TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol

Jumat, 13 Maret 2026

Mengetuk Pintu Langit


POLA macet di Jakarta dan mayoritas kota Indonesia lainnya kemungkinan berubah saat Ramadan. Pada hari-hari biasa, jalanan padat sejak pukul 16.00 WIB hingga 20.00 WIB.


Sementara, pada Ramadan ada pergeseran waktu. Demikian catatan saya sebagai ojek online (ojol) saat menjelajah di empat kotamadya ibu kota, minus Jakarta Timur.


Kemacetan berlangsung sejak pukul 15 00 WIB. Puncaknya, pada pukul 17.00 WIB hingga jelang maghrib dengan aktivitas warga yang ingin pulang cepat untuk buka di rumah, beli takjil, ngabuburit, hingga reuni buka bersama (bukber).


Nah, usai buka puasa, justru jalanan lenggang. Baik itu Sudirman, Daan Mogot, Thamrin, Gatot Subroto, dan jalan raya lainnya minus tol yang tentu saya tidak catat.


Biasanya, saat itu warga sudah sampai di rumah atau tempat bukber. Dilanjutkan tarawih berjamaah.


Setelah pukul 20.00 WIB, macet kembali. Jalanan pun merayap lagi hingga pukul 23.00 WIB sepanjang Ramadan.



*       *       *


USAI mengantar penumpang di Stasiun Cawang atas, tiba-tiba sepeda motor saya agak berat pas turunan MT. Haryono. Saya pun menepikan si kuda besi adalan sehari-hari ini.


Ternyata, ban bocor. Ada paku ukuran sedang yang menancap.


Untungnya tubeless. Jadi, saya masih bisa mengendarai hingga ke tambal ban terdekat.


Beda lagi kalo pakai ban dalam. Jika bocor ya harus langsung ditambal.


Saat lagi mencet ban, ada sedan mewah asal Jepang yang merupakan sub brand untuk pasar Amerika Serikat (AS). Mobil tersebut berhenti di samping saya yang memang kebetulan lenggang karena baru jam berbuka puasa.


Seorang pria muda sekitar usia 30 tipis-tipis keluar. Saya yang baru saja memencet ban langsung berdiri.


Kirain saya, pria ini mau tanya alamat. Di pintu samping keluar wanita yang kemungkinan istrinya diikuti pintu belakang dengan anak perempuan.


"Kenapa bro, motornya?" kata pria itu mengawali percakapan dengan ramah.


"Biasa mas, bocor," saya menjelaskan.


"Wah itu ada pakunya ya," tuturnya ikutan jongkok.


"Iya, untung paku biasa. Nancap masih bisa jalan, kalo paku jari-jari payung yang dalamnya berongga, bisa abis ban."


"Ada tambal ban di sini?"


"Banyak mas. Ini masih aman."


"Bro udah buka puasa?"


"Udah mas. Terima kasih."


Pria itu kemudian seperti kasih kode ke anak perempuannya yang membawa bungkusan besar makanan cepat saji.


"Oom, ini buat buka puasa bareng keluarga Oom?" Anak yang kemungkinan masih TK atau SD ini menyodorkan bungkusan plastik besar berwarna putih itu dengan ramah.


"Terima kasih dik, Om udah makan. Ini mau lanjut lagi," saya menolak dengan halus.


Anak tersebut kembali melihat ayahnya. Ga lama mengangguk.


"Oom ga apa-apa, ini buat keluarga Oom juga di rumah. Tadi kami beli banyak."


"Iya bro, tadi kita udah makan di tempat. Masih ada beberapa bungkus. Ambil aja buat keluarga di rumah ya."


"Bener mas, ini saya juga baru beli pas abis maghrib," saya memotong.


Saya pun membuka jok motor yang berisi bungkusan gorengan dan kolak biji salak yang saya beli usai buka. Saya memang punya kebiasaan beli takjil sesudah maghrib ke pedagang yang dagangannya masih banyak atau sepi.


Ya, untuk ikut melariskan dagangan mereka. Sumpah, kita beli takjil ke pedagang yang sepi atau yang masih banyak saat maghrib lewat itu feelnya beda dibanding saat kita beli ke pedagang yang ramai atau laku sebelum maghrib.


Sebab, pedagang akan melayani dengan sangat khidmat saat kita beli di dagangan yang sepi atau usai maghrib. Ini udah saya lakuin dalam beberapa tahun terakhir.


Secara, ibu saya dulu dagang takjil yang bahkan pernah ga habis hingga tarawih yang rahasianya baru terbongkar usai tidak jualan lagi. Jadi, saya berusaha untuk ikut melariskan dagangan yang sepi atau masih banyak seusai maghrib.


Artikel terkait: Belilah Kolak dan Cemilan Buka Puasa di Pedagang yang Sepi (https://www.roelly87.com/2024/03/belilah-kolak-dan-cemilan-buka-puasa-di.html)


"Udah bro, ga apa-apa. Anak saya tadi puasa full, jadi minta bukber di luar. Nah, kebetulan kami beli banyak. Mubazir kalo ga dimakan," pria itu melanjutkan.


Karena ga enak untuk menolak pemberian tulusnya, saya pun menerima. Apalagi, bocah perempuan itu megangnya agak berat karena bungkusan warna putih isinya terlihat beberapa nasi, ayam, dan minuman cup.


"Terima kasih ya dik," kata saya menyambut uluran bocah tersebut.


"Sama-sama Oomnya."


"Kuat dik puasanya? Udah berapa hari full?"


Bocah itu menghitung jemari tangannya. Tingkahnya sungguh lucu.


"Delapan hari om. Adiknya full kalo libur sekolah aja. Kalo masuk, setengah hari. Namun, beberapa kali dipaksain sendiri sampe kuat," sang istri menimpali dengan semringah.


"Iya Oom. Delapan hari," bocah itu memperlihatkan angka delapan lewat jemari pada kedua tangannya.


"Ih keren. Masih kecil udah banyak full. Mantul ya dik," kata saya tersenyum. 


Saya ga maksud memuji. Namun, seusianya udah puasa full seharian itu bagus. 


Sebab, saat saya sepantaran bocah itu dulu, pada dekade 90-an, saya aja sering bolong puasanya.


Ha... Ha... Ha...


"Iya oom. Terima kasih ya," kata sang bocah sambil menggamit adiknya -kemungkinan balita- yang ikut turun dari mobil.


"Terima kasih ya dik. Terima kasih ya mas dan ka," kata saya menjura sambil bersiap menaruh bungkusan itu ke dashboard motor.


"Iya mas. Hati-hati di jalan," kata sang pria dan istrinya kompak. Sementara, bocah perempuan dan adiknya turut 'dadah' di balik pintu belakang dengan jendela yang dibuka seperempat.


Sedan itu berlalu secara perlahan. Saya pun siap menuju tambal ban.


Namun, saya merasa ada yang aneh.


Ketika mengecek ban dan sekitar motor tidak ada yang janggal. Begitu juga dengan area sekitar yang tidak ada ketinggalan sesuatu dari keluarga tersebut.


Ternyata...


Saat pandangan saya tertuju ke plastik, di bawahnya ada amplop dengan selotip yang nempel. 


Hah?


Refleks, saya ambil langsung amplop itu. Khawatir ketinggalan punya keluarga tersebut.


Hanya, saya tertegun.


Di depannya ada stiker bertulisan yang seperti sudah diprint.


"Selamat berbuka puasa ya bro/sis ojol. Ini sedikit dari kami untuk bro/sis ojol dan keluarga. Salam hangat."


Saya raba amplopnya. Pas dibuka ternyata ada wajah Dwitunggal hingga lima lembar.


Ebuset.


Seketika, saya mau kejar keluarga tersebut untuk mengembalikannya. Namun, mobilnya sudah tidak terlihat.


Entah mereka muter balik di samping Polsek Jatinegara, arah Kalimalang, atau masuk tol. 


