TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol

Jumat, 22 Mei 2015

Chiellini: Antara Suarez, Indonesia, dan Kedekatannya dengan Juventini


Giorgio Chiellini (Sumber foto: Koleksi Pribadi (www.roelly87.com)


GORILA. Demikian panggilan akrabnya. Itu bukan merujuk pada pernyataan bernada sarkasme. Melainkan memang fakta yang merupakan sapaan hangat untuk  pemilik nama lengkap Giorgio Chiellini. Ya, dalam satu dekade terakhir, penggemar sepak bola mana yang tak mengenal Chiellini?

Salah satu bek terbaik Italia bahkan dunia yang memperkuat Juventus sejak 2005. Postur tubuhnya yang tinggi besar (186 cm dan 84 kg) seolah mengintimidasi lawan. Coba kita tanyakan pada maestro sepak bola seperti Zlatan Ibrahimovic, Cristiano Ronaldo, dan Luis Suarez. Betapa sulitnya hingga frustrasi, mereka untuk melewati adangan Chiellini!

Itu membuktikan pemain binaan akademi sepak bola Livorno ini sebagai salah satu batu karang terbaik bagi Juventus dan timnas Italia. Bahkan, tak hanya jago mengawal lini belakang saja. Chiellini juga dikenal sebagai difensore yang tajam. Sebagai bukti, pemilik nomor punggung 3 ini sukses menjadi pahlawan Juventus saat menjuarai Piala Italia 2014/15. Itu berkat golnya ke gawang Lazio di Stadion Olimpico, Rabu (20/5) atau Kamis dini hari yang menyamakan kedudukan hingga berlanjut pada perpanjangan waktu.

Total, Chiellini sukses mencetak 36 gol dari 477 laga bersama Juventus di semua kompetisi. Catatan yang sangat mengagumkan untuk pemain dengan posisi bek. Itu belum termasuk enam golnya dari 76 pertandingan saat memperkuat "Gli Azzurri".

*         *        *

TIADA gading yang tak retak. Demikian adagium lawas berkata. Dengan kata lain, Chiellini juga punya "sisi negatif". Salah satunya, aksinya yang terlalu semangat menghalau pemain lawan hingga terkadang merugikan timnya sendiri.

Saya masih belum lupa dengan tindakannya yang "menyenggol" gelandang Real Madrid, James Rodriguez yang berujung penalti di semifinal leg kedua Liga Champions (13/5). Lantaran, akibat ulahnya membuat Juventus nyaris tersingkir karena Cristiano Ronaldo berhasil mengkonversi menjadi gol. Beruntung, ada Alvaro Morata yang menyamakan kedudukan hingga "I Bianconeri" menang agregat 3-2.

Bahkan, semusim sebelumnya, aksi "ceroboh" Chiellini secara tidak langsung menggagalkan Juventus untuk lolos dari fase grup Liga Champions 2013/14. Tepatnya saat bertandang ke markas Madrid di Santiago Bernabeu, 24 Oktober 2013. Saat itu, Chiellini melanggar Ronaldo di kotak terlarang yang berujung penalti dan kekalahan timnya. Ironisnya, tak lama kemudian, dia harus diusir wasit akibat -kembali- melanggar Ronaldo!

Ya, rentetan aksinya yang kontroversial memang kerap membuat Juventini -julukan fan Juventus- kecewa. Termasuk saya pribadi yang terkadang menyesalkannya. Namun, sebagai penggemar "si Nyonya Besar", biar bagaimanapun, saya tetap mengaguminya. Sebab, apa yang dilakukan Chiellini sebenarnya bertujuan mulia, demi kemenangan timnya. Hanya, caranya saja yang sedikit keliru.
*         *        *

SEBAGAI manusia, wajar jika Chiellini punya kesalahan. Ada sisi positif, tentu terdapat negatif. Yang menarik, Chiellini tidak pernah mempermasalahkan kecaman tifosi. Sebaliknya, dia malah dikenal sebagai salah satu pemain terbaik dunia yang memiliki kedekatan dengan penggemarnya. Itu dibuktikan dengan rajinnya Chiellini menyapa fan melalui akun resmi twitter-nya @chiellini, facebook (GiorgioChielliniOfficial), dan website pribadinya (giorgiochiellini.com).

