TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol

Senin, 09 Maret 2026

Orderan Hemat, Jemput Jauh, dan Alasan Ojol Cancel Penumpang

Orderan Hemat, Jemput Jauh, dan Alasan Ojol Cancel Penumpang


...


MENJELANG waktu berbuka puasa merupakan momen yang penuh warna. Khususnya bagi ojek online (ojol) yang bergelut di jalanan setiap harinya.


Apalagi, Ramadan tahun ini bertepatan dengan musim hujan. Alhasil, tiap sore, ibu kota pun basah kuyup diguyur air yang turun dari langit.


Bagi ojol, hujan punya dua sisi. Pertama, jelas gacor alias gampang cari orderan. 


Sisi lainnya, jemput terlalu jauh. Apalagi, jika hujan menjelang maghrib yang bertepatan dengan jam pulang kerja karyawan dan yang ingin buka bersama (bukber), ngabuburit, atau beli takjil.


Bagi penumpang? Hujan saat sore plus suasana Ramadan ini untuk mendapatkan ojol jadi cobaan yang dicobain.


Baik itu untuk pesan orderan penumpang, kirim paket, makanan, atau jastip. 


*       *       *


"MAS, kenapa sih dari tadi susah dapat ojol? Saya udah setengah jam lebih ga dapat-dapat," ujar penumpang yang saya jemput di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, menuju stasiun moda transportasi berbasis rel.


Saat itu, jalanan yang saya lewati benar-benar macet sejak siang. Mulai dari Jalan Daan Mogot, Tomang, Thamrin, Sudirman, Satrio, hingga Rasuna Said.


"Saya udah pake empat aplikasi. Go***, Gr**, Max**, dan Indriv**. Ga ada yang dapat," pelanggan itu melanjutkan. "Malah banyak dicancel duo ijo dengan alasan jemput kejauhan dan pakai layanan hemat atau voucher. Sampe pasrah saya mau ke stasiun."


Saya mendengarkan dengan khidmat. Enggan memotong hingga penumpang itu benar-benar selesai bicaranya.


"Emang ini gara-gara saya pake hemat ya? Jadi dicancel terus sama ojolnya?" katanya lagi.


"Lah, ini saya lagi bawa Anda. Ini layanan hemat kan ga saya cancel?"


"Iya, mas. Ini saya baru dapat setelah belasan kali dicancel di duo ijo. Kalo dua aplikasi lainnya malah muter-muter terus."


"Saya kan ga cancel. Mau itu layanan hemat, reguler (biasa), atau penjemputan prioritas yang lebih mahal, saya tetap bawa. Yang penting jadi uang. Toh, keluarga saya ga pernah nanya, tiap hari saya bawa penumpang yang pakai layanan hemat itu berapa. Mereka hanya nanya, gimana hari ini ngojol, 'ramai apa nggak?' Kalo ramai, ya alhamdulillah. Kalo sepi yang dijalanin aja," saya menjelaskan.


Penumpang itu terkekeh mendengar jawaban saya. Situasi tampak likat baginya.


Usai seperminuman teh, customer itu melanjutkan.


"Iya, saya baca di medsos, katanya ojol Go*** dan Gr** pada ga mau bawa orderan hemat. Padahal kan itu emang udah disediakan dari aplikasinya untuk penumpang," pelanggan yang usianya berkisar seperempat abad tipis-tipis ini menuturkan. "Emang salah ya mas, kalo kami sebagai penumpang pilih orderan hemat?"


Pertanyaan itu merupakan yang ke sekian kali ditujukan penumpang kepada saya. Jawaban saya, tetap template.


"Ga salah dong ka. Hak customer untuk pilih layanan hemat yang memang disediakan aplikasi."


"Terus, kenapa banyak ojol yang cancel. Bahkan, saya dengar di medsos, katanya ojol jijik kalo dapat orderan hemat."


"Nah, ini buktinya si kakak pesan hemat. Saya tetap ambil kan?"


"Iya sih, kadang ada yang kayak mas, mau ambil orderan hemat. Namun, lebih banyak lagi yang cancel. Bahkan nolaknya ketus banget."


"No comment, dah kalo itu. Kalo saya sih nilai, hak setiap masing-masing ojol untuk mau ambil atau nolak orderan hemat. Bebas aja. Kami ini kan mitra. Bukan karyawan aplikasi. Buktinya, setiap hari saya dapat 10-20 orderan penumpang, mayoritas hemat. Biasa aja. Mau itu hemat atau reguler bahkan yang mahal pun. Yang penting, saya pulang bawa uang."


"Serius mas? Jawaban ini ga ada 'gula-gulanya' kan?"


Saya pun menepikan sepeda motor di jalan yang populer dijuluki "Orchard-nya Jakarta". Sambil mengambil hp di holder untuk memperlihatkan riwayat orderan di aplikasi kepada penumpang.


"Nih, lihat di aplikasi. Bukan screenshot ya. Hari ini saya udah dapat 19 order dari start setelah imsak. Tuh, mayoritas hemat ada 15 termasuk yang berjalan saat ini. Kan ada logonya, di aplikasi antara orderan hemat, reguler, prioritas, atau instan."


"Iya ya. Berarti mas ga masalah ambil orderan hemat?"


"Yang masalah itu kalo dapat penumpang ga bayar. Alias kabur."


"Serius?"


"Ya, udah beberapa kali. Baik layanan penumpang, makanan, atau jastip. Ya, risiko pekerjaan."


"Gimana ceritanya mas?"


"Next ajalah. Mending kita fokus pada pembahasan hemat ini."


"Ok..."


*       *       *


SEBAGAI ojol, saya beberapa kali ditinggal kabur penumpang yang ga bayar. Ya, mau gimana lagi, namanya kerja pasti ada risiko.


Anggap aja, lagi kurang beruntung. Toh, saya sering dapat tip dari penumpang dengan nominal yang wah.


Jadi, saya anggap subsidi silang. Penumpang A kabur ga bayar. Ga lama, ada customer B yang kasih tip berkat pelayanan yang memuaskan. 


Nanti pada artikel selanjutnya saya ceritakan.


"Mas, mau tahu ga alasan kenapa saya dan penumpang lainnya banyak pake hemat?" ujarnya lagi.


"Ga. Itu hak penumpang. Bebas aja."


"Kok gitu?"


"Lah, mau jawaban gimana? Mau saya ngeluh gitu karena ongkos hemat lebih murah? No! Itu penggiringan opini."


"He... He..."


"Gini ya. Saya kan dulu pernah kerja sebelum jadi ojol. Jadi, saya paham, untuk ongkos transportasi seperti ojol, taksi online (taksol), taksi konvensional, TJ, KRL, MRT, hingga LRT itu maksimal 30 persen dari pengeluaran. Sisanya, untuk bayar cicilan, baik rumah, paylater, kebutuhan sehari-hari, listrik, kuota, asuransi, dan sebagainya."


Dari kaca spion, tampak sang pelanggan  mengangguk. 


"Saya sering dapat penumpang yang tinggal di Cikarang, Bekasi, kerjanya di utara Jakarta. Sehari itu mereka untuk pp (pergi-pulang) transportasi bisa 100 ribu. Mulai dari naik ojol dari rumah ke stasiun, KRL, lanjut TJ, terus dari halte TJ pesan ojol ke tempat kerja dan sebaliknya saat pulang. Bisa dibayangkan dikali 26 hari kerja."


Obrolan terhenti karena banyak kaum primata yang menyalakan petasan di tengah jalan. Manusia-manusia tolol ini memang meresahkan. 


Sampah masyarakat ini ga tahu situasi, jalanan lagi ramai eh malah masang petasan yang membahayakan pengendara dan orang lewat. Giliran diciduk Polkis, ntar playing victim dengan menyebut tradisi Ramadan.


"Jadi, kalo penumpang pake hemat itu wajar. Agar mereka bisa menekan pengeluaran dari naik ojol. Sama seperti waktu itu ada penumpang cerita, naik LRT nunggu hingga pukul 20.00 WIB demi ongkos di luar jam sibuk Rp 10 ribu. Sah-sah aja. Ekonomi lagi sulit, alhasil kita harus berhitung dengan cermat."


"Wah, mas ini bijak ya. "


"Ga juga. Tapi, sebagai ojol, saya harus adaptif. Toh, kita lihat sesuatu harus dua sisi."


"Nah itu mas. Nih, tahu ga, dari kantor saya ke stasiun itu saya pake hemat bayar 16 ribu. Kalo yang reguler 35 ribu. Terus, kalo mau dapat ojol yang lebih cepat harus nambah 4 ribu. 35 + 4 = 39 ribu. Jauh banget kan bedanya sama hemat?"


Saya mengiyakan. Memang, di aplikasi customer tertera seperti itu. Untuk jam sibuk dan hujan, tarif reguler ada kenaikan harga. Fluktuasi. Tergantung ramainya orderan. 


