TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: 2022

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol

Sabtu, 05 Maret 2022

Kenapa Harus Pond's Triple Glow Serum?

Kenapa Harus Pond's Triple Glow Serum?



Pond's Indonesia merilis Triple Glow Serum dan
Triple Glow Serum Mask
(Foto: @roelly87)


BERSIH itu sehat. Demikian adagium yang saya kenal sejak dulu dan diaplikasikan sehari-hari hingga kini. Dalam situasi apa pun, di mana saja, dan setiap saat. 

Terutama, mengingat profesi saya sebagai ojek online (ojol) yang mayoritas waktunya di luar rumah. Khususnya, di jalanan yang tentu akrab dengan debu. Namun, itu tidak menyurutkan usaha saya untuk tetap bersih. Baik itu tubuh, seragam kerja, hingga sepeda motor.

Termasuk, wajah. Apalagi, sejak pandemi dalam dua tahun terakhir, saya selalu pakai masker saat bekerja. Tentu, membuat wajah saya adakalanya kusam akibat rutinitas membelah jalanan dari atas sepeda motor. Memang, ini bukan masalah mengingat saya tidak berinteraksi langsung dengan pelanggan.

Namun, sebagai ojol, jelas saya berusaha untuk tetap bersih. Terutama, wajah yang merupakan etalase diri. Untuk itu, saya rutin mandi dua kali sehari. Yaitu, sore menjelang berangkat dan subuh atau pagi ketika pulang.

Untuk wajah, saya biasa menggunakan Pond’s Pure Bright sejak belasan tahun terakhir. Terbukti, hingga kini, muka saya tetap oke. Bahkan, menambah rasa pede (percaya diri) terkait kesegarannya.

Teranyar, saya tertarik menggunakan produk termutakhir dari Pond’s Indonesia. Yaitu, Triple Glow Serum dan Triple Glow Serum Mask

Btw…Serum? 

Apakah saya bakal jadi Super Hero

Wow!

Eittts…! Tenang, bukan itu. Serum yang dimaksud adalah, untuk memanjakan kulit wajah. Yuppiii!

Ya, Pond’s Bright Beauty Triple Glow Serum ini bertujuan untuk memberikan kecerahan wajah pengguna dan lebih halus. Ya… Mungkin, seperti Wendy yang merupakan anggota K-Pop Idol, Red Velvet, yang selalu glowing!

Oh ya, doi kan wanita. Sementara, saya adalah pria…

Tenang, sebab, Pond’s Bright Beauty Triple Glow Serum ini bisa dipakai siapa saja. Baik cewe atau cowo seperti saya. Persis seperti Pond’s Pure Bright yang jadi sahabat saya saat mandi.

Pond’s merilis Triple Glow Serum ini dengan formula terbaru yang bisa mencerahkan, melembutkan, dan melembapkan wajah kita. Yang dimaksud kita itu, saya dan Anda pembaca blog ini yang mungkin tertarik untuk menggunakannya.

Siapa tahu, hasilnya kulit wajah kita jadi glowing. Yeeei, ini sukar kita dapatkan jika hanya menggunakan krim saja!

Nah, sebagai blogger aktif sejak 2009 silam yang memegang teguh asas jurnalistik, tentu saya wajib mencobanya terlebih dulu sebelum membuat postingan di blog ini. Terutama, agar apa yang saya alami tidak bias dibanding yang tertuang dalam tulisan.

Terlebih, nama produknya, ada kata Bright Beauty yang identik dengan feminisme. Namun, yang dimaksud adalah untuk lebih mencerahkan wajah penggunanya. Bisa wanita maupun pria. 

Yupz, sebagai cowo, tentu saya juga ga mau terlihat kusam. Itu mengapa, Triple Glow Serum ini jadi jawaban saya untuk lebih glowing!

Bisa dipahami mengingat Pond’s Bright Beauty Triple Glow Serum ini memiliki formula khusus yang membuat penggunanya tampak kinclong. Itu berkat konsentrat serum pencerah yang menggabungkan tiga kekuatan terbaik. 

Sehingga, mampu bekerja 60 kali lebih efektif dari Vitamin C untuk memancarkan Triple Action Glow kita. Wajar jika produk ini dinobatkan sebagai Serum Pencerah Wajah Terbaik

Terlebih, Pond’s Bright Beauty Triple Glow Serum ini mengandung glutathione, yang merupakan antioksidan yang dikenal mampu mencerahkan kulit. Formula unik Gluta-Boost-C ini efektif menyamarkan flek hitam untuk membuat wajah kita tampak cerah dan warna kulit merata.

Oh ya, bagaimana dengan harganya? Secara pribadi, bagi saya sebagai ojol, tidak perlu merogoh kocek lebih dalam. Tepatnya, karena harga Pond’s Triple Glow Serum hanya Rp18.000!

Dengan nominal segitu, kita bisa menggunakannya berkali-kali. Apalagi, menjelang peralihan musim hujan ke kemarau ini yang sangat sensitif bagi muka. Pond’s Bright Beauty Triple Glow Serum yang memiliki kandungan Vitamin B3+ ini bisa menyamarkan pori untuk wajah tampak mulus.

Yeeeei! Ga perlu biaya mahal untuk perawatan muka. Cukup dengan Pond’s Bright Beauty Triple Glow Serum ini bisa membuat wajah saya jadi lebih kinclong.

Btw, bedanya apa dengan Pond’s Bright Beauty Triple Glow Serum Mask? Secara garis besar sih sama, dengan kinerja dan manfaat yang identik. Harga pun tidak beda jauh dengan Mask Rp19.200.  

Hanya, bentuknya sedikit beda. Pasalnya, Triple Glow Serum berupa cairan. Sementara, Triple Glow Serum Mask cenderung padat yang bisa dibentuk seperti masker wajah.

Nah, saya sudah merasakan Pond’s Bright Beauty Triple Glow Serum dan Pond’s Bright Beuaty Triple Glow Serum Mask. Bagaimana, dengan Anda?***

Berkat Pond's Triple Glow Serum bikin
wajah saya lebih kinclong!

