TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Kompasiana

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label Kompasiana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kompasiana. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Oktober 2023

Setelah 15 Tahun

Setelah 15 Tahun
@roelly87


SETELAH belasan purnama, akhirnya saya bisa menghadiri lagi acara Kompasiana. Tepatnya, dalam event bertajuk Syukuran Ulang Tahun dan Champions Meetup yang diselenggarakan di O2 Corner Co-Working Space, Gedung Kompas Gramedia, Palmerah Selatan, Jakarta Pusat, Sabtu (28/10).

Ini merupakan acara Kompasiana pertama yang saya ikuti sejak Kompasianival 2019. Saat itu, saya turut menghadiri event akbar terakhir sebelum pandemi ini yang diselenggarakan di One Belpark Mall, Jakarta Selatan.

Hanya, memang setelah itu saya sempat hiatus. Bahkan, terakhir nulis aja, Agustus 2018 silam.

Alias, lebih dari lima tahun lalu!

Hingga, akhirnya saya kembali nulis pada pertengahan bulan ini. Namun, itu juga cuma mindahin dari blog pribadi.

Bahkan, saat memposting artikel kedua -masih dari blog pribadi-, sempat dapat "Surat Cinta" dari admin. Alias, diberi peringatan akibat disangka tulisan saya hasil dari copas konten lain yang berujung dihapus.

Sontak, saya kaget. Maklum, seumur-umur ngeblog, saya belum pernah jiplak artikel orang secara keseluruhan. Kalo ngutip pun disertakan sumbernya.

Saya pun langsung balas chat tersebut sambil menjelaskan itu copas dari blog pribadi. Sayangnya, hanya dijawab pesan otomatis dari sistem.

Hmm...

Plan kedua. Saya inget ada beberapa admin yang saya kenal di IG. 

Langsung, saya DM. Sebelumnya, saya tanya dulu, apakah S&K masih membolehkan copas dari blog pribadi. 

Dijawabnya, boleh. Okok. Ga lama, artikelnya nongol lagi. Yuppiii!

Beberapa hari berselang, saya di-inbox salah satu admin untuk menghadiri acara Kompasiana. Awalnya, saya kirain Kompasianival. 

Namun, dijawabnya bukan. Melainkan, syukuran HUT Kompasiana ke-15.

Ya, Kompasiana resmi mengudara pada 22 Oktober 2008. Berselang hampir 24 bulan, saya pun gabung. 

Alias, 11 Oktober 2010 silam. Udah lumayan lama juga!

*       *       *

SIANG itu, suhu udara di jembatan yang menghubungkan Provinsi Banten dengan DKI Jakarta tampak panas. Teriknya, nampol.

Maklum, hanya seperlemparan batu itu laut. Ditambah, tengah hari bolong. Lengkap sudah.

Memang, sebagai ojek online (ojol), panas dan macet udah jadi santapan sehari-hari. Namun, teriknya di pinggir laut sungguh sangat menyengat ketimbang di Jakarta.

Saya pun melajukan sepeda motor dengan konstan.

Kebetulan, sejak pagi saya sudah ada di Teluk Naga, Kabupaten Tangerang. Tepatnya, usai mengantar barang di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) 2. 

Hanya, hingga sepernanakan nasi, orderan arah Jakarta yang saya tunggu tak kunjung tiba. Kendati, saya sudah menyalakan lima aplikasi ojol/kurir online sekaligus.

Saya lirik jam, sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB lewat. Padahal, acara syukuran Kompasiana berlangsung pukul 15.30 WIB.

Memang sih, dari PIK 2 ke Palmerah yang berjarak 30 km tipis-tipis ini bisa ditempuh sekitar 1-1.5 jam. Apalagi, Sabtu ini jalanan ibu kota ga terlalu macet dibanding hari kerja.

Namun, saya masih galau. Sebab, sebagai ojol, "balik kosongan" itu gimana ya. 

Alhasil, saya pun masih nunggu. Maksimal, sebelum pukul 15.00 WIB.

Sebelumnya, memang sudah ada orderan masuk. Sayangnya, bukan arah Palmerah atau sekitarnya.

Melainkan, ke Cisauk, Serpong, dan Balaraja, yang tentu saya tolak. Maklum, malah tambah jauh dari tujuan.

Beruntung, sekitar pukul 14.00 WIB lewat, salah satu dari lima aplikasi bunyi. Yaitu, kirim barang ke Tanjung Duren. 

Aman. Secara, dari Tandur ke Palmerah tinggal lurus. 

Sang empunya mengabari, barangnya ini berisi sparepart kendaraan. Setelah saya cek, ga masalah. Dimensinya masih terjangkau untuk dibawa dengan motor meski beratnya lumayan.

Bisa dipahami mengingat saya sudah sering membawa barang yang melebihi dimensi. Apalagi, saat awal pandemi ketika ojol dilarang mengangkut penumpang yang membuat saya harus adaptif demi dapur ngebul.

Mulai dari ban mobil, guci, akuarium, hingga kulkas dua pintu. Kulkas? 

Yoi. Ga masalah, secara sudah diikat dengan rapi oleh karyawan tokonya. Jadi, saya tinggal antar saja. 

