TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol

Rabu, 17 Juni 2015

Kritik Blogger untuk VIVA Log sebagai Agregator Blog


Empat pembicara dalam Netizen Gathering 2015 ANTV (sumber foto: dokumentasi pribadi/ www.roelly87.com)


SEBAGAI blogger, tentu mengharapkan trafik yang tinggi berupa keterbacaan dan lintas share di media sosial. Salah satu caranya, ya bekerja sama dengan beberapa agregator dan memasang widget mereka. Misalnya dengan VIVA Log yang merupakan bagian portal berita VIVA.co.id yang selama ini terbukti mampu mendongkrak trafik sebuah blog.

Termasuk blog saya pribadi yang memasang widget berupa script iframe melalui edit HTML di dashboard blogspot atau wordpress. Terbukti, sejak April lalu, trafik saya meningkat pesat. Dari rasio 200-an pengunjung per hari melonjak hingga 500-an bahkan ribuan. Itu berdasarkan data unique visitor (pengunjung dengan IP tetap) di google analytics. Belum lagi jika menghitung visitor, pageview, backlink, dan sebagainya.

Namun, sebagaimana yang kita tahu, terkadang hidup ini tidak semulus wajah Scarlet Johanssen dalam suatu hubungan tidak selalu berjalan baik. Khususnya antara blogger dengan agregator VIVA Log.

Maklum,ada kalanya banyak artikel Vlogger -julukan blogger VIVA Log- yang justru tidak dimuat. Padahal, mereka sudah melakukan apa yang harus dilakukan seperti yang dikatakan salah satu admin di Grup Blogger VIVA Log. Seperti memasang iframe, bukan copy-paste, tidak sedang promosi suatu produk, dan bukan artikel berita.

Ujung-ujungnya, jelas blogger, khususnya saya pun kecewa. Bahkan, tak sedikit yang langsung melepas iframe karena memang tidak menguntungkan. Ibaratnya, tidak ada sinergi antara kami sebagai blogger dan pihak agregator. Mungkin, itu juga karena ekspekstasi kami yang terlalu berlebihan.

Untuk menjawab keraguan rekan-rekan blogger itu, saya mencoba dengan menanyakan langsung. Tentu, tidak melalui mengirim pesan di inbox atau grup Facebook dan Twitter, karena berdasarkan penuturan beberapa rekan blogger, jawabannya mengambang. Melainkan, saat bertemu langsung dengan dua admin di acara Netizen Gathering 2015 yang diselenggarakan ANTV yang masih bagian dengan VIVA Grup.

Kebetulan, sebagai blogger, saya baru dua kali mengikuti acara VIVA Grup, setelah sebelumnya turut berwisata ke Pulau Bidadari. Namun, dalam kegiatan sehari-hari, saya memang kerap mengikuti event yang diselenggarakan Grup VIVA. Khususnya yang berhubungan dengan sepak bola seperti saat nonton bareng (nobar) Piala Dunia 2014 atau melalui salah satu petingginya yang merupakan pemilik FC Internazionale, Erick Thohir.

Maka, dalam acara yang bertempat di Empirica, Sabtu (13/6), saya pun mewakili rekan-rekan blogger untuk menyempatkan diri bertanya dengan dua admin VIVA Log, Dian Lestary dan Rizal Maulana. Yang menarik, kebetulan pada event bertajuk "Saatnya Bisnis Ga Cuma Eksis" itu turut menampilkan empat pembicara yang kompeten di bidangnya masing-masing.

Yaitu, Putri Silalahi selaku Communications Head Consumers & Youtube Google Indonesia, Maria Indrawati (founder The Rawits), Angghi Mulia (Current Affair & News ANTV), dan Renne Kawilarang (senior editor VIVA.co.id). Untuk dua nama pertama, akan saya buat dalam artikel selanjutnya karena saya memang tertarik dengan penuturan konsep bisnis mereka. Terutama Putri yang sedikit membeberkan rahasia sukses di  youtube dan google trend.

*       *       *

Nah, untuk dua nama terakhir ini, kebetulan masih berkaitan dengan VIVA Log sebagai agregator.Maka, dalam sesi tanya jawab, saya langsung melayangkan kritik yang kebetulan dibaca melalui layar di belakang mereka: "Pertanyaan, kenapa banyak artikel blogger yg ga kepublish di vivalog? meski udah pasang iframe".

Sebetulnya, jawaban ini sudah saya dapat dari dua admin yang saya temui saat berbincang dengan beberapa rekan blogger lainnya. Tapi, tidak ada salahnya, saya menanyakannya lagi kepada Renne dan Angghi. Gunanya, agar mereka, dalam hal ini pihak VIVA.co.id dan VIVA Log, lebih memahami keberadaan blogger yang sudah bersusah payah membuat artikel orisinal dan berharap bisa tayang. Toh, tanpa artikel dari blogger, belum tentu VIVA Log bisa seperti ini.

Dalam kesempatan itu, Renne mengakui bahwa kontribusi blogger juga sukses mendongkrak popularitas VIVA.co.id. Penggemar Liverpool ini pun meminta maaf, jika memang ada tulisan vlogger yang tidak atau belum termuat. Itu mengingat banyaknya artikel yang masuk dalam CMS VIVA Log yang seharinya bisa mencapai 300 tulisan.

