TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol

Minggu, 05 Juli 2026

Boleh Nobar Piala Dunia, asal Jangan Joget seperti Tulang Lunak

Boleh Nobar Piala Dunia, asal Jangan Joget seperti Tulang Lunak


Ilustrasi nobar (Foto: @roelly87)



(POV: Mbak K)

PIALA Dunia (Pildun) 2026 bikin gw pusing. Bukan soal tim mana yang menang atau tersingkir.

Melainkan, karena efek nonton bareng (nobar) yang dilakukan mayoritas karyawan di kantor. Sebab, esoknya atau pagi, wajah mereka jadi kusut akibat kurang tidur. 

Belum lagi di lobi bau rokok. Meski asbak udah dibersihin OB dan disemprot pengharum, tapi sisa-sisanya masih tercium.

Maklum, Pildun berlangsung di benua Amerika Utara yang punya selisih hingga 12 jam dengan Waktu Indonesia Barat (WIB). 

Biasanya laga dimulai pukul 23.00 WIB atau lewat dini hari.

Bahkan, beberapa pertandingan berlangsung pukul 10.00 WIB. Alias, mendekati tengah hari yang jadi fase krusial di perusahaan kami!

Hufft...

Perkenalin, gw KY. Biasa dipanggil Mbak K, sama anak-anak alias karyawan di sini.

Btw, gw kerja di perusahaan rintisan cukup ternama di negeri ini. Posisi gw berhubungan dengan sumber daya. 

Udah lumayan lama. Dari masih "benih" sampe ini perusahaan besar dan banyak taipan yang mau caplok. 

Namun, bos gw, biasa dipanggil CEO PT Zhang -julukan beliau karena viralnya Drama China hehehe- ogah campur tangan pihak luar. Apalagi, sampe melantai di bursa.

Menurutnya, udah cukup saat ini. Dikelola bersama teman-teman dekatnya yang bisa dipercaya.

Oke, lanjut. 

Nah, Pildun kali ini, si bos ngebiarin karyawan nobar di kantor. Emang sih pas sebagian pulang kerja. 

Kecuali yang jaga lilin, eh jaga server. Kalo lilin, emang mau ngepet?

Jadi, banyak yang ga pulang ke rumah demi nobar di kantor. Si bos pun membawa tv segede gaban ukuran 60 inci dari rumahnya.

"Ga apa-apa, khusus Pildun," katanya santai saat itu.

Masalahnya, kadang kalo pagi, mata anak-anak tuh sepet banget. Pada sayu akibat ngantuk begadang. Pokoknya, ga sedap dilihat.

Gw sebagai "salah satu jenderal" di perusahaan ini udah kasih ultimatum untuk kerjaan tetep lancar meski Pildun. Kalo ga, jelas ga boleh lagi nobar di kantor.

Namun, inisiatif gw diveto si bos. Asem dah!

"Woles aja mbak. Yang penting kan, kerjaan mereka lancar. Sejauh ini masih aman-aman aja," ujar bos yang sepupunya teman kuliah gw dulu.

"Soalnya beda kalo mereka nonton di rumah, ada keluarga yang tidur. Jadi, ga bisa teriak-teriak. Kalo di sini kan, ruangan kita sendiri. Bebas mereka mau teriak juga."

Pernyataan si bos beralasan. Misua gw juga gila bola. Ngaku ga nyaman nonton di rumah karena ga bisa mengekspresikan suasana, apalagi kalo gol.

Itu mengapa, beberapa kali my misua ikut nobar di kantor gw. Kebetulan, doi kenal dengan si bos yang sama-sama masuk komunitas penggemar film Marvel dan DC.


*           *           *


SENIN sore, suasana di kantor sangat ramai. Mayoritas staf bersiap untuk pulang. Sementara, sisanya aplusan hingga fajar. Kami ada tiga shift. Khususnya jaga server yang harus 24 jam standby.

Sebagian, nongki-nongki. Ini mah pasti mau nobar.

Gw samperin mereka. Gabungan divisi penjualan, legal, produksi, dan customer.

"Woi, jam segini bukan pada balik," kata gw ke anak-anak yang asyik ngerumpi.

"Biasa nih mbak, mau siap-siap nobar malam. Si bos juga katanya ikutan," tutur salah satu anak penjualan.

"Bos mau traktir makanan berat sama cemilan, mbak," anak legal menimpali. "Maklum, Brasil kan jagoan si bos. Jadi kita palakin rame-rame."

"Gosok aja terus. Mumpung market lagi naik," gw 'mengompori'. "Panjang umur. Tuh CEO kita datang."

Bos cuma senyum lihat gw sama anak-anak. Sambil meletakkan beberapa minuman ringan bersoda dan bungkusan besar ayam geprek.

"Hello guys. Ini khusus buat dukung Vini Jr dan kawan-kawan," ujar si bos sambil motekin ayam geprek.

Sontak beberapa bungkusan langsung diserbu. Jam pulang kerja emang bikin laper. Gw ga ketinggalan ambil bungkusan isi paha atas crispy dan sambal matah.

"Pertandingan masih lama, bos. Keburu laper lagi," ucap anak marketing sambil nyocol sayap ke saus tomat.

"Jam 00.00 WIB. Tapi gw ga ikutan nobar. Pagi mau anter bokap Zidane yang berangkat umrah," si bos menjelaskan.

Zidane merupakan suplier kami. Sekaligus teman dekat si bos sejak kuliah di AS.

"Lah, ga seru dong."

"Brasil nih bos. Tim yang lo sembah, bos, dari zaman Winning Eleven 3 dengan Roberto Carlos dijadiin striker."

"Ntar kalo laper pas nyerang Jepang, kita ga ada konsumsi dong."

Sahut-sahutan karyawan yang kecewa bosnya ga ikut nobar. Gw cuma bisa ketawa aja.

"Aman. Konsumsi tinggal pesan ojol. Udah gw siapin bujet buat beli piza, martabak, dan seblak. Kalian duduk manis aja liatin 'Tim Samba' acak-acak Jepang," kata si bos.

"Lha, mbak K, belom balik," si bos noleh ke gw.

"Ada penawaran dari PT X. Gw minta rekomen lo bos. Kan udah gw email. Tembusan juga udah gw kasih ke Bu Sri dan Pak Bambang. Katanya tinggal acc lo aja bos."

"Yaudah ini gw baca-baca bentar. Kalo cocok, gaskeun. Abis ini gw mau langsung balik. Besok bangun pagi."

Gw pun kasih draft yang langsung dibaca dengan seksama. OB datang kasih kopi pahit tanpa gula untuk si bos yang langsung diseruput.

Sementara, anak-anak lainnya pada sibuk mengganyang makanan di atas meja. Ada yang mabar, mantengin highlight pildun, sampe video random. 

Kantor ini udah kayak taman bermain. Namun, itu uniknya. Sejak didirikan si bos dengan empat sohibnya dekade lalu, perusahaan ini ga berubah.

