TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Ani Berta

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label Ani Berta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ani Berta. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Juli 2026

Blog Saya, roelly87.com Ditawar Rp 13 Juta

Blog Saya, roelly87.com Ditawar 13 Juta

SS penawaran blog saya



TUJUH belas tahun bukan waktu yang singkat. Dalam periode itu, sudah banyak perubahan yang terjadi di kolong langit ini.

Presiden Indonesia sudah tiga kali berganti. Begitu juga di DKI Jakarta yang sudah beberapa kali dipimpin gubernur berbeda.

Dalam periode itu, sebagai bloger atau jurnalis warga, saya sering menulis opini tentang para pemimpin atau politikus. Ya, hobi aja sih. 

Apa aja saya tulis, baik opini maupun reportase, hingga fiksi. Itu meliputi politik, olahraga, musik, kuliner, wisata, wisata malam, hingga kucing.

Itu yang saya lakukan sejak kali perdana ngeblog pada 2009 silam. Awalnya coba-coba di platform gratisan seperti blogspot (blogger.com milik google), wordpress, multiply, dan sebagainya.

Setahun berselang, asyik gabung di blog keroyokan seperti Kompasiana dan Blogdetik hingga kini. 

Akun Kompasiana saya beralamat di www.kompasiana.com/roelly87. Sementara, Blogdetik sudah ditutup permanen pada 2018 silam.

Untuk blog pribadi saya, www.roelly87.com dan www.roelly87.wordpress.com. 

Yang terakhir udah jarang aktif, akibat kesibukan di marcapada.

Namun, yang www.roelly87.com udah hampir seribu artikel.

SERIBU...

1.000!

Tepatnya, -saat nulis artikel ini- per Jumat (3/6) ada 816 artikel di www.roelly87.com. Pada saat yang sama, di www.kompasiana.com/roelly87 berjumlah 746.

Wow...

Cukup banyak, euy.

*            *            *

PAGI itu, Senin (29/6) cuaca cukup cerah. Tanggal muda nih. 

Berarti, orderan ojek online (ojol) gacor. Saya pun keluar cukup awal. 

Maklum, ga begadang karena ga ada pertandingan Piala Dunia 2026. Berdasarkan jadwal, baru ada malamnya pukul 00.00 dini hari WIB antara Brasil versus Jepang di babak 32 besar. 

Ada pesan masuk di whatsapp. Berupa permintaan dari seseorang untuk membeli blog pribadi saya, www.roelly87.com dan adsense-nya. Nilainya lumayan, dia siap buka harga Rp 13 juta.

Saya cuma baca aja sekilas. Takut phising atau penipuan. Apalagi, sedang sibuknya ngojol.

Berselang sepembakaran hio, saat senggang saya balas. Sambil diteliti dulu nomornya di aplikasi cek kontak dan "konsultasi" ke rekan bloger, Ani Berta.

Kata si penawarnya, dia mengaku tertarik karena ***. 

...

Alasannya menarik. 

Masuk akal.

...

Namun, saya tolak dengan halus. 

Sumpah, sebenarnya 13 juta itu bukan nilai yang kecil. 

Besar banget euy!

Apalagi, ini tawaran awal. Alias, bisa naik lagi tergantung negosiasi.

Jujur, saya sempat tergiur. Dengan uang segitu, saya bisa nambahin buat beli motor matic anyar. 

Menggantikan "kuda besi" saat ini yang sudah menua karena jadi andalan ojol sejak Februari 2020. Alias, saya beli sebulan sebelum pandemi Covid 19.  

Hanya, sebagai makhluk yang logis, saya dengan berat hati untuk bergeming dari tawaran itu. Bagaimanapun, saya sudah merawat blog pribadi, roelly87.com dalam 17 tahun terakhir.

Apalagi, nama blog, juga jadi branding saya di media sosial (medsos). Ya, semua akun saya memiliki username "roelly87".

Mulai dari Facebook pada 2009, X/Twitter (2010), Instagram (2012), Youtube, Tiktok, Threads, dan sebagainya. 

Lucu juga kalo saya jual blog pribadi, yang kelak dikelola orang tapi seluruh username akun medsos saya tetap @roelly87.

Kendati harus diakui tampilan blog saya sangat sederhana sejak ganti domain dari blogspot, alias tetap default. Hahaha.

Maklum, sejak pandemi saya posting lewat hp. Udah ga pernah utak-atik lagi. 

Jadi, aksesnya terbatas dibanding via PC atau laptop.

Pasalnya, kedua perangkat itu dan kamera serta alat pendukung ngeblog lainnya sudah berpindah tangan sejak awal Covid. Alias, "disekolahkan" ke pihak lain yang hingga kini ga lulus-lulus. 

Hehehe!

Di sisi lain, saya sudah banyak mendapatkan sesuatu dari blog ini. Termasuk, menang lomba dengan hadiah menarik. Mulai dari HP, jalan-jalan ke perbatasan Entikong, Bunaken, hingga Inggris!

Juga, pengalaman positif bersama instansi pemerintah dalam rangka kampanye ke masyarakat, baik BNN, BNPT,  dan Setkab.

Yuppiii! Itu semua saya dapatkan dari hasil membesarkan www.roelly87.com. 

(Untuk adsense di blog, akan saya bahas di lain waktu)

*            *            *

"PROSES branding kan lama. (Harus) melalui jatuh bangun juga," Ani menjawab chat saya terkait ada pihak yang ingin membeli blog saya.

Pernyataan dari pemilik blog aniberta.com dan www.kompasiana.com/brainy ini beralasan. 

Ani dikenal sebagai bloger yang konsisten. 

Sudah lama ngeblog jauh sebelum saya. Makanya, saya respek kepadanya. 

Saya banyak belajar darinya sejak kali perdana kenal di Kompasiana pada 2011 silam, Blogdetik, hingga Komunitas Indonesia Social Blogpreneur (ISB).

"Ada banyak kok. (Bahkan) blog yang dijual ke penerbit," Ani menjelaskan saat saya tanya apakah ada bloger yang jual blognya ke pihak lain.

Dalam kesempatan itu, sosok yang aktif memperjuangkan peran wanita untuk setara dalam bekerja ini pun mengingatkan saya terkait tawaran blog.

Yaitu, calon pembeli itu profesinya apa dan tujuannya untuk apa. Saya pun sepakat.

Sebab, meski enggan menjual, tapi saya juga penasaran dengan niat si penawar. Apakah untuk ternak blog atau yang negatif. 

Misalnya, dialihkan ke situs phising, judi online, kampanye terselubung politikus, serta kedok lainnya.

