TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: #OjolPunyaCerita

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label #OjolPunyaCerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #OjolPunyaCerita. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Juli 2026

Tengah Malam Ambil Orderan di Lantai 3 Mal

Tengah Malam Ambil Orderan di Lantai 3 Mal

Saya jalan kaki naik eskalator ke lantai tiga
(Foto: dok.pribadi/@roelly87)


BULAN ini, saya genap tujuh tahun berprofesi sebagai ojek online (ojol). Tepatnya, sejak 11 Juli 2019 usai dua pekan sebelumnya mendaftar.

Saya punya lima aplikasi ojol aktif. Berdasarkan urutan, Gojek, Shopee, Lalamove, Maxim, dan Indriver. 

Ada satu lagi yang sudah ditutup induk perusahaannya meski hanya seumur jagung beroperasi. Yaitu, Traveloka East yang nonaktif November 2002.

Dalam tujuh tahun terakhir ini, banyak suka dan duka yang saya alami. Beberapa di antaranya sudah saya tulis di blog pribadi, www.roelly87.com atau di Kompasiana (www.kompasiana.com/roelly87).

Baik lucu, kocak, sedih, seram, horror, memantik emosi, dan sebagainya. 

Itu meliputi toilet SPBU ga ada airnya, penumpang kecebur got saat menuju bandara, nemenin BAP di Polsek yang dijambret, diceramahi customer akibat naruh piza di jok belakang, hingga digerepe-gerepe boti!

*          *          *

MINGGU malam hingga Senin pagi di stasiun antarkota seperti Gambir, Pasar Senen, dan Jatinangor, selalu dipenuhi ojol, taksi online, hingga konvensional. Itu karena banyak penumpang kereta yang turun dari arah timur Jawa. 

Orderannya pun mayoritas kakap. Alias, jarak jauh. Seperti yang saya dapat Senin (6/7) menuju salah satu cluster di Pantai Indah Kapuk (PIK). 

Selesai antar, saya streaming Brasil vs Norwegia yang antiklimaks. Sambil ngopi dan "menghirup asap kehidupan".

Saat lagi seru usai pemain Brasil gagal eksekusi penalti, bunyi orderan masuk. Kirim makanan dari mal PIK Avenue ke apartemen di seberangnya.

Spontan, aktivitas nonton Piala Dunia 2026 saya hentikan. Cek di aplikasi, rinciannya ambil orderan di salah satu restoran yang terletak di lantai tiga, Haidilao Hot Pot.

Hah?

Ini pukul tiga dini hari WIB. Mal mana yang buka jam segini?

Serius nih?

Biar ga penasaran, saya telepon pemesannya. Katanya, memang resto khas oriental itu satu-satunya yang buka di PIK Avenue.

Dalam percakapan itu, beliau minta tolong untuk diambil orderannya dan diganti parkir.

Oke.

Saya pun bergegas. 

Sampai parkiran sepi. Ga ada orang satu pun.

Wkwkwk. 

Kocak!

Yah, namanya juga pukul 03.00 WIB!

...

Serem dong? 

Ga lah. Lebih serem lagi kalo ga punya duit!

Untungnya, setelah berkeliling hingga seperminuman teh, ada petugas. Memberi info saya, lokasi resto di lantai tiga. 

Namun, aksesnya hanya bisa jalan kaki. Sebab, katanya eskalator dan elevator masih off yang baru nyala pukul 10.00 WIB sesuai waktu operasional mal.

Ebuset.

Pegal banget kaki. Naik dari basement parkiran motor menuju lantai tiga.

Setapak demi setapak menaiki tangga jalan.

Mana gelap lagi sekeliling malnya.

Sumpah, mungkin saya satu-satunya manusia di area itu. Ga ada orang lain lagi!

...

Merinding euy.

Bulu rambut saya berdiri seketika pas sudah sampai lantai tiga. Efek capek kali akibat jalan kaki.

Sebenarnya ga ada apa-apa. Ga ada penampakan atau hal aneh.

Mungkin, ini saya sedang halu. Atau sugesti gara-gara sering nonton film horor.

Kendati, saya ingat-ingat, ada tiga momen yang terasa janggal.

Pertama, pas jalan kaki naik eskalator terdengar suara orang napas.

Lalu, saat lewat etalase, ada manekin yang seperti melirik dan membayangi.

Terakhir, saat turun lewat lift barang. Ada sesuatu.

Ya, pokoknya, ada...

*          *          *

USAI perjalanan yang "seru" dari parkiran motor di basement ke lantai tiga, akhirnya saya sampai di resto. Disambut hangat oleh kasirnya sambil diberi segelas teh dengan aroma wangi yang khas.

Segar!

Eh iya. Saya pun mengamati sang pegawai itu. Dari ujung rambut hingga kaki.

Yes, sepatunya napak tanah. 

Kalo melayang, sumpah mungkin saya langsung sipat kuping. 

Bukan maksud mendramatisir, tapi bisa dipahami mengingat saat itu masih jam tiga malam. Apalagi, dalam mal yang masih tutup.

Wajar jika saya harus teliti. 

Kendati, saya bukan tipe penakut. Biasa ngojol malam hari yang sering nemuin anomali di jalan.

...

Namun, waspada itu boleh. 

Sebab, seketika -efek kebanyakan nonton film horor- di imajinasi saya bahwa pegawai itu makhluk halus. Begitu juga dengan gedung yang saya tempati, halusinasi saya malah lahan kosong.

Wkwkwkwk.

Kocak.

Ini gara-gara kebanyakan baca Majalah Misteri, Nyata, Tatang S, sampe Enny Arrow! 

(Selengkapnya: Brigitte Lin Ching-hsia yang Memesona - http://www.roelly87.com/2023/12/brigitte-lin-ching-hsia-yang-memesona.html)

Faktanya, normal aja. Pegawai itu memberikan saya bungkusan penuh cemilan.

"Untuk masnya ya. Sambil nunggu makanan lagi diproses," kata pegawai yang sekilas mengingatkan saya pada Winona Ryder.

(Ebuset, jadul amat dah referensinya!)

Saya pun langsung membukanya. Isinya banyak.

Ada es krim, wafer, stik, chiki, hingga rumput laut. 

Ih, sedapnya!

Saya jadi pengen terus dapat orderan di resto ini.

Dasar matre!

Wkwkwkw...

Hanya, pemberian itu mungkin situasional. Alias, hanya pada jam-jam tertentu.

Sebab, di PIK Avenue, ojol yang mau ambil orderan food ga perlu ke resto. Melainkan, cukup nunggu di pick-up point yang biasanya dijaga dua petugas dengan berlokasi di basement parkiran.

Nanti, pegawai resto yang memberikan makanan kepada ojol setelah diverifikasi petugas jaga. Pun demikian dengan parkir.

PIK Avenue menyediakan parkir gratis untuk ojol dan kurir paket. Syaratnya, kertas parkir distempel petugas jaga di pick-pu point.

(Selengkapnya: Daftar Mal Elite di Jakarta dan yang Gratiskan Parkir untuk Ojol - http://www.roelly87.com/2024/06/daftar-mal-elite-di-jakarta-dan-yang.html)

*          *          *

SEPEMBAKARAN hio berlalu. Pegawai satunya lagi menghampiri saya yang sedang sibuk "unboxing" cemilan.

Ternyata, makanan udah jadi. Dua plastik besar. 

Akhirnya!

Beliau pun memberi info, ada lift barang yang biasa diakses karyawan. Lokasinya ga jauh. 

Saya baru tahu, euy. Ga apa-apa telat daripada ga sama sekali!

Saya pun mengucapkan terima kasih. 

Secara, turun dengan lift jauh lebih enak ketimbang jalan kaki lewat eskalator yang masih off. 

Hufft.

Eh, bentar. 

Lewat lift?

Waduh, sepi dong.

...

Jadi ingat drama Thailand, ada orang yang dikejar makhluk halus berbusana penari tradisional. 

Wkwkwkw.

Yasudahlah, mending lewat lift. Secara, saya agak rempong bawa dua plastik ukuran besar.

Yang penting, saat itu, saya cuma ingin segera ke parkiran. Perkara "ada sesuatu", itu urusan belakangan.

...

...

Ternyata, pas sampe aman-aman aja. Emang ga ada apa-apa.

Mungkin, saya terlalu halu. Ini zaman modern, era teknologi canggih, masa percaya takhayul?

Usai memberikan pesanan kepada customer, saya buka hape. 

Kaget dong!

Bukan, ini bukan soal ada penampakan di foto atau video yang saya rekam. 

Ternyata, lihat berita, Brasil disingkirkan Norwegia 0-2. Semua gol diborong Erling Haaland. 

Ya, gagal deh Brasil melaju lebih jauh di Piala Dunia 2026. Sekaligus, jadi panggung antiklimaks bagi Neymar...

*          *          *

Disclaimer: Artikel ini murni pengalaman pribadi saya sebagai bloger yang berprofesi ojol. Ga ada pesanan dan tendensi apa pun. Video di akun youtube dan tiktok saya, @roelly87.

*          *          *

Jakarta, 21 Juli 2026

*          *          *


Artikel Terkait Bloger


- Blog Saya, roelly87.com Ditawar Rp 13 Juta (https://www.roelly87.com/2026/07/blog-saya-roelly87com-ditawar-rp-13-juta.html)


- Insiden Membokongi Piza (https://www.roelly87.com/2025/01/insiden-membokongi-piza.html)


- Dan Terjadi Lagi... Pelecehan Seksual terhadap Ojol (https://www.roelly87.com/2024/08/dan-terjadi-lagi-pelecehan-seksual.html)


- Penumpang Kecebur Got dan Motor Hampir Mogok: Drama Banjir 22 Maret (https://www.roelly87.com/2024/03/penumpang-kecebur-got-dan-motor-hampir.html)


- Terjebak di Toilet SPBU Kuningan (http://www.roelly87.com/2024/10/terjebak-di-toilet-spbu-kuningan.html)


- Anak Perwira Dijambret di Samping Polda Metro Jaya (https://www.roelly87.com/2024/03/anak-perwira-dijambret-di-samping-polda.html)


- Menara Kadin yang Memanusiakan Manusia (https://www.roelly87.com/2023/11/menara-kadin-yang-memanusiakan-manusia.html)


- Kalian Tim PI atau Tim GI (Plaza Indonesia Vs Grand Indonesia) https://www.roelly87.com/2026/05/kalian-tim-pi-atau-tim-gi-plaza.html


- Orderan Hemat, Jemput Jauh, dan Alasan Ojol Cancel Penumpang (https://www.roelly87.com/2026/03/orderan-hemat-jemput-jauh-dan-alasan.html)


- GBHN/Garis Besar Haluan Ngojol - Kamus Besar Bahasa Ojol (https://www.roelly87.com/2020/11/kamus-besar-bahasa-ojol.html)


- Tidak Ada Toleransi untuk Perokok (https://www.roelly87.com/2024/05/tidak-ada-toleransi-untuk-perokok.html)


- Manajemen dan Security PIK yang Memanusiakan Manusia (https://www.roelly87.com/2026/06/manajemen-dan-security-pik-yang.html)


Jumat, 13 Maret 2026

Mengetuk Pintu Langit


POLA macet di Jakarta dan mayoritas kota Indonesia lainnya kemungkinan berubah saat Ramadan. Pada hari-hari biasa, jalanan padat sejak pukul 16.00 WIB hingga 20.00 WIB.


Sementara, pada Ramadan ada pergeseran waktu. Demikian catatan saya sebagai ojek online (ojol) saat menjelajah di empat kotamadya ibu kota, minus Jakarta Timur.


Kemacetan berlangsung sejak pukul 15 00 WIB. Puncaknya, pada pukul 17.00 WIB hingga jelang maghrib dengan aktivitas warga yang ingin pulang cepat untuk buka di rumah, beli takjil, ngabuburit, hingga reuni buka bersama (bukber).


Nah, usai buka puasa, justru jalanan lenggang. Baik itu Sudirman, Daan Mogot, Thamrin, Gatot Subroto, dan jalan raya lainnya minus tol yang tentu saya tidak catat.


Biasanya, saat itu warga sudah sampai di rumah atau tempat bukber. Dilanjutkan tarawih berjamaah.


Setelah pukul 20.00 WIB, macet kembali. Jalanan pun merayap lagi hingga pukul 23.00 WIB sepanjang Ramadan.



*       *       *


USAI mengantar penumpang di Stasiun Cawang atas, tiba-tiba sepeda motor saya agak berat pas turunan MT. Haryono. Saya pun menepikan si kuda besi adalan sehari-hari ini.


Ternyata, ban bocor. Ada paku ukuran sedang yang menancap.


Untungnya tubeless. Jadi, saya masih bisa mengendarai hingga ke tambal ban terdekat.


Beda lagi kalo pakai ban dalam. Jika bocor ya harus langsung ditambal.


Saat lagi mencet ban, ada sedan mewah asal Jepang yang merupakan sub brand untuk pasar Amerika Serikat (AS). Mobil tersebut berhenti di samping saya yang memang kebetulan lenggang karena baru jam berbuka puasa.


Seorang pria muda sekitar usia 30 tipis-tipis keluar. Saya yang baru saja memencet ban langsung berdiri.