Jelas, saya ga bisa mengejarnya.


Yang pasti, saya memang berniat mengembalikan uang ini. Serius.


Saya bukannya menolak rezeki. Saya terbuka untuk menerima pemberian orang lain.


Entah itu makanan atau sembako saat ramadan atau hari biasa. 


Memang, saya memegang teguh adagium, "Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah."


Namun, sebagai manusia yang hidup di jalan, saya harus fleksibel. 


Khususnya, saat menjalankan pekerjaan ojol. Setiap hari pasti ada yang memberi tip.


Tentu, saya ga bisa nolak. Secara, tip itu kan tanda kepuasan customer atas pelayanan ojol.


Hal sama berlaku jika saya memesan ojol atau beli makanan. Sudah pasti saya beri tip untuk rekan seperjuangan.


Apalagi, jika tipnya dari customer itu via nontunai. Kan saya ga bisa mengembalikan ke penumpang yang sudah naik kereta, bis, atau sampai rumah.


Jadi, saya harus adaptif. 


Yang utama, pantang bagi saya untuk minta-minta.


Di luar tip penumpang, saya juga sering dikasih makanan atau sembako dari orang lewat. Tentu, saya ga enak hati jika sampai menolak pemberian mereka.


Toh, mereka niat berbagi. Tanpa kamera atau video yang didokumentasikan.


Artikel terkait: Terima Kasih, Orang Baik (3) (https://www.roelly87.com/2024/03/terima-kasih-orang-baik-3.html)


Namun, selain pemberian pria tadi yang sudah terlanjur pergi, saya sudah tiga kali dikasih uang. 


Ya, tiga kali.


Dua diantaranya, saya tolak langsung dengan sopan.


Bukan bermaksud sok kaya, gengsi, atau apa. Namun, bagaimanapun saya ojol.


Saya kerja.


Saya harus jaga marwah profesi ini.


Dua pemberian uang itu -di Roxy dan Gunawarman- saya tolak secara halus.


Sementara, satunya di Pluit, saya terima. Dengan penjelasan sang pemberi yang masuk akal.


Sebab, karena satu hal mereka bernazar. Jika ***nya sudah *** akan menyisihkan rezeki untuk dibagi-bagi ke sekian orang yang ditemui langsung sebagai wujud syukur.


Kebetulan, saya ga sengaja ketemu. Kendati, saya udah nolak beberapa kali.


Namun, mendengar penjelasan kedua pemberi itu yang masuk akal, akhirnya saya pun luluh.


Pasalnya, mereka sudah berusaha, berikhtiar, dan berdoa. Ketika segala upaya mengetuk pintu langit terwujud, mereka pun langsung menunaikan nazarnya.


Saya terharu saat itu. Betapa perjuangan mereka bertahun-tahun untuk menanti kehadiran sang buah hati akhirnya kesampaian.


Alhasil, saya pun menerima pemberian tulus dari mereka. Saling mendoakan yang terbaik.***


*       *       *

- Jakarta, 13 Maret 2026


*       *       *


Senin, 09 Maret 2026

Orderan Hemat, Jemput Jauh, dan Alasan Ojol Cancel Penumpang

Orderan Hemat, Jemput Jauh, dan Alasan Ojol Cancel Penumpang


...


MENJELANG waktu berbuka puasa merupakan momen yang penuh warna. Khususnya bagi ojek online (ojol) yang bergelut di jalanan setiap harinya.


Apalagi, Ramadan tahun ini bertepatan dengan musim hujan. Alhasil, tiap sore, ibu kota pun basah kuyup diguyur air yang turun dari langit.


Bagi ojol, hujan punya dua sisi. Pertama, jelas gacor alias gampang cari orderan. 


Sisi lainnya, jemput terlalu jauh. Apalagi, jika hujan menjelang maghrib yang bertepatan dengan jam pulang kerja karyawan dan yang ingin buka bersama (bukber), ngabuburit, atau beli takjil.


Bagi penumpang? Hujan saat sore plus suasana Ramadan ini untuk mendapatkan ojol jadi cobaan yang dicobain.


Baik itu untuk pesan orderan penumpang, kirim paket, makanan, atau jastip. 


*       *       *


"MAS, kenapa sih dari tadi susah dapat ojol? Saya udah setengah jam lebih ga dapat-dapat," ujar penumpang yang saya jemput di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, menuju stasiun moda transportasi berbasis rel.


Saat itu, jalanan yang saya lewati benar-benar macet sejak siang. Mulai dari Jalan Daan Mogot, Tomang, Thamrin, Sudirman, Satrio, hingga Rasuna Said.


"Saya udah pake empat aplikasi. Go***, Gr**, Max**, dan Indriv**. Ga ada yang dapat," pelanggan itu melanjutkan. "Malah banyak dicancel duo ijo dengan alasan jemput kejauhan dan pakai layanan hemat atau voucher. Sampe pasrah saya mau ke stasiun."


Saya mendengarkan dengan khidmat. Enggan memotong hingga penumpang itu benar-benar selesai bicaranya.


"Emang ini gara-gara saya pake hemat ya? Jadi dicancel terus sama ojolnya?" katanya lagi.


"Lah, ini saya lagi bawa Anda. Ini layanan hemat kan ga saya cancel?"


"Iya, mas. Ini saya baru dapat setelah belasan kali dicancel di duo ijo. Kalo dua aplikasi lainnya malah muter-muter terus."


"Saya kan ga cancel. Mau itu layanan hemat, reguler (biasa), atau penjemputan prioritas yang lebih mahal, saya tetap bawa. Yang penting jadi uang. Toh, keluarga saya ga pernah nanya, tiap hari saya bawa penumpang yang pakai layanan hemat itu berapa. Mereka hanya nanya, gimana hari ini ngojol, 'ramai apa nggak?' Kalo ramai, ya alhamdulillah. Kalo sepi yang dijalanin aja," saya menjelaskan.


Penumpang itu terkekeh mendengar jawaban saya. Situasi tampak likat baginya.


Usai seperminuman teh, customer itu melanjutkan.


"Iya, saya baca di medsos, katanya ojol Go*** dan Gr** pada ga mau bawa orderan hemat. Padahal kan itu emang udah disediakan dari aplikasinya untuk penumpang," pelanggan yang usianya berkisar seperempat abad tipis-tipis ini menuturkan. "Emang salah ya mas, kalo kami sebagai penumpang pilih orderan hemat?"


Pertanyaan itu merupakan yang ke sekian kali ditujukan penumpang kepada saya. Jawaban saya, tetap template.


"Ga salah dong ka. Hak customer untuk pilih layanan hemat yang memang disediakan aplikasi."


"Terus, kenapa banyak ojol yang cancel. Bahkan, saya dengar di medsos, katanya ojol jijik kalo dapat orderan hemat."


"Nah, ini buktinya si kakak pesan hemat. Saya tetap ambil kan?"


"Iya sih, kadang ada yang kayak mas, mau ambil orderan hemat. Namun, lebih banyak lagi yang cancel. Bahkan nolaknya ketus banget."


"No comment, dah kalo itu. Kalo saya sih nilai, hak setiap masing-masing ojol untuk mau ambil atau nolak orderan hemat. Bebas aja. Kami ini kan mitra. Bukan karyawan aplikasi. Buktinya, setiap hari saya dapat 10-20 orderan penumpang, mayoritas hemat. Biasa aja. Mau itu hemat atau reguler bahkan yang mahal pun. Yang penting, saya pulang bawa uang."


"Serius mas? Jawaban ini ga ada 'gula-gulanya' kan?"


Saya pun menepikan sepeda motor di jalan yang populer dijuluki "Orchard-nya Jakarta". Sambil mengambil hp di holder untuk memperlihatkan riwayat orderan di aplikasi kepada penumpang.


