TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan
PLBN Entikong

Sabtu, 16 November 2019

Ada Marco Simic di Balik Kebangkitan Persija


Marco Simic foto bersama dua penggemar Persija Jakarta
(Foto: TopSkor.id/Choirul Huda)



ADAGIUM lawas mengatakan, mempertahankan gelar jauh lebih sulit ketimbang saat menjuarainya. Hal itu bisa berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk, di sepak bola yang merupakan cabang olahraga paling populer di kolong langit. Salah satunya di Indonesia saat ini dengan Shopee Liga 1 2019.

Persija Jakarta yang digdaya pada musim lalu nyaris kehilangan keperkasaannya pada awal kompetisi. Bisa dipahami mengingat klub berjulukan Macan Kemayoran itu kehilangan sang nakhoda, Stefano Cugurra, dan beberapa pilar penting lainnya.

Alhasil, klub kebanggaan ibu kota ini pun nasibnya nyaris tragis. Hampir saja seperti AC Milan pada 1980/81 dan Juventus (2006/07) yang juara tapi langsung degradasi pada musim berikutnya. Kendati, apa yang dialami dua raksasa Serie A Italia itu beda konteks. 

Namun, saya pribadi sempat deg-degan mengamati perkembangan Persija pada Shopee Liga 1 2009 ini. Sebab, mereka mengarungi kompetisi dengan memprihatinkan pada awal musim. Itu karena Marko Simic dan kawan-kawan hanya mampu meraih sekali kemenangan dari 10 pertandingan awal! Alhasil, Persija pun sempat terlempar ke peringkat 17. Alias, zona degradasi.

Ya, bayang-bayang mereka harus terjun bebas ke Liga 2 musim depan pun sempat menghantui saya. Itu terkait kurang padunya antarlini. Ditambah dengan beberapa kali pergantian pelatih yang membuat saya dan segenap The Jakmania -julukan untuk suporter Persija- pun pesimistis. Ketika itu, jangankan berpikir untuk mempertahankan gelar, bahkan untuk keluar dari papan bawah pun sulit.

Yupz, sebagai fan Persija, tentu saat itu saya harus realistis. Berharap boleh, tapi jangan muluk-muluk. Harapan saya dalam hati, boleh gelar lepas, yang penting jangan degradasi. Ya, itu nada optimisme yang saya tancapkan setiap menyaksikan pertandingan Persija. 

Bagaimana pun, saya percaya, selalu ada pelangi yang indah setelah badai. Itu yang saya yakini terhadap Persija!

Bisa dipahami mengingat secara personal, saya merupakan penggemar Persija. Itu berlaku sejak masih kanak-kanak hingga rekan sepantaran kini sudah memiliki banyak anak. 

Meski hingga kini belum memiliki keanggotaan resmi The Jakmania, tapi saya kerap menyaksikan Persija bertanding di berbagai stadion. Baik itu Menteng, Lebak Bulus, Gelora Bung Karno, Patriot Candrabhaga, hingga Madya Senayan.

Banyak suka dan duka yang menyertai sebagai fan Persija. Paling bangga ketika Macan Kemayoran juara 2001. Saat itu, saya dan beberapa rekan yang masih berseragam putih-biru tumpah dalam euforia. 


Apalagi, ketika beberapa tahun berselang, ada dua di antaranya yang berkiprah sebagai pesepak bola profesional. Bahkan, mereka sempat berseragam Persija. Termasuk, memperkuat tim nasional (timnas) Indonesia usia muda.

Sementara, ketika juara Liga 1 2018, harus diakui jika suasananya sudah beda. Sebab, saya juga kerap meliput dan menulis tentang Persija. Alhasil, saya harus objektif. 


Namun, bagaimana pun rasa cinta tidak bisa dipendam. Ketika tahu Persija mengakhiri paceklik gelar 17 tahun dalam kompetisi nasional, saya pun bangga.

Maklum, dari 2001 hingga 2018 itu bukan waktu yang sedikit. Lebih dari dua windu. Dalam periode itu, banyak yang sudah berubah. Namun, kekaguman saya terhadap Persija tidak akan luntur. Baik juara atau degradasi, tak masalah bagi saya.



