TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Kamaratih

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan
PLBN Entikong

Senin, 30 Maret 2020

Kamaratih


Ilustrasi (Foto: www.roelly87.com)


RINAI membasahi ibu kota. Kendati, bulan-bulan ini belum memasuki periode hujan. Beda, dengan Januari dan Februari yang lalu mencapai puncaknya. Banjir di mana-mana.

Jadi teringat masa-masa dulu. Hujan-hujanan menerobos genangan air demi jemput dan antar penumpang, makanan, barang, hingga beli sesuatu. Sungguh, kenangan tak terlupakan.

Tiba-tiba, dari seberang halte yang hanya dilewati segelintir manusia, ada yang mendatangi. Gadis manis yang berlari-lari kecil. Tak lama, sosok tersebut mengeluarkan smartphone, untuk mengetik sesuatu.

Aku pun beriniaiatif menyambutnya. Ternyata orderan kakap. Di atas Rp 50 ribu yang sejak dulu haram untuk dilewatkan.

"Mbak Kamaratih. Ke Ciracas?" aku menyebut nama yang dalam perwayangan dikenal sebagai dewi tercantik. Setara dengan Sumbadra yang merupakan wanita paling cantik. Mereka memiliki pasangan yang juga paling tampan. Kamajaya dan Arjuna yang dijuluki lelananging jagat.

"Iya, saya Ratih. Lho, mas di sini juga? Ga ketahuan ojol?"

"Saya kan pakai jas hujan mbak. Jaket ojol jadi tertutup."

"Oke, mas. Nanti pelan-pelan ya. Saya ga usah pake jas hujan deh. Belum gede."

"Lah, emang siapa yang mau kasih jas hujan?"

"Ih, dasar," gadis tersebut menyahut sambil menyolek pelan pundakku.

"Ha ha ha. Bercanda mbak. Yuk," aku menjawab sambil melanjutkan.

"Jangan lupa helmnya dikunci ya. Kita tidak akan berangkat sebelum bunyi klik."

"Siap, dan!"

*            *            *

JALANAN di utara Jakarta tampak ramai meski baru diguyur hujan. Maklum, untuk waktu, saat ini pukul 23.45, masih sore.

Teringat dulu saat masih ngalong. Aku biasa  memulai saat pergantian hari yang hitungan di aplikasi dari nol. Demi membunuh kebosanan, aku pun bersenandung dengan volume kecil.

"Ingatkah satu bait kenangan
Cerita cinta kita tak mungkin terlupa
Buang semua angan mulukmu itu
Percaya takdir kita aku cinta padamu..."

"Wah, penggemar Dewa 19 nih," Ratih membuka percakapan.

Aku pun menghentikan nyanyian sejenak sambil melirik ke kiri spion.

"Tahu juga mbak?"

"Tak Akan Ada Cinta yang Lain. Pasti tahu dong. Salah satu lagu romantis ciptaan Ahmad Dhani."

"Wah, berarti sama dong. Anak 1990-an."

"Ga juga, mas. Saya malah telat dengarnya."

"Lha, bukannya ini lagu keluar 1994, album Format Masa Depan?"

"Saya justru tahunya pas dibawakan Dewi Dewi. Aransemennya pun beda. Sebelumnya, lagu ini juga dinyanyikan Titi DJ," Ratih, menjelaskan.

Aku pun ingat. Tak Kan Ada Cinta yang Lain, punya beberapa versi. Dewa pada 1994 yang dilanjutkan Titi Dj 1999 dan Dewi Dewi 2007. Selain ketiganya, di laman Youtube bertebaran musisi atau masyarakat awam yang meng-covernya.

Lagu ini sudah lebih dari 25 tahun. Bagi manusia, periode itu merupakan satu generasi. Namun, kedahsyatan lirik dan aransemen tak lekang dimakan usia.

"Sayangnya, Inna keluar lebih awal. Kalau tidak, hingga kini Dewi Dewi masih berkibar di jagat musik Tanah Air. Bahkan, bisa melibas genre pop tak bermutu serta invasi K-Pop," ujar Ratih.

