TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: 2013

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol

Selasa, 03 Desember 2013

Ketika Polwan Meliuk-liuk di Atas Moge


Foto: Harian TopSkor/Choirul Huda


Mendengar kata Moge atau motor gede, ingatan saya langsung mengarah seperti yang biasa dilihat di tayangan televisi. Misalnya, aktor Lorenzo Lamas yang sukses dalam serial Renegades yang pada dekade 1990-an menjadi tayangan “wajib” remaja, duet Antonio Banderas dan si manis Salma Hayek dalam film Hollywood, Desperado, atau salah satu pegulat Smackdown, The Undertaker.

Kalau dalam negeri, ada Indro Warkop yang terkenal dalam film Chips. Intinya, mereka pantas menunggangi “Si Kuda Besi” karena memang berperawakan tingi besar. Namun, bukan berarti orang yang berpostur kecil atau kaum wanita yang mungil tidak bisa menguasai motor berkapasitas di atas 600-cc tersebut.

Setidaknya, itu yang saya alami ketika menyaksikan atraksi barisan polisi wanita (Polwan) di atas Moge di lapangan Polda Metro Jaya, Minggu (1/12). Tepatnya, ketika salah satu produsen ban ternama dunia, Michelin, menyelenggarakan acara Road Safety Day.

Kebetulan, acara yang berlangsung serentak bersama Car Free Day dan bertepatan dengan Hari Aids Sedunia itu diselenggarakan pagi hari. Jadi, sambil olahraga, saya bisa mengikuti hingga selesai Road Safety Day yang dijadikan kampanye “Keselamatan dalam Berkendara” oleh jajaran Polda Metro Jaya.

Selain atraksi yang dilakukan Polwan di atas Moge, acara itu juga meliputi mengayuh santai sepeda dengan rute Lapangan Polda Metro Jaya - Jalan Jenderal Sudirman - Bunderan Hotel Indonesia. Lalu, atraksi dari komunitas sepeda BMX, parade polisi cilik (Pocil), serta penampilan grup vokal dari Polwan Metro Jaya dan ditutup aksi Alexa, band yang sempat memeriahkan Kompasianival 2011.

Namun, tetap saja tujuan utama saya menghadiri Road Safety Day itu untuk menyaksikan aksi Polwan di atas Moge. Saat itu, belasan anggota  Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya sukses memamerkan keahliannya menunggangi “Si Kuda Besi”. Mereka yang tergabung dalam sub unit Brigade Motor (BM) Satuan Patroli dan Pengawalan begitu luwes meliuk-liuk di atas Moge.

Ada yang melakukannya sendiri sambil lepas satu tangan, dua tangan, berdiri, hingga tiduran. Bahkan, yang menarik ketika dua Polwan mempertontonkan kemampuannya dalam satu Moge. Layaknya aksi teatrikal di pentas drama, mereka menganggap apa yang dilakukannya merupakan hal yang biasa. Itu karena mereka dengan tenangnya mengendarai Moge sambil zig-zag seraya bergantian memegang kemudi tanpa takut terjatuh.

Padahal, pengunjung yang memadati Lapangan Polda Metro Jaya, banyak yang kaget dengan aksi mereka. Tak jarang, aplaus panjang bergema dari pengunjung, terutama kaum pria yang menyaksikan atraksi tersebut. Sebab, kedua Polwan itu unjuk kebolehan ketika Moge yang dikendarai sedang jalan. Tentu, tanggapannya jadi berbeda jika Moge berbagai merek itu dalam keadaan diam, alias sedang diparkir. Lantaran butuh kerja sama yang kuat dari kedua Polwan itu agar bisa seimbang di atas Moge.

Seusai atraksi, Komandan BM, Inspektur Polisi Dua (Ipda) Christin, mengatakan kepada saya, bahwa agar bisa melakukan seperti itu, setiap Polwan harus berani jatuh. Itu karena kegiatan tersebut merupakan santapan sehari-hari mereka yang tugasnya berpatroli di titik utama jalan protokol di Jakarta dan mengawal kendaraan Ibu Negara.

“Sebenarnya, tidak ada kemampuan khusus untuk mengendarai Moge ini. Apalagi, postur tubuh tidak begit berpengaruh, baik pria atau wanita bisa melakukannya. Yang penting, mereka harus siap jatuh kalau latihan agar terbiasa dalam melakukan pengawalan,” tutur Christin.

