TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol

Selasa, 25 Mei 2021

Juve yang Sekarang Bukan Juve yang Dulu

 Juve yang Sekarang Bukan Juve yang Dulu

Kue ulang tahun dengan motif Juventus saat scudetto
Serie A 2011/12 (Foto: dok pribadi/www.roelly87.com)



MAYORITAS kompetisi Eropa 2020/21 sudah selesai pekan ini. Drama pun meliputi berbagai klub ternama di benua biru tersebut. Ada haru dan air mata di antara ribuan pemain sepanjang musim ini.


Termasuk, berbagai pecah telur dalam beberapa tahun terakhir. Misalnya, FC Internazionale yang sukses meraih scudetto Serie A sejak kali terakhir pada 2009/10. 


Selanjutnya, ada Atletico Madrid yang mengangkangi Real Madrid dan Barcelona di La Liga diikuti keberhasilan Lille OSC yang kampiun Ligue 1 mengakhiri dominasi Paris Saint Germain.


Selain parade bahagia, saya pun mencatat drama kepiluan terhadap klub yang gagal ke Liga Champions. Tepatnya, akibat tergelincir pada pekan terakhir hingga terlempar dari empat besar. Di Serie A ada SSC Napoli dan Liga Primer dengan Leicester City.


Namun, bagi saya pribadi, tidak ada kejadian tragis dibanding yang dialami Juventus FC.


Ya, I Bianconeri harus menutup kesuksesan sembilan scudetto beruntun pada musim ini. Itu akibat inkonsistensi yang membuat Cristiano Ronaldo dan kawan-kawan gagal mempertahankan gelar.


Maklum, jangankan bersaing jadi juara. Bahkan, untuk lolos ke Liga Champions pun, Juve harus mengandalkan keberuntungan pada pekan terakhir.


Sebab, pada giornata ke-37, mereka hanya berada di peringkat lima dengan 75 poin. Alias, jauh di bawah Inter yang mengoleksi nilai 88 diikuti Atalanta BC 78, Napoli 77, dan AC Milan 76.


Saat itu, Juve benar-benar kritis. Di ujung tanduk karena harus bergantung pada tim lain untuk bisa menyegel posisi empat.


Beruntung, dewi fortuna pun datang pada pekan pamungkas. Sebab, skuat asuhan Andrea Pirlo sukses menghantam Bologna 4-1 di Renato Dall'Ara, Minggu (23/5) atau Senin dini hari WIB.


Pada saat bersamaan, justru Napoli harus puas bermain 1-1 saat menjamu Hellas Verona di San Paolo. Situasi pun berubah drastis pada pertandingan yang dilangsungkan serentak tersebut.


Sebab, hasil tersebut sukses mengubah konstelasi. Juve menutup musim di peringkat empat dengan 78 poin yang sama dengan Atalanta pada posisi tiga. 


Namun, tim asal kota Turin itu kalah head to head dengan La Dea. Kendati, pada saat bersamaan, Atalanta digulung Milan 0-2. Hanya, hasil tersebut sudah tidak berpengaruh bagi Juve.


Pun jika Milan yang kalah dan si Nyonya Besar imbang hingga memiliki poin sama. Pasalnya, Juve kalah head to head dari Il Diavolo Rosso.


Alhasil, Napoli yang harus gigit jari akibat hanya bermain di Liga Europa 2021/22. Meski bisa menikung pada lap terakhir demi lolos ke Liga Champions, tapi bagi banyak pihak, musim ini tetap petaka untuk Juve. Termasuk, saya pribadi.


Sorotan pun tertuju pada Pirlo. Memang, Il Metronome ini sukses mempersembahkan dua gelar sepanjang 2020/21. Itu meliputi Piala Super Italia 2020 dan Piala Italia.


Namun, mereka jeblok di Liga Champions akibat disingkirkan Porto pada 16 besar.


Apalagi, di Serie A yang konon jadi DNA Juve. Pirlo menodai kesuksesan yang sudah diukir Antonio Conte dengan peesembahan scudetto tiga musim beruntun pada 2011/12, 2012/13, dan 2013/14. Selanjutnya, Massimiliano Allegri lima kali (2014/15, 2015/16, 2016/17, 2017/18, dan 2018/19) serta Maurizio Sarri (2019/20).


Hanya, kini berbagai prestasi itu tinggal kenangan. Lebih menyakitkan lagi mengingat Inter yang merupakan rival utama Juve selain Milan, sukses mengakhiri paceklik gelar sejak satu dekade silam.


Ya, La Beneamata dinakhodai Conte! Harus diakui jika dialah yang mengawali kesuksesan Juve sekaligus mengakhirinya.


Beruntung, Rabu (26/5), Conte pisah dengan Inter. Namun, sebagai gantinya untuk menghadapi Serie A 2021/22, ada AS Roma yang akan dipimpin Jose Mourinho!


Tentu, musim depan masih lama. Sebab, baru dimulai 22 Agustus mendatang.


Saat ini, miliaran penggemar sepak bola bersiap menantikan Euro 2020 yang berlangsung 11 Juni hingga 11 Juli. Turnamen antarnegara Eropa ini jadi ajang unjuk gigi bagi sejumlah pemain elite.


Khususnya, Juve yang memiliki andalan dengan tersebar di sejumlah negara pada benua biru tersebut. Pada saat yang sama, ini jadi momentum bagi Pirlo dan manajemen Juve untuk mempersiapkan skuat terbaik demi menyongsong Serie A 2021/22.


Rentang tiga bulan sejak pekan ini harus dimaksimalkan mereka. Tidak boleh ada kekeliruan saat belanja di bursa transfer.


Pun demikian jika ingin melepas bintang pada mercato mendatang. Beberapa pemain yang minim kontribusi, jelas harus dilego.


Bagaimana dengan Ronaldo? Saya sih berharap, CR7 bertahan mengingat kontraknya empat musim yang berakhir Mei 2022. Saya masih optimistis, penyerang asal Portugal ini bakal meledak pada periode pamungkas berseragam Juve.


Namun, jika tidak pun, bukan masalah. Terutama, jika hatinya sudah tidak lagi bersama Si Nyonya Besar. 


Ronaldo berhak untuk hengkang, baik Juni ini atau saat bursa transfer musim dingin mendatang. Toh, percuma mempertahankan pemain yang badannya di Turin, tapi hati dan pikiran melanglang buana.


Sementara, untuk Pirlo, jelas wajib dipertahankan. Keterpurukan Juve musim ini bukan berarti kegagalannya sendiri. Banyak faktor lain.


Pastinya, Pirlo butuh dukungan untuk memulai I Bianconeri lagi dari nol. 


Lebih baik bagi manajemen Juve untuk mempertahankannya yang sudah punya dasar strategi. Ketimbang, harus mencari pelatih yang tentu membuat para pemain kembali harus beradaptasi dengan strategi anyar.


Sebagai Juventini, itu harapan saya. Kolaborasi Pirlo, Ronaldo, dan para pemain lain untuk bangkit menatap musim mendatang.


Agar, La Vecchia Signora tidak semakin terbenam di antara laju Inter, Milan, Atalanta, dan Roma yang bakal ngegas di bawah asuhan Mourinho. #ForzaJuve!***

*        *        *



Artikel Terkait Juventus:

(Galeri Foto) Jadi Saksi Kekalahan Juventus dari Madrid di Final Liga Champions 2016/17
Wawancara Eksklusif Claudio Marchisio
Wawancara Eksklusif Andrea Pirlo
Wawancara Eksklusif Giorgio Chiellini
Pria Sejati Tidak Akan Pernah Tinggalkan Kekasihnya



*        *        *

Jakarta, 25 Mei 2021

Selasa, 18 Mei 2021

Antara Aku, Kau, dan Mantan Terindah

 Antara Aku, Kau, dan Mantan Terindah


Ilustrasi www.roelly87.com


LEMBAYUNG di ufuk barat, tampak merona. Keindahan alam sore ini kian semarak dengan lalu-lalang jalanan di seberang basecamp tempat gw nyantai. Tampak, anak-cucu Adam tengah asyik beraktivitas. Ada yang berangkat, pulang kerja, pergi makan, beli cemilan untuk buka, ngerokok, dan sebagainya.

Memang, lokasi basecamp yang terletak di pemukiman padat penduduk barat ibu kota ini tergolong strategis. Dekat jalan raya yang mengarah ke pusat perbelanjaan, kuliner, pergudangan, hingga pabrik. Alhasil, cukup menunggu di basecamp, maka orderan pun sering datang dengan sendirinya. 

"Ebuset, nyantai aja. Gw pikir lo masih lanjut," ujar Irawan yang baru tiba.

"Abis tektokan. Nganter ke Karawaci, pas balik di Cimone dapat arah Kalideres. Ya udah, sekalian istirahat nunggu buka puasa," jawab gw.

"Sama nih. Gw buka di sini aja lah. Mau pulang, bahaya. Kalo udah di rumah, bawaannya males keluar.

"Lah lo ngapain ngojol. Kontrakan bejibun, ortu tajir, rekening di atm melimpah. Lo kan ngojek cuma sebagai simbol aja, biar ga dibilang nganggur sama tetangga."

"Ha ha ha. Si goblok."

TENG NENG NONG TENG...

HP gw bunyi. Gw baru inget, tadi belom nonaktifkan aplikasi.

Orderan food. Anter ke Tanjung Duren. Argo hampir selembar biru. Termasuk kakap. Meski sudah siap-siap mau buka puasa, gw cocol.

"Kemana bro?" ujar Irawan melihat gw mengemasi kembali bungkusan kolak sagu rangi, es buah, gorengan, dan sebotol air mineral.

"Food. TanDur. Kakap, mayan. Gw buka di depan resto aja sambil nunggu makanan jadi."

"Dewi Wilutama. Ratingnya 4,9 dari 20 orderan. Anter ke Kostan Sriwedari, Tanjung Duren. Tunai," Irawan yang kepo turut membacakan keterangan di aplikasi.

"Mayan tuh. Penghuni kostan sana biasanya royal. Minggu kemaren gw dapat tip 50k," lanjut Irawan.

"Iya sih, gw juga sering nganter ke sana. Tapi, ini belinya banyak juga. Hampir 500 ribu, belom ongkirnya," gw menjawab terkait orderan makanan cepat saji hingga 10 bungkus.

"Mungkin buat bukber kali bro," sahut Irawan, asal.

"Lah, emangnya resto pesulap. Makanan kan dibuat dulu, estimasi 15-30 menit. Itu belom dihitung di perjalanan. Ya, sejam lah baru sampe lokasi. Pan ini bentar lagi beduk," gw menjelaskan.

"Gw cabut dulu ya bro."

"Sip, Ka. Gw mau siap-siap buka nih."

*       *       *

USAI menempuh perjalanan dari restoran sekitar seperminuman teh yang diselingi seteguk air mineral untuk buka puasa, gw pun sampe di Kostan Sriwedari.