"Nih, lihat di aplikasi. Bukan screenshot ya. Hari ini saya udah dapat 19 order dari start setelah imsak. Tuh, mayoritas hemat ada 15 termasuk yang berjalan saat ini. Kan ada logonya, di aplikasi antara orderan hemat, reguler, prioritas, atau instan."


"Iya ya. Berarti mas ga masalah ambil orderan hemat?"


"Yang masalah itu kalo dapat penumpang ga bayar. Alias kabur."


"Serius?"


"Ya, udah beberapa kali. Baik layanan penumpang, makanan, atau jastip. Ya, risiko pekerjaan."


"Gimana ceritanya mas?"


"Next ajalah. Mending kita fokus pada pembahasan hemat ini."


"Ok..."


*       *       *


SEBAGAI ojol, saya beberapa kali ditinggal kabur penumpang yang ga bayar. Ya, mau gimana lagi, namanya kerja pasti ada risiko.


Anggap aja, lagi kurang beruntung. Toh, saya sering dapat tip dari penumpang dengan nominal yang wah.


Jadi, saya anggap subsidi silang. Penumpang A kabur ga bayar. Ga lama, ada customer B yang kasih tip berkat pelayanan yang memuaskan. 


Nanti pada artikel selanjutnya saya ceritakan.


"Mas, mau tahu ga alasan kenapa saya dan penumpang lainnya banyak pake hemat?" ujarnya lagi.


"Ga. Itu hak penumpang. Bebas aja."


"Kok gitu?"


"Lah, mau jawaban gimana? Mau saya ngeluh gitu karena ongkos hemat lebih murah? No! Itu penggiringan opini."


"He... He..."


"Gini ya. Saya kan dulu pernah kerja sebelum jadi ojol. Jadi, saya paham, untuk ongkos transportasi seperti ojol, taksi online (taksol), taksi konvensional, TJ, KRL, MRT, hingga LRT itu maksimal 30 persen dari pengeluaran. Sisanya, untuk bayar cicilan, baik rumah, paylater, kebutuhan sehari-hari, listrik, kuota, asuransi, dan sebagainya."


Dari kaca spion, tampak sang pelanggan  mengangguk. 


"Saya sering dapat penumpang yang tinggal di Cikarang, Bekasi, kerjanya di utara Jakarta. Sehari itu mereka untuk pp (pergi-pulang) transportasi bisa 100 ribu. Mulai dari naik ojol dari rumah ke stasiun, KRL, lanjut TJ, terus dari halte TJ pesan ojol ke tempat kerja dan sebaliknya saat pulang. Bisa dibayangkan dikali 26 hari kerja."


Obrolan terhenti karena banyak kaum primata yang menyalakan petasan di tengah jalan. Manusia-manusia tolol ini memang meresahkan. 


Sampah masyarakat ini ga tahu situasi, jalanan lagi ramai eh malah masang petasan yang membahayakan pengendara dan orang lewat. Giliran diciduk Polkis, ntar playing victim dengan menyebut tradisi Ramadan.


"Jadi, kalo penumpang pake hemat itu wajar. Agar mereka bisa menekan pengeluaran dari naik ojol. Sama seperti waktu itu ada penumpang cerita, naik LRT nunggu hingga pukul 20.00 WIB demi ongkos di luar jam sibuk Rp 10 ribu. Sah-sah aja. Ekonomi lagi sulit, alhasil kita harus berhitung dengan cermat."


"Wah, mas ini bijak ya. "


"Ga juga. Tapi, sebagai ojol, saya harus adaptif. Toh, kita lihat sesuatu harus dua sisi."


"Nah itu mas. Nih, tahu ga, dari kantor saya ke stasiun itu saya pake hemat bayar 16 ribu. Kalo yang reguler 35 ribu. Terus, kalo mau dapat ojol yang lebih cepat harus nambah 4 ribu. 35 + 4 = 39 ribu. Jauh banget kan bedanya sama hemat?"


Saya mengiyakan. Memang, di aplikasi customer tertera seperti itu. Untuk jam sibuk dan hujan, tarif reguler ada kenaikan harga. Fluktuasi. Tergantung ramainya orderan. 


Di sisi lain, untuk layanan hemat, argonya tidak berubah.


"Ketimbang bayar uang 35 ribu atau 39 ribu, atuh mending saya keluar 16 ribu yang hemat. Toh, biasanya saya selalu kasih tip untuk ojol," ucap sang penumpang.


"Bagi saya dan mungkin penumpang hemat lainnya, lebih baik kasih tip ke ojolnya 5-10 ribu ketimbang layanan reguler yang tarifnya dua kali lipat. Saya salah ga mas?"


Saya mengangguk.


"Ga dong. Kan udah dijelasin dari awal. Hak penumpang untuk pilih layanan, baik hemat, reguler, atau prioritas. Bahkan, ga harus kasih tip juga. Ntar penumpang merasa itu kewajiban yang malah jadi memberatkan," kata saya.


"Terkait ojol yang cancel, itu akibat jemputnya jauh. Misal, tadi saya jemput Anda aja 1.7 km. Posisi saya saat itu di Mampang. Sementara, Anda di Mega Kuningan. Tahu sendiri kan, macetnya Tendean kalo sore? Tapi, tetap saya ambil. Masih masuk hitungannya," lanjut saya.


"Beda lagi jika jaraknya 2 km lebih. Otomatis saya cancel. Bahkan, kalo sore gini jam pulang kerja, jemputnya bisa 3 hingga 5 km. Tanpa drama, langsung saya cancel. Terlalu jauh. 


Kecuali kalo pelajar, mahasiswa, atau penyandang disabilitas. Saya punya pertimbangan khusus untuk tetap ambil.


Itu jadi alasan ojol cancel. Secara, jemput itu ga dikenakan tarif. Jadi, kalo jemputnya jauh, wajar jika ojol cancel karena rugi bensin dan macet. Apalagi kalo jarak jemputnya 5 km dan ongkos hanya 10 ribu? Saya pun ga mau. 


Kami sebagai ojol kan kerja untuk nyari uang, bukan nyari berkah, pahala, atau tiket ke surga. Jadi, mohon kepada Anda dan customer lain untuk sama-sama dipahami. Bahwa, ojol cancel orderan bukan berarti malas atau akibat customer pakai layanan hemat. Melainkan karena jemputnya terlalu jauh yang jaraknya ga masuk akal."


Setelah melewati jalanan yang dipenuhi sampah masyarakat, alias pak ogah di kedua sisi dan juru parkir liar yang bikin macet, kami pun sampai.


"Terima kasih ya mas atas informasi yang mendalam. Sekarang saya jadi paham alasan dicancel ojol akibat jemputnya terlalu jauh," ucap penumpang sambil turun dari motor.


"Terima kasih kembali. Sama-sama ka. Oh ya, kalo lagi mendesak atau penting, penumpang juga bisa datangin ojol yang nongkrong atau lewat dengan masukin kode untuk langsung berangkat."


"Oh, seperti di stasiun ya?"


"Ya, ada Go*** Instan dan Gr** Now. Nanti customer kasih kode biar diinput ojolnya. Hanya, harga memang sedikit lebih mahal dibanding tarif biasa apalagi hemat. Namun, ini sangat berguna jika kita sedang buru-buru ke acara atau keadaan mendesak."


Penumpang itu pun mengangguk usai memberikan helm untuk masuk. Suasana di jalan jelang maghrib pun kian ramai.


Selain klakson motor, mobil, dan bus, juga kata-kata mutiara dari kebon binatang yang keluar antarpengendara akibat ada yang lawan arah serta berhenti tengah jalan. Ah, sungguh sore yang syahdu...



*       *       *


- Jakarta, 9 Maret 2026





Senin, 20 Oktober 2025

Sembilu, Ella, dan Pamor Musisi Malaysia

Sembilu, Ella, dan Pamor Musisi Malaysia

Ella saat konser beberapa waktu lalu
(Foto: ChannelNewsAsia)


CUACA di Indonesia, khususnya Jakarta memang anomali. Saat puncak kemarau pada Juli-Agustus, kerap turun hujan lebat. 

