TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Cerita Ojol

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label Cerita Ojol. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Ojol. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Maret 2025

Lirikan Maut Penjaga Kedai

Lirikan Maut Penjaga Kedai

Ilustrasi santapan berbuka
(Foto: @roelly87)


"MAS, minta tolong nanti mampir sebentar ya ke Jalan Mawar. Gw mau beli buat sahur."

"Siap."

"Bentar aja ya mas. Ga lama kok. Ntar gw tambahin deh. Soalnya gw tahu ini di luar aplikasi."

"Aman. Woles aja."

Demikian percakapan saya dengan penumpang di salah satu aplikasi ojek online (ojol) jelang pergantian hari di jantung ibu kota, awal Ramadan lalu. Customer izin untuk belok ke Jalan Mawar yang memang banyak warung nasi.

Baik makanan khas Betawi, Sunda, Padang, Tegal, hingga Manado. Kawasan ini memang setiap harinya hidup 24 jam.

Bahkan, saat Pandemi Covid 19 lalu, area ini jadi tujuan masyarakat untuk beli makanan. Apalagi, saat Ramadan yang memang selalu ramai dengan sorenya dipenuhi pedagang takjil.


*       *       *


"ADA ayam goreng, tepung, atau asam manis. Lo mau nasi sama apa mas?" ujar penumpang menghampiri gw yang lagi ngemil kolak sagu rangi sisa buka tadi. 

Kebetulan, santannya dipisah untuk menghindarkan basi. Jadi aman dikonsumsi hingga larut.

"Ga. Terima kasih. Gw lagi ngemil kolak."

"Maksudnya ni buat sahur mas, bukan sekarang."

"Lah, baru jam 12 kurang. Imsak aja pukul 04.43. Masih lama. Makan jam segini mah ntar laper lagi."

"Maksud gw, Rojali, buat dibungkus. Ini gw beliin nasi sama kentang mustofa, orek, dan bala-bala. Tinggal lauknya belum. Ayamnya mau yang mana."

"Ga usah. Makasih."

"Yee, ini serius. Gw beliin. Gratis."

"Kaga usah. Bentar lagi gw balik. Sahur di rumah. Nyokap gw masak. Kalo lo beliin bakal mubazir ga dimakan."

"Ooh..."

"Yoi. Makasih ya."

"Iya deh. Ini gw buat temen kost aja. Soalnya, udah dibikin ga bisa cancel. Bentar lagi ya, gw bayar dulu ke kasir."

"Aman. Lo makan di tempat juga ga apa-apa. Gw kalo malam nyantai. Orderan ga begitu ramai."

"Ga lah. Gw beli dibungkus. Oke, bentar ya."


*       *       *


SEBAGAI ojol yang bergerak di bidang jasa, tentu wajib memberikan pelayanan terbaik kepada customer. Baik itu saat mengantar penumpang, makanan, dan paket atau barang.

Servis ala hotel bintang lima biasa saya lakukan bersama jutaan ojol lainnya di Tanah Air. Tujuannya, agar customer puas.

Secara, mereka sudah bayar mahal untuk pemesanan via aplikasi ojol. Jadi, kami tidak boleh mengecewakan pelanggan.

Kendati, fakta di lapangan 1+1 belum tentu 2. Bisa saja 3, 11, 111, sampai tak terhingga.

Ya, tergantung interpretasi masing-masing.

Adakalanya, ojol sudah memberikan pelayanan terbaik, tapi customernya bertindak di luar nurul. Misalnya, pada phalguna lalu, ada penumpang yang benar-benar luar biasa dengan jarak antar 3 km dan argo standar.

Namun, customer ini meminta berhenti di tiga titik. Minimarket, ATM, dan Money Changer.

Dua tempat awal, gratis parkir karena saya nunggu di pinggir jalan. Sementara, yang terakhir harus masuk ke komplek hingga kena parkir via uang elektronik.

Hebatnya, usai perjalanan customer itu enteng banget ngeloyor seolah tanpa bersalah. Boro-boro nambahin ongkos yang memang jaraknya bertambah, diminta ganti parkir aja melengos!

Udah muter-muter lebih dari 5 km yang berarti ongkos harusnya bertambah eh kena parkir ga mau ganti pula! Lah, dikira motor itu BBM-nya pake air hujan mungkin! (Selengkapnya: Saya Kerja Cari Uang, Bukan Ingin Dapat Pahala).


*       *       *


CUSTOMER pun mendatangi saya dengan semringah. Di kiri dan kanan tampak membawa bungkusan.

"Maaf, lama mas. Antre bayarnya. Ha ha ha."

"Aman."

"Ini pengganti waktu tunggu mas," ujar pelanggan memberikan selembar hijau. Alias, lebih dikit dari ongkos di aplikasi yang sudah dibayar secara nontunai.

"Kembali berapa?"

"Semua lah buat lo, mas. Ga usah kembali."

"Lha, banyak amat. Ini kebanyakan."

"Ga apa-apa mas. Gw tadi dapat lemburan. Biasa balik jam lima. Jadi, dari kantor dapat lebih."

"Oke, gw ambil ya. Terima kasih."

"Sama-sama mas. Ga usah pake helm ya, kita lewat jalan kampung aja. Kalo puasa gini bisa masuk, ga diportal.

"Bebas," kata saya sambil mengecek google maps untuk edit rute lewat pemukiman sepertinya lebih cepet ketimbang jalan arteri yang harus muter.

"Btw, di kostan lo kan bawahnya ada kedai 24 jam. Kenapa ga beli buat sahur di sana?" gw bertanya kepada customer.

Secara, di kawasan Bodas juga banyak yang jual makanan. Baik saat jelang buka puasa atau sahur.

Termasuk, di kostan customer ini yang berdampingan dengan ruko penjual elektronik. Gw tahu karena beberapa kali ambil orderan dari toko untuk kirim barang.

"Dulu sering mas pas awal-awal mbaknya gantiin mertuanya jaga warung. Tapi, sejak akhir tahun lalu, gw udah males beli di dia lagi," penumpang itu menjelaskan.

Dia mengaku udah dua tahun ngekost di sana. Pemiliknya suami-istri pensiunan bank ternama yang punya rumah di Depok. 

Hanya, sejak Agustus lalu, pasangan itu pulang kampung untuk menikmati masa tua. Rumahnya di Depok pun dijual.

Sementara, kostannya diserahkan ke anak laki yang sehari-hari kerja di proyek. Nah, istri anaknya itu berinisiatif buka kedai kecil-kecilan di bawah kostan berbagi ruang dengan parkiran motor.

"Gw akuin masakannya enak. Khas banget. Bumbunya juga sedap. Selera gw dah pokoknya," tutur sang customer.

"Harganya apalagi, terjangkau semua kalangan. Apalagi, khusus penghuni kostan bisa kasbon. He he he. Hanya..."

Saya mendengarkan dengan khidmat sambil fokus bawa motor melewati beberapa polisi tidur. Tujuannya dibuat seperti itu agar tidak ada yang ngebut atau balapan mengingat kawasan pemukiman ini padat penduduk.

"Yee, udahan ceritanya? Bentar lagi nyampe cuy. Ati-ati kaki lo, kesenggol motor ," gw mengingatkan penumpang untuk merapatkan kedua kakinya.

Maklum, kami lewat gang sempit yang konon sinar matahari pun tidak bisa masuk. Apalagi, di kanan dan kiri terdapat motor yang parkir dengan rapat hingga rawan kesenggol pengendara lewat.

"Aman mas. Pelan-pelan aja. Ini gw belom selesai dongengnya."

"Lah, dikira gw bocah. Pake bilang didongeng segala," gw menjawab sambil ketawa.

"Ha... Ha... Ha... Bentar lagi. Ini gw lanjut cerita biar lo ga penasaran."

"Ebuset, gw kaga pernah penasaran hal gituan. Bagi gw mah, yang penting duit, duit, dan duit. Abis nurunin lo, ntar gw masih keliling sampe jelang sahur."

"Sue, lo mas. Matre banget."

"Lah, jadi manusia mah emang harus matre. Semua butuh duit. Emang lo kalo bawa motor parkir di minimarket ga bayar? Terus, lo ke toilet di SPBU ga ada penjaganya? Lo naik ojol juga kan pake duit. Ga ada yang gratis, cuy."

"Ha... Ha... Ha... Asem lo mas, bisa aja," sergah penumpang tertawa sambil menepuk pundak.

"Yaudin, ini gw tambahin ongkosnya. Itung-itung lo dengerin cerita gw sampe tamat," lanjutnya dengan menyodorkan selembar biru.

Seketika, di otak gw terdapat putaran uang. Ongkos di aplikasi non tunai, bersihnya hampir dua lembaran ungu.

Nungguin doi beli santap sahur dikasih yang hijau. Sekarang, ditawarin selembar biru.

Kalo ditotal, mendekati kertas yang merah. Banyak juga, euy.

Mata gw pun berbinar merekonstruksi besarnya pendapatan ojol dari satu penumpang doang. Hanya, gw tersadar dan langsung mencium sesuatu yang...

"Eh, penumpang yang baik, ga semua bisa dinilai dengan uang. Bukan gitu caranya," kata gw menolak sambil rem mendadak.

Kaget akibat ada polisi tidur yang tinggi tapi ga dicat putih. Duh, bahaya ini kalo malam-malam ujan, bisa bikin celaka pengendara yang lewat.

Berdasarkan berita, banyak kecelakaan terjadi akibat polisi tidur. Bahkan, sempat viral di Jalan Danau Sunter Selatan hingga akhirnya dibongkar.

Kadang, masyarakat kita dan pejabatnya suka bikin yang aneh-aneh. Giliran ntar terjadi insiden hingga viral, baru diberesin.

"Sembarangan amat sih yang bikin polisi tidur. Untung lo liat mas, kalo ga bisa kejungkal kita," sang penumpang, menimpali.

"Depan ada warung, bentar gw turun dulu ya. Btw, gw tahu caranya bikin tawaran yang ga bisa ditolak orang," lanjutnya lagi tanpa menaruh helm langsung masuk ke warung sembako.

Gw mengangguk. Menepikan motor ke paling pinggir agar kendaraan lain bisa lewat.

"Ini mah pasti beliin ***. Ga mungkin lain," kata gw dalam hati memprediksi. 

