TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan
PLBN Entikong

Rabu, 14 April 2021

Bikin SIM C Hanya Keluar Rp 155 Ribu, Ini Caranya!

 Pengalaman Bikin SIM C Hanya Keluar Rp 155 Ribu

Tampilan SIM C yang baru




SURAT Izin Mengemudi (SIM) merupakan momok menakutkan bagi mayoritas orang. Terutama, karena repot saat membuat, memperpanjang, atau ganti akibat kehilangan. Tak ayal, Satuan Penyelenggara Administrasi (Satpas) SIM, mungkin jadi tempat yang dihindari banyak pihak. Termasuk, saya dulu yang sangat enggan berurusan di area tersebut.

Dipersulit, birokrasi rumit, adanya calo ilegal, makelar resmi, dan sebagainya jadi pengalaman saya, dulu. Dimulai saat bikin SIM C pada 2004, perpanjang 2009, bikin baru 2011 dan perpanjang 2016.

Namun, situasi sedikit berubah tahun ini. Tepatnya, saat memperpanjang SIM C yang mati sejak beberapa waktu lalu. Alhasil, saya harus bikin baru.

Itu jadi salah satu kecerobohan aneh saya yang baru ingat masa berlaku SIM telah lewat beberapa waktu lalu. Maklum, SIM memang jarang terlihat meski setiap hari saya bawa di dompet mengingat profesi sebagai ojek online (ojol). Paling baru dikeluarkan saat ada razia dari kepolisian atau tilang.

Beda dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang selalu saya keluarkan saat mengantar makanan ke komplek perumahan atau apartemen untuk ditukar ID Card khusus. Pun demikian dengan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) yang rutin diperlihatkan kepada petugas parkir di mal atau pertokoan.

Itu mengapa, saya sempat mumet ketika sadar pada pertengahan bulan lalu. Hanya, apa daya untuk bikin SIM, biaya belum ada. Sebab, meski punya yang, tapi harus dialokasikan pada urusan lain.

Hingga, Senin (12/4), saya yang sudah merasa memiliki dana cukup akhirnya siap bikin SIM di Satpas Daan Mogot, Jakarta Barat. Kendati, sejak beberapa hari sebelumnya sempat dibayangi kekhawatiran. Maklum, perpanjang SIM yang mati sama saja bikin baru. Alias, harus ikut tes rumit pada teori dan praktek.

Bayang-bayang kegagalan seperti 2011 yang harus dua kali ke Satpas pun terus menghantui. Ketika itu, saya merasa sukses melewati tes teori via kertas  dan praktek dengan sepeda motor gigi untuk melintasi berbagai rintangan, khususnya yang paling menantang, angka 8 dengan sudut sempit. 

Saat itu, saya dinyatakan tidak lulus meski tidak menyenggol patok satu pun ketika praktek langsung. Sumpah, ketika itu saya benar-benar bingung. Sebab, orang sebelah saya yang justru jatuh saat belok kelok 8, alias bukan hanya menyenggol patok, secara misteri dinyatakan lulus. Beruntung, dua pekan berikutnya, saya berhasil.

Ya, bukan rahasia umum lagi, jika bikin SIM, baik C, A, dan sebagainya, lebih mudah lewat biro jasa atau calo. Ketimbang, datang sendiri.

Memang, mereka tetap harus datang ke Satpas untuk foto, tanda tangan elektronik, cap jari, tes teori, dan praktek. Namun, untuk dua terakhir dapat diabaikan. Ibaratnya, hanya formalitas saja.

"Lo kalo pake biro jasa atau calo, isi teori cap, cip, cup, dan hitung kancing yang salah semua juga dibenerin. Begitu juga pas praktek, lo tabrakin patoknya pun ga masalah. Pasti lulus 100 persen!" demikian ujar salah satu rekan memberi nasihat, dua malam sebelum saya perpanjang SIM yang mati.

Ya, itu sudah bukan rahasia umum. Setidaknya, saya alami satu dekade silam yang ditawari "bisa cepat", baik oleh calo di luar Satpas atau oknum yang resmi.

*        *        *

MATAHARI tampak malu-malu memancarkan sinarnya saat sata hendak berangkat ke Satpas. Ketika melirik handphone, masih tertera pukul 07.01 WIB. Alias, masih satu jam lagi jelang dibukanya jam operasional Satpas. Dari rumah saya di perbatasan, tidak begitu jauh. Hanya, memakan waktu kurang dari 30 menit.

Namun, saya salah perkiraan. Meski tiba sebelum pukul 08.00 WIB, ternyata sudah ramai. Saya baru ingat, ini merupakan Senin yang tentu jadi awal aktivitas masyarakat. Apalagi, besoknya, Selasa (12/1) merupakan hari pertama puasa Ramadan 1441. Wajar, jika banyak yang memilih bikin SIM atau perpanjang pada Senin. Ketimbang, Selasa yang bisa menguras fisik dan stamina.

Usai parkir sepeda motor, saya sempat didatangi beberapa calo yang menawarkan "bantuan". Mulai dari Rp 700 hingg 800 ribu untuk bikin SIM C baru.

"Kalo sendiri pasti ngulang, bang. Banyak ojol yang sampe lima kali ke sini akibat gagal. Mending bayar mahal tapi langsung jadi ketimbang buang waktu yang seharusnya bisa dipakai untuk ngebid," ujar salah satu calo yang tampak simpatik.

