TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Indonesiana

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label Indonesiana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesiana. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Maret 2016

(Esai Foto) Cerita di Balik Peringatan Hari Air Sedunia




DELAPAN dari 10 orang yang saya tanya, baik tatap langsung maupun online, tidak (kurang, tepatnya) mengetahui jika Selasa, 22 Maret, diperingati sebagai Hari Air Sedunia. Miris memang, mengingat air sangat penting bagi kehidupan manusia. Namun, faktanya seperti itu karena kurangnya sosialisasi pemerintah kepada masyarakat luas mengenai Hari Air Sedunia dan segenap elemen lainnya.

"Emang penting ya, sampe aer diperingati setiap tahun?"
"Lha, kami aja kalo masuk Maret khawatir banjir. Boro-boro peringatin hari aer segala."
"Bro, gue tahunya 22 Maret itu ultah BCL (Bunga Citra Lestari)."
"Oh, hari air sedunia ya. Bagus deh. Yang gue liat dari pagi malah demo taksi."

*        *        *

Ruang Balai Agung, Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (22/3), dipenuhi ratusan manusia. Saya yang datang menggunakan sepeda motor harus melewati ribuan pendemo yang memenuhi Jalan Merdeka Selatan. Ya, sejak pagi, aparat keamanan seperti satpol pp, kepolisian, dan TNI, bersiaga di depan kantor Gubernur Jakarta.

*        *        *

Kehadiran saya di markas DKI 1 itu untuk mengikuti Diskusi Hari Air Sedunia 2016 yang diselenggarakan Tempo Media Group. Sambil menikmati manisnya secangkir kopi hitam menjelang acara dimulai pukul 09.00 WIB, saya sedikit menyayangkan. 

Sebab, acara bertema "Menghadapi Tantangan Krisis Air Perkotaan" itu seperti hanya khusus untuk dua kelompok. Mahasiswa dan undangan seperti pejabat, perwakilan pemerintah kota DKI, dan instansi terkait.

Sementara, untuk blogger, nyaris tidak ada -bukan berarti nihil. Ini sangat disayangkan mengingat di Tanah Air ini tidak kekurangan blogger yang konsisten menulis tentang air dan juga lingkungan hidup. Apalagi, Tempo memiliki Indonesiana yang merupakan wadah blog publik.

*        *        *

Saya melirik jam di telepon seluler (ponsel) sudah menunjukkan pukul 11.25 WIB. Namun, belum ada tanda-tanda acara yang disebut Ngobrol Tempo -serupa dengan Kompasiana Modis- ini dimulai. Beruntung, di depan layar terdapat beberapa tayangan menarik dari publik figur. 

Ada Najwa Shihab, Dian Sastrowardoyo, Leila S. Chudori, Joko Anwar, hingga Aburizal Bakrie. Bagi saya, yang menarik justru mendengar komentar Ketua Umum Golkar itu saat memberi sambutan HUT ke-45 Tempo, "Semoga Tempo nanti ke depan akan makin baik, lebih baik, bagi negara (dan) bangsa. Kalau berita jangan dipelintir-pelintir. Nanti orang ga ada yang mau baca Tempo gitu. Tempo-tempo baik, Tempo-tempo tidak."

*        *        *

Setelah molor 30 menit lebih, akhirnya acara siap dimulai. Ternyata keterlambatan itu akibat Gubernur DKI Basuki Tjahaya Purnama, harus mengikuti rapat sebelumnya. Mungkin, terkait demo yang hari itu merebak di kalangan pelaku transportasi umum.

*        *        *

Keberadaan pria yang akrab disapa dengan Ahok itu tergolong singkat. Tidak sampai 20 menit di atas panggung saat memberi sambutan. Namun, justru sosok 49 tahun ini merupakan magnet utama. Terlebih, Basuki, seperti biasa dengan gaya ceplas-ceplosnya mengomentari krisis air di ibu kota.

"Saya gini-gini lulusan Geologi. Saya ngerti soal ini. Ga jelek-jelek amat nilai sekolah dapat B. Ada yang A beberapa. Jadi, ga terlalu bodoh saya, pintar juga nggak. Kalo pintar saya ntar jadi dosen," kata Basuki yang disambut riuh dari ratusan peserta Ngobrol Tempo seperti saya rekam lewat video berdurasi 4.50 menit di laman youtube (https://youtu.be/w6lyF4X9sWg).