...

Ternyata, pas diselidiki lebih lanjut, niat sang penawar memang murni. Ga ada tujuan aneh-aneh. 

Ya sudahlah. Saya pun berterima kasih karena ada pihak yang tertarik dengan blog saya.

Hanya, untuk saat ini, saya belum tertarik melepas blog pribadi ke pihak lain. 

Namun, entahlah jika ke depannya ada tawaran yang jauh lebih menggiurkan hingga mungkin sulit untuk saya tolak.***

*            *            *

- Jakarta, 15 Juli 2026

*            *            *

Artikel Terkait:

- Tiga Dara Blogger (http://www.roelly87.com/2015/10/tiga-dara-blogger.html)

- Tips Jadi Content Writer dari Ani Berta (http://www.roelly87.com/2017/10/tips-jadi-content-writer-dari-ani-berta.html)

- Kota Roma Tidak Dibangun dalam Semalam (http://www.roelly87.com/2016/11/kota-roma-tidak-dibangun-dalam-semalam.html)

- Blogger Harus Punya Personal Branding yang Kuat (http://www.roelly87.com/2017/03/blogger-harus-punya-personal-branding.html)

- Ngeblog: Antara Hobi dan Mendatangkan Profit (http://www.roelly87.com/2015/01/ngeblog-antara-hobi-dan-mendatangkan.html)

- Jadi Blogger Enak? Ini Suka dan Dukanya (http://www.roelly87.com/2017/07/jadi-blogger-enak-ini-suka-dan-dukanya.html)

- Juara Bukan sebagai Obsesi dalam Ngeblog (http://www.roelly87.com/2017/05/juara-bukan-sebagai-obsesi-dalam-ngeblog.html)

- Ketika Blogger Bicara Komunitas (http://www.roelly87.com/2017/02/ketika-blogger-bicara-komunitas.html)

- Berkat Fun Blogging, Ngeblog Makin Asyik (http://www.roelly87.com/2017/02/berkat-fun-blogging-ngeblog-makin-asyik.html)

- Tips Ngeblog Asyik: Pentingnya Mengisi Daftar Hadir (http://www.roelly87.com/2015/11/tips-ngeblog-itu-asyik-pentingnya.html)

- Tips Ngeblog Asyik: Jalin Hubungan Baik dengan Komunitas Blogger (I) (http://www.roelly87.com/2016/02/tips-ngeblog-asyik-jalin-hubungan-baik.html)

SS lagi















SS blog

Sabtu, 28 September 2019

Tapak Tilas di Pelabuhan Sunda Kelapa





JELAJAH wisata ke Pelabuhan Sunda Kelapa? Wow... Mau banget! Sebagai blogger yang belajar ngeblog sejak lebih dari satu dekade lalu, tepatnya pada 2008 silam, saya sudah sering mengunjungi berbagai kawasan wisata. 

Baik dengan komunitas dan brand. Mulai dari pantai, laut, seberang pulau, pegunungan, negara tetangga, bahkan hingga ke negerinya Gareth Bale. Namun, untuk kawasan Kota Tua yang meliputi Pelabuhan Sunda Kelapa dan Museum Bahari, justru belum pernah. Paling banter sendirian saat ngebolang atau ketika mendampingi kawan untuk hunting foto.

Itu mengapa, ketika founder Komunitas ISB (Indonesian Social Blogpreneur) Ani Berta mengajak untuk trip Pelabuhan Sunda Kelapa, pada dua pekan lalu, tanpa berpikir sedetik pun, saya langsung mengiyakan
. Kebetulan, saya sudah tiga tahun gabung dengan komunitas yang didirikan pada 17 Mei 2016 tersebut, tepatnya sembilan hari sebelumnya, Kamis (26/5).

Meski tidak rutin, saya juga kerap mengikuti berbagai rangkaian dan program dari Komunitas ISB
. Baik offline maupun online. Yupz, sebagai blogger, gabung ke komunitas itu tidak hanya menambah wawasan baru saja, melainkan memperluas pertemanan, relasi, ilmu, dan sebagainya.


*         *         *
PAGI itu, matahari bersinar malu-malu. Alarm di telepon seluler saya berbunyi pada pukul 06.30 WIB. Saya pun bersiap menuju kawasan utara ibu kota. Kendati, saat melirik cermin sempat ada mata panda akibat kurang tidur. Sebab, sebelumnya begadang hingga dini hari untuk nobar Emyu dan pertandingan Seri A yang melibatkan FC Internazionale.

Namun, rasa kantuk tersebut hilang setelah saya menatap alarm yang menandakan harus segera pergi untuk mengikuti ISB Trip dengan titik kumpul di Kafe Acaraki, kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, Kamis (26/9). Kebetulan, lokasinya hanya seperminuman teh dari kediaman saya.

Ketika tiba, terdapat belasan rekan blogger, mimin ISB, dan Ira Lathief (Creative Traveler dan Founder Wisata Jakarta). Rangkaian acaranya meliputi jelajah Pelabuhan Sunda Kelapa, Menara Syahbandar, Museum Bahari, dan diakhiri dengan bikin jamu di Acaraki.

Untuk jelajah di beberapa lokasi tersebut, sebenarnya tidak asing bagi saya. Pasalnya, sejak dulu, saya sudah melakukannya. Baik itu pagi, siang, sore, hingga wisata malam. Beberapa di antaranya pernah saya tulis di blog dan Kompasiana. Namun, terbatas sendiri atau ketika bersama kawan.

Sementara, dengan rombongan, baru kali ini yang untungnya difasilitasi Komunitas ISB. Nah,  mengingat lokasi awalnya pelabuhan, tentu harus bersahabat dengan debu. Itu mengapa, saya membekalinya dengan Masker Nexcare yang lapisannya tidak bisa ditembus debu. Alhasil, saya dan rekan-rekan bisa bebas berkeliling tanpa takut debu.

Selain debu, kawasan dekat laut identik dengan panas. Untungnya ada Aqua yang menemani sepanjang perjalanan. Yupz, ISB Trip ini didukung Danone Indonesia, Nescare Indonesia, Acaraki Kafe.

Sebagai catatan, ini kali perdana Komunitas ISB menyelenggarakan wisata sejarah ke kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa. Menurut Ani, ke depannya sudah menunggu berbagai trip lainnya terkait wisata dengan tema sejarah, budaya, lingkungan dan lainnya.

"Next, ke Kepulauan Seribu," ujar Ani memberi bocoran yang disambut antusias saya dan belasan rekan blogger lainnya.

