TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan
PLBN Entikong

Senin, 13 Januari 2020

Menelusuri Kontribusi Freeport Indonesia untuk Papua


PT Freeport Indonesia berkomitmen terhadap pendidikan masyarakat Papua
dengan salah satunya memberikan beasiswa mulai dari SD hingga S3
(Foto: Dokumentasi PTFI.co.id)


PEPATAH mengatakan, tak kenal maka tak sayang. Demikian yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saya pribadi. Salah satunya, mengenai PT Freeport Indonesia (PTFI).

Dulu, ini dulu... Banget mungkin.

Ketika itu, jika mendengar informasi terkait Freeport Indonesia, pasti stigma yang ada dalam pikiran saya, gimana gitu. Entah itu, Freeport Indonesia adalah ini, itu, anu, bla-bla-bla, dan sebagainya.

Wajar saja, mengingat sebagai masyarakat awam, ingatan saya tentang Freeport Indonesia itu, jujur saja. Adalah, pengeruk hasil bumi Indonesia. Alias, eksplorasi penuh untuk diangkut ke luar negeri. Itu, dulu...

Stigma itu, ketika saya masih kanak-kanak. Namun, belasan tahun berselang, tepatnya kini, setelah rekan sebaya memiliki banyak anak, persepsi saya tentang Freeport Indonesia berubah. Tentu saja, tidak langsung 180 derajat. Melainkan, secara bertahap seiring perkembangan usia yang membuat pengetahuan, daya pikir, logika, dan pemahaman saya pun bertambah.

Ditambah, dengan kemajuan teknologi. Kini, stigma negatif saya terkait Freeport Indonesia sudah mulai luntur. Sebab, jika ada berita miring, saya langsung mengeceknya pada pihak yang kompeten. Baik itu, di website resmi PTFI https://ptfi.co.id/, informasi dari perwakilan pemerintah, hingga media yang memiliki kredibilitas di Tanah Air.

Maklum, saat ini, berita atau informasi hoaks memang menjamur. Jadi, saya harus pintar-pintar untuk menelaah lebih lanjut. Terutama, sebagai blogger yang memegang teguh asas jurnalistik. Tentu, dalam menuangkan ide dan pikiran pada blog pribadi saya yang beralamat di www.roelly87.com ini, harus cek dan ricek lebih dulu.

Syukur-syukur, bisa mendatangi langsung ke lokasi yang bersangkutan seperti ketika saya diundang instansi pemerintah untuk meluruskan hoaks di perbatasan.

Nah, dari penelusuran di berbagai sumber yang kompeten di internet terkait Freeport Indonesia, ternyata sangat positif. Itu karena Freeport Indonesia memang menambang dan memproses bijih dengan menghasilkan konsentrat yang mengandung tembaga, emas dan perak. Setelah itu, mereka memasarkan konsentrat ke seluruh penjuru dunia dan terutama ke smelter tembaga dalam negeri, PT Smelting.

Bagaimana dengan keuntungannya?

Tentu, sebagian disetor kepada pemerintah yang sumbangsih bagi negeri sangat besar. Bahkan, Freeport Indonesia turut membangun Papua seperti yang tertuang dalam laman resmi pemerintah pada Indonesia.go.id dengan artikel, "Ekonomi Papua Masih Bergantung pada Freeport".

Bahkan, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis, akibat turunnya produksi Freeport Indonesia di Kabupaten Mimika menyebabkan pertumbuhan ekonomi Papua agak berkurang hingga minus 20,13 persen pada triwulan pertama 2019 dibanding tahun sebelumnya.

Bisa dipahami mengingat 25 persen dari 30 ribu pekerja Freeport Indonesia merupakan warga asli Papua.

Mungkin, artikel di blog ini masih belum lengkap akibat saya tidak menyertakan komentar langsung atau wawancara dari masyarakat di Bumi Cendrawasih terkait sisi positif kehadiran Freeport Indonesia. Semoga, kelak, saya bisa mendatangi langsung serta melihat prosesi penambangan yang dilakukan Freeport Indonesia sekaligus berbincang dengan masyarakat sekitar.

Banyak lagi Kontribusi Freeport untuk masyarakat Papua. Termasuk, dalam olahraga, salah satunya dukungan penuh terhadap Persipura Jayapura. Sebagai penggemar bal-balan, tentu saya mengetahui kualitas tim berjulukan Mutiara Hitam tersebut yang juara kompetisi nasional di Tanah Air hingga empat kali.

Selain kehebatan pemain di lapangan, strategi pelatih, dan loyalitas suporter, ada dukungan dari Freeport Indonesia. Kucuran dana miliaran rupiah per musim itu sangat berarti untuk mengakomodasi kebutuhan Persipura dalam mengarungi kompetisi. Terutama, jika harus tandang ke markas klub yang perjalanannya lintas pulau ke Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Hanya, Olahraga baru bagian kecil dari sumbangsih Freeport Indonesia terhadap Papua. Sebab, masih banyak lagi kontribusi mereka untuk Bumi Cendrawasih.

