TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol

Kamis, 08 Mei 2014

JCI Konvoi Scudetto Ke-30

Selebrasi Ratusan Juventini di Bundaran HI


RATUSAN kendaraan Juventini –fan Juventus– membelah malam kota Jakarta. Mereka bukan sedang melakukan demonstrasi atau hura-hura di saat sebagian besar warga terlelap. Melainkan, ratusan Juventini itu sedang merayakan keberhasilan Juventus meraih scudetto ke-30 di Seri A.

Mereka yang tergabung dalam Juventus Club Indonesia (JCI) tengah bersuka cita. Sebab, scudetto tahun ini merupakan yang ketiga beruntun sejak 2011/12. Pencapaian itu, sudah tentu menjadi kebanggaan bagi Juventini di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Sebelum konvoi selebrasi juara yang melewati rute Pancoran-Menteng-Bundaran HI. Terlebih dulu mereka nonton bareng (nonbar) Juventus versi Atalanta. Lapangan futsal Vidi Arena, Jakarta, Selasa (6/5) dini hari WIB jadi saksi kebahagiaan Juventini di Indonesia. Sebab, saat itu Juventus menahbiskan sebagai yang terbaik di Seri A usai membekuk Atalanta, skor 1-0.

Meski, kepastian gelar itu sudah didapat sehari sebelumnya sejak AS Roma ditekuk Catania (1-4). Namun, antusiasme Juventini Indonesia untuk menyaksikan tim kesayangannya bertanding melalui layar lebar tetap tinggi. Itu terjadi pada menit ke-72 setelah Simone Padoin menjadi pencetak gol tunggal kemenangan atas Atalanta.

Puncaknya ketika wasit Andrea De Marco meniup peluit panjang tanda berakhirnya laga. Seketika ruangan Vidi Arena bergemuruh karena teriakan histeris ratusan Juventini. Maklum, skor 1-0 itu membuat Juventus kembali jadi yang terbaik. Bukan hanya musim ini, melainkan juga dalam tiga tahun terakhir sukses melampaui prestasi beberapa rival.

“Ini musim terbaik Juventus di Seri A,” ujar Muhamada Halimi, salah satu Juventini asal Bogor. “Mereka juara tiga kali beruntun dengan melibas AS Roma, Napoli, AC Milan, dan FC Internazionale. Hebatnya lagi, pasukan (Antonio) Conte melakukannya secara murni di lapangan. Tanpa bantuan wasit seperti yang ditujukan tim sebelah.”

Hal serupa dikatakan pentolan JCI chapter Jakarta, Ridwan Abdul Ghany, yang menyebut ini musim spesial bagi Juventus. Lantaran, Andrea Pirlo dan kawan-kawan berhasil meraih scudetto meski pada awal musim sempat tertinggal jauh dari Roma.

 “Saat ini, Juventus sudah lebih tajam dengan keberadaan bomber hebat seperti (Carlos) Tevez dan (Fernando) Llorente. Tidak seperti musim lalu yang mengandalkan lini tengah. Kekurangannya, Juventus belum mampu berbicara di kancah Eropa. Saya berharap, musim depan, target mereka tidak hanya Seri A, tapi juga Liga Champions,” ujar Ridwan.


“Setelah ini, kami juga akan mengadakan nonbar melawan Roma pekan depan. Puncaknya pada duel terakhir menjamu Cagliari akan ada pawai dari JCI dan juga anggota Juvedona (fan Juventus wanita). Untuk konvoi kali ini, kami senang karena berlangsung tertib sepanjang jalan dan seluruh anggota pada memakai helm,” Ridwan melanjutkan.*


*        *        *
Pawai membelah kota Jakarta


*        *        *

Dua Juventini berfoto sejenak...


