TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol

Rabu, 25 Maret 2026

Menanti CLBK Grup Djarum-PBSI di Polytron Indonesia Open 2026

Menanti CLBK Grup Djarum-PBSI di Polytron Indonesia Open 2026


Ilustrasi ganda putra Mohammad Ahsan/
Kevin Sanjaya Sukamuljo
(Foto: Dokumentasi pribadi/@roelly87)



INDONESIA kehilangan salah satu putra terbaiknya pada 19 Maret lalu. Tepatnya, saat Michael Bambang Hartono meninggal dunia. 


Peraih medali perunggu Asian Games 2018 ini dikenal dengan kecintaannya pada dunia olahraga. Bersama saudaranya, Robert Budi Hartono, merupakan pemilik Grup Djarum.


Korporasi yang dulu identik dengan rokok. Seiring waktu berjalan, Djarum melakukan diversifikasi usaha di berbagai bidang.


Misal, keuangan dengan Bank Central Asia (BCA), media (Kaskus dan Mola), elektronik (Polytron), marketplace (Blibli), dan sebagainya.


Di dunia olahraga, melalui Djarum Foundation (PB Djarum) identik dengan bulu tangkis. Saya, Anda, kalian, dan kita semua pasti tidak asing dengan nama-nama atlet yang mengharumkan Indonesia di kancah dunia ini.


Mulai dari Liem Swie King, Alan Budikusuma, Hariyanto Arbi, Yuni Kartika, Ivana Lie, hingga Kevin Sanjaya Sukamuljo.


Bahkan, 2019 lalu, Hartono Bersaudara ekspansi ke Negeri Piza. Tepatnya, dengan membeli Como 1907.


Dengan tangan dingin mereka, akhirnya klub yang dulu berkubang di kasta terbawah sepak bola Italia itu menjelma jadi raksasa. Terbukti, hingga giornata ke-30, Como kokoh di peringkat empat klasemen Serie A 2025/26!


Klub yang dilatih Cesc Fabregas itu sukses mengekor FC Internazionale, AC Milan, dan Napoli. Como juga unggul tiga poin dari Juventus yang tertahan di posisi lima.


Sebagai Juventini garis lembut, saya berasa ironis sih. Raksasa Italia itu bahkan harus rela dikecundangi Como dua kali musim ini. Juve takluk dengan skor 0-2 di kandang sendiri pada 21 Februari lalu dan di markas Como (19/10).


Meski ga rela melihat klub favorit saya jadi badut di hadapan Como, tapi saya tidak terlalu kecewa. Sebab, itu membuktikan Como berada di tangan yang tepat di bawah naungan Djarum.


Saya enggan overproud hanya karena pemilik Como asal Indonesia. Namun, fakta bahwa Como bisa masuk empat besar Serie A dan berpeluang tampil di Eropa musim depan, memang tak terbantahkan.


Ya, selain QRIS, ternyata masih ada yang dibanggakan dari Indonesia di mata dunia.


*         *         *


CINTA Lama Bersemi Kembali alias CLBK. Ya, kisah romantisasi antara dua pihak yang pernah terikat tapi terhalang jurang nan dalam.


Namun, kali ini kita tidak membicarakan tentang ceritera sejoli. Melainkan, antara Djarum dengan Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI).


Ya, sejak pisah akibat kontraknya selesai pada 31 September 2020, pencinta bulu tangkis di Tanah Air merasa seperti "ada yang hilang". 


Termasuk, saya yang turut merasakan heningnya atmosfer turnamen bulu tangkis di Indonesia. Khususnya, yang prestisius seperti Indonesia Open.


(Artikel Terkait: https://www.roelly87.com/2024/06/indonesia-open-2024-sepi-kok-bisa.html)


Nah, menyambut Indonesia Open 2026, Djarum pun turun gunung. Mereka kembali akan mensponsori turnamen elite Super 1000 ini yang setara dengan All England, China Open, dan Malaysia Open.


Tepatnya, lewat anak usaha Polytron. Ya, turnamen yang bakal digelar 2-7 Juni mendatang itu bakal bertajuk Polytron Indonesia Open 2026.


Ini kali perdana Grup Djarum jadi sponsor Indonesia Open sejak pandemi. Untuk 2020 tidak diselenggarakan akibat wabah Covid 19.


Sebelumnya, mereka aktif berkolaborasi dengan PBSI lewat Djarum Indonesia Open pada 2004-2013, BCA (2014-2017), dan Blibli (2018-2019).


Hanya, kerja sama itu buyar sejak akhir 2020. Itu seiring dengan pergantian pengurus baru PBSI.


Entah ada korelasinya atau tidak, sejak saat itu hingga kini, hanya sekali wakil Merah-Putih juara. Tepatnya, saat Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon mengalahkan ganda putra Jepang, Takuro Hoki/Yugo Kobayashi pada Indonesia Open 2021.


Sementara, pada 2022 hingga 2025 lalu, nirgelar. Alias, kita harus puas jadi penonton di rumah sendiri saat atlet luar berpesta.


Saya pribadi, berharap dengan CLBK Djarum-PBSI bisa mengembalikan prestasi di Polytron Indonesia Open 2026.


Berharap itu wajar. 


Di sisi lain, sebagai makhluk logis, saya juga harus realistis dengan tidak memasang ekspektasi yang berlebihan. Pasalnya, belum tentu dengan masuknya Djarum lewat Polytron di Indonesia Open 2026 ini bisa memberi gelar.


Ga ada jaminan.


Serius!


Faktanya, dalam 16 edisi Djarum dan anak usah jadi sponsor utama Indonesia Open (2004-2019), ada tujuh kali nirgelar dari wakil Merah-Putih.


Itu terjadi pada Indonesia Open 2007, 2009, 2010, 2011, 2014, 2015, dan 2016.


Jadi, kita sebagai penggemar tepok bulu pun wajib menapak tanah. Romantisasi Grup Djarum-PBSI bukan berarti mendatangkan tsunami gelar.


Namun, setidaknya memberi secercah harapan.


Ya, bisa dilihat di media sosial saat info Djarum kembali kolaborasi dengan PBSI lewat Polytron Indonesia Open 2026 disambut antusiasme warganet. Khususnya, BL alias Badminton Lovers.


