TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol

Jumat, 10 April 2026

Yuk, Ikut Majukan UMKM lewat Artikel di Blog

Yuk, Ikut Majukan UMKM lewat Artikel di Blog

Saya ikut praktek mengisi kulit telur di
pinggir bingkai 
(Foto: Dok.Pribadi/@roelly87)



LEBIH dulu mana, telur atau ayam?


Demikian anekdot sejak zaman baheula hingga kini yang masih jadi tanda tanya. 


Kalo ditanyakan ke saya, jelas. Jawabannya simpel: Ga peduli, siapa lebih dulu, yang jelas baik telur atau ayam merupakan menu favorit saya.


Telur bisa dibuat jadi dadar, ceplok, bulat, pindang, mata sapi, balado, dan lain-lain.


Sementara, ayam bisa digoreng, bakar, panggang, tepungin, geprek, tumbuk, rica-rica, suir, dan sebagainya.


Namun, artikel ini bukan membahas tentang senioritas antara telur dan ayam.  

 

*        *        *


LIMBAH telur jadi karya seni. Wow, keren!


Saya pun berdecak kagum usai mengetahuinya lebih lanjut. Tepatnya, saat menghadiri Halal Bihalal Bersama Pewarta yang diselenggarakan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA), di resto kawasan Cikini, Jakarta Pusat, kemarin (9/4).


Ya, event yang berlangsung Kamis pagi itu dihadiri media, content creator (termasuk bloger seperti saya), Keluarga Besar YDBA, dan Teguh Joko Dwiyono selaku pemilik Wayang Art. Yaitu, UMKM binaan YDBA yang bergerak di bidang kerajinan tangan dengan salah satunya memanfaatkan limbah kulit telur.


Eh serius? Cangkang telur yang bagi masyarakat awam seperti saya tidak berguna justru berhasii dimanfaatkan Teguh sebagai karya yang memiliki komersial tinggi.


"Awalnya, ini ga sengaja," kata Teguh yang penampilannya sekilas mengingatkan saya pada almarhum Gombloh.


"Istri lagi masak nasi goreng. Kan pakai telur. Nah, cangkangnya jatuh. Ga sengaja saya injak. Saat itu, saya pandangi pecahan kulit telurnya kok indah banget. Ada nilai seninya."


Teguh mengingat, kejadiannya pada 1995. Namun, dia ga langsung menjadikannya produk. Butuh proses.


Berlatar seniman, Teguh pun mengakui tidak mudah dalam mengembangkan usahanya. Pria 70 tahun itu terus belajar hingga kini demi memasarkan produknya.


"Saya sempat mengalami krisis, bahkan bangkrut. Untungnya, dibina YDBA. Alhamdulillah, banyak mendapat ilmu yang ditularkan," Teguh, mengungkapkan disela-sela 'praktek' yang kami lakukan langsung dengan kulit telur.


Ya, YDBA memang rutin menggandeng para pelaku usaha di Tanah Air. Termasuk, pada level UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) yang sedang berkembang.


Beberapa sudah saya ulas di blog ini sejak kali perdana kenal YDBA pada 2016 silam. Mulai dari berangkatkan mitra UMKM ke Jepang (https://www.roelly87.com/2017/09/berangkatkan-22-umkm-ke-jepang-ydba.html) hingga mengajak UMKM untuk berpartisipasi di Asian Games 2018.


Kebetulan, saat itu Indonesia jadi tuan rumah. Astra sebagai sponsor utama turut menggandeng berbagai yayasan termasuk YDBA dan mitra UMKM untuk mensukseskan event akbar tersebut (https://www.roelly87.com/2017/12/astra-sponsori-asian-games-2018.html).


Sebagai bloger, dalam satu dekade ini, saya cukup rutin untuk ikut dalam berbagai acara Astra dan YDBA. Terakhir, pekan lalu (https://www.roelly87.com/2026/04/satu-indonesia-awards-2026-dan.html).


Nah, terkait UMKM, dalam halal bihalal itu, YDBA mengajak masyarakat untuk ikut kompetisi. Tepatnya, dalam Apresiasi Yayasan Astra untuk Pewarta 2026 (#AYukPewarta2026).


Temanya menarik: Bersinergi Untuk Masa Depan Lintas Generasi UMKM Indonesia.


Btw, ada enam kategori yang bisa diikuti dengan hadiah jutaan rupiah plus produk UMKM binaan YDBA. Wow!


1. Pemberitaan Foto Terbaik

2. Pemberitaan Artikel Terbaik

3. Reels Terbaik

4. Konten Blog Terbaik

5. Pewarta dengan Pemberitaan Foto Terbanyak

6. Pewarta dengan Pemberitaan Artikel Terbanyak


Kalo saya sih jelas ingin ikut yang konten blog. Maklum, saya kan bloger. 