*        *        *

"Eh jangan dorong-dorongan dong. Sempit tahu."
"Maaf mbak, kalo mau lega di jalan sana sekalian ikut demo."
"Pak Ahok, senyum dong kita mau selfie nih."
"Gue upload ke twitter, hashtag-nya #NgobrolTEMPO sama #HariAirDunia atau #HariAirSedunia?"
"Ternyata pak Basuki orangnya ramah ya. Kok kita kalo lihat di tv, kesannya marah-marah terus. Salah tv apa salah pak Bas?"
"Salah gue. Salah temen-temen gue. Mungkin, ini semua salah Rangga yang ninggalin Cinta."

*        *        *

Setelah Basuki memberikan sambutan mengenai "Kelangkaan air yang terjadi di DKI dan pentingnya usaha untuk menanggulangi masalah krisis air yang dialami," acara berlanjut. Sesi ini menampilkan empat pembicara yang kompeten di bidangnya dengan dipandu Bagja Hidayat selaku Redaktur Utama Tempo Media Group, seperti yang saya catat dan rekam sepanjang acara:

- Teguh Hendarwan selaku Kepala Dinas Tata Air DKI menjabarkan tentang, "Ketersediaan dan pengelolaan air di Jakarta.
- Erlan Hidayat (Direktur Utama PAM Jaya): Pemenuhan kebutuhan air Jakarta.
- Barce Simamarta (Direktur Technical Services PALYJA): Pemanfaatan air sungai untuk penyediaan air bersih Jakarta.
- Firdaus Ali (Pendidik, Peneliti, dan Praktisi bidang Bioteknologi Lingkungan sekaligus staf khusus Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat): Water Cycle dan keberlanjutan ketersediaan air baku di Jakarta.

*        *        *

Diskusi tanpa solusi bagi saya itu omong kosong. Saya kerap jemu menghadiri acara yang hanya diskusi sepanjang waktu dengan argumen masing-masing tapi tanpa adanya solusi. Saya harap itu tidak terjadi pada Ngobrol Tempo yang harusnya ada implementasi lebih lanjut. Terutama karena Basuki juga mengakui jika saat ini baru 60 persen warga Jakarta yang mendapat akses air bersih melalui air perpipaan.

Poin positif yang saya catat dari Basuki saat menegaskan dirinya memang sebagai pemimpin yang melayani, melindungi, dan mengayomi rakyatnya serta bukan sekadar bos yang kerjanya hanya memerintah bawahan, "Saya kira itu, silakan bapak dan ibu diskusi saja. Saya ga ada di tempat. Kalau ada saya nanti (kalian) ga enak kan. Nanti hasilnya tinggal perintah saya. Mau apa yang dikerjain. Yang penting bapak-ibu kompak, nanti saya kasih Dirut PAM. Tinggal minta dia beresin mau minta berapa triliun? Empat-lima (triliun) gue kasih. Jadi, ga ada alasan uang di Jakarta. Tinggal, alasan Anda mau atau tidak. Punya ide atau tidak untuk langsung dikerjakan." 

*        *        *


Nyaris dua jam diskusi berlangsung dengan interaktif. Salah satu yang menarik ketika mendengar pemaparan dari Brace mengenai pemanfaatan air kanal banjir barat yang bisa menghasilkan 500 liter/detik dengan menerapkan teknologi pengolahan biologis. Pasalnya, dengan teknologi yang kini tengah diselesaikan instansinya, kelak warga Jakarta bisa mendapatkan air bersih yang memenuhi standar kualitas dari Kementerian Kesehatan.

Sebelumnya, saya sempat kaget ketika mendapati kenyataan sekitar 40 persen warga ibu kota belum mendapat akses air bersih. Alhasil, mayoritas masih mengkonsumsi air tanah yang kita ketahui berdampak buruk bagi kesehatan. Ooh... Ini jadi catatan yang menohok pada peringatan Hari Air Sedunia.