"Trip ini sebagai bagian dari program Komunitas ISB dengan kegiatan offline yang menghadirkan narasumber kompeten. Baik bidang fotografi, menulis, editing video dan lainnya. Sekaligus, kopdar (kopi darat) dengan sesama anggota komunitas dengan mengunjungi tempat bersejarah."

Pernyataan wanita yang akrab disapa Teh Ani ini beralasan. Itu karena ISB Trip ke Pelabuhan Sunda Kelapa tidak hanya sekadar jalan-jalan biasa saja. Melainkan, diisi dengan kegiatan membuat konten, baik itu berupa foto dan video yang nantinya diaplikasikan dengan blog agar kian menarik.

Apalagi, kami mendapat wawasan baru dari Ira terkait sejarah Pelabuhan Sunda Kelapa, Menara Syahbandar, Museum Bahari, dan kawasan Kota Tua. Termasuk, terkait keberadaan titik nol Jakarta pada zaman dulu dan riwayat dari berbagai bangunan di lokasi tersebut.

"Berbagai perahu yang ada di sini asli. Digunakan untuk pelayaran, angkut barang ke seluruh penjuru nusantara. Apalagi, dulu sebelum abad 21, ini jadi pelabuhan terbesar di Asia Tenggara. Setiap perahu yang menuju barat atau timur, pasti singgah. Meski kini posisinya digantikan Tanjung Priok (Jakarta) dan Tanjung Perak (Surabaya), tapi Sunda Kelapa tetap memegang peranan penting dalam pelayaran di Tanah Air," Ira menjelaskan.

Ya, jangan pernah melupakan sejarah. Selain untuk hunting foto, keberadaan kami di Pelabuhan Sunda Kelapa juga terkait menelusuri jejak masa silam. Bisa dipahami mengingat sejak dulu kita dijuluki sebagai bangsa maritim karena nenek moyang merupakan pelaut ulung.

*         *         *

USAI menjelajah di Pelabuhan Sunda Kelapa, naik ratusan anak tangga di Menara Syahbandar, hingga keliling Museum Bahari, termasuk marasakan harumnya rempah-rempah yang jadi komoditas tinggi pada zaman dulu, kami pun kembali ke Acaraki .

Bikin jamu? Wow... Ini sesuatu banget! Saya sering belajar meracik kopi, teh, atau minuman lainnya. Namun, baru kali ini bisa melihat produksi jamu yang dikenal memiliki khasiat untuk kesehatan.

Ternyata, saya baru tahu perangkat untuk membuatnya tidak jauh beda dengan kopi. Hanya, bahan-bahannya memang lebih rumit. Misalnya, beras kencur dan kunyit asam yang sudah lama tidak saya dengar. Sebab, kali terakhir minum jamu pada belasan tahun silam. Itu pun ketika sakit, masuk angin.

Uniknya Acaraki, memposisikan sebagai minuman kekinian dengan bahan dasar rempah untuk jamu yang dipadukan dengan es, krim, gula, dan sebagainya. Salah satunya, Bareskrim yang memiliki nama unik. Yaitu, jamu beras kencur di-blend dengan es krim. Rasanya? Wow Sensasional banget!



*         *         *

*         *         *

*         *         *

*         *         *

*         *         *

*         *         *

*         *         *

*         *         *

*         *         *

Artikel Terkait
- Langkah Tanpa Wujud di Museum Bahari
- Tapak Tilas Museum Bahari

- Intip Sejarah Nusantara di Museum Bahari
- Mengarungi Dunia lewat Museum Bahari
- Jalesveva Jayamahe: Di Lautan Kita (Pernah) Jaya
- Titik Nol di Menara Syahbandar
- Melongok Kehidupan di Pelabuhan Sunda Kelapa
(https://www.kompasiana.com/roelly87/550e1907a33311b92dba8186/melongok-kehidupan-di-pelabuhan-sunda-kelapa?page=all)
- Pelabuhan Sunda Kelapa, Banyak Sampah dan Airnya Tercemar Limbah (https://www.kompasiana.com/roelly87/550e0508813311c12cbc6116/pelabuhan-sunda-kelapa-banyak-sampah-dan-airnya-tercemar-limbah)
- Menyaksikan Keindahan Pelabuhan Sunda Kelapa yang Termahsyur (https://www.kompasiana.com/roelly87/550e12ad813311ba2cbc60ff/menyaksikan-keindahan-pelabuhan-sunda-kelapa-yang-termahsyur)
- Menyusuri Bangunan Tempo Doeloe di Kawasan Kota Tua, Jakarta (https://www.kompasiana.com/roelly87/550e2147a33311a72dba7f55/menyusuri-bangunan-tempo-doeloe-di-kawasan-kota-tua-jakarta-1)
- Menelusuri Warisan Budaya Nusantara di Museum Wayang (https://www.kompasiana.com/roelly87/550da7fea33311251c2e3dc3/menelusuri-warisan-budaya-nusantara-di-museum-wayang)
- Menelusuri Warisan Budaya Nusantara di Museum Wayang 2 (https://www.kompasiana.com/roelly87/550d8a9c813311552cb1e415/menelusuri-warisan-budaya-nusantara-di-museum-wayang-2)


Artikel Cagar Budaya Lainnya
- Museum Prasasti
- Museum Naional
- Patung Soekarno-Hatta


*        *        *
- Jakarta, 28 September 2019

Jumat, 02 Agustus 2019

Efisiensi dalam Menata Ruang Kerja dan Rumah Mungil





MEMILIKI hunian yang ideal merupakan impian semua orang. Termasuk, saya yang berusaha untuk mewujudkan cita-cita punya rumah dengan fasilitas lengkap. Tidak perlu besar, mungil saja cukup. Yang penting, ada pekarangan untuk menaruh berbagai tanaman hias sebagai penyejuk dan utamanya kendaraan, khususnya sepeda motor.

Dengan situasi saat ini, sulit untuk mendapatkannya di ibu kota. Kemungkinan, di luar Jakarta, tapi masih meliputi kawasan Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek). Agak pinggir ibu kota tak masalah, mengingat sekarang, akses transportasi sudah memadai. Baik itu menggunakan bus atau kereta api.

Nah, berbagai pilihan hunian ideal itu bisa didapat dalam Indonesia Properti Expo (IPE) 2019. Yaitu, pameran properti yang berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta Pusat, yang berlangsung sejak 27 Juli hingga 4 Agustus ini.