*        *        *

- Jakarta, 5 Maret 2022

Sabtu, 26 Februari 2022

Ada Senyumku di Balik Kemudahan Catatan Keuangan

Ada Senyumku di Balik Kemudahan Catatan Keuangan

Nyatet pengeluaran di Senyumku gampang banget!
(Foto: Senyumku.com)


TIDAK terasa, pandemi yang melanda di kolong langit ini sudah berlangsung lebih dari dua tahun. Khususnya, di Tanah Air yang kali pertama dideteksi pada 2 Maret 2020. 

Sejak saat itu, Pemerintah Indonesia pun sigap bereaksi untuk menyelamatkan rakyatnya. Termasuk, menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sejak 6 April 2020 yang berlanjut dengan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pada 11 Januari 2021. 

Selain itu, pemerintah juga gerak cepat dengan menyediakan vaksin untuk seluruh rakyat dari Sabang hingga Merauke. Alhasil, meski bulan depan koronavirus genap dua tahun menjangkiti Tanah Air, tapi masyarakatnya sudah bisa dibilang berdamai dengan situasi ini. 

Salah satunya, saya sebagai ojek online (ojol) yang aktivitasnya mayoritas berada di jalanan. Memang, harus diakui jika pandemi ini sangat memukul sendi-sendi perekonomian. 

Saya pun mengiyakan. Beda dengan karyawan yang sudah pasti mendapat gaji setiap bulannya, saya sebagai ojol memiliki penghasilannya tak menentu. 

Alias hari ini bisa besar tapi besok menurun, dan lusa kembali tinggi, tentu saya harus memutar otak hingga ekstra keras. Alhamdulillah, hingga sekarang, saya bisa mengatasinya pada situasi ini. 

Kendati, awalnya tidak mudah mengingat pandemi, mayoritas ojol mengalami penurunan penghasilan. Namun, seiring waktu berjalan, saya bisa mengatur keuangan dengan lancar. 

Agar, tidak terjadi besar pasak daripada tiang. Salah satunya, berkat Aplikasi Bank Digital Senyumku dari Bank Amar Indonesia

Produk yang bisa diunduh lewat Google PlayStore ini sangat membantu dalam kehidupan sehari-hari. Itu karena Aplikasi Senyumku memiliki fitur rekening tabungan dan catatan keuangan harian.

Sehingga, saya bisa mengatur keuangan dengan mudah dan terperinci. Selain itu, yang utama, saya juga bisa menabung. 

Bisa dipahami mengingat Senyumku merupakan produk termutakhir dari Amar Bank yang dikenal dalam industri teknologi finansial di Tanah Air. Alhasil, sebagai produk keluaran dari perusahaan keuangan ternama itu, Senyumku bisa digunakan untuk melakukan pembayaran atau transaksi antarbank hanya dalam aplikasi. 

Di mana pun dan kapan saja!

Maklum, di tengah pesatnya perkembangan zaman, sudah pasti kita harus mengikuti dengan menyesuaikan keadaan. Nah, Senyumku ini merupakan aplikasi catatan keuangan yang modern hingga memungkinkan saya untuk merekapitulasi catatan keuangan yang masuk maupun keluar.

Ini saya sebagai ojol, lho, yang arus kasnya tidak terlalu banyak. Apalagi, jika Anda merupakan pebisnis atau memiliki usaha di bidang jasa serta kuliner, tentu Senyumku sangat berguna.

Sebab, dengan berbagai fitur di aplikasi yang dirilis kali pertama pada 17 Agustus 2020 ini, perencanaan dan pengelolaan keuangan bisa dilakukan dengan lebih baik lagi. Tujuannya, demi membantu mewujudkan kebebasan finansial di masa yang akan datang. Terlebih, buka rekening online di Senyumku ini tanpa setoran awal!

Yupz… Saya tidak perlu rempong pergi ke kantor cabang saat kali pertama buka rekening. 

Cukup isi formulir secara online. Setelah itu, unggah kartu identitas seperti KTP dan swafoto. 

Usai verifikasi tidak sampai lima menit… 

Taraaaaaaa

Jadi.

Selanjutnya, kita tinggal melakukan transaksi deh. Seperti menabung, transfer antarbank, hingga melakukan pembayaran yang dapat dilakukan di mana pun dan kapan saja.

Btw, apakah Senyumku ini aman?

Yupz, ini pertanyaan yang timbul sejak kali pertama mengenal Senyumku. Sebagai ojol yang hobi ngeblog sejak 2009 silam, tentu saya harus kritis dalam mengenal suatu hal. 

Termasuk, dengan Senyumku ini. Maklum, keuangan merupakan hal yang sensitif. 

Tentu, saya harus benar-benar merasa aman dengan aplikasi yang dimiliki. Sebelum benar-benar percaya melakukan catatan keuangan serta aktivasi perbankan, saya pun berusaha mengenal lebih jauh dengan Senyumku.

Ternyata, Senyumku benar-benar terverifikasi. Alias, aplikasi keuangan ini merupakan produk dari PT Bank Amar Indonesia. 

Alhasil, sudah terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Bagi saya, ini sangat penting. Sekaligus, jadi jaminan saya dalam bertransaksi sehari-hari lewat Senyumku.

Apalagi, dengan memiliki aplikasi tabungan online Senyumku ini, berarti saya sudah terdaftar sebagai bagian dari nasabah PT Bank Amar Indonesia Tbk. Yaitu, perusahaan keuangan yang sudah berkiprah di Tanah Air lebih dari 30 tahun silam. Tepatnya, sejak didirikan pada 1991 di Surabaya dengan nama PT Anglomas International Bank.

Nah, Bank Amar ini juga salah satu pelopor dalam industri teknologi finansial di Indonesia. Itu setelah meluncurkan layanan Tunaiku pada 2014 lalu yang sukses menyediakan pinjaman uang secara online tanpa agunan.