Bahkan, Chiellini memiliki sahabat yang berasal dari Indonesia. Yaitu, Ponco Pamungkas yang sempat diservis ketika berada di Turin! "Ho ho ho (tertawa). Saya dan Ponco seperti saudara. Tahun lalu, saya mengajaknya berkeliling kota Turin. Saya senang bersahabat dengan Ponco. Saya juga senang berinteraksi dengan Juventini di Indonesia melalui twitter," kata Chiellini menjawab pertanyaan saya yang sedang mendapat tugas dari kantor untuk mewawancarainya secara eksklusif di Hotel Four Seasons, Selasa, 5 Agustus 2014.

Dalam kesempatan yang sama, Chiellini juga menegaskan sudah memaafkan Suarez yang menggigitnya di Piala Dunia 2014. Fakta itu membuktikan bahwa pengagum legenda hidup AC Milan, Paolo Maldini ini sebagai pesepak bola sejati. Yang menarik, untuk pertama kali sejak Piala Dunia berakhir, Chiellini bakal bertemu Suarez. Tepatnya, ketika kedua pemain memperkuat klubnya masing-masing di final Liga Champions 2014/15 di Berlin, Sabtu (6/5).

"(Insiden dengan Suarez) sudah selesai. Saya tak punya dendam atau masalah dengannya dan telah memaafkan dia. Saya memang sempat kecewa, tapi bukan karena insiden itu (gigitan) melainkan akibat Italia tampil buruk di Piala Dunia," tutur Chiellini yang setahun lalu turut serta dalam Juventus Tour 2014 yang dipromotori NineSport.

Ya, di balik tongkrongannya yang terkesan sangar, Chiellini merupakan pemain yang bersahaja. Itu saya rasakan langsung ketika mewawancarainya setahun lalu. Apalagi, di antara, tiga pemain Juventus yang saya temui -dua lainnya Andrea Pirlo dan Claudio Marchisio- justru Chiellini yang paling antusias menjawab seluruh pertanyaan saya. Mungkin, karena faktor kedekatannya dengan Juventini Indonesia dan juga akibat Pirlo serta Marchisio masih lelah setelah menempuh perjalanan panjang.

Padahal, awalnya saya sempat nervous juga ketika Chiellini memandangi saya yang kebetulan memakai batik bermotif Juventus. Namun, ketika memulai pertanyaan, pemeran Hulk dalam video klip promosi The Avengers: Age of Ultron ini malah merespons dengan semangat yang membuat suasana menjadi sangat cair.

Itu didukung kemampuan bahasa Inggrisnya yang sangat fasih dibanding saat saya mewawancarai Pirlo dan Marchisio yang harus di-translate. Maklum, disela-sela kesibukannya sebagai pemain profesional, Chiellini juga menyandang gelar Doktoral (S3) usai menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Ekonomi Universitas Turin.

Selamat Chiellini! Semoga dirimu kembali jadi pahlawan saat Juventus menghadapi Barcelona dua pekan mendatang.
*         *        *
Narsis bersama "Gorila" (www.roelly87.com)

*         *        *
Suasana cair saat berbincang dengan Chiellini setahun lalu (www.roelly87.com)

*         *        *

*         *        *

Wawancara Lainnya:
Giorgio Chiellini: Saya Cinta Juventini Indonesia!
Andrea Pirlo: Allegri bisa Memberi yang Terbaik 
Claudio Marchisio: Cuaca di Jakarta Seperti di Manaus
Dahlan Iskan: Generasi Muda harus Olahraga
Erick Thohir: Saya Percaya Loyalitas Dua Arah

Artikel Terkait:
- Demam The Avengers Melanda Skuat Juventus
- Kisah Ponsel Dua Presiden: Erick Thohir dan Andrea Agnelli
- JCI Konvoi Scudetto ke-30
- Fan Indonesia Diservis Chiellini 

*         *        *
- Cikini, 22 Mei 2015

Selasa, 19 Mei 2015

Age of Ultron Tembus 1 Miliar Dolar AS: Apakah Mampu Mengejar Furious 7?


Kostum pemeran Avengers: Age of Ultron (sumber foto: Marvel.com)


FORMULA "Don't Change a Winning Team" yang populer di sepak bola ternyata berlaku dunia film. Tepatnya Hollywood yang merupakan barometer sinema di kolong langit. Hal itu diterapkan pada Avengers: Age of Ultron (AoU) yang merupakan sekuel dari Marvel's: The Avengers yang rilis pada 2012.