Kebetulan durasinya cukup panjang. Jadi, saya, Anda, kalian, dan kita semua punya banyak waktu untuk mengumpulkan bahan.


- Periode Kompetisi: 9 April - 30 September

- Penjurian internal YDBA: 1-5 Oktober

- Penjurian Dewan Juri: 12-16 Oktober

- Pengumuman Pemenang: 6 November


Btw, artikel atau konten terkait kontribusi YDBA dalam membina UMKM di Tanah Air. Selain Teguh dengan limbah telur, banyak yang bisa diulas dari mitra UMKM pada daftar ini: https://bit.ly/umkmbinaanYDBA26.


Nah, sebagai epilog, mari kita ramaikan #AYukPewarta2026 dengan mengulas lebih dalam kemajuan para pelaku UMKM di penjuru nusantara yang mendapat binaan dari YDBA!

Berbagi inspirasi dari pelaku UMKM
binaan YDBA kepada media dan bloger



*        *        *


- Jakarta, 10 April 2206

*        *        *


Rabu, 01 April 2026

SATU Indonesia Awards 2026 dan Tantangan Bagi Generasi Muda

 SATU Indonesia Awards 2026 dan Tantangan Bagi Generasi Muda


Kick Off SATU Indonesia Awards 2026
(Foto: Dok.Pribadi/@roelly87)



17 tahun merupakan fase bersejarah bagi setiap insan. Tepatnya, saat manusia beranjak dari remaja menuju dewasa.

Itu mengapa, usia ke-17 jadi titik tolak mayoritas individu dalam menghadapi kerasnya kehidupan.

Di sisi lain, bagi perusahaan, lembaga, yayasan, dan sejenisnya, bisa memasuki usia ke-17 jadi bukti konsistensi. Bahwa, mereka sudah mampu melewati pahit, asam, dan manis kehidupan untuk memasuki fase berikutnya.

Tidak mudah untuk mencapai ke arah sana yang tentu jalannya berliku. Itu yang dilakukan PT. Astra International Tbk yang rutin menyelenggarakan penghargaan untuk putra-putri terbaik bangsa.

Tepatnya, lewat Semangat Astra Untuk (SATU) Indonesia Awards. Ya, tahun ini merupakan edisi ke-17 dengan tajuk: Terhubung dalam Aksi.

Edisi perdana Satu Indonesia Awards berlangsung pada 2010. Sejak saat itu, Astra rutin menyelenggarakan event yang merangsang kreativitas putra-putri terbaik bangsa.

Termasuk, ketika pandemi Covid 19. Menurut saya, itu jadi oase bagi para generasi muda untuk menularkan inspirasinya di tengah keadaan yang terbatas.

Kini, setelah pandemi berlalu dan kehidupan mulai membaik, Astra kembali menantang generasi muda lewat Satu Indonesia Awards 2026.

"Kami terus mendorong setiap inisatif untuk tidak berhenti sekadar di ide saja. (Melainkan) terus dikembangkan dan diimplementasikan secara berkelanjutan. Termasuk, menjangkau masyarakat hingga ke pelosok penjuru," kata Chief of Corporate Affairs Astra Boy Kelana Soebroto saat Kick-off SATU Indonesia Awards 2026 di Menara Astra, Jakarta Pusat, Rabu (1/4).

"Kami percaya, pada akhirnya perubahan yang berkelanjutan lahir dari aksi yang saling terhubung dan diperkuat bersama untuk hari ini dan masa depan Indonesia.”

Tema SATU Indonesia Awards 2026 ini bagi saya sangat menarik. Sebagai ojek online (ojol) yang hobi ngeblog, narasi "Terhubung dalam Aksi" ini merupakan tantangan bagi generasi muda, baik individu maupun kelompok.

Untuk info lebih lengkapnya, bisa dibuka link ini: https://satuindonesiaawards.astra.co.id.


*          *          *


"SUATU kehormatan bagi saya jadi pengamat dan menyaksikan bagaimana langkah kecil yang dibuat anak muda yang sangat peduli untuk melakukan sesuatu yang punya dampak kepada masyarakat sekitar," tutur Dian Sastrowardoyo dalam sambutannya sebagai juri.

Aktris sekaligus pegiat seni ini memang aktif mengamati ribuan peserta SATU Indonesia Awards. Dimulai sejak 2019 ketika jadi juri tamu.