*        *        *
Artikel ini dimuat di Harian TopSkor edisi 7 Mei 2014

Kamis, 16 Januari 2014

Wawancara Eksklusif Erick Thohir: Saya Percaya Loyalitas Dua Arah

Presiden FC Internazionale, Erick Thohir dengan latar koran TopSkor


JAKARTA – Tidak ada perubahan dalam diri Erick Thohir sejak didaulat sebagai Presiden FC internazionale. Penampilannya tetap low profile dan murah senyum. Saat masuk ruangan, justru Erick menghampiri lebih dulu. “Halo apa kabar? Saya masih ingat Anda sewaktu di London, liputan Olimpiade 2012 kan?” demikian ia menyapa TopSkor.

Erick memang chief de mission kontingen Indonesia di Olimpiade London. Meski di bawah kendalinya Indonesia gagal mempertahankan tradisi emas, rupanya Erick tetap memiliki kenangan terhadap London. Lihat saja  setahun berikutnya, negosiasi membeli Inter banyak dilakukan di kota tersebut. Berikut wawancara TopSkor dengan Erick di Rick's Cafe, Jakarta Selatan (11/1):

Anda sudah fasih berbahasa Italia?

Ooo belum (tersenyum), masih harus belajar. Ini lagi cari guru. Tapi saya sudah punya kamus bahasa Italia.

Sudah berpa kali ke Milan sejak jadi presiden klub?

Berapa ya… antara tujuh atau delapan kali. Pastinya setiap akhir bulan saya ke Milan.

Apa karena tuntutan presiden klub harus selalu mendampingi tim?

Oh tidak. Begini ya, dalam klub itu kan sudah ada struktur. Seperti pelatih, direktur olahraga, direktur pemasaran, direktur keungan, dan lain-lain. Bagi saya, presiden klub lebih memberi perencanaan utama strategi bisnis, memastikan semua visi dan misi diimplemantasikan secara maksimal. Tiap akhir bulan saya cek. Setiap hari juga berkomunikasi dengan manajemen.

Masih saja ada kekhawatiran publik Italia saat klub dikuasai asing…

Mungkin bagi sebagian orang di Italia memang sperti itu. Sebenarnya saya sama saja dengan James Pallott di AS Roma. Meski, mungkin Pallotta masih punya darah Italia.

Anda ingin meniru gaya Pallotta?

Bisa ya, bisa tidak. Sekarang Roma ada di papan atas karena investasi yang dilakukan Pallotta dalam dua sampai tiga musim terakhir. Dalam periode itu, mereka hanya melakukan jual-beli pemain.

Ini berarti Anda ingin mengatakan semua pihak harus bersabar menanti Inter?

Jelasnya memang begitu. Merangcang bisnis tidak bisa satu atau dua bulan sudah jadi. Butuh waktu, apalagi konsep yang saya inginkan seperti kebanyakan klub di Amerika Serikat. Mereka sudah banyak rencana demi mencapai titik seimbang antara klub yang sehat dan prestasi maksimal.

Kurang lebih dua bulan memimpin Inter, Anda merasa klub sudah di jalur benar?

Ya, Inter baik-baik saja. Saya menaruh kepercayaan terhadap manajemen. Situasinya sama seperti di DC United (klub Erick lainnya di Major League Soccer AS). Tapi saya kembali meyakinkan kalau Inter butuh waktu. Kemudian, semua harus tahu ini masih masa transisi, banyak aspek yang harus dikompromikan dan dimaklumi. Kami juga ingin membuka pasar global lebih maksimal.

Sebenarnya, klub sehat menurut Anda itu apa?

Ingat, klub sehat tidak selalu bicara finansial. Struktur klub dari presiden hingga suporter juga harus kuat. Namun, menurut saya Inte sudah benar. Punya sejarah besar dan pemain terbaik. Kami hanya butuh konsistensi.

Sejujurnya Anda memang ingin jadi Presiden Inter?

Tidak, tepikir saja tidak. Dalam negosiasi membeli Inter saya ingin fokus dalam manajemen, jangan jadi simbol klub (presiden). Namun, Massimo Moratti meyakinkan saya bisa jadi presiden dan CEO Inter.

