TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol

Rabu, 29 April 2026

Rambut Memutih dalam Semalam

Rambut Memutih dalam Semalam


Ilustrasi gambar hanya pemanis (@roelly87)


(POV: SANDI)

IBU, istri, dan anak. Demikian prioritas dalam hidup saya yang berawal dari masa lalu, menjalani masa kini, dan menatap masa depan.

Ibu atau orang tua (ayah sudah meninggal) yang telah melahirkan, mendidik, dan membesarkan saya hingga kini.

Istri yang kini populer saya juluki MBG alias MyBiniGue merupakan pendamping hidup yang setia. Kami sudah melewati pahit manis kehidupan dalam belasan tahun pernikahan.

Anak? Masa depan kami semua. Saya punya dua anak yang masih dalam pertumbuhan. Sulung, laki-laki berseragam SMP. Sementara, bungsu, perempuan masih SD.

Begitu juga dengan mertua. Ayah dan ibu dari MBG. Keduanya sudah meninggal. Sang ibu wafat sebelum pandemi. Berselang tahun, babeh -panggilan akrab saya kepada ayah mertua- berpulang.

MBG sebagai anak tunggal mewarisi harta yang cukup peninggalan orang tuanya. Itu berupa beberapa kendaraan dan rumah.

Maklum, babeh merupakan saudagar ternama dari seberang. Masih memiliki hubungan darah dengan salah satu raja termasyhur di pulau itu. 

Meski begitu, istri enggan memanfaatkan status ningratnya. Bahkan, sejak lulus kuliah sudah mandiri untuk bekerja di kantor akuntan ternama.  

*         *         *

SEMUA baik-baik saja. Hingga, babeh meninggal akibat penyakit kronis. 

Berpulang dengan tersenyum. Kami pun ikhlas melepasnya.

Sayangnya, kami hidup di dunia nyata. Alias, bukan dongeng.

Sebab, masalah justru baru dimulai.

Usai tujuh harian, istri dan saya yang merupakan pegawai swasta mencoba mengumpulkan aset almarhum babeh dan enyak.

Kami dibantu beberapa sepupu dan keponakan istri.

....

Singkat kata, mayoritas aset sudah berganti nama jadi istri. Kecuali satu.

Ya, rumah berukuran sedang di Kota B. Sudah lama dihuni eks sopir yang dulu bekerja kepada babeh, sebut saja Gilman.

Namun, dia keluar akibat kecelakaan yang menyebabkan jadi tunadaksa. Itu karena kaki sebelahnya harus diamputasi.

Insiden berlangsung saat Idul Fitri. Alias, beliau sedang pulang kampung.

Karena kakinya sudah tidak bisa berfungsi untuk membawa mobil, dia pun mengajukan resign. Babeh dengan berlinang air mata menyetujui. 

Turut memberikan pesangon yang sangat besar. Meski kecelakaan bukan saat kerja, alias ketika cuti lebaran, tapi babeh tetap bertanggung jawab.

Bahkan, kelima anaknya disekolahkan hingga kuliah. Dua lulus, satu DO, dan dua kabur.

Ini fakta. Bukan mengada-ada. Memang babeh dan enyak semasa hidupnya sangat baik. 

Termasuk mewakafkan tanahnya di Kota M dan P untuk dibuat Panti Asuhan.

Nah, di Kota B, babeh ada rumah yang sempat ditempati sepupunya. Namun, setelah anak dari paman babeh itu berkeluarga, hijrah ke ibu kota meninggalkan rumah itu yang kosong.

Ujug-ujug Gilman tahu dan mendatangi babeh untuk menumpang di rumah tersebut. Babeh sifatnya ga tegaan. 

Apalagi, Gilman yang bersandar tongkat datang bersama istri dan ketiga anaknya yang masih kecil. Babeh pun mengizinkan.

Sebulan, dua bulan, setengah tahun, hingga puluhan purnama saat babeh meninggal, rumah itu masih ditempati Gilman.

...

Istri bersama sepupu dan keponakannya menemui Gilman. Maksudnya untuk silaturahmi sekaligus menengok rumah tersebut.

Gilman tahu babeh yang merupakan mantan bosnya meninggal. Turut mengucapkan duka cita dan minta maaf ga bisa hadir karena kondisinya.

Kami pun memaklumi keadannya. 

Nah, ketika MBG tiba, kagetlah melihat rumahnya. Sebab, dulunya saat ada babeh dan enyak, sangat terawat, kini jadi semrawut.

Pasalnya, di depan pekarangan hingga jalanan dipenuhi lapak dagangan. Rumah pun disekat untuk jadi kontrakan. 

Ternyata, itu disewakan kepada orang terdekat Gilman atau tetangganya.

Uang sewanya? Masuk kantong Gilman!

Yang lebih membagongkan, MBG, sepupu, dan keponakannya seperti tidak dianggap di rumahnya. Gilman layaknya bos besar hanya menerima di depan lapak pekarangan. 

Seperti mengusir secara halus. Bahkan, ketika keponakan istri nanya izin ke kamar mandi, tidak diberikan. Malah disuruh ke pom bensin.

Sontak, istri yang baru kehilangan ayahnya itu langsung naik pitam. Ditambah, perlakuan tidak sopan dari Gilman dan keluarganya.

Niat awal istri untuk mengecek rumah, jadi ingin mengambil alih. Wajar, punya orang tua sendiri.

Tahu jawaban Gilman?