"Mungkin langkah-langkah ini (para peserta) memang awalnya kecil. Namun, ini bisa tumbuh secara signifikan. Bahkan bisa menginspirasi orang lebih banyak lagi untuk melakukan hal yang sama," Dian, menambahkan.

Ya, dalam SATU Indonesia Awards 2026 ini, mendorong para penerima apresiasi untuk berperan sebagai "local champions". Sehingga, inisiatif yang lahir dari para penggerak perubahan dapat memberikan dampak sosial yang lebih luas dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Astra juga memperkuat kolaborasi integrasi antara dua program kontribusi sosial unggulannya, yaitu SATU Indonesia Awards dan Desa Sejahtera Astra. 

Berdasarkan data resmi, hingga kini, SATU Indonesia Awards telah melahirkan 792 generasi muda inspiratif yang berkontribusi di bidang Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan, Kewirausahaan, dan Teknologi. 

Sementara itu, Desa Sejahtera Astra telah membina 1.533 desa yang tersebar di 35 provinsi di Indonesia.

Dalam artikel yang saya tulis tahun lalu (https://www.roelly87.com/2025/03/satu-indonesia-awards-2025-dan-misi.html), yang daftar mencapai 17.708 peserta. Melonjak drastis dari edisi perdana pada 2010 yang berkisar 120 saja.

Tahun ini, turut hadir penerima apresiasi SATU Indonesia Awards 2013 bidang wirausaha, Rizki Dwi Rahmawan. Pria asal Banyumas ini juga membagikan tips bagi calon peserta.

Menurutnya, jika peserta berhasil meraih apresiasi di SATU Indonesia Awards 2026 ini bukan sekadar "menang" saja. Melainkan, jadi langkah awal untuk bisa berkontribusi kepada khalayak ramai.

Itu diungkapkan Rizki yang sukses memberdayakan para penderes. Yaitu penyadap pohon kelapa atau nira. Rizki terjun langsung bersama petani dalam mengolah nira di Desa Kemawi yang kini telah melebarkan pasar sekaligus menciptakan peluang ekonomi bagi warga setempat.

Nah, SATU Indonesia Awards 2026 kini akan memunculkan Rizki-Rizki baru yang bermanfaat bagi sesama.***


*          *          *


- Jakarta, 1 April 2026


 

Rabu, 25 Maret 2026

Menanti CLBK Grup Djarum-PBSI di Polytron Indonesia Open 2026

Menanti CLBK Grup Djarum-PBSI di Polytron Indonesia Open 2026


Ilustrasi ganda putra Mohammad Ahsan/
Kevin Sanjaya Sukamuljo
(Foto: Dokumentasi pribadi/@roelly87)



INDONESIA kehilangan salah satu putra terbaiknya pada 19 Maret lalu. Tepatnya, saat Michael Bambang Hartono meninggal dunia. 


Peraih medali perunggu Asian Games 2018 ini dikenal dengan kecintaannya pada dunia olahraga. Bersama saudaranya, Robert Budi Hartono, merupakan pemilik Grup Djarum.


Korporasi yang dulu identik dengan rokok. Seiring waktu berjalan, Djarum melakukan diversifikasi usaha di berbagai bidang.


Misal, keuangan dengan Bank Central Asia (BCA), media (Kaskus dan Mola), elektronik (Polytron), marketplace (Blibli), dan sebagainya.


Di dunia olahraga, melalui Djarum Foundation (PB Djarum) identik dengan bulu tangkis. Saya, Anda, kalian, dan kita semua pasti tidak asing dengan nama-nama atlet yang mengharumkan Indonesia di kancah dunia ini.


Mulai dari Liem Swie King, Alan Budikusuma, Hariyanto Arbi, Yuni Kartika, Ivana Lie, hingga Kevin Sanjaya Sukamuljo.


Bahkan, 2019 lalu, Hartono Bersaudara ekspansi ke Negeri Piza. Tepatnya, dengan membeli Como 1907.


Dengan tangan dingin mereka, akhirnya klub yang dulu berkubang di kasta terbawah sepak bola Italia itu menjelma jadi raksasa. Terbukti, hingga giornata ke-30, Como kokoh di peringkat empat klasemen Serie A 2025/26!


Klub yang dilatih Cesc Fabregas itu sukses mengekor FC Internazionale, AC Milan, dan Napoli. Como juga unggul tiga poin dari Juventus yang tertahan di posisi lima.


Sebagai Juventini garis lembut, saya berasa ironis sih. Raksasa Italia itu bahkan harus rela dikecundangi Como dua kali musim ini. Juve takluk dengan skor 0-2 di kandang sendiri pada 21 Februari lalu dan di markas Como (19/10).


