TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol

Minggu, 19 Mei 2024

Laut China Selatan dan Tetangga yang Berisik

Laut China Selatan dan Tetangga yang Berisik


LAUT Natuna Utara yang termasuk dalam kawasan Laut China Selatan merupakan halaman depan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jadi, kita harus selalu menjaga beranda ini dengan baik.

Maklum, di Laut China Selatan ini juga berbagi kepemilikan dengan berbagai negara. Selain Indonesia, di kawasan Asia Tenggara ada Malaysia, Filipina, Brunei, dan Vietnam.

Sementara, Asia Timur diwakili Republik Rakyat Tiongkok dan Taiwan. 

Laut China Selatan ini sejak dulu dikenal sebagai jalur utama perdagangan dunia. Jadi akses dari Asia Timur dan Amerika bagian barat menuju Asia Selatan, Timur Tengah, Afrika, dan Eropa.

Wajar, jika kita harus mengawasi halaman depan ini dengan baik. Apalagi, Laut China Selatan juga kaya akan hasil alam, seperti minyak dan gas, hingga ikan yang melimpah.

Kita sudah tidak asing lagi mendengar nelayan dari negara tetangga yang tertangkap akibat mencari ikan di perairan Indonesia. Bahkan, ada juga tetangga berisik yang suka seenaknya di pekarangan negara lain.

Misalnya, parade militer dengan kapal perang yang mondar-mandir di Laut Natuna Utara. Hingga, membuat khawatir para nelayan kita yang sedang mencari ikan di perairan NKRI.

Hadeuh. Runyam emang kalo punya tetangga model gini.

Saya jadi inget dengan rivalitas duo klub asal Manchester pada dekade lalu. Saat itu, pelatih Manchester United (MU), Sir Alex Ferguson, kerap menyindir Manchester City sebagai tetangga yang berisik.

Itu akibat manajemen, pemain, dan fan Man. City kerap menyenggol "The Red Devils". Kalo kata anak zaman now, ga ngomongin MU, ga makan!

Ha... Ha... Ha...

Kalo Anda penggemar sepak bola, khususnya sejak 1990-an, pasti maklum dengan MU yang merajai kompetisi Liga Inggris. Namun, situasi berubah usai Man. City yang jadi juara 2011/12 secara dramatis pada akhir kompetisi.

Sejak itu, kondisi berbalik 180 derajat. MU hanya sekali kampiun pada 2012/13. Di sisi lain, Man. City, justru merajai, termasuk musim 2022/23 lalu dengan Treble Winners.

Eh bentar, ini kita lagi membahas Laut China Selatam, kok malah nyasar ke sepak bola? Btw, sejak jadi bloger pada 2009 silam, saya emang suka nulis random. Apa aja yang terlintas di ide dan depan mata, ya saya tulis.

Baik itu yang serius hingga remeh. Mulai dari pengalaman horor bin aneh sebagai ojek online (ojol), jadi petugas KPPS pada Pemilu 2024, bola, gulat pro, musik, kupu-kupu malam, kucing, dan sebagainya.

Intinya, ngeblog merupakan hobi disela-sela mencari orderan ojol. Baik itu dituangkan di blog ini, www.roelly87.com yang sudah ada sejak 2009 (2014 beralih dari blogspot) dan Kompasiana.com/roelly87 (2010).


*       *       *


"PAGI pak/bu, alamat udah sesuai aplikasi ya? Di Perumahan XXX Blok Z nomor ABC."

"Ya, pak. Rumah saya di tikungan. Nanti tunggu depan pos aja ya."

"Siap. Saya otw."

Demikian percakapan saya dengan penumpang di salah satu aplikasi ojol, pada Phalguna lalu. Btw, saya punya lima aplikasi ojol yang seluruhnya on dan empat di antaranya akan off jika salah satu bunyi. 

Kok banyak? Itu karena status saya sebagai mitra aplikasi, alias bukan karyawan yang dapat gaji dari perusahaan.

Justru, saya yang menggaji perusahaan aplikasi tersebut. Yaitu, lewat potongan harga yang dibayarkan penumpang dengan 20% di antaranya untuk aplikasi. (Ojol dapat bersih 80%).

Jadi, saya harus punya plan A, B, C, dan seterusnya jika ada salah satu aplikasi yang error. Yupz, jangan menaruh seluruh telur dalam keranjang yang sama.

Lanjut.

Ketika sampai di pos perumahan tersebut, saya pun menunggu customer. Hanya, tunggu tinggal tunggu, hingga 10 menit tidak ada kabar.

Saya chat via aplikasi. Lumayan lama baru  dibalas.

"Bentar ya pak. Ini depan rumah. Maaf pak,  bisa ke sini aja?"

"Ok."

Sesampainya di lokasi, ternyata customer lagi bersitegang dengan beberapa orang. Ga sampe baku hantam, mengingat penumpang saya itu wanita. Melainkan adu mulut.

Yang menarik saat penumpang itu menunjuk ke depan rumahnya. Tangan kanan pegang sapu dan tangan kiri menggenggam pengki.

"Ini terakhir kali saya kasih tahu. Jika terulang, saya lapor security."

Salah satu dari beberapa orang yang berkerumun di depannya menjawab, "Ga takut. Lapor aja. Ini jalanan umum. Toh, kami kasih makanan ke kucing hasil beli sendiri. Ga ngemis ke Anda."

"Tapi, kotorannya berserakan di mana-mana. Pot saya sampe pada rusak. Udah, sekarang saya mau kerja. Cape ngeladenin orang ga waras seperti kalian."

"Huuuu... Dasar perempuan nirempati. Cocoknya Anda hidup di hutan!"

Penumpang saya yang mukanya merah siap melabrak orang tersebut. Namun, urung ketika menoleh ada saya yang sudah menunggu di depannya.

"Pak, maaf ya. Yuk berangkat," ujarnya sambil menaruh sapu dan pengki serta mengunci pagar rumahnya.

"Ke gedung EFG ya, ka. Siap."

"Maaf ya, udah bikin nunggu lama. Cape juga ngadepin tetangga yang berisik ini. Sekali lagi, maaf ya pak."

"Aman ka. Oke, kita otw."


*       *       *


TERNYATA, usut punya usut, keributan itu akibat ulah tetangga depan rumahnya yang dinilai sangat keterlaluan. Itu diungkapkan sang penumpang dalam perjalanan yang beberapa kali menahan geregetan.

Menurutnya, si tetangga yang baru pindah bulan lalu ke cluster kelas menengah itu sangat resek. Sebab, sering menyetel tv dengan volume yang kencang pada malam hari. 

Bahkan, seenaknya menaruh beberapa motor dan mobil di depan rumahnya. Hingga, menghalangi akses keluar dan masuk sang penumpang.

"Saya sudah bilang baik-baik, tapi masuk kuping kiri keluar kuping kanan. Kalo malam banyak tamunya yang datang untuk setel lagu berisik. Nah, kendaraan mereka seenaknya parkir depan gerbang rumah saya, hingga saya ga bisa buka karena kehalangan. Tadi puncaknya..." penumpang itu menjelaskan.

Mendengar penuturan tersebut, saya jadi merasa aneh. Sebab, perumahan itu bisa digolongkan kawasan kelas menengah. 

Rumahnya besar-besar. Sistem cluster dengan satu pintu untuk keluar dan masuk. 

Bahkan, ojol atau tamu harus menyerahkan KTP kepada security di pos depan. 

Namun, ternyata perumahan elite tersebut ga menjamin penghuninya untuk rukun. Ada saja tetangga yang berisik bin julid dengan berlaku seenaknya.

Meski, info ini hanya saya dapat dari penumpang. Alias satu arah. 

