TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Gubernur Ahok

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label Gubernur Ahok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gubernur Ahok. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Juni 2016

Pengalaman Ngabuburit di RPTRA Krendang yang Memiliki Berbagai Fasilitas untuk Anak-anak

Pintu masuk RTRA Krendang

RAMADAN tahun ini sudah memasuki nyaris dua pertiga. Seperti biasa, setiap libur kerja, saya berkeliling ibu kota untuk mengisi waktu menjelang berbuka puasa (ngabuburit). Termasuk, yang saya lakukan Rabu (22/6) bersama adik saya yang merayakan ulang tahun.

Tadinya, ingin mengajak adik yang paling bungsu ini untuk pergi ke mal sekalian berbuka puasa di sana. Yupz, mulai tahun ini, adik saya sudah puasa full setelah ramadan lalu melakukannya setengah hari.

Maklum, usianya kini tujuh tahun, jadi di rumah kami sudah diajarkan untuk puasa hingga sore. Alhamdulillah, hingga memasuki ramadan ke-17, dia masih sanggup. Alias, belum jebol satu pun. Jadi, bertepatan hari itu saya libur kerja, jadi bisa sekalian mengajaknya berbuka puasa di luar.

Rencana awalnya di suatu mal di kawasan barat Jakarta. Namun, karena setelah dipikir, buka puasa di mal sudah terlalu sering, maka saya mencoba mencari yang anti mainstream. Kebetulan, ketika saya lewat Jalan Jembatan Besi Raya melihat keramaian di seberang kali Krendang yang dipenuhi banyak anak-anak.

Dari kejauhan banyak aneka permainan dengan di dekatnya ada beberapa penjaja makanan dan minuman untuk berbuka. Langsung saja saya tanya ke adik saya apakah dia mau main ke taman tersebut. Ternyata, adik saya yang Juli nanti memasuki kelas satu SD itu menyambutnya dengan antusias.

Saat memarkirkan sepeda motor saya di pintu masuk, terdapat plang berwarna merah bertuliskan RPTRA Krendang. Jujur saja, saya kurang tahu akronim dari RPTRA hingga akhirnya saya melihat di prasasti berwarna hitam yang terdapat di aula. Yupz, ternyata RPTRA itu singkatan dari Ruang Publik Terpadu Ramah Anak.

Dalam prasasti tersebut dituliskan, RPTRA Krendang ini diresmikan Gubernur Basuki Tjahaya Purnama pada 3 Februari lalu. Sebagai warga Jakarta Barat yang lokasinya tidak jauh dari taman tersebut, tentu saya bangga. Ini membuktikan, pria yang akrab disapa Ahok itu memang peduli terhadap warganya.

Apalagi, RPTRA Krendang ini lokasinya strategis. Karena diapit dua stasiun yang melayani jasa Commuter Line, yaitu Stasiun Duri dan Stasiun Angke. Sekitar satu kilometer dari arah Jembatan Besi, terdapat Jalan Prof. Dr. Latumenten yang merupakan jalur utama di ibu kota dengan mengarah ke selatan meuju Semanggi dan Pluit (utara).

Menurut  www.jakarta.go.id, RPTRA Krendang memiliki luas 2.962 meter persegi. Dalam artikel berbeda di situs resmi Provinsi DKI Jakarta itu, ternyata pembangunannya menggandeng 19 perusahaan nasional. Salah satunya di RPTRA Krendang ini dengan dukungan Blibli.com yang merupakan anak grup dari Djarum dan BCA dengan logonya tersebar di berbagai papan nama di sekitar RPTRA Krendang.

Dengan dukungan pihak sponsor itu tak heran jika taman ini jadi tujuan masyarakat untuk berekreasi bersama keluarganya. Baik warga sekitar atau yang datang dari jauh untuk sekedar singgah. Maklum, di RPTRA ini terdapat berbagai fasilitas menarik bagi anak-anak dan keluarga. Mulai dari permainan anak yang mengedukasi, taman labirin, tanaman obat, kolam gizi, arena fitnes outdoor, hingga lapangan futsal dan basket untuk berolahraga.

