Abdul Rahim Tahir mengungkap pelayanan perusahaanya

*      *      *
Perwakilan Bank Mandiri, Narullah Saptija memberikan tips perencanaan keuangan

*      *      *
Seluruh narasumber dalam Tokopedia Roadshow Jakarta

*      *      *
Booth Smartfren yang jadi salah satu sponsor Tokopedia Roadshow Jakarta

*      *      *
Booth JNE yang jadi salah satu sponsor Roadshow Tokopedia Jakarta

*      *      *
Para narasumber Tokopedia Roadshow Tokopedia 2015

*      *      *

*      *      *
Keterangan: Seluruh foto merupakan dokumentasi pribadi (www.roelly87.com)

*      *      *

- Cikini, 12 Oktober 2015

Rabu, 07 Oktober 2015

50 Tahun Gugurnya Ade Irma Suryani dalam Kenangan Kakak Tercinta


Hendriyanti Sahara, di samping makam adinya, Ade Irma Suryani



SETENGAH abad bukanlah periode sebentar. Butuh kesabaran segenap hati dan mentalitas yang kuat untuk mengarungi rentang waktu selama 50 tahun. Luka, kepedihan, sedih, dendam, trauma, dan ikhlas menerima kenyataan, berbaur menjadi satu. Itulah yang dialami Hendriyanti Sahara selama ini.

Putri sulung almarhum Jenderal Besar Abdul Haris Nasution ini masih ingat peristiwa yang terjadi pada lima dekade lalu. Tepatnya, 30 September 1965 ketika kediamannya di Jalan Teuku Umar nomor 40, Menteng, Jakarta Pusat, diserbu sekelompok pasukan.

Saat itu, bu Yanti -panggilan saya kepada beliau- memang berhasil lolos dari sergapan pasukan tersebut bersama ayahnya yang melarikan diri ke kediaman sebelahnya. Namun, naas, adik tercintanya yang masih berusia lima tahun, terkena berondongan peluru. Sempat enam hari menjalani perawatan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto.

Hanya, takdir berkata lain. Ternyata Tuhan lebih sayang dengan Ade Irma Suryani dan memanggilnya lebih cepat dibanding harus menderita akibat terkena peluru tajam.

*       *       *

PAGI itu, Kamis (1/10) pelataran monumen Ade Irma Suryani didatangi banyak pengunjung. Ada dari perwakilan pemerintah, mahasiswa, pelajar, hingga wartawan cetak dan online. Kehadiran mereka tidak lain untuk ziarah ke makam dari putri bungsu jenderal bintang lima yang bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila.

Saya yang menyimak aktivitas mereka sangat takjub. Sebab, itu membuktikan kita, sebagai bangsa yang tidak lupa dengan jasa pahlawan terdahulu. Apalagi, Ade Irma Suryani, meninggal tanpa sempat menanyakan apa kesalahannya. Saat saya melihat beberapa foto yang sudah buram di monumen yang terletak di samping Kantor Wali Kota Jakarta Selatan, Jalan Prapanca Raya, sungguh menyentuh.

Terlebih, ketika menyaksikan beberapa pengunjung dengan takzim berdoa di depan makam. Apa yang dilakukan mereka itu bukan berarti mengkultuskan sesuatu apalagi makam. Melainkan, sebagai makhluk hidup, sudah jadi kewajaran untuk mendoakan sesama saudara se-Tanah Air yang telah tiada.

Termasuk saya pribadi yang meski hanya mengenal Ade Irma Suryani dari cerita masa kecil dan menyaksikan tayangan televisi pada era 1990-an serta kini mendapat info dari internet, tentu berharap apa yang terjadi 50 tahun silam itu tidak terulang lagi. Jujur saja, ada perasaan pilu setiap kali mendatangi tempat tersebut dan juga Museum Abdul Haris Nasution di Menteng.

Tanpa bermaksud mengungkit masa lalu negeri ini yang pernah mengalami periode kelam. Khususnya, terkait insiden setengah abad silam, yang sudah seharusnya ditutup. Untuk diganti lembaran baru demi kelangsungan generasi mendatang. Sebagai manusia, kita harus memaafkan kesalahan yang telah lewat. Di sisi lain, kita juga tidak boleh melupakan sejarah masa lalu yang berguna untuk pelajaran di masa depan.

