TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Yuk, Hadiri Pameran Seni Lukis Jakarta 2015: Rendering Regime di TIM 25 Oktober-13 November

Google Adsense 2016

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya
Ngebolang Menikmati Eksotisnya Kawasan Timur Pulau Jawa

Mengupas Sisi Lain dari Sudut Pandang Blogger...

Senin, 26 Oktober 2015

Yuk, Hadiri Pameran Seni Lukis Jakarta 2015: Rendering Regime di TIM 25 Oktober-13 November




Rendering Regime di Galeri Cipta II


MEMANDANG lukisan membuat orang sejenak melupakan kepenatan yang ada. Bahkan, tak jarang menimbulkan imajinasi tingkat tinggi. Itu mengapa saya, sebagai blogger, tidak pernah bosan melihat berbagai lukisan yang ada. Termasuk mendatangi beberapa pameran, baik yang digelar secara formal atau indie.

Jadi, ketika mendengar Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) kembali menghadirkan Pameran Besar Seni Lukis Jakarta dengan tema "Rendering Regime", saya pun kian antusias. Maklum, pameran yang digelar mulai kemarin, Minggu (25/10) hingga 13 November mendatang itu menghadirkan 30 seniman asal Jakarta.

Tentu, mayoritas di antara mereka tidak saya kenal. Apalagi, acara ini seperti kurang bergairah lantaran sepinya promosi di media. Hingga sehari sebelum pembukaan, di lini masa twitter, facebook, hingga berbagai situs berita terkesan adem-ayem Namun, justru itu yang membuat saya kian penasaran untuk menyaksikan karya-karyanya.

*      *      *
PEMBUKAAN Pameran Seni Lukis Jakarta 2015: Rendering Regime digelar di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki (TIM), Sabtu (24/10). Menurut info yang saya dapat di situs resmi TIM, acaranya berlangsung selama tiga jam sejak 19.00-22.00 WIB. Alhasil, sejak sore harinya, saya sudah merapat di kawasan tersebut.

Acara tersebut diawali sambutan dari Ketua Komite Seni Rupa DKJ 2013-2015, Hafiz Rancajale dan Leonhard Bartolomeus (kurator). Sementara, di Galeri Cipta II menampilkan dua band untuk memeriahkan pameran, yaitu Efek Rumah Kaca dan We Love ABC.

Sekadar catatan, Rendering Regime memang digelar secara serentak di dua gedung TIM. Galeri Cipta III yang bersebelahan dengan studio XXI dan Galeri Cipta II (samping Planetarium Jakarta). Acara ini terbuka untuk umum sejak kemarin (25/10) sampai 20 hari ke depan (13/10). Bahkan, pada Sabtu (31/10 dan 7/11) diselenggarakan tur bersama kurator mulai pukul 14.00-16.00 WIB.

"Tema pameran ini (Rendering regime) merupakan gambaran bagi masyarakat umum luas untuk menyaksikan apa yang tengah dibicarakan seniman masa kini. (Terutama) pelukis sebagai pemegang kekuasaan yang memiliki kemampuan untuk melakukan ekspresi dalam berbagai bentuk, ruang, warna, dan garis," kata Bartolomeus.

Dalam kesempatan tersebut, pria yang akrab disapa Barto ini mengungkapkan, tidak mudah untuk mengumpulkan berbagai pelukis. Itu diakuinya yang sempat mengundang 50 pelukis, namun yang bersedia hanya 30 orang. Mereka dipilih dari beragam gaya, usia, dan latar belakang.

"Rendering bisa diartikan sebagai penciptaan visual, gagasan artistik, dan struktur yang dilakukan seniman. Sementara, Regime merupakan aturan, sistem, atau kondisi yang muncul berkaitan dengan proses penciptaan. (Jadi) Rendering Regime ini bisa dijadikan jawaban bagi pelukis untuk kondisi pemerintah, media, dan masyarakat saat ini yang kerap menampilkan pencitraan lewat media," Barto, menambahkan.

