TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Di PLBN Entikong, Kedaulatan Indonesia Terjaga

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan
PLBN Entikong

Rabu, 25 April 2018

Di PLBN Entikong, Kedaulatan Indonesia Terjaga


Tugu Pos Lintas Batas Negara Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat
(Klik untuk perbesar foto dan geser untuk melihat gambar lainnya)


HARGA diri Indonesia sebagai salah satu negara besar di kolong langit ini bisa dilihat dari geliat kehidupan di perbatasan. Salah satunya, di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat yang diresmikan pada 21 Desember 2016.

Dalam peninjauan ke perbatasan dengan Malaysia itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sangat bangga. Sebab, PLBN Entikong yang di bawah pengawasan Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) menjulang dengan gagah.

"Ini masalah kebanggaan, masalah nasionalisme, masalah marabat, dan harga diri kita. Kalau saya tidak mau seperti itu, di sana (Malaysia), saya bisa melihat sangat megah. Sementara, di kita sangat jelek sekali," kata Jokowi seperti dikutip dari laman Setkab.go.id.

Yupz, saya setuju dengan pernyataan orang nomor satu di Bumi Pertiwi ini. Kebetulan, saya jadi saksi dari aktivitas di PLBN Entikong pada Selasa (24/4). Bagi saya, perbatasan seluas 10 hektar ini tidak sekadar mentereng saja dengan penampilan fisik dari berbagai bangunan yang ikonik sekaligus instagrammable.

Alias, sedap dipandang untuk diabadikan melalui kamera dan diunggah ke media sosial. Bahkan, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) sempat membuka lomba foto di PLBN Entikong pada 2017 lalu.

Melainkan juga, PLBN Entikong ini jadi jati diri Indonesia. Ya, selain bangunan yang megah, Sumber Daya Manusia (SDM) sudah bekerja keras dan cerdas. Mereka sangat disiplin menjaga perbatasan yang jadi pertaruhan harga diri Indonesia.

*        *        *

PAGI itu, dingin menusuk kami yang menginap di salah satu hotel di kota Balai Karangan, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Saat itu, arloji di tangan kanan sudah menunjukkan pukul 03.30 WIB.

Meski kantuk masih menyerang, tapi mengingat agenda sepanjang hari membuat saya sangat bersemangat. Yupz, situasi ini mirip dengan dua tahun lalu ketika mendaki Gunung Bromo yang harus mengarungi lautan pasir sejak pukul 02.00 WIB (Artikel sebelumnya Ke Bromo, (Aku) kan Kembali).

Usai membasuh wajah, saya menuju parkiran untuk bergabung dalam rombongan yang berjumlah 14 orang. Yupz, kemarin jadi puncak rangkaian kegiatan saya bersama Sekretariat Kabinet (Setkab). Di parkiran, sudah menunggu tiga rekan blogger, Dewi Nuryanti, Monicaoctavia Anggen, dan Terry Endropoetro yang hadir berkat arahan dari Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung. Selain itu, juga ada perwakilan dari tiga instansi berbeda.

Empat di antaranya dari Setkab yaitu, Kepala Bidang Pelayanan dan Diseminasi Informasi Setkab Mita Apriyanti, Said Muhidin (Kepala Bidang Pengelolaan Informasi), Kurniawati (Kepala Subbidang Data dan Informasi), dan Dhanykurniawan Pamungkas (Kepala Subbidang Penghubung).

Dua lagi meliputi BNPP pusat dan Hubungan Masyarakat (Humas) Kabupaten Sanggau yang masing-masing tiga orang.

Kurang dari seperminuman teh, kami pun tiba di PLBN Entikong yang disambut segenap staf. Menurut mereka, pintu pos bakal dibuka tepat pukul 05.00 WIB dan ditutup 17.00 WIB. Saya melirik arloji, jarum jam masih menunjukkan angka 04.15 WIB.

Alias, masih ada 15 menit lagi untuk melihat lebih dalam situasi di PLBN Entikong. Termasuk, berbincang dengan warga yang ingin melintas ke negara tetangga. Dalam catatan saya saat itu, mayoritas ingin menyeberang ke Malaysia. Sisanya menuju Brunei Darussalam.