*       *       *
"SAAT kejadian, saya lari dari terjangan peluru. Kami -maksudnya bersama keluarga beliau- mengumpet hingga suasana reda. Ketika itu, ayah sudah melompat ke kediaman tetangga, Kedutaan Besar Irak. Kaki saya mendapat luka. Tapi, yang lebih sedih ketika saya dan ibu (alm Joanna Sunarti, istri Nasution) melihat Ade bersimbah darah," kata Hendriyanti di depan pusara adiknya.

Siang itu, Selasa (6/10) saya menemuinya di makam Ade Irma Suryani. Sebagai penggemar sejarah, sebelumnya saya sudah sering mengunjungi monumen ini atau bekas kediamannya yang kini dijadikan museum di Menteng untuk mencari informasi atau arsip terkait peristiwa memakan korban tak berdosa.

Maklum, sebagai blogger, saya berusaha untuk menggali informasi langsung dari sumber utama agar artikel yang saya buat lebih bernyawa. Namun, setelah tiga tahun, baru kali ini saya bisa bertemu dengan anggota keluarganya yang jadi saksi hidup insiden itu.

Ya, kemarin, tepat 50 tahun meninggalnya Ade Irma Suryani. Jika almarhumah masih hidup, mungkin saat ini sudah berusia 55 tahun.

"Waktu itu saya masih berusia 13 tahun dan Ade baru lima tahun... Peristiwa itu sudah lama terjadi. Kami sudah ikhlas melepas Ade," Hendriyanti mengungkapkan dengan tegar.

Kehadiran Hendrianti di makam sang adik ditemani keluarganya. Termasuk, suami dan anaknya. Beliau senang mengetahui kami, sebagai generasi muda, masih mengingat dengan tepat tanggal gugurnya Ade Irma Suryani. Saya pun, tak kalah senang selama nyaris dua jam mendengar langsung kisah penculikan itu yang ternyata, sedikit berbeda dengan versi yang beredar saat ini.

Diselingi guyon suaminya, pak Nurdin yang mencairkan suasana, kepada kami, Hendriyanti kembali mengenang peristiwa terdahulu. Kini, usianya, -kalau tidak salah dengar- menginjak 63 tahun dengan memiliki beberapa anak dan cucu. Namun, ingatan beliau tentang insiden itu masih segar yang seolah baru terjadi kemarin.

"Saya berharap, kejadian yang dialami kami hingga membuat Ade gugur, tidak terulang lagi. (Peristiwa) malam itu, semoga bisa dijadikan sejarah ke depannya," ujar Hendriyanti sambil menatap langit-langit yang saat itu cerah.

Tak lama kemudian, beliau sekeluarga memohon pamit. Dari kejauhan, kami memandangi kepergian mereka dengan diiringi kesunyian suasana makam siang itu.

*       *       *
Hendriyanti, suami, dan anaknya foto bersama dengan beberapa pejabat dan pekerja di gedung Wali Kota Jakarta Selatan

*       *       *
Saya beruntung bisa mendapat informasi langsung dari beliau

*       *       *
Hendriyanti dan keluarga bersiap meninggalkan makam adiknya

*       *       *
Tulisan "Adik" dari Hendriyanti di makam

*       *       *
Kompleks Monumen Ade Irma Suryani

*       *       *

Artikel Sebelumnya:
- Mengenang Ade Irma Suryani
- Sepenggal Kisah di Museum Abdul Haris Nasution
- Apel Kehormatan di Taman Makam Pahlawan Kalibata

*       *       *

- Cikini, 7 Oktober 2015

Sabtu, 03 Oktober 2015

Belajar Kenal Saham dan Investasi dalam Ngobrol Bareng Pakar di BEI


Diskusi rekan-rekan blogger dengan pakar di Gedung BEI 


TAK kenal maka tak sayang. Demikian adagium lawas yang masih relevan hingga kini. Setidaknya untuk saya pribadi.

Saat ini, siapa yang tak mengenal tentang saham, investasi, atau lantai bursa? Mayoritas masyarakat tentu sudah mengenalnya. Baik itu dari media online, cetak, atau televisi. Namun, tidak semua orang yang kenal itu memahaminya.

