TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol

Jumat, 21 Januari 2022

Genap 35 Tahun

Genap 35 TahunGenap 35 Tahun


Foto bersama keluarga pada awal Januari


"KO, nanti mlm pulang jam brp?" Demikian, chat di WhatsApp Grup (WAG) Keluarga pada awal bulan ini.

Sebagai ojek online (ojol), saya biasa  ngalong alias keluar dari sore hingga  pagi. Jadi, saya jawab, "Ga plg. Ntar pagi lagi kejar setoran."

Tak lama, balasan dari Mama, "Ntar jam 12 plg, tiup lilin. Kuenya udah dibeliin tuh."

Ya, memang sudah jadi tradisi di keluarga kami, kalau ada yang ulang tahun (ultah), dirayakan dengan sederhana. Tepatnya, untuk memperingati hari jadi yang biasanya turut mengundang sepupu dan dua anaknya yang masih kecil.

Hanya, berhubung saya lagi di kawasan selatan ibu kota yang cukup jauh dari rumah, saya ga balik. Apalagi, memang lagi kejar setoran dalam arti sebenarnya.

Alias, berburu cuan dari hasil ngojol mengingat pada awal bulan ini sangat sepi. Maklum, berdasarkan pengalaman ngojol dalam dua tahun terakhir, setiap selesai pergantian kalender, grafik orderan customer terkait antar penumpang, makanan, kirim barang, dan lainnya, memang cenderung menurun. 

Maka, saya pun berusaha, untuk mengembalikan defisit pemasukan. Dengan cara, ngojol dari sore sampe pagi. 

Bahkan, beberapa kali nyolong start sejak matahari tepat berada di kepala. Sesuatu, yang jarang terjadi. Kecuali, memang kepepet dan juga faktor hujan.

Ya, saya menjalani tahun ketiga sebagai ojol sejak daftar GoJek pada Juli 2019. Namun, seiring waktu, mengingat status hanya sebagai mitra, saya pun mulai menjalin hubungan dengan aplikator lain yang seluruhnya daftar pada 2021.

Dimulai, ShopeeFood pada Mei, LalaMove (Agustus), dan Traveloka Eats (Desember). Maklum, pada situasi pandemi ini, sulit jika hanya mengandalkan satu aplikasi saja.

Alhasil, saya harus memutar otak agar dapur tetap ngebul. Itu mengapa, kini saya bermitra dengan empat aplikator berbeda demi memperlancar pemasukan.

Itu belum termasuk tambahan di luar ngojol. Salah satunya, hasil dari blog ini dan beragam proyek lainnya.

Intinya, sebagai pria yang memiliki tanggung jawab, harus berusaha untuk mendapatkan uang. Bagaimana pun, caranya. Yang penting halal.

Sekadar catatan, terkait empat aplikator itu, harus diakui GoJek yang jadi prioritas. Wajar, mengingat itu yang kali pertama saya kerja di bidang jasa antar online.

Meski begitu, saya selalu memegang teguh adagium lawas untuk tidak berpijak di dua perahu. Yaitu, setiap hari, saya memang selalu menekan tombol on pada keempat aplikator itu secara bersamaan.

Namun, untuk prakteknya, berlaku pola baku, "first come, first served". Alias, siapa yang bunyi lebih dulu, itu yang saya jalankan. 

Sebab, saya enggan nekat untuk menjalankan orderan dari seluruh aplikasi tersebut. Serakah namanya.

Mending jika arahnya satu tujuan. Kalo beda, misal GoJek ke Utara, ShopeeFood ke Selatan, LalaMove ke Timur, dan Traveloka ke Barat? Modar saya!

Itu mengapa, aplikator yang bunyi lebih dulu, pasti saya utamakan dengan ketiga sisanya langsung di-off kan. Pengecualian, jika hujan.

Saya hanya menjalankan GoJek saja. Kenapa? 

Alasannya jelas. Tarifnya bisa meningkat hingga empat kali lipat yang biasa disebut kalangan Gojekers sebagai lonjakan. 

Itu yang jadi stimulus saya dan mungkin segenap ojol berbendera GoJek untuk menerobos hujan-hujanan bahkan kerap menari di bawah badai. Tanpa bermaksud membandingkan, tapi harus diakui jika tarif ketiga aplikator lainnya memang flat.

*      *      *

TIGA puluh lima tahun bukan waktu yang sebentar. Namun, juga tidak bisa dihitung lama. 

Yang pasti, bagi saya, usia memang -sejauh ini- hanya hitungan angka di atas kertas. Fyi, ini entah bisa dibilang sarkas atau tidak. 

Namun, cukup untuk membesarkan hati. Minimal, menghibur diri sendiri.

Ya, awal bulan ini, saya genap berusia 35 tahun. Ga nyangka juga sih.

Kalo dalam sinetron, usia segitu digambarkan sebagai eksmud (eksekutif muda), manajer, bos, dan sebagainya. Hanya, di realitas utama, saya cukup bangga jadi ojol.