Misalnya, dalam memberdayakan masyarakat. Freeport Indonesia sejak 1996 hingga 2018 telah memfasilitasi 11 ribu siswa dalam program beasiswa mulai dari tingkat SD hingga S3. Freeport Indonesia bersama organisasi masyarakat, Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK) secara rutin melakukan monitoring langsung ke sekolah-sekolah di mana para penerima beasiswa tersebut menempuh pendidikannya.

Freeport Indonesia juga memberikan keterampilan bagi ibu rumah tangga di Papua. Sehingga, mereka dapat berperan dalam meningkatkan pendapatan keluarga. Itu meliputi berbagai pelatihan seperti mengelola keuangan keluarga, menjahit, hingga membuat makanan dari bahan lokal turut diajarkan agar dapat tercipta industri skala rumah tangga di masa mendatang.

Dari sektor ekonomi, Freeport Indonesia turut mengajak pemangku kepentingan lainnya untuk dapat berperan dalam pengembangan daerah dan masyarakat. Termasuk, pada perikanan, peternakan, pertanian, ketahanan pangan, dan banyak lagi melalui Program Pembinaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, serta Dana Bergulir.

Tujuannya, dapat mengembangkan kegiatan-kegiatan ekonomi masyarakat lokal dengan memberikan pembinaan dan pendampingan kepada pengusaha-pengusaha Papua yang berpotensi. Berbagai program ini dapat meningkatkan perekonomian lokal dan taraf hidup masyarakat secara berkelanjutan serta meningkatkan kemampuan kompetisi pasar para pengusaha lokal.

Bagi saya, ini menarik. Sebab, Freeport Indonesia, ibaratnya tidak hanya memberikan ikan saja kepada masyarakat Papua. Melainkan, turut memberikan kail, agar masyarakat Papua bisa maju dengan hasil usahanya.

Kontribusi Freeport Indonesia untuk Papua mendapat pengakuan luas dari masyarakat di Tanah Air. Terutama, dari warga asli Papua. Itu diungkapkan Teanus Nebegal, pengusaha dari Kampung Ilaga yang mendirikan CV. Kwakibera Timika.

Usai mendapat binaan dari Departemen Social & Local Development (SLD) Freeport Indonesia, Teanus merintis usahanya dengan modal pribadi atau tanpa bantuan pihak lain sejak 2006. Proyek pertamanya, pembersihan rumput di sepanjang jalur transmisi listrik dan pengecatan tower listrik di jalan PTFI dari Portsite sampai MP50.

Berkat kegigihannya, CV. Kwakibera mengalami kemajuan. Bahkan, pada Februari 2012, Teanus mampu menambah kendaraan operasionalnya dengan satu unit mobil pick-up. Dari hasil usahanya ini, Teanus mampu mendirikan rumah, kantor, dan aset usaha lainnya, dengan memperkerjakan 12 karyawan.

"Apa yang telah dilakukan PTFI terhadap pengusaha-pengusaha putra daerah melalui SLD sudah bagus. Ada pelatihan dan ada pendampingan serta pemberian pinjaman modal. Harus tetap dilanjutkan sampai para pengusaha-pengusaha ini bisa betul-betul mandiri dan tidak tergantung lagi," kata Teanus, bersyukur. "Dengan begitu, akan melahirkan pengusaha-pengusaha putra daerah lainnya. Serta, hasilnya, akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat."

Ya, Teanus hanya satu dari jutaan penduduk Papua yang merasakan sisi positif dari keberadaan Freeport Indonesia. Sebagai sesama masyarakat Indonesia, tentu saya berharap Freeport Indonesia terus memberi kontribusi di Bumi Cendrawasih.

Yupz, sampai jumpa pada tulisan-tulisan berikutnya mengenai Freeport Indonesia. Baik secara mendalam, sisi lain, atau yang belum diketahui secara luas bagi masyarakat umum dalam blog ini ke depannya.***

*         *        *

Referensi:
- https://ptfi.co.id/id/how-do-we-operate
- https://indonesia.go.id/narasi/indonesia-dalam-angka/ekonomi/ekonomi-papua-masih-bergantung-pada-freeport
- https://www.papua.go.id/view-detail-berita-3378/index.html
- https://papua.antaranews.com/berita/513636/freeport-indonesia-raih-anugerah-ima-2019
- https://money.kompas.com/read/2019/12/06/200311726/freeport-kucurkan-rp-75-miliar-per-tahun-ke-persipura

*         *        *
- Jakarta, 13 Januari 2019

Sabtu, 21 Desember 2019

Lebih Dekat dengan Inke Maris & Associates





MENDENGAR kata Inke Maris, ingatan saya langsung terbayang pada sosok penyiar sekaligus reporter Televisi Republik Indonesia (TVRI). Sebagai, bagian dairi generasi 1990-an, tentu saya sangat hafal dengan berbagai program tv pelat merah tersebut. Termasuk, Dunia Dalam Berita yang kerap dibawakan Inke.