Bos yang memegang saham terbesar, lebih dari setengah, dipercaya sebagai CEO. Menariknya, dia menjalankan perusahaan ini dengan demokrasi.

Mungkin, efek dari hasil menimba ilmu di Ivy League yang diterapkan di perusahaan. Bos juga ga sungkan berbaur dengan seluruh karyawan, termasuk OB, cleaning service, security, dan sebagainya. 

Dia asyik aja main nobar atau main kartu -tanpa judi- gaple, capsa, remi, dan sebagainya. Yang kalah diolesin blau atau arang. Kocak emang.

"Yang penting, kerjaan mereka lancar. Tanpa dedikasi dan kerja keras karyawan, perusahaan ini ga bisa berkembang." Demikian pernyataannya suatu hari kepada gw.

Gw yang jauh lebih tua darinya, pun kagum. Apalagi, dia merintis dari nol. Bokapnya hanya pedagang nasi goreng di Palmerah. Nyokapnya, ibu rumah tangga biasa. Dia dapat beasiswa kuliah di Negeri Paman Trump berkat kecerdasannya.

"Gw dan para sohib udah bersumpah ga bakal lepas perusahaan ini kepada investor. Biarlah untung dan rugi kami tanggung bersama. Yang penting, karyawan bisa kerja dengan tenang dan gaji tepat waktu."

Sejak gw kerja di sini, belum sekalipun gaji telat. Selalu tepat waktu. Kerjaan lancar. Ga ada karyawan yang toxic. Pun demikian jika ada bonus atau lemburan. Gw merasa, apa yang gw dapat di sini jauh lebih oke dibanding saat kerja di Big 7. 

Namun, ada hal yang pantang dilanggar dalam peraturan yang dibuat si bos. Yaitu, dilarang menyebarkan paham LGBT.

"Gw pernah tinggal di US enam tahun. Kuliah dan kerja. Tahu banget gimana kehidupan di sana. Itu mengapa, gw sangat menghargai perbedaan, tapi bukan penyimpangan," tutur si bos saat sambutan outing kantor di Puncak, tahun lalu di depan seluruh karyawan dan pemegang saham.

Dalam kesempatan itu, bos juga mempersilakan karyawan berambut gondrong, dicat pirang, tindik, dan sebagainya. 

Dia juga menegaskan tetap menerima jika ada karyawan yang terindikasi LGBT. Menurutnya, pelaku penyimpangan itu juga manusia. 

Sama-sama makhluk ciptaan Tuhan. 

Sebagai manusia, si bos enggan memusuhi sesamanya.

Hanya, si bos menekankan, jangan coba-coba untuk menyebarkan prilaku LGBT kepada karyawan lain atau sekadar mengajak.

...


*           *           *


"YAUDAH, gw cabut ya. Pokoknya kalian nobar aja. Yang penting jangan buang puntung rokok di lantai. Ntar gw liat di CCTV gw SP2," si bos bersiap balik usai mengecek berbagai dokumen dari gw dan anak legal disertai ancaman retoris.

"Aman, bosku. CEO PT Zhang," sahut anak-anak kompak yang disambut mesem si bos.

"Demi Jepang, Asian Pride, gw siap kerja lembur ga dibayar bos buat beres-beres usai nobar," Bintang, cleaning service menimpali.

"Ntar kalo ada puntung rokok berserakan, lo catat nama-namanya ya Tang. Biar gw kasih 'surat cinta' ke mereka," kata si bos yang disambut koor riuh anak-anak.

Dia melanjutkan, "Kalian bebas nobar di aula kantor sepanjang Pildun. Mau begadang boleh. Yang penting jangan sampe ada yang joget-joget live di medsos kayak tulang lunak ya. Gw kasih SP3 langsung."

Sontak, suasana sore itu di lobi kian pecah. Omongan si bos langsung ditimpali anak-anak yang mayoritas udah berkeluarga. 

Yang jomblo juga banyak sih. Hehehe.

"Aman bosku. Di sini kalo ada yang aneh-aneh, kita kunciin di gudang lantai empat. Biar 'dirukyah' sama penghuni senior tak kasat mata," kata Guntur, salah satu admin medsos.

"Anjir, 'dirukyah neng kunti' ga tuh."

"Langsung insaf kalo ketemu penghuni gudang."

Sahut-sahutan kian ramai.

"Seserem-seremnya neng Kunti mah ga seberapa dibanding mbak K. Apalagi kalo telat laporan ke doi," Hashim, anak produksi nyeletuk sambil melirik gw.

Anjir, kenapa gw dibawa-bawa. 

Si bos pun mesem-mesem aja. Kocak nih pemimpin kalo udah ngumpul sama karyawan bawaannya jadi kayak grup lenong.

"Eh iya, ntar kalo pak Agus nonton pas ada penalti, remot langsung umpentin. Bahaya, bisa dimatiin tuh tv kayak waktu Messi nendang penalti," tutur si bos nunjuk Agus, security senior yang baru datang langsung masang muka ga bersalah.

Kena dia. Hahaha.

Gw jadi inget pas diceritain anak-anak, pekan lalu. Malamnya saat nobar Argentina vs Austria, Lionel Messi mau nendang penalti. Si bos juga saat itu ikut nonton. Seperti biasa, dia jadi donatur seksi konsumsi yang dipalakin anak-anak.

Nah, pas awal pertandingan, Argentina dapat penalti. Messi yang akan eksekusi. Namun saat lagi ancang-ancang mau nendang, tv tiba-tiba mati. Sontak, pada heboh karena lagi deg-degan lihat hasilnya.

Ternyata, Agus yang matiin tv. Alhasil, kulit kacang berserakan dilemparin si bos dan anak-anak. Agus yang kabur cuma cengengesan aja. Kocak sih, tahu reaksi mereka. 

Gw yang denger ceritanya pas jam makan siang aja geregetan sama Agus.

Namun, menurut si bos, di situlah letak seninya nobar. Rame, bisa teriak-teriak tanpa ada yang ngomelin karena di kantor gedungnya kedap suara. 

"Gw berani 'rusuh' cuma pas nobar di kantor aja. Kalo nonton di rumah ga enak, senyap," si bos beri penjelasan saat meeting esoknya. "Sebab, tv harus di-mute. Kalo ada suara, kasian bocah gw lagi pada tidur. Bini juga bakal ngamuk kalo tahu gw teriak-teriak gol."

Yah, gw sebagai karyawannya cuma bisa  mengangguk aja. Sabar hingga Piala Dunia 2026 berakhir. 