Sebagai penggemar, saya hanya bisa mendukung para atlet yang berjuang di Polytron Indonesia Open 2026 untuk mengakhiri paceklik sejak 2021. 


Apa pun hasilnya kita terima, secara, semua pihak tentu sudah berusaha mempersembahkan yang terbaik. Baik Atlet, PBSI, dan Grup Djarum.


Eaa... Eaa... Eaa!


*         *         *


Sumber: 


- https://bwfworldtour.bwfbadminton.com/tournament/5528/polytron-indonesia-open-2026/overview/


- https://money.kompas.com/read/2015/04/10/113200826/Ini.Bisnis.Sampingan.Grup.Djarum.di.Luar.Rokok


- https://m.kumparan.com/amp/kumparansport/djarum-foundation-akan-dukung-indonesia-open-2026-and-ajang-bergengsi-lain-25tO2AMFH03


- https://www.kompas.com/badminton/read/2020/12/17/16392808/kerja-sama-dengan-pbsi-berakhir-djarum-tetap-sokong-bulu-tangkis?page=all



*         *         *


- Jakarta, 25 Maret 2025

Senin, 16 Maret 2026

Nelangsa Pekerja Malam Saat Ramadan

Nelangsa Pekerja Malam Saat Ramadan


(POV: Miss G)


HAI, gw Miss G. Huruf ke tujuh dalam alfabet itu merupakan inisial nama asli gw.


Ya, bisa Gadis, Gladys, Gina, Gince, Gani, Gunawan...


Eh, yang terakhir itu nama cowo. Gw kan cewe, hehehe.


Namun, kalian juga bisa manggil gw Agni. Dalam bahasa sanskerta disebut api. 


Pun demikian dalam kisah wayang atau Mahabharata, Agni merupakan Dewa Api. 


Sebagaimana air yang bisa membuat perahu berlayar tapi juga dapat menenggelamkannya. Begitu juga dengan api yang merupakan sumber kehidupan sekaligus kematian.


Ingat pembakaran Hutan Khandava oleh Agni? Peristiwa itu nyaris membuat Raja Dewa Indra dengan tega membunuh dua makhluk utama, Arjuna dan Kresna.


Nama pertama bisa dibilang "anak biologis" Indra hasil hubungannya dengan Kunti secara niyoga. Sementara, Kresna merupakan awatara Dewa Wisnu, sang pemelihara alam.


Hanya, akibat keinginan Agni untuk melahap Hutan Khandava menyebabkan Arjuna dan Kresna nyaris dilenyapkan Indra jelang Bharatayuda.


Yes! Panggil gw Miss G atau Agni.


Cukup sekian dan terima gaji!



*       *       *


MAYORITAS umat muslim sangat bersedih ketika tahu Ramadan akan pergi. Namun, gw termasuk sedikit yang justru senang.


Ya, saat ini udah masuk sepertiga Ramadan. Alias, kurang dari sepekan lagi Idul Fitri.


Bukannya gw ga menghargai bulan suci ini. Namun, jujur aja gw benar-benar mengharapkan Ramadan cepat berlalu.


Alasannya sederhana. Gw kerja di dunia malam.


Asal kalian tahu, pembaca artikel ini yang budiman. Sepanjang Ramadan, tempat kerja gw di Red District Jakarta Barat full ditutup.


Gw sedih.


Secara, gw ga bisa nafkahin keluarga.


Bukan cuma gw. Rekan seprofesi juga pada nganggur.


Termasuk LC, dancer, bartender, kasir, security, dan sebagainya. Selama sebulan ini, mereka ga dapat pemasukan.


Itu akibat peraturan pemerintah yang melarang tempat hiburan malam beroperasi sepanjang Ramadan. Niatnya mulia, untuk menghormati bulan suci.


Hanya, efek dominonya terasa. Kami, maksudnya gw dan pekerja malam, ga punya pemasukan untuk menyambut lebaran.


Gw pribadi ga punya keahlian. Mau kerja apa?


Zaman sekarang kan anomali. Jangankan yang halal, yang haram aja susah!


Untung gw masih punya sedikit tabungan sebagai mitigasi yang udah gw lakukan sejak pandemi. Juga memiliki hubungan dekat dengan pejabat daerah yang kami juluki raja-raja kecil.


Mereka ini kerap mengirim angpao untuk menambah kebutuhan sehari-hari gw dan keluarga.


Alhamdulillah, rezeki anak sholeh...


*       *       *


HANYA, ga semua pekerja malam beruntung seperti gw.


Btw, ga usah nanya gw kerjanya apaan ya. Juga, jangan nebak gw sebagai LC, dancer, dll.


Yang pasti, gw kerja di dunia malam. Tepatnya, di tempat hiburan yang kerap dijuluki sekeping kenikmatan bagi kaum pria.


Hanya, lokasinya dekat pemukiman penduduk yang sangat padat. Itu mengapa, tempat kerja gw ditutup full selama bulan suci.


Beda cerita jika lokasinya tidak berdampingan dengan warga seperti yang dimiliki kakak bos gw. Di sana, aman sentosa ga bakal dirazia.


Bahkan, bila ada pengunjung yang datang Jumat sore bisa bebas pulang Senin pagi.


Atau, milik sepupu bos gw yang lokasinya di hotel bintang empat. Masih bisa beroperasi karena sesuai peraturan.


Memang, bos gw sempat punya niat untuk buka. Ya, kucing-kucingan lah dengan aparat.


Toh, di dunia yang abu-abu ini, dengan uang bisa lebih mudah. Tinggal setor ke "kepala", wasit, ormas, dan pemilik wilayah, sudah dipastikan 99% tempat usaha kami beroperasi.


Namun, niat itu diurungkan. Sebab, bos gw memiliki ipar di pemerintahan dan besan calon dewan 2029.


Tentu, mereka sudah memberi sinyal agar bos gw sementara mengerem. Bos gw yang gw tahu dulunya bandit tanpa ampun yang biasa membunuh orang tanpa berkedip layaknya Cao Cao dalam Sam Kok, ternyata masih punya liangsim.


Bos pun benar-benar tutup total usahanya. Sebab, jika memaksa buka yang berujung diketahui publik hingga viral, bakal membuat susah ipar dan besannya.