Nah, harapan saya dan jutaan fan Persija, termasuk The Jakmania terkabul. Sejak paruh kedua kompetisi, mereka mulai bangkit. Sang Macan mulai mengaum. Tentu, tidak ujug-ujug langsung bersaing dalam perebutan juara di papan atas. Melainkan, perlahan tapi pasti mulai meninggalkan zona merah.

Fakta tersebut tersaji sepanjang November ini. Dari empat pertandingan bulan ini, hanya sekali. Persija kehilangan poin penuh yaitu, saat tandang ke Semen Padang pada 7 November lalu yang berujung 1-1. Sementara, dalam tiga lainnya berujung sapu bersih dengan menekuk TIRA Persikabo 2-0 (3/11), Borneo FC 4-2 (11/11), dan Persela Lamongan 4-3 (15/11).

Mereka pun hingga Sabtu (16/11) menyeruak di urutan 12 dengan 34 poin dari 27 pertandingan. Alias, unggul delapan angka dari Kalteng Putra yang menempati urutan 16 sekaligus batas akhir degradasi dengan 26 poin. Dari empat pertandingan bulan ini, Persija mengukir 12 gol dengan kebobolan tujuh gol.

Marco Simic melayani pertanyaan dari jurnalis
usai pertandingan Persija
(Foto: TopSkor.id/Choirul Huda)


Simic jadi aktor protagonis dalam empat pertandingan sepanjang November ini yang selalu mencetak gol hingga delapan kali. Termasuk, quattrick-nya ke gawang Borneo. Tak heran jika Simic pun memuncaki top scorer sementara dengan 23 gol. Jauh mengungguli striker Persela, Alex dos Santos, dengan 16 gol.

Kontribusi signifikan dari Simic itu yang mendongkrak kebangkitan Persija. Tentu, dalam sepak bola yang merupakan permainan kolektif, seluruh elemen, termasuk pemain lainnya sangat berperan. Mulai dari sektor pertahanan, lini tengah, atau barisan depan. Namun, harus diakui jika peran Simic sangat berpengaruh.

Apalagi, bagi saya pribadi, Simic termasuk pemain yang sangat ramah. Ini yang saya amati saat meliput kegiatan Persija. Baik saat latihan, usai pertandingan, maupun event di luar lapangan Simic. Tidak hanya sekadar memberikan jawaban yang elegan bagi setiap jurnalis saja. Melainkan juga melayani permintaan fan untuk foto bersama.

Penampilannya yang berkualitas ditambah sikapnya yang bersahabat itu membuat Simic jadi idola di kalangan fan. Bersanding dengan sang kapten, Andritany Ardhiyasa, serta dua pemain senior, Bambang Pamungkas dan Ismed Sofyan.

Memasuki pengujung Shopee Liga 1 2019, tentu saya berharap Simic dan segenap elemen Persija lainnya konsisten. Target utama, tentu saja menjauh dari zona degradasi agar musim depan bisa bertahan di kompetisi terelite di Tanah Air ini. Apalagi, jika mampu finis empat besar. Itu jadi modal yang bagus untuk menghadapi Shopee Liga 1 2020 dengan target kembali juara.

Ayo, Persija... Kalian bisa!***

Di luar liputan pertandingan dan latihan, saya pun enggan
ketinggalan untuk foto bareng Marko Simic



Artikel ini diikutsertakan dalam Kontes Blog Shopee Liga 1 

- Jakarta, 16 November 2019

Jumat, 01 November 2019

Smartphone Palugada di iPrice




SMARTPHONE atau telepon seluler (ponsel) pintar merupakan kebutuhan sekunder manusia saat ini yang paling utama. Tingkatannya hanya di bawah primer yang meliputi pangan alias makanan, sandang (pakaian), dan papan (rumah). 

Itu karena smartphone tidak hanya sebagai alat komunikasi saja. Melainkan, sudah jadi bagian dari keseharian. Misalnya, untuk mengecek info lalu lintas, prediksi cuaca, update berita, dan sebagainya.

Sejak pergantian milenium, bermunculan ponsel canggih. Terutama, dalam satu dekade terakhir Tidak hanya didominasi produsen asal Amerika Utara atau Eropa saja, melainkan juga Asia. Dua di antaranya sudah tidak asing lagi, bahkan jadi bagian dari aktivitas. 

Yaitu, Samsung yang berasal dari Korea Selatan dan Xiaomi (Tiongkok). Keduanya punya fitur melimpah yang memiliki keunggulan masing-masing. Tinggal selera kita untuk menentukan. 