Lagipula, meski muka anak-anak kusut hingga ga sedap dipandang akibat semalam begadangin nobar, faktanya gw akuin kerjaan mereka sejauh ini lancar.***


*           *           *


(Diceritakan ulang oleh pekerja swasta yang kantornya kena demam Piala Dunia 2026 dengan modifikasi dan editing sewajarnya)


*           *           *


- Jakarta, 5 Juli 2026



*           *           *


Artikel Terkait: 


- Nobar Ditemani Model Seksi (https://www.roelly87.com/2014/11/nobar-ditemani-model-seksi.html)

- Meriahnya Nonton Bareng di Studio ANTV (https://www.roelly87.com/2014/11/meriahnya-nonton-bareng-di-studio-antv.html)

- Nonbar Merakyat Bersama tvOne (https://www.roelly87.com/2014/11/nonbar-merakyat-bersama-tvone.html)

- Nobar Pilpres 2014: Sambil Mewaspadai “Serangan Fajar” (http://www.roelly87.com/2017/02/sambil-mewaspadai-serangan-fajar.html)

- Nobar di Kedubes Italia - Kompak Demi "Gli Azzurri" (https://www.roelly87.com/2014/11/kompak-demi-gli-azzurri.html)

- Nobar dengan Suasana Pantai (https://www.roelly87.com/2016/04/nobar-dengan-suasana-pantai.html)

- Di Balik Nobar Liverpool Vs Leicester di Sevel Bintaro Sektor 7 (https://www.roelly87.com/2015/12/di-balik-nobar-liverpool-vs-leicester.html)








*           *           *

Sabtu, 27 Juni 2026

Manajemen dan Security PIK yang Memanusiakan Manusia

Manajemen dan Security PIK yang Memanusiakan Manusia

Shelter Ojol PIK Golf Island
(Foto: dok.pribadi/@roelly87)



PANTAI Indah Kapuk (PIK) merupakan kawasan yang berkembang dengan pesat. Awalnya, berlokasi di Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, kini merambah ke barat, tepatnya Kabupaten Tangerang, dengan PIK 2.

Baik perumahan, apartemen, hotel, gedung perkantoran, pasar, restoran, mal, dan sekolah, kini menjamur. Pun dengan transportasi umum yang bisa diakses dari dan ke pusat Jakarta dengan mudah lewat Transjakarta.

Bagi ojek online (ojol), PIK jadi ladang cuan. Sebab, di kawasan tersebut, bisa dibilang melimpah orderan. Mulai dari antar penumpang, makanan, hingga barang/paket.

Sejak 2019 silam, saya pun sering ngebid -cari orderan- di PIK atau PIK 2. Bahkan, sering nganter ke sana saat malam atau dini hari.

Biasanya, kalo hingga larut, saya dan rekan-rekan ojol lainnya serta kurir paket istirahat di kolong jembatan yang menghubungkan daratan Jakarta dengan pulau reklamasi. Tempatnya, termasuk aman.

Secara, petugas keamanan rutin patroli. Baik dengan mobil atau sepeda motor.

Meski kawasan elite, harus diakui manajemen dan security sangat ramah dengan ojol. Belum pernah saya dengar ada ojol yang diusir.

Itu karena mereka menyediakan beberapa titik untuk parkir motor gratis khusus ojol dan kurir paket. 

Intinya, mereka turut memanusiakan manusia. 

"Simbiosis mutualis, mungkin mas. Kan, kami juga butuh ojol buat anter ke pasar, pesan makanan, atau kirim paket," kata salah satu penumpang yang merupakan penghuni PIK, beberapa waktu lalu.

Ya, para penghuni PIK, baik perumahan, apartemen, perkantoran, hingga tamu hotel butuh layanan ojol. Begitu juga sebaliknya, ojol di PIK pun mudah mendapat orderan.

Itu mengapa, hampir tidak ada segregasi antara ojol/kurir paket dengan security. Kami tahu aturan. 

Ga bisa lama-lama nongkrong di sembarang tempat. Kecuali, yang memang sudah disediakan khusus ojol.

Pun demikian dengan security yang sangat welcome dengan ojol. Bahkan, kerap ngumpul bareng. Maklum, sebagian dari mereka banyak juga yang nyambi sebagai ojol atau kurir paket jika sudah selesai kerja.

"Kita sama-sama cari uang di jalan, saling ngerti aja mas," ujar security saat ngopi bareng samping SPBU.

"Paling kalo ada ojol yang kumpul-kumpul, kami minta dengan halus untuk 'geser' dikit atau jalan dulu pas mau laporan. Setelah itu silakan aja. Manajemen juga sangat dukung keberadaan ojol, buktinya banyak dibangun shelter di PIK ini."

Pernyataan itu beralasan. Di PIK ada beberapa shelter ojol. Bisa digunakan untuk istirahat atau cas hp dengan ditambah fasilitas toilet portable.

Untuk ambil orderan makanan dan paket di pertokoan sepanjang Jalan Marina Raya-Pantai Indah Utara 2 pun ada beberapa titik parkiran gratis untuk ojol. 

Pun demikian di PIK Avenue dan dua hotel sebelahnya, ojol yang ambil makanan atau paket gratis parkir dengan meminta stempel di petugas.

(Selengkapnya: Daftar Mal Elite di Jakarta dan yang Gratiskan Parkir untuk Ojol - http://www.roelly87.com/2024/06/daftar-mal-elite-di-jakarta-dan-yang.html)


*         *         *

MENJELANG fajar, jalanan di utara ibu kota cukup ramai. Saya baru selesai mengantar penumpang dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, menuju salah satu cluster perumahan di PIK.

Saat melihat arloji di tangan kiri, menunjukkan pukul 03.21 WIB. Periode tanggung.

Mau balik ke rumah, tapi "masih sore". Apalagi, ini weekend, jadi saya coba rehat sejenak di PIK sambil menanti orderan arah selatan.

Kawasan Batavia dan Pantjoran cukup ramai. Pun dengan lalu-lalang kendaraan menuju PIK 2 yang melintas di Jembatan.

Saya pun geser ke kolong jembatan yang menghubungkan daratan Jakarta dengan pulau reklamasi untuk ngopi dan  menghirup "asap kehidupan".

Pas sampe, kaget juga. Ternyata, kolong jembatan yang terakhir saya singgahi Palguna lalu sudah berubah lebih rapi dengan terpampang tulisan "Shelter Ojek Online Golf Island".

Saya pun masuk ke dalamnya. Ternyata, sudah ada colokan listrik untuk cas hp, tong sampah, dan toilet portable.

Keren!

Tempatnya luas pula untuk parkiran belasan motor. Cocok untuk beristirahat.

Ini shelter ojol kedua di PIK yang pernah saya singgahi. Sebelumnya, sejak pertengahan tahun lalu sudah ada shelter ojol di Bukit Golf Mediterania. 

Tepatnya, di belakang Pasar Modern/Fresh Market atau seberang Apartemen Gold Coast.

Namun, biasanya saya hanya sekadar singgah saat sore. Sebab, tempatnya ga begitu luas

Kalo istirahat untuk melonjorkan kaki biasanya di kolong jembatan yang dulunya masih lowong dan kini jadi Shelter Golf Island.

Selain dua shelter itu, ada satu lagi di Pulau Reklamasi, yaitu Shelter Ojol Riverwalk Island. Ini saya temukan berdasarkan referensi pencarian di Google Maps disertai foto yang tercantum. 

Hanya, saya belum pernah ke sana. Mungkin, nanti kalo dapat orderan ke PIK lagi saya infokan.