Belum tentu sepenuhnya benar mengingat harus memverifikasinya dengan tanya langsung kepada tetangga sang penumpang. 

"Selain kelakuan minus, tetangga saya itu kayak orang bener. Tiap hari kasih makan kucing liar. Bahkan, ada yang dibawa dari luar. Mending kalo dipelihara dengan diberi kandang. 

Lha, ini dilepas begitu aja. Akibatnya, banyak kucing yang berak sembarangan di kawasan kami. Termasuk, di halaman saya, itu bau banget. Kotoran kucing berserakan di mana-mana. Gimana ga kesel?" tutur penumpang itu sambil berapi-api.

"Kalo dikasih tahu, dibilangngnya saya ga punya perasaan. Kata mereka, saya ga punya rasa sayang kepada sesama makhuk hidup...

Hello! Mereka itu benar-benar ga waras. Kalo betulan penyayang binatang, harusnya tuh kucing dipelihara dengan baik. Dikasih kandang dan pasir untuk kucing buang kotoran. Bukan malah dilepas begitu saja hingga mengganggu penghuni perumahan lainnya yang setiap pagi harus menyapu kotoran dan kencing kucing."

Obrolan terhenti mengingat kami sudah sampai lokasi kerjaannya. Penumpang itu kembali meminta maaf atas insiden sebelum berangkat yang saya tanggapi dengan santai.

Usai menyelesaikan orderan di aplikasi, saya pun lanjut. Hanya, di jalan saya jadi teringat keributan sang penumpang dengan tetangganya yang berisik itu.

Mengenai tetangganya yang menyetel tv atau musik hingga kencang dan parkir kendaraan sembarangan, saya enggan komentar. Namun, untuk kasih makan kucing liar ini, saya merasa ini jadi pro dan kontra.

Btw, saya pernah menulisnya dua tahun lalu (https://www.roelly87.com/2022/09/terima-kasih-orang-baik.html). Saya sangat berterima kasih jika ada individu atau pihak yang rutin berbagi kepada sesama makhluk hidup, dalam hal ini memberi makan kucing.

Namun, untuk situasi di perumahan penumpang tadi, tentu berbeda. Sebab, namanya kucing liar tentu ga bisa diawasi. 

Khususnya jika buang kotoran atau kencing sembarangan yang bisa mengenai halaman rumah orang. Tindakan tetangga sang penumpang ini yang rutin memberi makan kucing liar memang sangat diapresiasi. 

Hanya, seharusnya lebih bijak lagi. Sebab, tindakannya itu justru merugikan sesama penghuni perumahan lain. 

Apalagi, jika melihat reaksi sang tetangga yang seolah maha benar di hadapan penumpang saya itu.

Saya jadi ingat terkait pantangan meladeni tipe orang tertentu yang jika dilakukan sama aja dengan melukis di atas air, yaitu:

1. Jangan debat dengan pendukung calon presiden (capres) tertentu.

2. Jangan adu argumen dengan penggemar klub sepak bola.

3. Jangan menasihati orang bucin.

4. Jangan meladeni Cat Lovers.

Setuju ga setuju, tapi ini relate banget dengan kehidupan sehari-hari. Ha... Ha... Ha...

Lanjut terkait tetangga yang toxic itu, biasanya ada di sekitar kita. Dalam hal kecil di pemukiman hingga skala luas antarnegara.

Contohnya, di Laut China Selatan...


*       *       *


DALAM beberapa tahun terakhir, Laut China Selatan kerap disorot dunia. Itu terkait potensi konflik yang melibatkan tujuh negara.

Tentu, sejauh ini Indonesia selalu bersikap pasif. Alias, tidak reaktif dibanding beberapa negara lainnya.

Meski begitu, saya menyadari, pemerintah berusaha untuk berlaku cermat. Menyikapinya dengan bijaksana terkait adanya tetangga berisik yang mulai julid.

Bisa dipahami mengingat menjaga kedaulatan merupakan kewajiban yang utama. Tentu, pemerintah enggan kompromi jika ada pihak yang usil.

Salah satunya, Tiongkok, yang mengklaim secara sepihak Laut Natuna Utara yang memang jadi bagian Laut China Selatan. Itu karena Negara Tirai Bambu memasukkannya dalam konsep Sembilan Garis Putus-putus (Nine Dash Line).

Berdasarkan dalih sebagai kubu yang menang pada Perang Dunia II. Saat itu, Tiongkok mengklaim Nine Dash Line membentang sejauh 2.000 km dari daratan mereka hingga beberapa ratus km yang bersinggungan dengan negara lain.

Termasuk, Laut China Selatan yang luasnya 3.5 juta km persegi ini, diakui Tiongkok dengan 90 persen bagian. Itu berarti termasuk Laut Natuna Utara milik kita, Indonesia yang luasnya sekitar 83.000 km persegi, bakal berkurang 30 persen...

Wow!

Padahal, Indonesia sudah menegaskan ujung selatan dari Laut China Selatan merupakan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) berdasarkan Konvensi PBB tentang Hukum Laut hingga pada 2017 dinamai Laut Natuna Utara.

Ironisnya, Tiongkok bergeming. Tetap menganggap Laut China Selatan yang di dalamnya ada Laut Natuna Utara sebagai miliknya.

Saya yang mengetahui kabar tersebut melalui media online, cetak, dan televisi, pun jadi kesal sendiri.

Ini seperti kisah penumpang ojol saya. Yang punya tetangga julid dengan parkir kendaraan sembarangan hingga menghalangi aksesnya keluar masuk rumah.

Atau, klaim Tiongkok terkait Laut China Selatan itu begini. Biar lebih masuk, saya ambil contoh sendiri.

Ibaratnya saya tinggal di suatu perumahan sederhana dengan batas antarrumah dipisahkan pagar yang terbuat dari kayu berjarak masing-masing satu meter dari bangunan. Nah, ga lama, ada tetangga yang baru pindah tinggal di sebelah.

Doi seenaknya mencabut pagar kayu saya dengan dimajukan mepet ke dalam rumah. Alasannya, untuk dijadikan parkiran kendaraannya.

Nah, lho! 

Padahal, saya sudah bilang secara baik-baik bahwa itu tanah milik saya. Bahkan, sampai memperlihatkan sertifikat resmi terkait luas tanah yang saya miliki.

Sementara, tetangga itu sok iye. Ngeyel banget. Tetap mencabut pagar kayu punya saya dengan alasan tak jelas.

Sampai sini, jelas saya harus bersikap tegas. Baku hantam merupakan penyelesaian yang ideal untuk membela harga diri saya dan keluarga yang sudah memiliki sertifikat resmi atas luas tanah itu.

Namun, salam olahraga itu hanya jadi opsi terakhir. Jika mentok saja.

Sebisa mungkin saya mengutamakan diplomasi. Yaitu, melaporkan kepada RT, RW, Lurah, Badan Pertanahan, hingga Kepolisian, yang bisa berlanjut ke meja hijau.

Jika saya benar, tentu kebenaran akan berpihak kepada saya. Toh, memang tanah itu milik saya secara hukum. 

Bahkan, saya bakal menuntutnya lebih jauh. Untuk menimbulkan efek jera agar tetangga saya itu tidak sembarangan menyerobot tanah orang lain.

Jika doi masih ngotot untuk menguasai sebagian tanah saya itu, baru hukum rimba berbicara. Buat apa Tuhan menciptakan tangan dan kaki kalau tidak digunakan dengan baik? 

Ya, untuk menghukum tetangga saya yang usil itu!

Hukum rimba untuk menghukum orang yang tidak tahu aturan dan merasa kebal hukum.