Tentu, ini bukan ilmu "cocoklogi", melainkan fakta. Mulai dari tentang Infinity Stone, pertarungan antar anggota (Thor-Iron Man-Captain America), sponsor (ingat Audi?), hingga sosok Thanos pada mid-scene. Tapi, ya sudahlah. Sebagai penggemar Marvel Cinematic Universe (MCU), saya harus menyadari AoU merupakan bisnis. Dan, bisnis adalah bisnis. Apapun formula atau rumusnya, harus menghasilkan uang lebih banyak dibanding modal serta film sebelumnya.

Nah, berbicara mengenai pemasukan AoU, kebetulan saya baru melihat update-nya di Box Office Mojo per 17 Mei. Ternyata, film yang kembali disutradarai Joss Whedon ini sudah mengumpulkan 1,142 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar 14,9 triliun rupiah dengan asumsi menurut Bank Indonesia kursnya Rp 13.116.

Sebuah nilai yang fantastis karena AoU akhirnya menembus satu miliar dolar AS dan juga masuk urutan kedelapan dalam daftar film terlaris sepanjang masa. Memang, untuk tahun ini (2015) nilainya masih kalah dibanding Furious 7 yang sudah meraup 1,448 miliar dolar AS hingga mampu menyeruak ke posisi keempat film terlaris. Bahkan, film yang menjadi persembahan untuk mendiang Paul Walker ini sedikit lagi menyalip Marvel: The Avengers yang berada di urutan ketiga dengan 1,518 dolar AS.

Yang menarik, banyak analis dan media luar yang percaya jika AoU bisa mengejar pendapatan Furious 7 untuk menjadi yang terlaris -saat ini- 2015 (mungkin, saya juga masih menunggu Mission Impossible 5, Jurassic World, James Bond: Spectre, dan tentunya Star Wars 7: The Force Awakens).

Asumsinya jelas, AoU belum tayang secara merata di seluruh dunia. Begitu pun data yang saya ambil dari Box Office Mojo. Maklum, AoU ini memang rilis tidak serentak. Beberapa negara Eropa seperti Italia tayang pada 22 April yang sama dengan Indonesia. Sementara, di negaranya sendiri baru rilis 1 Mei lalu. Begitu juga dengan Tiongkok yang tayang pada 7 Mei.

Di sisi lain, Jepang sebagai salah satu pasar utama Marvel baru akan menayangkannya pada 4 Juli mendatang! Jadi, ketika mayoritas masyarakat dunia bersiap menantikan Ant-Man yang menjadi penutup dari fase kedua MCU ini, publik "Matahari Terbit" justru baru mulai menyaksikan AoU secara utuh di bioskopnya.

Nah, perbedaan rilisnya itu yang membuat AoU dinilai tidak maksimal dalam meraup dolar. Tentu, -menurut saya- selain faktor utama seperti ekspekstasi musuh yang tidak terlalu "kelam" (Ultron) dan juga saat tayang perdana di AS bertepatan dengan duel tinju bertajuk "The Fight of the Century": Floyd Mayweather, Jr. versus Manny Pacquiao.

Apalagi, untuk sebagian besar negara Eropa dan Asia lainnya, AoU sudah mulai tutup layar. Termasuk di beberapa bioskop Indonesia yang pada hari pertama meraup 900 ribu dolar AS, kini gaungnya sudah mulai sepi. Hingga, membuat pihak Marvel Indonesia melalui Facebook dan twitter-nya, memberi iming-iming hadiah Action Figure bagi penggemar yang menyaksikan AoU setelah 14 Mei.

Pertanyaannya, apakah AoU dapat menyamai pencapaian Marvel's: The Avengers yang meraih 1,5 miliar dolar AS dalam waktu sebulan rilis serentak? Atau, minimal mengejar Furious 7?

Tentu saja, jawabannya "mungkin". Dengan syarat, pihak Marvel Studio tetap gencar melakukan promosi. Terutama di AS yang dalam dua pekan ini sudah mendapat 372 juta dolar AS di urutan ke-25 film domestik terlaris. Fakta itu melewati Furious 7 yang sejak rilis 1 April tapi baru meraup 343 juta dolar AS (urutan ke-30).