SS dari Google Maps


Nah, bagi rekan-rekan ojol dan kurir paket dari luar Jakarta yang ingin istirahat sejenak usai perjalanan jauh antar order di PIK, ini saya cantumkan beberapa shelter dan titik untuk rehat sejenak di Google Maps.

1. Shelter Ojol Bukit Golf Mediterania

Lokasi: Samping Pasar Modern

Fasilitas: Stop kontak, toilet portable

+: Bisa selonjoran

-: Sempit, kalo siang panas, malam kurang tahu


2. Shelter Ojol Golf Island

Lokasi: Kolong jembatan, Pulau Reklamasi

Fasilitas: Stop kontak, toilet portable

+: Luas, bisa selonjoran, tidur

-: Banyak nyamuk, susah cari kopi


3. Shelter Ojol Riverwalk

Lokasi: Belum terkonfirmasi, info hanya dari Google Maps

Fasilitas: ?

+: ?

-: ?


4. Depan SPBU

Lokasi: Depan SPBU, Seberang RS Tzu Chi

Fasilitas: Toilet SPBU (06-23)

+: Malam bisa selonjoran, 

-: Siang ada security patroli ga bisa lama


5. Samping Bundaran Bukit Golf Mediterania

Lokasi: Samping bundaran BGM

Fasilitas: toilet, musala

+: Bisa selonjoran, banyak jajanan

-: Malam kurang tahu


6. Halte Parkir Karyawan

Lokasi: Samping Sekolah Tzu Chi/belakang Cluster Ruby

Fasilitas: -

+: Banyak jajanan, bisa selonjoran

-: Malam kurang tahu


7. Simpang PIK

Lokasi: Jalan Mandara Permai, samping Burger King

Fasilitas: -

+: Bisa selonjoran, banyak jajanan

-: Malam kurang tahu


VIDEOhttps://vt.tiktok.com/ZSCM7VKj6/


*         *         *


Disclaimer: Artikel ini murni pengalaman pribadi saya sebagai bloger yang berprofesi ojol. Ga ada pesanan dan tendensi apa pun


*         *         *

- Jakarta, 27 Juni 2026




Senin, 22 Juni 2026

Met Ultah ke-17 Uti, Adik Bungsuku

Saya bersama Mama, Novi, dan Uti
(@roelly87)



22 JUNI diperingati sebagai hari lahir Kota Jakarta. Sekarang, genap 499 tahun. 

Pada saat yang sama, 22 Juni juga hari ulang tahun adik bungsu saya. 

Namanya Putri Jelyta. Saat ini, tepat 17 tahun. Sweet  Seventeen. 

Transisi dari masa kanak-kanak menuju remaja. 

Selangkah lagi akan dewasa.

Selamat ulang tahun, Uti...

Demikian nama panggilan si bungsu. Bisa juga disapa Jelitung yang berasal dari nama belakangnya.

Saya memiliki dua adik. Yang pertama, Novi, hanya selisih beberapa tahun. Lalu, Uti kelahiran 2009.

Btw, Uti ini bukan adik kandung. Melainkan adik angkat. 

Namun, kasih sayang kami, yaitu Mama, saya, dan Novi, kepadanya tetap sama. 

Bahkan, Mama sangat sayang. Maklum, diurus sejak masih empat tahun.

Kami makan di tempat dan menu yang sama. Tiada dibedakan semuanya. 

Kecuali untuk makanan tertentu.

Saya alergi hidangan laut -akibat kulit sensitif yang berujung gatal- seperti Udang, Balakutak, Cumi, Kerang, Kepiting, dan mayoritas Ikan (kecuali Bawal, Bandeng, Mas, dan Tongkol).

Mama yang Mei lalu genap 62 tahun pantangan makan yang mengandung gula, lemak, dan kolesterol berlebih. Maklum, ibu saya mengidap Diabetes, jadi makan harus dibatasi.

Novi kurang suka daging. Diet, katanya. Hahaha. 

Uti? Nyaris semua makanan suka. Hanya, ga doyan pedas atau sambal. Padahal, saya, Mama, dan Novi merupakan penggila pedas. Namun, bisa diakali dengan Mama menempatkan sambal terpisah.

Uti saat masih bocil nunggu bedug
sambil liatin jadwal puasa wkwkwkwk
(@roelly87)


*         *         *

KISAH ini berawal 2013 silam. Pertengahan September, ibu kandung Uti meninggal dunia. 

Btw, saya kenal dengan keluarganya. Apalagi, ayahnya -meninggal Februari lalu- merupakan teman saya sejak kecil. 

Uti anak ketiga dari empat bersaudara. 

...

Uti full sebulan puasa Ramadan 


Mama pun berinisiatif mengangkat Uti sebagai anaknya. Kebetulan, di rumah tidak ada anak kecil. Hanya kami bertiga. Mama, saya, dan Novi.

Jelas, keberadaan Uti yang masih bocil alias balita, empat tahun, memberi warna baru di rumah. Saat itu, Uti sangat lucu. Kami pun senang dengan keberadaannya. 

Mama sangat antusias mengurusnya. Mulai dari memandikan, nyebokin, nyisir, pakai bedak -wkwkwk Uti lucu kalo dibedakin mukanya-, hingga mengenakan pakaian.

Uti juga yang menemani Mama tiap harinya nyaris 24 jam (termasuk hingga kini aplusan dengan saya dan Novi saat Mama beberapa kali dirawat di Rumah Sakit). Maklum, saya dan Novi kerja. 

Sementara, Mama aktif di PKK Kelurahan dan Ketua Pengajian RW. 

Pun demikian saat sekolah. Kami bertiga bergantian mengantar atau jemput. Kebetulan, SDN Petojo Utara 09 Pagi merupakan sekolah saya dan Novi dulu. Jadi, kami masih kenal dengan beberapa Guru dan petugas di sekolah itu. 

Berlanjut Uti masuk SMP dan SMK, yang gedungnya sebelahan dengam SDN 09. Saat itu, Uti mulai mandiri. 

Alias berangkat tidak diantar. Sendiri atau kadang bareng dengan beberapa teman sekelasnya. 

Kecuali, saat bagi Rapor, biasanya Mama dan Novi yang mendampingi. Saya hanya beberapa kali saat Mama sakit dan Novi kerja masuk pagi.

Bulan depan, Uti mau naik kelas 2 SMK. Itu berarti, sebentar lagi lulus.

Kami berharap, Uti bisa melanjutkan ke bangku kuliah. Itu yang Mama, saya, dan Novi perjuangkan.

Syukur-syukur dapat negeri. Namun, kalo swasta pun ga apa-apa. Intinya bisa mengecap pendidikan S1. Melanjutkan tradisi jadi mahasiswa seperti yang sudah dilakukan Novi.

Uti ultah ke-11 saat pandemi


*         *         *

UTI kini udah beranjak remaja menuju dewasa. Namun, bagi kami, masih seperti yang dulu: Uti anak yang lucu dan baik hati.

