TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Di Kota Tua Mereka Terpana

Google Adsense 2016

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya

Jelajah Bromo, Malang, dan Sekitarnya
Ngebolang Menikmati Eksotisnya Kawasan Timur Pulau Jawa

Mengupas Sisi Lain dari Sudut Pandang Blogger...

Rabu, 29 Oktober 2014

Di Kota Tua Mereka Terpana



JAKARTA – Arjen Robben berdiri di sisi kanan kaca bus. Sementara, Dirk Kuyt terus mengumbar senyum. Begitu juga pemain lainnya. Mereka takjub melihat ribuan orang di kawasan Kota Tua, Jakarta, kemarin. Dari balik kaca bus, mereka terus memotret.

Bus yang membawa sebagian besar skuat Belanda itu hanya singgah 15 menit. Tidak juga sempat turun bus. Hanya melihat Museum Fatahillah dari kejauhan. Sebuah gedung yang pernah jadi pusat pemerintahan kolonial Belanda. Bangsa yang menjajah Indonesia selama 3,5 abad.

Di dalam bus, di depan gedung yang pembangunannya diprakarsai Gubernur Jendral Jan Pieterszoon Coen pada 1620 itu, pandangan Dirk Kuyt dan kawan-kawan seolah terpana menerawang jauh ke belakang. Bahwa leluhur mereka pernah jadi penguasa kolonial di negara yang sekarang sedang mereka pijak. 

Meski skuat Belanda tidak turun, antusiasme warga tetap tidak berkurang. Memang ada sedikit kekecewaan. Terutama karena mereka sudah menanti di depan Museum Fatahillah sejak pukul 06.WIB.

Nasir, salah satunya. “Kalau pemain Belanda masuk ke dalam museum, mungkin mereka bisa tambah takjub. Karena begitu banyak peninggalan pendahulu mereka di dalam museum,” Nasir yang datang memakai baju timnas Belanda.

Walau begitu kekecewaan Nasir dan ribuan pengunjung lainnya tidak berlangsung lama. Sebab mayoritas pemain Belanda sangat ramah dan terus coba berinteraksi, meski dibatasi kaca bus.

“Mungkin Belanda tidak jadi berlama-lama di Kota Tur karena sangat ramai. Apalagi ini bertepatan dengan tanggal merah. Mereka juga tidak turun karena ingin meminimalkan risiko cedera dengan menghindari kerumunan massa,” ujar salah seorang petugas keamanan di sekitar Kota Tua.

Sebelum singgah ke Kota Tua, rombongan Belanda juga berhenti sejenak di kawasan Monumen Nasional dan Museum Bahari. Di semua tempat itu mereka berasa seperti di negara sendiri. Itu karena dari bentuk rumah, gedung, hingga perkantoran, bahkan Istana Negara, semuanya peninggalan nenek moyang mereka.*




*     *     *



Artikel ini dimuat di Harian TopSkor edisi 7 Juni 2013

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Maaf ya, saat ini komentarnya dimoderasi. Agar tidak ada spam, iklan judi, obat kuat, penjual gunting kuku, dan sebagainya. Silakan komentar yang baik dan pasti saya kunjungi balik. Satu hal lagi, mohon jangan menaruh link hidup...

Terima kasih :)