Yang menarik, dalam pameran tersebut bukan hanya sebagai wadah dari pelukis untuk mengkritik kinerja pemerintah dan aktivitas sebagian masyarakat saja. Ternyata, event ini didasari Komite Seni Rupa DKJ pada acara yang sama 39 tahun silam. Tepatnya saat mereka menyelenggarakan Pesta Seni 1974: Pameran besar Seni Lukis Indonesia I.

"(Pameran saat itu) jadi cikal bakal Biennale Seni  Lukis yang kini beralih nama jadi Biennale Jakarta," kata Hafiz menyebut acara seni rupa dua tahunan yang diselenggarakan DKJ. "Tentu, kepengurusan DKJ sekarang tidak bermaksud meromantisir apa yang terjadi pada dekade 1970-an. Hanya, seni lukis kita sekarang terjebak dalam pusaran pasar dan seakan-akan tidak bisa lepas dari dunia dagang. Perlu usaha yang lebih besar dari para pegiat seni lukis untuk mengembalikan kritisme mereka."

*      *      *

"LIONEL Messi-nya mirip ya? Wow... Ada (Cristiano) Ronaldo juga," kata seorang pengunjung yang mengusap lukisan karya Ricky Malau yang dipamerkan di lantai dua Galeri Cipta III. Saat itu, terhampar puluhan lukisan dari cat air yang menggambarkan beberapa tokoh populer. Tak lama, ada seseorang yang  mengingatkan, "Mas, maaf, jangan disentuh kertasnya."

Sebagai orang awam, saya sendiri masih bingung dengan pembagian lokasi pameran tersebut. Sebab, ada perbedaan signifikan antara karya yang dipamerkan di dua tempat berbeda. Untuk di Galeri Cipta III, tampak lebih kalem dengan nuansa seni yang mengingatkan saya dengan beberapa karya pelukis luar. Misalnya, Nyanyian Lalat dari Ito Djoyoatmojo, yang menggambarkan dua sepatu dengan warna oranye dan pink tengah dikerbungi lalat.

Sementara, di Galeri Cipta II, bisa dibilang (mayoritas) lebih vulgar dan kritis. Salah satunya dari KP Hardi Danuwijoyo yang memamerkan karya nyeleneh namun relevan dengan kondisi saat ini. Yaitu, gambar pejabat berwajah singa yang merepresentasikan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama, tengah memasukkan beberapa tikus (koruptor) ke sarangnya (penjara). Di sampingnya, terdapat lukisan pejabat dengan wajah babi yang memegang kantong bertuliskan "Konspirasi Rp 11,2 triliun".

Memandangi berbagai karya yang ada di dua tempat tersebut (Galeri Cipta III dan II) tentu menimbulkan kesan tersendiri bagi setiap pengunjung, termasuk saya. Yang menarik ketika mendengar celetukan atau komentar dari beberapa pengunjung saat melihat ratusan karya lukis. Ada yang kagum, terpesona, garuk-garuk kepala, mengernyitkan kening, hingga tersenyum lepas.

Ya, seni lukis itu memang bervariasi, cenderung abstrak, dan sulit ditebak. Bukan saja tentang siapa yang melukiskannya. Melainkan, apa pesan yang disampaikan melalui hasil lukisan tersebut.

*      *      *

Isi daftar hadir yang masih sepi


*      *      *
Suasana pembukaan di Galeri Cipta III

*      *      *
"Tuh kan, sudah dibilang, tasnya ditaruh dulu sebelum foto"

*      *      *
"Itu (Paul) Pogba atau Neymar?"

*      *      *
"Om (Iwan) Fals bersanding dengan (Lionel) Messi!"

*      *      *
Suasana di lantai satu Galeri Cipta III


*      *      *
"Ciluk... ba!"