Kirain saya, pria ini mau tanya alamat. Di pintu samping keluar wanita yang kemungkinan istrinya diikuti pintu belakang dengan anak perempuan.


"Kenapa bro, motornya?" kata pria itu mengawali percakapan dengan ramah.


"Biasa mas, bocor," saya menjelaskan.


"Wah itu ada pakunya ya," tuturnya ikutan jongkok.


"Iya, untung paku biasa. Nancap masih bisa jalan, kalo paku jari-jari payung yang dalamnya berongga, bisa abis ban."


"Ada tambal ban di sini?"


"Banyak mas. Ini masih aman."


"Bro udah buka puasa?"


"Udah mas. Terima kasih."


Pria itu kemudian seperti kasih kode ke anak perempuannya yang membawa bungkusan besar makanan cepat saji.


"Oom, ini buat buka puasa bareng keluarga Oom?" Anak yang kemungkinan masih TK atau SD ini menyodorkan bungkusan plastik besar berwarna putih itu dengan ramah.


"Terima kasih dik, Om udah makan. Ini mau lanjut lagi," saya menolak dengan halus.


Anak tersebut kembali melihat ayahnya. Ga lama mengangguk.


"Oom ga apa-apa, ini buat keluarga Oom juga di rumah. Tadi kami beli banyak."


"Iya bro, tadi kita udah makan di tempat. Masih ada beberapa bungkus. Ambil aja buat keluarga di rumah ya."


"Bener mas, ini saya juga baru beli pas abis maghrib," saya memotong.


Saya pun membuka jok motor yang berisi bungkusan gorengan dan kolak biji salak yang saya beli usai buka. Saya memang punya kebiasaan beli takjil sesudah maghrib ke pedagang yang dagangannya masih banyak atau sepi.


Ya, untuk ikut melariskan dagangan mereka. Sumpah, kita beli takjil ke pedagang yang sepi atau yang masih banyak saat maghrib lewat itu feelnya beda dibanding saat kita beli ke pedagang yang ramai atau laku sebelum maghrib.


Sebab, pedagang akan melayani dengan sangat khidmat saat kita beli di dagangan yang sepi atau usai maghrib. Ini udah saya lakuin dalam beberapa tahun terakhir.


Secara, ibu saya dulu dagang takjil yang bahkan pernah ga habis hingga tarawih yang rahasianya baru terbongkar usai tidak jualan lagi. Jadi, saya berusaha untuk ikut melariskan dagangan yang sepi atau masih banyak seusai maghrib.


Artikel terkait: Belilah Kolak dan Cemilan Buka Puasa di Pedagang yang Sepi (https://www.roelly87.com/2024/03/belilah-kolak-dan-cemilan-buka-puasa-di.html)


"Udah bro, ga apa-apa. Anak saya tadi puasa full, jadi minta bukber di luar. Nah, kebetulan kami beli banyak. Mubazir kalo ga dimakan," pria itu melanjutkan.


Karena ga enak untuk menolak pemberian tulusnya, saya pun menerima. Apalagi, bocah perempuan itu megangnya agak berat karena bungkusan warna putih isinya terlihat beberapa nasi, ayam, dan minuman cup.


"Terima kasih ya dik," kata saya menyambut uluran bocah tersebut.


"Sama-sama Oomnya."


"Kuat dik puasanya? Udah berapa hari full?"


Bocah itu menghitung jemari tangannya. Tingkahnya sungguh lucu.


"Delapan hari om. Adiknya full kalo libur sekolah aja. Kalo masuk, setengah hari. Namun, beberapa kali dipaksain sendiri sampe kuat," sang istri menimpali dengan semringah.


"Iya Oom. Delapan hari," bocah itu memperlihatkan angka delapan lewat jemari pada kedua tangannya.


"Ih keren. Masih kecil udah banyak full. Mantul ya dik," kata saya tersenyum. 


Saya ga maksud memuji. Namun, seusianya udah puasa full seharian itu bagus. 


Sebab, saat saya sepantaran bocah itu dulu, pada dekade 90-an, saya aja sering bolong puasanya.


Ha... Ha... Ha...


"Iya oom. Terima kasih ya," kata sang bocah sambil menggamit adiknya -kemungkinan balita- yang ikut turun dari mobil.


"Terima kasih ya dik. Terima kasih ya mas dan ka," kata saya menjura sambil bersiap menaruh bungkusan itu ke dashboard motor.


"Iya mas. Hati-hati di jalan," kata sang pria dan istrinya kompak. Sementara, bocah perempuan dan adiknya turut 'dadah' di balik pintu belakang dengan jendela yang dibuka seperempat.


Sedan itu berlalu secara perlahan. Saya pun siap menuju tambal ban.


Namun, saya merasa ada yang aneh.


Ketika mengecek ban dan sekitar motor tidak ada yang janggal. Begitu juga dengan area sekitar yang tidak ada ketinggalan sesuatu dari keluarga tersebut.


Ternyata...


Saat pandangan saya tertuju ke plastik, di bawahnya ada amplop dengan selotip yang nempel. 


Hah?


Refleks, saya ambil langsung amplop itu. Khawatir ketinggalan punya keluarga tersebut.


Hanya, saya tertegun.


Di depannya ada stiker bertulisan yang seperti sudah diprint.


"Selamat berbuka puasa ya bro/sis ojol. Ini sedikit dari kami untuk bro/sis ojol dan keluarga. Salam hangat."


Saya raba amplopnya. Pas dibuka ternyata ada wajah Dwitunggal hingga lima lembar.


Ebuset.


Seketika, saya mau kejar keluarga tersebut untuk mengembalikannya. Namun, mobilnya sudah tidak terlihat.


Entah mereka muter balik di samping Polsek Jatinegara, arah Kalimalang, atau masuk tol. 


Jelas, saya ga bisa mengejarnya.


Yang pasti, saya memang berniat mengembalikan uang ini. Serius.


Saya bukannya menolak rezeki. Saya terbuka untuk menerima pemberian orang lain.


Entah itu makanan atau sembako saat ramadan atau hari biasa. 


Memang, saya memegang teguh adagium, "Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah."


Namun, sebagai manusia yang hidup di jalan, saya harus fleksibel. 


Khususnya, saat menjalankan pekerjaan ojol. Setiap hari pasti ada yang memberi tip.


Tentu, saya ga bisa nolak. Secara, tip itu kan tanda kepuasan customer atas pelayanan ojol.


Hal sama berlaku jika saya memesan ojol atau beli makanan. Sudah pasti saya beri tip untuk rekan seperjuangan.


Apalagi, jika tipnya dari customer itu via nontunai. Kan saya ga bisa mengembalikan ke penumpang yang sudah naik kereta, bis, atau sampai rumah.


Jadi, saya harus adaptif. 


Yang utama, pantang bagi saya untuk minta-minta.


Di luar tip penumpang, saya juga sering dikasih makanan atau sembako dari orang lewat. Tentu, saya ga enak hati jika sampai menolak pemberian mereka.


Toh, mereka niat berbagi. Tanpa kamera atau video yang didokumentasikan.


Artikel terkait: Terima Kasih, Orang Baik (3) (https://www.roelly87.com/2024/03/terima-kasih-orang-baik-3.html)


Namun, selain pemberian pria tadi yang sudah terlanjur pergi, saya sudah tiga kali dikasih uang. 


Ya, tiga kali.


Dua diantaranya, saya tolak langsung dengan sopan.


Bukan bermaksud sok kaya, gengsi, atau apa. Namun, bagaimanapun saya ojol.


Saya kerja.


Saya harus jaga marwah profesi ini.


Dua pemberian uang itu -di Roxy dan Gunawarman- saya tolak secara halus.


Sementara, satunya di Pluit, saya terima. Dengan penjelasan sang pemberi yang masuk akal.


Sebab, karena satu hal mereka bernazar. Jika ***nya sudah *** akan menyisihkan rezeki untuk dibagi-bagi ke sekian orang yang ditemui langsung sebagai wujud syukur.


Kebetulan, saya ga sengaja ketemu. Kendati, saya udah nolak beberapa kali.


Namun, mendengar penjelasan kedua pemberi itu yang masuk akal, akhirnya saya pun luluh.


Pasalnya, mereka sudah berusaha, berikhtiar, dan berdoa. Ketika segala upaya mengetuk pintu langit terwujud, mereka pun langsung menunaikan nazarnya.


Saya terharu saat itu. Betapa perjuangan mereka bertahun-tahun untuk menanti kehadiran sang buah hati akhirnya kesampaian.


Alhasil, saya pun menerima pemberian tulus dari mereka. Saling mendoakan yang terbaik.***


*       *       *

- Jakarta, 13 Maret 2026


*       *       *


Selasa, 10 Juni 2025

Doa Tulus dari Pekerja Hiburan Malam

Doa Tulus dari Pekerja Hiburan Malam

Ilustrasi saya mengantar penumpang naik
getek di Muara Karang 
(Foto: @roelly87)


TEMBOK rumah sakit saksi doa paling tulus antara hambanya dengan Sang Pencipta melebihi rumah ibadah.

Demikian adagium yang saya lihat berseliweran di media sosial (medsos). Itu membuktikan permohonan untuk sembuh, kembali sedia kala, atau dilapangkan kesabaran anggota keluarganya kepada Tuhan sangat berarti.


Baik itu:

- Anak kepada Orangtua dan sebaliknya

- Istri kepada suami dan sebaliknya

- Cucu kepada kakek atau nenek dan sebaliknya

- Antarkeluarga, kawan, kerabat, relasi, hingga kenalan


Sebagai makhluk yang logis, saya sangat percaya dengan kekuatan doa. Baik itu di rumah sakit, rumah ibadah, rumah duka, stasiun, pelabuhan, bandara, terminal, sekolah, dan sebagainya.

Apa pun itu permohonannya, Tuhan tidak pernah tidur.


*        *        *


ALUNAN musik dangdut terdengar meriah di berbagai kafe di kawasan pinggir ibu kota. Ya, modelnya bukan bangunan permanen yang megah seperti di Sudirman, Thamrin, Satrio, dan sebagainya.

Melainkan, terbuat dari triplek berataskan seng yang kalau hujan bunyinya sangat merdu. Namun, sudah cukup memenuhi syarat untuk disebut kafe.

Saat melewatinya, tiba-tiba ada yang melambaikan tangan. Perempuan. Usia muda. Mungkin 20 hingga 25 tipis-tipis.

"Bang ojek dong..." ujarnya mendekati.

"Saya ga ada orderan ka. Salah ojol kali."

"Ih, maksudnya gw mau ngojek ga pake aplikasi ke Barat Daya. Offline, boleh kan?"

"Bentar... Buat siapa?"

"Gw lah bang. Hp Android gw 'lagi disekolahin'. Ini pake hp Nokia jadul. Ga bisa download aplikasi, WA, dll, cuma sms doang sama teleponan."

"Siap."

Sebagai ojek online (ojol), saya sering mendapat tawaran offline atau tanpa aplikasi. Namun, mayoritas saya tolak.

Secara, kalo tanpa aplikasi itu berisiko. Entah itu terjadi insiden di jalan seperti kecelakaan -semoga tidak ya Tuhan... Aamiin!-, begal, atau dihipnotis penumpang.

Beda jika penumpang menggunakan aplikasi. Data-datanya serta rute yang dilewati akan terekam dalam server aplikator.

Jika terjadi insiden pun, bakal terlacak. Sekaligus, memudahkan untuk laporan ke pihak berwajib.

Namun, bukan berarti saya anti tanpa aplikasi. Beberapa kali saya ambil. 

Sebab, ini bukan soal benar atau salah. Secara, se-idealis apa pun saya sebagai manusia, tetap urusan dapur nomor satu.  (selengkapnya: https://www.roelly87.com/2021/03/kompromi-dengan-keadaan.html)

Termasuk, pekan lalu saat tim nasional (timnas) main di GBK dan Indonesia Open 2025 di Istora. 

Hanya, offline khusus yang dekat aja mengingat situasi ramai akibat penumpang sulit order sementara ojol jemputnya kejauhan. Misal, ke Stasiun Palmerah, atau tempat makan di kawasan Senayan. 

Jika tujuan jauh, jelas saya tolak. Risiko kenapa-kenapa.

Itu pun, offline saya ambil penumpang perempuan. Berdua alias bonceng tiga, ga masalah.

Kalo penumpang pria? Ga... 

Terima kasih dah!

Saya takut orang itu begal, hipnotis, atau menyelipkan barang terlarang.

(Baca artikel terkait https://www.roelly87.com/2021/04/ada-rawarontek-di-balik-keberingasan.html).

"Berapa bang?" kata wanita itu.

"Kalo tanpa aplikasi ga tahu. Terserah lo kasih harga aja."

"Sekian *** ya."

"Oke. All, gw balik duluan ya. Jangan pulang sebelum mabok sampe tepar. Ha... Ha... Ha..." jawabnya sambil melambaikan tangan kepada beberapa rekannya yang duduk rapi.

Saya pun melajukan sepeda motor ke lokasi yang dituju. Jaraknya lumayan dekat, kurang dari lima kilo.

Namun, rutenya sangat menantang. Secara, melewati jalanan yang rusak.