Tampak, fasad gedung ini sangat megah. Modern dengan tinggi empat lantai.

Konon, harga sewa kost per bulan berkisar Rp 3-5 juta. Meski mahal, tapi wajar mengingat penghuninya rata-rata mahasiswa dan pekerja kantoran di kawasan Tanjung Duren yang terkenal strategis.

"Saya sudah di depan pos security, kak," tulis gw di chat aplikasi ketika sampai di gerbang.

Beberapa detik kemudian, balasan dari customer.

"Tunggu pak. Saya keluar."

Sambil menunggu customer keluar, gw pun asyik menyulut tembakau. Nikmat sekali hembusan dari rokok pertama sejak kali terakhir mengisapnya 14 jam lalu saat jelang imsak.

Hanya, tunggu tinggal tunggu, hingga 15 menit berlalu, tidak nampak customer tersebut keluar kostan untuk menyambut makanan. Chat yang gw kirim pun centang satu.

Alias, tidak dibaca. Pun demikian dengan telepon. Tersambung, tapi tak diangkat.

Perasaan gw pun merasa tidak enak. Tepat 30 menit sejak chat konfirmasi tiba yang tak digubris customer, gw langsung menuju pos security.

Petugas keamanan tersebut mengiyakan untuk memanggil si customer setelah melihat data di aplikasi yang tertera nama, harga makanan yang harus dibayar beserta ongkos dan kamar kost.

Tak lama...

"Iya, pak. Saya yang bernama Dewi Wilutama," ujar wanita muda berparas ayu yang menghampiri gw didampingi temannya. Sementara, security tadi mengawasi dari depan pos sambil ngelepus dan pandangan mata tertuju pada hp-nya.

"Ini kak, pesanannya," jawab gw memperlihatkan 10 bungkus makanan cepat saji.

"Hah? Saya ga mesan apa-apa bang," katanya dengan nada heran.

"Waduh, ini di aplikasi tertera nama kakak. Dewi Wilutama. Kostan Sriwedari. Kamar 378," gw menjelaskan.

"Kalo nama dan kamar kostan, memang benar. Namun, sumpah saya ga sedang pesan makanan."

"Nah, ini siapa dong kak?" gw pun garuk-garuk kepala yang tidak gatal.

"Wi, coba lo cek aplikasi. Siapa tahu kepencet," temannya menimpali.

"Ga kok. Nih lihat," tutur Dewi memperlihatkan layar aplikasi yang terbuka di hpnya.

Gw pun mengecek datanya di akun customer Dewi.

Dewi Wilutama.

dewi_wiloetama94@rocketmail.com

085612345678

Gw pun inisiatif telepon ke nomor customer yang tadi tidak diangkat-angkat. Hingga beberapa kali, juga sama.

Sekilas, gw lihat Dewi dan temannya saling lirik.

"Kak, bisa minta izin," tanya gw dengan sopan.

"Silakan bang."

"Bisa telepon ke nomor saya dari hp kakak. Ini sebagai konfirmasi saja. Ni nomor saya, 081387879999."

"Siap bang."

Di layar hp gw tertera panggilan masuk. Nomornya 085612345678.

Gw coba telepon balik. Dewi pun mengangkatnya.

Namun, ketika gw telepon ke nomor customer, tidak ada tanda-tanda di layar hp Dewi.

Memang, sejak setahun terakhir ini aplikator menyamarkan nomor telepon antara driver ojol dan customer. Tujuannya demi privasi karena dulu sering disalahgunakan oknum ojol dan customer.

"Saya cuma pake satu nomor saja bang," Dewi kembali memperlihatkan settingan di hpnya yang hanya memuat satu SIM card.

Gw pun kembali menyulut rokok. Sebagai penenang dalam situasi rumit ini.

"Ini gimana ya, nama dan alamat tujuan sama tapi beda orang," gw menggumam.

"Emang berapa bang totalnya?" teman Dewi bertanya.

"Semuanya Rp 543.000. Pesanan Rp 495 ribu dan ongkos kirimnya 48 ribu."

"Buset... Banyak amat bang. Saya ga ada uang segitu. Kirain cuma Rp 100an ribu, saya berani talangin biar abang ga rugi. Tapi, kalo di atas gope, maaf saya tidak punya uang," Dewi, mengungkapkan.

"Ri, lo ada berapa? Gw ada 100 ribu. Patungan yuk, kasihan abang ojol ini," lanjut dara dengan rambut panjang semampai ini kepada temannya yang bernama Siti Sundari.

"Sama, Wi. Gw juga ada cepe..." Sundari, menimpali.

"Jangan, kak. Ga usah..." gw memotong percakapan mereka.

"Biar saya telepon customer service aplikator aja. Agar, pesanan ini dibatalkan karena order fiktif," tambah gw.

"Emang bisa bang? Ga rugi?" Dewi bertanya.

"Saya coba kak. Kalo bisa, mohon tetap di sini untuk klarifikasi ke aplikatornya," kata gw yang langsung diiyakan Dewi dan Sundari.

*       *       *

HINGGA 10 menit kemudian, telepon tersambung ke operator. 

"Selamat malam, dengan Arimbi. Ada yang bisa kami bantu," terdengar suara dari cs aplikator.

"Malam bu. Saya, Ekalaya, driver ojol. Domisili Jakarta Barat. Nomor telepon 081387879999," gw memperkenalkan diri.

"Ada yang bisa kami bantu, pak?"

"Saya dapat order fiktif atas nama Dewi Wilutama dari restoran cepat saji senilai Rp 543 ribu. Sebelumnya, customer aktif di chat. Namun, ketika saya sampai lokasi, dichat tidak balas dan ditelepon tidak jawab hingga 30 menit lebih," gw menjelaskan secara rinci.

Dewi yang berada di hadapan gw terus menatap. Mungkin, banyak pertanyaan di benak wanita berkulit kuning langsat ini. Pada saat yang sama, tangan kiri Sundari asyik memainkan sebatang rokok yang menari di jarinya.

"Sampai di lokasi, memang ada yang bernama Dewi Wilutama dan kamar kostnya pun seperti di aplikasi. Namun, ternyata yang bersangkutan sama sekali tidak pesan. Sampai detik ini saya chat dan hubungi, tidak ada respons dari customer. Saya khawatir ini opik," lanjut gw.

"Sebentar ya pak, akan kami cek datanya terlebih dahulu. Mohon telepon tidak ditutup" jawab cs.

Gw pun kembali menyalakan rokok. Ini batang kelima yang gw hisap. Sejatinya, rokok memang tidak memberi kenyamanan bagi penggunanya. 

Jika ada yang mengatakan menghisap rokok bikin rileks dalam menghadapi masalah, itu hanya suges saja. Namun, meski sudah tahu seperti itu, entah kenapa, gw tetap tidak lepas dari mild putih ini.

Tak lama berselang, sambungan telepon dari operator pun kembali.

"Maaf sudah lama menunggu ya pak. Setelah kami cek data lebih lanjut, ternyata akun atas nama Dewi Wilutama tidak terindikasi fiktif. Akun ini sudah melakukan lebih dari 20 pemesanan dengan penilaian dari driver cukup bagus," demikian suara cs aplikator yang memang sesuai dengan data di aplikasi yang sudah gw lihat sebelumnya.

Bahwa, akun bernama Dewi Wilutama ini telah 20 kali melakukan orderan yang ratingnya 4,9. Tergolong bagus bagi ukuran customer. 

Biasanya, gw atau mayoritas ojol lainnya paling senang dapat customer dengan rating di atas 4,7 hingga bintang 5. Sementara, rating 4,1-4,6 tergolong "b aja" dan 3,5-4 itu buruk. 

Bagaimana dengan customer yang ratingnya 3,5 ke bawah? Biasanya, itu parah banget. 

Kalo ga orangnya bawel, judes, emosional, dan lainnya. Bisa juga terkait lokasinya sulit dijangkau, seperti apartemen yang harus nunggu lama, komplek perumahan elite yang ribet di pos masuk, atau rumah susun yang kadang kami harus jalan kaki menyusuri tangga hingga lantai lima!

"Apakah pak Eka sudah sampai ke lokasi sesuai pesanan di aplikasi?" tanya cs.

"Sudah bu. Ini saya bersama orang yang bernama Dewi Wilutama. Namun, saya sudah cek aplikasinya tidak ada pemesanan untuk hari ini."

"Baik pak Eka. Mohon ditunggu ya. Kami akan crosscheck data terlebih dulu."

"Siap bu."

Gw pun menatap ke arah Dewi.

"Kak bentar ya. Lagi dikonfirmasi sama cs-nya."

"Iya bang ga apa-apa. Semoga cepat selesai. Ngeri banget kalo dapat opik hingga 500 ribu."

"Wi, gw ambil snack dulu ya. Gw dari buka belom ngemil nih. Sekalian kita kasih abangnya," Sundari menimpali.

Dari kejauhan tampak sosoknya lenggak-lenggok bak putri keraton. Secara fisik, gw akui Sundari memang body goal banget yang mengungguli Dewi. Ini berdasarkan penilaian gw sebagai naluri lelaki.

Hanya, entah mengapa, gw lebih tertarik kepada Dewi. Perawakannya memang biasa aja. Namun, Dewi punya keunggulan dibanding wanita lainnya. Lesung pipit nan indah dipadu gingsul yang mewarnai senyuman khasnya. Apalagi, dengan alisnya yang sangat kereng.

Kalo gw nilai, Sundari sangat seksi. Sementara, Dewi merupakan sosok wanita yang anggun.

Dalam Kamus Besar Naluri Pria (KBNP) yang disusun berdasarkan imajinasi gw, terdapat lima penilaian terhadap wanita.

Itu meliputi:

5. Cantik
4. Seksi
3. Manis
2. Ayu
1. Anggun

Njir, gw ngapain malah mikirin yang nggak-nggak. Padahal, ini lagi nunggu konfirmasi cs terkait orderan yang fiktif atau bukan. Geblek!

Beruntung, telepon yang gw tuju kepada cs aplikator tersambung lagi.

"Mohon maaf pak Eka sudah lama menunggu. Setelah kami crosscheck lebih lanjut, memang akun atas nama Dewi Wilutama ini benar adanya. Sudah 20 kali order layanan baik penumpang, makanan, dan kirim barang. Hanya, biasanya alamatnya di Perumahan Amarta Indah, Jakarta Pusat, dan perkantoran Pringgadani East Bay, Jakarta Utara," terdengar suara cs, menjelaskan sambil gw loudspeaker.

Gw yang menyimak pun menoleh ke Dewi. Ternyata, dia sangat kaget. Raut wajahnya tampak keheranan. Romannya memperlihatkan tanda tanya ketika mendengar alamat yang biasanya dilakukan si pengorder atas namanya.

Bahkan, tertangkap jelas, Dewi memainkan alisnya yang tebal diikuti anggukan Sundari.

