TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol

Jumat, 11 Maret 2016

Sisi Lain Krishna Murti: Catatan Polisi di Mata Blogger


Krishna Murti saat jadi pembicara dalam Kopdar Netizen di Mabes Polri

"BAPAK sdh 25 tahun kerja jadi polisi, harusnya Bapak sudah punya Polsek sendiri..!!!" Demikian jawaban dari tukang bakso yang berjualan di Kalijodo kepada Krishna Murti. Mendengar skakmat tersebut membuat Komisaris Besar (Kombes) Polisi itu tidak kuasa menahan geli. Bahkan, Krishna langsung menuliskannya kembali di facebook-nya yang mendapat kehebohan tersendiri.

Hingga kini, status jenaka yang dibuat pada 23 Februari itu mendapat respons dari khalayak. Yang me-like ada 23 ribu, komentar (1.435), dan membagikannya kembali (3.882). Deretan angka itu membuktikan popularitas Krishna tidak hanya di kalangan internal kepolisian saja. Melainkan juga masyarakat luas, termasuk saya yang mengaguminya.

Bisa dipahami mengingat pria kelahiran 15 Januari 1970 ini merupakan sosok yang bersahaja dan ramah. Tidak hanya di media sosial (medsos) saja dengan membalas beberapa komentar dari netizen. Tapi juga di dunia nyata. Bahkan, pada pertengahan Januari-Februari lalu, nyaris layar televisi, media cetak, online, hingga radio sekalipun, selalu memuat profil dirinya.

Tentu, itu bukan karena Krishna rajin update status di medsos atau hadir dalam talkshow. Namun, karena posisinya sebagai Direktur Rreserse Kriminal Umum (Direksrimum) Polda Metro Jaya. Jabatannya itu yang membuat Krishna bersinggungan dengan berbagai kasus populer di ibu kota. Tiga di antaranya yang saya ikuti, seperti Insiden Thamrin, Kopi Sianida, dan Penggusuran Kalijodo.

Saya beruntung pernah menemuinya pada 28 Oktober lalu. Tepatnya, saat menghadiri "Kopdar Netizen Bersama Divisi Humas Polri" di Gedung Bhayangkari Mabes Polri yang turut menampilkan Inspektur Jendral (Irjen) Anton Charliyan sebagai pembicara. Itu merupakan kali kedua saya mengikuti acara yang diselenggarakan Divisi Humas Polri setelah 16 Mei 2013 di tempat yang sama.

Sudah pasti, saat mengikuti acara lima bulan lalu itu, saya sama sekali tidak mengenal Krishna. Apalagi, lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1991 ini tidak sampai selesai menghadirinya karena harus pamit untuk bertugas. Namun, sekelebatan telinga saya mendengar Krishna mengaku juga sebagai blogger. Wow... Ini menarik bagi saya.

Lantaran bertambah lagi daftar tokoh terkemuka di negeri ini yang kerap menuliskan catatan hariannya di blog pribadi atau keroyokan. Sejak dulu, saya rutin membaca blog dari Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla, mantan Menteri Sekretariat Negara (Mensekneg) Yusril Ihza Mahendra, Ketua Tim Kelola Minyak dan Gas Bumi Hasan Basri, mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan, dan Kepala Bareskrim Komisaris Jenderal (Komjen) Anang Iskandar.

Dalam kesempatan itu, meski tidak lama, Krishna bercerita mengenai aktivitasnya sehari-hari yang kerap dituangkan pada blog pribadi beralamat di www.catatansibedu.com. Kelak, saya tahu salah satu tokoh dalam blog tersebut ternyata berkolerasi dengan peristiwa yang berkaitan saat mantan Kapolsek Metro Penjaringan ini hadir di Kalijodo.

*        *        *
"TIADA gading yang tak retak". Demikian adagium lawas berkata yang selalu saya percaya. Sebab, layaknya kehidupan, tentu terdapat dua sisi berbeda. Hitam dan putih, tua-muda, pria-wanita, dan positif-negatif. Itu yang saya ketahui pada Krishna sejak 28 Oktober lalu. Khususnya dalam dua bulan terakhir setelah insiden 14 Januari yang kebetulan terjadi hanya sehari sebelum pemilik akun twitter @krishna_bd ini genap berusia 46 tahun.

Sudah pasti, saya tidak mengenalnya secara pribadi. Namun, bisa dibilang dalam dua bulan terakhir ini saya intens menyimak perkembangan Krishna di berbagai medsos dan mainstream. Kebetulan, saya kerap melihat berbagai postingannya di facebook. Nah, di jejaring sosial inilah, Krishna sering berinteraksi dengan teman atau pengikutnya yang mencapai 355 ribu orang.

Ironisnya, saya kerap menyaksikan Krishna terpancing emosinya saat menjawab komentar dari teman atau follower-nya. Salah satunya ketika penulis buku "Geger Kalijodo" ini membalas pernyataan dari salah satu facebooker pada Rabu (9/3).