Bergelombang, lobang, hingga polisi tidur yang tak beraturan.

Apalagi, setiap pengendara harus ekstrawaspada. Sebab, ini merupakan jalur Transformers.

Alias, rutin dilewati kendaraan besar seperti dump truck, kontainer, trailer, tronton, trintin, trinton, molen, dan banyak lagi.

"Na... Na... Na..." 

Terdengar lirih bisikan dari senandung penumpang di belakang saya. Sejak naik hingga hampir pertengahan jalan.

"Bagus! Nyanyi terus..."

"He... He... He..."

"Sad But True... Keren! Anak metal lo ya?"

"Kaga bang. Bosen kalo di kafe mah dangdut terus. Sekali-kali di jalan Metallica, Guns N' Roses, Nirvana, atau Toto..."

"Gokil, cewe tapi lagunya cadas..."

"Cadas Pangeran? Kampung gw dong."

"Lo asli Sumedang?"

"He..."

"Btw, suara lo merdu. Coba nyanyi Patience GNR, pas banget."

"Nadanya rendah, bang. Ga kuat."

"Kenape menyenandungkan Sad But True?"

"Galau aja bang."

"Asmara? Cintrong? Atau lo diduain?"

"Ih... Amit-amit dah. Bukan itu."

"Biasanya, cewe kalo galau alasannya itu."

"Gw galau karena bokek. Pemasukan seret udah beberapa bulan terakhir 'sampe hp masih disekolahin' belom ditebus nih. Hari ini aja dapat ga nyampe cepe..."

"Sama dong. Berarti alam semesta emang sedang ga baik-baik aja. Di dunia perojolan juga gitu."

"Serius bang?"

"Yongkru. Namanya hidup. Banyak yang sulit dapat orderan. Jadi ya, sama-sama nyender."

"Gw kira cuma gw doang bang."

"Lah, malam minggu bukannya kafe rame?"

"Rame yang nongkrong doang. Jajan mah kagak. Boro-boro beli bir 1 kerat, ini malah bawa air mineral dari luar. Dikira kita penjaga stan pasar malam, kali ya?"

"Lah, kok bisa. Tempat lo kan kafe?"

"Iya, kafe. Tapi, kafe 'ya gitu' deh."

"Ooh...


*        *        *


PENUMPANG itu cerita, meski namanya kafe, tapi tempat kerjanya multifungsi. Bisa jadi karaoke, pijat, salon, sampe "ruang curhat".

Ya, tergantung kemauan tamu. Ibaratnya, palugada, "Apa lo mau, gw ada".

Namun, setiap malam minggu, sudah tradisi berderet kafe di kawasan itu minim pemasukan. Beda dengan hari biasa.

Ini jadi dilema bagi para pekerja. Datang cuma cukup buat ongkos doang, ga hadir tapi di rumah bokek akibat ga ada pemasukan.

"Kalo malming, yang berduit jarang dateng. Pada dokem di rumah sama bininya masing-masing," ujarnya sambil berteriak karena suaranya ga terdengar akibat di sebelah ada rombongan sirkus lagi memainkan knalpot.

Emang hama ini para komunitas motor celeng. Mending, kalo motornya bagus, lah ini cuma 100-an cc.

Masih kalah sama motor ojol yang banyak 150 cc lebih. Udah gitu, rombongan sirkus ini kalo konvoi pada nutupin jalan.

Motor bagus? Ga!

Muka rupawan? Burik!

Ya, kalo mereka motornya moge kayak Renegade atau yang dipake Antonio Banderas dalam Desperado, sih, bisa dipertimbangkan.

Atau, kalo parasnya lelananging jagad ala Leonardo Di Caprio serta manis seperti Brigitte Lin Ching-hsia dalam Swordsman III, ya bisa dibicarakan baik-baik. (https://www.roelly87.com/2023/12/brigitte-lin-ching-hsia-yang-memesona.html)

Lah ini tanpa bermaksud menghina, udah motor bobrok, muka buruk rupa, eh kelakuan kayak dajal. Bikin esmosi pengendara aja!


*        *        *


"KITA mah mending tamu yang udah berumur. Royal. Ga itungan kalo 'jajan'," penumpang itu melanjutkan. "Ketimbang anak muda. Menang ganteng doang. Beli minuman aja patungan. Boro-boro kasih tip."

"Yah, gw ga ngerti gituan dah."

"Iye, maksudnya cuma sekilas info bang."

"Siap, tuan ratu."

"Ratu apaan? Ratu dunia hitam kayak di film. Ha ha ha!"

"Yah, intinya lo punya duit, lo punya kuasa."

"Njir, itu kalimat rayuan gw tuh kalo tamunya royal. Asyik. Keluarin duit ga dipirit lagi."

"Nah, itu Rohaye... Ada masanya tamu lo royal. Kadang ada yang pait. Ya, namanya juga hidup."

"Ho oh, bang. Sama kayak ojol ya. Gw dengar pada sepi?"

"Mayoritas iya. Harus disyukuri aja. Banyak atau dikit, yang penting udah usaha."

"Tjakep, bang. Gw juga kalo udah *** bakal pensi. Gw pengen hidup normal dan ***."

"Silakan. Itu pilihan, lo mau kerja apa aja bebas. Yang penting bisa buat anak atau keluarga."

"Kadang kalo bipolar gw kambuh, gw malu juga sama tetangga. Apalagi, kerja beginian pulang sering pagi. Jadi bahan omongan."

"Lah, emang tetangga lo yang kasih makan lo? Ga, kan?"

"Ya, ga sih."

"Ngapain harus malu? Hidup lo, ya lo yang atur sendiri. Mau lo kerja apa kek, urusan lo. Lo ga usah peduliin tetangga," saya menjelaskan. "Kecuali, lo dikasih makan sama tetangga lo tiap hari, kalo mereka nyinyir, ya pantes. Ini kan, ga?

"Ya begitulah," ujarnya sambil menarik napas.

"Ini ada cagak, belok kanan atau kiri?"

"..."

"Woi... Rohaye, die malah ngelamun."

"Anjir... Maap bang. Wkwkwkkw. Iye, kanan."

"Siap. Yang ada tugu?"

"Iya bang."

"Oke sampe."

Saya pun menepikan sepeda motor. Memberi ruang gerak pengendara lain yang ingin lewat mengingat jalannya cukup sempit."

"Ini bang."

"Ebuset, gw kaga ada kembaliannya."

"Serius?"

"Lah, pan dibilang orderan ojol lagi sepi. Mungkin, efek libur panjang."

"Oke bang. Gw tuker ke warung dulu ya."

Penumpang itu pun membawa balik selembar merah untuk ditukar ke warung. Ongkosnya, sekitar 1USD lebih dikit.

Jelas, saya ga punya kembalian. Secara, di dompet aja cuma ada selembar biru dan beberapa ribuan. 

"Bang, ini air mineral buat lo. Bentar ya gw lagi nunggu kembalian," penumpang itu menghampiri dengan botol air mineral berukuran sedang.

"Selow aja. Sorry ngerepotin. Soalnya emang ga ada kembalian. Duit lo kegedean."

"Anjir... Saae lo bang, ni aja selembar-lembarnya," katanya dengan tersenyum renyah.

Sambil menunggu pembayaran tunai, saya pun membuka bagasi motor untuk mengeluarkan jas hujan. Maklum, langit pada dini hari udah merah.

Takutnya, tiba-tiba hujan lebat. Jadi, ya, kata pepatah, sedia jas hujan sebelum deras.

"Ini bang, ga usah kembali."

"Yee, banyak amat," jawab saya usai menerima selembar hijau dan 1 ringgit lebih.

"Ga apa-apa, buat lo bang. Makasih ya. Gw doain moga lo juga lancar rezekinya juga sehat biar kuat cari nafkah. Aamiin..."

"Aamiin. Makasih banyak, Rohaye."

Saya pun menaruh uang di tas selempang. Karena penumpang udah ngasih lebih, ya saya terima.

Yang penting, bukan saya yang minta. Secara, pantang minta-minta ke orang. 

Sejeleknya saya, masih punya harga diri. Kecuali jika itu masuk layanan ojol, seperti nganternya lebih jauh, beberapa kali berhenti, atau masuk lokasi yang kena parkir.

"Rezeki bro, ambil aja," ucap pemilik warung sambil mengeluarkan beberapa galon kosong.

"Iya, pak. Rezeki. Penumpangnya baik."

"Orangnya emang baik. Sering jajanin atau kasih tip ojol yang nganter."

"Iya pak. Duluan ya."

"Sip, ttdj bro."

Saya pun melanjutkan perjalanan di tengah gemuruh kilat layaknya kehadiran Thor Odinson. Meski tubuh ini bergerak, tapi pikiran masih berada di depan warung tadi.

Khususnya, doa yang bikin merinding dari penumpang yang lupa saya tanya namanya. 

Ya, di tengah kekurangan mencari nafkah yang mungkin dianggap negatif di masyarakat, penumpang itu membuktikan bahwa hidup ga sekadar hitam atau putih. Doi yang bekerja di dunia malam, dalam keterbatasannya benar-benar mengaplikasikan prinsip memanusiakan manusia.

Salut dengan sikapnya.

Apalagi doanya yang tulus bagi saya terdengar sangat menyentuh hati dibandingkan pujian kepada Tuhan yang dilakukan banyak ahli ibadah yang hipokrit.

Terima kasih, wahai penumpang tanpa nama.


*        *        *


- Jakarta, 10 Juni 2025


*        *        *


Artikel Terkait Dunia Malam:


- https://www.roelly87.com/2024/08/psk-dan-gigolo-lebih-mulia-daripada.html

- https://www.kompasiana.com/roelly87/5500985ba33311e7725115a1/ironi-seorang-kupu-kupu-malam

- https://www.kompasiana.com/roelly87/551079a5a33311c037ba83f5/kupu-kupu-malam-dalam-sebuah-kisah?page=all

- https://www.kompasiana.com/roelly87/54f44b677455139d2b6c8860/riwayat-panjang-lagu-kupu-kupu-malam

- https://www.roelly87.com/2021/10/mangga-besar-punya-cerita.html



Artikel Terkait Customer Ojol:


- Pelajaran dari Penumpang Tuna Netra (https://www.roelly87.com/2025/05/pelajaran-dari-penumpang-tuna-netra.html)


- Lirikan Maut Penjaga Kedai 2 (https://www.roelly87.com/2025/03/lirikan-maut-penjaga-kedai-2.html)


- Lirikan Maut Penjaga Kedai (https://www.roelly87.com/2025/03/lirikan-maut-penjaga-kedai.html)


- Insiden Membokongi Piza (https://www.roelly87.com/2025/01/insiden-membokongi-piza.html)


- Dan Terjadi Lagi... Pelecehan Seksual terhadap Ojol (https://www.roelly87.com/2024/08/dan-terjadi-lagi-pelecehan-seksual.html)


- Tidak Ada Toleransi untuk Perokok (https://www.roelly87.com/2024/05/tidak-ada-toleransi-untuk-perokok.html)


- Penumpang Kecebur Got dan Motor Hampir Mogok: Drama Banjir 22 Maret (https://www.roelly87.com/2024/03/penumpang-kecebur-got-dan-motor-hampir.html)


- Terima Kasih, Orang Baik (3) (https://www.roelly87.com/2024/03/terima-kasih-orang-baik-3.html)


- Tidak Ada Polisi 40%, Ini Alasan Penumpang Enggan Pakai Helm (https://www.roelly87.com/2020/03/tidak-ada-polisi-40-ini-alasan.html)


- Anak Perwira Dijambret di Samping Polda Metro Jaya (https://www.roelly87.com/2024/03/anak-perwira-dijambret-di-samping-polda.html)


- Sisi Lain Konser Coldplay: Mistik, Sedih, Haru, dan Bahagia (https://www.roelly87.com/2023/11/sisi-lain-konser-coldplay-mistik-sedih.html)


- Menara Kadin yang Memanusiakan Manusia (https://www.roelly87.com/2023/11/menara-kadin-yang-memanusiakan-manusia.html)


- Ditolak Ojol: Bertepuk Sebelah Tangan (https://www.roelly87.com/2023/05/ditolak-ojol-bertepuk-sebelah-tangan.html)


- BlackPink di Mata Ojol (https://www.roelly87.com/2023/03/blackpink-di-mata-ojol.html)


- Risiko Ojol Antar Makanan pada Dini Hari (https://www.roelly87.com/2023/02/risiko-ojol-antar-makanan-pada-dini-hari.html)


- Karena Customer adalah Raja (https://www.roelly87.com/2022/01/karena-customer-adalah-raja.html)


- Di Suatu Desa dengan Penumpang Random (https://www.roelly87.com/2021/10/di-suatu-desa-dengan-penumpang-random.html)


- Sebuah Kisah Klasik yang Tak Berujung (https://www.roelly87.com/2021/06/sebuah-kisah-klasik-yang-tak-berujung.html)


- Kompromi dengan Keadaan (https://www.roelly87.com/2021/03/kompromi-dengan-keadaan.html)


- Orderan pada Malam yang Ganjil (https://www.roelly87.com/2020/11/orderan-pada-malam-yang-ganjil.html)










Senin, 26 Mei 2025

Pelajaran dari Penumpang Tuna Netra

Pelajaran dari Penumpang Tuna Netra

Ilustrasi pedagang kerupuk tuna netra
(Foto: https://www.roelly87.com/2024/08/psk-dan-gigolo-lebih-mulia-daripada.html)


MEMASUKI bulan kelima dari tahun ini, seharusnya sudah kemarau. Namun, cuaca di Indonesia memang susah ditebak.