*      *      *
Mengingatkan dengan film Final Destination

*      *      *
Gubernur DKI Jakarta pasti tersenyum melihat ini

*      *      *
DPR To*ol?

*      *      *
Ada yang aneh dengan gambar ini?

*      *      *

Penampilan dari Efek Rumah Kaca dan We Love ABC

*      *      *
Sekilas Info:

Pembukaan: Sabtu, 24 Oktober 2015 (19.00-22.00 WIB) di Galeri Cipta III
Pameran: 25 Oktober - 13 November 2015 (11.00-20.00 WIB) di Galeri Cipta II dan III
Tur Bersama Kurator: Sabtu (31/10 dan 7/11) 14.00-16.00 WIB
Tiket: GRATIS!
Alamat: Jalan Cikini Raya No. 73, Jakarta Pusat
*      *      *

Artikel TIM sebelumnya
Yuk, Kunjungi Jerman Fest 2015 di Sembilan Kota Indonesia
Yuk, Hadiri Pameran Seni Patung Pencak Silat di TIM
Pelukis Yayat Yatmika kembali Gelar Pameran Tunggal di TIM
- 100 Tahun Ismail Marzuki 24 Mei 2014

Artikel terkait Seni dan Budaya
- Sisi Lain Basoeki Abdullah dalam Pameran 100 Tahun di Museum Nasional
- Lebih Dekat dengan Jerman di Pameran Budaya Jerman Fest 2015
- Ahmad Tohari dan Apresiasi PAB Terhadap Sastra Indonesia
- ?
Rahasia Ki Manteb Sudarsono saat Mendalang
Riwayat Panjang Lagu Kupu-kupu Malam Titiek Puspa
Museum Nasional dan Saksi Peninggalan Kejayaan Indonesia
Catatan dari Wayang World Puppet Carnival 2013
Yuk, Meriahkan Karnaval Wayang Dunia 2013
Menelusuri Warisan Budaya Nusantara di Museum Wayang (2)Menelusuri Warisan Budaya Nusantara di Museum Wayang 

Catatan dari Wayang World Puppet Carnival 2013
Kasus Pencurian dan Lemahnya Pengawasan Museum di Indonesia
Tapak Tilas Hari Kemerdekaan di Museum Prangko
Yuk, Berkunjung ke Pameran Filateli di Museum Prangko



*      *      *

- Jakarta, 26 Oktober 2015

8 komentar:

  1. Sayangnya di situ tidak nampak lukisanku hahahahhah #ngayal pake banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. hi hi hi

      iya saya lupa, mbak tya ini pan orang yang multi talenta (blogger, pelukis, penulis, wartawan, dll)

      semoga 5-10 tahun ke depan, karya dirimu bisa dipamerin di TIM :)

      Hapus
  2. Masih sibuk dengan kerjaan, ngiler liat semua lukisna itu.
    Ingin sekali berkunjung ke pameran sana :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mas, keren2 lukisannya
      menambah wawasan juga :)

      tenang aja, waktunya masih lama kok, sampe 13 Nov mendatang...

      Hapus
  3. Kebetulan banget nih, rencana awal bulan mau ke Jakarta,.. mampir dulu ah

    BalasHapus
    Balasan
    1. sip mas, pamerannya sampe 13 november nanti
      masih lama waktunya
      hi hi hi

      Hapus
  4. Wah Inshaa Allah mau pulang ke bogor nih, moga bisa nonton pamerannya...bagus-bagus ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. sip mbak, kebetulan durasinya masih lama
      sekadar info, ikut yang dua sabtu ini biar bisa keliling bareng kurator :)

      Hapus

Maaf ya, saat ini komentarnya dimoderasi. Agar tidak ada spam, iklan judi, obat kuat, penjual gunting kuku, dan sebagainya. Silakan komentar yang baik dan pasti saya kunjungi balik. Satu hal lagi, mohon jangan menaruh link hidup...

Terima kasih :)