Paling-paling keringet dingin kalo lupa isi bensin. Ha ha ha.

Namun, saya punya satu pantangan hingga kini. Yaitu, mengantar kue ulang tahun. 

Sumpah, itu sangat mengerikan. Pertama dan terakhir saya ambil orderan itu pada 2019 lalu saat masih cupu jadi ojol.

Sangat merepotkan karena harus ditenteng dengan satu tangan. Pasalnya, jika diletakkan di jok belakang riskan penyok.

Maklum, namanya kue ulang tahun ya harus sempurna. Saya ingat keluhan salah satu rekan ojol yang harus ganti rugi sebesar Rp 400 ribu lebih akibat kue ulang tahunnya gompal dikit di sudutnya. Itu yang bikin saya was-was.

Selain kue ulang tahun, saya ga punya pantangan lagi dalam mengantar barang, makanan, hingga penumpang. Termasuk, jika tujuannya aneh-aneh.

Misalnya, yang hendak Open BO. Saya ga peduli selama tidak melanggar 3 hal: Hukum, moral, dan agama. 

Tugas saya sebagai ojol sebatas mengantar. Baik itu ke tempat prostitusi atau rumah ibadah seperti pengajian, tabligh akbar, dan misa gereja, bagi saya ga masalah.

Hanya, memang ada garis batasnya.

Misal, saya enggan mengantar penumpang ke tempat rawan narkoboy atau aborsi. Ngeri jadi saksi, euy! 

Juga jika harus kirim barang ke penjara yang memang dalam beberapa aplikasi sudah ada larangan dalam ketentuannya. 

*       *       *

AKHIRNYA, setelah lebih dari seperminuman teh, saya pun tiba di Gedung Kompas. Namun, acaranya sudah berlangsung dari tadi. 

Alias, saya telat!

Tapi, ga apa-apa. Yang penting sudah usaha. 

Sambil menyalami beberapa rekan Kompasianer diiringi menyeruput es jeruk yang tersedia, saya mendengar paparan dari tiga perwakilan Kompasiana. Mulai dari Widha Karina, Kevin Legion, dan Nurulloh.

Eh, di kursi depan, ada dua sosok yang familiar. Yaitu, Pepih Nugraha yang menginiasi Kompasiana dan Iskandar Zulkarnaen.

Saat masih aktif di Kompasiana pada 2011-2017, saya sering bertemu mereka. Bisa dibilang, keduanya -bersama beberapa rekan Kompasianer lain- termasuk mentor saya dalam menulis. 

Saya memang sudah punya blog pribadi sejak 2009. Namun, saat itu masih random. 

Alias, ga jelas baik dalam kaidah bahasa, kosakata, maupun inti penyampaian. Ha ha ha.

Maklum, ketika itu saya sekadar menyalurkan hobi. Ada yang baca ok, ga ada juga ok.

Hingga, saya gabung di Kompasiana dan belajar banyak tentang menulis bersama rekan-rekan Kompasianer lainnya. Baik itu diselenggarakan online maupun offline, seperti Kompasiana Blogshop di Djakarta Teather pada November 2011. 

Tak heran jika 11 tahun silam, saya menyebut, Kompasiana sebagai Kawah Candradimuka. Ya, selain saya, juga banyak Kompasianer lainnya yang sama-sama belajar nulis dari Kompasiana.

Saya aja kaget pas ngecek artikel di Kompasiana sudah mencapai ratusan. Bahkan, dulu kalo ada event menulis, termasuk fiksi, bisa posting setiap hari.

*       *       *

HANYA, tiada pesta yang tak berakhir. Adakalanya, timbul rasa jenuh. Itu manusiawi. 

Termasuk, saya yang sejak 2018 sudah mulai jarang aktif di Kompasiana, baik secara offline maupun online. Meski, pada saat yang sama saya tetap update blog pribadi.

Padahal, saya sempat hadir di Kompasianival 2019 seperti yang tertera di awal artikel ini. Hanya, untuk mempostingnya, berat.

...dan...

Ditambah, tampilan Kompasiana seperti kurang bersahabat bagi pengguna ponsel. Keluhan ini yang sudah saya sampaikan kepada salah satu admin disela-sela syukuran.

Memang, jika buka di komputer atau laptop, masih normal. Namun, jika buka di ponsel, loadingnya lama dan tampilan aneh. 

Padahal, saya biasa menggunakan browser Google Chrome atau Opera Mini. UI-nya kurang responsif. 

Ditambah dengan setiap artikel yang harus dipecah hingga beberapa halaman. Saya aja kadang malas lihat artikel sendiri karena harus klik beberapa kali.