"Orangnya berwibawa jago debat.. Yg bilang saya sinting.. Mudah2an saya diberi kesabaran," ujar Krishna terhadap komentar salah satu akun facebook sambil menampilkan foto orang tersebut. Sudah pasti, jawaban dari sosok yang pada 1996 ditunjuk sebagai Komandan Kontingen Polri untuk misi perdamaian PBB di Bosnia ini mendapat respons yang ramai. Pro dan kontra pun mengalir di status facebook tersebut hingga mendapat 10 ribu like, 471 komentar, dan 1.180 kali di-share ulang.

Sejatinya, apa yang dilakukan Krishna beralasan. Lantaran dimaki oknum tersebut sebagai "orang sinting" hingga membuat wibawa Polri hancur. Ya, siapa sih yang ga panas mendapat cercaan seperti itu? Saya pribadi pun tidak dapat menyalahkan Krishna. Pasalnya, mencaci seseorang di dunia maya bisa berujung Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) no 11 tahun 2008.

Itu seperti tertera dalam pasal 27 ayat 3 yang berbunyi, "Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik".

Di sisi lain, sebagai publik figur, khususnya aparat kepolisian yang tugasnya Melindungi, Melayani, dan Mengayomi masyarakat, tentu Krishna harus menahan diri. Jujur, saya agak ngeri membaca sepenggal komentarnya yang bisa jadi nadanya bersayap, "Mudah2an saya diberi kesabaran." Tentu, saya enggan membayangkan jika saat itu Krishna tidak bisa menahan amarahnya.

*        *        *
MENGAMATI Krishna dari kejauhan dalam dua bulan terakhir di medsos dan mainstream, bagi saya ibarat menyantap gado-gado. Ada manis, asam, asin, ramai rasanya. Ya, adakalanya perwira menengah (Pamen) itu sangat jenaka dengan menjawab komentar atau menanggapi pertanyaan secara jenaka. Saya akui, faktor humoris dan keramahannya itu yang membuat Krishna mendapat perhatian lebih dari masyarakat luas.

Bahkan, sekilas sosok yang aktif mengkampanyekan Turn Back Crime untuk memerangi kejatahan ini mirip Sjafrie Sjamsoeddin ketika dielu-elukan publik karena sikapnya yang ramah di layar televisi setelah Kerusuhan Mei 1998. Saya masih ingat, dulu, ibu-ibu di sekitar kediaman saya sangat heboh jika menyaksikan sosok yang saat itu menjabat sebagai Pangdam Jaya tampil di tv. Selain ramah juga karena Sjafrie dikenal sangat tampan yang saat itu -belum ada facebook dan twitter- jadi idola kaum hawa.

Meski begitu, Krishna juga bisa tegas. Itu bisa dibuktikan dengan berbagai pernyataan yang berkaitan tentang Insiden Thamrin, Kopi Sianida, dan Penggusuran Kalijodo. Bahkan, Krishna tidak pernah main-main jika sedang bertugas. A adalah A, B adalah B. Ibarat pendekar silat, jika sudah kewajibannya, bagi Krishna, "nyemplung ke laut atau lompat ke api" bakal dilakoninya.

Itu ditegaskannya saat berkoordinasi dengan Pemerintah Kota (Pemkot) DKI Jakarta saat penggusuran Kalijodo. Bahkan, ayah dua anak ini segera meninggalkan rapat di kantornya untuk menuju Jalan Thamrin saat insiden 14 Januari terjadi. Saat itu, Krishna langsung mempertaruhkan nyawanya demi melumpuhkan aksi terorisme.

"Yg buat pernyataan di coba aja deh, pake Sirine terobos lalulintas dari semanggi Ke sarinah .... 10 Menit cocok! Kenapa sudah pake Rompi (anti peluru)? Suka nonton Film2 gak sih.... Biasanya detektif2 itu Rompinya selalu siap di mobil mereka dan langsung bereaksi? Ya Namanya Polisi harus selalu langsung siap beraksi ! Lah ... Masa mau ngopi2 dulu di stabuck gitu?" demikian status facebook Krishna pada 20 Januari lalu.

Menyimak ketegasan itu, saya pun berandai-andai jika Krishna jadi Gubernur atau Wakil Gubernur DKI Jakarta. Tentu, ini hanya khayalan saya semata mengingat lulusan Sekolah Pimpinan Tinggi (Sespimti) Polri 2012 itu  memiliki karier yang cerah di Kepolisian. Saat ini, Krishna menjabat sebagai Kombes pada usia 46 tahun. Itu berarti, pria berbintang Capricorn ini punya waktu 12 tahun menjelang pensiun.

Kelak, Krishna bakal menyandang pangkat Brigadir Jenderal (Brigjen), Irjen, Komjen, dan mungkin -jika mulus- berakhir dengan Jenderal. Bahkan, dalam periode 1,5 windu dari sekarang, bisa jadi karier sosok yang terlibat dalam pengungkapan kasus pajak Gayus Tambunan ini mendapat kepercayaan Mabes Polri untuk memegang posisi penting.

Mulai dari Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) tipe B jika Brigjen dan tipe A (Irjen) seperti Polda Metro Jaya yang prestisius. Selanjutnya, andai lancar, bukan tidak mungkin jabatan Kabareskrim, Kepala BNN -jika masih belum setara kementrian-, Irwasum, Wakapolri, bahkan Polri. Toh, nasib orang siapa yang tahu. Namun, dengan menilik catatan kinerjanya yang lurus seperti jalan tol, kecuali faktor x atau force majeur, tentu Krishna bisa mencapai jalur tersebut.