Artikel ini sebelumnya dimuat di Harian TopSkor edisi Senin, 2 Desember 2013

Edisi cetak Harian TopSkor



Minggu, 03 November 2013

Ketika Polwan Beraksi di Atas Moge

Ketika Polwan Beraksi di Atas Moge

13860262301529454879
Salah satu atraksi Polwan di atas Moge (www.kompasiana.com/roelly87)
Mendengar kata Moge atau motor gede, ingatan saya langsung mengarah seperti yang biasa dilihat di tayangan televisi. Misalnya, aktor Lorenzo Lamas yang sukses dalam serial Renegades yang pada dekade 1990-an menjadi tayangan “wajib” remaja, duet Antonio Banderas dan si manis Salma Hayek dalam film Hollywood, Desperado, atau salah satu pegulat Smackdown, The Undertaker.

Kalau dalam negeri, ada Indro Warkop yang terkenal dalam film Chips. Intinya, mereka pantas menunggangi “Si Kuda Besi” karena memang berperawakan tingi besar. Namun, bukan berarti orang yang berpostur kecil atau kaum wanita yang mungil tidak bisa menguasai motor berkapasitas di atas 600-cc tersebut.

Setidaknya, itu yang saya alami ketika menyaksikan atraksi barisan polisi wanita (Polwan) di atas Moge di lapangan Polda Metro Jaya, Minggu (1/12). Tepatnya, ketika salah satu produsen ban ternama dunia, Michelin, menyelenggarakan acara Road Safety Day

Kebetulan, acara yang berlangsung serentak bersama Car Free Day dan bertepatan dengan Hari Aids Sedunia itu diselenggarakan pagi hari. Jadi, sambil olahraga, saya bisa mengikuti hingga selesai Road Safety Day yang dijadikan kampanye “Keselamatan dalam Berkendara” oleh jajaran Polda Metro Jaya.

Selain atraksi yang dilakukan Polwan di atas Moge, acara itu juga meliputi mengayuh santai sepeda dengan rute Lapangan Polda Metro Jaya - Jalan Jenderal Sudirman - Bunderan Hotel Indonesia. Lalu, atraksi dari komunitas sepeda BMX, parade polisi cilik (Pocil), serta penampilan grup vokal dari Polwan Metro Jaya dan ditutup aksi Alexa, band yang sempat memeriahkan Kompasianival 2011.

Namun, tetap saja tujuan utama saya menghadiri Road Safety Day itu untuk menyaksikan aksi Polwan di atas Moge. Saat itu, belasan anggota  Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya sukses memamerkan keahliannya menunggangi “Si Kuda Besi”. Mereka yang tergabung dalam sub unit Brigade Motor (BM) Satuan Patroli dan Pengawalan begitu luwes meliuk-liuk di atas Moge.

Ada yang melakukannya sendiri sambil lepas satu tangan, dua tangan, berdiri, hingga tiduran. Bahkan, yang menarik ketika dua Polwan mempertontonkan kemampuannya dalam satu Moge. Layaknya aksi teatrikal di pentas drama, mereka menganggap apa yang dilakukannya merupakan hal yang biasa. Itu karena mereka dengan tenangnya mengendarai Moge sambil zig-zag seraya bergantian memegang kemudi tanpa takut terjatuh.

Padahal, pengunjung yang memadati Lapangan Polda Metro Jaya, banyak yang kaget dengan aksi mereka. Tak jarang, aplaus panjang bergema dari pengunjung, terutama kaum pria yang menyaksikan atraksi tersebut. Sebab, kedua Polwan itu unjuk kebolehan ketika Moge yang dikendarai sedang jalan. Tentu, tanggapannya jadi berbeda jika Moge berbagai merek itu dalam keadaan diam, alias sedang diparkir. Lantaran butuh kerja sama yang kuat dari kedua Polwan itu agar bisa seimbang di atas Moge.

Seusai atraksi, Komandan BM, Inspektur Polisi Dua (Ipda) Christin, mengatakan kepada saya, bahwa agar bisa melakukan seperti itu, setiap Polwan harus berani jatuh. Itu karena kegiatan tersebut merupakan santapan sehari-hari mereka yang tugasnya berpatroli di titik utama jalan protokol di Jakarta dan mengawal kendaraan Ibu Negara.

“Sebenarnya, tidak ada kemampuan khusus untuk mengendarai Moge ini. Apalagi, postur tubuh tidak begit berpengaruh, baik pria atau wanita bisa melakukannya. Yang penting, mereka harus siap jatuh kalau latihan agar terbiasa dalam melakukan pengawalan,” tutur Christin.