"Enak aja, Ayah kamu yang kasih saya rumah ini untuk dikelola. Kamu jangan lancang, baru datang langsung mau rebut?"

Familiar?

Ya, mereka ini seperti bangsa Israel yang kabur dari Eropa dan izin menumpang kepada rakyat Palestina. Namun, berbalik jadi ingin menguasai tanah orang.

Jahat.

Gilman berkacak pinggang mengusir istri saya dan kedua saudaranya. Disertai teriakan dari keluarganya.

Dunia benar-benar udah terbalik.

MBG pun ga tinggal diam. Doi memberi ultimatum sebelum pergi: Pekan depan rumah harus dikosongkan dan utuh seperti semula.

*         *         *

TUJUH hari berselang, saya yang mendampingi istri untuk menenangkannya justru mendapat perlakuan ajaib dari Gilman.

Kami berdua dituding ingin menyerobot rumah orang di depan pengurus wilayah yang dihadirkan sebagai saksi. Gila!

Istri pun mengluarkan satu kartu truf: SHM sebagai legalitas kepemilikan tanah dan bangunan yang ditempati.

Toh, tetangga dan pengurus wilayah sudah tahu tentang babeh alias ayah dari istri saya itu.

Gilman membelokkan situasi. Disebut sudah diberi almarhum babeh secara lisan.

Stres!

Mana ada orang yang kasih rumah secara cuma-cuma. 

Ditanya buktinya apa, Gilman menjawab tanya aja di dalam kuburan babeh. Ironisnya, istrinya dan anak-anaknya turut mengamini.

Sungguh keluarga ga tahu diri.

Sampe sini, saya udah emosi. Namun, berusaha untuk menenangkan istri.

Benar-benar keluarga dajjal! Bangsa Israel yang mengejawantah ke diri Gilman dan keluarganya.

...

Singkatnya, deadlock.

Pengurus wilayah ga berani kasih solusi. Nah, di sinilah plot twist.

Ternyata, ada oknum pejabat setempat yang coba mengail di air keruh. Diimingi 'badu' alias bagi dua dengan Gilman atas hak kepemilikan rumah lewat duplikasi SHM.

Kini, musuh kami tidak hanya Gilman saja. Melainkan, oknum pengurus wilayah dan pejabat rakus. 

Hingga ke meja hijau berbulan-bulan, masih sengketa. Saya ingin turun tangan sendiri untuk menyelesaikan persoalan ini.

Namun, istri mencegah. Doi tahu, kalau saya sudah turun gunung, urusan bisa panjang.

Ya, saya pun coba untuk sabar. Berusaha untuk menguatkannya.

Bagaimanpun, itu rumah peninggalan orang tuanya. Kami, menantu dan anak tentu harus berjuang untuk mendapatkannya kembali.

Meski, prosesnya ga mudah. Sampe istri beberapa kali cuti dari pekerjaannya akibat fokus ke Gilman dan kroninya.

*         *         *

USAI makan malam, saya dan istri berbincang sejenak depan tv. Saat itu, kedua anak kami sudah tidur.

Obrolan ringan yang biasa kami lakukan jelang istirahat. Topiknya, beragam mulai dari drakor dan kpop kesukaan MBG, band, musik, pekerjaan di kantor masing-masing.

Istri cerita, ada saudara jauh, yaitu anak dari sepupu ayahnya siap membantu. Profesinya pengacara ternama yang sering tampil di tv.

Karena masih keluarga, alias kakek yang sama, pengacara itu turut menawarkan tanpa dibayar. Alias pro bono.

Istri pun menolak. Menurutnya, darah ya darah. Namun, ini sudah masuk urusan bisnis. Harus bayar.

Istri bersikeras untuk membayar sesuai tarif karena memang sanggup. Pengacara itu pun mengiyakan.

Usai cerita, kami istirahat ke ranjang. Istri langsung tidur karena seharian lelah di kantor dan pikirannya terganggu akibat sengketa rumah.

Saya belum ngantuk. Iseng nonton dracin yang singkat tapi menghibur. Beda dengan drakor yang episodenya panjang. Sementara untuk kisah seram sekaligus lawak, ada di drathai (Drama Thailand).

Saking serunya hingga ketiduran beberapa jam. Ternyata saya ngantuk juga. Langsung pasang alarm bangun subuh dan cas hape di pinggir kasur.

Tak lupa menutup selimut MBG tersayang yang sedang terlelap.

Namun, alangkah kagetnya pas melihat istri tampak berbeda. Rambutnya memutih...

Ini serius. Doi istri saya. Bukan hantu. 

Wajahnya tidak berubah. Hanya rambutnya yang tadinya hitam kini jadi putih.

Saya mencolek tangan kiri sendiri. Berasa.

Mencubit pipi kanan. Sakit.

Ini bukan mimpi.

Ya Tuhan, hanya dalam semalam rambut istri saya berubah jadi putih.

Sekelebatan saya ingat pada sosok Lian Nichang dalam novel Pek Hoat Mo Lie/Baifa MonĂ¼ Zhuan, karya Liang Yusheng yang saya baca sejak 1990-an. 

Atau, Maria Antoinette, permaisuri Raja Prancis Louis XVI yang rambutnya memutih akibat frustrasi gagal kabur hingga akhirnya dipenggal.

...

Refleks saya ingin bangunkan istri. Namun, saya urungkan karena ga tega setelah melihatnya terlelap.

Perlahan, jari saya arahkan ke hidungnya. Alhamdulillah, bernafas.