Tidak perlu jadi Elon Musk yang genius untuk merekonstruksi keganjilan ini. Jelas, gw menyimpulkan ada yang aneh terkait Dewi. Entah dirinya pribadi atau masa lalunya.

"Kami sudah menghubungi pemesan, tapi hingga kini tidak ada jawaban. Kami juga sudah mengecek riwayat chat pemesan dengan pak Eka yang tidak ada keanehan. Kami putuskan, akan menutup orderan ini. Pak Eka bisa memberikan makanan ini ke panti asuhan, orang tak mampu, atau dimakan sendiri. Untuk biaya pesanan akan kami ganti di aplikasi dengan nontunai kepada pak Eka dalam 1x24 jam," cs membeberkan.

"Ada lagi yang ingin disampaikan, pak? Kalau tidak ada, telepon kami akhiri dan terima kasih," lanjut cs.

"Ga ada bu. Terima kasih," jawab gw lega karena tidak jadi merugi karena aplikator akan bertanggung jawab untuk menggantinya.

*       *       *

USAI mendengar penuturan cs, gw langsung memandang ke arah Dewi yang tatapannya jauh ke depan. Sementara, Sundari asyik mengunyah seblak yang dibawanya beserta potongan gorengan di piring.

Dewi pun seketika menunduk. Pada saat yang sama, Sundari beranjak menghampiri gw.

"Gw yang jelasin ya Wi. Mukadimah aja. Sisanya lo," kata Sundari.

TIIIN... TIIIN... TIIIIIN!

"Woi Ka! Lo bukan nganter food malah mojok!"

Terdengar teriakan dari suara yang sangat gw kenal. Njir...

"Ka, minta cireng ya satu," ujar suara tak asing lagi yang ternyata... Irawan!

"Eh goblok. Bukan punya gw itu. Punya kakak ini," jawab gw yang ga asing dengan ulah nyeleneh sohib gw tersebut sambil menatap ke Sundari.

"Eh kakak. Maaf. Gw minta ya. Satu lagi deh, enak juga. Gw buka puasa tadi cuma sama kwetiuw dan pangsit doang. Kurang nendang," Irawan kembali nyerocos.

"Eh cakep banget kakak ini. Waduh, ada satu lagi. Yang ini, manis bener. Kayak ada gula-gulanya di wajahmu," lanjut Irawan yang membuat suasana pecah setelah tadi sempat awkward.

"Silakan bang. Makan aja, kita udah dari tadi," ucap Sundari yang terkekeh mendengar celetukan Irawan.

Dewi? Tampak mengulum senyumnya yang tersipu malu akibat pujian Irawan. Njir, nih cewe, sumpah manis bener.

"Eh lo ngapain sama dua makhluk bidadari ini?" tanya Irawan yang tak hentinya mengunyah combro.

Ebuset, ini gorengan punya Sundari udah ludes dicomotin Irawan.

"Gw dapat opik. Untung ada dua kakak ini..." jawab gw.

"Opik apaan?" Irawan bertanya yang langsung gw potong.

"Si anjir. Orang mau ngomong dipotong terus. Bentar, tunggu gw sama kak Sundari dan kak Dewi jelasin, baru lo tanya. Lagian, lo bukan narik sono, rempong amat pake ketemu di sini," lanjut gw men-skak mat Irawan.

Sundari terbahak-bahak mendengar omongan gw. Sementara, Dewi tersenyum ngikik sambil menutup hidungnya.

Sepertinya, baru pertama dalam hidup mereka bertemu makhluk seaneh Irawan. Sosok yang sotoy, apalagi kalo depan cewe. Juga penakut jika berhadapan dengan makhluk halus.

Namun, berubah telengas jika berhadapan dengan musuh. Bahkan, tahun lalu, Irawan ga gentar berhadapan dengan tiga begal yang semuanya bawa senjata tajam di Sunter.

"Iye... Iye. Gw penasaran dapat opik apaan, Ka. Ini gw nyimak deh. Janji," Irawan menjawab dengan memperlihatkan jari telunjuk dan tengah.

*       *       *

SETENGAH jam, kemudian...

"Njir, itu cowo katrok banget. Cinta ditolak, opik bertindak. Mau gw ramein ga, Dew? Sun? Ntar gw samperin sama anak-anak ojol lainnya biar kapok," ucap Irawan berapi-api setelah lebih dari sepernanakan nasi hanya jadi pendengar saja.

Ya, Sundari menjelaskan bahwa 99 persen yang melakukan opik adalah Laksmana Kumara. Yaitu, mantan Dewi yang ternyata masih menyimpan perasaannya hingga kini.

Bahkan, meski sudah lewat puluhan purnama. Apalagi, dalam periode itu, keduanya sama-sama sudah mendapat pacar lagi.

Dewi dengan Pancala yang tak lama putus. Sementara, Laksmana dengan Utari yang tidak diketahui kabar selanjutnya.

"Kalo kata gw sih, ga perlu, Ir. Ga usah lah. Apalagi, jika bawa-bawa nama ojol. Terlebih, masalah udah selesai. Tadi kan cs aplikator udah mastiin orderan gw diganti. Jadi, ya clear," gw menanggapi seruan Irawan.

"Iya juga sih. Tapi, emang geregetan juga sama tuh cowo yang mentalnya pecundang banget," lanjut Irawan tampak emosional sambil tangan kanannya mengunyah combro.

"Njrit. Pedes banget. Kampret, isinya ada cabe rawit," Irawan berseru akibat kepedasan.

Tawa pun meledak diantara kami bertiga yang melihat aksi konyol secara natural tersebut.

"Ini bang, minum. Jangan ngomong dulu ya, ntar keselekan," kata Dewi sambil menyodorkan air mineral ukuran gelas yang tadi dibawa Sundari.

Gw juga turut menyeruput es buah yang tadi gw bawa dan belum habis. Tak lupa, kembali menyalakan rokok yang kini suasananya lebih rileks usai kehadiran Irawan.

Tampak, sohib gw itu sudah segar setelah sebelumnya matanya berair akibat tak sengaja menggigit cabe rawit.

"Dew. Eh, kak Dew..." kata Irawan kepada Dewi.

"Dewi aja bang. Ga usah pake sapaan kak, segala. Umur kita kan ga beda jauh," Dewi memotong.

"Iye sih. Tapi kalo lagi ngojol, kita emang selalu manggil kak ke customer. Iye ga Ka?" jawab Irawan yang memandang gw.

"Yongkru."

"Eh, Dew... Gw penasaran nih. Emang lo sama si cowo itu jadian berapa lama?" Irawan kembali berkicau.

Seketika suasana hening.

Gw menatap Dewi yang kembali tertunduk. Sementara, Sundari menyalakan rokok menthol.

Baru saja Irawan ingin memberondong kembali pertanyaan, Dewi sudah memotong, "Lima tahun bang."

"Anjrit! Itu pacaran apa kredit motor? Matic gw aja ga sampe tiga tahun udah lunas. Motor si Ekalaya malah cuma dua tahun," Irawan, menukas.

"Si goblok, orang lagi serius malah dihubungin ke kreditan," gw mengomentari celotehan Irawan.

"Tapi bener kan Ka. Gw kredit tiga tahun, lo dua tahun. Jangan-jangan lo gengsi depan dua bidadari ini kalo motor buat ojol aja nyicil," kata Irawan, terbahak-bahak.

"Njir. Yang penting mah, bisa narik orderan. Biar kata kredit juga, intinya kita sama-sama gacor," gw mengomentari sambil tertawa.

"Iya, bang. Lama juga. Tapi, emang putus nyambung," jawab Dewi yang ikut menyalakan rokok mild. Beda dengan Sundari yang jenisnya menthol.

Kami sempat beradu pandangan meski beberapa detik. Tak lama, Dewi melanjutkan.

"Kami terakhir pisah 2018, pas gw mau daftar relawan Asian Games. Abis itu, gw pacaran lagi sama temen kantor, ya setahunan. Sedangkan, Laksmana yang gw tahu sempat dua kali pacaran."

"Lah, Dew... Lo udah lama putus, tapi tahu bener sama kehidupan dia. Bener-bener mantan terindah," samber Sundari.

"Ya... Gitu lah, Sun. Gw emang saling follow medsos-nya, di IG, FB, dan Twitter. Tapi, emang ga nyangka udah hampir tiga tahun putus, dia ngajak balikan," ucap Dewi yang sepertinya likat.

Gw bayangin, goblok banget tuh cowok yang sampe melepas sosok nyaris sempurna seperti Dewi. Apalagi, pacaran udah kayak Repelita zaman Orde Baru.

Tapi, gw penasaran kenapa mereka bisa putus. Sempat ingin menanyakan langsung ke Dewi, hanya segan. Terlebih, sebenarnya urusan gw dengannya terkait opik udah selesai.

Untungnya ada Irawan. Tanpa tedeng aling-aling, dia nyeletuk lagi.

"Lo bubar kenapa Dew? Dicampakkin doi?" tanya Irawan.

"Ih... Nggak bang," potong Dewi, gercep.

"Gw yang mutusin, kok."

"Alesannya Dew?" tanya gw spontan yang membuat ketiga orang itu secara serempak memandang ke arah gw.

Anjir... Malu banget dah gw. Berasa dihakimin akibat penasaran dengan kisah percintaan Dewi dan Laksmana.

"Yaelah, lo kepo juga ya Ka," ucap Irawan, menyindir sambil tergelak tawa.

"Jangan-jangan, bang Eka ini... Wi..." timpal Sundari terkekeh sambil memberi kode kepada Dewi.

Dewi yang baru ngeh dengan sikap gw pun tertunduk. Namun, gw tahu mukanya memerah. Mungkin, saking likat.

"Gw akuin, dia tuh cowo idaman. Namun..." kata Dewi dengan nada pelan.

Sontak, gw, Irawan, dan Sundari menyimak.

"Dia ganteng banget. Lulusan S1 perguruan tinggi negeri ternama. Nyokapnya desainer yang punya banyak butik. Bokapnya anggota dewan pada dapil strategis dari partai yang masuk tiga besar pemilu 2019. Ada keturunan darah biru. Rumah keluarganya di kawasan Menteng yang elite. Kostannya di Kemang. Gw akuin, orangnya sangat baik," Dewi berturur sambil menghela nafas.

"Orangnya royal banget, baik sama gw atau teman-temannya. Wajar, mengingat statusnya sebagai anak tunggal yang setahu gw dikasih jajan sama ortunya per bulan 30 juta. Mobilnya dua, sedan merek Peugeot asal Prancis dan Nissan Navara yang biasa diajak turing. Motor, jangan ditanya. Dari NMax, Vespa, Ducati, hingga Harley Davidson, tersedia di garasi pribadinya."

Gw cuma melongo mendengar penuturannya itu. Gw yakin, Irawan dan Sundari juga setengah kati delapan tahil dengan gw.

"Tunggu Wi. Ada yang aneh dengan cerita lo," Sundari, nyeletuk.