Yupz, demikian analogi saya terkait kondisi Laut China Selatan. Diplomasi merupakan opsi utama yang bakal dilakukan pemerinyah Indonesia untuk mempertahankan wilayahnya dari incaran negara asing.

Kita boleh bersahabat dan memiliki hubungan baik sejak puluhan hingga ratusan tahun. Namun, terkait kedaulatan, tidak ada tawar-menawar. Kita harus mempertahankan setiap jengkal wilayah di Tanah Air hingga tetes darah terakhir.

Termasuk, Laut Natuna Utara yang masuk dalam Laut China Selatan. Ini saya berbicara fakta. 

Tepatnya, sebagai Warga Negara Indonesia yang dalam 15 tahun terakhir rutin menuangkan ide, gagasan, dan pemikiran dalam blog.

Maklum, dalam Konvensi PBB Tahun 1982 terkait Hukum Laut Internasional atau Hukum Perjanjian Laut (United Nations Convention on the Law of the Sea/UNCLOS), memutuskan perairan Natuna masuk dalam ZEE Indonesia.

Secara sah, Indonesia punya hak untuk mengendalikan kekayaan ekonomis di dalamnya untuk kepentingan rakyat. Itu meliputi menangkap ikan, menambang, eksplorasi minyak, navigasi dunia penerbangan, hingga menanam pipa dan kabel di bawah laut.

Di sisi lain, berdasarkan berita yang saya baca pada 2021 lalu, Kapal Perang Tiongkok mondar-mandir di Laut Natuna Utara hingga membuat nelayan kita yang sedang menangkap ikan jadi ketakutan. 

Masih pada tahun yang sama, Tiongkok memperingatkan pemerintah Indonesia untuk menyetop pengeboran minyak dan gas alam di Laut Natuna Utara yang masuk dalam Laut China Selatan.

Aneh kan. Kita beraktivitas di wilayah sendiri tanpa mengganggu orang lain. Pada saat yang sama, tetangga sebelah justru protes dan meminta kita untuk menghentikan aktivitas tersebut.

Kalau saya pribadi sih, akan lantang bersuara kepada pemerintah untuk menegaskan satu kata: Lawan!


*       *       *


HEI... Sabar.

Konfrontasi merupakan opsi pamungkas. Alias, langkah terakhir jika negosiasi sudah mentok.

Yup, kita harus berdiplomasi dengan baik. Seperti adagium, "Satu musuh sudah terlalu banyak, seribu kawan sangat sedikit".

Itu berarti, kita harus berpikir secara jernih dalam menyikapi potensi konflik di Laut China Selatan. Hal tersebut yang dilakukan pemerintah dalam menyikapi situasi ini.

Salah satunya diungkapkan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Hadi Tjahjanto dalam webinar yang diselenggarakan Indonesia Strategic and Defence Studies (ISDS) bersama Litbang Kompas pada 19 Maret lalu. Dalam kesempatan itu, Panglima TNI 2017-2021 ini menegaskan, perlu kehati-hatian dalam menangani konflik dan menyikapi dinamika situasi yang berkembang.

"Pemerintah Indonesia akan selalu mengedepankan cara-cara dialog yang damai dalam menghadapi konflik di Laut China Selatan dan tentunya mengedepankan prinsip penghormatan terhadap kedaulatan masing-masing negara,” ujar Hadi.

Apa yang dikatakan pria 60 tahun ini memang beralasan. Kita, sebagai warga negara, khususnya saya pribadi, tidak boleh terpancing.

Sebab, jika emosi dalam menanggapi isu Laut China Selatan, malah ada pihak yang memancing di air keruh. Alias, justru memanfaatkan situasi yang bikin kita salah mengambil keputusan.

Itu mengapa, Hadi mengakui, dalam menyikapi potensi konflik di Laut China Selatan, pemerintah juga akan melibatkan banyak pihak. Yaitu, akademisi, think tank, dan para ahli.

Sebagai warga negara, kita pun, yaitu saya, Anda, dan kalian, juga punya suara untuk membantu pemerintah. Misalnya, kalo saya jelas, lewat tulisan di blog.

"Kita tidak ingin melihat wilayah Laut China Selatan justru dijadikan ajang proyeksi kekuatan negara major powers (negara adidaya) dan menjadi episentrum konflik. Kita harus mampu mengubah Laut China Selatan menjadi sea of peace,” Hadi, menambahkan.

Menurutnya, Indonesia punya kepentingan besar untuk menjaga perdamaian di Laut China Selatan. Apalagi, mengingat Indonesia merupakan Ketua ASEAN yang memiliki hubungan baik dengan seluruh negara Asia, termasuk Tiongkok.

Pada saat yang sama, dalam pernyataan Hadi itu, saya juga secara tersirat melihat sikap pemerintah yang sudah menyiapkan plan A, B, C, dan sebagainya, dalam menyikapi situasi di Laut China Selatan.

Ya, jika ingin memelihara kedamaian, tentu harus siap berperang. Ini bukan diksi kontradiktif. Melainkan, objektivitas pemerintah untuk menjaga kedaulatan wilayah NKRI.

"Dalam merespons permasalahan (di Laut China Selatan), pemerintah telah mendorong program major project dalam upaya penguatan keamanan Laut Natuna. Yaitu, melalui kecukupan alutsista dan peningkatan sarana serta prasarana Satuan Terintegrasi TNI," Hadi, mengungkapkan.

Yupz, saya setuju. Kita harus memiliki kesiapan sejak dini agar kedaulatan wilayah NKRI tetap terjaga. Obat memang pahit, tapi harus diminum untuk menyembuhkan dari penyakit.

Harapan saya, semoga pemerintah bisa menyelesaikan potensi konflik di Laut China Selatan dengan baik.

Diplomasi adalah kunci.

Aamiin!


*       *       *


- Jakarta, 8 Mei 2024


*       *       *


Referensi


- Webinar ISDS (https://www.youtube.com/live/O3VvNIMNtcc?si=zkLGLQwJpyIoGyUN)

- https://indonesia.go.id/narasi/indonesia-dalam-angka/politik/sengketa-di-kawasan-laut-natuna-utara


- http://ppid.bnpp.go.id/news/newsdetail/219/mengenal-lebih-jauh-zee-indonesia

- https://www.kompas.com/global/read/2021/12/04/070338470/kronologi-konflik-di-laut-natuna-china-tuntut-indonesia-setop-pengeboran?page=all


- https://internasional.kompas.com/read/2021/12/04/150000970/apa-itu-nine-dash-line-yang-sering-dipakai-china-untuk-klaim-natuna-?page=all


Senin, 06 Mei 2024

Siapa Pembunuh Pelayan Kedkop?

Siapa Pembunuh Pelayan di Kedai Kopi?

Suasana Terminal Kalideres saat arus balik
Idul Fitri 1445 H/2024
(Gambar hanya pemanis/@roelly87)



TERIAKAN menggema dari kedai kopi (kedkop) di pinggir jalan pada dini hari ini. Menyeruak memecah rinai yang tak henti sejak sore.

Warga yang sebagian masih terjaga pun berhamburan menuju kedkop tersebut. Tampak, Sinichi, salah satu pelayan kedkop sedang nangis.

Di sampingnya terbujur kaku rekan sesama pelayan kedkop, Freeza. Terdapat dua pisau yang menancap di tengah genangan air akibat tempias hujan ke dalam kedai.

Masing-masing di punggung dan perut dengan posisi telungkup. Warga pun kebingungan menyaksikan insiden tragis itu.

"Jangan diangkat. Nanti sidik jari kalian melekat pada korban," ujar Nobita, salah satu warga memperingati rekan-rekan lainnya yang hampir memindahkan jasad Freeza yang darahnya menggenangi lantai.

