TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Rambut Memutih dalam Semalam

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol

Rabu, 29 April 2026

Rambut Memutih dalam Semalam

Rambut Memutih dalam Semalam


Ilustrasi gambar hanya pemanis (@roelly87)


(POV: SANDI)

IBU, istri, dan anak. Demikian prioritas dalam hidup saya yang berawal dari masa lalu, menjalani masa kini, dan menatap masa depan.

Ibu atau orang tua (ayah sudah meninggal) yang telah melahirkan, mendidik, dan membesarkan saya hingga kini.

Istri yang kini populer saya juluki MBG alias MyBiniGue merupakan pendamping hidup yang setia. Kami sudah melewati pahit manis kehidupan dalam belasan tahun pernikahan.

Anak? Masa depan kami semua. Saya punya dua anak yang masih dalam pertumbuhan. Sulung, laki-laki berseragam SMP. Sementara, bungsu, perempuan masih SD.

Begitu juga dengan mertua. Ayah dan ibu dari MBG. Keduanya sudah meninggal. Sang ibu wafat sebelum pandemi. Berselang tahun, babeh -panggilan akrab saya kepada ayah mertua- berpulang.

MBG sebagai anak tunggal mewarisi harta yang cukup peninggalan orang tuanya. Itu berupa beberapa kendaraan dan rumah.

Maklum, babeh merupakan saudagar ternama dari seberang. Masih memiliki hubungan darah dengan salah satu raja termasyhur di pulau itu. 

Meski begitu, istri enggan memanfaatkan status ningratnya. Bahkan, sejak lulus kuliah sudah mandiri untuk bekerja di kantor akuntan ternama.  

*         *         *

SEMUA baik-baik saja. Hingga, babeh meninggal akibat penyakit kronis. 

Berpulang dengan tersenyum. Kami pun ikhlas melepasnya.

Sayangnya, kami hidup di dunia nyata. Alias, bukan dongeng.

Sebab, masalah justru baru dimulai.

Usai tujuh harian, istri dan saya yang merupakan pegawai swasta mencoba mengumpulkan aset almarhum babeh dan enyak.

Kami dibantu beberapa sepupu dan keponakan istri.

....

Singkat kata, mayoritas aset sudah berganti nama jadi istri. Kecuali satu.

Ya, rumah berukuran sedang di Kota B. Sudah lama dihuni eks sopir yang dulu bekerja kepada babeh, sebut saja Gilman.

Namun, dia keluar akibat kecelakaan yang menyebabkan jadi tunadaksa. Itu karena kaki sebelahnya harus diamputasi.

Insiden berlangsung saat Idul Fitri. Alias, beliau sedang pulang kampung.

Karena kakinya sudah tidak bisa berfungsi untuk membawa mobil, dia pun mengajukan resign. Babeh dengan berlinang air mata menyetujui. 

Turut memberikan pesangon yang sangat besar. Meski kecelakaan bukan saat kerja, alias ketika cuti lebaran, tapi babeh tetap bertanggung jawab.

Bahkan, kelima anaknya disekolahkan hingga kuliah. Dua lulus, satu DO, dan dua kabur.

Ini fakta. Bukan mengada-ada. Memang babeh dan enyak semasa hidupnya sangat baik. 

Termasuk mewakafkan tanahnya di Kota M dan P untuk dibuat Panti Asuhan.

Nah, di Kota B, babeh ada rumah yang sempat ditempati sepupunya. Namun, setelah anak dari paman babeh itu berkeluarga, hijrah ke ibu kota meninggalkan rumah itu yang kosong.

Ujug-ujug Gilman tahu dan mendatangi babeh untuk menumpang di rumah tersebut. Babeh sifatnya ga tegaan. 

Apalagi, Gilman yang bersandar tongkat datang bersama istri dan ketiga anaknya yang masih kecil. Babeh pun mengizinkan.

Sebulan, dua bulan, setengah tahun, hingga puluhan purnama saat babeh meninggal, rumah itu masih ditempati Gilman.

...

Istri bersama sepupu dan keponakannya menemui Gilman. Maksudnya untuk silaturahmi sekaligus menengok rumah tersebut.

Gilman tahu babeh yang merupakan mantan bosnya meninggal. Turut mengucapkan duka cita dan minta maaf ga bisa hadir karena kondisinya.

Kami pun memaklumi keadannya. 

Nah, ketika MBG tiba, kagetlah melihat rumahnya. Sebab, dulunya saat ada babeh dan enyak, sangat terawat, kini jadi semrawut.

Pasalnya, di depan pekarangan hingga jalanan dipenuhi lapak dagangan. Rumah pun disekat untuk jadi kontrakan. 

Ternyata, itu disewakan kepada orang terdekat Gilman atau tetangganya.

Uang sewanya? Masuk kantong Gilman!