Di sisi lain, untuk layanan hemat, argonya tidak berubah.


"Ketimbang bayar uang 35 ribu atau 39 ribu, atuh mending saya keluar 16 ribu yang hemat. Toh, biasanya saya selalu kasih tip untuk ojol," ucap sang penumpang.


"Bagi saya dan mungkin penumpang hemat lainnya, lebih baik kasih tip ke ojolnya 5-10 ribu ketimbang layanan reguler yang tarifnya dua kali lipat. Saya salah ga mas?"


Saya mengangguk.


"Ga dong. Kan udah dijelasin dari awal. Hak penumpang untuk pilih layanan, baik hemat, reguler, atau prioritas. Bahkan, ga harus kasih tip juga. Ntar penumpang merasa itu kewajiban yang malah jadi memberatkan," kata saya.


"Terkait ojol yang cancel, itu akibat jemputnya jauh. Misal, tadi saya jemput Anda aja 1.7 km. Posisi saya saat itu di Mampang. Sementara, Anda di Mega Kuningan. Tahu sendiri kan, macetnya Tendean kalo sore? Tapi, tetap saya ambil. Masih masuk hitungannya," lanjut saya.


"Beda lagi jika jaraknya 2 km lebih. Otomatis saya cancel. Bahkan, kalo sore gini jam pulang kerja, jemputnya bisa 3 hingga 5 km. Tanpa drama, langsung saya cancel. Terlalu jauh. 


Kecuali kalo pelajar, mahasiswa, atau penyandang disabilitas. Saya punya pertimbangan khusus untuk tetap ambil.


Itu jadi alasan ojol cancel. Secara, jemput itu ga dikenakan tarif. Jadi, kalo jemputnya jauh, wajar jika ojol cancel karena rugi bensin dan macet. Apalagi kalo jarak jemputnya 5 km dan ongkos hanya 10 ribu? Saya pun ga mau. 


Kami sebagai ojol kan kerja untuk nyari uang, bukan nyari berkah, pahala, atau tiket ke surga. Jadi, mohon kepada Anda dan customer lain untuk sama-sama dipahami. Bahwa, ojol cancel orderan bukan berarti malas atau akibat customer pakai layanan hemat. Melainkan karena jemputnya terlalu jauh yang jaraknya ga masuk akal."


Setelah melewati jalanan yang dipenuhi sampah masyarakat, alias pak ogah di kedua sisi dan juru parkir liar yang bikin macet, kami pun sampai.


"Terima kasih ya mas atas informasi yang mendalam. Sekarang saya jadi paham alasan dicancel ojol akibat jemputnya terlalu jauh," ucap penumpang sambil turun dari motor.


"Terima kasih kembali. Sama-sama ka. Oh ya, kalo lagi mendesak atau penting, penumpang juga bisa datangin ojol yang nongkrong atau lewat dengan masukin kode untuk langsung berangkat."


"Oh, seperti di stasiun ya?"


"Ya, ada Go*** Instan dan Gr** Now. Nanti customer kasih kode biar diinput ojolnya. Hanya, harga memang sedikit lebih mahal dibanding tarif biasa apalagi hemat. Namun, ini sangat berguna jika kita sedang buru-buru ke acara atau keadaan mendesak."


Penumpang itu pun mengangguk usai memberikan helm untuk masuk. Suasana di jalan jelang maghrib pun kian ramai.


Selain klakson motor, mobil, dan bus, juga kata-kata mutiara dari kebon binatang yang keluar antarpengendara akibat ada yang lawan arah serta berhenti tengah jalan. Ah, sungguh sore yang syahdu...



*       *       *


- Jakarta, 9 Maret 2026





Senin, 20 Oktober 2025

Sembilu, Ella, dan Pamor Musisi Malaysia

Sembilu, Ella, dan Pamor Musisi Malaysia

Ella saat konser beberapa waktu lalu
(Foto: ChannelNewsAsia)


CUACA di Indonesia, khususnya Jakarta memang anomali. Saat puncak kemarau pada Juli-Agustus, kerap turun hujan lebat. 

Bahkan, beberapa daerah sampai kebanjiran. Eh giliran Oktober ini yang sudah musim hujan, malah panasnya minta ampun.

Memang sih, sempat beberapa kali hujan sepanjang bulan ini. Namun, intensitasnya tergolong rendah.

Mayoritas rinai saja. Bahkan, malah bikin gerah.

Itu yang saya alami. Usai rinai pagi tadi, siangnya malah kembali terik.

Ditambah lagi macet yang kian parah akibat parkir liar, pak ogah, dan galian dimana-mana. Alhasil, saya pun berusaha meredakannya dengan banyak minum air putih.

Plus, air tebu murni yang dibeli di Pasar Tanah Abang. Langsung diperas dari penggilingan dengan dimasukkan ke gelas dan ditambah sedikit es batu.

Hmm... Yummi!

Ya, sekali-sekali memanjakan tenggorokan. Asal jangan keseringan, secara lagi musim batuk.

"Mas, ini ada yang mau ngojek."

Terdengar teriakan dari belakang saya dekat pertokoan. Saya pun menoleh.

Yang manggil, pria, masih muda yang bisa jadi warga setempat. Di sampingnya, masih muda juga, mungkin seperlima abad tipis-tipis dengan bawa beberapa bungkusan.

"Maaf mas, saya ojol (ojek online). Itu aja di depan ada opang (ojek pangkalan)," kata saya menolak halus.

Bukan maksud menolak rezeki. Faktanya, ga jauh dari lokasi kami berderet rekan opang.

Saya ga mau ambil rezeki orang lain. Secara, namanya ojol dapat orderan via aplikasi.

Kendati, sering juga saya dapat penumpang secara offline alias tanpa aplikasi. Namun, itu situasional. Alias, hanya berlaku saat aplikasi error, hujan lebat atau force majeur seperti ada demo. 

"Ambil aja bro. Ga apa-apa," ujar salah satu rekan opang berteriak sambil mengacungkan jempol.

Saya pun mengangguk karena sudah dipersilakan mereka. 

"Tadinya rekan saya mesan aplikasi, cuma udah 30 menit ga dapat-dapat. Minta ke opang katanya kejauhan. Ini ga apa-apa bawa gembolan ya?" pria itu menjelaskan.

"Kemana mas?"

"Serpong."

"Ebuset. Jauh bener mas."

"Iya, mau naik kereta ribet bawa gembolan. Pesan ojol dan taksol dicancel terus. Taksi konvensional ga ada yang lewat. Maklum, kawasan macet. Mau ya, nanti dilebihkan."

"Oke deh."

"Makasih ya mas. Pelan-pelan aja bawa rekan saya," katanya sambil menyelipkan sesuatu ke dashboard motor.

Pas saya lihat, masing-masing selembar merah dan biru. Wow...

Saya mau bilang kebanyakan dan ingin kembaliin, tapi dia memperlihatkan gestur menolak sambil berbincang dengan penumpang yang hendak naik.

Saya pun langsung semangat. Secara, jika dengan aplikasi, tarifnya ga sampai setengah.

"Misi ya, mas," tutur penumpang saya saat naik di jok dan menitipkan dua bungkusannya di cantelan depan motor.

"Oke. Kita otw. Helmnya tolong dikunci ya. Mohon jangan main hp, takut jambret," saya mengucapkan kalimat template yang sudah diulang hingga ribuan kali kepada penumpang.

Maklum, sebagai ojol yang bergerak di bidang jasa, saya harus ramah dan memastikan 3K kepada penumpang. Yaitu, keselamatan, keamanan, dan kenyamanan.


*         *         *


SEBELUM berangkat, saya cek Google Maps jaraknya berkisar 30-an km. Ini mengingat ada tiga rute dengan kemacetan dan estimasi waktu tempuh yang hampir sama.

Yaitu, lewat Jalan Raya Daan Mogot, Joglo, atau Bintaro. Saya ambil opsi pertama karena masih siang, perkiraan lancar.

Beda cerita kalo sore atau jam pulang kerja, beuh Daan Mogot itu menguji nyali sejak Citraland hingga Kalideres. Bagi saya, macetnya itu sejajar dengan Simatupang, Cacing (Cakung-Cilincing), Kalimalang, dan Kapuk Raya.

Hingga Poris, Tangerang, suasana masih anteng. Saya fokus mengendarai motor dengan berbinar-binar karena sudah mengantungi "pek go".

Yeeei, manusia mana yang ga ijo lihat duit. Saya pun gitu, asal halal dan ga merugikan orang lain.


...


Sementara, penumpang di belakang saya turut bersenandung kecil dengan headset di telinganya. Ga apa-apalah, yang penting jangan dimainin hpnya, rawan jambret.

