POLA macet di Jakarta dan mayoritas kota Indonesia lainnya kemungkinan berubah saat Ramadan. Pada hari-hari biasa, jalanan padat sejak pukul 16.00 WIB hingga 20.00 WIB.
Sementara, pada Ramadan ada pergeseran waktu. Demikian catatan saya sebagai ojek online (ojol) saat menjelajah di empat kotamadya ibu kota, minus Jakarta Timur.
Kemacetan berlangsung sejak pukul 15 00 WIB. Puncaknya, pada pukul 17.00 WIB hingga jelang maghrib dengan aktivitas warga yang ingin pulang cepat untuk buka di rumah, beli takjil, ngabuburit, hingga reuni buka bersama (bukber).
Nah, usai buka puasa, justru jalanan lenggang. Baik itu Sudirman, Daan Mogot, Thamrin, Gatot Subroto, dan jalan raya lainnya minus tol yang tentu saya tidak catat.
Biasanya, saat itu warga sudah sampai di rumah atau tempat bukber. Dilanjutkan tarawih berjamaah.
Setelah pukul 20.00 WIB, macet kembali. Jalanan pun merayap lagi hingga pukul 23.00 WIB sepanjang Ramadan.
* * *
USAI mengantar penumpang di Stasiun Cawang atas, tiba-tiba sepeda motor saya agak berat pas turunan MT. Haryono. Saya pun menepikan si kuda besi adalan sehari-hari ini.
Ternyata, ban bocor. Ada paku ukuran sedang yang menancap.
Untungnya tubeless. Jadi, saya masih bisa mengendarai hingga ke tambal ban terdekat.
Beda lagi kalo pakai ban dalam. Jika bocor ya harus langsung ditambal.
Saat lagi mencet ban, ada sedan mewah asal Jepang yang merupakan sub brand untuk pasar Amerika Serikat (AS). Mobil tersebut berhenti di samping saya yang memang kebetulan lenggang karena baru jam berbuka puasa.
Seorang pria muda sekitar usia 30 tipis-tipis keluar. Saya yang baru saja memencet ban langsung berdiri.
Kirain saya, pria ini mau tanya alamat. Di pintu samping keluar wanita yang kemungkinan istrinya diikuti pintu belakang dengan anak perempuan.
"Kenapa bro, motornya?" kata pria itu mengawali percakapan dengan ramah.
"Biasa mas, bocor," saya menjelaskan.
"Wah itu ada pakunya ya," tuturnya ikutan jongkok.
"Iya, untung paku biasa. Nancap masih bisa jalan, kalo paku jari-jari payung yang dalamnya berongga, bisa abis ban."
"Ada tambal ban di sini?"
"Banyak mas. Ini masih aman."
"Bro udah buka puasa?"
"Udah mas. Terima kasih."
Pria itu kemudian seperti kasih kode ke anak perempuannya yang membawa bungkusan besar makanan cepat saji.
"Oom, ini buat buka puasa bareng keluarga Oom?" Anak yang kemungkinan masih TK atau SD ini menyodorkan bungkusan plastik besar berwarna putih itu dengan ramah.
"Terima kasih dik, Om udah makan. Ini mau lanjut lagi," saya menolak dengan halus.
Anak tersebut kembali melihat ayahnya. Ga lama mengangguk.
"Oom ga apa-apa, ini buat keluarga Oom juga di rumah. Tadi kami beli banyak."
"Iya bro, tadi kita udah makan di tempat. Masih ada beberapa bungkus. Ambil aja buat keluarga di rumah ya."
"Bener mas, ini saya juga baru beli pas abis maghrib," saya memotong.
Saya pun membuka jok motor yang berisi bungkusan gorengan dan kolak biji salak yang saya beli usai buka. Saya memang punya kebiasaan beli takjil sesudah maghrib ke pedagang yang dagangannya masih banyak atau sepi.
Ya, untuk ikut melariskan dagangan mereka. Sumpah, kita beli takjil ke pedagang yang sepi atau yang masih banyak saat maghrib lewat itu feelnya beda dibanding saat kita beli ke pedagang yang ramai atau laku sebelum maghrib.
Sebab, pedagang akan melayani dengan sangat khidmat saat kita beli di dagangan yang sepi atau usai maghrib. Ini udah saya lakuin dalam beberapa tahun terakhir.
Secara, ibu saya dulu dagang takjil yang bahkan pernah ga habis hingga tarawih yang rahasianya baru terbongkar usai tidak jualan lagi. Jadi, saya berusaha untuk ikut melariskan dagangan yang sepi atau masih banyak seusai maghrib.
Artikel terkait: Belilah Kolak dan Cemilan Buka Puasa di Pedagang yang Sepi (https://www.roelly87.com/2024/03/belilah-kolak-dan-cemilan-buka-puasa-di.html)
"Udah bro, ga apa-apa. Anak saya tadi puasa full, jadi minta bukber di luar. Nah, kebetulan kami beli banyak. Mubazir kalo ga dimakan," pria itu melanjutkan.
Karena ga enak untuk menolak pemberian tulusnya, saya pun menerima. Apalagi, bocah perempuan itu megangnya agak berat karena bungkusan warna putih isinya terlihat beberapa nasi, ayam, dan minuman cup.
"Terima kasih ya dik," kata saya menyambut uluran bocah tersebut.
"Sama-sama Oomnya."
"Kuat dik puasanya? Udah berapa hari full?"
