TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: 2024

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol

Senin, 01 April 2024

Wabah Pak Ogah Merajalela, Polisi Bisa Apa?


Wabah Pak Ogah Merajalela, Polisi Bisa Apa?


Keberadaan Pak Ogah di setiap tikungan
yang kerap mengganggu (foto: www.kompasiana.com/roelly87)


MARET lalu merupakan peringatan empat tahun Koronavirus di Tanah Air. Pandemi yang mewabah di penjuru dunia sejak awal 2020, termasuk Indonesia yang terkena dampaknya.

Banyak korban berjatuhan, khususnya yang meninggal. Termasuk, beberapa yang saya kenal seperti keluarga, tetangga, rekan, dan sebagainya.

Pandemi juga mengguncang perekonomian Indonesia. Ada beberapa kenalan yang harus keluar dari tempat kerjanya.

Bisa itu perusahaannya bangkrut atau memang pemutusan sepihak akibat seretnya pemasukan. Wajar saja, mengingat dunia usaha memang berada dalam titik nadir.

Pengangguran pun di mana-mana. Setidaknya, dalam dua tahun pandemi hingga statusnya dicabut pada 21 Juni 2023.

Sejak saat itu, perekonomian di Tanah Air pun bangkit. Perusahaan raksasa, tradisional, hingga UMKM kembali bergeliat.

Di sisi lain, Pandemi Koronavirus membuat subur para pemalas. Yaitu, orang-orang yang ingin dapat duit mudah tanpa kerja keras hingga saya menyebutnya Gerombolan Makhluk Hidup Nirguna (GMHN).

Misalnya, Organisasi Masyarakat (Ormas), Kang Parkir Liar, Pak Ogah, Calo, Pungutan Liar (Pungli), Penjaga Perlintasan Kereta Ilegal, dan sebagainya seperti yang saya ulas pada artikel sebelumnya, Terima Kasih, Orang Baik 3/ https://www.roelly87.com/2024/03/terima-kasih-orang-baik-3.html.


*       *       *


MASALAH utama di ibu kota yang selalu turun temurun itu ada dua. Macet dan banjir.

Nah, saya akan bahas yang pertama. Sebab, berkaitan dengan GMHN, khususnya Pak Ogah.

Ya, Pak Ogah jadi penyebab utama macet di Jakarta. Demikian berdasarkan pengamatan saya sehari-hari yang berprofesi sebagai ojek online (ojol).

Ini bukan dongeng. Alias, fakta.

Anda, pembaca blog ini bisa melihat dan merasakannya di sepanjang jalan utama ibu kota. Itu meliputi Sudirman, Gatot Subroto, Satrio, Rasuna Said, Daan Mogot, Pasar Minggu, dan sebagainya.

Saya berani bilang, satu-satunya jalan utama di Jakarta yang tidak diserbu Pak Ogah adalah Jalan Thamrin. Untuk empat Jalan Medan Merdeka, kita ga usah bicarakan sebab itu Kawasan Ring 1.

Sumpah, saya berani mengatakan, selain lima jalan itu, Thamrin dan Medan Merdeka (Utara, Timur, Selatan, Barat), tidak ada lagi jalanan di Jakarta yang bebas Pak Ogah.

Sudirman? 

Ada!

Yaitu, di Simpang Jalan Garnisun, Penjernihan 1, dan Setiabudi Raya. Aneh, jalan utama yang menghubungkan pusat bisnis Indonesia malah banyak Pak Ogah.

Gatot Subroto? 

Banyak.

Termasuk, di samping Gedung MPR/DPR. Jika Anda dari arah Pejompongan Raya menuju Slipi, pasti nemuin Pak Ogah.

Anehnya, di dekatnya sering ada motor atau mobil polisi. Namun, ya gitu deh.

Bahkan, yang teranyar di media sosial dengan Pak Ogah memberi akses ilegal sepeda motor lewat trotoar dengan dimintain uang! Ini tiap hari saya amati jika mengantarkan penumpang ke Stasiun Palmerah.