H-5 Ramadan sebelum pengumuman resmi pemerintah, bos memberi seluruh karyawannya uang saku yang dianggap cukup untuk pengganti libur. 


Nominalnya setara UMR.


Sayangnya, kami yang biasa kerja di dunia malam, sudah terlena mendapatkan uang melimpah dengan mudah. Alhasil, uang saku dari bos justru banyak yang sudah habis saat awal Ramadan.


Termasuk, gw yang biasa mengandalkan tip dari tamu. Khususnya, saat raja-raja kecil datang.


He he he...


Nah, seperti yang gw utarain di awal, ga semua karyawan beruntung kayak gw yang punya hubungan dengan raja-raja kecil itu.


Alhasil, mereka lintang pukang dalam menyambut Ramadan 1447 H ini. Sebisa mungkin beberapa kali gw bantu mereka dengan membelikan makanan untuk sahur atau buka.


Atau, ada yang anaknya nangis minta baju lebaran. Kalo harganya masih masuk akal, gw bantu belikan online.


Sedihnya, karena gw dan beberapa teman yang beruntung ga bisa terus-terusan kasih mereka. Maklum, kami terkendala keterbatasan dana.


Alhasil, beberapa ada yang kembali nyebur. Padahal, gw dan mereka sebelumnya udah lama kering.


Baik itu "jualan langsung", via agen, atau aplikasi BO.


Sedih sih. 


Namun, ya mau gimana lagi. Gw memahami tindakan mereka.


Toh, orang yang hanyut di sungai akan meraih apa saja benda yang lewat di depannya. Jangankan batang pohon atau dahan, bahkan rumput pun bakal dipegangnya.


Sebenarnya, masih banyak yang mau gw ceritain. Hanya, karena satu dan hal lain, gw sudahi cukup sampai di sini.


Mungkin, jika situasi sudah kondusif, gw bakal ceritera panjang lebar. Termasuk, tentang raja-raja kecil yang royal dan menggemaskan itu.


Selamat Idul Fitri 1447 H.

Salam dari kami, kelompok marjinal yang kerap terlupakan.***



*       *       *


- Jakarta, 16 Maret 2026





Jumat, 13 Maret 2026

Mengetuk Pintu Langit


POLA macet di Jakarta dan mayoritas kota Indonesia lainnya kemungkinan berubah saat Ramadan. Pada hari-hari biasa, jalanan padat sejak pukul 16.00 WIB hingga 20.00 WIB.


Sementara, pada Ramadan ada pergeseran waktu. Demikian catatan saya sebagai ojek online (ojol) saat menjelajah di empat kotamadya ibu kota, minus Jakarta Timur.


Kemacetan berlangsung sejak pukul 15 00 WIB. Puncaknya, pada pukul 17.00 WIB hingga jelang maghrib dengan aktivitas warga yang ingin pulang cepat untuk buka di rumah, beli takjil, ngabuburit, hingga reuni buka bersama (bukber).


Nah, usai buka puasa, justru jalanan lenggang. Baik itu Sudirman, Daan Mogot, Thamrin, Gatot Subroto, dan jalan raya lainnya minus tol yang tentu saya tidak catat.


Biasanya, saat itu warga sudah sampai di rumah atau tempat bukber. Dilanjutkan tarawih berjamaah.


Setelah pukul 20.00 WIB, macet kembali. Jalanan pun merayap lagi hingga pukul 23.00 WIB sepanjang Ramadan.



*       *       *


USAI mengantar penumpang di Stasiun Cawang atas, tiba-tiba sepeda motor saya agak berat pas turunan MT. Haryono. Saya pun menepikan si kuda besi adalan sehari-hari ini.


Ternyata, ban bocor. Ada paku ukuran sedang yang menancap.


Untungnya tubeless. Jadi, saya masih bisa mengendarai hingga ke tambal ban terdekat.


Beda lagi kalo pakai ban dalam. Jika bocor ya harus langsung ditambal.


Saat lagi mencet ban, ada sedan mewah asal Jepang yang merupakan sub brand untuk pasar Amerika Serikat (AS). Mobil tersebut berhenti di samping saya yang memang kebetulan lenggang karena baru jam berbuka puasa.


Seorang pria muda sekitar usia 30 tipis-tipis keluar. Saya yang baru saja memencet ban langsung berdiri.


Kirain saya, pria ini mau tanya alamat. Di pintu samping keluar wanita yang kemungkinan istrinya diikuti pintu belakang dengan anak perempuan.


"Kenapa bro, motornya?" kata pria itu mengawali percakapan dengan ramah.


"Biasa mas, bocor," saya menjelaskan.


"Wah itu ada pakunya ya," tuturnya ikutan jongkok.


"Iya, untung paku biasa. Nancap masih bisa jalan, kalo paku jari-jari payung yang dalamnya berongga, bisa abis ban."


"Ada tambal ban di sini?"


"Banyak mas. Ini masih aman."


"Bro udah buka puasa?"


"Udah mas. Terima kasih."


Pria itu kemudian seperti kasih kode ke anak perempuannya yang membawa bungkusan besar makanan cepat saji.


"Oom, ini buat buka puasa bareng keluarga Oom?" Anak yang kemungkinan masih TK atau SD ini menyodorkan bungkusan plastik besar berwarna putih itu dengan ramah.


"Terima kasih dik, Om udah makan. Ini mau lanjut lagi," saya menolak dengan halus.


Anak tersebut kembali melihat ayahnya. Ga lama mengangguk.


"Oom ga apa-apa, ini buat keluarga Oom juga di rumah. Tadi kami beli banyak."


"Iya bro, tadi kita udah makan di tempat. Masih ada beberapa bungkus. Ambil aja buat keluarga di rumah ya."


"Bener mas, ini saya juga baru beli pas abis maghrib," saya memotong.


Saya pun membuka jok motor yang berisi bungkusan gorengan dan kolak biji salak yang saya beli usai buka. Saya memang punya kebiasaan beli takjil sesudah maghrib ke pedagang yang dagangannya masih banyak atau sepi.