Belum lagi jika ada kendala dengan engine yang membuat blogger sulit untuk login. Untuk itu, Renne juga meminta vlogger untuk tidak patah arang jika ada tulisan yang tidak dimuat. Salah satu caranya dengan mentions admin di Facebook atau Twitter.

Itu jawaban dari VIVA Log yang diwakili Renne selaku senior editor VIVA.co.id. Nah, bagaimana respons rekan-rekan blogger terkait kesulitan berhubungan dengan agregator selama ini? Atau ada kritik dan masukan yang bisa didengar admin VIVA Log? Silakan diajukan di kolom komentar.

*       *       *

Putri Silalahi dari Google Indonesia (@roelly87)
*       *       *

Kritik saya di twitter yang dibaca mereka di layar (@roelly87)
*       *       *
Budi Doremi mengisi acara puncak (@roelly87)

*       *       *

*       *       *
Artikel terkait:
- Kisah Ponsel Dua Presiden Seri A: Erick Thohir dan Andrea Agnelli
- Wawancara Eksklusif Erick Thohir: Saya Percaya Loyalitas Dua Arah
- Wawancara Eksklusif Erick Thohir: Mancini Sosok yang Ambisius
- Nobar ICI dan Erick Thohir: Inter Incar Liga Champions
- Meriahnya Nonton Bareng di Studio ANTV
- Nobar Merakyat Bersama tvOne
- Tujuh Alasan Pulau Bidadari Wajib Dikunjungi


*       *       *
- Cikini, 16 Juni 2015

Minggu, 14 Juni 2015

Hari Ini 11 Tahun Silam


MENGKONSUMSI narkotika dan obat terlarang (narkoba) sama saja menanda tangani kontrak dengan maut. Ini bukan omong kosong, ancaman, atau sekadar menakut-nakuti. Melainkan nyata. Itu yang menjadi alasan saya untuk membenci narkoba dan berusaha semampu mungkin turut serta dalam melakukan pencegahan. Baik di lingkungan sekitar maupun melalui tulisan di blog.

*     *     *

HARI ini 11 tahun silam, tepatnya Senin 14 Juni 2004, merupakan salah satu momen yang tak terlupakan dalam hidup saya. Betapa tidak, saat itu, sekitar pukul 13.00 WIB, saya harus menyaksikan peristiwa yang memilukan. Yaitu, ketika saudara sepupu saya, Indra (nama samaran) harus meregang nyawa akibat overdosis usai mengkonsumsi narkoba.

Saya masih ingat. Satu dekade lalu, jenis narkoba yang sangat populer karena murah meriah dan mudah didapat adalah putaw. Serbuk putih yang biasanya dipakai tim medis untuk memberikan efek stimulus menjelang operasi. Namun, di tangan bandar, obat itu berubah menjadi racun yang mematikan.

Ya, saya masih belum lupa meski kejadiannya sudah lumayan lama. Sebab, saya harus menyaksikan langsung betapa kondisi sepupu saya yang meninggal dengan keadaan tragis. Yaitu, (maaf) tengkuk di sekitar leher berwarna kebiruan dan juga dari mulutnya terus mengeluarkan busa...

Menurut salah satu teman kami, Wisnu (nama samaran) beberapa jam sebelumnya, sepupu saya itu terlihat menyuntikkan putaw di lengannya. Entah karena kelebihan dosis atau memang sudah jalannya seperti itu. Tak lama kemudian, Indra harus meninggalkan kami untuk selamanya. Miris, mengingat 10 hari sebelumnya, Indra baru merayakan ulang tahun ke-20.

Padahal, saya masih ingat dengan jelas hingga kini, pada dini hari sebelumnya kami bersama-sama nonton bareng (nobar) pertandingan Piala Eropa 2004 antara Prancis versus Inggris. Bahkan, saya, Indra, Wisnu, dan beberapa teman lainnya saling bercanda mengomentari kegagalan David Beckham saat mengeksekusi penalti yang menyebabkan kekalahan "The Three Lions". Namun, tidak sampai 12 jam kemudian, suasana suka cita itu mendadak berubah jadi duka.

Itu terakhir kali saya nobar dengan Indra setelah nyaris tak melewatkan pertandingan penting sejak Piala Dunia 1994. Setelah itu, kami tidak bisa lagi bersama-sama. Baik ketika nobar, main winning eleven, nyolong mangga, mengejar layangan, godain gadis sebelah kampung, dan sebagainya.

Lebih ironis lagi, kematian Indra ternyata bukan yang terakhir terjadi di kawasan kami tinggal. Melainkan, setelah itu tetap berjatuhan banyak korban akibat overdosis. Aneh memang. Ketika Indra meninggal, di antara rekan kami yang datang untuk melayat dan mensalatkan, beberapa bulan kemudian malah disalatkan beramai-ramai. Itu terjadi secara berkesinambungan. Tiga, empat, lima, hingga belasan orang menjadi korban. Bahkan, kontrak mati itu tak pandang usia. Dari yang termuda saat belasan tahun sampai usia nyaris kepala empat!

