Minggu, 29 Oktober 2023
Setelah 15 Tahun
Selasa, 19 Januari 2021
Ketika Garuda Sudah Tidak Lagi di Dadaku
Ketika Garuda Sudah Tidak Lagi di Dadaku
| Ilustrasi 300 drone membentuk konfigurasi Garuda pada countdown Asian Games 2018 (Sumber: Dokumentasi pribadi/www.roelly87.com) |
Kala sang Garuda terhenyak
Menyaksikan keanehan yang terjadi di dalam negeri
Entah kapan akan berakhir
Mirip cekcok Batara Guru dengan Pandawa
Seperti gonjang-ganjing di Suralaya
Hampir sama dengan di Senayan dan Istana
Begitulah yang terjadi di negeri ini
Padahal sewaktu perang kemerdekaan
Semua rakyat saling bersatu melawan penjajah
Semuanya, mulai dari pemuda, orang tua, ibu-ibu
Hingga anak-anak kecil
Bersatu padu membawa bambu runcing
Untuk melawan mesiu yang mendesing
Namun, 66 tahun kemudian
Keadaan sungguh terbalik
Sekarang
Bangsa ini sudah hebat
Sangat hebat malah!
Jangankan mesiu, rudal, roket, dan senjata super modern apapun akan kalah
Dan dihantam balik...
Namun, benar kata pepatah
"Tombak yang terang dapat ditangkis Tapi anak panah gelap, sukar diterka..."
Kawan, lihatlah kondisi bangsa ini sekarang
Penjajahan berlaku secara tidak langsung
Simaklah disekitar kita
Semua yang bernilai berbau luar
Serba "made in..."
Mulai dari elektronik, kendaraan, baju
Hingga hal-hal yang sepele sekalipun
Yaitu, gunting kuku...
Atau saksikanlah beberapa kejanggalan yang terjadi
Ketika beberapa pemimpin menyerukan perjuangan
Yah, perjuangan di masa perdamaian
Justru inilah yang paling sulit
Dibanding era kemerdekaan...
Dengan tekad berapi-api
Semangat berkobar menyala-nyala
Serta asa yang sangat menggebu
Namun tandas ketika sang lawan membisiki
"Ssst, pak
Damai saja
Ini ada selembar cek dalam amplop
Bapak bisa isi berapapun yang dimau."
Ketika Garuda sudah tidak lagi di dadaku...
Apakah kalimat itu terkesan vulgar?
Miripkah dengan kisah satir
Ataukah gembar-gembor belaka...
Entahlah, hanya...
Hati nurani kita sendiri yang tahu
Dan menyadarinya...
* * *
Puisi ini sebelumnya dimuat di Kompasiana pada satu dekade silam (https://www.kompasiana.com/roelly87/5508de76a3331124452e3960/ketika-garuda-sudah-tidak-lagi-di-dadaku)
- Jakarta, 23 Januari 2020
Jumat, 27 Oktober 2017
(Galeri Foto) Christie Damayanti Selenggarakan Pameran Filateli ke-13
| Pameran Filateli Kreatif "Peace and Freedom" di Mal Central Park yang berlangsung pada 23-29 Oktober ini (Klik untuk perbesar foto dan geser untuk melihat gambar lainnya) |
DARI miliaran manusia di kolong langit ini, Christie Damayanti salah satu yang paling bikin saya iri. Iri? Yupz, sangat iri.
Tentu, bukan ini karena Christie sering keliling dunia. Atau, terkait profesinya sebagai arsitek yang merancang berbagai bangunan ternama di negeri ini.
Melainkan, terkait semangatnya. Christie hebat karena bisa mengubah keterbatasan jadi kelebihan.
Yupz, hanya dengan tangan kiri -kanan lumpuh sejak 2010- Christie mampu beraktivitas seperti biasa dan berkarya (artikel sebelumnya: Ngobrol Bareng Christie Damayanti: Ngeblog sebagai Terapi Otak).