Meski ga rela melihat klub favorit saya jadi badut di hadapan Como, tapi saya tidak terlalu kecewa. Sebab, itu membuktikan Como berada di tangan yang tepat di bawah naungan Djarum.


Saya enggan overproud hanya karena pemilik Como asal Indonesia. Namun, fakta bahwa Como bisa masuk empat besar Serie A dan berpeluang tampil di Eropa musim depan, memang tak terbantahkan.


Ya, selain QRIS, ternyata masih ada yang dibanggakan dari Indonesia di mata dunia.


*         *         *


CINTA Lama Bersemi Kembali alias CLBK. Ya, kisah romantisasi antara dua pihak yang pernah terikat tapi terhalang jurang nan dalam.


Namun, kali ini kita tidak membicarakan tentang ceritera sejoli. Melainkan, antara Djarum dengan Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI).


Ya, sejak pisah akibat kontraknya selesai pada 31 September 2020, pencinta bulu tangkis di Tanah Air merasa seperti "ada yang hilang". 


Termasuk, saya yang turut merasakan heningnya atmosfer turnamen bulu tangkis di Indonesia. Khususnya, yang prestisius seperti Indonesia Open.


(Artikel Terkait: https://www.roelly87.com/2024/06/indonesia-open-2024-sepi-kok-bisa.html)


Nah, menyambut Indonesia Open 2026, Djarum pun turun gunung. Mereka kembali akan mensponsori turnamen elite Super 1000 ini yang setara dengan All England, China Open, dan Malaysia Open.


Tepatnya, lewat anak usaha Polytron. Ya, turnamen yang bakal digelar 2-7 Juni mendatang itu bakal bertajuk Polytron Indonesia Open 2026.


Ini kali perdana Grup Djarum jadi sponsor Indonesia Open sejak pandemi. Untuk 2020 tidak diselenggarakan akibat wabah Covid 19.


Sebelumnya, mereka aktif berkolaborasi dengan PBSI lewat Djarum Indonesia Open pada 2004-2013, BCA (2014-2017), dan Blibli (2018-2019).


Hanya, kerja sama itu buyar sejak akhir 2020. Itu seiring dengan pergantian pengurus baru PBSI.


Entah ada korelasinya atau tidak, sejak saat itu hingga kini, hanya sekali wakil Merah-Putih juara. Tepatnya, saat Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon mengalahkan ganda putra Jepang, Takuro Hoki/Yugo Kobayashi pada Indonesia Open 2021.


Sementara, pada 2022 hingga 2025 lalu, nirgelar. Alias, kita harus puas jadi penonton di rumah sendiri saat atlet luar berpesta.


Saya pribadi, berharap dengan CLBK Djarum-PBSI bisa mengembalikan prestasi di Polytron Indonesia Open 2026.


Berharap itu wajar. 


Di sisi lain, sebagai makhluk logis, saya juga harus realistis dengan tidak memasang ekspektasi yang berlebihan. Pasalnya, belum tentu dengan masuknya Djarum lewat Polytron di Indonesia Open 2026 ini bisa memberi gelar.


Ga ada jaminan.


Serius!


Faktanya, dalam 16 edisi Djarum dan anak usah jadi sponsor utama Indonesia Open (2004-2019), ada tujuh kali nirgelar dari wakil Merah-Putih.


Itu terjadi pada Indonesia Open 2007, 2009, 2010, 2011, 2014, 2015, dan 2016.


Jadi, kita sebagai penggemar tepok bulu pun wajib menapak tanah. Romantisasi Grup Djarum-PBSI bukan berarti mendatangkan tsunami gelar.


Namun, setidaknya memberi secercah harapan.


Ya, bisa dilihat di media sosial saat info Djarum kembali kolaborasi dengan PBSI lewat Polytron Indonesia Open 2026 disambut antusiasme warganet. Khususnya, BL alias Badminton Lovers.


Sebagai penggemar, saya hanya bisa mendukung para atlet yang berjuang di Polytron Indonesia Open 2026 untuk mengakhiri paceklik sejak 2021. 


Apa pun hasilnya kita terima, secara, semua pihak tentu sudah berusaha mempersembahkan yang terbaik. Baik Atlet, PBSI, dan Grup Djarum.


Eaa... Eaa... Eaa!