Adakalanya, saat musim hujan, dilanda kekeringan. Itu terjadi pada periode ber-ber-ber.

Alias, sejak Oktober, November, dan Desember. Dilanjut Januari hingga Maret.

Di sisi lain, ketika kemarau (April-September), justru kerap kebanjiran di beberapa tempat, termasuk Jakarta. Ya, seperti sekarang ini.

Itu yang saya perhatikan ketika sedang menyeruput kopi hideung nan panas di kawasan Muara Karang, Jakarta Utara. Saat mendongak ke atas sih, langit cukup cerah.

Namun, ketika melihat ke arah selatan, tampak kelabu. Alias, siap-siap hujan merambat ke bibir Jakarta.

Tet... Tot...

Demikian, bunyi orderan dari salah satu aplikasi ojek online (ojol). Menyadarkan saya dari asyiknya seruputan kopi sachet yang murah meriah.

"Halo.

"Saya di POM Bensin, otw pak," demikian chat saya dan template text dari aplikasi."

Saya bergegas untuk memasang kembali charger mengingat baterai hp sudah low. Tak lupa menonaktifkan aplikasi ojol lainnya.

Ya, saya memang punya lima aplikasi ojol maupun kurir sejak 2019 silam.

Dimulai dari Gojek, Shopeefood, Lalamove, TravelokaEats (sudah tutup), Maxim, dan Indriver. Prinsipnya, simpel.

Dari sekian aplikasi yang saya nyalakan, jika satu masuk orderan, yang lainnya langsung saya off. Ya, biar ga pusing juga kalo semua bunyi.

Secara, saya bukan amuba, yang bisa membelah diri. Ha... Ha... Ha...

Btw, alasan saya banyak aplikasi itu, ya karena sebagai ojol bukanlah karyawan. Alias, statusnya mitra. Tidak ada gaji.

Itu mengapa, saya menerapkan adagium, "Jangan menaruh telur dalam satu keranjang yang sama".

Yuhuuu!

Tak lama berselang, penumpang membalas pesan saya.

"Oke, saya menunggu di depan restoran ikan bakar nanti lihat saja saya lagi berdiri saya tuna netra yang bawa tongkat kalau sudah sampai panggil aja."

Saya yang membacanya pun kaget. Seumur-umur baru kali ini mendapat penumpang tuna netra.

Saya ikutin petunjuknya di lokasi yang dipilih. Ga lama pun sampai.

Pria berusia paruh baya. Ya, sekitar 60-70an dengan tongkat yang bisa dilipat.

Sendirian di pinggir jalan.

Dengan khidmat saya mencoba membantunya saat hendak duduk. Namun, penumpang yang membawa bungkusan kerupuk itu mengatakan, aman.

Alias, sudah biasa. Oke.

"Ke Stasiun Angke, ya mas," ujarnya.

"Siap pak."

Jujur, ini kali perdana saya dapat penumpang tuna netra sejak jadi ojol. Saya kagum dengan semangatnya yang membuktikan keterbatasan bukan halangan untuk mencari nafkah.

Salut!

"Pak, maaf mau tanya, tadi yang mesenin orderan teman bapak atau siapa?" demikian tanya saya.

Ya, sebagai ojol yang bergerak di bidang pelayanan dan jasa, saya berusaha untuk ramah kepada customer. Termasuk, berbincang di perjalanan.

Kecuali, jika macet yang tidak memungkinkan untuk ngobrol.

Atau, ketika mood lagi ga bagud. Biasanya, ya cukup mengingatkan dengan sopan untuk pakai helm, simpan hp, dan tidak merokok.

"Saya sendiri, mas."

"Oh, kirain ada yang pesenin, pak."

"Ga, mas. Saya sendiri. Ini udah biasa."

"Pake aplikasi yang ada huruf braille?"

"Ga. Manual aja. Pake voice note. Jadi, saya buka hp lewat suara. Nanti masuk aplikasi misalnya ojol, maps, dan sebagainya."

"Oh, bisa ya pak. Maaf saya baru tahu."

"Zaman sekarang mah kian gampang. Dulu, sebelum Android, saya kalo perlu apa-apa pakai Nokia batangan yang ada tombolnya. Bisa. Yang penting dipelajari."

"Siap pak."

Di jalan, obrolan pun berlajut. Sumpah, saya kagum dengan semangat customer ini.

Beliau mengungkapkan sudah tidak bisa melihat sejak kecil. Namun, tanpa salah satu indera tersebut, enggan membuatnya lemah.

"Ya, mau gimana lagi. Ini kan udah takdirnya. Yang penting, saya tetap harus berusaha. Apa pun caranya. Asal halal untuk keluarga," ujar penumpang yang tinggal di Bekasi ini. "

"Baik (dapat penghasilan) banyak, dikit, atau sama sekali ga bawa uang, bukan masalah. Secara, saya udah jalanin. Disyukurin aja rezeki dari Tuhan."

Mendengar jawaban itu, seketika saya seperti kepala ini diguyur air es yang dingin di tengah siang bolong. Sebab, saya yang normal ini, kadang suka ngeluh.

Misalnya, pendapatan sebagai ojol yang adakalanya ga tentu. Namun, bapak penumpang yang tuna netra itu justru tetap semangat mencari nafkah di tengah keterbatasannya.

"Dari kecil, saya udah usaha apa aja mas. Dagang keliling pakai tongkat sebagai alat bantu. Itu bukan masalah bagi saya. Saya kan jualan, misalnya ini kerupuk. Bukan minta dikasihanin orang lain," lanjutnya.

Saya sering melihat pedagang keliling yang tuna netra dengan membawa kerupuk atau makanan lainnya. Namun, baru kali ini mendapat penumpang tuna netra.

Apalagi, mendengar kalimat enggan dikasihanin. Jujur, saya salut dengan beliau.

Jiwa bloger saya pun langsung bergeliat. Saya berusaha untuk nanya lebih lanjut kepada penumpang.

Apalagi, mengetahui respons beliau yang terbuka. Jadi, saya punya pikiran untuk membuatkan artikel di blog.

Hanya, tulisan ini bukan untuk meromantisasi sulitnya cari nafkah di Tanah Air. Melainkan, sebagai motivasi bagi saya pribadi dan mungkin untuk para pembaca.

"Pak, maaf saya mau tanya. Penghasilan per hari berapa ya?" ucap saya pelan-pelan demi tidak menyinggung perasaannya.

Maklum, pertanyaan terkait penghasilan atau gaji itu masih sensitif bagi mayoritas masyarakat Indonesia. Saya berusaha untuk ga melewati garis batas tersebut.

Namun, justru respons penumpang sangat cair. Saya pun lega.

"Ga tentu mas. Namanya dagang keliling. Saya berangkat dari rumah di Bekasi sebelum subuh. Muter-muter Jakarta. Ini lagi di Pluit. Pulang sore."

"Bikin sendiri pak?"

"Saya ambil dari orang. Alhamdulillah, untungnya lumayan. Dari hasil menjajakan kerupuk ini, dua anak saya sudah sekolah."

"Berapa anaknya, pak?"

"Tiga. Satu lagi masih kecil."

"Alhamdulillah, pak. Lancar selalu."

"Ya, ga terus-terusan lancar mas. Namanya juga orang dagang, kadang ramai, adakalanya sepi. Yang pasti, saya ga mau dikasihanin orang. Saya murni jualan. Bukan mengharap belas kasihan."

"Iya, pak..."

Obrolan terhenti karena macet di Jalan Jembatan Dua Raya menuju arah timur, Jalan Pangeran Tubagus Angke. Saya harus bermanuver, karena jalanan dipenuhi kendaraan besar.

Belum lagi galian abadi yang tiada henti. Mulai Jembatan Gambang hingga fly over Angke.

Sumpah, kalo sore jam pulang kerja, saya berusaha untuk ga lewatin kawasan ini. Secara, jalanan normal aja udah macet parah, ditambah galian ga jelas yang tak kunjung selesai.

Macetnya Tubagus Angke masuk 10 besar jalanan paling menguji kesabaran di Jakarta versi saya. Ya, sejajar dengan Daan Mogot, Ciledug Raya, Simatupang, Satrio, Tipar, dan sebagainya.

"Pak, mau tanya nih. Maaf ya," ucap saya melanjutkan obrolan ketika sudah di seberang Kampung Bebek. "Pernah ngalamin yang ga enak saat jualan?"

"Sering mas. Udah biasa itu mah. Yang penting ikhlas aja."

"Maksudnya, pak?"

"Ya, kena tipu pembeli. Salah satunya di Mangga Besar. Saat itu ada pembeli pake mobil bilang mau borong dagangan saya," katanya dengan suara berat.

"Namun, pas dagangan udah dimasukin mobil, eh pergi gitu aja. Belum ngasih uang sama sekali. Padahal janjinya borong."

SS Twitter @roelly87


Saya refleks berteriak.

"Hah? Tega amat tuh orang. Dajjal juga sungkem sama manusia kayak gitu."

"Terus, ada tukang parkir yang nyeletuk. 'Pak, orangnya (pembeli) kabur. Ga diteriakin?' Saya jawab dong, 'Kamu yang bisa lihat aja diam. Apalagi saya yang kayak gini, mana tahu."

Huff... Sumpah, saya ga bisa berkata-kata mendengar cerita sang penumpang.

Ada aja orang ga punya nurani. Udah tahu penjualnya punya keterbatasan fisik, ini malah tega kabur ga bayar.

"Tapi, ya seperti saya bilang. Ikhlasin aja. Rezeki ga kemana, asal kita mau cari," si bapak menambahkan. "Awalnya kesal, cuma mau gimana lagi. Kita serahkan pada Tuhan aja. Bisa jadi orang itu lupa buat bayar. Atau, mau makan ga ada uang. Ya sudah."

Di langit, petir menggelegar. Bersahutan sangat keras hingga membuat suara kendaraan yang sedang macet jadi ga terasa.

Namun, suara penumpang di belakang yang lirih dan perlahan, bagi saya sangat kencang. Rezeki ga kemana.***


- Jakarta, 26 Mei 2025

Rabu, 12 Maret 2025

Lirikan Maut Penjaga Kedai

Lirikan Maut Penjaga Kedai

Ilustrasi santapan berbuka
(Foto: @roelly87)


"MAS, minta tolong nanti mampir sebentar ya ke Jalan Mawar. Gw mau beli buat sahur."

"Siap."

"Bentar aja ya mas. Ga lama kok. Ntar gw tambahin deh. Soalnya gw tahu ini di luar aplikasi."

"Aman. Woles aja."

Demikian percakapan saya dengan penumpang di salah satu aplikasi ojek online (ojol) jelang pergantian hari di jantung ibu kota, awal Ramadan lalu. Customer izin untuk belok ke Jalan Mawar yang memang banyak warung nasi.

Baik makanan khas Betawi, Sunda, Padang, Tegal, hingga Manado. Kawasan ini memang setiap harinya hidup 24 jam.

Bahkan, saat Pandemi Covid 19 lalu, area ini jadi tujuan masyarakat untuk beli makanan. Apalagi, saat Ramadan yang memang selalu ramai dengan sorenya dipenuhi pedagang takjil.


*       *       *


"ADA ayam goreng, tepung, atau asam manis. Lo mau nasi sama apa mas?" ujar penumpang menghampiri gw yang lagi ngemil kolak sagu rangi sisa buka tadi. 

Kebetulan, santannya dipisah untuk menghindarkan basi. Jadi aman dikonsumsi hingga larut.

"Ga. Terima kasih. Gw lagi ngemil kolak."

"Maksudnya ni buat sahur mas, bukan sekarang."

"Lah, baru jam 12 kurang. Imsak aja pukul 04.43. Masih lama. Makan jam segini mah ntar laper lagi."

"Maksud gw, Rojali, buat dibungkus. Ini gw beliin nasi sama kentang mustofa, orek, dan bala-bala. Tinggal lauknya belum. Ayamnya mau yang mana."

"Ga usah. Makasih."

"Yee, ini serius. Gw beliin. Gratis."

"Kaga usah. Bentar lagi gw balik. Sahur di rumah. Nyokap gw masak. Kalo lo beliin bakal mubazir ga dimakan."

"Ooh..."

"Yoi. Makasih ya."

"Iya deh. Ini gw buat temen kost aja. Soalnya, udah dibikin ga bisa cancel. Bentar lagi ya, gw bayar dulu ke kasir."

"Aman. Lo makan di tempat juga ga apa-apa. Gw kalo malam nyantai. Orderan ga begitu ramai."

"Ga lah. Gw beli dibungkus. Oke, bentar ya."


*       *       *


SEBAGAI ojol yang bergerak di bidang jasa, tentu wajib memberikan pelayanan terbaik kepada customer. Baik itu saat mengantar penumpang, makanan, dan paket atau barang.