Dalam event yang masuk Pesta KPR BTN ini, memang banyak promonya, lengkap pilihannya, dan beragam harganya. Jadi, masyarakat umum, termasuk saya bisa mendapatkan hunian yang sesuai kebutuhan. Baik itu rentang harga, cicilan, fasilitas, hingga lokasi.

Semua bisa didapat sepanjang pameran yang berlangsung 10 hari ini. Sebagai panduan, saya terlebih dulu menyimak berbagai info tersebut lewat akun media sosial resmi IPE 2019. Yaitu pada @IndonesiaPropertiExpo (https://www.instagram.com/indonesiapropertiexpo/) dan beragam ulasan di https://inapex.co.id/.

*          *          *

SAYA berkesempatan menghadiri Indonesia Properti Expo pada Rabu (31/7). Usai berkeliling JCC yang pada Asian Games 2018 jadi markas bagi jurnalis untuk meliput, saya turut menghadiri diskusi talkshow dan blogger gathering yang bertempat di Panggung Utama Hall B JCC.

Dalam acara yang dipandu Ani Berta ini, menghadirkan dua narasumber terkait serba-serbi menata rumah. Itu meliputi Zata Ligouw yang berbagi info mengenai Tip dan Trik Menata Ruang Kerja di Rumah dan Adelya Vivin (Tip dan Trik Menata Rumah Mungil).

Bagi saya, apa yang dipaparkan mereka ini menarik. Terutama, terkait sharing dari puluhan rekan blogger yang hadir hingga menghangatkan suasana diskusi. Maklum, kebetulan saya jarang berada di rumah. Sehari-harinya di luar kecuali Sabtu yang libur kerja.

Jadi, saya memang agak kepayahan dalam menata rumah, apalagi ruang kerja yang super berantakan. Itu mengapa, saya sangat tertarik untuk mengikuti talkshow ini yang bisa diaplikasikan dalam keseharian.

Khususnya, jika area terbatas seperti di ibu kota yang padat penduduk. Harus lebih telaten menata perabotan. Barang yang tak terpakai bisa ditumpuk untuk meminimalkan pemborosan ruang.

Di sisi lain, untuk ruang kerja, di rumah saya tergabung dengan kamar. Alias, tidur dan kerja dalam satu ruangan. Sempit memang. Namun, enaknya kalau lelah mengetik bisa langsung loncat ke kasur. Tidur deh.

Zata dan Vivin pun sepakat. Pencahayaan dalam rumah berperan penting bagi kenyamanan penghuni. Saya pribadi tidak suka ruangan yang terlalu terang. Alias, cenderung temaram. Baik dalam keseharian maupun saat mengetik untuk bekerja. Untuk tidur, sudah pasti seluruh lampu dipadamkan. Sebab, saya memang kurang suka terlalu terang. Kecuali, jika ada tamu yang berkunjung.


*          *          *
KESIMPULAN yang saya dapat dari diskusi tersebut adalah efisiensi. Ini yang saya coba untuk terapkan dalam keseharian atau pada masa mendatang. Apalagi, sharing ini sangat bermanfaat. Juga berkaitan dengan pameran yang diselenggarakan, mengenai properti.

Nah, ini catatan saya terkait Indonesia Properti Expo 2019 dan diskusi mengenai efisiensi dalam penataan ruang. Bagaimana dengan Anda?



*          *          *

*          *          *

*          *          *

*          *          *
- Jakarta, 2 Agustus 2019

Kamis, 08 Maret 2018

Kenapa Harus Ditemani Cinta Saat Menulis?


Suasana dalam workshop Menulis dengan Cinta Bersama Dini Fitria - Batch 2
(Klik untuk perbesar foto dan geser untuk melihat foto lainnya)

SEBAGAI blogger, bisa dikatakan saya nyaris mendapat apa yang diimpikan. Yupz, itu cukup bermodalkan tulisan disertai foto, video, dan (terkadang) infografis.

Mulai blusukan ke kawasan terpencil, naik mobil dinas menteri, ketemu public figure idola, hingga merasakan menginap di kapal pesiar untuk menjelajah Wales.


Yupz, Wales. Suatu negeri di utara Eropa! Itu semua gratis. Cukup modal kuota internet (itu pun setiap bulannya gratis hingga unlimited), laptop, smartphone (pemberian salah satu produsen), dan kamera (juga pemberian).

Tanpa bermaksud riya, faktanya demikian.

Namun, adagium lawas mengatakan, mutiara yang indah tidak berserakan di pantai. Alias, harus menyelam hingga ke dasar samudera. Pun demikian dengan saya yang mulai menggeluti dunia blog sejak sembilan tahun silam.

Tepatnya, pada awal 2009 ketika ngeblog sebagai obat untuk mengatasi kejenuhan mata memandang deretan angka di microsoft excel atau access yang njelimet tapi penting. Setelah itu, saya mulai hobi ngeblog dengan membuat beberapa akun baik platform mandiri atau keroyokan.

Puncaknya, pada 2015 ketika mengikuti acara yang diselenggarakan Ani Berta bersama dua mentor lainnya. Sejak itu saya sadar, ngeblog bukan sekadar hobi saja. Melainkan, dapat dimaksimalkan lebih lanjut.

Pepatah menilai, dekat cat bakal terciprat tinta. Pun demikian dalam berteman, baik di dunia nyata maupun maya. Menjalin relasi yang baik jadi kunci untuk konsisten sebagai blogger. Minimal, hingga detik ini.

*        *        *
MENTARI siang itu bersinar dengan terik. Dari kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (6/3) saya menuju kantor Blibli.com di Jalan KS Tubun, Slipi, Jakarta Barat. Di google map, jaraknya tidak lebih dari dua jari yang bisa ditempuh kurang dari sepembakaran hio.

Nyatanya, teori dan praktik di lapangan berbeda. Sebab, butuh lebih dari seperminuman teh untuk bisa sampai di lokasi. Itu pun dengan lepek-lepek lebih dulu akibat macet total di persimpangan Slipi-Palmerah. Hingga, jangankan sepeda motor untuk lewat, pejalan kaki pun bahkan harus mepet-mepet.

Ketika sampai, sudah banyak rekan-rekan blogger yang memadati lantai enam dari markas toko online terlengkap dan terpercaya di Tanah Air ini. Termasuk, Ani yang sangat sibuk bersama penggawa Indonesian Social Blogpreneur (Komunitas ISB) untuk mempersiapkan ini dan itu.

Ani pula yang memberi informasi kepada saya terkait workshop Menulis dengan Cinta Bersama Dini Fitria - Batch 2. Kebetulan, dalam beberapa pekan ini saya kurang update terkait dunia blog di media sosial.