Menulis (mengetik) untuk media, blog, jurnal, dan sebagainya. Hingga, sudah 13 kali menyelenggarakan pameran filateli. Itu semua dilakukan sendiri. Mulai membuat proposal, dekorasi, menyusun koleksi, hingga beres-beres.
Padahal, saya yang dua tangan aktif saja, kadang terserang penyakit malas. Ini yang membuat saya iri dengan Christie.
"Kalau aku ga lumpuh karena stroke, mungkin aku ga bisa menyelenggarakan pameran seperti ini yang jadi hobi sejak kecil," kata Christie disela-sela membereskan ribuan koleksi prangko dan kartu pos di Mal Central Park, Rabu (25/10).
Christie berusaha melakukan itu sendiri. Baginya, keterbatasan bukan alasan untuk memperlihatkan kemampuannya. Termasuk, dengan menyelenggarakan pameran filateli kreatif dengan tema "Peace and Freedom" sejak Senin (23/10) hingga 29 Oktober mendatang.
"Tangan kananku sudah mati rasa sejak tujuh tahun silam. Tetapi, kan masih ada tangan kiri yang bisa digerakkan," peraih Kompasianer of the Year 2011 ini menambahkan.
Ternyata benar. Ombak dapat menyeret manusia dari bibir pantai. Namun, juga bisa mengantarkan perahu berlayar hingga ke ujung samudera.
Oh ya, pameran ini masih berlangsung hingga Minggu, lho! Anda dapat menyaksikan ribuan koleksi Christie dari prangko, kartu pos, surat,buku, perlengkapan filateli, hingga lukisan, tanpa dipungut biaya. Alias, secara gratis!
Mulai dari kerajaan Inggris Raya seperti Ratu Elizabeth, Putri Diana, aktor dan aktris Hollywood, pencinta seni, sosok penting di berbagai negara, Basuki Tjahaja Purnama, hingga Joko Widodo. Semua dipersembahkan Christie untuk pencinta filateli di Tanah Air.***
| Koleksi Christie mengenai Inggris Raya |
* * *
| Pameran ini merupakan yang ke-13 |
* * *
| Pameran di Central Park ini merupakan yang kedua bagi Christie setelah 2015 lalu |
* * *
| Christie bersama sahabatnya, yang merupakan fotografer Ang Giok Bing |
* * *
| Koleksi tentang Indira Ghandi |
* * *
| Surat-menyurat Christie dengan Disney sejak 1983 |
* * *
| Koleksi bertema Hollywood |
* * *
| Koleksi mengenai Basuki Tjahaja Purnama dan Joko Widodo usai mengikuti Kompasianival 2015 |
* * *
| Bagi Christie, keterbatasan tidak membuatnya hilang kreativitas |
* * *
- Ngobrol Bareng Christie Damayanti: Ngeblog sebagai Terapi Otak
- Yuk, Kunjungi Pameran Filateli Christie Damayanti di Central Park
- Resensi Buku Christie Damayanti: Ketika Tuhan Mengizikan Aku Sakit
- Pameran Filateli Perdana Christie Damayanti di Museum Prangko TMMI
- Rekam Jejak Satu Tahun IDKITA
Jumat, 14 Juli 2017
Mengintip Sisi Lain Faber-Castell
| Papan nama Faber-Castell di pabrik yang terletak di Kawasan Industri MM 2001 Cibitung, Bekasi, Jawa Barat (Klik untuk perbesar foto atau geser untuk melihat gambar lainnya) |
Termasuk, di Tanah Air yang masuk sejak 1990 dengan nama PT A.W Faber-Castell (Faber-Castell Indonesia). Saya pribadi tidak asing denga Faber-Castell. Sebab, sejak masih kanak-kanak hingga kini mayoritas rekan sebaya memiliki banyak anak, saya merupakan pengguna produknya.
Mulai dari pensil warna saat menggambar di sekolah, pensil 2B untuk ujian, sampai bolpoin yang menemani kegiatan sehari-hari saya di lapangan. Harus diakui jika di kalangan masyarakat umum termasuk saya, Faber-Castell dikenal sebagai brand premium.