Singkatnya, bursa transfer musim dingin Januari ini tidak akan ada pemain bintang yang datang?

Saya tidak bisa mengatakan begitu. Semua kesempatan saya buka, tapi mungkin disalah artikan banyak media Italia. Pelatih, direktur olahraga, dan personel urusan transfer terus bekerja. Mereka sudah mengantongi beberapa nama. Hanya, tidak akan diumumkan lebih dulu sampai benar-benar sepakat.

Kalau begitu seberapa agresif Inter berburu pemain?

Tetap tidak bisa diprediksi. Bursa transfer di jeda kompetisi ini waktunya pendek. Kami juga harus menghitung kalau pemain masuk di pertengahan musim, bagaimana dengan waktu adaptasinya? Belum tentu pemain langsung nyetel. Bisa terjadi pemain yang kami beli tidak befungsi maksimal. Apalagi kalau pemain yang dibeli berasal dari kompetisi luar Italia. waktu adaptasinya pasti tidak sebentar.

Bisa beri contoh?

Musim panas lalu Inter membeli tiga pemain, Mauro Icardi, Ishak Belfodil, dan Saphir Taider. Menurut saya dari ketiga pemain itu yang maksimal baru Taider. Icardi sering cedera dan Belfodil belum dapat tempat. Padahal mereka sebelumnya juga bermain di Seri A. Jadi, membeli pemain di musim dingin , plus misalnya berasal dari luar kompetisi Italia, bisa muncul risiko tidak terpakai.

Apa target realistis Inter?

Saya sudah sering bilang, Inter harus memperbaik peringakat dari musim lalu. Mungkin target realistis empat besar. Tapi, kita harus lihat pergerakan Napoli, Fiorentina, dan Hellas Verona. Apalagi dalam beberapa laga terakhir Inter terpeleset.

Seberapa Anda kecewa terhadap Inter di klasemen?

Sebagai presiden klub tentu saya kecewa. Mana ada sih yang ingin timnya kalah? Tapi saya tidak boleh melakukan tindakan emosional. Sebab, rencana bisnis klub harus dijaga.

Dengan begitu posisi Walter Mazzarri aman?

Untuk sekarang posisi Mazzarri aman. Ini seperti yang dialami Ben Olsen di DC United. Musim pertama bagus, tapi tahun kedua jeblok. Setelah itu saya panggil dan sampaikan di musim ketiga jangan sampai jeblok lagi. Harus melakukan persiapan yang bagus. Nah, kalau ternyata tahun depan berantakan lagi, baru akan dievaluasi.

Apa ini ada hubungannya dengan loyalitas?

Perlu diketahui, saya percaya terhadap loyalitas dua arah. Loyalitas saya untuk tim dan sebaliknya loyalitas tim untuk saya. Kalau loyalitas satu arah itu sudah biasa. Itu pernah saya tunjukkan ketika gagal membawa kontingen Indonesia meraih medali emas di Olimpiade London. Saya akhirnya mundur dari chief de mission.

Baiklah, pertanyaan terakhir. Jika di akhir musim Javier Zanetti pensiun, Anda akan kasih jabatan apa di Inter?


Itu terlalu dini karena Zanetti masih ingin bermain dan mungkin jadi bek sentral. Zanetti juga selalu mengatakan ingin terus menunjukkan yang terbaik di lapangan.

*      *      *



*      *      *

Saya bersama Erick Thohir


*      *      *


- Wawancara ini dilakukan oleh Redaktur desk Nasional, Ari Dwi Prasetyo dan Choirul Huda yang dimuat di Harian TopSkor edisi Rabu 15 januari 2014

Selasa, 03 Desember 2013

Ketika Polwan Meliuk-liuk di Atas Moge


Foto: Harian TopSkor/Choirul Huda


Mendengar kata Moge atau motor gede, ingatan saya langsung mengarah seperti yang biasa dilihat di tayangan televisi. Misalnya, aktor Lorenzo Lamas yang sukses dalam serial Renegades yang pada dekade 1990-an menjadi tayangan “wajib” remaja, duet Antonio Banderas dan si manis Salma Hayek dalam film Hollywood, Desperado, atau salah satu pegulat Smackdown, The Undertaker.