*         *         *


Sumber: 


- https://bwfworldtour.bwfbadminton.com/tournament/5528/polytron-indonesia-open-2026/overview/


- https://money.kompas.com/read/2015/04/10/113200826/Ini.Bisnis.Sampingan.Grup.Djarum.di.Luar.Rokok


- https://m.kumparan.com/amp/kumparansport/djarum-foundation-akan-dukung-indonesia-open-2026-and-ajang-bergengsi-lain-25tO2AMFH03


- https://www.kompas.com/badminton/read/2020/12/17/16392808/kerja-sama-dengan-pbsi-berakhir-djarum-tetap-sokong-bulu-tangkis?page=all



*         *         *


- Jakarta, 25 Maret 2025

Senin, 16 Maret 2026

Nelangsa Pekerja Malam Saat Ramadan

Nelangsa Pekerja Malam Saat Ramadan


(POV: Miss G)


HAI, gw Miss G. Huruf ke tujuh dalam alfabet itu merupakan inisial nama asli gw.


Ya, bisa Gadis, Gladys, Gina, Gince, Gani, Gunawan...


Eh, yang terakhir itu nama cowo. Gw kan cewe, hehehe.


Namun, kalian juga bisa manggil gw Agni. Dalam bahasa sanskerta disebut api. 


Pun demikian dalam kisah wayang atau Mahabharata, Agni merupakan Dewa Api. 


Sebagaimana air yang bisa membuat perahu berlayar tapi juga dapat menenggelamkannya. Begitu juga dengan api yang merupakan sumber kehidupan sekaligus kematian.


Ingat pembakaran Hutan Khandava oleh Agni? Peristiwa itu nyaris membuat Raja Dewa Indra dengan tega membunuh dua makhluk utama, Arjuna dan Kresna.


Nama pertama bisa dibilang "anak biologis" Indra hasil hubungannya dengan Kunti secara niyoga. Sementara, Kresna merupakan awatara Dewa Wisnu, sang pemelihara alam.


Hanya, akibat keinginan Agni untuk melahap Hutan Khandava menyebabkan Arjuna dan Kresna nyaris dilenyapkan Indra jelang Bharatayuda.


Yes! Panggil gw Miss G atau Agni.


Cukup sekian dan terima gaji!



*       *       *


MAYORITAS umat muslim sangat bersedih ketika tahu Ramadan akan pergi. Namun, gw termasuk sedikit yang justru senang.


Ya, saat ini udah masuk sepertiga Ramadan. Alias, kurang dari sepekan lagi Idul Fitri.


Bukannya gw ga menghargai bulan suci ini. Namun, jujur aja gw benar-benar mengharapkan Ramadan cepat berlalu.


Alasannya sederhana. Gw kerja di dunia malam.


Asal kalian tahu, pembaca artikel ini yang budiman. Sepanjang Ramadan, tempat kerja gw di Red District Jakarta Barat full ditutup.


Gw sedih.


Secara, gw ga bisa nafkahin keluarga.


Bukan cuma gw. Rekan seprofesi juga pada nganggur.


Termasuk LC, dancer, bartender, kasir, security, dan sebagainya. Selama sebulan ini, mereka ga dapat pemasukan.


Itu akibat peraturan pemerintah yang melarang tempat hiburan malam beroperasi sepanjang Ramadan. Niatnya mulia, untuk menghormati bulan suci.


Hanya, efek dominonya terasa. Kami, maksudnya gw dan pekerja malam, ga punya pemasukan untuk menyambut lebaran.


Gw pribadi ga punya keahlian. Mau kerja apa?


Zaman sekarang kan anomali. Jangankan yang halal, yang haram aja susah!


Untung gw masih punya sedikit tabungan sebagai mitigasi yang udah gw lakukan sejak pandemi. Juga memiliki hubungan dekat dengan pejabat daerah yang kami juluki raja-raja kecil.


Mereka ini kerap mengirim angpao untuk menambah kebutuhan sehari-hari gw dan keluarga.


Alhamdulillah, rezeki anak sholeh...


*       *       *


HANYA, ga semua pekerja malam beruntung seperti gw.


Btw, ga usah nanya gw kerjanya apaan ya. Juga, jangan nebak gw sebagai LC, dancer, dll.


Yang pasti, gw kerja di dunia malam. Tepatnya, di tempat hiburan yang kerap dijuluki sekeping kenikmatan bagi kaum pria.


Hanya, lokasinya dekat pemukiman penduduk yang sangat padat. Itu mengapa, tempat kerja gw ditutup full selama bulan suci.


Beda cerita jika lokasinya tidak berdampingan dengan warga seperti yang dimiliki kakak bos gw. Di sana, aman sentosa ga bakal dirazia.


Bahkan, bila ada pengunjung yang datang Jumat sore bisa bebas pulang Senin pagi.


Atau, milik sepupu bos gw yang lokasinya di hotel bintang empat. Masih bisa beroperasi karena sesuai peraturan.


Memang, bos gw sempat punya niat untuk buka. Ya, kucing-kucingan lah dengan aparat.