Alias, harganya paling mahal ketimbang merek sejenis. Namun, seperti kata pepatah, ada harga tentu ada rupa. Alias, kita membayar apa yang memang pantas kita dapatkan.
Saat itu sudah berkumpul beberapa rekan kompasianer -julukan untuk penulis Kompasiana- bersama jajaran admin. Yupz, kehadiran saya di BBJ untuk mengikuti Kompasiana Visit ke pabrik Faber-Castell Kawasan Industri MM 2001 Cibitung, Bekasi, Jawa Barat.
Ini merupakan event offline Kompasiana perdana yang saya ikuti sepanjang 2017. Kali terakhir saya hadir di acara Kompasiana saat Kompasianival 2016 pada 8 Oktober lalu yang berlangsung di Gedung Smesco, Jakarta Selatan.
Itu mengapa, ketika registrasi pada 24 Juni lalu, saya menjawab alasan mengikuti Kompasiana Visit ini dengan, "Ingin mengikuti acara offline perdana Kompasiana pada 2017".
Bisa dipahami, mengingat sejak bergabung pada 2010 silam, saya kerap mengikuti acara yang diselenggarakan Kompasiana. Mulai dari Nangkring, Workshop, Blogshop, Kompasianival, hingga Visit ke berbagai pabrik.
Teranyar, pada Faber-Castell yang berbagai produknya sudah tidak asing bagi saya. Nah, di bawah ini rangkaian cerita foto terkait Kompasiana Visit dengan tema #Art4All.***
- Jakarta, 14 Juli 2017
Sabtu, 14 Mei 2016
Resensi Buku Hidup yang Lebih Berarti: Sosok Inspiratif untuk Dayakan Indonesia
| Koleksi buku "Hidup yang Lebih Berarti" bersama buku Kompasianer lainnya |
YEEEEE... Akhirnya, bertambah lagi koleksi buku Kompasiana saya. Sejak bergabung di jurnalisme warga ini lima tahun silam, tepatnya 11 Oktober 2011 atau nyaris seperlima usia, saya sudah mengoleksi berbagai buku Kompasiana.
Baik itu yang ditulis rekan sesama Kompasianer -julukan untuk blogger Kompasiana-, antologi fiksi bersama komunitas, atau antologi yang dibuat admin Kompasiana yang berjudul "Jelajah Negeri Sendiri". Untuk yang disebut terakhir, jelas membuat saya bangga. Sebab, terdapat empat artikel saya dalam buku tersebut.
Itu mengapa ketika saya promosikan di berbagai media sosial, banyak rekan sesama Kompasianer, Blogger, hingga keluarga yang kagum. Secara, sebagai blogger, menerbitkan buku bisa dikatakan sebagai puncak karier saya di dunia blogging. Apalagi, bisa bersanding dengan berbagai Kompasianer hebat lainnya yang diseleksi admin secara ketat.
Koleksi buku Kompasiana saya berawal ketika menghadiri launching Srondol Gayus ke Italy milik Hazmi Srondol. Kebetulan, hari ini tepat lima tahun, yang berlangsung pada 14 Mei 2011 di Mal Pejaten Village, Jakarta Selatan yang jadi titik awal saya ikut acara Kompasiana. Hingga saat ini, kalau tidak salah hitung, sudah lebih dari 50 buku Kompasiana yang saya koleksi. Sebagian masih ada dan beberapa di antaranya saya bagi kepada sesama rekan Kompasianer di luar.
Teranyar, saya mendapat koleksi buku antologi Kompasiana berjudul "Hidup yang Lebih Berarti". Itu setelah saya menghadiri acara peluncurannya bertema "Sosok Inspiratif untuk Dayakan Indonesia" di Menara BTPN, Jakarta Selatan, Kamis (21/4).
Dalam acara tersebut, turut hadir empat pembicara yang didampingi admin Kompasian selaku moderator, Nurulloh. Yaitu, Andrie Darusman selaku Daya Head Bank BTPN, Taryat (pengusaha cokelat Alia), Pepih Nugraha (COO Kompasiana), dan Mejawati Oen (salah satu Kompasianer penulis buku).