Pun dengan denyut nadi. Normal.

Nyaris saja...

Hufft!

Saya perlahan ke westafel. Cuci muka. Hilang segala kantuk usai menyaksikan perubahan MBG tersayang.

Saya tatap dari kursi di seberang ranjang. Memandang dari dekat.

Bergeming.

Hingga, sinar matahari perlahan masuk ke celah jendela. Saya yang sedang mematung kaget karena istri balik menatap saya.

"Belum tidur?" katanya.

"Udah. Ini baru bangun," jawab saya berbohong yang pasti sudah diketahuinya.

Istri memandangi saya dengan likat. Hingga tersadar saat melihat rambutnya yang terurai. Langsung tarik napas.

Saya memberinya minum untuk menenangkan. Tidak ada perubahan pada wajahnya.

Namun, dari guratannya tidak bisa berbohong bahwa itu merupakan kesedihan yang nyata. Saya merangkul istri. 

Doi pun memeluk saya. Air mata tampak jatuh dari wajahnya. 

Rambutnya yang memutih terurai tidak bisa membuyarkan kecantikannya. Doi merupakan belahan hati saya dalam belasan tahun ini hingga nanti kami dipisahkan Sang Khalik.

Pagi itu jadi saksi sejoli yang sedang menjalani takdir.

Usai seperminuman teh, saat situasi sudah tenang, istri pun cerita. Ternyata, dalam beberapa hari ini doi mendapat teror yang diperlihatkan pada chat di hapenya.

Secara halus hingga brutal. Intinya, untuk "mengikhlaskan" rumahnya kepada para maling.

...

Sambil menyuapi teh manis yang masih hangat kuku, saya menguatkan hatinya. Sebagai suami, saya tentu akan melindunginya.

Saya ga sudi ada pihak yang melukai istri. 

"Tenang aja De," ucap saya perlahan sambil membelai rambut di kening istri yang sudah berhenti nangis. "Aku ga akan 'berada di bawah matahari yang sama' dengan para maling itu  Namun, tenang aja, aku akan bereskan dengan 'penuh kelembutan'!"

Pernyataan tegas yang merupakan reaksi saya sebagai kepala keluarga. Ya, seperti halnya sikap Sun Quan kepada Cao Cao yang ingin menginvasi wilayahnya dalam Sam Kok (Romance of the Three Kingdoms).

Di hadapan istri, saya berusaha untuk mengambil alih rumahnya dari para maling dengan damai meski secara hukum belum ada penyelesaian hingga kini. Namun, di lubuk hati yang daling dalam, saya bersumpah ga akan memaafkan Gilman dan para pencuri. 

Termasuk, ternak, anjing, dan tikus di rumah mereka akan saya sapu. Berapa pun harga yang harus saya bayar.

Kehormatan istri merupakan segalanya bagi pria.

Bersambung***


*         *         *

(Diceritakan ulang oleh suami yang sayang keluarga dengan modifikasi dan editing sewajarnya)

*         *         *

- Jakarta, 29 April 2026


*         *         *

Artikel Selanjutnya:

- Si Pengkor yang Cacat Otak


Kamis, 16 April 2026

Konflik dengan Ojol dan Pria Tanpa Kepala di Basement

Konflik dengan Ojol 

dan Pria Tanpa Kepala di Basement


(POV: AGUS)

GW cuma bisa menghela napas melihat rekan ojek online (ojol) bersandar di pos security. Ya, dia baru aja dapat opik (order fiktif) dari oknum customer laknat.

Orderannya ayam geprek dengan nominal 300 ribu. Ojol itu memperlihatkan orderan dan isi chat ke gw sebagai security di pintu masuk gedung.

Alamatnya benar. Namun, ga ada untuk kantor apa, lantai berapa, unit, atau divisi. 

Jelas, kami ga bisa terima. Apalagi, ini orderan COD alias cash on delivery.

Biasanya, customer langsung yang nemuin ojol untuk ambil makanan atau barang dari kurir paket. Maklum, ini gedung yang diisi banyak kantor. Jadi, lobi dan pos security ga terima titipan apa pun.

Gw lihat chat ojol dengan customer laknat itu lancar. Namun, untuk percakapan terakhir hanya centang dua. Alias, sekadar dibaca saja oleh customer tanpa dibalas.

Ini sudah lebih sepenanakan nasi. Gw kasian sama ojol itu. Namun, ga bisa apa-apa. Secara, customernya ga beri petunjuk kantor, unit, atau lantai berapa.

Ditelepon puluhan kali pun ga diangkat. Kayak ngeledek dan ngerjain, ini mah.

...

Sekilas, gw lihat nama customer sangat agamis. Namun, kelakuan mirip dajjal. 

Ya, bisa jadi, nama palsu. 

Secara, customer bebas pilih nama di aplikasi. Entah itu Ksatria Baja Hitam, Tuxedo Bertopeng, Maria Mercedes, Son Goku, atau Pangeran Hormutz.

Setelah dua jam tanpa kepastian, sebelum pamit ke gw dan tim security yang jaga, ojol itu menghubungi customer service aplikasi. Disarankan untuk diserahkan ke panti asuhan terdekat.

Gw pun memandang ojol dari kejauhan dengan tatapan pilu. Nunggu dua jam, ga tahunya opik dan harus jalan lagi ke panti asuhan.

*        *        *

SEBAGAI security, gw punya hubungan erat dengan ojol. Itu karena setiap hari kami bersinggungan. 