Urutan Film MCU Terlaris Sepanjang Masa ( versi Box Office Mojo)
1. Marvel's: The Avengers - 1,518 miliar dolar AS - 2012
2. Iron Man 3 - 1,215 miliar dolar AS - 2013
3. Avengers: Age of Ultron - 1,142 miliar dolar AS - 2015
4. Guardians of the Galaxy - 774 juta dolar AS - 2014
5. Captain America: The Winter Soldier - 714 juta dolar AS - 2014
6. Thor: The Dark World - 644 juta dolar AS - 2013
7. Iron Man 2 - 623 juta dolar AS - 2010
8. Iron Man - 586 juta dolar AS - 2008
9. Thor - 449 juta dolar AS - 2011
10. Captain America: The First Avengers - 370 dolar AS - 2011
11. The Incredible Hulk - 263 juta dolar AS - 2008

*       *       *

SEKADAR informasi untuk penggemar Marvel atau biasa disebut Marvelites, akhir pekan ini, tepatnya Sabtu (23/5) ada acara bertajuk "Talking Marvelites". Event yang bertempat di @America, mal Pacific Place, Jakarta Selatan ini, diprakarsai Komunitas Marvel Indonesia (KMI). Acara ini berlangsung sore pada pukul 16.00 hingga 20.30 WIB. 

Selain bisa diskusi tentang dunia Marvel bersama pengurus KMI, termasuk membahas Civil War yang sekarang sedang hits menjadi topik utama di berbagai grup dan forum baik dalam maupun luar negeri. Juga akan ada workshop, pameran komik, action figures, dan cosplay. Untuk mengetahui agenda lebih lanjut bisa disimak di poster dan keterangan di bawah ini. Oh ya, yang menarik acara ini GRATIS!

Komunitas Marvel Indonesia (KMI)?

*       *       *
Poster Talking Marvelites (sumber foto: Grup Facebook - Komunitas Marvel Indonesia)
*       *       *
Jadwal acara Talking Marvelites (sumber foto: Grup Facebook - Komunitas Marvel Indonesia)
*       *       *
Artikel Marvel sebelumnya:
Setelah Ultron Giliran Ant-Man Beraksi!
Ternyata Thor bisa Bahasa Indonesia!

Artikel Terkait
Ekspekstasi Berlebihan di Film The Raid: Berandal
Komik The Raid: Dari Warna Merah ke Hitam Putih
Barcelona vs Chelsea Mirip Kisah The Raid
Joe Taslim dan Wakil Indonesia di Hollywood
Nostalgia Dua Dekade Jurassic Park
*       *       *
Referensi:
Marvel.com, BoxOfficeMojo.com, Forbes.com, Deadline.com, Time.com,

*       *       *
- Cikini, 19 Mei 2015

Sabtu, 16 Mei 2015

Antara Uang Rp 20.000, Petani, dan Teh Javana


Teh Javana dan Rp 20.000 dengan ilustrasi pemetik teh (Sumber foto: Koleksi pribadi/ www.roelly87.com)

TEH merupakan salah satu minuman favorit di Indonesia. Hampir seluruh masyarakat kita mengkonsumsi hidangan yang memiliki sejarah panjang di Tanah Air. Tepatnya sejak abad 17 yang populer di kalangan raja hingga rakyat jelata. Saat ini banyak beredar jenis teh yang dijadikan minuman. Baik itu diseduh atau dikemas ulang seperti dalam botol dan kardus.

Salah satunya Teh Javana yang diproduksi PT Sayap Mas Utama (Wings Food) sejak Januari lalu. Meski baru empat bulan beredar, namun minuman teh beraroma melati ini mendapat sambutan luas dari masyarakat umum. Terbukti, Teh Javana masuk dalam Top 5 Brand Awareness, yang mampu bersaing dengan produk sejenis yang sudah lama beredar di Indonesia.

Bagaimana rasanya Teh Javana?

Sebagai blogger yang komitmen memegang asas jurnalistik, saya harus kritis untuk membuktikan apa yang saya tulis berdasarkan pengalaman demi postingan saya lebih bernyawa saat dibaca khalayak ramai. Alias tidak hanya sekadar "kata orang" ataupun referensi di Wikipiedia.

Jujur saja, sejauh ini saya baru sekali mengkonsumsi Teh Javana. Itu pun terjadi secara tidak sengaja. Alias ketika ingin membeli minuman teh sejenis di kios pinggir jalan, tidak ada. Saat itu, sekitar awal Maret lalu ketika saya sedang bertugas menuju sebuah stadion di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur.