Anggaplah, -meminjam ala Marvel Cinematic Universe (MCU)- saya ada di earth 1987. Bisa jadi, pada semesta lain, saya hidup sebagai eksmud, kepala divisi, bos, dan sebagainya. 

Bahkan, ada variant lain saya yang bisa sukses atau terpuruk? Duh, pembahasan terlalu jauh akibat kebanyakan nonton film Marvel, khususnya Serial Loki!

Oke, kembali terkait usia. Ketika anak-cucu Adam sudah kepala tiga, pasti diiringi pertanyaan klasik.

Kapan kawin?

Kapan punya anak?

Kapan-kapan?

Hal sama pun berlaku bagi saya. Terutama, mengingat akhir-akhir ini saya betah jomblo.

Beruntung, keluarga memahami saya. Alias, mereka, khususnya Mama, tidak ambil pusing.

Yang penting, saya sehat. Kerjaan lancar.

Saya pribadi enggan memikirkan soal berumahtangga. Namun, bukan berarti abai.

Hanya, untuk saat ini masih betah menikmati hidup. Bersama keluarga.

*      *      *

DALAM setahun, di keluarga kami ada semacam tradisi untuk kumpul bersama untuk merayakan hari kelahiran. Dimulai pada Mei, yang merupakan ultah Mama, Juni (adik paling bungsu), dan November (adik pertama).

Juga untuk hari kelahiran kedua anak sepupu. Kebetulan, bulan sama, Desember, hanya beda hari.

Sebenarnya, ini bukan sekadar tradisi. Melainkan, wujud syukur kepada Allah SWT, Tuhan Semesta Alam yang sudah memberikan kami kehidupan. 

Caranya, dengan kumpul bersama yang diawali doa. Diiringi dengan makan-makan. 

Entah itu fast food, piza, gorengan, atau nasi kuning. Juga dengan kurma jika bertepatan dengan Ramadan yang dilangsungkan saat buka puasa bersama.

Intinya, sederhana tapi tetap bermakna. Secara, kumpul bersama keluarga itu sangat berkesan.

Yupz, seperti kata pepatah. Harta yang paling berharga, adalah keluarga.***


Video perayaan ultah ke-35 

- Jakarta, 21 Januari 2022

Selasa, 21 Desember 2021

Deteksi Dini, Cegah Disabilitas akibat Kusta

Deteksi Dini, Cegah Disabilitas akibat Kusta

Ilustrasi: NLRInternational.org


SEBAGAI ojek online (ojol), saya paling merinding alias takjub jika melihat dua hal di jalanan. Tepatnya, kepada sesama rekan driver yang sama-sama mencari nafkah mengandalkan aplikasi. 

Pertama, rekan ojol yang difabel. Misalnya, yang saya sering lihat sehari-hari, driver tersebut hanya punya satu tangan, kaki, hingga bagian anggota tubuh lainnya yang tidak lengkap. Pun dengan penyandang disabilitas seperti tuna rungu dan wicara.

Selanjutnya, lady ojol. Yaitu, julukan untuk rekan driver wanita yang rela panas-panasan di bawah terik matahari saat siang hingga menari di bawah guyuran hujan deras. Tak jarang, lady ojol ini ada yang bawa anaknya demi mengantar makanan atau barang orderan customer.

Kedua tipe itu yang bikin saya takjub, sekaligus sangat hormat serta respek. Sebab, dengan keterbatasan fisiknya, ojol difabel mampu mandiri. Jujur, saya kadang suka kesal sama anak muda yang masih segar dan sehat jasmani, tapi malas bekerja.

Kadang, jika sedang bersama rekan ojol difabel, saya suka malu sendiri. Jika penyandang disabilitas saja giat mencari nafkah, tentu saya yang fisiknya lengkap tidak boleh loyo. Harus semangat seperti mereka.

Ya, kekurangan fisik tidak jadi halangan bagi penyandang disabilitas. Itu berlaku pada semua profesi. Alias, tidak hanya ojol saja. 

Contoh, saya sering membeli jajanan seperti kerupuk atau cemilan dari pedagang yang tuna netra. Hebatnya, beliau tidak ingin dikasihani. Alias, hanya mau menerima harga yang sudah disebutkan. 

Misalnya, kerupuk satu bungkus Rp5.000. Maka, pedagang tersebut dengan tegas menolak jika ada yang ingin memberi Rp10.000 atau lebih. 

Sikapnya, wajar. Pedagang itu enggan menjual drama kepada calon pembeli. Hebatnya lagi, beliau bisa tahu berapa nominal yang diterima hanya dari memegang lembaran kertas berdasarkan insting dan pengalaman sehari-hari. 

Bahkan, pendengaran dan penciumannya jauh lebih tajam ketimbang orang normal. Ya, Tuhan selalu memberi kelebihan lain di saat hambanya memiliki kekurangan.