Mungkin, ini catatan sekaligus masukan dari saya kepada Kompasiana yang 22 Oktober 2024 genap dua windu. Semoga, semakin tambah usia tidak berada di menara gading.***

- Jakarta, 29 Oktober 2023

Artikel Sebelumnya: 

https://www.kompasiana.com/roelly87/550e4383813311842cbc62fd/satu-tahun-di-kompasiana-belajar-ngeblog-dan-ngeblog-sembari-belajar

https://www.kompasiana.com/roelly87/5518449a8133118c669dee5e/jose-mourinho-dua-tahun-di-kompasiana-dan-kawah-candradimuka

https://www.kompasiana.com/roelly87/552ac559f17e61703dd623dd/tiga-hattrick-dan-treble?page=all#section1

https://www.kompasiana.com/roelly87/5518b9b4a333118c10b6593d/kompasiana-berusia-empat-tahun-selanjutnya

https://www.kompasiana.com/roelly87/5800853b3eafbdc6128b4568/di-balik-kompasianival-2016?page=all

Selasa, 19 Januari 2021

Ketika Garuda Sudah Tidak Lagi di Dadaku

 Ketika Garuda Sudah Tidak Lagi di Dadaku

Ilustrasi 300 drone membentuk konfigurasi Garuda pada
countdown Asian Games 2018
(Sumber: Dokumentasi pribadi/www.roelly87.com)


Kala sang Garuda terhenyak
Menyaksikan keanehan yang terjadi di dalam negeri
Entah kapan akan berakhir
Mirip cekcok Batara Guru dengan Pandawa
Seperti gonjang-ganjing di Suralaya 

Hampir sama dengan di Senayan dan Istana
Begitulah yang terjadi di negeri ini
Padahal sewaktu perang kemerdekaan 

Semua rakyat saling bersatu melawan penjajah
Semuanya, mulai dari pemuda, orang tua, ibu-ibu
Hingga anak-anak kecil
Bersatu padu membawa bambu runcing
Untuk melawan mesiu yang mendesing 

Namun, 66 tahun kemudian
Keadaan sungguh terbalik
Sekarang
Bangsa ini sudah hebat
Sangat hebat malah! 

Jangankan mesiu, rudal, roket, dan senjata super modern apapun akan kalah
Dan dihantam balik... 

Namun, benar kata pepatah
"Tombak yang terang dapat ditangkis Tapi anak panah gelap, sukar diterka..." 

Kawan, lihatlah kondisi bangsa ini sekarang
Penjajahan berlaku secara tidak langsung
Simaklah disekitar kita
Semua yang bernilai berbau luar

Serba "made in..."
Mulai dari elektronik, kendaraan, baju
Hingga hal-hal yang sepele sekalipun
Yaitu, gunting kuku... 

Atau saksikanlah beberapa kejanggalan yang terjadi
Ketika beberapa pemimpin menyerukan perjuangan
Yah, perjuangan di masa perdamaian
Justru inilah yang paling sulit
Dibanding era kemerdekaan... 

Dengan tekad berapi-api
Semangat berkobar menyala-nyala
Serta asa yang sangat menggebu
Namun tandas ketika sang lawan membisiki 

"Ssst, pak
Damai saja
Ini ada selembar cek dalam amplop
Bapak bisa isi berapapun yang dimau." 

Ketika Garuda sudah tidak lagi di dadaku...
Apakah kalimat itu terkesan vulgar?
Miripkah dengan kisah satir
Ataukah gembar-gembor belaka... 

Entahlah, hanya...
Hati nurani kita sendiri yang tahu
Dan menyadarinya...

*         *         *

Puisi ini sebelumnya dimuat di Kompasiana pada satu dekade silam (https://www.kompasiana.com/roelly87/5508de76a3331124452e3960/ketika-garuda-sudah-tidak-lagi-di-dadaku)

- Jakarta, 23 Januari 2020

Jumat, 27 Oktober 2017

(Galeri Foto) Christie Damayanti Selenggarakan Pameran Filateli ke-13


Pameran Filateli Kreatif "Peace and Freedom" di Mal Central Park yang
berlangsung pada 23-29 Oktober ini
(Klik untuk perbesar foto dan geser untuk melihat gambar lainnya)


DARI miliaran manusia di kolong langit ini, Christie Damayanti salah satu yang paling bikin saya iri. Iri? Yupz, sangat iri.

Tentu, bukan ini karena Christie sering keliling dunia. Atau, terkait profesinya sebagai arsitek yang merancang berbagai bangunan ternama di negeri ini.

Melainkan, terkait semangatnya. Christie hebat karena bisa mengubah keterbatasan jadi kelebihan.

Yupz, hanya dengan tangan kiri -kanan lumpuh sejak 2010- Christie mampu beraktivitas seperti biasa dan berkarya (artikel sebelumnya: Ngobrol Bareng Christie Damayanti: Ngeblog sebagai Terapi Otak).

Menulis (mengetik) untuk media, blog, jurnal, dan sebagainya. Hingga, sudah 13 kali menyelenggarakan pameran filateli. Itu semua dilakukan sendiri. Mulai membuat proposal, dekorasi, menyusun koleksi, hingga beres-beres.

Padahal, saya yang dua tangan aktif saja, kadang terserang penyakit malas. Ini yang membuat saya iri dengan Christie.

"Kalau aku ga lumpuh karena stroke, mungkin aku ga bisa menyelenggarakan pameran seperti ini yang jadi hobi sejak kecil," kata Christie disela-sela membereskan ribuan koleksi prangko dan kartu pos di Mal Central Park, Rabu (25/10).

