TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: roelly87

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label roelly87. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label roelly87. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Januari 2025

Insiden Membokongi Piza

(Catatan Harian Ojol 2025 #3)

Insiden Membokongi Piza

Ilustrasi saya mengantar
belanjaan customer saat pandemi.
(Foto: @roelly87)


"SORE pak/bu, untuk pesanan sudah sesuai aplikasi ya?"

"Iya mas. Jangan dibatalin ya. Saya sudah nunggu hampir dua jam di-cancel terus."

"Siap, pak/bu. Saya menuju resto. Mohin ditunggu."

Demikian percakapan saya dengan customer via chat di salah satu aplikasi ojek online (ojol), pertengahan posyamasa lalu. 

Tidak ada yang aneh. Normal saja.

Kendati, orderannya cukup banyak. Terdiri dari lima loyang piza berukuran besar dan dua sedang. 

Namun, berdasarkan kalkulasi, baik itu dari segi dimensi dan berat, ga terlalu. Ya, bawa piza tujuh tumpuk masih tergolong normal.

Secara, sebagai ojol, saya sering bawa orderan yang lebih besar. Bahkan, jumbo.

Baik makanan atau barang. Khususnya, saat pandemi Covid 19 lalu.

Saat itu, saya ga pantang untuk bawa kulkas dua pintu, tv 40+ inch, AC, guci, lilin raksasa, pot tanah liat, oven, sayur serta daging, dan sebagainya yang mungkin melebihi ketentuan ojol.

Berat? Pasti.

Ukurannya besar? Tentu.

Bisa dipahami mengingat ketika itu, pilihannya hanya dua:

1. Pulang bawa uang meski orderan antar barangnya besar-besar.

Atau:

2. Idealis, menolak orderan tersebut tapi pulang ke rumah dengan tangan hampa.

Maklum, pada pandemi lalu, perputaran ekonomi melemah akibat serangan virus yang merenggut banyak korban jiwa. Ditambah dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Semua pun kena imbas. Termasuk, ojol yang masuk dalam sektor jasa informal.

Terlebih, pada tiga bulan awal pandemi, ojol dilarang bawa penumpang. Pada saat yang sama, mayoritas resto dan mal tutup. 

Bahkan, beberapa harus gulung tikar akibat tidak ada pemasukan. Kecuali yang modal besar atau pinggir jalan dan rumahan.

Alhasil, saya dan ribuan ojol lainnya cuma bisa mengharapkan dari layanan antarbarang. Hanya, pasar atau pusat perbelanjaan pakaian, elektronik, listrik,  komputer, hp, dan sebagainya juga banyak yang tutup.

Misalnya, di kawasan Tanah Abang, Asemka, Asemreges, Glodok, Mangga Dua, Senen, hingga Kenari. Yang buka hanya toko-toko atau ruko independen di pinggir jalan.

Itu mengapa, setiap bunyi orderan, tanpa mikir lama, langsung saya cocol. Apa pun itu barangnya, baik berat, besar, hingga jumbo pun, tancap gas!


*       *       *


KECUALI, satu. Yaitu, kue ulang tahun.

Sumpah, sebutuh apa pun saya, sejauh ini masih memegang teguh mengabaikan orderan tersebut. Bukan bermaksud untuk menolak rezeki.

Hanya, saya enggan mengambil risiko. Pendapatan hanya Rp 8.000 hingga maksimal 50.000, tapi berisiko harus ganti rugi mencapai ratusan ribu. 

Sebab, bawanya susah, harus dipegang satu tangan. Kalo taruh di atas jok belakang riskan penyok. 

Saya berkaca pada pengalaman 2019 silam saat baru jadi ojol. Ada rekan driver yang mendapat orderan mengantar kue ulang tahun di toko kawasan Gambir.

Sampai di rumah customer, kue tersebut penyok dikit. Ya, sedikit. 

Alias secuil. Ujungnya. 