Terkait difabel, saya baru ingat bahwa 3 Desember lalu merupakan Hari Penyandang Cacat Internasional. Momen yang setiap tahun diperingati di seluruh negara di kolong langit ini, termasuk Indonesia, jadi momen penting bagi banyak pihak untuk mengkampanyekan topik disabilitas dari berbagai sudut pandang.

Termasuk, yang terkait dengan kusta. Ya, sebagai ojol yang hobi menulis di blog, saya memang kerap mendengar tentang penyakit yang mitosnya akibat kutukan tersebut. 

Faktanya, kusta bisa disembuhkan. Hanya, memang butuh proses. Bahkan, jika orang yang menderita kusta tidak segera diobati dan luka yang ditimbulkan tak langsung ditangani, tentu berisiko mengalami disabilitas. 

Akibatnya, kualitas hidup mereka juga berpotensi menurun. Terlebih, stigma negatif kusta masih terus ada di masyarakat. 

Demikian, informasi yang saya dapat saat menyimak Talkshow Ruang Publik KBR - Yuk, Cegah Disabilitas karena Kusta! Bincang-bincang yang saya ikuti pada laman https://www.youtube.com/watch?v=Evr6v_6AUKo ini berlangsung Senin (20/12).

Talkshow itu terwujud berkat kolaborasi KBR dengan NLR Indonesia yang merupakan organisasi non-pemerintah alias Lembaga Swadaya Masyarakat untuk mendorong pemberantasan kusta dan inklusi bagi orang dengan disabilitas termasuk kusta.

Maklum, berdasarkan data pada 2017 lalu, angka disabilitas penyandang kusta masih cukup tinggi. Yaitu, 6,6 per 1 juta penduduk. 

Padahal, pemerintah sudah menetapkan, target angka disabilitas kusta kurang dari 1 per 1 juta penduduk. Tingginya grafik itu mengindikasikan adanya keterlambatan penangangan dan penemuan kasus kusta.

Terutama, saat ini yang masih masa pandemi akibat koronavirus. Alhasil, untuk penelitian dan sebagainya, pun sangat terbatas yang tentu harus dimaklumi.

Nah, dalam talkshow itu, ada banyak yang bisa kita petik dan bisa disebarluaskan demi manfaat untuk khalayak ramai. Terdapat, dua narasumber yang turut hadir.

1. Dr. dr. Sri Linuwih Susetyo, SpKK(K) - Ketua Kelompok Studi Morbus Hansen (Kusta) Indonesia PERDOSKI

2. Dulamin - Ketua Kelompok Perawatan Diri (KPD) Kec. Astanajapura Cirebon


*      
*      *

"KITA harus saling edukasi, terutama kepada masyarakat terkait kusta merupakan penyakit yang membahayakan. (Akibat) guna-guna. (Padahal), kusta akibat bakteri," kata Dulamin terkait pengalamannya yang selama ini berkecimpung dengan penderita kusta.

"Ini terjadi ketika orang lagi sakit (kusta), stigma masyarakat sedang tinggi. Akibatnya, penderita malah makin sakit. Ini merupakan reaksi orang yang mengidap kusta. Jadi, kita harus rileks. Agar, tidak menimbulkan reaksi lagi," Dulamin, menjelaskan terkait penderita kusta yang tertekan hingga bisa menyebabkan disabilitas.

Pernyataan senada diungkapkan Linuwih. Menurutnya, kusta tidak menimbulkan komplikasi. Namun, obatnya iya, terkait alergi yang bereaksi terkait saraf.

"Disabilitas yang menjangkiti penderita kusta akibat kuman itu sendiri. Saraf yang menyerangnya. Menyebabkan mati rasa, kelumpuhan, atau kekeringan pada kulitnya. Jadi, harus segera diperiksa. Sebab, mati rasa kan tidak disadari. Itu yang menyebabkan cacat jika terus berlanjut," ujar Linuwih.

"Ada kecenderungan kusta bisa menyebabkan disabilitas. Walaupun, tidak semua. Itu karena bisa kita cegah jika (terindikasi) kusta ditemukan lebih awal dapat ditangani. Hanya, kuman ini tempat utamanya bersarang pada saraf yang bisa jadi cacat," Linuwih, mengungkapkan.

*      *      *

Ya, mari kita sama-sama responsif terkait suatu penyakit, termasuk kusta. Untuk lebih jelasnya, bisa disimak pada laman youtube tersebut. Atau, di portal KBR.id dan NLRIndonesia.or.id.

