TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Sebuah Kisah Klasik yang Tak Berujung

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol

Rabu, 30 Juni 2021

Sebuah Kisah Klasik yang Tak Berujung


KHUSUS DEWASA! (Usia, Pikiran, dan Pemahaman)



Catatan Harian Ojol IV:

Sebuah Kisah Klasik yang Tak Berujung

Ilustrasi Tugu Selamat Datang
(Foto: @roelly87)


HANYA lebaran yang mampu mengatasi kemacetan di ibu kota. Demikian, celotehan di berbagai media sosial bernada sarkas yang selalu muncul setiap tahun. Tidak peduli siapa pun gubernurnya atau apa kebijakannya, mudik jadi momentum yang membuat mayoritas jalan di Jakarta jadi lenggang.

Termasuk, saat ini pada H+2 Idul Fitri. Sejak Kebagusan, Jakarta Selatan, hingga memasuki Sudirman, tampak suasana sangat sepi. 

Padahal, masih tergolong sore, tepatnya pukul 22.00 WIB. Namun, sepanjang jalan yang gw lewati hanya berpapasan satu atau dua kendaraan.

Itu yang gw rasakan usai menemani Dewi yang berlebaran ke keluarga, kerabat, dan teman-temannya sejak pagi. Alhasil, gw pun ogah untuk ngojol setelah mengantarkannya ke kostan di Tanjung Duren.

Sempat gw lihat di aplikasi, merah semua. Alias, orderan melimpah untuk food dan penumpang. Hanya, gw ga antusias mengingat badan pegal-pegal akibat seharian keliling dengan Dewi di motor.

Pengen banget, sampe rumah selonjoran dan tidur. Besok siang, baru ngojol lagi. 

Pun demikian dengan ajakan Irawan yang ingin berlebaran ke rumah gw bersama Setyawati, istri dan anaknya. Gw chat di WA bahwa gw baru balik dari Selatan.

Gw memang lumayan dekat dengan pasangan muda tersebut. Sempat jadi rival saat berseragam putih abu-abu, Irawan kini jadi salah satu sohib gw.

Demikian dengan Setya yang dulu satu angkatan. Bahkan, sama-sama di kelas satu dan dua. Saat kelas tiga, baru beda. Gw masuk IPS dan Setya IPA.

Secara tidak langsung, gw juga yang menjodohkan mereka. Anjir, udah kayak mak comblang.

Berawal dari pertemuan di puncak Mahameru, dua windu silam. Gw bareng teman-teman kerja mengisi liburan. 

Sementara, Irawan bersama anak-anak kampusnya di bilangan Grogol. Setya? Memang sejak SMA dikenal pencinta alam yang pas masuk UI jadi anggota Mapala.

Karena sudah setahun ga ketemu sejak lulus 2004, gw pun barengan dengan Setyawati. Sebelumnya, saat sekolah memang lumayan akrab. 

Setya salah satu gadis pujaan. Cantik, pintar, dan ramah. Meski, gw sama sekali ga tertarik dengannya. Kecuali saat nyontek untuk mengerjakan PR atau ujian caturwulan. 

Maklum, status sebagai salah satu SMA elite di jantung ibu kota membuat sekolah gw dihuni banyak bidadari. Termasuk, jadian dengan Btari Dremi, salah satu sohib Setya.

Di puncak tertinggi Jawa itu, gw ga tahu kalo Irawan ternyata sangat memperhatikan Setya. Itu diketahui enam tahun berselang saat gw ada event dengannya.

Ternyata, Irawan masih kepo dengan Setya. Sampai mancing-mancing dengan nanya secara langsung hubungan gw dengan Setya.

Tentu, gw jawab sebatas teman. Ga lebih.

Bahkan, gw beritahu bahwa Setya dalam posisi jomblo usai baru putus dengan teman kuliahnya. Itu yang membuat Irawan kian bersemangat untuk meminta pin.