Namun, kenapa tidak sekalian saja membeli keduanya? Misalnya, saya yang memegang dua smartphone dengan membagi untuk kantor dengan berisi data kerjaan. Sementara, satu lagi untuk di luar itu seperti keluarga, blog, dan aktivitas lainnya. Kebetulan, kedua smartphone saya ini memiliki spesifikasi berbeda. 

Sekaligus, untuk antisipasi jika smartphone yang saya miliki mengalami force majeur, seperti error atau rusak. Jadi, bisa ada satunya lagi.

Untuk kantor, bisa dibilang lebih tinggi dari segi kamera, video, dan fitur lainnya. Maklum, itu terkait keseharian di lapangan membuat saya butuh konekvititas lebih. Untuk smartphone satunya, kategori mid-end.

Yang utama, memorinya besar untuk menampung kapasitas foto, video, dan suara. Bisa dipahami mengingat jika bertemu teman atau komunitas, ritual wajib kami ya foto-foto. Atau, ketika sedang mencari angin dengan ditemani musik Top40 yang sudah terintegrasi di smartphone. Serta, game baik online maupun offline untuk mengisi waktu senggang.

Punya dua smartphone, apakah tidak ribet? Tentu, awalnya rempong. Khususnya, saat membawanya sehari-hari. Satu saya taruh di saku kiri celana dan satu lagi di kanan atau jaket jika sedang memakainya.

Namun, seiring waktu berjalan, saya sudah terbiasa. Bahkan, menggunakannya bersamaan. Misalnya, ketika wawancara atau liputan. Smartphone yang satu saya gunakan untuk merekam suara dan satunya lagi untuk memotret narasumber atau mengetik di note.

Terkait bujet yang saya keluarkan untuk memiliki dua smartphone ini bisa dibilang relatif. Saya terbantu dengan kemajuan teknologi yang kian pesat pada era digital ini. Alhasil, saya tidak perlu mengeluarkan ongkos untuk pergi ke toko fisik seperti pada dekade 2000-an silam. 

Melainkan, cukup duduk manis di depan laptop dan tinggal browsing. Kendati, untuk mencari smartphone yang dituju, saya harus bekerja keras untuk mengkomparasi antara satu toko online ke yang lainnya. 

Beruntung, sejak mengenal iPice Indonesia yang beralamat pada iPrice.co.id, bisa memaksimalkan waktu saya untuk belanja. Tidak hanya smartphone saja, melainkan barang lain seperti elektronik, perlengkapan olahraga, hingga terkait otomotif.

Ya, iPrice merupakan situs pembanding harga yang bekerja sama dengan ratusan toko online di Tanah Air. Contohnya, saya ingin mencari produk Samsung, dari yang termurah hingga mahal, ada komprasinya di beberapa toko online.

Pun demikian ketika saya ingin mengetahui keluaran terbaru dari Xiaomi, cukup membuka iPrice saja. Alias, tidak perlu harus browsing ke tiga hingga empat toko online seperti yang dulu saya lakukan. Kini, dengan iPrice sudah bisa diketahui setiap harganya.

Contohnya, saya ingin membeli Xiaomi Redmi 4a terbaru. Tinggal buka iPrice, cari kategori smartphone dan produknya. Setelah itu, tertera data berisi harga, spesifikasi, dan perbandingan dari beberapa toko online. Misalnya, di toko online A ternyata lebih murah dari B, C, D, atau E dengan parameter yang sama. Tentu, fitur komparasi dari iPrice ini sangat membantu saya.

Salah satunya, ketika saya ingin mencari Samsung dengan harga terbaru pada Oktober ini. Ternyata, di iPrice tersedia ratusan produk Mulai dari yang paling murah, Galaxy Young seharga Rp300.000 hingga termahal, Galaxy Fold (Rp36.750.000).

Nah, di antara berbagai produk Samsung itu, saya paling tertarik degnan Galaxy S10. Entah kenapa, desainnya terlihat sangat memesona. Harga pun, masih relatif terjangkau. Tidak murah memang,  karena rata-rata Rp10 jutaan. Namun, ya itu Ada harga tentu ada rupa. Terlebih, RAM-nya 8GB yang lebih dari cukup untuk ngegame dan aktivitas sehari-hari.