Tentu, dengan halus saya menolak tawaran tersebut. Secara, sejak dulu saya bikin apa-apa selalu mengurusnya sendiri. Bukan karena tidak percaya dengan calo, biro jasa, dan sebagainya. Atau, enggan keluar uang lebih.

Melainkan, karena saya punya banyak waktu. Toh, meski gagal saat perpanjang SIM mati yang berujung bikin baru, saya tak masalah. Paling hanya repot balik lagi ke Satpas, dua pekan berikutnya.

Saya memang terbiasa mengurus sendiri saat bikin KTP, SIM, Paspor, dan Visa. Nah, yang terakhir ini paling rumit. 

Saya dua kali bikin Visa. Pertama, ketika hendak ke Portugal pada 2014 dengan Schengen yang tergolong mudah. Kedua, saat mengajukan Visa United Kingdom (UK) dalam rangka nonton final Liga Champions di Cardiff, Wales.

Durasinya lebih dari sebulan sejak pertengahan April hingga akhir Mei. Alias, benar-benar injury time akibat Visa disetujui Kedutaan Besar Inggris, beberapa hari jelang keberangkatan.

Padahal, semua syarat ketika itu sudah lengkap. Mulai dari surat rekomendasi kantor tempat saya bekerja dulu, Nissan sebagai sponsor resmi Liga Champions, Federasi Sepak Bola Eropa (UEFA), dan deposit di bank mencapai Rp 50 juta.

Namun, memang mengurus Visa UK tergolong sulit. Tingkat keruwetannya hanya di bawah USA, alias nomor dua, diikuti Australia. 

Bahkan, berbeda dibanding SIM yang meski tidak lulus hingga lebih dari 10 kali, peluang jadi sangat besar jika bersabar dan mencoba lagi. Sementara, Visa, andai gagal, uang pendaftaran sekian juta ikut hangus. Sekelas pejabat pemerintah pun bisa saja gagal jika pengajuannya tidak disetujui kedutaan yang bersangkutan.

*        *        *

SETELAH hampir seharian berada di Satpas, akhirnya SIM C saya pun jadi. Saya pun bersyukur tidak harus mengulang. Sebab, saat tes teori lulus meyakinkan meski sempat kaget karena bukan pakai kertas dan pensil lagi, melainkan komputer yang disertai audio-visual.

Pun demikian dengan praktek. Saya dinyatakan lulus sempurna. Btw, tim penilai praktek ini terdiri dari anggota kepolisian dan independen yang sudah memiliki sertifikasi. Alias, saya memang benar-benar absah memiliki SIM C untuk berkendara dengan sepeda motor.

Terkait praktek, saya sejatinya sudah tidak kaget lagi. Sebab, setiap bikin SIM C, selalu melahapnya dengan baik. Apalagi, saya sudah mengikuti tes serupa yang diadakan aplikator ojol dengan Rifat Drive Labs terkait Safety Riding.

Oh ya, berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk bikin SIM baru? Cukup Rp 155 ribu!

Ya, sangat jauh ketimbang pakai calo yang berkisar Rp 600 hingga 900 ribu. Tuh kan, mending jalan sendiri! 

Mungkin, itu terkait reformasi birokrasi di tubuh Kepolisian Republik Indonesia yang menjunjung tinggi 3M: Melindungi, Mengayomi, dan Melayani masyarakat.

Alhasil, di Satpas kini, memang meluluskan pengaju SIM (C) jika sudah benar saat tes teori dan praktek. Andai mengulang, bisa jadi karena gagal saat mengisi teori dan praktek. Toh, bisa melakukannya lagi, dua pekan berikutnya.

Rincian Bikin SIM C Baru:
Cek Kesehatan: Rp 25.000
Asuransi: Rp 30.000
Formulir: Rp 100.000 

Itu biaya resmi di Satpas Daan Mogot yang saya alami ya. Belum termasuk, ongkos dari rumah, seperti bensin Rp 20rb, fotokopi (wajib) Rp 2.000, dan parkir Rp 10.000 (4 jam lebih). Oh ya, jangan lupa bawa pensil dan pena untuk mengisi formulir.

Selamat mencoba dan semoga langsung lulus!

*        *        *

Datang dari pukul 08.20 WIB, antre dulu


*        *        *

Bikin SIM C baru Rp 100 ribu


*        *        *

Perpanjang bikin SIM C Rp 75 ribu


*        *        *

Bukti lulus tes teori dengan audio-visual


*        *        *

Hasil uji praktek di lapangan


*        *        *

Lulus!


*        *        *

Suasana di Satpas SIM C Daan Mogot, Jakarta Barat


*        *        *

Artikel Terkait:
Pengalaman Berurusan dengan Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat
Michelin Ajak Marquez dan Pedrosa untuk Kampanye Kesadaran Berkendara
Pengalaman Daftar Driver Go-Ride Gojek

Seluruh foto merupakan dokumentasi pribadi (www.roelly87.com)

*        *        *

- Jakarta, 14 April 2021

Sabtu, 10 April 2021

Ceritera dari SPBU Kosong

 Ceritera dari SPBU Kosong

Ilustrasi wayang (Foto: www.roelly87.com)



MENJELANG pergantian hari, cuaca di perbatasan ibu kota dengan salah satu kawasan penyangga, kian temaram. Sesekali kilatan menyambar di atas langit disertai gemuruh tajam. 

Sambil menjalankan sepeda motor dengan kecepatan konstan, gw pun berniat mencari tempat berteduh untuk memakai jas hujan. Tepatnya, antisipasi jika Batara Indra sudah menunaikan tugasnya.