Gw yang seumur-umur ga pake bb akhirnya hanya memberi nomor ponsel Setya. Sambil gw kasih pencerahan, cara menangkap ular itu dengan memegang kepalanya, bukan badan atau ekor.

Alias, Irawan wajib bisa menaklukkan hati orangtua Setya. Maklum, bokapnya Setya yang masih keturunan Yaman merupakan diplomat. Sedangkan nyokapnya Sunda tulen, asal Sukabumi.

Sepengetahuan gw, setiap cowo yang ingin mendekati Setya harus khatam Al Quran. Alias, wajib bisa ngaji. Syukur-syukur jebolan pesantren. Itu aturan tak tertulis di keluarga Setya sejak SMA.

Lah, Irawan meski asli Betawi, Condet, boro-boro bisa khatam. Ngaji di juz ama aja masih belepotan. Ya, 11-12 dengan gw sih. Bedanya, gw bisa baca Quran meski sekadar baru bisa baca. Alias, jika menghafal di luar kepala hingga 30 juz, jelas gw nyerah.

Yang menarik, setelah setahun berjuang mati-matian mendekati orangtua Setya dan belajar ngaji, akhirnya Irawan berhasil. Mereka jadian tiga tahun dengan mengucap janji jelang final Piala Dunia 2014.

*        *        *

Mimpi pun aku tak ingin jauh darimu

Apa lagi kalau sampai berpisah

Selama-lamanya ku ingin dekat denganmu

Aku ingin miliki dirimu


Anjir... Malem begini ada pengamen yang bawain lagu jadul!

Gw ingat, ini tembang khas Desy Ratnasari yang timeless meski populer pada 1990-an. Ga nyangka juga, pengamen wanita remaja ini mampu membawakannya secara epik.

Sekaligus, mengingatkan gw pada pertemuan barusan dengan Dewi yang sampe seharian. Karena lagunya relate dengan situasi terkini, tanpa ragu gw merogoh selembar 10 ribu kepada pengamen di lampu merah Grogol ini.

Di perjalanan, lirik yang populer pada dekade 1990-an itu seperti nyemen di kepala gw. Kebetulan, jalanan agak lenggang karena masih suasana lebaran. Jadi, gw ga mokal saat bersenandung dari atas matic.

"Tolong... Tolong..."

Sayup-sayup terdengar teriakan di belakang gw saat melewati jalan yang menghubungkan ibu kota dengan Tangerang. Tepatnya, di pinggir sungai yang berjarak sekitar belasan meter.

Feeling gw langsung ga enak. Namun, sebagai orang yang setiap hari berada di jalan membuat gw merasa harus balik mengikuti suara tersebut. Gw pun putar arah untuk menuju suara yang terdengar teriakan itu. 

Tak lupa, sambil meningkatkan kewaspadaan. Terutama, menyimak spion di kanan dan kiri untuk mengantisipasi hal tak terduga dari arah belakang. Ini gw belajar dari pengalanan Irawan yang telah bertemu dengan begal berjumlah tiga orang.

"Bang, tolongin gw. Ayo bang, berangkat," ujar wanita yang gw taksir usianya sekitar 20an ini. Dari belakangnya tampak dua pria muda. Ya, mungkin abg sedang mengejar.

"Ada apa ini kak?" tanya gw kepada wanita yang tiba-tiba sudah berada di jok. 

"Ayo bang, pergi. Gw dikejar dua bangsat itu."

"Woi, jangan kabur lo!" ujar salah satu remaja berkaos putih sambil menenteng sandal jepit.

"Lo udah gw bayar. Kontan. Jadi, jangan seenaknya cabut," sambar yang di sebelahnya yang mengenakan flanel warna merah.

"Ga mau, anjing! Emang lo pikir, gw cewek apaan," sahut si cewek yang kini sudah turun dengan jarinya menunjuk ke arah kaos putih.

