TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Januari 2020

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan
PLBN Entikong

Senin, 27 Januari 2020

Setelah 6 Bulan Jadi Ojol, dari Sambilan hingga Full Time

Setelah 6 Bulan Jadi Ojol, dari Sambilan hingga Full Time



NGGAK nyangka, 12 Januari lalu, saya tepat enam bulan jadi ojek online (ojol). Berawal dari sambilan usai pulang kerja di kantor sebelumnya, kini full time. Ya, mulai akhir bulan ini, saya resign sebagai jurnalis di salah satu media cetak ternama di Tanah Air ini.

Jadi ojol full, tentu beda dengan sambilan. Waktu operasionalnya pun lebih panjang. Dari sebelum matahari terbit hingga lewat di ufuk barat. Pendapatannya juga beda. Lebih banyak hehehe. Meski, jam kerjanya luwes. Tergantung, niat. Bisa dari pagi, siang, sore, malam, atau mulai dini hari. Ya, situasional.

Yang pasti, jadi ojol full itu benar-benar harus siap tempur. Beda dibandingkan dengan sambilan yang sekedarnya. Sebab, jadi ojol full itu harus giat. Jika tidak, sulit mendapat pemasukan. Secara, tidak ada lagi yang ditunggu setiap tanggal 28. He he he.

Bisanya, jelang ngojek, saya sudah melengkapinya dengan berbagai persiapan. Itu meliputi:

1. Doa
Ya, banyak-banyakin doa. Agar, gampang cari orderan (gacor). Secara, ojol di ibu kota bukan hanya saya saja. Melainkan, puluhan ribu atau bahkan ratusan. Jadi, harus sigap ketika orderan masuk. Tetutama, jika orderan perdana, haram hukumnya diabaikan, apalagi di-cancel. Sebab, bisa anyep (senyap) berjam-jam. Ini berdasarkan pengalaman pribadi dan sharing sesama ojol.

2. Cek kendaraan
Biasanya, saya lihat indikator bahan bakar minyak (bbm) di dashboard sepeda motor. Selanjutnya, cek angin pada ban depan dan belakang. Lalu, rem, agar perjalanan aman dan nyaman.  Untuk mesin, saya tidak paham. Yang pasti, jika sepeda motor agak gimana gitu, langsung saya larikan ke rumah sakit, eh bengkel resmi terdekat. Namun, jika ramai, terpaksa bengkel jalanan, yang sudah saya kenal.

3. Siapkan Peralatan
Jas hujan selalu tersedia dua. Yang seragam, atasan dan bawahan, serta mantel. Helm pun dua, untuk saya dan penumpang. Selanjutnya masker.

4. Pastikan Perlengkapan
Jika berangkat pagi, saya selalu bawa kopi di tumbler dan air mineral. Ya, bawa dari rumah untuk menekan pengeluaran. Kecuali jika ngojek malam. Kebetulan, sepeda motor saya sekarang matic, jadi bisa bawa banyak atribut. Beda dengan sebelumnya, tipe sports.

5. Sedia payung sebelum hujan
Maksudnya uang untuk antisipasi di jalan. Minimal 500 ribu, untuk beli bensin dan jaga-jaga ban bocor atau motor mogok. Bagaimanapun, di jalan, kita ga tahu apa yang terjadi. September lalu, sepeda motor saya pernah mogok di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat. Ketika itu, masih yang lama dan besar. Sehingga, susah untuk didorong. Beruntung, ada rekan-rekan sesama jurnalis yang masih ngumpul di sekitar Medan Merdeka Barat, hingga dengan dua sepeda motor bisa menyetut kendaraan saya yang ternyata akinya habis. Selain uang tunai dan kartu atm (debit), saya juga sediakan uang elektronik. Itu meliputi saldo gopay pribadi dan driver. Untuk saldo driver, biasanya selalu tersedia 500 ribu-1 juta yang digunakan untuk GoFood dan GoShop. Maklum, di aplikasi driver saya tersedia empat opsi harga maksimal orderan, mulai dari Rp 50 ribu, 100 ribu, 200 ribu, hingga Semua. Nah, biasanya saya pilih yang terakhir. Simpel saja, dengan orderan tak terbatas, kesempatan dapat orderan pun makin besar dibanding harus yang 200, 100, apalagi 50. He he he.