*      *      *


Artikel Terkait Kusta:
Karena Kusta Bukan Kutukan
Kolaborasi Semua Pihak untuk Hapus Stigma Negatif Kusta

Artikel Terkait Disabilitas
Asian Para Games 2018 Bukan sekadar Menang atau Kalah, tapi...
Lewat Bahasa Isyarat, Volunteer Buktikan Keramahan Indonesia
Ngobrol Bareng Christie Damayanti: Ngeblog sebagai Terapi Otak
- https://www.kompasiana.com/roelly87/59f2b720c226f95795022c92/galeri-foto-christie-damayanti-selenggarakan-pameran-filateli-ke-13?page=all
- https://www.indonesiana.id/read/63461/christie-ubah-keterbatasan-jadi-kelebihan


*      *      *

Jakarta, 21 Desember 2021

Jumat, 26 November 2021

Kolaborasi Semua Pihak untuk Hapus Stigma Negatif Kusta

Kolaborasi Semua Pihak untuk Hapus Stigma Negatif Kusta


Ilustrasi @roelly87


GRAFIK penurunan penderita Koronavirus sejak beberapa bulan terakhir jadi momentum terbaik bagi masyarakat Indonesia. Itu setelah Covid-19 melanda negeri ini sejak Maret 2020. 

Namun, seiring waktu berjalan, kerja sama semua pihak, mulai dari pemerintah pusat, daerah, swasta, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), hingga seluruh rakyat di nusantara sukses menekan laju penyebaran Koronavirus. Ini jadi kabar baik bagi semua orang. 

Termasuk, saya yang sehari-hari berada di jalan. Tepatnya, sebagai ojek online (ojol) yang sangat menyambut gembira. Itu terlihat dengan kemacetan di berbagai sudut ibu kota. 

Pertanda, situasi pada mayoritas wilayah di Tanah Air sudah membaik. Memang, belum normal seperti sediakala. 

Di sisi lain, sudah menunjukkan bahwa kehidupan di nusantara ini akan pulih kembali. Ya, itu jadi harapan semua pihak. 

Nah, bulan ini juga kita memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) yang jatuh setiap 12 November. Ini jadi momentum yang baik untuk mengingatkan semua pihak tentang pentingnya kesehatan.

Bisa dipahami, sebab seperti yang kita ketahui, kesehatan merupakan hak dan pelayanan dasar yang harus dipenuhi negara. Ini sebagaimana tercantum dalam UU No 39/tahun 2009 tentang kesehatan, perlu diselenggarakan secara berkeadilan dan tidak diskriminatif.

Artinya, setiap warga negara, tak terkecuali penyandang disabilitas, termasuk orang dengan atau yang pernah mengalami kusta, memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang bermutu.

Hanya, berbagai tantangan dan keterbatasan sumber daya membuat pelayanan ksehatan seingkali belum aksesibel bagi mereka. Untuk itu, penyelenggaraan program layanan kesehatan inklusif terus diupayakan banyak pihak. Termasuk, LSM dan berbagai badan usaha melalui program CSR (Corporate Social Responsibility) alias tanggung jawab sosial perusahaan.

Eit... Kenapa saya mengaitkan kusta dengan situasi pandemi saat ini?

Sebab, memang sangat berkolerasi. Seperti yang saya sempat bahas di blog pada bulan lalu. Jujur saja, menulis tentang kusta ini sangat berat. Beda jika harus mengulas terkait tema kesehatan lain. Misalnya, diabetes yang sering saya tulis di blog ini berdasarkan pengalaman ibu saya.

Sementara, kusta, untuk saat ini saya belum bersinggungan secara langsung. Beruntung, saya merupakan penggemar cerita silat (Cersil) yang dalam kisah Tiga Dara Pendekar disinggung terkait mitos penyakit kutukan ini.

Apalagi, setelah saya rutin menyimak kabar di KBR yang kerap berkolaborasi dengan para blogger. Termasuk, Komunitas Indonesian Soial Blogpreneur, yang biasa berbagi informasi terkait kehidupan sehari-hari, kesehatan, wisata, edukasi, hingga hobi.

Itu yang saya alami saat menyimak webinar terkait kesehatan dalam Ruang Publik KBR: Bahu Membahu untuk Indonesia Sehat dan Bebas Kusta. Bincang-bincang itu saya ikuti pada laman https://www.youtube.com/watch?v=NfKl_Qt21xA yang berlangsung Rabu (24/11).

Terdapat dua narasumber yang aktif berbagi info kepada seluruh peserta, termasuk blogger yang rutin bertanya. Itu meliputi, Ketua TJSL PT DAHANA (Persero) Eman Suherman, SSos dan Junior Technical Advisor NLR Indonesia dr Febrina Sugianto.

"HKN 2021 ini jadi momen yang ditunggu. Kami, dari NLR Indonesia berharap, lebih banyak partisipasi dari masyarakat," kata Febrina. "Partisipasi dari banyak pihak akan membuat kusta bisa diketahui masyarakat umum. Kami juga bersama banyak pihak melakukan edukasi terkait kusta beserta mitos yang menyertainya."

Eman menambahkan, "Dari kami sebagai bagian dari BUMN, ada banyak program. Termasuk,kusta untuk penanganan yang lebih luas sasarannya. Selain itu, ada peran dari semua pihak, terutama kami, dalam sosialisasi kepada masyarakat penderita kusta. Salah satunya, pengobatan gratis kepada warga. Juga, menghapus diskriminasi terkait penderita kusta kepada masyarakat."