Selain itu, yang tak kalah penting, ada toilet yang bersih untuk umum dan difabel, musala, gedung serbaguna atau aula yang saat itu digunakan pelajar untuk berlatih karate, ruang menyusui, dan PKK Mart yang menjual berbagai sembilan bahan pokok (Sembako).

"Syukur deh mas, sejak ada ini (RPTRA Krendang), jadi anak-anak punya tempat untuk bermain. Terlebih, aksesnya tertutup jadi kami tidak khawatir saat ada kereta lewat. Kalau dulu kan taman ini sempat terbengkalai dan malamnya suka dibuat yang aneh-aneh," kata salah satu warga sekitar yang membawa dua anaknya saat berbincang dengan saya.

Saat melirik arloji di tangan saya sudah menunjukkan pukul 17.30 WIB. Itu berarti, sekitar 20 menit lagi menjelang waktu berbuka. Sambil mengawasi adik saya dari kejauhan yang sedang bermain dampu, saya pun menuju arah seberang untuk membeli takjil berupa es kelapa muda dan kolak biji salak.

Setelah itu, saya mengajak sang adik yang terlihat puas mencoba berbagai permainan di RPTRA Krendang selama hampir dua jam. Selanjutnya, kami pun kembali menuju rumah untuk bersiap buka puasa bersama sekaligus merayakan hari ulang tahun adik saya yang ketujuh yang bertepatan dengan HUT kota tercinta yang ke-489.

*       *       *
Salah satu warga melakukan refleksi kesehatan dengan menginjak batu

*       *       *
Salah satu wahana permainan anak

*       *       *
Ibu-ibu menyuapi anaknya

*       *       *
Adik saya bermain dampu

*       *       *
Adu balap kelincahan menjelang berbuka...

*       *       *
Blibli.com salah satu perusahaan yang mendukung pembangunan RPTRA Krendang

*       *       *
Taman Gizi

*       *       *
Ini toh, daun Miana yang saya baru tahu setelah datang ke RPTRA Krendang

*       *       *
Kolam gizi

*       *       *
Musala dan toilet

*       *       *
PKK Mart

*       *       *
Prasasti yang diresmikan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama

*       *       *
Aula serba guna dipakai anak kecil untuk menunggu berbuka puasa

*       *       *
Pelajar melakukan latihan karate

*       *       *
Awas jatuh...

*       *       *
Bermain futsal di lapangan yang tanpa khawatir bayar 

*       *       *
Taman Labirin

*       *       *
Siapa cepat yang keluar dari Taman Labirin dia yang menang

*       *       *
Dua orangtua mengawasi anak-anaknya yang asyik bermain ayunan

*       *       *
Ekspresi riang anak-anak yang main ayunan di RPTRA Krendang

*       *       *
Deretan pot bunga yang mempercantik sepanjang jalan

*       *       *
Akses masuk kedua lewat jembatan penyebrangan di Jalan Krendang

*       *       *
RPTRA Krendang dengan lanskap rel Kereta Api menuju Stasiun Duri

*       *       *

*       *       *
Artikel terkait Ramadan:

2015
- Jika Ini Ramadan Terakhir
- Tujuh Permainan Tradisional yang Asyik untuk Ngabuburit
- Tujuh Perlengkapan Mudik yang Harus Dibawa dengan Sepeda Motor
- 20 Tahun Tipe-X Meriahkan Jackloth Lebaran 2015
- Merajut Kebersamaan dalam Bukber BRId dan Ketupat Indosat
- Mencari Hilal: Tontonan Sekaligus Jadi Tuntunan Film Berkelas
- Mengunjungi Masjid Hidayatullah yang Bersejarah dan Dikeliling Gedung Bertingkat
- Horor di Jembatan Penyebarangan Kalideres