Sayup-sayup saya dengar lagu lawas dari penyanyi wanita asal Malaysia. Kayaknya, ini penumpang fasih bener nyanyinya.


"Tak dapat ku bayangkan

Tuturmu bagai sembilu

Mencakar hati ini

Tanpa simpati di hati..."


Ih... Keren, dalam hati saya. Cengkoknya khas melayu banget.

"Wow... Sembilu by Ella. Mantap betul," saya memuji. Meski suaranya pelan, tapi tetap terdengar karena jalanan siang itu cukup lenggang tanpa klakson dari kendaraan lain.

"Wah, terima kasih. Anda tahu juga kah ini yang lantunkan aslinya Ella?"

"Tahu dong. Ella kan Queen of Rock Malaysia," jawab saya.

"Nah, cakap itu. Betul," dia melanjutkan. "Berarti Anda paham lagu-lagu Malaysia?"

Mendengar pertanyaan itu, saya pun mengangguk. Maklum, Indonesia dan Malaysia kan tetangga dekat. 

Masih serumpun. Banyak lagu dari jiran, baik penyanyi solo wanita, pria, atau band yang digemari masyarakat Indonesia. 

Termasuk saya yang sejak pertengahan dekade 1990, kerap mendengarnya via kaset, CD, atau VCD.

Beberapa di antaranya pernah saya ulas 13 tahun silam, https://www.kompasiana.com/roelly87/5519b83a8133118b7a9de0c7/lima-musisi-legendaris-malaysia?page=all.

"Ella itu masih eksis hingga kini. Suaranya pun bagus kali saat konser kemarin," ucap penumpang itu.

"Ya, padahal usianya sudah kepala lima..." jawab saya.

"Hampir kepala enam. Tepatnya, 60 tahun pada 31 Juli mendatang," dia memotong.

"Iya."

"Selain Ella, Anda suka siapa saja dari musisi asal kami?"

"Kami?"

"Iya, maksudnya dari Malaysia."

"Oh... Anda dari Malaysia?"

"Iya, dari Perak, sebelahan dengan kampong halaman Ella di Penang."

"Maaf, kirain saya, Anda dari Indonesia."

"Ga apa-apa. Memang orang kita satu sama lain hampir mirip."

"Iya, saya pikir, Anda habis belanja di Pasar Tanah Abang."

"Ga. Ini oleh-oleh untuk keluarga. Namun dibawa via ekspedisi. Saya ke sini karena libur kuliah. Pekan depan balik ke KL (Kuala Lumpur)."

"Oh... Ok."

"Anda pernah ke Malaysia?"

"Sebentar, ya. KL dua kali dan Sarawak. Namun, aslinya di ibu kota kalian hanya transit di pesawat menuju Schiphol sebelum lanjut ke Heathrow..."

"Eh, Schiphol di Amsterdam, Belanda. Lalu, Heathrow di London, UK?" dia memotong lagi.

"Iya."

"Ih... Sedapnya!"

"Itu saat saya nonton final Liga Champions 2016/17 di Cardiff, Wales, Britania Raya. Ga sampe keluar bandara. Hanya transit sebentar. Namun, sempat menghirup udara jiran. He he he."

"Asyiknya." 

Ya, delapan tahun silam, saya berkesempatan nonton final Liga Champions antara Juventus versus Real Madrid yang berujung air mata. 

Bisa dipahami mengingat sudah jauh-jauh ke Negeri David Beckham, plus perjuangan menang lomba blog, eh sampe sana malah berujung getir. 

Maklum, klub favorit saya, Juventus harus takluk 1-4 dari Madrid. (Artikel terkait: https://www.roelly87.com/2017/06/saksi-juventus-di-final-liga-champions.html)

"Satu lagi, di Tebedu, Sarawak, saat saya bersama rekan-rekan bloger dan rombongan dari Kementerian Sekretariat Kabinet meninjau pos perbatasan. Kami sempat singgah sebentar di pasar kawasan Tebedu," saya menjelaskan.

(Artikel terkait: https://www.roelly87.com/2018/04/plbn-entikong-perbatasan-indonesia.html)

"Setkab yang sekarang viral, Letkol Teddy, ya?" 

"Bukan. Dulu masih Pramono (Anung). Sejak 2024 baru Letkol Teddy Wijaya."

"Oh."

"Pramono sekarang Gubernur Jakarta berpasangan dengan Rano Karno, sebagai wakilnya."

"Si Doel?"

"Yoi. Itu tahu."

"Di negeri kami, serial itu populer. Apalagi, di season awal ada Hans sebagai Adam Jagwani."

"Oh ya, adiknya Sarah itu kan asli Malaysia."

"Iya, dia dari Sarawak."


*         *         *


MEMASUKI Tangerang Selatan, jalanan mulai macet. Maklum, di kawasan ini ada beberapa perumahan elite yang jadi penyangga kota tersebut.

Jalannya pun cukup mulus berkat peran swasta. Beda jauh jika kita ke kawasan Ciputat atau Pamulang yang seperti anak tiri akibat pemerintahnya kurang tanggap.

"Sudah lama paham musik Malaysia?" tutur penumpang itu usai saya mengecek ban belakang yang kayak kempes atau bocor halus.

"Sejak kecil. Sekitar pertengahan 90-an."

"Wah, saya belum lahir. Udah lama kali."

"Dari dulu sampe sekarang, lagu-lagu pop atau rock Malaysia tetap diminati masyarakat Indonesia. Begitu pun sebaliknya. 

Untuk penyanyi wanita, saya suka dengar Ella, Siti Nurhaliza, dan Sheila Majid. Anita Sarawak juga bisa dimasukin meski lahir di Singapura tapi sekarang kan tinggal di KL.

Kalo band, ada Search, Exist, Sting, Iklim, Spoon, Wings, dan banyak lagi.

Jangan lupakan P. Ramlee, legenda termahsyur Malaysia. Di Indonesia, lagu-lagunya sering diputar. Termasuk, Madu Tiga yang dibawakan ulang Ahmad Dhani."


...

"Tak disangka, ternyata, masyarakat Indonesia banyak juga yang paham musisi asal negeri kami ya," ucap penumpang itu.

"Iya. Musik kan universal. Contoh, lagu Isabella..."

Bersambung...


*         *         *

- Jakarta, 20 Oktober 2025


*         *         *




*         *         *



*         *         *

Jumat, 17 Oktober 2025

Trade Expo Indonesia 2025

Trade Expo Indonesia 2025
(Foto: koleksi pribadi/ @roelly87)



SETAHUN ga terasa berlalu dengan cepat. Seperti baru kemarin menghadiri Trade Expo Indonesia (TEI) 2024 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) Bumi Serpong Damai (BSD), Kabupaten Tangerang. 

Eh, udah hadir lagi pada event dan tempat yang sama. Tepatnya, dalam TEI 2025, Kamis (16/10).

Edisi ke-40 pameran ekspor terbesar di Asia Tenggara ini berlangsung lima hari pada 15-19 Oktober. Terdapat 1.600-an lebih pelaku usaha untuk meluaskan pasarnya ke penjuru dunia.

Berdasarkan data Kompas, ada 8.045 pembeli terdaftar dari 130 negara. Pameran ini menampilkan tiga zona utama, yaitu produk pangan dan pertanian, manufaktur, serta jasa dan gaya hidup. 

Target transaksi TEI 2025 sebesar 16,5 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau kalau dikurs hingga Rp273 triliun!

Jumlah yang fantastis...

Khususnya, bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Beberapa di antaranya turut dibawa PT Astra International Tbk, dengan 23 UMKM yang tersebar di Hall 3A ICE BSD. Terdapat tiga kategori dengan komposisi 10 pelaku usaha yang dibina Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) dan 13 dari Desa Sejahtera Astra (DSA).

Jumlah tersebut meningkat dari tahun lalu, dengan 19 UMKM seperti yang sudah saya ulas dalam https://www.roelly87.com/2024/10/trade-expo-indonesia-2024-dan-momentum.html.

Nah, ke-23 UMKM ini merepresentasikan kekuatan dan keberagaman produk unggulan Indonesia. Untuk kategorinya berdasarkan data resmi dan hasil keliling di booth Astra di Hall 3A ICE BSD, meliputi:


1. Kategori Makanan dan Minuman Olahan (9 UMKM) diwakili UMKM produk siap saji dan olahan:

• CV AROMA SUKSES (Cirebon, Jawa Barat) memproduksi Bawang Goreng Premium dan telah mengekspor ke Australia, Taiwan, dan Amerika Serikat (AS).

• PT QISBELIAN SNACK INDONESIA (Bontang, Kalimantan Timur) dengan produk Amplang Kuku Macan yang telah menembus pasar Italia, Australia, dan California (AS).

• CV Khaira Buana Mas (Kulon Progo, Yogyakarta) memproduksi Jamur Crispy dan telah mengekspor ke Australia.

