TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol

Senin, 15 Juni 2026

Polisi Kini Humanis tapi Jangan Didramatisir dan Puji Berlebihan, Memang Sudah Tugasnya

Polisi Kini Humanis tapi Jangan Didramatisir dan Puji Berlebihan, Memang Sudah Tugasnya

Para petugas mengatur rekayasa jalan
di Tugu Selamat Datang
(Foto: dok.pribadi/@roelly87)



PETANG itu, jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (12/6) tampak lenggang. Tepatnya, berlangsumg usai Salat Jumat hingga matahari condong ke barat.

Itu karena ada unjuk rasa dari adik-adik mahasiswa di berbagai daerah yang akan kumpul di Tugu/Monumen Selamat Datang. 

.

<<<btw, saya lebih suka nulis ini secara formal ketimbang Bundaran HI, karena terkait merek. 

Selengkapnya: Bukan Bundaran HI, harusnya Monumen Selamat Datang - https://www.roelly87.com/2025/01/bukan-bundaran-hi-harusnya-monumen.html>>>

.


Alhasil, selentingan info yang saya dapat, konon mayoritas pekerja kantoran di kawasan tersebut pulang cepat. Alias, setengah hari demi antisipasi hal buruk.

Maklum, sepanjang Jalan Thamrin-Jenderal Sudirman merupakan pusat bisnis. Banyak kantor pemerintahan, BUMN, BUMD, swasta raksasa, kedutaan negara sahabat, media, dan sebagainya.

Namun, fakta di lapangan, normal-normal aja. Jalanan memang sepi tidak seperti Jumat biasanya yang macet akibat jam pulang kerja, tapi aktivitas kendaraan tetap lancar. 

Kecuali, Bus Transjakarta yang dialihkan sementara waktu. 

Sumber: https://vt.tiktok.com/ZSQQBdEkU/ dokumentasi pribadi - @roelly87

Alhamdulillah, aksi unjuk rasa yang dilakukan adik-adik mahasiswa berlangsung lancar. Mereka benar-benar demo untuk menyalurkan aspirasi rakyat. 

Ga ada yang aneh-aneh. Sumpah, itu yang saya amati terkait aksi mahasiswa yang orasi di Halte Tosari.

Tidak seperti Agustus 2025 yang ditunggangi para penyusup berujung rusuh di berbagai daerah.

Sebagai bloger yang berprofesi ojek online (ojol), saya tentu enggan melewatkan momen ini disela-sela keliling cari orderan. Salah satunya, melihat langsung kinerja aparat.

.


<<<untuk aktivitas terkait mahasiswa yang tertahan di Halte Tosari, akan saya ulas dalam POV lainnya nanti>>>

.

*          *          *


JALAN Imam Bonjol-Agus Salim-Mochamad Yamin merupakan titik singgah kepolisian yang bertugas dalam mengawal demonstrasi. Baik itu melakukan persiapan, tempat logistik, hingga istirahat dan makan.

Kebetulan, saya lewat beberapa kali. Sempat berbincang dengan mereka yang masih muda-muda dan energik.

"Bro, kok bawa beceng?" kata saya menghampiri kerumunan polisi berompi hitam.

Maklum, sebelumnya saya baca berita, Kepolisian Daerah Polda Metro Jaya menegaskan, anggotanya tidak membawa senjata api. Mumpung lewat, jadi saya konfirmasi langsung.

"Bukan mas. Ini Gas Air Mata," ujar polisi yang sekilas mirip Bowo dalam film The Raid.

Rekannya di sebelah yang sedang pakai helm, menimpali, "Ini memang selalu dibawa, (tapi) ga dipake kok Mas. Hanya jaga-jaga. Opsi terakhir."

Saya pun mengangguk. Pas diamati seksama, emang bukan senapan seperti yang saya sering main game saat muda, Counter Strike dan Point Blank yang populer pada 2000-an.

"Kami selalu humanis kok dalam mengawal unjuk rasa. Adik saya dan sepupu aja mahasiswa," polisi mirip Bowo, menjelasakan.

Sejuk mendengar penjelasan itu. Saya percaya, seburuk apa pun instansi, termasuk kepolisian, tentu ada yang bagus. 

.

<<<next POV anggota polisi/TNI yang nyambi jadi ojol untuk menambah penghasilan. Saat mengantar orderan, mereka "lebih ojol" daripada ojol biasanya>>>

.


Hanya, kadang sisi positif mereka tertutup aksi negatif oknum yang kalo dikumpulin bisa satu mabes!

Hahaha.

"Semoga kalian tetap memanusiakan manusia ya dalam melakukan pengawalan aksi unjuk rasa dari adik-adik mahasiswa," tutur saya hendak pamit karena aplikasi bunyi pertanda masuk orderan.

"86 mas." Mirip Bowo itu mengacungkan jempol.

"Aman mas. Kita selalu humanis terhadap para unjuk rasa dan tetap melakukan pendekatan persuasif," anggota lainnya mengomentari.

Ya, kebebasan berpendapat, termasuk unjuk rasa dijamin secara konstitusional dalam Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Hak asasi ini jadi salah satu pilar utama dalam sistem demokrasi Indonesia.

Siapa pun berhak untuk melakukan demo. Baik mahasiswa, buruh, ojol, Guru atau Tenaga Pendidik, Nakes, dan sebagainya.

Hanya, harus diperhatikan waktu dan tempatnya. Terutama, agar tidak ditunggangi para penyusup seperti Agustus lalu.

Saat itu, saya menyaksikan langsung adanya provokasi dan penyusup saat unjuk rasa di kawasan Slipi dengan melempar batu. Di sisi lain, saya juga melihat dengan mata kepala sendiri, betapa polisi gampang terpancing hingga berlaku represif kepada massa.

Bisa disimak dalam rekaman video yang saya unggah di tiktok: 

- https://vt.tiktok.com/ZSAvXorX8/

- https://vt.tiktok.com/ZSQfmgvTX/

- https://vt.tiktok.com/ZSQfmfkkY/


Bersyukur, unjuk rasa 12 Juni lalu kondusif. Jika ada aksi demo lagi, saya harap tetap berlangsung aman.

Dan, yang terpenting, aspirasi mereka, adik-adik mahasiswa turut didengar pemerintah. Tujuannya, agar negeri ini lebih baik lagi... Aamiin!


*          *          *


SAYA enggan memberi pujian berlebih kepada polisi yang bertugas meski sudah berlaku humanis dan persuasif. Sebab, itu memang sudah tugasnya.

Ga perlu didramatisir lagi. Sesuai desk job-nya. Toh, mereka digaji bukan relawan tanpa pamrih. 

Sama halnya dengan profesi lain, termasuk ojol. Saya aja tetap menjalankan orderan ketika macet, hujan, banjir, ada demo, keos, dan sebagainya.

Ga bahaya?

Seperti kata Amado Carrillo Fuentes "El Señor de los Cielos" dalam Narcos: Mexico, bahwa krisis adalah peluang. Alhasil, saya tidak menyia-nyiakan setiap orderan termasuk di tempat demo. Yang penting jaga keselamatan aja.