Mungkin kepentok. Atau kegeser-geser dalam perjalanan.

Customer itu enggan menerima. Sebab, kue ulang tahun harus sempurna.

Alhasil, rekan ojol itu harus ganti rugi. Nominalnya, sekitar Rp 500.000!

Doi udah lapor ke aplikasi. Namun, pihak aplikator lepas tangan karena sudah risiko ojol.

Akhirnya, driver itu ganti rugi ke customer. Membongkar celengan di rumah.

Harusnya untung malah buntung!

Konon, kue ulang tahunnya itu hingga saya ketemu lagi pertengahan 2024 lalu, katanya masih disimpan di para-para gentengnya.

Alias ga dimakan sama rekan ojol tersebut. Justru, dijadikan monumen baginya agar kapok bawa kue ulang tahun lagi. 

Duh... Saya turut simpati.

Itu mengapa, saya ogah bawa kue ulang tahun. Sejauh ini, masih idealis untuk menolak orderan seperti itu.


*       *       *


"BENTAR ya, pak/bu. Masih antre. Estimasi kata kasirnya 15-30 menitan lagi," ujar saya memberi info.

Tak lupa, saya foto situasi di resto piza ternama itu yang sangat ramai. Baik makan di tempat, bawa pulang, atau via orderan ojol.

"Ga apa-apa mas. Yang penting jangan di-cancel ya. Saya udah capek nunggu dari tadi dibatalin terus. Ada kali lima ojol mem-php."

"Siap, pak/bu. Untuk alamat udah sesuai ya? Komplek Planet Namek, No 18?"

"Iya, betul mas. Sesuai titik di aplikasi. Terima kasih."

Usai sepertanakan nasi, pesanan pun selesai. Lima piza besar dan dua sedang ditumpuk dengan diselimuti plastik yang saya minta dari kasirnya untuk jaga-jaga jika turun hujan. 

Memasuki bulan berakhiran Ber-Ber-Ber memang rawan hujan. Bahkan, bisa tiba-tiba. 

Pagi cerah, siang terik, sore mendung, malam hujan. Kadang drastis, dengan siang yang panas banget, ga lama langsung air mengucur deras. 

Sebagai ojol, tentu saya harus adaptif. Secara, di Indonesia hanya ada dua musim. 

Kalo ga kemarau ya hujan. Itu mengapa, saya selalu membawa peralatan tempur. 

Masing-masing dua helm dan jas hujan untuk saya serta penumpang. Tidak ketinggalan satu dus hair cap untuk customer yang kerap menolak helm dengan alasan bekas dipakai orang lain.


*       *       *


"PERMISI, saya mau antar makanan untuk pak/ibu X," ucap saya di depan pagar rumah bernuansa Mediterania usai memencet bel.

Dari luar tampak megah. Namun, sangat teduh dengan dikelilingi pohon yang rindang.

Duh, dalam hati jadi semangat ingin ngumpulin uang biar bisa kebeli rumah seperti itu. Meski tampak mustahil, mengingat di kawasan elite jantung ibu kota itu, harga rumahnya mencapai puluhan M.

Ya, puluhan milyar!

Mungkin, mayoritas penghuninya old money. Entah itu pengusaha, pejabat aktif, pensiunan jenderal, hingga calon penguasa...

Kawasan itu masuk kategori hot berdampingan dengan Menteng, Pondok Indah, Kemang, Kebayoran Baru, Pantai Mutiara, PIK, hingga Kelapa Gading. 

"Oh iya, pak. Ini tip dari ibu. Beliau titip dan mengucapkan terima kasih," jawab ibu-ibu yang menyapu di halaman memberi sesuatu saat saya sedang membuka ikatan piza di jok motor.

"Semua bu? Banyak banget. Ga salah?"

"Iya, dari ibu X. Katanya buat ganti udah nunggu lama pesanan piza."

"Terima kasih ya bu."

Saya merasa terbang ke langit ketujuh. Wow!