*        *        *
Di sisi lain, sejak Adang Daradjatun -eks Wakapolri- bersaing dalam pemilihan gubernur (Pilgub) DKI 2007, saya belum pernah lagi menyaksikan adanya calon gubernur (cagub) atau calon wakil gubernur (cawagub) dari pihak kepolisian. Pada Pilgub 2012, seluruh cagub dan cawagub terbagi antara politisi, pengusaha, purnawirawan TNI, dan independen.

Pun begitu menyaksikan kemungkinan Pilgub tahun depan yang lagi-lagi didominasi politisi, pengusaha, dan independen. Menurut saya, masyarakat akan mendapat banyak alternatif jika ada perwakilan dari kepolisian untuk bersaing. Baik itu aktif atau purnawirawan. Sebab, 2017 bisa jadi momentum bagi Polri untuk membuktikan sebagai pelindung, pelayan, dan pengayom masyarakat. Apalagi, dua tahun berselang, akan ada pemilihan umum (pemilu) yang serentak di Indonesia, termasuk pemilihan presiden.

Pertanyaannya, siapa tokoh yang diusung atau pantas mewakili Polri? Jika menilik popularitas saat ini, Krishna salah satu yang kompeten. Tentu, popularitas saja tidak cukup. Namun, masih ada waktu lebih dari 11 bulan menuju 19 Februari 2017 untuk mensosialisasikan diri lebih lanjut ke seluruh lapisan masyarakat.

Memang berat mengingat cagub-cawagub lainnya sudah lebih dulu dikenal warga Jakarta. Apalagi, Krishna tidak memiliki kendaraan politik. Berbeda dengan Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) yang meski bakal maju sebagai independen namun sudah memiliki modal kuat memimpin sejak 2014.

Faktanya, saat itu, Joko Widodo (Jokowi) pun tidak terlalu dikenal warga Jakarta -kecuali yang asal Solo- ketika mendeklarasikan sebagai cagub tiga tahun lalu. Bahkan, banyak survei lebih mengunggulkan incumbent saat itu, Fauzi Bowo. Tapi, ending-nya seperti yang kita tahu, Jokowi dan Ahok yang melenggang ke Jalan Merdeka Selatan.

Tentu, Krishna bisa mencontoh pasangan tersebut. Meski, itu hanya kemungkinan kecil bagi mantan penyidik Bareskrim ini. Sebab, dengan mencalonkan sebagai cagub atau cawagub sama saja seperti pertaruhan yang nyaris mustahil karena harus pensiun dini dari Polri. Pasalnya, jika gagal, kariernya yang telah dibangun sejak 25 tahun silam di kepolisian bakal lenyap begitu saja.

Namun, bukankah hidup merupakan pilihan? Toh, Krishna sudah pernah mempertaruhkan nyawanya saat menghadapi teroris. Jadi, tidak sulit rasanya mempertaruhkan hidupnya demi memimpin warga Jakarta. Pertanyaan terakhir, apakah berani?

Kopdar Netizen di Wisma Bhayangkari 28 Oktober 2015
*        *        *
Artikel Terkait:
- Sisi Lain Budi Waseso (Buwas): Pasukan Khusus, Ceplas-ceplos, dan Kritik
- Anomali Ahok: Pahlawan atau Pengkhianat?
- Profil Anang Iskandar: Calon Kapolri yang Merupakan Blogger Aktif
- Profil Enam Calon Kapolri dan Plus-Minusnya
- Presiden dan Kepala BNN Kompak: Bandar Narkoba harus Dihukum Mati
- HUT Polantas ke-60: Dengarlah Aspirasi Masyarakat untuk Bersama Mengurai Kemacetan
- Pengalaman Sehari di Mabes Polri
- Polisi Menggugat
- Ketika Polwan Beraksi di Atas Moge
- Sinergi BNN dan Blogger untuk Mengatasi Darurat Narkoba
- Membongkar "Rahasia" Bea Cukai
- Sisi Lain Paspampres yang Berprestasi
- 50 Tahun Gugurnya Ade Irma Suryani dalam Kenangan Sang Kakak
- Tidak Semua Polisi Berprilaku Kurang Baik
- Benarkah Polisi Segan dengan Dosen, Tentara, dan Wartawan?
- Kenapa Harus Blogger yang Kampanye?

*        *        *
- Jakarta, 11 Maret 2016

Rabu, 09 Maret 2016

(Esai Foto) Selamat Ulang Tahun ke-45 Tempo dan Terus Berkembang Indonesiana


#TEMPO45Tahun
"ALAMATNYA bukan di Mayestik, pak. Tapi, di Palmerah," kata saya kepada rekan sopir yang mengantar kepulangan dari Bandung.

"Lha, setahu saya deket Kebayoran. Soalnya, dua tahun lalu saya pernah ke sana," pria asal Tebet ini menjelaskan.

