TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol

Jumat, 08 Mei 2015

Setelah Ultron Giliran Ant-Man Beraksi!


Poster resmi Ant-Man (sumber foto: Marvel.com)

ANTUSIASME menyambut Avengers: Age of Ultron (AoU) masih ramai. Terbukti, di berbagai daerah di Indonesia, masih banyak bioskop yang menyediakan film yang disutradari Joss Whedon tersebut. Bahkan, saya sampai menyaksikan di sebuah teater di kawasan selatan Jakarta, enam dari delapan studionya menayangkan AoU semua! 

Bagaimana hype AoU di negara asalnya, Amerika Serikat (AS)? Tentu saja sangat tinggi. Maklum, di "Negeri Paman Sam" itu AoU baru genap sepekan setelah tayang perdana pada 1 Mei lalu. Itu berbeda dengan di Indonesia yang sudah rilis sejak 22 April lalu. 

Sambutannya? Ya, relatif. Banyak yang menilai sosok antagonis, Ultron-nya kurang badass, hingga judul "Age of Ultron" yang dirasa ekspekstasinya ketinggian. Namun, tak sedikit pula yang mengagumi sekuel dari The Avengers yang tayang sejak 2012 lalu ini sebagai film bercita rasa istimewa. Terutama kehadiran kakak-beradik Maximoff (Quicksilver-Scarlet Witch) dan tentu saja: Vision!

Oke, artikel ini tidak bermaksud me-review AoU meski saya sudah empat kali menonton langsung demi mengetahui isi ceritanya. Melainkan, postingan di awal Mei ini untuk menyambut film penutup dari fase kedua dari Marvel Cinematic Universe (MCU): Ant-Man.

Ya, Ant-Man merupakan salah satu film yang paling saya tunggu sepanjang 2015. Terutama di daftar film Marvel seperti AoU dan juga Fantastic Four yang kebetulan beda studio, karena dimiliki 20th Century Fox. Sementara, Aou dan Ant-Man yang akan rilis pada 17 Juli mendatang dari Marvel Studio.

Namun, harus diakui bahwa gaung Ant-Man tidak seperti AuO. Bahkan, di berbagai forum luar negeri, film yang berbujet 170 juta euro (sekitar Rp 2,5 triliun) ini tertutup oleh gemerlap sekuel ketiga Captain America: Civil War, yang ironisnya tayangnya masih lama. Alias, baru dirilis 6 Mei 2016 dengan kehadiran salah satu aktor kawakan asal Indonesia, Ray Sahetapy, yang sukses berperan di The Raid: Redemption sebagai bos mafia bernama Tama.

Meski begitu, bagi saya, Ant-Man ini tidak kalah serunya. Lantaran dalam versi komik, tokoh utamanya, Hank Pym merupakan salah satu pendiri kelompok superhero terkenal di dunia: The Avengers! Hanya, untuk di filmnya, Ant-Man diperankan generasi kedua, Scott Lang, yang awalnya mencuri kostum dari Hank Pym demi mengobati anaknya yang sakit. Namun, setelah hendak dikembalikan, Hank Pym malah memberikannya karena mengetahui Scott Lang memiliki hati yang baik dan pantas jadi pahlawan dengan mengenakan kostum Ant-Man.

Saya sendiri baru sekali menyaksikan trailernya di laman youtube resmi Marvel Entertainment. Untuk saat ini, saya tidak tertarik mengikuti perbincangan tentang Ant-Man di berbagai forum dan blog. Kenapa? Sebab, saya takut kecewa karena memasang ekspekstasi yang terlalu tinggi, tapi setelah menyaksikan filmnya malah biasa saja.

Itu terjadi setelah saya menyaksikan AoU yang memiliki tiga trailer yang terkesan "dark" dengan Ultron dan pasukannya yang kuat hingga tameng Captain America terbelah. Namun, apa lacur, setelah menyaksikannya malah tertawa sendiri. Sebab -spoiler- tameng Captain America pecah hanya dalam mimpi akibat perbuatan Scarlet Witch dan bukan nyata.

Jujur saja, saya malah berharap Ant-Man ini tidak begitu dikenal luas. Namun, setelah tayang menjadi populer layaknya Guardians of the Galaxy yang awalnya sempat saya anggap pesimistis, tapi setelah ditonton malah bikin tergila-gila berkat unsur komedi yang kental dan ceritanya bisa diterima semua kalangan. Baik itu penggemar komik Marvel atau masyarakat umum yang sekadar penikmat film saja.