Btw, untuk banjir, kalo di kawasan Kelapa Gading, Cengkareng, Bukit Duri, hingga Cipinang, itu santapan sehari-hari. Aman.

Beda cerita kalo banjir di Muara Karang, Muara Angke, Dadap, dan PIK, saya nyerah. Sebab, kawasan itu dekat pantai yang berarti banjirnya dari air laut. 

Senekat-nekatnya saya masih punya rasa takut. Sebab, air laut sangat bahaya bagi motor, khususnya mesin yang bisa korosi. 

Perbaikannya di bengkel resmi jauh melebihi ongkos ojol termahal sekalipun. Makanya, saya ogah kalo dapat orderan di tempat banjir dekat laut. 

Bukan maksud nolak rezeki, tapi antisipasi motor rusak akibat karat.


*          *          *

Situasi Jalan Thamrin yang cukup lenggang
meski di jam sibuk pulang kerja
(Foto: dok.pribadi/@roelly87



SELAIN ribuan polisi yang bertugas mengamankan demo, ada beberapa pihak lain yang turut aktif. Itu meliputi TNI, Damkar, Tim Medis, Dishub, Satpol PP, hingga Pasukan Oren (PPSU).

Mereka tersebar di berbagai titik Jalan Thamrin-Sudirman. Mulai dari Sarinah, Tugu Selamat Datang, Halte Tosari, Stasiun Sudirman-Bandara, hingga MRT Setiabudi. 

Itu yang saya lihat langsung. Untuk Semanggi-GBK-DPR, saya kurang tahu karena tidak ke sana.

"Pak dan Ibu, maaf ya arah Monas dialihkan. Bisa lewat alternatif Jalan Margono tembus Stasiun Karet atau via Dukuh Atas arah Galunggung ke Menteng."

Demikian himbauan dari petugas yang pakai seragam Dishub didampingi Satpol PP dan polisi di samping Wisma BNI 46, Jalan Sudirman. 

Saya acungi jempol terkait informasi yang mereka berikan sangat rinci. Jadi, masyarakat yang hendak melintasi Halte Tosari bisa cari alternatif lain ke arah utara.

Pun demikian sebaliknya, dari Tugu Selamat Datang menuju selatan yang sempat dialihkan lewat Imam Bonjol dan Kebon Kacang. Ada beberapa petugas yang turun tangan membantu pengendara motor dan mobil yang banyak kebingungan.

Keberadaan Dishub dan Satpol PP memberi sedikit kesan baik di mata saya. Maklum, dari dulu saya kurang suka sama kedua instansi itu.

Berdasarkan pengalaman pribadi, Dishub suka mengangkut kendaraan rakyat jelata dan taksi. Namun, jika mobil mewah dan milik pejabat, mereka pura-pura ga melihat seperti yang tiap hari ada di Senopati, Blok M, Kemang, dan mayoritas kawasan ramai di Jakarta.

Begitu juga dengan Satpol PP yang beraninya mengusir pedagang kaki lima, tapi gentar dengan restoran yang etalasenya menjorok ke jalan serta warung tenda yang berdiri di trotoar hingga menyulitkan akses pejalan kaki.

Sumpah, saya konsisten menulis di blog dari dulu, agar Dishub dan Satpol PP dibubarkan. Ga ada faedahnya.

Bagaimana dengan polisi? Banyak yang saya benci. Namun, saya ingat kalo bikin atau perpanjang SIM dan STNK butuh polkis.

TNI? Ya sama, 11/12, bahkan sejak era Prabowo Subianto jadi presiden, loreng ini makin ga beres. Oknum sih katanya. Mulai dari nyiram aktivis hingga jadi debt collector.

Duh, ga ada yang bener deh...

Kasian amat, rakyat jelata jadi WNI?

Namun, seperti kata eks menteri, "Jangan pernah lelah mencintai negeri ini!" 

Preeet! 

Doi duitnya banyak. Kentut juga wangi kalo yang ngomong hartanya melimpah. 

Hahaha!


*          *          *


Artikel Terkait:


- Pertamax Naik, Ojol pun di Persimpangan (https://www.roelly87.com/2026/06/pertamax-naik-ojol-pun-di-persimpangan.html)

- Sisi Lain Kerusuhan 28-31 Agustus: Demo Silakan, Anarkis Jangan! (https://www.roelly87.com/2025/09/sisi-lain-kerusuhan-28-31-agustus-demo.html)

- Anak Cowok Jadi Homo, yang Cewek Pelakor, dan Istri Kabur dengan Berondong: Kisah Tragis Eks Pejabat (https://www.roelly87.com/2026/04/anak-cowok-jadi-homo-yang-cewek-pelakor.html)

- Terjebak di Toilet SPBU Kuningan (https://www.roelly87.com/2024/10/terjebak-di-toilet-spbu-kuningan.html)

- Lulusan SMA Dibekali Senjata Itu Bernama Polisi (https://www.roelly87.com/2025/02/lulusan-sma-dibekali-senjata-itu.html)

- Saya Ga Menyesal Pilih Prabowo, Memang Kemampuannya B Aja (https://www.roelly87.com/2025/04/saya-ga-menyesal-pilih-prabowo-memang.html)

- Prabowo: Sang Penculik yang Berharap Mandat Langit (https://www.roelly87.com/2023/09/prabowo-sang-penculik-yang-berharap.html)

- Prabowo Gemoy, tapi Tangannya Berlumuran Darah (https://www.roelly87.com/2023/12/prabowo-gemoy-tapi-tangannya-berlumuran.html)

- Prabowo Presiden 2024, Ganjar Mendagri, Anies Menlu, dan AHY Menhan (https://www.roelly87.com/2023/12/prabowo-presiden-2024-ganjar-mendagri.html)

- Anies adalah Liu Bei, Mega = Sun Quan, dan Jokowi = Cao Cao? (https://www.roelly87.com/2024/08/anies-adalah-liu-bei-mega-sun-quan-dan.html)

- Dhani, Rizieq, dan Ahok Bersatu demi Indonesia

- 9 Naga dan 3 Capres

- Prabowo dan Kedaulatan Selera

- Prabowo Kembali ke Setelan Pabrik

- Brigitte Lin Ching-hsia yang Memesona (https://www.roelly87.com/2023/12/brigitte-lin-ching-hsia-yang-memesona.html)

- Palagan Pamungkas Prabowo: Menyelami Hati, Pikiran...

- Manusia Lebih Anjing daripada Anjing

- Di Bandung, Jokowi Kalah Populer Dibanding Ridwan Kamil

- Jokowi, Sang Gubernur Gaul

- Soe Hok Gie: Prabowo Cerdas tapi Naif


*          *          *


- Jakarta, 15 Juni 2026




 

Jumat, 12 Juni 2026

Pertamax Naik, Ojol pun di Persimpangan

SPBU di Fatmawati, Jakarta Selatan (Foto: dok.pribadi/@roelly87)


PAGI ini, Jumat (12/6) dikabarkan akan ada unjuk rasa dari saudara kita, mahasiswa-mahasiswi di beberapa kota di Tanah Air. Demikian info dari berita arus utama, media sosial (medsos), hingga grup watshapp dalam beberapa hari terakhir.