"Sinichi, ini gimana ceritanya?" kata Ketua RT 10 Shura.

"Saya datang, sekitar lima menit lalu, Freeza udah tergeletak di lantai, pak RT," Sinichi, menjelaskan.

"Pak RT, saya udah hub Polsek. Mereka akan segera datang. Lebih baik kita bikin parimeter depan kedai agar tidak menimbulkan kemacetan akibat warga lainnya yang berkerumun," Boruto, warga setempat menimpali

"Silakan bro. Sambil nunggu polisi, kita rapikan kedai ini yang berantakan akibat hujan deras dari sore. Juga pel lantai takut licin," tutur Shura.

"Tapi, jangan ada yang sentuh Freeza. Biar polisi aja yang menangani. Kita cukup menunggu."

"Siap pak." Warga kompak mengiyakan.

"Bro Sinichi, ada yang mau saya bicarakan. Mumpung polisi belum datang."

"I... Iya, pak RT."


*       *       *


KEDKOP Sedjuk Segar Soiye (S3) memiliki lokasi yang strategis di Kota Namek Indah. Tepatnya, di deretan Ruko Permai Asyik,  Jalan Raya Nostalgia Kartun.

Pemilik Kedkop S3 adalah Buana Sakti perantau asal Distrik Baku Hantam. Ada enam karyawan yang dibagi tiga shift.

Freeza, Sinichi, Mu, Kuririn, Suneo, dan Rita. Kedkop S3 beroperasi 24 jam pada hari normal dan Ramadan.

Hanya, biasanya, setiap Idul Fitri libur sepekan. Sejak H-3 hingga tiga hari setelahnya.

Namun, Lebaran tahun ini, Kedkop S3 justru tetap buka untuk jualan mi instan, kopi, es, dan cemilan lain. Freeza yang menginisiasi usulan itu kepada Buana.

Maklum, Freeza merupakan warga setempat bersama Sinichi dan Rita. Sementara, tiga pelayan lain perantau dari pulau seberang.

Alasan Freeza, daripada gabut selama Lebaran ga ngapa-ngapain, mending jaga warung yang bisa nambah pemasukan. Buana pun meluluskan permintaan itu dengan memberi insentif lebih selama sepekan untuk Freeza dan Sinichi yang menyambut girang.

Namun, keputusan mulia itu harus dibayar mahal. Sebab, Buana yang sedang asyik tidur di kampung halamannya harus terbangun dini hari WIB usai ditelepon kepolisian.


*       *       *


"JADI, saat Anda tiba, saudara Freeza sudah tergeletak," ujar Inspektur Polisi Satu (Iptu) Hattori kepada Sinichi.

"Siap, Dan!"

"Maaf, mas Sinichi. Jangan panggil 'Dan'. Cukup mas, pak, atau bro, aja."

"Iya, pak."

"Berdasarkan kronologis yang Anda katakan tidak menyentuhnya sama sekali. Analisis awal, korban meninggal sekitar 30 menitan yang lalu."

Hattori, melanjutkan, "Saat itu, Anda sedang di mana?"

"Saya di warnet, pak. Sebelumnya, saya udah izin sama Freeza karena suasana lebaran ini, jadi kedai agak sepi. Saya pun iseng main game 2 jam. Ada billing-nya pak. Di warnet juga ada CCTV sebagai bukti saya di sana."

"Baiklah. Keterangan Anda, pak RT, saudara Nobita, dan Boruto, akan kami olah lagi. Sambil menunggu tim forensik bekerja, silakan Anda dan bapak-bapak saksi lainnya duduk," Hattori, menjelaskan.

"Istirahat aja dulu. Santai dan rileks. Jangan tegang, udah kayak nonton Manchester United FC aja, bawaannya deg-degan terus."

Hari kedua Idul Fitri 1445 Hijriah ini memang suasana jalanan relatif sepi. Namun, berhubung ada kasus pembunuhan membuat warga sekitar dan luar jadi penasaran untuk melihat.

Apalagi pada era sosial media (sosmed) ini. Berbekal hp, mereka pun foto dan memvideokan yang di-share ke berbagai platform sosmed seperti Twitter/X, Facebook, Instagram, Tiktok, dan Youtube.

Tak heran jika atensi masyarakat kian kencang. Bahkan, hingga membuat petinggi di Trunojoyo tahu.

Kebetulan, Hattori ditugaskan kantornya untuk menyelidiki kasus ini. Dibantu juniornya di Akpol, Ipda Saga.

Sementara, Kapolsek Tunas Bangsa AKP Dekisugi sedang meninjau arus mudik di Tol Lintas Khayangan bersama jajaran Polres dan Polda. 


*       *       *


SEBAGAI polisi, Hattori berusaha untuk bersikap ramah. Terutama, menerapkan langsung motto 3M Kepolisian kepada masyarakat: Melindungi, Mengayomi, dan Melayani.

Meski terkesan klise dan retoris, tapi di Polsek Tunas Bangsa, benar-benar dilaksanakan. Jauh berbeda dibanding mayoritas polsek lainnya di Tanah Air yang kadang meyulitkan jika ada masyarakat ingin buat laporan.

Meski ramah, Hattori diam-diam mengamati mereka yang berada di kedai. Termasuk Aphrodite, pacar Freeza yang ternyata anggota organisasi masyarakat Santuy (Saya Anak Tanggul Uraa).

Matanya tampak berkaca-kaca usai memberi keterangan kepada petugas.

Otak Hattori pun berjalan untuk merekonstruksi penjelasan para saksi yang akan dipadukan keterangan tim forensik. Apalagi, mengingat laporan Buana via telepon, CCTV di kedai sudah lama mati. Alias, hanya jadi pajangan keberadaan dua monitor yang konon sekadar menakuti jika ada pelanggan rese dan tidak bayar.

Sementara, pemilik ruko dan warung lain yang ada CCTV di sebelah serta seberang kedai, tidak bisa dihubungi karena sedang mudik.

Sekilas Hattori merasa tidak ada yang aneh. Sudah beberapa kali penggemar Bubur Ayam tidak diaduk ini memperhatikan saksi dan warga yang berkerumun.

Sejauh ini sama sekali ga ada yang janggal. Termasuk, lima saksi utama yang berdasarkan pengakuan jadi yang terakhir ketemu dengan Freeza. 


1. Sinichi

Rekan kerja satu shift. Saat kejadian sedang main game di warnet.


2. Shura

Ketua RT. Saat kejadian sedang di rumah nonton bola.


3. Nobita

Kerabat jauh Freeza. Petinggi Ormas Mau Duit Ogah Kerja (MDOK). Saat kejadian sedang istirahat di markasnya.


4. Boruto

Warga biasa. Saat kejadian sedang di rumah.


5. Aphrodite

Pacar Freeza. Anggota Ormas Santuy. Saat kejadian sedang nonton drakor di kostannya.


*       *       *


"WOI... Kesambet lo ya? Senyam senyum, kadang geregetan. Ntar ketawa lagi," ujar Saga menepok bahu Hattori yang berdiri di seberang kedai diiringi rinai.

"Njir. Ngagetin aja lo. Gimana hasil olah TKP?" kata Hattori yang langsung menyulut asap kehidupan.

"Masih diolah," Saga menjawab sambil terkekeh. "Salah bosku. Lo nyalain rokok terbalik."

"Ha... Ha... Ha... Gw jadi kayak orang linglung."

"Menurut lo, siapa di antara lima saksi yang bisa jadi kuat sebagai terduga?"

"Bukan siapa, bro. Tapi, kenapa korban bisa terbunuh seperti ini."

"Hadeuh... Kalimat pasif. Rempong. Gw tebak, lo udah tahu siapa pembunuhnya," Saga kembali menyalakan rokok yang beberapa detik sebelumnya sudah dibuang karena habis.

