TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol

Kamis, 02 Juli 2015

Serba Lengkap di Cipika Store hingga Diskon 70%!


Program Lebaran Belanja Online hingga 70% di Cipika Store

SEBAGAI blogger, saya tentu tidak asing dengan berbagai produk keluaran Indosat (PT. Indosat Tbk).Yaitu, perusahaan penyedia jasa layanan dan jaringan telekomunikasi ternama di Indonesia. Apalagi, sejak dulu, Indosat dikenal dekat dengan kalangan blogger dan olahraga.

Seperti rutin mengundang kami secara eksklusif dalam berbagai peluncuran produk mereka. Bahkan, ketika Indosat menjadi sponsor utama SEA Games 2011, saya mendapat kehormatan dengan dipercaya untuk meliput pesta olahraga dua tahunan antarnegara Asia Tenggara itu bersama beberapa blogger hebat lainnya.

Saya pribadi menggunakan dua produk dari perusahaan yang bermarkas di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat ini untuk menunjang kegiatan sehari-hari. Misalnya, layanan prabayar IM3 yang sudah saya gunakan sejak 2003 hingga kini dan IM2 untuk pemakaian domain di blog ini.

Teranyar, Indosat juga meluncurkan unit usaha baru bernama Cipika Store pada 15 Maret 2014. Sebuah platform e-commerce yang beralamat di www.cipika.co.id. Sejak setahun terakhir, Cipika Store giat menyediakan beragam kuliner khas nusantara, hasil kerajinan daerah, produk busana lokal, gadget, dan sebagainya.

Meski belum lama dirilis, Cipika Store, sudah menjelma jadi sebagai salah satu toko online terbesar di Tanah Air. Lantaran, mereka mampu menyediakan berbagai kebutuhan masyarakat umum. Apalagi, Cipika Store menerapkan keamanan yang ketat dalam bertransaksi agar konsumen merasa nyaman.

Yang menarik, saat ini, Cipika Store sedang mengadakan diskon besar-besaran bertema Lebaran Belanja Online dengan diskon hingga 70%! Hello... Hari gini, masih ada diskon gila-gilaan? Awalnya, saya tidak percaya begitu saja mengingat menjelang Hari Raya Idul Fitri, biasanya harga-harga melambung tinggi.

Namun, seperti kata pepatah, bahwa "cabai itu pedas setelah dimakan", begitu pun dengan saya yang segera menelusuri Cipika Store untuk registrasi yang prosesnya mudah. Yaitu, setelah daftar, saya hanya menunggu beberapa menit untuk dilakukan validasi anggota melalui email.

*      *      *
LANGSUNG saya mencari beberapa barang yang saya butuhkan dengan diskon mencapai 70%. Yang pertama jelas cemilan mengingat di bulan Ramadan ini, saya cenderung mengkonsumsi makanan yang ringan setelah buka puasa. Baru pada sahur, saya mengkonsumsi hidangan yang berat seperti nasi dan sayur.

Ketika menelusuri berbagai produk cemilan melalui fitur pencarian, saya menemukan apa yang saya inginkan: Kripik Balado dengan merek Shirley yang didiskon 70%. Kebetulan, saya tidak asing dengan produk tersebut. Sebab, ketika masih merantau di Sumatera Barat, sebelum pulang ke Jakarta, saya biasanya selalu menyempatkan diri menuju toko Shirley yang berada di seberang Museum Adityawaran, Padang.

Tak butuh waktu lama, cemilan yang terbuat dari singkong dengan bumbu pedas ini saya masukkan dalam daftar keinginan (wishlist). Menariknya, ternyata banyak varian cemilan Shirley yang terdapat di Cipika Store. Mulai dari Kripik Balado Durian, Kerupuk Jangek, Kerupuk Sinjai, hingga Kentang Pedas.

Mengetahui hal itu, jelas membuat saya senang. Sebab, untuk bisa menikmati panganan khas Sumatera Barat itu, saya tidak lagi harus nostalgia terbang ke Padang. Kini, saya cukup duduk manis di depan komputer untuk melakukan pemesanan yang akan dikirim maksimal tujuh hari kerja.

Selesai? Nanti dulu. Masih banyak produk lainnya yang ingin saya masukkan dalam whistlist seperti laptop dan busana lebaran. Hanya, saat ini pilihan saya tertuju pada voucher isi ulang yang harganya relatif miring. Yaitu, untuk mendapat pulsa senilai Rp 50.000, saya hanya perlu membayar Rp 47.700! Alias diskon 10%.