Servis ala hotel bintang lima biasa saya lakukan bersama jutaan ojol lainnya di Tanah Air. Tujuannya, agar customer puas.

Secara, mereka sudah bayar mahal untuk pemesanan via aplikasi ojol. Jadi, kami tidak boleh mengecewakan pelanggan.

Kendati, fakta di lapangan 1+1 belum tentu 2. Bisa saja 3, 11, 111, sampai tak terhingga.

Ya, tergantung interpretasi masing-masing.

Adakalanya, ojol sudah memberikan pelayanan terbaik, tapi customernya bertindak di luar nurul. Misalnya, pada phalguna lalu, ada penumpang yang benar-benar luar biasa dengan jarak antar 3 km dan argo standar.

Namun, customer ini meminta berhenti di tiga titik. Minimarket, ATM, dan Money Changer.

Dua tempat awal, gratis parkir karena saya nunggu di pinggir jalan. Sementara, yang terakhir harus masuk ke komplek hingga kena parkir via uang elektronik.

Hebatnya, usai perjalanan customer itu enteng banget ngeloyor seolah tanpa bersalah. Boro-boro nambahin ongkos yang memang jaraknya bertambah, diminta ganti parkir aja melengos!

Udah muter-muter lebih dari 5 km yang berarti ongkos harusnya bertambah eh kena parkir ga mau ganti pula! Lah, dikira motor itu BBM-nya pake air hujan mungkin! (Selengkapnya: Saya Kerja Cari Uang, Bukan Ingin Dapat Pahala).


*       *       *


CUSTOMER pun mendatangi saya dengan semringah. Di kiri dan kanan tampak membawa bungkusan.

"Maaf, lama mas. Antre bayarnya. Ha ha ha."

"Aman."

"Ini pengganti waktu tunggu mas," ujar pelanggan memberikan selembar hijau. Alias, lebih dikit dari ongkos di aplikasi yang sudah dibayar secara nontunai.

"Kembali berapa?"

"Semua lah buat lo, mas. Ga usah kembali."

"Lha, banyak amat. Ini kebanyakan."

"Ga apa-apa mas. Gw tadi dapat lemburan. Biasa balik jam lima. Jadi, dari kantor dapat lebih."

"Oke, gw ambil ya. Terima kasih."

"Sama-sama mas. Ga usah pake helm ya, kita lewat jalan kampung aja. Kalo puasa gini bisa masuk, ga diportal.

"Bebas," kata saya sambil mengecek google maps untuk edit rute lewat pemukiman sepertinya lebih cepet ketimbang jalan arteri yang harus muter.

"Btw, di kostan lo kan bawahnya ada kedai 24 jam. Kenapa ga beli buat sahur di sana?" gw bertanya kepada customer.

Secara, di kawasan Bodas juga banyak yang jual makanan. Baik saat jelang buka puasa atau sahur.

Termasuk, di kostan customer ini yang berdampingan dengan ruko penjual elektronik. Gw tahu karena beberapa kali ambil orderan dari toko untuk kirim barang.

"Dulu sering mas pas awal-awal mbaknya gantiin mertuanya jaga warung. Tapi, sejak akhir tahun lalu, gw udah males beli di dia lagi," penumpang itu menjelaskan.

Dia mengaku udah dua tahun ngekost di sana. Pemiliknya suami-istri pensiunan bank ternama yang punya rumah di Depok. 

Hanya, sejak Agustus lalu, pasangan itu pulang kampung untuk menikmati masa tua. Rumahnya di Depok pun dijual.

Sementara, kostannya diserahkan ke anak laki yang sehari-hari kerja di proyek. Nah, istri anaknya itu berinisiatif buka kedai kecil-kecilan di bawah kostan berbagi ruang dengan parkiran motor.

"Gw akuin masakannya enak. Khas banget. Bumbunya juga sedap. Selera gw dah pokoknya," tutur sang customer.

"Harganya apalagi, terjangkau semua kalangan. Apalagi, khusus penghuni kostan bisa kasbon. He he he. Hanya..."

Saya mendengarkan dengan khidmat sambil fokus bawa motor melewati beberapa polisi tidur. Tujuannya dibuat seperti itu agar tidak ada yang ngebut atau balapan mengingat kawasan pemukiman ini padat penduduk.

"Yee, udahan ceritanya? Bentar lagi nyampe cuy. Ati-ati kaki lo, kesenggol motor ," gw mengingatkan penumpang untuk merapatkan kedua kakinya.

Maklum, kami lewat gang sempit yang konon sinar matahari pun tidak bisa masuk. Apalagi, di kanan dan kiri terdapat motor yang parkir dengan rapat hingga rawan kesenggol pengendara lewat.

"Aman mas. Pelan-pelan aja. Ini gw belom selesai dongengnya."

"Lah, dikira gw bocah. Pake bilang didongeng segala," gw menjawab sambil ketawa.

"Ha... Ha... Ha... Bentar lagi. Ini gw lanjut cerita biar lo ga penasaran."

"Ebuset, gw kaga pernah penasaran hal gituan. Bagi gw mah, yang penting duit, duit, dan duit. Abis nurunin lo, ntar gw masih keliling sampe jelang sahur."

"Sue, lo mas. Matre banget."

"Lah, jadi manusia mah emang harus matre. Semua butuh duit. Emang lo kalo bawa motor parkir di minimarket ga bayar? Terus, lo ke toilet di SPBU ga ada penjaganya? Lo naik ojol juga kan pake duit. Ga ada yang gratis, cuy."

"Ha... Ha... Ha... Asem lo mas, bisa aja," sergah penumpang tertawa sambil menepuk pundak.

"Yaudin, ini gw tambahin ongkosnya. Itung-itung lo dengerin cerita gw sampe tamat," lanjutnya dengan menyodorkan selembar biru.

Seketika, di otak gw terdapat putaran uang. Ongkos di aplikasi non tunai, bersihnya hampir dua lembaran ungu.

Nungguin doi beli santap sahur dikasih yang hijau. Sekarang, ditawarin selembar biru.

Kalo ditotal, mendekati kertas yang merah. Banyak juga, euy.

Mata gw pun berbinar merekonstruksi besarnya pendapatan ojol dari satu penumpang doang. Hanya, gw tersadar dan langsung mencium sesuatu yang...

"Eh, penumpang yang baik, ga semua bisa dinilai dengan uang. Bukan gitu caranya," kata gw menolak sambil rem mendadak.

Kaget akibat ada polisi tidur yang tinggi tapi ga dicat putih. Duh, bahaya ini kalo malam-malam ujan, bisa bikin celaka pengendara yang lewat.

Berdasarkan berita, banyak kecelakaan terjadi akibat polisi tidur. Bahkan, sempat viral di Jalan Danau Sunter Selatan hingga akhirnya dibongkar.

Kadang, masyarakat kita dan pejabatnya suka bikin yang aneh-aneh. Giliran ntar terjadi insiden hingga viral, baru diberesin.

"Sembarangan amat sih yang bikin polisi tidur. Untung lo liat mas, kalo ga bisa kejungkal kita," sang penumpang, menimpali.

"Depan ada warung, bentar gw turun dulu ya. Btw, gw tahu caranya bikin tawaran yang ga bisa ditolak orang," lanjutnya lagi tanpa menaruh helm langsung masuk ke warung sembako.

Gw mengangguk. Menepikan motor ke paling pinggir agar kendaraan lain bisa lewat.

"Ini mah pasti beliin ***. Ga mungkin lain," kata gw dalam hati memprediksi. 

Ini mirip taktik ala Don Vito Corleone atau versi Zhuge Liang saat dikerjai Liu Qi. Aneh tapi seru!

Ga lama, customer itu pun tiba. Sambil cengengesan membawa plastik hitam.

"Ini sebungkus *** sama minuman kaleng buat lo. Udah dibeli, ga bisa dibalikin ke yang jual. Ayo, dengerin gw cerita sampe finish ya," katanya menyodorkan.

Gw pun mendorong motor. Membuka bungkusan yang beraroma khas itu.

Bersambung*** 


*        *        *


- Jakarta, 12 Maret 2025


*        *        *


Artikel Sebelumnya Terkait Customer Ojol


- Insiden Membokongi Piza (https://www.roelly87.com/2025/01/insiden-membokongi-piza.html)



- Dan Terjadi Lagi... Pelecehan Seksual terhadap Ojol (https://www.roelly87.com/2024/08/dan-terjadi-lagi-pelecehan-seksual.html)



- Tidak Ada Toleransi untuk Perokok (https://www.roelly87.com/2024/05/tidak-ada-toleransi-untuk-perokok.html)



- Penumpang Kecebur Got dan Motor Hampir Mogok: Drama Banjir 22 Maret (https://www.roelly87.com/2024/03/penumpang-kecebur-got-dan-motor-hampir.html)



- Terima Kasih, Orang Baik (3) (https://www.roelly87.com/2024/03/terima-kasih-orang-baik-3.html)



- Tidak Ada Polisi 40%, Ini Alasan Penumpang Enggan Pakai Helm (https://www.roelly87.com/2020/03/tidak-ada-polisi-40-ini-alasan.html)



- Anak Perwira Dijambret di Samping Polda Metro Jaya (https://www.roelly87.com/2024/03/anak-perwira-dijambret-di-samping-polda.html)



- Sisi Lain Konser Coldplay: Mistik, Sedih, Haru, dan Bahagia (https://www.roelly87.com/2023/11/sisi-lain-konser-coldplay-mistik-sedih.html)



- Menara Kadin yang Memanusiakan Manusia (https://www.roelly87.com/2023/11/menara-kadin-yang-memanusiakan-manusia.html)



- Ditolak Ojol: Bertepuk Sebelah Tangan (https://www.roelly87.com/2023/05/ditolak-ojol-bertepuk-sebelah-tangan.html)



- BlackPink di Mata Ojol (https://www.roelly87.com/2023/03/blackpink-di-mata-ojol.html)



- Risiko Ojol Antar Makanan pada Dini Hari (https://www.roelly87.com/2023/02/risiko-ojol-antar-makanan-pada-dini-hari.html)



- Karena Customer adalah Raja (https://www.roelly87.com/2022/01/karena-customer-adalah-raja.html)



- Di Suatu Desa dengan Penumpang Random (https://www.roelly87.com/2021/10/di-suatu-desa-dengan-penumpang-random.html)



- Sebuah Kisah Klasik yang Tak Berujung (https://www.roelly87.com/2021/06/sebuah-kisah-klasik-yang-tak-berujung.html)



- Kompromi dengan Keadaan (https://www.roelly87.com/2021/03/kompromi-dengan-keadaan.html)



- Orderan pada Malam yang Ganjil (https://www.roelly87.com/2020/11/orderan-pada-malam-yang-ganjil.html)





*        *        *


Rabu, 19 Juni 2024

Daftar Mal Elite di Jakarta dan yang Gratiskan Parkir untuk Ojol


Daftar Mal Elite di Jakarta 

dan yang Gratiskan Parkir untuk Ojol

Parkir gratis untuk ojol dan kurir paket
di Lotte Shopping Avenue
(Foto: Dokumentasi pribadi/@roelly87)


SEMERBAK harum tanah setelah hujan memang memiliki ciri khas. Wanginya itu loh, bikin perasaan jadi adem.

Usai hujan yang mengguyur ibu kota sejak pagi, saya pun hendak istirahat untuk makan. Setelah keliling nyari tempat yang nyaman untuk bersantap, akhirnya ketemu di pinggir Jalan Gunawarman, Jakarta Selatan.

Saya langsung membuka bungkusan nasi dan lauk yang dibuatkan ibu di rumah. Saat asyik menyantap, datang rekan ojek online (ojol) yang juga ingin istirahat.

Tak lama, dia bangkit. Namun, duduk lagi.

Kini, pandangannya fokus pada layar hp yang terus berbunyi. Tangannya asyik menari di depan layar.

"Wah, gacor bro," ujar saya membuka percakapan.

"(Orderan) Food terus bro. Ente ga dinyalain aplikasinya?"

"Off dulu. Istirahat makan."

"Males nih, ngambilnya di mal terus."

"Dimana, Pacific Place?"

"Bukan, Ashta. Malnya ribet."

"Kakap?"

"Boro-boro. Belanja makanannya 400 ribu lebih tapi ongkosnya cuma delapan ribuan. Belom dipotong parkir."

"Iya juga, bro. Mending cari orderan yang ongkosnya lumayan."

"Iya nih, udah empat orderan dilewatin. Ane geser bro."

"Kemana?"

"Blok M atau Santa."

"Lanjut bro."

Demikian obrolan singkat tersebut. Saya memahami enggannya rekan ojol itu untuk mengambil orderan di Astha, mal yang terletak di kawasan SCBD.

Sebab, ojol dilarang memakai atribut. Alias, jaket harus ditaruh di motor, tidak boleh dipakai terbalik atau ditenteng. 

Itu yang saya rasakan saat mengambil orderan food, tahun lalu. Sekaligus, kemungkinan yang terakhir kali saya ambil.

Kecuali, jika ongkosnya lumayan. Itu lain cerita.

Namun, kalo cuma ongkirnya delapan ribuan seperti yang didapat rekan ojol tadi, ya ogah. Sebab, udah aturannya ribet  harus kena parkir pula.