Kami pun membebaskan Uti untuk bergaul dengan banyak orang atau main ke mana saja. Misal, mengenal lawan jenis saat masa-masa Sekolah Menengah merupakan kenangan indah. 

Namun, bebas tetap ada batasan. Jika hari sekolah, pukul 20.00 WIB sudah di rumah karena besok bangun pagi.

Sementara, untuk Sabtu, Minggu, dan Hari Libur, maksimal main hingga pukul 22.00 WIB. Boleh lewat dari itu jika hanya di rumah dan sekitaran saja. 

Bagaimana jika main jauh-jauh? Ga boleh!

Itu mengingat Uti sebagai anak perempuan. Untuk antisipasi hal yang tidak diinginkan. 

Kami berpedoman, masa-masa remaja sangat menyenangkan. Termasuk, untuk Uti.

Hanya, tetap ada batasan. Baik pergaulan di luar rumah, sekolah, atau media sosial (medsos). 

Itu yang Mama, saya, dan Novi lakukan demi masa depan Uti yang bisa lebih baik lagi.

Sekali lagi, met ultah ke-17, Uti...

Uti aplusan jaga Mama saat saya ngojol dan Novi kerja


*         *         *

Artikel terkait Uti

- Nemenin Main Dampu (https://www.roelly87.com/2015/07/tujuh-permainan-tradisional-yang-asyik.html)

- Ngabuburit di RPTRA  (https://www.roelly87.com/2016/06/pengalaman-ngabuburit-di-rptra-krendang.html)

- Hari Pertama Masuk SD (https://www.roelly87.com/2016/07/hari-pertama-mengantar-sekolah.html)


*         *         *

Uti bersama abang kandung dan keluarganya di pemakaman ayahnya yang juga teman saya sejak kecil (@roelly87)


- Jakarta, 22 Juni 2026

Senin, 15 Juni 2026

Polisi Kini Humanis tapi Jangan Didramatisir dan Puji Berlebihan, Memang Sudah Tugasnya

Polisi Kini Humanis tapi Jangan Didramatisir dan Puji Berlebihan, Memang Sudah Tugasnya

Para petugas mengatur rekayasa jalan
di Tugu Selamat Datang
(Foto: dok.pribadi/@roelly87)



PETANG itu, jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (12/6) tampak lenggang. Tepatnya, berlangsumg usai Salat Jumat hingga matahari condong ke barat.

Itu karena ada unjuk rasa dari adik-adik mahasiswa di berbagai daerah yang akan kumpul di Tugu/Monumen Selamat Datang. 

.

<<<btw, saya lebih suka nulis ini secara formal ketimbang Bundaran HI, karena terkait merek. 

Selengkapnya: Bukan Bundaran HI, harusnya Monumen Selamat Datang - https://www.roelly87.com/2025/01/bukan-bundaran-hi-harusnya-monumen.html>>>

.


Alhasil, selentingan info yang saya dapat, konon mayoritas pekerja kantoran di kawasan tersebut pulang cepat. Alias, setengah hari demi antisipasi hal buruk.

Maklum, sepanjang Jalan Thamrin-Jenderal Sudirman merupakan pusat bisnis. Banyak kantor pemerintahan, BUMN, BUMD, swasta raksasa, kedutaan negara sahabat, media, dan sebagainya.

Namun, fakta di lapangan, normal-normal aja. Jalanan memang sepi tidak seperti Jumat biasanya yang macet akibat jam pulang kerja, tapi aktivitas kendaraan tetap lancar. 

Kecuali, Bus Transjakarta yang dialihkan sementara waktu. 

Sumber: https://vt.tiktok.com/ZSQQBdEkU/ dokumentasi pribadi - @roelly87

Alhamdulillah, aksi unjuk rasa yang dilakukan adik-adik mahasiswa berlangsung lancar. Mereka benar-benar demo untuk menyalurkan aspirasi rakyat. 

Ga ada yang aneh-aneh. Sumpah, itu yang saya amati terkait aksi mahasiswa yang orasi di Halte Tosari.

Tidak seperti Agustus 2025 yang ditunggangi para penyusup berujung rusuh di berbagai daerah.

Sebagai bloger yang berprofesi ojek online (ojol), saya tentu enggan melewatkan momen ini disela-sela keliling cari orderan. Salah satunya, melihat langsung kinerja aparat.

.


<<<untuk aktivitas terkait mahasiswa yang tertahan di Halte Tosari, akan saya ulas dalam POV lainnya nanti>>>

.

*          *          *


JALAN Imam Bonjol-Agus Salim-Mochamad Yamin merupakan titik singgah kepolisian yang bertugas dalam mengawal demonstrasi. Baik itu melakukan persiapan, tempat logistik, hingga istirahat dan makan.

Kebetulan, saya lewat beberapa kali. Sempat berbincang dengan mereka yang masih muda-muda dan energik.

"Bro, kok bawa beceng?" kata saya menghampiri kerumunan polisi berompi hitam.

Maklum, sebelumnya saya baca berita, Kepolisian Daerah Polda Metro Jaya menegaskan, anggotanya tidak membawa senjata api. Mumpung lewat, jadi saya konfirmasi langsung.

"Bukan mas. Ini Gas Air Mata," ujar polisi yang sekilas mirip Bowo dalam film The Raid.

Rekannya di sebelah yang sedang pakai helm, menimpali, "Ini memang selalu dibawa, (tapi) ga dipake kok Mas. Hanya jaga-jaga. Opsi terakhir."

Saya pun mengangguk. Pas diamati seksama, emang bukan senapan seperti yang saya sering main game saat muda, Counter Strike dan Point Blank yang populer pada 2000-an.

"Kami selalu humanis kok dalam mengawal unjuk rasa. Adik saya dan sepupu aja mahasiswa," polisi mirip Bowo, menjelasakan.

Sejuk mendengar penjelasan itu. Saya percaya, seburuk apa pun instansi, termasuk kepolisian, tentu ada yang bagus. 

.

<<<next POV anggota polisi/TNI yang nyambi jadi ojol untuk menambah penghasilan. Saat mengantar orderan, mereka "lebih ojol" daripada ojol biasanya>>>

.


Hanya, kadang sisi positif mereka tertutup aksi negatif oknum yang kalo dikumpulin bisa satu mabes!

Hahaha.

"Semoga kalian tetap memanusiakan manusia ya dalam melakukan pengawalan aksi unjuk rasa dari adik-adik mahasiswa," tutur saya hendak pamit karena aplikasi bunyi pertanda masuk orderan.

"86 mas." Mirip Bowo itu mengacungkan jempol.

"Aman mas. Kita selalu humanis terhadap para unjuk rasa dan tetap melakukan pendekatan persuasif," anggota lainnya mengomentari.

Ya, kebebasan berpendapat, termasuk unjuk rasa dijamin secara konstitusional dalam Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Hak asasi ini jadi salah satu pilar utama dalam sistem demokrasi Indonesia.

Siapa pun berhak untuk melakukan demo. Baik mahasiswa, buruh, ojol, Guru atau Tenaga Pendidik, Nakes, dan sebagainya.

