TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Gaji Pertama dan Pesan Orangtua

Google Adsense 2016

Tentang Juventus dan Liga Champions

Tentang Juventus dan Liga Champions
Road to Cardiff: Langkah Si Nyonya Besar untuk Bertakhta Dimulai

Mengupas Sisi Lain dari Sudut Pandang Blogger...

Rabu, 26 April 2017

Gaji Pertama dan Pesan Orangtua


Pemandangan matahari terbenam yang memesona di Bukit Langkisau


BIASANYA, saraf motorik manusia selalu mengingat sesuatu yang pertama. Entah itu kenangan, pacar, kendaraan, pekerjaan, hingga gaji. Termasuk, saya yang tidak pernah lupa dengan gaji pertama.

Itu terjadi satu dekade silam ketika pertama kali kerja di suatu perusahaan yang bergerak di bidang hasil perkebunan di ibu kota Jawa Barat. Tentu, sebelumnya saya sudah pernah bekerja atau minimal usaha sendiri. Baik itu berjualan koran secara asongan, freelance, dan sebagainya.

Ketika mendapat gaji pertama, saya langsung pulang ke kostan. Ya, biasa saja mengingat saat itu sedang merantau. Beberapa pekan kemudian saat libur dua hari, baru balik ke ibu kota untuk kumpul bersama keluarga. Nah, saat itulah gaji pertama saya langsung saya gunakan. Sebagian untuk Orangtua. Meski, mereka menolak karena tidak ingin meminta apa-apa dari anaknya.

"Kamu sudah kerja saja, kami sudah bangga. Simpan saja (gaji) kamu untuk ditabung," demikian kata Orangtua saya saat itu. Tapi, sebagai anak, tentu saya ingin memberi yang terbaik untuk Orangtua. Setelah diterangkan bahwa sebagian sudah ditabung, baru mereka mereka menerima.

Nah, pada momen ini, terjadi kejutan. Sebab, rencananya esok harinya saya mau membawa Orangtua dan adik untuk makan-makan di suatu restoran khas Sumatera Barat di kawasan Salemba, Jakarta Pusat. Namun, ketika siang, tiba-tiba di meja makan sudah tersaji gulai tunjang, jengkol sambalado, hingga favorit saya sambal teri petai. Wow...

Usut punya usut, ternyata gaji pertama yang saya berikan itu oleh Orangtua langsung dibelikan lauk-pauk kesukaan saya. Benar kata pepatah, kasih sayang Orangtua kepada anaknya itu sepanjang masa. Bahkan, ketika esok malamnya saya mau berangkat, mereka malah membuat masakan untuk bekal di jalan.

"Ini makanan kesukaan kamu untuk dimakan di bus. Jangan kebanyakan jajan ya. Tinggal di luar kota harus hemat. Uangnya ditabung," ujar Orangtua memberi pesan.

Apa yang disampaikan Orangtua jadi pedoman saya saat menerima gaji pada edisi berikutnya. Ini kisah gaji pertama saya, bagaimana dengan cerita Anda?

Artikel #ODOP Sebelumnya

#Prolog One Day One Post (ODOP): Tantangan Sekaligus Motivasi
- #1 Si Doel Anak Sekolahan, Sinetron 1990-an yang Menginspirasi
- #2 Isra Mikraj sebagai Penanda Ramadan Akan Tiba
- #Ini Rahasia untuk Ngeblog Lebih Semangat

*       *       *
Artikel ini diikutsertakan dalam kegiatan One Day One Post (ODOP) bersama Komunitas ISB
Jakarta, 26 April 2017

2 komentar:

  1. gaji pertamaku dulu buat siapa ya..waktu itu masih jadi honorrer, sama ortu suruh nyimpen buat sendiri saja hehe

    BalasHapus
  2. gaji pertama buat orangtua

    BalasHapus

Maaf ya, saat ini komentarnya dimoderasi. Agar tidak ada spam, iklan judi, obat kuat, penjual gunting kuku, dan sebagainya. Silakan komentar yang baik dan pasti saya kunjungi balik. Satu hal lagi, mohon jangan menaruh link hidup...

Terima kasih :)