Saya setuju dengan pernyataan tersebut. Untuk menghapus stigma negatif kusta di masyarakat, dibutuhkan kerja sama banyak pihak. Tidak hanya pemerintah saja, melainkan swasta, LSM, hingga masyarakat itu sendiri, termasuk saya dan Anda, pembaca blog ini. 

*      *      *

Artikel Terkait:
- Karena Kusta Bukan Kutukan

Artikel Terkait Disabilitas
Asian Para Games 2018 Bukan sekadar Menang atau Kalah, tapi...
Lewat Bahasa Isyarat, Volunteer Buktikan Keramahan Indonesia
Ngobrol Bareng Christie Damayanti: Ngeblog sebagai Terapi Otak
- https://www.kompasiana.com/roelly87/59f2b720c226f95795022c92/galeri-foto-christie-damayanti-selenggarakan-pameran-filateli-ke-13?page=all
- https://www.indonesiana.id/read/63461/christie-ubah-keterbatasan-jadi-kelebihan

*      *      *

- Jakarta, 26 November 2021

Selasa, 23 November 2021

23 Tahun sebagai Nasabah BCA

23 Tahun sebagai Nasabah BCA23 Tahun sebagai Nasabah BCA

Halaman depan Tahapan BCA saya
(Foto: Koleksi pribadi/@roelly87)


SEBERAPA gereget koleksi jadul Anda? 

Kalo saya sih, tergolong dikit. Mayoritas terkait kertas.

Misalnya, komik, majalah, koran, tabloid, buku, dan sebagainya. Berbagai koleksi tersebut sudah saya miliki sejak 1993. Tepatnya, ketika saya mulai hobi baca saat Sekolah Dasar.

Juga, ada beragam koleksi mainan. Itu meliputi wayang golek, wayang kulit, Lu Bu dengan Kelinci Merah, Spider-Man, Wolverine, Batman, Superman, Doraemon, Trunks, Power Rangers, dan banyak lagi. Baik beli sendiri atau dapat dari paket makanan cepat saji.

Selain itu, koleksi jadul saya yang sempat bikin kaget adalah buku rekening. Tepatnya, Tahapan Bank Central Asia (BCA) yang tertera pada halaman awal bertanggal 1 April 1998.

Alias, sudah lebih dari 23 tahun silam! Bisa dibilang, sudah hampir satu generasi...

*       *       *

DUA puluh lima tahun adalah satu generasi. Demikian, kutipan dari cerita silat (Cersil) Legenda Pendekar Pemanah Rajawali karangan Chin Yong alias Jin Yong.

Versi Inggrisnya disebut The Legend of the Condor Heroes. Hanya, di Tanah Air lebih populer dengan bahasa Hokkian, yaitu Sia Tiauw Eng Hiong.

Dalam kisah tersebut, terkait Adu Pedang di Gunung Hoa (Hoasan Lun Kiam) edisi perdana yang dimenangkan Ong Tiong Yang. Sosok berjulukan Dewa Pusat itu jadi yang terbaik sekaligus memiliki kitab silat Kiu Im Cin Keng usai unggul mutlak atas empat pendekar tangguh.

Yaitu, Oey Yok Su si Sesat Timur, Auw Yang Hong (Racun Barat), Toan Hongya (Kaisar Selatan), dan Ang Cit Kong (Pengemis Utara). Selain kelimanya, ada dua tokoh tangguh yang sayangnya absen, Ciu Pek Thong (Bocah Tua Nakal) dan Kiu Cian Jin (Ketua Tapak Besi).

25 tahun berselang, di puncak gunung Hoa, bertambah lagi pendekar tangguh dari generasi muda yang ikut serta. Yaitu, Kwee Ceng yang merupakan murid Ang Cit Kong dan Kang Lam Cit Koay serta calon menantu Oey Yok Su.

Di edisi kedua itu, terdapat perubahan peserta. Ong Tiong Yang sudah lama mangkat. Ciu Pek Thong dan Kiu Cian Jin kembali absen meski sudah berada di puncak bersama Toan Hongya.

Alhasil, peserta orisinal hanya Oey Yok Su, Auwyang Hong, dan Ang Cit Kong, diikuti Kwee Ceng. Pemenang edisi kedua, bagi Anda pencinta cersil tentu sudah tahu.

Ya, 25 tahun bukan rentang waktu yang lama. Hanya, juga tidak bisa dikatakan sebentar.

Saat Hoasan Lun Kiam edisi perdana, bahkan Kwee Ceng belum lahir. Namun, kehadirannya 25 tahun berselang menandakan regenerasi pendekar di dunia kangouw berjalan dengan baik.

Apalagi, pada akhir kisahnya, Jin Yong melukiskan dengan epic. Kwee Ceng gugur sebagai patriot dari Dinasti Song usai mati-matian mempertahankan Kota Siangnyang dari gempuran pasukan Mongol.