Wanita kelahiran di Bogor
, Jawa Barat7 Desember 1950 ini identik dengan jurnalistik. Tepatnya, berkaitan dengan media. Sebelum di TVRI, bahkan Inke ini mengawali karier profesionalnya di British Broadcasting Corporation (BBC) pada 1969-1982koresponden Sinar Harapan 1976-1982, dan TVRI 1982-2001.

Dikutip dari 100 Great Women: Suara Perempuan yang Menginspirasi Dunia, sosok yang bernama asli Nyi Raden Maria Dinariati Natanegara ini berkecimpung di dunia jurnalistik lebih dari 30 tahun! Dalam periode itu, Inke sudah mewawancarai 400 tokoh dunia Mulai dari Perdana Menteri Inggris Margareth Tatcher, Pemimpin Palestina Yasser Arafat, Presiden Filipina Fidel Ramos, dan banyak lagi.

Disela-sela kesibukannya itu, Inke berinisiatif untuk membentuk Inke Maris & Associates (IM&A atau IMA) bersama suami dan adik-adiknya Yaitu, jasa konsultasi bagi instansi pemerintah atau swasta hingga perusahaan IM&A tercatat sebagai pelopor atau pionir bisnis di bidang industri jasa Public Relations (PR) 

Bisa dipahami, lebih dari tiga dekade silam itu, berbagai perusahaan di Tanah Air masih asing dengan PR. Inke yang saat itu menjabat sebagai Chief Executive Officer (CEO) itu pun jadi wanita Indonesia pertama yang mempelopori usaha jasa PR. Sejak 1986 hingga kini, mungkin sudah ratusan klien yang dimiliki IM&A.

Mereka terdiri dari berbagai sektor. Mulai dari pemerintahan seperti kementerian atau instansi, perbankan, digital, kesehatanevent management, dan lainnya. Itu diungkapkan Director/ Senior Consultant IM&A Lawrence Tjandra dalam acara Media & Blogger Gathering di Relung Kopi, Jumat (20/12).

Kebetulan
, saya tidak asing dengan IM&A. Sebab, sebagai blogger, saya sudah puluhan kali menghadiri event yang didukung IM&A. Tepatnya, sejak tiga tahun silam berkat informasi dari rekan blogger, Lidya Fitrian untuk menghadiri gathering BCA Indonesia Open 2016. Sejak saat itu, saya jadi lebih mengenal IM&A dan beberapa sosok di balik layarnya. Terutama, Frieda Oktavia yang menjabat sebagai Government & Community Outreach Specialist.

Sebagai catatan, BCA (Bank Central Asia) jadi salah satu klien terlama dari IM&A. Itu berlangsung sejak 2012 hingga kini. Berkat IM&A pula, saya jadi lebih mengenal dekat dengan bank swasta terbesar di Tanah Air tersebut. Pasalnya, BCA kerap menyelenggarakan atau mensponsori event di Indonesia dengan banyak hal.

Misalnya, olahraga lewat bulu tangkis, kesenian (wayang), budaya (batik), pendidikan, seminar, teknologi, dan sebagainya. Kebetulan, sebagai penggemar olahraga, saya tak asing dengan bulu tangkis. Apalagi, Indonesia Open yang dalam satu dekade terakhir disponsori BCA, tepatnya Grup BCA. Mulai dari Djarum pada 2009-2013, BCA 2014-2017, dan Blibli 2018-sekarang.

Gathering yang diselenggarakan IM&A bersama media dan blogger ini memang rutin setiap akhir tahun. Termasuk pada 2018 di kawasan Kuningan sambil menyaksikan Aquaman. Untuk tahun ini temanya friendship & diversity. Sebagai blogger, tentu saya senang bisa bertemu dengan rekan-rekan lainnya sambil bersilaturahmi dengan berbagai sosok di balik layar IM&A.

Harapan saya, IM&A terus jadi yang terdepan dalam industri PR di Tanah Air.