Tujuannya, memprotes inkonsistensi efisiensi pengeluaran pemerintah, korupsi, Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga naiknya Bahan Bakar Minyak (BBM) dan harga pokok lainnya. 

Saya pribadi sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, mempersilakan siapa pun untuk demo. Boleh dong. 

Hak asasi manusia. Kebebasan berpendapat dijamin dalam Undang Undang Dasar.

Justru kalo kita melarang demo, bakal aneh ini negara. Seperti pemerintahan komunis atau tirani.

Anda mau, Presiden Prabowo Subianto jadi diktator seperti Vladimir Putin, Xi Jinping, dan Kim Jong Un?

Saya sih ogah. Biarpun saya pemilih Prabowo pada tiga edisi pilpres beruntun, ga mau negara ini kembali ke masa orde baru.

No!

Di sisi lain, demo juga ada aturan. Harus izin APH dan waktunya ditentukan hingga petang. 

Yang terpenting, jangan anarkis! Saya mengetik artikel ini, Kamis (11/6) dini hari WIB sambil menyimak berita pembukaan Piala Dunia 2026 disela-sela nunggu orderan ojek online (ojol).

Sebelumnya, pada 25 Agustus lalu saya menyaksikan langsung adanya provokasi dan penyusup saat unjuk rasa di kawasan Slipi dengan melempar batu. Di sisi lain, saya juga melihat dengan mata kepala sendiri, betapa polisi gampang terpancing hingga berlaku represif kepada massa.

Bisa disimak dalam rekaman video yang saya unggah di tiktok: 

- https://vt.tiktok.com/ZSAvXorX8/

- https://vt.tiktok.com/ZSQfmgvTX/

- https://vt.tiktok.com/ZSQfmfkkY/

Saya berharap, demo nanti berlangsung positif. Ada perwakilan pemerintah dan DPR yang menyerap aspirasi mahasiswa serta berbagai elemen bangsa.

Sebagai bloger yang masuk golongan nokturnal, saya jelas tidak kuat ikut demo. Namun, saya berusaha untuk menuangkan pendapat, ide, gagasan, dan kritik yang membangun lewat tulisan.

Baik di blog pribadi, www.roelly87.com maupun blog keroyokan sejak 2010, www.kompasiana.com/roelly87.

Itu yang biasanya saya lakukan disela-sela aktivitas ojol setiap harinya. Menulis jadi hobi positif saya jelang menyambut kepala empat untuk tetap semangat menjalani hidup.


*           *           *


PERTAMAX naik jadi Rp 16.250 per liter dari sebelumnya Rp 12.300. Alias, melonjak 32,1 persen dengan per liter Rp 3.950.

Jelas ini alarm bagi saya sebagai ojol. Serius.

"Lha, kan seliter cuma 16 ribuan. Ga sampe 20 ribu? Kopi di kafe kekinian aja segelas 20-50 ribu sanggup, masa Pertamax ga mampu?"

Demikian ucapan buzzer laknat di medsos yang memperkeruh suasana.

Sebab, beli BBM untuk kendaraan itu bukan hanya seliter. Contoh, motor saya, Vario 125cc tahun 2020 (jadul banget, hehehe), itu tangki bisa full 5,5 liter.

Sebelum naik, saya biasa isi Pertamax genapin, 50 ribu. Alias, dengan selembar gocapan biru, saya dapat empat liter lebih yang bisa untuk jelajah 100-200 km.

Di atas kertas, konsumsi per liter BBM motor saya, Vario 125cc estimasinya 51.7 km. Namun, di jalanan, aslinya hanya 40-an km. 

Tergantung rute macet atau ga dan beban yang dibawa. Itu berarti 4 liter Pertamax bisa mencapai 160-an km.

Cukup buat ngojol dari sore hingga subuh atau fajar.

Nah, sejak Pertamax naik 32,1 persen pada Rabu (10/6), dengan selembar uang 50 ribu, saya hanya dapat 3,07 liter. 

Alias, jarak tempuh saya sehari kini hanya mencapai 120 km. Berkurang 40 km akibat kenaikan Pertamax yang berarti menyusut seliter. 

YA, BEDA SELITER!

CUMA SELITER!

SELITER!

Bagi kalangan menengah ke bawah, termasuk saya, kenaikan Pertamax ini sangat berarti. 

Mungkin, kalangan buzzer laknat ada yang menyanggah. "Kan bisa pakai Pertalite?"

Hello...

Saya ojol yang bergerak di bidang pelayanan dan jasa.

Saya berusaha untuk melakukan yang terbaik bagi diri pribadi, pelanggan ojol, dan motor.

Itu mengapa, meski sudah enam tahun, motor saya masih nyaman dipakai. Sebab, saya rutin merawatnya. 

Ganti oli setiap dua pekan sekali (tiga pekan jika bokek), servis di bengkel resmi per dua bulan, sparepart orisinal semua. 

Termasuk, ban tubeless yang paling boros, ban depan ganti per 9-12 bulan dan ban belakang per enam bulan. Keduanya merek Michelin yang konon paling mahal, tapi berdasarkan pengalaman saya sangat awet. 

Maklum, ban termasuk komponen vital untuk motor. Sering aus atau botak. Merek ternama bikin saya aman jika kena paku atau ranjau paku payung di jalanan. Terakhir apes kena ranjau H2 Idul Fitri depan Stasiun Cawang atas.


*           *           *


KEMBALI ke BBM. Memang, motor saya bisa pakai Pertalite yang merupakan jenis subsidi dengan Ron 90. Sementara, Pertamax Ron 92 dan Pertamax Turbo Ron 98.

Namun, berdasarkan buku petunjuk manual di motor, rekomendasi bengkel, dan saran dari sesama ojol, Vario 125 saya lebih baik menggunakan Pertamax. Salah satu alasannya, terkait rasio kompresi mesin agar optimal.

Itu mengapa, sejak kali perdana memakainya pada Februari 2020, alias sebulan sebelum Pandemi, saya selalu menggunakan Pertamax. Tujuannya, demi keawetan motor yang terasa hingga kini tetap bandel sebagai mesin pencari nafkah.

Tentu, saya pernah pakai Pertalite. Beberapa kali malah. Namun, itu hanya karena terpaksa. 

Misal, saat Covid 19 yang berujung sulit orderan, mau ga mau, saya harus menekan pengeluaran dengan salah satunya pakai Pertalite. 

Juga, saat ke SPBU tapi stok Pertamax kosong, truknya lagi di jalan, atau masih diisi, jelas saya lebih milih Pertalite ketimbang nunggu lama.

Itu mengapa, kenaikan harga Pertamax bikin saya dan rekan-rekan ojol lainnya dilema. Serius. 

Secara, banyak ojol yang menggunakan motor di atas 125cc. Misalnya, Vario 160, Nmax, PCX, ADV, dan banyak lagi yang di aplikasi ojol masuk kategori Comford atau XL. Tarif sedikit lebih mahal.