Gw dan Irawan pun seketika menoleh ke arahnya. Namun, tidak dengan Dewi yang tampak santai.

"Kalo lo tahu dia orangnya baik, tajir, dan keturunan darah biru, kenape lo putusin?" tanya Sundari.

"Apa jangan-jangan lo udah dapat cowo yang lebih sultan dari doi?" lanjutnya memberondong.

"Yaelah, Romlah... Ga semua hal di dunia ini bisa dinilai dengan materi, termasuk uang," jawab Dewi, diplomatis.

"Iye, gw tahu Dew. Tapi, sayang banget kalo..." Sundari kembali mengatakan yang langsung dipotong Dewi.

"Makanya, dengerin cerita gw sampe selesai dulu, atuh. Ini mah belom apa-apa udah di-cut," kata Dewi.

Mendengar celotehan Dewi yang kini sudah lebih blak-blakan membuat kami tambah melongo. Mungkin, sekarang dia sudah jauh lebih rileks ketimbang di awal. Terlihat dari gaya bicaranya yang lebih lepas.

"Jadi gini, ceritanya," kata Dewi, santai dengan nada menggantung.

"Gw minta putus karena gw lihat Laksmana terlalu manja. Sebagai pacar, jelas dia sangat ideal. Namun, tidak jika jadi suami atau kepala rumah tangga. Contoh, hal kecil aja. Laksmana harus memanggil tukang ketika bohlam di kamar apartemennya padam. Begitu juga saat mantek paku buat pasang pigura. Semua dilakukan orang," Dewi, mengungkapkan.

"Padahal kan itu sudah kodrat pria. Sama halnya wanita yang meski sudah ada pesan antar makanan online, tapi tetap harus bisa masak dan menjahit. Itu yang minus dari Laksmana. Sebab, dari kecil, dia sudah dimanjakan kedua orangtuanya dengan berbagai fasilitas. Jujur, gw berat ketika minta putus mengingat Laksmana nyaris punya segalanya. Namun, demi masa depan, gw harus rela. Gw pengen cari pacar yang kelak jika resmi bisa jadi imam di rumah tangga."

*       *       *

ARLOJI di tangan kiri gw menunjukkan pukul 21.45 WIB. Alias, hampir tiga jam gw habiskan di depan kostan Dewi dan Sundari. Plus, kehadiran Irawan yang sukses mencairkan suasana.

Setelah mendengarkan yang Dewi menumpahkan segala keluh kesahnya, gw pun meminta pamit. Tidak lupa, bungkusan makanan hasil opik gw bagi-bagi. 

Dewi, Sundari, security kostan, gw, dan Irawan masing-masing satu. Dua lagi untuk anak-anak di basecamp. 

Sisanya, gw minta Irawan agar membagikannya ke marbot musala tempat kami untuk sahur. Kebetulan, makanan cepat saji itu tidak bakal basi jika dipanaskan terlebih dulu.

Usai pisah dengan Irawan yang balik kandang, gw pun menyalakan kembali aplikasi ojol. Berselang beberapa detik, bunyi tanda orderan.

Gw pun bergegas menuju resto terdekat. Hanya, tak lama, hp gw kembali bunyi. 

Kali ini bukan notifikasi dari aplikasi ojol. Melainkan, pesan masuk di WA.

"Terima kasih ya, Ka. Maaf, udah ngerepotin lo."

Gw amati nomornya tak dikenal. Pun dengan foto profil yang masih kosong. Alias, gw dan si pengirim pesan tidak saling simpan kontak.

Namun, sekelebat gw ingat sesuatu. Gw pun cek log on telepon. Ada panggilan masuk tak dikenal dari nomor 085612345678. Historinya pukul 19.11 WIB.

Gw pun save nomor tersebut. Luwi. Alias, anagram dari sang pemilik nomor.

Usai direfresh kontak, foto profil pun kini tidak lagi kosong. Tampak, sosok anggun dengan senyum memesona di kontak tersebut.

"Siap Wi. Sami2," balasan gw yang segera centang biru pertanda pesan langsung dibaca.

Gw menengadah ke langit, tampak cerah. Samar-samar seperti ada bintang jatuh.

"Next gw bakal traktir lo sebagai ganti udah ngerepotin. Waktu dan tempat gw persilakan. Btw, ttdj ya Ka."

Demikian jawaban Dewi. Seketika langkah gw jadi sangat ringan. Tanpa sadar, senyum gw pun merekah usai menbalas WA Dewi.

Ya... Mestakung!***

*       *       *


Serial Catatan Harian Ojol (Semesta Ekalaya)
- Part I: Ceritera dari SPBU Kosong
- Part II: Ada Rawarontek di Balik Keberingasan Begal
- Part IV: Di-Ghosting Kang Parkir
- Part V: Di Suatu Desa
- Part VI: Ada Amer di Balik Modus Baru Costumer
- Part VII: Debt Collector Juga Manusia
- Part VIII: Penumpang Rasa Pacar

Prekuel
Kamaratih
- Kisah Klasik Empat Insan di Kamar Hotel

Spin-Off
Kisah Wanita dengan Blazer Hitam I
- Ketika Manusia Memanggilku Lonte

Ekalaya Universe
- Mukadimah
- Daftar Tokoh
- Epilog

*       *       *

Artikel Terkait Catatan Harian Ojol (#CHO):


*       *       *

*Inspired by True Event
- Jakarta, 18 Mei 2021

Minggu, 09 Mei 2021

Ada CekAja.com di Balik Mudahnya Pengajuan Kartu Kredit Online Terbaik

Ada CekAja.com di Balik Mudahnya Pengajuan Kartu Kredit Online Terbaik

Berbagai informasi kartu kredit tersedia di CekAja.com


HARI gini ga punya kartu kredit?

Ya, saat ini, Pengajuan Kartu Kredit Online Terbaik bisa dilakukan di CekAja.com. Yaitu, portal produk keuangan dan investasi di bawah naungan PT Puncak Finansial Utama

Bagi masyarakat awam, tentu sangat familiar dengan perusahaan yang menawarkan berbagai kartu kredit, kredit tanpa agunan (KTA), asuransi, pinjaman untuk Usaha Kecil Menengah (UKM), hingga investasi.

Apalagi, CekAja.com ini tercatat di Grup Inovasi Keuangan Digital (GIKD) dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jadi, jika kita ingin berinvestasi dan sebagainya, sudah terjamin aman. Terlebih, CekAja.com juga diatur dan diawasi Bank Indonesia dan Asosiasi FinTech Indonesia (AFTECH).

Bagi saya, CekAja.com ini bisa disebut sebagai Palugada. Alias, apa yang lo mau, gw ada!

Termasuk, mengenai kartu kredit. Ya, pada zaman sekarang, credit card bisa disebut sebagai salah satu kebutuhan utama manusia selain pangan, sandang, dan papan. 

Alasannya, jelas. Dengan kartu kredit, memudahkan kita dalam transaksi sehari-hari. 

Termasuk, saya pribadi yang sudah merasakan manfaatnya memiliki kartu kredit. Dengan ketentuan, kita harus menggunakannya dengan bijak. Alias, hanya sesuai kebutuhan yang penting dan mendesak.

Hanya, tidak semua orang yang berkesempatan memiliki kartu kredit. Itu terkait berbagai syarat dari perusahaan atau perbankan yang mengeluarkannya yang mungkin ribet bagi sebagian pihak. Misalnya, harus ini dan itu.

Namun, dengan perkembangan zaman yang diiringi kemajuan teknologi, membuat semuanya jadi mudah. Termasuk, dalam mengajukan pembuatan kartu kredit. Faktanya, bisa dicoba lewat CekAja.com.

Ya, Anda cukup membuka portal CekAja.com/kartu-kredit untuk bisa mengetahuinya lebih lanjut. Pada halaman tersebut, kita akan dipandu berbagai caranya dengan mudah. Apalagi, CekAja.com bekerja sama dengan banyak bank penerbit kartu kredit. Di antaranya, BNI, BRI, CIMB Niaga, Citibank, dan lain-lain.

Terlebih, pada masa pandemi ini memiliki kartu kredit bisa dibilang sangat penting. Maklum, credit card bukan hanya sekadar alat pembayaran saja. Melainkan juga, sangat memudahkan kita dalam melakukan berbagai transaksi, baik offline maupun online. 

Termasuk, jika kita ke luar negeri. Kebetulan, saya punya pengalaman ketika mengunjungi Wales, Britania Raya, beberapa tahun lalu. Dengan memiliki kartu kredit, benar-benar memudahkan saya saat transaksi di luar negeri.

Ya, sejak dulu, kartu kredit jadi salah satu alat pembayaran yang paling diminati masyarakat. Sebab, dengan memilikinya, kita bisa terbantu saat memenuhi segala kebutuhan harian, mulai dari belanja, hingga bayar tagihan bulanan.

Selain praktis, credit card juga banyak memberikan promo menarik. Khususnya, jika ada merchant yang bekerja sama dengan pihak bank penerbit kartu kredit.

Btw, di Indonesia, terdapat banyak produk jenis kartu kredit yang dikeluarkan dari berbagai perusahaan perbankan dengan keunggulannya masing-masing. Misalnya, kartu kredit untuk belanja, liburan, hingga ke luar negeri. Nah, berbagai pilihan produk kartu kredit dari berbagai bank tersebut bisa kita lihat secara detail informasinya melalui portal CekAja.com.

Proses cepat dan pengajuan mudah merupakan keuntungan yang dipersembahkan CekAja.com. Ya, kita tak perlu datang ke bank seperti saat pengajuan kartu kredit secara konvensional. Melainkan, kurir CekAja.com yang mendatangi kita dan bantu mengurus semua dokumen yang dibutuhkan. 

Alhasil. cukup dengan tarian jari di handphone atau laptop, kita tinggal menunggu kartu kredit tersebut jadi. Ya, sesederhana itu.

Sebagai gambaran, untuk mengajukan kartu kredit secara online di CekAja.com, kita selaku nasabah harus menyiapkan beberapa hal.

Itu meliputi, status sebagai Warga Negara Indonesia (WNI), bekerja baik karyawan swasta, profesional, atau wiraswasta, penghasilan minimum per bulan Rp 3 juta, dan usia di atas 21 tahun.

Pertanyaan mendasar nih. Jika karyawan swasta, profesional, dan wiraswasta tentu punya slip gaji dalam 1 dari 3 bulan terakhir. Nah, bagaimana dengan freelancer, semisal blogger?

Contohnya, saya yang merupakan blogger dan sehari-hari berprofesi sebagai Ojek Online (Ojol). Karena saya tidak memiliki gaji bulanan, alias pendapatannya sehari-hari, tentu saya cukup melampirkan fotokopi rekening tabungan 3 bulan terakhir. 

Terkait syarat lainnya, sama. Misalnya, fotokopi KTP dan NPWP sebagai penanda saya sebagai warga negara yang taat pajak. Mudah kan!

Bagaimana, tertarik mengajukan kartu kredit secara online di https://www.cekaja.com/kartu-kredit?