Maklum, tipnya dua lembar merah. Alias, 10 kali lipat ongkos di aplikasi.

Sebagai ojol, tentu saya girang. Banget malah. 

Di kolong langit ini, siapa sih yang ga demen duit? 

He... He... He...

Hanya, saat sedang melepas tali terakhir yang mengikat piza, tiba-tiba dari dalam muncul wanita yang memandang saya. Tatapannya tampak ganjil.

"Mas, ini pizanya ditaruh belakang ya?"

"Iya, ka."

"Kenapa taruh belakang?"

"Memang seperti ini biasanya, ka..."

Entah kenapa, jawaban yang terlontar ini, saya merasa aneh. Padahal, memang kalo bawa piza taruhnya di jok belakang.

Namun, kali ini beda. Saya pun bingung mencerna ucapan dari customer ini.

"Saya X yang pesan piza ini. Harusnya jangan ditaruh belakang dong. Ini kan makanan? Tidak pantas ditaruh di belakang bokong."

Sontak, bulir-bulir keringat sebesar biji jagung pun berebutan meluncur deras dari dahi saya. Sumpah, saat itu saya berasa jadi terdakwa yang mendapat vonis berat di hadapan hakim tanpa tahu salahnya apa.

"Maaf, ka. Biasanya kami, para ojol membawa piza memang ditaruh di jok belakang," jawab saya dengan gamang.

"Jangan dibiasain ya mas. Ini makanan. Ga pantas dipantatin."

"I... Iya, ka. Maaf ya," lanjut saya masih keheranan di depan wanita sekitar 30-40 tahunan ini. 

Serius, saat itu saya bingung. Jawab apa pun pasti salah. 

Padahal, saya dan ribuan ojol lainnya, kalo bawa piza memang taruh belakang jok. Ga mungkin ditenteng pakai tangan kiri sambil menjalankan motor. 

Kan bahaya. Apalagi kalo orderannya banyak seperti yang saya alami dengan lima loyang besar dan dua sedang.

Beda cerita jika memesan langsung via resto. Alias, bukan lewat aplikasi ojol.

Mayoritas resto piza atau fastfood punya motor sendiri yang dibelakang jok diberi box berukuran besar. 

Sementara, kalo ojol ya seperti itu. Diikat dengan tali di jok belakang.

Ga mungkin kami, para ojol turut menyematkan box besar di motor. Secara, selain makanan dan barang, saya juga biasa membawa penumpang.

Bisa-bisa ntar mau duduk di mana penumpangnya?


*       *       *


CUSTOMER itu menarik napas panjang. Lalu, masuk ke dalam.

Sementara, saya dan ibu yang selesai menyapu itu pun terdiam. Kami sama-sama jadi patung.

Mungkin, ibu itu udah tahu kalo ojol bawa piza memang taruh di belakang jok. Sementara, customer menyangka ojol seperti kurir dari resto piza yang motornya ada box besar.

Ya, ga salah sih. Meski aneh.

Usai memberikan piza kepada ibu tersebut yang entah itu keluarga atau siapa, saya pun pamit. Tak lupa, mengucapkan terima kasih atas tip dari customer yang sangat besar dan minta maaf atas insiden itu.

Di jalan, saya benar-benar ga konsentrasi. Saya langsung non aktifkan aplikasi. 

Cari tempat neduh di emperan ruko kosong. Nyender sejenak untuk menenangkan pikiran.

Saya merekonstruksi percakapan dengan customer tadi. Masih mikir apa yang salah.

Hanya, salahnya dimana? Hingga tegukan terakhir kopi hitam, saya masih belum tahu apa kesalahan menaruh piza di belakang jok motor.

Saya pun bergegas untuk cari orderan lagi. Bagaimana pun, hidup harus terus berjalan.

Sempat khawatir jika customer kasih rating buruk. Misal, bintang satu akibat pelayanan ojol kurang memuaskan.