Pun demikian dengan Xiaomi. Hape sejuta umat ini di iPrice terdiri dari berbagai kategori dan harga dari ratusan ribu hingga belasan juta. Tinggal, selera masing-masing untuk menentukan. Termasuk, Xiaomi Redmi 4a yang berkisar kurang dari sejuta.

Meski begitu, kualitasnya tidak diragukan lagi. Desain khas Xiaomi yang elegan dengan kamera depan 5MP dan kamera belakang 13MP! Yupz, cukup untuk jepret aktivitas di dalam dan luar ruangan.

Berbagai tipe smartphone dari kedua merek itu bisa saya telusuri di iPrice yang merupakan portal palugada. Alias, apa yang elo minta, gue ada!***


- Jakarta, 1 November 2019

Rabu, 30 Oktober 2019

Ada Kiblat di Balik Pencarian Talia: Sinopsis 99 Nama Cinta






TAK kenal maka tak sayang. Demikian adagium lawas terkait suatu hubungan dalam keseharian. Baik itu pertemanan, bisnis, hingga percintaan. Namun, jika sudah kenal, apakah akan saling sayang?


*          *          *

SYAHDAN, Talia yang diperankan Acha Septriasa, sudah berusia matang untuk berumah tangga. Pun demikian dengan kariernya yang posisi tinggi. Itu mengingat Talia sebagai pembawa acara pada talkshow Bibir Talia yang memiliki rating tinggi dalam dunia pertelevisian. 

Ditambah dengan statusnya sebagai produser di tayangan tersebut. Anak buah atau kru pun sangat setia terhadapnya, salah satunya, Mlenuk (Adinda Thomas).

Namun, seperti ada yang kurang di balik semua kemewahan tersebut. Tepatnya pada pemahaman agama dan jodoh! 

Sang ibu (Ira Wibowo)
, pun menangkap situasi itu. Hingga, berinisiatif untuk mendatangkan Kiblat (Deva Mahenra) untuk mengajarkan ngaji yang tak lain merupakan kawan Talia semasa kecil. Sebab, kedua orangtua mereka bersahabat. Ayah Talia berperan atas pembangunan pesantren yang didirikan ayah Kiblat, Umar (Donny Damara) di Kediri, Jawa Timur.

Talia pun mencari jati dirinya hingga Kediri. Namun, itu justru jadi titik nadir hidupnya. Sebab, Talia harus kehilangan pekerjaan. Bibir Talia diganti program yang dipandu Chandra (Susan Sameh). Yaitu, anak buahnya yang kini jadi rival.

Bahkan
, Talia harus menyaksikan dengan matanya sendiri, bagaimana Kiblat ternyata dekat dengan Husna (Chicki Fawzi), anak dari salah satu kyai yang dekat dengan Umar. Apalagi, ilmu agama Husna lebih tinggi. Bahkan, jadi pengajar di pesantren tersebut.

Nah, bagaimana dengan TaliaApakah bakal bangkit dari keterpurukan, atau malah pasrah dengan keadaan seperti ini?

Yuppiii
, semua itu bisa kita saksikan mulai 14 November mendatang. Tepatnya, saat 99 Nama Cinta tayang di seluruh bioskop di Tanah Air! 

Bagi Anda yang penasaran ingin mengintip aksi keseruan mereka atau meraba-raba jalan ceritanya, bisa disimak pada trailer di Youtubehttp://bit.ly/99namacinta seperti pada cuplikan di bawah ini.





*          *          *
SUATU kehormatan bisa menyaksikan 99 Nama Cinta lebih awal. Itu setelah mendapat undangan dari MNC Pictures dan Komunitas Indonesian Social Blogger (ISB). Tepatnya pada Gala Premiere di XXI Senayan City, Jakarta Pusat, Rabu (23/10) bersama rekan-rekan blogger, media, dan undangan.

Yang menarik, kami tidak hanya nonton bareng (nobar) saja. Melainkan, ada sesi diskusi dengan seluruh pemeran 99 Nama Cinta dan tim produksi! Ini membuka wawasan saya terkait bagaimana MNC Pictures dalam membuat film.