• Koperasi Rumah Biru Sejahtera (Sikka, Nusa Tenggara Timur) menawarkan produk olahan kakao seperti Cocoa Bean fermented, cocoa powder, hingga cashew nut berbagai varian rasa.

• CV Centerindo Kurnia Tritama (Kab. Bantul, Yogyakarta) yang menjual Teh eukaliptus, wedang uwuh, minuman instan jahe, permen, dan ginger cookies, serta telah mengekspor ke Malaysia, Kanada, Jerman, dan Jeddah (Arab Daudi).

• CV Ghani Wijaya Makmur (Sumedang, Jawa Barat) menghadirkan Snack Makaroni panggang dan Basreng (bakso goreng).

• PT BATTENBERG TIGA INDONESIA (Bandung, Jawa Barat) dengan produk andalan Biscuit Brownies Bites Glutenfree Dairyfree dan Cokelat Powder Drink, yang memiliki riwayat ekspor ke Malaysia, Kanada, Jerman, dan Jeddah (Arab Saudi).

• PT Imago Raw Honey (Bogor, Jawa Barat) memamerkan produk Madu dan Granola.

• Pawon Koe Mevrouw (Banyuwangi, Jawa Timur) yang produknya meliputi Salmon skin dan Keripik cumi, dengan riwayat ekspor ke Jepang dan Belanda.

***

2. Kategori Komoditas Pertanian (6 UMKM) fokus pada komoditas mentah maupun olahan awal:

• PT Syailendra Bumi Investama (Karanganyar, Jawa Tengah) menawarkan Minyak Atsiri dengan pasar ekspor yang luas meliputi Asia, Eropa, hingga Timur Tengah.

• PT SARI BHUWANA NUSAJAYA (Sidoarjo, Jawa Timur) menghadirkan rempah utuh, rempah bubuk, dan produk turunannya, dengan riwayat ekspor ke tujuh negara.

• CV Mekanira Nusantara (Banyumas, Jawa Tengah) menjual Gula Kelapa (Coconut Sugar) & Produk Turunan Kelapa lainnya, dengan riwayat ekspor ke Australia, Bulgaria, dan Singapura.

• CV TEMON AGRO LESTARI (Pacitan, Jawa Timur) dengan produk Gula Aren semut, cair, cetak, dan serbuk siap seduh jahe merah gula aren, yang telah diekspor ke Kanada, Jepang, dan Belanda.

• PT EFFA CIPTA SEJAHTERA (Kerinci, Jambi) fokus pada Cinnamon Stick dan Cinnamon Powder, dengan riwayat ekspor ke Nigeria.

• 1612 Coffee (Bandung, Jawa Barat) menampilkan Biji Kopi pilihan.

***

3. Kategori Craft Pendukung Fashion dan Home Décor (8 UMKM)  menampilkan produk kerajinan dan dekorasi rumah:

• CV Karya Winazar (Sukabumi, Jawa Barat) memproduksi berbagai alat dapur dan rumah tangga dari kayu seperti Cobek, Talenan, Sodet Sutil, hingga Rolling pin, dan diekspor ke Malaysia, Thailand, dan Brunei.

• PT Kain Ratu Utama (Jepara, Jawa Tengah) menjual Kain Tenun, Baju Tenun, Taplak Meja, Sarung Bantal Tenun, dan Tas Tenun, yang telah diekspor ke delapan negara termasuk Arab Saudi, Jepang, dan Singapura.

• WOOD MOOD (Jepara, Jawa Tengah) dengan Kerajinan kayu alat masak, alat makan, dekorasi, souvenir dan kado, diekspor ke Korea, Taiwan, Malaysia, India, Arab Saudi, Turki, dan lain-lain.

• PT Kreasi Dewe Indonesia / Ghawean Dewe (Jakarta Pusat) dengan boneka batik dan souvenir batik yang telah diekspor ke tujuh negara.

• CV Karya Wahana Sentosa (Bantul, Yogyakarta) menawarkan wooden kitchenware, wooden tableware, interior dan rumah kayu, dengan riwayat ekspor ke Jepang.

• UD Mitra Karya Sejahtera / Akaza (Jombang, Jawa Timur) yang menjual Kerajinan kayu alat rumah tangga dan alat dapur, diekspor ke Singapura dan Malaysia.

• PT PARJONO KERAMIK JAYA (Bantul, Yogyakarta) dengan Kerajinan Gerabah 

Kombinasi Serat Alam yang memiliki pasar ekspor luas termasuk Yunani, Prancis, 

Dubai, Belgia, Denmark, dan Amerika.

• Djohn Kreasi Batu Alam (Yogyakarta) yang memproduksi Accessories batu alam, dengan pasar ekspor ke India, Timur Tengah, dan Malaysia.


*        *        *


KOMITMEN Astra lewat berbagai yayasanya, termasuk YDBA dan DSA pada Trade Expo Indonesia 2025 ini hingga artikel ini ditulis Jumat (17/10) petang, telah melakukan enam Memorandum of 

Understanding (MoU) yang disepakati. Nilai transaksinya mencapai 4,2 juta dolar AS yang akan diekspor ke berbagai negara seperti Rusia, Bangladesh, Uni Emirat Arab, Malaysia, Kanada dan AS.

Selain penandatanganan MoU, sebanyak 25 UMKM binaan Yayasan Astra juga mengikuti pelatihan Strategi Ekspor yang merupakan kolaborasi antara Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia dengan Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Ekspor dan Jasa Perdagangan (PPEJP) Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. 

Tujuan dari pelatihan ini adalah agar peserta yang belum berkesempatan mengikuti TEI tahun ini, siap mengikuti pameran berikutnya.

Ya, seperti banyak tulisan saya dulu (www.roelly87.com/2024/09/astra-ydba-umkm-dan-kontribusi-untuk.html), Astra dan Yayasan Astra berkomitmen  terus mendukung UMKM Indonesia untuk 

tumbuh, berinovasi, dan berkontribusi pada peningkatan ekspor nasional, sejalan dengan semangat mewujudkan cita-cita "Sejahtera Bersama Bangsa".


*        *        *


"BAWANG goreng premium ini sudah diekspor ke mancanegara. Mulai dari Australia, Taiwan, Macau, Hongkong, hingga Amerika Serikat," kata Asinan, perwakilan CV Aroma Sukses (Wuenak) selaku produsen Bawang Goreng Premium merek Aroma.

Produk asal Cirebon itu juga jadi idaman si kapal-kapal mewah di Macau, Tiongkok. Juga disediakan di salah satu restoran di Sydney, Australia.

Di TEI 2025 yang berlangsung sejak Rabu (15/10), jadi momentum Asnina agar Wuenak lebih go international. Maklum, banyak buyer asal mancegara yang antusias mendatangi booth Astra yang lokasinya strategis depan pintu masuk Hall Nusantara ICE BSD.

"Kami mendapat LOI (Letter of Intent, atau Surat Pernyataan Niat/Minat) dari buyer India. Bertemu banyak pelanggan baru yang siap menghadirkan bawang goreng kami di restoran mereka," Asnina menuturkan.

"Kini, kami juga sedang menjajaki kerja sama dengan buyer asal Tiongkok. Semoga ini bisa memperluas pasar di tingkat global."

Ya, Trade Expo Indonesia ini merupakan event penting bagi pelaku usaha di Tanah Air, termasuk UMKM dalam melebarkan pasarnya. Tidak hanya untuk dalam negeri saja, melainkan juga mancanegara. 

Itu karena pameran yang berlangsung rutin setiap tahun -kecuali pandemi- sejak 1985 ini memang jadi tujuan utama pebisnis dalam dan luar negeri untuk mencari produk yang diminati, baik eksportir maupun importir.

"Trade Expo Indonesia 2025 jadi wujud nyata untuk memperkuat hilirisasi dan industrialisaai nasional. Sekaligus, memperluas peran dalan rantai pasok global menuju Indonesia Emas," tutur Menteri Perdagangan Budi Santoso.

Menurutnya, pameran ini turut menghadirkan serangkaian kegiatan pendukung bagi pelaku usaha. Seperti penjajakan kerja sama bisnis (business matching), konsultasi bisnis (business counseling), dan berbagai forum bisnis.

Pernyataan senada diungkapkan Ketua Pengurus YDBA Rahmat Samulo. Itu terkait partisipasi Astra bersama yayasannya dalam berbagai pameran yang melibatkan UMKM.

Bisa dipahami mengingat mereka memiliki ratusan mitra UMKM yang dibina untuk meluaskan pasarnya. Tidak hanya dalam negeri saja yang berkaitan untuk menyuplai ke Grup Astra, melainkan juga ekspansi ke mancanegara.