*     *     *
13860263422084820500
Ratusan masyarakat sebelum mengayuh sepeda santai
*     *     *
13860264331550806602
Aksi komunitas BMX melompati empat hingga 10 orang
*     *     *
1386026493428061882
Polisi cilik (Pocil) berbaris rapi
*     *     *
13860265361841215069
Grup vokal dari Polwan Polda Metro Jaya yang bening-bening
*     *     *
1386026589784129147
Jelang atraksi di atas Moge
*     *     *
13860267081485613315
Dua anggota Polwan mulai beraksi
*     *     *
138602675996741145
Kerja sama menjadi kunci menjaga keseimbangan mereka
*     *     *
1386026840711947376
Usai melakukan manuver dengan berganti pegang kemudi
*     *     *
1386026899923192142
Atraksi Polwan di atas Moge sendirian, bahkan sambil tiduran
*     *     *
*     *     *
Sebelumnya
*     *     *
Foto-foto merupakan koleksi pribadi (www.kompasiana.com/roelly87)

Jakarta, 3 November 2013

Selasa, 09 Juli 2013

Wawancara Eksklusif Dahlan Iskan: Generasi Muda Harus Olahraga


Dahlan Iskan di lobi kanto BUMN 


JAKARTA – Dahlan Iskan, identik dengan olahraga. Itu dibuktikannya sejak menjabat sebagai Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pada 19 Oktober 2011 hingga sekarang. Jauh sebelum itu, pria kelahiran Magetan, Jawa Timur, 17 Agustus 1951 ini sempat menjadi manajer tim sepak bola Persebaya Surabaya. 

Bahkan, meski saat ini disibukannya dengan aktivitas sehari-harinya sebagai seorang Menteri, tidak lantas membuatnya melupakan olahraga. Mantan Direktur Utama PLN ini mengaku tetap membaca berita di media cetak dan online mengenai perkembangan olahraga di Indonesia. 
Berikut petikan wawancara TopSkor dengan Dahlan Iskan.

Bisa diceritakan kisah Anda di seputar olahraga, baik dulu maupun sekarang?

Saya sudah lama mendalami olahraga, bahkan sempat menjadi manajer dan ketua harian tim sepak bola Persebaya Surabaya. Itu sekitar tahun 1980-an.

Di media cetak terdahulu, berita olahraga biasanya selalu menempati halaman belakang. Namun, sekarang sudah menarik dipajang di halaman depan, bahkan banyak beredar harian khusus olahraga, seperti TopSkor. Bagaimana komentar Anda?

Betul. Tapi, sebelum sekarang ini, saya sudah memulainya. Tepatnya ketika saya masih menangani harian umum Jawa Pos pada 1990-an.

Memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat. Anda masih ingat dengan jargon tersebut waktu orde baru? Apakah saat ini masih relevan?

Oh, tentu. Contohnya, saya. Ha ha ha (Tertawa). Intinya, masyarakat harus terus berolahraga, baik sejak masih kecil hingga tua seperti saya.

Menurut Anda,  apakah dunia olahraga Indonesia sudah mencapai titik ideal?

Belum, terutama cabang olahraga. Dulu, waktu masih memegang Persebaya, saya prediksi sepak bola Indonesia akan maju sekitar beberapa tahun mendatang. Tolok ukur saya saat itu adalah pendapatan per kapita negara kita masih sekitar 450 dolar Amerika Serikat (AS) yang akan mengejar Malaysia di kisaran 3.000 dolar. Setelah puluhan tahun kemudian, pendapatan kita sudah melonjak jauh, sekitar 3.500 dolar per kepala. Namun, sepak bola belum juga berprestasi. Berarti itu ada yang salah. Siapa? Tentu pengurusnya!

Banyak BUMN yang menjadi orangtua asuh cabang olahraga, apakah ini memberatkan atau tidak?

Tidak masalah, selama masih berkontribusi dalam sisi positif. Terutama untuk mengembangkan prestasi olahraga di negeri ini.

Bagaimana kisah Anda sehingga bisa menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (PB FOBI)

Berawal dari tahun 1999. Saat itu barongsai belum begitu populer, dan hanya dimainkan oleh etnis tertentu yaitu golongan tionghoa. Nah, saya yang kebetulan memang mengenal dekat dengan mereka, didapuk jadi pengurus hingga ketuanya. Mereka menjadikan saya ketua karena saya sebagai orang luar yang tentu netral, dan dianggap bisa memajukan olahraga barongsai.

Apa target jangka pendek dan panjang FOBI tersebut

Target keduanya tentu menjadikan barongsai Indonesia lebih berprestasi di dunia. Sejak menjabat ketua FOBI hingga kini periode keempat, sudah banyak prestasi yang kami raih. Termasuk juara dunia 2008 di Tarakan, Kalimantan Timur. Selanjutnya, kami ingin barongsai bisa lebih dikenal luas. Saat ini di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) masih sebatas ekshibisi. Ke depannya saya berharap bisa masuk SEA Games.