Ini mirip taktik ala Don Vito Corleone atau versi Zhuge Liang saat dikerjai Liu Qi. Aneh tapi seru!

Ga lama, customer itu pun tiba. Sambil cengengesan membawa plastik hitam.

"Ini sebungkus *** sama minuman kaleng buat lo. Udah dibeli, ga bisa dibalikin ke yang jual. Ayo, dengerin gw cerita sampe finish ya," katanya menyodorkan.

Gw pun mendorong motor. Membuka bungkusan yang beraroma khas itu.

Bersambung*** 


*        *        *


- Jakarta, 12 Maret 2025


*        *        *


Artikel Sebelumnya Terkait Customer Ojol


- Insiden Membokongi Piza (https://www.roelly87.com/2025/01/insiden-membokongi-piza.html)



- Dan Terjadi Lagi... Pelecehan Seksual terhadap Ojol (https://www.roelly87.com/2024/08/dan-terjadi-lagi-pelecehan-seksual.html)



- Tidak Ada Toleransi untuk Perokok (https://www.roelly87.com/2024/05/tidak-ada-toleransi-untuk-perokok.html)



- Penumpang Kecebur Got dan Motor Hampir Mogok: Drama Banjir 22 Maret (https://www.roelly87.com/2024/03/penumpang-kecebur-got-dan-motor-hampir.html)



- Terima Kasih, Orang Baik (3) (https://www.roelly87.com/2024/03/terima-kasih-orang-baik-3.html)



- Tidak Ada Polisi 40%, Ini Alasan Penumpang Enggan Pakai Helm (https://www.roelly87.com/2020/03/tidak-ada-polisi-40-ini-alasan.html)



- Anak Perwira Dijambret di Samping Polda Metro Jaya (https://www.roelly87.com/2024/03/anak-perwira-dijambret-di-samping-polda.html)



- Sisi Lain Konser Coldplay: Mistik, Sedih, Haru, dan Bahagia (https://www.roelly87.com/2023/11/sisi-lain-konser-coldplay-mistik-sedih.html)



- Menara Kadin yang Memanusiakan Manusia (https://www.roelly87.com/2023/11/menara-kadin-yang-memanusiakan-manusia.html)



- Ditolak Ojol: Bertepuk Sebelah Tangan (https://www.roelly87.com/2023/05/ditolak-ojol-bertepuk-sebelah-tangan.html)



- BlackPink di Mata Ojol (https://www.roelly87.com/2023/03/blackpink-di-mata-ojol.html)



- Risiko Ojol Antar Makanan pada Dini Hari (https://www.roelly87.com/2023/02/risiko-ojol-antar-makanan-pada-dini-hari.html)



- Karena Customer adalah Raja (https://www.roelly87.com/2022/01/karena-customer-adalah-raja.html)



- Di Suatu Desa dengan Penumpang Random (https://www.roelly87.com/2021/10/di-suatu-desa-dengan-penumpang-random.html)



- Sebuah Kisah Klasik yang Tak Berujung (https://www.roelly87.com/2021/06/sebuah-kisah-klasik-yang-tak-berujung.html)



- Kompromi dengan Keadaan (https://www.roelly87.com/2021/03/kompromi-dengan-keadaan.html)



- Orderan pada Malam yang Ganjil (https://www.roelly87.com/2020/11/orderan-pada-malam-yang-ganjil.html)





*        *        *


Rabu, 30 Juni 2021

Sebuah Kisah Klasik yang Tak Berujung


KHUSUS DEWASA! (Usia, Pikiran, dan Pemahaman)



Catatan Harian Ojol IV:

Sebuah Kisah Klasik yang Tak Berujung

Ilustrasi Tugu Selamat Datang
(Foto: @roelly87)


HANYA lebaran yang mampu mengatasi kemacetan di ibu kota. Demikian, celotehan di berbagai media sosial bernada sarkas yang selalu muncul setiap tahun. Tidak peduli siapa pun gubernurnya atau apa kebijakannya, mudik jadi momentum yang membuat mayoritas jalan di Jakarta jadi lenggang.

Termasuk, saat ini pada H+2 Idul Fitri. Sejak Kebagusan, Jakarta Selatan, hingga memasuki Sudirman, tampak suasana sangat sepi. 

Padahal, masih tergolong sore, tepatnya pukul 22.00 WIB. Namun, sepanjang jalan yang gw lewati hanya berpapasan satu atau dua kendaraan.

Itu yang gw rasakan usai menemani Dewi yang berlebaran ke keluarga, kerabat, dan teman-temannya sejak pagi. Alhasil, gw pun ogah untuk ngojol setelah mengantarkannya ke kostan di Tanjung Duren.

Sempat gw lihat di aplikasi, merah semua. Alias, orderan melimpah untuk food dan penumpang. Hanya, gw ga antusias mengingat badan pegal-pegal akibat seharian keliling dengan Dewi di motor.

Pengen banget, sampe rumah selonjoran dan tidur. Besok siang, baru ngojol lagi. 

Pun demikian dengan ajakan Irawan yang ingin berlebaran ke rumah gw bersama Setyawati, istri dan anaknya. Gw chat di WA bahwa gw baru balik dari Selatan.

Gw memang lumayan dekat dengan pasangan muda tersebut. Sempat jadi rival saat berseragam putih abu-abu, Irawan kini jadi salah satu sohib gw.

Demikian dengan Setya yang dulu satu angkatan. Bahkan, sama-sama di kelas satu dan dua. Saat kelas tiga, baru beda. Gw masuk IPS dan Setya IPA.

Secara tidak langsung, gw juga yang menjodohkan mereka. Anjir, udah kayak mak comblang.

Berawal dari pertemuan di puncak Mahameru, dua windu silam. Gw bareng teman-teman kerja mengisi liburan. 

Sementara, Irawan bersama anak-anak kampusnya di bilangan Grogol. Setya? Memang sejak SMA dikenal pencinta alam yang pas masuk UI jadi anggota Mapala.

Karena sudah setahun ga ketemu sejak lulus 2004, gw pun barengan dengan Setyawati. Sebelumnya, saat sekolah memang lumayan akrab. 

Setya salah satu gadis pujaan. Cantik, pintar, dan ramah. Meski, gw sama sekali ga tertarik dengannya. Kecuali saat nyontek untuk mengerjakan PR atau ujian caturwulan. 

Maklum, status sebagai salah satu SMA elite di jantung ibu kota membuat sekolah gw dihuni banyak bidadari. Termasuk, jadian dengan Btari Dremi, salah satu sohib Setya.

Di puncak tertinggi Jawa itu, gw ga tahu kalo Irawan ternyata sangat memperhatikan Setya. Itu diketahui enam tahun berselang saat gw ada event dengannya.

Ternyata, Irawan masih kepo dengan Setya. Sampai mancing-mancing dengan nanya secara langsung hubungan gw dengan Setya.

Tentu, gw jawab sebatas teman. Ga lebih.

Bahkan, gw beritahu bahwa Setya dalam posisi jomblo usai baru putus dengan teman kuliahnya. Itu yang membuat Irawan kian bersemangat untuk meminta pin.

Gw yang seumur-umur ga pake bb akhirnya hanya memberi nomor ponsel Setya. Sambil gw kasih pencerahan, cara menangkap ular itu dengan memegang kepalanya, bukan badan atau ekor.

Alias, Irawan wajib bisa menaklukkan hati orangtua Setya. Maklum, bokapnya Setya yang masih keturunan Yaman merupakan diplomat. Sedangkan nyokapnya Sunda tulen, asal Sukabumi.

Sepengetahuan gw, setiap cowo yang ingin mendekati Setya harus khatam Al Quran. Alias, wajib bisa ngaji. Syukur-syukur jebolan pesantren. Itu aturan tak tertulis di keluarga Setya sejak SMA.

Lah, Irawan meski asli Betawi, Condet, boro-boro bisa khatam. Ngaji di juz ama aja masih belepotan. Ya, 11-12 dengan gw sih. Bedanya, gw bisa baca Quran meski sekadar baru bisa baca. Alias, jika menghafal di luar kepala hingga 30 juz, jelas gw nyerah.

Yang menarik, setelah setahun berjuang mati-matian mendekati orangtua Setya dan belajar ngaji, akhirnya Irawan berhasil. Mereka jadian tiga tahun dengan mengucap janji jelang final Piala Dunia 2014.

*        *        *

Mimpi pun aku tak ingin jauh darimu

Apa lagi kalau sampai berpisah

Selama-lamanya ku ingin dekat denganmu

Aku ingin miliki dirimu


Anjir... Malem begini ada pengamen yang bawain lagu jadul!

Gw ingat, ini tembang khas Desy Ratnasari yang timeless meski populer pada 1990-an. Ga nyangka juga, pengamen wanita remaja ini mampu membawakannya secara epik.

Sekaligus, mengingatkan gw pada pertemuan barusan dengan Dewi yang sampe seharian. Karena lagunya relate dengan situasi terkini, tanpa ragu gw merogoh selembar 10 ribu kepada pengamen di lampu merah Grogol ini.

Di perjalanan, lirik yang populer pada dekade 1990-an itu seperti nyemen di kepala gw. Kebetulan, jalanan agak lenggang karena masih suasana lebaran. Jadi, gw ga mokal saat bersenandung dari atas matic.

"Tolong... Tolong..."

Sayup-sayup terdengar teriakan di belakang gw saat melewati jalan yang menghubungkan ibu kota dengan Tangerang. Tepatnya, di pinggir sungai yang berjarak sekitar belasan meter.

Feeling gw langsung ga enak. Namun, sebagai orang yang setiap hari berada di jalan membuat gw merasa harus balik mengikuti suara tersebut. Gw pun putar arah untuk menuju suara yang terdengar teriakan itu. 

Tak lupa, sambil meningkatkan kewaspadaan. Terutama, menyimak spion di kanan dan kiri untuk mengantisipasi hal tak terduga dari arah belakang. Ini gw belajar dari pengalanan Irawan yang telah bertemu dengan begal berjumlah tiga orang.

"Bang, tolongin gw. Ayo bang, berangkat," ujar wanita yang gw taksir usianya sekitar 20an ini. Dari belakangnya tampak dua pria muda. Ya, mungkin abg sedang mengejar.

