TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Sisi Lain Pemanis Sirkuit

Google Adsense 2016

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya
Ngebolang Menikmati Eksotisnya Kawasan Timur Pulau Jawa

Mengupas Sisi Lain dari Sudut Pandang Blogger...

Selasa, 28 Oktober 2014

Sisi Lain Pemanis Sirkuit



DALAM dunia olahraga, selain pelaku utama, baik tim maupun individu tidak lepas dari dukungan pihak lainnya. Terutama yang berasal dari kaum hawa sebagai faktor pemanis yang terkadang bisa sebagai pelepas bosan bagi penonton saat menyaksikan pertandingan.
Itu terjadi di sepak bola ketika sekumpulan penggemar perempuan, terutama kekasih atau istri. Mereka dikenal sebagai Wives and Girlfriends (WAGS) yang selalu mendukung pemain atau tim pujaannya berlaga.

Hal sama berlaku di arena tinju, ketika gadis-gadis cantik membawakan papan ronde yang bisa melepas suasana emosional akibat panasnya pertarungan. Juga peran caddy yang sangat membantu seorang pemain di lapangan golf.

Sementara, di arena balap juga terdapat istilah Umbrella Girls atau gadis yang memayungi pembalap sebelum start. Inti dari profesi mereka sama, sebagai penunjang kepopuleran suatu cabang olahraga. Selain itu, keberadaannya juga tidak hanya sekadar pelengkap atau pemanis belaka, melainkan untuk menyegarkan suasana agar tidak kaku di lintasan balap.

Hanya, adakalanya, peran Umbrella Girls kerap mendapat pandangan yang kurang baik. Maklum, busana yang mereka kenakan terkadang sangat minim. Itu membuat sebagian pihak kerap memandang profesi mereka dengan stigma negatif. Namun, tidak semua Umbrella Girls di arena balap seperti yang ditudingkan tersebut.

Itu diungkapkan Cindy Maulida yang sejak 2009 berprofesi sebagai pembawa payung di lintasan balap. Menurut dara manis penggemar bulutangkis ini, pekerjaan yang dijalaninya itu sebenarnya sama dengan profesi lainnya. Namun, mahasiswi semester delapan di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta ini mengakui masih ada stigma negatif dari sebagian pihak mengenai Umbrella Girls.

“Anggapan itu pasti ada, tapi tergantung persepsi orang juga,” kata Cindy, 24 tahun. “Yang pasti, selama ini saya belum pernah mengalami hal yang aneh-aneh. Memang sih, saya sering mendengar ada teman yang kerap digoda bos-bos nakal. Hanya, sekali lagi itu tergantung dari reaksi orang itu sendiri. Yang pasti, saya menjalani ini dengan niat baik.”

Dinamika Hidup

Apa yang dituturkan Cindy tidak jauh berbeda dengan rekannya, Finny, yang ditemui TopSkor di ajang Indoprix 2013, Sirkuit Sentul, Minggu (22/5). Mahasiswi jurusan Public Relations ini menganggap wajar dengan stigma negatif tersebut.  

“Pastinya, profesi yang saya jalani atas izin keluarga dan tidak sampai menyinggung khalayak ramai. Mengenai pro dan kontra keberadaan Umbrella Girls, itu merupakan dinamika dalam hidup,” ujar pengagum berat rider tim Yamaha Factory Racing di MotoGP, Jorge Lorenzo.
Ketika disinggung mengenai bayaran yang diterima dari sebuah ajang balap. Baik Cindy maupun Finny serempak menyebut nominal di kisaran Rp 250 ribu hingga Rp 500 ribu, tergantung kualitas event tersebut. Di sisi lain, keduanya selalu bersikap profesional terhadap pembalap yang dipayungi maupun pihak promotor.

“Kami hanya sebatas menjalin hubungan pekerjaan, termasuk sekadar tukaran nomor ponsel. Tidak lebih,” tutur Cindy. “Tujuan saya mendukung pembalap dan tim sebelum balapan dimulai. Selepas acara, saya kembali menjadi mahasiswi yang harus fokus untuk belajar,” Finny, menambahkan.*

- Jakarta, 28 Oktober 2014 (Artikel ini dimuat di Harian TopSkor 27 Oktober 2014)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Maaf ya, saat ini komentarnya dimoderasi. Agar tidak ada spam, iklan judi, obat kuat, penjual gunting kuku, dan sebagainya. Silakan komentar yang baik dan pasti saya kunjungi balik. Satu hal lagi, mohon jangan menaruh link hidup...

Terima kasih :)