Yang tak hanya bisa laris ditonton masyarakat di seluruh nusantara saja. Namun, juga diselipkan edukasi dan potensi dari kekayaan Indonesia. Misalnya, adat istiadat, budaya, hingga kuliner. Yupz, dalam film yang disutradarai Danial Rifki ini dikenalkan cokelat produksi dari pesantren. Ini unik mengingat biasanya film nasional cenderung lebih dekat dengan kopi.

Bagi saya, 99 Nama Cinta bukan sekadar film. Maknanya dalam Alur dan penokohan luar biasa. Jalan cerita dari film yang ditulis Garin Nugroho ini bisa membuat penonton enggan melewatkan detik demi detik dalam seluruh adegan. Ibaratnya, hal kecil bisa jadi kepingan puzzle dalam cerita.

Pun demikian dengan seluruh pemeran. Mereka mampu menjiwai setiap karakter yang diperankan. Kaya warna.

Apalagi, di film ini jadi kolaborasi aktor atau aktris masa kini, pendatang baru, hingga senior! Termasuk, kolaborasi ciamik dari Ira dan Donny. Sebagai bagian dari generasi 90-an, tentu saya sangat mengenal kualitas keduanya.

Sebagai catatan pribadi, 99 Nama Cinta ini bukan sekadar love-love saja. Melainkan memberi pengalaman baru tentang di balik layar produksi acaraSaya baru tahu kerja tim produksi di televisi yang ternyata harus sigap. Contohnya, Talia yang merupakan presenter gosip tapi harus cepat adaptasi ketika ada bencana di suatu daerah.

Ya, 99 Nama Cinta ini memiliki alur yang maju-mundur. Namun, ada konklusinya yang sarat akan kehidupan. Film ini tidak berat dan bisa dicerna seluruh penonton

*          *          *

*          *          *

*          *          *

*          *          *

*          *          *

*          *          *

*          *          *

*          *          *

*          *          *

*          *          *



Film 99 Nama Cinta versi www.roelly87.com
Cerita: 9/10
Pameran utama: 9/10
Pameran pembantu: 8/10
Alur: 8/10
Konflik: 8/10
Musik: 7/10
Durasi: 8/10
Keseluruhan: 8,5/10


Catatan: Lembaga Sensor Film (LSF) mengklasifikasi 99 Nama Cinta dengan kategori Semua Umur. Alias, film berdurasi 106 menit ini bisa disaksikan seluruh masyarakat di Tanah Air.

*          *          *

Artikel Terkait MNC Pictures
Sisi Lain dari Film Mahasiswi Baru
Inspirasi dari Film Koki-koki Cilik 2
Ketika Preman Pensiun Juga Manusia

Tentang 3 Dara 2 yang Menggoda

*          *          *

- Jakarta, 24 Oktober 2019 (penyuntingan pada 30 Oktober)

Jumat, 11 Oktober 2019

Ada WELMA di IKF BCA 2019







INDONESIA Knowledge Forum (IKF) VIII - 2019 kembali diselenggarakan pada 8 dan 9 Oktober lalu di Hotel Ritz Carlton, Pasific Place, Jakarta Selatan. Tahun ini memasuki edisi kedelapan yang kembali didukung penuh Bank Central Asia (BCA).

Tepatnya, lewat BCA Learning Service (Yayasan Bakti BCA) yang melanjutkan komitmennya dalam berbagi pengetahuan dan inspirasi demi kemajuan dunia usaha dan masyarakat Indonesia. IKF BCA 2019 ini mengangkat tema "Nurturing Mindset for the Next Era of Capital Culture".

Salah satu Pesta Akbar Pengetahuan terbesar di Tanah Air ini diharapkan dapat jadi One Stop Knowledge Solution bagi setiap organisasi yang membutuhkan pengetahuan untuk diterapkan dalam organisasinya.

Itu karena forum ini menghadirkan lebih dari 32 pembicara inspiratif. Juga dilengkapi dengan serangkaian expo dan exhibition yang diikuti exhibitor penyedia pengetahuan dan teknologi.

Sebagai blogger sekaligus jurnalis olahraga yang jadi bagian dari masyarakat umum
, tentu saya enggan ketinggalan untuk menyimak rangkaian acara yang menambah wawasan dan inspirasi ini. 

Apalagi, mengingat beberapa pembicara sudah saya kenal, misalnya dari dunia olahraga ada Founder & CEO of PT Deteksi Basket Lintas Indonesia serta Presiden Persebaya Surabaya Azrul Ananda dan CEO Bali United Yabes Tanuri.