Ya, Dewi Dewi dibentuk Ahmad Dhani lewat Republik Cinta Management (RCM) yang beranggotakan Inna Kamarie, Purie Andriani, dan Tata Janeeta. Namun, Inne keluar pada 2008 menyisaka Purie dan Tata yang membentuk Mahadewi dengan single hit Satu Satunya Cinta. Aku ingat, pernah menjadikan lagu itu sebagai Nada Dering Pribadi (NSP) pada smartphone XpressMusic andalanku.

"Dewi Dewi bukti kegeniusan Dhani. Meski seumur jagung, karyanya masih terasa," ujar Ratih.

"Ya, dekade lalu, masyarakat Indonesia dimanjakan karya-karya berkualitas dari RCM. Sayang, proyek itu seperti tidak terurus seiring Dhani yang mendekat ke politik."

"Iya, sayang banget. Padahal, Dhani itu genius. Salah satu musisi terbaik Indonesia."

"Setuju. Menurut saya, levelnya setingkat dengan Guruh Soekarnoputra, Koes Plus, dan Roma Irama."

"Serius mas? Bagaimana dengan Ariel yang kalau nulis lirik sangat metafora, baik dengan Peterpan maupun Noah. Erros yang bikin lagu Sheila On 7 mudah dicerna? Azis MS yang menjadikan rock jadi puitis bersama Jamrud. Jangan lupakan, Bimbim, mengangkat Slank dari keterpurukan," tutur Ratih dengan bersemangat.

"Ini pandangan saya pribadi ya, sebagai sosok yang menggemari musik Indonesia sejak dulu. Jelas, Dhani ga bisa dikomparasi dengan keempatnya. Bahkan, mereka sama sekali tidak sebanding. Saya penggemar berbagai jenis musik, baik dalam atau luar negeri. Punya album fisik, kaset atau cd dari So7, Peterpan, Jamrud, bahkan Slank yang Tujuh. Namun, secara musikalitas, jelas masih di bawah Dewa, khususnya Dhani," aku menjawab sambil memperhatikan spion kanan dan kiri.

Sebab, di belakang ada tiga sepeda motor yang jalan bergerombol. Feeling-ku merasakan tidak enak. Bisa jadi, mereka begal. Jadi ingat dulu, saat meladeni gerombolan seperti itu yang membuat denyut jantung kini nyaris berdebar saking semangatnya.

Tentu, aku sangat waspada. Sudah pasti, bukan untuk diriku. Sebab, aku tak perlu khawatir terkait keselamatanku. Melainkan, Ratih.

Ya, sejak dulu saat jadi ojol, keselamatan penumpang yang utama. Beruntung, ketiga sepeda motor yang ternyata berisi enam manusia itu hanya lewat. Ternyata, mereka seperti hendak balapan atau tes kecepatan.

Mungkin, tahu ini Jumat dini hari yang tentu jalanan sepi. Apalagi, di kawasan ini yang memiliki trek lurus tapi kalau lewat jam 22, biasanya sunyi.

"Bahaya banget mereka. Pada ga pake helm, jalan ngebut," Ratih, mengungkapkan.

"Biasa mbak. Jalanan ini trek lurus, polisi tidur sedikit, jadi dimanfaatkan mereka untuk balapan."

"Eh, lanjut soal musik dong. Menarik tuh."

"He he he, kepo..."

"Ih, si mas begitu. Perjalanan jauh, sambil ngobrol itu asyik. Ga bikin jenuh, apalagi ngantuk."

"Siap selalu, tuan ratu."

"He he he, Ratu tanpa Mulan, sekarang sudah beda."

"Nah... Lanjut obrolin Dhani."

"Boleh..."

"Terlepas dari kontroversi dan drama keluarganya, bagi saya, Dhani tetap genius."

"Setuju."

"Terkait musisi segenerasinya, Dhani masih lebih unggul. Hanya Slank F13, yang sedikit bisa mendekatinya. Ya, Dhani bisa dibilang lebih besar dari Dewa 19. Namun, Dewa 19 yang membuat nama Dhani jadi besar. Jadi, itu seperti simbiosis-mutualis. Tanpa Dewa 19, tentu Dhani tidak bisa seperti sekarang, legenda. Pun demikian, jika tidak ada Dhani, lagu-lagu Dewa 19 hanya kuat di aransemen tanpa adanya lirik yang puitis."