Kalau dalam negeri, ada Indro Warkop yang terkenal dalam film Chips. Intinya, mereka pantas menunggangi “Si Kuda Besi” karena memang berperawakan tingi besar. Namun, bukan berarti orang yang berpostur kecil atau kaum wanita yang mungil tidak bisa menguasai motor berkapasitas di atas 600-cc tersebut.

Setidaknya, itu yang saya alami ketika menyaksikan atraksi barisan polisi wanita (Polwan) di atas Moge di lapangan Polda Metro Jaya, Minggu (1/12). Tepatnya, ketika salah satu produsen ban ternama dunia, Michelin, menyelenggarakan acara Road Safety Day.

Kebetulan, acara yang berlangsung serentak bersama Car Free Day dan bertepatan dengan Hari Aids Sedunia itu diselenggarakan pagi hari. Jadi, sambil olahraga, saya bisa mengikuti hingga selesai Road Safety Day yang dijadikan kampanye “Keselamatan dalam Berkendara” oleh jajaran Polda Metro Jaya.

Selain atraksi yang dilakukan Polwan di atas Moge, acara itu juga meliputi mengayuh santai sepeda dengan rute Lapangan Polda Metro Jaya - Jalan Jenderal Sudirman - Bunderan Hotel Indonesia. Lalu, atraksi dari komunitas sepeda BMX, parade polisi cilik (Pocil), serta penampilan grup vokal dari Polwan Metro Jaya dan ditutup aksi Alexa, band yang sempat memeriahkan Kompasianival 2011.

Namun, tetap saja tujuan utama saya menghadiri Road Safety Day itu untuk menyaksikan aksi Polwan di atas Moge. Saat itu, belasan anggota  Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya sukses memamerkan keahliannya menunggangi “Si Kuda Besi”. Mereka yang tergabung dalam sub unit Brigade Motor (BM) Satuan Patroli dan Pengawalan begitu luwes meliuk-liuk di atas Moge.

Ada yang melakukannya sendiri sambil lepas satu tangan, dua tangan, berdiri, hingga tiduran. Bahkan, yang menarik ketika dua Polwan mempertontonkan kemampuannya dalam satu Moge. Layaknya aksi teatrikal di pentas drama, mereka menganggap apa yang dilakukannya merupakan hal yang biasa. Itu karena mereka dengan tenangnya mengendarai Moge sambil zig-zag seraya bergantian memegang kemudi tanpa takut terjatuh.

Padahal, pengunjung yang memadati Lapangan Polda Metro Jaya, banyak yang kaget dengan aksi mereka. Tak jarang, aplaus panjang bergema dari pengunjung, terutama kaum pria yang menyaksikan atraksi tersebut. Sebab, kedua Polwan itu unjuk kebolehan ketika Moge yang dikendarai sedang jalan. Tentu, tanggapannya jadi berbeda jika Moge berbagai merek itu dalam keadaan diam, alias sedang diparkir. Lantaran butuh kerja sama yang kuat dari kedua Polwan itu agar bisa seimbang di atas Moge.

Seusai atraksi, Komandan BM, Inspektur Polisi Dua (Ipda) Christin, mengatakan kepada saya, bahwa agar bisa melakukan seperti itu, setiap Polwan harus berani jatuh. Itu karena kegiatan tersebut merupakan santapan sehari-hari mereka yang tugasnya berpatroli di titik utama jalan protokol di Jakarta dan mengawal kendaraan Ibu Negara.

“Sebenarnya, tidak ada kemampuan khusus untuk mengendarai Moge ini. Apalagi, postur tubuh tidak begit berpengaruh, baik pria atau wanita bisa melakukannya. Yang penting, mereka harus siap jatuh kalau latihan agar terbiasa dalam melakukan pengawalan,” tutur Christin.