Alhasil, jika sebelumnya sudah memiliki transaksi di Tunaiku, kita cukup melakukan verifikasi untuk aktivasi di Senyumku. Yang penting, siapkan data-data dan swafoto dengan email aktif. 

Dalam hitungan menit, rekening Senyumku sudah aktif.

Ya, intinya dengan Senyumku, kita bisa lebih mudah mengatur keuangan sehari-hari, transaksi, dan sebagainya. Cukup hanya lewat satu aplikasi yang bersinergi dengan Tunaiku dan Bank Amar. 

Semudah itu.***

*      *      *

- Jakarta, 26 Februari 2022

Jumat, 28 Januari 2022

Karena Customer adalah Raja

Catatan Harian Ojol (CHO) VII

Karena Customer adalah Raja

Ilustrasi @roelly87


POV Tuti

"WOI... Pok. Sibuk amat."

"Biasa dia mah. Jam segini, asyik Drakoran. Paling juga, ntar nyesel sendiri pas ga sadar orderan lewat."

"Yah, maklum... Puber keempat."

Ha... Ha... Ha...

Riuhnya, percakapan tiga makhluk aneh penunggu basecamp ini. Ekalaya, Irawan, dan Dresta.

Ketiganya bersama Jayadrata merupakan pemilik secara de facto, basecamp ini. Sekaligus, jadi grup lenong ga jelas.

Kadang, sih gw jkutan juga, he he he. Biar kata udah mau kepala empat, kalo ngumpul bareng mereka jadi ga inget umur lagi.

Intinya, rame kalo sama keempat ojol ini. Meski cuma gw yang cewe, tapi mereka ga ngebeda-bedain.

Banyak pengalaman gw bareng keempatnya. Mulai dari kegoblokan, lucu, drama, satir, sampe horor...


*      *      *

"KA, tumben lo jam segini udah keluar? Biasa abis Maghrib baru nongol kayak dedemit," kata gw kepada Ekalaya. 

"Kejer setoran pok. Tanggal tua nih."

"Eh, oneng... Sejak kapan, ojol kayak kita-kita ada tanggal tua sama muda."

"Paling juga ngayap dia mah. Ya, Ir?" Jaya mengomentari.

"Ho... oh. Kalo ga, paling nemuin si Wilutama, Dresnala, atau Sita. Ujung-ujungnya modus doang," timpal Irawan.

"Si goblok. Namanya juga usaha, Ir. Ya ga Bang Jay, pok?"

"Auk ah... Gw ga ikutan. Tapi kalo ada temen mereka pade yang bening, boleh kenalin ke gw ya Ka."

"Ebuset. Inget, umur Bang Jay..."

"Kalo gw, bisa ya Ka? Aman deh, rokok-rokok mah ada."

"Siap, bosku Irawan. Tapi, gw ga tanggung ya kalo si Setya tahu?"

"Njir... Jangan deh, Ka. Gw ga mau nyari penyakit."

"..."

Grup lenong ini kalo udah kumpul bener-bener absurd. Apa aja dibahas. 

Pokoknya, ketiganya ini kayak ga punya beban. Meski, dari mereka, Eka yang masih single. 

Irawan dan Jaya udah berkeluarga. Juga, Dresta yang paling tua dan bahkan udah punya cucu.

"Gw lagi nenangin pikiran nih Ka. Tadi, dapat orderan food, drama banget," gw jawab pertanyaan Eka.

"Lah, hidup lo kan emang udah drama, Tut," ujar Jaya, terkekeh.

"Drama adalah bagian dari lo, Pok Tuti," timpal Irawan.

"Bener juga kata Bang Jay dan si Ir ini. Lo mah ga aneh, kalo dapat orderan drama terus," Eka, menambahkan.

"He he he... Geblek lo pade. Emang sih iya juga. Tapi, tadi siang emang super duper ngeselin," gw menjawab.

"Opik lagi?" potong Jaya.

"Bukan. Tapi, ngeselin"

"Ya udah, minum gih Pok."

"Si bego, kejadiannya udah lewat beberapa jam. Pan siang."

"Si Irawan ini emang dah ga nyambung. Pan si Pok Tuti bilang tadi, bukan sekarang."

"Ya udah, Tut. Coba ceritain."

"Begini, ceritanya..."

"Yaelah, Pok... Lo kayak narator kisah misteri di tv."

"Cocok lo jadi anchor atau penyiar radio."

"Setuju sama dua makhluk ini. Lo emang drama banget, Tut."

Ebuset, belom juga gw mau cerita, udah di-bully duluan sama grup lenong ini. Untung, gw udah pernah makan jantung serigala sama otak singa, jadi kuat ngadepin mereka. 

Kalo ga, bisa makin mumet. Belom lagi jika ditambah Dresta, duh...

"Iye, ini gw mau cerita," kata gw sambil nyender di pojok basecamp yang terbuat dari bambu.

"Menyimak."

"Lanjut Pok. Asal jangan kayak Luis di film Ant-Man."

"Yongkru... Luis mah, kebanyakan intermezzo. Mirip sih ya Ir, sama si Tuti."

"..."

*      *      *

"SIANG Ka. Pesanan sesuai aplikasi ya," gw kirim pesan lewat chat di aplikasi ojol.

Ga lama, dibales. "Ya."

Gw pun langsung menuju resto di kawasan Hayam Wuruk. Orderannya, cuma satu.

Perasaan, ada yang aneh. Pesanannya cuma satu. Harganya ga sampe seperempat lembaran biru. 

Sambil nunggu di tempat khusus ojol yang disediakan resto diiringi cemilan dan minuman ringan, gw pikir, biasa aja. Mungkin, cuma itu yang diinginkan. 

Siapa tahu, di rumahnya, customer juga masak. Jadi, orderan ini sekadar tambahan.

Kurang dari seperminuman teh, masakan pun siap. Gw kembali mengirim pesan.

"Kak, alamat sudah sesuai titik ya? Untuk lengkapnya, nomor rumah dan RT/RW berapa ya?"

Gw bertanya, karena di aplikasi hanya tertera Jalan Kebon Jeruk, yang berlokasi di Kelurahan Maphar, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat. Tidak ada detailnya.