"Gue baca di tempo.co, alamat perusahaan di Palmerah Barat, bro. Tapi, (alamat) redaksinya di Mayestik. Coba aja datengin satu per satu," tutur rekan saya menimpali sambil memperlihatkan laman situs tersebut pada layar telepon seluler (ponsel).

"Ga tahu juga deh. Di majalahnya malah alamat redaksi dan perusahaan sama-sama di Palmerah. Tadi, sih mbak yang telepon cuma bilang lantai tujuh. Pas ane telepon balik malah ga aktif. Ya udah nanti turunin saya di kantor aja pak. Ntar dari GBK saya naik motor ke Palmerah, kan dekat," saya menjelaskan.
*       *       *
#TEMPO45Tahun

Percakapan itu terjadi ketika kendaraan yang saya tumpangi memasuki kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Rencana saya mau ke kantor Tempo untuk mengambil hadiah pemenang lomba blog Indonesiana bertema Figur Inspiratif. Itu setelah pagi harinya saya mendapat telepon dari perwakilan mereka. 

Singkatnya, saya tiba depan gedung yang menjulang gagah dan unik. Setelah bertanya ke petugas keamanan, ternyata bangunan berbentuk kubus itu yang atasnya diagonal itu memang benar milik Tempo. Di lobi berderet puluhan bunga ucapan dari berbagai perusahaan kakap di negeri ini untuk majalah yang Minggu lalu genap 45 tahun.
*       *       *
#TEMPO45Tahun

Saat menuju lift, saya melewati ruangan yang berisi berbagai majalah atau koran yang mungkin akan diedarkan. Seketika, saya jadi teringat obrolan dengan Dahlan Iskan di mobil dinasnya ketika masih jadi Menteri BUMN medio 2013. Saat itu, pria asal Magetan, Jawa Timur itu memotivasi saya dengan cerita masa mudanya hingga menjelang paruh baya. Salah satunya ketika jadi wartawan Tempo yang secara eksklusif meliput kecelakaan Kapal Tampomas pada 1981. 

"Saya dibesarkan Tempo sebelum akhirnya memimpin Jawa Pos. Salah satu pengalaman yang paling berkesan dan menegangkan ketika menyasksikan mayat berserakan di laut dekat kapal itu," kata Dahlan dalam perjalanan dari kantornya di kawasan Medan Merdeka Selatan untuk mentraktir saya di restoran Bubur Kwang Tung, Pecenongan,
*       *       *
#TEMPO45Tahun

Di sisi lift, terdapat berbagai informasi untuk kalangan internal Tempo. Ada jadwal pertandingan olahraga, informasi terkini yang sekilas seperti majalah dinding (mading) waktu saya sekolah, hingga iklan. Ternyata, Gedung Tempo juga menerima pihak swasta yang mau menyewa beberapa lantai atau ruangannya.

*       *       *
#TEMPO45Tahun

"Silakan menunggu ya mas. Mbak Widya (kalo ga salah, saya lupa namanya) sedang rapat," ucap salah satu pegawai Tempo di bagian informasi. Sambil membunuh waktu, saya iseng-iseng membaca Koran Tempo yang tersedia. Dibanding majalah, edisi harian ini memang lebih ringkas. Kebetulan, terakhir kali saya beli Koran Tempo pada edisi 15 Januari lalu. Saat itu, saya tertarik dengan halaman depan yang memuat lima foto utama Insiden Thamrin.
*       *       *
#TEMPO45Tahun

Setelah selesai membaca Koran Tempo, saya pun iseng menuju jendela yang terletak di samping lift. Dari lantai tujuh, tampak wajah ibu kota yang sebenarnya. Di tenggara, terlihat deretan gedung bertingkat yang berdampingan dengan perumahan penduduk. Termasuk, kompleks Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) yang merupakan tempat saya kerja.

*       *       *
Foto: Instagram @Anazkia

"Ini mas ditandatangani sebagai bukti penerimaan. Oh ya, kita foto dulu ya untuk dokumentasi," ujar pegawai Tempo bernama -kalau tidak salah- Alif saat menyerahkan ponsel yang merupakan hadiah Lomba Blog Indonesiana Figur Inspiratif. Setelah mengucapkan terima kasih, saya meminta tolong kepadanya untuk dipertemukan dengan admin Indonesiana. Kebetulan, dua di antaranya sudah saya kenal sejak 2011, Rob Januar dan Anazkia. 

*       *       *
#TEMPO45Tahun

Sayangnya,  saya hanya berjumpa Anazkia. Sementara, Rob yang terakhir kali saya temui ketika menjelajah setiap sudut Gedung DPR/MPR bersama Komunitas Hobi Jepret (Kampret) pada 20 September 2014, sedang tidak ada. Saat itu, Anazkia langsung mengajak saya ke ruang kerjanya yang berbaur dengan berbagai desk Tempo lainnya.

Bahkan, novelis "15 November: Mengingatmu dalam Catatanku" ini, menjelaskan berbagai hal tentang Indonesiana. Maklum, saya pribadi belum lama aktif menulis di blog publik milik Tempo ini. Tepatnya, pada 18 Februari lalu dengan langsung menunggah artikel berjudul, "The Revenant: Tertolong Sinematografi dan Totalitas Di Caprio."