Satu hal lagi, yang membuat saya optimistis Ant-Man bakal populer meski tidak didukung promosi besar-besaran atau pamerannya bertabur bintang utama Hollywood. Itu karena unsur komedi yang kental yang bisa dilihat di trailer-nya yang lumayan bikin ngakak. Salah satunya pertarungan Ant-Man dengan sang antagonis, Yellowjacket yang sudah mengecil di kereta Thomas!

Seumur-umur menyaksikan film superhero, baru kali ini melihat adegan di kereta mainan. Ini terasa unik mengingat pertarungan di kereta bisa disebut sebagai salah satu scene yang sering digunakan. Mulai dari Spider-Man, X-Men, Wolverine, hingga AoU yang melibatkan Captain America bersama Quicksilver dan Ultron! Biar ga penasaran, bisa disimak trailer resminya di bawah ini:


*       *       *

Pemeran
Paul Rudd sebagai Scott Lang/ Ant-Man
Michael Douglas sebagai Hank Pym/ Ant-Man
Corey Stoll sebagai Darren Cross/ Yellowjacket

Sutradara: Peyton Reed
Produser: Kevin Feige (Presiden Marvel)
Produksi: Marvel Studios
Distributor: Walt Disney Studios
Rilis: 17 Juli 2015 (AS), Indonesia dan negara lainnya belum ditentukan

Urutan dalam MCU: Film ke-11 
- Fase Satu:
Iron Man - 2 Mei 2008
The Incredible Hulk - 13 Juni 2008
Iron Man 2 - 7 Mei 2010
Thor - 6 Mei 2011
Captai America: The First Avenger - 22 Juli 2011
The Avengers - 4 Mei 2012
- Fase Dua
Iron Man 3 - 3 Mei 2013
Thor: The Dark World - 8 November 2013
Captain America: The Winter Soldier - 4 April 2014
Guardians of the Galaxy - 1 Agustus 2014
Avengers: Age of Ultron - 22 April 2015
Ant-Man - 17 Juli 2015
- Fase Tiga
Captain America: Civil War - 6 Mei 2016
Doctor Strange - 4 November 2016
Guardians of the Galaxy - 5 Mei 2017
Spiderman - 28 Juli 2017
Thor: Ragnarok - 3 November 2017
Avengers: Infinity War part 1 - 4 Mei 2018
Black Panther - 6 Juli 2018
Captain Marvel - 2 November 2018
Avengers: Infinity War part 3 - 3 Mei 2019
Inhumans - 12 Juli 2019
 *       *       *
Yellowjacket sebelum ditabrak kereta mainan Thomas! (DailyMail.co.uk)
*       *       *
Pertarungan superhero di kereta. Yang terakhir bikin ngakak (9gag.com)

*       *       *
Artikel Marvel sebelumnya:
Ternyata Thor bisa Bahasa Indonesia!

Artikel Terkait
- Ekspekstasi Berlebihan di Film The Raid: Berandal
- Komik The Raid: Dari Warna Merah ke Hitam Putih
- Barcelona vs Chelsea Mirip Kisah The Raid
- Joe Taslim dan Wakil Indonesia di Hollywood
- Nostalgia Dua Dekade Jurassic Park
*       *       *
Referensi:
Marvel.com, BoxOfficeMojo.com, IMDb, Moviepilot.com, , ,

- Cikini, 8 Mei 2015

Senin, 04 Mei 2015

Tujuh Tempat Nongkrong Asyik di Jakarta


Columbus Cafe (foto: dokumentasi pribadi/ www.roelly87.com)

BERBICARA tentang tempat nongkrong yang ada di Jakarta, tentu jumlahnya bejibun. Bahkan, bisa dibilang tak terhitung saking beraneka ragamnya. Baik itu, cafe, resto, bar, fast food, hingga convenience store.

Namun, di antara sekian banyak tempat yang asyik dijadikan tongkrongan itu, sudah pasti kita memiliki "langganan" tersendiri. Kriterianya mungkin seperti, letaknya yang strategis, harga terjangkau, pelayanan ramah, atau sosok penjualnya yang membikin kangen, tempatnya bernuansa romantis yang membuat kita merasa nyaman.