Ini aneh menurut gw. Padahal, menilik akun customer dengan nama Gandari, sudah ratusan kali order pada aplikasi ojol ini. 

Meski, ratingnya mengkhawatirkan, 2,8. Sangat jelek. 

Berdasarkan pengalaman gw yang ngojol sejak 2017, rating di bawah 4 itu ngeri-ngeri sedap. Lah, ini tiga pun kurang! 

Apalagi, orderan sudah ratusan. Ada apa dengan customer ini?

Ga lama, layar di aplikasi pun berubah tampilan jadi panggilan masuk. Terdapat nomor customer yang sudah disamarkan pihak aplikator.

"Mbak, saya tambah lagi ya manual. Ntar saya ganti via nontunai."

"Siang kak, ini dengan Gandari ya?"

"Iya. Ini saya tambah pesanan nasi goreng dua bungkus lagi, sate ayam satu, dan soto daging empat. Harganya normal ya, jangan ikutin aplikasi."

"Waduh, ini serius kak?"

"Ya..."

"Untuk alamat, kalo boleh tahu?"

"Astana Indah Residence Nomor 96. Jalan Raya Kebon Jeruk. Patokannya, lewat Jalan Panjang aja, ga jauh. Bla... Bla... Bla..."

Mendengar suara Gandari di telepon bikin gw keringat dingin. Ini ngaco banget.

"Maaf, kak. Kalo di luar aplikasi, ini harganya kebanyakan. Saya ga punya uang lebih. Apalagi, alamatnya juga beda jauh. Di titik aplikasi, Jalan Kebon Jeruk IX, Kelurahan Maphar, yang argonya saya terima bersih Rp 8.000. Kalo ke Jalan Raya Kebon Jeruk, ongkosnya lumayan beda kak. Sekitar Rp 30-40 ribu. Belom lagi, jauh yang di atas 7 km dan macet."

"Lah, itu urusan situ. Saya ga mau tahu."

"Maaf, kak. Tolong kerja samanya."

"Saya kan udah bayar yang pesanan saya dengan nontunai. Minta titip tambah orderan manual aja ga mau? Soal jarak? Biasa kok. Ojol lainnya juga sebelomnya bisa."

"Duh, maaf kak. Ini..."

Klik

Ngadepin customer yang kayak gini bikin emosi gw naek ke ubun-ubun. Hanya, gw sadar, apa pun itu, pelanggan adalah raja.

Percuma mau ngomel bagaimanapun, aplikator 100 persen bakal menangin customer. Bagi perusahaan, jelas.

Kehilangan satu driver, gampang dicari dengan buka lowongan yang memunculkan ratusan calon ojol. Itu mengapa, mayoritas aturan aplikator sangat menguntungkan customer.

Gw pun tarik nafas dalam-dalam. Sambil meminum air mineral botolan yang gw selalu bawa sedikit meredakan esmosi.

Gw coba untuk telepon kembali. 1... 2... 3... Keangkat.

"Kak, saya ga ada dana buat nalangin pesanan manual yang jumlahnya ratusan ribu. Apalagi, orderan ini kan nontunai, jadi kami, para ojol jarang bawa uang lebih."

"Terus?"

"Untuk alamat juga beda jauh. Kami, para ojol hanya mengantar sampai titik yang ditentukan. Meski namanya sama Kebon Jeruk, tapi lokasi beda jauh. Mohon pengertiannya."

"Ya ga tahu. Kok tanya saya..."

Nyaris saja gw maki-maki nih bocah di telepon kalo ga inget status sebagai ojol. Sesabar-sabarnya gw, tentu ada batasnya.

Apalagi, sesama perempuan. Ini bocah songong amat sama yang tuaan.

Beruntung, ketika gw ingin menjawab telepon, dari belakang ada yang manggil. Saat menoleh, tampak pria berusia 60-an yang mendatangi gw dengan tersenyum diikuti salah satu pegawai wanita yang mengenakan seragam resto tersebut.

"Dik, bisa pinjam hapenya," kata pria itu yang saya kira sebagai salah satu pegawai atau bahkan manajer terkait usianya.

"Ada apa pak?"

"Biar saya yang bicara dengan customernya."

Dari samping, si pegawai resto mengangguk. Isyarat agar sang pria itu yang mengambilalih kemudi.

"Silakan, pak."

"Terima kasih."

Gw perhatikan, meski usianya sudah 60 atau 70-an, tapi perawakan bapak ini masih tegap. Kendati, rambutnya sudah memutih.  

Kedua tangannya pun tampak kekar. Dari raut wajahnya tampak sebagai orang yang tegas. 

"Halo... Selamat siang. Dengan dik Gandari? Saya Bisma, pemilik resto ini."

Terdengar suara khas dari pria itu yang ternyata owner ini restoran. Pak Bisma pun mengaktifkan loudapeaker agar pembicaraannya dengan si customer bisa gw ketahui.

"Iya, saya Gandari. Kenapa Anda ikut campur uruasan saya dengan ojol? Emangnya, Anda perwakilan dari aplikator? Sotoy deh."

"Saya hanya ingin menengahi. Secara, Anda adalah pelanggan setia resto saya yang sering beli. Namun, Anda juga kerap merugikan driver. Baik itu tambah pesanan manual non aplikasi dan lokasi antar yang beda dengan titik."

"Ah, kepo lo!"

"Anda harus sadar, ojol tuh dibayar per kilometer berdasarkan alamat yang tertera pada titik di aplikasi. Anda cantumkan alamat di Jalan Kebon Jeruk IX, tapi rumah di Jalan Raya Kebon Jeruk. Bedanya jauh sekali, dik."

Gw menyimak pembicaraan pak Bisma yang sangat tenang. Megang hape pun tampak elegan sekali.

"Kok, situ sewot. Udah tua, jangan rempong deh ih. Kayak mudanya ga pernah buat dosa aja."