Christie berusaha melakukan itu sendiri. Baginya, keterbatasan bukan alasan untuk memperlihatkan kemampuannya. Termasuk, dengan menyelenggarakan pameran filateli kreatif dengan tema "Peace and Freedom" sejak Senin (23/10) hingga 29 Oktober mendatang.

"Tangan kananku sudah mati rasa sejak tujuh tahun silam. Tetapi, kan masih ada tangan kiri yang bisa digerakkan," peraih Kompasianer of the Year 2011 ini menambahkan.

Ternyata benar.  Ombak dapat menyeret manusia dari bibir pantai. Namun, juga bisa mengantarkan perahu berlayar hingga ke ujung samudera.

Oh ya, pameran ini masih berlangsung hingga Minggu, lho! Anda dapat menyaksikan ribuan koleksi Christie dari prangko, kartu pos, surat,buku, perlengkapan filateli, hingga lukisan, tanpa dipungut biaya. Alias, secara gratis!

Mulai dari kerajaan Inggris Raya seperti Ratu Elizabeth, Putri Diana, aktor dan aktris Hollywood, pencinta seni, sosok penting di berbagai negara, Basuki Tjahaja Purnama, hingga Joko Widodo. Semua dipersembahkan Christie untuk pencinta filateli di Tanah Air.***


*      *      *
Koleksi Christie mengenai Inggris Raya

*      *      *
Pameran ini merupakan yang ke-13

*      *      *
Pameran di Central Park ini merupakan yang kedua bagi Christie setelah 2015 lalu

*      *      *
Christie bersama sahabatnya, yang merupakan fotografer Ang Giok Bing

*      *      *
Koleksi tentang Indira Ghandi

*      *      *
Surat-menyurat Christie dengan Disney sejak 1983

*      *      *
Koleksi bertema Hollywood

*      *      *
Koleksi mengenai Basuki Tjahaja Purnama dan Joko Widodo usai mengikuti
Kompasianival 2015

*      *      *
Bagi Christie, keterbatasan tidak membuatnya hilang kreativitas 

*      *      *

- Jakarta, 27 Oktober 2017

Jumat, 14 Juli 2017

Mengintip Sisi Lain Faber-Castell

Mengintip Sisi Lain Faber-Castell

Papan nama Faber-Castell di pabrik yang terletak di Kawasan Industri
MM 2001 Cibitung, Bekasi, Jawa Barat
(Klik untuk perbesar foto atau geser untuk melihat gambar lainnya)

FABER-Castell merupakan produsen alat tulis terbesar dan tertua di dunia. Faber-Castell didirikan lebih dari dua abad lampau. Tepatnya, pada 1761 yang kini dikelola generasi kesembilan. Sejak saat itu, Faber-Castell berkembang jadi perusahaan penyedia peralatan sekolah dan kantor.

Termasuk, di Tanah Air yang masuk sejak 1990 dengan nama PT A.W Faber-Castell (Faber-Castell Indonesia). Saya pribadi tidak asing denga Faber-Castell. Sebab, sejak masih kanak-kanak hingga kini mayoritas rekan sebaya memiliki banyak anak, saya merupakan pengguna produknya.

Mulai dari pensil warna saat menggambar di sekolah, pensil 2B untuk ujian, sampai bolpoin yang menemani kegiatan sehari-hari saya di lapangan. Harus diakui jika di kalangan masyarakat umum termasuk saya, Faber-Castell dikenal sebagai brand premium.

Alias, harganya paling mahal ketimbang merek sejenis. Namun, seperti kata pepatah, ada harga tentu ada rupa. Alias, kita membayar apa yang memang pantas kita dapatkan.

*       *       *
PAGI itu, Selasa (11/7) matahari tampak malu-malu untuk memancarkan sinarnya. Dengan mengendarai sepeda motor, saya membelah jalanan ibu kota menuju kawasan Bentara Budaya Jakarta (BBJ), Palmerah Selatan, Jakarta Pusat.

Saat itu sudah berkumpul beberapa rekan kompasianer -julukan untuk penulis Kompasiana- bersama jajaran admin. Yupz, kehadiran saya di BBJ untuk mengikuti Kompasiana Visit ke pabrik Faber-Castell Kawasan Industri MM 2001 Cibitung, Bekasi, Jawa Barat.

Ini merupakan event offline Kompasiana perdana yang saya ikuti sepanjang 2017. Kali terakhir saya hadir di acara Kompasiana saat Kompasianival 2016 pada 8 Oktober lalu yang berlangsung di Gedung Smesco, Jakarta Selatan.

Itu mengapa, ketika registrasi pada 24 Juni lalu, saya menjawab alasan mengikuti Kompasiana Visit ini dengan, "Ingin mengikuti acara offline perdana Kompasiana pada 2017".

Bisa dipahami, mengingat sejak bergabung pada 2010 silam, saya kerap mengikuti acara yang diselenggarakan Kompasiana. Mulai dari Nangkring, Workshop, Blogshop, Kompasianival, hingga Visit ke berbagai pabrik.