Toh, di dunia yang abu-abu ini, dengan uang bisa lebih mudah. Tinggal setor ke "kepala", wasit, ormas, dan pemilik wilayah, sudah dipastikan 99% tempat usaha kami beroperasi.


Namun, niat itu diurungkan. Sebab, bos gw memiliki ipar di pemerintahan dan besan calon dewan 2029.


Tentu, mereka sudah memberi sinyal agar bos gw sementara mengerem. Bos gw yang gw tahu dulunya bandit tanpa ampun yang biasa membunuh orang tanpa berkedip layaknya Cao Cao dalam Sam Kok, ternyata masih punya liangsim.


Bos pun benar-benar tutup total usahanya. Sebab, jika memaksa buka yang berujung diketahui publik hingga viral, bakal membuat susah ipar dan besannya.


H-5 Ramadan sebelum pengumuman resmi pemerintah, bos memberi seluruh karyawannya uang saku yang dianggap cukup untuk pengganti libur. 


Nominalnya setara UMR.


Sayangnya, kami yang biasa kerja di dunia malam, sudah terlena mendapatkan uang melimpah dengan mudah. Alhasil, uang saku dari bos justru banyak yang sudah habis saat awal Ramadan.


Termasuk, gw yang biasa mengandalkan tip dari tamu. Khususnya, saat raja-raja kecil datang.


He he he...


Nah, seperti yang gw utarain di awal, ga semua karyawan beruntung kayak gw yang punya hubungan dengan raja-raja kecil itu.


Alhasil, mereka lintang pukang dalam menyambut Ramadan 1447 H ini. Sebisa mungkin beberapa kali gw bantu mereka dengan membelikan makanan untuk sahur atau buka.


Atau, ada yang anaknya nangis minta baju lebaran. Kalo harganya masih masuk akal, gw bantu belikan online.


Sedihnya, karena gw dan beberapa teman yang beruntung ga bisa terus-terusan kasih mereka. Maklum, kami terkendala keterbatasan dana.


Alhasil, beberapa ada yang kembali nyebur. Padahal, gw dan mereka sebelumnya udah lama kering.


Baik itu "jualan langsung", via agen, atau aplikasi BO.


Sedih sih. 


Namun, ya mau gimana lagi. Gw memahami tindakan mereka.


Toh, orang yang hanyut di sungai akan meraih apa saja benda yang lewat di depannya. Jangankan batang pohon atau dahan, bahkan rumput pun bakal dipegangnya.


Sebenarnya, masih banyak yang mau gw ceritain. Hanya, karena satu dan hal lain, gw sudahi cukup sampai di sini.


Mungkin, jika situasi sudah kondusif, gw bakal ceritera panjang lebar. Termasuk, tentang raja-raja kecil yang royal dan menggemaskan itu.


Selamat Idul Fitri 1447 H.

Salam dari kami, kelompok marjinal yang kerap terlupakan.***



*       *       *


- Jakarta, 16 Maret 2026





Jumat, 13 Maret 2026

Mengetuk Pintu Langit


POLA macet di Jakarta dan mayoritas kota Indonesia lainnya kemungkinan berubah saat Ramadan. Pada hari-hari biasa, jalanan padat sejak pukul 16.00 WIB hingga 20.00 WIB.


Sementara, pada Ramadan ada pergeseran waktu. Demikian catatan saya sebagai ojek online (ojol) saat menjelajah di empat kotamadya ibu kota, minus Jakarta Timur.


Kemacetan berlangsung sejak pukul 15 00 WIB. Puncaknya, pada pukul 17.00 WIB hingga jelang maghrib dengan aktivitas warga yang ingin pulang cepat untuk buka di rumah, beli takjil, ngabuburit, hingga reuni buka bersama (bukber).


Nah, usai buka puasa, justru jalanan lenggang. Baik itu Sudirman, Daan Mogot, Thamrin, Gatot Subroto, dan jalan raya lainnya minus tol yang tentu saya tidak catat.


Biasanya, saat itu warga sudah sampai di rumah atau tempat bukber. Dilanjutkan tarawih berjamaah.


Setelah pukul 20.00 WIB, macet kembali. Jalanan pun merayap lagi hingga pukul 23.00 WIB sepanjang Ramadan.



*       *       *


USAI mengantar penumpang di Stasiun Cawang atas, tiba-tiba sepeda motor saya agak berat pas turunan MT. Haryono. Saya pun menepikan si kuda besi adalan sehari-hari ini.


Ternyata, ban bocor. Ada paku ukuran sedang yang menancap.


Untungnya tubeless. Jadi, saya masih bisa mengendarai hingga ke tambal ban terdekat.