*         *         *

*         *         *

*         *         *

*         *         *

*         *         *


Referensi:
www.inkemaris.com

- entrepreneur.bisnis.com/read/20161130/240/607654/inke-maris-raih-penghargaan-pr-of-the-year-2016
topskor.id/detail/77284/Absen-di-Indonesia-Open-2018-BCA-Tetap-Dukung-Penuh-Kegiatan-Olahraga-di-Tanah-Air
100 Great Women: Suara Perempuan yang Menginspirasi Dunia

*         *         *
- Jakarta, 21 Desember 2019

Kamis, 12 Desember 2019

Lebih Dekat dengan GrabHealth



Peluncuran GrabHealth powered by Good Doctor yang dilakukan perwakilan
Grab, Good Doctor, Kemenkes, Kominfo, dan IDI
(Klik untuk perbesar foto atau geser untuk melihat gambar lainnya)


KEMAJUAN teknologi kian memudahkan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Misalnya, di bidang transportasi, baik langsung ke lokasi atau menuju stasiun, terminal, bandara, dan sebagainya.

Kini, cukup pesan kendaraan lewat aplikasi. Pun demikian jika ingin makan tapi terkendala waktu akibat kesibukan di rumah atau kantor. Tinggal buka telepon seluler (ponsel) untuk memesan via aplikasi.

Kemudahan dalam satu genggaman itu tidak hanya untuk memesan kendaraan untuk antar dan jemput atau makanan saja
. Melainkan, juga aspek lain. Misalnya, kirim barang, surat, beli tiket, hingga bayar tagihan seperti listrik, internet, tv langganan, dan BPJS. Itu semua ada pada Grab Indonesia. Yaitu, aplikasi serba bisa terkemuka di Asia Tenggara.

Nah, kini bertambah lagi layanan dari Grab. Tepatnya, pada sektor kesehatan yang bekerja sama dengan Good Doctor Technology Indonesia. Kebetulan, saya jadi saksi dalam peluncuran yang berlangsung di Ruang Stovia, Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta Pusat, Selasa (10/12). 

Ya
, Grab dan Good Doctor resmi merilis GrabHealth. Kolaborasi mereka menghasilkan platform layanan kesehatan digital yang diharapkan dapat memainkan peran penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia. 

Sekaligus, mempromosikan gaya hidup sehat dan memperkuat upaya penceahan melalui konsultasi dokter secara online. Selain itu, kita juga bisa untuk membeli obat dan produk kesehatan, buat janji medis, hingga mendapat tips terkait kesehatan.

Semua itu itu bisa didapat pada aplikasi Grab. Di dalamnya, ada tambahan layanan kesehatan yang bsia diakses secara gratis hingga berbayar. Kebetulan, saya sudah mencobanya bersama puluhan rekan blogger dan media dalam peluncuran tersebut.

Menurut saya pribadi, layanan ini sangat inovatif. Apalagi, kita bisa mengaksesnya secara real time sepanjang 24 jam! Jelas, ini sangat berguna. Tidak hanya ketika kita sakit. Melainkan saat sehat untuk mengantisipasi jika ada gejala sakit tertentu.

Pasalnya, ada rujukan dari tim dokter di platform tersebut yang bisa kita ikuti. Baik itu sekada beli obat generik di warung, apotek resmi yang berjumlah lebih dari 300 di Tanah Air, hingga ke rumah sakit.

Apa yang disediakan GrabHealth powered by Good Doctor ini jadi bagian dalam program pemerintah untuk memberikan solusi layanan kesehatan lengkap serta mudah diakses untuk setiap keluarga di Indonesia
.

"Kami percaya, setiap orang berhak memiliki akses ke layanan kesehatan yang berkualitas dan terjangkau. Ini jadi upaya pertama kami untuk memberikan layanan kesehatan secara online," kata Presiden Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata dalam sesi diskusi dengan blogger dan media.

"Didukung dengan jangkauan yang luas di seluruh wilayah Indonesia dan pemahaman mendalam mengenai pasar dalam negeri, kami harap GrabHealth powered by Good Doctor dapat menjadi solusi yang layak untuk memperluas aksesbilitas layanan kesehatan berkualitas. Sehingga, dapat meningkatkan kualitas kehidupan keluarga dan komunitas yang kami layani di seluruh Tanah Air."

Pernyataan dari alumni Universitas Padjadjaran ini beralasan. Sebab, salah satu prioritas layanan kesehatan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional adalah untuk mengimplementasikan Program Indonesia Sehat dengan fokus Pendekatan Keluarga berdasarkan 12 indikator utama keluarga sehat. Pada Juli 2019, Indeks Keluarga Sehat (IKS) di Indonesia 0,18 atau 18 persen. Itu berarti, sebagian besar keluarga Indonesia masih tergolong tidak hidup sehat. 

Tantangan lain yang masih ada saat ini terkait distribusi tenaga profesional kesehatan yang tidak merata di Tanah Air karena hanya ada 12 provinsi yang memiliki rasio sehat 1
:2.500. Itu mengapa, GrabHealth powered by Good Doctor ini mendapat apresiasi dan dukungan dari pemerintah.