Artikel ini sebelumnya dimuat di Harian TopSkor edisi Senin, 2 Desember 2013

Edisi cetak Harian TopSkor



Minggu, 03 November 2013

Ketika Polwan Beraksi di Atas Moge

Ketika Polwan Beraksi di Atas Moge

13860262301529454879
Salah satu atraksi Polwan di atas Moge (www.kompasiana.com/roelly87)
Mendengar kata Moge atau motor gede, ingatan saya langsung mengarah seperti yang biasa dilihat di tayangan televisi. Misalnya, aktor Lorenzo Lamas yang sukses dalam serial Renegades yang pada dekade 1990-an menjadi tayangan “wajib” remaja, duet Antonio Banderas dan si manis Salma Hayek dalam film Hollywood, Desperado, atau salah satu pegulat Smackdown, The Undertaker.

Kalau dalam negeri, ada Indro Warkop yang terkenal dalam film Chips. Intinya, mereka pantas menunggangi “Si Kuda Besi” karena memang berperawakan tingi besar. Namun, bukan berarti orang yang berpostur kecil atau kaum wanita yang mungil tidak bisa menguasai motor berkapasitas di atas 600-cc tersebut.

Setidaknya, itu yang saya alami ketika menyaksikan atraksi barisan polisi wanita (Polwan) di atas Moge di lapangan Polda Metro Jaya, Minggu (1/12). Tepatnya, ketika salah satu produsen ban ternama dunia, Michelin, menyelenggarakan acara Road Safety Day

Kebetulan, acara yang berlangsung serentak bersama Car Free Day dan bertepatan dengan Hari Aids Sedunia itu diselenggarakan pagi hari. Jadi, sambil olahraga, saya bisa mengikuti hingga selesai Road Safety Day yang dijadikan kampanye “Keselamatan dalam Berkendara” oleh jajaran Polda Metro Jaya.

Selain atraksi yang dilakukan Polwan di atas Moge, acara itu juga meliputi mengayuh santai sepeda dengan rute Lapangan Polda Metro Jaya - Jalan Jenderal Sudirman - Bunderan Hotel Indonesia. Lalu, atraksi dari komunitas sepeda BMX, parade polisi cilik (Pocil), serta penampilan grup vokal dari Polwan Metro Jaya dan ditutup aksi Alexa, band yang sempat memeriahkan Kompasianival 2011.

Namun, tetap saja tujuan utama saya menghadiri Road Safety Day itu untuk menyaksikan aksi Polwan di atas Moge. Saat itu, belasan anggota  Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya sukses memamerkan keahliannya menunggangi “Si Kuda Besi”. Mereka yang tergabung dalam sub unit Brigade Motor (BM) Satuan Patroli dan Pengawalan begitu luwes meliuk-liuk di atas Moge.

Ada yang melakukannya sendiri sambil lepas satu tangan, dua tangan, berdiri, hingga tiduran. Bahkan, yang menarik ketika dua Polwan mempertontonkan kemampuannya dalam satu Moge. Layaknya aksi teatrikal di pentas drama, mereka menganggap apa yang dilakukannya merupakan hal yang biasa. Itu karena mereka dengan tenangnya mengendarai Moge sambil zig-zag seraya bergantian memegang kemudi tanpa takut terjatuh.

Padahal, pengunjung yang memadati Lapangan Polda Metro Jaya, banyak yang kaget dengan aksi mereka. Tak jarang, aplaus panjang bergema dari pengunjung, terutama kaum pria yang menyaksikan atraksi tersebut. Sebab, kedua Polwan itu unjuk kebolehan ketika Moge yang dikendarai sedang jalan. Tentu, tanggapannya jadi berbeda jika Moge berbagai merek itu dalam keadaan diam, alias sedang diparkir. Lantaran butuh kerja sama yang kuat dari kedua Polwan itu agar bisa seimbang di atas Moge.