*        *        *

Referensi:


- Lampiran – Daftar Penyelenggara IKD Tercatat OJK (Juli 2019) https://www.ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/siaran-pers/Documents/Pages/SIARAN-PERS-STRATEGI-OJK-DALAM-PENGAWASAN-PENYELENGGARA-INOVASI-KEUANGAN-DIGITAL/Lampiran%20Siaran%20Pers%20IKD.pdf

- Penyelenggara IKD Tercatat di OJK (https://ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/publikasi/Documents/Pages/Penyelenggara-IKD-dengan-Status-Tercatat-di-OJK-per-Januari-2020/List%20Penyelenggara%20IKD%20Tercatat%20per%20Januari%202020.pdf)

*        *        *

- Jakarta, 9 Mei 2021

Jumat, 30 April 2021

Kenapa Ojol Wajib Divaksin?

Kenapa Ojol Wajib Divaksin?

Saya saat divaksin pada Kamis (29/4)



SEBAGAI ojek online (ojol), mendapat vaksinasi Covid-19 jadi salah satu momen yang paling saya tunggu sepanjang 2021 ini. Terutama, sejak koronavirus mewabah pada awal tahun lalu yang hingga kini masih berdampak.

Itu mengapa, saya sangat antusias ketika aplikator tempat saya nencari nafkah, Gojek, memberikan tiket untuk vaksinasi pertama. Undangan tersebut terdapat di pesan aplikasi saya pada 26 April lalu.

Saya pun bergegas untuk daftar lewat aplikasi Halodoc yang terjadwal pada 29 April. Sangat mudah, karena setiap ojol dengan KTP DKI Jakarta yang diundang mendapat kode khusus.

Lokasinya, ada dua:

1. JIExpo Kemayoran Parkir Hall C, Jakarta Utara

2. West One Cengkareng, Jakarta Barat

Saya pun memilih yang pertama. Waktunya, kemarin, pukul 13.00 WIB. Alasannya jelas, sehabis vaksinasi, rencananya saya langsung ngebid hingga menunggu waktu berbuka puasa. Ya, sambil menyelam minum air tebu.

Kebetulan, kawasan Kemayoran, ramai untuk mengambil berbagai orderan. Itu meliputi GoRide alias penumpang, GoFood (makanan), GoSend (kirim barang), GoShop (belanja), dan sebagainya.

*       *       *

SIANG itu, Kamjs (29/4), cuaca di ibu kota sangat terik. Sambil membelah jalanan dari kawasan barat, saya pun akhirnya tiba di JIExpo. Arloji di saku kiri saya menampakkan pukul 12.31 WIB. Alias, masih ada waktu untuk registrasi vaksinasi Covid-19.

Saya pun ikut antrean dengan ratusan rekan ojol lainnya. Ada beberapa tahap sebelum vaksinasi. 

Pertama, registrasi dengan membawa KTP asli dan fotokopi. Sekaligus, mengisi data diri yang formulir dan kertas sudah disiapkan Gojek.

Selanjutnya, memperlihatkan undangan yang tercantum di Halodoc. Kurang dari seperminuman teh, kami pun bergiliran untuk divaksin dengan membawa sepeda motor masing-masing. 

Setelah itu, tinta sejarah turut mencatat. 

Ya, vaksinasi sangat singkat. Usai disuntik, saya pun diminta istirahat sekitar 30 menit. Tujuannya, untuk mengetahui apakah ada dampak lebih lanjut. Sekaligus, mendengar arahan dari perwakilan Gojek terkait vaksinasi kepada kami, mitranya.

Bisa dipahami mengingat tidak semua pihak setuju dengan adanya vaksinasi. Namun, menurut saya ini wajar. Toh, bagian dari dinamika kehidupan.

Bagi saya pribadi, mengikuti vaksinasi yang diselenggarakan PT Aplikasi Karya Anak Bangsa yang merupakan induk dari Gojek yang berkolaborasi dengan PT Media Dokter Investama (Halodoc) ini merupakan kewajiban.

Mengapa?

Alasannya jelas. Itu mengingat saya sebagai ojol yang merupakan mitra Gojek. Tentu, saya ingin memberikan yang terbaik terhadal partner saya.

Setidaknya, ada tiga alasan versi saya pribadi terkait kewajiban vaksinasi.

1. Ini sangat penting bagi kesehatan saya sendiri dan keluarga. Sebab, saya harus melindungi keluarga di rumah. Dengan sudah divaksin, setidaknya saya tidak khawatir lagi saat pulang seusai ngebid. Tentu, saat ngojol, saya tetap mengikuti protokol kesehatan (prokes)  Itu meliputi memakai masker, sarung tangan, dan bawa hand sanitizer.

2. Sebagai bentuk dukungan terhadap program pemerintah. Ya, saat ini, pemerintah sedang melakukan program vaksinasi sebagai upaya penanggulangan virus Covid-19. 

Sejak awal tahun, vaksinasi diberikan kepada masyarakat lanjut usia (lansia) dan petugas layanan publik. Nah, saya dan rekan-rekan ojol lainnya yang merupakan mitra Gojek termasuk dalam kategori tersebut.

Kelompok ini, masuk dalam prioritas pemerintah. Mengapa? Sebab, kita-kita ojol ini, memiliki interaksi dan mobilitas tinggi yang berhubungan dengan masyarakat.

Apakah, Gojek mewajibkan mitranya? Saya tidak bisa menjawab. Setidaknya, hingga saat ini. 

Yang pasti, sebagai mitra, alias bukan karyawan dari PT Karya Anak Bangsa, tentu kita punya hak untuk setuju atau menolak. Pilihan ada pada diri kita masing-masing. 

Namun, saya pribadi meyakini, vaksin merupakan solusi untuk keluar dari pandemi. 

Ya, selain profesi sebagai ojol, saya juga blogger. Jelas, kangen dengan situasi yang berkaitan dengan acara offline. Apalagi, bertepatan dengan Ramadan. Biasanya, sebelum 2020, saya kerap ikut buka puasa bersama (bukber) dengan rekan-rekan blogger lainnya.

Lalu, apakah kita akan mendapat sanksi dari Gojek jika tidak ikut vaksinasi. Ini kabar burung yang saya dengar.

Kenyataannya adalah tidak. Gojek sudah pasti tidak akan sewenang-wenang memberikan sanksi kepada mitranya yang menolak vaksinasi.

Secara, vaksinasi merupakan program pemerintah, alias bukan Gojek atau PT Karya Anak Bangsa. Namun, sebagai ojol, kita memang dianjurkan untuk mengikuti arahan pemerintah.

Kenapa? Sebab, vaksinasi ini bukan hanya untuk melindungi diri sendiri, tapi juga demi melindungi keluarga kita, orang terdekat, tetangga, masyarakat di Tanah Air, hingga warga dunia. Itu karena target vaksinasi adalah kekebalan kelompok atau herd immunity.

3. Yeeei, poin kedua pada paragraf di atas, panjang pake banget. Saya pun yang mengetiknya sambil ngalong di salah satu kawasan kuliner di jantung ibu kota, jadi lupa nulis.

Yupz. Alasan ketiga saya ikut vaksinasi demi memastikan rasa aman dan nyaman kepada customer. Sebab, bagaimana pun, sebagai ojol, tentu kita akan berinteraksi dengan customer baik langsung atau tak langsung.

Contoh, dalam layanan GoRide, saya kerap bersentuhan saat memberikan helm, haircap, dan hand sanitizer. Nah, dengan kepastian sudah divaksinasi, setidaknya tidak membuat customer was-was. 

Apalagi, ketika saya tempel stiker pemberian Gojek bertuliskan, "Saya Sudah Divaksin!" di depan sepeda motor, banyak customer (GoRide) yang antusias. Bahkan, mereka memberi apresiasi, bahwa ojol memang jadi salah satu garda terdepan dalam situasi pandemi ini.

Saya pribadi, tentu bangga. Kendati hanya setitik di samudera, setidaknya saya sudah turut ikut berkontribusi dalam perputaran ekonomi bangsa ini melalui antar penumpang kerja, sekolah, kuliah, makanan, kirim dokumen, dan sebagainya.

Nah, saya sudah divaksin. Saya tunggu cerita dari rekan-rekan ojol lainnya!

*       *       *

Saya Sudah Divaksin!


*       *       *

Dapat suvenir dari Gojek berkat menceritakan kesan usai 
divaksin pada postingan instagram, @roelly87


*       *       *

Perwakilan Gojek foto dengan latar "Saya Sudah Divaksin"


*       *       *

Usai divaksin, saya dapat SMS
untuk jadwal kedua, bulan depan


*       *       *

Sertifikat Vaksinasi Covid-19 yang bisa diunduh
pada laman pedulilindungi.id


*       *       *

Stiker "Saya Sudah Divaksin" yang jadi nilai lebih
di mata customer


*       *       *

Artikel Terkait Catatan Harian Ojol (#CHO):


Artikel Terkait Covid-19

Pentingnya Vaksinasi di Tengah Pandemi
Bersama Halodoc Cegah Covid 19 secara Dini

*       *       *

DISKLAIMER: Artikel ini merupakan murni reportase saya sehari-hari sebagai blogger yang independen alias tidak terkait dengan pihak mana pun. Juga tanpa bermaksud menggurui.

Referensi:
- https://mui.or.id/berita/29845/fatwa-mui-nomor-13-tahun-2021-vaksinasi-injeksi-tak-membatalkan-puasa

Seluruh foto/gambar merupakan dokumentasi pribadi (www.roelly87.com)

*       *       *

- Jakarta, 30 April 2021

Rabu, 21 April 2021

Ada Rawarontek di Balik Keberingasan Begal

Ada Rawarontek di Balik Keberingasan Begal

Ilustrasi (Foto: www.roelly87.com)


*       *       *

POV Irawan

BEBERAPA hari usai keganjilan di basecamp ojek online (ojol) tempat gw dan beberapa rekan kumpul, situasi kembali normal. Memang, basecamp itu selalu jadi tempat istirahat atau menunggu penumpang bagi ojol.

Maklum, kawasan di sekitar kami tinggal tergolong "basah" karena terdapat pusat perbelanjaan, kuliner, gudang, hingga pabrik. Alhasil, cukup menunggu di basecamp, maka orderan pun sering datang. 

Namun, pantang bagi kami, ojol untuk mengambil penumpang tanpa aplikasi. Sebab, itu merupakan domain ojek pangkalan (opang) yang basecamp-nya hanya berjarak ratusam meter.

Antara kami dan opang saling menghormati. Apalagi, bagaimana pun, opang lebih dulu eksis dibanding ojol.

Itu mengapa, jika ada setiap penumpang yang ingin naik tanpa aplikasi, kami tidak pernah mengambilnya dan menyarankan untuk memilih opang. Kecuali, jika masih ada hubungan keluarga, tetangga, atau kenal.

