TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Sepak bola

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label Sepak bola. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sepak bola. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Juni 2025

Indonesia Jadi Tuan Rumah Piala Dunia 2026, Gantikan AS yang Disanksi FIFA

Indonesia Jadi Tuan Rumah Piala Dunia 2026, Gantikan AS yang Disanksi FIFA


Ilustrasi drone saat hitung mundur
Asian Games 2018 (Foto: @roelly87)


STANDING Ovation membahana di Jakarta International Stadium (JIS), Sabtu (11/7) barusan. Tepatnya, saat tim nasional (timnas) Indonesia menghadapi Argentina, skor 0-1, pada perempat final Piala Dunia 2026.

Gol semata wayang Paulo Dybala pada injury time mengandaskan asa Indonesia menuju semifinal turnamen paling populer di kolong langit ini. Meski kalah, skuat asuhan Patrick Kluivert itu tidak perlu berkecil hati.

Sebab, lawannya merupakan juara bertahan Piala Dunia. Sementara, bagi Indonesia, ini merupakan partisipasi pertama sejak merdeka.

Merah-Putih kecolongan pada menit ke-90. Padahal, sepanjang laga, Indonesia mampu meladeni peringkat satu FIFA itu.

Apa daya, faktor pengalaman jadi penentu. Wajar, Argentina diperkuat pemain ternama yang mayoritas tampil saat juara di Qatar pada Piala Dunia 2022.

Kendati gagal ke semifinal, aplaus dari penonton terus menggema. Mereka sadar, Indonesia kalah dengan kepala tegak.

Lawannya pun, juara dunia tiga kali. Next, kita coba empat tahun lagi dengan skuat yang sudah matang, baik lokal maupun naturalisasi.

Indonesia... Bisa!


*        *        *


INDONESIA bisa dikatakan sukses sebagai tuan rumah. Setidaknya hingga perempat final ini. Baik di lapangan atau ketika menjamu 47 negara dan ratusan ribu suporter tamu.

Meski, penunjukkan sebagai host sangat mendadak. Alias, kurang dari sebulan jelang pembukaan Piala Dunia 2026 yang dimulai 11 Juni lalu.

Tepatnya, saat ditunjuk FIFA pada awal Mei 2026. Ketika itu, induk organisasi sepak bola dunia ini mencoret Amerika Serikat (AS) sebagai tuan rumah bersama Meksiko dan Kanada.

Alasannya, AS melarang suporter Iran untuk datang. Padahal, saat drawing pada Desember lalu, FIFA sudah sepakat dengan pemerintah Negeri Paman Sam itu untuk memperbolehkan warga Iran yang datang menonton.

Namun, eskalasi politik di Timur Tengah yang memanas akibat provokasi Israel terhadap Iran sejak awal tahun ini membuat semuanya berubah. Puncaknya, akhir April lalu, Presiden AS Donald Trump mengultimatum FIFA.

AS tidak sudi memberi visa masyarakat Iran yang ingin menonton. Kebetulan, Iran masuk grup yang tampil di salah satu stadion yang digelar di AS.

Presiden FIFA Gianni Infantino pun bereaksi keras. Sebab, penolakan Trump itu sama saja dengan mengkhianati sepak bola yang mengusung fair play. 

Efek dominonya tidak main-main. FIFA khawatir hal ini akan terulang lagi pada event lainnya.

Ada opsi, Iran dipindah ke grup yang tampil di Meksiko atau Kanada. Namun, penerintah Iran menolak keras. 

Bahkan, siap memboikot hingga mengajukan kasusnya ke Pengadilan Arbitrasi Olahraga.

Upaya Iran didukung mayoritas negara kuat Eropa dan Asia. Mereka ingin FIFA adil.

Alhasil, Infantino pun balik mengancam Trump:

Terima warga Iran yang datang untuk menonton timnasnya atau Piala Dunia 2026 batal digelar di AS.

Nah, di sini polemiknya.

Trump yang megalomania jelas enggan ditekan. Bahkan, melalui X/twitter resminya, dia resmi mencabut status AS sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026.

"Kami tidak pernah tunduk pada tekanan asing. AS adalah negara besar!"

Terdengar familiar? 

Yoi...

Bahkan, terdengar rumor Infantino bakal di-Sepp Blatter-kan. Kabar angin...

FIFA pun resmi mencabut AS sebagai tuan rumah. Bahkan, memberi sanksi larangan 10 tahun untuk partisipasi Paman Sam dalam peta sepak bola dunia. 

Baik level klub, negara, atau wanita, termasuk keikutsertaan di Olimpiade.

Reaksi Trump? 

Oke gas. Oke gas...

Menurutnya, rakyat AS lebih kenal dengan basket, bisbol, American Football, Nascar, hoki es, hingga gulat.

"Football? Apa itu!" cuit Trump di X. "Kami tahunya American Football."

"Persetan dengan soccer. Kami bangsa besar ga terpengaruh dengan asing. Selama saya jadi presiden, akan terus menggaungkan 'Make America Great Again'. Camkan itu wahai antek asing!" 

Nah, bagaimana dengan kans Meksiko dan Kanada sebagai tuan rumah untuk duet menggantikan AS?

Ternyata, mereka keberatan jika edisi ke-23 turnamen terelite di kolong langit ini hanya digelar di dua negara. Bisa dipahami mengingat infrastruktur Meksiko dan Kanada memang tertinggal jauh dari AS yang pernah jadi tuan rumah Piala Dunia 1994.

Kendati, Meksiko justru sudah dua kali jadi host pada 1970 dan 1986. Namun, mereka keberatan untuk menggelar edisi sekarang karena faktor ekonomi.

Ya, jadi tuan rumah Piala Dunia bukan sekadar gengsi semata. Alias, ada sisi bisnis yang perlu dipertimbangkan.

FIFA pun melempar tawaran ke berbagai negara di Eropa, Asia, dan Afrika sebagai tuan rumah tunggal.

Senyap. 

Setidaknya hingga beberapa hari tidak ada yang mengajukan.

Mayoritas negara Eropa berhitung untung dan rugi. Sebab, perhelatan kurang dari sebulan.

Mereka harus mencari sponsor swasta agar tidak membebani keuangan negara. 

Apalagi, mengingat Piala Dunia 2030 berlangsung di Portugal, Spanyol, dan Maroko (Afrika).

Arab Saudi yang sejak Desember 2024 terpilih jadi tuan rumah Piala Dunia 2034 turut mengajukan. Namun, FIFA menolaknya karena akan ada satu negara yang jadi tuan rumah dalam delapan tahun terakhir.

Pun dengan Qatar yang uangnya tak berseri siap menggantikan AS. Namun, FIFA menolak dengan alasan sudah menggelar Piala Dunia 2022. 

Ketika masih buntu, Jepang dan Korea Selatan (Korsel) berebut jadi tuan rumah seperti yang dilakukan pada Piala Dunia 2002. FIFA pun membuka diri pada dua raksasa Asia Timur tersebut.

Bahkan, Jepang dan Korsel siap jadi tuan rumah tunggal! Ini yang disambut FIFA dengan tangan terbuka.

Namun, mayoritas negara kuat Eropa dan Amerika Selatan, justru menolaknya. Alasan formal karena beda jam tayang antara waktu mereka dengan di Asia Timur.

Padahal, aslinya mereka enggan kedua negara itu bak Harimau diberi sayap. Ya, baik Jepang dan Korsel merupakan ancaman bagi negara tradisional Piala Dunia seperti Brasil, Jerman, Italia, Argentina, Prancis, hingga Spanyol.

Keduanya memiliki tim terbaik saat ini yang bisa mengimbangi negara kuat Eropa dan Amerika Selatan.

Jika salah satu Jepang atau Korsel jadi tuan rumah, banyak yang khawatir akan merusak hegemoni Eropa dan Amerika Selatan. Yaitu, salah satu dari Jepang atau Korsel juara!

Itu yang ditakutkan negara Eropa dan Amerika Selatan. Pengalaman pada Piala Dunia 2002 saat Korsel ke semifinal dengan mempermalukan Italia di 16 besar dan Spanyol (perempat final) masih membekas.

Siapa yang menjamin jika Korsel atau Jepang jadi tuan rumah, pencapaian pada 24 tahun silam terulang lagi?

Negara-negara Eropa dan Amerika Selatan pun ga sanggup melihatnya andai ada wakil Asia yang juara.

Deadlock.

FIFA kepusingan.

Infantino kalang kabut karena sudah dikejar sponsor terkait jadi atau tidaknya Piala Dunia 2026 berlangsung tepat waktu.


*        *        *


ADAGIUM mengatakan, "Dalam krisis, ada peluang". Demikian terjadi dengan Indonesia.

Karena mentok akibat dikejar deadline penyelenggaraan, Infantino pun iseng menelepon Presiden Indonesia Prabowo Subianto. Niatnya, basa-basi khas Italia.