Seusai atraksi, Komandan BM, Inspektur Polisi Dua (Ipda) Christin, mengatakan kepada saya, bahwa agar bisa melakukan seperti itu, setiap Polwan harus berani jatuh. Itu karena kegiatan tersebut merupakan santapan sehari-hari mereka yang tugasnya berpatroli di titik utama jalan protokol di Jakarta dan mengawal kendaraan Ibu Negara.

“Sebenarnya, tidak ada kemampuan khusus untuk mengendarai Moge ini. Apalagi, postur tubuh tidak begit berpengaruh, baik pria atau wanita bisa melakukannya. Yang penting, mereka harus siap jatuh kalau latihan agar terbiasa dalam melakukan pengawalan,” tutur Christin.

*     *     *
13860263422084820500
Ratusan masyarakat sebelum mengayuh sepeda santai
*     *     *
13860264331550806602
Aksi komunitas BMX melompati empat hingga 10 orang
*     *     *
1386026493428061882
Polisi cilik (Pocil) berbaris rapi
*     *     *
13860265361841215069
Grup vokal dari Polwan Polda Metro Jaya yang bening-bening
*     *     *
1386026589784129147
Jelang atraksi di atas Moge
*     *     *
13860267081485613315
Dua anggota Polwan mulai beraksi
*     *     *
138602675996741145
Kerja sama menjadi kunci menjaga keseimbangan mereka
*     *     *
1386026840711947376
Usai melakukan manuver dengan berganti pegang kemudi
*     *     *
1386026899923192142
Atraksi Polwan di atas Moge sendirian, bahkan sambil tiduran
*     *     *
*     *     *
Sebelumnya
*     *     *
Foto-foto merupakan koleksi pribadi (www.kompasiana.com/roelly87)

Jakarta, 3 November 2013

Selasa, 09 Juli 2013

Wawancara Eksklusif Dahlan Iskan: Generasi Muda Harus Olahraga


Dahlan Iskan di lobi kanto BUMN 


JAKARTA – Dahlan Iskan, identik dengan olahraga. Itu dibuktikannya sejak menjabat sebagai Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pada 19 Oktober 2011 hingga sekarang. Jauh sebelum itu, pria kelahiran Magetan, Jawa Timur, 17 Agustus 1951 ini sempat menjadi manajer tim sepak bola Persebaya Surabaya. 

Bahkan, meski saat ini disibukannya dengan aktivitas sehari-harinya sebagai seorang Menteri, tidak lantas membuatnya melupakan olahraga. Mantan Direktur Utama PLN ini mengaku tetap membaca berita di media cetak dan online mengenai perkembangan olahraga di Indonesia. 
Berikut petikan wawancara TopSkor dengan Dahlan Iskan.

Bisa diceritakan kisah Anda di seputar olahraga, baik dulu maupun sekarang?

Saya sudah lama mendalami olahraga, bahkan sempat menjadi manajer dan ketua harian tim sepak bola Persebaya Surabaya. Itu sekitar tahun 1980-an.

Di media cetak terdahulu, berita olahraga biasanya selalu menempati halaman belakang. Namun, sekarang sudah menarik dipajang di halaman depan, bahkan banyak beredar harian khusus olahraga, seperti TopSkor. Bagaimana komentar Anda?

Betul. Tapi, sebelum sekarang ini, saya sudah memulainya. Tepatnya ketika saya masih menangani harian umum Jawa Pos pada 1990-an.

Memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat. Anda masih ingat dengan jargon tersebut waktu orde baru? Apakah saat ini masih relevan?

Oh, tentu. Contohnya, saya. Ha ha ha (Tertawa). Intinya, masyarakat harus terus berolahraga, baik sejak masih kecil hingga tua seperti saya.

Menurut Anda,  apakah dunia olahraga Indonesia sudah mencapai titik ideal?