Padahal, di dekatnya ada petugas, tapi seperti tak terlihat. Apalagi, ketika tahu, di sampingnya merupakan Markas Wakil Rakyat. 

Anehnya, para anggota MPR, DPR, DPD, hingga polisi seperti bergeming. Apa ga malu mereka melihat situasi seperti itu tiap harinya.

Kadang, saya juga suka mengernyitkan dahi dengan keberadaan Pak Ogah yang seakan dibiarkan. Misalnya, di Jalan Rasuna Said yang banyak putaran balik.

Pak Ogah jadi biang kemacetan di sana. Ada satu waktu, mereka absen karena kehadiran polisi yang menjaga.

Namun, adakalanya kompak. Polisi di samping mengatur kendaraan yang berputar, sementara Pak Ogah di sisi lainnya ikut juga mengatur.

Aneh euy. Padahal, sepanjang jalan tersebut berderet kantor kementerian dan kedutaan besar. Sumpah, ibarat kangouw, pemandangan ini benar-benar bisa jadi bahan tertawaan dunia.

Namun, aparat seperti cuek dengan keberadaan Pak Ogah yang sangat mengganggu.

Yang saya maksud adalah pihak kepolisian.

Nah, lho. Kenapa polisi yang disalahkan?

Ya, sebab mengatasi keberadaan Pak Ogah ini memang tugasnya. Kalau Satpol PP, mana berani.

Begitu juga dengan Dishub. Yang dikejar cuma taksi konvensional dan taksi online yang parkir di pinggir jalan. 

Jika mobil pejabat ikutan parkir, Dishub ini kayak ketakutan. Contoh, di Jalan Gunawarman, Senopati, Suryo, Kemang, dan sebagainya.

Tentu, untuk mengatasi keberadaan Pak Ogah ini, polisi harus kolaborasi dengan pemerintah daerah, Sat Pol PP, dan Dinas Perhubungan.

Itu juga kalo mereka pada mau kerja beneran. Jika tidak, saya lebih percaya Hitl*r meninggal di Garut. 


*       *       *


BTW, mungkin Anda bertanya-tanya. Apa sih, kesalahan Pak Ogah hingga dibuatkan artikel ini secara khusus?

Salah besar menyebut Pak Ogah ikut mengatur lalu lintas di putaran balik, persimpangan, atau pertigaan. Itu bukan tugasnya. Titik!

Saya pernah mengulasnya 10 tahun silam pada artikel https://www.kompasiana.com/roelly87/54f71562a3331100258b4893/mengusir-pak-ogah-solusi-atau-benci?page=all. 

Mereka seolah jadi pahlawan bagi kendaraan yang ingin berputar. Namun, jika Anda sadari, justru Pak Ogah ini yang bikin macet.

Pasalnya, mereka hanya mau membukakan jalan untuk mobil yang memberinya uang. Bisa seribu atau Rp 2.000.

Anda perhatikan baik-baik. Jika Anda bawa mobil pribadi hendak putar balik, lalu jendela diturunkan, dan tangan menyelipkan uang, dari jauh Pak Ogah sudah bisa melihatnya.

Mobil Anda langsung dikasih lewat dengan menghentikan kendaraan lain. Mereka tidak peduli dari arah berlawanan atau belakangnya jadi terhambat karena harus menunggu. Termasuk sepeda motor, angkot, dan taksi yang tidak dilirik mereka sama sekali.

Itu jika Anda memberinya seribu atau Rp 2.000. Bagaimana jika selembar Rp 5.000?

Tentu, Anda akan dipersilakan Pak Ogah dengan sigap layaknya diberi karpet merah. Termasuk, mereka akan mengucapkan terima kasih dengan rasa syukur. Anjing!