Bocah itu menghitung jemari tangannya. Tingkahnya sungguh lucu.
"Delapan hari om. Adiknya full kalo libur sekolah aja. Kalo masuk, setengah hari. Namun, beberapa kali dipaksain sendiri sampe kuat," sang istri menimpali dengan semringah.
"Iya Oom. Delapan hari," bocah itu memperlihatkan angka delapan lewat jemari pada kedua tangannya.
"Ih keren. Masih kecil udah banyak full. Mantul ya dik," kata saya tersenyum.
Saya ga maksud memuji. Namun, seusianya udah puasa full seharian itu bagus.
Sebab, saat saya sepantaran bocah itu dulu, pada dekade 90-an, saya aja sering bolong puasanya.
Ha... Ha... Ha...
"Iya oom. Terima kasih ya," kata sang bocah sambil menggamit adiknya -kemungkinan balita- yang ikut turun dari mobil.
"Terima kasih ya dik. Terima kasih ya mas dan ka," kata saya menjura sambil bersiap menaruh bungkusan itu ke dashboard motor.
"Iya mas. Hati-hati di jalan," kata sang pria dan istrinya kompak. Sementara, bocah perempuan dan adiknya turut 'dadah' di balik pintu belakang dengan jendela yang dibuka seperempat.
Sedan itu berlalu secara perlahan. Saya pun siap menuju tambal ban.
Namun, saya merasa ada yang aneh.
Ketika mengecek ban dan sekitar motor tidak ada yang janggal. Begitu juga dengan area sekitar yang tidak ada ketinggalan sesuatu dari keluarga tersebut.
Ternyata...
Saat pandangan saya tertuju ke plastik, di bawahnya ada amplop dengan selotip yang nempel.
Hah?
Refleks, saya ambil langsung amplop itu. Khawatir ketinggalan punya keluarga tersebut.
Hanya, saya tertegun.
Di depannya ada stiker bertulisan yang seperti sudah diprint.
"Selamat berbuka puasa ya bro/sis ojol. Ini sedikit dari kami untuk bro/sis ojol dan keluarga. Salam hangat."
Saya raba amplopnya. Pas dibuka ternyata ada wajah Dwitunggal hingga lima lembar.
Ebuset.
Seketika, saya mau kejar keluarga tersebut untuk mengembalikannya. Namun, mobilnya sudah tidak terlihat.
Entah mereka muter balik di samping Polsek Jatinegara, arah Kalimalang, atau masuk tol.
Jelas, saya ga bisa mengejarnya.
Yang pasti, saya memang berniat mengembalikan uang ini. Serius.
Saya bukannya menolak rezeki. Saya terbuka untuk menerima pemberian orang lain.
Entah itu makanan atau sembako saat ramadan atau hari biasa.
Memang, saya memegang teguh adagium, "Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah."
Namun, sebagai manusia yang hidup di jalan, saya harus fleksibel.
Khususnya, saat menjalankan pekerjaan ojol. Setiap hari pasti ada yang memberi tip.
Tentu, saya ga bisa nolak. Secara, tip itu kan tanda kepuasan customer atas pelayanan ojol.
Hal sama berlaku jika saya memesan ojol atau beli makanan. Sudah pasti saya beri tip untuk rekan seperjuangan.
Apalagi, jika tipnya dari customer itu via nontunai. Kan saya ga bisa mengembalikan ke penumpang yang sudah naik kereta, bis, atau sampai rumah.
Jadi, saya harus adaptif.
Yang utama, pantang bagi saya untuk minta-minta.
Di luar tip penumpang, saya juga sering dikasih makanan atau sembako dari orang lewat. Tentu, saya ga enak hati jika sampai menolak pemberian mereka.
Toh, mereka niat berbagi. Tanpa kamera atau video yang didokumentasikan.
Artikel terkait: Terima Kasih, Orang Baik (3) (https://www.roelly87.com/2024/03/terima-kasih-orang-baik-3.html)
Namun, selain pemberian pria tadi yang sudah terlanjur pergi, saya sudah tiga kali dikasih uang.
Ya, tiga kali.
Dua diantaranya, saya tolak langsung dengan sopan.
Bukan bermaksud sok kaya, gengsi, atau apa. Namun, bagaimanapun saya ojol.
Saya kerja.
Saya harus jaga marwah profesi ini.
Dua pemberian uang itu -di Roxy dan Gunawarman- saya tolak secara halus.
Sementara, satunya di Pluit, saya terima. Dengan penjelasan sang pemberi yang masuk akal.
Sebab, karena satu hal mereka bernazar. Jika ***nya sudah *** akan menyisihkan rezeki untuk dibagi-bagi ke sekian orang yang ditemui langsung sebagai wujud syukur.
Kebetulan, saya ga sengaja ketemu. Kendati, saya udah nolak beberapa kali.
Namun, mendengar penjelasan kedua pemberi itu yang masuk akal, akhirnya saya pun luluh.
Pasalnya, mereka sudah berusaha, berikhtiar, dan berdoa. Ketika segala upaya mengetuk pintu langit terwujud, mereka pun langsung menunaikan nazarnya.
Saya terharu saat itu. Betapa perjuangan mereka bertahun-tahun untuk menanti kehadiran sang buah hati akhirnya kesampaian.
Alhasil, saya pun menerima pemberian tulus dari mereka. Saling mendoakan yang terbaik.***
* * *
- Jakarta, 13 Maret 2026
* * *