"Ini kasus menarik. Ada beragam kepentingan. Tapi, kecil kepentingan para ormas bangsat kayak MDOK, Santuy, dan Pengangguran Idaman Calon Mertua, ikut bermain."

"Gw telusuri riwayat korban ada hubungan dari tiga ormas itu. Gw pikir ini berkolerasi."

"Kayaknya tipis kalo dikaitkan ke arah sana meski kemungkinan tetap ada. Gw udah tahu penyebab korban tewas."

"Maksud lo, udah ketemu pembunuhnya? Satu di antara lima saksi?"

"Bukan..."

"Terus?"

"Korban tewas karena..." Hattori tidak melanjutkan. Sebaliknya, malah menyeringai di hadapan Saga yang spontan mundur setindak.***


Bersambung...


*       *       *


Kisah Selanjutnya

- Adu Cengkram MODK, PICM, dan Santuy di Namek Indah

- Freeza dan Kisah Lain dari Kedkop Triple S

 

*       *       *


- Jakarta, 6 Mei 2024


 ...

Rabu, 24 April 2024

Kenapa Harus Rutin Ganti Oli?

Kenapa Harus Rutin Ganti Oli?


Ilustrasi Kuda Besi di bengkel
(Foto: dokumentasi pribadi/@roelly87)



SEBAGAI ojek online (ojol), saya sangat memperhatikan performa sepeda motor. Maklum, Kuda Besi ini merupakan andalan saya sehari-hari dalam mencari nafkah.

Saya tidak pernah abai untuk merawat tunggangan 125 cc tersebut. Termasuk, setiap 2-3 pekan, rutin ke bengkel.

Baik itu ganti oli mesin, cek kanvas rem, ban depan dan belakang, kelistrikan, aki, dan sebagainya. Alhamdulillah, berkat rajin pemeliharaan, saya belum pernah mengalami yang aneh-aneh dengan motor jenis matic ini sejak dimiliki 2020 lalu.

Alias, sudah lebih dari empat tahun jadi andalan saya sebagai ojol lintas kota lintas provinsi. Sejauh ini, saya sangat nyaman dengan si Kuda Besi melintasi berbagai jalanan di Tanah Air.

Rahasianya, simpel. Ada pada perawatan yang rutin.

Maklum, kan ga lucu juga ketika bawa penumpang, eh motor mogok. Jangan sampe terjadi seperti itu.

Kecuali, force majeur. Alias, situasi tak bisa dihindari seperti banjir.

Nah, terkait kondisi prima motor saya itu, seperti disinggung di paragraf sebelumnya ada pada perawatan rutin. Misalnya, ganti oli yang teratur.

Bisa dipahami, sebagai ojol, tentu setiap hari saya menjelajah hingga ratusan kilometer. Menembus kemacetan dan melintasi jalanan yang rusak merupakan santapan sehari-hari.

Itu mengapa, saya sangat teliti dalam memilih oli untuk motor. Pilihan saya jatuh pada Oli MPX2 dari Astra Honda Motor (AHM).

Btw, oli ini bisa dibeli di mana saja ya. Baik bengkel resmi, bengkel pinggir jalan, hingga olshop. 

Namun, ingat ya. Karena banyak digunakan masyarakat, oli ini jadi rawan dipalsukan oknum tak bertanggung jawab.

Itu mengapa, kita harus teliti agar tidak membeli yang palsu. Caranya, harus mengecek dengan seksama pada botol, tutup botol, dan stiker kemasannya.

Untuk botol dan stiker berwarna putih. Sementara, tutupnya warna biru.

Jangan lupa ya, guys. Harus dicek kemasannya agar tidak salah beli.

Oli MPX2 ini tersedia dalam dua ukuran. 0,65 liter dan 0,8 liter dengan harga yang bervariasi.

Spesifikasinya SAE:10W-30, API-SL, JASO:MB. Oh ya, Oli MPX2 ini untuk motor apa saja?

Selain motor saya yang cc-nya 125, juga untuk seluruh matic Honda. Mulai dari Beat, Genio, Scoopy, Vario 160, PCX, ADV, hingga Forza.

Oli MPX2 dikenal andal untuk melindungi sepeda motor hingga jadi lebih irit tapi sangat bertenaga. Sekaligus, daya lubrikasi sempurna untuk performa prima mesin tipe kopling kering alias matic.

Nah, itu mengapa kita tidak boleh telat apalagi lupa untuk ganti oli. Sebab, bisa membuat performa motor jadi menurun.

Khususnya, saya pribadi sebagai ojol. Setiap hari, saya sisihkan sebagian penghasilan untuk ganti oli dan perawatan motor

Oh ya, dari tadi membicarakan tentang oli, oli, dan oli. Memangnya, apa fungsi oli untuk kendaraan, khususnya motor?

Sebagai ojol yang hobi ngeblog sejak 2009 silam, tentu saya harus menulis artikel di blog ini dengan akurat berdasarkan pengalaman sehari-hari, termasuk soal oli. Hanya, meski jadi blogger udah lebih 15 tahun, adakalanya kesulitan menceritakan pengalaman secara verbal jadi tulisan.

Apalagi, jika berkaitan hal teknis. Bisa dilihat dan dibicarakan, tapi ga gampang dituangkan jadi artikel.

Butuh imajinasi lebih lanjut.

Ha... Ha... Ha...

Simpelnya gini. Eh, saya mau ulas soal oli mesin ya, bukan oli gardan atau lainnya. 

Yuppiii, ada lima fungsi oli mesin pada motor. Itu meliputi:

1. Pelumas

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pelumas artinya minyak kental yang digunakan untuk melicinkan (melancarkan) jalannya mesin mobil dan sebagainya; minyak pelicin. Itu mengapa, oli mesin berfungsi untuk memberikan pelumasan pada setiap bagian mesin yang membutuhkan.

2. Cegah kebocoran gas di ruang boiler

Fungsi lainnya, oli mesin mencegah emisi gas terjadi berlebihan di ruang bakar kendaraan.

3. Turunkan suhu mesin

Saat motor dijalankan, suhu mesin bisa meningkat yang membuat mesin harus bekerja keras. Nah, dengan adanya oli, mesin tetap terjaga suhunya hingga mengurangi potensi mogok.

4. Kendalikan logam hasil gesekan

Jika ada waktu senggang saat ngojol, saya sering buka youtube. Termasuk, melihat kinerja mesin motor. Nah, saat mesin bekerja, tentu gesekan antar komponen terjadi. Dengan adanya oli mesin bisa memfilter logam tersebut hingga tidak merusak mesin.

5. Cegah karatan

Kecuali emas, kita selalu menghindar dari kata karat. Termasuk, mesin yang terbuat dari logam hingga berpotensi karatan. Ini wajar. Kalo dari kayu namanya lapuk. He he he. Nah, keberadaan oli mesin ini dapat mencegah terjadinya karat pada setiap bagian mesin motor.

Berdasarkan lima fungsional oli tersebut, itu mengapa kita harus rutin melakukan pergantian oli mesin. Ada dua pilihan bagi Anda, yaitu ganti berdasarkan hitungan kilometer di dashboard atau waktu.

Bebas aja. Tergantung pemakaian.

Ada yang ganti oli mesin setiap 1.500-2.500 kilometer. Juga ada yang per 2-3 pekan.

Sebelum jadi ojol, saya pilih yang pertama. Sebab, motor hanya digunakan untuk pergi dan pulang kerja saja dengan jarak setiap hari tak sampai 10 kilometer.

Namun, sejak jadi ojol, saya pilih yang kedua. Bisa dipahami mengingat sehari, jarak tempuh saya bisa mencapai 200 kilometer.