Padahal, di kawasan yang sama, ada mal yang menurut saya cukup ramah terhadap ojol. Yaitu, Pacific Place (PP) yang menyediakan parkir gratis untuk ojol dan kurir paket.

Mereka juga memperbolehkan ojol untuk memakai atribut dengan syarat jaketnya dibalik. Atau ditenteng, yang tidak dipermasalahkan.

Menurut saya aturan di PP cukup fair. Kendati, larangan memakai jaket ojol di beberapa mal, apartemen, atau gedung perkantoran, memang kerap mengundang pro dan kontra.

Namun, sebagai tamu, saya selalu menghormati aturan yang dibuat tuan rumah. Sesimpel itu.

Jika ada aturan lepas jaket, ya saya lepas. Kalo boleh dipakai, ya saya pakai. 

Sebab, saya memahami, jaket ojol apa pun itu aplikasinya, jika dipakai di mal bisa diidentikkan sebagai iklan berjalan. Itu mengapa, hampir seluruh mal, plaza, atau pusat perbelanjaan di Jakarta, khususnya yang elite, memberikan larangan.

Hanya, aturan paling ekstrem yang saya ketahui ada dua. Yaitu, Ashta dan Plaza Indonesia (PI). 

Keduanya mewajibkan ojol untuk menyimpan jaketnya di motor. Tidak boleh dipakai terbalik atau ditenteng.

Ya, saya sih ikutin aja. Namanya tamu, harus paham ketentuan tuan rumah.

Sementara, tiga dari lima mal terelite di Jakarta versi saya (Bintang Lima), memperbolehkan jaket ojol dibalik atau ditenteng. Yaitu, PP, Grand Indonesia (GI), dan Plaza Senayan (PS). 

Untuk Pondok Indah Mal (PIM), saya belum pernah ambil orderan food atau kirim barang di sana. 

Yang menarik, terkait PP. Meski berstatus mal elite dengan dihuni brand ternama dan lokasinya strategis di SCBD, tapi cukup ramah terhadap ojol.

Apresiasi untuk manajemen Pacific Place yang berhasil memanusiakan manusia. Sebelumnya, empat tahun lalu saat pandemi saya pernah tulis kritik akibat tiada tempat parkir hingga harus nyeberang ke Bursa Efek Indonesia (https://www.roelly87.com/2020/02/pi-pp-dan-ta-ini-daftar-mal-yang-kurang.html).

Untuk mal yang menurut saya levelnya di bawah mereka, ada Lotte Shopping Avenue (Lotte Mal Ciputra), yang tidak kalah ramahnya. Itu karena mal yang terletak di Jalan Prof. Dr. Satrio, ini menyediakan shelter gratis untuk ojol dengan durasi 30 menit.

Menurut saya, ini sangat bermanfaat bagi ojol. Sebab, saya bisa nyaman parkir motor dalam mal tanpa takut hilang atau diangkut Dishub jika naruhnya di pinggir jalan.

Apalagi, Lotte Mal ini juga membolehkan ojol untuk memakai jaketnya. Sumpah, ini aturan yang keren. 

Itu seperti saudara tuanya, Mal Ciputra (Citraland) di Daan Mogot, Jakarta Barat. Respek dengan Ciputra Group yang sangat mengakomodasi keberadaan ojol.

Sebab, tidak banyak mal atau pusat perbelanjaan yang seperti itu. Padahal, saat pandemi, kehadiran ojol banyak diapresiasi.

Pasalnya, ketika itu restoran dilarang untuk membuka layanan makan di tempat. Alhasil, banyak yang akhirnya tutup.

Sementara, yang bertahan sukses mengandalkan aplikasi pengantaran makanan seperti Gofood, Grabfood, Shopeefood, Traveloka Eats, dan sebagainya. Berkat keberadaan aplikasi itu, restoran tetap bisa menjual makanannya kepada pelanggan yang diantar melalui ojol.

Sekaligus, memberikan pemasukan bagi restoran untuk bisa bayar sewa tempat ke pengelola mal. Di sisi lain, mal pun bisa tetap beroperasi meski terbatas.

Hanya, setelah pandemi itu, situasi kembali ke setelan pabrik. Keberadaan ojol kerap dipandang sebelah mata oleh pengelola mal.

Ga semua, sih seperti itu. Namun ya, mayoritas.

Selain Ciputra Group, ada beberapa grup properti yang ramah terhadap ojol. Termasuk, Lippo yang menyediakan shelter parkir gratis di tiga mal yang saya tahu, yaitu Lippo Mal Puri di Jakarta Barat, Kemang Village (Jakarta Selatan), dan Pluit Village (Jakarta Utara).

Saya pribadi, sebagai ojol angkat topi buat manajemen yang memanusiakan manusia. 

Himbauan manajemen PI untuk ojol
(Foto: dokumentasi pribadi/@roelly87)


Berikut, daftar mal elite di Jakarta versi saya dengan kategori parkir gratis untuk ojol dan terkait atribut:


***** (Bintang 5)

Grand Indonesia (Jakarta Pusat) BP/ADL

Plaza Indonesia (Jakarta Pusat) BP/AWT

Plaza Senayan (Jakarta Pusat) BP/ADL

Pacific Place (Jakarta Selatan) PG/ADL

Pondok Indah (Jakarta Selatan) ?


**** (Bintang 4)

Senayan City (Jakarta Pusat) BP/ADL

Gandaria City (Jakarta Selatan) BP/ADL

Lotte Shopping Avenue (Jakarta Selatan) PGds/AOP

Central Park (Jakarta Barat) PG/ADL

Lippo Mal Puri (Jakarta Barat) PG/AOP

Taman Anggrek (Jakarta Barat) BP/ADL

PIK Avenue (Jakarta Utara) PGds/ADL

Emporium (Jakarta Utara) BP/ADL


*** (Bintang 3)

Sarinah (Jakarta Pusat) BP/ADL

Gajah Mada (Jakarta Pusat) BP/AOP

ITC Roxy Mas (Jakarta Pusat) BP/AOP

Citywalk Sudirman (Jakarta Pusat) PG/ADL

Kuningan City (Jakarta Selatan) PG/ADL

Kemang Village (Jakarta Selatan) PG/ADL

Astha (Jakarta Selatan) BP/AWT

Kota Kasablanca (Jakarta Selatan) BP/ADL

Citraland (Jakarta Barat) PG/AOP

Mal Puri Indah (Jakarta Barat) PG/AOP

Green Sedayu (Jakarta Barat) PG/ADL

Pluit Village (Jakarta Utara) PG/AOP

Mal Kelapa Gading (Jakarta Utara) PG/ADL


Lanjut ->

Mangga Dua Square (Jakarta Pusat) PG/ADL

HXC (Jakarta Pusat) PG/AOP

Atrium Senen (Jakarta Pusat) ?

Golden Truly (Jakarta Pusat) ?

Bellagio Mal (Jakarta Selatan) BP/ADL

Season City (Jakarta Barat) BP/AOP


Keterangan

PG: Parkir Gratis

PGds: Parkir Gratis dengan Syarat <30 menit

BP: Bayar parkir seperti pengendara umum lainnya

AOP: Atribut ojol diperbolehkan pakai

ADL: Atribut ojol/jaket dilepas atau boleh dipalai tapi dibalik

AWT: Atribut ojol wajib disimpan di motor/tidak boleh dibawa masuk gedung


Disclaimer: Artikel ini berdasarkan pengalaman pribadi. Bisa jadi ada beberapa yang terlewat, keliru, atau tidak update hingga 19 Juni 2024 ini.

- Jakarta, 19 Juni 2024

*       *       *


Artikel sebelumnya:

- https://www.roelly87.com/2020/02/pi-pp-dan-ta-ini-daftar-mal-yang-kurang.html

- https://www.roelly87.com/2023/11/menara-kadin-yang-memanusiakan-manusia.html


*       *       *


Artikel Selanjutnya:

- Ironi Ratu Plaza yang Terisolasi di Lokasi Strategis

- Apartemen dan Gedung Perkantoran Paling Dihindari Ojol

- Sarinah Sudah Bersolek tapi Serba Kentang

- Mega Mall Pluit (Pluit Village) Punya Cerita




Minggu, 26 Mei 2024

Tidak Ada Toleransi untuk Perokok

 Tidak Ada Toleransi untuk Perokok

Tidak Ada Toleransi untuk Perokok



Burung atau walet terbang di antara
gedung pencakar langit
di Jalan Sudirman, Jakarta Selatan
(Foto: dokumentasi pribadi/@roelly87)


"YAELAH, sok suci banget."

"B aja kali, di jalan juga banyak. Emang gw ga waras, sengaja mau buang abunya ke orang lain? Dih."

"Ojol sombong!"

"Gw laporin loh ke aplikator. Biar dipecat. Mam**s."

Demikian berbagai komentar customer saat saya menjalankan tugas sebagai ojek online (ojol). Khususnya, ketika mengantar penumpang yang ternyata sedang merokok.

Baik saat di lokasi jemput alias sebelum naik. Atau, ketika customer sudah duduk di motor yang sedang jalan.

Bagi saya, tidak ada toleransi untuk itu. Setidaknya, saat di motor saya.

Jika sudah sampai tujuan dan turun dari motor sih, bodo amat. Mau ngerokok atau jungkir balik, headbanger, moshing, dan sebagainya, saya tidak ambil pusing.

Ora urus!


*       *       *


JULI mendatang, saya genap lima tahun sebagai ojol. Bukan waktu yang sebentar sejak kali pertama daftar pada 2019 silam.

Seperti artikel sebelumnya (https://www.roelly87.com/2024/01/dapat-orderan-raja-terakhir-mie-gacoan.html), saya punya lima aplikasi ojol dan kurir. Tepatnya, sebagai mitra aplikator, berdasarkan saya daftar yaitu:

1. Gojek: antar penumpang, makanan, barang

2. ShopeeFood: antar makanan, barang

3. Lalamove: antar barang

4. Indriver: antar penumpang, barang

5. Maxim: antar penumpang, makanan, barang

Oh ya, ada satu lagi, Traveloka Eats. Namun, sudah tutup November 2022 yang artinya beroperasi hanya setahun (sejak 2021).

Sedih sih kehilangan Traveloka Eats. Meski singkat, namun cukup berdampak positif pada pemasukan saya sehari-hari.

Semoga Traveloka bisa bangkit lagi ke depannya dengan menyediakan lini pengantaran makanan atau barang. Aamiin!

Untuk antar makanan, jelas seperti artikel sebelumnya,  (https://www.roelly87.com/2023/10/setelah-15-tahun.html) saya anti ambil orderan kue ulang tahun. 

Kalo antar barang ga masalah. Termasuk, yang dimensinya besar.

Mulai dari ban mobil, guci, akuarium, hingga kulkas dua pintu. Kulkas? 

Yoi. No problemo, secara sudah diikat dengan rapi oleh karyawan tokonya. Jadi, saya tinggal antar saja. 

Paling-paling keringet dingin kalo lupa isi bensin akibat harus bongkar muatan saat buka jok motor. Ha ha ha.

Bagaimana dengan antar penumpang? Biasa aja.

Sejauh ini, ga ada masalah. Termasuk, jika yang ganjil sekalipun.

Kebetulan, motor saya matic standar yang bisa ditaruh helm di bawah jok. CC-nya aja 125.

Bahkan, saya sering mengantar dua penumpang sekaligus. Terutama jika hujan, banjir, atau situasi force majeur yang menyebabkan sulit bagi customer untuk pesan ojol.

Sekali lagi, ga masalah.

Niat saya, keluar dari rumah untuk mencari uang yang halal. Perkara prosesnya berliku atau rumit, itu cerita lain.

Yang penting, udah usaha. Yongkru!


*       *       *


DAPAT apresiasi berupa pujian dan tip dari customer itu bagi saya udah lumrah. Sebagai ojol, tentu saya harus lakukan yang terbaik karena jualan jasa.

Pun demikian jika dapat komentar negatif, bahkan prilaku menjurus XXX (Sumber: https://www.instagram.com/p/CHV-PwNLo_2/?igsh=bGxoYTM5dmI1MTl1). Ya, terima aja.

Itu udah resiko jadi ojol. Ga perlu drama.

Namun, sebagai pemilik kendaraan, tentu saya punya aturan tersendiri. Setidaknya, ada tiga, dengan dua di antaranya tergantung situasi dan satu lagi mutlak.

1. Harus pakai helm

2. Tidak main hp/tablet/laptop

3. Tidak merokok

Yang pertama, situasional. Dulu, sebelum Pandemi Koronavirus melanda Tanah Air, saya sangat mewajibkan penumpang untuk pakai helm.

Jauh atau dekat, wajib pakai. Jika customer nolak pake helm, langsung cancel.

Selesai.

Saya ga mau drama. Juga bukan tipe pribadi yang ingin ribet.

Rules-nya jelas. Selama di motor saya, setiap penumpang wajib ikutin aturan saya.

Siapa pun itu. Baik orang tua, anak muda, anak kecil, pria, wanita, ACDC, pejabat, dan sebagainya.