Termasuk saya sendiri yang selama lima tahun terakhir kerap menyambangi beberapa tempat tongkrongan di ibu kota. Mulai dari yang memiliki menu dengan harga cukup Rp 5.000 hingga yang termewah dan bercita rasa Eropa. Tujuh di antaranya yang menurut saya benar-benar asyik dikunjungi adalah:

1. Hard Rock Cafe Jakarta
Ini salah satu resto yang asyik dijadikan kongkow-kongkow sekaligus mencari bahan inspirasi untuk menulis. Apalagi, lokasinya tepat di jantung ibu kota, Mal Placific Place, SCBD. Meski, sebelumnya Hard Rock Cafe Jakarta ini sempat berpindah dua kali. Pertama di Sarinah sejak 1992-2005 dan Ex Plaza Indonesia (2005-13).

Mengenai menu, lumayan banyak. Mau yang ala western maupun lokal cukup bervariasi. Harga? Nah, ini relatif. Soalnya, sepengetahuan saya berkunjung ke Hard Rock Cafe Jakarta mengenai harga pasti sudah diperhitungkan. Terlebih, resto ini bertempat di mal sekelas Pasific Place. Untuk minuman hingga makanan ringan, ya cukup mengeluarkan kocek tidak sampai Rp 100 ribu. Kecuali bila Anda ingin yang "berat-berat" yang tentunya harus menyiapkan dana hingga jutaan!

Lokasi: Mal Pacific Place, Lantai G, Jakarta Selatan
Akses: Terintegrasi dengan Sudirman Central Business District (SCBD),

2. Rick's Cafe
Awalnya saya mengetahui tempat ini karena memang merupakan markas dari komunitas penggemar FC Internazionale. Yaitu, Inter Club Indonesia (ICI). Namun, setelah sering ke sini, lama-lama jadi merasa betah juga. Apalagi, letaknya tergolong strategis. Tidak jauh dari Tugu Pancoran dan berseberangan dengan Hanggar Studio yang juga markas komunitas Milanisti Indonesia dan Juventus Club Indonesia.

Untuk harga? Murah meriah. Sambil duduk-duduk menikmati makanan berat dan ringan, pengunjung juga bisa bermain biliar yang memiliki banyak meja.

Lokasi: Gedung Hero Supermarket, Jalan Jenderal Gatot Subroto No. 64, Tebet, Jakarta Selatan
Akses: Dekat Patung Dirgantara (Tugu Pancoran), Halte Busway Pancoran

3. KFC Gunawarman
Ho ho ho, saya sedang tidak bercanda untuk memasukkan fast food yang identik dengan wajah senyum Kolonel Harland Sanders ini. Namun, di antara sekian banyak franchise dari Kentucky Fried Chicken di Jakarta, saya cenderung memilih yang di Jalan Gunawarman yang tidak jauh dari Markas Besar Kepolisian (Mabes Polri).

Memang, menunya standar seperti cabang KFC lainnya. Namun, di Gunawarman ini, terdapat layar lebar untuk memuaskan penggemar sepak bola yang ingin makan atau ngemil sambil menyaksikan siaran langsung. Saya sendiri bisa disebut langganan untuk nonton bareng (nobar) di KFC Gunawarman ini. Terutama yang berkaitan dengan Liga Champions seperti tengah pekan ini.

Lokasi: Jalan Gunawarman No 80, Jakarta Selatan
Akses: Dekat Terminal Blok M dan SCBD

4. Klenger Burger
Sejatinya di Indonesia, khususnya di Jakarta, banyak toko yang menjual burger dengan aneka rasa. Tapi, untuk yang satu  ini, saya bisa merekomendasikan. Ya, meski setelah memakannya kita tidak akan "klenger" beneran. Tapi, Klenger Burger dengan porsi yang tower ini lumayan bisa mengganjal perut yang sedang bernyanyi.

Untuk outletnya tersebar di beberapa wilayah di ibu kota. Hanya, bagi saya, yang lebih asyik untuk dinikmati sambil bercengkerama dengan teman, rekan kerja, dan keluarga, jelas di Radio Dalam. Tempatnya sih kecil, tapi ya lumayan aja karena cukup untuk sekadar kumpul-kumpul sambil ngalor ngidul dan sebagainya.