Bahkan, beberapa daerah sampai kebanjiran. Eh giliran Oktober ini yang sudah musim hujan, malah panasnya minta ampun.

Memang sih, sempat beberapa kali hujan sepanjang bulan ini. Namun, intensitasnya tergolong rendah.

Mayoritas rinai saja. Bahkan, malah bikin gerah.

Itu yang saya alami. Usai rinai pagi tadi, siangnya malah kembali terik.

Ditambah lagi macet yang kian parah akibat parkir liar, pak ogah, dan galian dimana-mana. Alhasil, saya pun berusaha meredakannya dengan banyak minum air putih.

Plus, air tebu murni yang dibeli di Pasar Tanah Abang. Langsung diperas dari penggilingan dengan dimasukkan ke gelas dan ditambah sedikit es batu.

Hmm... Yummi!

Ya, sekali-sekali memanjakan tenggorokan. Asal jangan keseringan, secara lagi musim batuk.

"Mas, ini ada yang mau ngojek."

Terdengar teriakan dari belakang saya dekat pertokoan. Saya pun menoleh.

Yang manggil, pria, masih muda yang bisa jadi warga setempat. Di sampingnya, masih muda juga, mungkin seperlima abad tipis-tipis dengan bawa beberapa bungkusan.

"Maaf mas, saya ojol (ojek online). Itu aja di depan ada opang (ojek pangkalan)," kata saya menolak halus.

Bukan maksud menolak rezeki. Faktanya, ga jauh dari lokasi kami berderet rekan opang.

Saya ga mau ambil rezeki orang lain. Secara, namanya ojol dapat orderan via aplikasi.

Kendati, sering juga saya dapat penumpang secara offline alias tanpa aplikasi. Namun, itu situasional. Alias, hanya berlaku saat aplikasi error, hujan lebat atau force majeur seperti ada demo. 

"Ambil aja bro. Ga apa-apa," ujar salah satu rekan opang berteriak sambil mengacungkan jempol.

Saya pun mengangguk karena sudah dipersilakan mereka. 

"Tadinya rekan saya mesan aplikasi, cuma udah 30 menit ga dapat-dapat. Minta ke opang katanya kejauhan. Ini ga apa-apa bawa gembolan ya?" pria itu menjelaskan.

"Kemana mas?"

"Serpong."

"Ebuset. Jauh bener mas."

"Iya, mau naik kereta ribet bawa gembolan. Pesan ojol dan taksol dicancel terus. Taksi konvensional ga ada yang lewat. Maklum, kawasan macet. Mau ya, nanti dilebihkan."

"Oke deh."

"Makasih ya mas. Pelan-pelan aja bawa rekan saya," katanya sambil menyelipkan sesuatu ke dashboard motor.

Pas saya lihat, masing-masing selembar merah dan biru. Wow...

Saya mau bilang kebanyakan dan ingin kembaliin, tapi dia memperlihatkan gestur menolak sambil berbincang dengan penumpang yang hendak naik.

Saya pun langsung semangat. Secara, jika dengan aplikasi, tarifnya ga sampai setengah.

"Misi ya, mas," tutur penumpang saya saat naik di jok dan menitipkan dua bungkusannya di cantelan depan motor.

"Oke. Kita otw. Helmnya tolong dikunci ya. Mohon jangan main hp, takut jambret," saya mengucapkan kalimat template yang sudah diulang hingga ribuan kali kepada penumpang.

Maklum, sebagai ojol yang bergerak di bidang jasa, saya harus ramah dan memastikan 3K kepada penumpang. Yaitu, keselamatan, keamanan, dan kenyamanan.


*         *         *


SEBELUM berangkat, saya cek Google Maps jaraknya berkisar 30-an km. Ini mengingat ada tiga rute dengan kemacetan dan estimasi waktu tempuh yang hampir sama.

Yaitu, lewat Jalan Raya Daan Mogot, Joglo, atau Bintaro. Saya ambil opsi pertama karena masih siang, perkiraan lancar.

Beda cerita kalo sore atau jam pulang kerja, beuh Daan Mogot itu menguji nyali sejak Citraland hingga Kalideres. Bagi saya, macetnya itu sejajar dengan Simatupang, Cacing (Cakung-Cilincing), Kalimalang, dan Kapuk Raya.

Hingga Poris, Tangerang, suasana masih anteng. Saya fokus mengendarai motor dengan berbinar-binar karena sudah mengantungi "pek go".

Yeeei, manusia mana yang ga ijo lihat duit. Saya pun gitu, asal halal dan ga merugikan orang lain.


...


Sementara, penumpang di belakang saya turut bersenandung kecil dengan headset di telinganya. Ga apa-apalah, yang penting jangan dimainin hpnya, rawan jambret.

Sayup-sayup saya dengar lagu lawas dari penyanyi wanita asal Malaysia. Kayaknya, ini penumpang fasih bener nyanyinya.


"Tak dapat ku bayangkan

Tuturmu bagai sembilu

Mencakar hati ini

Tanpa simpati di hati..."


Ih... Keren, dalam hati saya. Cengkoknya khas melayu banget.

"Wow... Sembilu by Ella. Mantap betul," saya memuji. Meski suaranya pelan, tapi tetap terdengar karena jalanan siang itu cukup lenggang tanpa klakson dari kendaraan lain.

"Wah, terima kasih. Anda tahu juga kah ini yang lantunkan aslinya Ella?"

"Tahu dong. Ella kan Queen of Rock Malaysia," jawab saya.

"Nah, cakap itu. Betul," dia melanjutkan. "Berarti Anda paham lagu-lagu Malaysia?"

Mendengar pertanyaan itu, saya pun mengangguk. Maklum, Indonesia dan Malaysia kan tetangga dekat. 

Masih serumpun. Banyak lagu dari jiran, baik penyanyi solo wanita, pria, atau band yang digemari masyarakat Indonesia. 

Termasuk saya yang sejak pertengahan dekade 1990, kerap mendengarnya via kaset, CD, atau VCD.

Beberapa di antaranya pernah saya ulas 13 tahun silam, https://www.kompasiana.com/roelly87/5519b83a8133118b7a9de0c7/lima-musisi-legendaris-malaysia?page=all.

"Ella itu masih eksis hingga kini. Suaranya pun bagus kali saat konser kemarin," ucap penumpang itu.

"Ya, padahal usianya sudah kepala lima..." jawab saya.

"Hampir kepala enam. Tepatnya, 60 tahun pada 31 Juli mendatang," dia memotong.

"Iya."

"Selain Ella, Anda suka siapa saja dari musisi asal kami?"

"Kami?"

"Iya, maksudnya dari Malaysia."

"Oh... Anda dari Malaysia?"

"Iya, dari Perak, sebelahan dengan kampong halaman Ella di Penang."

"Maaf, kirain saya, Anda dari Indonesia."

"Ga apa-apa. Memang orang kita satu sama lain hampir mirip."

"Iya, saya pikir, Anda habis belanja di Pasar Tanah Abang."

"Ga. Ini oleh-oleh untuk keluarga. Namun dibawa via ekspedisi. Saya ke sini karena libur kuliah. Pekan depan balik ke KL (Kuala Lumpur)."

"Oh... Ok."

"Anda pernah ke Malaysia?"

"Sebentar, ya. KL dua kali dan Sarawak. Namun, aslinya di ibu kota kalian hanya transit di pesawat menuju Schiphol sebelum lanjut ke Heathrow..."

"Eh, Schiphol di Amsterdam, Belanda. Lalu, Heathrow di London, UK?" dia memotong lagi.

"Iya."

"Ih... Sedapnya!"

"Itu saat saya nonton final Liga Champions 2016/17 di Cardiff, Wales, Britania Raya. Ga sampe keluar bandara. Hanya transit sebentar. Namun, sempat menghirup udara jiran. He he he."

