TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Gerindra

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label Gerindra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gerindra. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 April 2025

Saya Ga Menyesal Pilih Prabowo, Memang Kemampuannya B Aja

Saya Ga Menyesal Pilih Prabowo, Memang Kemampuannya B Aja

Twitter lawas @Prabowo

PRABOWO Subianto jadi nama yang paling hangat dibicarakan masyarakat sejak era reformasi. Baik di dunia nyata seperti warung kopi (warkop), perkantoran, gedung bertingkat, kampus, hingga perpustakaan 

Pun demikian di dunia maya. Itu meliputi X atau Twitter, Facebook, Instagram, Thread, Youtube, Tiktok, dan sebagainya.

Terutama, setelah menjabat sebagai Presiden Kedelapan Republik Indonesia (RI) pada 20 Oktober lalu. Sejak itu, nama Prabowo selalu menghiasi alam bawah sadar masyarakat.

Termasuk, saya yang merupakan penggemarnya sejak 2008 silam. Khususnya, usai tiga kali mencoblos pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014, 2019, dan 2024.

(Selengkapnya: Prabowo: Sang Penculik yang Berharap Mandat Langit (https://www.roelly87.com/2023/09/prabowo-sang-penculik-yang-berharap.html)

Asa pun terpancar tinggi usai mengetahui Prabowo dan Gibran Rakabuming menang pada hari pencoblosan, 14 Februari 2024. Akhirnya, "jagoan saya" bisa jadi presiden usai dalam dua kontestasi dikalahkan Joko Widodo (Jokowi).

Hanya, bak adagium, jauh panggang dari api, pun demikian dengan apa yang dilakukan Prabsky dalam Kabinet Merah Putih. Sumpah, sebagai pemilihnya, saya benar-benar syok.

Hampir enam bulan kepemimpinannya, belum ada gebrakan yang benar-benar mensejahterakan rakyat. Isi kabinetnya aja udah gemuk dengan banyak penambahan menteri, wakil menteri, dan lembaga anyar lainnya.

Efisiensi yang dicanangkan hanya omon-omon. 

Oke gas... Oke gas!

Sebagai manusia, untungnya saya ga pernah mengkultuskan seseorang. Apalagi, politisi.

Ya, saya memang selalu menyisakan ruang ketidakpercayaan pada setiap insan. Termasuk, Prabowo yang saya idolakan lebih dari dua windu ini.

Namun, sejak awal eskpektasi saya memang tidak terlalu tinggi. Pencapaian Prabowo sebagai presiden bisa mendekati era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pun sudah bagus.

Ya, bagi saya, kepemimpinan presiden keenam itu jadi bare minimum sejak era dipilih rakyat secara langsung. Kepemimpinan SBY ga jelek-jelek amat. 

Hanya, untuk dibilang bagus juga masih terlali jauh. Jokowi yang jadi penerusnya pun 11/12. 

Namun, kedua presiden itu tetap punya nilai positif. Ada sesuatu yang bisa dibanggakan dari warisannya.

Prabowo? 

Entahlah. Sudah lebih dari 150 hari kepemimpinannya, justru keadaan kian buruk.

Demo di mana-mana akibat ketidakpuasan masyarakat dan mahasiswa terkait RUU TNI. Aparat yang kian sewenang-wenang. 

TNI dan polisi main bunuh rakyat secara gampang. Intimidasi pun jadi santapan sehari-hari.

(Selengkapnya: Lulusan SMA Dibekali Senjata Itu Bernama Polisi = https://www.roelly87.com/2025/02/lulusan-sma-dibekali-senjata-itu.html)

Rupiah melemah. Harga pangan kian naik.

Di sisi lain, Prabowo seperti berada di menara gading. Seolah merasa rakyat saat ini baik-baik saja.

Putra dari begawan Soemitro Djojohadikoesoemo ini ngaku, bangun pagi sangat cerah. Pada saat yang sama, rakyat menyuarakan "Indonesia Gelap".

Duh...

Konklusinya, apakah saya menyesal memilihnya dalam tiga edisi pilpres?

Tentu saja nggak. 

Kan udah terjadi. Kalo di awal namanya pendaftaran.

Toh, saya sadar sejak dulu, kemampuan Prabowo itu ya "B aja".

Cukup sekian dan terima gaji!


*       *       *


TIGA jam lebih saya menyaksikan dialog Prabowo dengan enam jurnalis senior yang diselenggarakan di kediamannya, Minggu (6/4). Tentu, saya ga bisa nonton full saat video itu rilis di berbagai laman youtube media, sehari berselang.