Ya, untuk ikut melariskan dagangan mereka. Sumpah, kita beli takjil ke pedagang yang sepi atau yang masih banyak saat maghrib lewat itu feelnya beda dibanding saat kita beli ke pedagang yang ramai atau laku sebelum maghrib.


Sebab, pedagang akan melayani dengan sangat khidmat saat kita beli di dagangan yang sepi atau usai maghrib. Ini udah saya lakuin dalam beberapa tahun terakhir.


Secara, ibu saya dulu dagang takjil yang bahkan pernah ga habis hingga tarawih yang rahasianya baru terbongkar usai tidak jualan lagi. Jadi, saya berusaha untuk ikut melariskan dagangan yang sepi atau masih banyak seusai maghrib.


Artikel terkait: Belilah Kolak dan Cemilan Buka Puasa di Pedagang yang Sepi (https://www.roelly87.com/2024/03/belilah-kolak-dan-cemilan-buka-puasa-di.html)


"Udah bro, ga apa-apa. Anak saya tadi puasa full, jadi minta bukber di luar. Nah, kebetulan kami beli banyak. Mubazir kalo ga dimakan," pria itu melanjutkan.


Karena ga enak untuk menolak pemberian tulusnya, saya pun menerima. Apalagi, bocah perempuan itu megangnya agak berat karena bungkusan warna putih isinya terlihat beberapa nasi, ayam, dan minuman cup.


"Terima kasih ya dik," kata saya menyambut uluran bocah tersebut.


"Sama-sama Oomnya."


"Kuat dik puasanya? Udah berapa hari full?"


Bocah itu menghitung jemari tangannya. Tingkahnya sungguh lucu.


"Delapan hari om. Adiknya full kalo libur sekolah aja. Kalo masuk, setengah hari. Namun, beberapa kali dipaksain sendiri sampe kuat," sang istri menimpali dengan semringah.


"Iya Oom. Delapan hari," bocah itu memperlihatkan angka delapan lewat jemari pada kedua tangannya.


"Ih keren. Masih kecil udah banyak full. Mantul ya dik," kata saya tersenyum. 


Saya ga maksud memuji. Namun, seusianya udah puasa full seharian itu bagus. 


Sebab, saat saya sepantaran bocah itu dulu, pada dekade 90-an, saya aja sering bolong puasanya.


Ha... Ha... Ha...


"Iya oom. Terima kasih ya," kata sang bocah sambil menggamit adiknya -kemungkinan balita- yang ikut turun dari mobil.


"Terima kasih ya dik. Terima kasih ya mas dan ka," kata saya menjura sambil bersiap menaruh bungkusan itu ke dashboard motor.


"Iya mas. Hati-hati di jalan," kata sang pria dan istrinya kompak. Sementara, bocah perempuan dan adiknya turut 'dadah' di balik pintu belakang dengan jendela yang dibuka seperempat.


Sedan itu berlalu secara perlahan. Saya pun siap menuju tambal ban.


Namun, saya merasa ada yang aneh.


Ketika mengecek ban dan sekitar motor tidak ada yang janggal. Begitu juga dengan area sekitar yang tidak ada ketinggalan sesuatu dari keluarga tersebut.


Ternyata...


Saat pandangan saya tertuju ke plastik, di bawahnya ada amplop dengan selotip yang nempel. 


Hah?


Refleks, saya ambil langsung amplop itu. Khawatir ketinggalan punya keluarga tersebut.


Hanya, saya tertegun.


Di depannya ada stiker bertulisan yang seperti sudah diprint.


"Selamat berbuka puasa ya bro/sis ojol. Ini sedikit dari kami untuk bro/sis ojol dan keluarga. Salam hangat."


Saya raba amplopnya. Pas dibuka ternyata ada wajah Dwitunggal hingga lima lembar.


Ebuset.


Seketika, saya mau kejar keluarga tersebut untuk mengembalikannya. Namun, mobilnya sudah tidak terlihat.


Entah mereka muter balik di samping Polsek Jatinegara, arah Kalimalang, atau masuk tol. 


Jelas, saya ga bisa mengejarnya.


Yang pasti, saya memang berniat mengembalikan uang ini. Serius.


Saya bukannya menolak rezeki. Saya terbuka untuk menerima pemberian orang lain.


Entah itu makanan atau sembako saat ramadan atau hari biasa. 


Memang, saya memegang teguh adagium, "Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah."


Namun, sebagai manusia yang hidup di jalan, saya harus fleksibel. 


Khususnya, saat menjalankan pekerjaan ojol. Setiap hari pasti ada yang memberi tip.


Tentu, saya ga bisa nolak. Secara, tip itu kan tanda kepuasan customer atas pelayanan ojol.


Hal sama berlaku jika saya memesan ojol atau beli makanan. Sudah pasti saya beri tip untuk rekan seperjuangan.


Apalagi, jika tipnya dari customer itu via nontunai. Kan saya ga bisa mengembalikan ke penumpang yang sudah naik kereta, bis, atau sampai rumah.


Jadi, saya harus adaptif. 


Yang utama, pantang bagi saya untuk minta-minta.


Di luar tip penumpang, saya juga sering dikasih makanan atau sembako dari orang lewat. Tentu, saya ga enak hati jika sampai menolak pemberian mereka.


Toh, mereka niat berbagi. Tanpa kamera atau video yang didokumentasikan.


Artikel terkait: Terima Kasih, Orang Baik (3) (https://www.roelly87.com/2024/03/terima-kasih-orang-baik-3.html)


Namun, selain pemberian pria tadi yang sudah terlanjur pergi, saya sudah tiga kali dikasih uang. 


Ya, tiga kali.


Dua diantaranya, saya tolak langsung dengan sopan.


Bukan bermaksud sok kaya, gengsi, atau apa. Namun, bagaimanapun saya ojol.


Saya kerja.


Saya harus jaga marwah profesi ini.


Dua pemberian uang itu -di Roxy dan Gunawarman- saya tolak secara halus.


Sementara, satunya di Pluit, saya terima. Dengan penjelasan sang pemberi yang masuk akal.


Sebab, karena satu hal mereka bernazar. Jika ***nya sudah *** akan menyisihkan rezeki untuk dibagi-bagi ke sekian orang yang ditemui langsung sebagai wujud syukur.


