TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: (Teaser) Melongok Wajah Baru Perbatasan Indonesia dengan Malaysia

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan
PLBN Entikong

Senin, 23 April 2018

(Teaser) Melongok Wajah Baru Perbatasan Indonesia dengan Malaysia


Saya bersama tiga rekan netizen dan perwakilan Setkab
(Foto: Istimewa/ Dokumentasi www.roelly87.com)


PERBATASAN merupakan halaman dari suatu negara. Ibaratnya, pori-pori dalam wajah kita. Tentu, perbatasan harus dijaga dan dikelola dengan baik. Itu yang ditegaskan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam berbagai kesempatan terkait perbatasan Indonesia dengan negara tetangga.

Termasuk, ketika meresmikan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) di Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, pada 21 Desember 2016. Dalam kunjungan tersebut, presiden bangga dengan dibangun ulang PLBN Entikong.


"Ini masalah kebanggaan, masalah nasionalisme, masalah marabat, dan harga diri kita. Kalau saya tidak mau seperti itu, di sana (Malaysia), saya bisa melihat sangat megah. Sementara, di kita sangat jelek sekali," kata Jokowi seperti dikutip dari laman Setkab.go.id.

"Saat itu juga saya perintahkan Menteri PU (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) dalam seminggu harus diruntuhkan. Saya minta dua tahun harus lebih baik dari yang dimiliki Malaysia. Ini sebuah kebanggaan yang ingin kita bangun. Bahwa, kita ini negara besar."

Yupz, saya sangat setuju dengan pernyataan presiden. Sebab, di perbatasan terdapat pertaruhan dari harga diri kita. Supaya, Indonesia tidak diremehkan negara tetangga. Terbukti, baru dua tahun Jokowi menjabat sebagai presiden, sudah ada tujuh PLBN yang dibangun dengan megah.

"Nyatanya kita bisa kan? Ada tujuh pos lintas batas yang kita bangun. Asal punya niat, asal ada kemauan, pasti bisa. Tidak ada yang tidak bisa kita buat," presiden, menegaskan.

*         *         *

SIANG itu, jalanan ibu kota tampak lenggang. Sambil menumpang transportasi online, saya menuju  Bandar Udara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banteng, Minggu (22/4). Usai tiba di Teriminal 3 Ultimate, saya bergabung dengan tujuh orang lainnya untuk mengunjungi PLBN Entikong.

Tiga di antaranya sudah saya kenal karena kerap bertemu di acara blogger. Yaitu, Dewi Nuryanti, Monicaoctavia Anggen, dan Terry Endropoetro. Sementara, empat lainnya perwakilan dari Kementerian Sekretariat Negara (Setkab).

Itu meliputi Kepala Bidang Pelayanan dan Diseminasi Informasi Setkab Mita Aprianti, Said Muhidin (Kepala Bidang Pengelolaan Informasi), Kurniawati (Kepala Subbidang Data dan Informasi), dan Dhanykurniawan Pamungkas (Kepala Subbidang Penghubung).

Bagi saya, suatu kehormatan bisa ikut serta untuk meninjau langsung PLBN Entikong. Ini bakal jadi salah satu pengalaman berkesan saya dalam lebih dari seperempat abad di muka bumi. Memang, sebelumnya saya sudah mengunjungi empat dari lima pulau besar -minus Papua- di Indonesia (Artikel sebelumnya http://www.roelly87.com/2017/01/yuk-tandai-provinsi-di-indonesia.html).

Baik saat bekerja dahulu, sebagai peliput, dan blogger. Namun, sejauh ini hanya menyasar kota-kota besar atau terkait stadion serta venue olahraga. Atau paling banter menyasar pedalaman untuk menemukan emas hitam.

Untuk perbatasan, ini jadi yang perdana. Tentu, saya berharap selanjutnya bisa ikut serta dalam meninjau perbatasan dengan Timor Leste atau Papua Nugini. Yupz, masa depan tidak ada yang tahu. Termasuk, ketika terpilih sebagai salah satu dari netizen yang berangkat ke PLBN Entikong, siang nanti.

Itu berawal ketika saya menghadiri peluncuran Lomba Media Sosial #MenujuIndonesiaMaju pada 26 Maret lalu (Artikel sebelumnya http://www.roelly87.com/2018/04/catat-setkab-selenggarakan-lomba-medsos.html).

Ketika itu Seskab Anung Pramono melontarkan wacana untuk mengajak netizen mengikuti Rapat Terbatas (Ratas) atau kunjungan yang dilakukan kementeriannya. Tentu, ide dari pria asal Kediri, Jawa Timur itu disambut antusias puluhan netizen yang hadir di Aula Serbaguna Kementerian Sekretariat Negara, termasuk saya.

Bisa dipahami mengingat saya kerap mendengar kabar burung, rumor, atau isu tak sedap dari sumber yang tidak terverifikasi tapi viral tentang kehidupan di perbatasan. Yaitu, terkait transaksi sehari-hari menggunakan ringgit yang merupakan mata uang Malaysia dibanding rupiah.

Sebagai blogger yang menganut asas jurnalistik berdasarkan sembilan elemen Bill Kovach, tentu saya enggan menelan mentah-mentah kabar burung yang tidak terverifikasi itu. Alias, mendekati hoax. Di sisi lain, saya sulit membuktikannya mengingat saya belum pernah menginjakkan kaki di Entikong.

Jadi, kunjungan ke PLBN Entikong ini saya sambut dengan penuh antusias. Sekaligus, sebagai bagian dari rakyat Indonesia, berusaha untuk memberi informasi kebenaran dari kehidupan di perbatasan.