Nyaris aja gw tinggal karena gw pikir cewek ini sedang berantem dengan pacar atau suami dari salah satu cowo yang mengejarnya. Jujur, gw ogah ngurusin soal pribadi. Jadi, biar mereka sendiri yang menyelesaikan urusannya.

Namun, sepertinya tangan berat untuk menarik tuas gas. Yupz, ternyata...

"Eh lonte. Lo udah gw kasih serebu. Itu lebih tinggi dari tarif yang lo pasang di aplikasi, 300 ST," teriak si putih.

"Kan perjanjiannya sendiri. Lo kenapa ngajak dua orang lagi!" sahut si cewek.

"Serebu buat bertiga itu udah ketinggian. Masih mending lo ada yang mesen. Coba lo kerja jadi karyawan, sebulan paling cuma dapat tiga rebuan atau UMR," si merah menimpali.

Mendengar percakapan ketiganya membuat gw sedikit paham. Ternyata, ga jauh-jauh dari soal BO. Sebagai ojol, khususnya kalong, gw ga asing dengan beginian. Sebab, hampir tiap hari mengantar penumpang ke hotel, baik cwk atau cwk.

"Bang, yuk cabut. Tolong anterin gw ke kostan. Bisa gila gw ngadepin kedua bocah ini," kata si cewek.

"Eh tunggu dulu. Lo anggap gw patung apa?" bentak si putih.

"Iye lonte. Lanjutin dulu yang tadi. Tanggung nih. Si Burisrawa juga nungguin di kamar. Abis itu, lo boleh cabut. Ngejablay lagi kek, bodo amat. Yang penting, lanjutin. Pan gw udah patungan mahal," si merah, menambahkan.

"Najis gw. Seumur-umur, baru kali ini digangbang bertiga," tukas si cewek sambil kembali duduk di jok belakang.

"Udah bang, jangan dengerin dua dajal ini. Masih bocah udah lelaguan."

Hanya, ketika gw mau gas, si putih segera mengadang. Bahkan, si merah langsung melayangkan bogem mentah ke arah muka gw.

Refleks gw menunduk.

Dukkk!

Demikian bunyi benturan helm gw dengan kepalan si merah. 

"Anjing lo!" umpatnya.

Langsung, gw buka tali helm untuk mengarahkan ke mukanya. 

Bletak!

Tampak, dari sela-sela hidungnya keluar kecap. Helm ojol memang lumayan kokoh. Pas banget kalo bentrok dengan muka. 

Makan situ! Lo yang mulai. 

Gw pun turun dari motor dengan standar kiri. Tak lupa, kunci gw cabut untuk jaga-jaga jika si putih niat ngebegal atau bahkan si cewek bawa kabur. 

Ya, selalu ada kemungkinan buruk. Termasuk, jika si cewek ternyata bagian dari dua remaja itu. Konspirasi.

Gw genggam kerah si merah yang kian panik akibat tangannya memegangi hidung. Tanpa ampun, gw tarik rambutnya untuk dipertemukan dengan lutut gw. Sebagai finishing, gw layangkan tangan gw ke arah dagunya seperti Ryu dengan Hadouken dalam Street Fighter.

Si merah pun tumbang. Untung perasaan gw lagi bagus berkat seharian jalan dengan Dewi. Andai suasana hati gw lagi jelek, pasti si merah gw jadiin pelampiasan!

"Bang, lo apain temen gw?" kata si putih menghampiri.

"Temen lo yang mulai. Nyerang gw duluan. Ya, gw bales."

"Tapi, lo ga tahu masalahnya. Ujug-ujug langsung mukul."

"Lah, gw daritadi diem aje. Emang gw ikut campur urusan lo pada sama nih cewek? Nggak kan!"

"Ya udah, lo jangan ikut campur bang. Gw mau bawa si Dresna ke hotel lagi."