Dari lolosnya Indonesia ke Piala Dunia 2026 lewat kualifikasi ronde 4 zona Asia. Hingga terkait pengembangan sepak bola usia dini.

Ketika pembicaraan kian intens, tiba-tiba Infantino melemparkan pertanyaan, apakah Indonesia sanggup jadi tuan rumah Piala Dunia 2026? Ga pake hitungan detik, dengan antusias Prabowo pun menjawab:

"Sanggup!"

Infantino pun melengak. Pria asal Swiss ini pun mengulangi pertanyaannya untuk memastikan kesediaan Indonesia.

Terutama dari segi keamanan. Maklum, yang datang itu 47 negara dengan satu tim sekitar 40 orang. Baik pemain, pelatih, staf, dan lainnya.

Juga ratusan ribu warga negara dari lima benua yang tampil di Piala Dunia yang akan membanjiri Indonesia.

Ini tidak mudah terkait akomodasi, hotel, transportasi, sarana dan prasarana, hingga stadion.

Prabowo dengan tegas, mengatakan, "Indonesia siap jadi tuan rumah Piala Dunia 2026. Kami akan menyambut dengan hangat seluruh peserta dan suporter yang datang. Keselamatan, keamanan, dan kenyamanan tamu akan saya garansi."

Infantino pun lega mendengarnya. Memang sosok yang 23 Maret lalu genap 56 tahun ini memiliki kedekatan dengan Indonesia.

Bahkan, pada 2023 lalu FIFA resmi membuka kantornya -hub Asia Tenggara- di kawasan Sudirman. 

Hubungannya dengan Prabowo, Presiden Indonesia ke-7 Joko Widodo, hingga Ketua PSSI sebelumnya, Mochamad "Iwan Bule" Iriawan, pun sangat bagus.

Di sisi lain, bagi Prabowo, ditunjuknya Indonesia sebagai tuan rumah jadi legacy besae. Sekaligus, modal untuk kampanye Pilpres 2029.

Ya, namanya juga politikus. Apa pun itu peluangnya, wajib diambil.

Masalah datang kemudian, ntar aja dipikirin.

Yang penting, Indonesia sukses menyelenggarakan Piala Dunia 2026. Urusan lain, carut marut ekonomi, ga dibahas. 

Intinya, Indonesia sukses gantikan AS sebagai tuan rumah.

Yes, Make Indonesia Great Again!

Again!

Again!

Again.

Agak... Lain sih!


*        *        *


PRABOWO jadi presiden ketiga sejak era pemilihan langsung yang menyelenggarakan event akbar. Dimulai dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Piala Asia 2007.

Saat itu, Indonesia jadi tuan rumah bersama tiga negara Asia Tenggara, yaitu Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Finalnya, di Stadion Utama Gelora Bung Karno yang juga venue pamungkas Piala Dunia 2026 pada Minggu (19/7).

11 tahun berselang, Indonesia dipercaya sebagai tuan rumah Asian Games 2018 di bawah kepemimpinan Jokowi. Yang menarik, saat itu, Indonesia pun jadi host karena menggantikan Vietnam yang dilanda krisis finansial.

Antara era Jokowi dan Prabowo, identik. Indonesia sama-sama jadi tuan rumah pengganti.

Hebatnya, kedua event berlangsung sukses. Setidaknya, hingga perempat final pada Piala Dunia 2026 ini.

Sejak pembukaan pada 11 Juni lalu, tiada noktah yang berarti. Alias, ada kesalahan  tapi kecil.

Misalnya, warga nonton di GBK tapi parkir liar sepanjang depan Kemenpora dan TVRI. Motornya hilang. 

Tukang parkir liarnya yang mau terima duit tapi ga mau tanggung jawab cuma bilang, "Maaf, saya orang miskin. Hidup susah. Ini aja bela-belain jaga parkir."

Padahal, setiap motor dikenakan tarif Rp 20 ribu. Bahkan, mobil hingga Rp 100 ribu.

Duitnya? Katanya harus setoran ke oknum anggota.

Sisanya? Biasa. Kalo ga dipake nyabu, ngewe jablai, mabok, atau nyelot zeus. 

Apa yang mau diharapkan dari orang-orang pemalas ini?


*        *        *


HINGGA babak delapan besar, persaingan antarnegara menuju juara kian sengit. Selain Argentina, ada Brasil dan Jerman yang sudah memastikan tempat di semifinal. 

Satu slot lagi diperebutkan antara Italia kontra Portugal yang berlangsung malam nanti di Stadion Gelora Bandung Lautan Api.

Ya, salah satu masalah Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026 terkait stadion. Maklum, jarang ada stadion di Indonesia yang berkapasitas besar sesuai FIFA’s Stadium Guidelines.

Yaitu, minimal punya 40 ribu kursi. Untuk perempat final dan semifinal hingga 60 ribh kursi. Sementara, pembukaan dan final wajib 80 ribu kursi.

Nah, berhubung Indonesia ditunjuk sebagai host pengganti, jadi FIFA coba "tutup mata" terkait mayoritas stadion di Tanah Air yang kapasitasnya kurang. Alias, hanya ada GBK, JIS, atau GBLA.

"Woles bro. Kalian bersedia jadi tuan rumah pun, kami sudah bersyukur banget," kata Infantino, semringah saat diwawancarai media.

Ya, simbiosis mutualis. FIFA membolehkan beberapa stadion berukuran kecil untuk menggelar pertandingan.

Sebab, waktunya sejak ditunjuk hingga Piala Dunia 2026 berlangsung, kurang dari sebulan. Tentu, pemerintah tidak bisa menyulap secara tiba-tiba.

Itu yang dimaklumi Infantino, FIFA, 47 negara peserta, puluhan ribu suporter, hingga media.

Surat kabar olahraga ternama Italia, Barzini and Tattaglia Sport, menuliskan pujian secara besar-besaran. Mengakui Prabowo sebagai pemimpin yang peduli olahraga.

"Presiden Subianto berhasil menyulap Piala Dunia 2026 hingga terselenggara dengan baik. Awal kejayaan Indonesia!"

Wow... Menyulap?

Frasa berhasil menyulap kok, terdengar familiar. Btw, sebagai penggemar Prabowo, saya tahu 08 itu bukan pesulap.

Penculik iya. Itu fakta dan Prabowo mengakuinya saat menyulap aktivis jelang reformasi.


Selengkapnya:

- Prabowo: Sang Penculik yang Berharap Mandat Langit (https://www.roelly87.com/2023/09/prabowo-sang-penculik-yang-berharap.html)

- Prabowo Gemoy, tapi Tangannya Berlumuran Darah (https://www.roelly87.com/2023/12/prabowo-gemoy-tapi-tangannya-berlumuran.html)

- Saya Ga Menyesal Pilih Prabowo, Memang Kemampuannya B Aja (https://www.roelly87.com/2025/04/saya-ga-menyesal-pilih-prabowo-memang.html)

Koran Meksiko, El SeƱor de Los Cielos turut mengapresiasi. Menurutnya, Indonesia tidak hanya menyelamatkan wajah FIFA saja, melainkan Meksiko dan Kanada yang memang tidak sanggup jadi host Piala Dunia 2026 usai AS batal.

"Terima kasih Indonesia. Kami, rakyat Meksiko sangat mendukung kinerja kalian."

Beberapa media lain, hingga perempat final ini menuliskan:

El Padrino (portal asal Medellin, Kolombia): Andai kami mampu melakukannya seperti Indonesia (jadi tuan rumah Piala Dunia) pada 1980-an dan 1990-an saat ditopang perdagangan haram, mungkin saat ini sudah jadi negara makmur. Kolombia harus belajar dari Indonesia.

Megumi Shimbun (koran Jepang): Ini bukan Piala Dunia terbaik. Namun, Indonesia bisa dikatakan sukses sebagai penyelenggara.

Suez Streets (majalah Mesir): Indonesia menawarkan keunikan untuk menyambut seluruh tamu. Keindahan alam, budaya, keramahan, hingga keamanan yang sangat terjamin.

Ya, mayoritas mengapresiasi kinerja pemerintah. Baik pusat maupun daerah. Mereka di bawah satu komando, yaitu Prabowo. 

Itu mengapa, nyaris tidak ada berita yang mengancam keamanan sepanjang Piala Dunia 2026 berlangsung. Sebab, semuanya sudah dilokalisir aparat berwenang.

Misal, menugaskan kepolisian untuk mengamankan stadion 24 jam. Mereka berpakaian biasa. Tidak mencolok perhatian. 

Polisi termasuk intel juga memerintahkan preman setempat dan ormas untuk memberi rasa aman dan nyaman bagi tim yang bertanding serta suporter. 

Tentu, ada sih, yang membangkang dengan main dua kaki. Ikut mengamankan iya, tapi memeras suporter negara lain juga iya. 

Akibatnya, Prabowo langsung menginstruksikan aparat untuk menghilangkan preman serta ormas itu dan pentolannya serta ribuan anggota. 