*       *       *

Yeeeei, setoran awal saya hanya Rp20.000!


MEMASUKI bulan dengan "akhiran ber", artinya sudah berada pada musim penghujan. Sebagai ojek online (ojol), periode ini jadi dilematis.

Sisi positifnya, orderan melimpah. Bahkan, terdapat lonjakan tarif hingga empat kali lipat dari harga normal.

Momen ini yang sangat ditunggu bagi mayoritas ojol di penjuru nusantara. Termasuk, saya yang terbiasa menari di bawah badai.

Wajar, jika hujan bagi saya hanya tetesan air yang turun dari langit. Bermodalkan mantel yang melindungi tubuh dari kepala hingga kaki, saya pun seperti sudah terbiasa.

Hanya, bagaimanapun, daya tahan manusia ada batasnya. Meski cuma setetes, tapi rinai tetaplah air yang jika kena tubuh sangat riskan mendatangkan penyakit.

Itu yang saya alami beberapa waktu lalu ketika akhirnya harus istirahat ngojol akibat kehujanan. Efek kedinginan, menggigil, hingga masuk angin, bikin kepala jadi berat.

Alhasil, istirahat jadi obat yang paling mujarab. Minimal, sehari-dua hari berada di rumah untuk memulihkan kondisi tubuh.

Meski, agak berat juga bagi saya yang terbiasa gerak. Sebab, tanpa aktivitas bikin tangan, kaki, hingga bagian tubuh lainnya jadi kaku.

Maklum, dari dulu, saya paling ga bisa berdiam diri. Namun, faktor kondisi tubuh yang belum pulih membuat saya tidak punya pilihan.

Sebab, sangat berbahaya jika memaksakan ngojek dengan kepala yang masih berat. Maklum, di jalanan, kita tidak tahu apa yang akan terjadi.

Alhasil, sambil istirahat, saya pun menyibukkan diri dengan beragam aktivitas di rumah. Mulai dari streaming berbagai film, buka medsos, hingga berselancar ria di internet.

Saking bosannya jari-jari ini scroll layar hape, saya pun iseng membongkar tumpukan dus berisi koleksi buku dan sebagainya. Itu merupakan harta karun bagi saya yang tersisa untuk diselamatkan usai sebagian besar terendam banjir 2012-2014 lalu.

Ketika asyik membaca berbagai buku jadul, pandangan saya tertuju pada selembar tipis berwarna biru. Yaitu, buku rekening Tahapan BCA.

Dari sampulnya saja, terlihat kusam. Bekas noda akibat terendam banjir dan beberapa halaman ada yang sobek tipis-tipis.

Namun, itu tidak menghalangi ketertarikan saya untuk membedahnya lebih lanjut. Saya pun terbelalak saat melihat tahun pembuatannya. Ya, ternyata saya bikin rekening bank untuk kali pertama dalam hidup ini pada 1 April 1998.

Saya masih ingat jelas. Ketika itu, saya masih berseragam putih-merah.

Bikin rekening ditemani ibu. Tak heran, selain nama saya sebagai pemilik, tertera nama pengampu yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya pembimbing atau orang tua, yaitu ibu saya.

Saat mengecek lebih lanjut, setoran awal saya Rp 20.000. Yupz, nominal tersebut jika dibandingkan saat ini memang bisa dibilang kecil.

Namun, jelas tidak bisa dikomparasi dengan sekarang. Salah satunya, terkait inflasi.

Misalnya, ketika SD, uang saku saya hanya Rp 500. Naik jadi Rp 1.000-2000 saat SMP hingga Rp 10.000 jelang lulus SMA.

Lima hari berselang, tepatnya 6 April 1998, saya kembali menabung Rp 5.000. Alhasil, saldo saya jadi Rp 25.000. Cukup besar bagi pelajar yang masih mengenakan celana pendek warna merah dan pulang sekolah asyik mengejar layangan atau bermain kelereng.

Sayangnya, untuk kartu ATM BCA perdana itu, hingga kini saya masih belum menemukan. Ada tiga kemungkinan, sudah dibalikkan ke kantor cabang, hilang tertelan banjir, atau lupa.

Kendati demikian, saya cukup senang karena menemukan berbagai koleksi kartu dari BCA. Mulai dari debit, kredit, Xpresi, hingga Flazz.

Untuk yang terakhir, bahkan ada edisi khusus. Yaitu, kolaborasi BCA dengan Kompasiana dan saat jadi sponsor utama Indonesia Open.

Kebetulan, saya memang tidak asing dengan BCA. Pasalnya, saya kerap mengikuti berbagai acara yang diselenggarakan bank terkemuka di Tanah Air ini. Baik sebagai blogger atau saat masih bekerja.

Bahkan, punya pengalaman berkesan ketika mengunjungi BCA Learning Institute (BLI) pada 2018 lalu bersama rekan-rekan blogger dan Inke Maris & Associates. FYI, bank yang didirikan pada 21 Februari 1957 ini memang rutin menyelenggarakan atau mendukung berbagai event di Tanah Air.