"Dik, manusia mana yang ga pernah salah? Apalagi, dosa. Saya juga sama. Namun, garam yang saya telan masih lebih banyak dibanding nasi yang adik makan sepanjang hidup."

"Terus?"

Sumpah, ingin rasanya menjambak tuh bocah songong. Bicara sama orangtua kok ngelunjak amat.

Ini customer kapan-kapan harus gw kerjain. Apalagi, kalo Genk Lenong tahu, abis nih bocah.

"Dik, tinggal di Astana Indah Residence Nomor 96 ya?"

"Iya, kenape? Mau jadi pekerja sensus nanya-nanya rumah gw?"

"Adik pernah apa dengan Gandamana?"

"..."

Beberapa detik gw dengar tidak ada sahutan dari Gandari. Sementara, pak Bisma tersenyum kepada gw sambil memberi kode kepada salah satu pegawainya untuk membawakan minuman.

Mayan, panas-panas gini dapat jus segar. Plus, kentang goreng dan ayam crispy buat cemilan gratis yang langsung aja gw hajar.

"Maaf ya, dik, udah nunggu lama. Silakan cicipin seadanya."

"Terima kasih, pak."

Sambil mengganyang kulit crispy diiringi tegukan jus buah naga, gw kembali menyimak pembicaraan mereka. Tidak ada perubahan dari raut pak Bisma yang tetap cool.

"Saya... Saya... Cucunya, pak. Kok, Anda, bisa tahu kakek saya?"

Terdengar patah-patah suara Gandari. Aura songongnya seketika langsung sirna ketika pak Bisma menanyakan hubungannya dengan sosok yang tadi disebutkan.

"Gandamana itu, masih satu letingan dengan saya. Tapi, masih junior. Ketika saya pensiun dari Mabes, beliau menjabat posisi cukup penting. Kok, bisa ya cucunya tidak punya sopan santun begini?"

Terdengar pak Bisma menaikkan intonasi suaranya yang terdengar menggelegar di telinga. Namun, wajahnya tetap ramah dengan seperti menahan senyum kepada saya."

"Iya... Pak, beliau kakek saya. Maaf ya pak."

"Gandamana, atua biasa saya panggil Ganda itu sohib saya. Kami sering kumpul bersama purnawirawan lain sesama Cijantung. Terakhir, ada reuni di Gagak Hitam."

Pak Bisma, melanjutkan, "Jadi, saya akan adukan adik ke Pak Ganda. Nomor hapenya masih yang 0815987654 ini kan?"

"I... Iya, pak."

"Oke, saya akan telepon beliau sekaligus memberitahu terkait tindakan adik yang sudah merugikan enam ojol dalam sepekan terakhir. Siap-siap, aja jika..."

"Pak, tunggu... Pak  Saya minta maaf atas tindakan saya selama ini. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi."

"Lho, jangan ke saya, minta maafnya. Tapi, ke ojol, termasuk yang barusan ini."

"Siapa dik, nama Anda?" Pak Bisma bertanya kepada saya sambil menyodorkan hape.

"Tuti, pak. Astuti."

"Tuh, dik Gandari. Ojol ini namanya, Tuti. Silakan Anda minta maaf kepadanya. Lalu, orderan ini tidak dipersulit."

"Iya, pak," ujar Gandari dari seberang telepon. "Mbak Tuti, saya minta maaf ya. Untuk pesanannya, boleh mbak bawa pulang aja, jangan diantar ke rumah saya. Terima kasih."

"Kamu sudah janji kepada ojol bernama Tuti ini ya dik Gandari? Saya saksinya, loh."

"Iya, pak. Maaf."

"Oke, masalah saya anggap tuntas. Namun, jika adik memberi rating jelek atau mengadukan Tuti yang engga-engga kepada aplikator, tentu saya akan bertindak. Dik Gandari paham kan, bagaimana reaksi kakekmu jika tahu masalah ini?"

"Ampun, pak... Jangan sampe kakek tahu. Iya, saya minta maaf."

"Oke, saya tutup ya pembicaraan ini. Terima kasih."

Klik.

Hape pun dikembalikan kepada saya. Pak Bisma mengajak saya masuk ke restonya untuk duduk di meja bundar bertuliskan reserved.

"Dik Tuti, saya mohon maaf atas tindakan cucu teman saya tadi ya. Sesuai pembicaraan, pesanan Gandari bisa diselesaikan di sini dan adik bawa pulang. Juga, ada sedikit oleh-oleh dari kami karena sudah membuat repot."

"Ga kok, pak. Aman. Udah biasa."

"Dik, silakan masuk dulu ke ruangan kaca. Ntar saya susul."

Pak Bisma memanggil salah satu pegawai yang berjas hitam. "Tolong jamu dik ojol ini dengan baik. Siapkan makanan, minuman, dan cemilan andalan kita. Setengah jam lagi, saya susul di ruang kaca."

"Siap pak. Yuk, mbak ojol, oh ya... Mbak siapa namanya?"

"Tuti..."

"Silakan ikuti saya."

*      *      *

USAI menangsel perut hingga full tank, gw pun nyender di private room. Di depan meja gw ada tombol yang bisa menghubungkan dengan kasir jika pelanggan ingin nambah menu atau keperluan yang lain.

Gw lihat beberapa piring kosong. Seingat gw tadi sukses menandaskan seporsi ayam khas taliwang, dua nasi lengko, semangkok es degan, dan air mineral botol kaca yang premium.

Semuanya gratis! Menurut pegawai berjas itu, sebagai pengganti akibat orderan macet dari customer ganjil tersebut.

Sebagai emak-emak yang ga rempong. Btw, kalo orang nyebut gw sih mahmud alias mamah muda, padahal udah kepala empat. 

Tentu setelah makan, otak gw langsung traveling. Tepatnya, menghitung menu yang gw makan berdasarkan aplikasi ojol.

Maklum, untuk daftar menu beserta harga ada di pegawai yang mendatangi setiap meja atau room. Sudah pasti gw ogah bertanya pada mereka.

Secara, gw udah makan gratis. Masa, harus nanya ini-itu yang merepotkan. Itu namanya ngelunjak!