Nah, demikian pengalaman saya terkait pentingnya ganti oli mesin pada sepeda motor. Semoga bermanfaat bagi para pembaca blog ini.


*       *       *

- Jakarta, 24 April 2024


...

Senin, 01 April 2024

Wabah Pak Ogah Merajalela, Polisi Bisa Apa?


Wabah Pak Ogah Merajalela, Polisi Bisa Apa?


Keberadaan Pak Ogah di setiap tikungan
yang kerap mengganggu (foto: www.kompasiana.com/roelly87)


MARET lalu merupakan peringatan empat tahun Koronavirus di Tanah Air. Pandemi yang mewabah di penjuru dunia sejak awal 2020, termasuk Indonesia yang terkena dampaknya.

Banyak korban berjatuhan, khususnya yang meninggal. Termasuk, beberapa yang saya kenal seperti keluarga, tetangga, rekan, dan sebagainya.

Pandemi juga mengguncang perekonomian Indonesia. Ada beberapa kenalan yang harus keluar dari tempat kerjanya.

Bisa itu perusahaannya bangkrut atau memang pemutusan sepihak akibat seretnya pemasukan. Wajar saja, mengingat dunia usaha memang berada dalam titik nadir.

Pengangguran pun di mana-mana. Setidaknya, dalam dua tahun pandemi hingga statusnya dicabut pada 21 Juni 2023.

Sejak saat itu, perekonomian di Tanah Air pun bangkit. Perusahaan raksasa, tradisional, hingga UMKM kembali bergeliat.

Di sisi lain, Pandemi Koronavirus membuat subur para pemalas. Yaitu, orang-orang yang ingin dapat duit mudah tanpa kerja keras hingga saya menyebutnya Gerombolan Makhluk Hidup Nirguna (GMHN).

Misalnya, Organisasi Masyarakat (Ormas), Kang Parkir Liar, Pak Ogah, Calo, Pungutan Liar (Pungli), Penjaga Perlintasan Kereta Ilegal, dan sebagainya seperti yang saya ulas pada artikel sebelumnya, Terima Kasih, Orang Baik 3/ https://www.roelly87.com/2024/03/terima-kasih-orang-baik-3.html.


*       *       *


MASALAH utama di ibu kota yang selalu turun temurun itu ada dua. Macet dan banjir.

Nah, saya akan bahas yang pertama. Sebab, berkaitan dengan GMHN, khususnya Pak Ogah.

Ya, Pak Ogah jadi penyebab utama macet di Jakarta. Demikian berdasarkan pengamatan saya sehari-hari yang berprofesi sebagai ojek online (ojol).

Ini bukan dongeng. Alias, fakta.

Anda, pembaca blog ini bisa melihat dan merasakannya di sepanjang jalan utama ibu kota. Itu meliputi Sudirman, Gatot Subroto, Satrio, Rasuna Said, Daan Mogot, Pasar Minggu, dan sebagainya.

Saya berani bilang, satu-satunya jalan utama di Jakarta yang tidak diserbu Pak Ogah adalah Jalan Thamrin. Untuk empat Jalan Medan Merdeka, kita ga usah bicarakan sebab itu Kawasan Ring 1.

Sumpah, saya berani mengatakan, selain lima jalan itu, Thamrin dan Medan Merdeka (Utara, Timur, Selatan, Barat), tidak ada lagi jalanan di Jakarta yang bebas Pak Ogah.

Sudirman? 

Ada!

Yaitu, di Simpang Jalan Garnisun, Penjernihan 1, dan Setiabudi Raya. Aneh, jalan utama yang menghubungkan pusat bisnis Indonesia malah banyak Pak Ogah.

Gatot Subroto? 

Banyak.

Termasuk, di samping Gedung MPR/DPR. Jika Anda dari arah Pejompongan Raya menuju Slipi, pasti nemuin Pak Ogah.

Anehnya, di dekatnya sering ada motor atau mobil polisi. Namun, ya gitu deh.

Bahkan, yang teranyar di media sosial dengan Pak Ogah memberi akses ilegal sepeda motor lewat trotoar dengan dimintain uang! Ini tiap hari saya amati jika mengantarkan penumpang ke Stasiun Palmerah.

Padahal, di dekatnya ada petugas, tapi seperti tak terlihat. Apalagi, ketika tahu, di sampingnya merupakan Markas Wakil Rakyat. 

Anehnya, para anggota MPR, DPR, DPD, hingga polisi seperti bergeming. Apa ga malu mereka melihat situasi seperti itu tiap harinya.

Kadang, saya juga suka mengernyitkan dahi dengan keberadaan Pak Ogah yang seakan dibiarkan. Misalnya, di Jalan Rasuna Said yang banyak putaran balik.

Pak Ogah jadi biang kemacetan di sana. Ada satu waktu, mereka absen karena kehadiran polisi yang menjaga.

Namun, adakalanya kompak. Polisi di samping mengatur kendaraan yang berputar, sementara Pak Ogah di sisi lainnya ikut juga mengatur.

Aneh euy. Padahal, sepanjang jalan tersebut berderet kantor kementerian dan kedutaan besar. Sumpah, ibarat kangouw, pemandangan ini benar-benar bisa jadi bahan tertawaan dunia.

Namun, aparat seperti cuek dengan keberadaan Pak Ogah yang sangat mengganggu.

Yang saya maksud adalah pihak kepolisian.

Nah, lho. Kenapa polisi yang disalahkan?

Ya, sebab mengatasi keberadaan Pak Ogah ini memang tugasnya. Kalau Satpol PP, mana berani.

Begitu juga dengan Dishub. Yang dikejar cuma taksi konvensional dan taksi online yang parkir di pinggir jalan. 

Jika mobil pejabat ikutan parkir, Dishub ini kayak ketakutan. Contoh, di Jalan Gunawarman, Senopati, Suryo, Kemang, dan sebagainya.

Tentu, untuk mengatasi keberadaan Pak Ogah ini, polisi harus kolaborasi dengan pemerintah daerah, Sat Pol PP, dan Dinas Perhubungan.

Itu juga kalo mereka pada mau kerja beneran. Jika tidak, saya lebih percaya Hitl*r meninggal di Garut. 


*       *       *


BTW, mungkin Anda bertanya-tanya. Apa sih, kesalahan Pak Ogah hingga dibuatkan artikel ini secara khusus?

Salah besar menyebut Pak Ogah ikut mengatur lalu lintas di putaran balik, persimpangan, atau pertigaan. Itu bukan tugasnya. Titik!

Saya pernah mengulasnya 10 tahun silam pada artikel https://www.kompasiana.com/roelly87/54f71562a3331100258b4893/mengusir-pak-ogah-solusi-atau-benci?page=all. 

Mereka seolah jadi pahlawan bagi kendaraan yang ingin berputar. Namun, jika Anda sadari, justru Pak Ogah ini yang bikin macet.

Pasalnya, mereka hanya mau membukakan jalan untuk mobil yang memberinya uang. Bisa seribu atau Rp 2.000.

Anda perhatikan baik-baik. Jika Anda bawa mobil pribadi hendak putar balik, lalu jendela diturunkan, dan tangan menyelipkan uang, dari jauh Pak Ogah sudah bisa melihatnya.

Mobil Anda langsung dikasih lewat dengan menghentikan kendaraan lain. Mereka tidak peduli dari arah berlawanan atau belakangnya jadi terhambat karena harus menunggu. Termasuk sepeda motor, angkot, dan taksi yang tidak dilirik mereka sama sekali.

Itu jika Anda memberinya seribu atau Rp 2.000. Bagaimana jika selembar Rp 5.000?