BCA juga yang jadi sandaran saya saat bikin visa ke Inggris pada 2017 lalu. Maklum, salah satu syarat untuk pergi ke Negeri Penemu Sepak Bola itu harus punya referensi bank disertai dengan jumlah saldo tertentu yang terendap di rekening.

Alhamdulillah, pengalaman saya sebagai nasabah BCA sejak 1998 membuat segalanya berjalan mulus. Pengajuan visa pun berhasil.

Apalagi, kartu Debit dan Kredit BCA yang saya punya pun ternyata bisa digunakan di Inggris. Ini sangat berguna saat saya berkeliling dari London hingga Glasgow  Termasuk, untuk beli oleh-oleh tentunya.

*       *       *

Sebagian koleksi kartu BCA saya dari Debit, Kredit, hingga Flazz


SAKIT itu memang tidak enak. Namun, untuk setiap hal di kolong langit ini, tentu ada dua sisi.

Positifnya, saya bisa istirahat lebih panjang. Bisa dipahami mengingat selama ini waktu saya lebih banyak dihabiskan di jalanan ketimbang di rumah.

Selain itu, saya juga bisa bernostalgia dengan berbagai koleksi jadul. Salah satunya, buku rekening BCA yang sudah berumur 23 tahun. Alias, nyaris satu generasi atau seperempat abad!

Nah, bagaimana dengan koleksi jadul yang Anda miliki?

*       *       *

- Jakarta, 23 November 2021


Jumat, 12 November 2021

Komitmen Jadi Kunci bagi 5 Pemenang Pahlawan IDN 2021

 Komitmen Jadi Kunci bagi 5 Pemenang Pahlawan IDN 2021

Lima Pemenang Pahlawan IDN 2021 (Foto: IDN.Media)

PAHLAWAN adalah orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Bisa juga pejuang yang gagah berani atau hero.

Demikian pengertian pahlawan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) saat saya berselancar di internet pada 10 November lalu. Yaitu, tanggal yang setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Pahlawan sejak 1959 untuk memperingati segenap pejuang yang gugur dalam mempertahankan kemerdekaan.

Nah, dalam kehidupan sehari-hari saat ini, pengertian pahlawan bisa diperluas. Misalnya, saya yang berprofesi ojek online (ojol) menganggap bengkel atau tukang tambal ban sebagai hero.

Maklum, saya biasa ngalong. Alias, beraktivitas sejak sore hingga subuh. Alhasil, keberadaan bengkel dan tambal ban sangat krusial dalam memperlancar kegiatan saya di jalanan.

Atau, bahkan bisa juga saya sendiri jadi pahlawan. Khususnya, saat situasi ibu kota tidak memungkinkan seperti banjir, macet parah, pandemi, dan lainnya.

Itu yang saya alami pada malam pergantian tahun 2020 dan Februari lalu ketika mayoritas wilayah di Jakarta dikepung air. Saya masih ingat beberapa titik yang saya lalui sebagai ojol untuk mengantar penumpang, makanan, barang, belanja obat, dan sebagainya.

Itu meliputi kawasan Bangka dan Kemang di Jakarta Selatan serta Grogol Petamburan-Kebon Jeruk (Jakarta Barat). Ketika itu, saya benar-benar disambut bak pahlawan saat menjalankan layanan ojol.

Khususnya, terkait antar makanan, obat, hingga susu. Memang, dalam situasi banjir, pemerintah pusat dan daerah selalu sigap mengirimkan bantuan kepada masyarakat yang memerlukan.

Hanya, itu sebatas beras, mie instan, dan obat generik. Untuk makanan tertentu seperti bayi, vegetarian, hingga obat khusus yang harus beli di apotek, jelas beda.

Itu mengapa, keberadaan ojol disambut hangat. Meski, saat menjalaninya, saya harus bekerja keras juga.

Maklum, saat banjir parah, otomatis listrik padam hingga membuat komplek yang saya tuju gelap gulita. Saya pun harus berjalan  menyusuri jalan setapak diiringi gemericik air yang berkisar dari mata kaki hingga lutut.

Sementara, sepeda motor saya simpan di tempat aman depan komplek atau pos jaga. Sebab, sangat berisiko jika harus mengendarainya akibat rentan terperosok hingga membahayakan diri sendiri.

Namun, selain banjir, gelap-gelapan, bertemu binatang, hingga penampakan hal di luar nalar, ada lagi yang paling saya khawatirkan. Yaitu, jika pesanan yang saya antar tidak dibayar yang membuat saya rugi berkali lipat: Waktu, tenaga, pikiran, dan uang.

Itu bisa karena order fiktif, orang iseng, pemesan ketiduran, atau ponsel customer off akibat listrik padam beberapa hari. Kalau sudah seperti itu, saya pun hanya bisa pasrah.