Melainkan, secara maraton. Alias, dilakukan bertahap dalam beberapa hari ini.

Kesimpulan saya terhadap diskusi itu ya... Hambar!

Serius.

Ini penilaian saya. Murni.

Saya berusaha objektif. Baik ya bilang baik, buruk ya katakan buruk.

Saya apresiasi terkait inisiatifnya mengumpulkan para pimpinan media untuk diskusi. Bahkan, disiarkan secara utuh dengan seluruh jurnalis mengatakan wawancara itu tidak pakai script.

Alias, mengalir begitu aja. Tanpa harus setor pertanyaan terlebih dulu.

Bagi saya, ini suatu kemajuan. Sebelumnya, Jokowi yang dikesankan merakyat aja tidak pernah mengajak beberapa jurnalis untuk diskusi.

Sekarang, Prabowo berani dialog dengan para jurnalis senior. Bahkan, adu argumen, "Come On!"

Kebetulan, saya sering menonton wawancara dari beberapa jurnalis itu. Najwa Shihab udah lama dikenal dengan gaya intimidatifnya terhadap narasumber.

Apalagi, Uni Lubis, yang terkesan santai tapi beragam pertanyaannya sangat menusuk.

Nah, terkait Prabowo bisa menjawab dengan baik dan solutif itu perkara lain. Nanti akan saya bahas.

Saat ini, saya ingin menggarisbawahi niat Prabowo yang menegaskan bisa diajak diskusi. Sekaligus, membuktikan sebagai pemimpin yang tidak antikritik dan bersedia menjelaskan apa yang ingin dicapai ke depan.

Bahkan, Ketua Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) ini menyatakan siap berdialog dengan tokoh "Indonesia Gelap". Dua di antaranya, Refly Harun dan Rocky Gerung, yang disebut secara gamblang.

Jujur, saya berharap pria 73 tahun ini rutin mengadakan dialog terbuka. Tidak hanya kepada jurnalis saja, melainkan para pengamat seperti Refly, Rocky, aktivis hingga mahasiswa.

Jika itu terwujud, rakyat Indonesia bisa tahu terkait langkah Prabowo dalam mengarahkan bahtera ini ke depannya.

Yang penting, diskusi itu dua arah. Disertai solusi untuk mengatasi permasalahannya.

Prabowo udah melakukan itu pada Sarasehan Ekonomi, Selasa (8/4). Acara yang dihadiri berbagai perwakilan dari serikat pekerja, pelaku usaha, hingga  analis pasar modal ini menurut saya menarik.

Dalam dialog berdurasi empat jam di laman youtube Sekretariat Presiden itu tampak tabir gelap yang menyelimuti Prabowo perlahan mulai tersibak. Ya, Danjen Kopassus 1995-1998 itu sangat aktif menjawab sekaligus solutif dalam berbagai masalah dengan langsung memberi instruksi kepada menterinya.

Misalnya, terkait Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang regulasinya akan diubah lebih fleksibel. Atau, terkait impor yang selama ini dimonopoli pihak tertentu.

Jangan lupa, adanya Satgas PHK.

Bagi saya, semua ini menarik. 

Serius.

Tapi, saya mencium bau amis. Saya merasa, ada yang janggal dari setiap perkataan Prabsky saat itu.

Sebab, doi kerap bilang "Saya baru tahu". Ini aneh sih.

Bisa menimbulkan multitafsir di kalangan masyarakat. Eskalasinya menurut saya sangat membahayakan negara.

Secara, menyulut teori konspirasi selama ini. Bahwa, Prabowo mendapat informasi yang tidak utuh hingga diblokir dari para pembantunya di Kabinet Merah Putih. 

Bahkan, saya duga orang-orang terdekatnya kerap memberi info yang keliru. Kabar menyesatkan bahwa negara ini sedang baik-baik saja tidak seperti desakan masyarakat terkait Indonesia Gelap.



Faktanya, Prabowo menyangka demo yang dilakukan mahasiswa terkait RUU TNI itu sebagai aksi bayaran. 

Miris sih dengernya. Saya sampai menghela napas usai maraton nyimak diskusi Prabowo dengan jurnalis.

Namun, setelah menonton Sarah Sechan lebih detail, saya sedikit paham. Mungkin, -ini mungkin ya bisa saja asumsi saya keliru- banyak di Kabinet Merah Putih yang berjiwa ABS.

Asal Bapak Senang. 

Lapor yang bagus-bagus. 