Maksud menghilangkan ya, benar-benar hilang dari muka bumi. Begitulah cara kerja Prabowo sebagai pesulap yang senyap.

Mungkin, preman dan ormas itu ga paham bahwa Prabowo punya tiga wajah. Wajah pertama, ramah terhadap tamu, termasuk negara luar.

Kedua, simpatik terhadap bawahan atau kenalan yang setia. Contohnya, di kabinet aja yang ya...

Wajah ketiga: Telengas terhadap pihak yang mengkhianatinya. Baginya, titah yang sudah dikeluarkan ga bisa ditawar apalagi dibantah. Selesai sudah nasib preman dan ormas tolol itu.

Bagi masyarakat, itu bagus. Secara memastikan suasana tetap kondusif sepanjang Piala Dunia 2026 berlangsung. Sekaligus, memanjakan tamu yang hadir.

Ya, itu inisiatif Prabowo. Kapan harus berlaku ramah kepada tamu dan kapan harus brutal dengan menghilangkan nyawa orang tanpa berkedip. 

Pengalamannya sebagai orang nomor satu di Kopassus dan Kostrad serta memimpin Tim Mawar jadi barometer. 

Bagaimana dengan anak buahnya, yaitu menteri di Kabinet Indonesia Merah Putih. Sumpah, ga berguna. 

Anak buahnya, termasuk menteri, wakil, DPR, DPD, DPRD, dan di partai, merupakan penjilat. Tipe ABS: Asal Bowo Senang.

Bahkan, beberapa orang terdekatnya yang jadi pejabat tinggi bikin malu. Yaitu, maksa nerobos kamar ganti pemain saat jeda pertandingan untuk foto bersama hingga mengajak anaknya.

Asu!

Jancok!

Yaitulah kalo pemimpin dikelilingi Hyena. Hewan pemakan bangkai. 

Prabowo sudah berusaha yang terbaik, eh para pembantunya berkelakuan minus hingga mencoreng reputasi Indonesia. Mungkin, dajjal aja sungkem sama penjilat di sekitar Ring 1 Prabowo.

Terkait keamanan nonteknis, misal kelompok separatis, Prabowo pun sudah melakukan mitigasi.

Pertama, menugaskan pejabat tinggi di kabinet bersama jenderal bintang tiga untuk dialog di Papua. Tujuannya, demi meredam gejolak mengingat ada 12 pertandingan di fase grup yang diselenggarakan di Bumi Cendrawasih tersebut.

Hasilnya? 

Sangat manjur.

Entah "gimana caranya", tapi berbagai pertandingan itu berlangsung dengan lancar. Tanpa ada gangguan sedikit pun.


*        *        *


SEPERTI agenda awal Piala Dunia 2026 diselenggarakan di 16 stadion. Sebelum batal, AS menyediakan porsi terbanyak dengan 11 stadion diikuti Meksiko (tiga) dan Kanada (dua).

Indonesia pun menyiapkan 16 stadion di enam kawasan berbeda sejak fase grup hingga final. Dalam arti, semua pulau besar harus kebagian. Maksud Prabowo baik, agar tidak Jawa-sentris. 

Yaitu, Jawa dengan lima stadion, Sumatera (tiga), Kalimantan (dua), Sulawesi (tiga), Papua (dua), dan Bali-Nusa Tenggara (satu).

"Stadion di Indonesia kecil-kecil. Mayoritas hanya menampung 30 ribuan kursi di bawah standar FIFA Namun, pemerintah mereka pintar memaksimalkannya. Terbukti, stadion selalu full. Penonton senang dengan apresiasi masyarakat."

Demikian ulasan dari media asal Argentina, Tango Futbol.

Bagaimana dengan reaksi pemain?

Mayoritas positif.

Mereka merasakan suasana berbeda saat tampil di Indonesia. Terutama, pemain asal Eropa yang awalnya sempat khawatir dengan iklim tropis. 

Namun, ketika sudah menginjak rumput stadion, dukungan suporter tuan rumah jadi motivasi bagi mereka.

"Panas dan lembab. Namun, di lapangan tidak terasa. Usai pertandingan saya suka jalan-jalan. Sambutan masyarakat sangat luar biasa. Melebihi di Eropa," ujar bomber Jerman yang tampil bagus bersama klubnya di Bundesliga musim lalu.

"Ini saya dikasih seblak. Rasanya? Wow... 'enak bingit'. Nanti saya mau borong buat keluarga."

Begitu juga dengan peraih capocannoniere Serie A 2025/26. Bintang asal Italia yang diminati banyak klub raksasa Eropa itu terkesan setelah merasakan tampil di Papua.

"Saya ingin ke Raja Ampat. Itu surga kecil yang tersisa di muka bumi ini. Serius. Saya sudah minta ke manajer saya untuk memasukkan klausul liburan pramusim di Raja Ampat jika ada klub Eropa yang menginginkan saya pindah."

Ya, Raja Ampat memang jadi primadona. Padahal, tahun lalu sempat terancam punah akibat penambangan tak terkendali di kepulauan eksotis itu.

Namun, Indonesia tidak hanya Raja Ampat saja. Banyak kawasan wisata lain yang diminati para pemain di Piala Dunia 2026. Misalnya, Danau Toba, Kawah Ijen, Bromo, Nusa Penida, Bunaken, hingga Baduy yang masih asri.

Ga heran, banyak tim yang sudah tersingkir di fase grup, tidak langsung kembali ke negaranya. Mereka menikmati keindahan alam, budaya, dan keramahan dari masyarakat Indonesia.

Itu jadi nilai lebih penunjukkan Indonesia sebagai tuan rumah. 

Infantino girang. 

Prabowo kembali joget gemoy. 

Ya, semua senang dan semua menang.

Di dalam negeri pun demikian. Prabowo melibatkan banyak elemen masyarakat, termasuk politikus. 

Baik itu dari simpatisan 01, 02, dan 03. Mereka bahu-membahu mensukseskan Piala Dunia 2026.

Sejak pembukaan, Prabowo selalu mengundang presiden sebelumnya, seperti Jokowi, SBY, dan Megawati Soekarnoputri untuk sama-sama duduk di tribune VVIP. 

Serta keluarga presiden yang sudah meninggal turut hadir. Dari keluarga besar Soekarno, Soeharto, Habibie, dan Gusdur.

Beberapa mantan pelatih timnas pun turut diundang. Termasuk, dari luar yaitu, Luis Milla dan Shin Tae-yong.

"Alhamdulillah, hingga perempat final ini, penyelenggaraan Piala Dunia 2026 berjalan lancar. Itu membuktikan, Indonesia sebagai negara besar yang sanggup menggelar event akbar. Kita pun optimistis, next bakal jadi host Olimpiade," kata Prabowo, tersenyum saat doorstop dengan media.

Ya, di tengah absurdnya rezim Prabowo dengan para pembantu yang konyol dan ga bisa kerja, ternyata ada juga yang bisa dibanggakan. Setidaknya, dalam sebulan terakhir ini.

Terkait adanya inflasi dan resesi yang mengancam usai Piala Dunia 2026, itu soal lain. Pemerintah mana pernah mikir jauh.

Yang pasti, sebagai masyarakat, kita senang bisa jadi tuan rumah Piala Dunia 2026. 

Kapan lagi bisa melihat langsung dari dekat kehadiran Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, Dybala, Vinicius Junior, Harry Kane, Kylian Mbappe, dan sebagainya. 

Apalagi, ini disebut jadi edisi pamungkas Ronaldo dan Messi di Piala Dunia. 

Bisa dipahami mengingat mereka telah cukup berumur, alias jauh melewati masa keemasan. Ronaldo sudah 41 tahun dan Messi pada 24 Juni lalu genap 39 tahun.

Beruntungnya, jadi warga Indonesia bisa menikmati The Last Dance ala Ronaldo dan Messi di Piala Dunia 2026.


*        *        *


"BRO, bangun. Mau ke GBK ga?" ujar salah satu ojol menepuk pundak saya yang sedang tertidur di motor.

Saya pun kaget. Perasaan tadi lagi streaming Indonesia versus Jepang pada matchday terakhir Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia Ronde Ketiga Grup C.

Namun, jelang turun minum saya ketiduran akibat Indonesia tertinggal 0-2. Apalagi, tidak ada shot on goal yang dilakukan ke gawang Jepang.

Beruntung, rekan ojol itu membangunkan. Sekaligus, mengingatkan saya untuk tidak naruh hp sembarangan.

Secara, saya memang lagi istirahat di kolong fly over Fatmawati-Simatupang yang ramai. Saya cek dompet dan hp, alhamdulillah aman.

"GBK ngapain pak," jawab saya sambil membasuh wajah dengan air mineral agar segar.

"Bubaran timnas bentar lagi. Ini udah menit ke-81, timnas ketinggalan enam gol," jawab rekan ojol itu sambil memakai helm.