Memang sih, cuma beda Rp 2.300 dari harga normal ketika saya membelinya via atm atau internet banking. Namun, harga yang ditawarkan di Cipika Store jauh lebih murah ketimbang saya membelinya di konter pinggir jalan yang rata-rata berkisar Rp 52.000-54.000. Dengan begitu, saya bisa melakukan penghematan mengingat setiap bulan, rata-rata saya bisa tiga hingga empat kali membeli pulsa.

Nah, itu pengalaman saya mencari apa yang saya butuhkan dan tersedia serba lengkap di Cipika Store. Bagaimana dengan Anda?

Website Cipika Store: www.cipika.co.id
Akun twitter: @Cipika_ID
Fan-page facebook: Cipika.co.id

*      *      *
Kripik Balado Shirley yang jadi cemilan favorit saya

*      *      *

Bahkan, beli pulsa pun dapat diskon 10%!
*      *      *

*      *      *
- Cikini, 2 Juli 2015

Selasa, 30 Juni 2015

Mengunjungi Masjid Hidayatullah yang Bersejarah dan Dikelilingi Gedung Bertingkat


Masjid Hidayatullah yang tanpa kubah sekilas seperti Kelenteng (Sumber foto: koleksi pribadi/ www.roelly87.com)
SEKILAS tiada yang aneh dengan tempat ibadah ini. Maklum, lokasinya seperti tersembunyi di antara deretan gedung bertingkat di kawasan pusat Jakarta. Namun, ketika melintasi gerbang dan masuk ke dalamnya, baru kita merasa takjub. Ya, Masjid Hidayatullah memang sangat memesona. Terletak di jantung ibu kota di kawasan elite segitiga emas, tepatnya di belakang salah satu gedung ikonik Sampoerna Strategic Square.

Namun, masjid yang berlokasi di Jalan Masjid Hidayatullah, Karet Depan (Dr. Satrio), Setiabudi, Jakarta Selatan ini, seperti tak lekang dimakan waktu. Maklum, tempat ibadah yang ditetapkan Dinas Museum dan Sejarah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ini, memang unik. Lantaran bangunannya berbeda dibanding masjid pada umumnya karena tiada kubah, di sampingnya terdapat puluhan makam, dan kalau dilihat sepintas lebih mirip Kelenteng.

*       *       *
SIANG itu, Jumat (26/6) cuaca ibu kota sungguh menyengat. Macet menjadi santapan sehari-hari bagi mayoritas warga Jakarta. Khususnya di jalan protokol seperti Jenderal Sudirman. Apalagi, bertepatan dengan suasana Ramadan. Ibaratnya, macet dan panas menjadi godaan terbaik bagi umat yang sedang menjalankan puasa untuk meredam ego di jalan raya.

Kebetulan, saat itu saya baru saja kembali dari suatu acara di kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, menuju kantor. Ketika lewat kolong jalan layang Profesor Dr. Satrio, sayup-sayup terdengar suara azan Ashar. Dari samping gedung Sampoerna, mata saya tertuju pada plang berwarna hijau yang menunjukkan Jalan Masjid Hidayatullah.

Langsung saja saya membelokkan sepeda motor menuju jalan yang tersebut. Niatnya selain ingin menunaikan ibadah wajib juga ingin beristirahat sejenak setelah nyaris seharian berkeliling ibu kota. Dengan perlahan menyusuri jalan, saya mencari masjid atau musala yang ada di lokasi tersebut sambil melirik di sebelah kiri terdapat makam yang didampingi bangunan bercorak Tiongkok.

Hingga, akhirnya saya sampai di depan pagar bertuliskan Masjid Hidayatullah yang tengah direnovasi. Tentu, saya agak kaget, karena lokasi masjid tersebut bersebelahan dengan bangunan yang mirip Kelenteng. Karena penasaran, saya pun memarkirkan sepeda motor untuk mencari tahu. Ternyata, bangunan tersebut memang masjid yang mendapat pengaruh arsitektur Tiongkok.

Seusai menunaikan salat dan istirahat sejenak dengan merebahkan tubuh, saya pun mencoba untuk mencari tahu lebih lanjut dengan berkeliling areal tersebut. Yang menarik, selain terdapat makam yang kemungkinan merupakan para pendiri masjid atau keluarganya. Mata saya tertuju pada langit-langit dan jendela masjid yang mirip rumah adat Betawi.