Beda lagi kalo pakai ban dalam. Jika bocor ya harus langsung ditambal.


Saat lagi mencet ban, ada sedan mewah asal Jepang yang merupakan sub brand untuk pasar Amerika Serikat (AS). Mobil tersebut berhenti di samping saya yang memang kebetulan lenggang karena baru jam berbuka puasa.


Seorang pria muda sekitar usia 30 tipis-tipis keluar. Saya yang baru saja memencet ban langsung berdiri.


Kirain saya, pria ini mau tanya alamat. Di pintu samping keluar wanita yang kemungkinan istrinya diikuti pintu belakang dengan anak perempuan.


"Kenapa bro, motornya?" kata pria itu mengawali percakapan dengan ramah.


"Biasa mas, bocor," saya menjelaskan.


"Wah itu ada pakunya ya," tuturnya ikutan jongkok.


"Iya, untung paku biasa. Nancap masih bisa jalan, kalo paku jari-jari payung yang dalamnya berongga, bisa abis ban."


"Ada tambal ban di sini?"


"Banyak mas. Ini masih aman."


"Bro udah buka puasa?"


"Udah mas. Terima kasih."


Pria itu kemudian seperti kasih kode ke anak perempuannya yang membawa bungkusan besar makanan cepat saji.


"Oom, ini buat buka puasa bareng keluarga Oom?" Anak yang kemungkinan masih TK atau SD ini menyodorkan bungkusan plastik besar berwarna putih itu dengan ramah.


"Terima kasih dik, Om udah makan. Ini mau lanjut lagi," saya menolak dengan halus.


Anak tersebut kembali melihat ayahnya. Ga lama mengangguk.


"Oom ga apa-apa, ini buat keluarga Oom juga di rumah. Tadi kami beli banyak."


"Iya bro, tadi kita udah makan di tempat. Masih ada beberapa bungkus. Ambil aja buat keluarga di rumah ya."


"Bener mas, ini saya juga baru beli pas abis maghrib," saya memotong.


Saya pun membuka jok motor yang berisi bungkusan gorengan dan kolak biji salak yang saya beli usai buka. Saya memang punya kebiasaan beli takjil sesudah maghrib ke pedagang yang dagangannya masih banyak atau sepi.


Ya, untuk ikut melariskan dagangan mereka. Sumpah, kita beli takjil ke pedagang yang sepi atau yang masih banyak saat maghrib lewat itu feelnya beda dibanding saat kita beli ke pedagang yang ramai atau laku sebelum maghrib.


Sebab, pedagang akan melayani dengan sangat khidmat saat kita beli di dagangan yang sepi atau usai maghrib. Ini udah saya lakuin dalam beberapa tahun terakhir.


Secara, ibu saya dulu dagang takjil yang bahkan pernah ga habis hingga tarawih yang rahasianya baru terbongkar usai tidak jualan lagi. Jadi, saya berusaha untuk ikut melariskan dagangan yang sepi atau masih banyak seusai maghrib.


Artikel terkait: Belilah Kolak dan Cemilan Buka Puasa di Pedagang yang Sepi (https://www.roelly87.com/2024/03/belilah-kolak-dan-cemilan-buka-puasa-di.html)


"Udah bro, ga apa-apa. Anak saya tadi puasa full, jadi minta bukber di luar. Nah, kebetulan kami beli banyak. Mubazir kalo ga dimakan," pria itu melanjutkan.


Karena ga enak untuk menolak pemberian tulusnya, saya pun menerima. Apalagi, bocah perempuan itu megangnya agak berat karena bungkusan warna putih isinya terlihat beberapa nasi, ayam, dan minuman cup.


"Terima kasih ya dik," kata saya menyambut uluran bocah tersebut.


"Sama-sama Oomnya."


"Kuat dik puasanya? Udah berapa hari full?"


Bocah itu menghitung jemari tangannya. Tingkahnya sungguh lucu.


"Delapan hari om. Adiknya full kalo libur sekolah aja. Kalo masuk, setengah hari. Namun, beberapa kali dipaksain sendiri sampe kuat," sang istri menimpali dengan semringah.


"Iya Oom. Delapan hari," bocah itu memperlihatkan angka delapan lewat jemari pada kedua tangannya.


"Ih keren. Masih kecil udah banyak full. Mantul ya dik," kata saya tersenyum. 


Saya ga maksud memuji. Namun, seusianya udah puasa full seharian itu bagus. 


Sebab, saat saya sepantaran bocah itu dulu, pada dekade 90-an, saya aja sering bolong puasanya.


Ha... Ha... Ha...