Hanya, itu dulu. Sejak Covid 19 melanda, saya harus kompromi dengan keadaan (Referensi: https://www.instagram.com/p/CMC9RpsLXPI/?igsh=MTN4MHd5cmVmZnZ6Mg== dan s.id/GBHNojol).

Bagaimanapun, dapur harus ngebul. Idealis hanya teori ketika di hadapkan pada kebutuhan perut.

Alhasil, saya pun mencoba untuk toleransi jika ada penumpang yang ga mau pake helm. Setidaknya, ga terlalu jauh dari GBHN. Alias, Garis Besar Haluan Ngojek.

Tentu, syarat dan ketentuan berlaku, dong. 

1. Jarak deket

2. Malam

3. Ga ada polisi

4. Selain di kawasan Harmoni-Medan Merdeka-Thamrin-Sudirman yang memang zona merah


*       *       *


UNTUK yang kedua, terkait penumpang main gawai. Yaitu, imbauan menyimpan hp, tablet, dan laptop demi menghindari jambret atau kriminalitas lainnya.

Saya sering bawa penumpang yang asyik dengan ketiga gawai tersebut. Khususnya, hp yang selalu ditemui setiap hari.

Sebelum jalan, saya biasa mengingatkan dengan sopan agar penumpang menyimpan gawainya. Mayoritas sih menurut dengan langsung menaruhnya di saku atau tas.

Namun, adakalanya bandel. Diingetin iya-iya aja. Sebelum berangkat dimasukin saku atau tas. Namun, saat di jalan lanjut dikeluarkan.

Yowes lah.

Bahkan, ada yang malah ngomel. Ga terima dikasih tahu.

"Udah ga usah ribet. Ini hp saya. Abang sebagai ojol fokus aja bawa motornya."

Juga pernah, di-kick balik customer, "Abang aja naroh hp di stang. Ngapain nyuruh saya buat masukin hp saya di tas!"

He... He... He...

Saya naroh hp di stang yang dikaitkan dengan holder itu untuk melihat maps di aplikasi ojol. Secara, saya ga terlalu hapal jalan-jalan di ibu kota. 

Apalagi, jika masuk gang sempit. Gunanya holder hp ya untuk memudahkan ojol menyimak rute yang dituju. 

Terutama jika macet. Apakah lewat jalan utama atau gang kecil. 

Nah, kalo penumpang tetep bandel, ya sudah.

Saudara bukan. 

Tetangga bukan. 

Kenal juga nggak. 

Bodo amat!

Yang penting, saya udah kasih tahu. Tanggung jawab saya sebagai ojol yang jualan jasa sudah gugur.

Kalo customer lanjut main hp setelah beberapa kali diberi tahu ya sudah. Risiko ditanggung penumpang.


*       *       *


TERAKHIR, alias yang ketiga. Yaitu, tentang penumpang yang merokok.

Yes.

Saya juga perokok. Aktif. Namun, berusaha untuk tidak menyulut asap kehidupan itu saat sedang di motor.

Kenapa?

Alasannya, jelas. Membahayakan orang sekitar.

Sebab, abu rokok yang tertiup angin saja bisa membuat baju, celana bahan, dan jaket bolong. Apalagi, kalo kena muka. 

Perih banget.

Bahkan, di media pernah ada orang yang kena matanya nyaris buta akibat abu rokok pengendara lain. Sangat membahayakan sekitar.

Itu mengapa, saya sangat keras jika ada penumpang yang merokok. 

Saya tutup mata ketika customer ga pake helm. Masa bodoh jika penumpang main hp di motor.

Namun, khusus untuk rokok, jawaban saya jelas: Meminta dengan sopan agar rokoknya dibuang.

Kalo penumpang itu bandel dan posisi belum naik motor, maka saya cancel. Ga peduli ongkosnya besar sekalipun.

Sebab, saya ga mau terlibat hukum jika penumpang yang merokok itu abunya kena orang lain. 

Lalu, jika customer itu nakal dengan matikan rokok saat mau naik tapi ketika sudah di jalan lanjut dinyalakan, saya akan bertindak tegas. Minta penumpang itu turun.

Secara, hari apes ga ada dalam kalender.

Nah, bagaimana jika ada penumpang yang menghisap vape? Sejauh ini, saya hanya sebatas mengimbau. 

Tidak melarang. 

Lho, standar ganda dong? 

Bukan begitu. Sebab, vape dan sejenisnya tidak ada abu yang berterbangan.

Hanya asap. Tidak membahayakan orang lain.

Setidaknya, hingga saat ini. Ketika, artikel ini dimuat di blog. 

Mungkin, nanti akan saya larang jika ternyata asap dari vape dan sejenisnya ternyata membahayakan orang lain. Saat ini, saya masih menyimak.


*       *       *


KONKLUSI dari artikel ini, setiap ojol pasti ingin memberikan yang terbaik kepada para penumpang. Yaitu, dengan mengutamakan keselamatan, keamanan, dan kenyamanan bagi mereka.

Itu merupakan tugas utama ojol yang bergerak di bidang jasa. Apalagi, orderan dari customer, apa pun itu pada layanan antarpenumpang, makanan, dan barang, merupakan sumber penghasilan kami.

Yuk, kita kerja sama yang baik untuk disiplin di jalanan. 


*       *       *


Artikel Terkait Ojol:


- https://www.roelly87.com/2024/03/penumpang-kecebur-got-dan-motor-hampir.html

- https://www.roelly87.com/2024/03/terima-kasih-orang-baik-3.html

- https://www.roelly87.com/2024/03/anak-perwira-dijambret-di-samping-polda.html

- https://www.roelly87.com/2023/05/ditolak-ojol-bertepuk-sebelah-tangan.html

- https://www.roelly87.com/2023/04/lawan-arogansi-di-jalanan-jangan-pernah.html

- https://www.roelly87.com/2023/02/risiko-ojol-antar-makanan-pada-dini-hari.html

- https://www.roelly87.com/2022/09/terima-kasih-orang-baik.html

- https://www.roelly87.com/2021/03/kompromi-dengan-keadaan.html

- https://www.roelly87.com/2020/11/kamus-besar-bahasa-ojol.html

- https://www.roelly87.com/2020/03/tidak-ada-polisi-40-ini-alasan.html


*       *       *


- Jakarta, 26 Mei 2024



....

Senin, 01 April 2024

Wabah Pak Ogah Merajalela, Polisi Bisa Apa?


Wabah Pak Ogah Merajalela, Polisi Bisa Apa?


Keberadaan Pak Ogah di setiap tikungan
yang kerap mengganggu (foto: www.kompasiana.com/roelly87)


MARET lalu merupakan peringatan empat tahun Koronavirus di Tanah Air. Pandemi yang mewabah di penjuru dunia sejak awal 2020, termasuk Indonesia yang terkena dampaknya.

Banyak korban berjatuhan, khususnya yang meninggal. Termasuk, beberapa yang saya kenal seperti keluarga, tetangga, rekan, dan sebagainya.

Pandemi juga mengguncang perekonomian Indonesia. Ada beberapa kenalan yang harus keluar dari tempat kerjanya.

Bisa itu perusahaannya bangkrut atau memang pemutusan sepihak akibat seretnya pemasukan. Wajar saja, mengingat dunia usaha memang berada dalam titik nadir.

Pengangguran pun di mana-mana. Setidaknya, dalam dua tahun pandemi hingga statusnya dicabut pada 21 Juni 2023.

Sejak saat itu, perekonomian di Tanah Air pun bangkit. Perusahaan raksasa, tradisional, hingga UMKM kembali bergeliat.

Di sisi lain, Pandemi Koronavirus membuat subur para pemalas. Yaitu, orang-orang yang ingin dapat duit mudah tanpa kerja keras hingga saya menyebutnya Gerombolan Makhluk Hidup Nirguna (GMHN).

Misalnya, Organisasi Masyarakat (Ormas), Kang Parkir Liar, Pak Ogah, Calo, Pungutan Liar (Pungli), Penjaga Perlintasan Kereta Ilegal, dan sebagainya seperti yang saya ulas pada artikel sebelumnya, Terima Kasih, Orang Baik 3/ https://www.roelly87.com/2024/03/terima-kasih-orang-baik-3.html.


*       *       *


MASALAH utama di ibu kota yang selalu turun temurun itu ada dua. Macet dan banjir.

Nah, saya akan bahas yang pertama. Sebab, berkaitan dengan GMHN, khususnya Pak Ogah.

Ya, Pak Ogah jadi penyebab utama macet di Jakarta. Demikian berdasarkan pengamatan saya sehari-hari yang berprofesi sebagai ojek online (ojol).

Ini bukan dongeng. Alias, fakta.

Anda, pembaca blog ini bisa melihat dan merasakannya di sepanjang jalan utama ibu kota. Itu meliputi Sudirman, Gatot Subroto, Satrio, Rasuna Said, Daan Mogot, Pasar Minggu, dan sebagainya.

Saya berani bilang, satu-satunya jalan utama di Jakarta yang tidak diserbu Pak Ogah adalah Jalan Thamrin. Untuk empat Jalan Medan Merdeka, kita ga usah bicarakan sebab itu Kawasan Ring 1.

Sumpah, saya berani mengatakan, selain lima jalan itu, Thamrin dan Medan Merdeka (Utara, Timur, Selatan, Barat), tidak ada lagi jalanan di Jakarta yang bebas Pak Ogah.

Sudirman? 

Ada!

Yaitu, di Simpang Jalan Garnisun, Penjernihan 1, dan Setiabudi Raya. Aneh, jalan utama yang menghubungkan pusat bisnis Indonesia malah banyak Pak Ogah.

Gatot Subroto? 

Banyak.

Termasuk, di samping Gedung MPR/DPR. Jika Anda dari arah Pejompongan Raya menuju Slipi, pasti nemuin Pak Ogah.

Anehnya, di dekatnya sering ada motor atau mobil polisi. Namun, ya gitu deh.

Bahkan, yang teranyar di media sosial dengan Pak Ogah memberi akses ilegal sepeda motor lewat trotoar dengan dimintain uang! Ini tiap hari saya amati jika mengantarkan penumpang ke Stasiun Palmerah.

Padahal, di dekatnya ada petugas, tapi seperti tak terlihat. Apalagi, ketika tahu, di sampingnya merupakan Markas Wakil Rakyat. 

Anehnya, para anggota MPR, DPR, DPD, hingga polisi seperti bergeming. Apa ga malu mereka melihat situasi seperti itu tiap harinya.

Kadang, saya juga suka mengernyitkan dahi dengan keberadaan Pak Ogah yang seakan dibiarkan. Misalnya, di Jalan Rasuna Said yang banyak putaran balik.

Pak Ogah jadi biang kemacetan di sana. Ada satu waktu, mereka absen karena kehadiran polisi yang menjaga.

Namun, adakalanya kompak. Polisi di samping mengatur kendaraan yang berputar, sementara Pak Ogah di sisi lainnya ikut juga mengatur.

Aneh euy. Padahal, sepanjang jalan tersebut berderet kantor kementerian dan kedutaan besar. Sumpah, ibarat kangouw, pemandangan ini benar-benar bisa jadi bahan tertawaan dunia.

Namun, aparat seperti cuek dengan keberadaan Pak Ogah yang sangat mengganggu.

Yang saya maksud adalah pihak kepolisian.

Nah, lho. Kenapa polisi yang disalahkan?

Ya, sebab mengatasi keberadaan Pak Ogah ini memang tugasnya. Kalau Satpol PP, mana berani.

Begitu juga dengan Dishub. Yang dikejar cuma taksi konvensional dan taksi online yang parkir di pinggir jalan. 

Jika mobil pejabat ikutan parkir, Dishub ini kayak ketakutan. Contoh, di Jalan Gunawarman, Senopati, Suryo, Kemang, dan sebagainya.

Tentu, untuk mengatasi keberadaan Pak Ogah ini, polisi harus kolaborasi dengan pemerintah daerah, Sat Pol PP, dan Dinas Perhubungan.

Itu juga kalo mereka pada mau kerja beneran. Jika tidak, saya lebih percaya Hitl*r meninggal di Garut. 


*       *       *


BTW, mungkin Anda bertanya-tanya. Apa sih, kesalahan Pak Ogah hingga dibuatkan artikel ini secara khusus?

Salah besar menyebut Pak Ogah ikut mengatur lalu lintas di putaran balik, persimpangan, atau pertigaan. Itu bukan tugasnya. Titik!

Saya pernah mengulasnya 10 tahun silam pada artikel https://www.kompasiana.com/roelly87/54f71562a3331100258b4893/mengusir-pak-ogah-solusi-atau-benci?page=all. 

Mereka seolah jadi pahlawan bagi kendaraan yang ingin berputar. Namun, jika Anda sadari, justru Pak Ogah ini yang bikin macet.

Pasalnya, mereka hanya mau membukakan jalan untuk mobil yang memberinya uang. Bisa seribu atau Rp 2.000.

Anda perhatikan baik-baik. Jika Anda bawa mobil pribadi hendak putar balik, lalu jendela diturunkan, dan tangan menyelipkan uang, dari jauh Pak Ogah sudah bisa melihatnya.