Jangankan untuk menanam saham, wong pergi ke gedung bursa efek saja sudah khawatir. Mereka beranggapan, saham itu seperti judi. Ya, tidak dapat disalahkan mengingat kurangnya pemahaman di masyarakat.

 *     *     *

SAYA beruntung bisa berkenalan dengan yang namanya saham, investasi, dan lantai bursa. Itu setelah saya menghadiri acara ngobrol santai dengan blogger di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) di kawasan SCBD, Jakarta Pusat, sejak pagi hingga sore ini, Sabtu (3/10).

Dalam acara tersebut, saya tidak hanya bisa bersilaturahmi dengan rekan-rekan blogger lainnya. Tapi juga mendapat ilmu mengenai saham, investasi, dan lantai bursa. Maklum, terdapat beberapa orang yang kompeten di bidangnya dengan membagi pengalamannya yang sangat bermanfaa.

Ngobrol bareng itu dibuka dengan Direktur Pengembangan BEI, Nicky Hogan. Selanjutnya, ada pendiri aplikasi Jojonomics, Indrasto Budisantoso, perwakilan blogger Arsyad, Presiden Direktur Phillip Securities Indonesia, Daniel Tedja, perwakilan Divisi Corporate Communication Bursa Efek Indonesia, Kemas Rumaiyar. Satu pembicara lagi berhalangan hadir, namun tetap memberikan informasinya kepada kami melalui video, yaitu pakar ekonomi, Rhenald Kasali.

"Investasi merupakan kebutuhan hidup," kata Hogan membuka sesi acara. Menurut mantan Presiden Direktur PT Reliance Securities TBK ini, banyak manfaat yang didapat masyarakat dengan menanamkan investasi. Salah satunya, bisa menyiapkan bekal untuk hari tua. Gunanya, agar kita tidak khawatir saat mau pensiun.

Hal sama diungkapkan Indrasto. Sosok murah senyum ini pernah melakukan survei bersama perusahaannya. Yaitu, mayoritas masyarakat ternyata khawatir jika berhadapan dengan tanggal tua. Sambil tersenyum, Indrasto, memberi tips kepada kami. Yaitu, mulai membiasakan diri untuk melakukan investasi sejak dini agar tidak kaget ketika sudah dewasa.

Di sisi lain, Daniel, mengungkapkan, bahwa saham, investasi, dan sebagainya itu bukan judi. Sebab, keduanya dilakukan dengan cara patungan yang melakukan kalkulasi secara matang. Beda dengan judi yang tercipta akibat spekulasi dan hitung-hitungan mencari untung besar. "Tapi, itu tergantung persepsi di masyarakat juga," kata Daniel, yang mengenalkan aplikasi Phillip Poems, yang membuat pengguna lebih memahami saham dan investasi. Aplikasi ini tersedia di google store dan apple store yang bisa diunduh melalui ponsel atau smartphone secara gratis!

Sementara, Kemas, mengakui, stigma saham dan investasi sama seperti judi membuat masyarakat takut mendatangi Gedung BEI. Padahal, menurut pria berpenampilan flamboyan ini, Gedung BEI terbuka untuk umum. Itu kami buktikan ketika istirahat, kami yang mengelilingi Galeri Sejarah BEI, banyak pelajar yang datang. Kebetulan, ternyata acara yang kami ikuti itu bertepatan dengan hari jadi ke-20 dari gedung yang diresmikan mantan presiden Soeharto pada 3 Oktober 1995 ini.

"Sudah saatnya persepsi itu (saham sama dengan judi) di kalangan masyarakat diubah. Jangan lupa, saham ini salah satu aspek yang menggerakkan ekonomi bangsa. Mayoritas perputaran uang di negeri ini beredar dari gedung ini," kata Kemas sambil mengajak kami berkeliling di Galeri Sejarah BEI.