Tentu, Anda akan dipersilakan Pak Ogah dengan sigap layaknya diberi karpet merah. Termasuk, mereka akan mengucapkan terima kasih dengan rasa syukur. Anjing!

Lalu, jika Anda memberi selembar Rp 10.000, Pak Ogah itu bisa-bisa sujud kepada Anda. Bahkan, jika Anda membuat agama baru, hingga jadi Tuhan sekalipun, Pak Ogah bakal rela jadi hambanya. 

Saking bersyukurnya mereka diberi uang ceban. Bener-bener manusia bangsat!

Hasil duitnya mereka? Kalo ga dipake buat judi, main sloth, mabuk, nyabu, hingga ngewe alias Open BO!

Sementara, 10 tahun lalu, saya catat bahwa, mereka rata-rata sehari mendapatkan penghasilan kotor Rp 100.000 - Rp 250.000. 

Jumlah yang menggiurkan untuk mereka yang hanya bermodalkan "tangan di atas" dengan berdiri di tengah jalan tanpa harus memeras keringat apalagi otak. Bahkan, jika Pak Ogah itu remaja tanggung, kebanyakan uang sebesar itu dipakai untuk hal yang negatif. 

Mulai dari membeli narkoba, mabok-mabokan, hingga pelesiran ke lokalisasi. Ironis, tapi faktanya yang saya dapat memang seperti itu.


*       *       *

Partner in Crime Anda dan Pak Ogah

Dikasih Rp 1.000 = B aja

Rp 2.000 = Ngangguk

Rp 5.000 = Karpet merah, mengucapkan terima kasih dengan penuh syukur dan khidmat

Rp 10.000 = Sembah sujud, kalo Anda bikin agama baru, mereka jadi yang pertama sebagai hambanya

Nolak lambaikan tangan = Cemberut

Lewat tanpa buka kaca = Kata-kata mutiara nan syahdu dari Kebun Binatang pun keluar

Nyelonong tancap gas = Ada kemungkinan disambit atau baret body mobil Anda


*       *       *


NAH, itu contoh jika Anda memberinya uang. Bagaimana jika tidak memberinya dengan kaca jendela tetap tertutup.

Ho ho ho... 

Pak Ogah itu akan masa bodoh. Tak jarang, mereka mengumpat dengan kata-kata mutiara khas Kebun Binatang atau yang menjurus.

"Pelit!"

"Dasar kere!"

"Punya mobil tapi ga mau ngasih!"

"**** Anjing!"

"Dasar **** *****! Mobil aja bagus, tapi pelit."

"Ngasih seribu dua ribu ga bikin lo miskin!"

Itu belum seberapa. Bahkan, sering mobil dibaret bodynya akibat Pak Ogah kesal karena sudah membuka jalan tapi ga dikasih duit.

Ha ha ha. Mereka ini benar-benar sinting.

Btw, yang saya tulis seluruhnya ini fakta ya. Kecuali kalimat yang disensor karena menjurus SARA, untuk umpatan lainnya nyata.

Termasuk, soal baret yang bisa Anda cari beritanya di Google. Kata kuncinya, Pak Ogah Baret Mobil, nanti nongol semua.

Itu mengapa, saya sangat benci kepada mereka. Bahkan, tidak simpati sama sekali saat mengetahui berita ada Pak Ogah yang dipersekusi aparat seperti TNI atau polisi. 

Mampus!

Ha... Ha... Ha...

Makanya, kalo mau duit ya kerja. Jangan cuma berdiri di putaran balik, tikungan, dan pertigaan saja.

Eit, lupa. Akibat merugikan pengendara, bahkan pernah Pak Ogah ditembak.

Sumpah, saya ga simpati sama sekali. Bahkan, saya berharap, pemerintah bersama kepolisian segera menghapus Pak Ogah dari muka bumi Indonesia ini.

Satu dekade lalu, saya sangat bangga dengan Basuki Tjahaja Purnama yang ingin menghapusnya karena telah mengganggu ketertiban akibat membuat macet kian parah. Sayangnya, Ahok yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jakarta ini dimentahkan kepolisian. 

Tepatnya melalui Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi (Kombes) Mulya Budyanto. Menurutnya, keberadaan Pak Ogah malah membantu masyarakat, khususnya pihak kepolisian.

"Kalau tidak ada 'Pak Ogah' tambah macetnya. Memang Pak Ogah yang begitu-begitu harus diberi arahan. Mau diusir pun besok tetap ada di situ dia," ujar Restu pada 2014 silam.

Ha... Ha... Ha...

Mau ketawa tapi takut dosa pas puasa-puasa gini.

Mau sedih, eh inget bahwa negara ini punya mereka.

Kalau sudah begini, saya berharap Pak Ogah mampu menginvasi Ibu Kota Nusantara (IKN). Bahkan, kalau perlu, gerombolan Hyena itu -yang lebih hina dari Anjing- turut mengatur lalu lintas di depan Istana Presiden yang baru.

Sumpah, jika terwujud, saya sangat bangga dengan negara ini!***


*       *       *


- Jakarta, 1 April 2024


*       *       *

Artikel Terkait:


- https://www.roelly87.com/2024/03/terima-kasih-orang-baik-3.html

- https://www.kompasiana.com/roelly87/55091051a33311f6432e3af3/ramadhan-ketika-sang-bos-konveksi-kepusingan-ditagih-thr-pemuda-kampung


- https://www.kompasiana.com/roelly87/54f71562a3331100258b4893/mengusir-pak-ogah-solusi-atau-benci


...

Selasa, 26 Maret 2024

Penumpang Kecebur Got dan Motor Hampir Mogok: Drama Banjir 22 Maret

Penumpang Kecebur Got dan Motor Hampir Mogok: Drama Banjir 22 Maret


SS Google Maps 22 Maret 2024


MEMASUKI peralihan musim 2024, hujan masih mengguyur di berbagai titik di Tanah Air. Termasuk Jakarta, yang dalam sebulan terakhir dilanda banjir.

Namun, yang terparah saya catat ada dua. Yaitu, Kamis (29/2) dan Jumat (22/3). 

Kebetulan, dua hari tersebut tidak bisa saya lupakan. 

Kenapa? Sebab, saya ikut terjebak banjir akibat genangan air di beberapa titik ibu kota.

Akhir bulan lalu, saya terjebak banjir di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Bahkan, harus meminta tiga penumpang untuk jalan kaki. 

Sementara, mesin sepeda motor saya matikan dan knalpot ditutup plastik. Tujuannya, agar tidak mogok. 

Alhasil, saya pun turut mendorong si kuda besi diikuti penumpang dari belakang.

Kapok dah.

Selama jadi ojek online (ojol) sejak 2019 silam, saya paling khawatir jika motor mogok akibat banjir. Sebab, servisnya memerlukan biaya besar.

Apalagi, motor saya jenis matic. Tanpa sela atau engkolan yang membuat saya hanya bisa pasrah jika mogok.  

Sejak insiden akhir Februari itu, saya pun jadi lebih selektif dalam memilih order dengan tujuan. Demi menghindari area yang dilanda banjir.

Hanya, sebagai manusia, adakalanya saya lupa. Itu terjadi pada 22 Maret lalu.


*       *       *


GOOGLE Maps yang saya simak dengan teliti memancarkan warna merah. Pekat kehitaman, yang berarti macet parah di area Jakarta Barat, Utara, dan Kabupaten Tangerang.

Saat itu, saya baru dapat orderan di salah satu aplikasi dengan tujuan Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Btw, saya punya 5 aplikasi ojol dan kurir.

Saya cek tarif, lumayan. Selembar biru lebih dengan jarak kurang dari 20 km.