"Ada apa ini kak?" tanya gw kepada wanita yang tiba-tiba sudah berada di jok. 

"Ayo bang, pergi. Gw dikejar dua bangsat itu."

"Woi, jangan kabur lo!" ujar salah satu remaja berkaos putih sambil menenteng sandal jepit.

"Lo udah gw bayar. Kontan. Jadi, jangan seenaknya cabut," sambar yang di sebelahnya yang mengenakan flanel warna merah.

"Ga mau, anjing! Emang lo pikir, gw cewek apaan," sahut si cewek yang kini sudah turun dengan jarinya menunjuk ke arah kaos putih.

Nyaris aja gw tinggal karena gw pikir cewek ini sedang berantem dengan pacar atau suami dari salah satu cowo yang mengejarnya. Jujur, gw ogah ngurusin soal pribadi. Jadi, biar mereka sendiri yang menyelesaikan urusannya.

Namun, sepertinya tangan berat untuk menarik tuas gas. Yupz, ternyata...

"Eh lonte. Lo udah gw kasih serebu. Itu lebih tinggi dari tarif yang lo pasang di aplikasi, 300 ST," teriak si putih.

"Kan perjanjiannya sendiri. Lo kenapa ngajak dua orang lagi!" sahut si cewek.

"Serebu buat bertiga itu udah ketinggian. Masih mending lo ada yang mesen. Coba lo kerja jadi karyawan, sebulan paling cuma dapat tiga rebuan atau UMR," si merah menimpali.

Mendengar percakapan ketiganya membuat gw sedikit paham. Ternyata, ga jauh-jauh dari soal BO. Sebagai ojol, khususnya kalong, gw ga asing dengan beginian. Sebab, hampir tiap hari mengantar penumpang ke hotel, baik cwk atau cwk.

"Bang, yuk cabut. Tolong anterin gw ke kostan. Bisa gila gw ngadepin kedua bocah ini," kata si cewek.

"Eh tunggu dulu. Lo anggap gw patung apa?" bentak si putih.

"Iye lonte. Lanjutin dulu yang tadi. Tanggung nih. Si Burisrawa juga nungguin di kamar. Abis itu, lo boleh cabut. Ngejablay lagi kek, bodo amat. Yang penting, lanjutin. Pan gw udah patungan mahal," si merah, menambahkan.

"Najis gw. Seumur-umur, baru kali ini digangbang bertiga," tukas si cewek sambil kembali duduk di jok belakang.

"Udah bang, jangan dengerin dua dajal ini. Masih bocah udah lelaguan."

Hanya, ketika gw mau gas, si putih segera mengadang. Bahkan, si merah langsung melayangkan bogem mentah ke arah muka gw.

Refleks gw menunduk.

Dukkk!

Demikian bunyi benturan helm gw dengan kepalan si merah. 

"Anjing lo!" umpatnya.

Langsung, gw buka tali helm untuk mengarahkan ke mukanya. 

Bletak!

Tampak, dari sela-sela hidungnya keluar kecap. Helm ojol memang lumayan kokoh. Pas banget kalo bentrok dengan muka. 

Makan situ! Lo yang mulai. 

Gw pun turun dari motor dengan standar kiri. Tak lupa, kunci gw cabut untuk jaga-jaga jika si putih niat ngebegal atau bahkan si cewek bawa kabur. 

Ya, selalu ada kemungkinan buruk. Termasuk, jika si cewek ternyata bagian dari dua remaja itu. Konspirasi.

Gw genggam kerah si merah yang kian panik akibat tangannya memegangi hidung. Tanpa ampun, gw tarik rambutnya untuk dipertemukan dengan lutut gw. Sebagai finishing, gw layangkan tangan gw ke arah dagunya seperti Ryu dengan Hadouken dalam Street Fighter.

Si merah pun tumbang. Untung perasaan gw lagi bagus berkat seharian jalan dengan Dewi. Andai suasana hati gw lagi jelek, pasti si merah gw jadiin pelampiasan!

"Bang, lo apain temen gw?" kata si putih menghampiri.

"Temen lo yang mulai. Nyerang gw duluan. Ya, gw bales."

"Tapi, lo ga tahu masalahnya. Ujug-ujug langsung mukul."

"Lah, gw daritadi diem aje. Emang gw ikut campur urusan lo pada sama nih cewek? Nggak kan!"

"Ya udah, lo jangan ikut campur bang. Gw mau bawa si Dresna ke hotel lagi."

"Tadinya gw ga mau ikut campur. Tapi, kalo udah gini, terpaksa gw turun tangan. Lagian, lo ga malu apa, bertiga ngeroyok cewe?" 

"Kan gw udah bayar dia bang. Lo tanya aja sama si Dresna. Masa, gw bohong," tutur si putih sambil memapah temannya.

"Eh goblok. Biar kata dia jablay, lo ga pantes memperlakukannya seenak jidat lo. Gila kali ya, tiga lawan satu. Lo ga mikir dia trauma digarap rame-rame."

"Resiko itu bang. Namanya juga lonte. Kalo ga mau dapat duit banyak secara singkat, ya si Dresna jangan ngejablay."

"Eh anjing, kan perjanjian cuma lo doang sendiri. Ga tahunya di kamar udah nunggu dua temen lo yang maksa," si cewek yang ternyata bernama Dresna ini memotong.

"Gila kali ya kalo ada cewek yang mau digangbang kalian bertiga. Emang, ini ***** negara! Biar jablay, gw punya harga diri."

Gw pun coba nenangin Dresna yang terisak. Apa pun profesinya, sebagai sesama manusia, gw sangat simpati. Terlebih, sikap dua bocah ini bener-bener kelewatan.

"Ya udah, cukup di sini ya. Masalah selesai. Lo bawa temen lo, gw tolongin ini cewek. Tapi, kalo lo ga terima, gw punya banyak waktu buat ngeladenin lo," ujar gw sambil menatap si putih.

Dia hanya berbalik sambil memapah si merah. "Dasar lonte. Rugi gw udah bayar mahal."

Terdengar lirih sumpah serapahnya. Namun, gw ga ambil pusing. Yang penting, gw udah berusaha nyelametin si cewek. Minimal, menganternya ke tempat rame agar tidak dikejar dua bocah lagi.

"Bang, sorry ya udah ngerepotin lo. Kenalin, gw Dresnala Maharani," ujar si cewek sambil mengulurkan tangan.

"Ekalaya."

"Bang, tolong anter ke kostan Suryaloka, di Setiabudi, ya. Ntar gw bayar lebih. Tapi, ga apa-apa ya kalo ga pake aplikasi."

"Siap kak. Helm mohon dikunci dan jangan main hape ya. Rawan jambret jam segini."

"..."

*        *        *

HINGGA tigaperempat perjalanan, tidak ada pembicaraan di antara kami. Dresna bergeming di jok belakang. 

Ada jarak belasan senti yang memisahkannya dengan gw. Pun demikian dengan gw yang fokus mengendarai motor. 

Gw enggan nanya ini-itu kepada Dresna yang mungkin sedang tertekan batinnya. Apalagi, gw juga cukup lelah akibat seharian keliling bersama Dewi untuk berlebaran menemui keluarga dan teman-temannya.

Hik... Hik... Hik...

Sayup-sayup terdengar suara tangisan yang sepertinya tertahan. Nyaris saja gw jantungan karena mengira itu suara miss kunti. 

Maklum, meski ga punya kelebihan terkait indra keenam, tapi gw sempat memiliki pengalaman mistis. Termasuk, saat ngojol dalam dua tahun ini. 

Salah satunya, di SPBU yang berlokasi di perbatasan. Bahkan, insiden ini tidak hanya menemui gw, melainkan juga tiga rekan sesama ojol di basecamp.

Beruntung, gw sadar bahwa suara tangisan itu dari penumpang di belakang. Refleks, gw melirik ke spion kiri, tampak Dresna sedang mengusap wajahnya sambil sesenggukan.

"Kenapa kak?"

"..."

"Mau ke warung dulu cari tisu atau air mineral buat cuci muka?"

"Ga apa-apa bang. Gw cuma kelilipan."

"Ok... Gw kirain lo nangis kenapa..."

Ketika melewati Tugu Selamat Datang, gw merasa ada tangan yang memeluk pinggang dengan erat. 100 persen gw yakin ini tangan Dresna. Alias, bukan ghaib! Maklum, suasana di bundaran air mancur berada tepat di jantung ibu kota. Jadi, suasananya asli dibanding saat gw singgah di SPBU.

"Bang, pelan-pelan ya."

"Iya kak. Pan daritadi juga kita jalannya pelan. Maklum, Jakarta masih kosong, banyak yang belum balik dari mudik."

"Bang, boleh nyari warung dulu? Gw mau makan bentar ya."

"Nasi atau apa?"

"Bubur kacang ijo aja bang. Atau yang kuah panas buat ngangetin badan."

"Okok. Di depan kayaknya ada warung burjo. Ntar gw berenti di sana."

"Lo temenin gw makan ya bang. Ntar gw bayarin. Ongkos beda lagi."

"Aman kak. Gw udah kenyang."

"Nasi mau?

"Udah kakak. Gw masih kenyang"

"Kopi ya?"

"Boleh, kebetulan kopi gw bawa dari siang udah abis," jawab gw yang teringat pada termos mini berlogo Asian Para Games 2018 yang merupakan pemberian saat ikut suatu acara.

Kebetulan gw selalu bawa termos mini ini. Sebelom berangkat ngojol, biasanya gw isi kopi hitam segelas di kostan. Ya, termos mini ini lumayan bisa tahan panas beberapa jam. Kalo kopinya habis, biasanya gw beli lagi di Starling yang segelas sangat murah, cuma tigarebu.

*        *        *

"BANG, lo ga jijik bareng gw? Maksudnya, nemenin gw ngemil ini," ujar Dresnala membuka percakapan.

Sontak, omongannya membuat gw bingung. 

"Emang kenape?"

"Kaga. Pan lo tahu soal gw. Apalagi, tadi tuh bocah udah bongkar jati diri gw sebagai..."

"Lo bukan pendosa," potong gw sebelum Dresna menyelesaikan omongannya. "Gw juga bukan orang suci. Bahkan, bisa jadi gw lebih kotor daripada lo. Jadi, ga usah bahas yang aneh-aneh..."