Bagaimana caranya? Ya, lewat blog di www.roelly87.com ini atau di berbagai platform media sosial (facebook, twitter, dan instagram).

Yupz, adagium lawas mengatakan, banyak jalan menuju kota Roma. Pun, sebagai warga negara, banyak cara untuk mendukung kinerja pemerintah. Termasuk, lewat blog atau media sosial untuk membendung kabar-kabar yang tak terverifikasi kebenarannya.


*         *         *
PESAWAT Boeing 737-800 yang dimiliki Garuda Indonesia mendarat mulus di Bandar Udara Supadio, Pontianak, tepat pukul 17.25 WIB. Alias, tidak sampai dua kali seperminuman teh kami berada di langit-langit nusantara.

Bagi saya, penerbangan ini relatif singkat. Bahkan, Murder on the Orient Express yang saya saksikan dari kursi maskapai pelat merah ini belum juga memperlihatkan aksi Hercule Poirot dalam mengungkap kasus di kereta.

Ketika menengok ke kiri, tampak matahari terlihat malu-malu. Yupz, akhirnya saya tiba di bumi Borneo untuk kali pertama sejak satu dekade silam. Selanjutnya, kami menuju pusat kota untuk beradaptasi dengan lingkungan setempat.

Misalnya, dengan merasakan kuliner khas provinsi tersebut atau Pontianak didampingi perwakilan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Barat dan Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP).

Mulai dari Mie Tiaw Baiduri nan legendaris di Jalan Pattimura yang sudah berdiri sejak 1976 alias jauh sebelum saya ada di kolong langit. Setelah itu dilanjutkan untuk melongok sentra oleh-oleh Kalimantan Barat di Jalan Pattimura.


Selesai? Belum! Kami masih asyik menikmati wisata kuliner di Kota Khatulistiwa. Termasuk, mencicipi aneka pisang goreng yang lezat dan kaya rasa di Warung Kopi Winny yang terletak di Jalan Gajah Mada.

Usai beradaptasi dengan kuliner lokal dan mendapat informasi terkait Kalimantan Barat, khususnya mengenai kehidupan di perbatasan, kami pun berkemas menuju hotel yang masuk jaringan Accor. Beristirahat sejenak untuk mempersiapkan diri menempuh perjalanan menuju Entikong.

Yupz, melongok wajah baru perbatasan demi menuju Indonesia maju.***
*         *         *
Senja di provinsi seribu sungai...

*         *         *
Wisata kuliner di Pontianak sebagai bagian dari adaptasi

*         *         *
Mie Tiaw Baiduri sudah berdiri sejak 1976

*         *         *
Yeeeeeeeee, akhirnya merasakan Mie Tiaw yang legendaris!

*         *         *
Menengok sentra oleh-oleh khas Kalimantan di kawasan Jalan Pattimura

*         *         *
Meski alergi ikan atau masakan laut, tetap penasaran menyaksikan
berbagai oleh-oleh ini

*         *         *
Berbagi informasi terkait PLBN Entikong sambil menikmati malam di ibu
kota Kalimantan Barat di Warung Kopi Winny

*         *         *
Yupz, pisang khas dengan balutan srikaya dan keju yang memesona

*         *         *

SEKADAR informasi, kunjungan ke PLBN Entikong ini merupakan proyek perdana Setkab dengan menggandeng netizen. Alias, ke depannya, Kementerian yang bermarkas di Jalan Veteran 18, Jakarta Pusat, ini bakal lebih sering mengajak blogger dan pegiat media sosial untuk mengunjungi perbatasan.

Yupz, siapa tahu, setelah saya dan tiga rekan mengunjungi Entikong, giliran kalian yang mendapat kesempatan. Misalnya, ke perbatasan Indonesia dengan Timor Leste dan Papua Nugini. Sebagai gambaran, bisa disimak bocoran dari Setkab:
Website: www.Setkab.go.id/WargaNetkePerbatasan
Facebook: @setkabgoid
Twitter: @setkabgoid
Instagram: @Sekretariat.Kabinet
Youtube: Sekretariat Kabinet RI
Tagar: #MenujuIndonesiaMaju, #WajahBaruPerbatasan

*         *         *
Artikel ini merupakan bagian dari Seri Kunjungan ke PLBN Entikong
- Pontianak, 23 April 2018

4 komentar:

  1. Ya ampun, ga capek apa mie tiaw itu berdiri terus sejak tahun 1976 ya *ehh, mbok ya disuruh duduk, kan kasihan. Halah oot :)

    BalasHapus
  2. Yeaaaay Mas Choirul (pake C loh ya) bisa jalan jalan bermanfaat ke perbatasan. Smoga perjalanan ini dapat memberikan informasi bhw pemerintah tdk hanya fokus pada pembangunan di Jawa dan kota besar saja tp juga memperhatikan perkembangan pelosok tanah air termasuk perbatasan.

    BalasHapus
  3. Terimakasih mas Choirul, tulisan nya Luar biasa Inspiratif. Salam dari Perbatasan

    BalasHapus
  4. Terimakasih mas Choirul. Tulisan nya sangat Inspiratif. Salam dari Perbatasan mas Choirul

    BalasHapus

Maaf ya, saat ini komentarnya dimoderasi. Agar tidak ada spam, iklan obat kuat, virus, dan sebagainya. Silakan komentar yang baik dan pasti saya kunjungi balik.

Satu hal lagi, mohon jangan menaruh link hidup...

Terima kasih :)