"Siapa pun boleh bergabung dan menulis di Indonesiana," kata Anazkia yang mendapat penghargaan Srikandi Blogger 2013 ini. "Indonesiana juga memperbolehkan penulis atau blogger yang menyalin artikelnya dari blog pribadi. Yang penting, tulisan itu asli dan bukan copy-paste. Setiap harinya terdapat ratusan tulisan yang beredar di Indonesiana."

Pernyataan dari wanita yang saya kenal sejak bergabung dengan Komunitas Blogger Hibah Buku ini memang beralasan. Sebab, Indonesiana menyandang nama besar Tempo sebagai bagian dari grup media yang mengutamakan jurnalime investigatif. Serupa dengan Kompasiana yang merupakan adik kandung dari Harian Kompas.
*       *       *
#TEMPO45Tahun

Setelah ngalor-ngidul nyaris satu jam, saya pun pamit kepada Anazkia untuk kembali ke kantor. Namun, sosok yang dinobatkan sebagai Perempuan Inspiratif Nova 2014 ini mengajak saya untuk "tur" di sekitar gedung. Termasuk memperlihatkan huruf T raksasa di langit-langit ruangan tersebut. "Saya saja baru tahu huruf itu waktu Dian (Sastrowardoyo) datang ke sini," kata Anazkia menyebut pameran Cinta dalam film AADC ini yang dimuat Tempo edisi 22 Februari lalu.

*       *       *
#TEMPO45Tahun

Ketika menuju lift, ternyata terdengar suara musik yang mengalun indah. Saya pun penasaran yang dijawab Anazkia, "Itu paduan suara untuk memperingati ulang tahun Tempo ke-45. Acaranya sore ini. Datang aja rul."

Sayangnya, waktu di ponsel saya sudah menunjukkan pukul 15.30 WIB. Alhasil, saya langsung pamit untuk kembali ke kantor dengan membawa hadiah dan segudang cerita. Ya, adagium lawas mengatakan, "tiada perjamuan yang tak berakhir."

*       *       *
#TEMPO45Tahun

Esok harinya, kebetulan saya libur kerja. Jadi, mempunyai waktu untuk membongkar gudang demi mencari beberapa koleksi Tempo. Kebetulan, saya sudah membaca majalah mingguan tersebut sejak awal 2000-an ketika masih berseragam abu-abu. Pasalnya, keluarga di rumah sering beli eceran di kios depan stasiun yang berlangsung hingga kini.

Seperti yang dikatakan Dahlan tiga tahun lalu, Tempo bukan sekadar majalah berita mingguan saja. Melainkan sudah jadi alternatif sumber berita  utama di berbagai kalangan. Mulai dari masyarakat umum hingga instansi pemerintah.

*       *       *
#TEMPO45Tahun

Selain faktor jurnalisme investigatif yang kerap saya adopsi dalam penulisan blog, yang saya suka dari Tempo karena sampulnya. Ya, di era "senjakala media" saat ini, satu foto (atau karikatur) jadi lebih bermakna dibanding ribuan kata yang jadi pemikat untuk pembaca. Itu seperti yang diungkapkan Bob Mayer, "Content is King. Promotion is Queen."

Ya, selamat ulang tahun ke-45 Tempo. Terus berkembang Indonesiana!

*       *       *
Artikel Terkait
- Beda Nasib Kartini-Kartono
- Tertawa ala Goenawan Muhamad
- Sisi Lain Dahlan Iskan
- Dahlan Iskan dan Gerbong Terakhir
- Wawancara Eksklusif: Dahlan Iskan
- Resensi Buku Anazkia: 15 November
- Gerakan Hibah Sejuta Buku
- 45 Pemenang Figur Inspiratif
- Christie Ubah Keterbatasan Jadi Kelebihan

Esai Foto sebelumnya:

*       *       *
- Jakarta, 8 Maret 2016

Senin, 07 Maret 2016

(Esai Foto) Kopdar CNI Perdana Bersama Fun Blogging




SIANG itu, jalanan ibu kota tampak lenggang. Saya pun membelah jalur sepanjang Gatot Subroto-Rasuna Said, dengan lancar menuju kawasan Plaza Festival, Jakarta Selatan, Minggu (5/3). Sesampainya di resto Burger King, sudah ramai dipenuhi puluhan rekan blogger. Ya, saat itu, ada acara yang diselenggarakan komunitas Fun Blogging bekerja sama dengan Gerai CNI. Seusai mengisi absensi, saya langsung mencari bangku kosong yang bersebelahan dengan mentor blogger sejak 2011, Dian Kelana.

*        *        *

Acara bertema Digital Marketing Sharing ini dibuka dengan sambutan dari perwakilan Gerai CNI, Gustia Lendra. Selanjutnya, sosok yang murah senyum ini mengumumkan pemenang live tweet yang diraih Kornelius Ginting. Blogger yang memiliki blog di alamat korneliusginting.web.id ini memang sangat update. Itu bisa dilihat dari berbagai artikel dan juga interaktifnya di media sosial.