Sementara, untuk travel dan blogger ada Riyanni Djangkaru dan Trinity. Untuk perbankan, diwakili Presiden Direktur PT BCA Tbk Jahja Setiaatmadja. Dalam kesempatan itu, BCA juga meluncurkan aplikasi mobile, WELMA. Tujuannya, demi memudahkan masyarakat dalam membeli produk investasi seperti reksa dana, obligasi, dan edukasi asuransi.

Kebetulan
, saya tidak asing dengan BCA Maklum, saya jadi nasabah sejak 1998 silam. Alias, ketika masih kanak-kanak hingga kini rekan seangkatan sudah banyak yang punya anak. Terlebih, saya sangat terbantu dengan berbagai produk dan program yang dikeluarkan bank terbesar di Tanah Air ini.

Apalagi
, mengingat BCA sangat dekat dengan masyarakat Indonesia. Bank yang berdiri sejak 21 Februari 1957 ini selalu mendukung berbagai event atau inovasi yang melibatkan anak bangsa. Mulai dari wayang, batik, tenun ikat, Liga Mahasiswa, hingga Indonesia Open.

Nah, WELMA yang merupakan dari akronim Aplikasi Wealth Management BCA ini kian memudahkan masyarakat Indonesia, khususnya nasabah BCA yang menggunakan aplikasi ini untuk membeli atau menjual produk investasinya. Juga untuk memantau portofolio investasi dan mencari informasi produk asuransi dengan mudah, aman, dan nyaman.

Bagi saya, ini menarik. Terutama, mengingat dalam beberapa tahun terakhir saya mencoba untuk belajar terkait reksa dana. Dengan WELMA bisa membuat saya lebih terpacu lagi untuk mengakrabkan diri dengan reksa dana. Apalagi, aplikasi ini terkoneksi dengan status saya sebagai nasabah BCA yang cukup mengaksesnya lewat satu id.

"Penyelenggaraan IKF ini sudah BCA gaungkan untuk yang kedelapan kali. Tidak hanya sekadar memberikan wawasan, tapi juga mendorong inovasi dan kreativitas para pelaku usaha agar terus semangat berinovasi. Khususnya, generasi muda demi menyokong pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah era revolusi industri 40," kata Jahja, dalam sambutannya, Selasa (8/10).

Peluncuran WELMA bersamaan dengan IKF 2019 ini merupakan bagian dari dukungan BCA terhadap program pemerintah melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang terus menggalakkan Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia (SNLKI Revisit 2017) guna mengedukasi dan mewujudkan indeks literasi keuangna yang tinggi dari masyarakat Indonesia
. 

Sehingga, dapat memanfaatkan produk dan layanan jasa keuangan yang sesuai untuk mencapai kesejahteraan. Bisa dipahami mengingat sebagai perbankan swasta andalan masyarakat, BCA ingin terus mendukung program pemerintah dalam rangka edukasi literasi keuangan.

"BCA juga mencermati pentingnya investasi bagi anak muda khususnya. Itu mengapa, kami tergerak untuk berinovasi dalam menciptakan aplikasi berbasis digital untuk memudahkan masyarakat dalam melakukan investasi. Hal ini diwujudkan secara nyata dalam peluncuran WELMA, aplikasi Wealth Management untuk berinvestasi," Jahja, menambahkan.

Aplikasi ini bisa diunduh langsung secara gratis
. Saya yang menggunakan ponsel berbasis Android dapat menginstalnya pada Google Play Store. Setelah registrasi, tinggal menghubungkannya dengan nomor kartu ATM BCA agar bisa terkoneksi.

Di WELMA ini, kita juga dapat melakukan perbandingan produk investasi. Ini menarik, bagi Anda yang sedang belajar reksa dana dan obligasi serta ingin mengetahui lebih dalam tentang dunia asuransi. 

Yupz, dengan WELMA dari BCA, kini kita bisa mengenal semuanya dalam satu genggaman!***


*         *         *

*         *         *

*         *         *

*         *         *

*         *         *

*         *         *

*         *         *

*         *         *
Artikel Terkait BCA
BCA Terima Penghargaan MURI atas Gerakan Berbagi Buku untuk Indonesia
- Jakarta, 11 Oktober 2019

Jumat, 04 Oktober 2019

Claudio Marchisio dan Babak Baru Dimulai


Saya foto bersama Claudio Marchisio usai wawancara saat Juventus
mengunjungi Tanah Air pada 2014 silam
(Foto: Harian TopSkor)

DI kolong langit ini tiada yang abadi. Ada yang datang, sudah pasti (harus) ada yang pergi. Pun demikian dalam sepak bola.