"Tadinya gw ga mau ikut campur. Tapi, kalo udah gini, terpaksa gw turun tangan. Lagian, lo ga malu apa, bertiga ngeroyok cewe?" 

"Kan gw udah bayar dia bang. Lo tanya aja sama si Dresna. Masa, gw bohong," tutur si putih sambil memapah temannya.

"Eh goblok. Biar kata dia jablay, lo ga pantes memperlakukannya seenak jidat lo. Gila kali ya, tiga lawan satu. Lo ga mikir dia trauma digarap rame-rame."

"Resiko itu bang. Namanya juga lonte. Kalo ga mau dapat duit banyak secara singkat, ya si Dresna jangan ngejablay."

"Eh anjing, kan perjanjian cuma lo doang sendiri. Ga tahunya di kamar udah nunggu dua temen lo yang maksa," si cewek yang ternyata bernama Dresna ini memotong.

"Gila kali ya kalo ada cewek yang mau digangbang kalian bertiga. Emang, ini ***** negara! Biar jablay, gw punya harga diri."

Gw pun coba nenangin Dresna yang terisak. Apa pun profesinya, sebagai sesama manusia, gw sangat simpati. Terlebih, sikap dua bocah ini bener-bener kelewatan.

"Ya udah, cukup di sini ya. Masalah selesai. Lo bawa temen lo, gw tolongin ini cewek. Tapi, kalo lo ga terima, gw punya banyak waktu buat ngeladenin lo," ujar gw sambil menatap si putih.

Dia hanya berbalik sambil memapah si merah. "Dasar lonte. Rugi gw udah bayar mahal."

Terdengar lirih sumpah serapahnya. Namun, gw ga ambil pusing. Yang penting, gw udah berusaha nyelametin si cewek. Minimal, menganternya ke tempat rame agar tidak dikejar dua bocah lagi.

"Bang, sorry ya udah ngerepotin lo. Kenalin, gw Dresnala Maharani," ujar si cewek sambil mengulurkan tangan.

"Ekalaya."

"Bang, tolong anter ke kostan Suryaloka, di Setiabudi, ya. Ntar gw bayar lebih. Tapi, ga apa-apa ya kalo ga pake aplikasi."

"Siap kak. Helm mohon dikunci dan jangan main hape ya. Rawan jambret jam segini."

"..."

*        *        *

HINGGA tigaperempat perjalanan, tidak ada pembicaraan di antara kami. Dresna bergeming di jok belakang. 

Ada jarak belasan senti yang memisahkannya dengan gw. Pun demikian dengan gw yang fokus mengendarai motor. 

Gw enggan nanya ini-itu kepada Dresna yang mungkin sedang tertekan batinnya. Apalagi, gw juga cukup lelah akibat seharian keliling bersama Dewi untuk berlebaran menemui keluarga dan teman-temannya.

Hik... Hik... Hik...

Sayup-sayup terdengar suara tangisan yang sepertinya tertahan. Nyaris saja gw jantungan karena mengira itu suara miss kunti. 

Maklum, meski ga punya kelebihan terkait indra keenam, tapi gw sempat memiliki pengalaman mistis. Termasuk, saat ngojol dalam dua tahun ini. 

Salah satunya, di SPBU yang berlokasi di perbatasan. Bahkan, insiden ini tidak hanya menemui gw, melainkan juga tiga rekan sesama ojol di basecamp.

Beruntung, gw sadar bahwa suara tangisan itu dari penumpang di belakang. Refleks, gw melirik ke spion kiri, tampak Dresna sedang mengusap wajahnya sambil sesenggukan.

"Kenapa kak?"

"..."

"Mau ke warung dulu cari tisu atau air mineral buat cuci muka?"

"Ga apa-apa bang. Gw cuma kelilipan."

"Ok... Gw kirain lo nangis kenapa..."