Kebetulan, saya ga sengaja ketemu. Kendati, saya udah nolak beberapa kali.


Namun, mendengar penjelasan kedua pemberi itu yang masuk akal, akhirnya saya pun luluh.


Pasalnya, mereka sudah berusaha, berikhtiar, dan berdoa. Ketika segala upaya mengetuk pintu langit terwujud, mereka pun langsung menunaikan nazarnya.


Saya terharu saat itu. Betapa perjuangan mereka bertahun-tahun untuk menanti kehadiran sang buah hati akhirnya kesampaian.


Alhasil, saya pun menerima pemberian tulus dari mereka. Saling mendoakan yang terbaik.***


*       *       *

- Jakarta, 13 Maret 2026


*       *       *


Senin, 09 Maret 2026

Orderan Hemat, Jemput Jauh, dan Alasan Ojol Cancel Penumpang

Orderan Hemat, Jemput Jauh, dan Alasan Ojol Cancel Penumpang


...


MENJELANG waktu berbuka puasa merupakan momen yang penuh warna. Khususnya bagi ojek online (ojol) yang bergelut di jalanan setiap harinya.


Apalagi, Ramadan tahun ini bertepatan dengan musim hujan. Alhasil, tiap sore, ibu kota pun basah kuyup diguyur air yang turun dari langit.


Bagi ojol, hujan punya dua sisi. Pertama, jelas gacor alias gampang cari orderan. 


Sisi lainnya, jemput terlalu jauh. Apalagi, jika hujan menjelang maghrib yang bertepatan dengan jam pulang kerja karyawan dan yang ingin buka bersama (bukber), ngabuburit, atau beli takjil.


Bagi penumpang? Hujan saat sore plus suasana Ramadan ini untuk mendapatkan ojol jadi cobaan yang dicobain.


Baik itu untuk pesan orderan penumpang, kirim paket, makanan, atau jastip. 


*       *       *


"MAS, kenapa sih dari tadi susah dapat ojol? Saya udah setengah jam lebih ga dapat-dapat," ujar penumpang yang saya jemput di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, menuju stasiun moda transportasi berbasis rel.


Saat itu, jalanan yang saya lewati benar-benar macet sejak siang. Mulai dari Jalan Daan Mogot, Tomang, Thamrin, Sudirman, Satrio, hingga Rasuna Said.


"Saya udah pake empat aplikasi. Go***, Gr**, Max**, dan Indriv**. Ga ada yang dapat," pelanggan itu melanjutkan. "Malah banyak dicancel duo ijo dengan alasan jemput kejauhan dan pakai layanan hemat atau voucher. Sampe pasrah saya mau ke stasiun."


Saya mendengarkan dengan khidmat. Enggan memotong hingga penumpang itu benar-benar selesai bicaranya.


"Emang ini gara-gara saya pake hemat ya? Jadi dicancel terus sama ojolnya?" katanya lagi.


"Lah, ini saya lagi bawa Anda. Ini layanan hemat kan ga saya cancel?"


"Iya, mas. Ini saya baru dapat setelah belasan kali dicancel di duo ijo. Kalo dua aplikasi lainnya malah muter-muter terus."


"Saya kan ga cancel. Mau itu layanan hemat, reguler (biasa), atau penjemputan prioritas yang lebih mahal, saya tetap bawa. Yang penting jadi uang. Toh, keluarga saya ga pernah nanya, tiap hari saya bawa penumpang yang pakai layanan hemat itu berapa. Mereka hanya nanya, gimana hari ini ngojol, 'ramai apa nggak?' Kalo ramai, ya alhamdulillah. Kalo sepi yang dijalanin aja," saya menjelaskan.


Penumpang itu terkekeh mendengar jawaban saya. Situasi tampak likat baginya.


Usai seperminuman teh, customer itu melanjutkan.


"Iya, saya baca di medsos, katanya ojol Go*** dan Gr** pada ga mau bawa orderan hemat. Padahal kan itu emang udah disediakan dari aplikasinya untuk penumpang," pelanggan yang usianya berkisar seperempat abad tipis-tipis ini menuturkan. "Emang salah ya mas, kalo kami sebagai penumpang pilih orderan hemat?"


Pertanyaan itu merupakan yang ke sekian kali ditujukan penumpang kepada saya. Jawaban saya, tetap template.


"Ga salah dong ka. Hak customer untuk pilih layanan hemat yang memang disediakan aplikasi."


"Terus, kenapa banyak ojol yang cancel. Bahkan, saya dengar di medsos, katanya ojol jijik kalo dapat orderan hemat."


"Nah, ini buktinya si kakak pesan hemat. Saya tetap ambil kan?"


"Iya sih, kadang ada yang kayak mas, mau ambil orderan hemat. Namun, lebih banyak lagi yang cancel. Bahkan nolaknya ketus banget."


"No comment, dah kalo itu. Kalo saya sih nilai, hak setiap masing-masing ojol untuk mau ambil atau nolak orderan hemat. Bebas aja. Kami ini kan mitra. Bukan karyawan aplikasi. Buktinya, setiap hari saya dapat 10-20 orderan penumpang, mayoritas hemat. Biasa aja. Mau itu hemat atau reguler bahkan yang mahal pun. Yang penting, saya pulang bawa uang."


"Serius mas? Jawaban ini ga ada 'gula-gulanya' kan?"


Saya pun menepikan sepeda motor di jalan yang populer dijuluki "Orchard-nya Jakarta". Sambil mengambil hp di holder untuk memperlihatkan riwayat orderan di aplikasi kepada penumpang.


"Nih, lihat di aplikasi. Bukan screenshot ya. Hari ini saya udah dapat 19 order dari start setelah imsak. Tuh, mayoritas hemat ada 15 termasuk yang berjalan saat ini. Kan ada logonya, di aplikasi antara orderan hemat, reguler, prioritas, atau instan."


"Iya ya. Berarti mas ga masalah ambil orderan hemat?"


"Yang masalah itu kalo dapat penumpang ga bayar. Alias kabur."


"Serius?"


"Ya, udah beberapa kali. Baik layanan penumpang, makanan, atau jastip. Ya, risiko pekerjaan."


"Gimana ceritanya mas?"


