TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol

Kamis, 10 September 2026

Terima Kasih Nakes

.


TENAGA kesehatan (nakes), guru, pemadam kebakaran, Tim SAR, dan penjaga perbatasan merupakan profesi yang paling saya hormati. Baik sebagai bagian individu dari masyarakat Indonesia maupun saat saya bekerja sebagai ojek online (online).

Kita kesampingkan persoalan gaji dari mayoritas mereka yang masih kecil. Bahkan, tak layak.

Itu karena sebagai ojol saya sering dapat penumpang dari lima profesi tersebut. Tentu, sering mendengar langsung keluh kesah dapur mereka.

Next, akan saya buat artikel khusus yang lebih lengkap. Saat ini baru 1.400-an kata, alias masih belum selesai.

Artikel sekarang akan mengulas profesi yang pertama. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi daring hanya mengartikan nakes sebatas akronim, yaitu tenaga kesehatan.

Berdasarkan laman Kemenkes, nakes itu sangat kompleks. Bisa berarti dokter, baik umum atau spesialis, perawat, bidan, farmasi, ahli nutrisi, terapi, dan sebagainya

Sejak jadi ojol pada 2019 silam, saya pun lebih mengenal nakes. Maklum, hampir tiap hari saya mengantar atau jemput mereka, baik sebagai penumpang, kirim makanan, dan paket.

Saya respek dengan mereka. Khususnya saat pandemi Covid 19. Nakes merupakan garda terdepan bagi rakyat Indonesia dalam mengatasi Corona

Begitu juga saat ibu saya mulai sakit-sakitan pada 2023 lalu. Mama berulangkali harus ke rumah sakit. 

Baik rawat inap maupun rawat jalan. Maklum, mama mengidap diabetes sejak 2009 silam. 

Tiga tahun lalu, didiagnosis komplikasi. Bahkan, hingga diangkat tumor payudaranya. 

Alhamdulillah, bisa diatasi. Pun demikian dengan pembengkakan jantung pada Agustus 2025 dan paru (Desember).

Sebagai anak sulung dari tiga bersaudara -kami bergantian nungguin mama di rumah sakit-, saya pun sedikitnya hafal beberapa nama dokter yang menangani. Untuk perawat, karena banyak, saya masih lupa.

Misal, Roy Pangayoman yang menangani mama di Rumah Sakit (RS) Immanuel, Bandung, pada 2010-2014 ketika mama kena diabetes. 

Lalu sejak 2023 ada Cahyo Baskoro (Jantung, RS. Tarakan), Arina Vegas dan Cindya Clarisa Simanjuntak (Penyakit Dalam, RS Taman Sari), Chintya Anugerah Suhendra (Saraf, RS Taman Sari), Addiena Primawati (Jantung dan Pembuluh Darah, RS Husada), Hanna Karmila (Saraf, RS Primaya PGI Cikini), dan Dicky Budiman Simanjuntak (Mata, RS Primaya PGI Cikini).

Untuk nama terakhir, kami belum sempat bertemu. Meski sudah jadwal untuk berobat pada Jumat (28/8) sore. 

Hanya, batal akibat mama masih dirawat di RS Husada pada 25-20 Agustus lalu. 

Jujur, saya merasa bersalah banget terkait pembatalan itu. Sebab, saya lalai untuk mengubah jadwal maksimal H-1 pemeriksaan di aplikasi Primaya Hospital setelah dapat rujukan dari Mobile JKN. 

Saya malah ganti jadwal pas hari H, Jumat pagi yang seharusnya maksimal Kamis. Alhasil, ga bisa diubah. 

Padahal biaya konsultasinya lumayan, sekitar Rp 410 ribu kalo mandiri, sementara pakai BPJS gratis terkait subsidi silang  

Maaf ya untuk pihak terkait (dokter, rumah sakit, dan BPJS), pasalnya hingga Jumat siang, saya masih belum tahu kepastian mama bisa pulang yang akhirnya diizinkan Minggu. 

Harus diakui, kadang saya agak lupa hingga kecampur juga saat mengurus administrasi di tiga rumah sakit berbeda dalam waktu berdekatan (Taman Sari, Husada, dan Primaya Cikini). 

Nah, saya aja yang sehat masih suka keliru, apalagi mama yang sedang sakit. 

Itu yang dialami mama yang baru dibolehkan pulang Minggu (30/8) setelah enam hari dirawat di RS Husada. Eh, dua hari kemudian harus balik lagi untuk pemeriksaan intensif.

"Ini RS Husada udah kayak jadi rumah kedua," kata mama berseloroh saat saya mengantarnya ke dokter Addiena. 

Ya, meski kondisinya belum pulih benar dan pakai kursi roda akibat masih ga kuat berdiri lama-lama, mama tetap optimistis berobat di tiga rumah sakit berbeda. 

Bahkan, pekan ini siap kembali ke Primaya PGI Cikini untuk ambil hasil MRI dan konsultasi dengan dokter Hanna.

Untuk dokter Dicky terkait pengobatan mata mama yang agak buram, kemungkinan pekan depan. Sebab, harus dapat rujukan dari dokter Hanna dan diagnosis hasil MRI.

*          *          *

SELAIN para dokter yang menangani mama, saya juga berterima kasih kepada perawat. Itu karena perawat yang paling sering kami repotkan saat mama dirawat. 

Misalnya, ketika infus habis, alat ga berfungsi, obat, atau saat mama saturasi oksigennya rendah. Bahkan, pada dini hari WIB pun saya menghubungi perawat. 

Alhamdulillah, mereka bekerja dengan tulus dan tanpa pamrih.

Respek banget saya sama mereka. Sumpah!

Dulu, saat masih awam, saya pikir perawat itu tugasnya hanya mengantar obat ke pasien, penghubung dokter, serta cek tensi, darah, oksigen, dan sebagainya. 

Namun, sejak beberapa tahun ini rutin mendampingi mama yang dirawat inap atau jalan, ternyata saya salah. Pasalnya, tugas perawat ga sesederhana itu.

Faktanya, perawat turut memandikan pasien, cebok, ganti pampers serta baju, suapin makan, dan lain-lain. Itu yang saya lihat selama ini terkait perlakuan mulia mereka kepada mama.

Misal, saat tiba di UGD RS Tamansari, Selasa (25/8). Saat itu ada beberapa perawat, -salah satunya saya lihat nametag bernama Beatrice- yang bergantian menggantikan pakaian mama, pampers, dan cebokin.