Sekeliling mata memandang, jalanan tampak sepi. Maklum, daerah ini merupakan Jakarta Coret. Tepatnya, kawasan di perbatasan ibu kota. Padahal jika pagi hingga petang, ini merupakan jalur padat merayap. 

Dari seberang tembok perumahan mewah yang menjulang tinggi terlihat cahaya terang. Tampak plang warna-warni yang menandakan tempat tersebut merupakan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Gw pun mengarahkan motor ke pom bensin asal luar negeri yang dikelola swasta ini. Tampak lenggang. Hanya ada dua petugas yang berdiri tanpa ada satu pun kendaraan yang sedang mengisi bahan bakar.

Gw memang jarang lewat daerah sini. Jadi, kurang tahu dengan kondisi SPBU ini. Tadi pun ke kota penyangga Jakarta karena tergiur ongkos antar penumpang yang lebih dari selembar warna biru. Bagi gw sebagai ojek online (ojol), itu merupakan argo kakap. 

Tanpa ragu, gw cocol. Kendati, jaraknya hampir 30km. Namun, sebagai ojol petualang yang sering ngalong alias aktif dari sore hingga pagi, justru itu yang gw tunggu. Semakin jauh jaraknya, ongkos pun kian besar. 

Apalagi, mengingat malam cenderung lancar dan tidak macet. Meski, risikonya pun lumayan, mulai dari begal hingga hal di luar nalar.

"Bang, di toilet wanita saja. Kalo pria, sudah ada yang nunggu," kata mbak penjaga toilet saat gw hendak masuk ke toilet pria. Terdapat dua kamar kecil dengan ditujukan masing-masing untuk pria dan wanita.

"Lah, ogah mbak. Ntar gw digedor-gedor lagi kalo ada cewe yang mau ke toilet," gw menjawab sambil memperhatikan sang penjaga yang sedang menghitung lembaran uang berwarna hijau dengan gambar Orangutan dan biru, lompat batu di pulau nias

"Tenang, ga bakal ada orang. Percaya sama gw. Kalo toilet pria, jangan coba-coba. Udah ada yang pake," ujar si mbak dengan tersenyum. 

Gw yang enggan berdebat hal tidak penting pun menurut meski sempat merasa aneh. Toh ke toilet cuma cuci muka dan pakai jas hujan saja tidak lebih dari 5 menit.

Sambil lewat, gw melirik si mbak yang masih menghitung uang dengan di sebelah kotak untuk bayar toilet terdapat telepon seluler (ponsel) candybar berlayar monokrom. Gw masih inget, pernah punya hp itu saat masih berseragam abu-abu, alias awal 2000-an. Mungkin mbak ini penganut gaya retro atau juga kolektor barang antik mulai dari uang kertas jadul hingga hp.

Saat mau pakai jas hujan, ponsel gw bunyi. Ada chat dari Irawan, rekan ojol menanyakan kabar gw belom balik basecamp usai nganter penumpang tadi.

"Gw masih di SPBU White District. Seberang perumahan Giri Anyar. Kenape, ngab?"

"Serius lo, Ka? Udah hampir subuh, masih ngalong," balas kawan gw yang merupakan Milanisti Garis Lembut ini.

"Baru orderan tadi doang. Ini mau balik ke basecamp."

"Btw, lo tadi bilang di SPBU White District?"

"Iye, ini lagi pake jas hujan sekalian isi bensin."

"Serius?" Irawan menulis chat dengan capslock jebol alias huruf besar semua.

"Yeee, goblok. Ngapain gw boong. Emang kenape?"

"Bro, balik sekarang. Di basecamp ada  kejadian penting. Sekarang ya, ditunggu anak-anak. Lo offline dulu, jangan ambil orderan!"

"Siap! 86. Otw..."

Baca chat dari Irawan, membuat gw langsung bergegas. Tak lupa, memasukkan selembar rp 2.000 ke kotak bayar toilet.

"Terima kasih, bang," ujar si mbak yang kini tertunduk. 

Suasana malam itu kian segar usai keluar dari SPBU. Semilir angin seperti menepuk manja kedua pipi ini. Gw pun melajukan sepeda motor di atas 60km per jam. Bukan karena ingin ngebut, melainkan demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Sebab, jika pelan, rawan dikejar begal.

*       *       *

SEPANJANG jalan, gw jadi teringat keganjilan dari pesan wa Irawan. Ga biasanya, sohib dari zaman Lucinta Luna masih kencing berdiri ini sekaget itu. Ya, gw kenal Irawan sejak masih berseragam putih abu-abu pada awal milenium yang ironisnya sebagai rival.

Menariknya, kami dari sekolah berbeda meski satu angkatan. SMA gw di kawasan Gambir, Jakarta Pusat. Sementara, Irawan di STM yang berlokasi di area Pasar Baru, dengan tenar disebut Boedoet.

Sejatinya, sekolahan kami tidak bermusuhan. Apalagi, gw di SMA yang mayoritas kaum hawa. Namun, faktor sejarah dari senior dan gengsi sebagai anak sekolah yang masih berjiwa panas membuat gw dan kawan-kawan SMA turut nyebur ke arena tawuran.

Maklum, kami mengekor pada pelajar STM di kawasan Kampung Jawa, Jakarta Barat, yang dikenal dengan julukan Camp Java, yang justru jadi musuh besar sekolah Irawan. Alhasil, kalau pecah tawuran, gw dan anak-anak SMA gw sering membantu STM itu untuk menghadapi sekolah Irawan. Begitu juga sebaliknya, jika sekolah kami dikepung, ada STM asal Kampung Jawa yang membantu.