Hanya, harus diperhatikan waktu dan tempatnya. Terutama, agar tidak ditunggangi para penyusup seperti Agustus lalu.

Saat itu, saya menyaksikan langsung adanya provokasi dan penyusup saat unjuk rasa di kawasan Slipi dengan melempar batu. Di sisi lain, saya juga melihat dengan mata kepala sendiri, betapa polisi gampang terpancing hingga berlaku represif kepada massa.

Bisa disimak dalam rekaman video yang saya unggah di tiktok: 

- https://vt.tiktok.com/ZSAvXorX8/

- https://vt.tiktok.com/ZSQfmgvTX/

- https://vt.tiktok.com/ZSQfmfkkY/


Bersyukur, unjuk rasa 12 Juni lalu kondusif. Jika ada aksi demo lagi, saya harap tetap berlangsung aman.

Dan, yang terpenting, aspirasi mereka, adik-adik mahasiswa turut didengar pemerintah. Tujuannya, agar negeri ini lebih baik lagi... Aamiin!


*          *          *


SAYA enggan memberi pujian berlebih kepada polisi yang bertugas meski sudah berlaku humanis dan persuasif. Sebab, itu memang sudah tugasnya.

Ga perlu didramatisir lagi. Sesuai desk job-nya. Toh, mereka digaji bukan relawan tanpa pamrih. 

Sama halnya dengan profesi lain, termasuk ojol. Saya aja tetap menjalankan orderan ketika macet, hujan, banjir, ada demo, keos, dan sebagainya.

Ga bahaya?

Seperti kata Amado Carrillo Fuentes "El Señor de los Cielos" dalam Narcos: Mexico, bahwa krisis adalah peluang. Alhasil, saya tidak menyia-nyiakan setiap orderan termasuk di tempat demo. Yang penting jaga keselamatan aja.

Btw, untuk banjir, kalo di kawasan Kelapa Gading, Cengkareng, Bukit Duri, hingga Cipinang, itu santapan sehari-hari. Aman.

Beda cerita kalo banjir di Muara Karang, Muara Angke, Dadap, dan PIK, saya nyerah. Sebab, kawasan itu dekat pantai yang berarti banjirnya dari air laut. 

Senekat-nekatnya saya masih punya rasa takut. Sebab, air laut sangat bahaya bagi motor, khususnya mesin yang bisa korosi. 

Perbaikannya di bengkel resmi jauh melebihi ongkos ojol termahal sekalipun. Makanya, saya ogah kalo dapat orderan di tempat banjir dekat laut. 

Bukan maksud nolak rezeki, tapi antisipasi motor rusak akibat karat.


*          *          *

Situasi Jalan Thamrin yang cukup lenggang
meski di jam sibuk pulang kerja
(Foto: dok.pribadi/@roelly87



SELAIN ribuan polisi yang bertugas mengamankan demo, ada beberapa pihak lain yang turut aktif. Itu meliputi TNI, Damkar, Tim Medis, Dishub, Satpol PP, hingga Pasukan Oren (PPSU).

Mereka tersebar di berbagai titik Jalan Thamrin-Sudirman. Mulai dari Sarinah, Tugu Selamat Datang, Halte Tosari, Stasiun Sudirman-Bandara, hingga MRT Setiabudi. 

Itu yang saya lihat langsung. Untuk Semanggi-GBK-DPR, saya kurang tahu karena tidak ke sana.

"Pak dan Ibu, maaf ya arah Monas dialihkan. Bisa lewat alternatif Jalan Margono tembus Stasiun Karet atau via Dukuh Atas arah Galunggung ke Menteng."

Demikian himbauan dari petugas yang pakai seragam Dishub didampingi Satpol PP dan polisi di samping Wisma BNI 46, Jalan Sudirman. 

Saya acungi jempol terkait informasi yang mereka berikan sangat rinci. Jadi, masyarakat yang hendak melintasi Halte Tosari bisa cari alternatif lain ke arah utara.

Pun demikian sebaliknya, dari Tugu Selamat Datang menuju selatan yang sempat dialihkan lewat Imam Bonjol dan Kebon Kacang. Ada beberapa petugas yang turun tangan membantu pengendara motor dan mobil yang banyak kebingungan.

Keberadaan Dishub dan Satpol PP memberi sedikit kesan baik di mata saya. Maklum, dari dulu saya kurang suka sama kedua instansi itu.

Berdasarkan pengalaman pribadi, Dishub suka mengangkut kendaraan rakyat jelata dan taksi. Namun, jika mobil mewah dan milik pejabat, mereka pura-pura ga melihat seperti yang tiap hari ada di Senopati, Blok M, Kemang, dan mayoritas kawasan ramai di Jakarta.

Begitu juga dengan Satpol PP yang beraninya mengusir pedagang kaki lima, tapi gentar dengan restoran yang etalasenya menjorok ke jalan serta warung tenda yang berdiri di trotoar hingga menyulitkan akses pejalan kaki.

Sumpah, saya konsisten menulis di blog dari dulu, agar Dishub dan Satpol PP dibubarkan. Ga ada faedahnya.

Bagaimana dengan polisi? Banyak yang saya benci. Namun, saya ingat kalo bikin atau perpanjang SIM dan STNK butuh polkis.

TNI? Ya sama, 11/12, bahkan sejak era Prabowo Subianto jadi presiden, loreng ini makin ga beres. Oknum sih katanya. Mulai dari nyiram aktivis hingga jadi debt collector.

Duh, ga ada yang bener deh...

Kasian amat, rakyat jelata jadi WNI?

Namun, seperti kata eks menteri, "Jangan pernah lelah mencintai negeri ini!" 

Preeet! 

Doi duitnya banyak. Kentut juga wangi kalo yang ngomong hartanya melimpah. 

Hahaha!


*          *          *


Artikel Terkait:


- Pertamax Naik, Ojol pun di Persimpangan (https://www.roelly87.com/2026/06/pertamax-naik-ojol-pun-di-persimpangan.html)

- Sisi Lain Kerusuhan 28-31 Agustus: Demo Silakan, Anarkis Jangan! (https://www.roelly87.com/2025/09/sisi-lain-kerusuhan-28-31-agustus-demo.html)

- Anak Cowok Jadi Homo, yang Cewek Pelakor, dan Istri Kabur dengan Berondong: Kisah Tragis Eks Pejabat (https://www.roelly87.com/2026/04/anak-cowok-jadi-homo-yang-cewek-pelakor.html)

- Terjebak di Toilet SPBU Kuningan (https://www.roelly87.com/2024/10/terjebak-di-toilet-spbu-kuningan.html)

- Lulusan SMA Dibekali Senjata Itu Bernama Polisi (https://www.roelly87.com/2025/02/lulusan-sma-dibekali-senjata-itu.html)

- Saya Ga Menyesal Pilih Prabowo, Memang Kemampuannya B Aja (https://www.roelly87.com/2025/04/saya-ga-menyesal-pilih-prabowo-memang.html)