Hingga, tren negatif itu terhenti pada akhir 2011. Tepatnya setelah salah satu kawan kami mengalami kematian yang lebih tragis dibanding Indra dan lainnya. Tanpa perlu diceritakan akibat efek yang buruk di lingkungan kami. Sampai, di antara pengurus di wilayah kami berembuk dengan pemuda dan remaja. Yaitu, bagaimana caranya agar kampung kami bebas dari narkoba.

Sebab, harus diakui bahwa, kematian teman atau keluarga, toh tidak membuat para pemakai itu takut. Itu kian membuktikan bahwa berhubungan dengan narkoba hanya ada dua jalan untuk berhenti. Yaitu tewas akibat overdosis dan ditangkap aparat keamanan.

Mirisnya lagi, ada beberapa remaja yang masuk sel, setelah keluar kian menjadi-jadi. Lantaran, di hotel prodeo, mereka malah lebih mudah mendapatkan barang tersebut. Sebuah fakta yang membuat kami bergidik. Wajar jika seusai bebas dari penjara, mereka malah petantang-petenteng. Ibaratnya, mereka sudah tidak takut lagi dengan aparat keamanan karena selama di dalam sel sudah menjadi kawan!

Beruntung, ikatan kekeluargaan di kampung kami sangat kental. Jadi, meski ada satu orang yang sengak sekalipun, kami tetap bahu-membahu untuk membimbingnya. Meski, itu tidak mudah. Pasalnya, pekerjaan di kolong langit yang sia-sia itu ada dua. Pertama, menasihati orang yang sedang jatuh cinta. Kedua, membimbing orang yang sudah menjadi pecandu narkoba.

Untuk yang kedua, ini bukan guyon. Sebab, saya sendiri pernah melihat, bagaimana, kami bersama pengurus wilayah seperti RT, RW, Kelurahan dan Karang Taruna, harus kepayahan menangani warga yang sudah terjerumus narkoba. Selain harus menghadapi intimidasi dari bandar lokal dan pengecer, juga karena orang yang kadung menjadi pecandu seperti tak merespons niat kami. Bahkan, ada kawan satu angkatan saya yang harus dikejar-kejar temannya dengan membawa golok saat memberi penyuluhan tentang narkoba!

Namun, seperti kata pepatah, bahwa di dunia ini tiada yang mustahil. Berkat, kerja keras pengurus wilayah dan Karang Taruna yang sudah muak akibat banyak warganya yang tewas atau diciduk aparat keamanan akibat mengkonsumsi narkoba. Mereka, siang malam terus berupaya menyadarkan warganya, terutama remaja untuk lepas dari narkoba.

Salah satunya dengan memberangkatkan pemakai ke pesantren untuk direhabilitasi. Lalu, mengajak orangtua atau keluarga pecandu untuk tidak menjauhinya. Melainkan, justru, dirangkul agar pengguna narkoba tidak merasa terisolasi di kampungnya sendiri. Termasuk yang tidak memiliki orangtua, karena ada sebagian dari pecandu yang sejak kecil sudah yatim piatu. Dan banyak lagi.

Apakah cara itu berhasil? Untuk saat ini bisa dikatakan iya. Sebab, banyak di antara pecandu yang akhirnya benar-benar bersih dan kembali membaktikan dirinya untuk masyarakat. Namun, harus diakui jika upaya yang dilakukan pengurus wilayah dan Karang Taruna hanya mengurangi. Bukan menghentikan peredaran narkoba itu sendiri.

Sebab, pengguna narkoba itu ibarat Medusa. Yaitu, yang sembuh satu, yang memakainya dua. Terlebih, saat ini banyak beredar jenis narkoba yang sangat menggiurkan terutama bagi remaja belasan tahun. Tugas ini yang masih dilakukan para pengurus wilayah dan Karang Taruna.

Yang pasti, sedikitnya saya bisa bernafas lega. Sebab, setelah 2011, saya tidak lagi menyaksikan orang yang meregang nyawa akibat overdosis.*

Artikel tentang BNN dan Narkoba lainnya:
- Komitmen Slank Rela Tidak Dibayar untuk Konser Anti Narkoba/ Lomba Blog BNN
- Presiden dan Kepala BNN Kompak: Bandar Narkoba harus Dihukum Mati!
- Profil Anang Iskandar: Calon Kapolri yang Merupakan Blogger Aktif
Kenapa Harus Blogger yang Kampanye?
Diskusi Blogger dengan Kepala BNN yang Juga Blogger
- Sinergi BNN dan Blogger untuk Mengatasi Darurat Narkoba 
- Narkoba: Berawal dari Coba-coba, Ketagihan, hingga Maut Menjemput (Artikel di Okezone.com)

- Pentingnya Terapi Keluarga untuk Kesembuhan Pengguna Narkoba
Mengapa Pecandu Narkoba Harus Lapor?
Alasan Rehabilitasi bagi Pengguna Narkoba
Bagaimana Menjauhkan Anak dari Narkoba?
Yuk, Mengenali Ciri-ciri Pengguna Narkoba
Kenapa Harus Blogger yang Kampanye?
Narkoba dan Faktor “Kegalauan” Anak Muda
Yuk, Hadiri Diskusi bersama BNN bertema 2014 Bebas Narkoba
Narkoba: Berawal dari Coba-coba, Ketagihan, hingga Maut Menjemput
Kisah Inspiratif Dua Kompasianer di Acara Titik Balik
Mengenalkan Bahaya Narkoba melalui Game Online
Peran Orang Tua dalam Mengatasi Tren Merokok di Kalangan Remaja
Langkah Awal BNN dalam Memberantas Narkoba
Penghormatan Terakhir Presiden SBY untuk Pahlawan
Jokowi Sang Gubernur Gaul