"Next ajalah. Mending kita fokus pada pembahasan hemat ini."


"Ok..."


*       *       *


SEBAGAI ojol, saya beberapa kali ditinggal kabur penumpang yang ga bayar. Ya, mau gimana lagi, namanya kerja pasti ada risiko.


Anggap aja, lagi kurang beruntung. Toh, saya sering dapat tip dari penumpang dengan nominal yang wah.


Jadi, saya anggap subsidi silang. Penumpang A kabur ga bayar. Ga lama, ada customer B yang kasih tip berkat pelayanan yang memuaskan. 


Nanti pada artikel selanjutnya saya ceritakan.


"Mas, mau tahu ga alasan kenapa saya dan penumpang lainnya banyak pake hemat?" ujarnya lagi.


"Ga. Itu hak penumpang. Bebas aja."


"Kok gitu?"


"Lah, mau jawaban gimana? Mau saya ngeluh gitu karena ongkos hemat lebih murah? No! Itu penggiringan opini."


"He... He..."


"Gini ya. Saya kan dulu pernah kerja sebelum jadi ojol. Jadi, saya paham, untuk ongkos transportasi seperti ojol, taksi online (taksol), taksi konvensional, TJ, KRL, MRT, hingga LRT itu maksimal 30 persen dari pengeluaran. Sisanya, untuk bayar cicilan, baik rumah, paylater, kebutuhan sehari-hari, listrik, kuota, asuransi, dan sebagainya."


Dari kaca spion, tampak sang pelanggan  mengangguk. 


"Saya sering dapat penumpang yang tinggal di Cikarang, Bekasi, kerjanya di utara Jakarta. Sehari itu mereka untuk pp (pergi-pulang) transportasi bisa 100 ribu. Mulai dari naik ojol dari rumah ke stasiun, KRL, lanjut TJ, terus dari halte TJ pesan ojol ke tempat kerja dan sebaliknya saat pulang. Bisa dibayangkan dikali 26 hari kerja."


Obrolan terhenti karena banyak kaum primata yang menyalakan petasan di tengah jalan. Manusia-manusia tolol ini memang meresahkan. 


Sampah masyarakat ini ga tahu situasi, jalanan lagi ramai eh malah masang petasan yang membahayakan pengendara dan orang lewat. Giliran diciduk Polkis, ntar playing victim dengan menyebut tradisi Ramadan.


"Jadi, kalo penumpang pake hemat itu wajar. Agar mereka bisa menekan pengeluaran dari naik ojol. Sama seperti waktu itu ada penumpang cerita, naik LRT nunggu hingga pukul 20.00 WIB demi ongkos di luar jam sibuk Rp 10 ribu. Sah-sah aja. Ekonomi lagi sulit, alhasil kita harus berhitung dengan cermat."


"Wah, mas ini bijak ya. "


"Ga juga. Tapi, sebagai ojol, saya harus adaptif. Toh, kita lihat sesuatu harus dua sisi."


"Nah itu mas. Nih, tahu ga, dari kantor saya ke stasiun itu saya pake hemat bayar 16 ribu. Kalo yang reguler 35 ribu. Terus, kalo mau dapat ojol yang lebih cepat harus nambah 4 ribu. 35 + 4 = 39 ribu. Jauh banget kan bedanya sama hemat?"


Saya mengiyakan. Memang, di aplikasi customer tertera seperti itu. Untuk jam sibuk dan hujan, tarif reguler ada kenaikan harga. Fluktuasi. Tergantung ramainya orderan. 


Di sisi lain, untuk layanan hemat, argonya tidak berubah.


"Ketimbang bayar uang 35 ribu atau 39 ribu, atuh mending saya keluar 16 ribu yang hemat. Toh, biasanya saya selalu kasih tip untuk ojol," ucap sang penumpang.


"Bagi saya dan mungkin penumpang hemat lainnya, lebih baik kasih tip ke ojolnya 5-10 ribu ketimbang layanan reguler yang tarifnya dua kali lipat. Saya salah ga mas?"


Saya mengangguk.


"Ga dong. Kan udah dijelasin dari awal. Hak penumpang untuk pilih layanan, baik hemat, reguler, atau prioritas. Bahkan, ga harus kasih tip juga. Ntar penumpang merasa itu kewajiban yang malah jadi memberatkan," kata saya.


"Terkait ojol yang cancel, itu akibat jemputnya jauh. Misal, tadi saya jemput Anda aja 1.7 km. Posisi saya saat itu di Mampang. Sementara, Anda di Mega Kuningan. Tahu sendiri kan, macetnya Tendean kalo sore? Tapi, tetap saya ambil. Masih masuk hitungannya," lanjut saya.


"Beda lagi jika jaraknya 2 km lebih. Otomatis saya cancel. Bahkan, kalo sore gini jam pulang kerja, jemputnya bisa 3 hingga 5 km. Tanpa drama, langsung saya cancel. Terlalu jauh. 


Kecuali kalo pelajar, mahasiswa, atau penyandang disabilitas. Saya punya pertimbangan khusus untuk tetap ambil.


Itu jadi alasan ojol cancel. Secara, jemput itu ga dikenakan tarif. Jadi, kalo jemputnya jauh, wajar jika ojol cancel karena rugi bensin dan macet. Apalagi kalo jarak jemputnya 5 km dan ongkos hanya 10 ribu? Saya pun ga mau. 


Kami sebagai ojol kan kerja untuk nyari uang, bukan nyari berkah, pahala, atau tiket ke surga. Jadi, mohon kepada Anda dan customer lain untuk sama-sama dipahami. Bahwa, ojol cancel orderan bukan berarti malas atau akibat customer pakai layanan hemat. Melainkan karena jemputnya terlalu jauh yang jaraknya ga masuk akal."


Setelah melewati jalanan yang dipenuhi sampah masyarakat, alias pak ogah di kedua sisi dan juru parkir liar yang bikin macet, kami pun sampai.


"Terima kasih ya mas atas informasi yang mendalam. Sekarang saya jadi paham alasan dicancel ojol akibat jemputnya terlalu jauh," ucap penumpang sambil turun dari motor.