Alias, buka facebook, twitter, atau instagram, hanya sesekali saja karena kesibukan di lapangan jelang Asian Games 2018. Beruntung, beberapa hari sebelumnya, Ani turut mengabari via whatsapp. Ini kali kedua saya mengikuti event dari Komunitas ISB terkait Dini.

Tepatnya, pada ramadan lalu ketika mantan reporter dengan senyum memesona itu meluncurkan novel ketiganya, Islah Cinta (Artikel sebelumnya: Novel Islah Cinta Bikin Saya Ingin Keliling Dunia). Namun, kali ini Dini menulis dalam skala luas, alias tidak hanya di novel, melainkan juga di blog pribadi.

*        *        *
SEBELUMNYA, Public Relations & Community Manager PT Global Digital Niaga (induk Blibli.com) Christine Lie Hartati memberi sambutan menarik. Itu terkait informasi promo My Big Wish pada Februari-Maret ini.

Yaitu, setiap belanja dapat token yang bisa ditukarkan dengan berbagai hadiah spesial. Termasuk, grand prize impian dengan liburan sepanjang tahun, nonton final kompetisi sepak bola terbesar di kolong langit yang diselenggarakan di Rusia, Mitsubishi Xpander, dan banyak lagi.

Termasuk, saya yang berharap tahun ini bisa ke Rusia. Menyaksikan pertandingan sepak bola terakbar ini jadi salah satu impian terbesar saya. Nah, jika Anda tertarik bisa menyimak infonya di blib.li/bigwish-blog.

Sebagai salah satu konsumen setia Blibli.com, tentu saya sangat menyambut antusias yang dipaparkan Christine. Apalagi, saya juga bisa mendapat informasi terkait partisipasi Blibli.com di dunia olahraga untuk tugas kantor.

Yupz, Blibli.com memang dikenal sebagai perusahaan lokal yang mendukung kegiatan olahraga Indonesia. Jika Anda menyaksikan  seragam yang dikenakan Kevin Sanjaya dan kawan-kawan saat tampil di berbagai turnamen bulu tangkis, tentu sangat familiar.

Termasuk, ketika menjuarai Indonesia Masters 2018 (Artikel sebelumnya: Sisi Lain Indonesia Masters 2018). Sebab, Blibli.com memang sebagai pemasok kostum untuk Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI). Bahkan, tahun ini ada tujuh yang disponsorinya.

"Termasuk, event besar olahraga tahun ini. Apa itu? Ada deh. Nanti kami beri tahu lebih lanjut," ujar Christine tersenyum simpul ketika saya temui.

Setelah itu, ada pemaparan dari Supervisor Zoya Cosmetics Haniarti Hasan. Sebagai pria, saya kurang begitu paham terkait kosmetik. Bahkan, paling malas jika (dulu) harus menemani pacar belanja alat-alat make-up.

Namun, seiring waktu berlalu, saya menyadari pentingnya untuk lebih mengenal kosmetik. Yuppz, ini berguna jika suatu saat si dia minta rekomendasi. Apalagi, Zoya dikenal sebagai produsen perlengkapan kecantikan ternama di nusantara. Jadi, saya bisa mendapatkan gambaran terkait alat kecantikan yang kelak berguna untuknya.

*        *        *
BAGI saya, menulis itu bukan pekerjaan sukar. Secara, setiap hari, saya menulis hingga 15 artikel untuk versi cetak atau online. Justru, yang sulit itu mengedit milik rekan di kantor. Saking sulitnya, ketimbang berpusing ria menghadapi SPOK yang tidak jelas, kadang saya cenderung memilih Ctrl+D pada lembaran word. Selanjutnya, menulis ulang dengan tidak mengurangi inti dari yang dituliskan tersebut.

Hanya, yang ditekankan Dini tentu bukan terkait olahraga. Melainkan, tentang menulis feature. Itu ditegaskan dari sosok yang berpengalaman di dunia jurnalistik pada dua tv nasional ternama di negeri ini.

"Konsistensi merupakan salah satu kunci kesuksesan untuk berkarya," Dini mengawali sambutannya di hadapan kami, puluhan blogger.

Oh ya, sejak kali pertama menginjakkan kaki di kantor Blibli ini, perasaan saya agak mengganjal dengan Dini Fitria. Saya sampai lama mengingat-ingat namanya. Perasaan sering mendengar di televisi atau baca beritanya di media online.

Namun, bukan terkait novel, melainkan di film, sinetron, hingga FTV. Usut punya usut, usai berpikir keras lebih dari sepernanakan nasi, saya baru ngeh. Ternyata, hanya nama belakang yang sama (Fitria). Untuk nama depan dan kehidupan pribadi, sangat berbeda antara Dini dengan Roro.

*        *        *
MENULIS dengan Cinta. Kenapa menulis harus dengan cinta? Bukannya, Cinta hanya untuk Rangga seorang? Eits...

Menurut Dini, menulis itu harus dengan cinta, hati, dan perasaan. Gampangnya, menulis itu harus sungguh-sungguh. Ya, saya percaya dengan apa yang dipaparkannya.

Kebetulan, sudah saya terapkan dalam berbagai aktivitas, baik pekerjaan, ngeblog, atau sampingan. Bahkan, ketika itu temanya tidak saya mengerti, tepatnya kurang disukai karena bersifat subyektif. Namun, demi profesionalitas, saya wajib memberikan yang terbaik untuk tulisan tersebut.

Urusan hasilnya menurut atasan atau pemberi dana tersebut bagus atau tidak, itu di luar kekuasaan saya. Yang pasti, sebagai pihak yang diberi tugas, saya berusaha mempersembahkan yang terbaik.

Yang berkesan, Dini turut berbagi pengalaman untuk menulis feature stories. Bagi saya, ini menarik. Sebab, feature stories atau ficer memang selalu lebih asyik digali. Misalnya, di tempat saya bekerja, ini bukan terkait artikel berat (hard news) atau ringan (soft news). Melainkan, untuk mengulik sisi lain dari obyek tersebut dengan gaya berututur.

Tidak harus faktual, dengan 5W+1 H pada paragraf awal, yang penting harus fakta. Saya sering menuliskannya di tempat kerja jika bertemu dengan narasumber yang menarik digali atau usai tugas ke luar kota.

Memang, feature stories ini memakan waktu lama, apalagi jika dimuat untuk edisi cetak yang harus berbagi ruang dengan foto, grafis, atau terkait halaman yang terbatas. Beda lagi jika menuliskannya pada versi online, yang lebih mudah karena bisa memuat hingga ribuan karakter tanpa khawatir dibatasi halaman.