Apalagi, dua ponakan gw juga ojol dan kurir paket. Beberapa rekan kerja juga ada yang nyambi jadi ojol. Baik itu sesama security, OB, hingga level manajemen.

Jadi, gw sangat respek dengan profesi ojol.

Meski, beberapa kali pernah adu bacot. He... He... He...

Salah satunya, pekan lalu gara-gara ojol berhenti di tengah pintu keluar usai nurunin penumpang. Gw udah bilang baik-baik untuk majuan.

Namun, karena siang bolong, mungkin ojol itu ga diterima. Disangkanya, gw mengusir.

Padahal, maksud gw benar. Ada mobil yang akan keluar.

Gw yang sedang menjalankan SOP pun menghampirinya. Dengan baik-baik.

Hanya, entah ada masalah di rumah terbawa ke kerjaan, ojol itu malah teriak-teriak. Nyaris gw kepancing.

Beruntung, ada rekan ojol lainnya yang jaketnya sama turut memisahkan. Membela gw karena memang ada mobil yang mau keluar dari gedung.

...

Ojol itu pun berlalu dengan mengeluarkan kata-kata mutiara dari kebon binatang. Ya, terserah aja. 

Secara, gw cuma memberitahu agar tidak berhenti di pintu keluar.

Insiden itu ga cuma sekali. Namun, gw dan sesama security lain biasanya menanggapi dengan kepala dingin.

Biasanya, ojol dan kurir paket pun respek ke kami sebagai petugas.

Toh, di antara kami sama-sama sedang cari nafkah untuk keluarga.

*        *        *

SELAIN dengan ojol, ada konflik tak kalah serunya yang kerap dialami security. Yaitu, dengan makhluk halus 

Serius.

Entah itu jurik, dedemit, poci, neng kunti, soket, hantu, dan sebangsanya. Jujur, nyaris semua security pasti pernah ngalamin. 

Apalagi, jika dinas malam. Termasuk, gw di tempat kerja dulu di gedung perkantoran pusat kota, sebelum Covid 19.

Ceritanya, gw dan rekan, sebut aja bang SC alias Stone Cold. Secara, beliau perawakannya mirip pegulat WWE, Steve Austin, yang plontos tapi komuknya gahar.

Biasanya, tiap beberapa jam sekali, kami keliling ke gedung parkiran. Khususnya, yang tidak terjangkau CCTV.

Maklum, saat itu ramai pencurian spion mobil. Apalagi, jika jenis sedan yang jadi incaran empuk para pencoleng.

Juga pernah ada kasus mobil goyang. Pas dicek ada yang lagi indehoy. Hadeuh!

Punya mobil tapi ga mampu sewa hotel. Mana viral lagi. Untung karena faktor U, sebut aja UANG jadi "bisa diselesaikan dengan baik-baik".

...

Gw inget betul. Saat itu, malam Selasa kliwon. Cuaca di luar rinai. Pandemi pula. Udah ketahuan sepinya gimana.

Namun, ada beberapa pegawai *** yang masih meeting. Mobilnya pada parkir rapi di basement.

Gw dan Stone Cold pun patroli. Berdua. Sebab, untuk memudahkan jika terjadi apa-apa ketimbang sendirian di area yang lumayan luas ini.

Btw, bang SC yang karakternya di industri gulat hiburan berani lawan bos seperti Vince McMahon, Triple H, hingga The Undertaker. Di kalangan tim security, beliau ini dikenal pemberani.

Jangankan makhluk halus, bahkan ormas paling menyeramkan pun disikat saat ketahuan kasih proposal bukber. 

Alasannya untuk donasi anak yatim. Faktanya, buat mabok dan judol. Sial! 

Latar belakang bang SC emang keturunan jawara tapi orangnya sangat baik, rendah hati, suka menolong, dan rajin menabung.

"Kuping gw kayak ada yang niup," kata bang SC sebelum patroli rutin.

"Neng Kunti di pojokan kali bang," jawab gw asal.

Maklum, gedung ini dulunya dibangun di atas pemakaman. Jadi, hal-hal di luar nalar udah jadi santapan sehari-hari bagi kami.

"Eh biji kedondong. Asal jeblak aje lo. Mau didatengin si eneng kunti di pojokan kayak yang ditemuin si Rojali pas takbiran?"

"Ogah bang. Makasih deh."

"Ha... Ha..." Bang SC tertawa puas meledek gw. "Kita mau ke basement dulu atau parkiran atas?"

"Terserah lo bang, senior. Gw mah ikut."

"Lantai *** dulu aja kali ya baru basement. Biar ga bolak-balik. Apalagi, cuacanya gerimis gini. Kalo udah selesai kita pesan nasi uduk di Mpok Gayong."

"86 'Dan'!"

*        *        *

SEPEMBAKARAN hio berlalu saat kami keliling di lantai atas. Ga ada yang aneh. 

Kami pun menuju basement. Parkiran ini biasa untuk supplier yang akses keluar masuknya cukup mudah bagi mobil ukuran besar, bak, maupun box.

Seklias, ga ada yang aneh. Gw pake senter keliling ditemani bang SC sambil bersiul ala Axl Rose saat menyanyikan Patience.

Tiba-tiba senandungnya berhenti. 

"Gus, coba lo senter itu orang," kata bang SC.

Gw refleks menyorot orang nunduk sambil bersandar seperti mau kencing ke mobil di ujung parkiran dengan membelakangi kami. Gw pikir mabuk.