"Kami membawa 23 UMKM di TEI 2025 ini yang sudah melakukan pelatihan intensif ekspor sejak Mei lalu hingga Oktober," Rahmat, menerangkan.

Bahkan, demi memperkuat UMKM binaannya, Astra bersinergi dengan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia dan Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Ekspor dan Jasa Perdagangan (PPEJP) Kementerian Perdagangan untuk pelatihan strategi ekspor.

"Tujuan dari pelatihan ini agar peserta yang belum berkesempatan mengikuti TEI 2025, siap berpartisipasi pada tahun depan," ujar Rahmat terkait 25 UMKM yang diajak dalam pelatihan bertajuk Smart Export Strategy.

Bagi saya, apa yang dilakukan Astra sebagai pelaku usaha swasta untuk berkolaborasi dengan pemerintah, yaitu Kementerian Perdagangan dan KADIN, terkait pelatihan UMKM ini sangat menarik. Sebab, itu menegaskan, perusahaan yang berdiri sejak 1957 ini memang konsisten berperan dalam perputaran ekonomi Tanah Air.

"Kami tidak menilai pelatihan seperti ini layaknya kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility) saja. Melainkan sebagai investasi (bagi mereka)," Rahmat, melanjutkan. "Jika memahami strategi, UMKM itu bisa naik kelas. Mereka dapat masuk ke rantai pasok global."

Ya, Trade Expo Indonesia jadi salah satu dari sekian banyak pameran di Tanah Air setiap tahunnya untuk mengenalkan produk UMKM kepada calon pembeli, baik dalam dan luar negeri. Ini jadi peluang bagi setiap UMKM binaan Astra yang mendapat pelatihan dari sinergisitas swasta dengan kementerian dan KADIN.

Respek bagi Astra sebagai swasta yang sudah menyediakan pelatihan bagi mitra UMKM binaannya, lewat yayasannya, YDBA dan DSA. Pelatihan ini sangat penting.

Ibarat mau bertanding sepak bola yang merupakan kerja sama tim, kalo para pemainnya ga latihan lebih dulu ya bisa kacau. Stamina kedodoran sepanjang 90 menit hingga demam panggung mau nendang bola ke arah gawang malah kepeleset.

Namun, ini bukan soal sepak bola.

***

Salah satu UMKM binaan Astra, PT Kreasi Dewe Indonesia/ Ghawean Dewe yang sudah ekspor ke tujuh negara pun aktif menghadiri berbagai pelatihan. Termasuk, jelang Trade Expo Indonesia 2025 melalui bootcamp yang diselenggarakan di markas Astra dan yayasannya.

"Kami gabung sebagai mitra UMKM Astra sejak 2018, sangat luar biasa support dan materi seminarnya. Mulai dari hal kecil, dulu kami dapat pelatihan membuat pola dan desain yang kami aplikasikan langsung untuk lebih variatif seperti kemasan yang unik," ucap perwakilan Ghawean Dewe saat diskusi dengan jurnalis dan bloger.

Saat melihat etalase Ghawean Dewe yang memproduksi souvenir dan boneka batik ini, saya pikir mereka sangat adaptif. Mereka selalu membuat produk yang punya ciri khas sesuai untuk dipasarkan.

"(Misalnya) di Thailand, kami membuat souvenir berbentuk gajah. Karena memang negara tersebut identik dengan gajah. Untuk Mongolia ada kuda hingga Prancis dengan ayam," ujarnya.





*        *        *


- Jakarta, 23 Oktober 2025



*        *        *


Video (Ga bisa ditautkan di artikel ini, error mungkin dashboard blogger.com atau hostingnya)


- https://vt.tiktok.com/ZSUVhYXJY/ (Bawang Goreng)


- https://youtube.com/shorts/mq3DlG45684?si=sqhLZ-GJdicxyZoS (Boneka Batik)


- https://youtu.be/2ty0LRunBt8?si=eG3ipNHjJw8uXlEO (Pelatihan UMKM)



*        *        *


Referensi:

- https://www.kompas.id/artikel/trade-expo-indonesia-jembatan-umkm-menuju-pasar-global

- https://kadin.id/kabar/kadin-kemendag-dan-astra-luncurkan-program-smart-export-strategy-di-tei-2025/


*        *        *

Boneka batiknya lucu-lucu, apalagi itu
Kanguru malah nyender di tembok



*        *        *

Sabtu, 06 September 2025

Sisi Lain Kerusuhan 28-31 Agustus: Demo Silakan, Anarkis Jangan!

Pedagang tahu dan kacang melewati
samping Polda Metro Jaya yang masih direnovasi usai diserbu pendemo
akhir Agustus lalu
(Foto: dokumentasi pribadi/ @roelly87)


INDONESIA kembali berduka. Tepatnya, saat demonstrasi besar-besaran di berbagai wilayah pada 28 hingga 31 Agustus lalu.

Aksi unjuk rasa itu memakan 10 korban jiwa. Mulai dari rekan ojek online (ojol), Affan Kurniawan, Kamis (28/8) malam, mahasiswa, pelajar, staf DPRD, hingga masyarakat umum.

Pada saat yang sama, beberapa rumah anggota DPR dan menteri pun turut dijarah.

Pun demikian dengan fasilitas umun (fasum), berbagai kantor kepolisian dan DPRD turut terbakar.

Sebagai bloger yang berprofesi ojol, saya berharap demo besar-besaran pekan lalu yang berujung anarkis ini merupakan yang terakhir. Sekaligus jadi pelajaran bagi banyak pihak, khususnya pemerintah di level eksekutif, legislatif, dan yudikatif, agar ucapan serta tindakan tidak melukai perasaan rakyat.

Juga untuk Aparat Penegak Hukum, terutama Kepolisian agar menangani unjuk rasa dengan tidak mudah terpancing hingga bertindak represif.

Proses anggota yang bersalah. Hukum seberat-beratnya hingga jadi efek jera.

Ya, luka perih pada 28-31 Agustus lalu, tidak perlu lagi lagi dibubuhi garam terkait infilstrasi asing. Itu harapan saya yang menyaksikan pemandangan mengenaskan di Jakarta pekan lalu.


*        *        *


"HARI ini, saya WFH, mas. Tapi, tadi ke kantor karena ada berkas yang mau digunakan klien, Senin," ujar penumpang salah satu aplikasi ojol yang saya jemput di kawasan Sudirman.

"Turut berduka cita untuk rekannya mas yang semalam meninggal. Semoga pelaku pelindasan ketangkap dan dan dihukum seberat-beratnya. Sebagai budak korporat, kami berharap pemerintah bisa segera mengatasi kerusuhan dari semalam. Jika tidak, bakal panjang hingga berpotensi guncangan ekonomi."

Pernyataan customer yang mengaku pegawai Big 4 ini beralasan. Sebab, sejak Kamis (28/8) malam, usai insiden rantis Brimob, di beberapa titik ibu kota ricuh.

Itu meliputi Pejompongan, Gatot Subroto, hingga Kwitang yang dekat markas Brimob.

Kebetulan saya baru aktif ngojol lagi pada Jumat (29/8) petang. Tepatnya, usai mendampingi ibu di Rumah Sakit untuk kateter jantung sejak beberapa hari sebelumnya.

Alhamdulillah, berdasarkan diagnosis hasilnya cukup baik. Ibu saya menurut dokter tidak perlu pasang ring. Cukup istirahat saja untuk proses pemulihan.

Itu mengapa, saya kurang mengikuti perkembangan informasi di luaran. Termasuk, baru tahu ada rekan ojol yang meninggal lewat medsos.

Sebelumnya, Senin (25/8) saya menyaksikan langsung adanya provokasi dan penyusup saat unjuk rasa di kawasan Slipi dengan melempar batu. Di sisi lain, saya juga melihat dengan mata kepala sendiri, betapa polisi gampang terpancing hingga berlaku represif kepada massa.

Bisa disimak dalam rekaman video yang saya unggah di tiktok (https://vt.tiktok.com/ZSAvXorX8/).



*        *        *


"TOKO tutup sementara. Barang-barang yang berharga sudah kami ungsikan sejak kemarin. Belum tahu kapan buka lagi. Masih nunggu perkembangan informasi."

Demikian komentar penumpang yang bekerja di salah satu toko branded di mal kawasan Senayan. Menurutnya, sang bos sudah melakukan langkah preventif sejak Kamis sore akibat rusuh depan DPR.

Koleksi mahal dagangannya sudah diungsikan ke tempat aman. Khawatir tokonya dijarah.

Menurutnya, antisipasi itu turut dilakukan hampir seluruh toko di berbagai mal di kawasan Senayan. Maklum, lokasinya dekat dengan DPR dan Pejompongan yang jadi titik meletusnya kerusuhan akibat rantis Brimob yang melindas ojol.