*      *      *

- Jakarta, 14 Mei 2015

Rabu, 10 Juni 2015

Museum Nasional dan Saksi Peninggalan Kejayaan Indonesia


Museum Nasional Gedung B (sumber foto: koleksi pribadi/ www.roelly87.com)

SEPASANG anak manusia terlihat antusias mengamati puluhan arca. Yang pria mencatat melalui buku kecilnya. Sementara, yang wanita asyik memotret hingga ke sudut terkecil sebuah patung. Sebenarnya, pemandangan tersebut sangat lazim terjadi di mana saja. Termasuk museum yang dikenal sebagai tempat menyimpan benda bersejarah.

Namun, yang membuat mata saya terbelalak adalah ketika mengetahui pasangan tersebut berambut pirang. Selidik punya selidik, ternyata mereka merupakan warga negara asing (WNA) atau yang sehari-hari dipanggil "bule".

Ada rasa bangga menyaksikan antusiasme mereka berbaur dengan puluhan warga Indonesia. Dalam sebuah perkenalan singkat dengan kami, keduanya mengaku berasal dari Berlin, Jerman. Alasan mereka tertarik dengan beragam benda yang ada di ruangan itu karena sejak masih di negara asalnya, keduanya penasaran dengan keanekaragaman budaya Indonesia!

Ya, peristiwa itu terjadi pertengahan bulan lalu. Tepatnya ketika kami menghadiri Festival Hari Museum Internasional dan peringatan 237 Tahun Museum Nasional Indonesia di Museum Nasional Indonesia,  Minggu (17/5). Dalam acara tersebut, banyak dipamerkan beberapa koleksi dari tempat yang sebelumnya bernama Museum Gajah.

Mulai dari tapak tilas museum di seluruh Indonesia, peragaan busana di Tanah Air, kompetisi nyanyi lagu nasional untuk anak-anak, hingga puncaknya saat penutupan yang dihadiri Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Anies Baswedan (24/5).

*       *       *
Satu pertanyaan yang paling sering ditujukan kepada saya dari beberapa rekan. "Kenapa sih lu suka ke museum?"

Sebenarnya, sebagai blogger -atau ketika sedang menjalankan tugas di lapangan- mengunjungi museum jadi salah satu keasyikan tersendiri. Sejak masih berseragam putih-merah (SD), saya memang sudah menggemari destinasi ke museum. Bahkan, ketika bekerja di pertambangan di pedalaman Sumatera dan Kalimantan, museum merupakan tempat favorit saya.

Tentu, selain mal (bioskop) dan taman sebagai tempat mencari inspirasi. Sebab, dengan mengunjungi museum, kita tidak hanya bisa menambah wawasan saja. Melainkan juga membangkitkan semangat akan kejayaan nenek moyang yang harus dipertahankan!

Salah satunya ketika saya mengunjungi Museum Nasional yang terletak di sebelah barat Monumen Nasional (Monas). Di museum yang di halamannya terdapat patung gajah pemberian Raja Thailand Chulalongkorn ini, saya dan pengunjung bisa sejenak melongok peninggalan para leluhur.

Apa saja? Baik itu arca, patung, prasasti, perlengkapan masak, musik, alat tulis, keramik, peta, dan sebagainya. Entah itu yang terbuat dari bahan perunggu, perak, tanah liat, hingga emas! Ya, nyaris seluruh koleksi benda bersejarah yang ada di seluruh penjuru nusantara berada di Museum Nasional yang tersebar di dua tempat. Yaitu, Gedung Lama (atau biasa disebut Gedung A) yang digunakan untuk memamerkan koleksi museum dan ruang penyimpanan koleksi.

Sementara, Gedung B (gedung Arca) yang diresmikan pada 20 Juni 2007 oleh mantan Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono, dimanfaatkan untuk ruang pameran. Mulai dari lantai satu sampai empat seperti saat Festival Hari Museum Internasional. Selain itu, Gedung B juga kerap digunakan untuk kantor pengelola, ruang konferensi, laboratorium, hingga perpustakaan lengkap mengenai khasanah sejarah nusantara.

Menurut Kepala Museum Nasional Intan Mardiana, terdapat sekitar 140 ribu benda di kedua gedung tersebut. Jumlah yang membuat saya kagum sekaligus malu. Sebab, sebagai rakyat Indonesia, justru saya kalah antusias dengan pasangan warga Jerman yang saya temui itu demi mencari tahu peninggalan negara lain.

Padahal, Museum Nasional bagi saya sudah tidak asing lagi. Sebab, saya kerap mengunjunginya nyaris setiap tahun. Terutama jika ada festival sejak 2011 hingga tahun ini (2015). Ya, meski dua tahun lalu museum ini sempat kecolongan akibat hilangnya beberapa barang berharga. Namun, insiden itu tidak mengurangi rasa suka saya untuk kembali lagi, lagi, dan lagi.