2014
- Buka Bersama ICI: Dari, Oleh, dan untuk Interisti

2013
- Medesu

2012

2011
- Usai Lebaran: Hati-hati Terhadap Jerat Rayuan Rentenir

*       *       *
- Jakarta, 25 Juni 2016

Kamis, 24 Maret 2016

(Esai Foto) Cerita di Balik Peringatan Hari Air Sedunia




DELAPAN dari 10 orang yang saya tanya, baik tatap langsung maupun online, tidak (kurang, tepatnya) mengetahui jika Selasa, 22 Maret, diperingati sebagai Hari Air Sedunia. Miris memang, mengingat air sangat penting bagi kehidupan manusia. Namun, faktanya seperti itu karena kurangnya sosialisasi pemerintah kepada masyarakat luas mengenai Hari Air Sedunia dan segenap elemen lainnya.

"Emang penting ya, sampe aer diperingati setiap tahun?"
"Lha, kami aja kalo masuk Maret khawatir banjir. Boro-boro peringatin hari aer segala."
"Bro, gue tahunya 22 Maret itu ultah BCL (Bunga Citra Lestari)."
"Oh, hari air sedunia ya. Bagus deh. Yang gue liat dari pagi malah demo taksi."

*        *        *

Ruang Balai Agung, Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (22/3), dipenuhi ratusan manusia. Saya yang datang menggunakan sepeda motor harus melewati ribuan pendemo yang memenuhi Jalan Merdeka Selatan. Ya, sejak pagi, aparat keamanan seperti satpol pp, kepolisian, dan TNI, bersiaga di depan kantor Gubernur Jakarta.

*        *        *

Kehadiran saya di markas DKI 1 itu untuk mengikuti Diskusi Hari Air Sedunia 2016 yang diselenggarakan Tempo Media Group. Sambil menikmati manisnya secangkir kopi hitam menjelang acara dimulai pukul 09.00 WIB, saya sedikit menyayangkan. 

Sebab, acara bertema "Menghadapi Tantangan Krisis Air Perkotaan" itu seperti hanya khusus untuk dua kelompok. Mahasiswa dan undangan seperti pejabat, perwakilan pemerintah kota DKI, dan instansi terkait.

Sementara, untuk blogger, nyaris tidak ada -bukan berarti nihil. Ini sangat disayangkan mengingat di Tanah Air ini tidak kekurangan blogger yang konsisten menulis tentang air dan juga lingkungan hidup. Apalagi, Tempo memiliki Indonesiana yang merupakan wadah blog publik.

*        *        *

Saya melirik jam di telepon seluler (ponsel) sudah menunjukkan pukul 11.25 WIB. Namun, belum ada tanda-tanda acara yang disebut Ngobrol Tempo -serupa dengan Kompasiana Modis- ini dimulai. Beruntung, di depan layar terdapat beberapa tayangan menarik dari publik figur. 

Ada Najwa Shihab, Dian Sastrowardoyo, Leila S. Chudori, Joko Anwar, hingga Aburizal Bakrie. Bagi saya, yang menarik justru mendengar komentar Ketua Umum Golkar itu saat memberi sambutan HUT ke-45 Tempo, "Semoga Tempo nanti ke depan akan makin baik, lebih baik, bagi negara (dan) bangsa. Kalau berita jangan dipelintir-pelintir. Nanti orang ga ada yang mau baca Tempo gitu. Tempo-tempo baik, Tempo-tempo tidak."

*        *        *

Setelah molor 30 menit lebih, akhirnya acara siap dimulai. Ternyata keterlambatan itu akibat Gubernur DKI Basuki Tjahaya Purnama, harus mengikuti rapat sebelumnya. Mungkin, terkait demo yang hari itu merebak di kalangan pelaku transportasi umum.