*        *        *

Setelah acara selesai lewat pukul 13.00 WIB, saya pun memanfaatkannya dengan berkeliling sejenak di sekitar Balaikota. Ternyata, saya baru tahu kalau Kompleks Kantor Gubernur DKI itu dibuka untuk umum setiap Sabtu. Itu setelah saya mendapat informasi dari salah satu petugas keamanan, "Iya mas dibuka buat umum setiap akhir pekan. Gratis dan masyarakat bisa menjelajah ke setiap ruangan untuk melihat tempat kerja pak Ahok."

*        *        *

Di sudut Balai Agung, terdapat beberapa foto mengenai kinerja Pemerintah Kota DKI. Salah satu yang menarik tentang penertiban bangunan kawasan kalijodo. Lokasi yang terletak di sisi timur Banjir Kanal Barat ini ternyata berkolerasi dengan peringatan Hari Air Sedunia.

*        *        *

Ketika melangkah menuju tempat parkir, tampak beberapa personil TNI sedang beristirahat. Ada yang makan, salat, dan tidur, seusai bertugas menjaga aksi demonstrasi di depan Balaikota. Di sepanjang Jalan Merdeka Selatan, berserakan sampah, daun, dan ranting pohon serta bunga yang berguguran karena terinjak pendemo. Terlihat beberapa petugas harian lepas berusia paruh baya tengah menyapu sampah tersebut yang esoknya saya baru tahu beliau dapat apresiasi dari Basuki.

Di sisi lain, saya merasa ada yang aneh dengan hari itu. Sebab, ibu kota tampak langgeng, khususnya ruas utama di sepanjang Jalan Sudirman. Selepas kawasan SCBD menuju Patung Pemuda Membangun, aparat keamanan menutup satu jalur karena saat itu sedang dipakai demo. Ya, bagaimanapun, Hari Air Sedunia hanya diperingati setiap tahun. Sementara, kebutuhan hidup berlangsung setiap hari.

*        *        *         *        *        *


*        *        *         *        *        *

Artikel selanjutnya:
- (Esai Foto) Sepenggal Kisah pada Hari Air Sedunia
- Menelusuri Jejak RI 1 (dan calon) dari Kantor DKI 1

Artikel Terkait:
Sosok Pemungut Sampah yang Terlupakan
Tenggelamnya Tiang Gawang Kami
- (Esai Foto) Anugerah Jurnalistik Aqua: Antara Kritik dan Apresiasi
- Anomali Ahok: Pahlawan atau Pengkhianat?
- Sisi Lain Krishna Murti: Catatan Polisi di Mata Blogger
Pelabuhan Sunda Kelapa: Banyak Sampah dan Airnya Tercemar Limbah
Perlunya Peraturan Tegas Pemerintah dalam Menangani Banjir
"Jakarta Banget": Mengupas Sisi Lain Kehidupan Jakarta 
Ketika Sepak Bola Tinggal Kenangan
Menyaksikan Keindahan Pelabuhan Sunda Kelapa yang Termahsyur
Waspadai Pohon Tumbang Mengancam Kendaraan Kita
- Sisi Lain Banjir Ibu Kota

*        *        *
- Jakarta, 24 Maret 2016

Rabu, 09 Maret 2016

(Esai Foto) Selamat Ulang Tahun ke-45 Tempo dan Terus Berkembang Indonesiana


#TEMPO45Tahun
"ALAMATNYA bukan di Mayestik, pak. Tapi, di Palmerah," kata saya kepada rekan sopir yang mengantar kepulangan dari Bandung.

"Lha, setahu saya deket Kebayoran. Soalnya, dua tahun lalu saya pernah ke sana," pria asal Tebet ini menjelaskan.

"Gue baca di tempo.co, alamat perusahaan di Palmerah Barat, bro. Tapi, (alamat) redaksinya di Mayestik. Coba aja datengin satu per satu," tutur rekan saya menimpali sambil memperlihatkan laman situs tersebut pada layar telepon seluler (ponsel).

"Ga tahu juga deh. Di majalahnya malah alamat redaksi dan perusahaan sama-sama di Palmerah. Tadi, sih mbak yang telepon cuma bilang lantai tujuh. Pas ane telepon balik malah ga aktif. Ya udah nanti turunin saya di kantor aja pak. Ntar dari GBK saya naik motor ke Palmerah, kan dekat," saya menjelaskan.
*       *       *
#TEMPO45Tahun

Percakapan itu terjadi ketika kendaraan yang saya tumpangi memasuki kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Rencana saya mau ke kantor Tempo untuk mengambil hadiah pemenang lomba blog Indonesiana bertema Figur Inspiratif. Itu setelah pagi harinya saya mendapat telepon dari perwakilan mereka. 