Udah ga aneh di kawasan ini. Meski pandemi, mabok dan party merupakan harga mati bagi sebagian pegawai elite.

Tiba-tiba angin bertiup kencang. Belakang telinga gw kayak ada yang niup.

Bulu kuduk gw pun berdiri.

Spontan gw lirik bang SC. Eh, dia pun sama. Kami saling tatap kayak di sinetron remaja. 

Etapi ga aneh-aneh, secara gw dan bang SC, normal. Kami cowo tulen dan masing-masing udah punya anak, njir!

Pas menoleh, pria di mobil itu menghampiri kami.

Anjing!

Ga ada kepalanya!

Demi apa pun itu, ini kali pertama gw lihat penampakan. Namun, ini nyata.

Jalannya diseret kayak zombie. Perlahan.

Hingga berjarak dua tombak, terlihat jelas.

Sekilas mengingatkan gw pada film Pengabdi Setan yang rilis dua tahun sebelum gw lahir.

Tapi ini nyata.

Ga ada kepala.

Woi, orang ini ga ada kepala. Bukan sulap bukan sihir. Cuma badan, kaki, tangan, dan leher sambil jalan mendatangi kami.

Gw yang agnostik seketika langsung ingat Tuhan. Refleks baca-baca doa pengusir setan.

Bang SC? Tampak tenang dengan membaca doa yang gw tahu Ayat Kursi.

Bulir-bulir keringat sebesar jagung menetes di dahi bang SC. Namun, gw kagum karena dia tetap tenang.

Beda sama gw yang mandi keringat. Gemeteran. Sumpah.

...

Anjir, pria itu lehernya dibelatungin. Tanpa kepala woi.

Srek... Srek... Srek...

Dia lewat depan kami. 

Eh, berhenti.

Gw mau kabur ga bisa. Tangan gw kaku. Apalagi kaki, kayak mati rasa. 

Mulut mau muntah saking baunya tuh makhluk. Anjir banget.

Baru kali ini -setelah sekian lama- gw inget Tuhan. Berharap makhluk tanpa kepala itu segera pergi.

Sumpah, biasanya gw ga takut hantu. Secara, gw lebih takut bokek alias ga punya duit. 

Sebab, MBG alias My Bini Gw bisa ngamuk kalo gajian ga gw setorin full. Maklum, gw punya dua bocah yang sedang masa pertumbuhan dengan hobi jajan.

Namun, ini setan tanpa kelapa sumpah sungguh menyeramkan. Di batang lehernya uget-ugetan belatung.

Baunya?

Jangan ditanya.

Meski ga sebau jempol kuku kaki kanan yang gw sering korek dan cium. Alamak, sedapnya!

*        *        *

"KITA beda alam. Jika ada urusan duniawi yang belum diselesaikan, silakan lakukan saja," ujar bang SC di samping makhluk itu. "Kami berdua sedang patroli menjalankan kewajiban untuk mencari nafkah. Nafsi-nafsi ya..."

Gw yang dengar aja gemeteran. Padahal, gw waktu muda ga takut ngadepin bajingan sekalipun. Termasuk, kang parkir liar, ormas, hingga warlok yang minta jatah reman.

Namun, di hadapan makhluk tanpa kepala ini, gw seperti pengecut. Boro-boro mau melawan dengan nonjok atau tendangan berputar mengingat gw punya basic Muaythai.

Lah, ini kaki dan tangan gw aja kaku. Andai ga ada bang SC, mungkin gw udah sipat kuping atau bahkan, pingsan kali.

Makhluk tanpa kelapa itu seperti mengangguk usai mendengar penuturan bang SC. Tak lama setelah berhenti di hadapan kami, lanjut melangkah ke pintu keluar.

Gw melihat secara nyata. Ini bukan mimpi.

Juga bukan tipuan trik semata. Apalagi, AI murahan.

Dari suara langkah kakinya, bau, hawa suram, itu memang nyata.

Gw bahkan masih menyaksikan makhluk itu belok ke lorong yang di atasnya banyak CCTV. Sementara, gw bergeming terpaku hingga bang SC menyadarkan.

"Udah, ga apa-apa. Doi cuma numpang lewat. Kebetulan berpapasan dengan kita. Yuk Gus, kita ke pos," tutur bang SC sambil memencet pundak gw dengan keras biar sadar.

Dengan sisa-sisa tenaga yang masih lunglai gw pun bergegas mengikuti bang SC. Pas di tikungan, gw penasaran menoleh.

...

*        *        *

(Diceritakan ulang dari security yang ngaku wajahnya mirip Tao Ming Se)


*        *        *


Jakarta, 16 April 2026


Senin, 13 April 2026

Anak Cowok Jadi Homo, yang Cewek Pelakor, dan Istri Kabur dengan Berondong: Kisah Tragis Eks Pejabat

Anak Cowok Jadi Homo, yang Cewek Pelakor, dan Istri Kabur dengan Berondong: Kisah Tragis Eks Pejabat


(POV Mama Lisa)

ALHAMDULILLAH mudik tahun ini berlangsung sukses. Ya, gw bersama misua -anagram dari suami- dan kedua anak merayakan Idul Fitri 1447 H di timur ibu kota.

Tepatnya, di kampung halaman misua yang identik dengan kuliner berkuah nan khas. Kami menginap di rumah mertua selama delapan hari.

Menikmati eksotisnya alam dan suasana segar minim polusi ketimbang di Jakarta. Saking nyamannya, selama sepekan ini badan gw jadi melar.