Ya, berbagai kawasan ibu kota hingga perbatasan Tangerang jadi saksi kenakalan kami saat tawuran. Meliputi Kota, Harmoni, Gajah Mada, Senen, Sawah Besar, Cideng, Roxy, Tomang, Pesing, Kalideres, hingga Poris.

Beberapa kali, gw berjibaku dengan Irawan untuk duel. Baik itu dengan batu, gesper, pedang, celurit, hingga kelewang. Yang parah di Harmoni, sore jelang leg kedua semifinal Liga Champions 2002/03. Irawan dan teman-temannya dibantai kering oleh STM yang berlokasi di Mangga Besar hingga menyebabkan macet parah dua jam sebelum dibubarkan aparat gabungan Polisi dan TNI.

Kebetulan, STM yang dikenal sebagai 1 DKI itu ada sepupu gw, Abimanyu yang jadi pentolan. Irawan kaget pas tahu gw ikutan. Sebab, bukan rahasia umum lagi jika ketiga STM itu, 1 DKI, Kampung Jawa, dan Pasar Baru saling bermusuhan layaknya  Roman Kisah Tiga Negara yang melibatkan Shu-Wei-Wu. 

Namun, selain kedekatan gw sama anak STM Kampung Jawa, keberadaan sepupu gw itu juga sangat membantu. Terutama, jika ada anak STM di Poncol dan Pluit sok-sokan ngolekin anak-anak sekolah gw yang mayoritas elite.

Rivalitas gw dan Irawan berakhir usai sama-sama lulus. Bahkan, kian dekat ketika kami tak sengaja bareng mendaki Gunung Semeru, pada pertengahan 2005. Hingga, dua tahun lalu, kian intens setelah gw jadi ojol yang nongkrong di basecamp-nya, di PIK Coret, alias Kapuk. Kebetulan, rumah kami sama-sama masih satu kawasan.

*       *       *

LEBIH dari seperminuman teh, akhirnya gw sampe di basecamp. Tampak, Irawan menatap cemas diiringi beberapa rekan seprofesi ojol lainnya. 

"Ekalaya, duduk dulu sini," ujar Jayadrata, salah satu sesepuh di basecamp yang langsung menyambut gw.

"Nyet, lo lama amat," Irawan, menimpali. "Tapi lo minum air putih dulu gih. Rokok gw ada nih. Lo jangan balik atau nyari orderan dulu, kita di sini aja ya sampe pagi."

"Njir, kenape nih. Kok muke-muke lo pada tegang," gw menjawab sambil menyeruput kopi hitam panas disertai sebatang rokok kretek punya Drestajumena, ojol senior yang juga salah satu pentolan ormas di situ.

"Lo tadi serius ke SPBU? Hampir enam jam dari pertama lo nganter customer. Lo ga apa-apa kan?" Irawan terus nyerocos.

"Waduh, gw kira baru jam satuan, ini udah mau subuh. Perasaan, dari Teluk Gong ke perbatasan Jakarta kalo malem cuma 40menit. Pulang pergi mentok 1,5 jam. Lah, ini lama amat gw, ya."

"Nah itu bro, kite takut lo kenapa-napa. Apalagi, perbatasan kan kalo jam 20 ke atas udah sepi," tutur Drestajumena, menatap tajam.

"Kata Irawan, lo tadi ke SPBU di perbatasan yang dekat perumahan mewah?" Jayadrata, bertanya.

"Iya bang. Emang kenape?"

"Si goblok. Itu SPBU kan ga ada. Aslinya lahan kosong sisa pembangunan rumah mewah yang ga diterusin," Irawan, menjawab.

"Iye bro, makanya gw minta Irawan agar lo cepet balik. Soalnya, udah sering pengendara motor dan mobil, termasuk ojol yang 'dikerjai' penunggunya," Drestajumena, menjelaskan.

"Untung lo balik ke sini ga kurang satu apa pun. Sumpah, gw takut lo ada yang ngikutin," lanjut Irawan.

"Maksudnya?"

"Maklum bro, dekat area itu sering terjadi pembuangan korban pembunuhan. Sempat ada perusahaan luar yang bangun SPBU di tempat itu akibat angker yang membuat usahanya sepi akhirnya ditutup. Sekarang, terbengkalai, bangunannya tak berbentuk, jadi ga ada orang sama sekali" tutur Jayadrata, panjang lebar.

"Njir, merinding gw..."

"Makanya, tadi gw langsung minta lo segera balik pas baca wa lo ada di SPBU itu. Dah, sekarang lo offline aplikasi dulu. Pagi baru narik atau ngalong sore jangan diterima kalo ada orderan ke sana lagi," kata Irawan.

Neng... Neng... Nong... Neng... HP Irawan berbunyi pertanda ada pesan masuk di aplikasi WA-nya.

"Ir, gw udah di Jalan Panjang nih. Otw ke basecamp." Ekalaya, 03.47.

Seketika, Irawan terbelalak sambil melirik Drestajumena dan Jayadrata. Keduanya pun mengangguk karena sama-sama tanggap.

"Ka, gw cabut dulu nih. Ada orderan ke Kalideres," ucap Irawan loncat dari bale yang jadi tempat nyender di basecamp.