Dini menyebut, ada beberapa faktor membedakan antara feature stories dengan artikel hard atau soft. Misalnya, view, gaya bahasa, alur cerita, hingga rasa. Yupppi, setuju banget. Sebab, berdasarkan pengalaman saya, membaca suatu artikel itu nyaris sama, baik itu penyampaian atau sudut pandang. Yang membedakan, rasa dari yang digariskan sang penulis.

Penggemar karya NH Dini, Pramoedya Ananta Tour, Ahmad Tohari, dan Jane Austin ini pun membagikan rahasia untuk menulis feature stories.

- Bertutur
- Deskriptif: dalam menggambarkan suatu profil atau peristiwa tertentu secara gamblang
- Informatif
- Gaya penulisan: Indah memikat, naratif, prosais, imajinatif
- No need exactly 5W+1H
- Human of interest

Sebagai blogger yang berusaha untuk terus belajar dalam dunia tulis-menulis, tentu apa yang disampaikan Dini sangat berharga. Bisa dipahami mengingat materinya sangat istimewa. Sebab, hanya kami yang berada di kantor Blibli.com untuk mengikuti Komunitas ISB workshop batch 2 ini yang mendapatkannya!

"Feature itu bukan fiksi, tapi fakta. Hanya, dalam tulisan itu, ada emosi atau rasa yang menyertai. Feature is all about emotions, (feature) is taste," Dini, menjelaskan.

Menurut sosok yang juga berprofesi sebagai produser ini, mayoritas masyarakat di Indonesia suka gaya bahasa bertutur ala didongengin. Itu terkait minimnya pengetahuan literasi. Alhasil, jarang yang membaca buku dan lebih sering dibacakan dengan gaya bercerita. Bisa dipahami mengingat gaya bertutur itu mudah diterima karena dapat diceritakan dengan detail.

"Nah, untuk rekan-rekan blogger yang ingin menulis feature stories, ini gampang. Yang penting, kita harus terbiasa membaca untuk memperkaya diksi dalam tulisan," lanjut pemilik akun instagram @dinifitria_author ini.

Mendengar penjelasan Dini itu membuat saya seperti diguyur dengan seember air dingin. Yupz, adakalanya, dalam menulis saya kerap alpa. Alias, lebih menitikberatkan objek atau peristiwa itu tanpa menggali lebih dalam dari apa yang terjadi. Ibaratnya, sejauh ini saya hanya sebatas jadi pemadam kebakaran saja.

"Menulis itu soal rasa yang juga punya tanggung jawab. Jadi, buatlah tulisan yang bermanfaat untuk pembaca," ucap Dini usai menerangkan terkait story telling.


Benar sekali. Menulis itu bak memiliki dua mata pedang. Alias, kita harus benar-benar menuliskannya dengan fakta. Bahkan, pengalaman saya pribadi, fakta yang disertai data lengkap dari sumber ketiga tidak cukup. Sebab, di lapangan kondisinya tidak lagi 1+1=2. Namun, ya begitulah. Tentu, kita tidak bisa membahagiakan semua orang...

Intinya, air bisa membuat perahu berlayar. Namun, juga dapat menenggelamkannya. Sebagai penulis, khususnya blogger, harus bertanggung jawab dengan isi tulisan itu sendiri seperti yang disampaikan Dini dengna lugas.

Yupz... Sore itu, bertambah lagi wawasan saya terkait dunia blogger.***

*        *        *
Trilogi Cinta karya Dini Fitria

*        *        *
Rekan sekaligus mentor Ani Berta, rekan mengawali workshops ini

*        *        *
Public Relations & Community Manager Blibli.com Christine Lie Hartati

*        *        *
Sesi beauty class dari Zoya Cosmetics yang melibatkan rekan blogger

*        *        *
"Anggap saja rumah sendiri. Mau kopi tinggal seduh," kata salah satu karyawan
Blibli.com memberi penawaran yang langsung saya sambut dengan senang hati

*        *        *
Dini Fitria berbagi kiat menulis di hadapan puluhan blogger

*        *        *
Suatu pengalaman berharga bisa mengikuti acara yang diselenggarakan
Komunitas ISB bersama Dini Fitria, Blibli.com, dan Zoya Cosmetics

*        *        *
*        *        *
- Jakarta, 8 Maret 2018

Sabtu, 09 Desember 2017

Lebih Dekat dengan Vania dari Aswata


Staf Aswata mendemonstrasikan chat dengan Vania lewat Line
(Klik untuk perbesar foto dan geser untuk melihat gambar lainnya)


PERKEMBANGAN teknologi membuat setiap perusahaan harus tanggap. Yaitu, bereaksi dengan zaman yang kian modern demi memanjakan pelanggan dan menjaring konsumen anyar. Jika tidak, siap-siap saja akan tertinggal.

Ibarat nelayan di samudera dengan dua pilihan. Mengikuti arus untuk menjaring ikan atau melawan derasnya ombak yang bisa mengaramkan kapal.

Fakta itu disadari PT. Asuransi Wahana Tata (Aswata) yang bergerak di bidang asuransi sejak 1964. Pengalaman panjang untuk melayani masyarakat dalam 53 tahun terakhir ini membuat perusahaan asuransi umum swasta nasional selalu berinovasi.

Tujuannya jelas, demi menjalankan kepercayaan nasabah perorangan maupun korporasi dengan berbagai produk dan layanan asuransi umum. Baik itu secara konvensional atau syariah.

Teranyar, Aswata meluncurkan virtual assistant dengan nama unik, Vania. Yaitu, akronim dari Virtual Assistant Aswata yang merupakan chat based Artificial Intelligence.

Peresmian Vania diselenggarakan di Gedung Asuransi Wahana Tata, Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (8/12). Kebetulan, saya turut hadir bersama puluhan blogger dan media nasional berkat informasi dari rekan blogger Ani Berta dari Indonesian Social Blogpreneur (Komunitas ISB).

Sebagai pribadi yang melek dengan perkembangan zaman dan memiliki minat terkait asuransi, bagi saya keberadaan Vania ini sangat menarik. Sebab, Vania dapat membantu nasabah atau calon nasabah dalam berinteraksi serta menjawab pertanyaan hingga proses penutupan polis asuransi umum.

Sekaligus, Aswata menjawab kebutuhan pasar yang kian modern. Yaitu, ketika kecepatan menjawab dan ketepatan serta update data dapat dilakukan secara online.

Bisa dipahami mengingat Vania yang hadir dalam sosok gadis cantik nan lincah dan cerdas serta mata yang memesona ini bakal menjawab semua pertanyaan lewat chat selama 24 jam!