Maklum, mama ga bisa kemana-mana, apalagi ke kamar mandi, sebab kedua tangannya dipasang selang infus dan oksigen akibat saturasinya rendah. Alhasil, mama melakukan aktivitasnya di ranjang UGD hingga dini hari WIB dirujuk ke RS Husada menggunakan ambulans.

Berdasarkan data kemkes.go.id, RS Taman Sari tipe/kelas D yang hanya setingkat di atas Puskesmas. Sementara, RS Husada masuk tipe/kelas B.

Itu mengapa, dokter jaga di IGD RS Taman Sari memberi rujukan mama ke rumah sakit yang lebih lengkap fasilitas medisnya. Alhamdulillah, kami diterima RS Husada yang jaraknya hanya 1 km lebih dan masih di kawasan Mangga Besar.

*          *          *

"SELAMAT pagi, mas. Mamanya mau diganti pampers atau dibersihin?" ujar salah satu perawat yang mendatangi kami di Kamar Kelas 2 BPJS RS Husada, jelang fajar. 

Saya yang baru tidur ayam sejenak usai malamnya ngojol dan gantian jaga dengan adik pun langsung mengiyakan.

Dengan telaten perawat itu menyeka mama. Lanjut ganti sprei, selimut, pempers, dan pakaian.

Sumpah, merinding banget saya melihatnya. Bahkan, ini dilakukan perawat setiap hari!

Baik pagi, sore, atau situasi tertentu. 

Biasanya, di rumah kalo mama agak lemas terkait gula darahnya turun, ada adik pertama dan bungsu yang mengurusnya.

Itu wajar, karena kami anak-anaknya.

Namun, perawat di rumah sakit yang bukan keluarga, turut menyeka mama hingga bersih. 

Setiap hari.

Salut.

Tentu, bukan hanya mama saja yang dibersihkan, melainkan setiap pasien yang sedang rawat inap. Tanpa peduli apakah bayar mandiri, asuransi swasta, atau pakai BPJS.

Itu yang saya lihat di kamar yang berisi empat ranjang dengan penuh pasien. Para perawat selalu menawarkan kepada setiap pasien untuk dibersihkan atau ganti pakaian.

Yang lansia atau kedua tangan terpasang selang infus biasanya bersedia. Kecuali jika hanya satu selang dan bisa jalan ke kamar mandi akan melakukannya sendiri.

Mama pun awalnya menolak. Sungkan untuk merepotkan para perawat. Namun, mereka justru menjawab dengan simpatik, "Tidak apa-apa, bu. Ini memang tugas kami setiap hari untuk memastikan kesehatan pasien dan kebersihannya."

Ya, terima kasih banyak untuk para nakes yang bertugas. Semoga perbuatan mulia kalian mendapat balasan yang setimpal!

*          *          *

Disclaimer: Artikel ini murni pengalaman pribadi saya sebagai bloger yang berprofesi ojol. Ga ada pesanan dan tendensi apa pun. Video di akun youtube dan tiktok saya, @roelly87.

*          *          *

- Jakarta, 10

*          *          *


Artikel terkait Kesehatan, Nakes, Guru, dan Profesi Terkait:

- Mama, BPJS, dan Nakes Rumah Sakit yang Memanusiakan Manusia (https://www.roelly87.com/2026/08/mama-bpjs-dan-nakes-rumah-sakit-yang.html)

(https://www.kompasiana.com/roelly87/6a86202634777c3d4d387290/mama-bpjs-dan-nakes-rumah-sakit-yang-memanusiakan-manusia)

- Pengalaman Hari Pertama Mengantar Sekolah setelah 18 Tahun (https://www.roelly87.com/2016/07/hari-pertama-mengantar-sekolah.html)

(https://www.kompasiana.com/roelly87/5793ebeda123bdce2758f238/pengalaman-hari-pertama-mengantar-sekolah-setelah-18-tahun)

- Sejarah dan Pelajaran untuk Masa Depan (https://www.roelly87.com/2017/05/sejarah-dan-pelajaran-untuk-masa-depan.html)

- Rekam Jejak Satu Tahun IDKita Kompasiana (https://www.kompasiana.com/roelly87/55292d5df17e6175468b462a/rekam-jejak-satu-tahun-idkita-kompasiana)

- Mengenalkan Bahaya Narkoba melalui Game Online (https://www.kompasiana.com/roelly87/5512567ca33311ba56ba82f4/mengenalkan-bahaya-narkoba-melalui-game-online)

- Dampak Negatif Internet dalam Keseharian Siswa SD (https://www.kompasiana.com/roelly87/551f61fba33311a633b6675c/dampak-negatif-internet-dalam-keseharian-siswa-sd)

- Pengobatan dan Pencegahan Diabetes (https://www.kompasiana.com/roelly87/55006dcb813311a019fa773c/pengobatan-dan-pencegahan-diabetes)

- Kisah Ibuku yang Dibantu Insulin untuk Melawan Diabetes (https://www.kompasiana.com/roelly87/55008f08a33311e572511414/kisah-ibuku-yang-dibantu-insulin-untuk-melawan-diabetes)

- Nak, Sehat Itu Mahal, Nasehat Ibuku Yang Menderita Penyakit Diabetes... (https://www.kompasiana.com/roelly87/5508f5b8a333111e452e3981/nak-sehat-itu-mahal-nasehat-ibuku-yang-menderita-penyakit-diabetes)

- (Teaser) Melongok Wajah Baru Perbatasan Indonesia dengan Malaysia (http://www.roelly87.com/2018/04/melongok-wajah-baru-perbatasan.html)

- Di PLBN Entikong, Kedaulatan Indonesia Terjaga (http://www.roelly87.com/2018/04/plbn-entikong-perbatasan-indonesia.html)

- Proyek PLBN Entikong Tahap 2 Picu Ekonomi Kerakyatan (http://www.roelly87.com/2018/04/proyek-plbn-entikong-tahap-2.html)

- (Spin-off) Di Perbatasan, yang Sakti Hanya Kera! (http://www.roelly87.com/2018/05/di-perbatasan-yang-sakti-hanya-kera.html)














.

Kamis, 20 Agustus 2026

Mama, BPJS, dan Nakes Rumah Sakit yang Memanusiakan Manusia

 

Obat-obatan yang dikonsumsi mama setiap hari
(Sumber: Dokumentasi pribadi/@roelly87)

SETIAP penyakit ada obatnya. Demikian adagium lawas terkait risiko kesehatan manusia.

Saya percaya, di kolong langit ini, setiap penyakit ada obatnya. Mayoritas, sudah ditemukan sejak lama. 

Tinggal, beberapa di antaranya masih dicari formula yang tepat untuk kesembuhan penderita. Misalnya, HIV, AIDS, Kanker, dan Diabetes.