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto yang diwakili Sekretaris Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Agus Hadian Rahim, mengatakan, "Kami menyadari, pada era digital sekarang, inovasi terkait layanan kesehatan memang harus terus dilakukan dan ditingkatkan untuk membangun ekosistem digital bidang kesehatan. Kementerian Kesehatan sangat menyambut baik inovasi ini."

Komentar senada diungkapkan Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate yang diwakili Plt. Direktur Ekonomi Digital Nyoman Adhiarna "Sekarang ini, segala aspek kehidupan berkaitan dengan teknologi. GrabHealth powered by Good Doctor ini diharapkan membuka akses masyarakat terhadpa layanan dan informasi akurat yang disampaikan langsung dari para pakar kesehatan, yaitu, dokter lewat aplikasi," tutur Adhiarna.

Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M
. Faqih pun optimistis, kolaborasi Grab dengan Good Doctor ini sangat memberikan manfaat bagi masyarakat di Tanah Air "Sebelumnya, kami juga sudah bekerja sama dengan Good Doctor. Yaitu, untuk menghadirkan aktivitas penelitian berbasis 'real world evidence' yang bertujuan membantu praktisi kesehatan dalam mengembangkan rencana aksi yang efektif dalam langkah-langkah preventif dan promotif," Faqih, menambahkan.

Di sisi lain, Head of Medical Management Good Doctor Technology Indonesia Adhiatma Gunawan mengungkapkan, kerja sama dengan Grab karena mempunyai misi dan visi yang sama. "Good Doctor Indonesia memiliki visi untuk menyediakan 'Satu Dokter untuk Satu Keluarga di Indonesia'. Kolaborasi dengan Grab memungkinkan kami untuk menyediakan akses ke dokter dan spesialis bagi seluruh keluarga di Tanah Air," ucap Adhiatma

Yupz
, sebagai blogger sekaligus bagian dari 200 juta lebih rakyat Indonesia serta pengguna aplikasi Grab, tentu, saya sangat senang menyambut kehadiran GrabHealth powered by Good Doctor ini. 

Pasalnya, saya bisa mencari informasi terkait kesehatan hanya dalam genggaman. Pada era teknologi seperti sekarang, kemudahan akses jadi yang utama. Dengan GrabHealth powered by Good Doctor ini juga bisa membuat saya mengantisipasi jika ada gejala sakit.

Saya sudah merasakan manfaatnyaBagaimana, dengan Anda?


*       *       *
Museum Kebangkitan Nasional jadi saksi peluncuran GrabHealth powered
by Good Doctor pada 10 Desember lalu

*       *       *
Presiden Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata dalam sesi tanya jawab

*       *       *
Head of Medical Management Good Doctor Technology Indonesia berbagi
info terkait persebaran tenaga medis di Tanah Air

*       *       *
Sesi diskusi yang melibatkan blogger dan jurnalis demi meningkatkan kualitas
kesehatan di Tanah Air

*       *       *
Antusiasme blogger dan jurnalis dalam meliput peluncuran GrabHealth
powered by Good Doctor di Ruang Stovia yang merupakan sekolah
kedokteran untuk pribumi pada zaman kolonialisme

*       *       *
Rekan blogger Nunik Utama Ambarsari mencoba layanan GrabHealth
powered by Good Doctor pada layar interaktif

*       *       *
Layanan kesehatan GrabHealth powered
by Good Doctor ini sudah bisa diakses
pada aplikasi Grab!

*       *       *

- Jakarta, 12 Desember 2019

Sabtu, 07 Desember 2019

Kemenhub Gandeng Warganet untuk Sosialisasikan Mudahnya Akses ke 5 Bali Baru


Diskusi perwakilan Kemenhub dengan blogger dan jurnalis dalam peresmian
Transmate pada 6 Desember lalu
(klik untuk perbesar foto atau geser untuk melihat gambar lainnya)




2020 tinggal menghitung hari. Menjelang pergantian kalender, biasanya kita, termasuk saya pribadi, menyusun dua hal dalam draft. Pertama, evaluasi terkait apa yang saya lakukan dalam setahun terakhir. Selanjutnya, mengenai resolusi. Apa dan bagaimana target pada 2020?

Nah
, salah satu resolusi saya tahun depan, yupz tahun depan, salah satunya bisa jadi saksi sejarah Indonesia di Tokyo. Tepatnya, untuk menyaksikan Olimpiade 2020. Saya berharap, kontingen Merah-Putih mampu melanjutkan tradisi medali emas sejak 1992 silam yang sempat terputus pada 2012. 