"Ha ha ha. Susah ya, kalo ngobrol sama fan Dhani. Masnya, terlalu mengidolakan dia."

"Saya sih ga mengkultuskan Dhani. Namun, harus diakui musikalitasnya jauh di atas berbagai musisi era 1989-an hingga sekarang. Bahkan, jika ada superband sekalipun seperti Ariel sebagai vokalis, Erros gitar, Azis drum, dan Bimbim drum..."

"Mirip Ahmad Band?"

"Nah, iya dulu kan ada supergrup juga, Dhani bersama Andra, dua eks Slank, Pay dan Bongky, serta Bimo Netral."

"Bibiku punya kaset tipnya tuh. Jadul banget, ha ha ha."

"Legend tuh mbak. Waktu albumnya rilis, saya masih SD. Ha ha ha."

"Sama mas. Kita satu generasi, kayainya. Ha ha ha,"

*            *            *

MEMASUKI jalan utama ibu kota membuatku mempercepat laju sepeda motor. Aku melirik speedometer di dashboard yang tembus pandang menanjak ke angka 50. Laju yang ideal mengingat di jalur utama ini, kendaraan tidak boleh terlalu kencang. Namun, juga jangan tidak harus pelan banget. Itu mengingat banyak truk besar serta kondiai jalan kerap berlubang hingga membahayakan.

Ratih, mencolek pinggangku, "Mas, jangan ngebut. Santai aja, ga apa-apa."

"Iya, mbak. Ini kecepatan standar."

"Sejak tadi perasaan saya ga menentu. Tiba-tiba merasa nyaman. Namun, kadang ga enak."

"Angin mungkin mbak. Mau berhenti, cari makan dulu? Soalanya, angin malam bahaya bagi kesehatan. Apalagi, kalau perut kosong," ucapku sambil menepikan sepeda motor di depan jembatan legendaris Tanah Air.

"Sebelum balik, saya udah makan. Ga tahu kenapa. Namun, bukan angin. Ya, lanjut deh mas."

"Eh, saya minum dulu mas," Ratih, melanjutkan sambil menepuk pundak saya dengan tangannya yang halus.

Perjumpaan dengan gadis yang mengaku lebih senang disapa Ratih, ini sangat berkesan. Usianya, tidak terpaut jauh denganku, dulu. Sikapnya yang simpatik, ceplas-ceplos, smart, hingga senyumannya yang menggugah jantung ini untuk kembali berdetak.

Namun, siapa sangka, di balik keceriaannya itu, tersirat temaram pada hatinya.

"Tuhan selalu menciptakan sesuatu secara berpasangan. Termasuk, jika itu masalah, tentu ada solusinya," Ratih, bergumam diplomatis.

Aku pun mengangguk saat mendengar penuturannya. Udara setelah hujan memang selalu dingin. Meski, aku sama sekali tak terpengaruh. Namun, aku memelankan kendaraan mengingat penumpang di belakang seperti menggigil.

Ada pemandangan menarik ketika berhenti di lampu merah. Di seberang jalan, terdapat pusat perbelanjaan yang memasang lampu led raksasa berisi poster film yang masuk rangkaian Marvel Cinematic Universe (MCU).

'Black Widow! Tayang mulai hari ini, Kamis, 2020.' Demikian keterangan pada poster berukuran jumbo itu yang  bisa terlihat jelas, meski dari jarak 50 meter sekalipun.

"Akhirnya tayang juga ya, sejak subuh tadi," kata Ratih yang ikut melirik poster tersebut saat tahu aku memandanginya dengan antusias.

"Iya, jadwal awal Mei, di negaranya atau akhir April lalu di Indonesia. Namun, karena ada wabah, jadi diundur beberapa bulan," aku, menjawab.

"Padahal, filmnya seru nih kayaknya."

"Yoi, pembuka fase empat MCU."

"Natasha jadi favorit saya di MCU, di antara beberapa karakter wanita. Meski, wanita, tapi saya suka nonton film superhero juga, baik Marvel atau DC."

"Ebuset..."