Anda identik dengan sepatu kets. Secara tidak langsung itu membuat masyarakat terpengaruh untuk ikut berolahraga seperti yang Anda lakukan. Komentar Anda?

Sepatu ini punya banyak cerita (sambil menunjuk inisial DS di sisi sepatunya). Sejak masih jadi wartawan, saya selalu memakainya dan tidak pernah ganti dengan jenis lain.

Termasuk saat mengikuti rapat dengan presiden?

Ya. Beliau sudah mengetahui hal itu sejak lama, jadi tidak ada masalah meski saat rapat sekalipun.

Apakah ada perbedaan olahraga yang Anda jalani dari sebelum operasi hati hingga sekarang?

Saya merasa lebih muda dan lebih bersemangat. (Dahlan Iskan melakukan cangkok hati pada 2007 dari seorang pendonor di Cina yang berusia 21 tahun).

Bagaimana kiat Anda menjaga kesehatan?

Rutin berolahraga dan pola makan yang teratur itu bisa membuat seseorang tetap sehat.

Bisa diceritakan mengenai tanggal lahir Anda yang bertepatan dengan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia?

Saya terlahir dari keluarga petani yang miskin. Orangtua saya tidak ingat tanggal lahir saya, hingga saya sendiri memilih 17 Agustus sebagai hari kelahiran. Saya pilih itu supaya mudah diingat karena bertepatan dengan HUT RI.

Anda dikenal suka melakukan senam pagi di kawasan Monumen Nasional (Monas). Bagaimana awalnya?

Saya melakukan ini sudah hampir satu tahun, sejak menjabat sebagai Menteri BUMN. Kebetulan lokasinya dekat kantor BUMN dan bisa punya banyak waktu.

Apa pesan untuk generasi muda yang terkait dengan olahraga?

Generasi muda saat ini harus mampu berolahraga dengan baik. Sebab, dari olahraga bisa berkesempatan untuk mengharumkan nama baik bangsa di kancah dunia.

*       *       *
Pesan Dahlan Iskan: Generasi muda harus olahraga


*       *       *
Dahlan Iskan melihat-lihat lembaran Harian TopSkor


*       *       *


 
Narsis di mobil dinas Dahlan Iskan
Artikel ini dimuat di Harian TopSkor edisi 8 Juli 2013

Rabu, 26 Juni 2013

Sosialisasi Pemilu Melalui Sepak Bola


Saya saat mewawancarai Ketua KPU Husni Kamil Malik di ruangannya


PEMILIHAN umum (Pemilu) 2014 memang masih 10 bulan lagi. Bagi masyarakat, itu waktu yang cukup lama jelang pemilu legislatif pada 9 April 2014. Namun, tidak untuk Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), Husni Kamil Malik.

Itu karena sosok kelahiran Medan, Sumatera Barat ini tengah mempersiapkan supaya proses demokrasi pemilihan anggota legislatif dan eksekutif nanti berjalan sesuai rencana. Terutama agar pemilu mendatang banyak diketahui masayarakat luas. Khususnya kalangan remaja yang merupakan pemilih pemula dengan persentase yang lumayan besar.

Alhasil, Husni mulai melakukan pengenalan mengenai pemilu kepada kaum remaja. Salah satunya menjalin kerjasama dengan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Dalam rencananya, antara lain KPU akan diberi slot di papan reklame mengenai sosialisasi pemilu di sisi lapangan.

Juga konsep pengenalan pemilu saat pertandingan yang disiarkan langsung melalui televisi. Durasinya sekitar 3-5 menit sebelum kick-off.

“Itu konsep yang akan dijalankan KPU-PSSI dalam beberapa waktu ke depan di kompetisi musim ini,” kata Husni, 37 tahun. “Kami sudah menyiapkan rencana seperti ini sejak akhir Mei lalu. Intinya, agar masyarakat di seluruh Indonesia yang menyaksikan sepak bola bisa mengetahui agenda pemilu mendatang.”

Selain di kompetisi domestik, Husni pun menyebut KPU akan mengadakan acara nonton bareng pada Piala Dunia mendatang. Maklum, turnamen akbar di sepak bola itu (12 Juni-13 Juli) berlangsung hanya beberapa hari jelang pemilu presiden, Juli 2014.

Secara tegas, Husni menilai apa yang dilakukan KPU dengan pengenalan di sepak bola hanya sebatas sosialisasi pemilu. Penggemar klub PSMS Medan dan Semen Padang ini tidak ingin dikaitkan dengan unsur politik tertentu. Terutama karena KPU merupakan lembaga negara yang independen dan non-partisan.