"Terima kasih kembali. Sama-sama ka. Oh ya, kalo lagi mendesak atau penting, penumpang juga bisa datangin ojol yang nongkrong atau lewat dengan masukin kode untuk langsung berangkat."


"Oh, seperti di stasiun ya?"


"Ya, ada Go*** Instan dan Gr** Now. Nanti customer kasih kode biar diinput ojolnya. Hanya, harga memang sedikit lebih mahal dibanding tarif biasa apalagi hemat. Namun, ini sangat berguna jika kita sedang buru-buru ke acara atau keadaan mendesak."


Penumpang itu pun mengangguk usai memberikan helm untuk masuk. Suasana di jalan jelang maghrib pun kian ramai.


Selain klakson motor, mobil, dan bus, juga kata-kata mutiara dari kebon binatang yang keluar antarpengendara akibat ada yang lawan arah serta berhenti tengah jalan. Ah, sungguh sore yang syahdu...



*       *       *


- Jakarta, 9 Maret 2026





Senin, 20 Oktober 2025

Sembilu, Ella, dan Pamor Musisi Malaysia

Sembilu, Ella, dan Pamor Musisi Malaysia

Ella saat konser beberapa waktu lalu
(Foto: ChannelNewsAsia)


CUACA di Indonesia, khususnya Jakarta memang anomali. Saat puncak kemarau pada Juli-Agustus, kerap turun hujan lebat. 

Bahkan, beberapa daerah sampai kebanjiran. Eh giliran Oktober ini yang sudah musim hujan, malah panasnya minta ampun.

Memang sih, sempat beberapa kali hujan sepanjang bulan ini. Namun, intensitasnya tergolong rendah.

Mayoritas rinai saja. Bahkan, malah bikin gerah.

Itu yang saya alami. Usai rinai pagi tadi, siangnya malah kembali terik.

Ditambah lagi macet yang kian parah akibat parkir liar, pak ogah, dan galian dimana-mana. Alhasil, saya pun berusaha meredakannya dengan banyak minum air putih.

Plus, air tebu murni yang dibeli di Pasar Tanah Abang. Langsung diperas dari penggilingan dengan dimasukkan ke gelas dan ditambah sedikit es batu.

Hmm... Yummi!

Ya, sekali-sekali memanjakan tenggorokan. Asal jangan keseringan, secara lagi musim batuk.

"Mas, ini ada yang mau ngojek."

Terdengar teriakan dari belakang saya dekat pertokoan. Saya pun menoleh.

Yang manggil, pria, masih muda yang bisa jadi warga setempat. Di sampingnya, masih muda juga, mungkin seperlima abad tipis-tipis dengan bawa beberapa bungkusan.

"Maaf mas, saya ojol (ojek online). Itu aja di depan ada opang (ojek pangkalan)," kata saya menolak halus.

Bukan maksud menolak rezeki. Faktanya, ga jauh dari lokasi kami berderet rekan opang.

Saya ga mau ambil rezeki orang lain. Secara, namanya ojol dapat orderan via aplikasi.

Kendati, sering juga saya dapat penumpang secara offline alias tanpa aplikasi. Namun, itu situasional. Alias, hanya berlaku saat aplikasi error, hujan lebat atau force majeur seperti ada demo. 

"Ambil aja bro. Ga apa-apa," ujar salah satu rekan opang berteriak sambil mengacungkan jempol.

Saya pun mengangguk karena sudah dipersilakan mereka. 

"Tadinya rekan saya mesan aplikasi, cuma udah 30 menit ga dapat-dapat. Minta ke opang katanya kejauhan. Ini ga apa-apa bawa gembolan ya?" pria itu menjelaskan.

"Kemana mas?"

"Serpong."

"Ebuset. Jauh bener mas."

"Iya, mau naik kereta ribet bawa gembolan. Pesan ojol dan taksol dicancel terus. Taksi konvensional ga ada yang lewat. Maklum, kawasan macet. Mau ya, nanti dilebihkan."

"Oke deh."

"Makasih ya mas. Pelan-pelan aja bawa rekan saya," katanya sambil menyelipkan sesuatu ke dashboard motor.

Pas saya lihat, masing-masing selembar merah dan biru. Wow...

Saya mau bilang kebanyakan dan ingin kembaliin, tapi dia memperlihatkan gestur menolak sambil berbincang dengan penumpang yang hendak naik.

Saya pun langsung semangat. Secara, jika dengan aplikasi, tarifnya ga sampai setengah.

"Misi ya, mas," tutur penumpang saya saat naik di jok dan menitipkan dua bungkusannya di cantelan depan motor.

"Oke. Kita otw. Helmnya tolong dikunci ya. Mohon jangan main hp, takut jambret," saya mengucapkan kalimat template yang sudah diulang hingga ribuan kali kepada penumpang.

Maklum, sebagai ojol yang bergerak di bidang jasa, saya harus ramah dan memastikan 3K kepada penumpang. Yaitu, keselamatan, keamanan, dan kenyamanan.


*         *         *


SEBELUM berangkat, saya cek Google Maps jaraknya berkisar 30-an km. Ini mengingat ada tiga rute dengan kemacetan dan estimasi waktu tempuh yang hampir sama.

Yaitu, lewat Jalan Raya Daan Mogot, Joglo, atau Bintaro. Saya ambil opsi pertama karena masih siang, perkiraan lancar.

Beda cerita kalo sore atau jam pulang kerja, beuh Daan Mogot itu menguji nyali sejak Citraland hingga Kalideres. Bagi saya, macetnya itu sejajar dengan Simatupang, Cacing (Cakung-Cilincing), Kalimalang, dan Kapuk Raya.

Hingga Poris, Tangerang, suasana masih anteng. Saya fokus mengendarai motor dengan berbinar-binar karena sudah mengantungi "pek go".

Yeeei, manusia mana yang ga ijo lihat duit. Saya pun gitu, asal halal dan ga merugikan orang lain.


...


Sementara, penumpang di belakang saya turut bersenandung kecil dengan headset di telinganya. Ga apa-apalah, yang penting jangan dimainin hpnya, rawan jambret.

Sayup-sayup saya dengar lagu lawas dari penyanyi wanita asal Malaysia. Kayaknya, ini penumpang fasih bener nyanyinya.