Ketika melewati Tugu Selamat Datang, gw merasa ada tangan yang memeluk pinggang dengan erat. 100 persen gw yakin ini tangan Dresna. Alias, bukan ghaib! Maklum, suasana di bundaran air mancur berada tepat di jantung ibu kota. Jadi, suasananya asli dibanding saat gw singgah di SPBU.

"Bang, pelan-pelan ya."

"Iya kak. Pan daritadi juga kita jalannya pelan. Maklum, Jakarta masih kosong, banyak yang belum balik dari mudik."

"Bang, boleh nyari warung dulu? Gw mau makan bentar ya."

"Nasi atau apa?"

"Bubur kacang ijo aja bang. Atau yang kuah panas buat ngangetin badan."

"Okok. Di depan kayaknya ada warung burjo. Ntar gw berenti di sana."

"Lo temenin gw makan ya bang. Ntar gw bayarin. Ongkos beda lagi."

"Aman kak. Gw udah kenyang."

"Nasi mau?

"Udah kakak. Gw masih kenyang"

"Kopi ya?"

"Boleh, kebetulan kopi gw bawa dari siang udah abis," jawab gw yang teringat pada termos mini berlogo Asian Para Games 2018 yang merupakan pemberian saat ikut suatu acara.

Kebetulan gw selalu bawa termos mini ini. Sebelom berangkat ngojol, biasanya gw isi kopi hitam segelas di kostan. Ya, termos mini ini lumayan bisa tahan panas beberapa jam. Kalo kopinya habis, biasanya gw beli lagi di Starling yang segelas sangat murah, cuma tigarebu.

*        *        *

"BANG, lo ga jijik bareng gw? Maksudnya, nemenin gw ngemil ini," ujar Dresnala membuka percakapan.

Sontak, omongannya membuat gw bingung. 

"Emang kenape?"

"Kaga. Pan lo tahu soal gw. Apalagi, tadi tuh bocah udah bongkar jati diri gw sebagai..."

"Lo bukan pendosa," potong gw sebelum Dresna menyelesaikan omongannya. "Gw juga bukan orang suci. Bahkan, bisa jadi gw lebih kotor daripada lo. Jadi, ga usah bahas yang aneh-aneh..."

"Justru itu bang. Aneh aja gw dengan sikap lo yang biasa aja liat gw. Padahal, kalo orang tahu gw merupakan jablay, pandangannya langsung berubah. Apalagi, kalo yang mata keranjang. Tatapannya langsung ngarah ke toket gw yang emang lumayan gede dan langsung nawar untuk ngajak ngamar."

Usai menyendok bubur kacang ijo yang masih panas, Dresna melanjutkan, "Apa jangan-jangan lo ga normal bang? Secara, gw liat lo tadi sama sekali ga lirik gw. Bahkan, saat gw peluk di motor pun, lo dingin-dingin aja."

"Njir... Lo kira gw cowo apaan!" jawab gw tersenyum.

Dresnala pun tergelak, "Nah... Gitu dong, senyum. Gw perhatiin daritadi lo serius amat bawaannya. Bahkan, kayak ga ngeh dengan keberadaan gw. Gini-gini gw cewek lo."

"Lah, terus gw harus ngapain? Ngajak lo ngamar?"

"Ha ha ha. Maunya itu mah."

"Bercanda ya. Lagian gw ga ada duit. Ini aja gw belom narik udah dua hari."

"Iye, bang. Selow."

Sambil meletakkan sendok di pinggir mangkok, Dresnala melanjutkan.

"Sekali lagi, gw minta maaf ya. Udah ngerepotin lo sama dua bocah dan  nganterin."

"Aman. Kan gw juga ojol. Kebetulan, dari  tadi gw belom narik karena seharian pergi. Jadi, pas lo nawarin ngojek, ya oke aja. But, this is B to B. Bisnis ya. Not P to P, alias personal. Alasan tadi gw ngelerai lo dari tuh bocah karena kemanusiaan. Pas lo minta ngojek, gw ok. Bahkan, kalo lo ga ada duit pun tetep gw anterin. Jadi, woles aja."

