TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: #UbahJakarta, MRT Jakarta Bekerja Bersama untuk Layani Publik

Tentang Juventus dan Liga Champions

Tentang Juventus dan Liga Champions
Road to Cardiff: Langkah Si Nyonya Besar untuk Bertakhta Dimulai

Mengupas Sisi Lain dari Sudut Pandang Blogger...

Minggu, 27 Agustus 2017

#UbahJakarta, MRT Jakarta Bekerja Bersama untuk Layani Publik


Pembangunan proyek MRT pada Sabtu, 23 Juli 2016


ADAGIUM lawas mengatakan, tak kenal maka tiada sayang. Perumpamaan itu berlaku bagi saya terkait Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta. Yupz, bagaimana tidak, gara-gara proyek MRT Jakarta Fase 1 yang pada 31 Juli lalu sudah mencapai 76 persen ini, daerah yang saya lewati jadi macet total.

Itu terjadi karena kediaman saya di kawasan kota, Jakarta Barat. Sementara, tempat kerja di Senayan, Jakarta Pusat. Alhasil, setiap berangkat, baik menggunakan sepeda motor, ojek online, atau bus transjakarta, macet tambah parah.

Apalagi, di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman, hingga Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), jadi padat merayap. Maklum, di kawasan tersebut, sedang dibangun Jalur Tanah Fase 1 Lebak Bulus-Bundaran HI.

Terutama dengan pembangunan Stasiun Gelora yang letaknya hanya seperlemparan batu dari lokasi kerja saya. Sudah pasti, macet jadi santapan sehari-hari bagi saya. Hingga, saya sempat berpikir, kenapa sih harus dibangun MRT Jakarta?

Bahkan, saking penasaran, saat libur saya iseng-iseng memotret pembangunan proyek MRT Jakarta. Itu terjadi beberapa kali di sela-sela menikmati indahnya langit-langit ibu kota ketika malam mingguan. Dua di antaranya pada 23 Juli 2016 dan 18 Februari lalu dari jembatan penyeberangan Bundaran HI.


Pembangunan Stasiun Sudirman yang diabadikan pada 18 Februari lalu


*         *         *
PAGI itu, pada awal Juni, cuaca di kota London lumayan sejuk. Namun, bagi saya yang berasal dari negara tropis, sejuknya di ibu kota Inggris itu sama seperti hawa di Puncak, Jawa Barat, atau Batu (Jawa Timur). Alias dingin.

Sambil menunggu bus yang mengantar kami ke Bandar Udara Internasional Heathrow usai menyaksikan final Liga Champions 2016/17 di kota Cardiff, Wales, saya menyaksikan pemandangan yang bagi saya sangat baru.

Itu karena masyarakat di Negeri Ratu Elizabeth itu mayoritas menggunakan transportasi umum. Mulai dari bus, trem, hingga angkutan cepat terpadu yang menyusuri jalan raya, bawah tanah, dan layang. Beda dengan mayoritas kota di Indonesia, yang cenderung kendaraan pribadi, baik sepeda motor maupun mobil.

Seketika, ingatan saya tertuju pada kota kelahiran, Jakarta, yang sangat ruwet. Terutama akibat pembangunan MRT yang bakal beroperasi pada Maret 2019 mendatang. Rencananya, konstruksi pertama Fase 1 selesai sebelum Asian Games 2018.

Alhasil, saya jadi sadar. Di balik pembangunan MRT Jakarta ini ada misi dan visi yang luar biasa. Ya, pepatah mengatakan, selalu ada pelangi setelah badai. Dalam arti, saat ini pembangunan MRT Jakarta memang bikin macet di sebagian ruas jalan.

Namun, jika selesai, tentu MRT Jakarta bakal dinikmati masyarakat ibu kota. Termasuk saya yang kerap menggunakan transportasi umum untuk mengikuti berbagai acara. Mulai dari tugas kantor, event blogger, hingga kondangan.

Ya, bagaimana pun, obat itu memang pahit. Namun, justru menyembuhkan. Itu yang saya rasakan terhadap pembangunan MRT Jakarta dalam jangka panjang. Harus diakui, keberadaan MRT Jakarta kelak bisa mengubah stigma ibu kota sebagai biang kemacetan.

Sudah pasti, itu tidak instan. Secara, kota Roma pun tidak dibangun dalam semalam. Alias, pembangunan MRT Jakarta harus secara bertahap.