Saya yang baru terbangun usai mimpi indah Indonesia jadi tuan rumah Piala Dunia 2026 pun kaget. Sembari mencubit pipi, apakah mimpi tadi nyata atau cuma khayalan.

"Pak, mainnya di Osaka, Jepang. Bukan di GBK."

"Lho, bukannya sama kayak lawan Tiongkok, Kamis lalu di GBK?"

"Kagak pak. Gantian. Kan sistemnya kandang-tandang. Kita udah pernah menjamu Jepang di GBK pada 15 November lalu. Kalah 0-4."

"Oh gitu ya? Kirain main di GBK lagi."

"Ya ampun, saya yang ketiduran, eh malah si bapak yang halu."

"Iya ya. Ga jadi deh. Makasih bro udah diingetin. Soalnya, kalo main di GBK lumayan. Pas lawan Tiongkok, saya dapat orderan ojol kakap ke Sukabumi."

"Ebuset, itu mah bukan kakap lagi, tapi paus, jaraknya 100 km lebih. Ga sekalian pulang kampung pak? He he he."

"Iya deh bro. Yaudah saya ga jadi ke GBK. Makasih infonya bro," ucap rekan ojol itu tersipu.

"Siap pak. Makasih juga udah dibangunin. Saya ketiduran tadi. Enak anginnya sepoi-sepoi," kata saya, menjura.

Ya, ternyata tadi hanya mimpi. Kirain nyata. 

Secara, ini aja baru tahun 2025. Alias, masih setahun lagi menuju Piala Dunia 2026.

Namun, banyak kesuksesan berasal dari mimpi. Siapa tahu, Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia jadi kenyataan dalam beberapa tahun mendatang.

Yang terdekat, semoga Indonesia bisa lolos dari ronde 4 kualifikasi zona Asia untuk tampil di Piala Dunia 2026.

Aamiin...


*        *        *


- Jakarta, 16 Juni 2025


*        *        *

 Artikel Terkait Timnas dan Multi Event yang Diselenggarakan di Indonesia


- (SEA GAMES 2011) Antusias Masyarakat Menyaksikan Timnas Indonesia Mengalahkan Malaysia (https://www.kompasiana.com/roelly87/55098b928133117375b1e230/antusias-masyarakat-menyaksikan-timnas-indonesia-mengalahkan-malaysia)


- Bangga Jadi Orang Indonesia (https://www.kompasiana.com/roelly87/552df94a6ea834190a8b45f2/bangga-jadi-orang-indonesia)


- Mereka yang Turut Mensukseskan Pertandingan di SEA Games 2011 (https://www.kompasiana.com/roelly87/55099d1ea33311653d2e3a23/mereka-yang-turut-mensukseskan-pertandingan-di-sea-games-2011)


- Dampak Sosial dari Pagelaran SEA Games 2011 (https://www.kompasiana.com/roelly87/5509e595a33311356c2e3960/dampak-sosial-dari-pagelaran-sea-games-2011)


- (Esai Foto) Sisi Lain Kemenangan Indonesia atas Thailand di Stadion Pakansari (https://www.roelly87.com/2016/12/sisi-lain-kemenangan-indonesia-atas.html)


- GBK Bersolek Sambut Asian Games 2018 (https://www.roelly87.com/2017/03/gbk-bersolek-sambut-asian-games-2018.html)


- Asian Para Games 2018 Bukan sekadar Menang atau Kalah, tapi... (https://www.roelly87.com/2018/10/asian-para-games-2018-bukan-sekadar.html)


- (Galeri Foto) Meriahnya Count Down Asian Games 2018 di Monas (https://www.roelly87.com/2017/08/count-down-asian-games-2018.html)


- Antara Presiden Jokowi, Asian Games 2018, Blogger, dan Tantangan Menghadapi Revolusi Industri 4.0 (https://www.roelly87.com/2018/05/antara-presiden-jokowi-asian-games-2018.html)










-




Rabu, 17 Januari 2024

Tanpa Mourinho, AS Roma Tak Lagi Sama

 Tanpa Mourinho, AS Roma Tak Lagi Sama

Jose Mourinho melambaikan tangan 
kepada fan AS Roma
(Foto: IG @josemourinho)


AKHIRNYA, hari penantian itu tiba. AS Roma resmi memecat Jose Mourinho.

Keputusan yang diumumkan Selasa (16/1) itu memang mengundang pro dan kontra. Banyak yang setuju.

Pada saat yang sama, tidak sedikit menolak. Saya termasuk yang kecewa.

Serius?

Yoi.

Saya merupakan Juventini alias fan Juventus sejak 1994. Namun, saya juga penggemar sepak bola yang bebas.

Apa pun itu. Baik klub, tim nasional (timnas), pemain, hingga pelatih.

Nah, saya mengidolai Mourinho sejak 2004 silam. Tepatnya, saat pria asal Portugal ini menangani Chelsea.

Ketika itu, Mou baru saja membawa Porto juara Liga Champions. Tanpa ragu, pria kelahiran 26 Januari 1963 ini menahbiskan sebagai "The Special One".

Mulut besarnya terbukti. Mourinho sukses menghapus dahaga Chelsea di Premier League dengan juara beruntun 2004/05 dan 2005/06.

Sisanya, adalah sejarah.

Btw, kemarin berita pemecatan Mourinho membuat media sosial (medsos) jadi ramai. Bahkan mampu melewati info copras-capres.

Hanya di bawah berita timnas Indonesia dan Piala Asia 2023. Kekalahan dari Irak memang kontroversial sih.

Semoga Garuda segera bangkit. Berharap bisa meraih kemenangan pada dua laga selanjutnya di fase grup kontra Jepang dan Vietnam.

Aamiin...

*       *       *

LANJUT ke Mourinho. Saya ogah menulis terkait pemecatan karena sudah ramai di media, baik nasional dan luar.

Yang menarik soal gaungnya di medsos. Terutama di X (twitter).

Sahut-sahutan antarfan dari penjuru dunia pun ramai. Padahal Roma bukan klub raksasa.

Di Italia saja, "I Giallorossi" hanya cukup masuk tujuh besar. Di bawah Juventus, AC Milan, FC Internazionale, Napoli, Lazio, dan Fiorentina.

Eh, jadi inget Il Sette Magnifico alias tujuh tim terkuat Serie A pada 1990-an. Hanya, ketika itu Parma yang menggantikan posisi Napoli.

Dah, lanjut.

Yang membuat Roma ramai diperbincangkan karena faktor Mourinho. Suka tidak suka, justru keberadaan mantan penerjemah Sir Bobby Robson tersebut sangat menentukan.

Saya aja yang Juventini kerap bela-belain nonton pertandingan yang melibatkan Roma. Bahkan, rutin komentar di beberapa komunitas grup Facebook antarfan "Serigala Ibukota".

Sesuatu hal yang jarang terjadi pada klub lain. Kebetulan, selain Juve, saya juga mengikuti grup Inter, Milan, Perugia, Manchester United, Chelsea, Real Madrid, Real Zaragoza, dan Tottenham Hotspur.

Eh, serius dengan nama terakhir? Yupz.

Mou pernah menangani Hotspur. Meski, perjalanannya ya begitu.

Ha... Ha... Ha...

Dah cukup mukadimahnya. Kini, lanjut terkait Mou.

Bagi saya, sejak kemarin, Roma tidak lagi sama. Tentu, saya tetap menyimak perkembangan Il Lupi.

Hanya, tidak lagi intens seperti saat masih ditangani Mourinho. Saya yakin, pemikiran ini juga dialami segenap tifosi lainnya.

Sebab, yang saya tahu, mayoritas penggemar baru Roma berkat keberadaan Mou. Itu fakta.

Begitu juga dengan pemain. Saya ragu Paulo Dybala dan bintang lainnya bakal bertahan musim depan tanpa kehadiran Mou.

Kemungkinan, akhir musim bakal pada eksodus. Kecuali, jika manajemen Roma mampu memberikan tawaran yang tidak bisa ditolak mereka.

Berharap aja Presiden Roma Dan Friedkin seperti Vito Corleone...

Eh salah. Yang bener, Florentino Perez, Roman Abramovich, Massimo Moratti, hingga almarhum Silvio Berlusconi. 

Keempatnya merupakan pemilik klub yang enteng mengeluarkan dana demi membangun skuat terbaik. Sementara, Friedkin? 

Ya... 

Gitu!

Patut ditunggu langkah Il Gialorossi dengan nakhoda anyar. Saya berharap tanpa Mou pun, Roma bisa berbicara banyak di Serie A dan Liga Europa.

Harapan dari seorang Juventini yang merupakan fan Mourinho.

Terus, bagaimana dengan langkah Mou selanjutnya?

Entahlah. 

Ada rumor, Mou bakal ke Arab Saudi. Tawaran gaji yang sangat besar tentu begitu menggoda.

Apalagi, Mourinho sudah kepala enam. Usia yang cukup untuk menyudahi petualangan di level klub Eropa dengan gelimang gelar.

