TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Table Soccer Pacu Kreativitas Masa Kecil

Mengupas Sisi Lain dari Sudut Pandang Blogger...

Kamis, 27 April 2017

Table Soccer Pacu Kreativitas Masa Kecil

Saya bermain Table Soccer versi asli pada Maret lalu


SALAH satu pengalaman paling berkesan dalam seperempat abad lebih hidup saya ini ya ketika masih sekolah. Termasuk, saat masih memakai kemeja putih dengan celana pendek di atas dengkul. Dalam periode itu, meski sudah lewat belasan tahun, tapi memori saya masih menyimpan banyak pengalaman tentang membuat sesuatu yang kreatif.

Misalnya, ketika membuat Table Soccer (Table Football atau Foosball) dengan bahan-bahan seadanya. Yupz, jangan bayangkan dengan Table Soccer saat ini yang harganya mencapai jutaan rupiah dan berukuran standar lebih dari 120x61 cm. Melainkan, saat itu ukuran mini, sekitar 30x10 cm (setara dengan penggaris 30cm).

Bahan-bahannya pun hanya selembar papan bekas, kayu, paku, dan karet gelang! Itu semua saya dapat hasil mulung bersama teman-teman sebaya pada jam istirahat. Kebetulan, saat itu tidak jauh dari sekolah kami sedang ada pembangunan suatu rumah toko (ruko).

Jadi, di halaman depannya, terdapat berbagai barang rongsokan yang tak terpakai. Nah, dari lokasi tempat sampah itu muncul ide untuk membuat permaiann sepak bola meja. Maklum, pada dekade 1990-an, kami yang masih bocah sering mengunjungi wahana bermain seperti yang ada di mal.

Untuk berkunjung ke sana, berhubung kami masih kecil, hanya bisa sekali dua kali main. Salah satunya, Table Soccer yang memerlukan koin dengan ditukar -kalau tidak keliru- sekitar Rp 500 per koin. Jangan dibayangkan, uang Rp 500 dulu dan sekarang.

Sebab, saat itu, dengan Rp 500 sudah bisa beli semangkok bakso dan es teh manis. Bahkan, kalau tidak salah, ongkos angkot hanya Rp 50-100. Apalagi, dolar Amerika Serikat pun kursnya masih Rp 2.000-an. Alhasil, kami lebih sering ke wahana bermain yang ada di mal tersebut untuk sekadar memencet-mencet tombol saja tanpa menukar koin.

Dengan barang seadanya itu, pada suatu siang -tepatnya saya lupa- seusai pulang sekolah, kami tidak langsung kembali ke rumah. Melainkan kumpul di kantin untuk membuat Table Soccer. Semuanya, tidak ada yang beli, alias gratisan.

Termasuk, dengan paku yang tinggal "nyomot" saja dari ruko. Pun dengan alat panteknya, menggunakan batu-batu yang berada di taman dekat sekolah. Setelah semuanya tersedia, kami mulai bekerja sama. Ada yang mengukur garisnya, menggambar lapangan, membikin gawang dengan karet gelang yang diikatkan pada paku, hingga menyiapkan gundu (kelereng).

Kelereng? Yupz, gunanya sebagai bola yang akan disentil dari ujung ke ujung. Sementara, paku kami sebar hingga 22 buah. Yaitu, masing-masing 11 paku yang menyerupai pemain seperti di Table Soccer. Bedanya, Table Soccer versi kami tidak bisa digerakkan.

Melainkan, untuk bisa mencetak gol, kami harus gape -jago- menyentil gundu. Seperti bermain gundu biasa, bedanya dengan area terbatas yang di sekelilingnya terdapat paku sebagai penghalang.

Setelah jadi, kami bermain giliran. Yang kalah ganti dengan dibatasi siapa yang lebih dulu mencetak tiga gol. Table Soccer versi kami ini jadi permainan favorit kami saat istirahat atau seusai pulang sekolah.

Saking hebohnya, berkat kreativitias kami membuat kelas lainnya ikutan untuk membikin Table Soccer versi mereka. Bahkan, beberapa guru pun asyik menyimak permainan kami. Tak jarang di antara mereka ikutan nimbrung untuk bermain. Hanya, dulu saya belum memiliki kamera atau smartphone untuk mendokumentasikannya.

Tapi, jika reuni dan membicarakannya jadi nostalgia tersendiri yang membuat kami tertawa geli untuk mengingatnya (Artikel terkait: http://www.kompasiana.com/roelly87/kenangan-main-petak-umpet_552e0e476ea834cc2a8b45dd)

Ya, bagaimana pun, guru-guru kami punya masa kecil yang nyaris sama. Yaitu, bermain gundu. Sayangnya, sebagian dari guru kami sudah berpulang karena faktor usia. Begitu juga dengan beberapa teman sebaya yang kerap bermain Table Soccer sudah meninggalkan kami lebih dulu.

Meski begitu, kenangan bermain Table Soccer dengan papan dan gundu tetaplah abadi.

*       *       *
Artikel #ODOP Sebelumnya

#Prolog One Day One Post (ODOP): Tantangan Sekaligus Motivasi
- #1 Si Doel Anak Sekolahan, Sinetron 1990-an yang Menginspirasi
- #2 Isra Mikraj sebagai Penanda Ramadan Akan Tiba
- #Ini Rahasia untuk Ngeblog Lebih Semangat
- #Gaji Pertama dan Pesan Orangtua

Artikel Sekolah Sebelumnya
-Pengalaman Hari Pertama Mengantar Sekolah setelah 18 Tahun

*       *       *
Artikel ini diikutsertakan dalam kegiatan One Day One Post (ODOP) bersama Komunitas ISB
Jakarta, 27 April 2017

2 komentar:

Maaf ya, saat ini komentarnya dimoderasi. Agar tidak ada spam, iklan judi, obat kuat, penjual gunting kuku, dan sebagainya. Silakan komentar yang baik dan pasti saya kunjungi balik. Satu hal lagi, mohon jangan menaruh link hidup...

Terima kasih :)