Syukur-syukur, saya bisa ikutan berada di Tokyo untuk menyaksikan atlet-atlet Indonesia berprestasi yang mungkin jadi salah satu momentum terbaik dalam hidup saya. Bahkan, bisa melebihi pencapaian saya ketika menonton langsung tim favorit, Juventus, pada final Liga Champions 2016/17 di Millennium Stadium, Cardiff, Wales.

Selain itu
, saya juga ingin kembali ngebolang dengan mengunjungi berbagai daerah di Tanah Air yang rutin saya lakukan sejak lama hingga terputus tahun ini akibat kesibukan pekerjaan di lapangan. 5 di antaranya dikenal sebagai Bali Baru seperti yang dicanangkan pemerintah.

Itu meliputi Danau Toba yang berada di Provinsi Sumatera Utara, Candi Borobudur (Jawa Tengah), Labuan Bajo (Nusa Tenggara Timur), Mandalika (Nusa Tenggara Barat), dan Likupang (Sulawesi Utara).

Kecuali Borobudur
, empat destinasi lainnya belum pernah saya kunjungi. Kendati, untuk tempat wisata di provinsi, sudah, seperti Medan di Sumatera Utara atau Bunaken (Sulawesi Utara). Sementara NTT dan NTB benar-benar bikin saya penasaran.

Apalagi, mengingat sarana dan prasarana di lima destinasi tersebut sudah sangat bagus. Ini yang membuat saya antusias seperti saat kali pertama ke perbatasan, tepatnya Entikong di Kalimantan Barat, bersama Sekretariat Kabinet, demi menyebarkan situasi yang sebenarnya kepada khalayak ramai. Bahwa, di perbatasan yang dikelola Indonesia, sudah sangat-sangat wow! 


*         *         *

SIANG itu
, Jumat (6/12) langit ibu kota sangat cerah. Usai Jumatan, saya menuju Sundestada. Yaitu, restoran yang terletak di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, yang memiliki akses memadai untuk transportasi umum. Baik itu bus, buswaycommuter line, hingga MRT, yang halte atau stasiunnya yang jaraknya tidak sampai seperminuman teh.

Saat itu
, suasana sangat ramai dipenuhi blogger, vlogger, jurnalis, hingga influencer yang sama-sama bagian dari warganet peduli. Beberapa di antaranya saya kenal. Kehadiran kami untuk jadi saksi peresmian Transmate dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Yupz, Transmate merupakan akronim dari dua suku kata. Trans kependekan dari kata transportation atau transportasi. Sementara, Mate diambil dari kata dalam bahasa Inggris yang secara harfiah memiliki arti partner atau teman. 

Intinya, keberadaan kami yang terdiri dari basic berbeda tapi tetap satu jua. Yaitu, sama-sama bagian dari warganet yang memiliki kepedulian terhadap perkembangan isu dan kemajuan sektor transportasi.

Bisa dipahami mengingat
 dalam beberapa waktu terakhir, transportasi jadi isu yang seksi di mata masyarakat, termasuk saya. Itu karena pemerintah benar-benar mengakomodasi keinginan rakyat di seluruh penjuru. Dari hilir ke hulu atau sebaliknya, transportasi kini sudah jauh lebih baikKemenhub memegang peranan penting pada sektor ini.

Selain sebagai jembatan penghubung
, instansi yang dipimpin Budi Karya Sumadi ini juga berperan dalam memajukan sektor pariwisata. Salah satunya, lewat pembangunan infrastruktur transportasi yang kian memudahkan masyarakat dari dan ke destinasi wisata.

Itu ditegaskan Sekretaris Jenderal Kementerian Perhubungan Djoko Sasono disela-sela acara Nongkrong Santuy Bareng Transmate yang bertema Connectivity Makes Travelling Easy, yang diselenggarakan Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenhub. Dalam kesempatan itu,  pria 56 tahun ini juga berharap Transmate bisa jadi mitra Kemenhub untuk turut berkontribusi memajukan sektor transportasi di Tanah Air.

"Keterlibatan para influencer di media sosial yang concern dengan isu transportasi sangat diperlukan. Kami ingin mengajak mereka yang memiliki keahlian untuk berkomunikasi di media digital untuk ikut bersama-sama memajukan sektor transportasi Indonesia," tutur Djoko, semringah.

Pernyataan dari peraih Satya Lencana Karya Satya 10 Tahun, 2004, ini beralasan. Faktanya, sudah banyak hasil-hasil pembangunan infrastruktur transportasi yang sangat besar manfaatnya untuk kemajuan negeri kita yang memang perlu diinformasikan secara mendalam kepada masyarakat. 

Apalagi, ke depannya, terdapat sejumlah program pembangunan infrastruktur transportasi yang akan dilakukan pada masa Pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Maruf Amin dalam Kabinet Indonesia Maju 2019-2024. Salah satunya, membangun konektivitas pada lima destinasi wisata super prioritas di Toba, Borobudur, Labuan Bajo, Mandalika, dan Likupang.