*     *     *

TERKAIT pahlawan, bertepatan dengan 10 November lalu, saya juga menyimak IDN Media yang telah merilis lima pemenang utama dari program Pahlawan IDN. Tagline-nya, Satu Negeri Beragam Inspirasi yang merupakan program apresiasi  bagi banyak figur inspiratif milenial dan Gen Z. Mereka ini yang berhasil menginisiasi gerakan positif di bidang Pendidikan, Lingkungan, Kesehatan, Ekonomi, Teknologi, Proyek Kreatif, dan Komunitas.

Berikut, lima pemenang utama yang diumumkan lewat platform TikTok IDN Media.

1. Riliv, diwakili Audrey Maximillian Herli
2. Plana (Plastic for Nature), diwakili Joshua Christopher Chandra
3. Mataharikecil Indonesia, diwakili Yasser Muhammad Syaiful
4. BecomeMore Indonesia, diwakili Agalia Sakanti Ardyasa
5. Literasi Anak Banua, diwakili Alvian Wardhana

Ada beberapa aspek yang dinilai meliputi orisinalitas dan keunikan ide, tujuan kegiatan,hasil, dan sebaran dampak di sektor terkait. Serta, keberlanjutan inisiatif mereka dalam jangka panjang. 

Terlebih, yang terlibat dalam Dewan Juri untuk proses penilaian Pahlawan IDN sangat berkompeten. Itu meliputi Winston Utomo (CEO IDN Media), Zefanya Deby (Head of Communications IDN Media), Uni Lubis (Editor-in-Chief IDN Times), Najelaa Shihab (Pendidik & Pendiri Semua Murid Semua Guru), dan William Hendradjaja (Chief of Business Skilvul & Managing Partner of SIAP).

Kelima pemenang utama itu berhak membawa pulang hadiah berupa sejumlah uang tunai serta dukungan publikasi dari IDN Media selama setahun penuh. Mereka juga berkesempatan untuk gabung pada signature event yang dilangsungkan grup media ternama di Tanah Air ini. Serta, terkoneksi dengan jaringan komunitas masif yang dimiliki IDN Media.

"Selamat untuk kelima penerima anugerah Pahlawan IDN yang baru pertama kali kami selenggarakan pada tahun ini. Berfokus pada inovasi dan dampak yang sudah diberikan oleh milenial dan Gen Z, mereka ini memiliki keunikannya tersendiri. Semoga, dengan anugerah ini, kalian dapat terus menjaga komitmen dan keberlanjutan organisasi serta membangun komunitas yang solid," kata Uni dalam sambutannya.

Pernyataan itu bisa dipahami mengingat kerja keras dan komitmen dari segenap peserta yang disaring dewan juri hingga ditetapkan lima pemenang. Sebagai blogger yang besar pada dekade 1990-an ini, saya pun sangat sependapat. Mereka yang tergolong milenial dan Gen Z ini bisa terus berkembang ke depannya dan berkontribusi untuk negeri.

Fakta itu diungkapkan Najelaa. Menurutnya, memberdayakan pihak lain juga harus dimulai dengan memberdayakan diri kita sendiri. "Saya harap, akan ada lebih banyak orang yang sadar bahwa diri kita sendiri, adalah perubahan yang selama ini kita nanti-nantikan," Nejelaa, menjelaskan.

Pada saat yang sama, William mengakui, perjalanan kelima pemenang ini masih panjang. Apalagi, di antara mereka ada yang masih duduk di bangku kuliah. Alhasil, komitmen ini sangat diapresiasi. "Saya sangat terinspirasi oleh teman-teman yang sudah konsisten untuk melakukan misi sosial dan lingkungan pada usia yang masih muda. Perjalanan kalian masih panjang. Jangan lupa, untuk cari support system yang dapat mendukung hal-hal baik yang telah kalian inisiasi," ujar William.

Sebagai informasi tambahan, IDN Media merupakan perusahaan media platform untuk milenial dan Gen Z di Tanah Air dengan lebih dari 70 juta Monthly Active Users (MAU). Saya tidak asing dengan grup usaha ini karena setiap hari selalu membaca informasi yang informatif di beberapa platformnya. 

Misalnya, IDN Times yang memang ditujukan untuk pangsa milenial dan Gen Z. Saya pun berasa jadi anak muda lagi dan tambah semangat mendapatkan suguhan informatif dari situs tersebut. Tidak lupa, Duniaku, yang berisi informasi terkait dunia hiburan seperti film, musik, game, hingga anime.

Bahkan, tahun lalu, IDN Media merilis IDN Pictures, yaitu sub perusahaan film dengan produksi perdana, Balada Si Roy. Adaptasi novel karya Gol A Gong ini sudah saya nikmati dan diulas di blog pada Januari lalu.***


Artikel Terkait:
- Bukan Sekadar Nostalgia, Alasan IDN Pictures Luncurkan Balada Si Roy


*     *     *

- Jakarta, 12 November 2021