*        *        *


Event bertajuk #KopdarCNI ini menampilkan dua pembicara. Pertama, Niko Riansyah yang mengelola sosial media dan advertising Gerai CNI. Selanjutnya,perwakilan pengurus Fun Blogging, Ani Berta, yang merupakan salah satu blogger anutan saya di dunia blog.

*        *        *


Sesi selanjutnya pemaparan dari Niko. Kebetulan, saya tidak asing lagi dengan pria yang mengelola sosial media, komunitas, dan advertising Gerai CNI ini. Sebab, tahun lalu pernah mendapat ilmu darinya mengenai program afiliasi untuk blogger.

Dalam kesempatan itu, Niko, berbagi informasi mengenai digital marketing. Salah satunya yang menurut saya sangat menarik ketika pemilik akun twitter @nikoriansyah ini menjelaskan tentang peran facebook dan google dalam memasarkan produk. Menurut Niko, kedua layanan internet itu jadi salah satu sumber utama www.GeraiCNI.com.

Sekadar informasi, Gerai CNI merupakan perusahaan yang menyediakan berbagai produk via online. Mulai dari makanan dan minuman kesehatan, obat herbal, kecantikan, busana, tas, hingga peralatan rumah tangga. Sebagai penggemar kopi, saya beruntung pernah memesan salah satu produk dari Gerai CNI, yaitu kopi ginseng.

*        *        *


Berikutnya, sesi tanya jawab. Kebetulan, salah satunya diajukan Putri Kartika Mentari yang duduk satu meja dengan saya bersama Sari Novita dan Riri Restiani. Wanita yang merayakan ulang tahun berbarengan dengan HUT Indonesia itu, sangat antusias menyimak rangkaian acara. Tidak hanya bertanya saja, bahkan Putri turut men-share informasi melalui twitter-nya.

Menjelang sesi pamungkas dari Ani, saya melirik telepon seluler (ponsel) yang bergetar berkali-kali. Ternyata, saat itu sudah ada beberapa notifikasi dari grup whatsapp. Pertanda, saya harus kembali ke kantor, mengingat jam di ponsel saya sudah menunjukkan pukul 15.30 WIB. Alias, saya punya waktu setengah jam untuk membelah lagi jalur Rasuna Said-Gatot Subroto.  Sebelumnya, memang saya sudah konfirmasi terlebih dulu, jika hanya bisa mengikuti #KopdarCNI setengah acara.

Dari atas kawasan Kuningan, tampak Matahari bersinar cerah. Seperti cerahnya ilmu yang didapat saya usai menghadiri #KopdarCNI meski tidak sampai selesai.

*        *        *



Tiba di kantor, saya langsung membereskan laptop, charger ponsel, power bank, dan berbagai peralatan kerja. Ternyata, kendaraan yang akan saya tumpangi masih mengisi bahan bakar minyak (BBM) di Kebayoran. 15 menit waktu sebelum bus yang akan membawa saya menuju kota kembang sampai, saya pun mengisinya dengan menyalakan komputer sejenak.

Sambil ditemani hangatnya secangkir Up Green Tea, saya membuka twitter untuk menyimak perkembangan acara dengan sesi Ani bertajuk "Mengelola dan Produksi Konten". Kebetulan, saat melirik beranda, tagar #KopdarCNI jadi trending topic di Indonesia. Itu berarti, cuitan dari peserta yang hadir mendapat sambutan hangat dari rekan-rekan blogger lainnya.

Salah satunya dari salah satu pengurus Fun Blogging, Haya Aliya Zaki. Sosok yang selama setahun ini banyak menginspirasi saya dalam dunia blog itu intens mengikuti perkembangan #KopdarCNI. Myra Anastasia mencuit sharing dari Ani, "Sebagai seorang blogger, sebaiknya fokus terlebih dahulu untuk belajar memperkaya konten." Pada saat yang sama, akun @zataligouw, melukiskan, "Teh @aniRingo memberi contoh acara yg ia jadikan 2 tulisan yaitu reportase kegiatan dan exclusive press conference #KopdarCNI @CNI_ID."

Sayangnya, ketika tengah asyik menyimak twit dari rekan-rekan lain, kendaraan yang akan saya tumpangi sudah tiba. Itu berarti, saya bakal kembali lagi melewati jalur Gatot Subroto-Rasuna Said menuju kawasan Kuningan. Namun, bukan di Plaza Festival, melainkan sebelahnya di Epicentrum, yang berlanjut menembus Cawang hingga ke arah timur.

*        *        *
Artikel terkait:
- CNI Tawarkan Program Afiliasi untuk Blogger
- Tiga Dara Blogger
- Tips Ngeblog Asyik: Jalin Hubungan Baik dengan Komunitas Blogger (I)
- Tips Ngeblog Asyik: Pentingnya Mengisi Daftar Hadir

Esai Foto sebelumnya:
*        *        *

- Bandung, 7 Maret 2016

Jumat, 04 Maret 2016

(Esai Foto) Menikmati Ketenangan di Danau Linow



Gemuruh ombak di pantai Kuta
Sejuk lembut angin, di bukit Kintamani
Gadis-gadis kecil menjajakan cincin
Tak mampu mengusir kau yang manis

Bila saja kau ada di sampingku
Sama-sama arungi danau biru
Bila malam enggan terpejam
Berbincang tentang bulan merah...