"Tolong deh, anggota DPR, congornya dijaga. Gara-gara kalian, semua kena getahnya," tutur penumpang yang sekilas mirip Shinichi Kudo itu sambil menghela napas.

Ya, imbas berbagai pernyataan tak peka dari anggota DPR jadi awal mula. Terlindasnya Affan oleh Brimob pun jadi momentum puncak kemarahan rakyat.

Saya pun menilai, pemerintah kurang responsif. Presiden Prabowo mengeluarkan statement terkesan normatif. Tidak menyelesaikan masalah. 

Alhasil, kerusuhan berlanjut hingga Sabtu dan Minggu yang berujung penjarahan rumah pejabat serta perusakan fasum.

Ini sangat miris. Hingga Kamis (4/9) pagi, halte Transjakarta di Jalan Sudirman dari Jembatan Semanggi hingga Bundaran Senayan tidak berfungsi. 

Alias, masih diperbaiki seperti terekam dalam video yang saya unggah, https://vt.tiktok.com/ZSAvqNHy1/.

Jujur, itu sangat merugikan warga. Apalagi, penyandang disabilitas yang aksesnya naik Transjakarta terganggu.

Saya pribadi sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, mempersilakan siapa pun untuk demo. Boleh dong. 

Hak asasi manusia. Kebebasan berpendapat dijamin dalam Undang Undang Dasar.

Justru kalo kita melarang demo, bakal aneh ini negara. Seperti negara komunis atau tirani.

Anda mau, Prabowo jadi diktator seperti Vladimir Putin, Xi Jinping, dan Kim Jong Un?

Saya sih ogah. Biarpun saya pemilih Prabowo pada tiga edisi pilpres beruntun, ga mau negara ini kembali ke masa orde baru.

Najis!

Di sisi lain, demo juga ada aturan. Harus izin APH dan waktunya ditentukan hingga petang. 

Yang terpenting, jangan anarkis! Saya mengetik artikel ini, Jumat (5/9) dini hari WIB, tepat di samping Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Metro Jaya. Tampak, puluhan pekerja sedang memperbaik halte Transjakarta dan pintu masuk MRT Istora yang rusak.


*        *        *


"YA Tuhan, sepi amat ini Jakarta. Karyawan pada WFH, UMKM makanan pinggir jalan ga buka takut rusuh, imbasnya Thamrin, Kuningan, Sudirman, SCBD, kayak kota mati  Mau sampai kapan gini terus?" kata rekan ojol saat nongki bareng di kawasan Tugu Selamat Datang, Senin (1/9) sore.

"Iya pak. Glodok dan Mangga Dua yang biasanya rame orderan barang aja, sepi. Ini, makanya saya ke tengah. Eh, sama aja."

"Padahal hari ini ga ada yang demo, tapi karyawan mayoritas WFH. Sekolah dan kampus libur. Toko tutup dan mal banyak yang belum buka."

"Masih nunggu situasi tenang, pak. Sejauh ini udah kondusif. Cuma ya, memang belum normal. Kendaraan aja di Thamrin-Sudirman yang lewat bisa diitung jari."

"Ente udah banyak orderan?"

"Belum penglaris."

"Keluar kapan?"

"Siang tadi pak. Dari Cengkareng ga bunyi, lanjut ke Glodok dan Mangga Dua, sama aja. Yaudah, ane ke sini, moga-moga dapat."

"Ane juga baru dua dari pagi. Itu juga satunya untung dapat orderan bagi-bagi makanan dari warga Asia Tenggara. Katanya mereka simpati dengan kondisi di Indonesia."

"Alhamdulillah, pak."

"Ane cabut dulu ya. Moga bunyi ya."

"Aamiin..."

Sebagai ojol sejak 2019, situasi sulit ini bukan yang pertama. Saya pernah mengalami yang lebih pelik saat pandemi.

Ketika itu keluar rumah seharian pernah hanya dapat Rp 8.000. Alias, satu orderan.

Itu pun non tunai. Alias, harus dicairkan di rekening yang ga bisa diambil. Sebab, minimal tarik tunai ATM Rp 50.000. 

Ya, momen pandemi jadi pelajaran berharga saya untuk menghadapi situasi sulit. Termasuk seperti sekarang yang sejak Senin, jangankan dapat Rp 100-200 ribu seperti hari normal, bisa bawa pulang 70 ribu aja udah alhamdulillah.

Itu mengapa ketika lagi ada orderan ojol, saya jarang nolak. Aplikasi bunyi, ya tancap gas.

Termasuk, saat puncak rusuh pada Jumat, Sabtu, dan Minggu (29-31 Agustus) lalu. Saya tetap ambil orderan kendati lokasinya rawan.

Misal, di SCBD yang bersebelahan dengan Polda Metro Jaya saat digeruduk massa. Atau, di GBK yang tidak jauh dari pecahnya polisi dan pendemo di DPR, Sabtu (30/8).

Saat itu, saya bolak-balik untuk mengantar penumpang menuju Stasiun Kebayoran atau Tanah Abang. Secara, saat itu Stasiun Palmerah ditutup, hingga penumpang KRL tujuan Rangkasbitung dialihkan.

"Maaf ya pak, agak jauh jemputnya. Soalnya, saya udah hampir satu jam sulit dapat ojol. Ada yang nawarin ga pake aplikasi, tapi ditembaknya kemahalan," tutur penumpang berpakaian serba hitam yang saya jemput di Indonesia Arena, GBK, Jakarta Pusat, Sabtu (30/8) malam.

Customer itu baru selesai menyaksikan Pandji Pragiwaksono dalam Stand Up Comedy Mens Rea, bersama ribuan penonton lainnya. Dia ga nyangka situasi berlanjut ricuh di DPR hingga Jalan Gerbang Pemuda ditutup.

Bahkan, GBK saja hanya memberlakukan dua pintu untuk akses. Masuk dari Pintu 5 depan Kementerian Pendidikan, dan keluar di Pintu 11 seberang Hotel Mulia. 

Sementara, akses utama di Pintu 10, depan TVRI ditutup untuk antisipasi keamanan. Di sisi lain, saya dapat orderannya di Stasiun Karet, alias jaraknya 4 km lebih. 

Namun, tetap saya ambil dengan rute ke GBK via Bendhil, alias ga lewat Gatot Subroto yang sudah dipenuhi massa.

Jauh? jelas.

Namun, seperti kata Amado Carrillo Fuentes "El Señor de los Cielos" dalam Narcos: Mexico, bahwa krisis adalah peluang, alhasil saya tidak menyia-nyiakan setiap orderan. 

Bolak-balik GBK ke Stasiun Kebayoran, Stasiun Sudirman, kawasan Setiabudi, hingga utara Jakarta pun, saya jabanin. Intinya, menghasilkan uang.

Yang penting, jangan melewati kerumunan demo, khawatir kena gas air mata bahkan peluru nyasar.

Untuk rekaman videonya di DPR saya unggah di https://vt.tiktok.com/ZSAvWJPqo/.

"Ga nyangka juga, masih kayak gini situasinya. Kirain pagi tadi pas pidato presiden bisa segera ditangani. Semoga segera normal, agar ekonomi pulih. Apalagi, pekan depan banyak event musik yang melibatkan artis luar negeri. Jika masih rusuh bakal mencoreng citra Indonesia di mata dunia," ucap dara itu lagi.

"Steve Vai udah konfirm konser bareng Dewa 19 di GBK. Pestapora di Kemayoran," saya menimpali.

"Iya, bang. Cepet pulih Indonesiaku. Berbagai event itu turut melibatkan UMKM hingga ekonomi kita berputar. Sayang, kalo harus batal, efeknya ke masyarakat juga."

Ya, mari jadikan meninggalnya 10 warga pada 28-31 Agustus ini sebagai momentum perbaikan para pejabat. 

Termasuk, tidak menormalisasi tet tot tet tot, nguing nguing di jalanan. Secara, strobo dan sirine yang digunakan kalian dibeli dari pajak kami, para rakyat Indonesia.

Bangkit, negeriku!***


*        *        *


- Jakarta, 6 September 2025



*        *        *


Artikel Terkait: 


Senin, 04 Agustus 2025

Merah Putih Itu Sakral, Ga Bisa Disandingkan dengan Bendera Apa pun

Merah Putih Itu Sakral, Ga Bisa Disandingkan dengan Bendera Apa punMerah Putih Itu Sakral, Ga Bisa Disandingkan dengan Bendera Apa pun

Ilustrasi bendera Merah Putih saat
perayaan Kemerdekaan Indonesia
(Foto: dokumentasi pribadi/@roelly87)


MEDIA sosial (medsos) merupakan wadah interaksi banyak pihak. Baik masyarakat biasa, kalangan elite, pelajar, mahasiswa, hingga para ahli.

Ingat Arab Spring? Berawal dari medsos yang menyebar luas di Asia Barat hingga Afrika Utara.

Di Tanah Air, beberapa medsos jadi rujukan utama bagi warganet. Itu meliputi Facebook (FB), Twitter/X, Instagram (IG), Threads, Youtube, Tiktok, dan sebagainya.

Ada segmentasi berbeda di antara mereka. Menurut pandangan saya, FB itu seperti pasar. Apa aja ada. Baik fanpage resmi pemerintah, klub sepak bola, akun ofisial band atau film, dan sebagainya. Juga aneka grup yang mulai dari serius hingga remeh, seperti PT. Mencari Cinta Sejati!

Lalu, ada IG, yang menyuguhkan beragam foto atau video dengan tampilan megah. Baik itu cuplikan pertandingan olahraga, konser, atau terkait fomo.

Threads? Tempat curhat yang lumayan seru. Meskipun, kadang ceritanya bikin geleng-geleng kepala. Namun, asyik aja.

Kebetulan, saya belum lama bikin akun Threads. Sementara, FB dari 2009 silam yang bertepatan dengan blog pribadi di blogspot dan Kompasiana (2010). Untuk Twitter sejak 2010 dan IG (2012).

Nah, FB, IG, dan Threads memang satu perusahaan. Sementara, Twitter -hingga kini saya lebih nyaman nyebut twitter atau ngetwit ketimbang X- dimiliki taipan teknologi lainnya.

Ya, Twitter beda sendiri. Bahkan, bisa dibilang sangat unik. 

Saya kalo mau cari info yang tidak tersedia di media konvensional, pasti langsung buka Twitter. 

Hanya, untuk medsos ini, kita harus kuat mental. Apalagi, jika berkaitan dengan pemerintah.

Ya, hampir setiap hari tiada info positif terkait kinerja Kabinet Merah Putih. Kalo ga hujatan untuk blunder menteri, wakil, BUMN, DPR, kepala daerah, atau kepolisian.

Namun, emang kinerja mereka memang sangat minor. Meski, sudah menyewa buzzer untuk memberikan citra positif. Hanya, di lapangan, tetap aja ancur.

He... He... He...

Teranyar, tentang pemasangan bendera selain Merah Putih yang kerap diperbincangkan warganet di medsos yang dulunya berlogo burung biru ini jelang HUT ke-70 Republik Indonesia.


*       *       *


MEMASUKI bulan kedelapan, cuaca di Tanah Air seperti kembali ke setelan pabrik. Alias, panas menyengat layaknya musim kemarau di negeri tropis.

Itu mengapa, saya langsung minta tambah es jeruk nipis yang sudah ludes di gelas. Sambil mencicipi roti bakar rasa keju dan cokelat.

Hmmm... Yummy!

Siang-siang gini minum es dan cemilan yang hangat sungguh melegakan. Itu setelah pada dua jam sebelumnya perut keroncongan ditambah dinginnya ac dalam bioskop.

Tepatnya, saat menyaksikan The Fantastic Four: First Steps di salah satu mal di kawasan Tanjung Duren, Jakarta Barat. Ini film ke-14 yang saya tonton di bioskop sepanjang 2025 (tiga lokal dan 11 luar).

Kebetulan, F4 ini tayangnya tepat pada jam pembuka di hari kerja. Saya pilih yang awal saking penasaran kena spoiler di medsos, khususnya post credit.

Ini jadi kebiasaan saya saat menyaksikan berbagai film Marvel Cinematic Universe, DC Extended Universe, DC Universe James Gunn, Fast Saga, dan film bergenre action Hollywood lainnya.

Usai nonton, saya ga langsung menyalakan aplikasi ojek online (ojol). Maklum, masih siang, alias belum jadi jam saya biasa kerja pada sore hingga subuh.

Alhasil, saya pun singgah ke warung kopi (warkop) dekat mal. Sambil membuka hp untuk baca reaksi Rotten Tomatoes dan situs agregator rating film sejenis terkait F4 dan superhero lainnya.

Di seberang kursi panjang yang saya duduki, ada tiga pemuda sedang asyik diskusi. Entah, mahasiswa di salah satu perguruan tinggi yang memang banyak terdapat di kawasan ini, pekerja kantoran, ASN, atau pelajar.

Saya kurang tahu. 

Obrolannya, terkait masa depan Indonesia yang masih gelap. Ini menarik bagi saya.

Tandanya, ketiga pria itu sangat idealis. Bagus, belum terkontaminasi buzzer alias para pendengung.

Sesekali mereka melirik saya. Mungkin minta pendapat. 

Terlihat dari bisik-bisiknya. Mungkin, ya. Secara tidak ada orang lain kecuali kami berempat.

Kebetulan saat itu saya tidak mengenakan atribut ojol, alias kemeja flanel sehari-hari yang menyerap panas, celana jin, dan sepatu sneaker. 

Saya pun bergeming. Ga mengiyakan, juga ga menolak.

Hingga, saat asyik menyeruput es jeruk nipis yang tandas, tv di pojokan warkop menayangkan berita pelarangan bendera One Piece. 

Perdebatan ketiga mahasiswa ini pun kian intens. Bak Aristoteles, Zhuge Liang, dan Al Biruni yang sedang melakukan diskusi imajiner terkait ilmu semesta.

Keren! 

Mereka saling serang dengan argumen masing-masing. Ga ada yang mau ngalah untuk saling serang tapi tetap hati-hati.

Total Football vs Catenaccio vs Jogo Bonito!

Secara, mereka punya kuncian sendiri. Ibarat Cao Cao yang siap menyerang Liu Bei tapi khawatir dibokong Sun Quan.

Begitu seterusnya hingga dunia tak bermentari. Satu yang kupinta, yakini... Btw, ini mah lagu Base Jam, atuh!

Lanjut.

Diskusi hangat ketiganya memantik rasa penasaran saya. Maklum, saya yang hanya lulusan sekolah menengah memang selalu tertarik dengan ide dan pemikiran mereka yang terlihat memiliki ilmu lebih tinggi.

"Ga bener itu. Mereka fomo!" kata pemuda berkumis tipis ala Pedro Pascal (PP).

"Ah, pemerintah bisanya cuma melarang hal sepele. Giliran koruptor diampuni," pria yang rambutnya bergelombang mirip David Corenswet (DC) ini menyanggah.

Saya tak sadar meletakkan hp di meja. Mengamati diskusi mereka yang sedang menuju klimaks.

Ternyata, rasa ingin tahu saya diamati rekan keduanya yang memakai topi layaknya Mahershala Ali (MA). Dia pun tersenyum kepada saya yang saya balas dengan anggukan.

"Coba minta pendapat om ini terkait bendera One Piece," kata MA menengahkan dua rekannya sambil melempar bola muntah kepada saya.

Saya pun jadi kaget. Apalagi dipanggil "om".

Anjir... Berasa tua banget dibanding ketiga pemuda ini.

"Ebuset, sejak kapan gw kawin sama tante lo, bro?" jawab saya guyon yang disambut ketiganya dengan tergelak.

"Abis, manggilnya apa, pakde?" ucap PP sambil tertawa.

"Paman aja. Atau engkong," DC menimpali.

"Abang aja ya? Kalo 'bro' takut ga sopan, kan Anda kayaknya lebih tua dari kami," MA menjawab dengan khidmat.

"Apa aja, bro juga enak. Kita sama kok usianya, paling beda tipis-tipis," saya menjelaskan.

"Siap. Lanjut bro, terkait bendera," kata MA.


*       *       *


...



*       *       *


SAYA pun langsung meminggirkan sendok, garpu, dan cangkir untuk ditumpuk di piring kecil agar meja jadi luas. Juga meletakkan hp dan men-silent supaya tidak mengganggu diskusi dadakan ini.

"Jadi gini ya, bro-bro sekalian. Gw ini ojol, kayaknya kurang nyambung diskusi dengan kalian yang ilmunya tinggi." Saya melakukan prolog di hadapan ketiganya.

"Namun, berhubung mas yang mirip Mahershala Ali ini mengundang, ya gw merasa terhormat untuk gabung. Btw, kita ngomongnya lo-gw aja ya ga usah kamu, Anda, atau sapaan formal lainnya, biar diskusi ini ga kaku.

Kalo kata gw terkait pemasangan bendera One Piece berdampingan dengan Merah Putih, ya sah-sah aja. Ga ada larangan spesifiknya di Undang Undang. Yang penting ga boleh lebih tinggi atau besar ukurannya dibanding Merah Putih. Simpel aja."

Saya menatap ketiganya yang serempak mengangguk. Anjir, saya udah kayak dosen yang sedang menjelaskan materi kepada mahasiswa.

Dalam hati mau ketawa ngakak. Namun, saya urungkan karena merasa ga sopan. Sebab, ini diskusi santai di warkop tapi harus disikapi dengan serius karena menyangkut lambang negara.

"Tuh kan, woles aja ya om. Eh, bro," kata DC kepada saya.

Yang mirip PP ingin memotong, tapi dikedipin MA karena melihat saya belum selesai bicara.

"Woles aja bro. Kita diskusi santai. Ini gw lanjut ya.

Meskipun ga ada larangan, tapi gw merasa lebih baik ga usah dipasang itu bendera One Piece. Secara, Merah Putih merupakan simbol negara. Dipasang pada 17 Agustus 1945 dengan keringat, darah, dan air mata para pejuang. 

Jadi, menurut gw, Merah Putih itu sakral. Ga bisa dibandingkan dengan bendera apa pun," saya menjelaskan dengan hati-hati. Takutnya ada informasi yang bikin interpretasi ketiganya keliru.

"Kecuali ya. Ada pengecualian," saya menambahkan. "Misal, ada event olahraga, seperti Asian Games 2018 lalu ketika Indonesia jadi tuan rumah. Wajar kalo Merah Putih dipasang sejajar dengan banyak bendera negara lain. 

Atau, saat Kepala Negara dan Perdana Menteri negara lain berkunjung ke Tanah Air. Pemasangan bendera mereka berdampingan dengan Merah Putih ya wajar saja. Yang penting, Merah Putih posisinya sejajar. Ga kalah besar atau tinggi tiangnya."

Situasi pun hening. Namun, DC yang memang pro pemasangan bendera One Piece berdampingan dengan Merah Putih langsung minta untuk komentar.

Saya pun mengangguk. Silakan aja, diskusi ini nonformal, ga ada yang lebih dituakan dari segi usia.

"Berarti ga salah kan, bro, kalo di rumah gw pasang bendera bajak laut itu?"

"Ga lah bro. Kan udah gw jelasin tadi. Ga ada larangan dalam Undang Undang. Bendera One Piece kan masuk kategori organisasi atau simbol non negara. Yang penting jangan posisinya lebih tinggi atau ukurannya lebih besar. Bisa..."

"Bisa didatengin isilop, lo cuy." PP yang dari tadi penasaran ingin bersuara, akhirnya menyodorkan bola tanggung nyaris offside kepada DC.

"Ogah dah gw berurusan dengan 'cokelat' apalagi kalo sampe 'ijo' turun gunung. Mending main aman," jawab DC, diplomatis.

Saya pun tersenyum mendengarnya. Sambil memerhatikan di luar warkop saat matahari doyong ke barat, menambahkan. 

"Sebenernya, asal lo perhatiin ukuran sama tinggi benderanya ga boleh melebihi Merah Putih, sih aman. Cuma, kalo mau lebih bijak, mending ga usah dipasang. 

Secara, pemasangan bendera Merah Putih ini kan untuk menyambut Hari Kemerdekaan. Ga bijak rasanya, Sang Saka Merah Putih disandingkan dengan lambang bajak laut."

MA yang daritadi jadi penengah antara DC dan PP pun kembali bersuara, "Btw, bro lo ngerti kartun One Piece juga ya?"

"Ga lah. Gw cuma sesekali lihat aja. Beda cerita kalo Dragon Ball. Gw khatam. Secara, anak 90-an pasti tahu, minimal pernah nonton kartunnya atau baca komik."

"Anjir, ga nyangka om-om gini Wibu."

"Rambut gondrong tapi penggemar Jin Kura-kura."

"Jangan-jangan kalo lagi bawa penumpang sesama Wibu, ongkosnya digratisin."

"Anjir. Kaga lah."

"Ha... Ha... Ha..."

Sahut-sahutan antara saya dan ketiga mahasiswa itu pun kian riuh. Sekali lagi, diskusi ini meski serius tapi tetap santai tanpa batasan usia dan tingginya ilmu.

"Serius bro, ga demen One Piece?"

"Kaga. One Piece dan Naruto, malah gw cuma tahu sekilas. Udah bukan era gw lagi soalnya. Kalo zaman gw dulu, selain Dragon Ball, yang digandrungi cowo itu Saint Seiya. Kalo universal, tentu Doraemon, Sailor Moon, Candy Candy, Ikkyu San, Crayon Shincah, Astro Boy, Remi, dan banyak lagi.

Gw juga masih punya komik Legenda Naga, Kungfu Boy, Return of the Condor Heroes-nya Tony Wong, seri wayang RA Kosasih, Petruk Tatang S, dan lain-lain."

"Legenda Naga itu yang Shiro Amachi terjebak di era Dinasti Han?"

"Yoi. Komik dari akhir 90-an sampe sekarang belom tamat."

"Bener bro. Papa gw punya dari masih pacaran sama mama gw terus gw udah bisa pacaran lagi, itu komik masih aja belom tamat. Lucu, lawannya 5 Dewa Harimau."

"Seru bro. Chungta musuhnya ga mati-mati. Gw aja dulu kalo ke Gramedia atau Gunung Agung, pasti rak komik itu yang gw tuju."

"Tapi bener bro, ga nyangka juga. Sumpah deh. Lo gondrong dan muka sangar tapi penggemar komik."

"Selera bro. Waktu gw seusia lo pada, gw lulus SMA langsung kerja. Boro-boro mikirin komik, yang ada bertahan hidup aja. Pas udah dewasa dan punya duit sendiri, baru deh hunting komik, majalah, buku, dan lainnya dengan sepuasnya. Hehehe."

Ya, hobi itu ga mandang usia. Meski usia saya udah sepertiga abad lebih, masih sering nonton kartun atau baca komik. Bahkan, kalo buka youtube itu ga jauh dari highlight sepak bola, WWE, Dragon Ball, dan sebagainya.


*       *       *


"KALO bendera Palestina, bro?" DC kembali bertanya.

"Maksudnya berdampingan dengan Merah Putih? Boleh aja. Apalagi kita punya hubungan yang kuat sejak dulu. Indonesia selalu mendukung kemerdekaan Palestina yang jadi amanat UUD," saya menjelaskan.

"Hanya, kalo bisa jangan satu tiang yang sama. Alias, berdampingan. Ada pasalnya, tapi gw lupa.

Nah, yang ga boleh itu memasang bendera Israel. Ini jelas ya. Ga perlu gw jelasin lagi, pasti kalian udah paham."

Mereka mengangguk serempak. Indonesia memang tidak memiliki hubungan resmi dengan Israel.

Kecuali dalam olahraga atau event tertentu. Misal, pada Indonesia Open 2015 dengan kehadiran pebulu tangkis Israel, Misha Zilberman.

Saya pribadi membenci zionis. Namun, untuk rakyat Israel, termasuk atlet, ya biasa aja. Ga bisa benci. Secara, mereka juga manusia. Sebaik-baiknya manusia, menurut saya, yang mampu memanusiakan manusia.

Itu mengapa, saya ogah untuk boikot resto di Tanah Air atau produk yang terafiliasi Israel. Secara, karyawannya yang bekerja merupakan rakyat Indonesia.

Nyari kerja lagi susah, eh ini malah berharap pemecatan massal. Logika terbalik! (Selengkapnya: https://www.roelly87.com/2024/06/niat-mulia-ajak-boikot-tapi-caranya.html)

Terkait Israel, ini menarik bagi saya jika dihubungkan dengan event akbar di Tanah Air. Misal, jika Indonesia mencalonkan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia 2038 atau Olimpiade 2036.

Sudah pasti, jika lolos kualifikasi, Israel bakal datang. Ini tantangan bagi pemerintah agar insiden batalnya Piala Dunia U-20 2023 tidak terulang.

Andai pemerintah bisa mikir untuk event satu dekade ke depan. Tentu, harus disikapi dengan bijak dengan penyampaian secara mendalam kepada rakyat.

"Bro semua, gw cabut dulu ya," kata saya sambil menyalami ketiganya, satu persatu.

"Lah, baru bentar bro."

"Mau siap-siap ngojol. Udah sejam gw duduk. Sekarang waktunya cari cuan."

"Siap bro. Ttdj ya."

"Next kita diskusi lagi yang seru bareng kami."

"Sekalian pinjem komik lo bro. Hehehe.

"Aman. Cabut dulu ya."


*       *       *


*       *       *


- Jakarta, 4 Agustus 2025


*       *       *


Referensi: 


- https://megapolitan.kompas.com/read/2025/08/01/17504881/hati-hati-kibarkan-bendera-one-piece-di-hut-ri-ahli-ingatkan-sanksi


- https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-3898699/bendera-merah-putih-dan-palestina-1-tiang-ini-tanggapan-ahli-hukum


- https://www.tempo.co/internasional/aturan-melarang-pengibaran-bendera-israel-di-indonesia-1865186


- https://bwfworldchampionships.bwfbadminton.com/news-single/2015/08/11/statement-regarding-misha-zilberman



*       *       *


*       *       *