"SAMPAH hanya akan jadi sampah tak berguna kalau kalau tidak diolah dan dimanfaatkan jadi kerajinan tangan, jadi batako, pupuk, dan seterusnya." Demikian, pernyataan Pepih dalam kata pengantar buku "Hidup yang Lebih Berarti: Sosok Inspiratif untuk Dayakan Indonesia".
Apa yang dikatakan penulis "Citizen Journalism: Pandangan, Pemahaman, dan Pengalaman" ini mengingatkan saya pada adagium lawas, "Air bisa membuat perahu berlayar, tapi juga dapat menenggelamkannya". Alias, sesuatu dapat baik atau tidak, tergantung apa yang kita lakukan.
Banyak inspirasi yang dapat dimanfaatkan dan aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dari buku setebal 190 halaman ini. Kebetulan, dari 20 penulis, sebagian besar sudah saya kenal karena kerap berinteraksi di Kompasiana, baik secara offline maupun online.
Salah satunya, tentang Taryat dan Eli Darniati, yang membuka usaha cokelat dengan merek Alia Chocolate dan Nuhun Cokelat yang berawal dari hobi. Kisah pasangan suami istri yang dituturkan Kompasianer Khairunisa Maslichul itu sangat menarik. Sebab, menceritakan bagaimana produk mereka dapat diterima pasar dengan modal nekat hingga jatuh, bangun, jatuh, dan bangun lagi.
Tepatnya ketika kantor kerja Taryat bermasalah hingga di ambang Pemecatan Hubungan Kerja (PHK). Itu diungkapkan pria 40 tahun ini pada halaman 123, "Modal kami berbisnis cokelat lebih tepatnya karena nekat setelah merasaksn sendiri suka-duka bekerja untuk orang lain."
Selain nekat, salah satu pelajaran yang bisa dipetik dari pasangan tersebut tentu mengenai tahan mental. Terutama karena mereka menyadari produknya hanya cemilan ringan dan bukan termasuk kebutuhan pokok. Alhasil, Taryat-Eli harus mendapat berbagai pengalaman pahit dan manis, terutama ketika ditolak mentah-mentah penjaga toko saat hendak menitipkan produknya.
"Dipandang sebelah mata sudah jadi santapan sehari-hari saat awal kami berpromosi produk Alia Chocolate dari satu lokasi ke lokasi lainnya," Taryat, mengungkapkan. "Bahkan, tetangga dulu sempat memandang kami sebelah mata. Mereka tak habis pikir, sejrana kok hanya berjualan cokelat? Namun, kini hasilnya ternyata produk cokelat saya disambut baik dan lumayan banyak terjual."
Kini, sekitar 300 toko yang tersebar di Bogor, Jakarta, Sukabumi, Ciannjur, hingga Purwakarta yang terjauh, jadi mitra usaha mereka. Tak heran jika Taryat dan Eli mampu meraup omzet mencapai Rp 20 juta - Rp 35 juta per bulan yang tergolong usaha mikro. Taryat menambahkan dalam sesi tanya jawab di Gedung BTPN bersama puluhan Kompasianer, bahwa setiap jelang lebaran, pesanan mereka melonjak drastis.
Maklum, pada usianya yang tidak jauh beda dengan saya, tepatnya Syarief 25 tahun, sudah memilih untuk membangun desa melalui sektor pertanian yang tentu jarang dilirik orang. Bahkan, kalau boleh jujur, sektor itu justru banyak ditinggalkan para pemuda di desa saat ini.
Namun, intuisi Syarief ternyata tepat. Lantaran, kediamannya yang terletak di Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor ini, memiliki potensi pertanian. Dengan tanah yang subur dilengkapi irigasi yang mendukung, menjadikan desa mereka sebagai salah satu penghasil tanaman pangan dan palawija.
Hebatnya lagi, Syarief yang tidak memiliki latar belakang sarjana pertanian, sukses mengubah pandangan masyarakat, terutama pemuda setempat dengan membentuk kelompok yang disebut "Taruna Tani". Bahwa, pertanian bukanlah pekerjaan yang kumuh dan kotor. Bahkan, dengan kegigihannya, Syarief sukses mengembangkan jambu kristal dengan rata-rata panen 200-250 kg per bulan.
