Polisi Responsif Itu ternyata Tukang Sadap
![]() |
| Ilustrasi masyarakat dan polisi saat Police Expo 2016 (Foto: dok pribadi/@roelly87) |
IKAN busuk dari kepalanya. Demikian adagium lawas terkait bobroknya suatu lembaga atau instansi.
Peribahasa itu diungkapkan dua tokoh terkemuka yang sama-sama bernama Prabowo.
Pertama, Listyo Sigit Prabowo saat jadi Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) pada September 2022 silam. Dia purnatugas jadi orang nomor satu di kepolisian 1 Oktober lalu setelah lima tahun menjabat.
Lalu, Presiden Prabowo Subianto yang mengatakan hal sama pada 25 Oktober 2024. Alias, hanya lima hari sejak dilantik jadi orang nomor satu di negeri ini.
Sama-sama bernama Prabowo. Cocoklogi, pada 2022 silam keduanya menjabat posisi penting.
Listyo Kapolri sejak 27 Januari 2021.
Di sisi lain, Prabowo saat itu Menteri Pertahanan (Menhan) yang mengemban tugas dari Presiden Keenam Joko Widodo (Jokowi) dalam Kabinet Indonesia Maju.
Btw, Menhan itu punya posisi strategis dalam kabinet. Sebab, bersama Menteri Luar Negeri (Menlu) dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) yang akan menjalankan tugas jika Presiden dan Wakil Presiden (Wapres) tiada.
Ya, satu Kapolri, satunya lagi Menhan.
Itu dulu.
Empat tahun kemudian per September 2026 sejak ucapan Listyo kepada jajaran Polri, posisi mereka berubah dikit.
Tentu, dia tetap Kapolri. Sementara, Prabowo sudah jadi presiden.
Eh, berselang sebulan kemudian, situasi berbalik 180 derajat. Dimulai pada 1 Oktober ketika Listyo dicopot Prabowo dengan Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri.
Gongnya, Selasa (3/11), Listyo yang menjabat sebagai Kepala Staf Presiden pun jadi pesakitan di Rumah Tahanan Markas Besar Polri. Itu akibat tindakan memata-matai presiden yang dilaporkan suksesornya sendiri, yaitu Suyudi.
Ironis.
Dalam sebulan, sejak awal Oktober hingga kini, nasib Listyo di ujung tanduk. Hukumannya terancam 10 tahun penjara!
Sebagai rakyat biasa, tentu saya ga bersimpati kepada Listyo. Salah sendiri, akibat menyelewengkan kewenangan.
Apalagi, yang disadap itu orang nomor satu di negeri ini.
"Gila kamu!"
"Kamu yang gila!"
"Ha... Ha... Ha..."
Terus, bagaimana sikap saya terhadap Prabowo?
Biasa aja.
Prabowo ga pantas dibela. Itu akibat ulahnya sendiri yang membuat banyak kebijakan merugikan rakyat Indonesia.
Tentu, saya nulis ini objektif. Meski saya mencoblosnya pada tiga pemilu sebelumnya, tapi saya merasa Prabowo ga menjalankan tugasnya sebagai presiden dengan baik.
Saya nilai, bukan 11 lagi dari 100 seperti yang diungkapkan Anies Baswedan dalam Debat Capres 2024. Melainkan, minus!
Serius.
Sumpah!
Beberapa artikel saya terkait Prabowo:
- Saya Ga Menyesal Pilih Prabowo, Memang Kemampuannya B Aja (https://www.roelly87.com/2025/04/saya-ga-menyesal-pilih-prabowo-memang.html)
- Prabowo: Sang Penculik yang Berharap Mandat Langit (https://www.roelly87.com/2023/09/prabowo-sang-penculik-yang-berharap.html)
- Prabowo Gemoy, tapi Tangannya Berlumuran Darah (https://www.roelly87.com/2023/12/prabowo-gemoy-tapi-tangannya-berlumuran.html)
- Anies adalah Liu Bei, Mega = Sun Quan, dan Jokowi = Cao Cao? (https://www.roelly87.com/2024/08/anies-adalah-liu-bei-mega-sun-quan-dan.html)
- Prabowo dan Kedaulatan Selera (https://www.roelly87.com/2023/11/prabowo-dan-kedaulatan-selera.html)
- Prabowo Kembali ke Setelan Pabrik (https://www.roelly87.com/2023/12/prabowo-kembali-ke-setelan-pabrik.html)
- Palagan Pamungkas Prabowo: Menyelami Hati, Pikiran... (https://www.roelly87.com/2024/01/palagan-pamungkas-prabowo-menyelami.html)
* * *
KAMUS Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan "sadap" sebagai kata dasar menyadap -peluluhan fonem dari mensadap- dengan dua hal.