Seperti tadi, ketika gw dan Ekalaya rebahan, ada calon penumpang yang ingin masuk kerja shift malam ke pabrik berjarak sekitar 1,5km. Usai menolak dengan halus, gw dan sohib gw itu kembali menunggu orderan penumpang, food, atau kirim barang sambil ngalor ngidul. Kebetulan, hari masih pagi -bagi kalongers-, sekitar pukul 19.00 WIB.

"Tumben lo masih rebahan jam segini. Biasa udah bolak-balik saking gacornya," kata gw kepada Eka yang sedang streaming Ahmad Band via youtube di ponselnya.

"Istirahat ngab. Mayan pegal, keluar dari jam 4, jauh terus," sohib yang mengaku Juventini sejak 1994 ini menjelaskan.

"Btw, pada kemana yang lain? Drestajumena dan Jayadrata juga tumben ga langsung balik abis pada dapat di pabrik," Ekalaya melanjutkan.

"Ga tahu. Di grup sih gw lihat, mereka lanjut dapat kardus," jawab gw.

"Btw, kalo ngomongin Dresta dan Jaya jadi inget kejadian Kamis lalu."

"Ha ha ha. Goblok lo pada. Bertiga tapi kabur semua," Eka menyahut.

"Serem, njir. Gw sama Dresta dan Jaya pas noleh lagi, lo udah ilang. Mana bau kembang lagi. Apalagi, malam jumat tuh," gw menjelaskan insiden kehadiran makhluk halus yang menyerupai Eka.

"Btw, lo ini beneran apa bukan nih. Secara, kita cuma berdua."

"Ebuset, parno lo kambuh. Ya iyalah, gw Eka. Lo ga lihat gw pegang hape, apa? Mana ada hantu sambil streaming?" ujar Eka, terkekeh.

"Kaga, ngab. Khawatir aje, ini bukan lo," kata gw sambil melempar botol air mineral yang tepat kena keningnya.

JDUK...

Bunyinya nyaring. Berarti, Eka beneran. Soalnya, kalo tuh botol tembus, berarti gw ga pake lama deh, langsung sipat kuping.

"Biar tambah yakin, kalo lo ini asli. Coba jawab, apa kelebihan gw," lanjut gw menatap Eka yang asyik menyeruput kopi panas di termos mini hasil goodybag Asian Games 2018.

"Kelebihan lo? Ga ada nyet. Kekurangan banyak."

"Njir... Mulai deh buka kartu."

"Iye, lo ga inget di Harmoni waktu STM lo dibantai kering sepupu gw dan teman-temannya? Kalo ga ada gw, sekolah lo yang segambreng itu tapi pada ciut jika ketemu STM si Abimanyu, bisa jadi sansak hidup," Eka menjelaskan peristiwa 2003 silam. 

Salah satu kenangan yang ga bisa gw lupain seumur hidup. Tepatnya, ketika 60-an anak STM gw kocar-kacir waktu diserang balik sekolah Abi yang hanya berjumlah belasan. Bahkan, gw udah terpojok depan Carrefour, nyaris mendapat "kenang-kenangan" dari Seta, anak Semanan yang megang kelas dua STM 1 DKI, alias seangkatan dengan gw dan Eka. 

Itu akibat celurit yang gw pegang terlepas saat beradu dengan parang Eka. Sebenarnya, gw ga pernah bawa senjata tajam (sajam), alias mengandalkan fisik saja atau kalau kepepet ya batu. 

Namun, ada saja di antara anak di sekolah gw yang menyimpan sajam, entah itu gir, parang, katana, celurit, hingga kelewang. Gw yang terpojok sulit mengambil kembali celurit yang aslinya punya anak kelas tiga sekolah gw pun terancam parang milik Seta.

Beruntung, ada Eka yang berteriak kalo gw merupakan "mangsanya". Alias, jangan sampe gw diganggu.

Tentu, Seta menolak. Apalagi, STM-nya memang sejak dulu memandang remeh sekolah Eka yang mayoritas kaum hawa.

Bahkan, SMA Abi merupakan side kick dari STM Camp Java yang ironisnya sama-sama jadi rival sekolah gw, Boedoet, dan DKI. Ya, ketiga STM ini merupakan musuh satu sama lain.

Hanya, Seta enggan gegabah. Itu mengingat status Eka yang megang SMU di sekolahnya justru sepupu Abi, pentolan DKI.

Ya, riwayat kenakalan gw saat berseragam putih abu-abu memang dipenuhi keringat, darah, dan air mata. Dalam sejarahnya, baik tawuran atau duel one by one, rekor gw memang ga sempurna. Tiga kali kalah.

Pertama, dari Abi pada awal caturwulan gw kelas dua. Sepupu Eka ini memang setingkat lebih tinggi, alias kelas tiga. Namun, harus diakui, saat itu nyalinya memang nomor satu. Abi ga pernah kalah saat duel. Gw pun jadi bulan-bulanannya dua kali ketika one by one di Lapangan VIJ, Roksi, dan saat beradu sajam di depan Citraland.

Selanjutnya, gw takluk dari Dursasana, yang megang STM Poncol saat pecah tawuran di Kramat Raya. Saat itu, bus rombongan gw diserang mereka yang berasal dari gabungan tiga sekolah bersama STM Ploeit dan SMA negeri di Mangga Besar.

Terakhir, dengan Eka yang skornya 1-2. Nah ketika insiden Harmoni itu, permintaan Eka tidak langsung diiyakan Seta yang masih mengibaskan parang depan muka gw.

Eka pun tampak geregetan dengan Seta. Hanya, dia tidak bisa apa-apa mengingat statusnya sebagai orang luar.

Beruntung Seta tidak jadi menyabetkannya setelah sempat menoleh ke Abi yang justru sedang nyantai. Abi pun mengangguk sebagai isyarat agar Seta memenuhi permintaan Eka.

Tentu, Seta 100 persen menurut. Sebab, perkataan Abi merupakan titah bagi anak-anak STM DKI. Termasuk, Seta yang megang kelas dua pun tidak punya pilihan. Selain kalah abu, juga terkait reputasi Abi sebagai legenda hidup pelajar bengal pada dekade 2000-an. Tidak terhitung berapa kali dia tawuran atau duel dengan pelajar lain, baik dari STM, SMA, bahkan veteran dan alumni.

Anehnya, Abi yang di STM jurusan mesin, sekarang kerja kantoran sebagai salah satu karyawan di instansi pemerintah di kawasan Medan Merdeka Selatan dengan posisi cukup tinggi. Gw pun baru tahu saat bertemu dengannya belasan tahun kemudian di rumah Eka.

*       *       *

"WOI... Bengong aja. Awas, kesambet lagi," tutur Eka yang menyadarkan lamunan gw.

"Si anjrit, gw lagi mikir kapan aplikator kasih kitab bonus lagi," gw berkilah.

"Ga usah dipikirin bonus mah, mending banyakin orderan biar gacor yang berujung duit datang sendiri tanpa ngarepin bonus," lanjut Eka yang sejak ngojol pada 2019 memang gw tahu sama sekali ga perduli sama bonus. 

Ibaratnya, kalo di antara anak-anak di basecamp ngejar tupo atau tuber, Eka mah nyantai aja. Tahu-tahu, sehari kumpul Rp 300-500 ribu. Maklum, Eka tipikal ojol petualang, alias hobi ngambil orderan jauh yang tentu argonya juga gede.

"Gw jadi inget waktu itu. Kok lo bertiga takut sama makhluk halus. Sementara, dengan begal dan gangster aja, kalian berani ngadepin paling depan," Eka kembali menyoal insiden di basecamp.

"Kaget njir. Kalo begal atau gangster kan disentil pake parang juga berdarah. Nah, itu makhluk halus mana mempan. Si Jaya aja yang kabur paling terakhir, liat kaki 'kembaran lo' ga napak tanah," gw menjelaskan. 

"Nah itu... Coba kalo makhluk halus yang menyerupai gw ngambil motor salah satu dari lo bertiga. Tentu, kalian bakal mati-matian mempertahankan. Jangankan cuma satu makhluk halus, bahkan Raja Iblis Pikkolo pun kalo coba ngegarong motor lo pada, gw yakin kalian bantai," lanjut Eka.

"Yongkru, pasti lah. Bagi kita-kita sebagai ojol, motor itu seperti nyawa kedua. Ga bakal rela kita kehilangan kuda besi ini."

"Nah kan, bener kata gw. Jadi inget waktu phalguna tahun lalu, lo sendirian ngadepin tiga begal di Sunter. Gw jadi ngebayangin lo masih muda pas sendirian ngebantai anak Camp Java di depan Roxy Mas. Tapi percuma, beraninya sama begal dan anak STM doang, giliran ketemu soket pada kabur," Eka tertawa semringah.

Apa yang diucapkan Eka memantik kembali semangat gw sebagai ojol yang ga kenal takut. Baik kepada ormas, kang parkir liar, security komplek yang ngehe, hingga begal. Terutama, peristiwa setahun lalu...

*       *       *

RINAI baru saja membasahi ibu kota menjelang pergantian hari. Gw pun menepikan kendaraan sejenak di depan halte Kelapa Gading arah pusat perbelanjaan. Meski mendekati larut, kawasan yang sedang dibangun kereta layang ini masih ramai. Tampak beberapa rekan ojol yang ngalong asyik menunggu penumpang.

"Bang, anter ke Kemayoran yuk. Ini saya ada 100 ribu," ujar seorang pria berambut belah tengah dengan pakaian parlente yang tangan kirinya menjinjing tas kemungkinan berisi laptop dan kanan menyodorkan uang pecahan Rp 100.000.

"Waduh, maaf bang. Saya ga bisa. Itu ga jauh, ada opang. Bisa ke sana bang," jawab gw yang memang jarang mengambil penumpang tanpa aplikasi.

"Baterai saya habis bang. Mau pesan ojol ga bisa buka aplikasi. Ga apa-apa, lumayan dekat bang. Saya mau pulang abis meeting dengan klien."

Sebenarnya, gw enggan mengangkut. Namun, gw akui terlena lembaran merah yang disodorkan. Maklum, jika pakai aplikasi, tarifnya hanya Rp 30-50 ribu. Itu pun belum dipotong biaya layanan 20 persen. Apalagi, rutenya arah balik ke rumah gw. Beda cerita jika harus ke Priok atau Cakung yang kian jauh.

"Oke bang. Ini helmnya," kata gw yang menetapkan hati meski perasaan sempat tidak enak.

Sepanjang jalan, tidak ada yang aneh. Hingga ketika lewat Jalan Danau Sunter, tiba-tiba orang itu menepuk pundak gw.

"Bang, berhenti sebentar. Ada telepon masuk. Kalo sambil jalan, saya ga kedengeran."

"Depan aja bang. Ini masih sepi, rawan," gw tetap melajukan motor.

"Lo mau berhentiin motor atau nyawa lo yang gw berhentiin," ujar penumpang itu sambil menodongkan benda tajam di pinggang gw yang berasa dingin. Njir, kemungkinan, itu pisau!