Sambil meluangkan waktu sejenak di teras, saya pun mencoba untuk mencari tahu tentang masjid tersebut melalui layanan internet di ponsel. Berdasarkan informasi di website Jakarta.go.id, Masjid Hidayatullah masuk dalam daftar cagar budaya kategori B. Sementara, masih dalam situs yang sama namun dengan rincian lebih lengkap, ternyata melebihi ekspekstasi saya.

Lantaran, berdasarkan keterangannya, Masjid Hidayatullah awalnya musala yang dibangun pengusaha batik asal Tiongkok bernama Muhamad Yusuf pada 1921. Karena itu, wajar jika masjid ini memiliki pengaruh Tiongkok dalam arsitekturnya, khususnya pada atapnya yang memiliki dua lengkung di setiap sudut. Terlebih, ternyata tidak hanya gaya Tiongkok juga, melainkan juga pengaruh dari Persia dengan berdirinya dua menara.

Sayangnya, saya tidak berhasil menemui pengelola masjid untuk bertanya lebih lanjut walaupun sudah mendapat petunjuk dari juru parkir. Apalagi, waktu yang sudah sore yang membuat saya harus kembali ke kantor.

Meski begitu, saya sudah cukup puas menyambangi salah satu masjid bersejarah di ibu kota ini yang masih terjaga kendati dikelilingi gedung-gedung bertingkat. Ini mengingatkan saya pada salah satu cagar budaya lainnya di Jalan Gajah Mada, Jakarta Barat, yaitu Candra Naya.

Sekilas Masjid Hidayatullah
Lokasi: Jalan Masjid Hidayatullah, Karet Depan (Dr. Satrio), Setiabudi, Jakarta Selatan
Akses: Peta (google maps)
Status: Cagar Budaya golongan B
Fasilitas: Toilet dan tempat wudu untuk pria/wanita, Perpustakaan, kamera CCTV


*       *       *
Puluhan makam yang terdapat di sisi masjid (@roelly87)
*       *       *
Langit-langit di dalam masjid (@roelly87)

*       *       *
Beristirahat sejenak sebelum melanjutkan rutinitas (@roelly87)

*       *       *
Kamera CCTV untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan (@roelly87)

*       *       *
Dua pedagang yang tengah beristirahat (@roelly87)

*       *       *
Papan pengumuman (@roelly87)

*       *       *
Koperasi yang menjual berbagai peralatan dan perlengkapan ibadah (@roelly87)

*       *       *
Menara Masjid Hidayatullah yang berdampingan dengan gedung Sampoerna Strategic Square (@roelly87)

*       *       *

*       *       *
*       *       *

- Cikini, 30 Juni 2015

Minggu, 28 Juni 2015

Mengenal Tokopedia Lebih Dekat



Tokopedia.com (ilustrasi @roelly87)


TAK kenal maka tak sayang. Demikian adagium lawas yang masih saya ingat sejak kecil hingga kini. Yaitu, istilah sehari-hari tentang sesuatu yang awalnya tidak diketahui dan baru dimengerti ketika sudah dicoba. Dalam hal ini, saya ambil contoh nyata mengenai transaksi lewat internet alias online yang dalam satu dekade berkembang pesat di Indonesia.

Di antaranya yang saya kenal  seperti Lazada, Olx, Kaskus Forum Jual Beli (FJB), Bhinneka, dan sebagainya. Dalam beberapa kesempatan, saya kerap melakukan transaksi dengan beberapa toko online tersebut. Sejauh ini, responsnya beragam. Adakalanya saya senang karena pesanan saya tepat waktu. Tak jarang, saya harus kecewa lantaran kiriman yang lambat dan sebagainya.

Oke, yang namanya orang atau pihak ingin berjualan, tentu mau untung. Itu relatif dan saya harus memahaminya. Apalagi, di antara beberapa toko online tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya serta segmentasi tersendiri. Misalnya, saya ingin nyari barang bekas  ke situs a, ponsel ke b, pakaian ke c, dan lain-lain.

Oh ya, selain berbagai situs toko online itu, saya mendapat referensi tambahan. Yaitu Tokopedia yang mengusung motto "Membangun Indonesia Lebih Baik Lewat Internet". Jujur saja, hingga kini saya baru sekadar registrasi saja dan belum pernah membeli atau transaksi di situs yang beralamat di www.tokopedia.com tersebut.