Atau, bisa jadi Mou bakal menakhodai negaranya? Itu tergantung hasil Portugal di bawah asuhan Roberto Martinez pada Piala Eropa 2024 di Jerman nanti.

Apa pun itu, saya selalu mendukung klub atau timnas yang dilatih Mou.

Grazie, Mou!***

*       *       *

- Jakarta, 17 Januari 2023


*       *       *

Artikel Terkait:








Rabu, 10 Maret 2021

Pria Sejati Tidak Tinggalkan Kekasihnya

Pria Sejati Tidak Akan Pernah Tinggalkan Kekasihnya

Foto bersama Andrea Pirlo yang menjalani musim terakhirnya
sebagai pemain Juventus saat tur di Indonesia 2014


BAGI saya, Liga Champions 2020/21 sudah selesai. Itu seiring dengan tersingkirnya Juventus dari babak 16 besar. Tepatnya, usai hanya menang 3-2 atas Porto di Juventus Stadium, Selasa (9/3) atau Rabu dini hari WIB. 

Hasil tersebut tidak cukup bagi skuat asuhan Andrea Pirlo untuk melaju ke perempat final. Sebab, pada leg pertama di Estadio do Dragao (17/2), Juve takluk 1-2. Alhasil, I Bianconeri pun tersingkir akibat kalah agresivitas gol tandang. 

Sekaligus, jadi momen terkelam bagi Cristiano Ronaldo. Maklum, megabintang asal Portugal ini menjalani musim ketiganya bersama Juve sejak direkrut dari Real Madrid pada 10 Juli 2018. Kehadirannya, sempat membuat asa fan La Vecchia Signora membumbung tinggi. Khususnya, saya pribadi. 

Bisa dipahami mengingat Ronaldo datang dengan lima gelar Liga Champions. Tiga di antaranya diraih beruntun dengan Madrid pada 2015/16, 2016/17, dan 2017/18. Pada saat yang sama, Juve belum pernah meraih trofi Si Kuping Lebar sejak 1995/96. 

Yaitu, saat masih diperkuat Alessandro Del Piero. Sejak saat itu, Juve lima kali melaju ke babak pamungkas pada 1996/97, 1997/98, 2002/03, 2014/15, dan 2016/17. Namun, seluruhnya berakhir dengan derai air mata. 

Termasuk, empat tahun lalu di Millennium Stadium, Cardiff, Wales, ketika saya jadi saksi mata pada laga pamungkas yang berujung kekalahan 1-4 dari Madrid. Ketika itu, Ronaldo turut mencetak dua gol ke gawang Juve yang masih dijaga Gianluigi Buffon.

Wajar, jika berita CR7 berseragam I Bianconeri membuat antusias segenap fan Juve di kolong langit. Hanya, sepak bola merupakan olahraga tim. Dimainkan 11 orang berbeda. Alias, bukan permainan individu layaknya beladiri, bulu tangkis, hingga balap. 

Alhasil, keberadaan Ronaldo saja tidak cukup. Pun demikian meski sudah ditangani Pirlo yang punya dua gelar Liga Champions saat masih jadi andalan AC Milan. Ya, faktor keberuntungan yang membuat mimpi Juve di ajang antarklub terelite Eropa tersebut masih jauh. Setidaknya, hingga kini.

*        *        *

PAGI ini, rinai menghiasi ibu kota. Memang, sejak semalam, tiada hentinya langit mencurahkan air demi membasahi marcapada. Sebagai ojek online (ojol), tentu hujan tidak memengaruhi aktivitas membelah jalan. Maklum, saya terbiasa menari di bawah badai. Jadi, rinai atau bahkan hujan deras pun tidak bakal menyurutkan langkah saya untuk mencari order.

Hanya, situasi berubah usai wasit Bjorn Kuipers meniup peluit panjang. Tepatnya, setelah perpanjangan waktu 2x15 menit dalam duel Juve kontra Porto yang saya saksikan secara streaming. Ya, sebagai Juventini, jelas saya tidak pernah ketinggalan menyaksikan pertandingan tim yang bermarkas di kota Turin tersebut. 

Terutama, di Liga Champions. Untuk Serie A, hanya partai besar yang melibatkan Milan, FC Internazionale, AS Roma, Parma, Napoli, dan Lazio, yang jadi bagian dari Il Sette Magnifico.

Saya memang kerap meluangkan waktu demi melihat Juve secara streaming. Aplikasi ojol saya non aktifkan. Sebab, sulit fokus mengantar penumpang, makanan, atau barang, jika pada saat bersamaan Juve sedang bertanding. Itu mengapa, usai si Nyonya Besar hanya menang tipis 3-2 yang berujung kalah agresivitas gol tandang dari Porto membuat saya pun lunglai.

Sahutan kokok ayam yang menandakan aktivitas di kawasan selatan ibu kota sudah mulai kendati masih rinai. Usai menyaksikan lesunya wajah-wajah penggawa Juve, saya pun menyulut asap kehidupan ditemani segelas kopi hitam nan pahit yang cocok pada situasi saat ini.

Ya, Juve kembali tersingkir secara menyakitkan pada babak-babak awal sejak diperkuat Ronaldo. Pada 2018/19, mereka dieliminasi Ajax Amsterdam, agregat 2-3, usai imbang 1-1 di Johan Cruyff Arena dan takluk 1-2 di Turin. Musim lalu, I Bianconeri lagi-lagi kalah agresivitas tandang. Tepatnya, saat takluk 0-1 di markas Olympique Lyon dan hanya menang 2-1 di Juventus Stadium.

Wajar, jika kegagalan dalam tiga musim terakhir membuat Ronaldo jadi kambing hitam. Banyak fan, khususnya haters Juve menyindir keras CR7. Pun demikian dengan klub yang dipimpin Andrea Agnelli ini. Cap sebagai pecundang, bukan bermental juara, dan tim yang tidak punya DNA Liga Champions, hingga Badut Eropa pun tersemat kepada Juve.

"Lebih baik menunggu Milan dan Inter sebagai wakil Italia yang akan juara Liga Champions, ketimbang menantikan Juve," demikian berbagai komentar di media sosial usai I Bianconeri tersingkir.

*        *        *

"KENAPA harus Juve?" 

"Ga salah, pilih tim?"

"Ketimbang Juve, mending duo Milan."

"Bla, bla, bla..."

Demikian berbagai pertanyaan dari beberapa teman yang dilontarkan sejak era 1990-an. Tepatnya, sejak kami masih kecil hingga kini kawan seangkatan sudah punya banyak anak kecil. 

Mereka tahu, saya merupakan fan berat Juve. Tidak terlalu fanatik sih. Namun, nyaris setiap ada pertandingan besar di Serie A dan babak knock-out Liga Champions, saya selalu menyaksikan I Bianconeri. 

Baik di layar kaca secara konvensional, smartphone, hingga langsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) ketika Juve melakoni pramusim di Indonesia pada 2014. 

Bahkan, saya jadi saksi tragis kekalahan si Nyonya Besar dari Madrid pada laga pamungkas Liga Champions 2016/17 di Cardiff. 

Namun, berbagai kegagalan di final turnamen antarklub terelite Eropa itu tidak menyurutkan hasrat saya sebagai Juventini. Ya, baik saat menang atau kalah, juara, runner-up, hingga degradasi pun, saya tetap fan I Bianconeri.

Sejak 1994 saya tetap antusias menyimak berita terkait rival sekota Torino FC ini. Mulai dari tabloid Bola, tabloid GO, tabloid Hai Soccer, majalah Liga Italia, majalah Sportif, hingga harian TopSkor. 

Media yang disebut terakhir ini tempat saya bekerja pada 2012 hingga tahun lalu. Termasuk, berkesempatan secara eksklusif mewawancarai Pirlo, Claudio Marchisio, dan Giorgio Chiellini.

Bagi saya, Juve tetaplah Juve. Klub favorit dalam lebih dari seperempat abad. Kendati, dalam perjalanannya, turut berwarna. Selain kekalahan di Cardiff, momen kelam saya sebagai Juventini terkait final Liga Champions 2002/03 dan calciopoli 2006 yang berujung terjun bebas ke Serie B.

Saya pun teringat dengan komentar legendaris Del Piero yang memilih bertahan kendati harus tampil di kasta terbawah. "Un Vero Cavaliere Non Lascia Ma Una La Signora," seperti dikutip dari Corriere dello Sport dengan terjemahan bebas dalam bahasa Inggris, ''a true gentleman never leaves his lady".

Ya, Il Pinturicchio bahu-membahu dengan David Trezeguet, Pavel Nedved, Gianluigi Buffon, dan segelintir bintang yang rela mengangkat Juve dari Serie B di bawah tangan dingin Didier Deschamps.

Pada saat bersamaan, Zlatan Ibrahimovic memilih hengkang ke Inter, Fabio Cannavaro (Madrid), Lilian Thuram (Barcelona), dan banyak lagi.