Bisa dipahami mengingat Museum Nasional ini sudah dibenahi lebih baik. Mereka (manajemen) telah belajar dari kasus pencurian tersebut dengan memasang pengamanan melalui kamera pengawas (CCTV) terhadap beberapa benda yang dianggap pusaka. Yang menarik, upaya pengamanan di Museum Nasional ini tetap tidak mengganggu kenyamanan pengunjung yang ingin menyaksikan beberapa koleksi dari emas.

Apalagi, demi menyaksikan berbagai peninggalan nenek moyang kita itu, pengunjung tidak harus merogoh kocek banyak. Cukup Rp 5.000 untuk dewasa dan Rp 2.000 (anak-anak). Sementara, waktu buka Museum Nasional sama seperti museum lainnya, dari Selasa hingga Minggu (Senin atau hari libur tutup).

*       *       *
Patung Gajah pemberian raja Thailand di Gedung A (@roelly87)

*       *       *
Patung Dewa Siwa (@roelly87)

Patung Ganesha (dewa dalam mitologi India) (@roelly87)
*       *       *

Beberapa mahkota dari emas (@roelly87)
*       *       *

Arca yang terbuat dari logam mulia (@roelly87)
*       *       *

Keris dan senjata dari emas (@roelly87)
*       *       *

Peta raksasa persebaran suku di Indonesia (@roelly87)
*       *       *


Lokasi Museum Nasional yang ditandai biru (Ilustrasi via Google Earth yang sudah diolah kembali @roelly87)
SEKILAS TENTANG MUSEUM NASIONAL

Lokasi: Jalan Medan Merdeka Barat No 12, Jakarta Pusat
Akses: Halte Busway Monas, Stasiun Gambir

Waktu Kunjungan:
Senin dan hari besar nasional tutup
Selasa - Jumat: 08.00 - 16.00 WIB
Sabtu - Minggu: 08.00 - 17.00 WIB

Tarif: 
- Perorangan
Dewasa: Rp 5.000
Anak-anak: Rp 2.000

- Rombongan (minimal 20 orang)
Dewasa: Rp 3.000
Anak-anak (TK s/d SMA): Rp 1.000

- Pengunjung Asing: Rp 10.000

*       *       *
*       *       *

- Cikini, 10 Juni 2015

Jumat, 05 Juni 2015

Komitmen Slank Rela Tidak Dibayar untuk Konser Anti Narkoba

Dua personel Slank, Ridho dan Kaka menyapa puluhan ribu Slankers dalam #KonserSore2WithSlank (Sumber foto: Dokumentasi pribadi/ www.roelly87.com)
"KAMI, berharap kalian, para Slankers tidak mengikuti jejak Slank yang pernah terjerumus narkoba. Untuk itu, mari kita perangi narkoba dari bumi Indonesia ini!" demikian pernyataan Bimo Setiawan alias Bimbim, frontman sekaligus drumer Slank saat membuka konser menyambut Hari Anti Narkoba Internasional (HANI) di Lapangan D Senayan, kemarin.

Dalam kesempatan itu, Bimbim mengimbau puluhan ribu Slankers -julukan penggemar Slank- yang hadir dalam konser bertajuk #KonserSore2WithSlank itu untuk tidak mengkonsumsi narkotik dan obat-obatan terlarang (narkoba). Kenapa? Sebab, mereka pernah memiliki pengalaman memilukan akibat terpengaruh dari zat haram tersebut yang membuat Slank nyaris bubar.

Wajar jika Bimbim mewakili Slank bersedia memenuhi undangan Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk menyelenggarakan konser menyambut HANI yang diperingati setiap 26 Juni. Bahkan, demi mendukung penuh acara tersebut, band yang berdiri sejak 23 Desember 1983 ini rela tidak mendapat bayaran sepeser pun dari BNN!

"Ya, Slank memang tidak mau dibayar untuk konser ini. Itu sesuai dengan komitmen mereka sebagai Duta Anti Narkoba," kata Direktur Diseminasi Informasi Bidang Pencegahan BNN Gun Gun Siswadi yang didampingi beberapa pejabat teras BNN lainnya. Dua di antaranya yang sudah dikenal luas kalangan blogger karena pekan lalu mengisi acara workshop Pencegahan dan Pemberantasan, Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba di Restoran Nusa Dua, Senayan (26/5). Mereka adalah Deputi Pencegahan BNN Antar Sianturi serta Kabag Humas Slamet Pribadi.

Tak lupa, #KonserSore2WithSlank juga turut dihadiri Kepala BNN Anang Iskandar. Sosok yang menyandang pangkat Komisaris Jenderal Polisi (Komjen) ini sempat berdialog dengan Slankers, "Kami pesan kepada teman-teman Slankers, kalau memiliki keluarga atau kerabat yang masih menggunakan narkoba, agar melaporkan ke BNN. Nanti, mereka TIDAK AKAN DIPENJARA, melainkan DIREHABILITASI supaya bisa sembuh."

Menurut blogger aktif di www.anangiskandar.wordpress.com itu, berharap #KonserSore2WithSlank ini tidak hanya sekadar jadi tontonan saja. Melainkan juga tuntunan kepada generasi yang akan datang mengenai kesadaran terhadap narkoba. "Dulu mereka (Slank) pecandu narkoba. Tapi, setelah menyaksikan langsung teman-temannya yang sakit atau tewas, akhirnya Slank sadar. Bahwa, narkoba itu justru merugikan pemakainya," ucap perwira aktif dengan tiga bintang di pundak ini yang disambut anggukan puluhan ribu Slankers.