Beruntung, hingga 31 Juli lalu, kemajuan proyek MRT Jakarta Fase 1 secara keseluruhan telah mencapai 76 persen. Itu terdiri dari kemajuan proyek stasiun layang mencapai 64 persen dan stasiun bawah tanah (88 persen).

Alias, kurang dari dua tahun lagi, saya dan jutaan masyarakat di Tanah Air bisa menikmati pilihan transportasi baru. Alhamdulillah, setelah puluhan tahun, akhirnya Jakarta punya Subway yang kecanggihannya, tidak kalah dengan berbagai kota di dunia lainnya, termasuk London.

Kehadiran MRT bakal mengubah wajah Jakarta dan Indonesia pada umumnya. Bisa dipahami mengingat Jakarta merupakan barometer bagi setiap kota di Tanah Air. Kesuksesan MRT Jakarta di ibu kota tentu bakal diikuti kota-kota lainnya di seluruh nusantara. Khususnya, Bandung, Surabaya, Medan, dan Makassar, yang menurut saya tingkat kemacetannya setara dengan Jakarta.

Saat ini, MRT Jakarta sedang dalam pembangunan tahap 1 dengan rute Lebak Bulus-Bundaran HI. Fase ini membentang sekitar 10 km struktur layang (elevated) dengan tujuh stasiun layang. Yaitu, Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete Raya, Haji Nawi, Blok A, Blok M, dan Sisimangaraja.

Untuk konstruksi bawah tanah (underground) MRT Jakarta membentang kurang-lebih 6 km. Itu terdiri dari terowongan MRT bawah tanah dan enam stasiun MRT bawah tanah. Mulai dari Stasiun Senayan, Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, Dukuh Atas, dan Bundaran HI.

Yupz, tentu sayatak sabar menantikan selesainya MRT Jakarta. Ibarat orang pacaran, demikian dengan pembangunan MRT Jakarta yang awalnya dibenci tapi juga dirindu. Benar kata orang, benci dan rindu itu setipis kulit ari.

Selengkapnya, bisa disimak pada pada gambar di bawah ini:

Peta Jaringan MRT Jakarta (Sumber: www.JakartaMRT.co.id)

Sementara, untuk infografik terkait MRT Jakarta, bisa disimak pada dua gambar berikut:

Grafik Proyek MRT Jakarta (Sumber: www.JakartaMRT.co.id)

Grafik Stasiun MRT Jakarta Fase 1 (Sumber: www.Jakarta.co.id)

NAH, bagaimana dengan infografis di atas keren kan? Yupz, saya harus mengacungkan dua jari terhadap PT MRT Jakarta atas kerja keras dan kerja cerdasnya selama ini. Proyek yang ground-breakingnya dilakukan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo -kini Presiden Ke-7 Republik Indonesia- ini bakal jadi salah satu pilihan moda transportasi umum bagi masyarakat ibu kota.

Maklum, MRT Jakarta memiliki fasilitas yang lengkap untuk melayani publik. Terlebih, dengan keberadaan jalur bawah tanah yang bagi saya keberadaannya sangat baru di negeri ini. MRT Jakarta menjamin akses sinyal telekomunikasi tetap tersambung meski berada di terowongan. Itu berarti, saya tidak khawatir kehilangan sinyal saat mengirim berita atau laporan pertandingan.

Namun, sebagai blogger yang mengusung asas jurnalistis berdasarkan sembilan elemen Bill Kovach, tentu saya harus menggali informasi lebih dalam dengan banyak sumber. Dalam arti, saya harus kritis terhadap apa yang saya tulis di blog ini.

Itu berarti, saya berusaha turut memberi kritik, saran, dan pendapat yang membangun. Alias, konstruktif, bukan destruktif yang hanya mengkritik tanpa memberi solusi.

Pantangan bagi saya menelan mentah-mentah suatu informasi. Khususnya, agar pembaca blog ini tidak rancu dengan artikel yang saya buat. Bagaimana pun, sebagai blogger, saya bertanggung jawab penuh pada setiap isi di blog ini supaya tidak menyesatkan pembaca.

Salah satunya terkait MRT Jakarta. Menurut saya, di balik berbagai kelebihan, sudah pasti ada kelemahan mendasar. Beberapa di antaranya yang saya catat sebagai berikut:

1. Rutenya Kurang Banyak
MRT Jakarta rencananya memiliki dua rute yang membentang sekitar 110,8 km. Yaitu, Koridor Selatan-Utara (Lebak Bulus-Kampung Bandan) sepanjang 23,8 km dan Koridor Timur-Barat (sekitar 87 km).