Berita yang menyenangkan Prabowo.

Indonesia baik-baik saja.

Demo itu ada aksi bayaran.

Draft RUU TNI yang dipercaya masyarakat itu hoax.

Lebaran, harga pada turun mulai dari tiket pesawat, tol, hingga sembako.

Dll...

Apalagi, beredar rumor, Prabowo tidak pegang ponsel. Beda dengan SBY dan Jokowi yang meski punya admin, tapi tetap upload status di media sosial secara sendiri.

Bahkan, dalam sesi wawancara dengan jurnalis itu, Prabowo terkesan gagap teknologi (gaptek). Faktanya, ayah dari Ragowo Hediprasetyo Djojohadikoesoemo ini mengaku tidak tahu apa itu buzzer.

Saya enggan berspekulasi tentang ini. Bisa iya, juga bisa ga.

Hanya Prabowo sendiri dan Tuhan yang tahu.

Namun, saya ingat saat debat Capres 2019, Prabowo agak bingung saat ditanya Jokowi soal Unicorn. 

"Maksudnya yang online-online itu, iya?" kata Prabowo yang saat itu berpasangan dengan Sandiaga Uno.

Aneh juga sih. Mantan jenderal bintang tiga yang punya banyak pasukan, pemilik partai tiga besar parlemen, dan kini jadi orang nomor satu di Indonesia, kok bisa gaptek.

Kalo faktor usia, bisa jadi. Namun, jika dikomparasi,  Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang lima tahun lebih tua, masih aktif mencuit di X/Twitter.

Epilog, meski tidak punya ekspektasi tinggi pada Kabinet Merah Putih, tapi saya berharap Prabowo mampu melakukan gebrakan. Khususnya, yang berkaitan langsung dengan masyarakat.

Misal, penegakan hukum harus sama, tajam ke bawah dan juga atas. RUU Perampasan Aset disegerakan demi meminimalkan celah korupsi di antara pejabat.

Saya sempat memalingkan wajah saat Prabowo mengatakan apakah adil terhadap anak koruptor yang menderita akibat orangtuanya dihukum.

Duh, itu adil banget, Prabsky!

Bagaimana perasaan ratusan juta rakyat Indonesia yang masih di bawah garis kemiskinan akibat pejabatnya korup? 

Katanya, Anda mengagumi pemikiran Deng Xiaoping, sosok di balik kesuksesan Cina sejak 1980-an. Saat itu, Deng tega menghukum mati pejabatnya yang ketahuan korupsi.

Sementara, Anda? Malah kasihan kepada anak koruptor.

Hello...

Prabsky, Anda benar-benar hipokrit.

Jadi teringat twit seseorang pada 3 Oktober 2011, yang berbunyi, "Saya tidak bangga Indonesia dicap sebagai salah satu negara paling korup di dunia. Saya mendukung hukuman mati bagi koruptor."

Saya sudah 17 tahun mengagumi Anda. Namun, kesan gagah ala Prabsky berubah sejak 20 Oktober lalu.

Prabowo yang sekarang bukanlah seperti yang dulu lantang di podium. Kini, Prabsky yang saya kenal hanya seonggok tubuh tanpa semangat duduk di singgasana emas yang berada di menara gading...


*       *       *


- Jakarta, 11 April 2025


*       *       *


Artikel Terkait Politik: 


- Prabowo: Sang Penculik yang Berharap Mandat Langit (https://www.roelly87.com/2023/09/prabowo-sang-penculik-yang-berharap.html)


- Prabowo Gemoy, tapi Tangannya Berlumuran Darah (https://www.roelly87.com/2023/12/prabowo-gemoy-tapi-tangannya-berlumuran.html)


- Prabowo Presiden 2024, Ganjar Mendagri, Anies Menlu, dan AHY Menhan (https://www.roelly87.com/2023/12/prabowo-presiden-2024-ganjar-mendagri.html)


- Anies adalah Liu Bei, Mega = Sun Quan, dan Jokowi = Cao Cao? (https://www.roelly87.com/2024/08/anies-adalah-liu-bei-mega-sun-quan-dan.html)


- Dhani, Rizieq, dan Ahok Bersatu demi Indonesia


- 9 Naga dan 3 Capres


- Prabowo dan Kedaulatan Selera


- Prabowo Kembali ke Setelan Pabrik


- Brigitte Lin Ching-hsia yang Memesona (https://www.roelly87.com/2023/12/brigitte-lin-ching-hsia-yang-memesona.html)


- Palagan Pamungkas Prabowo: Menyelami Hati, Pikiran...