Habisnya, tiap hari cuma makan, main dengan dua bocah di air terjun, mandi di sungai, keliling pematang, balik makan lagi, dan tidur.

Banyak cerita menarik di tempat kelahiran My Misua. Apalagi, ini kali pertama kami mudik dalam tiga tahun terakhir.

Sebab, 2024 justru mertua yang mendatangi kami. Katanya, "kangen cucu".

Padahal, kami udah siap-siap berangkat. Namun, semalam sebelumnya, umi -panggilan kepada ibu mertua- bilang bersama abi justru mau ke Jakarta.

Tahun kemarin kami juga tidak pulkam. Secara, mertua umrah jelang lebaran.

Jadi, betapa senangnya My Misua waktu tiba di kampung halamannya setelah dua tahun absen. Meski udah dewasa, namanya laki ya kelakuannya kayak bocah.

Main kelereng bareng anak-anak kecil. Ikutan Galasin. Kejar layangan. Hingga kecemplung di pematang sawah akibat sok-sokan balap egrang.

Sontak, pakaianya berlumur lumpur semua bersama beberapa teman masa kecil -kini udah setengah baya- dan anak-anak. Namun, justru itu kebahagian My Misua yang terpancar sangat girang.

Gw dan kedua bocah pun antusias mengiringi My Misua. Pokoknya, di kampung itu, kami benar-benar kayak makhluk tanpa beban.

Hepi terus bawaanya.

*         *         *


HUKUM Karma.

Demikian celetuk gw saat suami cerita eks pejabat daerah di kampung sebelah. Sosok yang dulu "berkuasa dan bergelimang uang" kini terbujur di ranjang kayu.

Tiap hari berharap belas kasihan orang lain. Beruntung ada saudara jauh yang masih setia merawatnya.

Itu karena sedikit kebaikan dari sang pejabat saat berkuasa dulu.

Mirip yang dilakukan Penasihat Dinasti Han, Cai Yong yang menangisi mayat Perdana Menteri Dong Zhuo nan lalim dalam Romance of the Three Kingdoms.

Gw yang dengar ceritera dari suami sampe menghela nafas. Kok ada ya, orang seperti pejabat itu.

Awalnya My Misua main ke tempat teman masa kecil di kampung sebelah. Nah, saat nongki-nongki itu, salah satu sohibnya cerita kalo tidak jauh dari lokasi ada rumah eks pejabat X.

Dulunya, pejabat itu yang juga kerap dijuluki -raja kecil- sangat berkuasa. 

Zalim.

Menginjak hak masyarakat.

Tukang serobot tanah warga.

Memupuk kekayaan sendiri sementara lingkungan diabaikan. Termasuk, jalan rusak ga peduli.

Dibenci anak buah akibat kikir.

Paket lengkap deh.

...

Nah, ga lama usai jabatannya habis, tiba-tiba Mr X jatuh dari tangga. Diagnosis medis menyatakan stroke.

Uang simpanannya yang menggunung pun akhirnya tersedot. Baik untuk pengobatan medis maupun alternatif.

Hingga sekarang belum sembuh.

Warga sekitar menyebut kena hukum karma. Akibat disumpahin masyarakat yang menderita saat Mr X masih menjabat.

Setelah bertahun-tahun berobat tanpa hasil dengan biaya yang besar, akhirnya Mr X pun jatuh miskin. Rumah besar, kontrakan, sawah, kebun, mobil, hingga motor dijual.

Dari sini karma kian kencang.

Sebab, istrinya terpincut berondong asal kota sebelah. Kabur dengan bawa perhiasan dan sisa harta.

Selentingan kabar mengatakan, istrinya ogah mengurus suami ga berguna.

Anak sulungnya yang perempuan, pun 11/12 dengan sang ibu. Kabur dari rumah usai digerebek bersama laki orang hingga viral di medsos.

Putra bungsu? Jadi homo. Alias gay.

Itu akibat tekanan mental dibully warga yang dulunya tertindas. Dunia berbalik 180 derajat. 

...

Kini, sekeluarga harus siap merasakan karma. Dulunya, mereka hidup bermewah-mewahan.

Orang pertama di kawasan itu yang punya parabola. Rumah besar. Sawah berhektar-hektar.

Namun, dibalik gemerlap mereka, banyak sisi negatif. Menjijikan kalo kata warga sekitar.

Asisten rumah tangga (ART) banyak yang digaji minim. Bahkan, seikhlasnya. Padahal kerja rutin. 

...

Suka menyerobot tanah tetangga. Mengandalkan ormas yang bisa dibayar, Mr X enteng aja mematok lahan warga.

Pokoknya, banyak hal negatif dari Mr X yang kalo dibuat buku bisa berjilid-jilid.

Bukti, bahwa karma itu berlaku. 


*         *         *


(Diceritakan ulang dari IRT yang anaknya penggemar Blackpink dengan editing sewajarnya)


- Jakarta, 13 April 2026

Jumat, 10 April 2026

Yuk, Ikut Majukan UMKM lewat Artikel di Blog

Yuk, Ikut Majukan UMKM lewat Artikel di Blog

Saya ikut praktek mengisi kulit telur di
pinggir bingkai 
(Foto: Dok.Pribadi/@roelly87)



LEBIH dulu mana, telur atau ayam?


Demikian anekdot sejak zaman baheula hingga kini yang masih jadi tanda tanya. 