"Gw laper Ka, mau nyari sarapan dulu," Drestajumena menuju sepeda motornya.

"Gw juga deh, mau cari angin," giliran Jayadrata, turut loncat.

"Ternyata, kalian sudah tahu ya... Hi hi hi..."

*       *       *

Serial Catatan Harian Ojol
- Part II: Ada Rawarontek di Balik Keberingasan Begal
- Part III: Penumpang Rasa Pacar
- Part IV: Orderan Kakap

Prekuel
Kamaratih

Spin-Off
Kisah Wanita dengan Blazer Hitam I

*       *       *

Artikel Terkait Catatan Harian Ojol (#CHO):


*       *       *

*Inspired by True Event
- Jakarta, 9 April 2021



Rabu, 10 Maret 2021

Pria Sejati Tidak Tinggalkan Kekasihnya

Pria Sejati Tidak Akan Pernah Tinggalkan Kekasihnya

Foto bersama Andrea Pirlo yang menjalani musim terakhirnya
sebagai pemain Juventus saat tur di Indonesia 2014


BAGI saya, Liga Champions 2020/21 sudah selesai. Itu seiring dengan tersingkirnya Juventus dari babak 16 besar. Tepatnya, usai hanya menang 3-2 atas Porto di Juventus Stadium, Selasa (9/3) atau Rabu dini hari WIB. 

Hasil tersebut tidak cukup bagi skuat asuhan Andrea Pirlo untuk melaju ke perempat final. Sebab, pada leg pertama di Estadio do Dragao (17/2), Juve takluk 1-2. Alhasil, I Bianconeri pun tersingkir akibat kalah agresivitas gol tandang. 

Sekaligus, jadi momen terkelam bagi Cristiano Ronaldo. Maklum, megabintang asal Portugal ini menjalani musim ketiganya bersama Juve sejak direkrut dari Real Madrid pada 10 Juli 2018. Kehadirannya, sempat membuat asa fan La Vecchia Signora membumbung tinggi. Khususnya, saya pribadi. 

Bisa dipahami mengingat Ronaldo datang dengan lima gelar Liga Champions. Tiga di antaranya diraih beruntun dengan Madrid pada 2015/16, 2016/17, dan 2017/18. Pada saat yang sama, Juve belum pernah meraih trofi Si Kuping Lebar sejak 1995/96. 

Yaitu, saat masih diperkuat Alessandro Del Piero. Sejak saat itu, Juve lima kali melaju ke babak pamungkas pada 1996/97, 1997/98, 2002/03, 2014/15, dan 2016/17. Namun, seluruhnya berakhir dengan derai air mata. 

Termasuk, empat tahun lalu di Millennium Stadium, Cardiff, Wales, ketika saya jadi saksi mata pada laga pamungkas yang berujung kekalahan 1-4 dari Madrid. Ketika itu, Ronaldo turut mencetak dua gol ke gawang Juve yang masih dijaga Gianluigi Buffon.

Wajar, jika berita CR7 berseragam I Bianconeri membuat antusias segenap fan Juve di kolong langit. Hanya, sepak bola merupakan olahraga tim. Dimainkan 11 orang berbeda. Alias, bukan permainan individu layaknya beladiri, bulu tangkis, hingga balap. 

Alhasil, keberadaan Ronaldo saja tidak cukup. Pun demikian meski sudah ditangani Pirlo yang punya dua gelar Liga Champions saat masih jadi andalan AC Milan. Ya, faktor keberuntungan yang membuat mimpi Juve di ajang antarklub terelite Eropa tersebut masih jauh. Setidaknya, hingga kini.

*        *        *

PAGI ini, rinai menghiasi ibu kota. Memang, sejak semalam, tiada hentinya langit mencurahkan air demi membasahi marcapada. Sebagai ojek online (ojol), tentu hujan tidak memengaruhi aktivitas membelah jalan. Maklum, saya terbiasa menari di bawah badai. Jadi, rinai atau bahkan hujan deras pun tidak bakal menyurutkan langkah saya untuk mencari order.

Hanya, situasi berubah usai wasit Bjorn Kuipers meniup peluit panjang. Tepatnya, setelah perpanjangan waktu 2x15 menit dalam duel Juve kontra Porto yang saya saksikan secara streaming. Ya, sebagai Juventini, jelas saya tidak pernah ketinggalan menyaksikan pertandingan tim yang bermarkas di kota Turin tersebut. 

Terutama, di Liga Champions. Untuk Serie A, hanya partai besar yang melibatkan Milan, FC Internazionale, AS Roma, Parma, Napoli, dan Lazio, yang jadi bagian dari Il Sette Magnifico.

Saya memang kerap meluangkan waktu demi melihat Juve secara streaming. Aplikasi ojol saya non aktifkan. Sebab, sulit fokus mengantar penumpang, makanan, atau barang, jika pada saat bersamaan Juve sedang bertanding. Itu mengapa, usai si Nyonya Besar hanya menang tipis 3-2 yang berujung kalah agresivitas gol tandang dari Porto membuat saya pun lunglai.

Sahutan kokok ayam yang menandakan aktivitas di kawasan selatan ibu kota sudah mulai kendati masih rinai. Usai menyaksikan lesunya wajah-wajah penggawa Juve, saya pun menyulut asap kehidupan ditemani segelas kopi hitam nan pahit yang cocok pada situasi saat ini.