Bintang baru bermunculan
. Sementara, yang tersisa seperti terengah-engah. Kendati, ada beberapa yang coba bertahan. Hanya, itu perbandingannya jomplang.

Sementara
, yang memudar justru bejibun...

Penggemar Seri A
, terutama fan Juventus, gempar pada Kamis (3/10). Itu terkait keputusan Claudio Marchisio untuk gantung sepatu. Ya, bagi saya, Anda, atau kalian yang merupakan Juventini -julukan fan Juventus- tentu tidak asing dengan pria kelahiran 19 Januari 1986 tersebut.

Marchisio jadi salah satu simbol Juventus pada dekade ini
. Bahkan, disebut sebagai penerus Alessandro Del Piero. Apalagi, mengingat Marchisio merupakan jebolan asli akademi Juventus. Di sisi lain, Del Piero direkrut dari Padova pada 1993 yang bertahan dengan I Bianconeri hingga 2012 silam.

Nah, sejak Del Piero hijrah ke Sydney FC, Marchisio secara tidak langsung didapuk sebagai penerusnya. Fan menjulukinyaIl Principino alias sang pangeran kecil. Wajar saja mengingat Marchisio berseragam Juventus sejak 2005 hingga 2018 silam.

Dalam periode itu, dia hanya sekali disekolahkan ke ke Empoli pada 2007/08. Karena satu hal, dua musim lalu, Marchisio memutuskan hengkang dari Juventus. Zenit Saint Petersburg yang berkiprah di Liga Primer Rusia jadi pelabuhan berikutnya. Sempat tampil dalam 15 pertandingan, akhirnya 1 Juli lalu, Marchisio mengakhiri kontraknya.

Saat ini, usianya baru 33 tahun. Di Italia, usia tersebut masih tergolong produktif. Apalagi, mengingat posisinya sebagai gelandang. Sebagai catatan, Del Piero (striker) masih berseragam Juventus hingga 38 tahun. Pun demikian dengan legenda hidup AS Roma, Francesco Totti yang mencapai 41 tahun.

Namun, keputusan Marchisio sudah bulat. Sebagai fan, tentu saya sangat menghormati apa pun pilihannya. Kendati, harus diakui merasa kehilangannya. Maklum, Marchisio memegang peranan penting dalam kebangkitan Juventus usai calciopoli. Termasuk, berkontribusi atas tujuh scudetti serta dua kali ke final Liga Champions.

*          *          *

APALAGI, saya memiliki kesan khusus terhadapnya. Ya, Marchisio sangat ramah saat diwawancarai ketika Juventus tur di Indonesia pada 2014 silam. 

Terlebih, pertemuan itu sangat eksklusif mengingat saya ditugaskan kantor, Harian TopSkor khusus untuk menyambut skuat Juventus. Selain dirinya, saya juga berkesempatan mewawancarai Andrea Pirlo dan Giorgio Chiellini.

Sepanjang 30 menit, Marchisio bertutur dengan lugas terkait pengalamannya bersama Juventus dan tim nasional (timnas) Italia. Sebagai catatan, Marchisio punya penyesalan akibat gagal memberikan gelar untuk Gli Azzurri. Pencapaian terbaiknya menembus final Piala Eropa 2012.

Pun demikan bersama Juventus yang harus puas jadi runner-up Liga Champions 2014
/15 dan 2016/17. Namun, apa pun itu, Marchisio sudah melakukan yang terbaik. 

Kini, tersiar kabar dia bakal masuk dalam jajaran direktur Juventus. Rumor juga berembus, Marchisio siap mengambil lisensi kepelatihan.

Apa pun itu, Marchisio siap membuka lembaran baru setelah kariernya sebagai pemain tuntas. Ciao, Il Principino!

Simak wawancara eksklusif Claudio Marchisio dengan Harian TopSkor saat Juventus tur pada 2014
https://s.id/MarchisioPanas

*          *          *
- Jakarta, 4 Oktober 2019