Yang lebih membagongkan, MBG, sepupu, dan keponakannya seperti tidak dianggap di rumahnya. Gilman layaknya bos besar hanya menerima di depan lapak pekarangan. 

Seperti mengusir secara halus. Bahkan, ketika keponakan istri nanya izin ke kamar mandi, tidak diberikan. Malah disuruh ke pom bensin.

Sontak, istri yang baru kehilangan ayahnya itu langsung naik pitam. Ditambah, perlakuan tidak sopan dari Gilman dan keluarganya.

Niat awal istri untuk mengecek rumah, jadi ingin mengambil alih. Wajar, punya orang tua sendiri.

Tahu jawaban Gilman?

"Enak aja, Ayah kamu yang kasih saya rumah ini untuk dikelola. Kamu jangan lancang, baru datang langsung mau rebut?"

Familiar?

Ya, mereka ini seperti bangsa Israel yang kabur dari Eropa dan izin menumpang kepada rakyat Palestina. Namun, berbalik jadi ingin menguasai tanah orang.

Jahat.

Gilman berkacak pinggang mengusir istri saya dan kedua saudaranya. Disertai teriakan dari keluarganya.

Dunia benar-benar udah terbalik.

MBG pun ga tinggal diam. Doi memberi ultimatum sebelum pergi: Pekan depan rumah harus dikosongkan dan utuh seperti semula.

*         *         *

TUJUH hari berselang, saya yang mendampingi istri untuk menenangkannya justru mendapat perlakuan ajaib dari Gilman.

Kami berdua dituding ingin menyerobot rumah orang di depan pengurus wilayah yang dihadirkan sebagai saksi. Gila!

Istri pun mengluarkan satu kartu truf: SHM sebagai legalitas kepemilikan tanah dan bangunan yang ditempati.

Toh, tetangga dan pengurus wilayah sudah tahu tentang babeh alias ayah dari istri saya itu.

Gilman membelokkan situasi. Disebut sudah diberi almarhum babeh secara lisan.

Stres!

Mana ada orang yang kasih rumah secara cuma-cuma. 

Ditanya buktinya apa, Gilman menjawab tanya aja di dalam kuburan babeh. Ironisnya, istrinya dan anak-anaknya turut mengamini.

Sungguh keluarga ga tahu diri.

Sampe sini, saya udah emosi. Namun, berusaha untuk menenangkan istri.

Benar-benar keluarga dajjal! Bangsa Israel yang mengejawantah ke diri Gilman dan keluarganya.

...

Singkatnya, deadlock.

Pengurus wilayah ga berani kasih solusi. Nah, di sinilah plot twist.

Ternyata, ada oknum pejabat setempat yang coba mengail di air keruh. Diimingi 'badu' alias bagi dua dengan Gilman atas hak kepemilikan rumah lewat duplikasi SHM.

Kini, musuh kami tidak hanya Gilman saja. Melainkan, oknum pengurus wilayah dan pejabat rakus. 

Hingga ke meja hijau berbulan-bulan, masih sengketa. Saya ingin turun tangan sendiri untuk menyelesaikan persoalan ini.

Namun, istri mencegah. Doi tahu, kalau saya sudah turun gunung, urusan bisa panjang.

Ya, saya pun coba untuk sabar. Berusaha untuk menguatkannya.

Bagaimanpun, itu rumah peninggalan orang tuanya. Kami, menantu dan anak tentu harus berjuang untuk mendapatkannya kembali.

Meski, prosesnya ga mudah. Sampe istri beberapa kali cuti dari pekerjaannya akibat fokus ke Gilman dan kroninya.

*         *         *

USAI makan malam, saya dan istri berbincang sejenak depan tv. Saat itu, kedua anak kami sudah tidur.

Obrolan ringan yang biasa kami lakukan jelang istirahat. Topiknya, beragam mulai dari drakor dan kpop kesukaan MBG, band, musik, pekerjaan di kantor masing-masing.

Istri cerita, ada saudara jauh, yaitu anak dari sepupu ayahnya siap membantu. Profesinya pengacara ternama yang sering tampil di tv.

Karena masih keluarga, alias kakek yang sama, pengacara itu turut menawarkan tanpa dibayar. Alias pro bono.

Istri pun menolak. Menurutnya, darah ya darah. Namun, ini sudah masuk urusan bisnis. Harus bayar.

Istri bersikeras untuk membayar sesuai tarif karena memang sanggup. Pengacara itu pun mengiyakan.

Usai cerita, kami istirahat ke ranjang. Istri langsung tidur karena seharian lelah di kantor dan pikirannya terganggu akibat sengketa rumah.

Saya belum ngantuk. Iseng nonton dracin yang singkat tapi menghibur. Beda dengan drakor yang episodenya panjang. Sementara untuk kisah seram sekaligus lawak, ada di drathai (Drama Thailand).