Yaitu, menyadap getah karet atau nira dan merekam informasi rahasia.
Nah, tukang sadap yang terakhir ini ngeri-ngeri sedap. Tidak hanya rakyat jelata yang direkam aktivitasnya, melainkan juga presiden!
Ya, orang nomor satu di negeri ini pun turut disadap!
Bahkan, dimulai sejak tahun lalu. Alias, 2025 ketika Listyo masih jadi Kapolri.
Itu diungkapkan Kabareskrim Komjen Asep Safrudin terkait aktivitas Listyo yang memerintahkan penyadapan tanpa prosedur seperti diatur dalam tata cara Polri di Perkap Nomor 5 Tahun 2010.
Selain Listyo, ada Kadivkum Polri Irjen Ahrie Sonta (AHN), dan Irjen Eko Hadi Santoso (EH) yang bersamaan sudah ditahan di Rutan Mabes Polri.
Dari ketiga tersangka itu yang semuanya jenderal berbintang, keberadaan Ahrie yang bikin saya kaget. Btw, tentu, saya ga kenal dia.
Dia pun pasti ga kenal saya.
Namun, sebagai bloger yang turut aktif di media sosial, khususnya Twitter/X, saya ga asing dengan Ahrie. Ya, saya memang mem-follow akunnya dengan username @ahriesonta tersebut.
Tidak hanya dia, saya memang turut mengikuti beberapa akun pejabat, baik kepolisian, tentara, atau pemda. Misalnya, @jacklynchoppers, @kamto_adi, @himawansugeha95, @bangranistones dan lain-lain.
Saya senang melihat mereka aktif berinteraksi dengan warganet. Bahkan, tak jarang akun-akun tersebut memberi info menarik dan bermanfaat.
Sebagai pribadi yang selektif, saya ga pernah mau mem-follow akun seleb atau nama besar yang kosong. Saya hanya mengikuti yang bermanfaat atau karena hal tertentu.
Misal, saya follow Alessandro Del Piero yang memang pesepak bola favorit, Ahmad Dhani, dan Tresno Riadi (vokalis Tipe-X), satu-satunya public figure yang folback saya serta share artikel saya di twitter.
https://www.roelly87.com/2015/07/20-tahun-tipe-x-sukses-meriahkan.html
Di kalangan bloger juga saya turut mengikuti beberapa purnawirawan polisi maupun TNI.
Misalnya, Thamrin Dahlan yang aktif di Kompasiana, bahkan rutin mengajak saya dan rekan-rekan bloger serta Kompasianer untuk kampanye anti narkoba. Maklum, Thamrin yang pensiun sebagai Komisaris Besar Polisi ini sebelumnya menjabat Direktur Pasca Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN).
Bahkan, Anang Iskandar, Ketua BNN 2012-2015 juga merupakan bloger (https://www.roelly87.com/2015/02/profil-anang-iskandar-calon-kapolri.html).
Begitu pun dengan eks Marsekal TNI AU Chappy Hakim (www.chappyhakim.com dan https://www.kompasiana.com/kompasiana/54fee3fba33311f11850f847/bedah-buku-dan-berbagi-pengalaman-bersama-chappy-hakim), eks Marsekal Muda TNI AU Prayitno Ramelan (ramalanintelijen.net/ dan www.kompasiana.com/prayitnoramelan), ekonom almarhum Faisal Basri (www.kompasiana.com/faisalbasri), dan banyak lagi.
Nah, terkait Ahrie, dia dikenal di kalangan warganet sebagai polisi yang baik. Selalu responsif dan jemput bola dalam menangani keluhan masyarakat seperti yang diutarakan salah satu anggota DPR Hinca Panjaitan.
Sumber: https://news.detik.com/berita/d-7938559/terkesan-legislator-minta-polri-perbanyak-anggota-responsif-layani-masyarakat
Saya pun ga sedang memujinya. Apalagi, jadi buzzer Ahrie.
Najis!
Dih...
Ogah banget.
Namun, sebagai bloger, saya berusaha untuk objektif. Menulis berdasarkan fakta di lapangan tanpa tedeng aling-aling.
Baik ya tulis baik. Jika buruk, ya memang mayoritas dari anggota kepolisan itu buruk .