"Kami baru belanja di Ponti (Pontianak) mengambil kiriman dari Jakarta dan Bandung untuk dijual lagi ke Kuching. Kami tiba selepas Isya, jadi sempat tiduran sejenak di bus hingga menunggu pintu (PLBN Entikong) dibuka," kata Noor Ridwan, warga Malaysia yang nyaris sepekan sekali melintas di dua negara.

Pria usia pertengahan ini bersama keluarganya memang tidak asing dengan Indonesia. Itu karena mereka masih memiliki pertalian darah dengan Merah-Putih. Ridwan menganggap, Indonesia sebagai negara keduanya.

"Kakek dan nenek serta sebagian eyang dari istri berasal dari Jawa. Ada yang Cirebon, Pemalang, dan Salatiga. Sebagian lagi dari Sosok (Kalimantan Barat). Jadi, kita sudah biasa dengan rutinitas seperti ini," Noor, melanjutkan.

Di sisi lain, Wulan Arifin menyeberang karena tugas dari perusahaannya di Pontianak yang memiliki koneksi di Miri (salah satu kota di negara bagian Serawak, Malaysia). Wanita berusia seperempat abad ini bangga dengan dibangunnya PLBN Entikong yang berdiri gagah dan dilengkapi teknologi terkini.

"Dulu, ketika masih sekolah, saya sering mengunjungi kerabat di Kuching. Dekade 2000-an mah jauh banget dari sekarang. Waktu itu, dari segi fisik, bangunannya saja kayak bumi dan langit jika dibandingkan dengan Tebedu (PLBN-nya Malaysia). Alhamdulillah, sejak dibangun 2016 lalu, kini kita ga kalah dengan Malaysia," Wulan, mengungkapkan.

*        *        *
PLBN Entikong jadi salah satu dari tujuh pos di perbatasan yang dibangun pada era pemerintahan Jokowi. Itu membuktikan keseriusan dari pria 56 tahun tersebut. Sesuai arahan Jokowi, bahkan BNPP bersama Kementerian terkait, termasuk Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR) sudah mengembangkan PLBN Entikong tahap 2 (Artikel selanjutnya).

Itu meliputi dua zona:

1. Zona Sub Inti
- Karantina Kesehatan dan Kantor
- Mes Pegawai
- Masjid
- Car Wash
- X-Ray
- Fasilitas Penunjang

2. Zona Pendukung
- Pasar Tradisional
- Wisma Indonesia
- Convention Store
- Hardscape & Landscape

"Saat ini, sudah dalam tahap pengerjaan sejak 16 Desember 2016. Rencananya, rampung pada 1 Oktober 2019. PLBN Entikong Tahap 2 ini dikerjakan kolaborasi dari Adhi (Karya) dan Hutama (Karya). Luas lahan mencapai 10,26 Ha dan bangunan 19.431 meter persegi," ujar Kepala Pengelola PLBN Entikong Viktorius Dunand dalam audiensi dengan kami.

Dalam kesempatan itu, turut hadir berbagai pimpinan dan staf PLBN Entikong. Mulai dari bagian pengamanan, kebersihan, karantina, kesehatan, bea cukai, dan sebagainya. Mereka turut meminta masukan, kritik, dan saran, dari kami yang mewakili netizen Setkab.

Termasuk, mengajak kami untuk mengunjungi pos Tebedu yang dikelola Malaysia. Secara kasat mata, saya melihat dari segi fisik, PLBN Entikong sangat gagah. Sebelumnya, kami dan pimpinan PLBN, perwakilan Setkab, BNPP, dan Pemprov Kabupaten Sanggau turut diperiksa dari petugas keamanan PLBN Entikong. Yupz, ini petugas keamanan PLBN Entikong, bukan Tebedu.

"Ini standardisasi di setiap PLBN, termasuk di Entikong ini. Siapa pun itu, baik warga biasa, pejabat, dan sebagainya, yang ingin melintas ke Malaysia serta sebaliknya harus melewati pemeriksaan. Termasuk, jika ada jenazah warga negara Indonesia dan Malaysia. Ini sebagai antisipasi terkait peredaran narkoba. Jika hasil scan menyatakan aman, baru bisa melintas," tutur Kasubbid Administrasi Umum PLBN Entikong Nano Pujianto yang turut mendampingi kami.