Nah, berhubung haus, tentu saya memilih minuman yang ada saja yang dapat saya beli di warung. Yaitu, Teh Javana. Rasanya? Ya, saya harus mengakui tidak jauh beda dengan merek sejenis. Meski, aroma Teh Javana lebih kental dan segar ketika diminum saat dingin. Tapi, terdapat satu keunggulannya menurut saya, utamanya harga yang tergolong merakyat.

Saat itu, saya cukup mengeluarkan uang Rp 5.000 yang akhirnya mendapat kembalian Rp 2.000. Dua bulan berselang, saya baru benar-benar "ngeh" dengan Teh Javana saat mendapat undangan dari rekan blogger di komunitas Blogger Reporter, Ani Berta untuk menghadiri pameran "Gebyar Teh Javana Kebanggaanku" di Fountain Grand Indonesia, Rabu (13/5).

Dalam acara tersebut, saya kembali bertemu dengan Aristo Kristandyo, Group Head of Marketing Communication yang pekan sebelumnya turut menghadiri House of So Klin di Central Park (7/5). Berdasarkan penuturannya saat menjawab pertanyaan blogger dan media, Teh Javana, siap bersaing dengan produk sejenis di pasar Tanah Air.

"Kami bersyukur, secara penjualan (Teh Javana) sudah menunjukkan hasil positif. Ada peingkatan 15 persen sejak perkenalan Januari lalu," kata Aristo yang dengan ramah menyalami kami -para blogger dan media- saat makan siang di Restoran Suntiang. "Fokus kami saat ini untuk memperkenalkan brand Teh Javana secara luas baik masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, hingga blogger. Salah satunya dengan kampanye 'Mana Indonesiamu'."

Ya, dalam "Gebyar Teh Javana Kebanggaanku" yang berlangsung sejak 11 Mei hingga Minggu (17/5) ini turut dimeriahkan banyak program. Salah satunya mengenalkan website
ManaIndonesiamu.com yang berisi tentang keindahan alam, kuliner, seni dan budaya Indonesia yang dapat diakses secara umum.

Demi menguatkan informasi kepada masyarakat luas, Teh Javana juga menggandeng beberapa komunitas. Salah satunya Komunitas Historia Indonesia dengan kehadiran sang pendiri sekaligus sejarawan Asep Kambali. Saat itu, pria berusia 34 tahun ini turut memberikan pencerahan kepada kami.

Yaitu, korelasi antara Teh Javana dengan uang Rp 20.000 yang di bagian belakangnya terdapat petani yang sedang memetik teh! Mendengar penuturan Asep Kambali membuat saya tersadar. Bahwa, dibalik kenikmatan teh yang saya minum, termasuk Teh Javana, terdapat peran para petani melalui jerih payah mereka yang secara tidak langsung diberi penghargaan pemerintah melalui ilustrasi di uang kertas keluaran 2014.

*      *      *

Agenda Gebyar Teh Javana Kebanggaanku
Tempat: Fountain mal Grand Indonesia 3A

Sabtu, 16 Mei 2015
14.00 Accoustic Performance
15.00 Campus Presentation (Campus 5-8 for competition voting election)
17.00 Arak-arakan Teh Javana
18.00 Accoustic Live Performance

Minggu, 17 Mei 2015
12.00 Lomba Gambar Javana Kids with Drawing School
14.00 Accoustic Performance
15.00 Winner Ceremony (Campus Exhibitions, Smparthone Photography,  Lomba Gambar Javana Kids)
16.00 Music Clinic (Dewa Budjana & Tohpati)
18.00 Jamaica Cafe Live Performance
19.00 Performance Angela Nazar, Tohpati, & Dewa Budjana

*      *      *
Tentang "ManaIndonesiamu"
Website: www.ManaIndonesiamu.com
Facebook: manaIndonesiamu
Twitter: @manaIDmu
Instagram: @manaIndonesiamu 

*      *      *
Aristo Kristandyo (kanan) menjelaskan brand Teh Javana sudah mulai dikenal luas

*      *      *
Asep Kambali membeberkan riwayat teh di Indonesia

*      *      *
Menyimak penuturan Maudy Ayunda tentang Teh Javana

*      *      *
Suasana di Fountain mal Grand Indonesia

*      *      *
Pemenang lomba menulis dari media dan blogger

*      *      *
Rekan-rekan blogger dan media saat bersantap di Restoran Suntiang