Setelah gw compare, total yang gw santap mencapai Rp180 ribu. Jika harga normal, sekitar 140-150 ribu. 

Secara, jika masuk aplikasi ojol, harga setiap menu dikenakan biaya tambahan 20 persen.

Ebuset... Gw langsung nelen ludah. 

Pekgo, cuma sekali makan? Di rumah, bisa kenyang bareng dua anak gw.

Tapi, emang wajar. Sebab, resto yang konon menolak diberi Bintang Michelin ini dikenal mewah. 

Ga hanya dari menu yang mencakup Eropa, Timur Tengah, Sub Sahara, Oriental, Asia Selatan, hingga penjuru Tanah Air. Juga terkait ruangan, dekorasi, dan keberadaan pegawai yang tergolong ramah.

Gw udah beberapa kali ambil orderan di resto ini. Tidak sekalipun ada yang mintain parkir, baik motor maupun mobil.

Padahal, di kanan dan kiri banyak resto yang ada parkir liarnya. Namun, di resto ini memang istimewa. 

Depan pintu masuk aja ada dua security berbadan tegap yang lebih mirip anggota SWAT atau NYPD. Namun, sikapnya simpatik, ramah, dan murah senyum kepada siapa pun yang datang.

*      *      *

"MAAF ya dik, udah menunggu lama. Kalo mau nambah pesanan, silakan aja."

Lamunan gw buyar mendengar kehadiran Pak Bisma. Tiba-tiba, beliau sudah ada di depan meja gw.

"Ga pak. Terima kasih banyak. Saya kenyang banget."

"Woles, dik. Santai aja. Maaf tadi saya agak lama. Biasa, urusan resto."

"Siap, pak."

Pak Bisma merogoh kotak kecil dari sakunya. Dia pun mengambil asbak berukiran hewan mitos.

"Ga apa-apa, ya saya merokok."

"Ga, pak. Saya juga sesekali di basecamp ojol ikutan merokok."

Namanya doang rokok, tapi yang dihisapnya adalah cerutu. Ebuset, gw aja yang sesekali ngudut mild tipis kadang batuk, apalagi cerutu.

"Jadi, begini..."

Gw menyimak penuturan dari sosok yang kemungkinan mantan militer atau polisi ini. Tidak ada perubahan sikap sejak di depan tadi hingga sekarang.

Beliau tetap tenang. Menandakan sebagai sosok yang terbiasa mengarungi kerasnya kehidupan.

"Setelah saya konfirmasi, Gandari itu memang cucu sohib saya. Masih muda, 20an tahun, seusia cucu saya juga. Maaf, ulahnya telah merepotkan adik dan rekan-rekan ojol lainnya. Meski, setelah saya selidiki, ada alasan lain dari sikapnya itu. Namun, jelas ga bisa dibenarkan. Jika benci sama oknum, jangan seluruhnya yang kena."

"Iya, pak. Saya juga udah ga mau ambil pusing. Clear. Apalagi, ada sisi positifnya dari itu customer ganjil..."

"Positif?"

"Ya. Berkat dia, saya bisa merasakan masakan mewah gratis. He he he," jawab gw tanpa tedeng aling-aling.

Pak Bisma pun tertawa mendengarnya.

"Alhamdulillah, kalo begitu. Saya juga sudah menelepon Gandamana untuk memastikan cucunya tidak mengulangi perbuatan itu lagi. Secara, itu sangat merugikan kalian, para ojol. Saya tahu betul, kesalnya jika menghadapi customer seperti itu. Saya bangun resto ini dari nol, setahun usai pensiun dinas. Memang, pelanggan adalah raja, tapi ga serta merta bertindak kelewatan."

Gw mengangguk. Selama perbincangan ini gw berusaha jaga sopan santun dengan tidak memotong pembicaraan beliau.

"Bagi kami, kalian para ojol merupakan mitra. Sejak saya daftarkan resto ini ke beberapa aplikator pada 2018 lalu, saya berusaha untuk menyambut hangat kalian. Misalnya, ruang tunggu ojol di depan yang sudah tersedia kopi, minuman dingin, snack, dan koran. Jika resto rame dan terjadi antrean, kami juga enggan membedakan ojol dengan customer yang makan di tempat. 'First come, first served'. Itu prinsip kami."

Pak Bisma rehat sejenak untuk menghisap cerutunya. Sementara, gw asyik mengobok-obok es degan yang siapa tahu masih ada sisanya di mangkok.

"Apalagi, saat pandemi ini. Terutama, ketika PSBB yang resto tidak boleh makan di tempat. Otomatis, kami mengandalkan jualan online bermitra dengan aplikator. Memang, kami terima pesanan manual, tapi kami kurang pegawai yang mengantar. Itu mengapa, keberadaan ojol seperti kalian ini sangat membantu."

"Terima kasih banyak pak, atas apresiasinya."

"Ulah Gandari baru saya ketahui tadi dari manajer. Sebelumnya, dia bilang udah ada lima ojol lebih yang mengalami nasib seperti adik. Hanya, saat itu, manajer tidak berani ikut campur karena di luar kewenangannya. Jadi, ketika Gandari tadi kembali order, manajer langsung memberi tahu saya. Kebetulan, saya kenal dengan customernya."

"Iya, parah sih pak. Curang banget, apa-apa mau murah. Ongkir disamarin dan tambah pesanan manual demi menghindari harga sesuai aplikasi yang kena 20 persen."

"Ya, begitulah dik. Namanya, manusia... Seperti yang saya bilang dari awal, ada alasan Gandari melakukan itu. Namun, apa pun itu tetap salah. Problem itu saya enggan ikut campur."

"Setuju pak. Jangan dijadikan pembenaran akibat sakit hati mungkin dengan ojol lain, resto, atau aplikator."