"Justru itu bang. Aneh aja gw dengan sikap lo yang biasa aja liat gw. Padahal, kalo orang tahu gw merupakan jablay, pandangannya langsung berubah. Apalagi, kalo yang mata keranjang. Tatapannya langsung ngarah ke toket gw yang emang lumayan gede dan langsung nawar untuk ngajak ngamar."

Usai menyendok bubur kacang ijo yang masih panas, Dresna melanjutkan, "Apa jangan-jangan lo ga normal bang? Secara, gw liat lo tadi sama sekali ga lirik gw. Bahkan, saat gw peluk di motor pun, lo dingin-dingin aja."

"Njir... Lo kira gw cowo apaan!" jawab gw tersenyum.

Dresnala pun tergelak, "Nah... Gitu dong, senyum. Gw perhatiin daritadi lo serius amat bawaannya. Bahkan, kayak ga ngeh dengan keberadaan gw. Gini-gini gw cewek lo."

"Lah, terus gw harus ngapain? Ngajak lo ngamar?"

"Ha ha ha. Maunya itu mah."

"Bercanda ya. Lagian gw ga ada duit. Ini aja gw belom narik udah dua hari."

"Iye, bang. Selow."

Sambil meletakkan sendok di pinggir mangkok, Dresnala melanjutkan.

"Sekali lagi, gw minta maaf ya. Udah ngerepotin lo sama dua bocah dan  nganterin."

"Aman. Kan gw juga ojol. Kebetulan, dari  tadi gw belom narik karena seharian pergi. Jadi, pas lo nawarin ngojek, ya oke aja. But, this is B to B. Bisnis ya. Not P to P, alias personal. Alasan tadi gw ngelerai lo dari tuh bocah karena kemanusiaan. Pas lo minta ngojek, gw ok. Bahkan, kalo lo ga ada duit pun tetep gw anterin. Jadi, woles aja."

"Iya bang. Gw paham. Tapi, balik lagi ke pertanyaan gw tadi. Lo ga berasa jijik?"

"Ga. Kan udah dibilang, gw ga peduli. Mau profesi lo apa, termasuk jika lo pejabat atau artis, kalo lo minta ngojek ya gw anter. Perkara gw nemenin lo makan bubur ya itu bagian dari pelayanan. Sebagai ojol, gw harus bisa ngasih servis terbaik. Sebelumnya, gw juga sering nungguin penumpang hingga satu jam lebih. Ga masalah, selama dia bayar dan bukan orderan fiktif."

"Lo keren bang. Mungkin, salah satu manusia terbaik yang gw kenal," tutur Dresnala sambil meminggirkan mangkok yang masih menyisakan sedikit bubur kacang ijo. Wanita dengan alis lentik itu mengambil korek gas gw untuk menyalakan rokok menthol.

"Yaelah, jangan pernah menilai seseorang dari luar. Lo baru kenal gw, ujug-ujug udah bilang baik. Lo salah. Setidaknya, hingga saat ini."

*        *        *

USAI mengantarkan Dresnala ke kostannya yang lumayan elite karena berada di kawasan strategis, gw pun balik. Sebenarnya, pengen narik mengingat gw bisa ngojol ngalong.

Namun, berhubung seharian sudah keliling, gw putuskan pulang. Lumayan juga, badan pada pegal. Meski, sangat senang bisa kembali bersama Dewi. Apalagi, momen bertemu Dresnala.

Sebagai ojol, gw sering mendapat customer dengan profesi seperti itu. Terlebih, waktu operasi gw dari sore hingga pagi. Jadi, tiap hari kerap bertemu dengan yang seperti itu.

Selama ini ga pernah ada masalah. Paling, jaket ojol gw beberapa kali kena muntahan akibat customer jackpot. Namun, itu wajar. Risiko ojol. Tak jarang, gw dapat tip yang sangat besar. Jauh melebihi ongkos sebenarnya. Ya, untuk melihat sesuatu, harus dari dua sisi.

Yang pasti, gw sempat kaget saat mendengar penuturan Dresna. Terutama, ketika kami melanjutkan perbincangan secara intensif di balkon kamarnya yang berada di lantai dua. 

Sebelumnya, wanita asal kota di selatan pulau ini sempat menyinggungnya di warung burjo. Hanya, ketika itu sekadar kulitnya saja. Baru ketika di kostannya, gw khidmat mendengar ceriteranya.***



Serial Catatan Harian Ojol (Semesta Ekalaya)
- Part I: Ceritera dari SPBU Kosong
- Part II: Ada Rawarontek di Balik Keberingasan Begal
- Part III: Antara Aku, Kau, dan Mantan Terindah
- Part V: Di-Ghosting Kang Parkir

- Part VI: Di Suatu Desa dengan Customer Random
- Part VII: Ada Amer di Balik Modus Baru Costumer
- Part VIII: Debt Collector Juga Manusia
- Part IX: Penumpang Rasa Pacar

Prekuel
Kamaratih
- Kisah Klasik Empat Insan di Kamar Hotel

Spin-Off
Kisah Wanita dengan Blazer Hitam I
- Ketika Manusia Memanggilku Lonte

Ekalaya Universe
- Mukadimah
- Daftar Tokoh
- Epilog


*Inspired by True Event

- Jakarta, 16 Mei 2021 (Edites 30/6)

Rabu, 21 April 2021

Ada Rawarontek di Balik Keberingasan Begal

Ada Rawarontek di Balik Keberingasan Begal

Ilustrasi (Foto: www.roelly87.com)


*       *       *

POV Irawan

BEBERAPA hari usai keganjilan di basecamp ojek online (ojol) tempat gw dan beberapa rekan kumpul, situasi kembali normal. Memang, basecamp itu selalu jadi tempat istirahat atau menunggu penumpang bagi ojol.

Maklum, kawasan di sekitar kami tinggal tergolong "basah" karena terdapat pusat perbelanjaan, kuliner, gudang, hingga pabrik. Alhasil, cukup menunggu di basecamp, maka orderan pun sering datang. 

Namun, pantang bagi kami, ojol untuk mengambil penumpang tanpa aplikasi. Sebab, itu merupakan domain ojek pangkalan (opang) yang basecamp-nya hanya berjarak ratusam meter.

Antara kami dan opang saling menghormati. Apalagi, bagaimana pun, opang lebih dulu eksis dibanding ojol.

Itu mengapa, jika ada setiap penumpang yang ingin naik tanpa aplikasi, kami tidak pernah mengambilnya dan menyarankan untuk memilih opang. Kecuali, jika masih ada hubungan keluarga, tetangga, atau kenal.

Seperti tadi, ketika gw dan Ekalaya rebahan, ada calon penumpang yang ingin masuk kerja shift malam ke pabrik berjarak sekitar 1,5km. Usai menolak dengan halus, gw dan sohib gw itu kembali menunggu orderan penumpang, food, atau kirim barang sambil ngalor ngidul. Kebetulan, hari masih pagi -bagi kalongers-, sekitar pukul 19.00 WIB.

"Tumben lo masih rebahan jam segini. Biasa udah bolak-balik saking gacornya," kata gw kepada Eka yang sedang streaming Ahmad Band via youtube di ponselnya.

"Istirahat ngab. Mayan pegal, keluar dari jam 4, jauh terus," sohib yang mengaku Juventini sejak 1994 ini menjelaskan.

"Btw, pada kemana yang lain? Drestajumena dan Jayadrata juga tumben ga langsung balik abis pada dapat di pabrik," Ekalaya melanjutkan.

"Ga tahu. Di grup sih gw lihat, mereka lanjut dapat kardus," jawab gw.

"Btw, kalo ngomongin Dresta dan Jaya jadi inget kejadian Kamis lalu."

"Ha ha ha. Goblok lo pada. Bertiga tapi kabur semua," Eka menyahut.

"Serem, njir. Gw sama Dresta dan Jaya pas noleh lagi, lo udah ilang. Mana bau kembang lagi. Apalagi, malam jumat tuh," gw menjelaskan insiden kehadiran makhluk halus yang menyerupai Eka.

"Btw, lo ini beneran apa bukan nih. Secara, kita cuma berdua."

"Ebuset, parno lo kambuh. Ya iyalah, gw Eka. Lo ga lihat gw pegang hape, apa? Mana ada hantu sambil streaming?" ujar Eka, terkekeh.

"Kaga, ngab. Khawatir aje, ini bukan lo," kata gw sambil melempar botol air mineral yang tepat kena keningnya.

JDUK...

Bunyinya nyaring. Berarti, Eka beneran. Soalnya, kalo tuh botol tembus, berarti gw ga pake lama deh, langsung sipat kuping.

"Biar tambah yakin, kalo lo ini asli. Coba jawab, apa kelebihan gw," lanjut gw menatap Eka yang asyik menyeruput kopi panas di termos mini hasil goodybag Asian Games 2018.

"Kelebihan lo? Ga ada nyet. Kekurangan banyak."

"Njir... Mulai deh buka kartu."

"Iye, lo ga inget di Harmoni waktu STM lo dibantai kering sepupu gw dan teman-temannya? Kalo ga ada gw, sekolah lo yang segambreng itu tapi pada ciut jika ketemu STM si Abimanyu, bisa jadi sansak hidup," Eka menjelaskan peristiwa 2003 silam. 

Salah satu kenangan yang ga bisa gw lupain seumur hidup. Tepatnya, ketika 60-an anak STM gw kocar-kacir waktu diserang balik sekolah Abi yang hanya berjumlah belasan. Bahkan, gw udah terpojok depan Carrefour, nyaris mendapat "kenang-kenangan" dari Seta, anak Semanan yang megang kelas dua STM 1 DKI, alias seangkatan dengan gw dan Eka. 

Itu akibat celurit yang gw pegang terlepas saat beradu dengan parang Eka. Sebenarnya, gw ga pernah bawa senjata tajam (sajam), alias mengandalkan fisik saja atau kalau kepepet ya batu. 

Namun, ada saja di antara anak di sekolah gw yang menyimpan sajam, entah itu gir, parang, katana, celurit, hingga kelewang. Gw yang terpojok sulit mengambil kembali celurit yang aslinya punya anak kelas tiga sekolah gw pun terancam parang milik Seta.

Beruntung, ada Eka yang berteriak kalo gw merupakan "mangsanya". Alias, jangan sampe gw diganggu.