"Iya. Serius. Apalagi, Black Widow jadi film MCU kedua dengan karakter utama wanita," Ratih menjawab dengan sayup-sayup akibat suaranya terbawa angin.

"Captain Marvel?"

"Klise. Datar. Kaku. Saya nonton hanya karena ada adegan yang diiringi lagu Come As You Are, aja."

"Nirvana..."

"Iya, mas. Momennya tepat. Namun, hanya itu yang berkesan. Secara keseluruhan, film dan akting Brie ya 'B' aja," Ratih, menerangkan.

"Kalo saya lebih suka aksi Sharon Carter."

"Bukan Wanda? Padahal, Olsen itu seksi habis. Hot banget," ucap Ratih yang tampak menyunggingkan senyumnya hingga dari balik spion terlihat manisnya lesung di pipi kiri. Benar-benar nyaris membuat jantungku berdegup kembali seperti dulu.

"Ga. Emily VanCamp itu ga seksi, tapi manis. Enak dipandang. Meski, kadar kemanisannya masih kalah sama penumpang di belakang saya ini," aku berseloroh yang langsung disambut cubitan di pinggang.

*            *            *

KADANG aneh dengan makhluk hidup bernama wanita. Khususnya yang baru atau belum lama kenal. Sebab, tanpa rasa berdosa, kerap main cubit ke lawan jenis. Mungkin, sebagai simbol keakraban.

Padahal, situasi bisa beda jika pria yang melakukannya. Bisa-bisa diteriaki pelecehan meski bercanda. Namun, itulah keunikan manusia.

"Ojol, kapan aja mas?" Ratih memecah keheningan dini hari tersebut.

"Maksudnya, mbak?"

"Nariknya, dari siang atau malam aja."

"Ga tentu mbak."

"Wow, enak ya. Freelance. Beda sama yang kerja biasa yang jarang liat matahari. Kadang pergi pagi buta dan pulang malam."

"Ya, begitu mbak. Nanya-nanya, emang mau daftar ojol juga?"

"Ga, iseng aja. Saya sepeda aja ga bisa, apalagi naik motor."

"Mau saya ajarin sampe bisa, kapan? Gratis, he he he."

"Kursus ya... Bayarnya?"

"Kan, free."

"Di kolong langit ini, mana ada makan siang gratis, mas."

"Boleh deh bayar. Pakai tiket Black Widow aja ya, kebetulan saya belum nonton."

"Tiket? Berdua gitu, saya dan masnya."

"Yoi..."

"Maunya, si mas itu mah."

"He he he."

"Boleh deh, tapi akhir pekan aja ya."

"Siap."

"Di mana?"

"Nontonnya? Bebas. Kan mbak yang bayarin. Terserah si mbak, waktu dan tempatnya."

"Dasar!" Ratih memotong cepat. "Ajarin motornya. Kalo udah bisa baru traktir nonton."

"Oh... Kirain, nonton dulu baru belajar motor."

"Ih... Kalo kayak gitu mah, si masnya menang banyak atuh."

"Siap, mbak. Oh ya, ini belok kiri, masuk komplek kan?" tutur saya saat melihat maps yang terpasang di dashboard sepeda motor.

"Iya, lewatin aja portalnya. Ini akses masuk dan keluar satu-satunya di komplek yang biasanya dijaga dua security di pos."

"Ga ada orang mbak."

"Mungkin pada keliling. Namun, kawasan ini tergolong aman. Banyak CCTV tersebar di berbagai titik. Termasuk, samping pos."

"Ooh..."

*            *            *

SETELAH belasan meter lewat tikungan, akhirnya sampai depan rumah bergaya kolonialisme. Anggun tapi tergolong seram. Apalagi, jika malam mengingat lokasinya di samping gang buntu.

"Oke, kiri ya mas."

"Siap mbak."

"Bayarnya nontunai ya."

"Oke."

Ratih pun turun sambil membuka helm seraya berkata, "Ga minta nomor hape saya?"

"Buat apa mbak?"

"Serius?"

"Sebagai ojol, saya ga pernah minta nomor hape customer. Kecuali, untuk berjaga-jaga jika opik atau order fiktif terkait pesanan makanan."