Pemilu dan Sepak Bola

Selain itu, lulusan Universitas Andalas ini sempat menolak tawaran dari PSSI sebagai anggota Komisi Disiplin. Husni menyebut tidak ingin ada bentrok kepentingan. Apalagi, pengagum legenda hidup Prancis, Zinedine Zidane ini ingin fokus sebagai ketua KPU yang dijabatnya sejak 2012 hingga 2017. Sebab, dia memang mengemban tugas berat agar pemilu mendatang berlangsung dengan baik.

“Saya pribadi sangat menikmati sepak bola Indonesia. Saya berharap semua calon pada pemilu mendatang agar menjunjung tinggi sportivitas seperti di sepak bola. Khususnya dari segi positif, supaya pihak yang kalah ikhlas menerima, dan yang menang tidak jemawa,” tutur Husni.



Ketua KPU berharap pada Pemilu 2014 nanti
 yang kalah ikhlas menerima, dan pemenang tidak jemawa


Artikel ini sebelumnya dimuat di Harian TopSkor edisi Selasa, 26 Juni 2013 

Kamis, 20 Juni 2013

Diana Crystal Lukmawati: Bisa Nyetting sejak SMP


Bisa Nyetting sejak SMP

Diana Crystal Lukmawati. Ya, nama itulah yang sukses mencuri perhatian saat gelaran Yamaha Cup Race (YCR) 2013 di Sirkuit Kanjen, Pekalongan, Minggu (16/6). Dara cantik asal Solo itu mampu menyuguhkan aksi yang mengundang decak kagum ribuan penonton.

Meski tidak mampu menjadi yang tercepat, alias hanya berada di posisi kedua kelas Mio J Ladies Bikers, tapi pembalap yang biasa disapa Diana berhasil tampil impresif. Kemampuannya bermanuver menjadi ciri khas tersendiri dari gelaran YCR edisi ketiga bersama Sulung Giwa yang menjadi Juara Umum Seeded dan Galang Hendra (Juara Umum Pemula).

Padahal, saat start Diana tidak begitu diunggulkan karena pada sesi kualifikasi hanya 
menempati urutan keempat. Namun, setelah lomba dimulai, Sosok yang mengidolai Nicky Hayden, pembalap tim Ducati di MotoGP ini langsung melesat dan semakin di depan.

“Saya bangga akhirnya bisa jadi runner-up. Ini merupakan debut saya di YCR setelah pada beberapa seri sebelumnya tidak ikut karena konsentrasi menghadapi ujian sekolah,” kata Diana, 18 tahun.

Perempuan yang sudah keliling Indonesia mengikuti balapan ini senang bisa mengikuti gelaran YCR di Pekalongan. Kendati jauh dari tempat tinggalnya di Solo, namun Diana yang didukung penuh keluarga sangat antusias menghadapinya.

Maklum, dia sudah menggemari balapan sejak Sekolah Menengah Pertama (SMP). Meski saat itu sebatas hobi.Diana mengapresiasi event YCR yang membuat wadah resmi balapan bagi remaja seusianya dibanding harus balap liar di jalan raya.

“Selain hobi, saya menggeluti balapan karena enggak mau kalah dari laki-laki. Lalu, saya diajari Ayah untuk mengetahui seluk beluk mengenai motor. Termasuk mengendarai, merasakan ada yang tidak beres apa tidak pada motor, hingga cara nyetting. Itu semua dilakukan secara bertahap sejak SMP sampai sekarang lulus SMA,” Diana mengungkapkan.

Kendala Balapan

Di sisi lain, Diana menyadari tidak mudah menjadi pembalap, terutama dirinya yang kini sedang menatap jenjang profesional. Itu merujuk pengalamannya selama empat tahun terakhir menggeluti balapan. Salah satunya harus memakai kostum balap yang beratnya minimal lima kilogram saat lomba. Apalagi, sebagaimana seorang perempuan, Diana harus menghadapi masalah klasik: Haid atau datang bulan.

“Kalau kostum balap sih memang berat banget.  Untungnya sekarang sudah terbiasa karena selalu dipakai saat balapan, jadi tidak terlalu mengganggu. Nah, kalo haid itu yang terkadang jadi pikiran. Tapi, sejauh ini saya belum pernah mengalami kejadian aneh saat balapan,” tutur Diana.*

Profil Diana di Harian TopSkor 19 Juni 2013


Data Diri:
Nama lengkap             : Diana Crystal Lukmawati
Panggilan                    : Diana
Lahir                            : 17 April 1995
Tempat                        : Karanganyar, Solo
Hobi                            : Balapan dan Menyaksikan MotoGP
Cita-cita                      : Menjadi pembalap profesional
Prestasi                       :          

Yamaha Cup Race 2013         : Seri Pekalongan (Runner-up)
Kejuaraan Daerah                   : Bandung (Runner-up), Sentul (Posisi 3), Subang (Posisi 3).