"Iya oom. Terima kasih ya," kata sang bocah sambil menggamit adiknya -kemungkinan balita- yang ikut turun dari mobil.


"Terima kasih ya dik. Terima kasih ya mas dan ka," kata saya menjura sambil bersiap menaruh bungkusan itu ke dashboard motor.


"Iya mas. Hati-hati di jalan," kata sang pria dan istrinya kompak. Sementara, bocah perempuan dan adiknya turut 'dadah' di balik pintu belakang dengan jendela yang dibuka seperempat.


Sedan itu berlalu secara perlahan. Saya pun siap menuju tambal ban.


Namun, saya merasa ada yang aneh.


Ketika mengecek ban dan sekitar motor tidak ada yang janggal. Begitu juga dengan area sekitar yang tidak ada ketinggalan sesuatu dari keluarga tersebut.


Ternyata...


Saat pandangan saya tertuju ke plastik, di bawahnya ada amplop dengan selotip yang nempel. 


Hah?


Refleks, saya ambil langsung amplop itu. Khawatir ketinggalan punya keluarga tersebut.


Hanya, saya tertegun.


Di depannya ada stiker bertulisan yang seperti sudah diprint.


"Selamat berbuka puasa ya bro/sis ojol. Ini sedikit dari kami untuk bro/sis ojol dan keluarga. Salam hangat."


Saya raba amplopnya. Pas dibuka ternyata ada wajah Dwitunggal hingga lima lembar.


Ebuset.


Seketika, saya mau kejar keluarga tersebut untuk mengembalikannya. Namun, mobilnya sudah tidak terlihat.


Entah mereka muter balik di samping Polsek Jatinegara, arah Kalimalang, atau masuk tol. 


Jelas, saya ga bisa mengejarnya.


Yang pasti, saya memang berniat mengembalikan uang ini. Serius.


Saya bukannya menolak rezeki. Saya terbuka untuk menerima pemberian orang lain.


Entah itu makanan atau sembako saat ramadan atau hari biasa. 


Memang, saya memegang teguh adagium, "Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah."


Namun, sebagai manusia yang hidup di jalan, saya harus fleksibel. 


Khususnya, saat menjalankan pekerjaan ojol. Setiap hari pasti ada yang memberi tip.


Tentu, saya ga bisa nolak. Secara, tip itu kan tanda kepuasan customer atas pelayanan ojol.


Hal sama berlaku jika saya memesan ojol atau beli makanan. Sudah pasti saya beri tip untuk rekan seperjuangan.


Apalagi, jika tipnya dari customer itu via nontunai. Kan saya ga bisa mengembalikan ke penumpang yang sudah naik kereta, bis, atau sampai rumah.


Jadi, saya harus adaptif. 


Yang utama, pantang bagi saya untuk minta-minta.


Di luar tip penumpang, saya juga sering dikasih makanan atau sembako dari orang lewat. Tentu, saya ga enak hati jika sampai menolak pemberian mereka.


Toh, mereka niat berbagi. Tanpa kamera atau video yang didokumentasikan.


Artikel terkait: Terima Kasih, Orang Baik (3) (https://www.roelly87.com/2024/03/terima-kasih-orang-baik-3.html)


Namun, selain pemberian pria tadi yang sudah terlanjur pergi, saya sudah tiga kali dikasih uang. 


Ya, tiga kali.


Dua diantaranya, saya tolak langsung dengan sopan.


Bukan bermaksud sok kaya, gengsi, atau apa. Namun, bagaimanapun saya ojol.


Saya kerja.


Saya harus jaga marwah profesi ini.


Dua pemberian uang itu -di Roxy dan Gunawarman- saya tolak secara halus.


Sementara, satunya di Pluit, saya terima. Dengan penjelasan sang pemberi yang masuk akal.


Sebab, karena satu hal mereka bernazar. Jika ***nya sudah *** akan menyisihkan rezeki untuk dibagi-bagi ke sekian orang yang ditemui langsung sebagai wujud syukur.


Kebetulan, saya ga sengaja ketemu. Kendati, saya udah nolak beberapa kali.


Namun, mendengar penjelasan kedua pemberi itu yang masuk akal, akhirnya saya pun luluh.


Pasalnya, mereka sudah berusaha, berikhtiar, dan berdoa. Ketika segala upaya mengetuk pintu langit terwujud, mereka pun langsung menunaikan nazarnya.


Saya terharu saat itu. Betapa perjuangan mereka bertahun-tahun untuk menanti kehadiran sang buah hati akhirnya kesampaian.


Alhasil, saya pun menerima pemberian tulus dari mereka. Saling mendoakan yang terbaik.***


*       *       *

- Jakarta, 13 Maret 2026


*       *       *