TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Mengintip Sisi Lain Faber-Castell

Tentang Juventus dan Liga Champions

Tentang Juventus dan Liga Champions
Road to Cardiff: Langkah Si Nyonya Besar untuk Bertakhta Dimulai

Mengupas Sisi Lain dari Sudut Pandang Blogger...

Jumat, 14 Juli 2017

Mengintip Sisi Lain Faber-Castell

Mengintip Sisi Lain Faber-Castell

Papan nama Faber-Castell di pabrik yang terletak di Kawasan Industri
MM 2001 Cibitung, Bekasi, Jawa Barat
(Klik untuk perbesar foto atau geser untuk melihat gambar lainnya)

FABER-Castell merupakan produsen alat tulis terbesar dan tertua di dunia. Faber-Castell didirikan lebih dari dua abad lampau. Tepatnya, pada 1761 yang kini dikelola generasi kesembilan. Sejak saat itu, Faber-Castell berkembang jadi perusahaan penyedia peralatan sekolah dan kantor.

Termasuk, di Tanah Air yang masuk sejak 1990 dengan nama PT A.W Faber-Castell (Faber-Castell Indonesia). Saya pribadi tidak asing denga Faber-Castell. Sebab, sejak masih kanak-kanak hingga kini mayoritas rekan sebaya memiliki banyak anak, saya merupakan pengguna produknya.

Mulai dari pensil warna saat menggambar di sekolah, pensil 2B untuk ujian, sampai bolpoin yang menemani kegiatan sehari-hari saya di lapangan. Harus diakui jika di kalangan masyarakat umum termasuk saya, Faber-Castell dikenal sebagai brand premium.

Alias, harganya paling mahal ketimbang merek sejenis. Namun, seperti kata pepatah, ada harga tentu ada rupa. Alias, kita membayar apa yang memang pantas kita dapatkan.

*       *       *
PAGI itu, Selasa (11/7) matahari tampak malu-malu untuk memancarkan sinarnya. Dengan mengendarai sepeda motor, saya membelah jalanan ibu kota menuju kawasan Bentara Budaya Jakarta (BBJ), Palmerah Selatan, Jakarta Pusat.

Saat itu sudah berkumpul beberapa rekan kompasianer -julukan untuk penulis Kompasiana- bersama jajaran admin. Yupz, kehadiran saya di BBJ untuk mengikuti Kompasiana Visit ke pabrik Faber-Castell Kawasan Industri MM 2001 Cibitung, Bekasi, Jawa Barat.

Ini merupakan event offline Kompasiana perdana yang saya ikuti sepanjang 2017. Kali terakhir saya hadir di acara Kompasiana saat Kompasianival 2016 pada 8 Oktober lalu yang berlangsung di Gedung Smesco, Jakarta Selatan.

Itu mengapa, ketika registrasi pada 24 Juni lalu, saya menjawab alasan mengikuti Kompasiana Visit ini dengan, "Ingin mengikuti acara offline perdana Kompasiana pada 2017".

Bisa dipahami, mengingat sejak bergabung pada 2010 silam, saya kerap mengikuti acara yang diselenggarakan Kompasiana. Mulai dari Nangkring, Workshop, Blogshop, Kompasianival, hingga Visit ke berbagai pabrik.

Teranyar, pada Faber-Castell yang berbagai produknya sudah tidak asing bagi saya. Nah, di bawah ini rangkaian cerita foto terkait Kompasiana Visit dengan tema #Art4All.***