Ya, apa yang dikatakannya beralasan. Tak kenal maka tak sayang. Untuk itu, kebetulan saya bisa mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Gedung BEI agar selanjutnya bisa banyak belajar soal saham dan investasi dari pakar dan ahlinya.***

 *     *     *
Direktur Pengembangan BEI, Hosea Nicky Hogan

 *     *     *
Perwakilan blogger, Arsya

 *     *     *
Pendiri Jojonomics, Indrasto Budisantoso

 *     *     *
Perwakilan Divisi Corporate Communication Bursa Efek Indonesia, Kemas Rumaiyar

 *     *     *
Presiden Direktur Phillip Securities Indonesia, Daniel Tedja

 *     *     *
Lima pembicara bersama MC Aakar Abyasa dan Indah Hapsari

 *     *     *
Pentolan band Padi, Piyu, pun anggota Asia Charts

 *     *     *
Suasana ngobrol bareng bersama puluhanb logger

 *     *     *
Ruangan utama di BEI (idx.co.id)

 *     *     *
Suvenir dan pernak-pernik yang dijual untuk umum

 *     *     *
Galeri sejarah BEI

 *     *     *
Diorama suasana di BEI

 *     *     *
Berbagai properti dan pameran foto sejarah pasar modal di Indonesia

 *     *     *
Diskusi blogger mengenai sejarah BEI dan pasar modal di Indonesia

 *     *     *
Gedung BEI ini tepat diresmikan 20 tahun silam

 *     *     *
Saya sudah belajar kenal saham dan investasi, giliran Anda kapan?

 *     *     *
Ingin kenal saham dan investasi lebih lanjut? Cek info di bawah ini:

Situs resmi Bursa Efek Indonesia (BEI): www.idx.co.id
Situs resmi Asia Charts: www.asiacharts.net
Situs resmi Phillip Securities Indonesia: www,phillip.co.id, poems.co.id, dan www.poems.web.id
Situs resmi Janus Financial: www.janusfinancial.co.id
Situs resmi Jojonomic: www.jojonomic.com

 *     *     *
Keterangan: Seluruh foto merupakan dokumentasi pribadi (www.roelly87.com)
- SCBD, 3 Oktober 2015

Kamis, 01 Oktober 2015

Sisi Lain Basoeki Abdullah dalam Pameran Rayuan 100 Tahun di Museum Nasional


Reproduksi lukisan Nyi Roro Kidul


INGATAN saya mengenai 27 Januari selalu tertuju pada kelahiran Ahn-Jung Hwan, pemain timnas Korea Selatan yang mempermalukan Italia di Piala Dunia 2002 hingga terkenal karena dipecat klubnya, Perugia.

Selain itu, sebagai penggemar olahraga dan penikmat sejarah, pada tanggal tersebut memori saya juga tidak lupa dengan tenggelamnya Kapal Tampomas pada 1981, kelahiran dua legenda hidup bulu tangkis Indonesia (Joko Supriyanto dan Ricky Subagja), wafatnya mantan Presiden RI Soeharto dan komponis klasik abad pertengahan Wolfgang Mozart.

Ternyata, memori saya pada tanggal tersebut masih belum cukup. Lantaran, saya lupa dengan salah satu seniman yang dikenal sebagai maestro lukis Indonesia: Basoeki Abdullah (Basuki Abdullah). Ya, 27 Januari pada satu abad lampau, lahir sosok yang disebut sukses memengaruhi blantika seni Tanah Air melalui goresan lukisannya.

Saat ini, siapa yang tidak mengenal lukisan tokoh legendaris nusantara Nyi Roro Kidul yang -konon- bersemayam di Laut Selatan? Namun, ketika ditanyakan, siapa pelukis dari wanita yang identik dengan warna hijau itu, pasti banyak yang geleng-geleng kepala.

*       *       *

SIANG itu, Rabu (30/9) ruangan di Museum Nasional, Jalan Medan Merdeka Barat 12, Jakarta Pusat, dipenuhi pengunjung. Baik itu pelajar, umum, blogger, hingga wisatawan lokal dan mancanegara. Wajar saja mengingat saat itu merupakan hari terakhir Pameran Rayuan 100 Tahun Basoeki Abdullah.

Sebenarnya, acara ini sudah berlangsung sejak 21 September lalu. Namun, karena kesibukan sehari-hari, saya baru bisa menghadirinya pada saat penutupan. Itu pun hanya beberapa jam saja mengingat padatnya jadwal kemarin.