Ya, Juve kembali tersingkir secara menyakitkan pada babak-babak awal sejak diperkuat Ronaldo. Pada 2018/19, mereka dieliminasi Ajax Amsterdam, agregat 2-3, usai imbang 1-1 di Johan Cruyff Arena dan takluk 1-2 di Turin. Musim lalu, I Bianconeri lagi-lagi kalah agresivitas tandang. Tepatnya, saat takluk 0-1 di markas Olympique Lyon dan hanya menang 2-1 di Juventus Stadium.

Wajar, jika kegagalan dalam tiga musim terakhir membuat Ronaldo jadi kambing hitam. Banyak fan, khususnya haters Juve menyindir keras CR7. Pun demikian dengan klub yang dipimpin Andrea Agnelli ini. Cap sebagai pecundang, bukan bermental juara, dan tim yang tidak punya DNA Liga Champions, hingga Badut Eropa pun tersemat kepada Juve.

"Lebih baik menunggu Milan dan Inter sebagai wakil Italia yang akan juara Liga Champions, ketimbang menantikan Juve," demikian berbagai komentar di media sosial usai I Bianconeri tersingkir.

*        *        *

"KENAPA harus Juve?" 

"Ga salah, pilih tim?"

"Ketimbang Juve, mending duo Milan."

"Bla, bla, bla..."

Demikian berbagai pertanyaan dari beberapa teman yang dilontarkan sejak era 1990-an. Tepatnya, sejak kami masih kecil hingga kini kawan seangkatan sudah punya banyak anak kecil. 

Mereka tahu, saya merupakan fan berat Juve. Tidak terlalu fanatik sih. Namun, nyaris setiap ada pertandingan besar di Serie A dan babak knock-out Liga Champions, saya selalu menyaksikan I Bianconeri. 

Baik di layar kaca secara konvensional, smartphone, hingga langsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) ketika Juve melakoni pramusim di Indonesia pada 2014. 

Bahkan, saya jadi saksi tragis kekalahan si Nyonya Besar dari Madrid pada laga pamungkas Liga Champions 2016/17 di Cardiff. 

Namun, berbagai kegagalan di final turnamen antarklub terelite Eropa itu tidak menyurutkan hasrat saya sebagai Juventini. Ya, baik saat menang atau kalah, juara, runner-up, hingga degradasi pun, saya tetap fan I Bianconeri.

Sejak 1994 saya tetap antusias menyimak berita terkait rival sekota Torino FC ini. Mulai dari tabloid Bola, tabloid GO, tabloid Hai Soccer, majalah Liga Italia, majalah Sportif, hingga harian TopSkor. 

Media yang disebut terakhir ini tempat saya bekerja pada 2012 hingga tahun lalu. Termasuk, berkesempatan secara eksklusif mewawancarai Pirlo, Claudio Marchisio, dan Giorgio Chiellini.

Bagi saya, Juve tetaplah Juve. Klub favorit dalam lebih dari seperempat abad. Kendati, dalam perjalanannya, turut berwarna. Selain kekalahan di Cardiff, momen kelam saya sebagai Juventini terkait final Liga Champions 2002/03 dan calciopoli 2006 yang berujung terjun bebas ke Serie B.

Saya pun teringat dengan komentar legendaris Del Piero yang memilih bertahan kendati harus tampil di kasta terbawah. "Un Vero Cavaliere Non Lascia Ma Una La Signora," seperti dikutip dari Corriere dello Sport dengan terjemahan bebas dalam bahasa Inggris, ''a true gentleman never leaves his lady".

Ya, Il Pinturicchio bahu-membahu dengan David Trezeguet, Pavel Nedved, Gianluigi Buffon, dan segelintir bintang yang rela mengangkat Juve dari Serie B di bawah tangan dingin Didier Deschamps.

Pada saat bersamaan, Zlatan Ibrahimovic memilih hengkang ke Inter, Fabio Cannavaro (Madrid), Lilian Thuram (Barcelona), dan banyak lagi.

Padahal, Del Piero ketika itu masih dalam periode emas. Beberapa hari sebelumnya sukses membawa tim nasional (timnas) Italia juara Piala Dunia 2006. Tawaran pun silih berganti dari raksasa Eropa, termasuk Madrid. Namun, bagi Del Piero jelas, Juve merupakan kekasihnya yang tidak akan pernah ditinggalkan.

Ya, Juve adalah Juve. Kegagalan di Liga Champions musim ini dan mungkin di Serie A akibat inkonsistensi, bisa jadi pijakan ke depan. Saya pribadi tidak berharap Ronaldo akan bertahan mengingat kontraknya tersisa setahun lagi. 

Namun, saya yakin, jika Pirlo dipertahankan, secara perlahan bakan memberi DNA Eropa kepada si Nyonya Besar dalam musim-musim selanjutnya. Setidaknya, harapan saya sebagai Juventini.

#ForzaJuve!


-



-

Artikel Sebelumnya:
Kilas Balik: Del Piero Genap 42 Tahun
40 Tahun Alessandro Del Piero

- Wawancara Eksklusif Claudio Marchisio
- Wawancara Eksklusif Andrea Pirlo
- Wawancara Eksklusif Giorgio Chiellini



*        *        *

- Jakarta, 10 Maret 2021

Sabtu, 06 Maret 2021

Kompromi dengan Keadaan

Kompromi dengan Keadaan

Ilustrasi: Gambar hanya sebagai pemanis


MENJELANG pergantian hari, saya dapat orderan dari kawasan Kebayoran, Jakarta Selatan, menuju Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Saat itu, penumpang kekeh enggan memakai helm dengan alasan khawatir covid 19. 

