TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Tidak Ada Polisi 40%, Ini Alasan Penumpang Enggan Pakai Helm

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan
PLBN Entikong

Rabu, 18 Maret 2020

Tidak Ada Polisi 40%, Ini Alasan Penumpang Enggan Pakai Helm


Ilustrasi ojol dengan penumpang yang sama-sama mengenakan helm
(Foto: dokumentasi pribadi/www.roelly87.com)


KEPALA merupakan organ tubuh yang sangat penting bagi makhluk hidup, khususnya manusia. Itu mengapa, dalam setiap kendaraan, harus disertai alat pengamanan terhadap kepala untuk meminimalkan jika terjadi hal yang tidak diinginkan, terutama kecelakaan. Mobil dengan airbag dan sepeda motor, helm.

Sebagai driver ojek online (Ojol), tentu saja saya menyadari pentingnya penggunaan helm. Tidak hanya untuk pribadi saja, melainkan terhadap penumpang.

Itu mengapa, saya selalu menegaskan kepada customer atau calon cust, untuk mengenakan helm. Tidak ada toleransi untuk itu. Nomor satu helm, diikuti rokok yang haram dihisap penumpang saat saya bonceng, dan penggunaan telepon seluler (ponsel). Untuk rokok, akan saya bahas ada artikel berikutnya. Pun demikian dengan ponsel.


Yang pasti, saya memang mewajibkan penumpang untuk mengenakan helm. Kendati, ada beberapa yang menolak dengan berbagai alasan. Alhasil, tanpa tedeng aling-aling, saya pun memencet tombol "Cancel" di hadapannya.

Bukan bermaksud nolak rezeki. Namun, sangat beresiko membawa penumpang yang tidak mengenakan helm. Sebab, jika terjadi -Semoga tidak- kecelakaan, bukan customer tersebut, suami, istri, Orangtua, anak, atau keluarga, yang disalahkan. Melainkan, saya sebagai ojol yang harus bertanggung jawab.

Sayangnya, mayoritas penumpang yang saya bawa, enggan memakai helm. Tak jarang, harus dipaksa. Bahkan, saya sendiri benar-benar bosan dengan perkataan template kepada penumpang. Alasannya beragam.

"Helmnya dipakai ya, pak, bu, mas, mbak, kak, de, dll."

Selanjutnya, jika sudah mengenakan harua disertai, "Dikunci ya. Kita belum berangkat, jika helmnya belum dikunci."

Bosan, jenuh, dan mumet, sebenarnya. Namun, sebagai ojol, saya memang harus menyampaikam himbauan tersebut.

Saya cukup girang jika cust itu dengan tanggap mengenakan helm dan menguncinya. Hanya, sering juga mendapat cibiran. "Hmm..," katanya, dengan wajah masam.

Pun dengan wajah masam saat menerima helm yang saya sodorkan. Tentu, saya bukan manusia suci yang tidak pernah melakukan pelanggaran. Sebab, saya juga beberapa kali menerobos lampu merah (di kawasan sepi) atau melawan arus. Juga, tidak bermaksud jadi hakim moral.

Namun, wajar jika saya sebagai ojol mewajibkan penumpang untuk mengenakan helm. Selain memang demi keselamatan juga terkait SOP, sebagai mitra aplikator.

Kendati, untuk beberapa hal, saya memaklumi keengganan penumpang. Misalnya, helm agak bau atau basah. Secara, saya cuma bawa satu saja yang dipakai dalam sehari bisa untuk belasan penumpang. Apalagi, jika hujan. Meski saya bawa cover antiair, tetap saja lembab. (#3)

Yang paling parah, jika alasannya karena tidak ada polisi. Bahkan, ini mendominasi! Itu yang saya alami saat melakukan riset atau survei kecil-kecilan, dalan dua pekan lalu. Padahal, helm kan demi keselamatan. Bukan, untuk dipamerkan jika ada polisi.

Bersambung...


Alasan penumpang enggan pakai helm:
40% Tidak ada Polisi/razia
20% Bau, enggan memakai bekas orang lain
13% Tunggu dekat Lampu Merah yang ada CCTV
12% Tidak biasa/jarak dekat (<4 km)
7 % Baru mandi/keramas/khawatir dengan rambutnya
6% Ribet, apalagi harus dikunci
2% Alasan lain (Sakit kepala, ukuran kekecilan, dll)


Responden: 100
Status: Penumpang 99, Calon 1
Durasi: 1-14 Maret 2020
Periode: 15.00-07.00 WIB (tentatif)
Gender: 28 pria, 72 wanita
Usia: 18-60 (perkiraan)
Area: Jakarta Barat, Pusat, Utara, dan Selatan

Artikel Terkait Catatan Harian Ojol (#CHO)
- Punya 2 Paspor, untuk Apa?
- Kisah Wanita dengan Blazer Hitam I
- PI, PP, dan TA, Ini Daftar Mal yang Kurang Bersahabat dengan Ojol
- Setelah 6 Bulan Jadi Ojol
- Narik Go-Jek Pakai Suzuki GSX R-150
- Pengalaman Daftar Driver Go-Ride Gojek

*         *         *
- Jakarta, 18 Maret 2020

1 komentar:

  1. Saya mungkin termasuk salah satu yaa mas.. Alasannya, di depan sini pakkkk wkwkw..

    BalasHapus

Maaf ya, saat ini komentarnya dimoderasi. Agar tidak ada spam, iklan obat kuat, virus, dan sebagainya. Silakan komentar yang baik dan pasti saya kunjungi balik.

Satu hal lagi, mohon jangan menaruh link hidup...

Terima kasih :)