Sebagai orang yang gemar berkeliling dari satu museum ke museum lainnya yang ada di seluruh nusantara, saya sedikit menyesal melewatkan beberapa rangkaian acara untuk memperingati 100 tahun kelahiran pelukis asal Solo, Jawa Tengah ini. Termasuk, dua seminar "Basoeki Abdullah di Tengah Bangsa dan Seni Rupa Indonesia" pada Rabu (23/9) dan "Museum Basoeki Abdullah di Tengah Perkembangan Museum Indonesia" (28/9).

Meski begitu, saya cukup senang bisa menyaksikan berbagai koleksi peninggalan mantan pelukis resmi Istana Merdeka ini. Mulai dari properti miliknya pribadi dan keluarga, reproduksi -salinan- digital lukisan Nyi Roro Kidul (menurut salah satu volunteer, karya asli di Hotel Samudera Beach, Sukabumi), Soekarno (di Istana Bogor), beberapa tokoh dalam dan luar negeri, lukisan bertema vulgar, dan arsip Basoeki Abdullah memberi testimoni pada satu iklan.

Untuk yang terakhir itu, saya sempat bingung juga. Awalnya, saya pikir, arsip itu milik Museum Nasional dan bukan peninggalan Basoeki Abdullah. Namun, setelah mengamati lebih lanjut, ternyata ada fotonya di pojok kiri sambil menghisap cerutu.

Ketika saya konfirmasi kepada beberapa  volunteer, mereka pun setali tiga uang. Alias, sama-sama bingung, hingga datang salah satu panitia yang memberi penjelasan lebih lanjut. Ternyata itu memang testimoni asli dari Basoeki Abdullah untuk mobil Mitsubishi Lancer 1.4L di suatu harian nasional -kalau tidak salah lihat- terbitan 19 Oktober 1981.

Menurut mereka, selama pameran berlangsung, mayoritas pengunjung banyak yang tidak "ngeh" dengan arsip tersebut karena lebih fokus pada lukisan Basoeki Abdullah. Beruntung, sebagai blogger, saya tertarik dengan segala hal yang dianggap remeh temeh namun menarik diulas jadi sisi lain.

Dalam keterangan iklan tersebut, cucu dari tokoh pergerakan kebangkitan nasional awal abad 20, Wahidin Sudirohusodo ini mengatakan, "hmm... mobil ini memang luar biasa!"

Testimoni itu sangat singkat. Namun, saya yakin, pada tiga dekade silam, apa yang diucapkan tokoh sekaliber Basoeki Abdullah, tentu sangat memengaruhi animo beli masyarakat luas yang bisa jadi mendongkrak penjualan mobil tersebut.

Sebagai pelukis yang identik dengan aliran realis dan naturalis, tentu Basoeki Abdullah tidak hanya menyalurkan pemikirannya melalui sosok terkenal saja. Tokoh yang meninggal pada 3 November 1993 ini juga kerap melukis keindahan wanita.

Beberapa di antaranya yang saya kenal seperti legenda Jaka Tarub (Djoko Tarub) mencuri selendang bidadari Nawangwulan. Bahkan, ada yang vulgar dan menjurus telanjang yang dalam pameran itu diberi tempat terpisah melalui tirai yang dijaga beberapa volunteer. Gunanya, agar pengunjung anak-anak dan pelajar, tidak melihatnya.

Kami yang melongok ke ruangan seluas 5x5 meter dengan ratusan koleksi bergambar telanjang itu pun tidak diperbolehkan memotret. Menurut volunteer, berbagai koleksi vulgar itu merupakan arsip yang kini dimiliki Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

*       *       *

"DI negara kami, banyak yang mempelajari gaya melukis ini orang. Sayangnya, koleksi asli di sini terbatas. Sementara, kami tidak bisa melihat (lukisan) Soekarno asli di Buitenzorg (Bogor)," kata Ineke Rose-kalau tidak salah dengar-, salah satu pengunjung asal Belanda. Ekspatriat yang mengaku sebagai pengajar di sebuah lembaga asing ini senang bisa mengunjungi Pameran 100 Tahun Basoeki Abdullah.