Lokasi: Jalan Radio Dalam No 61, Jakarta Selatan
Akses: Halte Busway Radio Dalam, dekat perempatan Pondok Indah

5. Magnum Cafe 
Resto ini merupakan destinasi utama bagi penggemar es krim. Memang sih menu makanannya tidak hanya es krim, tapi banyak juga yang berat-berat. Satu hal, tempatnya ini tergolong cozy. Yaitu, di lantai enam salah satu mal terbesar di Indonesia. Jadi, kita bisa menikmati sajian dari produk yang identik dengan merek Unilever ini sambil memandang gedung-gedung di sekitaran Bundaran HI.

Sayangnya, untuk bisa menikmati itu semua, Anda harus antre. Minimal, satu hingga dua jam demi reservasi tempat. Kami juga pernah merasakan hal yang sama. Yaitu, nunggu untuk sekadar mencicipi berbagai menu khas Magnum di Grand Indonesia. Entah juga jika berkunjung ke outletnya di Pondok Indah Mal 2. Rekomendasi saya untuk menu Waffle de Aristocrat. Rasanya? Hmm... Silakan dicoba sendiri!

Lokasi: Mal Grand Indonesia, Lantai 6 West Mall, Jakarta Pusat
Akses: Seperlemparan batu dari Bundaran Hotel Indonesia (HI)

6. Pisa Cafe Mahakam
Salah satu tempat nongkrong favorit saya yang terletak di selatan ibu kota ini tentu saja Pisa Cafe yang berada di dekat Taman Ayodya. Memang, ada juga di kawasan Menteng yang sering saya datangi. Tapi, untuk suasana dan tempat, saya cenderung memilih yang di Mahakam. Kenapa? Sebab, cafe bernuansa Italia ini sangat eksotis.

Mulai dari interiornya hingga eksterior. Jangan ditanya mengenai menu makanannya! Bagi saya, Pisa Cafe ini -meski harganya di atas rata-rata- layak untuk dikunjungi. Terutama pada weekend yang bernuansa retro. Apalagi, tempat ini sering diadakan untuk acara komunitas dan blogger. Termasuk Kompasiana yang seperti langganan menyelenggarakan acara nangkring di Pisa Cafe.

Lokasi: Jalan Mahakam I No 11, Jakarta Selatan
Akses: Sekitar 350 meter dari Terminal Blok M

7. Columbus Cafe
Dari selatan Jakarta, kita menuju ke wilayah paling ujung. Tepatnya di kawasan Taman Impian Jaya Ancol yang terdapat beberapa tempat nongkrong bernuansa elegan dan tentu saja romantis. Salah satunya ya, Columbus Cafe yang memiliki menu istimewa seperti Vietnam Drip Coffee dan Pinky Lady. Apa itu? Ya begitu deh! Intinya, minuman dan makanan yang terdapat di Dermaga Cinta ini memang bersahabat dengan kantong.

Lokasinya pun terletak seperti di tengah-tengah pulau yang membuat kita bias memandang daratan menyusuri jembatan kayu. Apalagi, tak jauh dari Columbus Cafe terdapat properti yang dijuluki Gembok Cinta yang dulunya sering saya gunakan bersama peri yang baik hati kerap dipakai pasangan yang berkunjung untuk foto berduaan.

Lokasi: Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara
Akses: Terintegrasi Ancol


*       *       *
Suasana di Hard Rock Cafe PF (@roelly87)

*       *       *

Rick's Cafe markas komunitas Inter Club Indonesia (@roelly87)


*       *       *
Nobar di KFC Gunawarman (@roelly87)

*       *       *
Salah satu menu di Klenger Burger (@roelly87)

*       *       *
Pemandangan HI dari Magnum Cafe (@roelly87)

*       *       *
Pisa Cafe yang asyik dijadikan tempat untuk berkumpul (@roelly87)

*       *       *
Lokasi Tujuh Tempat Nongkrong (Ilustrasi via Google Earth yang sudah diolah kembali @roelly87)

*       *       *

Keterangan: Seluruh foto yang ada di postingan ini merupakan dokumentasi pribadi selaku pemilik blog www.roelly87.com.