Namun, ada keraguan untuk mengambil orderan tersebut. Sebab, empat rutenya macet parah.

Bahkan, di beberapa grup WA ojol, kurir, dan taksi online, serempak. Mengabarkan, kawasan Barat ibu kota dikepung banjir.

Dari tempat penumpang di Kapuk ke bandara ada empat rute dengan selisih jarak berbeda.

1. Lewat Jalan Kapuk Kayu Besar-Kamal Raya-Benda Raya-Atang Sanjaya-Hussein Sastranegara-Terminal 3.

2. Lewat Jalan Kapuk Kayu Besar-Kamal Raya-Benda Raya-Atang Sanjaya-Hussein Sastranegara-Terminal 3.

3. Lewat Jalan Lingkar Luar Barat-Utama Raya-Utan Jati- Peta Barat-Hussein Sastranegara-Terminal 3.

4. Lewat Jalan Lingkar Luar Barat-Daan Mogot-Peta Selatan-Peta Barat-Hussein Sastranegara-Terminal 3.

Berdasarkan live traffic di Google Maps, saya ambil rute pertama meski tampak merah akibat macet. Pasalnya, lebih dekat ketimbang rute dua atau tiga dan bahkan empat yang harus memutar dan sama-sama macet. 

Ya, namanya juga jam pulang kerja. Jumat pula, yang memang jadi puncak hari macet setiap pekannya.

Namun, ketika baru tiga-empat km, feeling saya merasa ada yang aneh. Sebab, arah Tangerang macet hingga ga gerak, sebaliknya arah Kapuk malah lenggang.

Ternyata, di depan suatu pabrik, banjir. Waduh...

Truk, mobil, dan motor, semua tertahan. Beberapa di antaranya pilih putar balik.

Saya tanya warga setempat yang bawa gerobak, katanya banjir hingga setengah meter. Gawat.

Pasti, motor ga bisa lewat. Saya pun inisiatif mutar balik.

Pada saat yang sama, penumpang mengatakan apakah bisa tiba di Bandara sebelum pukul 21.30 WIB. Sebab, pesawatnya berangkat pukul 22.00 WIB. 

Belum harus jalan dari Terminal 3 dan boarding pass.

Saat itu, menunjukkan pukul 20.11 WIB. Jika normal, dari Kapuk ke Bandara estimasinya 30-45 menit.

Nah, ini banjir. Ga mungkin terkejar sekitar 1 jam 15 menit.

Penumpang itu pun juga panik. Sebab, dia harus segera terbang ke luar pulau karena ada tugas mendadak.

Pria berusia 40 tahunan ini mengaku tadinya naik taksi online dengan dua kawan. Namun, tol banjir hingga kendaraan terpaksa keluar di Jalan Kayu Besar hingga naik ojol.

Saya pun beralih ke rute kedua. Sekitar 1-2 km, situasi sama seperti rute pertama. Arah Tangerang macet, sebaliknya Kapuk lancar dengan beberapa motor lewat.

Termasuk, yang didorong dengan mematikan mesin.

Saya tanya, banjir sebetis. Alias, sekitar 30 cm. Bisa dilewati, tapi pelan-pelan dan knalpot harus ditutup agar tidak kemasukan air hingga mogok.

Saya pun mengikuti saran tersebut. Menutup knalpot agar aman dari banjir. 

Tak lupa, saya izin ke penumpang agar dia jalan kaki. Sementara, saya mendorong motor.

Penumpang itu mengiyakan. Pelan-pelan kami menyusuri jalan yang tergenang bersama beberapa pengendara lain.

Situasi benar-benar mencekam. Sebab, sepanjang jalan gelap akibat listrik padam.

Saya yang awam daerah tersebut pun deg-degan. Takutnya ada lobang atau binatang.

Kekhawatiran saya terbukti. Saat itu ada truk yang melintas hingga menimbulkan riak gelombang. 

Meski truk itu jalannya pelan, tapi efek riak airnya membuat stang motor goyang. Nyaris saja saya tersungkur. 

Ga bisa dibayangkan jika gagal menahannya, saya dan motor harus terbalik. Apalagi, situasi gelap banget.

Namun, yang lebih mendebarkan lagi saat mendengar bunyi byur dari arah jam 11. Ternyata, penumpang kecebur got!.

Ampun...

Saya mau menolong tapi jalanan ga rata. Motor pun sulit distandar miring atau tengah.

Beruntung, penumpang langsung bangkit. Meski, pakaiannya basah kuyup. 

Termasuk, tas ransel di punggung dan bungkusan plastik basah. 

Astaghfirullah...

Sumpah, ga tega banget liatnya.

Apalagi pas tahu ranselnya itu berisi laptop, hp, gps, dan perangkat lain. Waduh...

...


*       *       *


SINGKAT cerita, kami bisa melewati banjir tersebut. Istirahat sejenak di ruko pinggir jalan dengan penerangan temaram tapi cukup aman karena dekat lokasi penduduk.

Penumpang langsung mengecek isi ransel. Alhamdulillah, aman.

Semua bisa berfungsi. Termasuk, hp yang langsung digunakan untuk menelepon koleganya.

Syukurlah...

Saya pun lega. Apalagi, pas tahu laptopnya ga kebasahan karena tertutup tas yang kedap air.

...

Usai seperminuman teh, kami pun tiba di Terminal 3 dengan waktu menunjukkan pukul 21.20 WIB. Dengan selamat dan tak kurang apa pun.

Hanya basah saja. Celana panjang saya hingga sepaha masih belum kering akibat menerobos banjir.

Sementara, penumpang justru basah kuyup. Saya pun jadi ga enak.

Namun, dia memaklumi. Yang penting, katanya sudah tiba di bandara tepat waktu.

Sebelum pamit, tak lupa saya kembali minta maaf atas insiden kecebur itu. Meski, bukan kesalahan langsung dari saya terkait force majeur.

Namun, sebagai ojol yang bergerak di bidang jasa, wajar jika saya harus minta maaf. Penumpang itu menolak.

Menurutnya, itu murni kesalahannya akibat jalanan gelap hingga tidak melihat selokan. Yang terpenting, katanya lagi, dia sudah tiba tepat waktu untuk mengejar pesawat. 

Agar bisa terbang ke luar pulau demi tugas. Sebab, jika terlambat, tiketnya hangus dan harus beli baru dengan jadwal siang.

Penumpang itu pun berterima kasih sambil memberi tip yang tentu saya tolak. Bukan maksud nolak rezeki, tapi ga enak aja bikin orang kecebur got.

Namun, usai menyerahkan helm, dia menyelipkan selembar merah ke dashboard motor. Tak lama, langsung berlalu dengan cepat.

Saya panggil untuk mengembalikannya, tapi dia bergeming. Ya sudah, saya pun teriak untuk mengucapkan terima kasih.

Lumayan, tipnya dua kali ongkos ojol. Rezeki menerobos banjir.


*       *       *


SAYA beristirahat sejenak di Parimeter Utara sambil ngemil bala-bala dan kerupuk mie yang sudah jadi bubuk akibat ketindihan di jok motor. Untung sambal kacangnya masih utuh dan saya cium ga basi.

Langit saat itu masih temaram.

Saya pun menyalakan seluruh aplikasi ojol dan kurir. Berharap ada orderan ke Jakarta.

Dari atas kepala, tampak hilir-mudik pesawat. Sementara, jalanan dari dan menuju bandara cukup ramai.

Tak lama, bunyi orderan di salah satu aplikasi. Hmm...

Ongkosnya lumayan. Jaraknya pun oke.

Hanya, setelah mengecek lebih teliti, ada yang janggal.

Saya seperti mencium bau amis.

...


*       *       *


- Jakarta, 26 Maret 2024















,