Dengan bahasa Indonesia yang yang dicampur aksen Inggris, wanita paruh baya itu menilai, Basoeki Abdullah sebagai salah satu seniman Indonesia yang mendapat apresiasi luas di negara-negara Eropa. Termasuk, di negaranya, yang kerap diadakan pameran keliling meski koleksinya tidak sebanyak yang terdapat di Museum Nasional.

Saat itu, Ineke, sempat bertanya kepada saya arti dari "rayuan", yang dikiranya semasa muda Basoeki Abdullah, suka merayu wanita. Beliau merujuk pada berbagai koleksi vulgar di ruang tertutup itu. Berbekal koneksi internet, saya pun coba menjelaskan kata "rayu" dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online, tidak hanya merayu dalam arti yang sebenarnya. Melainkan juga, bermakna memikat atau membujuk masyarakat untuk mengunjungi karya-karyanya.

Oh ya, sekadar informasi, meski Pameran Rayuan 100 Tahun Basoeki Abdullah sudah ditutup sejak kemarin. Namun, masyarakat luas bisa mengunjungi sebagian besar karyanya di Museum Basoeki Abdullah.

Lokasi: Jalan Keuangan Raya No 19, Cilandak Barat, Jakarta Selatan
Diresmikan: 25 September 2001
Koleksi: Lebih dari 3.000 benda, meliputi lukisan, patung, topeng, wayang, senjata dan sebagainya
Nomor telepon: 021-7698926
Website: www.museumbasoekiabdullah.or.id (BUKAN www.museumbasoekiabdullah.com)
Facebook: Museum Basoeki Abdullah
Twitter: @Mus_BA
Waktu buka: Selasa-Minggu 08.00-15.00 WIB (Senin dan hari libur nasional tutup)
Tiket:
Rp 1.000 Anak-anak
Rp 2.000 Dewasa
Rp 500 Rombongan anak/pelajar
Rp 1.000 Rombongan dewasa
Rp 10.000 Turis

*       *       *
Pameran Rayuan 100 Tahun Basoeki Abdullah di Museum Nasional

*       *       *

Buku tamu


*       *       *
Berbagai properti lainnya

*       *       *
Testimoni di iklan Mistubishi Lancer

*       *       *
Reproduksi lukisan Jaka Tarub

*       *       *
Lukisan wanita desa (lupa)

*       *       *
Salah satu ruangan dengan ratusan koleksi vulgar yang dijaga beberapa volunteer

*       *       *
Berbagai tokoh dunia termasuk mantan Presiden RI Soeharto

*       *       *
Foto Basoeki Abdullah bersama Bapak Proklamator Soekarno pada 1959

*       *       *
Riwayat, sejarah, dan prestasi Basoeki Abdullah

*       *       *
Suasana pengunjung dari dalam dan luar negeri

*       *       *
Narsis sejenak mengingat pada pameran ke-200 saya belum tentu ada

*       *       *
Tentang Museum lainnya:
- Museum Nasional dan Saksi Peninggalan Kejayaan Indonesia
- Museum Nasional Belum Selesai Berbenah
- Kasus Pencurian dan Lemahnya Pengawasan Museum di Indonesia
- Karnaval Wayang Dunia 2013 di Museum Nasional
- Kenapa Harus ke Taman Mini?
- Sepenggal Kisah di Museum Abdul Harris Nasution
- Tapak Tilas Hari Kemerdekaan di Museum Prangko
- Perpaduan Budaya Minang-Jawa di Museum Adityawarman
- Warisan Budaya di Museum Wayang 2
- Warisan Budaya di Museum Wayang

Artikel terkait anak muda, seni dan sastra sebelumnya:
- Pelukis Yayat Yatmaka
- Pameran Budaya Dunia - Jerman Fest
- Jerman Fest 2015
- Konser Bon Jovi di Jakarta
- TIM - Pencak Silat
- Goethe Institut - Looking for Erick
- Komik Indonesia
- Batik Nasional
- Ahmad Tohari
- BTN Property Expo 2015
- Sheila On 7
- Tipe-X
- Afgan
*       *       *
Keterangan: Seluruh foto merupakan dokumentasi pribadi (www.roelly87.com)
- Cikini, 1 Oktober 2015