Kalo ditanyakan ke saya, jelas. Jawabannya simpel: Ga peduli, siapa lebih dulu, yang jelas baik telur atau ayam merupakan menu favorit saya.


Telur bisa dibuat jadi dadar, ceplok, bulat, pindang, mata sapi, balado, dan lain-lain.


Sementara, ayam bisa digoreng, bakar, panggang, tepungin, geprek, tumbuk, rica-rica, suir, dan sebagainya.


Namun, artikel ini bukan membahas tentang senioritas antara telur dan ayam.  

 

*        *        *


LIMBAH telur jadi karya seni. Wow, keren!


Saya pun berdecak kagum usai mengetahuinya lebih lanjut. Tepatnya, saat menghadiri Halal Bihalal Bersama Pewarta yang diselenggarakan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA), di resto kawasan Cikini, Jakarta Pusat, kemarin (9/4).


Ya, event yang berlangsung Kamis pagi itu dihadiri media, content creator (termasuk bloger seperti saya), Keluarga Besar YDBA, dan Teguh Joko Dwiyono selaku pemilik Wayang Art. Yaitu, UMKM binaan YDBA yang bergerak di bidang kerajinan tangan dengan salah satunya memanfaatkan limbah kulit telur.


Eh serius? Cangkang telur yang bagi masyarakat awam seperti saya tidak berguna justru berhasii dimanfaatkan Teguh sebagai karya yang memiliki komersial tinggi.


"Awalnya, ini ga sengaja," kata Teguh yang penampilannya sekilas mengingatkan saya pada almarhum Gombloh.


"Istri lagi masak nasi goreng. Kan pakai telur. Nah, cangkangnya jatuh. Ga sengaja saya injak. Saat itu, saya pandangi pecahan kulit telurnya kok indah banget. Ada nilai seninya."


Teguh mengingat, kejadiannya pada 1995. Namun, dia ga langsung menjadikannya produk. Butuh proses.


Berlatar seniman, Teguh pun mengakui tidak mudah dalam mengembangkan usahanya. Pria 70 tahun itu terus belajar hingga kini demi memasarkan produknya.


"Saya sempat mengalami krisis, bahkan bangkrut. Untungnya, dibina YDBA. Alhamdulillah, banyak mendapat ilmu yang ditularkan," Teguh, mengungkapkan disela-sela 'praktek' yang kami lakukan langsung dengan kulit telur.


Ya, YDBA memang rutin menggandeng para pelaku usaha di Tanah Air. Termasuk, pada level UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) yang sedang berkembang.


Beberapa sudah saya ulas di blog ini sejak kali perdana kenal YDBA pada 2016 silam. Mulai dari berangkatkan mitra UMKM ke Jepang (https://www.roelly87.com/2017/09/berangkatkan-22-umkm-ke-jepang-ydba.html) hingga mengajak UMKM untuk berpartisipasi di Asian Games 2018.


Kebetulan, saat itu Indonesia jadi tuan rumah. Astra sebagai sponsor utama turut menggandeng berbagai yayasan termasuk YDBA dan mitra UMKM untuk mensukseskan event akbar tersebut (https://www.roelly87.com/2017/12/astra-sponsori-asian-games-2018.html).


Sebagai bloger, dalam satu dekade ini, saya cukup rutin untuk ikut dalam berbagai acara Astra dan YDBA. Terakhir, pekan lalu (https://www.roelly87.com/2026/04/satu-indonesia-awards-2026-dan.html).


Nah, terkait UMKM, dalam halal bihalal itu, YDBA mengajak masyarakat untuk ikut kompetisi. Tepatnya, dalam Apresiasi Yayasan Astra untuk Pewarta 2026 (#AYukPewarta2026).


Temanya menarik: Bersinergi Untuk Masa Depan Lintas Generasi UMKM Indonesia.


Btw, ada enam kategori yang bisa diikuti dengan hadiah jutaan rupiah plus produk UMKM binaan YDBA. Wow!


1. Pemberitaan Foto Terbaik

2. Pemberitaan Artikel Terbaik

3. Reels Terbaik

4. Konten Blog Terbaik

5. Pewarta dengan Pemberitaan Foto Terbanyak

6. Pewarta dengan Pemberitaan Artikel Terbanyak


Kalo saya sih jelas ingin ikut yang konten blog. Maklum, saya kan bloger. 


Kebetulan durasinya cukup panjang. Jadi, saya, Anda, kalian, dan kita semua punya banyak waktu untuk mengumpulkan bahan.


- Periode Kompetisi: 9 April - 30 September

- Penjurian internal YDBA: 1-5 Oktober

- Penjurian Dewan Juri: 12-16 Oktober

- Pengumuman Pemenang: 6 November


Btw, artikel atau konten terkait kontribusi YDBA dalam membina UMKM di Tanah Air. Selain Teguh dengan limbah telur, banyak yang bisa diulas dari mitra UMKM pada daftar ini: https://bit.ly/umkmbinaanYDBA26.


Nah, sebagai epilog, mari kita ramaikan #AYukPewarta2026 dengan mengulas lebih dalam kemajuan para pelaku UMKM di penjuru nusantara yang mendapat binaan dari YDBA!