Teranyar, pada Faber-Castell yang berbagai produknya sudah tidak asing bagi saya. Nah, di bawah ini rangkaian cerita foto terkait Kompasiana Visit dengan tema #Art4All.***

*       *       *
Kami kumpul di BBJ pada Selasa (11/7) sekitar pukul 07.00 WIB. Seperti biasa, aksi jepret-menjepret jadi ritual wajib. Baik itu selfie, wefie, atau foto berjamaah dengan spanduk Kompasiana Visit Pabrik Faber-Castell. Untuk berbagai foto lainnya, sebagian sudah saya unggah di twitter dengan tagar #FaberCastell, #Art4All, dan #KompasianaVisit.
*       *       *
Di balik suksesnya suatu acara, ada panitia yang berkerja dengan keras dan cerdas. Ini bisa dilihat dari admin dan bagian marcomm yang jemput bola mendata kami serta menyiapkan banner untuk foot bersama.
*       *       *
Menurut aplikasi google maps di ponsel saya, estimasi dari BBJ ke pabrik Faber-Castell sekitar 2,5 jam. Namun, karena padatnya jalanan seperti yang tertera pada GPS dengan warna merah menandai macet membuat kami perjalanan nyaris dua kali lipat. 
*       *       *
Saya melirik waktu di ponsel ketika sampai di pabrik Faber-Castell sekitar pukul 12.30 WIB. Meski lumayan pegal duduk terus di bus, tidak menghalangi antusiasme saya dan belasan rekan Kompasiana lainnya. Tampak, pernyataan dari PT Faber-Castell International Indonesia yang mengingatkan kepadan calon karyawan untuk melamar tidak dipungut biya. PT Faber-Castell International Indonesia merupakan bagian dari Faber-Castell Indonesia bersama PT A.W Faber-Castell (FCI) dan PT Pencil Leads Indonesia.
*       *       *
Dua tamu yang melapor ke petugas keamanan sebelum masuk pabrik. Seperti beberapa pabrik lainnya, PT Faber-Castell International Indonesia mewajibkan setiap tamu yang datang untuk lapor ke petugas keamanan demi kenyamanan bersama. 
*       *       *
PT Faber-Castell International Indonesia sangat memerhatikan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) bagi setiap karyawan. Mereka menyebar papan informasi di berbagai titik yang mudah dibaca 
*       *       *
Papan Informasi Peduli terhadap Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang dipasang di samping pos security dan berbagai dinding pabrik. Termasuk, tips hidup bersih dan sehat. Sekilas, terkesan sepele, tapi ini penting bagi karyawan yang jadi ujung tombak perusahaan.
*       *       *
Saya percaya, rumah yang sehat bisa dilihat dari toiletnya yang mencerminkan penghuninya. Begitu juga dengan pabrik yang memproduksi barang bisa dilihat dari kebersihan toiletnya yang berkolerasi dengan higienis suatu produk. Itu yang saya rasakan usai turun dari bus untuk cuci muka di toilet yang terletak di lantai dua pabrik Faber-Castell.
*       *       *
Faber-Castell mewajibkan setiap karyawan untuk mengimplementasi disiplin 5R. Yaitu, ringkas, rapi, resik, rawat, dan rajin. 
*       *       *
Nah, ini saya sedang memandu rekan-rekan Kompasianer di pabrik Faber-Castell! Upz, ini hanya foto narsis ketika berbincang dengan karyawan Faber-Castell terkait sejarah pabrik di Cibitung yang sudah beroperasi sejak 2003 silam. Ujung-ujungnya, ya saya minta difoto dengan latar belakang pabrik! He he he
*       *       *
Implementasi disiplin 5R terlihat nyata ketika kami bersama perwakilan Faber-Castell melihat langsung proses produksi Connector Pen. Demi keamanan dan keselamatan, baik karyawan maupun tamu diingatkan untuk tidak melewati garis kuning. Sementara, tanda garis merah menunjukkan wilayah terbatas seperti panel listrik dan sebagainya yang hanya boleh ditujukan untuk karyawan atau petugas khusus.
*       *       *
Di pabrik Faber-Castell Cibitung ini memproduksi Connector Pen. Selain di Cibitung, Faber-Castell juga memiliki pabrik lainnya di Bekasi untuk memproduksi pensil.
*       *       *
Rekan-rekan Kompasianer antusias menjelaskan proses produksi Connector Pen dari Factory Manager Faber-Castell Mulyadi Gunawan. Saya baru tahu di balik mahalnya setiap produk Faber-Castell ternyata karena bahan yang digunakan memang eksklusif. Misalnya, untuk pensil, mereka mendapat pemasok dari produsen kayu yang sudah memiliki sertifikasi dari Forest Stewardship Council (FSC).  Setiap pabrik Faber-Castell diuji dengan ISO 9000 yang memiliki standar internasional.
*       *       *
Proses dari hulu ke hilir produk Faber-Castell. Di pabrik Cibitung, menggunakan tinta yang sesuai standar internasional EN71 (non-toxic). Itu mengapa setiap produk Faber-Castell bebas zat berbahaya yang ramah untuk anak. Bahkan, jika tintanya tertelan tanpa sengaja tetap aman. 
*       *       *