Artikel ini dimuat di Harian TopSkor edisi 19 Juni 2013

Selasa, 18 Juni 2013

Yamaha Ingin Berkontribusi Lebih ke Masyarakat


Wawancara Eksklusif Manajer Motorsport Yamaha Indonesia, Supriyanto: 


Wawancara Supriyanto di Harian TopSkor


PEKALONGAN – “Semakin di Depan!” Itulah tagline utama dari Yamaha Motor Indonesia. Salah satu produsen sepeda motor terbesar di nusantara ini kian mengukuhkan sebagai sebuah produk yang tidak hanya mementingkan sisi komersial belaka. Melainkan Yamaha juga ingin berkontribusi lebih kepada masyarakat, khususnya pengendara roda dua.

“Tujuan kami menggelar Yamaha Cup Race ini tidak lain sebagai media bagi masyarakat yang ingin menyalurkan hobi balapan secara resmi. Itu sebagai wujud peran kami mencegah aksi balapan liar di jalan raya,” kata Manajer Motorsport Yamaha Indonesia, Supriyanto. Berikut petikan wawancara TopSkor dengan pria yang dikenal kalangan bikers sebagai sosok yang murah senyum.

Alasan Anda menggelar balapan seperti Yamaha Cup Race 2013?

Kami rutin mengadakan acara seperti ini sejak tahun 1990 atau sudah edisi ke-23. Tujuan kami di samping untuk promosi, agar mewadahi masyarakat yang hobi balap dengan membentuk lomba secara resmi. Selain itu, kami juga ingin mencari bibit pembalap dengan memfasilitasi mereka agar bisa mengharumkan Indonesia.

Kendalanya mengadakan acara ini?

Biasanya mengenai sirkuit, sebab sulit mencari areal dengan kriteria yang sesuai dengan standar kami. Minimal panjang satu km dan lebar 7-8 meter. Kebanyakan sirkuit di sini berada di tengah kota, hingga agak sulit mendapat izin karena letaknya di jalan raya bukan permanen.

Acara seperti Yamaha Cup Race 2013 ini apakah berdampak signifikan terhadap penjualan?

Tentu. Tapi, fokus kami mengadakan event seperti itu justru untuk menguatkan brand di mata masyarakat. Maklum, imej Yamaha kan identik dengan motorsport. Selain itu kami juga banyak mengenalkan tips, cara mengendarai yang sehat, dan pengembangan teknologi agar aman dan nyaman dikendarai masyarakat.

Bisa disebutkan anggaran untuk acara tersebut?

Standar saja. Namun, untuk setiap event tentu berbeda, alias tergantung wilayah. Seperti di Jakarta beda dengan Pekalongan. Selain itu, luar Jawa yang memerlukan biaya paling besar, karena butuh unit, tim, mekanik, termasuk mengirim ekspedisi lainnya.

Sponsor?

Tentu. Karena kami menjalin banyak kemitraan dari mereka yang merupakan vendor internal agar acara ini terlaksana dengan baik. Mulai dari Yamalube, Pertamax Plus, SMF, KYT, FDR, KYB, dan NGK. Selain itu setiap acara yang kami buat berkat dukungan semua pihak seperti Kepolisian, Ikatan Motor Indonesia (IMI), dan pastinya masyarakat luas.

Mengenai injeksi?

Produk kami hampir seluruhnya injeksi. Mulai dari matic, sport, hingga bebek kecuali Jupiter MX yang belum dan sedang menuju seperti itu. Intinya kami ingin menghasilkan produk yang penggunaan bahan bakar lebih ramah lingkungan dan tidak boros.

Tentang penyerataan tim balap yang wajib injeksi apakah sama dengan kebijakan Yamaha dan sudah siap?

Tergantung regulasi. Terutama IMI yang mengeluarkan kebijakan tersebut. Hanya, itu semua bertahap dan tidak bisa langsung. Di beberapa region masih menggunakan karbu pada semua motor. Dan, Yamaha bertanggung jawab dalam mempromosikan produk ramah lingkungan.

Maksudnya?

Yamaha itu imejnya sports. Tapi, kami juga irit dan efisien dalam konsumsi bahan bakar. Apalagi, segmen pasar kami di semua level, ada remaja, perempuan, ibu-ibu, hingga pekerja kantoran.