Hanya beberapa detik kemudian, dari spion kanan, gw lihat ada satu motor mendahului. Tak lama, berhenti melintangi motor gw diikuti turunnya kedua orang. 

Si botak yang mengendarai motor matic mengarahkan celuritnya. Selanjutnya, si gondrong dengan parang turut memberi kode kepada penumpang gw.

"Santai aja bro. Gw mohon kerja samanya ya," tutur si botak, tertawa.

"Kalo lo serahin motor, hp, dan dompet, lo bakal aman," ujar si belah tengah yang kini sudah berdiri di samping gw usai motor gw pinggirin, tapi tetap tangan kanannya mengarahkan pisau ke perut gw.

Si botak pun dengan sigap merogoh tas selempang gw untuk mengambil hp dan dompet. Dalam situasi ini, gw hanya dihadapkan pada dua pilihan: Melawan dengan risiko nyawa terancam. Atau, menyerahkan harta gw, terutama motor yang bakal bikin gw nganggur akibat tidak bisa ngojol.

"Selow bang. Gw buka helm dulu," kata gw sambil mengamati situasi yang sangat sepi.

"Nah gitu dong. Kita ga butuh nyawa lo, cuma pengen motor dan harta lo aje. Aman kok," ucap si gondrong yang dari nafasnya bau alkohol. Empuk nih!

Secara perlahan, gw buka tali helm ojol. Selanjutnya, tinta sejarah turut mencatat.

*       *       *

SYUUT...

PLAK!!!

Lemparan helm gw tepat kena muka si gondrong yang langsung memegangi hidungnya akibat refleks. Alhasil, gw segera loncat dari jok untuk mencomot parang.

Pada saat yang sama, si belah tengah yang merupakan penumpang abal-abal bersiap menikamkan pisaunya. Pun demikian dengan si botak yang menyabet celuritnya.

Bagi gw, ga masalah dikeroyok tiga orang sekaligus. Menurut perhitungan, baik tangan kosong maupun pakai sajam, secara pengalaman biasanya satu lawan satu jelas gw menang. 

1vs2 gw masih unggul, 1vs3 imbang, 1vs4 gw di bawah angin, 1vs5 jelas kalah, dan 1vs10 gw wajib sipat kuping karena peluang menang hanya nol koma sekian persen.

Si gondrong yang hidungnya keluar kecap sempoyongan ikut mengepung gw dengan tangan kosong bersama belah tengah dan botak.

Anjrit, gw berasa tapak tilas era Sam Kok! Tepatnya, gw yang jadi Lu Bu dikeroyok Zhang Fei yang perawakannya mirip botak, Guan Yu ala-ala belah tengah, dan gondrong yang paling lemah seperti Liu Bei.

"Kalian serius mau begal gw? Gw kasih tahu aja, sendirian lawan lo-lo pada, tetap gw menang. Mending, kalian balik, cuci muka, minum obat cacing, dan tidur," ujar gw tertawa sambil mengayunkan parang.

Ya, di balik sesumbar ini, gw coba untuk memancing emosi mereka. Bagaimanapun, satu lawan tiga bukan duel ideal. Meski menang, gw khawatir harus membayar mahal akibat luka sajam.

"Bacot lo Njing!" sahut gondrong sambil melempar helm yang dipungut bekas sambitan gw. 

Pancingan gw terbukti tepat. Jelas, gondrong yang paling emosional. Lemparannya dengan mudah gw tangkis lewat tangan kiri. Sakit juga. Namun, tak masalah dibanding rasa sakit gondong yang puluhan kali lipat.

SYUTTTT

JLEB!

"Aduh... Sakit mak," teriak gondrong ketika pundaknya gw sabet parang dan pahanya gw tusuk. Dia pun ambruk dengan telungkup.

Di sisi lain, gw dengar samberan benda tajam di belakang gw.

SYUNGGGGG

SSS...

Nyaris saja! Untung gw sudah prediksi. Kalau ga, celurit si botak udah nancap di pundak gw. Sayangnya, dia terlihat amatir dengan sajam.

Padahal, sejak kecil, gw yang berasal dari The Bronx-nya Jakarta, jelas udah main-main dengan benda seperti itu. Baik belati, golok, celurit, kelewang, katana, mandau, hingga karambit! 

Jadi, gw ga gentar menghadapi si gondrong dan belah tengah. Di atas kertas, gw yakin sohib gw, Ekalaya juga bisa mengatasi mereka bertiga jika mengalami hal yang sama. Kalo Abi? Jangan ditanya! 

Dikeroyok belasan pelajar pake sajam di Gunung Sahari pun, Abi sangat asyik meliuk-liuk bermodalkan gesper. Wajar jika sejak kelas 1, sepupu Eka ini udah jadi pentolan DKI.

WUSSS

TRANG... TRANG... TRANG

Gw yang balik nyerang lewat bacokan parang secara vertikal mampu dihalau si botak dengan susah payah. Dari arah kiri, tangan si belah tengah lurus menusukkan pisaunya ke perut gw. 

Gw pun mengegos ke samping. Gw bisa aja mencabut parang yang sedang diarahkan ke si botak dengan menyabetnya secara horizontal ke kepala si belah tengah. Alias, taktik gugur gunung.

Hanya, gw punya spekulasi lain.

Usai menghindari pisau, gw arahkan kaki gw ke "area jackpot" si botak.

JDUK

Anjrit. Pasti sakti tuh. Minimal si botak bakal mules terus dalam beberapa hari ke depan. Apalagi, tendangan gw telak banget ke dua bola di bawah perut botak yang membuat celuritnya lepas.

Sosok yang sekilas mirip Brock Lesnar ini pun KO mengikuti si gondrong. Tinggal, si belah tengah saja. Biang keladi yang gw kira orang kantoran dengan tampang paling friendly dibanding dua temannya, ga tahunya malah begal. Anjing!

Tanpa basa-basi gw sabet parang ke lengannya. Bisa sih gw tikam ke perutnya. Secara, jangkauan parang lebih luas ketimbang pisau. 

Namun, gw enggan jadi pembunuh. Niat gw sekadar melumpuhkan. Bukan menghabisi. Apalagi, gw teringat dua anak di rumah, terutama bocah yang sedang lucu-lucunya.

Ga lucu kalo gw harus ngebunuh orang. Meski, niat gw demi melindungi diri akibat di begal. 

Hanya, hukum di Indonesia terkadang anomali. Ada kemungkinan, gw sebagai korban yang berusaha membela diri malah harus mendekam di bui. 

TAKK... TAKK...

Sumpah, gw kaget ketika sabetan gw ditahan pake lengan kanannya! Bahkan, si belah tengah tersenyum menyeringai yang seolah mengejek gw. Tanpa basa-basi, gw ayunkan mata parang ke wajahnya secara vertikal dari bawah ke atas.

SYUTTT

WUSS... WUSS... WUSS

Kini, giliran tangan kirinya menangkis. Bahkan, tangan kanannya bekerja cepat dengan mencoba merebut ujung parang!

Gw coba tarik yang tanpa sengaja mengenai telapak tangannya. Kalo orang normal, itu udah cukup buat ngebeset bahkan mengoyak dagingnya.

Anehnya, si belah tengah justru belum mengeluarkan darah sama sekali. Benar-benar situasi yang ganjil bagi gw. 

Si belah tengah meringsek maju. Pada saat yang sama, gw mundur beberapa tindak.

Alarm di kepala gw memberi sinyal untuk lari. Secara, lawan punya pegangan...

"Njing. Lo punya Rawarontek?" ujar gw spontan terkait kekebalan si belah tengah.

"Lo tahu juga, bocah? Sebenarnya, ilmu ini masih jauh dari Rawarontek. Tapi, cara kerjanya hampir mirip. Ya, bisa dibilang gitu," jawab si belah tengah sambil menyulut rokok yang diambil dari saku kemejanya.

Njir... Nyantai bener. Gw yang sejak kecil malang melintang di jalanan, termasuk kenyang tawuran saat di sekolah dan bentrok antarormas, kini seolah tidak punya harga diri di hadapan si belah tengah.

"Bocah!" teriak si gondrong, mengejek sambil memegangi pundaknya yang tampak mengucurkan darah akibat beberapa titik bekas tikaman gw.

"Lo ga bakal menang. He he he. Bos, habisin aje. Kalo gw ga luka, udah gw bantai nih bocah," si gondrong berseru kepada si belah tengah yang justru tampak acuh sambil dengan khusyu menghisap rokok mild.

Dalam situasi terbalik ini akibat si belah tengah punya wapak, membuat gw segera menganalisis kelemahannya langsung. Ya, percuma kalo gw hanya sabet ke tangan, kaki, atau badan. Sebab, si belah tengah punya ilmu kebal. 

Saat itu, ada dua pilihan yang bisa gw tempuh. Pertama, sipat kuping. Ini cara paling aman. Toh, kunci motor masih di celana dan gw yakin si belah tengah tidak akan mengejar. Apalagi, dia harus menolong dua temannya, si gondrong dan botak yang sudah out of the game.

Namun, gw ogah jadi pecundang. Apalagi, darah muda gw panas menyaksikan kekebalan lawan yang bikin gw penasaran.

Yang kedua, jelas. Melawan hingga titik darah penghabisan.

Opsi ini yang gw ambil.

Berdasarkan analisis singkat gw, nggak ada manusia yang benar-benar kebal. Meski, itu punya Rawarontek sekalipun, pasti punya kelemahan. 

Ya, gw akan mengambil taktik Total Voetball! Bagaimanapun, strategi terbaik adalah menyerang.

Gw arahkan ujung parang ke kepala si belah tengah, tepatnya mata kanan! Hanya, serangan gw dapat dielakkan dengan kedua tangannya menangkap parang gw.

"Cih..." Gw memaki karena tangkapan si belah tengah cukup kuat. Bahkan, dia hanya tertawa mengejek.

Namun, itu hanya serangan kamuflase bagi gw dari tiga skema. Sebab, tangan kiri gw yang nganggur langsung menojos ke arah jakun.

Bodo amat dah, si belah tengah modar kalo lehernya gw tusuk pake keempat jari. Hanya, dia juga refleks menangkap tangan gw!

Anjing!

Itu berarti, tinggal satu serangan pamungkas. Yaitu...

DUKKK

Bangsat! Hidung gw kena tonjok tangan kiri si belah tengah yang melepaskan pegangan parang. Njir, perih banget bikin gw kayak orang nangis.

"Lo udah frustrasi? Sampe melakukan perbuatan hina ke area vital. Gw tahu, lo bakal ngarahin mata, jakun, dan dua bola di bawah perut gw," ujar si belah tengah, tersenyum.

"Gw akuin, ketiga spot itu jadi kelemahan gw meski sudah punya ilmu kebal. Lo hebat juga bisa tahu, bahkan langsung menyerang ketiganya berturut-turut. Namun, gw udah pelajari dari dulu, bagaimana caranya melindungi mata, leher, dan jackpot ini. Ha ha ha."