Yang terakhir bagi saya sangat familiar. Tepatnya, karena diderita mama sejak 2009 silam.

Alias, sudah 17 tahun berlalu ibu saya jadi penyintas diabetes. Sejak 2011, saya sudah sering menulis di blog -Kompasiana, karena blog pribadi www.roelly87.com saat itu jarang aktif- terkait penyakit ini. 

Beberapa di antaranya:

- Pengobatan dan Pencegahan Diabetes (https://www.kompasiana.com/roelly87/55006dcb813311a019fa773c/pengobatan-dan-pencegahan-diabetes)

- Kisah Ibuku yang Dibantu Insulin untuk Melawan Diabetes (https://www.kompasiana.com/roelly87/55008f08a33311e572511414/kisah-ibuku-yang-dibantu-insulin-untuk-melawan-diabetes)

- Nak, Sehat Itu Mahal, Nasehat Ibuku Yang Menderita Penyakit Diabetes... (https://www.kompasiana.com/roelly87/5508f5b8a333111e452e3981/nak-sehat-itu-mahal-nasehat-ibuku-yang-menderita-penyakit-diabetes)

Memang, hingga kini belum ditemukan obat yang benar-benar bisa menyembuhkan diabetes. Meski begitu, saya sangat meyakini, kelak, penyakit ini ada antidotnya.

Untuk saat ini, ada beberapa obat atau cara untuk mengatasi diabetes. Misalnya, yang dilakukan ibu saya dengan suntik insulin empat kali setiap harinya.

Pagi, siang, sore, dan malam.

Demikian yang dilakukan mama sejak 2009. Baik itu oleh dirinya sendiri, maupun saya dan adik pertama.

Untuk adik bungsu, karena masih remaja jadi belum bisa.

Selain insulin, diabetes juga bisa dicegah lewat asupan makanan dan minuman. Meski, kadang sulit juga mengontrol sepanjang tahun.

Mama pernah kena 500 mg/dL pada gula darahnya yang sangat tinggi. Di sisi lain, juga sempat hanya 34 mg/dL, alias rendah banget hingga Hipoglikemia.

Sebagai anak-anaknya, bertiga, kami tentu selalu menjaga kadar gula mama. Apalagi, di usianya yang sudah kepala enam, rentan kena penyakit lain.

Misalnya, 2023, harus dioperasi tumor payudara. Desember lalu, dirawat sepekan akibat paru.

Agustus sebelumnya, sempat periksa jantung (Selengkapnya: https://www.roelly87.com/2025/09/sisi-lain-kerusuhan-28-31-agustus-demo.html). Alhamdulillah, menurut diagnosis medis ga sampe harus dipasang ring. 

Hanya, sepertinya mama kena komplikasi.

Setiap hari tidak lepas dari insulin dan obat. Begitu juga dengan cek rutin ke dokter setiap bulannya.

Meski begitu, beliau tetap rutin menjalankan aktivitas sebagai ibu rumah tangga. Sehari-hari, mama aktif ikut PKK dan penyuluhan di Kelurahan dan jadi Ketua Pengajian RW.

Kadang, ikut reuni bersama teman-teman sekolah dulu dan tetangga di rumah yang sudah pindah. Juga sering ziarah bersama ibu-ibu pengajiannya.

Ya, penyakit ga menghalangi mama untuk aktivitas secara normal. Beliau yang dari remaja sudah kerja dan dagang untuk cari nafkah, justru merasa aneh kalo ga ada kegiatan.

"Usia cuma angka. Yang penting pikiran sehat, maka badan juga ngikutin. Kalo diam di rumah aja bisa pikun," kata mama ketika ditanya masih aktif di usia 60-an.

*         *         *

AWAL bulan ini, mama kembali dirawat  Tepatnya, harus menginap enam hari di Rumah Sakit Taman Sari, Jakarta Barat. 

Itu setelah sepekan sebelumnya mama merasa demam tak berkesudahan. Gula darahnya naik-turun.

Tensi darah pun tinggi.

Sudah dikasih obat warung, periksa ke dokter langganan, dan klinik terdekat yang tetap buka pada hari libur.

Hanya, belum kunjung membaik.

Hingga, atas saran adik pertama, untuk membawanya ke Rumah Sakit Taman Sari. Saya pun mengiyakan dengan memapah mama menggunakan bajaj.

Maklum, awalnya hendak naik motor. Hanya, mama agak limbung hingga kami khawatir jatuh.

Sampai di RS, saya membawa mama ke Instalasi Gawat Darurat (IGD). Diperiksa langsung dokter yang jaga.

Dicek tensi darahnya, 200. Tinggi banget. Pantes mama pusing terus.

Gula darah? 400!

Bahaya. 

Padahal, malamnya masih normal.

Petugas di IGD pun menyarankan untuk perawatan lebih lanjut. Saya mengiyakan.

Saat mama sedang ditangani para tenaga kesehatan (nakes), saya mengurus administrasi. Alhamdulillah, lancar seperti biasa. 

Meski, kami memakai layanan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, tapi tetap dilayani dengan normal oleh para petugas di Rumah Sakit Taman Sari.

Tentu, ini bukan kali pertama kami berurusan dengan rumah sakit. Sebelumnya, saya sudah mengantar mama ke Rumah Sakit Tarakan, Pelni, hingga Sumber Waras. 

Sejauh ini, ga ada perbedaan pelayanan dari para nakes di rumah sakit yang kami datangi. Semuanya, selalu memberi pelayanan sepenuh hati, ramah, responsif, hingga memberi solusi saat kami tidak tahu terkait jadwal.

Ini yang teranyar kami alami dengan menggunakan BPJS di Rumah Sakit Taman Sari. Mulai dari kedatangan disambut security yang menawarkan kursi roda atau kruk.

Sampe di IGD, disambut ramah para nakes yang langsung memeriksa mama.

Saat dirawat enam hari, mama juga rutin diperhatikan suster, perawat, dan dokter. Mulai dari pemberian makanan sehari tiga kali (sarapan, siang, dan malam), cek gula darah dan tensi berkala, hingga rutin diperiksa dokter terkait tingkat pemulihan.

Begitu juga di ruang administrasi dan farmasi. Mereka memberikan penjelasan yang lengkap tanpa membedakan apakah saya sebagai perwakilan ibu, pembayarannya memakai BPJS atau normal.

Misalnya, nama-nama dan jenis obat. Maklum, saya termasuk awam yang hanya hapal insulin Novorapid dan Levemir. Namun, kaget juga waktu lihat daftar obat ada Tramadol. 

Sebagai bloger yang berprofesi ojek online (ojol), tentu ga asing dengan obat keras itu saat melewati kawasan Tanah Abang. Untung, bagian farmasi menjelaskan dengan lengkap bahwa, obat ini ditujukan untuk meredakan nyeri dan lelap saat tidur. 

Btw, Tramadol ga bisa dibeli bebas ya, harus resep dokter.

Alhamdulillah, sebagai pengguna layanan BPJS, mama mendapat semua layanan kesehatan di Rumah Sakit seperti kamar, makanan, hingga obat, dengan gratis.

Alias, tidak mengeluarkan uang sepeser pun. 

Demikian dengan parkir motor, di rumah sakit itu gratis yang dijaga security 24 jam.

Terkait obat, saya sempat kaget juga. Sebab, BPJS menanggung semuanya dengan gratis.

Termasuk, Novorapid dan Levemir. Padahal, harga kedua insulin itu cukup mahal kalo beli sendiri.

Kenapa saya tahu? Sebab, saya ojol yang sering mendapat orderan paket di apotek dan jastip.

Harganya sekitar Rp 200.000-an per pen. 

Nah, saat itu usai pulang dari rumah sakit, mama diberi enam pen. Novorapid empat untuk pagi, siang, dan sore, serta Levemir dua (khusus malam jelang tidur).

Tanpa bermaksud mengkultuskan layanan BPJS yang sangat berguna bagi mama dan ratusan juta rakyat Indonesia, artikel ini dibuat secara objektif berdasarkan pengalaman. 

Faktanya, kami memang pengguna BPJS Kelas 2 sejak 2014 silam. Saat ini per bulan saya dan adik pertama gantian bayar Rp 400.000. Jumlah tersebut merupakan per KK dengan empat orang, yaitu mama, saya, adik pertama, dan bungsu.

Kebetulan, saya dan kedua adik jarang menggunakan layanan tersebut. Alias, hanya digunakan mama saja.

Ini seperti subsidi silang yang dicanangkan pemerintah. Ada keluarga yang pakai BPJS dan digunakan untuk berobat, ada yang nggak.

Jujur, tanpa BPJS, biaya ke rumah sakit lumayan tinggi sejak mama kali pertama operasi diabetes pada 2009 hingga 2014-an seperti yang saya tulis artikelnya di Kompasiana 2011 silam.

Kami jadi saksi bahwa BPJS yang merupakan program pemerintah sangat membantu. Ini merepresentasikan sila kelima Pancasila, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. 

*         *         *

APAKAH BPJS meng-cover semua penyakit dan obat-obatan?

Berdasarkan pengalaman saya menemani mama, sih ga juga. Ada beberapa penyakit yang ga ditanggung, untuk lengkapnya ada di laman resmi mereka.

Terkait obat juga ga semua. Misal, insulin pas didapat memang termasuk beberapa jarum suntik. Hanya, untuk kapas alkohol harus beli sendiri.

Begitu juga saat kaki mama dioperasi dulu. NaCl beli sendiri beserta kain kasa.

Pun demikian untuk alat tes gula darah yang setiap hari rutin kami gunakan itu beli sendiri. Harganya berkisar Rp 300-600 ribu untuk satu set lengkap, jarum dan strip.

Namun, di luar itu semua, saya sangat berterima kasih dengan adanya BPJS. Program ini sangat membantu kami dan ratusan juta rakyat Indonesia.

Begitu juga dengan rumah sakit, para nakes dan pekerja sangat ramah terhadap semua pasien. Tidak ada dikotomi antara pengguna BPJS, asuransi swasta, atau bayar mandiri.

Epilog, saya paham sesuatu yang bernyawa pasti akan merasakan sakit, termasuk mama -yang alhamdulillah sudah mulai membaik-. Namun, dengan adanya BPJS sangat meringankan beban pasien dan keluarga serta pelayanan dari para nakes di setiap rumah sakit yang sangat memanusiakan manusia membuat saya bersyukur sebagai bagian dari rakyat Indonesia.

Terima kasih!***

*         *         *

Disclaimer: Artikel ini murni pengalaman pribadi saya sebagai bloger yang berprofesi ojol. Ga ada pesanan dan tendensi apa pun. Video di akun youtube dan tiktok saya, @roelly87.


*         *         *

- Jakarta, 20 Agustus 2026


*         *         *


Selasa, 21 Juli 2026

Tengah Malam Ambil Orderan di Lantai 3 Mal

Tengah Malam Ambil Orderan di Lantai 3 Mal

Saya jalan kaki naik eskalator ke lantai tiga
(Foto: dok.pribadi/@roelly87)


BULAN ini, saya genap tujuh tahun berprofesi sebagai ojek online (ojol). Tepatnya, sejak 11 Juli 2019 usai dua pekan sebelumnya mendaftar.

Saya punya lima aplikasi ojol aktif. Berdasarkan urutan, Gojek, Shopee, Lalamove, Maxim, dan Indriver. 

Ada satu lagi yang sudah ditutup induk perusahaannya meski hanya seumur jagung beroperasi. Yaitu, Traveloka East yang nonaktif November 2002.

Dalam tujuh tahun terakhir ini, banyak suka dan duka yang saya alami. Beberapa di antaranya sudah saya tulis di blog pribadi, www.roelly87.com atau di Kompasiana (www.kompasiana.com/roelly87).

Baik lucu, kocak, sedih, seram, horror, memantik emosi, dan sebagainya. 

Itu meliputi toilet SPBU ga ada airnya, penumpang kecebur got saat menuju bandara, nemenin BAP di Polsek yang dijambret, diceramahi customer akibat naruh piza di jok belakang, hingga digerepe-gerepe boti!

*          *          *

MINGGU malam hingga Senin pagi di stasiun antarkota seperti Gambir, Pasar Senen, dan Jatinangor, selalu dipenuhi ojol, taksi online, hingga konvensional. Itu karena banyak penumpang kereta yang turun dari arah timur Jawa. 

Orderannya pun mayoritas kakap. Alias, jarak jauh. Seperti yang saya dapat Senin (6/7) menuju salah satu cluster di Pantai Indah Kapuk (PIK). 

Selesai antar, saya streaming Brasil vs Norwegia yang antiklimaks. Sambil ngopi dan "menghirup asap kehidupan".

Saat lagi seru usai pemain Brasil gagal eksekusi penalti, bunyi orderan masuk. Kirim makanan dari mal PIK Avenue ke apartemen di seberangnya.

Spontan, aktivitas nonton Piala Dunia 2026 saya hentikan. Cek di aplikasi, rinciannya ambil orderan di salah satu restoran yang terletak di lantai tiga, Haidilao Hot Pot.

Hah?

Ini pukul tiga dini hari WIB. Mal mana yang buka jam segini?

Serius nih?

Biar ga penasaran, saya telepon pemesannya. Katanya, memang resto khas oriental itu satu-satunya yang buka di PIK Avenue.

Dalam percakapan itu, beliau minta tolong untuk diambil orderannya dan diganti parkir.

Oke.

Saya pun bergegas. 

Sampai parkiran sepi. Ga ada orang satu pun.

Wkwkwk. 

Kocak!

Yah, namanya juga pukul 03.00 WIB!

...

Serem dong? 

Ga lah. Lebih serem lagi kalo ga punya duit!

Untungnya, setelah berkeliling hingga seperminuman teh, ada petugas. Memberi info saya, lokasi resto di lantai tiga. 

Namun, aksesnya hanya bisa jalan kaki. Sebab, katanya eskalator dan elevator masih off yang baru nyala pukul 10.00 WIB sesuai waktu operasional mal.

Ebuset.

Pegal banget kaki. Naik dari basement parkiran motor menuju lantai tiga.

Setapak demi setapak menaiki tangga jalan.

Mana gelap lagi sekeliling malnya.

Sumpah, mungkin saya satu-satunya manusia di area itu. Ga ada orang lain lagi!

...

Merinding euy.

Bulu rambut saya berdiri seketika pas sudah sampai lantai tiga. Efek capek kali akibat jalan kaki.

Sebenarnya ga ada apa-apa. Ga ada penampakan atau hal aneh.

Mungkin, ini saya sedang halu. Atau sugesti gara-gara sering nonton film horor.

Kendati, saya ingat-ingat, ada tiga momen yang terasa janggal.

Pertama, pas jalan kaki naik eskalator terdengar suara orang napas.

Lalu, saat lewat etalase, ada manekin yang seperti melirik dan membayangi.

Terakhir, saat turun lewat lift barang. Ada sesuatu.

Ya, pokoknya, ada...

*          *          *

USAI perjalanan yang "seru" dari parkiran motor di basement ke lantai tiga, akhirnya saya sampai di resto. Disambut hangat oleh kasirnya sambil diberi segelas teh dengan aroma wangi yang khas.

Segar!

Eh iya. Saya pun mengamati sang pegawai itu. Dari ujung rambut hingga kaki.

Yes, sepatunya napak tanah. 

Kalo melayang, sumpah mungkin saya langsung sipat kuping. 

Bukan maksud mendramatisir, tapi bisa dipahami mengingat saat itu masih jam tiga malam. Apalagi, dalam mal yang masih tutup.

Wajar jika saya harus teliti. 

Kendati, saya bukan tipe penakut. Biasa ngojol malam hari yang sering nemuin anomali di jalan.

...

Namun, waspada itu boleh. 

Sebab, seketika -efek kebanyakan nonton film horor- di imajinasi saya bahwa pegawai itu makhluk halus. Begitu juga dengan gedung yang saya tempati, halusinasi saya malah lahan kosong.

Wkwkwkwk.

Kocak.

Ini gara-gara kebanyakan baca Majalah Misteri, Nyata, Tatang S, sampe Enny Arrow! 

(Selengkapnya: Brigitte Lin Ching-hsia yang Memesona - http://www.roelly87.com/2023/12/brigitte-lin-ching-hsia-yang-memesona.html)

Faktanya, normal aja. Pegawai itu memberikan saya bungkusan penuh cemilan.

"Untuk masnya ya. Sambil nunggu makanan lagi diproses," kata pegawai yang sekilas mengingatkan saya pada Winona Ryder.

(Ebuset, jadul amat dah referensinya!)

Saya pun langsung membukanya. Isinya banyak.

Ada es krim, wafer, stik, chiki, hingga rumput laut. 

Ih, sedapnya!

Saya jadi pengen terus dapat orderan di resto ini.

Dasar matre!

Wkwkwkw...

Hanya, pemberian itu mungkin situasional. Alias, hanya pada jam-jam tertentu.

Sebab, di PIK Avenue, ojol yang mau ambil orderan food ga perlu ke resto. Melainkan, cukup nunggu di pick-up point yang biasanya dijaga dua petugas dengan berlokasi di basement parkiran.

Nanti, pegawai resto yang memberikan makanan kepada ojol setelah diverifikasi petugas jaga. Pun demikian dengan parkir.

PIK Avenue menyediakan parkir gratis untuk ojol dan kurir paket. Syaratnya, kertas parkir distempel petugas jaga di pick-pu point.

(Selengkapnya: Daftar Mal Elite di Jakarta dan yang Gratiskan Parkir untuk Ojol - http://www.roelly87.com/2024/06/daftar-mal-elite-di-jakarta-dan-yang.html)

*          *          *

SEPEMBAKARAN hio berlalu. Pegawai satunya lagi menghampiri saya yang sedang sibuk "unboxing" cemilan.

Ternyata, makanan udah jadi. Dua plastik besar. 

Akhirnya!

Beliau pun memberi info, ada lift barang yang biasa diakses karyawan. Lokasinya ga jauh. 

Saya baru tahu, euy. Ga apa-apa telat daripada ga sama sekali!

Saya pun mengucapkan terima kasih. 

Secara, turun dengan lift jauh lebih enak ketimbang jalan kaki lewat eskalator yang masih off. 

Hufft.

Eh, bentar. 

Lewat lift?

Waduh, sepi dong.

...

Jadi ingat drama Thailand, ada orang yang dikejar makhluk halus berbusana penari tradisional. 

Wkwkwkw.

Yasudahlah, mending lewat lift. Secara, saya agak rempong bawa dua plastik ukuran besar.

Yang penting, saat itu, saya cuma ingin segera ke parkiran. Perkara "ada sesuatu", itu urusan belakangan.

...

...

Ternyata, pas sampe aman-aman aja. Emang ga ada apa-apa.

Mungkin, saya terlalu halu. Ini zaman modern, era teknologi canggih, masa percaya takhayul?

Usai memberikan pesanan kepada customer, saya buka hape. 

Kaget dong!

Bukan, ini bukan soal ada penampakan di foto atau video yang saya rekam. 

Ternyata, lihat berita, Brasil disingkirkan Norwegia 0-2. Semua gol diborong Erling Haaland. 

Ya, gagal deh Brasil melaju lebih jauh di Piala Dunia 2026. Sekaligus, jadi panggung antiklimaks bagi Neymar...

*          *          *

Disclaimer: Artikel ini murni pengalaman pribadi saya sebagai bloger yang berprofesi ojol. Ga ada pesanan dan tendensi apa pun. Video di akun youtube dan tiktok saya, @roelly87.