Padahal, Del Piero ketika itu masih dalam periode emas. Beberapa hari sebelumnya sukses membawa tim nasional (timnas) Italia juara Piala Dunia 2006. Tawaran pun silih berganti dari raksasa Eropa, termasuk Madrid. Namun, bagi Del Piero jelas, Juve merupakan kekasihnya yang tidak akan pernah ditinggalkan.

Ya, Juve adalah Juve. Kegagalan di Liga Champions musim ini dan mungkin di Serie A akibat inkonsistensi, bisa jadi pijakan ke depan. Saya pribadi tidak berharap Ronaldo akan bertahan mengingat kontraknya tersisa setahun lagi. 

Namun, saya yakin, jika Pirlo dipertahankan, secara perlahan bakan memberi DNA Eropa kepada si Nyonya Besar dalam musim-musim selanjutnya. Setidaknya, harapan saya sebagai Juventini.

#ForzaJuve!


-



-

Artikel Sebelumnya:
Kilas Balik: Del Piero Genap 42 Tahun
40 Tahun Alessandro Del Piero

- Wawancara Eksklusif Claudio Marchisio
- Wawancara Eksklusif Andrea Pirlo
- Wawancara Eksklusif Giorgio Chiellini



*        *        *

- Jakarta, 10 Maret 2021

Sabtu, 16 November 2019

Ada Marco Simic di Balik Kebangkitan Persija


Marco Simic foto bersama dua penggemar Persija Jakarta
(Foto: TopSkor.id/Choirul Huda)



ADAGIUM lawas mengatakan, mempertahankan gelar jauh lebih sulit ketimbang saat menjuarainya. Hal itu bisa berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk, di sepak bola yang merupakan cabang olahraga paling populer di kolong langit. Salah satunya di Indonesia saat ini dengan Liga 1 2019.

Persija Jakarta yang digdaya pada musim lalu nyaris kehilangan keperkasaannya pada awal kompetisi. Bisa dipahami mengingat klub berjulukan Macan Kemayoran itu kehilangan sang nakhoda, Stefano Cugurra, dan beberapa pilar penting lainnya.


Alhasil, klub kebanggaan ibu kota ini pun nasibnya nyaris tragis. Hampir saja seperti AC Milan pada 1980/81 dan Juventus (2006/07) yang juara tapi langsung degradasi pada musim berikutnya. Kendati, apa yang dialami dua raksasa Serie A Italia itu beda konteks. 

Namun, saya pribadi sempat deg-degan mengamati perkembangan Persija pada Liga 1 2009 ini. Sebab, mereka mengarungi kompetisi dengan memprihatinkan pada awal musim. Itu karena Marko Simic dan kawan-kawan hanya mampu meraih sekali kemenangan dari 10 pertandingan awal! Alhasil, Persija pun sempat terlempar ke peringkat 17. Alias, zona degradasi.

Ya, bayang-bayang mereka harus terjun bebas ke Liga 2 musim depan pun sempat menghantui saya. Itu terkait kurang padunya antarlini. Ditambah dengan beberapa kali pergantian pelatih yang membuat saya dan segenap The Jakmania -julukan untuk suporter Persija- pun pesimistis. Ketika itu, jangankan berpikir untuk mempertahankan gelar, bahkan untuk keluar dari papan bawah pun sulit.

Yupz, sebagai fan Persija, tentu saat itu saya harus realistis. Berharap boleh, tapi jangan muluk-muluk. Harapan saya dalam hati, boleh gelar lepas, yang penting jangan degradasi. Ya, itu nada optimisme yang saya tancapkan setiap menyaksikan pertandingan Persija. 

Bagaimana pun, saya percaya, selalu ada pelangi yang indah setelah badai. Itu yang saya yakini terhadap Persija!

Bisa dipahami mengingat secara personal, saya merupakan penggemar Persija. Itu berlaku sejak masih kanak-kanak hingga rekan sepantaran kini sudah memiliki banyak anak. 

Meski hingga kini belum memiliki keanggotaan resmi The Jakmania, tapi saya kerap menyaksikan Persija bertanding di berbagai stadion. Baik itu Menteng, Lebak Bulus, Gelora Bung Karno, Patriot Candrabhaga, hingga Madya Senayan.

Banyak suka dan duka yang menyertai sebagai fan Persija. Paling bangga ketika Macan Kemayoran juara 2001. Saat itu, saya dan beberapa rekan yang masih berseragam putih-biru tumpah dalam euforia. 


Apalagi, ketika beberapa tahun berselang, ada dua di antaranya yang berkiprah sebagai pesepak bola profesional. Bahkan, mereka sempat berseragam Persija. Termasuk, memperkuat tim nasional (timnas) Indonesia usia muda.

Sementara, ketika juara Liga 1 2018, harus diakui jika suasananya sudah beda. Sebab, saya juga kerap meliput dan menulis tentang Persija. Alhasil, saya harus objektif. 


Namun, bagaimana pun rasa cinta tidak bisa dipendam. Ketika tahu Persija mengakhiri paceklik gelar 17 tahun dalam kompetisi nasional, saya pun bangga.

Maklum, dari 2001 hingga 2018 itu bukan waktu yang sedikit. Lebih dari dua windu. Dalam periode itu, banyak yang sudah berubah. Namun, kekaguman saya terhadap Persija tidak akan luntur. Baik juara atau degradasi, tak masalah bagi saya.



Nah, harapan saya dan jutaan fan Persija, termasuk The Jakmania terkabul. Sejak paruh kedua kompetisi, mereka mulai bangkit. Sang Macan mulai mengaum. Tentu, tidak ujug-ujug langsung bersaing dalam perebutan juara di papan atas. Melainkan, perlahan tapi pasti mulai meninggalkan zona merah.

Fakta tersebut tersaji sepanjang November ini. Dari empat pertandingan bulan ini, hanya sekali. Persija kehilangan poin penuh yaitu, saat tandang ke Semen Padang pada 7 November lalu yang berujung 1-1. Sementara, dalam tiga lainnya berujung sapu bersih dengan menekuk TIRA Persikabo 2-0 (3/11), Borneo FC 4-2 (11/11), dan Persela Lamongan 4-3 (15/11).

Mereka pun hingga Sabtu (16/11) menyeruak di urutan 12 dengan 34 poin dari 27 pertandingan. Alias, unggul delapan angka dari Kalteng Putra yang menempati urutan 16 sekaligus batas akhir degradasi dengan 26 poin. Dari empat pertandingan bulan ini, Persija mengukir 12 gol dengan kebobolan tujuh gol.

Marco Simic melayani pertanyaan dari jurnalis
usai pertandingan Persija
(Foto: TopSkor.id/Choirul Huda)


Simic jadi aktor protagonis dalam empat pertandingan sepanjang November ini yang selalu mencetak gol hingga delapan kali. Termasuk, quattrick-nya ke gawang Borneo. Tak heran jika Simic pun memuncaki top scorer sementara dengan 23 gol. Jauh mengungguli striker Persela, Alex dos Santos, dengan 16 gol.

Kontribusi signifikan dari Simic itu yang mendongkrak kebangkitan Persija. Tentu, dalam sepak bola yang merupakan permainan kolektif, seluruh elemen, termasuk pemain lainnya sangat berperan. Mulai dari sektor pertahanan, lini tengah, atau barisan depan. Namun, harus diakui jika peran Simic sangat berpengaruh.

Apalagi, bagi saya pribadi, Simic termasuk pemain yang sangat ramah. Ini yang saya amati saat meliput kegiatan Persija. Baik saat latihan, usai pertandingan, maupun event di luar lapangan Simic. Tidak hanya sekadar memberikan jawaban yang elegan bagi setiap jurnalis saja. Melainkan juga melayani permintaan fan untuk foto bersama.


Penampilannya yang berkualitas ditambah sikapnya yang bersahabat itu membuat Simic jadi idola di kalangan fan. Bersanding dengan sang kapten, Andritany Ardhiyasa, serta dua pemain senior, Bambang Pamungkas dan Ismed Sofyan.

Memasuki pengujung Liga 1 2019, tentu saya berharap Simic dan segenap elemen Persija lainnya konsisten. Target utama, tentu saja menjauh dari zona degradasi agar musim depan bisa bertahan di kompetisi terelite di Tanah Air ini. Apalagi, jika mampu finis empat besar. Itu jadi modal yang bagus untuk menghadapi Liga 1 2020 dengan target kembali juara.

Ayo, Persija... Kalian bisa!***

Di luar liputan pertandingan dan latihan, saya pun enggan
ketinggalan untuk foto bareng Marko Simic



- Jakarta, 16 November 2019

Jumat, 04 Oktober 2019

Claudio Marchisio dan Babak Baru Dimulai


Saya foto bersama Claudio Marchisio usai wawancara saat Juventus
mengunjungi Tanah Air pada 2014 silam
(Foto: Harian TopSkor)

DI kolong langit ini tiada yang abadi. Ada yang datang, sudah pasti (harus) ada yang pergi. Pun demikian dalam sepak bola.