Lantaran memang saya masih belum membutuhkan barang atau peralatan yang biasanya saya ganti secara berkala seperti ponsel, elektronik, busana, atau action figures. Maklum, saya membeli sesuatu di toko online itu jika memang perlu atau karena sulit mencarinya di toko fisik. Kemungkinan pertengahan Juli mendatang saya baru mencobanya untuk membeli action figures Ant-Man yang filmnya bakal rilis di bioskop Indonesia sekaligus me-review pengalaman bertransaksinya.

Meski begitu, sebagai blogger yang berusaha mengikuti perkembangan di ranah internet, dalam beberapa tahun terakhir ini saya sering membaca info mengenai Tokopedia. Baik melalui media online atau iklan mereka di media sosial seperti facebook dan twitter. Puncaknya, ketika saya mendapat memenuhi undangan dari pihak Tokopedia dan komunitas Kumpulan Emak Blogger (KEB) dalam acara bertema #TemuBloggers.

Pada acara yang berlangsung di Restoran Gokana Ramen, Sarinah, Jakarta Pusat, Sabtu (30/5) itu, saya baru sadar jika Tokopedia berbeda dibanding toko online lainnya. Terutama setelah saya kembali memenuhi undangan yang diselenggarakan KEB bersama Jarvis Store di Menara Multimedia, Jakarta Pusat (9/6).

Dalam dua kesempatan berbeda itu, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa Tokopedia memang salah satu toko online yang memiliki prospek cerah di Tanah Air. Namun, perusahaan yang berdiri pada 6 Februari 2009 dengan nama PT. Tokopedia hingga meluncurkan produknya tokopedia.com (17/9/2009) ini berbeda dibanding online shop lainnya yang telah ada.

Salah satunya karena Tokopedia merupakan marketplace, yaitu menyediakan platform untuk pengguna internet agar bisa menjadi penjual atau pembeli. Sementara, tiga kategori e-commerce lainnya dengan sektor yang beragam seperti iklan baris (Olx), online retail (yang terkenal di dunia, Amazon), dan dailydeals (Groupon).

Nah, yang menjadi pertanyaan saya sejak mengenal Tokopedia adalah, perusahaan yang dibentuk duet William Tanuwijaya dan Leontinus Alpha Edison ini, ternyata tidak memungut komisi dari penjualnya. Nah lho? Yakin? Hari gini masih ada yang gratisan? Apalagi, sebagai pengguna internet, saya juga sering membaca berita mengenai Tokopedia yang sejauh ini belum mendapat untung.

Namun, untuk yang terakhir ini saya tidak heran. Sebab, banyak perusahaan yang memang "berdarah-darah" sejak awal sebelum akhirnya mendapat profit melimpah. Contoh, twitter atau whatsapp pun, sejauh ini belum mendapat untung. Namun, kedua aplikasi itu tetap jalan terus dan diminati ratusan juta pengguna internet di seluruh dunia. Begitu juga dengan Amazon yang setahu saya baru dapat untung setelah sembilan tahun berdiri!

Lalu, bagaimana cara Tokopedia bisa bertahan hidup hingga menjelang tahun keenamnya berdiri? Apalagi, sejauh ini situs tokopedia.com sudah diakses jutaan pengguna internet dalam sebulan. Ternyata, mereka "mengandalkan" peran investor. Bahkan, akhir 2014 lalu, ranah internet di Indonesia dihebohkan dengan berita adanya kucuran dana dari SoftBank Internet and Media dan Sequoia Capital untuk Tokopedia.

Tidak tanggung-tanggung, nilainya mencapai 100 juta dolar Amerika Serikat (AS) yang kalau di kurs saat ini mencapai Rp 1,3 triliun! Sekilas info, yang saya tahu sedikit tentang SoftBank merupakan investor terbesar Alibaba di Tiongkok dan Yahoo Jepang. Sementara, Sequoia Capital merupakan dibalik kesuksesan beberapa perusahaan terkemuka di kolong langit ini, misalnya membantu pendanaan Apple, Google, Cisco, dan sebagainya.