Rencana ke depan selain Yamaha Cup Race?


Kami ingin banyak lagi pembalap Indonesia yang berhasil dengan target menuju pentas dunia seperti Doni Tata. Saat ini ada beberapa pembalap yang sudah kami siapkan dengan membentuk karier dari awal dan menyiapkan segala sesuatunya. Terutama mental, moral, dan skill pembalap itu sendiri yang akan digenjot secara bertahap. Salah satunya melalui sekolah Yamaha Riding Academy yang dibentuk sejak 2005 lalu.***

Artikel ini dimuat di Harian TopSkor edisi 18 Juni 2013

Yamaha Cup Race 2013 Seri Pekalongan: Dominasi Pembalap Cilik

Salah satu rider termuda, Agung Didu yang berusia 10 tahun sukses mencuri perhatian penonton.





PEKALONGANAgus Setiawan kembali menjadi pembalap tercepat pada kelas Bebek 4Tak 125cc tune-up seeded di Sirkuit Kajen, Pekalongan, Minggu (16/6). Remaja kelahiran 18 Agustus 1997 ini berhasil menjadi yang tercepat dengan rekor waktu 48 menit dari 15 lap.

Hebatnya, Agus, begitu dia disapa, saat sesi kualifikasi juga memimpin lomba pada sehari sebelumnya, Sabtu (15/6). Tak pelak, aksi pembalap tim Yamaha Yamalube TDR FDR NHK Yonk Jaya itu mengundang decak kagum dari seluruh penonton yang menyaksikannya.

Penunggang Yamaha Jupiter Z 125cc itu menyebut kemenangannya merupakan hasil kerja keras tim. “Saya bangga bisa menjuarai lomba saat start dari posisi pertama hingga finis sebagai yang terdepan,” kata Agus, 15 tahun. “Tapi, ini bukan karena kehebatan saya semata. Melainkan juga berkat dukungan semua pihak, keluarga, dan tim mekanik yang selalu mengantisipasi pergerakan motor.”

Sementara, Tamy Pratama yang hanya menduduki peringkat dua dari 12 pembalap, mengaku tidak kecewa. Meski gagal menyalip Agus, tapi Tamy mampu menempel ketat dari lap pertama hingga akhir. “Senang sih dapat posisi kedua. Sebab, saya agak ngeri juga mengingat aspal ini baru dibuat hingga agak licin. Alhasil, saya main agak safety biar bisa mengimbangi,” Tamy, mengungkapkan.

Dari sembilan kelas yang dilombakan, salah satu aksi yang paling memikat terjadi pada lomba kelas 110cc Tune-up Seeded. Itu karena aksi kejar-kejaran Sulung Giwa yang berasal dari tim Yamaha Yamalube NHK 3M FDR Ridlatama RT dengan Anggi Permana (Yamaha Yamalube FDR KYT Trijaya).

Keduanya sukses mengundang perhatian ribuan penonton yang menyaksikan balapan di sirkuit yang terletak 25 km dari kota Pekalongan tersebut. Hanya, Anggi yang sempat melakukan manuver ciamik di tikungan berbahaya, harus merelakan posisinya dibalap Sulung.

Aksi Pembalap Cilik

Sementara, Agung Didu yang merupakan pembalap termuda (10 tahun) tidak mau kalah. Penunggang tim Yamaha Yamalube FDR KT Trijaya asal Makassar ini tidak canggung kendati harus berduel dengan rider yang usianya jauh lebih tua. Kendati tidak berhasil juara, tapi Didu sukses menempati posisi runner-up di kelas 4Tak 110cc Standar Pemula. 

Mmh... Gimana ya, saya sih sudah berusaha maksimal. Start dari pertama, malah dapatnya kedua. Yang pasti sih, balapan Yamaha Cup Race 2013 di sini (Seri Pekalongan) seru juga dan menegangkan,” kata rider cilik asal Makassar itu dengan wajah polosnya.*



HASIL LOMBA:

1. Bebek  4Tak 125cc Tune up Seeded

Nama – Nomor urut – Asal – Tim - Waktu
1.      Agus Setiawan – 47 – Solo – YAMAHA YAMALUBE TDR FDR NHK YONK JAYA – 48.786
2.      Tamy Pratama – 135 – Bandung – YAMAHA AYMALUBE KYT FDR SND – 48.909
3.      Yoga Adi – 115 – Yogyagakarta – YAMAHA YAMALUE NHK 3M FDR RIDLATAMA RT – 49.270