Bahkan, laporan langsung ke aplikator. Ini bisa jadi preseden buruk dalam karier saya sebagai ojol.

Namun, saya kuatkan hati. Ga mungkin juga pihak aplikator menelan mentah-mentah laporan customer.

Secara, saya bukan merusak atau menggelapkan makanan. Melainkan, sebatas menaruhnya di jok belakang yang memang sudah lumrah dilakukan ojol mana pun.

Beruntung, hingga beberapa purnama berselang sejak orderan tersebut, tidak terjadi apa-apa pada akun di aplikasi ojol saya. Orderan normal.

Pun demikian saat mengantar pesanan piza ke setiap customer lainnya. Biasa saja.

Ga ada yang complain. Memang kalo bawa piza biasanya ditaruh di jok belakang.

Hanya, hingga kini, insiden itu masih membekas. Entah sampai kapan...

@roelly87



*       *       *


- Jakarta, 27 Januari 2025



*       *       *


Artikel Sebelumnya Terkait Customer Ojol


- Dan Terjadi Lagi... Pelecehan Seksual terhadap Ojol (https://www.roelly87.com/2024/08/dan-terjadi-lagi-pelecehan-seksual.html)


- Tidak Ada Toleransi untuk Perokok (https://www.roelly87.com/2024/05/tidak-ada-toleransi-untuk-perokok.html)


- Penumpang Kecebur Got dan Motor Hampir Mogok: Drama Banjir 22 Maret (https://www.roelly87.com/2024/03/penumpang-kecebur-got-dan-motor-hampir.html)


- Terima Kasih, Orang Baik (3) (https://www.roelly87.com/2024/03/terima-kasih-orang-baik-3.html)


- Tidak Ada Polisi 40%, Ini Alasan Penumpang Enggan Pakai Helm (https://www.roelly87.com/2020/03/tidak-ada-polisi-40-ini-alasan.html)


- Anak Perwira Dijambret di Samping Polda Metro Jaya (https://www.roelly87.com/2024/03/anak-perwira-dijambret-di-samping-polda.html)


- Sisi Lain Konser Coldplay: Mistik, Sedih, Haru, dan Bahagia (https://www.roelly87.com/2023/11/sisi-lain-konser-coldplay-mistik-sedih.html)


- Menara Kadin yang Memanusiakan Manusia (https://www.roelly87.com/2023/11/menara-kadin-yang-memanusiakan-manusia.html)


- Ditolak Ojol: Bertepuk Sebelah Tangan (https://www.roelly87.com/2023/05/ditolak-ojol-bertepuk-sebelah-tangan.html)


- BlackPink di Mata Ojol (https://www.roelly87.com/2023/03/blackpink-di-mata-ojol.html)


- Risiko Ojol Antar Makanan pada Dini Hari (https://www.roelly87.com/2023/02/risiko-ojol-antar-makanan-pada-dini-hari.html)


- Karena Customer adalah Raja (https://www.roelly87.com/2022/01/karena-customer-adalah-raja.html)


- Di Suatu Desa dengan Penumpang Random (https://www.roelly87.com/2021/10/di-suatu-desa-dengan-penumpang-random.html)


- Sebuah Kisah Klasik yang Tak Berujung (https://www.roelly87.com/2021/06/sebuah-kisah-klasik-yang-tak-berujung.html)


- Kompromi dengan Keadaan (https://www.roelly87.com/2021/03/kompromi-dengan-keadaan.html)


- Orderan pada Malam yang Ganjil (https://www.roelly87.com/2020/11/orderan-pada-malam-yang-ganjil.html)


Minggu, 29 Oktober 2023

Setelah 15 Tahun

Setelah 15 Tahun
@roelly87


SETELAH belasan purnama, akhirnya saya bisa menghadiri lagi acara Kompasiana. Tepatnya, dalam event bertajuk Syukuran Ulang Tahun dan Champions Meetup yang diselenggarakan di O2 Corner Co-Working Space, Gedung Kompas Gramedia, Palmerah Selatan, Jakarta Pusat, Sabtu (28/10).