Nah, naiknya Pertamax juga berkelindan dengan meroketnya harga-harga lainnya. Misal, air mineral botol ukuran 1.500ml di warung madura turut melonjak.

- Oasis kini Rp 5.000 dari sebelumnya Rp 4.000

- Vit dan Sanqua (Rp 4.500 dari 4.000)

- Aqua (Rp 6.000 dari Rp 5.000)

- Le Minerale (Rp 6.500 dari 5.500)

Begitu juga dengan gorengan seperti tempe, tahu isi, bala-bala, risol, cireng, dan sebagainya. Dulu, Rp 5.000 bisa dapat empat biji. Sekarang, mayoritas satuannya Rp 2.000, alias selembar Rp 10.000 hanya dapat lima aja.

Banyak lagi yang naik, oh iya oli juga euy saya dapat info dari bengkel, Sabtu kemarin sebelum ke GBK ada event Indonesia Open 2026, Kpop, dll. 

Banyak deh, cape saya bikin list-nya.

Wkwkwkwk.


*           *           *


IRONISNYA, ketika hidup masyarakat kian sulit akibat harga-harga pada naik, justru para pejabat memamerkan kemewahan dan hambur-hamburkan uang pajak.

Tone deaf.

Miris banget.

MBG hanya jadi bahan bancakan para elite saja.

Sebenarnya saya sudah nulis panjang hingga 2.000-2.500 kata di artikel ini dalam dua hari terakhir. Termasuk, reaksi saya dalam menjalankan orderan ojol yang ironisnya makin murah dengan adanya layanan hemat.

Namun, karena satu dan hal lainnya, saya pangkas jadi hanya setengahnya. Intinya, saya berharap para pejabat (eksekutif, legislatif, yudikatif) bisa memahami penderitaan masyarakat yang kian tercekik.

Saya ga mau terjadi, seperti isu yang ramai di medsos, jika kelak Pertalite naik akan berujung chaos. 

Harapan saya sebagai bagian dari masyarakat, agar pemerintah, termasuk presiden ga terlalu lama di menara gading hingga abai terhadap penderitaan rakyatnya.

Asa saya ini terkesan terlalu muluk-muluk, sebab mayoritas dari pejabat pada tone deaf. Namun, sebagai makhluk yang logis, saya percaya masih ada beberapa pejabat yang kompeten.

Ya, pepatah mengatakan, "selama gunung masih menghijau, jangan takut kehabisan kayu bakar". Alias, selagi napas masih tertiup, masih ada waktu untuk menyaksikan negeri ini lebih baik lagi.

Aamiin!***


*           *           *


Artikel Terkait:


- Sisi Lain Kerusuhan 28-31 Agustus: Demo Silakan, Anarkis Jangan! (https://www.roelly87.com/2025/09/sisi-lain-kerusuhan-28-31-agustus-demo.html)

- Anak Cowok Jadi Homo, yang Cewek Pelakor, dan Istri Kabur dengan Berondong: Kisah Tragis Eks Pejabat (https://www.roelly87.com/2026/04/anak-cowok-jadi-homo-yang-cewek-pelakor.html)

- Terjebak di Toilet SPBU Kuningan (https://www.roelly87.com/2024/10/terjebak-di-toilet-spbu-kuningan.html)

- Lulusan SMA Dibekali Senjata Itu Bernama Polisi (https://www.roelly87.com/2025/02/lulusan-sma-dibekali-senjata-itu.html)

- Saya Ga Menyesal Pilih Prabowo, Memang Kemampuannya B Aja (https://www.roelly87.com/2025/04/saya-ga-menyesal-pilih-prabowo-memang.html)

- Prabowo: Sang Penculik yang Berharap Mandat Langit (https://www.roelly87.com/2023/09/prabowo-sang-penculik-yang-berharap.html)

- Prabowo Gemoy, tapi Tangannya Berlumuran Darah (https://www.roelly87.com/2023/12/prabowo-gemoy-tapi-tangannya-berlumuran.html)

- Prabowo Presiden 2024, Ganjar Mendagri, Anies Menlu, dan AHY Menhan (https://www.roelly87.com/2023/12/prabowo-presiden-2024-ganjar-mendagri.html)

- Anies adalah Liu Bei, Mega = Sun Quan, dan Jokowi = Cao Cao? (https://www.roelly87.com/2024/08/anies-adalah-liu-bei-mega-sun-quan-dan.html)

- Dhani, Rizieq, dan Ahok Bersatu demi Indonesia

- 9 Naga dan 3 Capres

- Prabowo dan Kedaulatan Selera

- Prabowo Kembali ke Setelan Pabrik

- Brigitte Lin Ching-hsia yang Memesona (https://www.roelly87.com/2023/12/brigitte-lin-ching-hsia-yang-memesona.html)

- Palagan Pamungkas Prabowo: Menyelami Hati, Pikiran...

- Manusia Lebih Anjing daripada Anjing

- Di Bandung, Jokowi Kalah Populer Dibanding Ridwan Kamil

- Jokowi, Sang Gubernur Gaul

- Soe Hok Gie: Prabowo Cerdas tapi Naif


*           *           *


- Jakarta, 12 Juni 2026

Selasa, 09 Juni 2026

Piala Dunia 2006: Akhir Generasi Emas dan Debut Calon Legenda

Piala Dunia 2006: Akhir Generasi Emas dan Debut Calon Legenda

Selebrasi skuat Italia di Piala Dunia 2006 (Foto: Fifa.com)


PIALA Dunia 2026 tinggal menghitung hari. Ya, turnamen sepak bola antarnegara terakbar di kolong langit itu berlangsung pekan ini.

Tepatnya, Kamis (11/6) hingga 19 Juli mendatang yang diselenggarakan di tiga negara. Itu meliputi Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko.

Bagi saya pribadi, seperti dua edisi sebelumnya, Piala Dunia 2026 seperti ada yang kurang. Maklum, ini kali ketiga beruntun Italia gagal lolos setelah 2022 dan 2018.

Sebagai fan Gli Azzurri, jelas saya merasa World Cup ke-23 ini agak biasa aja. Tetap bakal nonton di tv atau streaming, tapi ga ada ekspektasi apa-apa.

Terlebih, dengan kegagalan Indonesia di kualifikasi zona Asia. Sumpah, meski udah lewat lama, tapi keselnya masih terasa sampe sekarang.

Andai aja STY ga dipecat...

Andai bukan PK yang gantiin...

Andai John Herdman lebih awal ditunjuk...

Andai... Aa... Aa... Aku jadi konglomerat! Btw, ini lirik lagu Oppie Andaresta, ya. Hehehe...

Yaudahlah, move on! 

Btw, Piala Dunia 2026 ini merupakan edisi kesembilan yang saya ikuti. Wow!

Ketahuan tuanya dong.

Yongkru.

Saya kali perdana kenal Piala Dunia pada 1994. Saat itu, gol bunuh diri Andres Escobar, selebrasi gendong bayi ala Bebeto, dan tendangan ke langit dari eksekusi penalti Roberto Baggio, sangat diingat bagi saya hingga kini.