*          *          *

Jakarta, 21 Juli 2026

*          *          *


Artikel Terkait Bloger


- Blog Saya, roelly87.com Ditawar Rp 13 Juta (https://www.roelly87.com/2026/07/blog-saya-roelly87com-ditawar-rp-13-juta.html)


- Insiden Membokongi Piza (https://www.roelly87.com/2025/01/insiden-membokongi-piza.html)


- Dan Terjadi Lagi... Pelecehan Seksual terhadap Ojol (https://www.roelly87.com/2024/08/dan-terjadi-lagi-pelecehan-seksual.html)


- Penumpang Kecebur Got dan Motor Hampir Mogok: Drama Banjir 22 Maret (https://www.roelly87.com/2024/03/penumpang-kecebur-got-dan-motor-hampir.html)


- Terjebak di Toilet SPBU Kuningan (http://www.roelly87.com/2024/10/terjebak-di-toilet-spbu-kuningan.html)


- Anak Perwira Dijambret di Samping Polda Metro Jaya (https://www.roelly87.com/2024/03/anak-perwira-dijambret-di-samping-polda.html)


- Menara Kadin yang Memanusiakan Manusia (https://www.roelly87.com/2023/11/menara-kadin-yang-memanusiakan-manusia.html)


- Kalian Tim PI atau Tim GI (Plaza Indonesia Vs Grand Indonesia) https://www.roelly87.com/2026/05/kalian-tim-pi-atau-tim-gi-plaza.html


- Orderan Hemat, Jemput Jauh, dan Alasan Ojol Cancel Penumpang (https://www.roelly87.com/2026/03/orderan-hemat-jemput-jauh-dan-alasan.html)


- GBHN/Garis Besar Haluan Ngojol - Kamus Besar Bahasa Ojol (https://www.roelly87.com/2020/11/kamus-besar-bahasa-ojol.html)


- Tidak Ada Toleransi untuk Perokok (https://www.roelly87.com/2024/05/tidak-ada-toleransi-untuk-perokok.html)


- Manajemen dan Security PIK yang Memanusiakan Manusia (https://www.roelly87.com/2026/06/manajemen-dan-security-pik-yang.html)


Kamis, 16 Juli 2026

Blog Saya, roelly87.com Ditawar Rp 13 Juta

Blog Saya, roelly87.com Ditawar 13 Juta

SS penawaran blog saya



TUJUH belas tahun bukan waktu yang singkat. Dalam periode itu, sudah banyak perubahan yang terjadi di kolong langit ini.

Presiden Indonesia sudah tiga kali berganti. Begitu juga di DKI Jakarta yang sudah beberapa kali dipimpin gubernur berbeda.

Dalam periode itu, sebagai bloger atau jurnalis warga, saya sering menulis opini tentang para pemimpin atau politikus. Ya, hobi aja sih. 

Apa aja saya tulis, baik opini maupun reportase, hingga fiksi. Itu meliputi politik, olahraga, musik, kuliner, wisata, wisata malam, hingga kucing.

Itu yang saya lakukan sejak kali perdana ngeblog pada 2009 silam. Awalnya coba-coba di platform gratisan seperti blogspot (blogger.com milik google), wordpress, multiply, dan sebagainya.

Setahun berselang, asyik gabung di blog keroyokan seperti Kompasiana dan Blogdetik hingga kini. 

Akun Kompasiana saya beralamat di www.kompasiana.com/roelly87. Sementara, Blogdetik sudah ditutup permanen pada 2018 silam.

Untuk blog pribadi saya, www.roelly87.com dan www.roelly87.wordpress.com. 

Yang terakhir udah jarang aktif, akibat kesibukan di marcapada.

Namun, yang www.roelly87.com udah hampir seribu artikel.

SERIBU...

1.000!

Tepatnya, -saat nulis artikel ini- per Jumat (3/6) ada 816 artikel di www.roelly87.com. Pada saat yang sama, di www.kompasiana.com/roelly87 berjumlah 746.

Wow...

Cukup banyak, euy.

*            *            *

PAGI itu, Senin (29/6) cuaca cukup cerah. Tanggal muda nih. 

Berarti, orderan ojek online (ojol) gacor. Saya pun keluar cukup awal. 

Maklum, ga begadang karena ga ada pertandingan Piala Dunia 2026. Berdasarkan jadwal, baru ada malamnya pukul 00.00 dini hari WIB antara Brasil versus Jepang di babak 32 besar. 

Ada pesan masuk di whatsapp. Berupa permintaan dari seseorang untuk membeli blog pribadi saya, www.roelly87.com dan adsense-nya. Nilainya lumayan, dia siap buka harga Rp 13 juta.

Saya cuma baca aja sekilas. Takut phising atau penipuan. Apalagi, sedang sibuknya ngojol.

Berselang sepembakaran hio, saat senggang saya balas. Sambil diteliti dulu nomornya di aplikasi cek kontak dan "konsultasi" ke rekan bloger, Ani Berta.

Kata si penawarnya, dia mengaku tertarik karena ***. 

...

Alasannya menarik. 

Masuk akal.

...

Namun, saya tolak dengan halus. 

Sumpah, sebenarnya 13 juta itu bukan nilai yang kecil. 

Besar banget euy!

Apalagi, ini tawaran awal. Alias, bisa naik lagi tergantung negosiasi.

Jujur, saya sempat tergiur. Dengan uang segitu, saya bisa nambahin buat beli motor matic anyar. 

Menggantikan "kuda besi" saat ini yang sudah menua karena jadi andalan ojol sejak Februari 2020. Alias, saya beli sebulan sebelum pandemi Covid 19.  

Hanya, sebagai makhluk yang logis, saya dengan berat hati untuk bergeming dari tawaran itu. Bagaimanapun, saya sudah merawat blog pribadi, roelly87.com dalam 17 tahun terakhir.

Apalagi, nama blog, juga jadi branding saya di media sosial (medsos). Ya, semua akun saya memiliki username "roelly87".

Mulai dari Facebook pada 2009, X/Twitter (2010), Instagram (2012), Youtube, Tiktok, Threads, dan sebagainya. 

Lucu juga kalo saya jual blog pribadi, yang kelak dikelola orang tapi seluruh username akun medsos saya tetap @roelly87.

Kendati harus diakui tampilan blog saya sangat sederhana sejak ganti domain dari blogspot, alias tetap default. Hahaha.

Maklum, sejak pandemi saya posting lewat hp. Udah ga pernah utak-atik lagi. 

Jadi, aksesnya terbatas dibanding via PC atau laptop.