"Iya bang. Gw paham. Tapi, balik lagi ke pertanyaan gw tadi. Lo ga berasa jijik?"

"Ga. Kan udah dibilang, gw ga peduli. Mau profesi lo apa, termasuk jika lo pejabat atau artis, kalo lo minta ngojek ya gw anter. Perkara gw nemenin lo makan bubur ya itu bagian dari pelayanan. Sebagai ojol, gw harus bisa ngasih servis terbaik. Sebelumnya, gw juga sering nungguin penumpang hingga satu jam lebih. Ga masalah, selama dia bayar dan bukan orderan fiktif."

"Lo keren bang. Mungkin, salah satu manusia terbaik yang gw kenal," tutur Dresnala sambil meminggirkan mangkok yang masih menyisakan sedikit bubur kacang ijo. Wanita dengan alis lentik itu mengambil korek gas gw untuk menyalakan rokok menthol.

"Yaelah, jangan pernah menilai seseorang dari luar. Lo baru kenal gw, ujug-ujug udah bilang baik. Lo salah. Setidaknya, hingga saat ini."

*        *        *

USAI mengantarkan Dresnala ke kostannya yang lumayan elite karena berada di kawasan strategis, gw pun balik. Sebenarnya, pengen narik mengingat gw bisa ngojol ngalong.

Namun, berhubung seharian sudah keliling, gw putuskan pulang. Lumayan juga, badan pada pegal. Meski, sangat senang bisa kembali bersama Dewi. Apalagi, momen bertemu Dresnala.

Sebagai ojol, gw sering mendapat customer dengan profesi seperti itu. Terlebih, waktu operasi gw dari sore hingga pagi. Jadi, tiap hari kerap bertemu dengan yang seperti itu.

Selama ini ga pernah ada masalah. Paling, jaket ojol gw beberapa kali kena muntahan akibat customer jackpot. Namun, itu wajar. Risiko ojol. Tak jarang, gw dapat tip yang sangat besar. Jauh melebihi ongkos sebenarnya. Ya, untuk melihat sesuatu, harus dari dua sisi.

Yang pasti, gw sempat kaget saat mendengar penuturan Dresna. Terutama, ketika kami melanjutkan perbincangan secara intensif di balkon kamarnya yang berada di lantai dua. 

Sebelumnya, wanita asal kota di selatan pulau ini sempat menyinggungnya di warung burjo. Hanya, ketika itu sekadar kulitnya saja. Baru ketika di kostannya, gw khidmat mendengar ceriteranya.***



Serial Catatan Harian Ojol (Semesta Ekalaya)
- Part I: Ceritera dari SPBU Kosong
- Part II: Ada Rawarontek di Balik Keberingasan Begal
- Part III: Antara Aku, Kau, dan Mantan Terindah
- Part V: Di-Ghosting Kang Parkir

- Part VI: Di Suatu Desa dengan Customer Random
- Part VII: Ada Amer di Balik Modus Baru Costumer
- Part VIII: Debt Collector Juga Manusia
- Part IX: Penumpang Rasa Pacar

Prekuel
Kamaratih
- Kisah Klasik Empat Insan di Kamar Hotel

Spin-Off
Kisah Wanita dengan Blazer Hitam I
- Ketika Manusia Memanggilku Lonte

Ekalaya Universe
- Mukadimah
- Daftar Tokoh
- Epilog


*Inspired by True Event

- Jakarta, 16 Mei 2021 (Edites 30/6)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Maaf ya, saat ini komentarnya dimoderasi. Agar tidak ada spam, iklan obat kuat, virus, dan sebagainya. Silakan komentar yang baik dan pasti saya kunjungi balik.

Satu hal lagi, mohon jangan menaruh link hidup...

Terima kasih :)