Suasana pengepakan Connector Pen yang dilakukan karyawan. Di pabrik Cibitung ini sangat memerhatikan lingkungan. Limbah warna dari Connector Pen dimurnikan lagi sebelum dibuang. Mesin-msinnya juga elektrik yang sesuai standar ISO 9000 dan 14000 yang ramah bagi lingkungan.
*       *       *
Presiden Direktur Faber-Castell International Indonesia Yandramin Halim menjelaskan sejarah panjang Faber-Castell sejak didirikan sejak 1761. Meski kini memasuki era digital, Halim membeberkan fakta, penjualan Faber-Castell terus naik. Maklum, berbagai produk Faber-Castell tetap dipakai setiap hari untuk sekolah atau perkantoran.
*       *       *
Publik Relations Manager Faber-Castle Andri Kurniawan menjelaskan kepada kami maksud dari kampanye #Art4All. Menurut sosok yang sudah jadi Kompasianer sejak 2012 ini, Faber-Castell kerap mengadakan lomba menulis, menggambar, dan workshop untuk anak-anak. Bahkan, hadiahnya tidak tanggung-tanggung, diterbangkan langsung ke Jerman! Beberapa karya lomba juga dibuatkan jadi buku.
*       *       *
Saat sesi tanya jawab, rekan Kompasianer Gaper Fadli melemparkan pertanyaan mengenai berbagai produk Faber-Castell di Tanah Air. Termasuk, pada era digitalisasi sekarang yang ternyata malah tidak berpengaruh pada penjualan Faber-Castle. Bagaimanapun, digital tidak bisa memberi pengalaman yang alami seperti halnya dalam menulis atau menggambar. Apalagi, dunia pendidikan masih menggunakan alat tulis manual.
*       *       *
Presiden Direktur Faber-Castell International Indonesia Yandramin Halim mencontohkan berbagai craft unik yang disusun dari connector pen. Ini yang membuat saya antusias mengumpulkan sisa-sisa connector pen supaya bisa dibikin mobil balap, dinosaurus, hingga Candi Bajang seperti dalam properti di pabrik Faber-Castell.
*       *       *
Ada kekhawatiran terkait tinta warna Faber-Castell. Maklum, di rumah saya memiliki adik yang masih SD yang hobi menggambar. Namun, Presiden Direktur Faber-Castell Yandramin Halim menjelaskan tinta tersebut aman. Bahkan, untuk membuktikannya, dia meminumnya di hadapan media. Yupz, tinta Faber-Castell tidak mengandung toxic yang penggunaannya aman untuk anak-anak.
*       *       *
Yang mengasyikkan, Kompasiana Visit ke pabrik Faber-Castel di Cibitung ini juga turut membawa kami nostalgia! Yupz, itu yang diperlihatkan Rizal, dari Faber-Castell yang mengajarkan kami menggambar cepat dengan berbagai pola. 
*       *       *
Rekan Kompasianer Yayat Daffana mewarnai kumbang dengan berbagai teknik paterning (pola). Beberapa di antaranya yang saya save dalam memori pikiran saya seperti teknik benang kusut (squiggling). Yupz, bagi saya menggambar itu menyenangkan. Bagaimana hasilnya itu urusan lain, yang terpenting proses mewarnainya bikin seru.
*       *       *
Perwakilan Kompasiana memberikan plakat penghargaan kepada Presiden Direktur Faber-Castell International Indonesia Yandramin Halim atas kerja samanya. Semoga jika ada Kompasiana Visit ke pabrik Faber-Castell lainnya, saya kembali ikut. Bagi saya, kehadiran di pabrik Cibitung bukan sebagai wisata edukasi saja, melainkan turut bernostalgia dengan perangkat alat tulis dan gambar yang saat kecil rutin digunakan.
*       *       *
Presiden Direktur Faber-Castell International Indonesia Yandramin Halim memberikan suvenir kepada perwakilan Kompasiana. Yaitu, buku sejarah panjang Faber-Castell edisi terbatas yang dicetak secara eksklusif. Ya, dalam 10 atau 20 tahun mendatang, kunjungan saya ke pabrik Faber-Castell di Cibitung juga bakal jadi sejarah tersendiri yang bisa saya ceritakan kepada anak dan cucu kelak.
*       *       *
Puncak acara dengan foto bersama Kompasianer dengan perwakilan Faber-Castell. Terima kasih untuk Kompasiana yang telah memfasilitasi kami untuk hadir ke pabrik Faber-Castell di Cibitung. 
*       *       *
Foto bersama (lagi) Kompasianer dengan perwakilan Faber-Castell di depan pabrik dengan latar tulisan dan logo Faber-Castell yang ikonik. Oh ya, logo ini merupa dua ksatria yang sedang menunggang kuda sedang bertarung pada era renaissance. Dalam informasi yang saya dapat, logo ini merupakan inspirasi dari Count Alexander zu Castell-Ruderhausen, dengan mengandung arti bahwa kualitas terbaik Faber-Castell dapat mengalahkan semua kompetitor dan pendatang baru. 
*       *       *
Tiada perjamuan yang tak berakhir. Setelah puas berkeliling pabrik Faber-Castell di Cibitung yang dilanjutkan praktek menggambar, akhirnya kami harus kembali ke kediaman masing-masing. Tapi, saya percaya, selama rumput masih menghijau, masih ada pakan untuk kuda itu berlari kencang. Yupz, semoga di lain kesempatan bisa kembali mengikuti Kompasiana Visit bersama Faber-Castell!
*       *       *
Seluruh Foto merupakan Dokumentasi Pribadi
- Jakarta, 14 Juli 2017