Apa yang diucapkan Anang beralasan. Sebab, personil Slank -minus Abdee Negara yang masih sakit- yaitu Bimbim, Kaka (Akhardi Wira Satriaji), Ridho (Mohammad Ridwan Hafiedz), dan Ivanka (Ivan Kurniawan) juga serempak menyatakan. Bahwa, tujuan melaksanakan konser ini demi mengingatkan penggemarnya terhadap bahaya narkoba. Pesan itu selalu diucapkan mereka, khususnya melalui sang vokalis, Kaka, di setiap jeda saat membawakan sekitar belasan lagu.

#KonserSore2WithSlank ini juga dimeriahkan beberapa band pendukung yang kompak saling mengingatkan puluhan ribu Slankers yang datang di Lapangan D tentang pengalaman pahit mengkonsumsi narkoba. Bahkan, manajer Slank, Iffet Viceha Sidharta, lantang mengingatkan bagaimana pilunya ketika mengetahui perubahan drastis dari personel Slank, khususnya Bimbim sebagai anaknya saat masih menggunakan narkoba pada 1990-an.

"Saya mah berharap kalian-kalian, para Slankers tidak ada yang mengikuti jejak Slank yang dulu pernah terjerumus narkoba," ujar sosok yang akrab disapa Bunda Iffet ini seusai berkolaborasi melantunkan beberapa lagu hits Slank.

Yang menarik, selain aksi panggung, #KonserSore2WithSlank ini juga menyuguhkan aksi akustik dari mantan pecandu narkoba yang kini sudah pulih. Bahkan, sesuai dengan Program Gerakan Rehabilitasi 100 Ribu Penyalahguna Narkoba, BNN turut menyediakan posko konsultasi untuk Slankers yang bermasalah dengan narkoba.

*      *      *
Komitmen ribuan Slankers terhadap Program 100.000 Rehabilitas Pecandu Narkoba (@roelly87)

*      *      *

Beberapa booth dari Slankers, posko konsultasi, dan Pusjarah TNI (@roelly87)
*      *      *

Bunda Iffet (tengah) turut mengingatkan Slankers atas pengalaman buruk Slank (@roelly87)
*      *      *

Tiga pejabat BNN, Antar Sianturi, Gun Gun Siswadi, dan Slamet Pribadi (@roelly87)
*      *      *

Kepala BNN Anang Iskandar saat menyampaikan pesan di atas panggung (@roelly87)
*      *      *

Puluhan ribu Slankers memadati Lapangan D Senayan (@roelly87)
*      *      *

Bimbim dan Ivanka yang selalu menyelipkan pesan untuk meninggalkan narkoba di setiap jeda lagu (@roelly87)
*      *      *

Slogan Rehabilitasi untuk pengguna dan bukan penjara (@roelly87)
*      *      *

SEKILAS info untuk rekan-rekan blogger di Tanah Air. Badan Narkotika Nasional (BNN) melalui Deputi Bidang Pencegahan (Indonesia Bergegas) mengadakan lomba menulis blog untuk menyambut Hari Anti Narkoba Internasional (HANI) pada 26 Juni mendatang.

Tema lomba tersebut adalah Hidup Sehat Tanpa Narkoba dengan memberi hashtag di twitter #LombaBlogBNN  dan di-mention ke akun twitter resmi BNN di @INFOBNN dan @BNNBergegas. Seperti yang disinggung Direktur Diseminasi Informasi Bidang Pencegahan BNN Gun Gun Siswadi saat workshop Pencegahan dan Pemberantasan, Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba bersama 50 blogger di Restoran Pulau Dua, Senayan (26/5).

Tujuan lomba menulis blog ini untuk mendorong partisipasi dan kepedulian masyarakat atas bahaya penyalahgunaan narkoba. Lomba blog ini terbuka bagi semua kalangan, tua muda, dan laki perempuan. Yang menarik, tidak ada persyaratan khusus bagi calon peserta. Alias bebas (kalau ada sumber dari luar/ situs berita/ blog lain harap mencantumkan secara jelas) dan gaya penulisan atau penyampaiannya terserah rekan-rekan blogger.

Untuk pemenang akan diberi penghargaan atau hadiah menarik dari BNN. Selain itu, bisa saja karya teman-teman blogger yang memenuhi syarat akan diterbitkan menjadi buku bersama tulisan peserta lain yang terpilih. Oh ya, deadline lomba hingga 10 Juni 2015 pukul 00.00 WIB DIPERPANJANG hingga 30 JULI 2015. . Ayo, kita berpartisipasi mewujudkan Indonesia Bebas Narkoba melalui tulisan!