Ini merupakan acara Kompasiana pertama yang saya ikuti sejak Kompasianival 2019. Saat itu, saya turut menghadiri event akbar terakhir sebelum pandemi ini yang diselenggarakan di One Belpark Mall, Jakarta Selatan.

Hanya, memang setelah itu saya sempat hiatus. Bahkan, terakhir nulis aja, Agustus 2018 silam.

Alias, lebih dari lima tahun lalu!

Hingga, akhirnya saya kembali nulis pada pertengahan bulan ini. Namun, itu juga cuma mindahin dari blog pribadi.

Bahkan, saat memposting artikel kedua -masih dari blog pribadi-, sempat dapat "Surat Cinta" dari admin. Alias, diberi peringatan akibat disangka tulisan saya hasil dari copas konten lain yang berujung dihapus.

Sontak, saya kaget. Maklum, seumur-umur ngeblog, saya belum pernah jiplak artikel orang secara keseluruhan. Kalo ngutip pun disertakan sumbernya.

Saya pun langsung balas chat tersebut sambil menjelaskan itu copas dari blog pribadi. Sayangnya, hanya dijawab pesan otomatis dari sistem.

Hmm...

Plan kedua. Saya inget ada beberapa admin yang saya kenal di IG. 

Langsung, saya DM. Sebelumnya, saya tanya dulu, apakah S&K masih membolehkan copas dari blog pribadi. 

Dijawabnya, boleh. Okok. Ga lama, artikelnya nongol lagi. Yuppiii!

Beberapa hari berselang, saya di-inbox salah satu admin untuk menghadiri acara Kompasiana. Awalnya, saya kirain Kompasianival. 

Namun, dijawabnya bukan. Melainkan, syukuran HUT Kompasiana ke-15.

Ya, Kompasiana resmi mengudara pada 22 Oktober 2008. Berselang hampir 24 bulan, saya pun gabung. 

Alias, 11 Oktober 2010 silam. Udah lumayan lama juga!

*       *       *

SIANG itu, suhu udara di jembatan yang menghubungkan Provinsi Banten dengan DKI Jakarta tampak panas. Teriknya, nampol.

Maklum, hanya seperlemparan batu itu laut. Ditambah, tengah hari bolong. Lengkap sudah.

Memang, sebagai ojek online (ojol), panas dan macet udah jadi santapan sehari-hari. Namun, teriknya di pinggir laut sungguh sangat menyengat ketimbang di Jakarta.

Saya pun melajukan sepeda motor dengan konstan.

Kebetulan, sejak pagi saya sudah ada di Teluk Naga, Kabupaten Tangerang. Tepatnya, usai mengantar barang di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) 2. 

Hanya, hingga sepernanakan nasi, orderan arah Jakarta yang saya tunggu tak kunjung tiba. Kendati, saya sudah menyalakan lima aplikasi ojol/kurir online sekaligus.

Saya lirik jam, sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB lewat. Padahal, acara syukuran Kompasiana berlangsung pukul 15.30 WIB.

Memang sih, dari PIK 2 ke Palmerah yang berjarak 30 km tipis-tipis ini bisa ditempuh sekitar 1-1.5 jam. Apalagi, Sabtu ini jalanan ibu kota ga terlalu macet dibanding hari kerja.

Namun, saya masih galau. Sebab, sebagai ojol, "balik kosongan" itu gimana ya. 

Alhasil, saya pun masih nunggu. Maksimal, sebelum pukul 15.00 WIB.

Sebelumnya, memang sudah ada orderan masuk. Sayangnya, bukan arah Palmerah atau sekitarnya.

Melainkan, ke Cisauk, Serpong, dan Balaraja, yang tentu saya tolak. Maklum, malah tambah jauh dari tujuan.