Sabtu, 14 Mei 2016

Resensi Buku Hidup yang Lebih Berarti: Sosok Inspiratif untuk Dayakan Indonesia


Koleksi buku "Hidup yang Lebih Berarti" bersama buku Kompasianer lainnya

YEEEEE... Akhirnya, bertambah lagi koleksi buku Kompasiana saya. Sejak bergabung di jurnalisme warga ini lima tahun silam, tepatnya 11 Oktober 2011 atau nyaris seperlima usia, saya sudah mengoleksi berbagai buku Kompasiana.

Baik itu yang ditulis rekan sesama Kompasianer -julukan untuk blogger Kompasiana-, antologi fiksi bersama komunitas, atau antologi yang dibuat admin Kompasiana yang berjudul "Jelajah Negeri Sendiri". Untuk yang disebut terakhir, jelas membuat saya bangga. Sebab, terdapat empat artikel saya dalam buku tersebut.

Itu mengapa ketika saya promosikan di berbagai media sosial, banyak rekan sesama Kompasianer, Blogger, hingga keluarga yang kagum. Secara, sebagai blogger, menerbitkan buku bisa dikatakan sebagai puncak karier saya di dunia blogging. Apalagi, bisa bersanding dengan berbagai Kompasianer hebat lainnya yang diseleksi admin secara ketat.

Koleksi buku Kompasiana saya berawal ketika menghadiri launching Srondol Gayus ke Italy milik Hazmi Srondol. Kebetulan, hari ini tepat lima tahun, yang berlangsung pada 14 Mei 2011 di Mal Pejaten Village, Jakarta Selatan yang jadi titik awal saya ikut acara Kompasiana. Hingga saat ini, kalau tidak salah hitung, sudah lebih dari 50 buku Kompasiana yang saya koleksi. Sebagian masih ada dan beberapa di antaranya saya bagi kepada sesama rekan Kompasianer di luar.

Teranyar, saya mendapat koleksi buku antologi Kompasiana berjudul "Hidup yang Lebih Berarti". Itu setelah saya menghadiri acara peluncurannya bertema "Sosok Inspiratif untuk Dayakan Indonesia" di Menara BTPN, Jakarta Selatan, Kamis (21/4).

Dalam acara tersebut, turut hadir empat pembicara yang didampingi admin Kompasian selaku moderator, Nurulloh. Yaitu, Andrie Darusman selaku Daya Head Bank BTPN, Taryat (pengusaha cokelat Alia), Pepih Nugraha (COO Kompasiana), dan Mejawati Oen (salah satu Kompasianer penulis buku).
*        *        *

"SAMPAH hanya akan jadi sampah tak berguna kalau kalau tidak diolah dan dimanfaatkan jadi kerajinan tangan, jadi batako, pupuk, dan seterusnya." Demikian, pernyataan Pepih dalam kata pengantar buku "Hidup yang Lebih Berarti: Sosok Inspiratif untuk Dayakan Indonesia".

Apa yang dikatakan penulis "Citizen Journalism: Pandangan, Pemahaman, dan Pengalaman" ini mengingatkan saya pada adagium lawas, "Air bisa membuat perahu berlayar, tapi juga dapat menenggelamkannya". Alias, sesuatu dapat baik atau tidak, tergantung apa yang kita lakukan.

Banyak inspirasi yang dapat dimanfaatkan dan aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dari buku setebal 190 halaman ini. Kebetulan, dari 20 penulis, sebagian besar sudah saya kenal karena kerap berinteraksi di Kompasiana, baik secara offline maupun online.

Salah satunya, tentang Taryat dan Eli Darniati, yang membuka usaha cokelat dengan merek Alia Chocolate dan Nuhun Cokelat yang berawal dari hobi. Kisah pasangan suami istri yang dituturkan Kompasianer Khairunisa Maslichul itu sangat menarik. Sebab, menceritakan bagaimana produk mereka dapat diterima pasar dengan modal nekat hingga jatuh, bangun, jatuh, dan bangun lagi.

Tepatnya ketika kantor kerja Taryat bermasalah hingga di ambang Pemecatan Hubungan Kerja (PHK). Itu diungkapkan pria 40 tahun ini pada halaman 123, "Modal kami berbisnis cokelat lebih tepatnya karena nekat setelah merasaksn sendiri suka-duka bekerja untuk orang lain."

Selain nekat, salah satu pelajaran yang bisa dipetik dari pasangan tersebut tentu mengenai tahan mental. Terutama karena mereka menyadari produknya hanya cemilan ringan dan bukan termasuk kebutuhan pokok. Alhasil, Taryat-Eli harus mendapat berbagai pengalaman pahit dan manis, terutama ketika ditolak mentah-mentah penjaga toko saat hendak menitipkan produknya.