- Manusia Lebih Anjing daripada Anjing


- Di Bandung, Jokowi Kalah Populer Dibanding Ridwan Kamil


- Jokowi, Sang Gubernur Gaul


- Soe Hok Gie: Prabowo Cerdas tapi Naif





Jumat, 29 September 2023

Prabowo: Sang Penculik yang Berharap Mandat Langit

Prabowo: Sang Penculik yang Berharap Mandat Langit

Ilustrasi: twitter @roelly87


PEMILIHAN Umum (Pemilu) 2024 tinggal menghitung hari. Tepatnya, diselenggarakan 14 Februari mendatang untuk memilih calon anggota dewan (DPR, DPD, dan DPRD), serta presiden. 

Ini merupakan pemilu kelima yang saya ikuti sejak kali pertama punya KTP. Sekaligus, yang ketiga beruntun untuk mencoblos sosok yang sama dalam pilpres.

Yaitu, Prabowo Subianto. 

Ya, saya sudah memilih beliau pada pilpres 2014 dan 2019 lalu. Keduanya, kalah dari Joko Widodo (Jokowi).

Pada 2009, saya juga mencoblos Prabowo. Namun, saat itu doi sebagai wakil mendampingi Megawati Soekarnoputri. Kalah juga, dari incumbent Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Sementara, pada 2004 yang merupakan pilpres langsung perdana di Tanah Air, calon presiden (capres) pilihan saya juga kalah. Kadang, jadi bingung. 

Setiap sosok yang saya coblos, kok selalu keok. Rekornya dari 2004 hingga 2019, skor 0-4!

Namun, ya ga apa-apa. Ini negara demokrasi. Setiap warganya bebas menentukan hak dalam pilihan. 

Termasuk bagi saya, kalah atau menang itu biasa. Namanya juga hidup, ga semua yang kita inginkan bisa terwujud. 

Misalnya, dalam sepak bola. Saya merupakan penggemar Juventus sejak 1994. 

Hampir 30 tahun ini, saya menyaksikan "Si Nyonya Besar" enam kali melangkah ke final Liga Champions. Hasilnya, sekali juara dan berujung lima runner-up beruntun.

Itu terjadi pada 1996/97, 1997/98, 2002/03, 2014/15, dan 2016/17. Bahkan yang terakhir, saya menyaksikan langsung Juve dikecundangi Real Madrid 1-4!

Tepatnya, di Stadion Millennium, Cardiff  Wales, 3 Juni 2017. Suka dan duka pun berkecamuk saat jadi bagian dari 65 ribu penonton.

Sudah jauh-jauh terbang ke Negeri Paman Charles, eh Juve malah keok. Julukan Badut Eropa pun kian melekat di skuat asuhan Massimiliano Allegri tersebut.

Namun, mau gimana lagi. Sebagai Juventini Garis Lembut, saya tetap mengidolakan tim asal Kota Turin tersebut.

Saya tetap menantikan Juve bisa mengangkat trofi Si Kuping Lebar itu suatu saat nanti. Meski, jalannya masih sangat jauh. 

Sebab, sejak kekalahan pada 2017 silam, belum sekalipun Juve kembali melangkah ke final. Bahkan, meski diperkuat berbagai pemain bintang di setiap lini, termasuk Cristiano Ronaldo pada 2018-2021.

Ya, saya selalu percaya, selama gunung masih menghijau, jangan takut kehabisan kayu bakar. Alias, selama bernafas, masih ada kesempatan menyaksikan Juve juara Liga Champions!

*     *     *

LALU, apa hubungannya antara Juve dengan Prabowo dalam postingan blog ini? Ya, ga ada.

Hanya, sebatas korelasi dua pihak yang saya dukung selalu kalah. Ha... Ha... Ha...

Btw, saya mengidolai Prabowo sejak 2008. Ketika itu, doi rajin muncul di media, khususnya tv usai mendirikan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) yang jadi kendaraan politiknya.

Namun, saya juga tidak pernah cinta mati terhadap apa dan siapa pun. Saya selalu legawa jika ternyata jagoan saya kalah. 

Contoh, Juve ketika dicukur Barcelona 1-3 pada final Liga Champions 2014/15 dan Madrid dua musim berikutnya. Saat itu, saya mengakui -meski kecewa- kedua lawan Juve memang bermain lebih baik.

Barca dan Madrid pantas juara. Sementara, Juve seperti antiklimaks dalam dua final tersebut.

