TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Shintaries Nijerinda Mirantaura

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label Shintaries Nijerinda Mirantaura. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Shintaries Nijerinda Mirantaura. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Februari 2017

Berkat Fun Blogging, Ngeblog Makin Asyik


Tiga Dara Blogger dalam suatu acara pada awal Ramadan 2016 (Foto: @roelly87)


"Dunia di bawah langit setelah suatu masa yang terpecah-pecah
akan kembali bersatu.
Dan, setelah masa persatuan akan kembali terpisah.
Ini adalah hukum alam yang tidak dapat dihindari."

DEMIKIAN, prolog dari novel Kisah Tiga Negara (Romance of the Three Kingdoms) atau Sanguo Yanyi yang dikenal di Indonesia sebagai Sam Kok (bahasa Hokkian) yang sering saya baca sejak kecil.

Banyak kisah menarik dari novel yang saking tebalnya kerap saya dijadikan alas tidur tersebut. Berkat novel itu, saya jadi lebih mengenal kisah klasik negeri Cina seperti Sun Go Kong (perjalanan ke Barat), Batas Air, hingga... Jing Ping Mei!

Memasuki pertengahan 1990-an, saya kian mengenal novel modern dari negeri tirai bambu. Mulai dari Kembalinya Pendekar Pemanah Rajawali karangan Jin Yong yang juga ngehit filmnya di Tanah Air dengan Yuni Shara melantunkan lagu pembuka dan Tiga Dara Pendekar (Liang Yusheng).

Secara tidak langsung, kisah mereka memengaruhi gaya penulisan saya, baik dalam pekerjaan atau sebagai blogger.

*        *        *
KEMARIN, Jumat (10/2) saya genap 25 bulan bergabung di komunitas Fun Blogging. Tepatnya, sejak mengikuti workshop di Gedung Cyber, Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (10/1/2015). Keikutsertaan dengan komunitas yang digawangi Ani Berta, Haya Aliya Zaki, dan Shintaries Nijerinda Mirantaura ini jadi titik tolak saya dalam ngeblog.

Ngeblog? Yupz, sebenarnya saya kenal blog sejak 2009 silam. Itu terjadi ketika saya masih bertugas di pedalaman Sumatera. Ya, awalnya iseng-iseng sambil mengerjakan laporan ke kantor sekaligus browsing internet setelah bosan main Point Blank dan Poker.

Hanya, saat itu tidak sesering sekarang. Sebab, pulsanya lumayan mahal karena memakai data satelit yang harganya wow Maklum, di pedalaman yang hanya berjarak beberapa kilometer dari gunung tertinggi di Sumatera itu, akses internet sulit. Apalagi, delapan tahun silam, internet tidak seperti sekarang. Begitu juga dengan telekomunikasi hanya menggunakan satu-satunya operator yang identik dengan logo kuning.

Setelah punya akun di berbagai platform, termasuk blog keroyokan, saya jadi lebih sering mengisinya dengan berbagai artikel reportase, opini, dan fiksi. Lumayan sering hingga saya berkenalan dengan beberapa blogger senior. Mulai dari Hazmi Srondol, Dian Kelana, Iskandar Zulkarnaen, Ani, Christie Damayanti, dan sebagainya.

Pada pengujung 2014, saya mulai intens dalam ngeblog. Tepatnya, dengan membuat akun di blogger.com dengan domain blogspot.com sambil sesekali mengisi di blog keroyokan. Sampai menjelang pergantian tahun, Ani mengajak untuk gabung ke Fun Blogging.

Sejak saat itu, saya jadi mengerti tentang dunia blog dan sisi lainnya. Banyak yang saya petik dari Ani, Haya, dan Shintaries di komunitas tersebut. Mulai dari segi penulisan blog yang tidak kaku, tips menang lomba, mendapat ilmu dari beberapa blogger senior di grup tersebut, hingga untuk kali pertama bisa jalan-jalan ke luar kota.

Yupz, tanpa Fun Blogging, mungkin blog ini isinya hanya sepak bola dan olahraga seperti yang saya isi pada awal-awal ngeblog.

*        *        *
ADAGIUM lawas mengatakan, 25 tahun merupakan satu generasi. Nah, bagaimana dengan 25 bulan? Tentu, hanya seumur jagung. Meski singkat, tapi banyak yang bisa dipetik dalam periode tersebut. Pepatah di masa lampau mengatakan, sekali jadi guru, seumur hidup tetaplah guru.

Bagi saya, mereka merupakan mentor dalam ngeblog. Secara langsung atau tidak langsung, apa yang disampaikan ketiganya jadi masukan untuk saya dalam mengisi aktivitas yang mengasyikkan ini di sela-sela padatnya pekerjaan.

Kendati 12 Oktober mendatang, saya dan mereka tidak bisa merayakan HUT keempat Fun Blogging. Ya, bagaimana pun, tiada perjamuan yang tak berakhir. Ada pertemuan tentu, ada perpisahan.

