TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Restorasi Tiga Dara, Bukan Sekadar Nostalgia

Google Adsense 2016

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya
Ngebolang Menikmati Eksotisnya Kawasan Timur Pulau Jawa

Mengupas Sisi Lain dari Sudut Pandang Blogger...

Sabtu, 03 September 2016

Restorasi Tiga Dara, Bukan Sekadar Nostalgia



Salah satu adegan Tiga Dara


APA yang menarik disaksikan dari film enam dekade silam yang direstorasi kembali? Warnanya hitam-putih, pemerannya kini sudah pada tua, ceritanya klise -tentang perjodohan-, teknologi saat itu masih jadul, dan sebagainya.

Demikian, pertanyaan yang menggelayuti saya pada pertengahan 2015 ketika membaca berita mengenai rencana restorasi Tiga Dara. Tentu, saat itu, saya tidak mengenal film yang sukses pada 1956 tersebut. Yang saya tahu ketika itu berdasarkan baca di media online, hanya Mieke Wijaya, ibu dari Nia Zulkarnaen yang sering saya saksikan di sinetron, salah satunya Doa dan Cinta, yang bertema religi.

Hingga, saya baru tahu saat mengunjungi Jerman Fest 2015 di Tugu Kunstkring Paleis, Jalan Teuku Umar 1, Menteng, Jakarta Pusat. Tepatnya, pada 23 September 2015 ketika saya dan rekan blogger menelusuri salah satu ruangan yang dulu sempat jadi kantor imigrasi.

Tampak, berderet beberapa koleksi barang antik, foto, dan juga lukisan dengan berbagai tema. Mulai dari film, musik, hingga jejak bapak proklamator, Sukarno, yang terpajang dengan apik. Ketika asyik mengabadikan berbagai pemandangan menarik itu, mata saya tertuju pada bingkai foto berwarna keemasan yang terlihat jadul tapi memesona bertuliskan Tiga Dara.

*         *         *
MALAM itu, rinai masih membasahi ibu kota pada pertengahan Agustus lalu. Nyaris dua jam saya menanti sang dewi hujan berhenti mencurahkan airnya dari langit. Hingga, setelah seperminuman teh, akhirnya hujan reda. Langsung saya tancap gas menemui rekan blogger menuju bioskop di kawasan Blok M untuk menyaksikan Tiga Dara.

Sayangnya, pertunjukkan yang saya ingin pesan sudah berlangsung 30 menit. Alias, saya telat yang terpaksa hanya mendapat penayangan terakhir. Sambil menunggu sekitar 1,5 jam, kami pun menyempatkan diri untuk menangsel perut di pelataran pertokoan yang menyediakan aneka kuliner dengan gudeg sebagai menu yang kami pilih.

Setelah makan dan berkeliling sejenak mencari buku di lokasi yang sama, akhirnya kami pun masuk ke ruangan teater yang terisi lebih dari 3/4 kursi. Berdasarkan pengalaman saya pribadi dalam lima tahun terakhir, rekor penonton itu -untuk film nasional- menyamai Ada Apa dengan Cinta 2, Rudi Habibie, The Raid 2: Berandal, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Habibie & Ainun, dan The Raid. Namun, semua film yang saya sebut itu baru. Sementara, Tiga Dara, merupakan restorasi dari film yang rilis pada 1956.

Pun begitu dengan penonton yang saya lihat, beraneka ragam. Dari yang masih remaja, dewasa, hingga lanjut usia. Bahkan, ada beberapa yang membawa keluarga utuh tiga generasi seperti kakek-nenek, suami-istri, dan anak/cucu.

Sambil menantikan tayangan berlangsung, saya melihat iklan dari beberapa film nasional lainnya. Termasuk, Ini Kisah Tiga Dara karya Nia Dinata yang terinspirasi dari Tiga Dara.

Seusai parade iklan film nasional, lampu di teater padam dengan hanya disinari sorotan pada layar. Akhirnya, film yang disutradarai Usmar Ismail dimulai dengan nyanyian dari ketiga bersaudara. Yaitu, Nunung yang diperankan Chitra Dewi, Nana (Mieke Wijaya), dan Nenny (Indriati Iskak) yang juga ditemani Herman (Bambang Irawan).

Ah, menyaksikan awal film membuat lamunan saya mundur jauh ke belakang. Tepatnya, pada dekade 1950-an ketika film yang diproduksi PT Perfini Films ini tayang. Tentu, saya tidak menyaksikan Tiga Dara versi aslinya yang rilis pada 1956.

Begitu juga dengan kedua orangtua saya yang baru lahir beberapa tahun setelah film tersebut mendapat apresiasi luar biasa dari masyarakat di Tanah Air. Kemungkinan, hanya almarhum kakek dan nenek dalam keluarga saya yang menyaksikan film tersebut. Bisa dipahami mengingat Tiga Dara rilis hanya berselang satu dekade setelah bangsa ini merdeka.

*         *         *
SAYA beruntung bisa menyaksikannya 60 tahun kemudian berkat SA Films yang merestorasi komedi musikal tersebut. Bagi saya, menonton film berdurasi 116 menit ini bukan sekadar ajang nostalgia belaka. Melainkan, karena ingin membuktikan hasil restorasi anak bangsa terhadap film yang populer pada enam dekade silam.

Maklum, sejak melihat fotonya di Tugu Kunstkring itu, saya kian penasaran. Sepertinya, setelah menatap foto Nunung-Nana-Nenny dalam bingkai keemasan itu, waktu yang saya alami sejak 23 September 2015 hingga tayang perdana di Tanah Air 11 Agustus lalu itu, terasa sangat lama.