Meski, saya sudah menawarinya untuk menggunakan hair cap yang bisa melindungi rambutnya. Karena tidak ada titik temu, saya pun ingin cancel.

Namun, ketika hendak menekan tombol batal, justru tangan ini berat. Terutama, mengingat dari sore baru dapat dua orderan. Itu pun jarak pendek, argo minimalis. 

Sementara, orderan ini jarak jauh. Argo kakap. Seketika, saya pun batal untuk meng-cancel dengan catatan penumpang tersebut meski tidak memakai tapi tetap harus memegang helm untuk berjaga-jaga jika ada razia.

Pada akhirnya, untuk kali perdana sejak jadi ojol, saya harus melanggar GBHN. Alias, garis besar haluan ngojek. Bisa dipahami mengingat saya biasanya sangat strict jika ada penumpang yang tidak pakai helm, merokok, dan main hape. 

Entah sudah berapa kali saya meng-cancel hingga menurunkan penumpang di tengah jalan yang melanggar tiga aturan tersebut, terutama dua teratas.

Namun, kondisi saat ini memaksa saya untuk menekan idealisme GBHN tersebut. Ya, kompromi dengan keadaan. 

Bukan soal benar atau salah. Sebab, se-idealis apa pun, tetap kalah dengan urusan dapur. 

Setidaknya, hingga saat ini.***


Artikel Terkait Catatan Harian Ojol (#CHO):

- Jakarta, 6 Maret 2021

Senin, 25 Januari 2021

Reuni Ahmad Band dan Riuhnya Netizen Zaman Now

Reuni Ahmad Band dan Riuhnya Netizen Zaman Now

Ahmad Band kembali reuni setelah dua dekade
Foto: Instagram.com/AhmadDhaniOfficial


Yang muda mabuk, yang tua korup

Yang muda mabuk, yang tua korup

Mabuk terus, korup terus

Jayalah negeri ini

Jayalah negeri ini

Merdeka...!


DEMIKIAN sepenggal lirik yang diteriakkan Ahmad Dhani dengan lantang pada Minggu (24/1) di akun Youtube official-nya, Video Legend. Tepatnya bersama beberapa sohibnya yang tergabung dalam Ahmad Band untuk tampil streaming di Studio Video Legend, Pondok Indah, Jakarta Selatan.


Saya yang menyaksikan penampilan impresif mereka pun sangat terpana. Bahkan, rela mematikan aplikasi ojek online (ojol) demi menyimak reuni dari supergrup tersebut. Padahal, ketika itu orderan sedang ramai mengingat hujan yang mengguyur ibu kota sejak pagi sudah reda.


Namun, godaan menyaksikan Ahmad Band secara langsung via smartphone, sukses meluluhkan keinginan saya untuk ngojol. Setidaknya, secara sementara dalam durasi dua jam. 


Sambil mengintip kemenangan Juventus atas Bologna, skor 2-0, yang membuat persaingan scudetto Serie A 2020/21 kian memanas demi mengejar AC Milan dan FC Internazionale yang pada giornata 19 justru sama-sama gagal menang.


Ya, reuni Ahmad Band jadi salah satu yang paling saya tunggu tahun ini. Itu setelah 1 Desember lalu menyimak akun instagram Dhani usai tampil dalam  konser Dul Jaelani, Segitiga Sang Pemuja. 


Saya mengenal Ahmad Band sejak 1998 silam. Alias, setelah supergrup itu merilis album pertama sekaligus satu-satunya, Ideologi, Sikap, Otak, yang cover depannya tergolong nyeleneh, Dhani pakai kopiah yang sekilas mengingatkan publik terhadap Bung Karno, proklamator negeri ini.


Sebagai gambaran, saat itu personel edisi pertama Ahmad Band meliputi:

Vokal: Dhani (Dewa 19)

Gitar: Andra Ramadhan (Dewa 19)

Gitar: Pay (Eks Slank)

Bas: Bongky (Eks Slank)

Drum: Bimo (Netral)


Namun, seiring waktu berjalan, Pay dan Bongky cabut. Alias, hanya ikut pada sesi rekaman dan manggung periode awal. Selanjutnya, masuk personel baru, Thomas Ramdhan (bas/Gigi) dan Jaya (Gitar/Roxx) yang turut tampil pada konser sekanjutnya.


Nah, pada live streaming kemaren, formasinya meliputi:

Vokal: Dhani 

Gitar: Andra 

Gitar: Stephen Santoso (Musikimia)

Bas: Thomas

Drum: Yoyo (Padi, Musikimia)


*       *       *


BAGI saya, kembalinya Ahmad Band jilid 2 atau 3 ini benar-benar memantik adrenalin. Maklum, warna musik mereka sangat ramai dipengaruhi ala seattlesound alias grunge, britpop, hingga rock klasik 1980-an. Pun dengan liriknya yang warna-warni, dari cinta, kemanusiaan, filsafat, hingga politik.


Minus, Aku Cinta Kau dan Dia. Namun, dalam list, tetap terdapat lagu ikonik Ahmad Band lainnya. Mulai dari Dimensi, Bidadari di Kesunyian, Sudah, hingga Distorsi.


Termasuk, Kuldesak yang masuk dalam mini album Dhani-Andra.


Menurut saya, apa yang dibawakan Ahmad Band edisi terbaru ini sangat luar biasa. Tentu, saya tidak bisa membandingkan dengan formasi 1998. Sebab, ketika itu saya masih memakai seragam putih-biru. Alias, tidak punya kesempatan untuk nonton konser langsung. Kaset pun sekadar dipinjami teman sebaya.