Bintang baru bermunculan
. Sementara, yang tersisa seperti terengah-engah. Kendati, ada beberapa yang coba bertahan. Hanya, itu perbandingannya jomplang.

Sementara
, yang memudar justru bejibun...

Penggemar Seri A
, terutama fan Juventus, gempar pada Kamis (3/10). Itu terkait keputusan Claudio Marchisio untuk gantung sepatu. Ya, bagi saya, Anda, atau kalian yang merupakan Juventini -julukan fan Juventus- tentu tidak asing dengan pria kelahiran 19 Januari 1986 tersebut.

Marchisio jadi salah satu simbol Juventus pada dekade ini
. Bahkan, disebut sebagai penerus Alessandro Del Piero. Apalagi, mengingat Marchisio merupakan jebolan asli akademi Juventus. Di sisi lain, Del Piero direkrut dari Padova pada 1993 yang bertahan dengan I Bianconeri hingga 2012 silam.

Nah, sejak Del Piero hijrah ke Sydney FC, Marchisio secara tidak langsung didapuk sebagai penerusnya. Fan menjulukinyaIl Principino alias sang pangeran kecil. Wajar saja mengingat Marchisio berseragam Juventus sejak 2005 hingga 2018 silam.

Dalam periode itu, dia hanya sekali disekolahkan ke ke Empoli pada 2007/08. Karena satu hal, dua musim lalu, Marchisio memutuskan hengkang dari Juventus. Zenit Saint Petersburg yang berkiprah di Liga Primer Rusia jadi pelabuhan berikutnya. Sempat tampil dalam 15 pertandingan, akhirnya 1 Juli lalu, Marchisio mengakhiri kontraknya.

Saat ini, usianya baru 33 tahun. Di Italia, usia tersebut masih tergolong produktif. Apalagi, mengingat posisinya sebagai gelandang. Sebagai catatan, Del Piero (striker) masih berseragam Juventus hingga 38 tahun. Pun demikian dengan legenda hidup AS Roma, Francesco Totti yang mencapai 41 tahun.

Namun, keputusan Marchisio sudah bulat. Sebagai fan, tentu saya sangat menghormati apa pun pilihannya. Kendati, harus diakui merasa kehilangannya. Maklum, Marchisio memegang peranan penting dalam kebangkitan Juventus usai calciopoli. Termasuk, berkontribusi atas tujuh scudetti serta dua kali ke final Liga Champions.

*          *          *

APALAGI, saya memiliki kesan khusus terhadapnya. Ya, Marchisio sangat ramah saat diwawancarai ketika Juventus tur di Indonesia pada 2014 silam. 

Terlebih, pertemuan itu sangat eksklusif mengingat saya ditugaskan kantor, Harian TopSkor khusus untuk menyambut skuat Juventus. Selain dirinya, saya juga berkesempatan mewawancarai Andrea Pirlo dan Giorgio Chiellini.

Sepanjang 30 menit, Marchisio bertutur dengan lugas terkait pengalamannya bersama Juventus dan tim nasional (timnas) Italia. Sebagai catatan, Marchisio punya penyesalan akibat gagal memberikan gelar untuk Gli Azzurri. Pencapaian terbaiknya menembus final Piala Eropa 2012.

Pun demikan bersama Juventus yang harus puas jadi runner-up Liga Champions 2014
/15 dan 2016/17. Namun, apa pun itu, Marchisio sudah melakukan yang terbaik. 

Kini, tersiar kabar dia bakal masuk dalam jajaran direktur Juventus. Rumor juga berembus, Marchisio siap mengambil lisensi kepelatihan.

Apa pun itu, Marchisio siap membuka lembaran baru setelah kariernya sebagai pemain tuntas. Ciao, Il Principino!

Simak wawancara eksklusif Claudio Marchisio dengan Harian TopSkor saat Juventus tur pada 2014
https://s.id/MarchisioPanas

*          *          *
- Jakarta, 4 Oktober 2019

Jumat, 10 Mei 2019

Ada Antangin di Balik Tekad Persebaya Juara Liga 1 2019


Antangin mendukung penuh Persebaya Surabaya untuk menjuarai Liga 1 2019
lewat kerja sama yang sudah berlangsung tiga tahun


RAMADAN 1440 H sudah memasuki hari kelima. Untuk menunjang ibadah puasa, obat-obatan wajib tersedia. Termasuk, Antangin yang terbuat dari herbal pilihan dengan varian seperti JRG, Mint, Junior, dan Tablet.

Nah, Ramadan tahun ini bertepatan dengan dimulainya Liga 1 2019. Yaitu, kompetisi sepak bola terelite di Tanah Air yang diikuti 18 klub terbaik di Indonesia.

Salah satunya, Persebaya Surabaya yang siap meraih hasil terbaik di Liga 1. Dalam mengarungi ketatnya persaingan antarklub di Tanah Air, tim asal Jawa Timur itu mendapat dukungan penuh dari Antangin.

Yaitu, merek herbal kebanggaan Indonesia yang dalam 38 tahun tahun ini jadi sahabat terpercaya masyarakat dalam mencegah dan mengatasi masuk angin. Selama tiga tahun, Antangin telah mendukung Persebaya yang kali ini ditujukan untuk memenangkan Liga 1 2019.

"Antangin menyadari olahraga merupakan salah satu cara untuk menyatukan Indonesia. Di Tanah Air, sepak bola sangat digemari masyarakat," kata Chief Marketing Officer Deltomed Laboratories Febby Intan dalam jumpa pers di The Bridge Function Rooms, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (10/5).

"Melalui dukungannya kepada Persebaya, Antangin ingin menginspirasi masyarakat Indonesia. Agar terus aktif dan berolahraga secara rutin tanpa khawatir terkena gejala masuk angin."

Menurutnya, jelang Liga 1 2019, Antangin akan mendampingi Persebaya lewat jersey resmi. Selain itu, mereka juga menyediakan produk Antangin yang mengandung khasiat herbal alami untuk melindungi para pemain dari masuk angin.

Serta menjaga kesehatan para pemain agar tidak mudah sakit selama berjuang menjuarai Liga 1 2019. Sementara, dukungan Antangin kepada fan loyal Persebaya berupa peremajaan tempat berkumpul seperti Cafe Pitulikur.

Juga, penyediaan materi promosi dan official merchandise. Febby optimistis, kerja sama dengan Antangin akan membakar api semangat fan dalam memberikan dukungan kepada Persebaya.

Apalagi, demi meningkatkan partisipasi fan setiap Persebaya pada Liga 1 2019, Antangin menyediakan 20 Drop Box (tempat undian) berhadiah tiket VVIP bagi yang beruntung. Drop Box ini tersebar di Persebaya Store SUTOS, Cafe Pitulikur, OBVan Antangin di Gelora Bung Tomo, booth Antangin pada setiap pertandingan Persebaya di Liga 1, serta berbagai toko kelontong di Surabaya.

Antangin juga menyelenggarakan kuis digital selama 17 pertandingan Liga 1 berhadiah tiket SUPERFANS bagi fan Persebaya yang terpilih. Secara keseluruhan, Antangin akan membagikan 80 tiket yang terdiri dari tiket VVIP dan tiket SUPERFANS pada setiap pertandingan Persebaya dalam Liga 1 2019.

"Sebagai sesama merek kebanggaan Indonesia, Antangin dan Persebaya memiliki visi untuk menyatukan Indonesia melalui olahraga. Yaitu sepak bola," Presiden Persebaya Azrul Ananda, menambahkan.

"Kami sangat mengapresiasi dukungan Antangin selama tiga tahun terakhir. Tidak hanya bagi para pemain, tapi juga fan loyal Persebaya. Dengan dukungan Antangin, kami optimistis dapat membawa pulang gelar juara Liga 1 2019."

Pernyataan senada diungkapkan Rendi Irwan. Kapten Persebaya ini optimistis menyambut Liga 1 2019 bersama Antangin.

"Menjelang kompetisi dimulai, kami terus melakukan latihan fisik agar dapat bermain dengan baik di lapangan. Untuk menjaga kebugaran tubuh dan supaya tidak mudah jatuh sakit, kami juga rutin mengkonsumsi Antangin," gelandang 32 tahun ini membeberkan rahasia kebugarannya.

"Baik sebelum maupun sesudah latihan Antangin sangat efektif mengatasi masuk angin ketika kami lelah berlatih. Dengan dukungan Antangin dan segenap fan loyal Persebaya, kami siap berjuang di Liga 1 2019."

Faktanya, Antangin mengandung 100 persen kebaikan dan khasiat herbal alami yang baik dikonsumsi setiap hari untuk menjaga kebugaran tubuh. Antangin diproses secara modern menggunakan teknologi Quadra Extraction System .