Hadiahnya berupa:
Juara 1 mendapat Xiaomi Note 4G
Juara 2 mendapat Xiaomi Redmi2
Juara 3 mendapat Asus Zenfone C

Seleksi lomba Juni-30 Juli dan pengumumuan pemenang 5 Agustus. (@BNNBergegas)

website BNN: www.bnn.go.id
website Indonesia Bergegas:  indonesiabergegas.bnn.go.id
akun twitter BNN: @INFOBNN
akun twitter Indonesia Bergegas: @BNNBergegas
akun twitter Gun Gun Siswadi (Direktur Diseminasi Informasi): @gunsiswadi
akun twitter Antar Sianturi (Deputi Pencegahan): @DRAntarMTSIantu
akun twitter Slamet Pribadi (Kabag Humas): @slametpribadi
akun facebook Thamrin Dahlan (Koordinator blogger): @ThamrinDahlan


*      *      *
Artikel tentang BNN dan Narkoba lainnya:
- Presiden dan Kepala BNN Kompak: Bandar Narkoba harus Dihukum Mati!
- Profil Anang Iskandar: Calon Kapolri yang Merupakan Blogger Aktif
Kenapa Harus Blogger yang Kampanye?
Diskusi Blogger dengan Kepala BNN yang Juga Blogger
- Sinergi BNN dan Blogger untuk Mengatasi Darurat Narkoba 

- Pentingnya Terapi Keluarga untuk Kesembuhan Pengguna Narkoba
Mengapa Pecandu Narkoba Harus Lapor?
Alasan Rehabilitasi bagi Pengguna Narkoba
Bagaimana Menjauhkan Anak dari Narkoba?
Yuk, Mengenali Ciri-ciri Pengguna Narkoba
Kenapa Harus Blogger yang Kampanye?
Narkoba dan Faktor “Kegalauan” Anak Muda
Yuk, Hadiri Diskusi bersama BNN bertema 2014 Bebas Narkoba
Narkoba: Berawal dari Coba-coba, Ketagihan, hingga Maut Menjemput
Kisah Inspiratif Dua Kompasianer di Acara Titik Balik
Mengenalkan Bahaya Narkoba melalui Game Online
Peran Orang Tua dalam Mengatasi Tren Merokok di Kalangan Remaja
Langkah Awal BNN dalam Memberantas Narkoba
Penghormatan Terakhir Presiden SBY untuk Pahlawan
Jokowi Sang Gubernur Gaul

*      *      *
- Cikini, 5 Juni 2015

Senin, 01 Juni 2015

Pengalaman Pertama Menyantap Ramen Khas Jepang di IPPUDO Indonesia


Tokyo Chicken Shoyu Ramen dari IPPUDO Indonesia (Sumber foto: dokumentasi pribadi/ www.roelly87.com)

KONSISTENSI dan inovasi merupakan kunci utama untuk meraih kesuksesan. Termasuk di bidang usaha, khususnya yang bergerak di sektor kuliner. Fakta itu yang mendasari Shigemi Kawahara saat mendirikan restoran ramen bernama IPPUDO di Hakata, Jepang, pada 1985. Setelah 30 tahun, restoran tersebut berkembang sangat pesat karena mampu mempertahankan keaslian rasa yang jadi ciri khasnya serta inovasi tiada henti terhadap produknya.

Bahkan, berkat konsistensinya dalam memanjakan pelanggan, IPPUDO yang awalnya hanya rumah makan dengan 10 tempat duduk itu kini sukses melebarkan sayapnya dengan membuka 80 restoran di Jepang dan 45 gerai di luar negeri. Mulai dari di New York, Amerika Serikat (AS) pada 2008 hingga "menginvasi" negara tetangganya, Korea Selatan, di Seoul (2011). Teranyar, IPPUDO membuka cabangnya di Jakarta pada 1 Oktober 2014 di mal Pacific Place, lantai 5, unit 5.37, Jakarta Selatan.

Kebetulan, saya mendapat kehormatan untuk bisa menjadi yang pertama mencicipi dua menu hasil dari inovasi IPPUDO Indonesia yang akan diperkenalkan secara umum hari ini, Senin, 1 Juni 2015. Itu setelah saya menghadiri undangan eksklusif bersama rekan-rekan blogger lainnya pada Selasa (26/5). Dalam acara tersebut, IPPUDO Indonesia memperkenalkan menu ramen ayam pertama dalam sejarah mereka yang khusus ditujukan untuk pencinta ramen di Indonesia.

Pertama, "Tokyo Chicken Shoyu Ramen" yang merupakan mie segar yang disajikan dengan kuah kaldu beserta bakso ikan, olahan rebung, dan dilengkapi potongan ayam. Kedua, "Spicy Chicken Ramen", dengan rasa pedas yang spesial karena dibubuhi cabe rawit dan sambal khusus serta kaldu ayam yang didapat dari rebusan sari pati ayam selama lebih dari lima jam.

Bagaimana rasanya? Bagi saya yang menyantap Tokyo Chicken Shoyu Ramen, kesannya rame banget. Rasa daging ayam dan topping-nya bikin nagih. Apalagi, bumbunya itu membuat saya meresapi setiap sendok demi sendok. Jujur saja, ini kali pertama saya memakan ramen khas Jepang. Biasanya, saya hanya menyantap mie instant atau mie ayam yang dijual melalui gerobak di depan rumah.

Jadi, sempat terlintas penasaran dalam diri saya. Kok bisa ya, mie (ramen) yang baru saya makan selezat ini. Hingga, membuat saya tertarik untuk mengulik lebih lanjut mengenai resepnya saat Operations Consultant IPPUDO Indonesia, Mikami Takashi, mendatangi meja kami satu per satu. Maklum, sebagai blogger, saya harus kritis untuk membuktikan apa yang saya tulis memang berdasarkan pengalaman pribadi dan bukan "apa kata orang". Gunanya, agar postingan saya lebih bernyawa saat dibaca khalayak ramai.