Namun, saya percaya, selama gunung masih menghijau, kita tidak akan pernah takut kehabisan kayu bakar.

*        *        *
Artikel Terkait Fun Blogging
- Kota Roma Tidak Dibangun dalam Semalam
Tentang 11 Januari
- Tiga Dara Blogger
Tips Ngeblog Asyik: Jalin Hubungan Baik dengan Komunitas Blogger (I)
Tips Ngeblog Asyik: Pentingnya Mengisi Daftar Hadir
- Ngeblog Antara Hobi dan Mendatangkan Profit

*        *        *
- Jakarta, 11 Februari 2017

Kamis, 24 November 2016

Kota Roma Tidak Dibangun dalam Semalam



Keberhasilan Shintaries dalam ngeblog tidak diraih dalam waktu singkat

KOTA Roma tidak dibangun dalam semalam. Demikian adagium lawas yang populer sejak abad pertengahan yang diterjemahkan dari frasa Prancis, "Rome ne s'est pas faite en un jour" (Sumber: www.dictionary.com dan www.linternaute.com).

Tepatnya, sebagai analogi untuk merefleksikan kesuksesan individu atau grup. Bahwa, untuk meraih prestasi, tidak bisa dilakukan dengan singkat. Melainkan harus butuh perjuangan yang kadang berdarah-darah hingga meneteskan air mata.

Di dunia olahraga, contohnya Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir yang meraih emas pada Olimpiade Rio 2016. Mungkin, kita melihat keberhasilannya itu diraih hanya pada final cabang bulutangkis yang berlangsung kurang dari tiga jam. Namun, sejatinya proses menuju juara sangatlah panjang.

Kebetulan, saya mengetahui bagaimana perjuangan langsung Owi dan Butet -julukan keduanya- sejak 2012 silam. Ya, mereka mempersiapkan diri untuk mengikuti Olimpade yang berlangsung 5-21 Agustus itu dari empat tahun sebelumnya!

Dalam periode itu, keduanya konsisten berlatih, berlatih, dan berlatih baik di pelatnas Cipayung atau tempat lainnya. Kegagalan dalam bertanding di berbagai ajang merupakan santapan sehari-hari mereka. Jungkir-balik, jatuh-bangun, lompat beberapa meter hingga terjerembab di depan net merupakan pemandangan yang lumrah dari Owi dan Butet.

Namun, pada akhirnya, kerja keras mereka membuahkan hasil. Bahkan, sangat dramatis, karena medali emas yang diraih bertepatan dengan HUT RI ke-71 yang jadi kado terindah negeri ini. Itu mengapa, saya sangat percaya dengan pepatah dari masa lampau, "Hasil tidak pernah mengkhianati proses".

*        *        *
PAGI itu, langit ibu kota masih mendung. Ditemani dua eksemplar koran umum dan olahraga bersama secangkir kopi hitam yang pahit -karena dalam hidup itu jauh lebih pahit tapi harus dinikmati- saya menikmati suasana tersebut di beranda rumah.

Karena koran sudah selesai dibaca, saya iseng membuka ponsel untuk mengecek notifikasi di sosial media. Kebetulan, sebagai orang lapangan, saya memang tidak begitu update dengan perkembangan sosial media. Hanya sesekali buka jika ada waktu luang atau ketika sedang mengikuti event.

Sekilas tidak ada yang begitu menarik dari lini masa yang saya ikuti. Mayoritas tentang Pilkada. Ah, bagi saya untuk ikut serta dalam debat seperti itu sangat tidak produktif. Alias, saya lebih memilih untuk mengerjakan sesuatu yang bermanfaat dibanding harus debat kusir di dunia maya untuk menjagokan si A, B, atau C.

Etapi, tunggu. Tiba-tiba saya terhenyak melihat "curhat" dari rekan blogger yang baru saja memenangkan lomba berhadiah jalan-jalan ke luar kota. Bukan soal ceritanya yang membuat saya terpikat. Melainkan, karena di balik kisahnya yang menurut saya berdarah-darah layaknya Owi dan Butet.

"Kamuh-kamuh ngga tau kan, saya ngga tidur karena ngerjain video malemnya setelah ambil gambar." Demikian, kalimat pamungkas dari Shintaries Nijerinda Mirantaura. Sekilas biasa saja dengan bernada curcol. Tapi, kalau ditelisik lebih lanjut, ada pesan tersirat yang sangat mendalam.

Bahwa, untuk bisa menang pada lomba tersebut, wanita kelahiran 1984 ini harus berjuang dengan ekstra keras. Mulai dari reportase langsung ke lokasi yang dituju, interview dengan pemilik restoran, hingga membuat video. Malam harinya, Shintaries bahkan tidak langsung tidur.

Melainkan harus berkutat dengan layar laptopnya untuk menulis dan mengedit video. Pada akhirnya, pengorbanannya itu terbayar lunas. Sebab, untuk kali pertama dalam hidupnya, wanita berbintang Aries ini bisa menginjakkan kaki di Sulawesi Utara. Ya, selalu ada pelangi yang indah setelah badai.