Saking serunya hingga ketiduran beberapa jam. Ternyata saya ngantuk juga. Langsung pasang alarm bangun subuh dan cas hape di pinggir kasur.

Tak lupa menutup selimut MBG tersayang yang sedang terlelap.

Namun, alangkah kagetnya pas melihat istri tampak berbeda. Rambutnya memutih...

Ini serius. Doi istri saya. Bukan hantu. 

Wajahnya tidak berubah. Hanya rambutnya yang tadinya hitam kini jadi putih.

Saya mencolek tangan kiri sendiri. Berasa.

Mencubit pipi kanan. Sakit.

Ini bukan mimpi.

Ya Tuhan, hanya dalam semalam rambut istri saya berubah jadi putih.

Sekelebatan saya ingat pada sosok Lian Nichang dalam novel Pek Hoat Mo Lie/Baifa MonĂ¼ Zhuan, karya Liang Yusheng yang saya baca sejak 1990-an. 

Atau, Maria Antoinette, permaisuri Raja Prancis Louis XVI yang rambutnya memutih akibat frustrasi gagal kabur hingga akhirnya dipenggal.

...

Refleks saya ingin bangunkan istri. Namun, saya urungkan karena ga tega setelah melihatnya terlelap.

Perlahan, jari saya arahkan ke hidungnya. Alhamdulillah, bernafas.

Pun dengan denyut nadi. Normal.

Nyaris saja...

Hufft!

Saya perlahan ke westafel. Cuci muka. Hilang segala kantuk usai menyaksikan perubahan MBG tersayang.

Saya tatap dari kursi di seberang ranjang. Memandang dari dekat.

Bergeming.

Hingga, sinar matahari perlahan masuk ke celah jendela. Saya yang sedang mematung kaget karena istri balik menatap saya.

"Belum tidur?" katanya.

"Udah. Ini baru bangun," jawab saya berbohong yang pasti sudah diketahuinya.

Istri memandangi saya dengan likat. Hingga tersadar saat melihat rambutnya yang terurai. Langsung tarik napas.

Saya memberinya minum untuk menenangkan. Tidak ada perubahan pada wajahnya.

Namun, dari guratannya tidak bisa berbohong bahwa itu merupakan kesedihan yang nyata. Saya merangkul istri. 

Doi pun memeluk saya. Air mata tampak jatuh dari wajahnya. 

Rambutnya yang memutih terurai tidak bisa membuyarkan kecantikannya. Doi merupakan belahan hati saya dalam belasan tahun ini hingga nanti kami dipisahkan Sang Khalik.

Pagi itu jadi saksi sejoli yang sedang menjalani takdir.

Usai seperminuman teh, saat situasi sudah tenang, istri pun cerita. Ternyata, dalam beberapa hari ini doi mendapat teror yang diperlihatkan pada chat di hapenya.

Secara halus hingga brutal. Intinya, untuk "mengikhlaskan" rumahnya kepada para maling.

...

Sambil menyuapi teh manis yang masih hangat kuku, saya menguatkan hatinya. Sebagai suami, saya tentu akan melindunginya.

Saya ga sudi ada pihak yang melukai istri. 

"Tenang aja De," ucap saya perlahan sambil membelai rambut di kening istri yang sudah berhenti nangis. "Aku ga akan 'berada di bawah matahari yang sama' dengan para maling itu  Namun, tenang aja, aku akan bereskan dengan 'penuh kelembutan'!"

Pernyataan tegas yang merupakan reaksi saya sebagai kepala keluarga. Ya, seperti halnya sikap Sun Quan kepada Cao Cao yang ingin menginvasi wilayahnya dalam Sam Kok (Romance of the Three Kingdoms).

Di hadapan istri, saya berusaha untuk mengambil alih rumahnya dari para maling dengan damai meski secara hukum belum ada penyelesaian hingga kini. Namun, di lubuk hati yang daling dalam, saya bersumpah ga akan memaafkan Gilman dan para pencuri. 

Termasuk, ternak, anjing, dan tikus di rumah mereka akan saya sapu. Berapa pun harga yang harus saya bayar.

Kehormatan istri merupakan segalanya bagi pria.

Bersambung***


*         *         *

(Diceritakan ulang oleh suami yang sayang keluarga dengan modifikasi dan editing sewajarnya)

*         *         *

- Jakarta, 29 April 2026


*         *         *

Artikel Selanjutnya:

- Si Pengkor yang Cacat Otak


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Maaf ya, saat ini komentarnya dimoderasi. Agar tidak ada spam, iklan obat kuat, virus, dan sebagainya. Silakan komentar yang baik dan pasti saya kunjungi balik.

Satu hal lagi, mohon jangan menaruh link hidup...

Terima kasih :)