*      *      *
Diorama yang sangat menarik

*      *      *
Pemandangan khas Indonesia disuguhkan Teh Javana dalam acara Gebyar Teh Javana Kebanggaanku

*      *      *
Teh Javana

*      *      *

*      *      *
Keterangan: Seluruh foto merupakan dokumentasi milik penulis (www.roelly87.com)

Sebelumnya:
- Tiga Dekade So Klin Menemani Keluarga Indonesia
*      *      *
- Cikini, 15 Mei 2015

Kamis, 14 Mei 2015

Pentingnya Helm untuk Keselamatan saat Mengendarai Sepeda Motor


Ilustrasi pengendara motor tidak mengenakan helm (Sumber foto: TMC Polda Metro Jaya)


"RUL, bangun. Lu mau nengokin si Wisnu (bukan nama sebenarnya) ga? Dia dirawat sejak malam akibat kecelakaan," demikian terdengar teriakan teman di balik pintu kamar saya. Sebenarnya, pagi tadi, saya masih ngantuk berat. Namun, ketika mendengar kata "kecelakaan", saat itu juga saya langsung terjaga. Maklum, saya trauma setiap kali mendengar atau menyaksikan insiden kecelakaan.

Sebab, masih terngiang jelas di pikiran saya ketika Agustus tahun lalu, salah satu rekan kerja sekaligus wartawan senior di Harian TopSkor, mengembuskan nafas terakhirnya akibat kecelakaan. Saat itu, beliau jadi korban tabrak lari truk trailer di kawasan Jembatan Tiga, Jakarta Utara. Itu terjadi menjelang sahur ketika almarhum baru saja menunaikan tugasnya di kantor kami.

Wajar, jika mendengar bahwa Wisnu kecelakaan membuat jantung saya berdegup kencang. Rasa kantuk lenyap seketika. Saat itu juga, setelah mandi sejenak, saya dan beberapa rekan pun bergegas menuju rumah sakit di kawasan Mangga Besar, Jakarta Barat. Alhamdulillah, ketika sampai, menurut keterangan salah satu kerabatnya, kondisi Wisnu sudah baikan setelah sempat tak sadarkan diri.

Hanya, menurut diagnosis sementara, dia mengalami gegar otak akibat benturan keras dari sebuah mobil yang menyenggol sepeda motornya. Ironisnya, ketika itu, helm Wisnu justru terlepas yang membuat kepalanya terbanting ke jalan. Beruntung, saat kejadian, Jalan Raya Gajah Mada sedang tidak ramai dilalui kendaraan yang tidak berujung pada hal-hal yang tidak diinginkan. Ketika itu hanya ada beberapa penjual obat dan tukang parkir yang langsung menyelamatkan Wisnu ke rumah sakit terdekat.

Berdasarkan informasi mereka, helm yang disematkan di kepala Wisnu tidak dikaitkan dengan benar. Hingga, ketika terjadi benturan dengan mobil yang membuatnya terempas helmnya pun ikut terlepas. Suatu insiden yang sangat disesalkan. Hingga pukul 21.00 WIB tadi, saya belum mendapat keterangan lebih lanjut mengenai lepasnya helm.

Menurut dugaan beberapa kerabat dan temannya, sepertinya Wisnu tidak mengikat tali helm dengan kencang. Bisa jadi, mengingat lokasinya bekerja dengan tempat indekosnya tidak begitu jauh. Kemungkinan lain, tali di helmnya sudah tidak berfungsi dengan baik. Atau, benturan dengan mobil terlalu kencang yang membuat helm Wisnu terlepas dengan sendirinya.

Namun, itu semua baru sebatas dugaan. Belum ada kabar resmi tentang penyebab benturan kepalanya itu mengingat Wisnu belum bisa ditanyakan lebih lanjut. Yang pasti, saya, teman-teman, dan kerabatnya berharap semoga Wisnu lekas sembuh. Mengingat dia merupakan tulang punggung keluarganya yang tinggal di kawasan pesisir Jawa Barat dan baru mendatanginya sore tadi.

*       *       *

Mengenai helm, saya jadi teringat dengan pengalaman pribadi delapan tahun silam. Tepatnya hanya lima hari setelah Idul Fitri 1428 Hijriah. Saat itu, seusai pulang mudik menuju Bandung, saya juga sempat mengalami kecelakaan di kawasan Puncak, Jawa Barat. Itu terjadi setelah sepeda motor saya menabrak sepeda motor yang berada di depan saya.

