TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Pati Identik dengan Penggelapan, Ngapain Aja Pemerintahnya Selama Ini?

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol

Selasa, 11 Juni 2024

Pati Identik dengan Penggelapan, Ngapain Aja Pemerintahnya Selama Ini?


Pati Identik dengan Penggelapan, Ngapain Aja Pemerintahnya Selama Ini?


MENYANTAP gorengan yang berisi tempe, tahu isi, dan bala-bala merupakan kenikmatan sebagai cemilan ringan. Ditambah cengek yang hijaunya menggoda membuat suasana siang itu sangat syahdu.

Kriuk gorengan yang diselipkan beberapa cengek merupakan surga dunia. Ya, cukup dengan Rp 10.000 per bungkus dengan isinya macam-macam, kita bisa menikmati cemilan ringan yang sukses membuat mata melek.

Maklum, perpaduan tempe goreng, tahu isi, bala-bala, dan cabe rawit kecil nan menggoda, cukup membuat saya terjaga dari lelah serta kantuk usai seharian membelah jalanan ibu kota sebagai ojek online (ojol). 

Tak lupa, plastik berisi es tebu untuk menangkal pedas yang membuat suasana bersandar di emperan ruko kosong Taman Palem, Jakarta Barat, jadi lebih berwarna.

Tak lama, dari arah jam tiga, datang rekan ojol yang kemungkinan juga ikut ngadem. Kami pun bersalaman seperti biasa.

Usai saling menawarkan makanan masing-masing, dia sibuk menuang gelas plastik berisi kopi hitam sambil membuka hp. Saya juga tenggelam bersama cengek dan sepotong bala-bala.

"Makin rame aja ya soal Pati, ngab," ujar rekan ojol itu membuka percakapan.

Btw, 'ngab' merupakan anagram dari bang yang merupakan panggilan akrab sesama pria. Setara dengan bro, mas, brader, aa, kang, om, dan pak.

"Iya, bro," jawab saya singkat disela-sela gigitan terakhir tahu isi.

"Sadis juga ya, warga sono. Katanya, satu kampung isinya penadah gituan."

"Kasihan korban yang ga bersalah. Yang pasti, main hakim sendiri ga bisa dibenarkan."

"Iya, ngab. Padahal banyak ojol juga asal sono. Tapi biasanya baik. Kayak di BC ane ada yang pake motor *** kan asli Sukolilo. Orangnya ramah banget. Ga neko-neko. Ini di kampung aslinya, warganya malah serem semua."

"Bener bro. Ane juga kenal beberapa rekan ojol dari daerah A, B, C, dan lain-lain. Biasa aja. Stigma daerahnya rawan ini-itu ya wajar. Namun, ga semua warganya, termasuk yang merantau di Jakarta, berprilaku minus."

Obrolan kami terputus karena hp dia bunyi aplikasi pertanda dapat orderan. Rekan ojol itu pun langsung menyeruput kopi terakhirnya.

"Ngab, ane cabut dulu ya."

"Kakap bro?

"Paus... Ha ha ha."

"Ke mana?" Saya penasaran. Biasanya rute ojol jauh dibilang kakap di atas 20 km. Kalo paus, ya bisa lebih.

"Cikarang. Lumayan ngebolang ngab."

"Ebuset Itu mah, bukan paus lagi, tapi megalodon. Bisa 50 km ya."

"Ha ha ha. 60 km lebih, sampe pantat panas. Ane duluan ngab, mumpung Daan Mogot jam segini belom macet."

"Lanjut bro."


*       *       *


DALAM beberapa hari terakhir, Kabupaten Pati, khususnya Kecamatan Sukolilo jadi sorotan masyarakat. Itu terkait pengeroyokan warga kepada pengusaha rental yang mengakibatkan meninggal.

Kronologis yang saya baca di berbagai media, pengusaha rental dan beberapa kawannya hendak mengambil mobil yang digelapkan penyewa di Desa Sumbersuko, Sukolilo, Jumat (7/6). Apa daya, mereka justru disangka maling oleh warga hingga berujung penganiayaan.

Saya sudah melihat video yang beredar di media sosial (medsos). Itu biadab sih. Orang yang sudah terkapar masih dihujani pukulan dan batu. 

Mungkin, iblis pun sungkem kepada para warga yang melakukan penganiyaan tersebut. 

Sumpah, saya merinding lihat videonya.

Tak heran jika Sukolilo dan Pati pun dicap sebagai daerah penadah kendaraan curian. Stigma negatif ini bukan hanya dari satu atau dua orang saja.

Melainkan berdasarkan banyak pengakuan warga yang mengungkapkan kekesalannya di medsos. Bahkan, Pati (dan Sukolilo) di-blacklist sebagai kawasan rawan bersanding dengan Lampung, Palembang, Madura, dan Medan.

