TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Resensi Buku Hidup yang Lebih Berarti: Sosok Inspiratif untuk Dayakan Indonesia

Google Adsense 2016

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya
Ngebolang Menikmati Eksotisnya Kawasan Timur Pulau Jawa

Mengupas Sisi Lain dari Sudut Pandang Blogger...

Sabtu, 14 Mei 2016

Resensi Buku Hidup yang Lebih Berarti: Sosok Inspiratif untuk Dayakan Indonesia


Koleksi buku "Hidup yang Lebih Berarti" bersama buku Kompasianer lainnya

YEEEEE... Akhirnya, bertambah lagi koleksi buku Kompasiana saya. Sejak bergabung di jurnalisme warga ini lima tahun silam, tepatnya 11 Oktober 2011 atau nyaris seperlima usia, saya sudah mengoleksi berbagai buku Kompasiana.

Baik itu yang ditulis rekan sesama Kompasianer -julukan untuk blogger Kompasiana-, antologi fiksi bersama komunitas, atau antologi yang dibuat admin Kompasiana yang berjudul "Jelajah Negeri Sendiri". Untuk yang disebut terakhir, jelas membuat saya bangga. Sebab, terdapat empat artikel saya dalam buku tersebut.

Itu mengapa ketika saya promosikan di berbagai media sosial, banyak rekan sesama Kompasianer, Blogger, hingga keluarga yang kagum. Secara, sebagai blogger, menerbitkan buku bisa dikatakan sebagai puncak karier saya di dunia blogging. Apalagi, bisa bersanding dengan berbagai Kompasianer hebat lainnya yang diseleksi admin secara ketat.

Koleksi buku Kompasiana saya berawal ketika menghadiri launching Srondol Gayus ke Italy milik Hazmi Srondol. Kebetulan, hari ini tepat lima tahun, yang berlangsung pada 14 Mei 2011 di Mal Pejaten Village, Jakarta Selatan yang jadi titik awal saya ikut acara Kompasiana. Hingga saat ini, kalau tidak salah hitung, sudah lebih dari 50 buku Kompasiana yang saya koleksi. Sebagian masih ada dan beberapa di antaranya saya bagi kepada sesama rekan Kompasianer di luar.

Teranyar, saya mendapat koleksi buku antologi Kompasiana berjudul "Hidup yang Lebih Berarti". Itu setelah saya menghadiri acara peluncurannya bertema "Sosok Inspiratif untuk Dayakan Indonesia" di Menara BTPN, Jakarta Selatan, Kamis (21/4).

Dalam acara tersebut, turut hadir empat pembicara yang didampingi admin Kompasian selaku moderator, Nurulloh. Yaitu, Andrie Darusman selaku Daya Head Bank BTPN, Taryat (pengusaha cokelat Alia), Pepih Nugraha (COO Kompasiana), dan Mejawati Oen (salah satu Kompasianer penulis buku).
*        *        *

"SAMPAH hanya akan jadi sampah tak berguna kalau kalau tidak diolah dan dimanfaatkan jadi kerajinan tangan, jadi batako, pupuk, dan seterusnya." Demikian, pernyataan Pepih dalam kata pengantar buku "Hidup yang Lebih Berarti: Sosok Inspiratif untuk Dayakan Indonesia".

Apa yang dikatakan penulis "Citizen Journalism: Pandangan, Pemahaman, dan Pengalaman" ini mengingatkan saya pada adagium lawas, "Air bisa membuat perahu berlayar, tapi juga dapat menenggelamkannya". Alias, sesuatu dapat baik atau tidak, tergantung apa yang kita lakukan.

Banyak inspirasi yang dapat dimanfaatkan dan aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dari buku setebal 190 halaman ini. Kebetulan, dari 20 penulis, sebagian besar sudah saya kenal karena kerap berinteraksi di Kompasiana, baik secara offline maupun online.

Salah satunya, tentang Taryat dan Eli Darniati, yang membuka usaha cokelat dengan merek Alia Chocolate dan Nuhun Cokelat yang berawal dari hobi. Kisah pasangan suami istri yang dituturkan Kompasianer Khairunisa Maslichul itu sangat menarik. Sebab, menceritakan bagaimana produk mereka dapat diterima pasar dengan modal nekat hingga jatuh, bangun, jatuh, dan bangun lagi.

Tepatnya ketika kantor kerja Taryat bermasalah hingga di ambang Pemecatan Hubungan Kerja (PHK). Itu diungkapkan pria 40 tahun ini pada halaman 123, "Modal kami berbisnis cokelat lebih tepatnya karena nekat setelah merasaksn sendiri suka-duka bekerja untuk orang lain."

Selain nekat, salah satu pelajaran yang bisa dipetik dari pasangan tersebut tentu mengenai tahan mental. Terutama karena mereka menyadari produknya hanya cemilan ringan dan bukan termasuk kebutuhan pokok. Alhasil, Taryat-Eli harus mendapat berbagai pengalaman pahit dan manis, terutama ketika ditolak mentah-mentah penjaga toko saat hendak menitipkan produknya.

"Dipandang sebelah mata sudah jadi santapan sehari-hari saat awal kami berpromosi produk Alia Chocolate dari satu lokasi ke lokasi lainnya," Taryat, mengungkapkan. "Bahkan, tetangga dulu sempat memandang kami sebelah mata. Mereka tak habis pikir, sejrana kok hanya berjualan cokelat? Namun, kini hasilnya ternyata produk cokelat saya disambut baik dan lumayan banyak terjual."

Kini, sekitar 300 toko yang tersebar di Bogor, Jakarta, Sukabumi, Ciannjur, hingga Purwakarta yang terjauh, jadi mitra usaha mereka. Tak heran jika Taryat dan Eli mampu meraup omzet mencapai Rp 20 juta - Rp 35 juta per bulan yang tergolong usaha mikro. Taryat menambahkan dalam sesi tanya jawab di Gedung BTPN bersama puluhan Kompasianer, bahwa setiap jelang lebaran, pesanan mereka melonjak drastis.

*        *        *
KESAN nekat yang berarti berani mengambil risiko juga dialami Syarief Hidayatullah, dengan situasi berbeda. Dalam kisahnya yang ditulis Kompasianer Evrina Budiastuti, menggambarkan sosok pemuda yang unik dan penuh misi serta visi ke depan. Cerita mengenai Syarief ini juga sukses menyentil saya secara pribadi.

Maklum, pada usianya yang tidak jauh beda dengan saya, tepatnya Syarief 25 tahun, sudah memilih untuk membangun desa melalui sektor pertanian yang tentu jarang dilirik orang. Bahkan, kalau boleh jujur, sektor itu justru banyak ditinggalkan para pemuda di desa saat ini.

Namun, intuisi Syarief ternyata tepat. Lantaran, kediamannya yang terletak di Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor ini, memiliki potensi pertanian. Dengan tanah yang subur dilengkapi irigasi yang mendukung, menjadikan desa mereka sebagai salah satu penghasil tanaman pangan dan palawija.

Hebatnya lagi, Syarief yang tidak memiliki latar belakang sarjana pertanian, sukses mengubah pandangan masyarakat, terutama pemuda setempat dengan membentuk kelompok yang disebut "Taruna Tani". Bahwa, pertanian bukanlah pekerjaan yang kumuh dan kotor. Bahkan, dengan kegigihannya, Syarief sukses mengembangkan jambu kristal dengan rata-rata panen 200-250 kg per bulan.

"Kota Roma tidak dibangun dalam semalam". Mungkin, adagium itu yang tepat saya sematkan pada kisah Syarief yang dituturkan Evrina dengan sangat rinci hingga memotivasi pembaca. Terutama kaum pemuda yang merupakan tulang punggung negara ini.

Sebab, harus diakui jika tidak mudah bagi Syarief untuk mengajak rekannya sesama pemuda di desanya untuk jadi petani. Butuh pendekatan secara personal dan sosialisasi kepada masyarakat setempat secara intens yang dilakukan pria yang lulus kuliah pada 2013 ini. Namun, hasilnya bisa terlihat saat ini.

Melalui jambu kristal, Syarief sukses mengembangkan potensi lokal untuk meningkatkan kesejahteraan petani serta keluarga. Termasuk, menyediakan lapangan pekerjaan yang secara tidak langsung sukses mendukung program pemerintah demi mengurangi tingkat kemiskinan masyarakat.

Selain Syarief dan Taryat, tentu masih banyak individu di negeri ini yang sudah berusaha untuk dayakan Indonesia. Termasuk, apa yang ditulis dari 18 rekan Kompasianer lainnya demi membuat hidup yang lebih berarti.

Ya, Mereka sudah melakukan sesuatu untuk hidup yang berarti. Selanjutnya, giliran kita yang turut dayakan Indonesia.

Judul: Hidup yang Lebih Berarti
Penulis: 20 Blogger Kompasiana
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Rilis: April 2016
Halaman: 190
ISBN: 978-602-02-7978-7

*        *        *
Gedung Bank BTPN di Kuningan

*        *        *
Isi daftar absensi Kompasianer

*        *        *
Nurullah selaku moderator membuka acara Coverage launching buku Hidup yang Lebih Berarti

*        *        *
Daya Head Bank BTPN Andrie Darusman (kiri)

*        *        *
COO Kompasiana Pepih Nugraha (tengah)

*        *        *
Kompasianer Mejawati Oen (tengah)

*        *        *
Narasumber dalam buku yang merupakan pengusaha cokelat, Taryat (kiri)

*        *        *
Ada yang unik dengan foto ini? #1

*        *        *
Ada yang unik dengan foto ini? #2

*        *        *
Produk dari Taryat, Alia Chocolate dan Nuhun Cokelat

*        *        *
Salah satu mural/lukisan dinding yang saya suka mengenai susasna pasar di tengah sungai
*        *        *

*        *        *
Keterangan: Artikel ini sebenarnya mau dimuat di blog Kompasiana saya (www.kompasiana.com/roelly87), namun karena sudah lebih sepekan masih tidak bisa login, terpaksa untuk sementara saya publish di blog pribadi.

*        *        *
- Jakarta, 14 Mei 2016

1 komentar:

Maaf ya, saat ini komentarnya dimoderasi. Agar tidak ada spam, iklan judi, obat kuat, penjual gunting kuku, dan sebagainya. Silakan komentar yang baik dan pasti saya kunjungi balik. Satu hal lagi, mohon jangan menaruh link hidup...

Terima kasih :)