*       *       *

Artikel terkait:

- Tujuh Taman Gratis di Jakarta yang Layak di Kunjungi
Tujuh Alasan Pulau Bidadari Wajib Dikunjungi
Menelusuri Jejak Tujuh Patung Bersejarah di Jakarta
Taman Menteng: Permintaan Terakhir
Taman Makam Pahlawan Kalibata: Penghormatan Terakhir SBY
Candranaya: Eksotisnya Cagar Budaya di Jakarta
Taman Central Park Jakarta
Monumen Ade Irma Suryani
*       *       *

- Cikini, 4 Mei  2015

Selasa, 28 April 2015

Hukumpedia, Situs Apa Sih?

Hukumpedia, Situs Apa Sih?

HukumPedia.com


HUKUMPEDIA?
Itu situs apa sih?
Masih keluarga dengan HukumOnline ya?
Ribet ga cara daftarnya?
Bla... bla... bla...

Demikian respons yang saya dapat ketika membuat postingan berjudul "Belajar Mengerti Hukum bersama Hukumonline.com dan Hukumpedia.com". Berbagai reaksi saya terima seusai men-share artikel tersebut di media sosial. Ada yang bilang ini-itu, itu-ini, ini Budi, ini ibu Budi, dan sebagainya.

Ok, skip sebentar mengenai epilog tersebut. Di postingan ini saya ingin menjawab beberapa "keraguan" dari beberapa rekan -kerja, sesama blogger, dan lainnya- mengenai Hukumpedia. Oh ya, sekadar informasi, situsnya beralamat di www.hukumpedia.com.

Anda familiar?
Tidak?
Sama dong berarti!

Saya juga awalnya tidak ngeh dengan hukumpedia. Tahunya malah hukumonline yang memang sering lihat thread-nya di Kaskus sebagai salah satu kontributor yang aktif. Hingga, ketika ladang gandum menjadi cokelat akibat yang cowok ga peka dan yang cewek gengsi dan jadilah koko krunch pada suatu hari tepat di bulan yang identik dengan lagu Iwan Fals (22 Januari) saya mendaftar di hukumpedia.

Adalah salah satu penjaga gawangnya yang memiliki paras mirip Dr. Helen Cho di film The Avengers: Age of Ultron ini mengenalkan saya dengan situs yang dikelola PT Justika Siar Publika (JSP). Bahkan, saya sampai mencoba memposting dua artikel lawas yang beralamat di www.hukumpedia.com/roelly87.

Setelah itu, saya sempat vakum beberapa saat sampai akhirnya mengikuti mini gathering bersama belasan blogger berkat undangan dari rekan Ani Berta di markas Hukumpedia pada 21 April lalu. Dalam acara tersebut, seperti yang saya tulis pada postingan sebelumnya, terdapat diskusi antara kami, belasan blogger dengan tiga penjaga gawang Juventus Hukumpedia.

Sejak itu, saya jadi lebih paham mengenai Hukumpedia. Minimal, untuk membuat postingan ini.

*       *       *
Jika pada postingan pertama saya mengulas tentang bagaimana bergabung di Hukumpedia. Untuk tulisan kali ini, mungkin saya akan membeberkan lebih dalam mengenai situs yang akan merayakan hari jadinya ketujuh pada 30 April mendatang.

Menurut saya, salah satu kelebihan Hukumpedia selain statistiknya yang lumayan komplet adalah terintegrasi dengan Hukumonline. Wajar, mengingat keduanya berada dalam satu perusahaan yang sama. Di Hukumpedia, anggota dapat mendiskusikan atau membahas soal hukum dengan bahasa sehari-hari yang mudah dimengerti. Kenapa? Karena hukum adalah kita!

Alias, kita, sebagai warga negara pasti bersinggungan dengan hukum. Maka, Hukumpedia menjadi semacam wadah untuk berinteraksi membahas persoalan yang mayoritas bertema hukum. Terlebih, konten yang kita buat tidak perlu dimoderasi admin. Dengan catatan, artikelnya orisinal dan tidak menyinggung SARA.

Selain tulisan, anggota juga dapat memposting gambar seperti foto atau yang sedang hit saat ini: Meme. Begitu juga dengan video, audio, dan sebagainya.

Oh ya, pada postingan sebelumnya, saya menyebut beberapa keuntungan bergabung dengan Hukumpedia. Beberapa di antaranya mendapat reputasi, lencana, hingga merchandise! Lalu, apakah cuma itu saja? Tentu tidak.