"Melalui ngobrol bareng ini, kami ingin menceritakan pembangunan infrastruktur transportasi yang segera dibangun pemerintah pada lima destinasi wisata tersebut. Harapannya, mereka dapat menceritakan kembali sehingga upaya Kementerian Perhubungan dalam meningkatkan konektivitas dan aksesbilitas menuju 5 Bali Baru akan semakin terpublikasi ke masyarakat," Djoko, menambahkan.


*         *         *

Ya, sebagai blogger serta bagian dari masyarakat luas, menurut saya pembangunan infrastruktur yang gencar dilakukan pemerintah, khususnya Kemenhub ini bakal memudahkan aksesibilitas. 

Sehingga, semakin banyak mengundang turis domestik maupun internasional datang ke destinasi super prioritas di Indonesia. Djoko memastikan, Kemenhub merencanakan pembangunan tersebut akan selesai akhir 2020 dan diharapkan dapat mendongkrak pendapatan devisa negara.


Dalam kesempatan itu
, Budi yang berhalangan hadir terkait karena ada peninjauan dengan presiden,  turut menyempatkan waktu untuk conference call. Menteri yang hobi nyanyi ini menyampaikan harapannya kepada Transmate.

Yupz
, tanggung jawab untuk mengenalkan 5 Bali Baru sebagai destinasi wisata prioritas kepada masyarakat tidak hanya peran Kemenhub saja atau TransmateMelainkan juga seluruh rakyat di Tanah Air, termasuk saya, Anda, pembaca blog ini, dan semuanya. Sebab, jika pariwisata Indonesia sukses, yang menikmati tentu rakyatnya juga.***


*         *         *
Rekan blogger Babeh Helmi dengan rekan blogger kembar
antara Eva atau Evi saat membuat vlogger

*         *         *

*         *         *

*         *         *
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi melakukan teleconference yang
sangat mendukung peran warganet lewat Transmate

*         *         *

*         *         *

- Jakarta, 7 Desember 2019

Sabtu, 16 November 2019

Ada Marco Simic di Balik Kebangkitan Persija


Marco Simic foto bersama dua penggemar Persija Jakarta
(Foto: TopSkor.id/Choirul Huda)



ADAGIUM lawas mengatakan, mempertahankan gelar jauh lebih sulit ketimbang saat menjuarainya. Hal itu bisa berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk, di sepak bola yang merupakan cabang olahraga paling populer di kolong langit. Salah satunya di Indonesia saat ini dengan Liga 1 2019.

Persija Jakarta yang digdaya pada musim lalu nyaris kehilangan keperkasaannya pada awal kompetisi. Bisa dipahami mengingat klub berjulukan Macan Kemayoran itu kehilangan sang nakhoda, Stefano Cugurra, dan beberapa pilar penting lainnya.


Alhasil, klub kebanggaan ibu kota ini pun nasibnya nyaris tragis. Hampir saja seperti AC Milan pada 1980/81 dan Juventus (2006/07) yang juara tapi langsung degradasi pada musim berikutnya. Kendati, apa yang dialami dua raksasa Serie A Italia itu beda konteks. 

Namun, saya pribadi sempat deg-degan mengamati perkembangan Persija pada Liga 1 2009 ini. Sebab, mereka mengarungi kompetisi dengan memprihatinkan pada awal musim. Itu karena Marko Simic dan kawan-kawan hanya mampu meraih sekali kemenangan dari 10 pertandingan awal! Alhasil, Persija pun sempat terlempar ke peringkat 17. Alias, zona degradasi.

Ya, bayang-bayang mereka harus terjun bebas ke Liga 2 musim depan pun sempat menghantui saya. Itu terkait kurang padunya antarlini. Ditambah dengan beberapa kali pergantian pelatih yang membuat saya dan segenap The Jakmania -julukan untuk suporter Persija- pun pesimistis. Ketika itu, jangankan berpikir untuk mempertahankan gelar, bahkan untuk keluar dari papan bawah pun sulit.

Yupz, sebagai fan Persija, tentu saat itu saya harus realistis. Berharap boleh, tapi jangan muluk-muluk. Harapan saya dalam hati, boleh gelar lepas, yang penting jangan degradasi. Ya, itu nada optimisme yang saya tancapkan setiap menyaksikan pertandingan Persija. 

Bagaimana pun, saya percaya, selalu ada pelangi yang indah setelah badai. Itu yang saya yakini terhadap Persija!

Bisa dipahami mengingat secara personal, saya merupakan penggemar Persija. Itu berlaku sejak masih kanak-kanak hingga rekan sepantaran kini sudah memiliki banyak anak. 