Penilaian saya, memang suara Dhani tidak bagus. Namun, berkarakter. Pada usia yang nyaris kepala lima, suaranya tetap khas. Dhani pun pintar memilih lagu yang akan dibawakan.


Misalnya, Sedang Ingin Bercinta dan Cinta Gila itu sangat fenomenal. Tidak cocok dibawakan Once atau Ari Lasso. Pun demikian dengan Bidadari, Sudah, Distorsi, dan lagu Ahmad Band lainnya. 


Sulit bagi musisi lain untuk meng-covernya. Memang banyak yang suaranya lebih bagus dari Dhani. Hanya, saat didengar seperti ada yang kurang. Beda rasa jika dinyanyikan Dhani, sang the one and only...


*       *       *


NYARIS dua jam memelototin layar smartphone yang menampilkan Ahmad Band diiringi rinai pada emperan rumah toko (ruko) di kawasan perbelanjaan Jakarta Selatan ditemani segelas plastik air mineral dan asap kehidupan. Saya pun merasa puas karena penantian 23 tahun terbayar lunas.


Meski, ada beberapa catatan kecil yang membuat saya termotivasi untuk kembali menuliskannya di blog. Maklum, sebelumnya saya beberapa kali memposting tentang Ahmad Dhani. Baik reportase, saduran, dan fiksi.


Terkait penampilan, memang secara personel, untuk Ahmad Band sekarang dengan edisi 1998 sangat beda.  Namun, secara kualitas, bisa diadu. 


Siapa yang tak kenal Thomas, sebagai salah satu basis wahid di negeri ini? Pun demikian dengan Yoyo yang gebukannya memacu adrenalin layaknya John Bonham bersama Led Zeppelin dan Dave Grohl (Nirvana). 


Stephan? Doi dikenal sebagai finisher. Alias, tangan dinginnya piawai meracik komposisi pada beberapa album musisi ternama di negeri ini.


Jadi, untuk personel Ahmad Band saat ini, bagi saya tetap wah. Sebab, yang main merupakan para master.


Nah, untuk host atau mc alias pemandu acara ini yang perlu digarisbawahi. Yaitu, Rizky Billar dan Reymon Knuliqh. Tanpa bermaksud tendensius, namun duet host ini menurut saya kurang cocok.


Itu karena wawasan mereka yang masih tergolong minim. Terutama, saat sesi tanya jawab menyangkut sejarah Ahmad Band dan personelnya saat ini. Hanya, itu mungkin penilaian saya pribadi saja. Sebab, interpretasi setiap orang kan berbeda. Tergantung selera.


Kendati, untuk pembawaan, tentu Billar dan Reymon yang memang dikenal heboh, sukses mencairkan suasana. Itu dari segi positif kehadiran mereka yang di media sosial dan kolon komentar youtube mendapat pro dan kontra.


Kontra banyak banget. Namun, yang pro keduanya sebagai host pun tak sedikit.


Khususnya, Billar yang sedang naik daun. Banyak yang menilai, kehadiran kekasih Lesti Kejora ini sukses mendongkrak viewers streaming Video Legend jadi lebih dari 400 ribu.


Berdasarkan catatan saya, jumlah tersebut paling tinggi diantara streaming lainnya yang dilakukan di akun resmi youtube Dhani tersebut. Padahal, sebelumnya, Video Legend sudah rutin menyelenggarakan live streaming dengan bintang tamu dan host berbeda. 


Mulai dari Giselle Anastasia, Raffi Ahmad, Dul Jaelani, Tissa Biani, hingga Ari Lasso, dan Andre Taulany. Namun, jumlah viewers saat mereka jadi host pun kalah jauh dengan duet Billar-Reymond.


Itu mengapa, kolom komentar Video Legend dan media sosial jadi ajang pertempuran antara yang pro dengan kontra. Sebagian berharap, next live streaming memakai host yang benar-benar mengerti musik. Di sisi lain, ada juga yang meminta Dhani untuk mempertahankan Billar sebagai pembawa acara.


Saya yang sejak masih mengenakan seragam merah-putih sudah mengenal Dhani pun paham. Pentolan Republik Cinta Management ini merupakan sosok yang sulit ditebak. Dhani punya pendirian yang tegas tanpa terpengaruh pendapat orang lain.


Bisa jadi, pada live streaming selanjutnya, baik Ahmad Band, Dewa 19, Tribute to..., Triad, dan sebagainya, host tetap dipegang Billar. Alasannya, jelas. Mungkin, kehadiran Billar bisa mendongrak viewer Video Legend lagi. 


Sekaligus, menarik kalangan milenial agar lebih kenal lagu-lagu lawas dari Ahmad Band, Dewa 19, dan band besutan Dhani lainnya. Khususnya, agar musik Indonesia kembali jadi tuan rumah di tengah invasi K-Pop. 


Untuk yang ini, 100 persen saya sangat setuju dengan Dhani.***


*       *       *

Artikel Terkait: 
Ada Super Junior di Balik Kehebohan Panggung
- Ahmad Dhani dan Jalan Tengah Dewa 19 di Album Bintang Lima
- Ahmad Dhani di Antara Dewa 19 dan Reza
- Ahmad Dhani di Antara ISO, Queen, dan Rumi 
- KamaRatih


 *       *       *

- Jakarta, 25 Januari 2021