Di sisi lain, saya juga simpati kepada warga yang tinggal di kawasan yang dapat label negatif itu. Sebab, tidak semua penduduk di sana terlibat.

Sekali lagi, tidak semuanya terlibat.

Misal, (Pulau) Madura yang kerap dijuluki North Mexico akibat maraknya pencurian kendaraan atau menyerobot tanah orang. Jujur, ini bikin risih. Secara banyak orang dari Madura yang saya kenal, baik-baik saja. Malah, sangat ramah dan suka membantu sesama.

Hal serupa Medan dengan Gotham City terkait maraknya kriminalitas. Begitu juga dengan Lampung, Palembang, dan lainnya.

Saya pikir, kita ga bisa menggeneralisasi. Secara, dari sekian warga yang barbar, tentu tidak sedikit yang waras.

Bahkan, ada yang mengaitkan asal daerah dengan perilaku minus. Konon, ini jadi catatan hitam saat melamar kerja.

Untuk ini, saya tidak setuju. Maklum, saya besar di kawasan yang dijuluki Bronx-nya Jakarta. Namun, ya sejauh ini normal saja. Sejak kecil saya ga terpengaruh yang aneh-aneh. Begitu juga dengan warga lainnya. 

Kalo pun ada yang barbar, suka tawuran, maling, pengedar narkoba, ya itu segelintir saja. Jangan salahkan daerahnya.

Melainkan, justru yang harus disalahkan itu pejabat pemerintahnya bersama kepolisian. Sebab, mereka yang harusnya bertanggung jawab dengan situasi dan keadaan itu.

Contohnya, di Sukilolo dan Pati. Yang harus disalahkan ya camat, bupati, dan aparat yang berwenang.

Kemana mereka selama ini hingga Pati dan Sukolilo puluhan tahun dikenal sebagai kawasan penadah?

Ini yang seharusnya turut diusut. Apalagi, Kapolda Jawa Tengah Irjen Ahmad Luthfi kabarnya mau nyalon sebagai gubernur. Selama ini ngapain aja hingga membiarkan anak buahnya seperti ga peduli dengan Pati.

Begitu juga dengan Medan yang kini dipimpin Bobby Nasution sebagai walikota dan bersiap nyagub Sumatera Utara. Status sebagai menantu Presiden Joko Widodo ternyata ga berguna untuk menghilangkan stigma "Gotham City". Eh ini mau melompat lebih jauh sebagai orang nomor satu di Sumut...

Aduh!


*       *       *


KEADILAN harus ditegakkan di Tanah Air. Warga yang terbukti melakukan penganiayaan terhadap pengusaha travel harus dihukum berat. Khususnya, provokator atau dalangnya dan para penadah yang terlibat.

Pada saat bersamaan, pemerintah daerahnya dan aparat kepolisian jangan lepas tangan begitu aja. Mereka wajib kerja keras untuk mengedukasi warga Sukolilo dan Pati. 

Tidak hanya sekadar formalitas saja yang biasa dilakukan saat viral dan dilupakan ketika isunya sudah reda. Melainkan harus terjun langsung ke lapangan. 

Ini juga harus menggandeng pemerintah pusat. Sebab, maraknya penggelapan berkolerasi dengan himpitan ekonomi yang sulit di Pati. Konon banyak pengangguran di sana yang membuat mereka gelap mata.

Ini jadi PR bersama para pemangku kepentingan, baik pemerintah pusat, pemprov Jawa Tengah, pemda Pati, Sukolilo, dan aparat penegak hukum. Toh, gaji mereka kan berasal dari keringat masyarakat, termasuk warga Pati.

Jangan sampai insiden ini terulang lagi. Serius.

Sumpah, ga lucu jika dalam beberapa waktu ke depan kembali heboh diberitakan ada pengusaha rental yang takut mengambil kendaraannya yang digelapkan di Pati. 

Kalau seperti ini lagi, lebih baik para pejabat yang makan gaji buta itu segera mengundurkan diri.***


*       *       *


- Jakarta, 11 Juni 2024



*       *       *


Referensi:


- https://m.antaranews.com/berita/4145706/tiga-tersangka-pengeroyokan-kasus-mobil-rental-diancam-12-tahun-bui


- https://www.kompas.com/tren/read/2024/06/10/183000965/rangkuman-minggu-kriminal-di-pati-ada-pengeroyokan-pembunuhan-perampokan?page=all#page2


- https://metro.tempo.co/read/1878035/kronologi-bos-rental-mobil-dianiaya-warga-hingga-tewas-di-pati



...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Maaf ya, saat ini komentarnya dimoderasi. Agar tidak ada spam, iklan obat kuat, virus, dan sebagainya. Silakan komentar yang baik dan pasti saya kunjungi balik.

Satu hal lagi, mohon jangan menaruh link hidup...

Terima kasih :)