Bangsat. Seluruh strategi gw, gatot. Wajar saja, jika si belah tengah sudah mengantisipasi kelemahannya dalam setiap perkelahian. 

"Apa opsi satu yang gw ambil?" ujar gw dalam hati terkait rencana kabur. Pada saat yang sama, gw lihat celurit bekas dipakai si botak tergeletak di depan kaki gw.

Hmm...

Dengan tangan kanan memegang parang dan kiri, celurit, masa gw kalah!

"Bacot lo begal anjing! Lo kalo mau kaya, ya kerja. Jangan begal. Nyusahin orang aja!" teriak gw mengayunkan parang dan celurit bersamaan dengan mengarahkan ke leher hingga muka.

Terbukti, kini si belah tengah terdesak. Meski kebal senjata tajam, tapi diserang parang dan celurit secara serentak yang dengan mengarah ke titik vital ya sami mawon. 

Jika sabetan parang dengan mudah ditangkis melalui lengan, tidak dengan celuriy. Sebab, sajam melengkung ala bulan sabit ini sangat istimwa. Gw mengarahkan ujungnya yang runcing ke belakang leher si belah tengah!

Sontak, dia pun kewalahan. Gw terus menyerangnya secara membabi buta. Kemeja, celana, hingga seluruh pakaiannya pun robek. Ya, bagaimanapun, meski badannya kebal senjata, tapi pakaian yang terbuat dari bahan tentu tidak.

Saking bertahan dari dua sajam yang gw arahkan secara sporadis membuat si belah tengah tersandung. Kesempatan ini ga gue sia-siakan langsung menerjangnya untuk memberikan serangan pamungkas.

BLETAK

GEDEBUG!

Bajingan! Gw jatuh. Kaki gw nyeri, dipuntir si botak yang sudah siuman usai kempongannya gw hajar hingga ngilu. Si belah tengah pun dengan sigap memungut celurit yang terlepas dari tangan kiri.

Dengan tangan kosong saja, gw udah kewalahan apalagi ini, si belah tengah pake celurit plus nge-cheat lewat wapaknya! 

Namun, mendapat perlawanan handicap ini ga bikin gw pasrah. Sebaliknya, justru ge tertantang untuk bisa membalikkan keadaan.


Pertama, gw sepak kepala si botak pake sepatu kanan gw ala Zangief. Berlanjut dengan tulang keringnya gw injek hingga bunyi.

KLETEK

"Aaaagh!" erangan si botak yang tampak kesakitan. Si gondrong yang duduk tampak kaget dengar lolongan temannya itu.

Sementara, si belah tengah? Anjrit. Dia malah asyik nyalain rokok lagi tanpa peduli kesakitan si botak. Benar-benar "raja tamat" nih. 

"Oke, sekarang kita bisa duel tanpa lo takut diganggu teman gw," ujar si belah tengah sambil meniup asap rokok menyerupai huruf o.

"Begal macam apa lo, yang sama sekali ga solider terhadap teman yang kesakitan," kata gw kepada si belah tengah yang mengingatkan sikap Vegeta terhadap Nappa saat dihajar Son Goku.

"Jadi ini, yang kalian sebut bos? Sementara, lo berdua gw bantai, justru dia ga peduli? Lo pada bego, mau jadi anak buah dia. Kalo gw jadi lo pada, udah gw gorok si belah tengah yang pecundang ini," tutur gw melirik bergantian kepada si botak dan gondrong.

Sengaja gw lontarkan kalimat bersayap seperti itu. Agar, mereka tidak membantu si belah tengah saat sedang duel dengan gw. 

Sekaligus, menyulut konflik internal.

Siapa tahu, setelah ini si botak dan gondrong benar-benar meninggalkan si belah tengah. 

Bahkan, yang lebih ekstrem lagi, benaran menggorok bosnya! Bodo amat dah kalo itu memang terjadi. 

"Udah cukup?" kata si belah tengah usai menjentikkan puntung rokoknya. Kini, final fight yang jadi penentuan nasib gw pun tiba.

"Bacot lo!" teriak gw sambil 'terbang' dengan mengayunkan parang secara vertikal ke arah si belah tengah. Ya, mirip Trunks saat membelah tubuh Frieza jadi dua.

Sayangnya, ini bukan komik. Melainkan nyata.

Sebab, power si belah tengah besar juga. Dia mampu menahan dengan tangan kiri. Di sisi lain, tangan kanannya menyabet celurit secara menyamping ke arah gw!

Jelas, gw dalam bahaya. Sebab, sajam berbentuk bulan sabit ini bisa membuat usus gw terburai.

Langsung gw tangkis dengan menarik kembali parang. 

TRANG!

Tangan gw pun bergetar saking kerasnya sabetan celurit. Mirip saat gw kepayahan meladeni Abi di Harmoni.

Si belah tengah tersenyum mencibir. Lalu, tangan kirinya memegang celurit menggantikan tangan kanan. Gw pun berpikir dia merupakan kidal.

DUG

DUG

Anjing. Jab dari tangan kanannya mengenai ulu hati. Sakit banget. Sebab, gw ga bisa menghindar mengingat kedua tangan sudah dikerahkan untuk memegang parang. 

Ini jadi handicap bagi gw. Tentu, gw ga boleh terus-terusan di bawah angin yang bisa membahayakan nyawa gw. 

DUGG

Gw jejak perutnya yang membuat parang dan celurit sama-sama terlepas. Gw mundur sejenak sambil memegangi dada bekas hantamannya.

Sementara, si belah tengah dengan sigap memungut celurit. Gw pun ga mau kalah cepat. 

TRANGGG!

Kedua sajam beradu. Kali ini, gw di atas angin karena gw mengayunkan agak diagonal. Meski badan dan tangannya kebal, tapi si belah tengah harus melindungi tiga titik vitalnya yang seperti Duryudana dalam perwayangan, karena sama sekali tidak kebal. Yaitu, mata, leher, dan area bawah perut.

Si belah tengah melancarkan serangan lewat tangan kanan ke muka gw. Terdengar keras tapi tidak cepat. 

Bagi gw, ini sudah bisa diantisipasi. Apalagi, gw ga pernah mau mengalami hal sama dua kali.

Gw pun mengelak ke samping. Si belah tengah ternyata penasaran akibat serangannya berhasil gw elak.

Dia kembali melontarkan tinju kerasnya dengan genggaman jari terkepal. Sudah pasti, gw juga penasaran untuk adu keras.

Layaknya, Chiu Phek Tong meladeni ilmu gajah dan naga dari Kim Lun Hoat Ong!

DUKK

Adu tinju berhasil gw menangkan. Sebab, gw memang sedikit menonjolkan jari tengah yang membuat tangan si belah tengah jadi santapan empuk.

Dia mundur setindak dengan menarik celuritnya.

"Ayo, cabut," katanya saat melirik ke si botak. "Lo yang bawa motor."

Gw pun kaget mendengar si belah tengah mundur saat duel sedang sengit-sengitnya.

"Lo hebat juga. Next, gw pengen reuni sama lo tanpa ada gangguan," ujar si belah tengah saat memapah si gondrong.

Butuh beberapa detik bagi gw untuk menyadari situasi ini. Hingga, sayup-sayup terdengar suara kendaraan. Dari belakang gw tampak sorotan beberapa motor. Mungkin, kehadiran pengendara lain yang membuat si belah tengah menyudahi duel. Bagi gw, tentu patut disyukuri. Dalam hati, senang karena gw terhindar bahaya malam ini.

BRUMM... BRUMM...

"Datang seenak jidat lo-lo pada, pergi begitu aja. Lo pikir, gw di sini patung?" gw berteriak keras hingga didengar tiga motor yang menepi di belakang gw.

"Lo yakin bisa menang lawan gw? Lo pikir 100 kali deh. Lo harus latihan bertahun-tahun dulu, baru bisa ladenin ge. Dah ah, cabut," kata si belah tengah yang duduk di jok paling belakang dengan membawa celurit.

DDRRT... DDRRT... 

"Mereka siapa bang?" kata  salah satu dari pengendara yang mendatangi gw.

"Begal bro."

"Lah, kejar bang," timpal pengendara lainnya dengan gaya yang sotoy.

"Yuk, jangan didiemin. Tuman," lanjut seorang lagi.

Gw perkirakan mereka masih abege terlihat dari ketiga motornya sama-sama matic yang sudah dimodif plus knalpot racing. Ya, darah masih panas. 

Namun, menghadapi begal, khususnya si belah tengah, jelas mereka cari mati. 

"Udah pergi bro. Aman. Gw juga ga apa-apa," gw menjelaskan.

"Yakin bang? Kita berempat, mereka tigaan. Pasti menang lah. Gw juga udah gatel pengen 'olahraga' nih," kata remaja yang sotoy kini makin songong.

"Serius lo? Mereka bawa sajam. Lo pada berani bunuh-bunuhan," jawab ge sambil menunjuk ke trotoar yang tercecer bercak darah.

"Waduh, ngeri bang. Main aman aja lah. Mending pulang," jawab si sotoy.

"Iya bang, kalo udah aman lebih baik balik aja," lanjut temannya sambil putar arah diikuti yang lainnya.

BRUM...

*       *       *

KINI gw sendirian di pinggir jalan. Pandangan gw terarah ke trotoar dengan tergeletak dompet dan hp yang kemungkinan punya si botak atau gondrong. Entahlah, gw ga tahu milik salah satu di antara mereka. 

Gw cek, dompet tanpa identitas. Namun, berisi uang dengan empat lembaran merah dan satu biru. Sementara, hp merek asal Mainland yang tergolong lumayan meski kacanya agak retak tapi masih berfungsi. 

Tentu saja, "penemuan" ini ga bakal gw laporin ke polisi. Alias, bakal gw manfaatin. Lumayan.

Itung-itung sebagai ganti rugi akibat ongkos yang ga dibayar si belah tengah. Sekaligus, pelipur lara terkait duel tadi.

Ya, secara pertempuran gw memang kalah. Namun, gw bisa dibilang menang dalam perang.

Sebab, gw bisa meladeni ketiga begal. Bahkan, si botak dan gondrong gw bikin KO. Dengan si belah tengah, meski gw di bawah angin, tapi itu wajar mengjngat dia punya Rawarontek.

Next, gw harus cari cara untuk mengatasi orang yang punya pegangan. Sebagai antisipasi jika ketemu si belah tengah lagi atau begal lainnya.***

*       *       *


Serial Catatan Harian Ojol
- Part I: Ceritera dari SPBU Kosong
- Part III: Penumpang Rasa Pacar
- Part IV: Orderan Kakap

Prekuel
Kamaratih

Spin-Off
Kisah Wanita dengan Blazer Hitam I

*       *       *

Artikel Terkait Catatan Harian Ojol (#CHO):


*       *       *

*Inspired by True Event
Jakarta, 21 April 2021