Ternyata, menurut admin Hukumpedia, mereka akan menjaring anggota yang aktif sebagai penasihat di berbagai konten. Untuk mencapainya, memang tidak mudah. Sebab, user harus membuat lebih dari 100 artikel berkualitas.

Yang menggiurkan, ada imbalan dari pihak Hukumpedia. Yaitu, user yang sudah masuk tahap expert ada kemungkinan diikutsertakan dalam berbagai event atau seminar yang diadakan Hukumonline.

Tentu, ini sangat menarik. Mengingat dalam seminar yang kerap mengundang berbagai tokoh yang kompeten di bidangnya ini, harga tiketnya lumayan mahal yang mencapai jutaan rupiah.

Jadi, apakah Anda sama seperti saya, tertarik untuk berinteraksi di Hukumpedia?

*       *       *
Artikel sebelumnya:
*       *       *

- Cikini, 28 April 2015

Kamis, 23 April 2015

Ternyata Thor bisa Bahasa Indonesia!


Chris Hemsworth saat memerankan Thor dalam The Avengers: Age of Ultron (sumber foto: Ign.com)


DEMAM The Avengers: Age of Ultron (AoU) melanda seluruh dunia. Tidak terkecuali di Indonesia yang gaungnya begitu besar. Maklum, kita di sini mendapat jatah rilis AoU lebih cepat ketimbang di negara asalnya. Ya, sekuel kedua Marvel: The Avengers ini sudah tayang sejak kemarin, Rabu (22/4) yang juga telah saya saksikan. Sementara, di Amerika Serikat (AS) baru beredar serentak 1 Mei mendatang.

Nah, kali ini saya pun tertarik menulis tentang AoU. Namun, bukan review filmnya, karena baru sekali menyaksikan dan belum "khatam" alias akan menontonnya lagi Sabtu (25/6). Melainkan mengenai Chris Hemsworth yang berperan sebagai Thor. Yaitu, ketika diwawancarai artis blasteran Indonesia-Jerman, Cinta Laura yang videonya sudah beredar di Youtube.

Sebetulnya, saya tidak sengaja menontonnya. Karena, awalnya ingin mencari beberapa deleted scene yang tidak ada di filmnya. Namun, tak sengaja mengklik laman di Youtube yang berjudul Exclusive! Interview Cinta Laura with Robert Downey Jr and Chris Hemsworth - OBSESI 21 April 2015.

Meski bukan penggemar Cinta Laura atau tayangan gosip dan sebagainya, tapi membaca judulnya yang berkaitan dengan The Avengers, tentu membuat saya tertarik. Apalagi, dalam tayangan tersebut ada beberapa kalimat dari Chris yang mengunakan bahasa Indonesia! Kalau tidak keliru, berikut transkripnya:

"My name is Cinta Kiehl, and I am representing RCTI Indonesia," ujar Cinta membuka perbincangan.

Tak di sangka, Chris malah menjawabnya dengan bahasa Indonesia.

"Indonesia? Apa kabar?"

"Baik, baik."

"Siapa namamu? Nama saya Chris."

Mendapati tanya-jawab ringan itu kian membuat saya kian antusias untuk menyaksikan video berdurasi 2 menit 20 detik ini. Apalagi, Cinta turut memuji bahasa Indonesia yang dituturkan Chris.

"Wow... Bahasa Indonesianya bagus."

"Bagaimana cuaca hari ini?"

*       *       *
Seusai menyaksikan tayangan tersebut, tentu membuat saya yang merupakan penggemar Marvel Comic terkesima. Terlebih , Chris mengakui kepada Cinta bahwa dirinya belajar bahasa Indonesia sejak sekolah.

Bahkan, ternyata pria berusia 31 tahun itu pernah datang ke Indonesia saat melakukan syuting! Itu terjadi pada 14 Agustus 2013 seperti yang saya kutip dari laman VIVA.co.id berjudul Ke Jakarta, Bintang Hollywood Pamer Bahasa Indonesia. Pantas saja, jika Chris tidak asing saat menjawab pertanyaan Cinta!