Meski hingga kini belum memiliki keanggotaan resmi The Jakmania, tapi saya kerap menyaksikan Persija bertanding di berbagai stadion. Baik itu Menteng, Lebak Bulus, Gelora Bung Karno, Patriot Candrabhaga, hingga Madya Senayan.

Banyak suka dan duka yang menyertai sebagai fan Persija. Paling bangga ketika Macan Kemayoran juara 2001. Saat itu, saya dan beberapa rekan yang masih berseragam putih-biru tumpah dalam euforia. 


Apalagi, ketika beberapa tahun berselang, ada dua di antaranya yang berkiprah sebagai pesepak bola profesional. Bahkan, mereka sempat berseragam Persija. Termasuk, memperkuat tim nasional (timnas) Indonesia usia muda.

Sementara, ketika juara Liga 1 2018, harus diakui jika suasananya sudah beda. Sebab, saya juga kerap meliput dan menulis tentang Persija. Alhasil, saya harus objektif. 


Namun, bagaimana pun rasa cinta tidak bisa dipendam. Ketika tahu Persija mengakhiri paceklik gelar 17 tahun dalam kompetisi nasional, saya pun bangga.

Maklum, dari 2001 hingga 2018 itu bukan waktu yang sedikit. Lebih dari dua windu. Dalam periode itu, banyak yang sudah berubah. Namun, kekaguman saya terhadap Persija tidak akan luntur. Baik juara atau degradasi, tak masalah bagi saya.



Nah, harapan saya dan jutaan fan Persija, termasuk The Jakmania terkabul. Sejak paruh kedua kompetisi, mereka mulai bangkit. Sang Macan mulai mengaum. Tentu, tidak ujug-ujug langsung bersaing dalam perebutan juara di papan atas. Melainkan, perlahan tapi pasti mulai meninggalkan zona merah.

Fakta tersebut tersaji sepanjang November ini. Dari empat pertandingan bulan ini, hanya sekali. Persija kehilangan poin penuh yaitu, saat tandang ke Semen Padang pada 7 November lalu yang berujung 1-1. Sementara, dalam tiga lainnya berujung sapu bersih dengan menekuk TIRA Persikabo 2-0 (3/11), Borneo FC 4-2 (11/11), dan Persela Lamongan 4-3 (15/11).

Mereka pun hingga Sabtu (16/11) menyeruak di urutan 12 dengan 34 poin dari 27 pertandingan. Alias, unggul delapan angka dari Kalteng Putra yang menempati urutan 16 sekaligus batas akhir degradasi dengan 26 poin. Dari empat pertandingan bulan ini, Persija mengukir 12 gol dengan kebobolan tujuh gol.

Marco Simic melayani pertanyaan dari jurnalis
usai pertandingan Persija
(Foto: TopSkor.id/Choirul Huda)


Simic jadi aktor protagonis dalam empat pertandingan sepanjang November ini yang selalu mencetak gol hingga delapan kali. Termasuk, quattrick-nya ke gawang Borneo. Tak heran jika Simic pun memuncaki top scorer sementara dengan 23 gol. Jauh mengungguli striker Persela, Alex dos Santos, dengan 16 gol.

Kontribusi signifikan dari Simic itu yang mendongkrak kebangkitan Persija. Tentu, dalam sepak bola yang merupakan permainan kolektif, seluruh elemen, termasuk pemain lainnya sangat berperan. Mulai dari sektor pertahanan, lini tengah, atau barisan depan. Namun, harus diakui jika peran Simic sangat berpengaruh.

Apalagi, bagi saya pribadi, Simic termasuk pemain yang sangat ramah. Ini yang saya amati saat meliput kegiatan Persija. Baik saat latihan, usai pertandingan, maupun event di luar lapangan Simic. Tidak hanya sekadar memberikan jawaban yang elegan bagi setiap jurnalis saja. Melainkan juga melayani permintaan fan untuk foto bersama.


Penampilannya yang berkualitas ditambah sikapnya yang bersahabat itu membuat Simic jadi idola di kalangan fan. Bersanding dengan sang kapten, Andritany Ardhiyasa, serta dua pemain senior, Bambang Pamungkas dan Ismed Sofyan.

Memasuki pengujung Liga 1 2019, tentu saya berharap Simic dan segenap elemen Persija lainnya konsisten. Target utama, tentu saja menjauh dari zona degradasi agar musim depan bisa bertahan di kompetisi terelite di Tanah Air ini. Apalagi, jika mampu finis empat besar. Itu jadi modal yang bagus untuk menghadapi Liga 1 2020 dengan target kembali juara.

Ayo, Persija... Kalian bisa!***

Di luar liputan pertandingan dan latihan, saya pun enggan
ketinggalan untuk foto bareng Marko Simic



- Jakarta, 16 November 2019