- Prabowo: Sang Penculik yang Berharap Mandat Langit (https://www.roelly87.com/2023/09/prabowo-sang-penculik-yang-berharap.html)

- Prabowo Gemoy, tapi Tangannya Berlumuran Darah (https://www.roelly87.com/2023/12/prabowo-gemoy-tapi-tangannya-berlumuran.html)

- Prabowo Presiden 2024, Ganjar Mendagri, Anies Menlu, dan AHY Menhan (https://www.roelly87.com/2023/12/prabowo-presiden-2024-ganjar-mendagri.html)

- Anies adalah Liu Bei, Mega = Sun Quan, dan Jokowi = Cao Cao? (https://www.roelly87.com/2024/08/anies-adalah-liu-bei-mega-sun-quan-dan.html)

- Dhani, Rizieq, dan Ahok Bersatu demi Indonesia

- 9 Naga dan 3 Capres

- Prabowo dan Kedaulatan Selera

- Prabowo Kembali ke Setelan Pabrik

- Brigitte Lin Ching-hsia yang Memesona (https://www.roelly87.com/2023/12/brigitte-lin-ching-hsia-yang-memesona.html)

- Palagan Pamungkas Prabowo: Menyelami Hati, Pikiran...

- Manusia Lebih Anjing daripada Anjing

- Di Bandung, Jokowi Kalah Populer Dibanding Ridwan Kamil

- Jokowi, Sang Gubernur Gaul

- Soe Hok Gie: Prabowo Cerdas tapi Naif


*          *          *


- Jakarta, 15 Juni 2026




 

Jumat, 12 Juni 2026

Pertamax Naik, Ojol pun di Persimpangan

SPBU di Fatmawati, Jakarta Selatan (Foto: dok.pribadi/@roelly87)


PAGI ini, Jumat (12/6) dikabarkan akan ada unjuk rasa dari saudara kita, mahasiswa-mahasiswi di beberapa kota di Tanah Air. Demikian info dari berita arus utama, media sosial (medsos), hingga grup watshapp dalam beberapa hari terakhir.

Tujuannya, memprotes inkonsistensi efisiensi pengeluaran pemerintah, korupsi, Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga naiknya Bahan Bakar Minyak (BBM) dan harga pokok lainnya. 

Saya pribadi sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, mempersilakan siapa pun untuk demo. Boleh dong. 

Hak asasi manusia. Kebebasan berpendapat dijamin dalam Undang Undang Dasar.

Justru kalo kita melarang demo, bakal aneh ini negara. Seperti pemerintahan komunis atau tirani.

Anda mau, Presiden Prabowo Subianto jadi diktator seperti Vladimir Putin, Xi Jinping, dan Kim Jong Un?

Saya sih ogah. Biarpun saya pemilih Prabowo pada tiga edisi pilpres beruntun, ga mau negara ini kembali ke masa orde baru.

No!

Di sisi lain, demo juga ada aturan. Harus izin APH dan waktunya ditentukan hingga petang. 

Yang terpenting, jangan anarkis! Saya mengetik artikel ini, Kamis (11/6) dini hari WIB sambil menyimak berita pembukaan Piala Dunia 2026 disela-sela nunggu orderan ojek online (ojol).

Sebelumnya, pada 25 Agustus lalu saya menyaksikan langsung adanya provokasi dan penyusup saat unjuk rasa di kawasan Slipi dengan melempar batu. Di sisi lain, saya juga melihat dengan mata kepala sendiri, betapa polisi gampang terpancing hingga berlaku represif kepada massa.

Bisa disimak dalam rekaman video yang saya unggah di tiktok: 

- https://vt.tiktok.com/ZSAvXorX8/

- https://vt.tiktok.com/ZSQfmgvTX/

- https://vt.tiktok.com/ZSQfmfkkY/

Saya berharap, demo nanti berlangsung positif. Ada perwakilan pemerintah dan DPR yang menyerap aspirasi mahasiswa serta berbagai elemen bangsa.

Sebagai bloger yang masuk golongan nokturnal, saya jelas tidak kuat ikut demo. Namun, saya berusaha untuk menuangkan pendapat, ide, gagasan, dan kritik yang membangun lewat tulisan.

Baik di blog pribadi, www.roelly87.com maupun blog keroyokan sejak 2010, www.kompasiana.com/roelly87.

Itu yang biasanya saya lakukan disela-sela aktivitas ojol setiap harinya. Menulis jadi hobi positif saya jelang menyambut kepala empat untuk tetap semangat menjalani hidup.


*           *           *


PERTAMAX naik jadi Rp 16.250 per liter dari sebelumnya Rp 12.300. Alias, melonjak 32,1 persen dengan per liter Rp 3.950.

Jelas ini alarm bagi saya sebagai ojol. Serius.

"Lha, kan seliter cuma 16 ribuan. Ga sampe 20 ribu? Kopi di kafe kekinian aja segelas 20-50 ribu sanggup, masa Pertamax ga mampu?"

Demikian ucapan buzzer laknat di medsos yang memperkeruh suasana.

Sebab, beli BBM untuk kendaraan itu bukan hanya seliter. Contoh, motor saya, Vario 125cc tahun 2020 (jadul banget, hehehe), itu tangki bisa full 5,5 liter.

Sebelum naik, saya biasa isi Pertamax genapin, 50 ribu. Alias, dengan selembar gocapan biru, saya dapat empat liter lebih yang bisa untuk jelajah 100-200 km.

Di atas kertas, konsumsi per liter BBM motor saya, Vario 125cc estimasinya 51.7 km. Namun, di jalanan, aslinya hanya 40-an km. 

Tergantung rute macet atau ga dan beban yang dibawa. Itu berarti 4 liter Pertamax bisa mencapai 160-an km.

Cukup buat ngojol dari sore hingga subuh atau fajar.

Nah, sejak Pertamax naik 32,1 persen pada Rabu (10/6), dengan selembar uang 50 ribu, saya hanya dapat 3,07 liter. 

Alias, jarak tempuh saya sehari kini hanya mencapai 120 km. Berkurang 40 km akibat kenaikan Pertamax yang berarti menyusut seliter. 

YA, BEDA SELITER!

CUMA SELITER!

SELITER!

Bagi kalangan menengah ke bawah, termasuk saya, kenaikan Pertamax ini sangat berarti. 

Mungkin, kalangan buzzer laknat ada yang menyanggah. "Kan bisa pakai Pertalite?"

Hello...

Saya ojol yang bergerak di bidang pelayanan dan jasa.

Saya berusaha untuk melakukan yang terbaik bagi diri pribadi, pelanggan ojol, dan motor.

Itu mengapa, meski sudah enam tahun, motor saya masih nyaman dipakai. Sebab, saya rutin merawatnya. 

Ganti oli setiap dua pekan sekali (tiga pekan jika bokek), servis di bengkel resmi per dua bulan, sparepart orisinal semua. 

Termasuk, ban tubeless yang paling boros, ban depan ganti per 9-12 bulan dan ban belakang per enam bulan. Keduanya merek Michelin yang konon paling mahal, tapi berdasarkan pengalaman saya sangat awet. 