*       *       *
Kami kumpul di BBJ pada Selasa (11/7) sekitar pukul 07.00 WIB. Seperti biasa, aksi jepret-menjepret jadi ritual wajib. Baik itu selfie, wefie, atau foto berjamaah dengan spanduk Kompasiana Visit Pabrik Faber-Castell. Untuk berbagai foto lainnya, sebagian sudah saya unggah di twitter dengan tagar #FaberCastell, #Art4All, dan #KompasianaVisit.
*       *       *
Di balik suksesnya suatu acara, ada panitia yang berkerja dengan keras dan cerdas. Ini bisa dilihat dari admin dan bagian marcomm yang jemput bola mendata kami serta menyiapkan banner untuk foot bersama.
*       *       *
Menurut aplikasi google maps di ponsel saya, estimasi dari BBJ ke pabrik Faber-Castell sekitar 2,5 jam. Namun, karena padatnya jalanan seperti yang tertera pada GPS dengan warna merah menandai macet membuat kami perjalanan nyaris dua kali lipat. 
*       *       *
Saya melirik waktu di ponsel ketika sampai di pabrik Faber-Castell sekitar pukul 12.30 WIB. Meski lumayan pegal duduk terus di bus, tidak menghalangi antusiasme saya dan belasan rekan Kompasiana lainnya. Tampak, pernyataan dari PT Faber-Castell International Indonesia yang mengingatkan kepadan calon karyawan untuk melamar tidak dipungut biya. PT Faber-Castell International Indonesia merupakan bagian dari Faber-Castell Indonesia bersama PT A.W Faber-Castell (FCI) dan PT Pencil Leads Indonesia.
*       *       *
Dua tamu yang melapor ke petugas keamanan sebelum masuk pabrik. Seperti beberapa pabrik lainnya, PT Faber-Castell International Indonesia mewajibkan setiap tamu yang datang untuk lapor ke petugas keamanan demi kenyamanan bersama. 
*       *       *
PT Faber-Castell International Indonesia sangat memerhatikan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) bagi setiap karyawan. Mereka menyebar papan informasi di berbagai titik yang mudah dibaca 
*       *       *
Papan Informasi Peduli terhadap Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang dipasang di samping pos security dan berbagai dinding pabrik. Termasuk, tips hidup bersih dan sehat. Sekilas, terkesan sepele, tapi ini penting bagi karyawan yang jadi ujung tombak perusahaan.
*       *       *
Saya percaya, rumah yang sehat bisa dilihat dari toiletnya yang mencerminkan penghuninya. Begitu juga dengan pabrik yang memproduksi barang bisa dilihat dari kebersihan toiletnya yang berkolerasi dengan higienis suatu produk. Itu yang saya rasakan usai turun dari bus untuk cuci muka di toilet yang terletak di lantai dua pabrik Faber-Castell.
*       *       *
Faber-Castell mewajibkan setiap karyawan untuk mengimplementasi disiplin 5R. Yaitu, ringkas, rapi, resik, rawat, dan rajin. 
*       *       *
Nah, ini saya sedang memandu rekan-rekan Kompasianer di pabrik Faber-Castell! Upz, ini hanya foto narsis ketika berbincang dengan karyawan Faber-Castell terkait sejarah pabrik di Cibitung yang sudah beroperasi sejak 2003 silam. Ujung-ujungnya, ya saya minta difoto dengan latar belakang pabrik! He he he
*       *       *
Implementasi disiplin 5R terlihat nyata ketika kami bersama perwakilan Faber-Castell melihat langsung proses produksi Connector Pen. Demi keamanan dan keselamatan, baik karyawan maupun tamu diingatkan untuk tidak melewati garis kuning. Sementara, tanda garis merah menunjukkan wilayah terbatas seperti panel listrik dan sebagainya yang hanya boleh ditujukan untuk karyawan atau petugas khusus.
*       *       *
Di pabrik Faber-Castell Cibitung ini memproduksi Connector Pen. Selain di Cibitung, Faber-Castell juga memiliki pabrik lainnya di Bekasi untuk memproduksi pensil.
*       *       *
Rekan-rekan Kompasianer antusias menjelaskan proses produksi Connector Pen dari Factory Manager Faber-Castell Mulyadi Gunawan. Saya baru tahu di balik mahalnya setiap produk Faber-Castell ternyata karena bahan yang digunakan memang eksklusif. Misalnya, untuk pensil, mereka mendapat pemasok dari produsen kayu yang sudah memiliki sertifikasi dari Forest Stewardship Council (FSC).  Setiap pabrik Faber-Castell diuji dengan ISO 9000 yang memiliki standar internasional.
*       *       *
Proses dari hulu ke hilir produk Faber-Castell. Di pabrik Cibitung, menggunakan tinta yang sesuai standar internasional EN71 (non-toxic). Itu mengapa setiap produk Faber-Castell bebas zat berbahaya yang ramah untuk anak. Bahkan, jika tintanya tertelan tanpa sengaja tetap aman. 
*       *       *
Suasana pengepakan Connector Pen yang dilakukan karyawan. Di pabrik Cibitung ini sangat memerhatikan lingkungan. Limbah warna dari Connector Pen dimurnikan lagi sebelum dibuang. Mesin-msinnya juga elektrik yang sesuai standar ISO 9000 dan 14000 yang ramah bagi lingkungan.
*       *       *