Dengan dana sebesar itu, wajar jika hingga kini Tokopedia tetap menggratiskan layanannya. Toh, dengan begitu mereka dapat menarik pangsa lebih besar lagi. Itu sesuai motto mereka "Membangun Indonesia Lebih Baik Lewat Internet" dengan membantu dan mengembangkan Unit Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia.

Apakah setelah besar nanti Tokopedia tetap gratis seperti saat ini? Biarlah waktu yang menjawabnya.*

*      *      *
Suasana temu bloggers bersama KEB dan Tokopedia (@roelly87)

*      *      *

Acara KEB bersama Jarvis Store sambil menyimak perkembangan Tokopedia (@roelly87)
*      *      *
Selanjutnya:
- Kenapa Harus (Belanja) ke Tokopedia?
*      *      *

- Cikini, 28 Juni 2015

Kamis, 25 Juni 2015

Piala Amerika dalam Genggaman Bersama Genflix


Aplikasi Genflix 2.0: Piala Amerika dalam Genggaman!

DEMAM Piala Amerika (Copa America) 2015 memasuki periode krusial. Sebagai penggemar sepak bola, tentu saya tidak ingin ketinggalan menyaksikan turnamen empat tahunan antarnegara di benua Amerika Selatan tersebut. Apalagi, saya pribadi sebagai jurnalis yang tentu saja harus selalu update mengikuti perkembangannya.

Selain melalui media cetak tempat saya bekerja, saya juga harus lebih rajin membaca berita di situs online. Tak ketinggalan juga untuk menyaksikan siaran di televisi. Maklum, meski turnamen ini hanya melibatkan 10 negara di Amerika Selatan plus dua undangan (Meksiko dan Jamaika). Namun, gaungnya tidak kalah seru dibanding Piala Eropa dan hanya sedikit di bawah Piala Dunia.

Kenapa? Sebab, banyak wajah-wajah familiar di Piala Amerika. Sebut saja, striker Argentina yang baru menjuarai Liga Champions, Lionel Messi, diikuti pasangannya, Carlos Tevez, yang memperkuat klub idola saya, Juventus. Jangan lupakan pemain bintang seperti Neymar Jr. (Brasil), Alexis Sanchez (Cile), James Rodriguez (Kolombia), dan banyak lagi.

Nah, bagi saya,  melalui media online dan televisi masih kurang lengkap. Pasalnya, dengan media online saya hanya bisa melihat cuplikan saja. Begitu juga dengan televisi yang tentu tidak bisa dibawa-bawa. Maklum, Piala Amerika 2015 rata-rata berlangsung pagi hari yang berbeda dibanding Liga Champions, Seri A Italia, dan kompetisi di Eropa lainnya.

Untuk itu, solusinya saya membekali ponsel saya dengan menginstall aplikasi Genflix versi 2.0 melalui GooglePlay Store di https://goo.gl/jvRCTw. Oh ya, bagi pengguna gadget berbasis IOS seperti iPhone, iPad, dan semacamnya juga bisa mendownloadnya di http://bit.ly/gf2ios. Sementara, untuk pemakai PC dapat langsung klik di www.genflix.co.id. Dengan menggunakan Genflix, saya jadi bisa menyaksikan pertandingan Piala Amerika melalui ponsel yang saya genggam di mana saja secara streaming!

Bagi penggemar olahraga, tentu ini menjadi kabar yang menggembirakan. Apalagi, Genflix yang dimiliki PT Festival Citra Lestari (Orange TV) ini memang sudah berpengalaman menyediakan jasa streaming. Mulai dari Liga Primer Inggris, Ligue 1 Prancis, Seri A Italia, Bundesliga Jerman, Piala Raja Spanyol (Copa del Rey), Piala FA, Liga Brasil, hingga Piala Dunia 2014.

Jadi, saya tidak ragu lagi untuk menggunakan aplikasinya yang memang cukup ringan dengan 200Kbps untuk menyaksikan streaming atau tayangan lainnya tanpa buffering! Misalnya, film blockbuster dari berbagai negara, serial drama Korea (ehm, ehm), dan variasi content hiburan lainnya.

Hanya Rp 2.000

Pertanyaannya, berapa rupiah yang harus dibayar untuk bisa menikmati layanan itu semua? Nah, sebagai blogger tentu saya harus kritis untuk membuktikan apa yang saya tulis memang berdasarkan pengalaman pribadi dan bukan “apa kata orang”. Gunanya, agar artikel saya lebih bernyawa saat dibaca khalayak ramai. Terlebih, mengenai harga merupakan hal yang sensitif.