Tentu, Seta menolak. Apalagi, STM-nya memang sejak dulu memandang remeh sekolah Eka yang mayoritas kaum hawa.

Bahkan, SMA Abi merupakan side kick dari STM Camp Java yang ironisnya sama-sama jadi rival sekolah gw, Boedoet, dan DKI. Ya, ketiga STM ini merupakan musuh satu sama lain.

Hanya, Seta enggan gegabah. Itu mengingat status Eka yang megang SMU di sekolahnya justru sepupu Abi, pentolan DKI.

Ya, riwayat kenakalan gw saat berseragam putih abu-abu memang dipenuhi keringat, darah, dan air mata. Dalam sejarahnya, baik tawuran atau duel one by one, rekor gw memang ga sempurna. Tiga kali kalah.

Pertama, dari Abi pada awal caturwulan gw kelas dua. Sepupu Eka ini memang setingkat lebih tinggi, alias kelas tiga. Namun, harus diakui, saat itu nyalinya memang nomor satu. Abi ga pernah kalah saat duel. Gw pun jadi bulan-bulanannya dua kali ketika one by one di Lapangan VIJ, Roksi, dan saat beradu sajam di depan Citraland.

Selanjutnya, gw takluk dari Dursasana, yang megang STM Poncol saat pecah tawuran di Kramat Raya. Saat itu, bus rombongan gw diserang mereka yang berasal dari gabungan tiga sekolah bersama STM Ploeit dan SMA negeri di Mangga Besar.

Terakhir, dengan Eka yang skornya 1-2. Nah ketika insiden Harmoni itu, permintaan Eka tidak langsung diiyakan Seta yang masih mengibaskan parang depan muka gw.

Eka pun tampak geregetan dengan Seta. Hanya, dia tidak bisa apa-apa mengingat statusnya sebagai orang luar.

Beruntung Seta tidak jadi menyabetkannya setelah sempat menoleh ke Abi yang justru sedang nyantai. Abi pun mengangguk sebagai isyarat agar Seta memenuhi permintaan Eka.

Tentu, Seta 100 persen menurut. Sebab, perkataan Abi merupakan titah bagi anak-anak STM DKI. Termasuk, Seta yang megang kelas dua pun tidak punya pilihan. Selain kalah abu, juga terkait reputasi Abi sebagai legenda hidup pelajar bengal pada dekade 2000-an. Tidak terhitung berapa kali dia tawuran atau duel dengan pelajar lain, baik dari STM, SMA, bahkan veteran dan alumni.

Anehnya, Abi yang di STM jurusan mesin, sekarang kerja kantoran sebagai salah satu karyawan di instansi pemerintah di kawasan Medan Merdeka Selatan dengan posisi cukup tinggi. Gw pun baru tahu saat bertemu dengannya belasan tahun kemudian di rumah Eka.

*       *       *

"WOI... Bengong aja. Awas, kesambet lagi," tutur Eka yang menyadarkan lamunan gw.

"Si anjrit, gw lagi mikir kapan aplikator kasih kitab bonus lagi," gw berkilah.

"Ga usah dipikirin bonus mah, mending banyakin orderan biar gacor yang berujung duit datang sendiri tanpa ngarepin bonus," lanjut Eka yang sejak ngojol pada 2019 memang gw tahu sama sekali ga perduli sama bonus. 

Ibaratnya, kalo di antara anak-anak di basecamp ngejar tupo atau tuber, Eka mah nyantai aja. Tahu-tahu, sehari kumpul Rp 300-500 ribu. Maklum, Eka tipikal ojol petualang, alias hobi ngambil orderan jauh yang tentu argonya juga gede.

"Gw jadi inget waktu itu. Kok lo bertiga takut sama makhluk halus. Sementara, dengan begal dan gangster aja, kalian berani ngadepin paling depan," Eka kembali menyoal insiden di basecamp.

"Kaget njir. Kalo begal atau gangster kan disentil pake parang juga berdarah. Nah, itu makhluk halus mana mempan. Si Jaya aja yang kabur paling terakhir, liat kaki 'kembaran lo' ga napak tanah," gw menjelaskan. 

"Nah itu... Coba kalo makhluk halus yang menyerupai gw ngambil motor salah satu dari lo bertiga. Tentu, kalian bakal mati-matian mempertahankan. Jangankan cuma satu makhluk halus, bahkan Raja Iblis Pikkolo pun kalo coba ngegarong motor lo pada, gw yakin kalian bantai," lanjut Eka.

"Yongkru, pasti lah. Bagi kita-kita sebagai ojol, motor itu seperti nyawa kedua. Ga bakal rela kita kehilangan kuda besi ini."

"Nah kan, bener kata gw. Jadi inget waktu phalguna tahun lalu, lo sendirian ngadepin tiga begal di Sunter. Gw jadi ngebayangin lo masih muda pas sendirian ngebantai anak Camp Java di depan Roxy Mas. Tapi percuma, beraninya sama begal dan anak STM doang, giliran ketemu soket pada kabur," Eka tertawa semringah.

Apa yang diucapkan Eka memantik kembali semangat gw sebagai ojol yang ga kenal takut. Baik kepada ormas, kang parkir liar, security komplek yang ngehe, hingga begal. Terutama, peristiwa setahun lalu...

*       *       *

RINAI baru saja membasahi ibu kota menjelang pergantian hari. Gw pun menepikan kendaraan sejenak di depan halte Kelapa Gading arah pusat perbelanjaan. Meski mendekati larut, kawasan yang sedang dibangun kereta layang ini masih ramai. Tampak beberapa rekan ojol yang ngalong asyik menunggu penumpang.

"Bang, anter ke Kemayoran yuk. Ini saya ada 100 ribu," ujar seorang pria berambut belah tengah dengan pakaian parlente yang tangan kirinya menjinjing tas kemungkinan berisi laptop dan kanan menyodorkan uang pecahan Rp 100.000.

"Waduh, maaf bang. Saya ga bisa. Itu ga jauh, ada opang. Bisa ke sana bang," jawab gw yang memang jarang mengambil penumpang tanpa aplikasi.

"Baterai saya habis bang. Mau pesan ojol ga bisa buka aplikasi. Ga apa-apa, lumayan dekat bang. Saya mau pulang abis meeting dengan klien."

Sebenarnya, gw enggan mengangkut. Namun, gw akui terlena lembaran merah yang disodorkan. Maklum, jika pakai aplikasi, tarifnya hanya Rp 30-50 ribu. Itu pun belum dipotong biaya layanan 20 persen. Apalagi, rutenya arah balik ke rumah gw. Beda cerita jika harus ke Priok atau Cakung yang kian jauh.

"Oke bang. Ini helmnya," kata gw yang menetapkan hati meski perasaan sempat tidak enak.

Sepanjang jalan, tidak ada yang aneh. Hingga ketika lewat Jalan Danau Sunter, tiba-tiba orang itu menepuk pundak gw.

"Bang, berhenti sebentar. Ada telepon masuk. Kalo sambil jalan, saya ga kedengeran."

"Depan aja bang. Ini masih sepi, rawan," gw tetap melajukan motor.

"Lo mau berhentiin motor atau nyawa lo yang gw berhentiin," ujar penumpang itu sambil menodongkan benda tajam di pinggang gw yang berasa dingin. Njir, kemungkinan, itu pisau!

Hanya beberapa detik kemudian, dari spion kanan, gw lihat ada satu motor mendahului. Tak lama, berhenti melintangi motor gw diikuti turunnya kedua orang. 

Si botak yang mengendarai motor matic mengarahkan celuritnya. Selanjutnya, si gondrong dengan parang turut memberi kode kepada penumpang gw.

"Santai aja bro. Gw mohon kerja samanya ya," tutur si botak, tertawa.

"Kalo lo serahin motor, hp, dan dompet, lo bakal aman," ujar si belah tengah yang kini sudah berdiri di samping gw usai motor gw pinggirin, tapi tetap tangan kanannya mengarahkan pisau ke perut gw.

Si botak pun dengan sigap merogoh tas selempang gw untuk mengambil hp dan dompet. Dalam situasi ini, gw hanya dihadapkan pada dua pilihan: Melawan dengan risiko nyawa terancam. Atau, menyerahkan harta gw, terutama motor yang bakal bikin gw nganggur akibat tidak bisa ngojol.

"Selow bang. Gw buka helm dulu," kata gw sambil mengamati situasi yang sangat sepi.

"Nah gitu dong. Kita ga butuh nyawa lo, cuma pengen motor dan harta lo aje. Aman kok," ucap si gondrong yang dari nafasnya bau alkohol. Empuk nih!

Secara perlahan, gw buka tali helm ojol. Selanjutnya, tinta sejarah turut mencatat.

*       *       *

SYUUT...

PLAK!!!

Lemparan helm gw tepat kena muka si gondrong yang langsung memegangi hidungnya akibat refleks. Alhasil, gw segera loncat dari jok untuk mencomot parang.

Pada saat yang sama, si belah tengah yang merupakan penumpang abal-abal bersiap menikamkan pisaunya. Pun demikian dengan si botak yang menyabet celuritnya.

Bagi gw, ga masalah dikeroyok tiga orang sekaligus. Menurut perhitungan, baik tangan kosong maupun pakai sajam, secara pengalaman biasanya satu lawan satu jelas gw menang. 

1vs2 gw masih unggul, 1vs3 imbang, 1vs4 gw di bawah angin, 1vs5 jelas kalah, dan 1vs10 gw wajib sipat kuping karena peluang menang hanya nol koma sekian persen.

Si gondrong yang hidungnya keluar kecap sempoyongan ikut mengepung gw dengan tangan kosong bersama belah tengah dan botak.

Anjrit, gw berasa tapak tilas era Sam Kok! Tepatnya, gw yang jadi Lu Bu dikeroyok Zhang Fei yang perawakannya mirip botak, Guan Yu ala-ala belah tengah, dan gondrong yang paling lemah seperti Liu Bei.

"Kalian serius mau begal gw? Gw kasih tahu aja, sendirian lawan lo-lo pada, tetap gw menang. Mending, kalian balik, cuci muka, minum obat cacing, dan tidur," ujar gw tertawa sambil mengayunkan parang.