Lalu, jika Anda memberi selembar Rp 10.000, Pak Ogah itu bisa-bisa sujud kepada Anda. Bahkan, jika Anda membuat agama baru, hingga jadi Tuhan sekalipun, Pak Ogah bakal rela jadi hambanya. 

Saking bersyukurnya mereka diberi uang ceban. Bener-bener manusia bangsat!

Hasil duitnya mereka? Kalo ga dipake buat judi, main sloth, mabuk, nyabu, hingga ngewe alias Open BO!

Sementara, 10 tahun lalu, saya catat bahwa, mereka rata-rata sehari mendapatkan penghasilan kotor Rp 100.000 - Rp 250.000. 

Jumlah yang menggiurkan untuk mereka yang hanya bermodalkan "tangan di atas" dengan berdiri di tengah jalan tanpa harus memeras keringat apalagi otak. Bahkan, jika Pak Ogah itu remaja tanggung, kebanyakan uang sebesar itu dipakai untuk hal yang negatif. 

Mulai dari membeli narkoba, mabok-mabokan, hingga pelesiran ke lokalisasi. Ironis, tapi faktanya yang saya dapat memang seperti itu.


*       *       *

Partner in Crime Anda dan Pak Ogah

Dikasih Rp 1.000 = B aja

Rp 2.000 = Ngangguk

Rp 5.000 = Karpet merah, mengucapkan terima kasih dengan penuh syukur dan khidmat

Rp 10.000 = Sembah sujud, kalo Anda bikin agama baru, mereka jadi yang pertama sebagai hambanya

Nolak lambaikan tangan = Cemberut

Lewat tanpa buka kaca = Kata-kata mutiara nan syahdu dari Kebun Binatang pun keluar

Nyelonong tancap gas = Ada kemungkinan disambit atau baret body mobil Anda


*       *       *


NAH, itu contoh jika Anda memberinya uang. Bagaimana jika tidak memberinya dengan kaca jendela tetap tertutup.

Ho ho ho... 

Pak Ogah itu akan masa bodoh. Tak jarang, mereka mengumpat dengan kata-kata mutiara khas Kebun Binatang atau yang menjurus.

"Pelit!"

"Dasar kere!"

"Punya mobil tapi ga mau ngasih!"

"**** Anjing!"

"Dasar **** *****! Mobil aja bagus, tapi pelit."

"Ngasih seribu dua ribu ga bikin lo miskin!"

Itu belum seberapa. Bahkan, sering mobil dibaret bodynya akibat Pak Ogah kesal karena sudah membuka jalan tapi ga dikasih duit.

Ha ha ha. Mereka ini benar-benar sinting.

Btw, yang saya tulis seluruhnya ini fakta ya. Kecuali kalimat yang disensor karena menjurus SARA, untuk umpatan lainnya nyata.

Termasuk, soal baret yang bisa Anda cari beritanya di Google. Kata kuncinya, Pak Ogah Baret Mobil, nanti nongol semua.

Itu mengapa, saya sangat benci kepada mereka. Bahkan, tidak simpati sama sekali saat mengetahui berita ada Pak Ogah yang dipersekusi aparat seperti TNI atau polisi. 

Mampus!

Ha... Ha... Ha...

Makanya, kalo mau duit ya kerja. Jangan cuma berdiri di putaran balik, tikungan, dan pertigaan saja.

Eit, lupa. Akibat merugikan pengendara, bahkan pernah Pak Ogah ditembak.

Sumpah, saya ga simpati sama sekali. Bahkan, saya berharap, pemerintah bersama kepolisian segera menghapus Pak Ogah dari muka bumi Indonesia ini.

Satu dekade lalu, saya sangat bangga dengan Basuki Tjahaja Purnama yang ingin menghapusnya karena telah mengganggu ketertiban akibat membuat macet kian parah. Sayangnya, Ahok yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jakarta ini dimentahkan kepolisian. 

Tepatnya melalui Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi (Kombes) Mulya Budyanto. Menurutnya, keberadaan Pak Ogah malah membantu masyarakat, khususnya pihak kepolisian.