"Asyiknya." 

Ya, delapan tahun silam, saya berkesempatan nonton final Liga Champions antara Juventus versus Real Madrid yang berujung air mata. 

Bisa dipahami mengingat sudah jauh-jauh ke Negeri David Beckham, plus perjuangan menang lomba blog, eh sampe sana malah berujung getir. 

Maklum, klub favorit saya, Juventus harus takluk 1-4 dari Madrid. (Artikel terkait: https://www.roelly87.com/2017/06/saksi-juventus-di-final-liga-champions.html)

"Satu lagi, di Tebedu, Sarawak, saat saya bersama rekan-rekan bloger dan rombongan dari Kementerian Sekretariat Kabinet meninjau pos perbatasan. Kami sempat singgah sebentar di pasar kawasan Tebedu," saya menjelaskan.

(Artikel terkait: https://www.roelly87.com/2018/04/plbn-entikong-perbatasan-indonesia.html)

"Setkab yang sekarang viral, Letkol Teddy, ya?" 

"Bukan. Dulu masih Pramono (Anung). Sejak 2024 baru Letkol Teddy Wijaya."

"Oh."

"Pramono sekarang Gubernur Jakarta berpasangan dengan Rano Karno, sebagai wakilnya."

"Si Doel?"

"Yoi. Itu tahu."

"Di negeri kami, serial itu populer. Apalagi, di season awal ada Hans sebagai Adam Jagwani."

"Oh ya, adiknya Sarah itu kan asli Malaysia."

"Iya, dia dari Sarawak."


*         *         *


MEMASUKI Tangerang Selatan, jalanan mulai macet. Maklum, di kawasan ini ada beberapa perumahan elite yang jadi penyangga kota tersebut.

Jalannya pun cukup mulus berkat peran swasta. Beda jauh jika kita ke kawasan Ciputat atau Pamulang yang seperti anak tiri akibat pemerintahnya kurang tanggap.

"Sudah lama paham musik Malaysia?" tutur penumpang itu usai saya mengecek ban belakang yang kayak kempes atau bocor halus.

"Sejak kecil. Sekitar pertengahan 90-an."

"Wah, saya belum lahir. Udah lama kali."

"Dari dulu sampe sekarang, lagu-lagu pop atau rock Malaysia tetap diminati masyarakat Indonesia. Begitu pun sebaliknya. 

Untuk penyanyi wanita, saya suka dengar Ella, Siti Nurhaliza, dan Sheila Majid. Anita Sarawak juga bisa dimasukin meski lahir di Singapura tapi sekarang kan tinggal di KL.

Kalo band, ada Search, Exist, Sting, Iklim, Spoon, Wings, dan banyak lagi.

Jangan lupakan P. Ramlee, legenda termahsyur Malaysia. Di Indonesia, lagu-lagunya sering diputar. Termasuk, Madu Tiga yang dibawakan ulang Ahmad Dhani."


...

"Tak disangka, ternyata, masyarakat Indonesia banyak juga yang paham musisi asal negeri kami ya," ucap penumpang itu.

"Iya. Musik kan universal. Contoh, lagu Isabella..."

Bersambung...


*         *         *

- Jakarta, 20 Oktober 2025


*         *         *




*         *         *



*         *         *

Jumat, 17 Oktober 2025

Trade Expo Indonesia 2025

Trade Expo Indonesia 2025
(Foto: koleksi pribadi/ @roelly87)



SETAHUN ga terasa berlalu dengan cepat. Seperti baru kemarin menghadiri Trade Expo Indonesia (TEI) 2024 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) Bumi Serpong Damai (BSD), Kabupaten Tangerang. 

Eh, udah hadir lagi pada event dan tempat yang sama. Tepatnya, dalam TEI 2025, Kamis (16/10).

Edisi ke-40 pameran ekspor terbesar di Asia Tenggara ini berlangsung lima hari pada 15-19 Oktober. Terdapat 1.600-an lebih pelaku usaha untuk meluaskan pasarnya ke penjuru dunia.

Berdasarkan data Kompas, ada 8.045 pembeli terdaftar dari 130 negara. Pameran ini menampilkan tiga zona utama, yaitu produk pangan dan pertanian, manufaktur, serta jasa dan gaya hidup. 

Target transaksi TEI 2025 sebesar 16,5 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau kalau dikurs hingga Rp273 triliun!

Jumlah yang fantastis...

Khususnya, bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Beberapa di antaranya turut dibawa PT Astra International Tbk, dengan 23 UMKM yang tersebar di Hall 3A ICE BSD. Terdapat tiga kategori dengan komposisi 10 pelaku usaha yang dibina Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) dan 13 dari Desa Sejahtera Astra (DSA).

Jumlah tersebut meningkat dari tahun lalu, dengan 19 UMKM seperti yang sudah saya ulas dalam https://www.roelly87.com/2024/10/trade-expo-indonesia-2024-dan-momentum.html.

Nah, ke-23 UMKM ini merepresentasikan kekuatan dan keberagaman produk unggulan Indonesia. Untuk kategorinya berdasarkan data resmi dan hasil keliling di booth Astra di Hall 3A ICE BSD, meliputi:


1. Kategori Makanan dan Minuman Olahan (9 UMKM) diwakili UMKM produk siap saji dan olahan:

• CV AROMA SUKSES (Cirebon, Jawa Barat) memproduksi Bawang Goreng Premium dan telah mengekspor ke Australia, Taiwan, dan Amerika Serikat (AS).

• PT QISBELIAN SNACK INDONESIA (Bontang, Kalimantan Timur) dengan produk Amplang Kuku Macan yang telah menembus pasar Italia, Australia, dan California (AS).

• CV Khaira Buana Mas (Kulon Progo, Yogyakarta) memproduksi Jamur Crispy dan telah mengekspor ke Australia.

• Koperasi Rumah Biru Sejahtera (Sikka, Nusa Tenggara Timur) menawarkan produk olahan kakao seperti Cocoa Bean fermented, cocoa powder, hingga cashew nut berbagai varian rasa.

• CV Centerindo Kurnia Tritama (Kab. Bantul, Yogyakarta) yang menjual Teh eukaliptus, wedang uwuh, minuman instan jahe, permen, dan ginger cookies, serta telah mengekspor ke Malaysia, Kanada, Jerman, dan Jeddah (Arab Daudi).

• CV Ghani Wijaya Makmur (Sumedang, Jawa Barat) menghadirkan Snack Makaroni panggang dan Basreng (bakso goreng).

• PT BATTENBERG TIGA INDONESIA (Bandung, Jawa Barat) dengan produk andalan Biscuit Brownies Bites Glutenfree Dairyfree dan Cokelat Powder Drink, yang memiliki riwayat ekspor ke Malaysia, Kanada, Jerman, dan Jeddah (Arab Saudi).

• PT Imago Raw Honey (Bogor, Jawa Barat) memamerkan produk Madu dan Granola.

• Pawon Koe Mevrouw (Banyuwangi, Jawa Timur) yang produknya meliputi Salmon skin dan Keripik cumi, dengan riwayat ekspor ke Jepang dan Belanda.

***

2. Kategori Komoditas Pertanian (6 UMKM) fokus pada komoditas mentah maupun olahan awal:

• PT Syailendra Bumi Investama (Karanganyar, Jawa Tengah) menawarkan Minyak Atsiri dengan pasar ekspor yang luas meliputi Asia, Eropa, hingga Timur Tengah.

• PT SARI BHUWANA NUSAJAYA (Sidoarjo, Jawa Timur) menghadirkan rempah utuh, rempah bubuk, dan produk turunannya, dengan riwayat ekspor ke tujuh negara.

• CV Mekanira Nusantara (Banyumas, Jawa Tengah) menjual Gula Kelapa (Coconut Sugar) & Produk Turunan Kelapa lainnya, dengan riwayat ekspor ke Australia, Bulgaria, dan Singapura.