*        *        *

Keberadaan pria yang akrab disapa dengan Ahok itu tergolong singkat. Tidak sampai 20 menit di atas panggung saat memberi sambutan. Namun, justru sosok 49 tahun ini merupakan magnet utama. Terlebih, Basuki, seperti biasa dengan gaya ceplas-ceplosnya mengomentari krisis air di ibu kota.

"Saya gini-gini lulusan Geologi. Saya ngerti soal ini. Ga jelek-jelek amat nilai sekolah dapat B. Ada yang A beberapa. Jadi, ga terlalu bodoh saya, pintar juga nggak. Kalo pintar saya ntar jadi dosen," kata Basuki yang disambut riuh dari ratusan peserta Ngobrol Tempo seperti saya rekam lewat video berdurasi 4.50 menit di laman youtube (https://youtu.be/w6lyF4X9sWg).

*        *        *

"Eh jangan dorong-dorongan dong. Sempit tahu."
"Maaf mbak, kalo mau lega di jalan sana sekalian ikut demo."
"Pak Ahok, senyum dong kita mau selfie nih."
"Gue upload ke twitter, hashtag-nya #NgobrolTEMPO sama #HariAirDunia atau #HariAirSedunia?"
"Ternyata pak Basuki orangnya ramah ya. Kok kita kalo lihat di tv, kesannya marah-marah terus. Salah tv apa salah pak Bas?"
"Salah gue. Salah temen-temen gue. Mungkin, ini semua salah Rangga yang ninggalin Cinta."

*        *        *

Setelah Basuki memberikan sambutan mengenai "Kelangkaan air yang terjadi di DKI dan pentingnya usaha untuk menanggulangi masalah krisis air yang dialami," acara berlanjut. Sesi ini menampilkan empat pembicara yang kompeten di bidangnya dengan dipandu Bagja Hidayat selaku Redaktur Utama Tempo Media Group, seperti yang saya catat dan rekam sepanjang acara:

- Teguh Hendarwan selaku Kepala Dinas Tata Air DKI menjabarkan tentang, "Ketersediaan dan pengelolaan air di Jakarta.
- Erlan Hidayat (Direktur Utama PAM Jaya): Pemenuhan kebutuhan air Jakarta.
- Barce Simamarta (Direktur Technical Services PALYJA): Pemanfaatan air sungai untuk penyediaan air bersih Jakarta.
- Firdaus Ali (Pendidik, Peneliti, dan Praktisi bidang Bioteknologi Lingkungan sekaligus staf khusus Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat): Water Cycle dan keberlanjutan ketersediaan air baku di Jakarta.

*        *        *

Diskusi tanpa solusi bagi saya itu omong kosong. Saya kerap jemu menghadiri acara yang hanya diskusi sepanjang waktu dengan argumen masing-masing tapi tanpa adanya solusi. Saya harap itu tidak terjadi pada Ngobrol Tempo yang harusnya ada implementasi lebih lanjut. Terutama karena Basuki juga mengakui jika saat ini baru 60 persen warga Jakarta yang mendapat akses air bersih melalui air perpipaan.

Poin positif yang saya catat dari Basuki saat menegaskan dirinya memang sebagai pemimpin yang melayani, melindungi, dan mengayomi rakyatnya serta bukan sekadar bos yang kerjanya hanya memerintah bawahan, "Saya kira itu, silakan bapak dan ibu diskusi saja. Saya ga ada di tempat. Kalau ada saya nanti (kalian) ga enak kan. Nanti hasilnya tinggal perintah saya. Mau apa yang dikerjain. Yang penting bapak-ibu kompak, nanti saya kasih Dirut PAM. Tinggal minta dia beresin mau minta berapa triliun? Empat-lima (triliun) gue kasih. Jadi, ga ada alasan uang di Jakarta. Tinggal, alasan Anda mau atau tidak. Punya ide atau tidak untuk langsung dikerjakan." 