2. Bebek 4Tak 110 cc Standar Pemula

Nama – Nomor urut – Asal – Tim – Waktu
1.      Erfin Firmansyah – 85 – Pekalongan – PUTRA SRI JAYA GKM – 53.538
2.      Agung Didu – 152 – Makassar – YAMAHA YAMALUBE FDR KT TRIJAYA – 53.538
3.      Dafa Krisna – 105 – Yogyakarta – YAMAHA BKHN DITS – 54.196

3. Xeon RC Standar Showroom

Nama – Nomor urut – Asal – Tim – Waktu
1.      M. Ilham – 138 – Sulawesi – HALET JAYA NAGOYA BOB’S DRMS NHKA – 58.207
2.      M. Rovic – 56 – Solo – JIMZ32 FREEDOM HMTC JOGJA – 58.443
3.      Rizki Kevin PSJ – 192 – Pati – PUTRA SRI JAYA GKM DENI SPEEED MG – 58.981

4. Bebek 4Tak 110cc Tune up Seeded

Nama – Nomor urut – Asal – Tim – Waktu
1.      Sulung Giwa – 95 – Tulung Agung – YAMAHA YAMALUBE NHK 3M FDR RIDLATAMA RT – 49.529
2.      Anggi Permana – 158 – Tasikmalaya – YAMAHA YAMALUBE FDR KYT TRIJAYA – 49.709
3.      Tamy Pratama – 135 – Bandung – YAMAHA YAMALUBE KYT FDR SND – 49.698

5. Bebek 4Tak 125cc Tune up Pemula

Nama – Nomor urut – Asal – Tim – Waktu
1.      Rheza Danica – 123 – Yogyakarta – YAMAHA YAMALUBE FOR KYT TRIJAYA – 49.175
2.      Galang Hendra – 99 – Yogyakarta – YAMAHA YAMALUBE NHK 3M FDR RIDLATAMA RT – 49.563
3.      Dohan Akbary Zariah – 9 – Tangerang – YAMAHA TDR WARID NHK RACING TEAM – 49.428

d


Artikel ini dimuat di Harian TopSkor edisi 17 Juni 2013
J



Sabtu, 08 Juni 2013

Di Kota Tua Mereka Terpana



JAKARTA – Arjen Robben berdiri di sisi kanan kaca bus. Sementara, Dirk Kuyt terus mengumbar senyum. Begitu juga pemain lainnya. Mereka takjub melihat ribuan orang di kawasan Kota Tua, Jakarta, kemarin. Dari balik kaca bus, mereka terus memotret.

Bus yang membawa sebagian besar skuat Belanda itu hanya singgah 15 menit. Tidak juga sempat turun bus. Hanya melihat Museum Fatahillah dari kejauhan. Sebuah gedung yang pernah jadi pusat pemerintahan kolonial Belanda. Bangsa yang menjajah Indonesia selama 3,5 abad.

Di dalam bus, di depan gedung yang pembangunannya diprakarsai Gubernur Jendral Jan Pieterszoon Coen pada 1620 itu, pandangan Dirk Kuyt dan kawan-kawan seolah terpana menerawang jauh ke belakang. Bahwa leluhur mereka pernah jadi penguasa kolonial di negara yang sekarang sedang mereka pijak. 

Meski skuat Belanda tidak turun, antusiasme warga tetap tidak berkurang. Memang ada sedikit kekecewaan. Terutama karena mereka sudah menanti di depan Museum Fatahillah sejak pukul 06.WIB.

Nasir, salah satunya. “Kalau pemain Belanda masuk ke dalam museum, mungkin mereka bisa tambah takjub. Karena begitu banyak peninggalan pendahulu mereka di dalam museum,” Nasir yang datang memakai baju timnas Belanda.

Walau begitu kekecewaan Nasir dan ribuan pengunjung lainnya tidak berlangsung lama. Sebab mayoritas pemain Belanda sangat ramah dan terus coba berinteraksi, meski dibatasi kaca bus.

“Mungkin Belanda tidak jadi berlama-lama di Kota Tur karena sangat ramai. Apalagi ini bertepatan dengan tanggal merah. Mereka juga tidak turun karena ingin meminimalkan risiko cedera dengan menghindari kerumunan massa,” ujar salah seorang petugas keamanan di sekitar Kota Tua.

Sebelum singgah ke Kota Tua, rombongan Belanda juga berhenti sejenak di kawasan Monumen Nasional dan Museum Bahari. Di semua tempat itu mereka berasa seperti di negara sendiri. Itu karena dari bentuk rumah, gedung, hingga perkantoran, bahkan Istana Negara, semuanya peninggalan nenek moyang mereka.*




*     *     *



Artikel ini dimuat di Harian TopSkor edisi 7 Juni 2013