Beruntung, sekitar pukul 14.00 WIB lewat, salah satu dari lima aplikasi bunyi. Yaitu, kirim barang ke Tanjung Duren. 

Aman. Secara, dari Tandur ke Palmerah tinggal lurus. 

Sang empunya mengabari, barangnya ini berisi sparepart kendaraan. Setelah saya cek, ga masalah. Dimensinya masih terjangkau untuk dibawa dengan motor meski beratnya lumayan.

Bisa dipahami mengingat saya sudah sering membawa barang yang melebihi dimensi. Apalagi, saat awal pandemi ketika ojol dilarang mengangkut penumpang yang membuat saya harus adaptif demi dapur ngebul.

Mulai dari ban mobil, guci, akuarium, hingga kulkas dua pintu. Kulkas? 

Yoi. Ga masalah, secara sudah diikat dengan rapi oleh karyawan tokonya. Jadi, saya tinggal antar saja. 

Paling-paling keringet dingin kalo lupa isi bensin. Ha ha ha.

Namun, saya punya satu pantangan hingga kini. Yaitu, mengantar kue ulang tahun. 

Sumpah, itu sangat mengerikan. Pertama dan terakhir saya ambil orderan itu pada 2019 lalu saat masih cupu jadi ojol.

Sangat merepotkan karena harus ditenteng dengan satu tangan. Pasalnya, jika diletakkan di jok belakang riskan penyok.

Maklum, namanya kue ulang tahun ya harus sempurna. Saya ingat keluhan salah satu rekan ojol yang harus ganti rugi sebesar Rp 400 ribu lebih akibat kue ulang tahunnya gompal dikit di sudutnya. Itu yang bikin saya was-was.

Selain kue ulang tahun, saya ga punya pantangan lagi dalam mengantar barang, makanan, hingga penumpang. Termasuk, jika tujuannya aneh-aneh.

Misalnya, yang hendak Open BO. Saya ga peduli selama tidak melanggar 3 hal: Hukum, moral, dan agama. 

Tugas saya sebagai ojol sebatas mengantar. Baik itu ke tempat prostitusi atau rumah ibadah seperti pengajian, tabligh akbar, dan misa gereja, bagi saya ga masalah.

Hanya, memang ada garis batasnya.

Misal, saya enggan mengantar penumpang ke tempat rawan narkoboy atau aborsi. Ngeri jadi saksi, euy! 

Juga jika harus kirim barang ke penjara yang memang dalam beberapa aplikasi sudah ada larangan dalam ketentuannya. 

*       *       *

AKHIRNYA, setelah lebih dari seperminuman teh, saya pun tiba di Gedung Kompas. Namun, acaranya sudah berlangsung dari tadi. 

Alias, saya telat!

Tapi, ga apa-apa. Yang penting sudah usaha. 

Sambil menyalami beberapa rekan Kompasianer diiringi menyeruput es jeruk yang tersedia, saya mendengar paparan dari tiga perwakilan Kompasiana. Mulai dari Widha Karina, Kevin Legion, dan Nurulloh.

Eh, di kursi depan, ada dua sosok yang familiar. Yaitu, Pepih Nugraha yang menginiasi Kompasiana dan Iskandar Zulkarnaen.

Saat masih aktif di Kompasiana pada 2011-2017, saya sering bertemu mereka. Bisa dibilang, keduanya -bersama beberapa rekan Kompasianer lain- termasuk mentor saya dalam menulis. 

Saya memang sudah punya blog pribadi sejak 2009. Namun, saat itu masih random. 

Alias, ga jelas baik dalam kaidah bahasa, kosakata, maupun inti penyampaian. Ha ha ha.

Maklum, ketika itu saya sekadar menyalurkan hobi. Ada yang baca ok, ga ada juga ok.

Hingga, saya gabung di Kompasiana dan belajar banyak tentang menulis bersama rekan-rekan Kompasianer lainnya. Baik itu diselenggarakan online maupun offline, seperti Kompasiana Blogshop di Djakarta Teather pada November 2011. 