Dalam kesempatan itu, Takashi yang didampingi Regional Director IPPUDO Malaysia, Thailand, dan Indonesia Ng Yin Ching ini memberi penjelasan lebih lanjut. Bahkan, mereka dengan antusias menjawab pertanyaan saya mengenai alasan IPPUDO tergolong telat membuka cabangnya di Indonesia. Maklum, di dua negara tetangga lainnya, IPPUDO sudah lama membuka gerai. Di Singapura pada 2009 dan  Kuala Lumpur (Malaysia) 2013.

Menurut Takashi yang diterjemahkan Yin Ching, salah satu alasannya karena mereka harus melakukan riset lebih mendalam mengenai ramen kepada masyarakat Indonesia.Yaitu, dengan mengolah ramen khusus supaya rasanya pas dengan lidah masyarakat sini.

Untuk itu, IPPUDO Indonesia juga memisahkan peralatan dan perlengkapannya dari menu ramen pork. Seperti yang diperagakan Takashi dengan menunjukkan sumpit, sendok, dan mangkok yang berbeda di hadapan puluhan blogger. Termasuk dengan dapur yang terpisah sendiri untuk menu chicken. Alhasil, saya dan rekan-rekan blogger muslim lainnya tidak perlu khawatir lagi jika suatu saat ingin kembali "menggoyang lidah" di IPPUDO Indonesia.
*       *       *

Oh ya, restoran yang setiap harinya melayani lebih dari 50.000 pelanggan di seluruh dunia ini juga memiliki banyak menu selain ramen. Di antaranya yang saya cicipi langsung, yaitu menu pembuka yang merupakan kombinasi Seared Salmon Roll with Mentaiko, Grilled Chicken Bun, dan Spicy Shrimp Mayo.

Rasanya? Kecuali yang terakhir (karena saya alergi udang, cumi, dan kerang), saya berani acungkan dua jempol. Seared Salmon Roll with Mentaiko semacam kue yang dibuat dari Ikan Salmon dengan bumbu mentaiko (terasi) yang di atasnya ditaburi telur ikan cod. Sedangkan Grilled Chicken Bun seperti yang sudah kita kenal. Berbentuk mirip bakpao yang diisi daging ayam bakar serta ditambahkan saus teriyaki.

Makanan beratnya (Tokyo Chicken Shoyu Ramen) sudah. Begitu juga dengan menu pembuka yang sukses memantik selera makan saya. Terakhir, bagaimana dengan minumannya? Saat itu, kami merasakan sensasi kesegaran dan rasa manis yang alami dari Strawberry Fizz. Minuman dengan rasa stroberi ini merupakan salah satu andalan utama IPPUDO Indonesia.

Oh ya, satu hal lagi yang saya baru tahu mengenai ramen. Ternyata,untuk menikmati ramen ada cara tersendiri yang disebut Zuzutto, Alias menyeruput ramen tanpa terputus dari sumpit dengan bersuara demi mendapatkan Nodogoshi. Apa lagi itu? Menurut Takashi, Nodogoshi adalah merasakan sensasi dari kelembutan ramen. Versi lainnya kata salah satu pramusaji yang saya lupa namanya, Zuzutto dilakukan pelanggan yang menghormati kerja keras dari pembuat ramen.

Sayangnya, hingga sumpit terakhir, saya belum bisa melakukan Zuzutto, karena selalu terputus. Bisa dipahami mengingat ini pengalaman pertama saya menyantap ramen khas Jepang. Meski begitu, suatu saat saya akan mencobanya kembali mengingat lokasi IPPUDO Indonesia hanya seperlemparan batu dari tempat saya kerja.

Tentang IPPUDO Indonesia

Alamat Restoran: Mal Pacific Place lantai 5, Unit 37, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan
Akses: Terintegrasi kawasan Sudirman Central Business District (SCBD), dekat halte busway Polda Metro Jaya dan Gelora Bung Karno
Jam Buka: Setiap hari mulai pukul 11 hingga 22.00 WIB
Kapasitas Restoran: 66 kursi
Reservasi: 021-57973339

Website: http://ippudo.co.id
Twitter: @IppudoIDN
Facebook: Ippudo Indonesia
Instagram: @IppudoIndonesia

*       *       *
Mikami Takashi memperagakan cara Zuzutto (@roelly87)

*       *       *

Kesegaran Strawberry Fizz yang mampu membuat saya merem melek (@roelly87)
*       *       *
Kombinasi hidangan pembuka dari kiri ke kanan: Seared Salmon Roll with Mentaiko, Spicy Shrimp Mayo, dan Grilled Chicken Bun (@roelly87)
*       *       *
Reaksi rekan-rekan blogger yang mengabadikan dua menu ramen inovasi dari IPPUDO Indonesia (@roelly87)

*       *       *

Dibalik hidangan yang lezat terdapat koki yang hebat (@roelly87)
*       *       *

IPPUDO Indonesia di mal Pacific Place lantai 5, unit 5.37 (@roelly87)
*       *       *

- Cikini, 1 Juni 2015