Ya, di balik sesumbar ini, gw coba untuk memancing emosi mereka. Bagaimanapun, satu lawan tiga bukan duel ideal. Meski menang, gw khawatir harus membayar mahal akibat luka sajam.

"Bacot lo Njing!" sahut gondrong sambil melempar helm yang dipungut bekas sambitan gw. 

Pancingan gw terbukti tepat. Jelas, gondrong yang paling emosional. Lemparannya dengan mudah gw tangkis lewat tangan kiri. Sakit juga. Namun, tak masalah dibanding rasa sakit gondong yang puluhan kali lipat.

SYUTTTT

JLEB!

"Aduh... Sakit mak," teriak gondrong ketika pundaknya gw sabet parang dan pahanya gw tusuk. Dia pun ambruk dengan telungkup.

Di sisi lain, gw dengar samberan benda tajam di belakang gw.

SYUNGGGGG

SSS...

Nyaris saja! Untung gw sudah prediksi. Kalau ga, celurit si botak udah nancap di pundak gw. Sayangnya, dia terlihat amatir dengan sajam.

Padahal, sejak kecil, gw yang berasal dari The Bronx-nya Jakarta, jelas udah main-main dengan benda seperti itu. Baik belati, golok, celurit, kelewang, katana, mandau, hingga karambit! 

Jadi, gw ga gentar menghadapi si gondrong dan belah tengah. Di atas kertas, gw yakin sohib gw, Ekalaya juga bisa mengatasi mereka bertiga jika mengalami hal yang sama. Kalo Abi? Jangan ditanya! 

Dikeroyok belasan pelajar pake sajam di Gunung Sahari pun, Abi sangat asyik meliuk-liuk bermodalkan gesper. Wajar jika sejak kelas 1, sepupu Eka ini udah jadi pentolan DKI.

WUSSS

TRANG... TRANG... TRANG

Gw yang balik nyerang lewat bacokan parang secara vertikal mampu dihalau si botak dengan susah payah. Dari arah kiri, tangan si belah tengah lurus menusukkan pisaunya ke perut gw. 

Gw pun mengegos ke samping. Gw bisa aja mencabut parang yang sedang diarahkan ke si botak dengan menyabetnya secara horizontal ke kepala si belah tengah. Alias, taktik gugur gunung.

Hanya, gw punya spekulasi lain.

Usai menghindari pisau, gw arahkan kaki gw ke "area jackpot" si botak.

JDUK

Anjrit. Pasti sakti tuh. Minimal si botak bakal mules terus dalam beberapa hari ke depan. Apalagi, tendangan gw telak banget ke dua bola di bawah perut botak yang membuat celuritnya lepas.

Sosok yang sekilas mirip Brock Lesnar ini pun KO mengikuti si gondrong. Tinggal, si belah tengah saja. Biang keladi yang gw kira orang kantoran dengan tampang paling friendly dibanding dua temannya, ga tahunya malah begal. Anjing!

Tanpa basa-basi gw sabet parang ke lengannya. Bisa sih gw tikam ke perutnya. Secara, jangkauan parang lebih luas ketimbang pisau. 

Namun, gw enggan jadi pembunuh. Niat gw sekadar melumpuhkan. Bukan menghabisi. Apalagi, gw teringat dua anak di rumah, terutama bocah yang sedang lucu-lucunya.

Ga lucu kalo gw harus ngebunuh orang. Meski, niat gw demi melindungi diri akibat di begal. 

Hanya, hukum di Indonesia terkadang anomali. Ada kemungkinan, gw sebagai korban yang berusaha membela diri malah harus mendekam di bui. 

TAKK... TAKK...

Sumpah, gw kaget ketika sabetan gw ditahan pake lengan kanannya! Bahkan, si belah tengah tersenyum menyeringai yang seolah mengejek gw. Tanpa basa-basi, gw ayunkan mata parang ke wajahnya secara vertikal dari bawah ke atas.

SYUTTT

WUSS... WUSS... WUSS

Kini, giliran tangan kirinya menangkis. Bahkan, tangan kanannya bekerja cepat dengan mencoba merebut ujung parang!

Gw coba tarik yang tanpa sengaja mengenai telapak tangannya. Kalo orang normal, itu udah cukup buat ngebeset bahkan mengoyak dagingnya.

Anehnya, si belah tengah justru belum mengeluarkan darah sama sekali. Benar-benar situasi yang ganjil bagi gw. 

Si belah tengah meringsek maju. Pada saat yang sama, gw mundur beberapa tindak.

Alarm di kepala gw memberi sinyal untuk lari. Secara, lawan punya pegangan...

"Njing. Lo punya Rawarontek?" ujar gw spontan terkait kekebalan si belah tengah.

"Lo tahu juga, bocah? Sebenarnya, ilmu ini masih jauh dari Rawarontek. Tapi, cara kerjanya hampir mirip. Ya, bisa dibilang gitu," jawab si belah tengah sambil menyulut rokok yang diambil dari saku kemejanya.

Njir... Nyantai bener. Gw yang sejak kecil malang melintang di jalanan, termasuk kenyang tawuran saat di sekolah dan bentrok antarormas, kini seolah tidak punya harga diri di hadapan si belah tengah.

"Bocah!" teriak si gondrong, mengejek sambil memegangi pundaknya yang tampak mengucurkan darah akibat beberapa titik bekas tikaman gw.

"Lo ga bakal menang. He he he. Bos, habisin aje. Kalo gw ga luka, udah gw bantai nih bocah," si gondrong berseru kepada si belah tengah yang justru tampak acuh sambil dengan khusyu menghisap rokok mild.

Dalam situasi terbalik ini akibat si belah tengah punya wapak, membuat gw segera menganalisis kelemahannya langsung. Ya, percuma kalo gw hanya sabet ke tangan, kaki, atau badan. Sebab, si belah tengah punya ilmu kebal. 

Saat itu, ada dua pilihan yang bisa gw tempuh. Pertama, sipat kuping. Ini cara paling aman. Toh, kunci motor masih di celana dan gw yakin si belah tengah tidak akan mengejar. Apalagi, dia harus menolong dua temannya, si gondrong dan botak yang sudah out of the game.

Namun, gw ogah jadi pecundang. Apalagi, darah muda gw panas menyaksikan kekebalan lawan yang bikin gw penasaran.

Yang kedua, jelas. Melawan hingga titik darah penghabisan.

Opsi ini yang gw ambil.

Berdasarkan analisis singkat gw, nggak ada manusia yang benar-benar kebal. Meski, itu punya Rawarontek sekalipun, pasti punya kelemahan. 

Ya, gw akan mengambil taktik Total Voetball! Bagaimanapun, strategi terbaik adalah menyerang.

Gw arahkan ujung parang ke kepala si belah tengah, tepatnya mata kanan! Hanya, serangan gw dapat dielakkan dengan kedua tangannya menangkap parang gw.

"Cih..." Gw memaki karena tangkapan si belah tengah cukup kuat. Bahkan, dia hanya tertawa mengejek.

Namun, itu hanya serangan kamuflase bagi gw dari tiga skema. Sebab, tangan kiri gw yang nganggur langsung menojos ke arah jakun.

Bodo amat dah, si belah tengah modar kalo lehernya gw tusuk pake keempat jari. Hanya, dia juga refleks menangkap tangan gw!

Anjing!

Itu berarti, tinggal satu serangan pamungkas. Yaitu...

DUKKK

Bangsat! Hidung gw kena tonjok tangan kiri si belah tengah yang melepaskan pegangan parang. Njir, perih banget bikin gw kayak orang nangis.

"Lo udah frustrasi? Sampe melakukan perbuatan hina ke area vital. Gw tahu, lo bakal ngarahin mata, jakun, dan dua bola di bawah perut gw," ujar si belah tengah, tersenyum.

"Gw akuin, ketiga spot itu jadi kelemahan gw meski sudah punya ilmu kebal. Lo hebat juga bisa tahu, bahkan langsung menyerang ketiganya berturut-turut. Namun, gw udah pelajari dari dulu, bagaimana caranya melindungi mata, leher, dan jackpot ini. Ha ha ha."

Bangsat. Seluruh strategi gw, gatot. Wajar saja, jika si belah tengah sudah mengantisipasi kelemahannya dalam setiap perkelahian. 

"Apa opsi satu yang gw ambil?" ujar gw dalam hati terkait rencana kabur. Pada saat yang sama, gw lihat celurit bekas dipakai si botak tergeletak di depan kaki gw.

Hmm...

Dengan tangan kanan memegang parang dan kiri, celurit, masa gw kalah!

"Bacot lo begal anjing! Lo kalo mau kaya, ya kerja. Jangan begal. Nyusahin orang aja!" teriak gw mengayunkan parang dan celurit bersamaan dengan mengarahkan ke leher hingga muka.

Terbukti, kini si belah tengah terdesak. Meski kebal senjata tajam, tapi diserang parang dan celurit secara serentak yang dengan mengarah ke titik vital ya sami mawon. 

Jika sabetan parang dengan mudah ditangkis melalui lengan, tidak dengan celuriy. Sebab, sajam melengkung ala bulan sabit ini sangat istimwa. Gw mengarahkan ujungnya yang runcing ke belakang leher si belah tengah!

Sontak, dia pun kewalahan. Gw terus menyerangnya secara membabi buta. Kemeja, celana, hingga seluruh pakaiannya pun robek. Ya, bagaimanapun, meski badannya kebal senjata, tapi pakaian yang terbuat dari bahan tentu tidak.

Saking bertahan dari dua sajam yang gw arahkan secara sporadis membuat si belah tengah tersandung. Kesempatan ini ga gue sia-siakan langsung menerjangnya untuk memberikan serangan pamungkas.

BLETAK

GEDEBUG!

Bajingan! Gw jatuh. Kaki gw nyeri, dipuntir si botak yang sudah siuman usai kempongannya gw hajar hingga ngilu. Si belah tengah pun dengan sigap memungut celurit yang terlepas dari tangan kiri.

Dengan tangan kosong saja, gw udah kewalahan apalagi ini, si belah tengah pake celurit plus nge-cheat lewat wapaknya! 

Namun, mendapat perlawanan handicap ini ga bikin gw pasrah. Sebaliknya, justru ge tertantang untuk bisa membalikkan keadaan.


Pertama, gw sepak kepala si botak pake sepatu kanan gw ala Zangief. Berlanjut dengan tulang keringnya gw injek hingga bunyi.