"Oh iya dik, kelima ojol yang menerima orderan Gandari dalam sepekan terakhir tidak ada di database kami. Sebagai permintaan maaf, saya selaku pemilik resto ini sekaligus sohib dari kakeknya, akan mengundang adik untuk hadir dalam suatu event bulan depan. Adik bisa aja rekan-rekan ojol yang adik Tuti kenal. Tenang, semua saya tanggung."

"Waduh, bener pak?"

"Iya."

"Tapi, saya dan teman-teman saya makannya banyak. Yang ada malah tamu bapak ga kebagian makanan."

"He he he. Ga lah. Aman."

"Siap pak. Saya izin pamit ya, balik ngojol."

"Oh iya, silakan. Itu ada bungkusan untuk dibawa pulang. Bisa untuk keluarga atau teman-teman."

"Waduh, jangan repot-repot pak."

"Ga. Kan, udah dibuat dari tadi. Yuk kita ke depan."

*      *      *

"ENAK dong pok makan gratis. Dapat oleh-oleh pula."

"Itu ya bungkusannya, coba gw buka."

"Menurut gw sih setimpal Tut. Lo dapat orderan rese tapi dibalas sama pemilik resto yang baik."

Demikian sahut-sahutan antara Eka, Irawan, dan Jaya, sambil ngemil keripik balado pemberian pak Bisma. Sebagian gw taroh basecamp dan sisanya untuk di rumah.

"Eh tapi emang ngeselin kalo dapat customer pahit yang suka ngakalin ongkir. Kalo gw sih ogah ngambil."

"Dodol... Pan makanan udah gw pick up. Kalo tahu dari awal juga ogah," gw tanggapi komentar Irawan.

"Ya udah, yang penting clear. Ini basecamp sepi banget dah. Pada kemana?" Eka bertanya.

"Jam sibuk, Ka. Pada narik. Kalo gw rehat bentar," Jaya menimpali.

Hape gw berbunyi. Notifikasi dari Genk Lenong.

Gw emang ada banyak grup ojol. Termasuk, grup di basecamp ini berisi 19 driver dengan empat di antaranya lady ojol.

Sementara, Genk Lenong khusus berisi lima orang. Irawan sebagai penggagas diikuti gw, Eka, Jaya, dan Dresta.

"Woi, cek grup lo pade," teriak gw.

"Grup ape? Basecamp apa Genk Lenong?"

"Genk Lenong. Dresta infoin ada proyek tuh."

"Lah... Ogah. Proyek pak tua itu ujung-ujungnya selalu plot twist."

"Mayan, buat nambah-nambahin cuan. Abis tahun baru ini pan orderan sepi."

"Gw pikir-pikir dulu, pok."

"Lah, otak lo bisa mikir emang Ir?"

"Kalo info dari Dresta, perasaan gw ga enak terus, Ka."

"Wooi... Yang pake perasaan tuh, gw sebagai cewek. Lo mah cowo harusnya pake logika."

"Trauma, gw pok."

"Ya udah Tut, kita berempat aje yang ikut. Si Irawan mah udah banyak duit."

"Bener bang Jay dan pok Tuti. Gw ikut. Siapa tahu bisa dapat buat tabungan mau puasa."

"Oke, kita tunggu Dresta dateng. Gw kalo tawarannya masuk akal, mau ikut."

Irawan pun memandangi gw, Jaya, dan Eka, bergantian. 1 lawan tiga. Naga-naganya kalah dia.

"Tuh, kan... Gw ditinggal."

"Si bego, tadi diajakin ogah. Tuh baca chat baru si Dresta," gw menjawab.

"He... he... he..."

"Mayan, Ir. Cuma seminggu kali dibayar sekian-sekian," Eka, menjelaskan.

"Anggap aja, jalan-jalan ke luar kota. Sekalian, cuci mata Ir," timpal Jaya.

"Tuh, Dresta otw. Gw cabut dulu ya, mau kasih bingkisan ke bocah. Abis mandi, gw balik lagi," kata gw.

"Ok, pok."

*      *      *

Serial Catatan Harian Ojol (Semesta Ekalaya)
- Part I: Ceritera dari SPBU Kosong
- Part II: Ada Rawarontek di Balik Keberingasan Begal
- Part III: Antara Aku, Kau, dan Mantan Terindah
- Part IV: Sebuah Kisah Klasik yang Tak Berujung
- Part V: Di Suatu Desa dengan Penumpang Random
- Part VI: Mangga Besar Punya Cerita
- Part VIII: Di-Ghosting Kang Parkir
- Part IX: Ada Amer di Balik Modus Baru Costumer
- Part X: Debt Collector Juga Manusia
- Part XI: Penumpang Rasa Pacar

Prekuel
Kamaratih
- Kisah Klasik Empat Insan di Kamar Hotel


Spin-Off

Kisah Wanita dengan Blazer Hitam I
- Ketika Manusia Memanggilku Lonte


Ekalaya Universe

- Mukadimah
- Daftar Tokoh
- Epilog

*      *      *

*Inspired by True Event
Jakarta, 28 Januari 2022


Jumat, 21 Januari 2022

Genap 35 Tahun

Genap 35 TahunGenap 35 Tahun


Foto bersama keluarga pada awal Januari


"KO, nanti mlm pulang jam brp?" Demikian, chat di WhatsApp Grup (WAG) Keluarga pada awal bulan ini.

Sebagai ojek online (ojol), saya biasa  ngalong alias keluar dari sore hingga  pagi. Jadi, saya jawab, "Ga plg. Ntar pagi lagi kejar setoran."

Tak lama, balasan dari Mama, "Ntar jam 12 plg, tiup lilin. Kuenya udah dibeliin tuh."

Ya, memang sudah jadi tradisi di keluarga kami, kalau ada yang ulang tahun (ultah), dirayakan dengan sederhana. Tepatnya, untuk memperingati hari jadi yang biasanya turut mengundang sepupu dan dua anaknya yang masih kecil.

Hanya, berhubung saya lagi di kawasan selatan ibu kota yang cukup jauh dari rumah, saya ga balik. Apalagi, memang lagi kejar setoran dalam arti sebenarnya.