Tak heran jika 11 tahun silam, saya menyebut, Kompasiana sebagai Kawah Candradimuka. Ya, selain saya, juga banyak Kompasianer lainnya yang sama-sama belajar nulis dari Kompasiana.

Saya aja kaget pas ngecek artikel di Kompasiana sudah mencapai ratusan. Bahkan, dulu kalo ada event menulis, termasuk fiksi, bisa posting setiap hari.

*       *       *

HANYA, tiada pesta yang tak berakhir. Adakalanya, timbul rasa jenuh. Itu manusiawi. 

Termasuk, saya yang sejak 2018 sudah mulai jarang aktif di Kompasiana, baik secara offline maupun online. Meski, pada saat yang sama saya tetap update blog pribadi.

Padahal, saya sempat hadir di Kompasianival 2019 seperti yang tertera di awal artikel ini. Hanya, untuk mempostingnya, berat.

...dan...

Ditambah, tampilan Kompasiana seperti kurang bersahabat bagi pengguna ponsel. Keluhan ini yang sudah saya sampaikan kepada salah satu admin disela-sela syukuran.

Memang, jika buka di komputer atau laptop, masih normal. Namun, jika buka di ponsel, loadingnya lama dan tampilan aneh. 

Padahal, saya biasa menggunakan browser Google Chrome atau Opera Mini. UI-nya kurang responsif. 

Ditambah dengan setiap artikel yang harus dipecah hingga beberapa halaman. Saya aja kadang malas lihat artikel sendiri karena harus klik beberapa kali.

Mungkin, ini catatan sekaligus masukan dari saya kepada Kompasiana yang 22 Oktober 2024 genap dua windu. Semoga, semakin tambah usia tidak berada di menara gading.***

- Jakarta, 29 Oktober 2023

Artikel Sebelumnya: 

https://www.kompasiana.com/roelly87/550e4383813311842cbc62fd/satu-tahun-di-kompasiana-belajar-ngeblog-dan-ngeblog-sembari-belajar

https://www.kompasiana.com/roelly87/5518449a8133118c669dee5e/jose-mourinho-dua-tahun-di-kompasiana-dan-kawah-candradimuka

https://www.kompasiana.com/roelly87/552ac559f17e61703dd623dd/tiga-hattrick-dan-treble?page=all#section1

https://www.kompasiana.com/roelly87/5518b9b4a333118c10b6593d/kompasiana-berusia-empat-tahun-selanjutnya

https://www.kompasiana.com/roelly87/5800853b3eafbdc6128b4568/di-balik-kompasianival-2016?page=all

Minggu, 01 Oktober 2023

Tentang Pedagang Asongan di Simpang Jalan

 Tentang Pedagang Asongan di Simpang Jalan


Foto: Instagram.com/roelly87



SEMANGAT, ya Pak!

Anda adalah pahlawan bagi keluarga...


Disclaimer: Foto ini saya ambil diam-diam saat menunggu lampu hijau di persimpangan Jatibaru, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Minggu (1/10). Bagi saya, foto ini merupakan contoh nyata bagaimana seseorang sedang berjuang untuk mencari nafkah demi keluarganya.

Laku ga laku, itu urusan lain. Setidaknya, beliau sudah berusaha. Modal sendiri. Tidak seperti kebanyakan orang yang ingin dapat uang dengan tanpa modal/usaha.

Misalnya, kang parkir liar yang jelas-jelas sudah ada tanda gratis parkir. Atau, pak ogah yang justru bikin macet di tikungan, pertigaan, persimpangan, dll. Juga penjaga komplek/perumahan yang hanya semangat buka portal jika diberi salam tempel.

Ya, maruah laki-laki itu bekerja. Bukan mengandalkan kedua tangan menengadah ke atas.

*     *     *

- Jakarta, 1 Oktober 2023