KLETEK

"Aaaagh!" erangan si botak yang tampak kesakitan. Si gondrong yang duduk tampak kaget dengar lolongan temannya itu.

Sementara, si belah tengah? Anjrit. Dia malah asyik nyalain rokok lagi tanpa peduli kesakitan si botak. Benar-benar "raja tamat" nih. 

"Oke, sekarang kita bisa duel tanpa lo takut diganggu teman gw," ujar si belah tengah sambil meniup asap rokok menyerupai huruf o.

"Begal macam apa lo, yang sama sekali ga solider terhadap teman yang kesakitan," kata gw kepada si belah tengah yang mengingatkan sikap Vegeta terhadap Nappa saat dihajar Son Goku.

"Jadi ini, yang kalian sebut bos? Sementara, lo berdua gw bantai, justru dia ga peduli? Lo pada bego, mau jadi anak buah dia. Kalo gw jadi lo pada, udah gw gorok si belah tengah yang pecundang ini," tutur gw melirik bergantian kepada si botak dan gondrong.

Sengaja gw lontarkan kalimat bersayap seperti itu. Agar, mereka tidak membantu si belah tengah saat sedang duel dengan gw. 

Sekaligus, menyulut konflik internal.

Siapa tahu, setelah ini si botak dan gondrong benar-benar meninggalkan si belah tengah. 

Bahkan, yang lebih ekstrem lagi, benaran menggorok bosnya! Bodo amat dah kalo itu memang terjadi. 

"Udah cukup?" kata si belah tengah usai menjentikkan puntung rokoknya. Kini, final fight yang jadi penentuan nasib gw pun tiba.

"Bacot lo!" teriak gw sambil 'terbang' dengan mengayunkan parang secara vertikal ke arah si belah tengah. Ya, mirip Trunks saat membelah tubuh Frieza jadi dua.

Sayangnya, ini bukan komik. Melainkan nyata.

Sebab, power si belah tengah besar juga. Dia mampu menahan dengan tangan kiri. Di sisi lain, tangan kanannya menyabet celurit secara menyamping ke arah gw!

Jelas, gw dalam bahaya. Sebab, sajam berbentuk bulan sabit ini bisa membuat usus gw terburai.

Langsung gw tangkis dengan menarik kembali parang. 

TRANG!

Tangan gw pun bergetar saking kerasnya sabetan celurit. Mirip saat gw kepayahan meladeni Abi di Harmoni.

Si belah tengah tersenyum mencibir. Lalu, tangan kirinya memegang celurit menggantikan tangan kanan. Gw pun berpikir dia merupakan kidal.

DUG

DUG

Anjing. Jab dari tangan kanannya mengenai ulu hati. Sakit banget. Sebab, gw ga bisa menghindar mengingat kedua tangan sudah dikerahkan untuk memegang parang. 

Ini jadi handicap bagi gw. Tentu, gw ga boleh terus-terusan di bawah angin yang bisa membahayakan nyawa gw. 

DUGG

Gw jejak perutnya yang membuat parang dan celurit sama-sama terlepas. Gw mundur sejenak sambil memegangi dada bekas hantamannya.

Sementara, si belah tengah dengan sigap memungut celurit. Gw pun ga mau kalah cepat. 

TRANGGG!

Kedua sajam beradu. Kali ini, gw di atas angin karena gw mengayunkan agak diagonal. Meski badan dan tangannya kebal, tapi si belah tengah harus melindungi tiga titik vitalnya yang seperti Duryudana dalam perwayangan, karena sama sekali tidak kebal. Yaitu, mata, leher, dan area bawah perut.

Si belah tengah melancarkan serangan lewat tangan kanan ke muka gw. Terdengar keras tapi tidak cepat. 

Bagi gw, ini sudah bisa diantisipasi. Apalagi, gw ga pernah mau mengalami hal sama dua kali.

Gw pun mengelak ke samping. Si belah tengah ternyata penasaran akibat serangannya berhasil gw elak.

Dia kembali melontarkan tinju kerasnya dengan genggaman jari terkepal. Sudah pasti, gw juga penasaran untuk adu keras.

Layaknya, Chiu Phek Tong meladeni ilmu gajah dan naga dari Kim Lun Hoat Ong!

DUKK

Adu tinju berhasil gw menangkan. Sebab, gw memang sedikit menonjolkan jari tengah yang membuat tangan si belah tengah jadi santapan empuk.

Dia mundur setindak dengan menarik celuritnya.

"Ayo, cabut," katanya saat melirik ke si botak. "Lo yang bawa motor."

Gw pun kaget mendengar si belah tengah mundur saat duel sedang sengit-sengitnya.

"Lo hebat juga. Next, gw pengen reuni sama lo tanpa ada gangguan," ujar si belah tengah saat memapah si gondrong.

Butuh beberapa detik bagi gw untuk menyadari situasi ini. Hingga, sayup-sayup terdengar suara kendaraan. Dari belakang gw tampak sorotan beberapa motor. Mungkin, kehadiran pengendara lain yang membuat si belah tengah menyudahi duel. Bagi gw, tentu patut disyukuri. Dalam hati, senang karena gw terhindar bahaya malam ini.

BRUMM... BRUMM...

"Datang seenak jidat lo-lo pada, pergi begitu aja. Lo pikir, gw di sini patung?" gw berteriak keras hingga didengar tiga motor yang menepi di belakang gw.

"Lo yakin bisa menang lawan gw? Lo pikir 100 kali deh. Lo harus latihan bertahun-tahun dulu, baru bisa ladenin ge. Dah ah, cabut," kata si belah tengah yang duduk di jok paling belakang dengan membawa celurit.

DDRRT... DDRRT... 

"Mereka siapa bang?" kata  salah satu dari pengendara yang mendatangi gw.

"Begal bro."

"Lah, kejar bang," timpal pengendara lainnya dengan gaya yang sotoy.

"Yuk, jangan didiemin. Tuman," lanjut seorang lagi.

Gw perkirakan mereka masih abege terlihat dari ketiga motornya sama-sama matic yang sudah dimodif plus knalpot racing. Ya, darah masih panas. 

Namun, menghadapi begal, khususnya si belah tengah, jelas mereka cari mati. 

"Udah pergi bro. Aman. Gw juga ga apa-apa," gw menjelaskan.

"Yakin bang? Kita berempat, mereka tigaan. Pasti menang lah. Gw juga udah gatel pengen 'olahraga' nih," kata remaja yang sotoy kini makin songong.

"Serius lo? Mereka bawa sajam. Lo pada berani bunuh-bunuhan," jawab ge sambil menunjuk ke trotoar yang tercecer bercak darah.

"Waduh, ngeri bang. Main aman aja lah. Mending pulang," jawab si sotoy.

"Iya bang, kalo udah aman lebih baik balik aja," lanjut temannya sambil putar arah diikuti yang lainnya.

BRUM...

*       *       *

KINI gw sendirian di pinggir jalan. Pandangan gw terarah ke trotoar dengan tergeletak dompet dan hp yang kemungkinan punya si botak atau gondrong. Entahlah, gw ga tahu milik salah satu di antara mereka. 

Gw cek, dompet tanpa identitas. Namun, berisi uang dengan empat lembaran merah dan satu biru. Sementara, hp merek asal Mainland yang tergolong lumayan meski kacanya agak retak tapi masih berfungsi. 

Tentu saja, "penemuan" ini ga bakal gw laporin ke polisi. Alias, bakal gw manfaatin. Lumayan.

Itung-itung sebagai ganti rugi akibat ongkos yang ga dibayar si belah tengah. Sekaligus, pelipur lara terkait duel tadi.

Ya, secara pertempuran gw memang kalah. Namun, gw bisa dibilang menang dalam perang.

Sebab, gw bisa meladeni ketiga begal. Bahkan, si botak dan gondrong gw bikin KO. Dengan si belah tengah, meski gw di bawah angin, tapi itu wajar mengjngat dia punya Rawarontek.

Next, gw harus cari cara untuk mengatasi orang yang punya pegangan. Sebagai antisipasi jika ketemu si belah tengah lagi atau begal lainnya.***

*       *       *


Serial Catatan Harian Ojol
- Part I: Ceritera dari SPBU Kosong
- Part III: Penumpang Rasa Pacar
- Part IV: Orderan Kakap

Prekuel
Kamaratih

Spin-Off
Kisah Wanita dengan Blazer Hitam I

*       *       *

Artikel Terkait Catatan Harian Ojol (#CHO):


*       *       *

*Inspired by True Event
Jakarta, 21 April 2021

Sabtu, 10 April 2021

Ceritera dari SPBU Kosong

 Ceritera dari SPBU Kosong

Ilustrasi wayang (Foto: www.roelly87.com)



MENJELANG pergantian hari, cuaca di perbatasan ibu kota dengan salah satu kawasan penyangga, kian temaram. Sesekali kilatan menyambar di atas langit disertai gemuruh tajam. 

Sambil menjalankan sepeda motor dengan kecepatan konstan, gw pun berniat mencari tempat berteduh untuk memakai jas hujan. Tepatnya, antisipasi jika Batara Indra sudah menunaikan tugasnya.

Sekeliling mata memandang, jalanan tampak sepi. Maklum, daerah ini merupakan Jakarta Coret. Tepatnya, kawasan di perbatasan ibu kota. Padahal jika pagi hingga petang, ini merupakan jalur padat merayap. 

Dari seberang tembok perumahan mewah yang menjulang tinggi terlihat cahaya terang. Tampak plang warna-warni yang menandakan tempat tersebut merupakan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Gw pun mengarahkan motor ke pom bensin asal luar negeri yang dikelola swasta ini. Tampak lenggang. Hanya ada dua petugas yang berdiri tanpa ada satu pun kendaraan yang sedang mengisi bahan bakar.

Gw memang jarang lewat daerah sini. Jadi, kurang tahu dengan kondisi SPBU ini. Tadi pun ke kota penyangga Jakarta karena tergiur ongkos antar penumpang yang lebih dari selembar warna biru. Bagi gw sebagai ojek online (ojol), itu merupakan argo kakap. 

Tanpa ragu, gw cocol. Kendati, jaraknya hampir 30km. Namun, sebagai ojol petualang yang sering ngalong alias aktif dari sore hingga pagi, justru itu yang gw tunggu. Semakin jauh jaraknya, ongkos pun kian besar. 