Alias, berburu cuan dari hasil ngojol mengingat pada awal bulan ini sangat sepi. Maklum, berdasarkan pengalaman ngojol dalam dua tahun terakhir, setiap selesai pergantian kalender, grafik orderan customer terkait antar penumpang, makanan, kirim barang, dan lainnya, memang cenderung menurun. 

Maka, saya pun berusaha, untuk mengembalikan defisit pemasukan. Dengan cara, ngojol dari sore sampe pagi. 

Bahkan, beberapa kali nyolong start sejak matahari tepat berada di kepala. Sesuatu, yang jarang terjadi. Kecuali, memang kepepet dan juga faktor hujan.

Ya, saya menjalani tahun ketiga sebagai ojol sejak daftar GoJek pada Juli 2019. Namun, seiring waktu, mengingat status hanya sebagai mitra, saya pun mulai menjalin hubungan dengan aplikator lain yang seluruhnya daftar pada 2021.

Dimulai, ShopeeFood pada Mei, LalaMove (Agustus), dan Traveloka Eats (Desember). Maklum, pada situasi pandemi ini, sulit jika hanya mengandalkan satu aplikasi saja.

Alhasil, saya harus memutar otak agar dapur tetap ngebul. Itu mengapa, kini saya bermitra dengan empat aplikator berbeda demi memperlancar pemasukan.

Itu belum termasuk tambahan di luar ngojol. Salah satunya, hasil dari blog ini dan beragam proyek lainnya.

Intinya, sebagai pria yang memiliki tanggung jawab, harus berusaha untuk mendapatkan uang. Bagaimana pun, caranya. Yang penting halal.

Sekadar catatan, terkait empat aplikator itu, harus diakui GoJek yang jadi prioritas. Wajar, mengingat itu yang kali pertama saya kerja di bidang jasa antar online.

Meski begitu, saya selalu memegang teguh adagium lawas untuk tidak berpijak di dua perahu. Yaitu, setiap hari, saya memang selalu menekan tombol on pada keempat aplikator itu secara bersamaan.

Namun, untuk prakteknya, berlaku pola baku, "first come, first served". Alias, siapa yang bunyi lebih dulu, itu yang saya jalankan. 

Sebab, saya enggan nekat untuk menjalankan orderan dari seluruh aplikasi tersebut. Serakah namanya.

Mending jika arahnya satu tujuan. Kalo beda, misal GoJek ke Utara, ShopeeFood ke Selatan, LalaMove ke Timur, dan Traveloka ke Barat? Modar saya!

Itu mengapa, aplikator yang bunyi lebih dulu, pasti saya utamakan dengan ketiga sisanya langsung di-off kan. Pengecualian, jika hujan.

Saya hanya menjalankan GoJek saja. Kenapa? 

Alasannya jelas. Tarifnya bisa meningkat hingga empat kali lipat yang biasa disebut kalangan Gojekers sebagai lonjakan. 

Itu yang jadi stimulus saya dan mungkin segenap ojol berbendera GoJek untuk menerobos hujan-hujanan bahkan kerap menari di bawah badai. Tanpa bermaksud membandingkan, tapi harus diakui jika tarif ketiga aplikator lainnya memang flat.

*      *      *

TIGA puluh lima tahun bukan waktu yang sebentar. Namun, juga tidak bisa dihitung lama. 

Yang pasti, bagi saya, usia memang -sejauh ini- hanya hitungan angka di atas kertas. Fyi, ini entah bisa dibilang sarkas atau tidak. 

Namun, cukup untuk membesarkan hati. Minimal, menghibur diri sendiri.

Ya, awal bulan ini, saya genap berusia 35 tahun. Ga nyangka juga sih.

Kalo dalam sinetron, usia segitu digambarkan sebagai eksmud (eksekutif muda), manajer, bos, dan sebagainya. Hanya, di realitas utama, saya cukup bangga jadi ojol.

Anggaplah, -meminjam ala Marvel Cinematic Universe (MCU)- saya ada di earth 1987. Bisa jadi, pada semesta lain, saya hidup sebagai eksmud, kepala divisi, bos, dan sebagainya. 

Bahkan, ada variant lain saya yang bisa sukses atau terpuruk? Duh, pembahasan terlalu jauh akibat kebanyakan nonton film Marvel, khususnya Serial Loki!

Oke, kembali terkait usia. Ketika anak-cucu Adam sudah kepala tiga, pasti diiringi pertanyaan klasik.

Kapan kawin?

Kapan punya anak?

Kapan-kapan?

Hal sama pun berlaku bagi saya. Terutama, mengingat akhir-akhir ini saya betah jomblo.

Beruntung, keluarga memahami saya. Alias, mereka, khususnya Mama, tidak ambil pusing.

Yang penting, saya sehat. Kerjaan lancar.

Saya pribadi enggan memikirkan soal berumahtangga. Namun, bukan berarti abai.

Hanya, untuk saat ini masih betah menikmati hidup. Bersama keluarga.

*      *      *

DALAM setahun, di keluarga kami ada semacam tradisi untuk kumpul bersama untuk merayakan hari kelahiran. Dimulai pada Mei, yang merupakan ultah Mama, Juni (adik paling bungsu), dan November (adik pertama).

Juga untuk hari kelahiran kedua anak sepupu. Kebetulan, bulan sama, Desember, hanya beda hari.

Sebenarnya, ini bukan sekadar tradisi. Melainkan, wujud syukur kepada Allah SWT, Tuhan Semesta Alam yang sudah memberikan kami kehidupan. 

Caranya, dengan kumpul bersama yang diawali doa. Diiringi dengan makan-makan. 

Entah itu fast food, piza, gorengan, atau nasi kuning. Juga dengan kurma jika bertepatan dengan Ramadan yang dilangsungkan saat buka puasa bersama.

Intinya, sederhana tapi tetap bermakna. Secara, kumpul bersama keluarga itu sangat berkesan.

Yupz, seperti kata pepatah. Harta yang paling berharga, adalah keluarga.***


Video perayaan ultah ke-35 

- Jakarta, 21 Januari 2022