Berbagi inspirasi dari pelaku UMKM
binaan YDBA kepada media dan bloger



*        *        *


- Jakarta, 10 April 2206

*        *        *


Rabu, 01 April 2026

SATU Indonesia Awards 2026 dan Tantangan Bagi Generasi Muda

 SATU Indonesia Awards 2026 dan Tantangan Bagi Generasi Muda


Kick Off SATU Indonesia Awards 2026
(Foto: Dok.Pribadi/@roelly87)



17 tahun merupakan fase bersejarah bagi setiap insan. Tepatnya, saat manusia beranjak dari remaja menuju dewasa.

Itu mengapa, usia ke-17 jadi titik tolak mayoritas individu dalam menghadapi kerasnya kehidupan.

Di sisi lain, bagi perusahaan, lembaga, yayasan, dan sejenisnya, bisa memasuki usia ke-17 jadi bukti konsistensi. Bahwa, mereka sudah mampu melewati pahit, asam, dan manis kehidupan untuk memasuki fase berikutnya.

Tidak mudah untuk mencapai ke arah sana yang tentu jalannya berliku. Itu yang dilakukan PT. Astra International Tbk yang rutin menyelenggarakan penghargaan untuk putra-putri terbaik bangsa.

Tepatnya, lewat Semangat Astra Untuk (SATU) Indonesia Awards. Ya, tahun ini merupakan edisi ke-17 dengan tajuk: Terhubung dalam Aksi.

Edisi perdana Satu Indonesia Awards berlangsung pada 2010. Sejak saat itu, Astra rutin menyelenggarakan event yang merangsang kreativitas putra-putri terbaik bangsa.

Termasuk, ketika pandemi Covid 19. Menurut saya, itu jadi oase bagi para generasi muda untuk menularkan inspirasinya di tengah keadaan yang terbatas.

Kini, setelah pandemi berlalu dan kehidupan mulai membaik, Astra kembali menantang generasi muda lewat Satu Indonesia Awards 2026.

"Kami terus mendorong setiap inisatif untuk tidak berhenti sekadar di ide saja. (Melainkan) terus dikembangkan dan diimplementasikan secara berkelanjutan. Termasuk, menjangkau masyarakat hingga ke pelosok penjuru," kata Chief of Corporate Affairs Astra Boy Kelana Soebroto saat Kick-off SATU Indonesia Awards 2026 di Menara Astra, Jakarta Pusat, Rabu (1/4).

"Kami percaya, pada akhirnya perubahan yang berkelanjutan lahir dari aksi yang saling terhubung dan diperkuat bersama untuk hari ini dan masa depan Indonesia.”

Tema SATU Indonesia Awards 2026 ini bagi saya sangat menarik. Sebagai ojek online (ojol) yang hobi ngeblog, narasi "Terhubung dalam Aksi" ini merupakan tantangan bagi generasi muda, baik individu maupun kelompok.

Untuk info lebih lengkapnya, bisa dibuka link ini: https://satuindonesiaawards.astra.co.id.


*          *          *


"SUATU kehormatan bagi saya jadi pengamat dan menyaksikan bagaimana langkah kecil yang dibuat anak muda yang sangat peduli untuk melakukan sesuatu yang punya dampak kepada masyarakat sekitar," tutur Dian Sastrowardoyo dalam sambutannya sebagai juri.

Aktris sekaligus pegiat seni ini memang aktif mengamati ribuan peserta SATU Indonesia Awards. Dimulai sejak 2019 ketika jadi juri tamu.

"Mungkin langkah-langkah ini (para peserta) memang awalnya kecil. Namun, ini bisa tumbuh secara signifikan. Bahkan bisa menginspirasi orang lebih banyak lagi untuk melakukan hal yang sama," Dian, menambahkan.

Ya, dalam SATU Indonesia Awards 2026 ini, mendorong para penerima apresiasi untuk berperan sebagai "local champions". Sehingga, inisiatif yang lahir dari para penggerak perubahan dapat memberikan dampak sosial yang lebih luas dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Astra juga memperkuat kolaborasi integrasi antara dua program kontribusi sosial unggulannya, yaitu SATU Indonesia Awards dan Desa Sejahtera Astra. 

Berdasarkan data resmi, hingga kini, SATU Indonesia Awards telah melahirkan 792 generasi muda inspiratif yang berkontribusi di bidang Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan, Kewirausahaan, dan Teknologi. 

Sementara itu, Desa Sejahtera Astra telah membina 1.533 desa yang tersebar di 35 provinsi di Indonesia.

Dalam artikel yang saya tulis tahun lalu (https://www.roelly87.com/2025/03/satu-indonesia-awards-2025-dan-misi.html), yang daftar mencapai 17.708 peserta. Melonjak drastis dari edisi perdana pada 2010 yang berkisar 120 saja.

Tahun ini, turut hadir penerima apresiasi SATU Indonesia Awards 2013 bidang wirausaha, Rizki Dwi Rahmawan. Pria asal Banyumas ini juga membagikan tips bagi calon peserta.

Menurutnya, jika peserta berhasil meraih apresiasi di SATU Indonesia Awards 2026 ini bukan sekadar "menang" saja. Melainkan, jadi langkah awal untuk bisa berkontribusi kepada khalayak ramai.

Itu diungkapkan Rizki yang sukses memberdayakan para penderes. Yaitu penyadap pohon kelapa atau nira. Rizki terjun langsung bersama petani dalam mengolah nira di Desa Kemawi yang kini telah melebarkan pasar sekaligus menciptakan peluang ekonomi bagi warga setempat.

Nah, SATU Indonesia Awards 2026 kini akan memunculkan Rizki-Rizki baru yang bermanfaat bagi sesama.***


*          *          *


- Jakarta, 1 April 2026