• CV TEMON AGRO LESTARI (Pacitan, Jawa Timur) dengan produk Gula Aren semut, cair, cetak, dan serbuk siap seduh jahe merah gula aren, yang telah diekspor ke Kanada, Jepang, dan Belanda.

• PT EFFA CIPTA SEJAHTERA (Kerinci, Jambi) fokus pada Cinnamon Stick dan Cinnamon Powder, dengan riwayat ekspor ke Nigeria.

• 1612 Coffee (Bandung, Jawa Barat) menampilkan Biji Kopi pilihan.

***

3. Kategori Craft Pendukung Fashion dan Home Décor (8 UMKM)  menampilkan produk kerajinan dan dekorasi rumah:

• CV Karya Winazar (Sukabumi, Jawa Barat) memproduksi berbagai alat dapur dan rumah tangga dari kayu seperti Cobek, Talenan, Sodet Sutil, hingga Rolling pin, dan diekspor ke Malaysia, Thailand, dan Brunei.

• PT Kain Ratu Utama (Jepara, Jawa Tengah) menjual Kain Tenun, Baju Tenun, Taplak Meja, Sarung Bantal Tenun, dan Tas Tenun, yang telah diekspor ke delapan negara termasuk Arab Saudi, Jepang, dan Singapura.

• WOOD MOOD (Jepara, Jawa Tengah) dengan Kerajinan kayu alat masak, alat makan, dekorasi, souvenir dan kado, diekspor ke Korea, Taiwan, Malaysia, India, Arab Saudi, Turki, dan lain-lain.

• PT Kreasi Dewe Indonesia / Ghawean Dewe (Jakarta Pusat) dengan boneka batik dan souvenir batik yang telah diekspor ke tujuh negara.

• CV Karya Wahana Sentosa (Bantul, Yogyakarta) menawarkan wooden kitchenware, wooden tableware, interior dan rumah kayu, dengan riwayat ekspor ke Jepang.

• UD Mitra Karya Sejahtera / Akaza (Jombang, Jawa Timur) yang menjual Kerajinan kayu alat rumah tangga dan alat dapur, diekspor ke Singapura dan Malaysia.

• PT PARJONO KERAMIK JAYA (Bantul, Yogyakarta) dengan Kerajinan Gerabah 

Kombinasi Serat Alam yang memiliki pasar ekspor luas termasuk Yunani, Prancis, 

Dubai, Belgia, Denmark, dan Amerika.

• Djohn Kreasi Batu Alam (Yogyakarta) yang memproduksi Accessories batu alam, dengan pasar ekspor ke India, Timur Tengah, dan Malaysia.


*        *        *


KOMITMEN Astra lewat berbagai yayasanya, termasuk YDBA dan DSA pada Trade Expo Indonesia 2025 ini hingga artikel ini ditulis Jumat (17/10) petang, telah melakukan enam Memorandum of 

Understanding (MoU) yang disepakati. Nilai transaksinya mencapai 4,2 juta dolar AS yang akan diekspor ke berbagai negara seperti Rusia, Bangladesh, Uni Emirat Arab, Malaysia, Kanada dan AS.

Selain penandatanganan MoU, sebanyak 25 UMKM binaan Yayasan Astra juga mengikuti pelatihan Strategi Ekspor yang merupakan kolaborasi antara Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia dengan Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Ekspor dan Jasa Perdagangan (PPEJP) Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. 

Tujuan dari pelatihan ini adalah agar peserta yang belum berkesempatan mengikuti TEI tahun ini, siap mengikuti pameran berikutnya.

Ya, seperti banyak tulisan saya dulu (www.roelly87.com/2024/09/astra-ydba-umkm-dan-kontribusi-untuk.html), Astra dan Yayasan Astra berkomitmen  terus mendukung UMKM Indonesia untuk 

tumbuh, berinovasi, dan berkontribusi pada peningkatan ekspor nasional, sejalan dengan semangat mewujudkan cita-cita "Sejahtera Bersama Bangsa".


*        *        *


"BAWANG goreng premium ini sudah diekspor ke mancanegara. Mulai dari Australia, Taiwan, Macau, Hongkong, hingga Amerika Serikat," kata Asinan, perwakilan CV Aroma Sukses (Wuenak) selaku produsen Bawang Goreng Premium merek Aroma.

Produk asal Cirebon itu juga jadi idaman si kapal-kapal mewah di Macau, Tiongkok. Juga disediakan di salah satu restoran di Sydney, Australia.

Di TEI 2025 yang berlangsung sejak Rabu (15/10), jadi momentum Asnina agar Wuenak lebih go international. Maklum, banyak buyer asal mancegara yang antusias mendatangi booth Astra yang lokasinya strategis depan pintu masuk Hall Nusantara ICE BSD.

"Kami mendapat LOI (Letter of Intent, atau Surat Pernyataan Niat/Minat) dari buyer India. Bertemu banyak pelanggan baru yang siap menghadirkan bawang goreng kami di restoran mereka," Asnina menuturkan.

"Kini, kami juga sedang menjajaki kerja sama dengan buyer asal Tiongkok. Semoga ini bisa memperluas pasar di tingkat global."

Ya, Trade Expo Indonesia ini merupakan event penting bagi pelaku usaha di Tanah Air, termasuk UMKM dalam melebarkan pasarnya. Tidak hanya untuk dalam negeri saja, melainkan juga mancanegara. 

Itu karena pameran yang berlangsung rutin setiap tahun -kecuali pandemi- sejak 1985 ini memang jadi tujuan utama pebisnis dalam dan luar negeri untuk mencari produk yang diminati, baik eksportir maupun importir.

"Trade Expo Indonesia 2025 jadi wujud nyata untuk memperkuat hilirisasi dan industrialisaai nasional. Sekaligus, memperluas peran dalan rantai pasok global menuju Indonesia Emas," tutur Menteri Perdagangan Budi Santoso.

Menurutnya, pameran ini turut menghadirkan serangkaian kegiatan pendukung bagi pelaku usaha. Seperti penjajakan kerja sama bisnis (business matching), konsultasi bisnis (business counseling), dan berbagai forum bisnis.

Pernyataan senada diungkapkan Ketua Pengurus YDBA Rahmat Samulo. Itu terkait partisipasi Astra bersama yayasannya dalam berbagai pameran yang melibatkan UMKM.

Bisa dipahami mengingat mereka memiliki ratusan mitra UMKM yang dibina untuk meluaskan pasarnya. Tidak hanya dalam negeri saja yang berkaitan untuk menyuplai ke Grup Astra, melainkan juga ekspansi ke mancanegara.

"Kami membawa 23 UMKM di TEI 2025 ini yang sudah melakukan pelatihan intensif ekspor sejak Mei lalu hingga Oktober," Rahmat, menerangkan.

Bahkan, demi memperkuat UMKM binaannya, Astra bersinergi dengan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia dan Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Ekspor dan Jasa Perdagangan (PPEJP) Kementerian Perdagangan untuk pelatihan strategi ekspor.

"Tujuan dari pelatihan ini agar peserta yang belum berkesempatan mengikuti TEI 2025, siap berpartisipasi pada tahun depan," ujar Rahmat terkait 25 UMKM yang diajak dalam pelatihan bertajuk Smart Export Strategy.

Bagi saya, apa yang dilakukan Astra sebagai pelaku usaha swasta untuk berkolaborasi dengan pemerintah, yaitu Kementerian Perdagangan dan KADIN, terkait pelatihan UMKM ini sangat menarik. Sebab, itu menegaskan, perusahaan yang berdiri sejak 1957 ini memang konsisten berperan dalam perputaran ekonomi Tanah Air.