Bahkan, saya harus mem-bookmark beberapa media online yang memuat artikel dan review tentang Tiga Dara. Termasuk, kembali membeli majalah Tempo edisi 8 Agustus dengan cover Freddy Budiman, hanya untuk membaca resensi dari Leila S. Chudori.

Namun, rasa penasaran saya terobati ketika akhirnya drama musikal itu selesai diputar. Ya, sebagai bagian dari generasi millenial, saya bangga bisa kembali melihat Tiga Dara yang sudah direstorasi digital dengan format 4K. Itu karena filmnya jadi jernih, tajam, dan bersuara bening. Seolah membawa saya beserta seisi teater untuk menyelami kehidupan Nunung dan keluarganya pada enam dekade silam.

Jujur, saya sempat kaget respons dari penontono yang berada di sekeliling saya. Seolah mereka terhipnotis menyaksikan penampilan Nenny dan kawan-kawan. Ibarat makanan, Tiga Dara ini gado-gado. Ada kalanya, kami tertawa terbahak-bahak, tersenyum, bersungut-sungut, kesal, kecewa, sedih, hingga patah hati...

Celetukan demi celetukan pun muncul dari penonton berbagai usia yang hadir. Khususnya, yang berusia di atas 60-an yang mungkin ada yang sudah pernah menyaksikan Tiga Dara versi aslinya. Apalagi, dengan aksi Indriati Iskak yang dengan gaya spontanitas dan kelincahannya membuat film ini lebih berwarna.

Dua jempol saya acungkan untuk PT. Render Digital Indonesia yang sudah bekerja keras lebih dari delapan bulan untuk merestorasi Tiga Dara. Maklum, pada awalnya, kondisi fisik dari seluoid Tiga Dara sangat memprihatinkan. Itu akibat jamur termakan usia yang membuat prosesnya jadi sulit. Termasuk, harus dibawa ke Laboratorium L"Immagine Ritrovata, Bologna, Italia.

Namun, setelah jadi, bukan hanya saya dan puluhan penonton satu teater yang bangga dengan hasilnya. Begitu juga dengan kru dan pemain asli yang terharu dengan apa yang sudah dilakukan PT Render Digital Indonesia dan SA Films. Mungkin, di alam sana, Chitra Dewi, Usmar Ismail, Sjaiful Bachri, tersenyum bahagia menyaksikan karya mereka dilestarikan generasi penerus.


*         *         *
DEWI rembulan memancarkan sinarnya dengan kuat. Tidak tampak lagi awan gelap yang menyelimuti ibu kota. Saya dan rekan blogger asyik menikmati hangatnya susu jahe di pelataran Blok M. Ya, dini hari itu, kami memang tidak langsung pulang. Melainkan, nongkrong terlebih dulu di kawasan yang pada 2011-an sempat jadi tempat kumpul antarblogger.

Banyak yang kami perbincangan saat itu. Mulai dari aktivitas sebagai blogger yang kini sudah surut terkait kesibukan masing-masing, dunia politik, olahraga, dan tentunya tentang Tiga Dara. Ya, meski memiliki idola yang berbeda, -saya mengagumi peran Indriati Iskak dan beliau Chitra Dewi- tapi harapan kami tetap sama.

Yaitu, Tiga Dara ini bukan restorasi film klasik Indonesia yang terakhir. Melainkan, sebagai pijakan untuk perfilman nasional ke depannya. Saya pribadi berharap, apa yang dilakukan PT Render Digital Indonesia dan SA Films tidak terhenti di Tiga Dara saja. Alias, masih ada lagi film klasik nasional yang akan direstorasi.

Senang rasanya menyaksikan beberapa penonton yang sudah sepuh tidak beranjak ketika film selesai. Mereka tetap di kursinya menunggu hingga daftar nama yang terlibat dalam Tiga Dara berakhir. Momentum tersebut belum pernah saya alami sepanjang sejarah saya menyaksikan film nasional. Beda lagi dengan film luar seperti superhero Marvel atau DC yang memiliki Post Credit Scene hingga "memaksa" penonton untuk terus menyaksikan sampai selesai.

Ini satu peristiwa. Ini cerita sedih gembira
Ini kasih kami tiga saudara. Kami hidup berkasih mesra
Cuma suatu ketika, sama-sama terpikat asmara
Apa dikata cinta tak terduga, gugur lah iman si tiga dara


Siapa nyana siapa menduga, tiga dara kenal asmara

Siang malam hati merindu
(Rindukan sinar pertama)
Ini kisah tiga dara. Tiga-tiga terpikat asmara
Apalah daya kami yang bertiga, bila mencinta ooo… Tiga dara

*         *         *
Saiful Bahri dan tim sebagai penata musik Tiga Dara

*         *         *
Beberapa penonton tetap bertahan

*         *         *
Poster Tiga Dara di bioskop

*         *         *
Bingkai Foto Tiga Dara di Tugu Kunstkring

*         *         *
Artikel terkait:
*         *         *
- Jakarta, 4 Agustus 2016

4 komentar:

  1. Kalau cerita zaman dulu sih saya seringnya nonton cerita P.Ramlee.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo ga salah, seangkatan deh p. ramlee sama tiga dara, ya mas :)

      Hapus
  2. Ini katanya film layar lebar pertama di Indonesia atau film drama musical pertama di Indonesia iya kah?
    Indriati Iskak cantik banget yak, siapa nya Gerry Iskak ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. garry iskak kalo baca profilnya di media online masih keponakan beliau mbak :)

      Hapus

Maaf ya, saat ini komentarnya dimoderasi. Agar tidak ada spam, iklan judi, obat kuat, penjual gunting kuku, dan sebagainya. Silakan komentar yang baik dan pasti saya kunjungi balik. Satu hal lagi, mohon jangan menaruh link hidup...

Terima kasih :)