Pasalnya, kedua perangkat itu dan kamera serta alat pendukung ngeblog lainnya sudah berpindah tangan sejak awal Covid. Alias, "disekolahkan" ke pihak lain yang hingga kini ga lulus-lulus. 

Hehehe!

Di sisi lain, saya sudah banyak mendapatkan sesuatu dari blog ini. Termasuk, menang lomba dengan hadiah menarik. Mulai dari HP, jalan-jalan ke perbatasan Entikong, Bunaken, hingga Inggris!

Juga, pengalaman positif bersama instansi pemerintah dalam rangka kampanye ke masyarakat, baik BNN, BNPT,  dan Setkab.

Yuppiii! Itu semua saya dapatkan dari hasil membesarkan www.roelly87.com. 

(Untuk adsense di blog, akan saya bahas di lain waktu)

*            *            *

"PROSES branding kan lama. (Harus) melalui jatuh bangun juga," Ani menjawab chat saya terkait ada pihak yang ingin membeli blog saya.

Pernyataan dari pemilik blog aniberta.com dan www.kompasiana.com/brainy ini beralasan. 

Ani dikenal sebagai bloger yang konsisten. 

Sudah lama ngeblog jauh sebelum saya. Makanya, saya respek kepadanya. 

Saya banyak belajar darinya sejak kali perdana kenal di Kompasiana pada 2011 silam, Blogdetik, hingga Komunitas Indonesia Social Blogpreneur (ISB).

"Ada banyak kok. (Bahkan) blog yang dijual ke penerbit," Ani menjelaskan saat saya tanya apakah ada bloger yang jual blognya ke pihak lain.

Dalam kesempatan itu, sosok yang aktif memperjuangkan peran wanita untuk setara dalam bekerja ini pun mengingatkan saya terkait tawaran blog.

Yaitu, calon pembeli itu profesinya apa dan tujuannya untuk apa. Saya pun sepakat.

Sebab, meski enggan menjual, tapi saya juga penasaran dengan niat si penawar. Apakah untuk ternak blog atau yang negatif. 

Misalnya, dialihkan ke situs phising, judi online, kampanye terselubung politikus, serta kedok lainnya.

...

Ternyata, pas diselidiki lebih lanjut, niat sang penawar memang murni. Ga ada tujuan aneh-aneh. 

Ya sudahlah. Saya pun berterima kasih karena ada pihak yang tertarik dengan blog saya.

Hanya, untuk saat ini, saya belum tertarik melepas blog pribadi ke pihak lain. 

Namun, entahlah jika ke depannya ada tawaran yang jauh lebih menggiurkan hingga mungkin sulit untuk saya tolak.***

*            *            *

- Jakarta, 15 Juli 2026

*            *            *

Artikel Terkait:

- Tiga Dara Blogger (http://www.roelly87.com/2015/10/tiga-dara-blogger.html)

- Tips Jadi Content Writer dari Ani Berta (http://www.roelly87.com/2017/10/tips-jadi-content-writer-dari-ani-berta.html)

- Kota Roma Tidak Dibangun dalam Semalam (http://www.roelly87.com/2016/11/kota-roma-tidak-dibangun-dalam-semalam.html)

- Blogger Harus Punya Personal Branding yang Kuat (http://www.roelly87.com/2017/03/blogger-harus-punya-personal-branding.html)

- Ngeblog: Antara Hobi dan Mendatangkan Profit (http://www.roelly87.com/2015/01/ngeblog-antara-hobi-dan-mendatangkan.html)

- Jadi Blogger Enak? Ini Suka dan Dukanya (http://www.roelly87.com/2017/07/jadi-blogger-enak-ini-suka-dan-dukanya.html)

- Juara Bukan sebagai Obsesi dalam Ngeblog (http://www.roelly87.com/2017/05/juara-bukan-sebagai-obsesi-dalam-ngeblog.html)

- Ketika Blogger Bicara Komunitas (http://www.roelly87.com/2017/02/ketika-blogger-bicara-komunitas.html)

- Berkat Fun Blogging, Ngeblog Makin Asyik (http://www.roelly87.com/2017/02/berkat-fun-blogging-ngeblog-makin-asyik.html)

- Tips Ngeblog Asyik: Pentingnya Mengisi Daftar Hadir (http://www.roelly87.com/2015/11/tips-ngeblog-itu-asyik-pentingnya.html)

- Tips Ngeblog Asyik: Jalin Hubungan Baik dengan Komunitas Blogger (I) (http://www.roelly87.com/2016/02/tips-ngeblog-asyik-jalin-hubungan-baik.html)

SS lagi















SS blog

Kamis, 09 Juli 2026

Review Piala Dunia 2026: Yang Muda Berjaya, Tua Kian Menggila

Review Piala Dunia 2026: Yang Muda Berjaya, Tua Kian Menggila


Ilustrasi Piala Dunia 2026 (Foto: Fifa.com)


PIALA Dunia 2026 sudah memasuki babak perempat final. Itu berarti, turnamen terakbar antarnegara di kolong langit ini sedikit lagi menuju puncak. 

Ya, Piala Dunia 2026 dimulai pada 11 Juni lalu. Sementara, final berlangsung di MetLife Stadium, Minggu (19/7).

Siapa jagoan kalian?

Kalo saya sih, ga ada. Netral aja. Secara, Italia yang merupakan favorit gagal lolos. 

Namun, melihat hasil pertandingan sejak fase grup hingga babak 16 besar, kemarin, saya menilai akan banyak kejutan lagi. 

Tim mana yang juara, bagi saya ga penting. Yang pasti, saya akui Piala Dunia 2026 ini sangat bagus. 

Melebihi ekspektasi saya sebelumnya. Ini obyektif ya, tapi kalo dinilai, Piala Dunia 2026 ini dapat 8 dari 10. 

Ya, dari sembilan edisi yang saya tonton di tv sejak 1994, tahun ini masuk tiga besar. -Untuk Piala Dunia 1990 saya baru tiga tahun dan edisi di bawahnya belum lahir-

Alias, hanya di bawah Piala Dunia 2006 yang memang menurut saya terbaik karena Italia juara dengan penuh drama diikuti 1998 (pertama kali merasakan atmosfernya saat remaja).

*           *           *

TIGA dari empat semfinalis Piala Dunia 2022 masih bertahan di edisi sekarang. Minus Kroasia yang tersingkir di babak 32 besar. 

Juara bertahan Argentina akan menghadapi "Kuda Hitam" Swiss. Bahkan, ada ulangan semifinalis lalu, yaitu Prancis kontra Maroko.

Apakah terjadi lagi, deja vu, final impian antara Argentina versus Prancis? Kita tunggu saja.