Yupz, jadi, ketika saya butuh sesuatu terkait informasi atau update asuransi, saya tidak perlu menunggu lama seperti sebelumnya. Misalnya, berkirim surat elektronik (email), pesan singkat, atau telepon langsung.

Pasalnya, saya cukup melakukan chat dengan berteman di Line @Aswata, Facebook Messenger (Asuransi Wahana Tata), dan Telegram (@Aswata_bot).

"Kehadiran Vania merupakan jawaban Aswata untuk solusi kebutuhan asuransi umum bagi masyarakat digital," ujar Direktur Utama Aswata Christian W. Wanandi.

Nah, selain cepat dalam merespons via chat, Vania juga menyediakan bantuan untuk Emergency Roadside Assistance (ERA). Yaitu, pertanyaan seputar polis dan klaim, informasi seputar produk, dan jaringan kantor Aswata. Bahkan, informasi terkini mengenai info lalu lintasi hingga piawai meramalkan arti nama!

"Dengan Vania, nasabah yang mendapat banyak informasi secara update. Mulai dari pembelian asuransi yang sangat mudah, info produk, ERA, terkait polis, dan prosedur klaim, dan jaringan kantor Aswata di Tanah Air," kata Dept Head Information & Technology Aswata Rainier Kurniawan.

Aswata merupakan salah satu perusahaan asuransi umum terbesar di Indonesia dengan kekuatan permodalan yang solid. Itu ditunjang 1.200 karyawan pada 70 kantor yang tersebar di seluruh wilayah nusantara.

Dalam diskusi tersebut, Dept Head Marketing & Sales Retail HO Aswata Dewi Setiawati juga mengungkapkan fitur Vania bakal ditambahkan dalam beberapa waktu ke depan.

"Dalam riset kami, nasabah lebih suka berinteraksi lewat chat. Kenapa? Sebab, lebih praktis dan tidak perlu download lagi karena otomatis tersambung saat berteman. Namun, ada rencana ke depannya untuk membuat aplikasi untuk mobile," Setiawati menjawab pertanyaan Ani.

Nah, untuk mengenalkan Vania yang menyasar kepada generasi milenial, Aswata memberi kejutan istimewa. Yaitu, mereka membagikan polis asuransi kecelakaan diri/personal accident untuk masyarakat Indonesia secara gratis!

Itu meliputi jaminan meninggal dunia akibat kecelakaan atau cacat tetap senilai Rp 10 juta. Bagaimana caranya? Cukup berteman dengan Vania di Line dan media sosial lainnya.

"Ini sebagai bagian dari program Aswata untuk mengedukasi kepada generasi muda terkait asuransi. Caranya mudah, tinggal daftar saja di Vania dengan menggunakan kode voucher HOLIDAYAMAN," Wanandi. menjelaskan.

Nah, saya sudah mengenal dekat dengan Vania dari Aswata yang banyak memberi manfaat. Jika rekan blogger atau keluarga serta orang terdekat yang ingin mengetahui lebih lanjut bisa mendapatkan informasi terkait Vania di bawah ini:

Website: www.Aswata.co.id
Line: @Aswata
Facebook Messenger: Asuransi Wahana Tata
Telegram: @Aswata_bot
Twitter: @Aswata
Instagram: @Aswata_Id
Costumer Care: 1500 298

*         *         *
Direktur Utama Aswata Christian W. Wanandi menjelaskan terkait Vania

*         *         *
Dept Head Information & Technology Aswata Rainier Kurniawan membeberkan
berbagai fitur Vania

*         *         *
Dept Head Marketing & Sales Retail HO Aswata Dewi Setiawati menjawab
berbagai pertanyaan dari blogger dan media

*         *         *
Rekan blogger Ani Berta bertanya dalam sesi diskusi

*         *         *
Wanandi dan Rainier meresmikan fitur Vania yang diluncurkan di Gedung
Asuransi Wahana Tata di Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (8/12)

*         *         *
Salah satu program edukasi Aswata untuk generasi milenial dengna membagikan
polis asuransi senilai Rp 10 juta

*         *         **         *         *
*         *         **         *         *

*         *         *
- Jakarta, 13 Desember 2017

Sabtu, 28 Oktober 2017

Sisi Lain Pembangunan MRT Jakarta

#UbahJakarta bersama MRT Jakarta untuk transportasi lebih baik
(Klik untuk perbesar foto dan geser untuk melihat gambar lainnya)

TAK kenal, maka tak sayang. Demikian analogi saya mengenai proses fatpembangunan MRT Jakarta. Sebagai orang lapangan, saya harus mobile setiap hari. Apalagi, jika harus melewati jalur Senayan-Fatmawati yang kadang bikin saya kesal.

Namun, mau tidak mau, ya harus terima. Bagaimana pun, kantor saya berada di kawasan tersebut. Alhasil, dulu... meski setiap hari lewat, namun menoleh pun kepada tiang-tiang dan berbagai alat berat itu, saya enggan.

Sebab, keberadaan mereka justru membuat jalanan semakin macet. Pengalaman itu sudah saya tuangkan dalam artikel pada 27 Agustus lalu berjudul "#UbahJakarta, MRT Jakarta Bekerja Bersama untuk Layani Publik".

Meski, saya menyadari. Yang namanya jamu sebagai obat itu pahit. Namun, justru memberikan efek penyembuhan. Demikian fakta yang saya ketahui setelah berangsur-angsur sadar akan pentingnya MRT Jakarta. Terutama karena moda transportasi ini jadi jawaban untuk mayoritas warga ibu kota.

Intinya, ga apa-apa macet sekarang. Yang penting, kurang dua tahun lagi, saya dan jutaan warga Jakarta sudah bisa menggunakannya. Bangga juga akhirnya, ibu kota Indonesia ini memiliki MRT yang mampu bersanding dengan kota metropolitan lainnya di kolong langit.

*        *        *
SIANG itu, cuaca di ibu kota sangat terik. Kendati, dari arah selatan, gumpalan awan yang menghitam seperti memberi kode untuk membasahi bumi. Setelah membelah ibu kota yang lagi-lagi macet, saya pun tiba di Wisma Nusantara, Jakarta Pusat, Kamis (26/10).

Saat itu, sudah menunggu Teddy Rustandi, Rahab Ganendra, dan Ono Sembunglango. Kami berempat dipandu tiga perwakilan MRT Jakarta (Dewi K. Rahmayanti, Akbar, dan satu lagi) segera menuju lokasi pembangunan MRT Jakarta, tepatnya pada Stasiun Bundaran HI.