Maklum, ban termasuk komponen vital untuk motor. Sering aus atau botak. Merek ternama bikin saya aman jika kena paku atau ranjau paku payung di jalanan. Terakhir apes kena ranjau H2 Idul Fitri depan Stasiun Cawang atas.


*           *           *


KEMBALI ke BBM. Memang, motor saya bisa pakai Pertalite yang merupakan jenis subsidi dengan Ron 90. Sementara, Pertamax Ron 92 dan Pertamax Turbo Ron 98.

Namun, berdasarkan buku petunjuk manual di motor, rekomendasi bengkel, dan saran dari sesama ojol, Vario 125 saya lebih baik menggunakan Pertamax. Salah satu alasannya, terkait rasio kompresi mesin agar optimal.

Itu mengapa, sejak kali perdana memakainya pada Februari 2020, alias sebulan sebelum Pandemi, saya selalu menggunakan Pertamax. Tujuannya, demi keawetan motor yang terasa hingga kini tetap bandel sebagai mesin pencari nafkah.

Tentu, saya pernah pakai Pertalite. Beberapa kali malah. Namun, itu hanya karena terpaksa. 

Misal, saat Covid 19 yang berujung sulit orderan, mau ga mau, saya harus menekan pengeluaran dengan salah satunya pakai Pertalite. 

Juga, saat ke SPBU tapi stok Pertamax kosong, truknya lagi di jalan, atau masih diisi, jelas saya lebih milih Pertalite ketimbang nunggu lama.

Itu mengapa, kenaikan harga Pertamax bikin saya dan rekan-rekan ojol lainnya dilema. Serius. 

Secara, banyak ojol yang menggunakan motor di atas 125cc. Misalnya, Vario 160, Nmax, PCX, ADV, dan banyak lagi yang di aplikasi ojol masuk kategori Comford atau XL. Tarif sedikit lebih mahal.

Nah, naiknya Pertamax juga berkelindan dengan meroketnya harga-harga lainnya. Misal, air mineral botol ukuran 1.500ml di warung madura turut melonjak.

- Oasis kini Rp 5.000 dari sebelumnya Rp 4.000

- Vit dan Sanqua (Rp 4.500 dari 4.000)

- Aqua (Rp 6.000 dari Rp 5.000)

- Le Minerale (Rp 6.500 dari 5.500)

Begitu juga dengan gorengan seperti tempe, tahu isi, bala-bala, risol, cireng, dan sebagainya. Dulu, Rp 5.000 bisa dapat empat biji. Sekarang, mayoritas satuannya Rp 2.000, alias selembar Rp 10.000 hanya dapat lima aja.

Banyak lagi yang naik, oh iya oli juga euy saya dapat info dari bengkel, Sabtu kemarin sebelum ke GBK ada event Indonesia Open 2026, Kpop, dll. 

Banyak deh, cape saya bikin list-nya.

Wkwkwkwk.


*           *           *


IRONISNYA, ketika hidup masyarakat kian sulit akibat harga-harga pada naik, justru para pejabat memamerkan kemewahan dan hambur-hamburkan uang pajak.

Tone deaf.

Miris banget.

MBG hanya jadi bahan bancakan para elite saja.

Sebenarnya saya sudah nulis panjang hingga 2.000-2.500 kata di artikel ini dalam dua hari terakhir. Termasuk, reaksi saya dalam menjalankan orderan ojol yang ironisnya makin murah dengan adanya layanan hemat.

Namun, karena satu dan hal lainnya, saya pangkas jadi hanya setengahnya. Intinya, saya berharap para pejabat (eksekutif, legislatif, yudikatif) bisa memahami penderitaan masyarakat yang kian tercekik.

Saya ga mau terjadi, seperti isu yang ramai di medsos, jika kelak Pertalite naik akan berujung chaos. 

Harapan saya sebagai bagian dari masyarakat, agar pemerintah, termasuk presiden ga terlalu lama di menara gading hingga abai terhadap penderitaan rakyatnya.

Asa saya ini terkesan terlalu muluk-muluk, sebab mayoritas dari pejabat pada tone deaf. Namun, sebagai makhluk yang logis, saya percaya masih ada beberapa pejabat yang kompeten.

Ya, pepatah mengatakan, "selama gunung masih menghijau, jangan takut kehabisan kayu bakar". Alias, selagi napas masih tertiup, masih ada waktu untuk menyaksikan negeri ini lebih baik lagi.

Aamiin!***


*           *           *


Artikel Terkait:


- Sisi Lain Kerusuhan 28-31 Agustus: Demo Silakan, Anarkis Jangan! (https://www.roelly87.com/2025/09/sisi-lain-kerusuhan-28-31-agustus-demo.html)

- Anak Cowok Jadi Homo, yang Cewek Pelakor, dan Istri Kabur dengan Berondong: Kisah Tragis Eks Pejabat (https://www.roelly87.com/2026/04/anak-cowok-jadi-homo-yang-cewek-pelakor.html)

- Terjebak di Toilet SPBU Kuningan (https://www.roelly87.com/2024/10/terjebak-di-toilet-spbu-kuningan.html)

- Lulusan SMA Dibekali Senjata Itu Bernama Polisi (https://www.roelly87.com/2025/02/lulusan-sma-dibekali-senjata-itu.html)

- Saya Ga Menyesal Pilih Prabowo, Memang Kemampuannya B Aja (https://www.roelly87.com/2025/04/saya-ga-menyesal-pilih-prabowo-memang.html)

- Prabowo: Sang Penculik yang Berharap Mandat Langit (https://www.roelly87.com/2023/09/prabowo-sang-penculik-yang-berharap.html)

- Prabowo Gemoy, tapi Tangannya Berlumuran Darah (https://www.roelly87.com/2023/12/prabowo-gemoy-tapi-tangannya-berlumuran.html)

- Prabowo Presiden 2024, Ganjar Mendagri, Anies Menlu, dan AHY Menhan (https://www.roelly87.com/2023/12/prabowo-presiden-2024-ganjar-mendagri.html)

- Anies adalah Liu Bei, Mega = Sun Quan, dan Jokowi = Cao Cao? (https://www.roelly87.com/2024/08/anies-adalah-liu-bei-mega-sun-quan-dan.html)

- Dhani, Rizieq, dan Ahok Bersatu demi Indonesia

- 9 Naga dan 3 Capres

- Prabowo dan Kedaulatan Selera

- Prabowo Kembali ke Setelan Pabrik

- Brigitte Lin Ching-hsia yang Memesona (https://www.roelly87.com/2023/12/brigitte-lin-ching-hsia-yang-memesona.html)

- Palagan Pamungkas Prabowo: Menyelami Hati, Pikiran...

- Manusia Lebih Anjing daripada Anjing

- Di Bandung, Jokowi Kalah Populer Dibanding Ridwan Kamil

- Jokowi, Sang Gubernur Gaul

- Soe Hok Gie: Prabowo Cerdas tapi Naif


*           *           *


- Jakarta, 12 Juni 2026