Yang membuat saya bingung, justru saya sebagai penabrak malah mengalami luka parah. Sementara, orang yang saya tabrak hanya lecet-lecet saja. Menurut saksi mata yang melihat insiden itu, ternyata setelah menabrak sepeda motor orang lain, saya terempas ke pembatas jalan. Hingga, membentur tulang selangka di dekat leher yang membuat saya harus menjalani perawatan sebulan lamanya.

Alhasil, saya harus izin tidak bekerja selama beberapa pekan untuk bolak-balik ke ahli tulang di kawasan Jatihandap, Bandung. Pasalnya, saat itu saya tidak memilih dipasang pen yang biayanya mencapai puluhan juta. Imbasnya hingga kini. Alhasil, hingga kini tangan kanan saya terkadang tidak kuat mengangkat beban di atas 20 kg.

Sisi positifnya, selain tulang selangka yang patah, kondisi saya tidak apa-apa. Termasuk kepala yang hanya sedikit sakit akibat benturan keras dengan pembatas jalan. Sebab, saat itu saya menggunakan helm full face yang bisa dikatakan telah menyelamatkan saya. Jika tidak, mungkin saya sudah selesai atau minimal mengalami gegar otak.

Lantaran, menurut beberapa saksi mata,  tubuh saya terempas beberapa meter. Bahkan helm saya pun retak akibat benturan tersebut yang sampai kini masih tersimpan di Bandung. Pelajaran penting yang saya petik dari kecelakaan itu, hingga kini saya selalu menggunakan helm full face. Kapan pun dan ke mana pun tujuannya demi keselamatan.

Cepat sembuh, kawan...

*       *       *

Referensi:
- Foto di Twitter TMC Polda Metro Jaya
- Berita Kecelakaan Wartawan TopSkor (Warta Kota)


*       *       *
Artikel Terkait:
- Helm: Antara Pelindung Nyawa dan Sebuah Beban
- Waspadai Jalur Maut Sepanjang Grogol-Jembatan Tiga
- Balap Liar: Sensasi Mengejar Gengsi di Balik Maut
- Ketika Kawasan Istana jadi Arena Balap Liar
*       *       *

- Cikini, 14 Mei 2015


Senin, 11 Mei 2015

Tiga Dekade So Klin Menemani Keluarga Indonesia


Deretan produk So Klin dari awal kemunculannya hingga terkini (Sumber foto: dokumentasi pribadi/ www.roelly87.com)


TIGA dekade bukanlah waktu yang sebentar. Bahkan, dalam periode itu, negara kita tercinta telah mengalami pergantian banyak kepemimpinan. Mulai dari Presiden Soeharto (alm), B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid (alm), Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, hingga kini Joko Widodo.

Tiga dekade juga menandakan banyaknya perubahan, revolusi, dan regenerasi. Hanya sedikit sosok, perusahaan, atau produk yang bertahan selama itu. Salah satunya yang saya kenal adalah So Klin. Sebuah produk deterjen yang setia menemani keluarga Indonesia. Bahkan, pada 2015 ini So Klin tepat menandakan tahun yang ke-35.

Ya, kalau kita bicara jujur, keluarga mana atau lebih tepatnya, kaum wanita terutama ibu-ibu di Indonesia, yang tidak mengenal So Klin?

Termasuk di dalam keluarga saya. Fakta itu kian tak terbantahkan. Sebab, di rumah saya kerap menemukan berbagai jenis So Klin dan produk Wings lainnya. Itu yang menjadi alasan saya sangat antusias saat mendapat tawaran dari rekan blogger, Ani Berta, untuk menghadiri perayaan tiga dasawarsa So Klin yang bertajuk "House of So Klin" di Atrium Laguna Central Park, Kamis (7/5).

Apalagi, sebelum berangkat, saya sempat berdiskusi dengan ibu saya mengenai produk yang identik dengan keharuman dan kelembutan itu. Maklum, hari itu juga, kami sekeluarga baru saja melakukan syukuran ulang tahun ibu. Jadi, ketika mengetahui saya akan mendatangi acara So Klin yang kerap menemaninya saat mencuci pakaian atau setrika, beliau sangat antusias.