Menurut saya, untuk Genflix tarifnya cukup terjangkau. Kita sebagai pengguna bisa mengakses semua tontonan hanya dengan membayar Rp 2.000 per hari. Bagi saya, harga segitu cukup murah dan meriah. Toh, saya dapat menyaksikan berbagai tayangan tanpa terputus. Bisa dipahami mengingat Genflix sudah terintegrasi dengan jaringan 2G, 3G, 4G, atau WiFi.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana cara membayarnya? Sepengetahuan saya cukup mudah. Setelah registrasi dan login, pengguna bisa menentukan keinginannya sesuai selera. Baik itu melalui VISA, Mastercard, dan DOKU. Atau, melalui pengisian pulsa dari operator kita masing-masing, seperti XL dengan mengakses menu UMB *123*852# dan Indosat *465*2#.

Jadi, jangan sampai ketinggalan menyaksikan persaingan dua bomber Barcelona di Piala Amerika 2015 antara Messi versus Neymar melalui aplikasi Genflix!

*      *      *
Registrasi Genflix via UMB pengguna XL
*      *      *
Registrasi Genflix via SMS pengguna XL
*      *      *
Registrasi Genflix via UMB pengguna Indosat
*      *      *
Registrasi Genflix via SMS pengguna Indosat

*      *      *
Artikel Sepak Bola Lainnya:
- Chiellini: Antara Suarez, Indonesia, dan Kedekatannya dengan Juventini
Giorgio Chiellini: Saya Cinta Juventini Indonesia!
Andrea Pirlo: Allegri bisa Memberi yang Terbaik
Claudio Marchisio: Cuaca di Jakarta Seperti di Manaus
Dahlan Iskan: Generasi Muda harus Olahraga
Erick Thohir: Saya Percaya Loyalitas Dua Arah
- Demam The Avengers Melanda Skuat Juventus
- Kisah Ponsel Dua Presiden: Erick Thohir dan Andrea Agnelli
- JCI Konvoi Scudetto ke-30
- Fan Indonesia Diservis Chiellini 
*      *      *
- Senayan, 25 Juni 2015

Selasa, 23 Juni 2015

Kehebohan Nonton Minions Bersama Enam Bocah


Salah satu dalam adegan Minions (sumber foto: dokumentasi pribadi/ www.roelly87.com)

MENYAKSIKAN film di bioskop merupakan salah satu kegiatan favorit saya sejak kecil. Baik film luar negeri hingga lokal (nasional). Entah itu film bertema actionthriller, drama, komedi, horor, hingga animasi. Untuk animasi  saya nyaris tak ketinggalan dalam dua dekade terakhir. Dimulai sejak era 2 dimensi seperti Aladdin pada saat saya berusia lima tahun diikuti The Lion King, Mulan, hingga komputerisasi 3 dimensi dengan Toy Story, A Bugs Life, Shrek, Frozen, dan kini Minions.

Untuk yang terakhir, jadi salah satu kenangan tersendiri sekaligus kejutan bagi saya. Sebab, jika sejak dulu saya ke bioskop bersama keluarga, teman, gebetan pacar, atau rame-rama (nobar). Kali ini, sangat berbeda. Karena saya menyaksikannya bersama enam bocah!

Ya, empat anak laki-laki dan dua perempuan dengan salah satunya merupakan adik saya yang terkecil. Kebetulan, kemarin bertepatan dengan ulang tahun adik saya yang keenam. Jadi, dari beberapa bulan sebelumnya saya niat untuk merayakan ultahnya yang berbeda dibanding tahun lalu yang mengundang teman-temannya dengan paket dari salah satu resto siap saji.

Beruntung, ultahnya saat ini barengan dengan dirilisnya film Minions di sebutah teater di kawasan pusat Jakarta, Senin (23/6). Jadi, awalnya saya mengajak adik saya itu untuk nobar dengan teman perempuannya. Eh, ga tahunya, pas malam harinya malah ngajak empat teman mainnya yang sama-sama masih sekolah di Taman Kanak-kanak (TK). Karena sudah kadung janji, ya terpaksa saya iyakan dengan syarat, keenamnya (termasuk adik saya) harus puasa setengah hari yang hebatnya mampu dilaksanakan mereka.