Empat tahun berselang, usai krismon, saya dan ratusan juta rakyat Indonesia dapat hiburan sebulan penuh dari Negeri Menara Eiffel.

Nah, pada Piala Dunia 2022 ini, jam tayangnya paling bersahabat. Sebab, diselenggarakan di Asia yang banyak pertandingan berlangsung sore.

Puncaknya, di Piala Dunia 2006. Italia juara diiringi kontroversi Zinedine Zidane yang kena kartu merah.

Sumpah, bagi saya pribadi, 20 tahun silam itu jadi momen paling berkesan. Itu mengapa, saya menobatkan Piala Dunia 2006 di Jerman sebagai yang terbaik 

Terlepas saya sebagai fan Italia, faktanya di Piala Dunia 2006 itu seperti estafet. Akhir dari generasi emas seperti Zidane, Ronaldo Nazario, Luis Figo, David Beckham, Michael Ballack, Juan Román Riquelme, Hidetoshi Nakata, dan banyak legenda lainnya yang melakoni edisi pamungkas di World Cup.

Di sisi lain, muncul berbagai bintang yang kelak bersinar sebagai legenda besar sepak bola. Mulai Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, Arjen Robben, Andres Iniesta, dan sebagainya.

Beberapa dari mereka masih aktif. Bahkan, Piala Dunia 2026 ini bisa disebut sebagai tarian terakhir Ronaldo dan Messi.

Siapa yang akan juara, bagi saya ga penting. Absennya Indonesia dan Italia membuat saya cukup menikmati Piala Dunia 2026 sebagai penonton yang duduk manis depan layar tv atau hp.

Ya, World Cup memang bukan sekadar turnamen sepak bola saja. Melainkan, hiburan bagi masyarakat luas di tengah ketidapastian situasi sulit saat ini.

Saya pribadi, enggan memprediksi tim yang juara, jadi kuda hitam, atau pemain terbaik. Namun, kalo menyimak perkembangan dalam beberapa tahun terakhir, Spanyol, Prancis, dan Argentina berpeluang paling kuat.

Atau, bisa jadi ada kuda hitam.

Toh, dua dekade silam, mayoritas pencinta sepak bola, termasuk saya mengakui Brasil (sebagai juara bertahan), Jerman (tuan rumah), Argentina, Prancis, Belanda, dan Portugal yang berpeluang kuat juara. Faktanya, justru Italia yang mengangkat trofi usai menang adu penalti secara dramatis di Piala Dunia 2006

Padahal, waktu itu terkuak calciopoli. Skandal memalukan di Serie A yang melibatkan klub favorit saya, Juventus.

Pengadilan pun memutuskan I Bianconeri harus degradasi di Serie B 2006/07. Keputusan itu mengguncang skuat Italia yang ditangani Marcello Lippi karena diperkuat mayoritas pemain Juve.

Namun, di tengah suasana kelam, justru Italia juara. Mengubur mimpi indah Zidane yang ingin mengakhiri karier dengan trofi Piala Dunia keduanya setelah 1998.

Ah, ga terasa udah 20 tahun berlalu sejak momen dramatis di Berlin saat Alessandro Del Piero dan kawan-kawan angkat trofi...


Edisi - Tuan Rumah - Juara (Rating pribadi)

1994: Amerika Serikat (Brasil) ***

1998: Prancis (Prancis) ****

2002: Korea Selatan-Jepang (Brasil) ****

2006: Jerman (Italia) *****

2010: Afrika Selatan (Spanyol) *

2014: Brasil (Jerman) ****

2018: Rusia (Prancis) **

2022: Qatar (Argentina) *

2026: AS-Kanada-Meksiko (?)


*          *          *


- Jakarta, 9 Juni 2026

Minggu, 31 Mei 2026

Mimpi Basah The Gunners, Juve-Milan di Liga Malam Jumat

Mimpi Basah The Gunners, Juve-Milan di Liga Malam Jumat

Percakapan dengan fan Arsenal
di chat aplikasi ojol
(@roelly87)


KOMPETISI antarklub Eropa 2025/26, khususnya di "Big 6" telah selesai. Bagi yang menyimak perjalanan musim lalu, nyaris tidak ada kejutan.

Liga Primer Inggris dimenangkan Arsenal, diikuti La Liga Spanyol (Barcelona), Serie A Italia (Inter), Bundesliga Jerman (Bayern Muenchen), Ligue 1 Prancis (Paris Saint-Germain/PSG), dan Eredivisie Belanda (PSV Eindhoven).

Sebagai Juventini -julukan bagi fan Juventus- saya menilai wajar jika Inter scudetto. Skuat asuhan Cristian Chivu lebih matang dari rival-rivalnya. 

Termasuk, Juve yang ironisnya terlempar dari empat besar Serie A 2025/26 hingga gagal ke Liga Champions musim depan. 

Itu akibat Kenan Yildiz dan kawan-kawan harus puas finis di posisi enam di bawah AC Milan, Como, AS Roma, Napoli, dan Inter.

Kocak sih, sekelas Juve dikangkangi Como. Klub "anak bawang" yang baru promosi ke Serie A pada 2024/25.

Alhasil, Juve harus puas tampil di Liga Europa 2026/27 yang dijuluki "Liga Malam Jumat". Sebab, mainnya memang Kamis sore waktu Eropa atau Jumat dini hari WIB.

Julukan "Badut Eropa" seperti yang sering saya tulis di blog ini (Selengkapnya: Prabowo: Sang Penculik yang Berharap Mandat Langit - https://www.roelly87.com/2023/09/prabowo-sang-penculik-yang-berharap.html) memang nyata.

Saya Juventini. Sejak 1993 hingga mungkin akhir menutup mata tetap merupakan penggemar "Si Nyonya Besar".

Namun, saya tetap objektif. Bagus ya saya  bilang bagus. Jelek? Ya, harus terima dikatain jelek.

Nah, selain Juve yang gagal lolos ke Liga Champions musim depan, ada satu klub lagi yang juga mengalami nasib sama: Milan yang finis di posisi lima Serie A 2025/26.

Wkwkwk.

Sumpah, waktu kali pertama baca info ini, saya kaget. Kok bisa, sekelas "Pangeran Eropa" bersanding dengan "Badut". 

Namun, setelah melihat ulang rekaman perjalanan musim lalu, Milan memang 11/12 dengan Juve. Pantas, "Setan Merah" tertinggal jauh dari rival sekotanya, Inter yang justru scudetto.

Untuk liga di Eropa selain Serie A, yang menarik saya bahas ada Liga Primer berkat keberhasilan Arsenal. Sebenarnya, klub berjulukan "The Gunners" itu ga aneh untuk juara.

Sebab, dalam tiga musim beruntun (2022/23, 2023/24, dan 2024/25), Arsenal finis sebagai runner-up. Bahkan, dalam periode itu, sejak awal hingga sepertiga musim, Meriam London mendominasi.

Arsenal hanya gagal pada pekan-pekan terakhir hingga harus tergelincir di posisi kedua. Ya, mereka seperti apes aja. 

Padahal, dalam periode itu, Manchester City dan Liverpool toh ga kuat-kuat banget. Nah, musim ini, Arsenal konsisten sejak awal hingga akhir kokoh di puncak Liga Primer.