Usai mendapat pengarahan dan mengenakan perlengkapan keamanan, kami pun langsung menembus ke perut bumi. Seketika, saya merasa seperti jadi bagian dari ekspedisi James Cameron. Bedanya, sutradara Titanic dan Avatar itu bertualang hingga kedalaman 12 ribu meter di Palung Mariana. Sementara, kami hanya 20-30 meter.

Yupz, keberadaan saya di Bundaran HI memang untuk melihat lebih jauh proses pembangunan MRT Jakarta. Kebetulan, dua hari sebelumnya, saya mendapat informasi dari Ani Berta, founder dari Indonesian Social Blogpreneur (Komunitas ISB).

Tentu, tawaran untuk melihat langsung proses pembangunan MRT Jakarta ini tidak saya sia-siakan. Bisa dipahami mengingat saya penasaran dengan proyek tersebut. Sekaligus kepo untuk mengetahui sudah berapa persen pembangunan dari fase 1 ini.

"Hingga 30 September, perkembangan konstruksi mencapai 80 persen. Rinciannya, elevated (layang) 70% dan underground (bawah tanah) 90%," ujar Dewi kepada kami.

Menurut sosok yang genap tujuh bulan lalu jadi narasumber acara yang diselenggarakan Komunitas ISB dan CNI Indonesia ini (Artikel sebelumnya: Blogger Harus Punya Personal Branding yang Kuat), fase 1 ini rampung pada Desember 2018.

"Maret 2019 sudah beroperasi. Fase 1 ini meliputi 13 stasiun yang terdiri dari tujuh layang dan enam bawah tanah. Panjangnya mencapai 16 kilometer dari stasiun Bundaran HI hingga Lebak Bulus," Dewi, mengungkapkan.

*        *        *

STASIUN Bundaran HI ini merupakan yang terluas di fase 1. Panjangnya mencapai 400 meter seperti yang saya lalui. Terdiri dari tiga tingkat. Permukaan untuk akses masuk, tingkat kedua difungsikan untuk gaya hidup seperti pusat perbelanjaan, kafe, restoran, dan area komersil. Pada tingkat terbawah, terdapat dua rel di pojok berlawanan untuk ke arah utara dan selatan.

Saya membayangkan, kurang dari 1,5 tahun lagi, sudah kembali ke stasiun Bundaran HI ini dengan suasana yang ramai. Mirip seperti ketika saya berada di salah satu stasiun MRT di London (Artikel sebelumnya: Sisi Lain Perjalanan ke Millennium Stadium).

Kota yang jadi markas Arsenal dan Chelsea ini memang dikenal sebagai kota yang memanjakan masyarakat untuk beralih ke transportasi umum. Namun, tiba-tiba lamunan saya terhenti. Itu akibat suara-suara bising disertai dentuman tepat di atas kepala saya. Rasanya, seperti ketika berada di ruangan Imax sedang menyaksikan Thor: Ragnarok.

Akbar yang mengetahui kekagetan saya menjelaskan, "Tenang. Kita berada di bawah jalan raya dekat halte Bundaran HI. Suara-suara di atas itu lempengan besi yang dilewati kendaraan."

Mumpung sedang di lokasi, saya pun mengorek lebih jauh tentang pembangunan MRT Jakarta ini. Termasuk, ketahanan gempa, api, dan banjir. Wajar saja mengingat Jakarta rentan terhadap tiga faktor tersebut. Apalagi, lokasinya berada di bawah tanah yang tentunya sebelum membangun sudah mengantisipasi adanya force majeur.

"Konstruksinya sudah diuji untuk tahan gempa 9 skala richter. Begitu juga dengan banjir. Airnya akan disalurkan ke drainase. Tunnel ini diproyeksikan tahan gempa, air, dan api," Akbar menerangkan dengan panjang lebar.

*        *        *
YUPZ, sebagai blogger, saya merasa banyak sisi lain yang menarik diulas dari pembangunan MRT Jakarta ini. Hanya, itu akan saya review secara bertahap seiring dengan kian rampungnya moda transportasi andalan ibu kota ini.

Yang pasti, MRT Jakarta ini bakal jadi solusi untuk mengurai kemacetan di masa depan. Dan, saat pembangunan seperti sekarang ini, saya dan jutaan warga lainnya harus siap bermacet ria. Namun, kurang dari 1,5 tahun lagi bakal merasakan dampak positif dari MRT Jakarta.

Itu seperti filosofi jamu...

*        *        *
MRT Jakarta fase 1 selesai Maret 2018

*        *        *
Proses pembangunan di Stasiun Bundaran HI

*        *        *
Perwakilan MRT Jakarta memberi pengarahan kepada kami

*        *        *
Stasiun Bundaran HI ini masuk jalur layang dalam fase 1

*        *        *
Aktivitas dari karyawan MRT Jakarta yang sudah bekerja keras dan cerdas untuk
menyelesaikan proyek ini

*        *        *
Kedalaman Stasiun Bundaran HI ini berkisar hingga 20 meter

*        *        *
Stasiun Bundaran HI masuk kategori bawah tanah bersama Dukuh Atas, Setiabudi,
Bendungan Hilir, Istora, dan Senayan

*        *        *
Untuk stasiun layang ada pada Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete Raya, Haji Nawi,
Blok A, Blok M, dan Sisingamangaraja

*        *        *
Jalur Bundaran HI-Lebak Bulus pada fase 1 ini ditempuh hanya 30 menit

*        *        *
Rute Bundaran HI-Lebak Bulus setiap harinya bakal melayani 170 ribu penumpang

*        *        *
MRT Jakarta juga menyediakan gerbong khusus untuk disabilitas

*        *        *
Satu gerbong MRT Jakarta dapat menampung 200-300 penumpang

*        *        *
Jalur sepanjang 16 kilometer ini rampung Desember 2018 dan beroperasi
Maret 2019

*        *        *
Yupz, jadi bagian dari #UbahJakarta bersama MRT Jakarta!
(Foto: www.roelly87.com/ didokumentasikan Ono Sembunglango)

*        *        *
Artikel sebelumnya:
- #UbahJakarta, MRT Jakarta Bekerja Bersama untuk Layani Publik

*        *        *
DISCLAIMER: Seluruh foto merupakan dokumentasi pribadi (www.roelly87.com) atas persetujuan PT MRT Jakarta. Dilarang menggunakan foto proses pembangunan Stasiun Bundaran HI ini untuk tujuan komersial

- Jakarta, 28 Oktober 2018