*       *       *
Ternyata, So Klin dan produk keluaran Wings -seperti Mie Sedaap, Kecap Sedaap, Top Coffee, Floridina, Ale-Ale, dan Teh Javana- lainnya tidak hanya rutin digunakan ibu saya dan masyarakat umum lainnya. Melainkan juga salah satu artis ternama di Indonesia, Titiek Puspa. Itu diungkapkan langsung dari wanita berusia 77 tahun ini. Menurut sosok yang 4 Oktober lalu saya saksikan saat mengadakan konser Duta Cinta dan Drama Musikal di Grand Indonesia ini, So Klin sudah menjadi bagian dari keluarganya sejak lama. Bahkan, sebelum Titiek Puspa menjadi Brand Ambassador So Klin periode 1996-2007.

"Saya dan keluarga sangat mengapresiasi So Klin yang telah memberikan kepercayaan kami untuk menjadi bagian dari keluarga besar So Klin," kata Titiek Puspa yang melantunkan lagu hit-nya "Apanya Dong" pada akhir acara. "Apalagi setelah saya dipercaya sebagai Brand Ambassador So Klin. Banyak orang yang saat bertemu saya bukan memanggil Titiek Puspa. Tapi justru 'So Klin is the Best' yang membuat saya tertawa."

Ya, slogan "So Klin is the Best" yang dipopulerkan Titiek Puspa memang sangat terkenal pada era 1990-an. Pada acara tersebut, So Klin juga menghadirkan Brand Ambassador dari generasi muda, Indy Barends dan Rina Nose. Mereka bertiga menceritakan pengalaman menggunakan produk yang sudah diekspor langsung ke beberapa negara di Asia Pasifik, Amerika Latin, dan Afrika.

Itu membuktikan bahwa So Klin tidak hanya menemani keluarga Indonesia saja, melainkan negara lainnya. Terlebih, So Klin dan beberapa variannya selain diuji coba di laboratorium Wings juga memiliki verifikasi sebagai produk berkualitas tinggi berkat hasil tes dari Ciba Speciality Chemical Swiss dan mendapat dukungan dari Asosiasi Pertextilan Indonesia (API).

"Bersih saja tidak cukup. Kami dari Wings juga sudah meluncurkan beberapa varian So Klin yang kini banyak digunakan masyarakat. Seperti So Klin Liquid yang mudah larut dalam air, So Klin Softergent yang menggabungkan deterjen dan pelembut wangi segar, dan So Klin Bio-Matic yang ramah lingkungan. Untuk So Klin Higinis, terdapat formula 'anti bacterial' yang dapat membunuh kuman dan bakteri pada pakaian," kata Joanna Elizabeth Samuel, Produc Manager So Klin Fabric yang ditemani Aristo Kristandyo (Group Head of Marketing Communications).

Yang menarik, dalam acara House of So Klin yang sejatinya berlangsung pada 5-10 Mei ini mendapat sambutan yang meriah dari masyarakat. Itu terlihat dari ramainya pengunjung yang menghadiri booth So Klin. Maklum, selain menampilkan tiga Brand Ambassador (Titiek Puspa, Indy Barens, dan Rina Nose) serta Delon pada 8-9 Mei lalu, terdapat beberapa program lainnya.

Mulai dari product experience, testimoni berbagai varian So Klin dan produk Wings lainnya, dan talk show mengenai internet sehat bagi anak. Tak lupa, So Klin juga menyediakan area bermain untuk anak yang ingin belajar meewarnai, menempel gambar, hingga menonton puppet show pada zona Kids Entertainment.
*       *       *
Suasana talkshow dalam House of So Klin

*       *       *
Titiek Puspa melantunkan tembang "Apanya Dong"

*       *       *
Titiek Puspa menjadi magnet jurnalis, blogger, dan pengunjung yang ingin foto bersamanya

*       *       *
Berbagai produk So Klin

*       *       *
Booth untuk testimoni

*       *       *
Booth So Klin Experience

*       *       *
Pengunjung menyimak cara hasil produk So Klin 

*       *       *
Zona bermain dan belajar anak di Kids Entertainment

*       *       *
Beberapa produk So Klin yang ada di rumah saya

*       *       *
Keterangan: Seluruh foto merupakan dokumentasi milik penulis (www.roelly87.com)
*       *       *
Sebelumnya:
- Riwayat Panjang Lagu "Kupu-kupu Malam" Titiek Puspa

*       *       *
- Cikini, 11 Mei 2015