SEPENGGAL lirik "Nyanyian Rindu" dari Ebiet G. Ade mengalun sore itu. Lagu yang populer dari album Camelia IV itu, sungguh masih sedap didengar meski lewat 36 tahun silam. Pun ketika saya berada pada lokasi yang jauh dari Bali. Tepatnya, di Tomohon, Sulawesi Utara, 3 Februari lalu saat bergabung dengan rekan blogger dan media dalam rombongan Indosat Ooredoo.

*        *       *

Perjalanan kami yang berjumlah lebih dari 30 orang dimulai seusai menghadiri perkenalan aplikasi Dompetku Nusantara dari salah satu operator terbesar di negeri ini. Dari Pelabuhan Bitung, kami menggunakan bus menuju Tomohon yang menurut aplikasi Google Maps di telepon seluler (ponsel) saya berjarak sekitar 85 km. Sepanjang jalan, terhampar berbagai pemandangan indah. Salah satunya, Monumen Yesus Memberkati yang berdiri gagah.

*        *       *

Setelah dua jam perjalanan, akhirnya kami sampai sore itu. Menurut portal Indonesia.go.id, Danau Linow memiliki luas sekitar 34 Ha. Lokasinya berada di kelurahan Lahendong, Kota Tomohon. Oh ya, danau ini memiliki kadar belerang yang tinggi. Jadi, pengunjung yang datang harus berhati-hati karena ada beberapa kubangan lumpur dengan panas mendidih yang berada di tepi danau.
*        *       *

Menurut rekan blogger Ophi Ziadah dalam artikelnya berjudul "Eksotisme Tiga Warna Danau Linow Tomohon," airnya kerap berubah jadi tiga warna. Itu mengapa Danau Linow jadi salah satu destinasi unggulan Sulawesi Utara selain Taman Laut Bunaken, Danau Tondano, dan kota Manado.
*        *       *

Saya, Ani Berta, Indra Hutapea, dan Aditya yang merupakan perwakilan blogger bersama rekan redaktur ekonomi dan gadget seluruh Indonesia, sangat takjub dengan keindahan Danau Linow. Kebetulan, kami tiba ketika hari masih cerah. Saya melirik arloji di tangan kiri baru menunjuk angka lima lewat 35 menit Waktu Indonesia Tengah (Wita).
*        *       *

*        *       *

Di era sekarang, kurang afdol jika tidak langsung mengabadikan pemandangan indah ini. Saat keluar dari bus, kami pun berpencar mencari spot menarik sebagai dokumentasi yang akan dibanggakan untuk cerita kelak bersama anak dan cucu.
*        *       *

Termasuk saya yang tak mau ketinggalan. Berbekal kamera ponsel, saya pun menjelajah di berbagai sudut danau Linow. Tidak ketinggalan, mencari informasi kepada beberapa petugas yang memang warga setempat.
  
*        *       *

"Yang pake baju merah, jangan sampe lolos."
*        *       *

"Tempat ini sangat strategis. Banyak seleb (maksudnya- selebritis), anggota dewan (pejabat DPRD dan DPR) yang singgah di sini," kata salah satu pramusaji di kafe itu kepada saya. "Bahkan, kita sering menyaksikan pemuda 'menembak' di sini. Ada yang wajahnya muram, dan tak lama langsung pulang walau sudah pesan tempat. Tapi banyak juga yang cintanya berhasil."
*        *       *

*        *       *

Ligia yang merupakan pemandu wisata kami selama tiga hari di Sulawesi Utara, mengatakan, "Kafe ini letaknya strategis. Jadi dari sini bisa memandang ke berbagai arah di danau Linow. Tuh, lihat saja airnya di bibir danau dengan di tengah dan ujung danau berbeda."
*        *       *

Setelah mendengarkan penjelasan dari mantan Nona Manado itu, kami pun asyik untuk mengabadikan suasana di sekitar danau Linow. Ada yang memotret, rekam video, hingga mengunggahnya di media sosial.

*        *       *

Untuk menunjang aktivitas itu, tak lupa kami juga ditemani berbagai cemilan. Sejuknya udara di danau Linow membuat saya tak kuasa untuk menerima sodoran kopi dari pramusaji yang sekilas wajahnya mengingatkan saya pada pameran Lala dalam sinetron Bidadari II.

*        *       *

*        *       *

Menjelang malam, memandang setiap sudut danau Linow sungguh membuat kami terhipnotis dan enggan beranjak. Dari kejauhan terdengar suara burung Blibis yang menurut Ligia, oleh warga setempat diberi nama "Sayok" dan "Komo". 

*        *       *

*        *       *

Suatu senja yang sangat berkesan. Ketenangan di danau Linow membuat saya sejenak melupakan kepenatan sehari-hari. Itu mengapa Ophi melukiskan dalam artikelnya, "Kangen, pengen balik lagi." Pernyataan sama diungkapkan Ani melalui instagram-nya, "Nikmat (Tuhan kamu manakah) yang kamu dustakan."
*        *       *

*        *       *

Dari arah timur, dewi rembulan sudah menampakkan wajahnya. Pada saat yang sama, sang surya sudah jauh meninggalkan kami menuju barat. Itu berarti, saya dan rombongan sudah harus bersiap untuk kembali ke penginapan. Belasan pramusaji sibuk membereskan kursi, meja, piring, dan peralatan masak. Pun begitu dengan beberapa pasangan serta keluarga yang beranjak ke arah gerbang. Sayup-sayup suara Ebiet terdengar merdu.