*        *        *
SAYA kali pertama mengenalnya pada 10 Januari 2015 lalu ketika mengikuti workshop Fun Blogging 3 di Gedung Cyber, Jakarta Selatan. Saat itu, Shintaries bersama Ani Berta dan Haya Aliya Zaki jadi pembicara. Acara bertema "Dari Hobi Menjadi Profesi" itu juga merupakan titik tolak saya di dunia blog.

Sebab, Fun Blogging benar-benar membuka cakrawala baru saya untuk mengenal lebih jauh tentang blogger. Tak heran jika sejak itu, saya kerap mengikuti berbagai acara blogger bersama Shintaries dan Haya. Pengecualian untuk Ani yang memang sudah saya kenal sejak 2011 lalu.

"Yang orang tau hasilnya doang^^. Dia mana tau usaha orang kaya apa :D," demikian Shintaries membeberkan rahasianya yang tidak diraih hanya dalam sekejap.

Kebetulan, nyaris dalam dua tahun ini, saya mengenal wanita bershio Tikus itu sebagai salah satu blogger yang sangat totalitas. Bahkan, harus diakui jika dirinya salah satu mentor yang menginspirasi saya di dunia ngeblog. Itu bisa dilihat dari portofolionya dengan Shintaries memiliki berbagai blog personal.

Mulai dari www.shintaries.com, www.shintaries.co, www.shintaries.info, www.shintariesnijerinda.com, dan sebagainya (saya lupa). Belum termasuk mengurusi situs yang dikelola bersama rekan-rekannya seperti www.funblogging.web.id, www.bloggerperempuan.com, www.bpnetwork.id, dan www.idcorners.com.

Kadang, saya bingung melihat banyaknya blog tersebut yang hebatnya diurus Shintaries dengan konsisten. Maklum, saya saja yang hanya punya satu blog personal ini (www.roelly87.com), yang itu pun jarang keurus. Alias, baru bisa diisi tengah malam atau dini hari WIB seusai pulang kerja.

"Kalo gue emang total ngeblog, (tentu) selain ngurus keluarga. Ya, di bawa enjoy aja. Toh berkat ngeblog, kan asyik gue bisa jalan-jalan gretong (gratis)," tutur Shintaries kepada saya dalam suatu acara.

Ya, totalitasnya itu tak heran membuat ibu dari dua anak ini kerap dipercaya sebagai narasumber di media atau  brand ambassador dari suatu produk. Bahkan, dalam catatan saya sejak 2015, berkat kesungguhannya itu, Shintaries kerap juara dalam bebragai kompetisi.

"Lomba blog itu adalah tentang bagaimana menyampaikan gagasan dan ide dasar yang beda ama yang lain. Kalo ngga gitu, gimana caranya eikeh kemaren bisa ke Lombok di antara 13rb tulisan dari peserta," wanita kelahiran Samarinda, Kalimantan Timur ini memberi kiat untuk berkompetisi di dunia blog.

Shintaries menutupnya dengan sempurna sekaligus sebagai motivasi untuk rekan blogger lainnya, "Saking sukanya jalan-jalan, saya sampai berniat resign dari kantor tiga tahun lalu. Mikirnya cuma satu, kapan lagi sih bisa punya waktu yang lebih bebas dan fleksibel pergi kemana aja. Tapi, agak riskan kalau saya keluar pekerjaan gitu aja dan ngga ada penghasilan. Walaupun sudah menabung, tapi tetap harus berjaga-jaga dong. Apalagi saya tipe yang mandiri dan tidak terlalu bergantung sama orang lain. Dan pada akhirnya, memantapkan keluar dari pekerjaan adalah sesuatu yang saya syukuri sampai hari ini."

Ya, kota Roma memang tidak dibangun dalam semalam
.***

*        *        *
Saat sharing info di Fun Blogging Session 3

*        *        *
Juara livetweet makanan asal Jepang

*        *        *
Jadi narasumber aplikasi mobile

*        *        *
Superaktif dan totalitas

*        *        *
Narasumber salah satu stasiun tv

*        *        *
Hasil tidak pernah mengkhianati proses

*        *        *
Selalu update dan men-tweet info ketika mengikuti acara

*        *        *
Dari hobi jadi profesi

*        *        *
Berkat ngeblog, bisa jalan-jalan ke berbagai daerah, termasuk di Bali, September lalu

*        *        *
Ngeblog dijalani dengan menyenangkan dan bukan sebagai beban 
*        *        *
Artikel tentang Blogger sebelumnya:
- Krishna Murti
- Kumpulan Emak Blogger
- Edu Krisnadefa
- Christie Damayanti
- Tiga Dara Blogger
- Thamrin Dahlan
-
Vema Syafei
Hazmi Srondol
Aulia Gurdi

Resensi Buku dari Blogger sebelumnya
Evrina Budiastuti
Thamrin Dahlan
Ika Noorharini

*        *        *
- Jakarta, 24 November