Yang pasti, Piala Dunia 2026 ini penuh warna dari berbagai sisi.

Misalnya, penyelenggaraan yang tergolong sukses besar. Nyaris seluruh stadion terisi penuh sejak fase grup hingga 16 besar.

Berdasarkan laman fifa.com, total penonton resmi di stadion dalam 96 pertandingan mencapai 6.2 juta jiwa. Alias, rata-rata per pertandingan disaksikan 65 ribu suporter.

Gile. 

Nyaris full!

Respek untuk Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko. Mereka membuktikan mampu sebagai tuan rumah yang diminati penonton baik warga sendiri maupun suporter dari luar.

Kita abaikan terkait politik. Khususnya, perlakuan negatif kepada Iran yang bikin saya sangat simpati dan respek.

-Next mungkin akan saya buat artikel khusus. Soalnya, panjang jika digabungin di tulisan ini.-

Namun, di luar itu, ketiga tuan rumah, khususnya AS, memang luar biasa. 

Total penonton di Piala Dunia 2026 ini memecahkan rekor 32 tahun silam. Di mana itu?

Yupz, di Piala Dunia 1994 ketika AS jadi tuan rumah tunggal dengan 3,5 juta penonton memadati stadion dalam 52 pertandingan (rata-rata 68 ribu).

Wajar jika Piala Dunia 2026 sangat ramai. Sebab, AS memang jago mengemas sesuatu jadi hiburan yang mendatangkan cuan.

Sebagai bloger, saya sering menulis event olahraga dan musik. Termasuk, gulat dengan promotor World Wrestling Entertain (WWE) yang selalu penuh dalam pertandingan reguler seperti SmackDown, Raw, NXT, atau berbayar (misal, Wrestlemania, Royal Rumble, Summerslam, dan sebagainya).

Warga AS emang haus hiburan. Mereka gampang mengeluarkan uang demi menonton langsung pertandingan.

Padahal, sepak bola bukan olahraga paling populer di Negeri Paman Sam. Masih kalah dengan football dan basket. Namun, fakta di lapangan yang kita lihat di tv atau streaming, setiap pertandingan selalu nyaris full.

Reapek untuk AS yang sudah mengemas sepak bola sebagai hiburan berkelas bersama Kanada dan Meksiko.

*           *           *

SELAIN antusiasme penonton dari warga lokal dan suporter luar, Piala Dunia 2026 ini juga seru dari segi individu.

Saya menahbiskan, sebagai ajang yang muda yang berjaya, yang tua kian menggila!

Ini bukan hiperbola. Melainkan fakta yang saya saksikan setiap malam disela-sela aktivitas sebagai ojek online (ojol).

Dua pemain pencetak tujuh gol saat ini, masih tergolong muda. Bomber Norwegia, Erling Haaland baru 25 tahun diikuti ujung tombak Prancis, Kylian Mbappe (27 tahun).

Pun demikian dengan andalan Inggris, Jude Bellingham, yang sudah mengemas empat gol, pada 29 Juni lalu, genap 23 tahun.

Bagaimana dengan yang tua?

Lionel Messi kian menggila di usianya yang sudah 39 tahun. Striker Argentina ini sudah mengemas delapan gol dari lima pertandingan di Piala Dunia 2026.

Catatan itu menjadikannya sebagai pemain tersubur sepanjang masa di turnamen ini dengan 21 gol. Jauh melewati rekor Miroslav Klose pada 2014 (16 gol).

Selain Messi, ada Cristiano Ronaldo yang meski sudah uzur, 41 tahun, tapi sukses mencatat tiga gol di Piala Dunia 2026. Ya, Portugal, memang sudah tersingkir di babak 16 besar, namun tetap salut dengan bomber berjulukan CR7 itu yang sukses mengukir rekor abadi. 

Yaitu, satu-satunya pemain yang mampu mencetak gol dalam enam Piala Dunia sejak 2006. Di statistik ini, Ronaldo unggul dari Messi yang debutnya sama, tapi gagal mencetak gol di Piala Dunia 2010.

Menarik membandingkan antara Messi dengan Ronaldo. Meski, saya bukan penggemar keduanya. 

Hanya, sebagai Juventini, ada rasa keterikatan dengan Ronaldo yang tiga musim berseragam I Bianconeri. Namun, harus diakui, dari segi trofi, Messi lebih lengkap karena mampu membawa Argentina dua kali ke final Piala Dunia pada 2014 dan 2022.

Di luar komparasi itu, baik Messi dan Ronaldo, bagi saya sama-sama GOAT!

Maklum, mereka masih aktif dan menjaga level terbaiknya di usia senja. Padahal, mayoritas rekan-rekannya sudah vanyak yang pensiun dan jadi pelatih.

Sekali lagi, respek untuk Messi dan Ronaldo. Mereka adalah alasan utama saya masih aktif menonton Piala Dunia 2026.

Selain Messi dan Ronaldo, Piala Dunia 2026 ini juga jadi panggung pamungkas untuk para veteran. Luka Modric yang sukses membawa Kroasia runner-up Piala Dunia 2018 sudah berusia 40 tahun, diikuti Manuel Neuer (Jerman, 40), dan Neymar Jr. (Brasil, 34).

Jangan lupakan Josimar Vozinho, yang tampil impresif di Piala Dunia 2026 hingga babak 32 besar yang sangat menyulitkan Argentina. Kiper 40 tahun ini hanya kebobolan empat gol dari empat laga bersama Cape Verde.

Termasuk, sukses clean sheet saat melawan Spanyol dalam pembukaan Grup H. Kendati Cape Verde tersingkir, tapi Vozinho mendapat aplaus meriah dari miliaran penggemar sepak bola di kolong langit. 

Jika Anda menyaksikan berbagai penyelamatannya saat melawan Argentina, pasti sepakat. Hanya, ini jadi aksi debutannya sekaligus panggung terakhir di Piala Dunia mengingat faktor usia.

Apa pun itu, yang dilakukan Vozinho, Messi, Ronaldo, dan para veteran lainnya sukses membuat saya antusias menyaksikan Piala Dunia 2026.

Jujur, ini bukan Piala Dunia terbaik bagi saya, tapi Piala Dunia 2026 jadi salah satu yang paling memberi warna sepanjang saya mengikutinya sejak 1994 silam.***

*           *           *

Artikel Terkait:

- Piala Dunia 2006: Akhir Generasi Emas dan Debut Calon Legenda (https://www.roelly87.com/2026/06/piala-dunia-2006-akhir-generasi-emas.html)

*           *           *

- Jakarta, 9 Juli 2026