Belum, terutama cabang olahraga. Dulu, waktu masih memegang Persebaya, saya prediksi sepak bola Indonesia akan maju sekitar beberapa tahun mendatang. Tolok ukur saya saat itu adalah pendapatan per kapita negara kita masih sekitar 450 dolar Amerika Serikat (AS) yang akan mengejar Malaysia di kisaran 3.000 dolar. Setelah puluhan tahun kemudian, pendapatan kita sudah melonjak jauh, sekitar 3.500 dolar per kepala. Namun, sepak bola belum juga berprestasi. Berarti itu ada yang salah. Siapa? Tentu pengurusnya!

Banyak BUMN yang menjadi orangtua asuh cabang olahraga, apakah ini memberatkan atau tidak?

Tidak masalah, selama masih berkontribusi dalam sisi positif. Terutama untuk mengembangkan prestasi olahraga di negeri ini.

Bagaimana kisah Anda sehingga bisa menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (PB FOBI)

Berawal dari tahun 1999. Saat itu barongsai belum begitu populer, dan hanya dimainkan oleh etnis tertentu yaitu golongan tionghoa. Nah, saya yang kebetulan memang mengenal dekat dengan mereka, didapuk jadi pengurus hingga ketuanya. Mereka menjadikan saya ketua karena saya sebagai orang luar yang tentu netral, dan dianggap bisa memajukan olahraga barongsai.

Apa target jangka pendek dan panjang FOBI tersebut

Target keduanya tentu menjadikan barongsai Indonesia lebih berprestasi di dunia. Sejak menjabat ketua FOBI hingga kini periode keempat, sudah banyak prestasi yang kami raih. Termasuk juara dunia 2008 di Tarakan, Kalimantan Timur. Selanjutnya, kami ingin barongsai bisa lebih dikenal luas. Saat ini di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) masih sebatas ekshibisi. Ke depannya saya berharap bisa masuk SEA Games.

Anda identik dengan sepatu kets. Secara tidak langsung itu membuat masyarakat terpengaruh untuk ikut berolahraga seperti yang Anda lakukan. Komentar Anda?

Sepatu ini punya banyak cerita (sambil menunjuk inisial DS di sisi sepatunya). Sejak masih jadi wartawan, saya selalu memakainya dan tidak pernah ganti dengan jenis lain.

Termasuk saat mengikuti rapat dengan presiden?

Ya. Beliau sudah mengetahui hal itu sejak lama, jadi tidak ada masalah meski saat rapat sekalipun.

Apakah ada perbedaan olahraga yang Anda jalani dari sebelum operasi hati hingga sekarang?

Saya merasa lebih muda dan lebih bersemangat. (Dahlan Iskan melakukan cangkok hati pada 2007 dari seorang pendonor di Cina yang berusia 21 tahun).

Bagaimana kiat Anda menjaga kesehatan?

Rutin berolahraga dan pola makan yang teratur itu bisa membuat seseorang tetap sehat.

Bisa diceritakan mengenai tanggal lahir Anda yang bertepatan dengan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia?

Saya terlahir dari keluarga petani yang miskin. Orangtua saya tidak ingat tanggal lahir saya, hingga saya sendiri memilih 17 Agustus sebagai hari kelahiran. Saya pilih itu supaya mudah diingat karena bertepatan dengan HUT RI.

Anda dikenal suka melakukan senam pagi di kawasan Monumen Nasional (Monas). Bagaimana awalnya?

Saya melakukan ini sudah hampir satu tahun, sejak menjabat sebagai Menteri BUMN. Kebetulan lokasinya dekat kantor BUMN dan bisa punya banyak waktu.

Apa pesan untuk generasi muda yang terkait dengan olahraga?

Generasi muda saat ini harus mampu berolahraga dengan baik. Sebab, dari olahraga bisa berkesempatan untuk mengharumkan nama baik bangsa di kancah dunia.

*       *       *
Pesan Dahlan Iskan: Generasi muda harus olahraga


*       *       *
Dahlan Iskan melihat-lihat lembaran Harian TopSkor


*       *       *


 
Narsis di mobil dinas Dahlan Iskan
Artikel ini dimuat di Harian TopSkor edisi 8 Juli 2013