"Kan, mau ngajarin saya sepeda motor."

"Oh iya."

"Catat ya, ini nomor saya, mas. 08**********."

"Oke, sudah saya simpan. Baik di kontak hape maupun hati."

"Dasar! Ntar WA ya."

"Siap."

"Mas, ini helmnya susah dibuka?" Ratih bangkit dari duduknya di jok sepeda motor. Kemudian, berdiri sambil menghadap rumahnya."

"Lah, dia bisa masang ga bisa buka. Aneh," ujarku, meledek.

"Macet nih. Udah bisa."

"Lah, si masnya kemana? Motornya juga ga ada. Mentang-mentang bayar nontunai langsung pergi aja."

"Tapi, ga kedengaran suara motornya. 'Mas, mas di mana," Ratih berlari menuju pos untuk memastikan yang disambut dua security.

"Ada apa, mbak teriak-teriak malam begini?" ujar salah satu petugas keamanan bernama Dresta.

Rekannya, Pandu yang awalnya asyik mabar di layar hape pun ikut menghampiri.

"Tadi saya ke sini naik ojol. Tapi, setelah sampe, mas drivernya pergi begitu saja." Ratih, menjawab.

"Lah, bukannya mbak Ratih tadi jalan kaki sendirian sambil nenteng helm?" tutur Drestra.

"Iya, tadi lewat pos tanpa noleh. Bahkan, senyum-senyum sendiri. Saya pikir, mbak lagi teleponan pakai headset," Pandu, menimpali.

"Serius pak Pandu, pak Dresta?" Ratih berkata perlahan yang sama sekali tak percaya dengan apa yang dialami barusan.

"Masa kami bohong, mbak," Dresta, menegaskan.

"Ada CCTV, bisa dilihat sekarang. Nih saya puterin," kata Pandu.

"Jadi, tadi... Tadi, yang mengantar saya, siapa?" Ratih, menjawab dengan pandangan kosong. Tak lama, tubuhnya ambruk. Beruntung, Dresta dan Pandu dengan sigap menyangga agar tubuh Ratih tidak membentur tanah.

Bersambung...


Selanjutnya:
Part II: PoV Ratih
Part III: Marcapada
Part IV: Kenapa Harus Wibisana?
Part V: Sudah


*         *         *


Cerita Fiksi Lainnya:
- Permintaan Terakhir
Langkah Tanpa Wujud di Museum Bahari
Helena
(https://www.kompasiana.com/roelly87/55121782813311bd53bc5fc4/helena?page=all)
- Kado Ultah Terakhir dari Alena (https://www.kompasiana.com/roelly87/5529a0fc6ea834f22e552d24/kado-ultah-terakhir-dari-alena?page=all)
- Pagutan Lembut Sang Gadis...
(http://fiksi.kompasiana.com/cermin/2011/12/13/mirror-pagutan-lembut-sang-gadis-ternyata-421445.html)
- Bersekutu dengan Setan
(http://fiksi.kompasiana.com/cermin/2011/12/16/mirror-bersekutu-dengan-setan-422453.html)
- Kenangan Main Petak Umpet
(http://lifestyle.kompasiana.com/hobi/2013/08/14/kenangan-main-petak-umpet-583688.html)
- Yang Liu
(http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2013/09/21/yang-liu-593693.html)


Artikel Terkait Catatan Harian Ojol (#CHO):
- Tidak Ada Polisi 40%, Ini Alasan Penumpang Enggan Pakai Helm
Punya 2 Paspor, untuk Apa?
Kisah Wanita dengan Blazer Hitam I
PI, PP, dan TA, Ini Daftar Mal yang Kurang Bersahabat dengan Ojol
Setelah 6 Bulan Jadi Ojol
Narik Go-Jek Pakai Suzuki GSX R-150
Pengalaman Daftar Driver Go-Ride Gojek

*         *         *
- Jakarta, 18 Maret 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Maaf ya, saat ini komentarnya dimoderasi. Agar tidak ada spam, iklan obat kuat, virus, dan sebagainya. Silakan komentar yang baik dan pasti saya kunjungi balik.

Satu hal lagi, mohon jangan menaruh link hidup...

Terima kasih :)