Presiden Direktur Faber-Castell International Indonesia Yandramin Halim menjelaskan sejarah panjang Faber-Castell sejak didirikan sejak 1761. Meski kini memasuki era digital, Halim membeberkan fakta, penjualan Faber-Castell terus naik. Maklum, berbagai produk Faber-Castell tetap dipakai setiap hari untuk sekolah atau perkantoran.
*       *       *
Publik Relations Manager Faber-Castle Andri Kurniawan menjelaskan kepada kami maksud dari kampanye #Art4All. Menurut sosok yang sudah jadi Kompasianer sejak 2012 ini, Faber-Castell kerap mengadakan lomba menulis, menggambar, dan workshop untuk anak-anak. Bahkan, hadiahnya tidak tanggung-tanggung, diterbangkan langsung ke Jerman! Beberapa karya lomba juga dibuatkan jadi buku.
*       *       *
Saat sesi tanya jawab, rekan Kompasianer Gaper Fadli melemparkan pertanyaan mengenai berbagai produk Faber-Castell di Tanah Air. Termasuk, pada era digitalisasi sekarang yang ternyata malah tidak berpengaruh pada penjualan Faber-Castle. Bagaimanapun, digital tidak bisa memberi pengalaman yang alami seperti halnya dalam menulis atau menggambar. Apalagi, dunia pendidikan masih menggunakan alat tulis manual.
*       *       *
Presiden Direktur Faber-Castell International Indonesia Yandramin Halim mencontohkan berbagai craft unik yang disusun dari connector pen. Ini yang membuat saya antusias mengumpulkan sisa-sisa connector pen supaya bisa dibikin mobil balap, dinosaurus, hingga Candi Bajang seperti dalam properti di pabrik Faber-Castell.
*       *       *
Ada kekhawatiran terkait tinta warna Faber-Castell. Maklum, di rumah saya memiliki adik yang masih SD yang hobi menggambar. Namun, Presiden Direktur Faber-Castell Yandramin Halim menjelaskan tinta tersebut aman. Bahkan, untuk membuktikannya, dia meminumnya di hadapan media. Yupz, tinta Faber-Castell tidak mengandung toxic yang penggunaannya aman untuk anak-anak.
*       *       *
Yang mengasyikkan, Kompasiana Visit ke pabrik Faber-Castel di Cibitung ini juga turut membawa kami nostalgia! Yupz, itu yang diperlihatkan Rizal, dari Faber-Castell yang mengajarkan kami menggambar cepat dengan berbagai pola. 
*       *       *
Rekan Kompasianer Yayat Daffana mewarnai kumbang dengan berbagai teknik paterning (pola). Beberapa di antaranya yang saya save dalam memori pikiran saya seperti teknik benang kusut (squiggling). Yupz, bagi saya menggambar itu menyenangkan. Bagaimana hasilnya itu urusan lain, yang terpenting proses mewarnainya bikin seru.
*       *       *
Perwakilan Kompasiana memberikan plakat penghargaan kepada Presiden Direktur Faber-Castell International Indonesia Yandramin Halim atas kerja samanya. Semoga jika ada Kompasiana Visit ke pabrik Faber-Castell lainnya, saya kembali ikut. Bagi saya, kehadiran di pabrik Cibitung bukan sebagai wisata edukasi saja, melainkan turut bernostalgia dengan perangkat alat tulis dan gambar yang saat kecil rutin digunakan.
*       *       *
Presiden Direktur Faber-Castell International Indonesia Yandramin Halim memberikan suvenir kepada perwakilan Kompasiana. Yaitu, buku sejarah panjang Faber-Castell edisi terbatas yang dicetak secara eksklusif. Ya, dalam 10 atau 20 tahun mendatang, kunjungan saya ke pabrik Faber-Castell di Cibitung juga bakal jadi sejarah tersendiri yang bisa saya ceritakan kepada anak dan cucu kelak.
*       *       *
Puncak acara dengan foto bersama Kompasianer dengan perwakilan Faber-Castell. Terima kasih untuk Kompasiana yang telah memfasilitasi kami untuk hadir ke pabrik Faber-Castell di Cibitung. 
*       *       *
Foto bersama (lagi) Kompasianer dengan perwakilan Faber-Castell di depan pabrik dengan latar tulisan dan logo Faber-Castell yang ikonik. Oh ya, logo ini merupa dua ksatria yang sedang menunggang kuda sedang bertarung pada era renaissance. Dalam informasi yang saya dapat, logo ini merupakan inspirasi dari Count Alexander zu Castell-Ruderhausen, dengan mengandung arti bahwa kualitas terbaik Faber-Castell dapat mengalahkan semua kompetitor dan pendatang baru. 
*       *       *
Tiada perjamuan yang tak berakhir. Setelah puas berkeliling pabrik Faber-Castell di Cibitung yang dilanjutkan praktek menggambar, akhirnya kami harus kembali ke kediaman masing-masing. Tapi, saya percaya, selama rumput masih menghijau, masih ada pakan untuk kuda itu berlari kencang. Yupz, semoga di lain kesempatan bisa kembali mengikuti Kompasiana Visit bersama Faber-Castell!
*       *       *
Seluruh Foto merupakan Dokumentasi Pribadi
- Jakarta, 14 Juli 2017

1 komentar:

  1. Ternyata ada juga pabrik yang proses produksinya tidak mencemari lingkungan. Semoga ini dapat menginspirasi pelaku produksi lainnya.

    BalasHapus

Maaf ya, saat ini komentarnya dimoderasi. Agar tidak ada spam, iklan judi, obat kuat, penjual gunting kuku, dan sebagainya. Silakan komentar yang baik dan pasti saya kunjungi balik. Satu hal lagi, mohon jangan menaruh link hidup...

Terima kasih :)