Tentu, nonton film bareng mereka itu ibarat menu gado-gado. Bikin bahagia, senang,  rame, hingga tertawa geli. Bisa dibayangin, saya membawa enam bocah ke bioskop pada waktu siang terik... dan puasa. Sementara, banyak penonton lain yang dari lirikannya seperti menilai keenam bocah itu sebagai anak saya. Ha ha ha. Ga apa-apa, yang penting saya sudah kasih kado istimewa untuk adik yang paling kecil diiringi ucapan lagu dari kelima temannya.

Apalagi, mending jika mereka tetap tenang, anteng, dan adem ayem. Ini mah rame banget. Meski, sebelumnya saya sudah prediksi bakal seperti ini, toh kenyataanya di luar dugaan. Tapi, bagaimanapun, mereka masih anak-anak dengan kelakuan yang masih dibilang wajar. Jadi, saya sedikit tidak heran jika film baru dimulai beberapa menit, ada yang merengek ingin pulang sampai nangis karena takut dengan suasana gelap disertai suara menggelagar dari audio bioskop. Beruntung, ada mbak petugas bioskop yang baik hati dan senyumnya manis ramah untuk menenangkannya.

*      *      *

Itu belum seberapa. Bahkan, saat adegan  yang mengisahkan rombongan Minions lari-lari karena dikejar Dinosaurus, mereka juga mengikutinya dengan wara-wiri dari satu kursi ke kursi yang lain di barisan kami. Untungnya, film ini ditujukan untuk semua umur (di negara asalnya, rating PG/ bimbingan orang tua). 

Jadi, mayoritas penonton anak-anak juga yang ditemani orangtua atau keluarganya. Berbeda jika yang saya tonton Jurassic World atau The Avengers: Age of Ultron dengan rating PG 13 alias didominasi kalangan remaja dan dewasa yang bisa-bisa saya dipelototi mereka. 

Untuk kali pertama nonton bioskop, saya tidak fokus menyimak adegan demi adegan. Sebab, hampir setiap beberapa menit di antara keenam bocah ini ada yang ingin ke toilet. Padahal, sebelum masuk bioskop, saya sudah memberi tahu mereka agar pipis lebih dulu supaya saat film main tidak bolak-balik. Tapi, memang masih anak-anak, jadi di antara mereka ada saja yang bilang kebelet dan sebagainya karena memang ac-nya lumayan dingin dan mau tidak mau saya harus temani.

Selain lari-larian dan bolak-balik ke toilet, kelakuan mereka yang bikin saya tertawa geli tentu saja waktu mendengar beberapa kalimat di fillm Minions yang menggunakan bahasa Indonesia. Kalau tidak salah dengar seperti "kemari", "paduka raja", dan "terima kasih".

Berhubung saya sudah sempat browsing film ini di berbagai situs di internet, jadi saya tidak kesulitan untuk menjelaskan kepada mereka. Bahwa, film salah satu sutradara Minions yang bernama Pierre Coffin, masih keturunan Indonesia dari garis ibunya yang merupakan novelis ternama, Nh. Dini. Diberitahu seperti itu, mereka sih manggut-manggut meski entah mengerti atau tidak.

Intinya, banyak keluguan dari mereka yang membuat saya tersenyum sepanjang film berlangsung. Yang menarik, ketika film berakhir, salah satu bocah yang merengek ingin pulang justru malah tidak mau beringsut dari kursinya hingga beberapa mennit. Usut punya usut, ternyata dia ingin melihat aksi Bob, Stuart, dan Kevin lagi yang menurutnya kurang lama.

Seusai keluar dari bioskop, kami langsung menuju salah satu resto siap saji yang ada di lantai bawah untuk mengajak mereka berbuka (setengah hari). Hanya, seperti biasa, kehebohan terus berlanjut karena keenam bocah itu -terutama yang laki- berebut ingin mainan Minions yang memang satu paket dengan makanan.

Selesai? Belum. Masih banyak kehebohan enam bocah itu yang mengingatkan saya dengan ceritera dari negeri dongeng ketika masih kecil dulu :)

*      *      *
Narsis sejenak sebelum masuk bioskop (@roelly87)

*      *      *

(Lagi) berebut foto di depan poster Minions (@roelly87)
*      *      *
Enam bocah yang bikin gaduh satu ruangan (@roelly87)

*      *      *

Ga mau pulang sebelum layar selesai (@roelly87)
*      *      *

- Senayan, 23 Juni 2015