"Kota Roma tidak dibangun dalam semalam". Mungkin, adagium itu yang tepat saya sematkan pada kisah Syarief yang dituturkan Evrina dengan sangat rinci hingga memotivasi pembaca. Terutama kaum pemuda yang merupakan tulang punggung negara ini.
Sebab, harus diakui jika tidak mudah bagi Syarief untuk mengajak rekannya sesama pemuda di desanya untuk jadi petani. Butuh pendekatan secara personal dan sosialisasi kepada masyarakat setempat secara intens yang dilakukan pria yang lulus kuliah pada 2013 ini. Namun, hasilnya bisa terlihat saat ini.
Melalui jambu kristal, Syarief sukses mengembangkan potensi lokal untuk meningkatkan kesejahteraan petani serta keluarga. Termasuk, menyediakan lapangan pekerjaan yang secara tidak langsung sukses mendukung program pemerintah demi mengurangi tingkat kemiskinan masyarakat.
Selain Syarief dan Taryat, tentu masih banyak individu di negeri ini yang sudah berusaha untuk dayakan Indonesia. Termasuk, apa yang ditulis dari 18 rekan Kompasianer lainnya demi membuat hidup yang lebih berarti.
Ya, Mereka sudah melakukan sesuatu untuk hidup yang berarti. Selanjutnya, giliran kita yang turut dayakan Indonesia.
Judul: Hidup yang Lebih Berarti
Penulis: 20 Blogger Kompasiana
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Rilis: April 2016
Halaman: 190
ISBN: 978-602-02-7978-7
| Gedung Bank BTPN di Kuningan |
| Isi daftar absensi Kompasianer |
| Nurullah selaku moderator membuka acara Coverage launching buku Hidup yang Lebih Berarti |
| Daya Head Bank BTPN Andrie Darusman (kiri) |
| COO Kompasiana Pepih Nugraha (tengah) |
| Kompasianer Mejawati Oen (tengah) |
| Narasumber dalam buku yang merupakan pengusaha cokelat, Taryat (kiri) |
| Ada yang unik dengan foto ini? #1 |
| Ada yang unik dengan foto ini? #2 |
| Produk dari Taryat, Alia Chocolate dan Nuhun Cokelat |
| Salah satu mural/lukisan dinding yang saya suka mengenai susasna pasar di tengah sungai |
- Resensi Novel Dian Kelana: Seorang Balita di Tengah Pergolakan PRRI
- Celoteh Kompasianer TeDe 2 (Thamrin Dahlan)
- Macaroon Love (Winda Krisnadefa)
- 15 November (Anazkia)
- Citizen Journalism (Pepih Nugraha)
- Ketika Tuhan Mengizinkan Aku Sakit (Christie Damayanti)
- Karma: Cepat Datangnya (Arimbi Bimoseno)
- Bukan Orang Terkenal 1 (Thamrin Dahlan)
- 66 Jurus Mabuk Buat Ngeblog (Suka Ngeblog)
- Kompilasi Kompasianer (1)
- Mengintip Kasus Medis di Balik Ruang Praktek Dokter 1 (Posma Siahaan)
- Resensi Buku Fenomenologi Wanita Ber-High Heels
- "Jakarta Banget" Mengupas Sisi Lain Kehidupan Jakarta
- "Tembang Cinta Para Dewi" Kisah Cinta yang Getir dari Dunia Wayang
- Kurt Cobain: Musik, Gaya Hidup, Narkoba, dan Kematian!
- Perempuan Tuna Rungu Menembus Batas: Kisah Inspiratif dari Angkie Yudistia
- The Last Empress: Sisi Lain dari Seorang Perempuan yang Berkuasa
- Empress Orchid: Kisah Selir yang Menyelamatkan Dinasti dari Keruntuhan
- Yakuza Moon: Potret Nyata Kehidupan Gadis Jepang