"Dipandang sebelah mata sudah jadi santapan sehari-hari saat awal kami berpromosi produk Alia Chocolate dari satu lokasi ke lokasi lainnya," Taryat, mengungkapkan. "Bahkan, tetangga dulu sempat memandang kami sebelah mata. Mereka tak habis pikir, sejrana kok hanya berjualan cokelat? Namun, kini hasilnya ternyata produk cokelat saya disambut baik dan lumayan banyak terjual."

Kini, sekitar 300 toko yang tersebar di Bogor, Jakarta, Sukabumi, Ciannjur, hingga Purwakarta yang terjauh, jadi mitra usaha mereka. Tak heran jika Taryat dan Eli mampu meraup omzet mencapai Rp 20 juta - Rp 35 juta per bulan yang tergolong usaha mikro. Taryat menambahkan dalam sesi tanya jawab di Gedung BTPN bersama puluhan Kompasianer, bahwa setiap jelang lebaran, pesanan mereka melonjak drastis.

*        *        *
KESAN nekat yang berarti berani mengambil risiko juga dialami Syarief Hidayatullah, dengan situasi berbeda. Dalam kisahnya yang ditulis Kompasianer Evrina Budiastuti, menggambarkan sosok pemuda yang unik dan penuh misi serta visi ke depan. Cerita mengenai Syarief ini juga sukses menyentil saya secara pribadi.

Maklum, pada usianya yang tidak jauh beda dengan saya, tepatnya Syarief 25 tahun, sudah memilih untuk membangun desa melalui sektor pertanian yang tentu jarang dilirik orang. Bahkan, kalau boleh jujur, sektor itu justru banyak ditinggalkan para pemuda di desa saat ini.

Namun, intuisi Syarief ternyata tepat. Lantaran, kediamannya yang terletak di Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor ini, memiliki potensi pertanian. Dengan tanah yang subur dilengkapi irigasi yang mendukung, menjadikan desa mereka sebagai salah satu penghasil tanaman pangan dan palawija.

Hebatnya lagi, Syarief yang tidak memiliki latar belakang sarjana pertanian, sukses mengubah pandangan masyarakat, terutama pemuda setempat dengan membentuk kelompok yang disebut "Taruna Tani". Bahwa, pertanian bukanlah pekerjaan yang kumuh dan kotor. Bahkan, dengan kegigihannya, Syarief sukses mengembangkan jambu kristal dengan rata-rata panen 200-250 kg per bulan.

"Kota Roma tidak dibangun dalam semalam". Mungkin, adagium itu yang tepat saya sematkan pada kisah Syarief yang dituturkan Evrina dengan sangat rinci hingga memotivasi pembaca. Terutama kaum pemuda yang merupakan tulang punggung negara ini.

Sebab, harus diakui jika tidak mudah bagi Syarief untuk mengajak rekannya sesama pemuda di desanya untuk jadi petani. Butuh pendekatan secara personal dan sosialisasi kepada masyarakat setempat secara intens yang dilakukan pria yang lulus kuliah pada 2013 ini. Namun, hasilnya bisa terlihat saat ini.

Melalui jambu kristal, Syarief sukses mengembangkan potensi lokal untuk meningkatkan kesejahteraan petani serta keluarga. Termasuk, menyediakan lapangan pekerjaan yang secara tidak langsung sukses mendukung program pemerintah demi mengurangi tingkat kemiskinan masyarakat.

Selain Syarief dan Taryat, tentu masih banyak individu di negeri ini yang sudah berusaha untuk dayakan Indonesia. Termasuk, apa yang ditulis dari 18 rekan Kompasianer lainnya demi membuat hidup yang lebih berarti.

Ya, Mereka sudah melakukan sesuatu untuk hidup yang berarti. Selanjutnya, giliran kita yang turut dayakan Indonesia.

Judul: Hidup yang Lebih Berarti
Penulis: 20 Blogger Kompasiana
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Rilis: April 2016
Halaman: 190
ISBN: 978-602-02-7978-7

*        *        *
Gedung Bank BTPN di Kuningan

*        *        *
Isi daftar absensi Kompasianer

*        *        *
Nurullah selaku moderator membuka acara Coverage launching buku Hidup yang Lebih Berarti

*        *        *
Daya Head Bank BTPN Andrie Darusman (kiri)

*        *        *
COO Kompasiana Pepih Nugraha (tengah)

*        *        *
Kompasianer Mejawati Oen (tengah)

*        *        *
Narasumber dalam buku yang merupakan pengusaha cokelat, Taryat (kiri)

*        *        *
Ada yang unik dengan foto ini? #1

*        *        *
Ada yang unik dengan foto ini? #2

*        *        *
Produk dari Taryat, Alia Chocolate dan Nuhun Cokelat

*        *        *
Salah satu mural/lukisan dinding yang saya suka mengenai susasna pasar di tengah sungai
*        *        *

*        *        *
Keterangan: Artikel ini sebenarnya mau dimuat di blog Kompasiana saya (www.kompasiana.com/roelly87), namun karena sudah lebih sepekan masih tidak bisa login, terpaksa untuk sementara saya publish di blog pribadi.

*        *        *
- Jakarta, 14 Mei 2016