Mobil Anda langsung dikasih lewat dengan menghentikan kendaraan lain. Mereka tidak peduli dari arah berlawanan atau belakangnya jadi terhambat karena harus menunggu. Termasuk sepeda motor, angkot, dan taksi yang tidak dilirik mereka sama sekali.

Itu jika Anda memberinya seribu atau Rp 2.000. Bagaimana jika selembar Rp 5.000?

Tentu, Anda akan dipersilakan Pak Ogah dengan sigap layaknya diberi karpet merah. Termasuk, mereka akan mengucapkan terima kasih dengan rasa syukur. Anjing!

Lalu, jika Anda memberi selembar Rp 10.000, Pak Ogah itu bisa-bisa sujud kepada Anda. Bahkan, jika Anda membuat agama baru, hingga jadi Tuhan sekalipun, Pak Ogah bakal rela jadi hambanya. 

Saking bersyukurnya mereka diberi uang ceban. Bener-bener manusia bangsat!

Hasil duitnya mereka? Kalo ga dipake buat judi, main sloth, mabuk, nyabu, hingga ngewe alias Open BO!

Sementara, 10 tahun lalu, saya catat bahwa, mereka rata-rata sehari mendapatkan penghasilan kotor Rp 100.000 - Rp 250.000. 

Jumlah yang menggiurkan untuk mereka yang hanya bermodalkan "tangan di atas" dengan berdiri di tengah jalan tanpa harus memeras keringat apalagi otak. Bahkan, jika Pak Ogah itu remaja tanggung, kebanyakan uang sebesar itu dipakai untuk hal yang negatif. 

Mulai dari membeli narkoba, mabok-mabokan, hingga pelesiran ke lokalisasi. Ironis, tapi faktanya yang saya dapat memang seperti itu.


*       *       *

Partner in Crime Anda dan Pak Ogah

Dikasih Rp 1.000 = B aja

Rp 2.000 = Ngangguk

Rp 5.000 = Karpet merah, mengucapkan terima kasih dengan penuh syukur dan khidmat

Rp 10.000 = Sembah sujud, kalo Anda bikin agama baru, mereka jadi yang pertama sebagai hambanya

Nolak lambaikan tangan = Cemberut

Lewat tanpa buka kaca = Kata-kata mutiara nan syahdu dari Kebun Binatang pun keluar

Nyelonong tancap gas = Ada kemungkinan disambit atau baret body mobil Anda


*       *       *


NAH, itu contoh jika Anda memberinya uang. Bagaimana jika tidak memberinya dengan kaca jendela tetap tertutup.

Ho ho ho... 

Pak Ogah itu akan masa bodoh. Tak jarang, mereka mengumpat dengan kata-kata mutiara khas Kebun Binatang atau yang menjurus.

"Pelit!"

"Dasar kere!"

"Punya mobil tapi ga mau ngasih!"

"**** Anjing!"

"Dasar **** *****! Mobil aja bagus, tapi pelit."

"Ngasih seribu dua ribu ga bikin lo miskin!"

Itu belum seberapa. Bahkan, sering mobil dibaret bodynya akibat Pak Ogah kesal karena sudah membuka jalan tapi ga dikasih duit.

Ha ha ha. Mereka ini benar-benar sinting.

Btw, yang saya tulis seluruhnya ini fakta ya. Kecuali kalimat yang disensor karena menjurus SARA, untuk umpatan lainnya nyata.

Termasuk, soal baret yang bisa Anda cari beritanya di Google. Kata kuncinya, Pak Ogah Baret Mobil, nanti nongol semua.

Itu mengapa, saya sangat benci kepada mereka. Bahkan, tidak simpati sama sekali saat mengetahui berita ada Pak Ogah yang dipersekusi aparat seperti TNI atau polisi. 

Mampus!

Ha... Ha... Ha...

Makanya, kalo mau duit ya kerja. Jangan cuma berdiri di putaran balik, tikungan, dan pertigaan saja.

Eit, lupa. Akibat merugikan pengendara, bahkan pernah Pak Ogah ditembak.

Sumpah, saya ga simpati sama sekali. Bahkan, saya berharap, pemerintah bersama kepolisian segera menghapus Pak Ogah dari muka bumi Indonesia ini.

Satu dekade lalu, saya sangat bangga dengan Basuki Tjahaja Purnama yang ingin menghapusnya karena telah mengganggu ketertiban akibat membuat macet kian parah. Sayangnya, Ahok yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jakarta ini dimentahkan kepolisian. 

Tepatnya melalui Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi (Kombes) Mulya Budyanto. Menurutnya, keberadaan Pak Ogah malah membantu masyarakat, khususnya pihak kepolisian.

"Kalau tidak ada 'Pak Ogah' tambah macetnya. Memang Pak Ogah yang begitu-begitu harus diberi arahan. Mau diusir pun besok tetap ada di situ dia," ujar Restu pada 2014 silam.

Ha... Ha... Ha...

Mau ketawa tapi takut dosa pas puasa-puasa gini.

Mau sedih, eh inget bahwa negara ini punya mereka.

Kalau sudah begini, saya berharap Pak Ogah mampu menginvasi Ibu Kota Nusantara (IKN). Bahkan, kalau perlu, gerombolan Hyena itu -yang lebih hina dari Anjing- turut mengatur lalu lintas di depan Istana Presiden yang baru.

Sumpah, jika terwujud, saya sangat bangga dengan negara ini!***


*       *       *


- Jakarta, 1 April 2024


*       *       *

Artikel Terkait:


- https://www.roelly87.com/2024/03/terima-kasih-orang-baik-3.html

- https://www.kompasiana.com/roelly87/55091051a33311f6432e3af3/ramadhan-ketika-sang-bos-konveksi-kepusingan-ditagih-thr-pemuda-kampung


- https://www.kompasiana.com/roelly87/54f71562a3331100258b4893/mengusir-pak-ogah-solusi-atau-benci


...

Jumat, 15 Maret 2024

Belilah Kolak dan Cemilan Buka Puasa di Pedagang yang Sepi

Belilah Kolak dan Cemilan Buka Puasa di Pedagang yang Sepi

 Belilah Kolak dan Cemilan Buka Puasa di Pedagang yang Sepi



Ilustrasi dagangan di rumah
(Foto: @roelly87)

RAMADAN merupakan bulan penuh berkah. Baik itu untuk mendapatkan pahala dengan beribadah maupun dalam mencari rezeki.

Ya, setiap Ramadan, memang perputaran roda ekonomi sangat menggeliat. Di awal bulan, dengan banyaknya warga yang berdagang makanan untuk berbuka puasa.

Baik itu kolak, gorengan, cemilan, kurma, minuman segar, dan sebagainya. Biasanya, berjejer di pinggir jalan yang menggugah selera.

Sementara, pertengahan bulan diramaikan dengan belanja busana jelang Lebaran. Baik itu baju, sepatu, busana muslim, dan sebagainya.

Jelang Idul Fitri, giliran moda transportasi yang kebanjiran berkah masyarakat yang ingin mudik. Pulang ke kampung halaman bisa dengan bus, kereta api, pesawat, ferry, atau travel.

Intinya, sepanjang 30 hari pada Ramadan, perputaran ekonomi di Tanah Air sangat menggeliat. Termasuk, saya sebagai ojek online (ojol) yang turut dapat berkah bulan puasa.


*       *       *


RINAI yang membasahi ibu kota sejak Sore membuat suasana kian syahdu. Di jalan raya, kemacetan mengular karena hari ini, pertama masuk kerja setelah libur cukup panjang.

Pada saat yang sama, suara jemaah di Masjid dan Musala terdengar merdu. Sahut-sahutan saat melaksanakan Salat Tarawih.

Tepatnya, saat saya melintasi kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Kebetulan, saya baru selesai mengantar makanan dari mal di Senayan.

Setelah buka puasa, saya langsung tancap gas menyalakan aplikasi ojol. Hari kedua Ramadan 1445 H, Rabu (13/3) saya absen Tarawih.

Buka pun di pinggir jalan disela-sela mengantar orderan. Beda dengan hari pertama, saya sahur dan buka di rumah bersama keluarga yang dilanjutkan Tarawih.

Setiap buka, menu saya identik. Air putih, kolak, dan gorengan.

Saya tidak bisa langsung makan berat seperti nasi, karena bikin ngantuk. Biasanya, baru santap usai Tarawih atau pukul 21.00 WIB.

Nah, saat itu, saya buka di Rawabelong, Jakarta Barat. Cukup air mineral, kolak pisang, dan bala-bala yang dibuat Ibu di rumah.

Usai nganter orderan, saya duduk sejenak di emperan toko. Lanjut ngemil bala-bala dengan dicocol cengek.

Ketika itu, jalanan lumayan macet. Dari  belakang, terdengan jemaah yang sedang menunaikan Salat Tarawih.

Pada saat yang sama, arah Jam 9 dari posisi saya duduk, terdapat seorang pedagang. Saya amati sedang termenung duduk depan meja kayu panjang.

Tampak, dagangannya masih banyak. Terlihat bungkus lontong, kolak, dan kerupuk mie.

Saya pun spontan melirik jam di tangan kanan. Menunjukkan pukul 20.39 WIB.

Alias, sudah lewat dua jam lebih sejak buka puasa. Namun, dagangan tersebut masih cukup banyak.

Sementara, berjarak beberapa meter di sampingnya ada deretan meja jualan yang sudah sepi. Pertanda, sang pemiliknya sudah pulang karena dagangannya habis.

Beda dengan ibu tersebut yang masih duduk. Meski jalanan ramai, tidak ada yang singgah untuk beli.

Maklum, buka puasa sudah lewat. Jarang ada yang mau beli kolak atau gorengan. 

Seketika, saya terpantik. Jadi teringat Ibu saya yang jualan depan rumah pada 1996-2019.

Saya pun beranjak menuju dagangan tersebut. Engga ada niat apa-apa.

Sekadar ingin beli buat santap berat. Secara, sejak buka puasa hanya ngemil kolak dilanjutkan bala-bala.

Ternyata, menunya cukup lengkap. Ada Mie Goreng, Kwetiaw, Bihun, Tahu Isi, Lontong, dan Kerupuk Mie.

Saya beli sebungkus Kwetiaw, dua Tahu Isi, dan Kerupuk Mie. Sambalnya dipisah.

Ibu itu melayani dengan cekatan. Tampak, rautnya sangat semringah.

Usai mendapat kembalian, saya pun mengucapkan terima kasih. Disambut sang penjual dengan khidmat.

Tak lama, bunyi orderan di salah satu aplikasi. Saya pun bergegas meninggalkan lokasi tersebut.

Sepanjang jalan saya jadi ingat pengalaman Ibu yang jualan lebih dari 20 tahun. Sebagai single parents, Ibu merupakan wanita yang luar biasa.

Tanpa kenal lelah dalam membesarkan dua anaknya. Juga anak angkatnya sejak 2013 silam.

Setiap Senin-Jumat sejak pagi hingga Sore, jualan nasi, lauk, dan sayur. Kebetulan, dekat rumah banyak usaha konveksi, sablon, dan percetakan yang karyawannya pada makan di tempat kami.

Sabtu, Minggu, dan Libur, ganti dengan kue atau cemilan. Belinya, di Pasar Kue Subuh Senen, Jakarta Pusat.

Ketika Ramadan, jam dagang Ibu pun berubah dengan dua kali. Mulai pukul 15.00 hingga selesai buka dan 02.00 WIB sampai jelang imsak.

Seperti halnya pedagang, adakalanya ramai. Jualan cepat habis.

Di sisi lain, kadang juga harus siap saat sepi. Dagangan numpuk, bahkan tidak balik modal sama sekali.

Ya, itu risiko sebagai pedagang. Dulu, seusai Tarawih saya sering melihat Ibu saya merenung depan dagangannya yang masih banyak.

Ketika ditanya, pasti dijawab, "Udah dikit. Mau abis, kok. Tenang aja."

Padahal, aslinya masih banyak. 

Sumpah, masih banyak banget. 

Kejadian ini bukan sekali dua kali. 

Namun, Ibu berkata gitu bukan bermaksud bohong.

Melainkan, untuk membesarkan hati kami, anak-anaknya. Bahwa, dagangannya habis atau tidak, Ibu ingin memastikan kepada kami, bahwa dunia tetap baik-baik saja.

Itu mengapa, saya kalau melihat pedagang, khususnya saat Ramadan ini, jualannya masih banyak meski sudah lewat Maghrib, saya usahakan beli. Minimal kolak atau gorengan yang memang bisa dinikmati hingga Sahur.

Ya, tidak ada salahnya untuk melariskan dagangan mereka yang sepi. Terutama, jika yang jualan adalah tetangga atau masih satu lingkungan.


*       *       *


- Jakarta, 15 Maret 2024



*       *       *


Artikel Terkait


- https://www.roelly87.com/2024/02/simulasi-jualan-kolak-untuk-sambut.html


- https://www.kompasiana.com/roelly87/552b035bf17e614660d623b6/menikmati-jajanan-di-bursa-kue-subuh-pasar-senen?page=all#section2


- https://www.kompasiana.com/roelly87/55090d50a33311b4422e3b10/idul-fitri-sisi-lain-akibat-lebaran-diundur-ketupat-ibu-bisa-bisa-basi




*       *       *





...