"Tak dapat ku bayangkan

Tuturmu bagai sembilu

Mencakar hati ini

Tanpa simpati di hati..."


Ih... Keren, dalam hati saya. Cengkoknya khas melayu banget.

"Wow... Sembilu by Ella. Mantap betul," saya memuji. Meski suaranya pelan, tapi tetap terdengar karena jalanan siang itu cukup lenggang tanpa klakson dari kendaraan lain.

"Wah, terima kasih. Anda tahu juga kah ini yang lantunkan aslinya Ella?"

"Tahu dong. Ella kan Queen of Rock Malaysia," jawab saya.

"Nah, cakap itu. Betul," dia melanjutkan. "Berarti Anda paham lagu-lagu Malaysia?"

Mendengar pertanyaan itu, saya pun mengangguk. Maklum, Indonesia dan Malaysia kan tetangga dekat. 

Masih serumpun. Banyak lagu dari jiran, baik penyanyi solo wanita, pria, atau band yang digemari masyarakat Indonesia. 

Termasuk saya yang sejak pertengahan dekade 1990, kerap mendengarnya via kaset, CD, atau VCD.

Beberapa di antaranya pernah saya ulas 13 tahun silam, https://www.kompasiana.com/roelly87/5519b83a8133118b7a9de0c7/lima-musisi-legendaris-malaysia?page=all.

"Ella itu masih eksis hingga kini. Suaranya pun bagus kali saat konser kemarin," ucap penumpang itu.

"Ya, padahal usianya sudah kepala lima..." jawab saya.

"Hampir kepala enam. Tepatnya, 60 tahun pada 31 Juli mendatang," dia memotong.

"Iya."

"Selain Ella, Anda suka siapa saja dari musisi asal kami?"

"Kami?"

"Iya, maksudnya dari Malaysia."

"Oh... Anda dari Malaysia?"

"Iya, dari Perak, sebelahan dengan kampong halaman Ella di Penang."

"Maaf, kirain saya, Anda dari Indonesia."

"Ga apa-apa. Memang orang kita satu sama lain hampir mirip."

"Iya, saya pikir, Anda habis belanja di Pasar Tanah Abang."

"Ga. Ini oleh-oleh untuk keluarga. Namun dibawa via ekspedisi. Saya ke sini karena libur kuliah. Pekan depan balik ke KL (Kuala Lumpur)."

"Oh... Ok."

"Anda pernah ke Malaysia?"

"Sebentar, ya. KL dua kali dan Sarawak. Namun, aslinya di ibu kota kalian hanya transit di pesawat menuju Schiphol sebelum lanjut ke Heathrow..."

"Eh, Schiphol di Amsterdam, Belanda. Lalu, Heathrow di London, UK?" dia memotong lagi.

"Iya."

"Ih... Sedapnya!"

"Itu saat saya nonton final Liga Champions 2016/17 di Cardiff, Wales, Britania Raya. Ga sampe keluar bandara. Hanya transit sebentar. Namun, sempat menghirup udara jiran. He he he."

"Asyiknya." 

Ya, delapan tahun silam, saya berkesempatan nonton final Liga Champions antara Juventus versus Real Madrid yang berujung air mata. 

Bisa dipahami mengingat sudah jauh-jauh ke Negeri David Beckham, plus perjuangan menang lomba blog, eh sampe sana malah berujung getir. 

Maklum, klub favorit saya, Juventus harus takluk 1-4 dari Madrid. (Artikel terkait: https://www.roelly87.com/2017/06/saksi-juventus-di-final-liga-champions.html)

"Satu lagi, di Tebedu, Sarawak, saat saya bersama rekan-rekan bloger dan rombongan dari Kementerian Sekretariat Kabinet meninjau pos perbatasan. Kami sempat singgah sebentar di pasar kawasan Tebedu," saya menjelaskan.

(Artikel terkait: https://www.roelly87.com/2018/04/plbn-entikong-perbatasan-indonesia.html)

"Setkab yang sekarang viral, Letkol Teddy, ya?" 

"Bukan. Dulu masih Pramono (Anung). Sejak 2024 baru Letkol Teddy Wijaya."

"Oh."

"Pramono sekarang Gubernur Jakarta berpasangan dengan Rano Karno, sebagai wakilnya."

"Si Doel?"

"Yoi. Itu tahu."

"Di negeri kami, serial itu populer. Apalagi, di season awal ada Hans sebagai Adam Jagwani."

"Oh ya, adiknya Sarah itu kan asli Malaysia."

"Iya, dia dari Sarawak."


*         *         *


MEMASUKI Tangerang Selatan, jalanan mulai macet. Maklum, di kawasan ini ada beberapa perumahan elite yang jadi penyangga kota tersebut.

Jalannya pun cukup mulus berkat peran swasta. Beda jauh jika kita ke kawasan Ciputat atau Pamulang yang seperti anak tiri akibat pemerintahnya kurang tanggap.

"Sudah lama paham musik Malaysia?" tutur penumpang itu usai saya mengecek ban belakang yang kayak kempes atau bocor halus.

"Sejak kecil. Sekitar pertengahan 90-an."

"Wah, saya belum lahir. Udah lama kali."

"Dari dulu sampe sekarang, lagu-lagu pop atau rock Malaysia tetap diminati masyarakat Indonesia. Begitu pun sebaliknya. 

Untuk penyanyi wanita, saya suka dengar Ella, Siti Nurhaliza, dan Sheila Majid. Anita Sarawak juga bisa dimasukin meski lahir di Singapura tapi sekarang kan tinggal di KL.

Kalo band, ada Search, Exist, Sting, Iklim, Spoon, Wings, dan banyak lagi.

Jangan lupakan P. Ramlee, legenda termahsyur Malaysia. Di Indonesia, lagu-lagunya sering diputar. Termasuk, Madu Tiga yang dibawakan ulang Ahmad Dhani."


...

"Tak disangka, ternyata, masyarakat Indonesia banyak juga yang paham musisi asal negeri kami ya," ucap penumpang itu.

"Iya. Musik kan universal. Contoh, lagu Isabella..."

Bersambung...


*         *         *

- Jakarta, 20 Oktober 2025


*         *         *




*         *         *



*         *         *