TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Titik Nadir Sepak Bola Italia?

Google Adsense 2016

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya
Ngebolang Menikmati Eksotisnya Kawasan Timur Pulau Jawa

Mengupas Sisi Lain dari Sudut Pandang Blogger...

Sabtu, 19 Maret 2016

Titik Nadir Sepak Bola Italia?


Massimiliano Allegri dan Paul Pogba saat Juventus tur ke Indonesia, 5 Agustus 2014
"Italy have no team in the quarter final of the Champions/Europa League (Coppa UEFA inc.) for the first time since 2000/01. Tragic."

Membaca cuitan dari Opta, kemarin, membuat saya miris. Betapa tidak, Seri A yang pada dekade 1990-an dinobatkan sebagai kiblat sepak bola dunia, kini tanpa wakil di dua kompetis Eropa yang memasuki perempat final.

Padahal, Italia mengirim enam wakilnya musim ini. Juventus, AS Roma, dan Lazio, di Liga Champions. Sementara, Fiorentina, Napoli, dan Lazio, di Liga Europa. Ironisnya, tidak ada satu pun dari mereka yang melaju ke babak delapan besar. Itu mengapa Opta menyebutnya tragis, mengingat ini kali pertama sejak 2000/01, Seri A tanpa wakil di Liga Champions dan Liga Europa (dulu Piala UEFA).

Kemerosotan itu diawali tersingkirnya Sampdoria pada kualifikasi ketiga Liga Europa. "Il Samp" kalah 0-4 di markas sendiri, Stadion Luigi Ferraris (30/7) dari klub yang bisa dibilang antah berantah, FC Vojvodina. Sepekan kemudian, mereka memang menang 2-0 di markas tim asal Serbia tersebut. Namun, itu tidak cukup karena agregat jadi 2-4.

Dua tim lainnya menyusul untuk mengemas koper pada 32 besar. Napoli disingkirkan Villarreal, agregat 1-2, dan Fiorentina dikecundangi Tottenham Hotspur (agregat 1-4).

Lazio mengulangi kegagalan Sampdoria dengan tereliminasi pada play-off Liga Champions dari Bayer Leverkusen, agregat 1-3. Beruntung, "Elang Ibu Kota" itu dapat jatah di Liga Europa yang sayangnya terhenti pada 16 besar. Mereka, awalnya tampil gagah dengan menahan 1-1 di markas Sparta Praha (10/3). Namun, sepekan kemudian malah dikecundangi klub asal Ceko itu di kandang sendiri, Stadion Olimpico, dengan gelontoran tiga gol tanpa balas!

Klub sekota Lazio, Roma secara menyedihkan juga dipulangkan Real Madrid pada 16 besar Liga Champions, dengan agregat 0-4. Masing-masing dengan skor 0-2 di markas sendiri, Olimpico, dan Stadion Santiago Bernabeu.

*       *       *
Harapan satu-satunya wakil Italia ada pada Juventus. Sayangnya, nasib peraih scudetto empat musim beruntun itu lebih tragis lagi. Pasukan Massimiliano Allegri sukses menahan Bayern Muenchen 2-2 setelah tertinggal dua gol lebih dulu pada leg pertama 16 besar di Juventus Stadium (23/2). Hanya, tiga pekan kemudian, runner-up Liga Champions musim lalu itu dipermalukan Muenchen 2-4 di Fussball Arena, hingga agregat jadi 4-6.

Kegagalan Juventus membuat Italia semakin sulit untuk mengejar Inggris dalam koefisien UEFA yang berujung pemberian empat tiket ke Liga Champions. Berdasarkan rilis resmi Asosiasi Sepak Bola Eropa per 18 Maret, Italia masih menempati urutan empat dengan 70.439 poin. Seri A tertinggal jauh dibanding Inggris yang berada di posisi tiga dengan 74.784 poin, Jerman (78.781), dan Spanyol (100.713).

Itu berarti, hingga 2018/19, Italia masih hanya mengirim tiga tim di Liga Champions (satu dari play-off). Sebab, sesuai regulasi, hanya negara di posisi tiga besar koefisien UEFA yang berhak mempunyai empat wakil di Liga Champions.

Padahal, musim lalu, Italia nyaris mendekati Inggris ketika menempatkan tiga wakilnya di semifinal dua kompetisi Eropa. Juventus di Liga Champions yang akhirnya jadi runner-up dan Napoli-Lazio di semifinal Liga Europa. Pada saat yang sama, tidak ada wakil Inggris sama sekali di perempat final dua kompetisi tersebut.

Tapi, kini sebaliknya. Inggris diwakili dua tim (Manchester City di Liga Champions dan Liverpool di Liga Europa). Sementara, Jerman ada tiga klub (Muenchen dan Wolfsburg di Liga Champions dan Borussia Dortmund di Liga Europa). Di sisi lain, Spanyol, masih mendominasi dengan enam tim sekaligus (Barcelona, Real Madrid, dan Atletico Madrid di Liga Champions, serta Sevilla, Athletic Bilbao, dan Villarreal di Liga Europa).