Begitu juga dengan pilpres. Kendati pilihan saya keok dalam dua edisi beruntun, tapi saya tetap rasional.

Ga sekalipun saya ikut menjelek-jelekkan Jokowi. Prabowo kalah pada 2014 dan 2019 ya sudah, memang garis takdirnya seperti itu.

Sementara, untuk kritik sudah pasti. Yang membangun alias konstruktif, baik lewat blog ini atau media sosial.

Itu mengapa, saya juga kerap diajak dalam beberapa acara yang berkaitan dengan pemerintahan Jokowi. Beberapa di antaranya bisa dilihat dalam artikel "Catatan Dua Tahun Kepemimpinan Jokowi-JK" dan "Antara Presiden Jokowi, Asian Games 2018, Blogger, dan Tantangan Menghadapi Revolusi Industri 4.0".

Saya juga turut diundang Sekretariat Kabinet untuk menyaksikan langsung kehidupan di perbatasan pada 2018 lalu. Saat itu, kementerian yang dipimpin Pramono Anung ini mengajak blogger untuk menengok lebih jelas kehidupan masyarakat di Entikong, Kalimantan Barat, yang berbatasan langsung dengan Malaysia (Selengkapnya di Halaman http://www.roelly87.com/p/selamat-datang-di-halaman-khusus.html).

Jadi, saya berusaha untuk fair. Ada garis batas dalam mencintai sesuatu.

Tidak serta-merta, mengidolai Prabowo, harus menyerang lawan politiknya. Atau, mencaci Madrid dan Barca serta duo Milan yang jadi rival abadi Juve di Serie A.

No! Itu bukan gaya saya. 

Hidup saya terlalu indah untuk dikotori hal-hal negatif tersebut. Menyukai sesuatu boleh, tapi goblok jangan.

Ya, kita tidak boleh terlalu fanatik. Itu mengapa, saya mengaku sebagai fan Juve garis lembut. 

*     *     *

KENAPA harus Prabowo? 

Saya mengidolai Prabowo karena karismatik, berwibawa, dan elegan. Ini subyektif. 

Soal rasa. Ga bisa dijelaskan dengan logika. 

Termasuk, masa lalunya yang berlumuran darah terkait penculikan jelang reformasi. Itu fakta.

Banyak saksi dan media yang memuat insiden tersebut. Bahkan, Prabowo juga mengakui yang melakukannya.

Meski, korban penculikan sudah dipulangkan dan ada yang jadi anak buahnya di Gerindra. Tidak mengubah statusnya sebagai penculik. 

Bagi saya, sekali penculik tetap penculik. Titik!

Pada saat yang sama, saya juga percaya setiap orang bisa berubah. Itulah fase kehidupan.

Toh, di kolong langit ini, manusia mana yang tidak pernah melakukan kesalahan dan dosa? Saya juga sering.

Itu mengapa saya sangat mengapresiasi jika ada orang yang mengaku sebagai mantan bajingan. Alias, dulunya dosa, sekarang berusaha untuk memperbaiki kesalahan.

Terkait penculikan, saya juga harus fair. Status Prabowo saat itu sebagai orang lapangan. 

Alias, kemungkinan hanya mendapat perintah dari atasannya. Siapa? 

Entahlah. 

Yang menarik, stigma penculik ini selalu panas menjelang pilpres. Itu berlaku sejak 2014 silam.

Grand design, kah? Khususnya, ada tangan-tangan tak kasat mata yang enggan doi berkuasa?

...

Padahal, Prabowo pernah jadi wakil Mega di pilpres 2009. Namun, saat itu seperti adem ayem.

Mungkin, ketika itu internet belum begitu masif di masyarakat Indonesia. Jadi, tidak ada yang memelintirnya.

Termasuk saya yang baru ngeblog pada 2009. Untuk media sosial, dimulai Facebook tahun yang sama diikuti Twitter (2010), dan Instagram (2012).

Bahkan, Prabowo juga dilantik Jokowi sebagai Menteri Pertahanan pada Kabinet Indonesia Maju 2019-2024. Tentu, presiden tidak sembarangan dalam mengangkat setiap orang yang akan membantunya dalam menjalankan roda pemerintahan.

Jadi, noktah merah Prabowo memang nyata. Kesempatannya untuk mendapat Mandat Langit, itu cerita lain.

*     *     *

PILPRES 2024 milih yang tua? Pasalnya, dua capres lain berusia jauh lebih muda.