"Kami tidak menilai pelatihan seperti ini layaknya kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility) saja. Melainkan sebagai investasi (bagi mereka)," Rahmat, melanjutkan. "Jika memahami strategi, UMKM itu bisa naik kelas. Mereka dapat masuk ke rantai pasok global."

Ya, Trade Expo Indonesia jadi salah satu dari sekian banyak pameran di Tanah Air setiap tahunnya untuk mengenalkan produk UMKM kepada calon pembeli, baik dalam dan luar negeri. Ini jadi peluang bagi setiap UMKM binaan Astra yang mendapat pelatihan dari sinergisitas swasta dengan kementerian dan KADIN.

Respek bagi Astra sebagai swasta yang sudah menyediakan pelatihan bagi mitra UMKM binaannya, lewat yayasannya, YDBA dan DSA. Pelatihan ini sangat penting.

Ibarat mau bertanding sepak bola yang merupakan kerja sama tim, kalo para pemainnya ga latihan lebih dulu ya bisa kacau. Stamina kedodoran sepanjang 90 menit hingga demam panggung mau nendang bola ke arah gawang malah kepeleset.

Namun, ini bukan soal sepak bola.

***

Salah satu UMKM binaan Astra, PT Kreasi Dewe Indonesia/ Ghawean Dewe yang sudah ekspor ke tujuh negara pun aktif menghadiri berbagai pelatihan. Termasuk, jelang Trade Expo Indonesia 2025 melalui bootcamp yang diselenggarakan di markas Astra dan yayasannya.

"Kami gabung sebagai mitra UMKM Astra sejak 2018, sangat luar biasa support dan materi seminarnya. Mulai dari hal kecil, dulu kami dapat pelatihan membuat pola dan desain yang kami aplikasikan langsung untuk lebih variatif seperti kemasan yang unik," ucap perwakilan Ghawean Dewe saat diskusi dengan jurnalis dan bloger.

Saat melihat etalase Ghawean Dewe yang memproduksi souvenir dan boneka batik ini, saya pikir mereka sangat adaptif. Mereka selalu membuat produk yang punya ciri khas sesuai untuk dipasarkan.

"(Misalnya) di Thailand, kami membuat souvenir berbentuk gajah. Karena memang negara tersebut identik dengan gajah. Untuk Mongolia ada kuda hingga Prancis dengan ayam," ujarnya.





*        *        *


- Jakarta, 23 Oktober 2025



*        *        *


Video (Ga bisa ditautkan di artikel ini, error mungkin dashboard blogger.com atau hostingnya)


- https://vt.tiktok.com/ZSUVhYXJY/ (Bawang Goreng)


- https://youtube.com/shorts/mq3DlG45684?si=sqhLZ-GJdicxyZoS (Boneka Batik)


- https://youtu.be/2ty0LRunBt8?si=eG3ipNHjJw8uXlEO (Pelatihan UMKM)



*        *        *


Referensi:

- https://www.kompas.id/artikel/trade-expo-indonesia-jembatan-umkm-menuju-pasar-global

- https://kadin.id/kabar/kadin-kemendag-dan-astra-luncurkan-program-smart-export-strategy-di-tei-2025/


*        *        *

Boneka batiknya lucu-lucu, apalagi itu
Kanguru malah nyender di tembok



*        *        *

Sabtu, 06 September 2025

Sisi Lain Kerusuhan 28-31 Agustus: Demo Silakan, Anarkis Jangan!

Pedagang tahu dan kacang melewati
samping Polda Metro Jaya yang masih direnovasi usai diserbu pendemo
akhir Agustus lalu
(Foto: dokumentasi pribadi/ @roelly87)


INDONESIA kembali berduka. Tepatnya, saat demonstrasi besar-besaran di berbagai wilayah pada 28 hingga 31 Agustus lalu.

Aksi unjuk rasa itu memakan 10 korban jiwa. Mulai dari rekan ojek online (ojol), Affan Kurniawan, Kamis (28/8) malam, mahasiswa, pelajar, staf DPRD, hingga masyarakat umum.

Pada saat yang sama, beberapa rumah anggota DPR dan menteri pun turut dijarah.

Pun demikian dengan fasilitas umun (fasum), berbagai kantor kepolisian dan DPRD turut terbakar.

Sebagai bloger yang berprofesi ojol, saya berharap demo besar-besaran pekan lalu yang berujung anarkis ini merupakan yang terakhir. Sekaligus jadi pelajaran bagi banyak pihak, khususnya pemerintah di level eksekutif, legislatif, dan yudikatif, agar ucapan serta tindakan tidak melukai perasaan rakyat.

Juga untuk Aparat Penegak Hukum, terutama Kepolisian agar menangani unjuk rasa dengan tidak mudah terpancing hingga bertindak represif.

Proses anggota yang bersalah. Hukum seberat-beratnya hingga jadi efek jera.

Ya, luka perih pada 28-31 Agustus lalu, tidak perlu lagi lagi dibubuhi garam terkait infilstrasi asing. Itu harapan saya yang menyaksikan pemandangan mengenaskan di Jakarta pekan lalu.


*        *        *


"HARI ini, saya WFH, mas. Tapi, tadi ke kantor karena ada berkas yang mau digunakan klien, Senin," ujar penumpang salah satu aplikasi ojol yang saya jemput di kawasan Sudirman.

"Turut berduka cita untuk rekannya mas yang semalam meninggal. Semoga pelaku pelindasan ketangkap dan dan dihukum seberat-beratnya. Sebagai budak korporat, kami berharap pemerintah bisa segera mengatasi kerusuhan dari semalam. Jika tidak, bakal panjang hingga berpotensi guncangan ekonomi."

Pernyataan customer yang mengaku pegawai Big 4 ini beralasan. Sebab, sejak Kamis (28/8) malam, usai insiden rantis Brimob, di beberapa titik ibu kota ricuh.

Itu meliputi Pejompongan, Gatot Subroto, hingga Kwitang yang dekat markas Brimob.

Kebetulan saya baru aktif ngojol lagi pada Jumat (29/8) petang. Tepatnya, usai mendampingi ibu di Rumah Sakit untuk kateter jantung sejak beberapa hari sebelumnya.

Alhamdulillah, berdasarkan diagnosis hasilnya cukup baik. Ibu saya menurut dokter tidak perlu pasang ring. Cukup istirahat saja untuk proses pemulihan.

Itu mengapa, saya kurang mengikuti perkembangan informasi di luaran. Termasuk, baru tahu ada rekan ojol yang meninggal lewat medsos.

Sebelumnya, Senin (25/8) saya menyaksikan langsung adanya provokasi dan penyusup saat unjuk rasa di kawasan Slipi dengan melempar batu. Di sisi lain, saya juga melihat dengan mata kepala sendiri, betapa polisi gampang terpancing hingga berlaku represif kepada massa.

Bisa disimak dalam rekaman video yang saya unggah di tiktok (https://vt.tiktok.com/ZSAvXorX8/).



*        *        *


"TOKO tutup sementara. Barang-barang yang berharga sudah kami ungsikan sejak kemarin. Belum tahu kapan buka lagi. Masih nunggu perkembangan informasi."

Demikian komentar penumpang yang bekerja di salah satu toko branded di mal kawasan Senayan. Menurutnya, sang bos sudah melakukan langkah preventif sejak Kamis sore akibat rusuh depan DPR.

Koleksi mahal dagangannya sudah diungsikan ke tempat aman. Khawatir tokonya dijarah.

Menurutnya, antisipasi itu turut dilakukan hampir seluruh toko di berbagai mal di kawasan Senayan. Maklum, lokasinya dekat dengan DPR dan Pejompongan yang jadi titik meletusnya kerusuhan akibat rantis Brimob yang melindas ojol.

"Tolong deh, anggota DPR, congornya dijaga. Gara-gara kalian, semua kena getahnya," tutur penumpang yang sekilas mirip Shinichi Kudo itu sambil menghela napas.