Beberapa artikel saya terkait instansi yang dijuluki warganet sebagai parcok:
- Lulusan SMA Dibekali Senjata Itu Bernama Polisi (https://www.roelly87.com/2025/02/lulusan-sma-dibekali-senjata-itu.html)
- Polisi Kini Humanis tapi Jangan Didramatisir dan Puji Berlebihan, Memang Sudah Tugasnya (https://www.roelly87.com/2026/06/polisi-kini-humanis-tapi-jangan.html)
- Sisi Lain Kerusuhan 28-31 Agustus: Demo Silakan, Anarkis Jangan! (https://www.roelly87.com/2025/09/sisi-lain-kerusuhan-28-31-agustus-demo.html)
- Anak Cowok Jadi Homo, yang Cewek Pelakor, dan Istri Kabur dengan Berondong: Kisah Tragis Eks Pejabat (https://www.roelly87.com/2026/04/anak-cowok-jadi-homo-yang-cewek-pelakor.html)
- Polri Ultah ke-78, Maaf Mahkota Kalian Masih Transit di DC Cirebon (https://www.roelly87.com/2024/06/polri-ultah-ke-78-maaf-mahkota-kalian.html)
* * *
KARIER melejit.
Bintang paling bersinar di antara rekan seangkatan, eh langsung redup tanpa harus memudar.
Ini bukan soal ucapan perpisahan Kurt Cobain jelang bunbun pada April 1994 silam. Melainkan, soal karier Ahrie.
Jebolan Akademi Kepolisian (Akpol) 2002 ini paling bersinar di antara kawan seangkatan. 2 April lalu genap 45 tahun.
Namun, di pundaknya sudah menyandang bintang dua dengan pangkat Inspektur Jenderal (Irjen). Padahal, rekan-rekannya masih melati atau di bawahnya dengan mentok AKBP, Kombes, bahkan Kompol.
Ya, cepat meroket, tapi juga cepat terjun bebas. Ahrie ini versi lain dari Prabowo di TNI yang sudah bintang tiga pada usia 47 tahun sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) dengan pangkat Letnan Jenderal (Letjen) pada 20 Maret 1998.
Eh, dua bulan kemudian harus pensiun jadi tentara akibat dipecat Presiden ke-3 BJ. Habibie.
Btw, Ahrie sempat jadi ajudan Prabowo. Yang menarik, dia mewakili korps kepolisian berdasarkan usul Listyo.
Wah, saya mencium bau amis...
Ya, saya dan sebagian rakyat di penjuru Tanah Air bisa jadi ga menyukai kepemimpinan Prabowo. Maklum dalam dua tahun ini, Indonesia malah suram ketimbang era yang sama saat Jokowi menjabat.
Btw, saya ga pernah pilih "Pria Solo" itu di Pilpres. Di sisi lain, tetap objektif di bawah kepemimpinan awal Jokowi, lumayan bagus.
(Selengkapnya: https://www.roelly87.com/2016/10/catatan-dua-tahun-kepemimpinan-jokowi-jk.html)
Namun, jika Kapolri aktif berani menyadap presiden sebagai atasannya itu, sungguh di luar nurul.
Serius.
Baik yang kontra maupun pro Prabowo (termasuk buzzer), tentu setuju bahwa tindakan Listyo ini sangat berbahaya. Istana menyebut, penyadapan Kapolri dan anak buahnya ini mengarah ke makar.
Sumpah, hancur sudah tatanan berbangsa ini.
Pasalnya, dengan penyelewengan kewenangan, baik saat jadi Kapolri atau usai jadi KSP, ini jadi alarm berbahaya.
Jika presiden aja bisa disadap, apalagi rakyat jelata seperti kita semua?
Indonesia Emas?
Cemas, kali!
* * *
Sumber:
- https://nasional.kompas.com/read/2024/10/25/16151861/prabowo-tekankan-ikan-busuk-dari-kepalanya-saat-bicara-antikorupsi-di-akmil
- https://nasional.kompas.com/read/2022/09/12/12075281/kapolri-ikan-busuk-mulai-dari-kepala-anak-buah-ingatkan-komandan-yang-salah
- https://news.detik.com/berita/d-8737086/kronologi-lengkap-kasus-penyadapan-ilegal-terhadap-presiden-prabowo
- https://www.bbc.com/indonesia/articles/c39wz0q5djqwo.amp
* * *
- Jakarta, 5 November 2026