Singkatnya, saya tiba depan gedung yang menjulang gagah dan unik. Setelah bertanya ke petugas keamanan, ternyata bangunan berbentuk kubus itu yang atasnya diagonal itu memang benar milik Tempo. Di lobi berderet puluhan bunga ucapan dari berbagai perusahaan kakap di negeri ini untuk majalah yang Minggu lalu genap 45 tahun.
*       *       *
#TEMPO45Tahun

Saat menuju lift, saya melewati ruangan yang berisi berbagai majalah atau koran yang mungkin akan diedarkan. Seketika, saya jadi teringat obrolan dengan Dahlan Iskan di mobil dinasnya ketika masih jadi Menteri BUMN medio 2013. Saat itu, pria asal Magetan, Jawa Timur itu memotivasi saya dengan cerita masa mudanya hingga menjelang paruh baya. Salah satunya ketika jadi wartawan Tempo yang secara eksklusif meliput kecelakaan Kapal Tampomas pada 1981. 

"Saya dibesarkan Tempo sebelum akhirnya memimpin Jawa Pos. Salah satu pengalaman yang paling berkesan dan menegangkan ketika menyasksikan mayat berserakan di laut dekat kapal itu," kata Dahlan dalam perjalanan dari kantornya di kawasan Medan Merdeka Selatan untuk mentraktir saya di restoran Bubur Kwang Tung, Pecenongan,
*       *       *
#TEMPO45Tahun

Di sisi lift, terdapat berbagai informasi untuk kalangan internal Tempo. Ada jadwal pertandingan olahraga, informasi terkini yang sekilas seperti majalah dinding (mading) waktu saya sekolah, hingga iklan. Ternyata, Gedung Tempo juga menerima pihak swasta yang mau menyewa beberapa lantai atau ruangannya.

*       *       *
#TEMPO45Tahun

"Silakan menunggu ya mas. Mbak Widya (kalo ga salah, saya lupa namanya) sedang rapat," ucap salah satu pegawai Tempo di bagian informasi. Sambil membunuh waktu, saya iseng-iseng membaca Koran Tempo yang tersedia. Dibanding majalah, edisi harian ini memang lebih ringkas. Kebetulan, terakhir kali saya beli Koran Tempo pada edisi 15 Januari lalu. Saat itu, saya tertarik dengan halaman depan yang memuat lima foto utama Insiden Thamrin.
*       *       *
#TEMPO45Tahun

Setelah selesai membaca Koran Tempo, saya pun iseng menuju jendela yang terletak di samping lift. Dari lantai tujuh, tampak wajah ibu kota yang sebenarnya. Di tenggara, terlihat deretan gedung bertingkat yang berdampingan dengan perumahan penduduk. Termasuk, kompleks Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) yang merupakan tempat saya kerja.

*       *       *
Foto: Instagram @Anazkia

"Ini mas ditandatangani sebagai bukti penerimaan. Oh ya, kita foto dulu ya untuk dokumentasi," ujar pegawai Tempo bernama -kalau tidak salah- Alif saat menyerahkan ponsel yang merupakan hadiah Lomba Blog Indonesiana Figur Inspiratif. Setelah mengucapkan terima kasih, saya meminta tolong kepadanya untuk dipertemukan dengan admin Indonesiana. Kebetulan, dua di antaranya sudah saya kenal sejak 2011, Rob Januar dan Anazkia. 

*       *       *
#TEMPO45Tahun

Sayangnya,  saya hanya berjumpa Anazkia. Sementara, Rob yang terakhir kali saya temui ketika menjelajah setiap sudut Gedung DPR/MPR bersama Komunitas Hobi Jepret (Kampret) pada 20 September 2014, sedang tidak ada. Saat itu, Anazkia langsung mengajak saya ke ruang kerjanya yang berbaur dengan berbagai desk Tempo lainnya.

Bahkan, novelis "15 November: Mengingatmu dalam Catatanku" ini, menjelaskan berbagai hal tentang Indonesiana. Maklum, saya pribadi belum lama aktif menulis di blog publik milik Tempo ini. Tepatnya, pada 18 Februari lalu dengan langsung menunggah artikel berjudul, "The Revenant: Tertolong Sinematografi dan Totalitas Di Caprio."

"Siapa pun boleh bergabung dan menulis di Indonesiana," kata Anazkia yang mendapat penghargaan Srikandi Blogger 2013 ini. "Indonesiana juga memperbolehkan penulis atau blogger yang menyalin artikelnya dari blog pribadi. Yang penting, tulisan itu asli dan bukan copy-paste. Setiap harinya terdapat ratusan tulisan yang beredar di Indonesiana."

Pernyataan dari wanita yang saya kenal sejak bergabung dengan Komunitas Blogger Hibah Buku ini memang beralasan. Sebab, Indonesiana menyandang nama besar Tempo sebagai bagian dari grup media yang mengutamakan jurnalime investigatif. Serupa dengan Kompasiana yang merupakan adik kandung dari Harian Kompas.
*       *       *
#TEMPO45Tahun

Setelah ngalor-ngidul nyaris satu jam, saya pun pamit kepada Anazkia untuk kembali ke kantor. Namun, sosok yang dinobatkan sebagai Perempuan Inspiratif Nova 2014 ini mengajak saya untuk "tur" di sekitar gedung. Termasuk memperlihatkan huruf T raksasa di langit-langit ruangan tersebut. "Saya saja baru tahu huruf itu waktu Dian (Sastrowardoyo) datang ke sini," kata Anazkia menyebut pameran Cinta dalam film AADC ini yang dimuat Tempo edisi 22 Februari lalu.

*       *       *
#TEMPO45Tahun

Ketika menuju lift, ternyata terdengar suara musik yang mengalun indah. Saya pun penasaran yang dijawab Anazkia, "Itu paduan suara untuk memperingati ulang tahun Tempo ke-45. Acaranya sore ini. Datang aja rul."

Sayangnya, waktu di ponsel saya sudah menunjukkan pukul 15.30 WIB. Alhasil, saya langsung pamit untuk kembali ke kantor dengan membawa hadiah dan segudang cerita. Ya, adagium lawas mengatakan, "tiada perjamuan yang tak berakhir."

*       *       *
#TEMPO45Tahun

Esok harinya, kebetulan saya libur kerja. Jadi, mempunyai waktu untuk membongkar gudang demi mencari beberapa koleksi Tempo. Kebetulan, saya sudah membaca majalah mingguan tersebut sejak awal 2000-an ketika masih berseragam abu-abu. Pasalnya, keluarga di rumah sering beli eceran di kios depan stasiun yang berlangsung hingga kini.

Seperti yang dikatakan Dahlan tiga tahun lalu, Tempo bukan sekadar majalah berita mingguan saja. Melainkan sudah jadi alternatif sumber berita  utama di berbagai kalangan. Mulai dari masyarakat umum hingga instansi pemerintah.

*       *       *
#TEMPO45Tahun

Selain faktor jurnalisme investigatif yang kerap saya adopsi dalam penulisan blog, yang saya suka dari Tempo karena sampulnya. Ya, di era "senjakala media" saat ini, satu foto (atau karikatur) jadi lebih bermakna dibanding ribuan kata yang jadi pemikat untuk pembaca. Itu seperti yang diungkapkan Bob Mayer, "Content is King. Promotion is Queen."

Ya, selamat ulang tahun ke-45 Tempo. Terus berkembang Indonesiana!

*       *       *
Artikel Terkait
- Beda Nasib Kartini-Kartono
- Tertawa ala Goenawan Muhamad
- Sisi Lain Dahlan Iskan
- Dahlan Iskan dan Gerbong Terakhir
- Wawancara Eksklusif: Dahlan Iskan
- Resensi Buku Anazkia: 15 November
- Gerakan Hibah Sejuta Buku
- 45 Pemenang Figur Inspiratif
- Christie Ubah Keterbatasan Jadi Kelebihan

Esai Foto sebelumnya:

*       *       *
- Jakarta, 8 Maret 2016