"I learn Indonesian in school. Indonesia's like five hours way from my country," tutur Chris yang ternyata kelahiran Melbourne, Australia. Tayangan lengkapnya dapat disimak pada video di bawah ini:




Sekadar tambahan, Thor merupakan dewa dalam mitologi bangsa Skandinavia (Eropa Utara seperti Norwegia, Denmark, Swedia, dan Finlandia). Namun, tokoh yang identik dengan palu Mjolnir ini juga banyak diadaptasi dalam dunia fiksi.

Seperti di The Avengers, baik itu komik, kartun, hingga filmnya. Untuk Marvel Cinematic Universe (MCU), sejauh ini Thor selalu diperankan Chris dalam tiga film. Yaitu, Thor yang dirilis pada 2011, The Avengers (2012), Thor: The Dark World (2013), Age of Ultron (2015), dan Thor: Ragnarok (2017).

Selain itu, jika Anda ingat dengan tayangan animasi Jepang era 1990-an, Saint Seiya, juga ada Thor yang berperan dalam Asgard Chapter.


*       *       *
Cinta Laura dalam akun Instagramnya (@claurakiehl)

*       *       *
Keterangan: Sumber foto, video, dan referensi artikel ini sudah dikaitkan dalam link-nya masing-masing

Artikel The Avengers sebelumnya:
- Demam The Avengers Melanda Skuat Juventus


*       *       *
- Cikini, 23 April 2015

Rabu, 22 April 2015

Belajar Mengerti Hukum bersama Hukumonline.com dan Hukumpedia.com



Bincang-bincang antara blogger dengan Anggara yang mewakili Hukumonline.com (sumber foto: dokumentasi pribadi/ www.roelly87.com)


JUJUR, berbicara mengenai hukum, mungkin salah satu topik yang paling dihindari mayoritas masyarakat. Dan, terus terang saja, itu fakta. Termasuk saya pribadi. Sebab, konotasi hukum itu bagi orang awam, kesannya adalah berbelit-belit. Ya, tahu sendirilah kondisi di negara kita.

Di sisi lain, sebagai warga negara, tentu perlu hukum. Entah itu sebagai payung untuk mempertahankan legitimasi, hak, dan sebagainya. Jadi, mungkin harus ada korelasinya. Percaya ga percaya, pada akhirnya kita memang membutuhkan keberadaan "sosok" yang namanya hukum.

*       *       *

"Ubi societas ibi ius. Di mana ada masyarakat, di situ ada hukum," demikian pernyataan filsuf Romawi Kuno, Marcus Tullius Cicero, yang dikutip Anggara Suwahju, community manager PT Justika Siar Publika (JSP). Yaitu, perusahaan yang menaungi beberapa portal (website) bertema hukum. Mulai dari Hukumonline.com, Hukumpedia.com, Klinik Hukum, hingga Online Legal Database.

Itu terjadi dalam  mini gathering bersama belasan blogger di Indonesia Jentera School of Law (ISJL), Puri Imperium, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (21/4). Pada kesempatan itu, Anggara ditemani dua rekannya yang kebetulan juga sama-sama blogger. Yaitu, Pista Simamora dan Dwitya Irwan, yang ketiganya dijuluki sebagai penjaga gawang HukumPedia.com.

Nah, bagi saya yang tertarik menggeluti dunia blog sejak 2010, acara bincang-bincang bertema hukum ini memang bukan yang pertama. Sebelumnya, saya pernah menghadiri undangan di beberapa instansi pemerintah. Termasuk dari Kepolisian Daerah Metro Jaya. Namun, harus diakui jika mini gathering ini yang paling, 'gimana gitu'.

Mungkin, karena pembahasannya mengenai hukum, yang bisa dikatakan salah satu topik yang hingga kini terkesan kurang menarik. Hanya, saya teringat adagium lawas yang mengatakan, "Berada dekat tinta akan terkena cipratannya." Alias, kita harus mengerti suatu hal untuk mengetahui lebih lanjut apakah nantinya suka atau tidak. Ya, tak kenal maka tak sayang.

Sebab, menurut saya, sesuatu yang berkaitan dengan hukum itu pasti rumit. Itu tidak dibantah oleh Anggara. Penggemar tokoh kartun Doraemon ini, menyebut bahasa hukum memang sukar dimengerti masyarakat awam. Namun, itu tergantung dari persepsi masing-masing. Terutama jika berkaitan dengan stigma negatif masyarakat tentang hukum. Misalnya, tajam ke bawah dan tumpul ke atas.