Sejauh ini, rekor orderan tertinggi pada November lalu yang mencapai 820 ribu. Tunai pula! Untungnya, bukan order fiktif (opik). Kalo opik, rempong. Next, akan saya ceritakan dalam artikel lain.

https://www.instagram.com/p/B5TTaGBgnAK/?igshid=17ewaigm6azp9

Artikel sebelumnya:
Narik Go-Jek Pakai Suzuki GSX R-150
Pengalaman Daftar Driver Go-Ride Gojek


- Jakarta, 27 Januari 2020

Senin, 13 Januari 2020

Menelusuri Kontribusi Freeport Indonesia untuk Papua


PT Freeport Indonesia berkomitmen terhadap pendidikan masyarakat Papua
dengan salah satunya memberikan beasiswa mulai dari SD hingga S3
(Foto: Dokumentasi PTFI.co.id)


PEPATAH mengatakan, tak kenal maka tak sayang. Demikian yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saya pribadi. Salah satunya, mengenai PT Freeport Indonesia (PTFI).

Dulu, ini dulu... Banget mungkin.

Ketika itu, jika mendengar informasi terkait Freeport Indonesia, pasti stigma yang ada dalam pikiran saya, gimana gitu. Entah itu, Freeport Indonesia adalah ini, itu, anu, bla-bla-bla, dan sebagainya.

Wajar saja, mengingat sebagai masyarakat awam, ingatan saya tentang Freeport Indonesia itu, jujur saja. Adalah, pengeruk hasil bumi Indonesia. Alias, eksplorasi penuh untuk diangkut ke luar negeri. Itu, dulu...

Stigma itu, ketika saya masih kanak-kanak. Namun, belasan tahun berselang, tepatnya kini, setelah rekan sebaya memiliki banyak anak, persepsi saya tentang Freeport Indonesia berubah. Tentu saja, tidak langsung 180 derajat. Melainkan, secara bertahap seiring perkembangan usia yang membuat pengetahuan, daya pikir, logika, dan pemahaman saya pun bertambah.

Ditambah, dengan kemajuan teknologi. Kini, stigma negatif saya terkait Freeport Indonesia sudah mulai luntur. Sebab, jika ada berita miring, saya langsung mengeceknya pada pihak yang kompeten. Baik itu, di website resmi PTFI https://ptfi.co.id/, informasi dari perwakilan pemerintah, hingga media yang memiliki kredibilitas di Tanah Air.

Maklum, saat ini, berita atau informasi hoaks memang menjamur. Jadi, saya harus pintar-pintar untuk menelaah lebih lanjut. Terutama, sebagai blogger yang memegang teguh asas jurnalistik. Tentu, dalam menuangkan ide dan pikiran pada blog pribadi saya yang beralamat di www.roelly87.com ini, harus cek dan ricek lebih dulu.

Syukur-syukur, bisa mendatangi langsung ke lokasi yang bersangkutan seperti ketika saya diundang instansi pemerintah untuk meluruskan hoaks di perbatasan.

Nah, dari penelusuran di berbagai sumber yang kompeten di internet terkait Freeport Indonesia, ternyata sangat positif. Itu karena Freeport Indonesia memang menambang dan memproses bijih dengan menghasilkan konsentrat yang mengandung tembaga, emas dan perak. Setelah itu, mereka memasarkan konsentrat ke seluruh penjuru dunia dan terutama ke smelter tembaga dalam negeri, PT Smelting.

Bagaimana dengan keuntungannya?

Tentu, sebagian disetor kepada pemerintah yang sumbangsih bagi negeri sangat besar. Bahkan, Freeport Indonesia turut membangun Papua seperti yang tertuang dalam laman resmi pemerintah pada Indonesia.go.id dengan artikel, "Ekonomi Papua Masih Bergantung pada Freeport".

Bahkan, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis, akibat turunnya produksi Freeport Indonesia di Kabupaten Mimika menyebabkan pertumbuhan ekonomi Papua agak berkurang hingga minus 20,13 persen pada triwulan pertama 2019 dibanding tahun sebelumnya.

Bisa dipahami mengingat 25 persen dari 30 ribu pekerja Freeport Indonesia merupakan warga asli Papua.

Mungkin, artikel di blog ini masih belum lengkap akibat saya tidak menyertakan komentar langsung atau wawancara dari masyarakat di Bumi Cendrawasih terkait sisi positif kehadiran Freeport Indonesia. Semoga, kelak, saya bisa mendatangi langsung serta melihat prosesi penambangan yang dilakukan Freeport Indonesia sekaligus berbincang dengan masyarakat sekitar.

Banyak lagi Kontribusi Freeport untuk masyarakat Papua. Termasuk, dalam olahraga, salah satunya dukungan penuh terhadap Persipura Jayapura. Sebagai penggemar bal-balan, tentu saya mengetahui kualitas tim berjulukan Mutiara Hitam tersebut yang juara kompetisi nasional di Tanah Air hingga empat kali.

Selain kehebatan pemain di lapangan, strategi pelatih, dan loyalitas suporter, ada dukungan dari Freeport Indonesia. Kucuran dana miliaran rupiah per musim itu sangat berarti untuk mengakomodasi kebutuhan Persipura dalam mengarungi kompetisi. Terutama, jika harus tandang ke markas klub yang perjalanannya lintas pulau ke Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Hanya, Olahraga baru bagian kecil dari sumbangsih Freeport Indonesia terhadap Papua. Sebab, masih banyak lagi kontribusi mereka untuk Bumi Cendrawasih.