Maklum, 17 Oktober mendatang, Prabowo genap 72 tahun. Sementara, Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo saat ini sama-sama 54 tahun.

Selisih antara Prabowo dan kedua capres lainnya sekitar 18 tahun. Namun, ya dalam beberapa hal, usia hanya sebatas hitung-hitungan angka di atas kertas.

Apalagi, mengingat statusnya yang merupakan mantan prajurit dengan bintang tiga tersemat di pundak. Prabowo terlihat gagah. Auranya terpancar baik saat diam atau bicara.

Bahkan, saat orasi, Prabowo mengingatkan saya pada Bung Besar: Soekarno.

Meski, saya mencatat, Prabowo terlihat lemah dalam menyampaikan pandangannya kepada khalayak umum. Itu terjadi sejak debat capres 2014, 2019, dan yang teranyar saat dialog Mata Najwa di Universitas Gadjah Mada (19/9).

Jujur, ini nilai minus dari Prabowo. Meski, doi sangat hebat saat orasi. 

Entah mengapa, saya melihat Prabowo kerap kesulitan dalam memberi penjelasan dalam acara debat. Kendati, apa yang disampaikan sangat logis dan subtansinya sesuai.

Mungkin, ini jadi PR bagi Prabowo dan timnya. Terutama, jelang kontestasi pilpres 2024 yang pendaftaran dibuka 19 Oktober mendatang. 

Jika terus seperti ini, Prabowo bisa dilewati dua kandidat lainnya. Sebab, saya punya catatan terkait para rival berdasarkan beberapa acara pada 2023 ini.

Anies:

+ Bicaranya lancar, mengalir khas akademisi

- Pembawaannya terlalu serius


Ganjar

+ Penampilannya luwes, mudah dicerna khususnya generasi muda

- Penyampainnya agak mutar-mutar


Btw, ngomongin ketiganya ini menarik. Pasalnya, seumur-umur saya belum pernah melihat langsung Prabowo.

Justru, dengan Anies sudah beberapa kali mengingat statusnya sebagai Gubernur DKI Jakarta 2017-2022. Untuk Ganjar baru sekali pada Kompasianival 2014 di Taman Mini Indonesia Indah.

Apa pun itu, ketiga capres ini merupakan putra terbaik bangsa. Meski saya mengidolai Prabowo, tapi tetap respek dengan Anies dan Ganjar.

Tentu, saya berharap Prabowo menang mengingat ini mungkin jadi palagan terakhirnya. Bisa dipahami mengingat pada 2029, usianya sudah 77 tahun.

Namun, andai Prabowo kalah lagi pun tak masalah. Sebab, apa pun hasilnya hidup saya harus tetap berjalan.

Saya berharap pilpres 2024 ini berlangsung damai tidak seperti dua edisi sebelumnya. Yaitu polarisasi dua kubu diiringi pujian kampret, cebong, dan kadrun!

Bahkan, saya menyaksikan dua orang yang dulunya erat jadi berseberangan. Ceuk urang Sunda mah, petonggong-tonggong. 

Alias, saling menghindar dan enggan menuapa saat bertemu sejak pilpres 2014. Padahal, Prabowo saja sudah rekonsiliasi dengan Jokowi usai pesta demokrasi empat tahun lalu dengan bersedia jadi menteri.

Namun, beberapa orang yang saya kenal, justru masih diam-diaman. Aneh, yang di atas sudah baikan, tapi di bawah masih belum sadar.

Epilog, pilpres 2024 ini jadi hattrick saya memberi suara kepada Prabowo. Jika menang, saya berharap berbagai program yang diusungnya sejak lama bisa segera dijalankan.

Andai kalah, saya tetap mengidolai Prabowo. Sama halnya saya menggemari Juve, Jose Mourinho, Hendra Setiawan, Mike Tyson, Nicky Hayden, Jeff Hardy, dan sebagainya!


*     *     *

- Jakarta, 29 September 2023 (Bumi 87)


*     *     *

Artikel Sebelumnya:

- Dhani, Rizieq, dan Ahok Bersatu demi Indonesia (Bumi 378)

(http://www.roelly87.com/2023/08/dhani-rizieq-dan-ahok-bersatu-demi.html)

- Soe Hok Gie: Prabowo Cerdas tapi Naif

(http://www.roelly87.com/2017/01/soe-hok-gie-prabowo-cerdas-tapi-naif.html)


Artikel Selanjutnya:

- Prabowo Presiden 2024, Ganjar Mendagri, Anies Menlu, dan AHY Menhan (Bumi 666)






.