Ya, imbas berbagai pernyataan tak peka dari anggota DPR jadi awal mula. Terlindasnya Affan oleh Brimob pun jadi momentum puncak kemarahan rakyat.

Saya pun menilai, pemerintah kurang responsif. Presiden Prabowo mengeluarkan statement terkesan normatif. Tidak menyelesaikan masalah. 

Alhasil, kerusuhan berlanjut hingga Sabtu dan Minggu yang berujung penjarahan rumah pejabat serta perusakan fasum.

Ini sangat miris. Hingga Kamis (4/9) pagi, halte Transjakarta di Jalan Sudirman dari Jembatan Semanggi hingga Bundaran Senayan tidak berfungsi. 

Alias, masih diperbaiki seperti terekam dalam video yang saya unggah, https://vt.tiktok.com/ZSAvqNHy1/.

Jujur, itu sangat merugikan warga. Apalagi, penyandang disabilitas yang aksesnya naik Transjakarta terganggu.

Saya pribadi sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, mempersilakan siapa pun untuk demo. Boleh dong. 

Hak asasi manusia. Kebebasan berpendapat dijamin dalam Undang Undang Dasar.

Justru kalo kita melarang demo, bakal aneh ini negara. Seperti negara komunis atau tirani.

Anda mau, Prabowo jadi diktator seperti Vladimir Putin, Xi Jinping, dan Kim Jong Un?

Saya sih ogah. Biarpun saya pemilih Prabowo pada tiga edisi pilpres beruntun, ga mau negara ini kembali ke masa orde baru.

Najis!

Di sisi lain, demo juga ada aturan. Harus izin APH dan waktunya ditentukan hingga petang. 

Yang terpenting, jangan anarkis! Saya mengetik artikel ini, Jumat (5/9) dini hari WIB, tepat di samping Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Metro Jaya. Tampak, puluhan pekerja sedang memperbaik halte Transjakarta dan pintu masuk MRT Istora yang rusak.


*        *        *


"YA Tuhan, sepi amat ini Jakarta. Karyawan pada WFH, UMKM makanan pinggir jalan ga buka takut rusuh, imbasnya Thamrin, Kuningan, Sudirman, SCBD, kayak kota mati  Mau sampai kapan gini terus?" kata rekan ojol saat nongki bareng di kawasan Tugu Selamat Datang, Senin (1/9) sore.

"Iya pak. Glodok dan Mangga Dua yang biasanya rame orderan barang aja, sepi. Ini, makanya saya ke tengah. Eh, sama aja."

"Padahal hari ini ga ada yang demo, tapi karyawan mayoritas WFH. Sekolah dan kampus libur. Toko tutup dan mal banyak yang belum buka."

"Masih nunggu situasi tenang, pak. Sejauh ini udah kondusif. Cuma ya, memang belum normal. Kendaraan aja di Thamrin-Sudirman yang lewat bisa diitung jari."

"Ente udah banyak orderan?"

"Belum penglaris."

"Keluar kapan?"

"Siang tadi pak. Dari Cengkareng ga bunyi, lanjut ke Glodok dan Mangga Dua, sama aja. Yaudah, ane ke sini, moga-moga dapat."

"Ane juga baru dua dari pagi. Itu juga satunya untung dapat orderan bagi-bagi makanan dari warga Asia Tenggara. Katanya mereka simpati dengan kondisi di Indonesia."

"Alhamdulillah, pak."

"Ane cabut dulu ya. Moga bunyi ya."

"Aamiin..."

Sebagai ojol sejak 2019, situasi sulit ini bukan yang pertama. Saya pernah mengalami yang lebih pelik saat pandemi.

Ketika itu keluar rumah seharian pernah hanya dapat Rp 8.000. Alias, satu orderan.

Itu pun non tunai. Alias, harus dicairkan di rekening yang ga bisa diambil. Sebab, minimal tarik tunai ATM Rp 50.000. 

Ya, momen pandemi jadi pelajaran berharga saya untuk menghadapi situasi sulit. Termasuk seperti sekarang yang sejak Senin, jangankan dapat Rp 100-200 ribu seperti hari normal, bisa bawa pulang 70 ribu aja udah alhamdulillah.

Itu mengapa ketika lagi ada orderan ojol, saya jarang nolak. Aplikasi bunyi, ya tancap gas.

Termasuk, saat puncak rusuh pada Jumat, Sabtu, dan Minggu (29-31 Agustus) lalu. Saya tetap ambil orderan kendati lokasinya rawan.

Misal, di SCBD yang bersebelahan dengan Polda Metro Jaya saat digeruduk massa. Atau, di GBK yang tidak jauh dari pecahnya polisi dan pendemo di DPR, Sabtu (30/8).

Saat itu, saya bolak-balik untuk mengantar penumpang menuju Stasiun Kebayoran atau Tanah Abang. Secara, saat itu Stasiun Palmerah ditutup, hingga penumpang KRL tujuan Rangkasbitung dialihkan.

"Maaf ya pak, agak jauh jemputnya. Soalnya, saya udah hampir satu jam sulit dapat ojol. Ada yang nawarin ga pake aplikasi, tapi ditembaknya kemahalan," tutur penumpang berpakaian serba hitam yang saya jemput di Indonesia Arena, GBK, Jakarta Pusat, Sabtu (30/8) malam.

Customer itu baru selesai menyaksikan Pandji Pragiwaksono dalam Stand Up Comedy Mens Rea, bersama ribuan penonton lainnya. Dia ga nyangka situasi berlanjut ricuh di DPR hingga Jalan Gerbang Pemuda ditutup.

Bahkan, GBK saja hanya memberlakukan dua pintu untuk akses. Masuk dari Pintu 5 depan Kementerian Pendidikan, dan keluar di Pintu 11 seberang Hotel Mulia. 

Sementara, akses utama di Pintu 10, depan TVRI ditutup untuk antisipasi keamanan. Di sisi lain, saya dapat orderannya di Stasiun Karet, alias jaraknya 4 km lebih. 

Namun, tetap saya ambil dengan rute ke GBK via Bendhil, alias ga lewat Gatot Subroto yang sudah dipenuhi massa.

Jauh? jelas.

Namun, seperti kata Amado Carrillo Fuentes "El Señor de los Cielos" dalam Narcos: Mexico, bahwa krisis adalah peluang, alhasil saya tidak menyia-nyiakan setiap orderan. 

Bolak-balik GBK ke Stasiun Kebayoran, Stasiun Sudirman, kawasan Setiabudi, hingga utara Jakarta pun, saya jabanin. Intinya, menghasilkan uang.

Yang penting, jangan melewati kerumunan demo, khawatir kena gas air mata bahkan peluru nyasar.

Untuk rekaman videonya di DPR saya unggah di https://vt.tiktok.com/ZSAvWJPqo/.

"Ga nyangka juga, masih kayak gini situasinya. Kirain pagi tadi pas pidato presiden bisa segera ditangani. Semoga segera normal, agar ekonomi pulih. Apalagi, pekan depan banyak event musik yang melibatkan artis luar negeri. Jika masih rusuh bakal mencoreng citra Indonesia di mata dunia," ucap dara itu lagi.

"Steve Vai udah konfirm konser bareng Dewa 19 di GBK. Pestapora di Kemayoran," saya menimpali.

"Iya, bang. Cepet pulih Indonesiaku. Berbagai event itu turut melibatkan UMKM hingga ekonomi kita berputar. Sayang, kalo harus batal, efeknya ke masyarakat juga."

Ya, mari jadikan meninggalnya 10 warga pada 28-31 Agustus ini sebagai momentum perbaikan para pejabat. 

Termasuk, tidak menormalisasi tet tot tet tot, nguing nguing di jalanan. Secara, strobo dan sirine yang digunakan kalian dibeli dari pajak kami, para rakyat Indonesia.

Bangkit, negeriku!***


*        *        *


- Jakarta, 6 September 2025



*        *        *


Artikel Terkait: