TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Resensi Buku Fenomenologi Wanita Ber-High Heels

Google Adsense 2016

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya
Ngebolang Menikmati Eksotisnya Kawasan Timur Pulau Jawa

Mengupas Sisi Lain dari Sudut Pandang Blogger...

Minggu, 20 Maret 2016

Resensi Buku Fenomenologi Wanita Ber-High Heels


Fenomenologi Wanita Ber-high heels karya Ika Noorharini

"Siapa yang dapat menyangka jika high heels yang sangat cantik, seksi, dan fiminin, pertama kali dikenakan oleh... Pria!"
SAYA termasuk -mungkin- segelintir orang yang tidak percaya dengan pepatah, "Jangan lihat buku dari sampulnya". Sebab, ketika saya ingin membeli buku, yang pertama kali membuat saya tertarik tentu melihat cover-nya.

Ibaratnya, kenyamanan dari suatu rumah terlihat pada halamannya. Itu mengapa, mayoritas pria -termasuk saya- adakalanya menyukai wanita yang berawal dari kecantikannya. Bisa jadi, banyak yang membantah dan tidak setuju. Tapi, faktanya seperi itu.

Oke, kembali soal buku. Selain sampul, faktor yang membuat saya tergiur ada pada kedalaman isi, bukan dari tebalnya buku tersebut.
*       *       *

PAGI itu, langit ibu kota tampak mendung. Matahari di atas sana terlihat malu-malu untuk memancarkan sinarnya. Ketika asyik berselancar di teras, datang kurir ekspedisi yang mengantarkan buku pesanan saya. Wow... Akhirnya tiba juga yang ditunggu-tunggu.

Saya yang saat itu sedang menikmati suasana santai, langsung membuka bungkusan yang menutupi buku tersebut. Upz, tampak dua model kembar berbusana hitam yang sangat memesona dengan di sisinya terdapat tulisan mencolok: Fenomenologi Wanita Ber-high heels. Sementara, di posisi paling bawah terdapat nama penulisnya, Ika Noorharini.

Kesan pertama saya melihat halaman depan buku tersebut mengerucut pada satu kata: Seksi! Wajar saja mengingat pria merupakan makhluk visual. Seketika, teringat akan iklan zaman baheula, "Kesan pertama begitu menggoda. Selanjutnya, terserah Anda..."

Tanpa butuh waktu lama, saya langsung melahap buku setebal 112 halaman ini ditemani secangkir kopi ginseng yang hangat. Sejak menatap cover -yang akhirnya saya tahu kakak adik- Rinni dan Rinna Suri sampai pada halaman terakhir Fenomenologi Wanita Ber-high heels, saya mendapat pengalaman baru mengenai sepatu hak dan sejarahnya.

Sayangnya, meski sudah membacanya hingga selesai dalam waktu kurang lima jam, masih ada yang mengganjal. Maklum, saya merupakan cowok yang tentu saja belum pernah memakai sepatu hak. Untuk itu, dalam beberapa hari selanjutnya, saya pun coba menanyakan kepada tiga rekan blogger wanita tentang pengalamannya bersama high heels.

"Ngga enak," jawab rekan blogger dengan singkat melalui aplikasi whatsapp. Bisa dipahami mengingat sepengamatan saya, sosok yang berprofesi sebagai jurnalis tv ini kerap memakai sneakers dalam kesehariannya.

Selanjutnya, dari rekan blogger yang enggan disebut namanya saat bertemu di suatu acara. "Gue dari kecil sampe udah punya anak kecil lagi, paling demen pake high heels. Tapi, tergantung kebutuhan juga, rul. Kalo lagi nganter bocah ke sekolah, ga mungkin pake hak tinggi. Secara, susah buat nginjek pedal gas atau rem," tutur wanita berusia 30-an ini sambil terkekeh dan sempat heran karena saya bertanya mengenai sepatu hak yang menurutnya tak lazim bagi pria.

Terakhir, komentar dari Roosvansia yang merupakan salah satu beauty blogger kondang. Pemilik blog di alamat www.roosvansia.com ini, sangat antusias menjawab pertanyaan saya mengenai pengalamannya bersama sepatu hak.

Bahkan, Roosvansia turut memperlihatkan beberapa koleksi high heels-nya, "Selalu ada penderitaan dibalik heels, but it's oke kalau sakit dipake yg penting cantik dilihat. Oh ya, pake heels itu bisa bikin bokong (kelihatan) lebih naik dan paha juga betis lebih kenceng. Jadi yg sexy jadi sexy, nah yg udah sexy jadi makin sexy deh."

*       *       *

TIGA komentar itu sukses menjawab penasaran saya seusai membaca Fenomenologi Wanita Ber-high heels. Yang menarik, dalam bukunya, Ika membeberkan rahasia mengenai sepatu hak yang membuat saya terkejut. Sebab, dalam sejarahnya justru pria yang ternyata kali pertama mempopulerkan high heels.

Itu terdapat pada halaman 30 ketika saya yang memang menyukai sejarah membaca tentang imperium Persia. Bahkan, wanita yang akrab disapa "Non" ini memberikan fakta lain. Bahwa, bangsawan Eropa pada abad pertengahan juga memakai sepatu hak sebagai simbol eksklusif dalam kalangan mereka.

Khususnya, sejak Raja Prancis Louis XIV membuat larangan tegas penggunaan high heels untuk rakyat jelata pada abad 17. Nah, uniknya lagi, Ika menulis, saat itu, banyak bangsawan yang memakai sepatu bertumit dengan tinggi lebih dari 10 cm demi menunjang penampilannya. Saya sulit membayangkan gimana caranya mereka berjalan dengan hak setinggi itu.

Lalu, sejak kapan wanita mulai mengenakan high heels? Menurut riset yang dilakukan Ika selama tiga tahun untuk buku perdananya ini, ternyata kaum hawa belum lama mengenakan sepatu hak. Tepatnya baru pada dekade 1950-an yang dipopulerkan Christian Dior.

Meski, Ika juga menyebut, penggunaan sepatu hak tinggi untuk wanita sudah ada sejak 3500 sebelum masehi  yang ditandai dengan mural di berbagai dinding gua di Mesir. Hanya, wanita yang kini tinggal di London, Inggris, ini menilai, saat itu, perkembangan high heels belum semasif sekarang. Saya setuju dengan Ika mengingat perkembangan zaman memang menuntut suatu mode untuk lebih menyesuaikan diri.


Membaca Fenomenologi Wanita Ber-high heels ini tidak hanya membuat saya paham mengenai perkembangan sepatu hak yang kali pertama dipopulerkan pria. Melainkan juga menambah wawasan saya mengenai dunia wanita. Yaitu, tentang bagaimana mereka berkorban untuk terlihat anggun di hadapan pasangannya.

Dan, buku ini menjelaskannya secara lugas serta mendalam agar pria bisa lebih memahami wanita.

Judul: Fenomenologi Wanita Ber-High Heels
Penulis: Ika Noorharini
Penerbit: PT Artha Kencana Mandiri
Rilis: September 2015
Halaman: 112
ISBN: 978-602-73069-0-5

*       *       *

Artikel selanjutnya:
- Ngobrol Bareng Ika Noorharini: Tentang Riset Mendalam untuk Menulis Buku

Resensi Penulis Wanita Sebelumnya (selengkapnya di halaman Resensi):
- The Smiling Death (Arimbi Bimoseno)
- Macaroon Love (Winda Krisnadefa)
- 15 November (Anazkia)
- Ketika Tuhan Mengizinkan Aku Sakit (Christie Damayanti)
- Karma (Arimbi Bimoseno)
- Kompilasi Kompasianer
- Jakarta Banget (Antologi)
- Tembang Cinta Para Dewi (Naning Pranoto)
- Perempuan Tuna Rungu Menembus Batas (Angkie Yudistia)
- The Last Empress (Anchee Min)
- Empress Orchid (Anchee Min)
- Yakuza Moon (Shoko Tendo)

*       *       *
- Jakarta, 20 Maret 2016

15 komentar:

  1. wah baru tahu saya, tt high heels justru pertama kali dipopulerkan oleh Pria
    TFS salam sehat dan sukses amin

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya pak, saya juga baru tahu pas baca buku ini
      menariknya lagi, buku ini ga hanya khusus untuk wanita, tapi juga pria harus tahu :)

      Hapus
  2. Saya pernah dengar nih kalau high heels dulu yang pakai malah laki-laki. Dan kemarin sempat baca artikel ttg operasi kaki yang dilakukan wanita supaya bisa pakai heels tinggi tanpa sakit. Serem juga sih sebenernya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo wanita yang dioperasi biar kakinya kecil itu jadi ingat novel n film the last emperor, mbak.
      iya, serem banget ga bisa bayangin saya...

      Hapus
  3. Mmm high heels seksi dilihat tersiksa yang pake ha ha.Saya cuma bisa tahan pakai heels ga lebih 15 menit aja ,rasanya sakit,pegel,memakan banyak waktu ketika saya jalan pakai itu :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya ya, pantes saya ga pernah liat mbak amel pake high heels kalo ada acara :)

      #eaaa

      Hapus
    2. Hahaha kaya pernah perhatian saya aja :p

      Hapus
    3. lha, daku kan sering merhatiin dirimu
      dirimu aja yang ga sadar diperhatiin :)

      #eaaa

      Hapus
    4. Buahahaha ngibul banget,kan kamu kan cuma perhatiin si dia meleeee 😜😛✌

      Hapus
  4. Rul, kenapa gue gak ditanyain juga gimana rasanya pake high heels? hehehe

    sakit tauk pakenya, tapi demi penampilan, ya gitu deh, sakit sakit dah, apalagi kalau acaranya resmi kayak kondangan, atau lagi ngemci dsb. Tapi, meski sakit, tetep aja beli lagi beli lagi, walau dipake juga jarang, hehehehhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, lupa ngehubungin mbak eka
      secara, terakhir kita ketemu di nineball thamrin kan mbak pake high heels juga :)
      hi hi hi

      Hapus
  5. kadang suka ngilu kalo liat cewe pake heels nya tinggi bener. takut keseleo

    BalasHapus
    Balasan
    1. he he he
      apalagi kalo liat model di atas panggung ya mas
      ada yang tinggi banget, saya mah ngeri patah
      tapi kalo udah biasa katanya sih lancar2 aja mas :)

      Hapus
  6. aku mah ga kuat kalo high heels paling wedges

    BalasHapus
    Balasan
    1. wedges?
      apalagi tuh mbak?

      he he he ternyata high heels itu banyak jenisnya ya :)

      Hapus

Maaf ya, saat ini komentarnya dimoderasi. Agar tidak ada spam, iklan judi, obat kuat, penjual gunting kuku, dan sebagainya. Silakan komentar yang baik dan pasti saya kunjungi balik. Satu hal lagi, mohon jangan menaruh link hidup...

Terima kasih :)