Yupz, saya sangat setuju dengan sikap tak pandang bulu dari PLBN. Sebab, ibarat rumah, perbatasan merupakan halaman depan (Artikel terkait Membongkar Rahasia Bea Cukai)

Sikap tegas ini untuk mengantisipasi adanya barang terlarang seperti narkoba, senjata api, obat, dan sebagainya dari negara tetangga ke Tanah Air. Begitu juga sebaliknya, agar dari kita tidak mengekspor sesuatu yang terlarang hingga mencemarkan nama baik Indonesia.***

*        *        *
PLBN Entikong buka pukul 05.00 WIB dan tutup 17.00 WIB

*        *        *
Warga yang ingin melintasi perbatasan menuju Malaysia dan Brunei

*        *        *
Fungsional Umum BNPP Teguh Leksono dan Staf PLBN Entikong
Rica Merinata menyimak antrean warga menuju bagian imigrasi

*        *        *
Pemeriksaan kepada setiap warga. Sementara, lanjut usia dan
disabilitas dilakukan di ruangan terpisah

*        *        *
Memfilter berbagai barang yang akan keluar dan masuk

*        *        *
Salah satu jenazah warga Indonesia yang turut diperiksa lebih lanjut

*        *        *
Pemeriksaan di PLBN tidak pandang bulu untuk mengantisipasi hal-hal yang
tak diinginkan

*        *        *
Beli oleh-oleh di salah satu pasar di Malaysia yang tidak jauh dari pos Tebedu

*        *        *
PLBN Entikong berdiri megah dilihat dari kawasan Malaysia

*        *        *
Prasasti PLBN Entikong diresmikan Presiden Joko Widodo pada
21 Desember 2016

*        *        *
Audiensi dengan pimpinan PLBN Entikong terkait situasi saat ini dan
pengembangan PLBN Entikong Tahap 2

*        *        *
Swafoto jadi ritual wajib sebagai blogger dalam setiap kunjungan ke daerah

*        *        *

SEKADAR informasi, kunjungan ke PLBN Entikong ini merupakan proyek perdana Setkab dengan menggandeng netizen. Alias, ke depannya, Kementerian yang bermarkas di Jalan Veteran 18, Jakarta Pusat, ini bakal lebih sering mengajak blogger dan pegiat media sosial untuk mengunjungi perbatasan.

Yupz, siapa tahu, setelah saya dan tiga rekan mengunjungi Entikong, giliran kalian yang mendapat kesempatan. Misalnya, ke perbatasan Indonesia dengan Timor Leste dan Papua Nugini. Sebagai gambaran, bisa disimak bocoran dari Setkab:

Website: www.Setkab.go.id/WargaNetkePerbatasan
Facebook: @setkabgoid
Twitter: @setkabgoid
Instagram: @Sekretariat.Kabinet
Youtube: Sekretariat Kabinet RI
Tagar: #MenujuIndonesiaMaju#WajahBaruPerbatasan

*        *        *

Artikel ini merupakan bagian dari Seri Kunjungan ke PLBN Entikong
Catat, Setkab Selenggarakan Lomba Medsos Berhadiah Rp 107 Juta!
(Teaser) Melongok Wajah Baru Perbatasan Indonesia dengan Malaysia
Pelangi yang Indah Bersinar di Sanggau

Artikel Selanjutnya:
- Geliat Ekonomi Kerakyatan dalam PLBN Entikong Tahap 2
- Di Indonesia Bayar dengan Ringgit, di Malaysia Pakai Rupiah
- Di Balik Kunjungan ke PLBN Entikong

*        *        *
- Pontianak, 25 April 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Maaf ya, saat ini komentarnya dimoderasi. Agar tidak ada spam, iklan obat kuat, virus, dan sebagainya. Silakan komentar yang baik dan pasti saya kunjungi balik.

Satu hal lagi, mohon jangan menaruh link hidup...

Terima kasih :)