Misalnya, dalam memberdayakan masyarakat. Freeport Indonesia sejak 1996 hingga 2018 telah memfasilitasi 11 ribu siswa dalam program beasiswa mulai dari tingkat SD hingga S3. Freeport Indonesia bersama organisasi masyarakat, Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK) secara rutin melakukan monitoring langsung ke sekolah-sekolah di mana para penerima beasiswa tersebut menempuh pendidikannya.

Freeport Indonesia juga memberikan keterampilan bagi ibu rumah tangga di Papua. Sehingga, mereka dapat berperan dalam meningkatkan pendapatan keluarga. Itu meliputi berbagai pelatihan seperti mengelola keuangan keluarga, menjahit, hingga membuat makanan dari bahan lokal turut diajarkan agar dapat tercipta industri skala rumah tangga di masa mendatang.

Dari sektor ekonomi, Freeport Indonesia turut mengajak pemangku kepentingan lainnya untuk dapat berperan dalam pengembangan daerah dan masyarakat. Termasuk, pada perikanan, peternakan, pertanian, ketahanan pangan, dan banyak lagi melalui Program Pembinaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, serta Dana Bergulir.

Tujuannya, dapat mengembangkan kegiatan-kegiatan ekonomi masyarakat lokal dengan memberikan pembinaan dan pendampingan kepada pengusaha-pengusaha Papua yang berpotensi. Berbagai program ini dapat meningkatkan perekonomian lokal dan taraf hidup masyarakat secara berkelanjutan serta meningkatkan kemampuan kompetisi pasar para pengusaha lokal.

Bagi saya, ini menarik. Sebab, Freeport Indonesia, ibaratnya tidak hanya memberikan ikan saja kepada masyarakat Papua. Melainkan, turut memberikan kail, agar masyarakat Papua bisa maju dengan hasil usahanya.

Kontribusi Freeport Indonesia untuk Papua mendapat pengakuan luas dari masyarakat di Tanah Air. Terutama, dari warga asli Papua. Itu diungkapkan Teanus Nebegal, pengusaha dari Kampung Ilaga yang mendirikan CV. Kwakibera Timika.

Usai mendapat binaan dari Departemen Social & Local Development (SLD) Freeport Indonesia, Teanus merintis usahanya dengan modal pribadi atau tanpa bantuan pihak lain sejak 2006. Proyek pertamanya, pembersihan rumput di sepanjang jalur transmisi listrik dan pengecatan tower listrik di jalan PTFI dari Portsite sampai MP50.

Berkat kegigihannya, CV. Kwakibera mengalami kemajuan. Bahkan, pada Februari 2012, Teanus mampu menambah kendaraan operasionalnya dengan satu unit mobil pick-up. Dari hasil usahanya ini, Teanus mampu mendirikan rumah, kantor, dan aset usaha lainnya, dengan memperkerjakan 12 karyawan.

"Apa yang telah dilakukan PTFI terhadap pengusaha-pengusaha putra daerah melalui SLD sudah bagus. Ada pelatihan dan ada pendampingan serta pemberian pinjaman modal. Harus tetap dilanjutkan sampai para pengusaha-pengusaha ini bisa betul-betul mandiri dan tidak tergantung lagi," kata Teanus, bersyukur. "Dengan begitu, akan melahirkan pengusaha-pengusaha putra daerah lainnya. Serta, hasilnya, akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat."

Ya, Teanus hanya satu dari jutaan penduduk Papua yang merasakan sisi positif dari keberadaan Freeport Indonesia. Sebagai sesama masyarakat Indonesia, tentu saya berharap Freeport Indonesia terus memberi kontribusi di Bumi Cendrawasih.

Yupz, sampai jumpa pada tulisan-tulisan berikutnya mengenai Freeport Indonesia. Baik secara mendalam, sisi lain, atau yang belum diketahui secara luas bagi masyarakat umum dalam blog ini ke depannya.***

*         *        *

Referensi:
- https://ptfi.co.id/id/how-do-we-operate
- https://indonesia.go.id/narasi/indonesia-dalam-angka/ekonomi/ekonomi-papua-masih-bergantung-pada-freeport
- https://www.papua.go.id/view-detail-berita-3378/index.html
- https://papua.antaranews.com/berita/513636/freeport-indonesia-raih-anugerah-ima-2019
- https://money.kompas.com/read/2019/12/06/200311726/freeport-kucurkan-rp-75-miliar-per-tahun-ke-persipura

*         *        *
- Jakarta, 13 Januari 2019