Apalagi, mengingat malam cenderung lancar dan tidak macet. Meski, risikonya pun lumayan, mulai dari begal hingga hal di luar nalar.

"Bang, di toilet wanita saja. Kalo pria, sudah ada yang nunggu," kata mbak penjaga toilet saat gw hendak masuk ke toilet pria. Terdapat dua kamar kecil dengan ditujukan masing-masing untuk pria dan wanita.

"Lah, ogah mbak. Ntar gw digedor-gedor lagi kalo ada cewe yang mau ke toilet," gw menjawab sambil memperhatikan sang penjaga yang sedang menghitung lembaran uang berwarna hijau dengan gambar Orangutan dan biru, lompat batu di pulau nias

"Tenang, ga bakal ada orang. Percaya sama gw. Kalo toilet pria, jangan coba-coba. Udah ada yang pake," ujar si mbak dengan tersenyum. 

Gw yang enggan berdebat hal tidak penting pun menurut meski sempat merasa aneh. Toh ke toilet cuma cuci muka dan pakai jas hujan saja tidak lebih dari 5 menit.

Sambil lewat, gw melirik si mbak yang masih menghitung uang dengan di sebelah kotak untuk bayar toilet terdapat telepon seluler (ponsel) candybar berlayar monokrom. Gw masih inget, pernah punya hp itu saat masih berseragam abu-abu, alias awal 2000-an. Mungkin mbak ini penganut gaya retro atau juga kolektor barang antik mulai dari uang kertas jadul hingga hp.

Saat mau pakai jas hujan, ponsel gw bunyi. Ada chat dari Irawan, rekan ojol menanyakan kabar gw belom balik basecamp usai nganter penumpang tadi.

"Gw masih di SPBU White District. Seberang perumahan Giri Anyar. Kenape, ngab?"

"Serius lo, Ka? Udah hampir subuh, masih ngalong," balas kawan gw yang merupakan Milanisti Garis Lembut ini.

"Baru orderan tadi doang. Ini mau balik ke basecamp."

"Btw, lo tadi bilang di SPBU White District?"

"Iye, ini lagi pake jas hujan sekalian isi bensin."

"Serius?" Irawan menulis chat dengan capslock jebol alias huruf besar semua.

"Yeee, goblok. Ngapain gw boong. Emang kenape?"

"Bro, balik sekarang. Di basecamp ada  kejadian penting. Sekarang ya, ditunggu anak-anak. Lo offline dulu, jangan ambil orderan!"

"Siap! 86. Otw..."

Baca chat dari Irawan, membuat gw langsung bergegas. Tak lupa, memasukkan selembar rp 2.000 ke kotak bayar toilet.

"Terima kasih, bang," ujar si mbak yang kini tertunduk. 

Suasana malam itu kian segar usai keluar dari SPBU. Semilir angin seperti menepuk manja kedua pipi ini. Gw pun melajukan sepeda motor di atas 60km per jam. Bukan karena ingin ngebut, melainkan demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Sebab, jika pelan, rawan dikejar begal.

*       *       *

SEPANJANG jalan, gw jadi teringat keganjilan dari pesan wa Irawan. Ga biasanya, sohib dari zaman Lucinta Luna masih kencing berdiri ini sekaget itu. Ya, gw kenal Irawan sejak masih berseragam putih abu-abu pada awal milenium yang ironisnya sebagai rival.

Menariknya, kami dari sekolah berbeda meski satu angkatan. SMA gw di kawasan Gambir, Jakarta Pusat. Sementara, Irawan di STM yang berlokasi di area Pasar Baru, dengan tenar disebut Boedoet.

Sejatinya, sekolahan kami tidak bermusuhan. Apalagi, gw di SMA yang mayoritas kaum hawa. Namun, faktor sejarah dari senior dan gengsi sebagai anak sekolah yang masih berjiwa panas membuat gw dan kawan-kawan SMA turut nyebur ke arena tawuran.

Maklum, kami mengekor pada pelajar STM di kawasan Kampung Jawa, Jakarta Barat, yang dikenal dengan julukan Camp Java, yang justru jadi musuh besar sekolah Irawan. Alhasil, kalau pecah tawuran, gw dan anak-anak SMA gw sering membantu STM itu untuk menghadapi sekolah Irawan. Begitu juga sebaliknya, jika sekolah kami dikepung, ada STM asal Kampung Jawa yang membantu.

Ya, berbagai kawasan ibu kota hingga perbatasan Tangerang jadi saksi kenakalan kami saat tawuran. Meliputi Kota, Harmoni, Gajah Mada, Senen, Sawah Besar, Cideng, Roxy, Tomang, Pesing, Kalideres, hingga Poris.

Beberapa kali, gw berjibaku dengan Irawan untuk duel. Baik itu dengan batu, gesper, pedang, celurit, hingga kelewang. Yang parah di Harmoni, sore jelang leg kedua semifinal Liga Champions 2002/03. Irawan dan teman-temannya dibantai kering oleh STM yang berlokasi di Mangga Besar hingga menyebabkan macet parah dua jam sebelum dibubarkan aparat gabungan Polisi dan TNI.

Kebetulan, STM yang dikenal sebagai 1 DKI itu ada sepupu gw, Abimanyu yang jadi pentolan. Irawan kaget pas tahu gw ikutan. Sebab, bukan rahasia umum lagi jika ketiga STM itu, 1 DKI, Kampung Jawa, dan Pasar Baru saling bermusuhan layaknya  Roman Kisah Tiga Negara yang melibatkan Shu-Wei-Wu. 

Namun, selain kedekatan gw sama anak STM Kampung Jawa, keberadaan sepupu gw itu juga sangat membantu. Terutama, jika ada anak STM di Poncol dan Pluit sok-sokan ngolekin anak-anak sekolah gw yang mayoritas elite.

Rivalitas gw dan Irawan berakhir usai sama-sama lulus. Bahkan, kian dekat ketika kami tak sengaja bareng mendaki Gunung Semeru, pada pertengahan 2005. Hingga, dua tahun lalu, kian intens setelah gw jadi ojol yang nongkrong di basecamp-nya, di PIK Coret, alias Kapuk. Kebetulan, rumah kami sama-sama masih satu kawasan.

*       *       *

LEBIH dari seperminuman teh, akhirnya gw sampe di basecamp. Tampak, Irawan menatap cemas diiringi beberapa rekan seprofesi ojol lainnya. 

"Ekalaya, duduk dulu sini," ujar Jayadrata, salah satu sesepuh di basecamp yang langsung menyambut gw.

"Nyet, lo lama amat," Irawan, menimpali. "Tapi lo minum air putih dulu gih. Rokok gw ada nih. Lo jangan balik atau nyari orderan dulu, kita di sini aja ya sampe pagi."

"Njir, kenape nih. Kok muke-muke lo pada tegang," gw menjawab sambil menyeruput kopi hitam panas disertai sebatang rokok kretek punya Drestajumena, ojol senior yang juga salah satu pentolan ormas di situ.

"Lo tadi serius ke SPBU? Hampir enam jam dari pertama lo nganter customer. Lo ga apa-apa kan?" Irawan terus nyerocos.

"Waduh, gw kira baru jam satuan, ini udah mau subuh. Perasaan, dari Teluk Gong ke perbatasan Jakarta kalo malem cuma 40menit. Pulang pergi mentok 1,5 jam. Lah, ini lama amat gw, ya."

"Nah itu bro, kite takut lo kenapa-napa. Apalagi, perbatasan kan kalo jam 20 ke atas udah sepi," tutur Drestajumena, menatap tajam.

"Kata Irawan, lo tadi ke SPBU di perbatasan yang dekat perumahan mewah?" Jayadrata, bertanya.

"Iya bang. Emang kenape?"

"Si goblok. Itu SPBU kan ga ada. Aslinya lahan kosong sisa pembangunan rumah mewah yang ga diterusin," Irawan, menjawab.

"Iye bro, makanya gw minta Irawan agar lo cepet balik. Soalnya, udah sering pengendara motor dan mobil, termasuk ojol yang 'dikerjai' penunggunya," Drestajumena, menjelaskan.

"Untung lo balik ke sini ga kurang satu apa pun. Sumpah, gw takut lo ada yang ngikutin," lanjut Irawan.

"Maksudnya?"

"Maklum bro, dekat area itu sering terjadi pembuangan korban pembunuhan. Sempat ada perusahaan luar yang bangun SPBU di tempat itu akibat angker yang membuat usahanya sepi akhirnya ditutup. Sekarang, terbengkalai, bangunannya tak berbentuk, jadi ga ada orang sama sekali" tutur Jayadrata, panjang lebar.

"Njir, merinding gw..."

"Makanya, tadi gw langsung minta lo segera balik pas baca wa lo ada di SPBU itu. Dah, sekarang lo offline aplikasi dulu. Pagi baru narik atau ngalong sore jangan diterima kalo ada orderan ke sana lagi," kata Irawan.

Neng... Neng... Nong... Neng... HP Irawan berbunyi pertanda ada pesan masuk di aplikasi WA-nya.

"Ir, gw udah di Jalan Panjang nih. Otw ke basecamp." Ekalaya, 03.47.

Seketika, Irawan terbelalak sambil melirik Drestajumena dan Jayadrata. Keduanya pun mengangguk karena sama-sama tanggap.

"Ka, gw cabut dulu nih. Ada orderan ke Kalideres," ucap Irawan loncat dari bale yang jadi tempat nyender di basecamp.

"Gw laper Ka, mau nyari sarapan dulu," Drestajumena menuju sepeda motornya.

"Gw juga deh, mau cari angin," giliran Jayadrata, turut loncat.

"Ternyata, kalian sudah tahu ya... Hi hi hi..."

*       *       *

Serial Catatan Harian Ojol
- Part II: Ada Rawarontek di Balik Keberingasan Begal
- Part III: Penumpang Rasa Pacar
- Part IV: Orderan Kakap

Prekuel
Kamaratih

Spin-Off
Kisah Wanita dengan Blazer Hitam I

*       *       *

Artikel Terkait Catatan Harian Ojol (#CHO):


*       *       *

*Inspired by True Event
- Jakarta, 9 April 2021