Yang mengesankan, keberhasilan pasukan Mikel Arteta ini mengakhiri puasa gelar dalam 22 tahun! Ya, kali terakhir Arsenal juara Liga Primer 2003/04 saat diarsiteki Arsene Wenger.

Alias, lebih dari dua dekade silam, penggemar harus menantikan momentum pada Selasa (19/5) atau Rabu (20/5) dini hari WIB. Tepatnya, pada pekan ke-37 saat Man. City diimbangi Bournemouth 1-1 dan sebelumnya Arsenal mengalahkan 1-0.

Hasil kontras itu membuat Arsenal mantap dengan 82 poin diikuti Man. City (78). Dengan sisa satu pertandingan lagi, selisih poin kedua tim sudah tidak bisa berubah.

*         *         *

SORE itu, Rabu (20/5) jalanan ibu kota seperti biasa. Macet.

Saya baru saja menurunkan penumpang di Stasiun LRT Dukuh Atas. Ga lama, aplikasi bunyi. 

Ada orderan menuju Kemang. Namun, masalahnya posisi jemput penumpang yang berada di gedung perkantoran Jalan Satrio. Jaraknya sekitar 2 km lebih. 

Plus macet total karena jam pulang kerja. Estimasi di Google Maps 20 menit.

Saya pun minta foto untuk afirmasi bahwa penumpang sudah di lokasi. Sebab, banyak customer ajaib. 

Jemput jauh, macet, plus layanan hemat, tapi pas saya di lokasi, eh penumpangnya masih di atas gedung. Entah lantai 10, 19, 25, 37, dan sebagainya. Kalo sudah gitu ya saya cancel.

Bagi saya, penumpang seperti itu ga layak untuk diantar. Ironisnya, mayoritas dari mereka pendidikan tinggi, jabatan mentereng, dan penampilan necis. 

Namun, atitudenya justru nol. Padahal, adab lebih tinggi daripada ilmu. 

Sebagai bloger yang berprofesi ojek online (ojol), saya berusaha untuk memanusiakan manusia. 

Ga mau menyusahkan orang lain. Di sisi lain, ogah juga disusahkan orang lain.

Alhasil, saya selalu tekankan kepada penumpang, bahwa etika dijemput itu menunggu, bukan ditunggu. Itu bare minimum bagi penumpang. 

Toh, jika naik kereta atau pesawat, penumpang yang harus menunggu kehadiran kereta atau pesawat. Bukan sebaliknya. Kalo telat, ya bakal ditinggal. 

Kecuali kalo penumpang itu statusnya pejabat, tentu kereta bahkan pesawat bakal rela menunggu.

Pun demikian dengan saya saat dapat orderan, langsung berangkat ke lokasi. Ga harus ngopi dulu. Otw.

Btw, saya pernah ngalamin saat puasa lalu, jemput orderan di Stasiun Tanah Abang dari Patung Kuda. Saya udah di lokasi setelah 10 menit menembus kemacetan jelang maghrib, eh, penumpangnya masih di kereta. 

Tepatnya mau masuk Stasiun Kebayoran Lama. Itu berarti, masih dua stasiun lagi, sebab setelahnya itu Palmerah diikuti Tanah Abang.

"Saya mau bukber mas di mal ***. Kalo pesan sudah di stasiun (Tanah Abang), biasanya nunggu lama. Makanya, ini saya order di kereta," jawaban penumpang saat itu yang bikin saya geleng-geleng kepala.

Udah jemput jauh, macet parah karena bertepatan jam pulang kerja + jelang buka puasa, ongkos hemat, eh masih harus nunggu lagi di lokasi.

Lalu?

Seru!

Drama banget... 

Nantikan di artikel selanjutnya tentang sisi lain dunia ojol.

*         *         *

"BAJU putih Arsenal," kata penumpang di Satrio memberi konfirmasi usai kirim foto lokasi.

"ARSENAL?" ujar saya menjawab dengan huruf kapital. Maklum, capslock jebol!

Saya lanjut ketik, "OK SAYA BERI RESPEK UNTUK YANG AKHIRI PUASA 22 TAHUN!"

Penumpang itu ketawa lebar. Dia merupakan customer kedua saya hari itu yang memakai atribut Arsenal.

Keduanya sama. Sangat gembira menyaksikan akhirnya tim kesayangan meraih gelar Liga Primer. Trofi yang diidamkan lebih dari dua dekade!

"Gila, mas... Gw berasa ini mimpi," ujar penumpang cowo yang tujuannya ke kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

"Ini gw mau rapat di kafe kekinian. Kata bos gw, mau sekalian party ngerayain tim favorit gw juara," lanjutnya 

Meski bukan penggemar Liga Primer, apalagi Arsenal, tentu saya ikut girang. Bagaimanapun, menunggu 22 tahun itu bukan sebentar.

Sebagai Juventini, saya pernah merasakan usai "I Bianconeri" degradasi ke Serie B 2006/07 akibat Calciopoli. Butuh enam tahun untuk melihat Juve kembali scudetto pada 2011/12.

"Gw bangun pagi, pas lihat hasil Man. City imbang, hampir ga percaya. Bagi gw dan fan Arsenal di kolong langit, akhir musim ini seperti mimpi basah di siang bolong," penumpang itu menuturkan.

"Bayangin, 22 tahun nunggu dari gw masih bocah sampe sekarang rekan kerja gw udah pada punya bocah, akhirnya kesampean lihat Arsenal juara. Apalagi kalo akhir bulan bisa kawinin gelar Liga Champions, wah itu sesuatu," kata penumpang itu sambil melambaikan jersey lawas Arsenal dengan logo O2.

Saya yang melihatnya di spion pun ikut tersenyum. Kelak, mungkin saya akan melakukan hal yang sama jika Juventus juara Liga Champions.

Maklum, kali terakhir La Vecchia Signora mengangkat trofi UCL pada 1995/96. Alias, lebih dari 30 tahun lalu.

"Mas, lo Juventini kan, gw doain moga impian lo terwujud ke depannya," kata penumpang dengan sungguh-sungguh. "Menurut lo, final Liga Champions bakal gimana?"

Saya jawab dengan lugas, "Skuat PSG lebih merata. Namun, Arsenal punya momentum yang pas buat diledakkan. Gw Juventini bro, ga milih kedua tim. Hanya, gw juga pengen lihat Arsenal juara musim ini setelah PSG udah tahun kemaren."

Ya, final Liga Champions 2025/26 akan berlangsung akhir pekan, Minggu (30/5). Siapa pun yang menang, saya berharap kedua tim tampil impresif.

Untuk hati, cenderung pilih Arsenal.

*         *         *

EDIT, artikel ini dibuat pada 21-26 Mei lalu yang batal dipublish akibat kesibukan ojol. Ternyata, dini hari WIB tadi, PSG yang juara Liga Champions 2025/26 usai mengalahkan Arsenal via adu penalti.

Selamat untuk fan PSG yang sukses mempertahankan gelar.