Coba engkau dengar lagu ini
Aku yang tertidur dan tengah bermimpi
Langit-langit kamar jadi penuh gambar
Wajahmu yang bening, sejuk, segar

Kapan lagi, kita akan bertemu
Meski hanya sekilas, kau tersenyum
Kapan lagi, kita nyanyi bersama
Tatapanmu, membasuh luka..."
 

*        *       *        *        *       *
*        *       *        *        *       *
*        *       *        *        *       *

*        *       *

*        *       *
*        *       *
*        *       *
- Jakarta, 4 Maret 2016

Selasa, 01 Maret 2016

Nobar ICI Regional Jakarta: Angel Bikin Segar


Nobar ICI Regional Jakarta di Brewerkz, Senayan

PERIODE kelam masih dialami FC Internazionale sepanjang 2016 ini. Untuk kelima kalinya mereka menelan kekalahan, dua di antaranya dari rival abadi, Juventus. Setelah sebelumnya dipermak 0-3 di Piala Italia, "Nyonya Besar" kembali mempermalukan Inter di Seri A pada pekan ke-27.

Namun, seperti kata pepatah, dalam permainan, menang dan kalah itu biasa. Yang penting, saling respek satu sama lain. Itulah yan terjadi di Brewerkz Restoran, Jakarta Selatan, Senin (29/2) dini hari WIB. Saat itu, ratusan Interisti yang tergabung dalam komunitas Inter Club Indonesia (ICI) Regional Jakarta menyelenggarakan nonton bareng (nobar).

Sepanjang pertandingan, wajah mereka tampak tegang. Ada yang geregetan, sedih, kecewa, hingga marah, saat menyaksikan skuat asuhan Roberto Mancini kesulitan menjebol gawang Juventus. Harapan mereka sirna, saat Juve justru menambah keunggulan, enam menit jelang bubaran.

Namun, seusai wasit Gianluca Rocchi meniup peluit panjjang, suasana kembali mencair. Memang, raut kekecewaan tidak bisa sirna begitu saja dari ratusan Interisti yang menghadiri nobar di mal di kawasan Senayan tersebut. Mereka semakin bersemangat lantaran kehadiran dara manis bernama Angel, salah satu perwakilan ICI dari Manado yang khusus datang mengikuti nobar di Jakarta.

"Senang banget lihat sesama fan Inter datang dari jauh. Apalagi, wajah mbak dari Manado bikin segar kita dibanding melototin skor yang ga berubah," kata salah satu Interisti yang menerima kekalahan Inter dengan lapang dada.

"Menang atau kalah, Inter tetap Inter. Kami bangga jadi pendukung Inter," demikian yel-yel mereka seusai laga. "Kalau saya lihat, Juve masih lebih unggul, baik itu dari segala lini, kesiapan, dan segala macam, memang Inter masih di bawah mereka," kata Arya Rito Darmawan selakuk Membership ICI.

Untuk semifinal leg kedua Piala Italia, ICI Jakarta kembali menyelenggarakan nobar di Brewerkz, Kamis (3/3) dini hari WIB. Seperti biasa, acara ini dimeriahkan dengan doorprize dan pembagian stiker gratis. Selain itu, ICI Jakarta juga menjual berbagai macam merchandise keren.

*        *       *
Suasana nobar

*        *       *
Perwakilan dari Internona

*        *       *
Merchandise yang dijual

*        *       **        *       *
*        *       **        *       *
*        *       **        *       *

*        *       *


Artikel tentang Inter sebelumnya:
Tujuh Rahasia Inter Dominasi Seri A Musim Ini
Erick Thohir: Inter Incar Liga Champions
Wawancara Eksklusif Erick Thohir: Saya Percaya Loyalitas Dua Arah
Kilas Balik 2014: Berakhirnya Pahlawan "Treble Winners" 2009/10
Diego Milito dan Angka 22
Kisah Ponsel Dua Presiden Seri A: Erick Thohir dan Andrea Agnelli
Fakta Menarik Ivan Zamorano dan Kostum No 1+8
Cinta Lama Bersemi Kembali
Kembalinya "Il Sette Magnifico"

Artikel Interisti Lainnya
Giuseppe Meazza Pindah ke Jakarta
ICI Syukuran HUT ke-11
Buka Bersama ICI: Dari, Oleh, dan Untuk Interisti
Satu Dekade ICI: Semangat Kekeluargaan dari Interisti
Ultah Kelima IN Distretto Jakarta
Mengejar Cinta hingga ke Italia
- Mereka Jagokan Milan untuk "Derby d'Italia"
- We Are Rival, but Not Enemy

*        *       *
Artikel ini dimuat di Harian TopSkor edisi Selasa (1/3)
- Jakarta, 1 Maret 2016