Untuk saat ini baru Koridor Selatan-Utara pada fase 1 yang bakal selesai (Lebak Bulus-Bundaran HI). Sementara, Fase 2 (Bundaran HI-Kampung Bandan) direncanakan beroperasi pada 2020. Mengenai Koridor Timur-Barat, akan dikerjakan Oktober 2018 dengan perkiraan rampung pada 2024-2027.

Kebetulan, rumah saya dekat dengan stasiun MRT Jakarta. Saya bebas memilih, mulai dari stasiun Kota hingga Sawah Besar. Nah, pertanyaannya, bagaimana dengan warga yang tinggal di pesisir, misalnya Cilincing yang jauh dari dua koridor tersebut. Atau, di Cipayung, yang sayangnya Jakarta Timur sama sekali tidak tersentuh.

Ini sempat jadi guyonan di antara beberapa rekan terkait Jakarta Timur yang katanya dianaktirikan MRT Jakarta dibanding empat provinsi ibu kota lainnya (minus Kepulauan Seribu yang tentu moda transportasinya harus kapal laut).

2. Kurang Terintegrasi
Ini masih berkolerasi dengan nomor 1. Dalam laman faq MRT Jakarta, memuat, "Khusus untuk Stasiun Dukuh Atas (Jakarta Pusat), akan terhubungkan dengan empat moda raya terpadu lainnya, yaitu Commuterline, LRT, kereta bandara, dan Transjakarta. Namun, di setiap stasiun MRT Jakarta, baik layang maupun bawah tanah, akan terhubungkan dengan area pejalan kaki yang aman dan nyaman. Sehingga, pengguna dapat melanjutkan perjalanannya ke jenis transportasi publik lainnya."

Nah, saya berharap setiap stasiun MRT Jakarta terintegrasi menyeluruh dengan moda transportasi lainnya. Tentu, secara bertahap. Salah satunya dari segi tiket dalam bentuk kartu yang juga bisa digunakan untuk membayar Transjakarta dan Commuterline. Kan asyik tuh, multiguna.

3. Pangkalan Dadakan
Berdasarkan pengamatan saya dalam setahun terakhir, kemacetan jadi masalah klasik bagi ibu kota. Salah satunya dipicu indisipliner dari pengendara. Contoh nyata di Stasiun Kereta Api Palmerah, Jakarta Selatan. Itu sangat semrawut karena di kedua sisi banyak kendaraan mangkal. Baik itu kendaraan pribadi untuk jemputan, angkot, bus, hingga ojek online.

Saya berharap pihak MRT Jakarta tidak menutup mata dengan kondisi seperti ini. Yaitu, mengakomodir keberadaan mereka yang mangkal dengan memberi ruang. Agar, jangan sampai penumpang yang naik atau turun dari MRT Jakarta untuk melanjutkan perjalanan dengan kendaraan pribadi untuk jemputan, angkot, bus, dan ojek online, malah menyebabkan macet.

*         *         *

YUPZ, demikian catatan saya selaku blogger dan juga pengguna transportasi umum terkait MRT Jakarta yang sempat saya benci pembangunannya tapi merindukan keberadaannya. Sebagai warga negara Indonesia, saya bangga akhirnya ibu kota memiliki angkutan cepat terpadu yang canggih seperti MRT Jakarta.

Kelak, pengalaman saya menggunakan MRT Jakarta bakal jadi sejarah tersendiri yang bisa saya ceritakan kepada anak dan cucu. Bahwa, Indonesia, khususnya Jakarta, tidak kalah dengan kota lainnya dalam menyediakan transportasi massal untuk rakyatnya.

*         *         *

Jakarta, 27 Agustus 2017

1 komentar:

  1. Setelah minum obat yang pahit, pasti nanti akan sembuh kan? Hehehe ya betul nanti masyarakat ibukota akan menikmati MRT mau ke sana-sini ga perlu naik kendaraan pribadi lah. Cukup transportasi yang nyaman seperti MRT ini. Mudah-mudahan Jakarta Timur tidak dianaktirikan ya nanti dimudahkan semua aamiin.

    BalasHapus

Maaf ya, saat ini komentarnya dimoderasi. Agar tidak ada spam, iklan judi, obat kuat, penjual gunting kuku, dan sebagainya. Silakan komentar yang baik dan pasti saya kunjungi balik. Satu hal lagi, mohon jangan menaruh link hidup...

Terima kasih :)