Selamat juga bagi fan The Gunners yang sudah mengakhiri puasa Liga Primer 22 tahun.

Salam dari Juventini!***

Saling respek antar
penggemar sepak bola


*         *         *

Artikel terkait: 

- Selamat untuk Inter, Salam dari Juventini (https://www.roelly87.com/2025/05/selamat-untuk-inter-salam-dari-juventini.html)

-  Tanpa Mourinho, AS Roma Tak Lagi Sama (https://www.roelly87.com/2024/01/tanpa-mourinho-as-roma-tak-lagi-sama.html)

- (Galeri Foto) Jadi Saksi Kekalahan Juventus dari Madrid di Final Liga Champions 2016/17 (https://www.roelly87.com/2017/06/saksi-juventus-di-final-liga-champions.html)

- Abu-abu dalam Derby della Madonnina (https://www.roelly87.com/2017/10/abu-abu-dalam-derby-della-madonnina.html)

-

- Pria Sejati Tidak Akan Pernah Tinggalkan Kekasihnya (https://www.roelly87.com/2021/03/pria-sejati-tidak-tinggalkan-kekasihnya.html)

- Juve yang Sekarang Bukan Juve yang Dulu (https://www.roelly87.com/2021/05/juve-yang-sekarang-bukan-juve-yang-dulu.html)

- Wawancara Eksklusif Andrea Pirlo (https://www.roelly87.com/2014/09/wawancara-eksklusif-andrea-pirlo.html)

- Wawancara Eksklusif Giorgio Chiellini (https://www.roelly87.com/2014/09/wawancara-eksklusif-giorgio-chiellini.html)

- Wawancara Eksklusif Claudio Marchisio (https://www.roelly87.com/2014/10/wawancara-eksklusif-claudio-marchisio.html)

-

- (Kilas Balik) Juventus Tur di Indonesia 2014 (https://www.roelly87.com/2017/04/kilas-balik-juventus-tur-di-indonesia.html)

- Trofi Liga Champions yang Dekat di Mata tapi Jauh di Hati (https://www.roelly87.com/2017/04/trofi-liga-champions-yang-dekat-di-mata.html)

- Akhir Tragis dari Strategi Memunggungi Sungai ala Han Xin (Bei Shui Yi Zhan) (http://www.roelly87.com/2016/03/akhir-tragis-dari-strategi-memunggungi.html)

- Diego Milito dan Angka 22 (http://www.roelly87.com/2014/11/diego-milito-dan-angka-22.html)

-


*         *         *

- Jakarta, 31 Mei 2026

Kamis, 28 Mei 2026

Kecewa dengan BCA, Kartu Tertelan Tanpa Solusi

Kecewa dengan BCA, Kartu Tertelan Tanpa Solusi

Foto: Dokumentasi pribadi/@roelly87


BANK Central Asia (BCA) merupakan bank swasta terbesar di Indonesia. Baik dari segi aset maupun cabang yang tersebar di penjuru Tanah Air.

Termasuk, di Jakarta yang Kantor Cabang (KC), Kantor Cabang Pembantu (KCP), dan gerai Anjungan Tunai Mandiri/Automatic Teller Machine (ATM), sangat banyak. Mulai dari perkantoran, pusat perbelanjaan, rumah sakit, pasar tradisional, kampus, hingga sekolah.

Sebagai nasabah sejak nyaris tiga dekade silam, keberadaan BCA sangat membantu saya. Mulai dari tabungan, transaksi sehari-hari, cicilan, dan sebagainya.

Seperti tulisan saya sebelumnya, 23 Tahun sebagai Nasabah BCA (https://www.roelly87.com/2021/11/23-tahun-sebagai-nasabah-bca.html), saya memiliki banyak hal terkait BCA. Tabungan, jelas dari 1 April 1998 yang diikuti kartu ATM (Debit BCA). 

Lalu, kartu kredit yang sudah saya tutup sejak pandemi demi penghematan. Selanjutnya, Kartu Uang Elektronik (KUE) atau e-Money yang biasa saya gunakan untuk bayar parkir, yaitu Flazz BCA. 

Seiring berjalannya waktu, BCA mengikuti arus dengan mengembangkan aplikasi BCA Mobile dan myBCA. Kedua aplikasi itu bisa digunakan untuk pembayaran lewat Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).

Terlebih, mengingat profesi saya sebagai ojek online (ojol). Jelas, saya butuh BCA untuk top up saldo ke aplikasi atau transfer.

Hanya, tiada gading yang tak retak. Demikian pengalaman saya bersama BCA dalam 28 tahun terakhir ini sedikit ternoda.

Noda?

Baju, kali!

He... He... He...


*         *         *

ITU terjadi, kemarin sore, Rabu (27/5) di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, saat saya mau ganti kartu debit. Kebetulan, beberapa hari lalu, ada notif di WA saya.

Yaitu, masa berlaku Kartu Debit BCA saya akan berakhir. Saya cek pengirimnya, terverifikasi dengan centang biru dari Meta disertai link resmi.

Pertanda, bukan nomor individu, melainkan resmi perusahaan. Maklum, zaman sekarang banyak penipuan. Takutnya, pas diklik, phising atau scam.

Saya pun refleks lihat kartu. Ternyata, benar berakhir bulan ini.

Di link, ada beberapa opsi untuk ganti kartu. Baik itu ke Kantor Cabang atau CS Digital.

Nah, karena kemarin merupakan hari libur nasional Idul Adha 1447 H, otomatis KC atau KCP BCA tutup. Jadi, opsi kedua yang saya pilih.

Tepatnya, usai menganter paket ke salah satu gerai di Grand Indonesia, Jakarta Pusat. Sekalian, top up Kartu Flazz yang rutin saya lakukan Rp 100.000 per bulan.

Maklum, sebagai ojol, saya sering keluar-masuk mal, pasar, apartemen, perkantoran, diskotik, bar, dan sebagainya untuk mengantar orderan. Jadi, sebulan saya sisihkan cepe ceng dari pendapatan saya untuk biaya parkir. 

Eh, pas depan ATM hendak top up Flazz, saya terhenyak. Tentu, saya ga lihat hantu. Masih sore. Lagian, saya lebih takut bokek alias ga punya uang ketimbang takut setan dan makhluk halus.

Kalo setan dibacain kitab suci bakal kabur. Nah, kalo bokek? Harus dicari!


*         *         *


SINGKATNYA, ternyata, saldo saya di rekening hanya ada 52 ribu. Ini mah, boro-boro mau top up Flazz 100 ribu, saldo aja cuma setengahnya. 

Alhasil, saya hanya top up 25 ribu. Cukuplah, mengingat sebelumnya saldo Flazz saya masih 31 ribu. Minimal untuk parkir sepekan ke depan teratasi.

Sebab, mayoritas mal, pasar, apartemen, dan sebagainya hanya mengenakan tarif Rp 2.000 untuk parkir motor. 

Kecuali, beberapa pasar yang dikelola PD Pasar Jaya -BUMD tapi mencekik rakyat- yang mematok Rp 3.000 seperti Glodok Jaya dan Asemreges. Keduanya berlokasi di Jakarta Barat. 