*        *        *


Nyaris dua jam diskusi berlangsung dengan interaktif. Salah satu yang menarik ketika mendengar pemaparan dari Brace mengenai pemanfaatan air kanal banjir barat yang bisa menghasilkan 500 liter/detik dengan menerapkan teknologi pengolahan biologis. Pasalnya, dengan teknologi yang kini tengah diselesaikan instansinya, kelak warga Jakarta bisa mendapatkan air bersih yang memenuhi standar kualitas dari Kementerian Kesehatan.

Sebelumnya, saya sempat kaget ketika mendapati kenyataan sekitar 40 persen warga ibu kota belum mendapat akses air bersih. Alhasil, mayoritas masih mengkonsumsi air tanah yang kita ketahui berdampak buruk bagi kesehatan. Ooh... Ini jadi catatan yang menohok pada peringatan Hari Air Sedunia.

*        *        *

Setelah acara selesai lewat pukul 13.00 WIB, saya pun memanfaatkannya dengan berkeliling sejenak di sekitar Balaikota. Ternyata, saya baru tahu kalau Kompleks Kantor Gubernur DKI itu dibuka untuk umum setiap Sabtu. Itu setelah saya mendapat informasi dari salah satu petugas keamanan, "Iya mas dibuka buat umum setiap akhir pekan. Gratis dan masyarakat bisa menjelajah ke setiap ruangan untuk melihat tempat kerja pak Ahok."

*        *        *

Di sudut Balai Agung, terdapat beberapa foto mengenai kinerja Pemerintah Kota DKI. Salah satu yang menarik tentang penertiban bangunan kawasan kalijodo. Lokasi yang terletak di sisi timur Banjir Kanal Barat ini ternyata berkolerasi dengan peringatan Hari Air Sedunia.

*        *        *

Ketika melangkah menuju tempat parkir, tampak beberapa personil TNI sedang beristirahat. Ada yang makan, salat, dan tidur, seusai bertugas menjaga aksi demonstrasi di depan Balaikota. Di sepanjang Jalan Merdeka Selatan, berserakan sampah, daun, dan ranting pohon serta bunga yang berguguran karena terinjak pendemo. Terlihat beberapa petugas harian lepas berusia paruh baya tengah menyapu sampah tersebut yang esoknya saya baru tahu beliau dapat apresiasi dari Basuki.

Di sisi lain, saya merasa ada yang aneh dengan hari itu. Sebab, ibu kota tampak langgeng, khususnya ruas utama di sepanjang Jalan Sudirman. Selepas kawasan SCBD menuju Patung Pemuda Membangun, aparat keamanan menutup satu jalur karena saat itu sedang dipakai demo. Ya, bagaimanapun, Hari Air Sedunia hanya diperingati setiap tahun. Sementara, kebutuhan hidup berlangsung setiap hari.

*        *        *         *        *        *


*        *        *         *        *        *

Artikel selanjutnya:
- (Esai Foto) Sepenggal Kisah pada Hari Air Sedunia
- Menelusuri Jejak RI 1 (dan calon) dari Kantor DKI 1

Artikel Terkait:
- Sosok Pemungut Sampah yang Terlupakan
- Tenggelamnya Tiang Gawang Kami
- (Esai Foto) Anugerah Jurnalistik Aqua: Antara Kritik dan Apresiasi
- Anomali Ahok: Pahlawan atau Pengkhianat?
- Sisi Lain Krishna Murti: Catatan Polisi di Mata Blogger
- Pelabuhan Sunda Kelapa: Banyak Sampah dan Airnya Tercemar Limbah
- Perlunya Peraturan Tegas Pemerintah dalam Menangani Banjir
- "Jakarta Banget": Mengupas Sisi Lain Kehidupan Jakarta 
- Ketika Sepak Bola Tinggal Kenangan
- Menyaksikan Keindahan Pelabuhan Sunda Kelapa yang Termahsyur
- Waspadai Pohon Tumbang Mengancam Kendaraan Kita
- Sisi Lain Banjir Ibu Kota

*        *        *
- Jakarta, 24 Maret 2016