Untuk itu, Anggara memberi informasi mengenai Hukumonline.com dan Hukumpedia.com kepada kami, para blogger. Apa itu?

Yang pertama, Hukumonline.com merupakan situs atau juga bisa disebut portal penyedia layanan informasi hukum terkemuka dan terbesar di Indonesia. Mereka menyediakan layanan informasi hukum yang terintegrasi. Bahkan, ada kanal Klinik HukumOnline, yang dapat dijadikan wadah konsultasi masyarakat untuk mendapat jawaban dari ahli hukum.

Sebagai blogger dan juga Kaskuser -sebutan untuk pengguna forum Kaskus.co.id- saya tidak asing dengan Hukumonline.com. Lantaran, Hukumonline.com bisa disebut sebagai salah satu kontributor yang rajin memposting thread bertema hukum.

Untuk yang kedua, Hukumpedia.com, bisa dikatakan sebagai wadah untuk jurnalis warga. Kenapa? Sebab, Hukumpedia.com menampung tulisan dari seluruh lapisan masyarakat, seperti Kompasiana atau Blogdetik.

Bedanya, Hukumpedia.com, lebih menitikberatkan artikel mengenai informasi hukum. Meski, terdapat beberapa kategori atau event lainnya yang terasa familiar bagi para blogger. Salah satunya ketika Hukumpedia.com mengadakan diskusi mengenai kejahatan di dunia maya dan tentang seks pra nikah. Bahkan, ada yang berhadiah tiket konser band!

Hanya, untuk saat ini, harus diakui bahwa situs Hukumpedia.com, masih terasa berat dan agak lambat dibuka meski sudah melalui beberapa browser berbeda. Mungkin, karena banyaknya widget dan aplikasi video. Itu berbeda ketika saya membuka  Hukumonline.com yang merupakan induk Hukumpedia.com. Ini jadi catatan bagi penjaga gawang, untuk membenahinya agar lebih simpel dan terkesan familiar.

Terlepas dari kekurangan tersebut, saya pribadi sering menyimak beberapa artikel di Hukumpedia.com. Baik artikel langsung di situsnya atau update terbaru melalui twitter-nya (@hukumpedia). Terutama karena saya memang sudah terdaftar di alamat Hukumpedia.com/roelly87 sejak tiga bulan lalu, tepatnya 22 Januari 2014.

*       *       *

Pertanyaannya, untuk para bloggeryang mungkin masih bingung mengenai Hukumpedia.com, adalah bagaimana cara untuk jadi anggotanya? Sebenarnya, simpel saja, seperti saat kita membuka blogger.com atau wordpress.com. Yaitu, registrasi dengan mengisi formulir yang ada, aktivasi email, verifikasi akun, dan melengkapi data diri. Selesai.

Lalu, apakah boleh, jika blogger yang sudah terdaftar mengirinkan tulisan yang sebelumnya sudah di-publish di blog pribadinya? Menurut Anggara, boleh saja. Saya pribadi, dua kali memuat ulang artikel lama berjudul Cindy Adams dan Misteri Dua Paragraf Otobiografi Bung Karno dan Benarkah Polisi Segan dengan Dosen, Tentara, dan Wartawan?

Yang terpenting, itu merupakan artikel sendiri dan bukan copy-paste. Yang menarik, di dashboard Hukumpedia.com ini, tergolong lengkap dengan angka-angka dan tabel mengenai artikel sendiri dan keseluruhan yang sedang hit,

Terakhir, apa saja keuntungan sebagai anggota Hukumpedia.com? Selain bisa berbagi artikel yang berkaitan dengan hukum untuk dijadikan diskusi, pengguna juga berkesempatan mendapatkan reward. Yaitu, reputasi dari sesama anggota atau lencana dari penjaga gawang. Bahkan, setiap bulannya, Hukumpedia.com memilih konten terbaik dari pengguna untuk diberikan merchandise!

Tak hanya itu, anggota Hukumpedia.com juga dapat mencari solusi jika sedang bermasalah dengan hukum di Klinik Hukum. Itu karena kedua layanan tersebut terintegrasi dengan Hukumonline.com, alias tidak perlu daftar lagi.

*       *       *
Pista ditemani Dewi dalam pemaparan Hukumpedia.com (www.roelly87.com)


*       *       *

Cikini, 22 April 2015