Dengan fakta tersebut, timbul pertanyaan yang jawabannya bisa kita cari pada rumput yang bergoyang. Apakah musim ini jadi titik nadir sepak bola Italia di kancah Eropa?

*       *       *
Wakil Italia yang Mencapai Perempat Final di Kompetisi Eropa sejak 2001/02

Liga Champions
2001/02 -
2002/03 AC Milan, Juventus, FC Internazionale
2003/04 AC Milan
2004/05 AC Milan, Juventus, FC Internazionale
2005/06 AC Milan, Juventus, FC Internazionale
2006/07 AC Milan, AS Roma
2007/08 AS Roma
2008/09 -
2009/10 FC Internazionale
2010/11 FC Internazionale
2011/12 AC Milan
2012/13 Juventus
2013/14 -
2014/15 Juventus
2015/16 -

Liga Europa/Piala UEFA
2001/02 FC Internazionale, AC Milan
2002/03 Lazio
2003/04 FC Internazionale
2004/05 Parma
2005/06 -
2006/07 -
2007/08 Fiorentina
2008/09 Udinese
2009/10 -
2010/11 -
2011/12 Lazio
2012/13 Lazio, FC Internazionale
2013/14 Juventus
2014/15 Napoli, Fiorentina
2015/16 -
*       *       *
Referensi: Twitter Opta, Arsip UEFA

*       *       *
Seri Liga Champions 2015/16:
Akhir Tragis dari Strategi Memunggungi Sungai ala Han Xin (Bei Shui Yi Zhan)
Menanti Juventus Menguji Sejarah
Tujuh Tempat Nobar Asyik di Jakarta
Apalah Artinya Sebuah Nama
Ketika Pep di-PHP Max
*       *       *
Jakarta, 19 Maret 2016

15 komentar:

  1. iya e mas. italia sekarang udah kayak dulu. pemain2 bintang udah g banyak di italia juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju mas...
      harus diakui, seri a memang tertinggal dari liga primer inggris dan la liga spanyol. bahkan, sama bundesliga jerman aja masih kalah :)

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  3. Sepertinya tim-tim dari Spanyol masih tetap stabil yah terutama di Lige Eropa, bahkan menariknya meski liga Spanyol didominasi oleh klub yang 'itu-itu' aja (Barca, El Real, Atletico) tetapi di kompetisi Eropa tim-tim lainnya (Bilbao, Sevilla, Valencia, Villareal) bisa dominan juga yah hehe.

    Salam kenal. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener mas analisisnya
      mungkin, sejak pertengahan 2000-an hingga sekarang jadi periode emas la liga spanyol kayak italia era 1990-an :)

      Hapus
    2. Yap, sepakat. :D

      Yang saya khawatir beberapa musim ke depan gilirannya klub-klub liga Inggris yang loyo di Eropa hehe. :"D

      Hapus
    3. hi hi hi
      bisa jadi mas, siklus di liga champions kadang masih berlaku :)

      begitu juga dengan klub spanyol yang mungkin masih bertakhta hingga 2-3 tahun ke depan...

      Hapus
  4. jadi enaknya gimana neh? cara untuk memajukan seri A? biar bisa nyamaen liga super indonesia, #emank masih ada?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hi hi hi
      liga super indonesia itu sebenarnya bagus banget, jadi barometer di asean bahkan asia
      cuma, karut marut pengelola dan pemerintah bikin kompetisi berantakan...

      Hapus
  5. duh kapan ya aku teracuni lagi nonton bola kayu dulu

    BalasHapus
    Balasan
    1. ajak suaminya lagi aja mbak
      kan sama2 fans manchester united :)

      Hapus
  6. italia perlu berusaha keras lagi nih.
    padahal dulu saya suka nonton liga italia, tapi sekarang :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mas, perputaran roda masih kenceng
      mungkin, ini mungkin ya, buat italia kembali ke kejayaannya kayak 1990-an sampe pertengahan 2000-an, sektiar 10-15 tahun lagi
      dengan syarat, mereka berani memainkan bibit muda dan ga tergiur beli bintang :)

      Hapus
  7. saya penggemar inter milan juga turut berduka,

    BalasHapus
    Balasan
    1. yupz...
      semoga ini akhir dari awal untuk kebangkitan seri a ya mas

      Hapus

Maaf ya, saat ini komentarnya dimoderasi. Agar tidak ada spam, iklan judi, obat kuat, penjual gunting kuku, dan sebagainya. Silakan komentar yang baik dan pasti saya kunjungi balik. Satu hal lagi, mohon jangan menaruh link hidup...

Terima kasih :)