Yaitu, teknologi yang memproses bahan-bahan herbal dengan suhu rendan dan ekstraksi tertutup. Hal ini dilakukan untuk memastikan ekstrak herbal tetap terjaga khasiatnya serta higienis dan terbebas dari kontaminasi eksternal.

"Selama 38 tahun, Antangin telah menjadi sahabat terpercaya masyarakat dalam mencegah dan mengatasi masuk angin. Antangin dapat dikonsumsi sebelum dan sesudah olahraga agar masyarakat dapat berolahraga lebih maksimal tanpa masuk angin. Apa pun itu olahraganya," Febby, menutup sesi diskusi.

Nah, saya sudah merasakan khasiatnya. Begitu juga dengan penggawa Persebaya diikuti para suporter. Bagaimana, dengan kalian?


*       *       *
Presiden Persebaya Azrul Ananda menandatangani jersey klubnya didampingi
Chief Marketing Officer Deltomed Laboratories Febby Intan

*       *       *
Kapten Persebaya Rendi Irwan memperlihatkan skillnya saat berjuggling ria

*       *       *
Selain olahraga, Antangin juga baik dikonsumsi saat puasa Ramadan ini

*       *       *
Artikel Terkait
Sponsori Gresini di Moto2 2018, Cara Antangin-Federal Oil untuk Angkat Indonesia
Wawancara Eksklusif Dahlan Iskan: Generasi Muda Harus Olahraga

*       *       *
- Jakarta, 10 Mei 2019

Rabu, 21 Februari 2018

KukuBima Ener-G! Kampanyekan Ayo Selamatkan Citarum


Direktur PT Sido Muncul, striker Persija Jakarta Marko Simic, dan pemain
serta ofisial dari lima klub ikut sesi foto bersama dalam kampanye
"Ayo, Selamatkan Citarum".
Klik untuk perbesar foto dan geser untuk melihat gambar lainnya


SIANG itu, matahari terlihat malu-malu. Langit-langit di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, tampak gelap. Saya pun bersiap mengenakan jas hujan untuk membelah ibu kota usai meliput rapat koordinasi Panitia Nasional Penyelenggara Asian Games XVIII/2018 (INASGOC) yang dipimpin Wakil Presiden Jusuf Kalla dan kementerian terkait di Wisma Serbaguna, Senayan.

Tepatnya, menuju Pondok Indah Golf Course, Jakarta Selatan, Senin (19/2) untuk reportase acara yang diselenggarakan PT Sido Muncul - KukuBima Ener-G! Terbukti, baru sampai kawasan Pakubuwono, sang dewi hujan sudah mencurahkan air dari langit.

Beruntung, dengan melewati padatnya ibu kota, akhirnya saya tiba sebelum acara dimulai. Tampak, beberapa manajemen PT Sido Muncul - Kuku Bima Energi, pesepak bola, manajer, jurnalis, dan blogger.

Ya, kehadiran saya pada event bertema "Ayo Selamatkan Citarum" ini berkat undangan dua blogger bersaudara, Eva Sri Rahayu dan Evi Sri Rejeki.

Ini kali pertama saya bertemu dengan "si kembar" itu sejak mengikuti pelatihan yang diselenggarakan Badan Nasional Penanggulangan Teroris pada 2016 lalu (artikel sebelumnya: http://www.roelly87.com/2016/07/duta-damai-dunia-maya-bnpt-2016.html).

Dari kejauhan, tampak sosok yang tidak asing bagi saya. Terutama setelah dua hari sebelumnya, saya menyaksikannya sangat semringah mengangkat trofi (artikel sebelumnya: http://www.roelly87.com/2017/03/di-balik-final-piala-presiden-2017.html).

Ya... Marko Simic! Pemain yang mengantarkan Persija Jakarta juara Piala Presiden 2018 setelah mengalahkan Bali United 3-0 pada final yang berlangsung di Stadion Gelora Bung Karno (17/2).

*         *         *
"SEBAGAI perusahaan, kami berusaha untuk berkontribusi kepada Tanah Air. Itu bisa dilakukan pada sektor apa saja, baik itu sepak bola atau lingkungan," tutur Direktur PT Sido Muncul Irwan Hidayat dalam bincang-bincang kepada kami usai acara.

Sangat menarik mendengar ceritanya. Terutama, bagaimana PT Sido Muncul sebagai perusahaan terlibat untuk menjaga lingkungan. Bahkan, mereka sangat aktif dengan mengkampanyekan penyelamatan Sungai Citarum.

Tidak tanggung-tanggung, PT Sido Muncul bakal membuat iklan Kuku Bima Energi dengan versi "Ayo Selamatkan Citarum" bersama pesepak bola terbaik di negeri ini.

Yupz, dalam acara tersebut, juga berlangsung MOU dengan kelima klub elite Indonesia, yaitu Persija, Bali United, Sriwijaya FC, PSIS Semarang, dan PSM Makassar. Sebagai penggemar sepak bola, jelas saya bangga dengan partisipasi PT Sido Muncul lewat brand Kuku Bima Energi.

"Semoga dengan kerja sama ini bisa memotivasi kelima klub itu untuk mengukir prestasi dan mengharumkan Indonesia di kancah internasional. Apalagi, sebentar lagi berlangsung Asian Games 2018 dengan Indonesia sebagai tuan rumah. Kita berharap, Indonesia bisa juara," Irwan, mengungkapkan.

Menjadi sponsor dari salah satu klub itu tidaklah mudah. Namun, PT Sido Muncul justru mensponsori lima tim sekaligus! Itu membuktikan keseriusan perusahaan yang bermarkas di Semarang, Jawa Tengah ini terhadap perkembangan sepak bola nasional.

"Sepak bola merupakan olahraga paling populer di Indonesia. Demi mendukung perkembangan dunia sepak bola di Tanah Air, PT Sido Muncul melalui Kuku Bima Energi berpartisipasi kepada lima klub. Pada Liga 1 2018 nanti, logo Kuku Bima Energi akan menghiasi jersey Persija, Bali United, Sriwijaya FC, PSIS, dan PSM," kata Irwan, optimistis.

Dalam MOU tersebut, turut hadir perwakilan dari kelima tim tersebut. Persija dengan Simic dan COO Rafil Perdana, Bali United (Demerson Costa dan CEO Yabes Tanuri), Sriwijaya (Hamka Hamzah dan sekretaris klub Faisal Mursyid), PSIS (Gilang Ginarsa dan manajer Dimas Aribowo), dan PSM (Hasim Kipuw dan sekretaris klub Widya Syadzwina).

*         *         *
MENURUTNYA, olahraga, khususnya sepak bola tidak bisa dipisahkan dengan lingkungan. Fakta itu yang mendorong PT Sido Muncul untuk aktif mengkampanyekan kelestarian alam. Apalagi, mereka didukung penuh dari Pangdam III/Siliwangi Mayor Jenderal Doni Monardo untuk sosialisasi di lapangan.

"Panjang Sungai Citarum mencapai 300 kilometer. Ironisnya, keadaan di sungai itu tercemar akibat limbah. Baik itu rumah tangga maupun industri yang membuat warna air sungai jadi cokelat kehitaman. Ini jelas sangat mengkhawatirkan," lanjut Irwan.

Pernyataan tersebut beralasan. Sungai Citarum memiliki fungsi yang sangat vital dan bermanfaat bagi masyarakat. Salah satunya, sebagai sumber air minum bagi masyarakat dalam jangka panjang.

Itu mengapa, PT Sido Muncul berinisiatif mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga Sungai Citarum. Termasuk, membuat iklan dengan menggandeng beberapa pemain yang klubnya mereka sponsori.

Yupz, PT Sido Muncul lewat Kuku Bima Energi sudah memulai misi untuk menyelamatkan Sungai Citarum. Selanjutnya, giliran kita, sebagai masyarakat ikut menjaganya!

*         *         *
Marco... Simic!

*         *         *
Narsis sejenak setelah dua hari sebelumnya menyaksikan kehebatan Simic di
final Piala Presiden 2018

*         *         *
Foto bersama Irwan dan manajemen PT Sido Muncul dengan  perwakilan
lima klub usai penandatanganan kerja sama 

*         *         *
Logo Kuku Bima Energi akan menghiasi jersey Persija Jakarta, Bali United,
Sriwijaya FC, PSIS Semarang, dan PSM Makassar sepanjang Liga 1 2018

*         *         *
Simic membubuhkan tanda tangan didampingi Irwan

*         *         *
Ayo, Selamatkan Citarum!

*         *         *
Diskusi hangat kami, blogger dengan Irwan terkait lingkungan dan sepak bola 

*         *         *
Liputan saya di Harian TopSkor edisi Selasa, 20 Februari 2018

*         *         **         *         *
*         *         **         *         *
*         *         **         *         *

*         *         **         *         *
*         *         **         *         *
*         *         **         *         *
- Jakarta, 21 Februari 2018