Satu lagi yang sering saya datangi terkait order ojol, di mal atau diskotik/bar di Jalan Gajah Mada, yaitu Paragon Mal, parkir motor Rp 3.000. Mahal juga!

Untuk saat ini, rekor parkir motor termahal di Indonesia jatuh kepada...

Ya, kalian pasti ga nyangka.

Yaitu, Markas Kepolisian Daerah Metro Jaya, yang sekali masuk motor dikenakan Rp 4.000! Ampun dah. 

Kalah PI, GI, PS, PIM, Sency, dan sebagainya...

Namun, ini akan saya ulas lengkap di artikel berikutnya.

Btw, kalo saya ambil/antar orderan paket dan makanan di Polda Metro, saya selalu chat ke anggota bahwa parkir motornya TERMAHAL DI INDONESIA.

Lanjut...

Usai transaksi Flazz di mesin ATM, saya geser ke sebelahnya. Yaitu, mesin CS Digital ganti kartu yang ada satu-satunya dibanding mesin atm (ada enam)

Sebelum memulai, saya perhatikan dengan seksama tutorial di video layarnya.

Pertama, memasukkan KTP di atas scanner. Berhasil!

Lalu, sidik jari dengan telunjuk kiri. Beres!

Ketiga, masukkan Kartu Debit BCA disertai pin.

Dan...


"Aku tertipu aku terjebak

Aku terperangkap muslihatmu..."


Btw, itu penggalan lagu berjudul Ular Berbisa karya band Hello.

Demikian perasaan saya saat membaca info di layar.

"Untuk sementara mesin tidak dapat digunakan."

Apa?

Huff...

Dalam sepersekian detik, saya seperti orang linglung melihat kartu debit tertelan. Bingung mau berbuat apa.

Saya bergeming di depan mesin ganti kartu menunggu Kartu Debit BCA saya yang ga kunjung keluar. 

Hening.


"Kuingin marah melampiaskan 

tapi kuhanyalah sendiri disini

Ingin kutunjukkan 

pada siapa saja yang ada

bahwa hatiku kecewa..."


Potongan lirik Kecewa dari Bunga Citra Lestari menggambarkan perasaan saya saat itu.

Sebab, saya lihat sekeliling tidak ada petugas BCA. Maklum, tanggal merah.

Yang ada hanya pegawai malnya. Udah mau tutup, saat itu pukul 21.40 WIB.

Ada telepon dan intercom di sisi mesin ganti kartu. Namun, ga ada petunjuk penggunaan. 

Saya pun menarik napas panjang. Berusaha untuk rileks.

Setelah tenang, ada tiga opsi:


- Phone a Friend

- Ask the Audience

- 50:50


He... He... He...

Ga deh, itu mah kuis Who Wants to Be a Millionaire? yang populer era 2000-an.

Bercanda!


*         *         *

Foto: Dokumentasi pribadi/@roelly87


TINDAKAN saya dengan buka myBCA. Bisa dipahami mengingat di aplikasi itu ada fitur telepon bebas pulsa. Alias gratis.

Hanya, usai melakukan perbincangan dengan Customer Service (CS) via myBCA, ternyata ga ada solusi.

Apa ekspektasi saya ketinggian terhadap bank swasta terbesar di Tanah Air ini?

Entahlah.

Dalam dialog seperminuman teh itu, CS myBCA hanya menyarankan blokir kartu yang juga memutus akses ke internet banking serta Mbanking tanpa adanya solusi cepat.

Saya menolak rekening diblokir. Sebab, khawatir ada perlu bayar ini-itu pakai QRIS di sisa saldo yang memang hanya ada 27 ribu.

Ya, karena dikit, saya ga takut disalahgunakan orang. Maklum, saldonya cuma seuprit.

Sejak jadi ojol, rekening BCA saya jarang ada saldo mengendap ratusan ribu. Maklum, pendapatan ojol harian, bukan bulanan, dan mayoritas customer bayar tunai.

Beda saat masih kerja yang gajian lewat transfer rekening. Itu mengapa, satu dekade lalu saya bisa lolos bikin visa ke Inggris untuk nonton Final Liga Champions 2016/17. 

Pasalnya, salah satu persyaratan bikin visa UK, minimal harus punya saldo mengendap di rekening Rp 50 juta.

(Selengkapnya: <Galeri Foto> Jadi Saksi Kekalahan Juventus dari Madrid di Final Liga Champions 2016/17 - https://www.roelly87.com/2017/06/saksi-juventus-di-final-liga-champions.html)


*         *         *

Foto: Dokumentasi pribadi/
@roelly87


SELANJUTNYA, CS myBCA menyarankan untuk urus ke Kantor Cabang terdekat. Saya cek, bukanya hanya Jumat (29/5). Berarti, hari ini, Kamis (28/5) masih tanggal merah. BCA baru normal lagi Selasa (2/6).

Sebab, Sabtu-Minggu merupakan weekend yang perbankan memang tutup. Sementara, Selasa (1/6) Hari Lahir Pancasila.

(Sumber: https://www.bca.co.id/id/tentang-bca/media-riset/pressroom/siaran-pers/2026/05/26/07/20/cuti-bersama-iduladha-waisak-dan-hari-lahir-pancasila-2026)

Yang bikin saya agak gimana gitu, CS myBCA menjelaskannya secara datar. Nyaris tanpa ekspresi dan terkesan buru-buru tanpa memberi solusi.

Itu di luar ekspektasi saya. Wajar, mengingat saya pernah mengunjungi BCA Learning Institute (BLI) yang terletak di Jalan Pakuan, Bogor, Jawa Barat, pada 2018 silam yang diakui sebagai kawah candradimuka bagi setiap pegawai BCA. 

(Selengkapnya: https://www.roelly87.com/2018/07/lebih-dekat-dengan-bca-lewat-galeri-bca.html)

Namun, ya sudahlah. Salah saya juga yang sok-sokan ganti kartu di KCP BCA di Grand Indonesia yang tiada petugas karena hari libur.

Semoga, besok, Jumat (29/5) masalah saya bisa teratasi saat mendatangi KCP BCA terdekat. Atau, Selasa (2/6) ketika situasi sudah normal.

Sambil menunggu fajar di selatan ibu kota yang sejuk usai orderan kakap ojol, saya pun menonton rekaman Serie A musim ini. 

Juventus, klub favorit saya benar-benar kayak badut. Boro-boro bersaing scudetto, yang ada malah finis di peringkat enam!

"Si Nyonya Besar" kalah dengan Como 1907 yang lolos ke Liga Champions musim depan berkat finis di posisi empat Serie A 2025/26. 

Btw, Como dan BCA itu satu pemilik yang pekan depan turun gunung di blantika bulu tangkis dunia lewat Polytron Indonesia Open 2026. 

(Sumber: https://www.roelly87.com/2026/03/menanti-clbk-grup-djarum-pbsi-di.html)

Hanya, sejak insiden kartu tertelan tanpa solusi, rasa saya terhadap BCA dan grupnya mungkin tidak lagi sama.***


*         *         *


- Megamendung (Bogor) 28 Mei 2026