"Kalau tidak ada 'Pak Ogah' tambah macetnya. Memang Pak Ogah yang begitu-begitu harus diberi arahan. Mau diusir pun besok tetap ada di situ dia," ujar Restu pada 2014 silam.

Ha... Ha... Ha...

Mau ketawa tapi takut dosa pas puasa-puasa gini.

Mau sedih, eh inget bahwa negara ini punya mereka.

Kalau sudah begini, saya berharap Pak Ogah mampu menginvasi Ibu Kota Nusantara (IKN). Bahkan, kalau perlu, gerombolan Hyena itu -yang lebih hina dari Anjing- turut mengatur lalu lintas di depan Istana Presiden yang baru.

Sumpah, jika terwujud, saya sangat bangga dengan negara ini!***


*       *       *


- Jakarta, 1 April 2024


*       *       *

Artikel Terkait:


- https://www.roelly87.com/2024/03/terima-kasih-orang-baik-3.html

- https://www.kompasiana.com/roelly87/55091051a33311f6432e3af3/ramadhan-ketika-sang-bos-konveksi-kepusingan-ditagih-thr-pemuda-kampung


- https://www.kompasiana.com/roelly87/54f71562a3331100258b4893/mengusir-pak-ogah-solusi-atau-benci


...

Selasa, 26 Maret 2024

Penumpang Kecebur Got dan Motor Hampir Mogok: Drama Banjir 22 Maret

Penumpang Kecebur Got dan Motor Hampir Mogok: Drama Banjir 22 Maret


SS Google Maps 22 Maret 2024


MEMASUKI peralihan musim 2024, hujan masih mengguyur di berbagai titik di Tanah Air. Termasuk Jakarta, yang dalam sebulan terakhir dilanda banjir.

Namun, yang terparah saya catat ada dua. Yaitu, Kamis (29/2) dan Jumat (22/3). 

Kebetulan, dua hari tersebut tidak bisa saya lupakan. 

Kenapa? Sebab, saya ikut terjebak banjir akibat genangan air di beberapa titik ibu kota.

Akhir bulan lalu, saya terjebak banjir di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Bahkan, harus meminta tiga penumpang untuk jalan kaki. 

Sementara, mesin sepeda motor saya matikan dan knalpot ditutup plastik. Tujuannya, agar tidak mogok. 

Alhasil, saya pun turut mendorong si kuda besi diikuti penumpang dari belakang.

Kapok dah.

Selama jadi ojek online (ojol) sejak 2019 silam, saya paling khawatir jika motor mogok akibat banjir. Sebab, servisnya memerlukan biaya besar.

Apalagi, motor saya jenis matic. Tanpa sela atau engkolan yang membuat saya hanya bisa pasrah jika mogok.  

Sejak insiden akhir Februari itu, saya pun jadi lebih selektif dalam memilih order dengan tujuan. Demi menghindari area yang dilanda banjir.

Hanya, sebagai manusia, adakalanya saya lupa. Itu terjadi pada 22 Maret lalu.


*       *       *


GOOGLE Maps yang saya simak dengan teliti memancarkan warna merah. Pekat kehitaman, yang berarti macet parah di area Jakarta Barat, Utara, dan Kabupaten Tangerang.

Saat itu, saya baru dapat orderan di salah satu aplikasi dengan tujuan Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Btw, saya punya 5 aplikasi ojol dan kurir.

Saya cek tarif, lumayan. Selembar biru lebih dengan jarak kurang dari 20 km.

Namun, ada keraguan untuk mengambil orderan tersebut. Sebab, empat rutenya macet parah.

Bahkan, di beberapa grup WA ojol, kurir, dan taksi online, serempak. Mengabarkan, kawasan Barat ibu kota dikepung banjir.

Dari tempat penumpang di Kapuk ke bandara ada empat rute dengan selisih jarak berbeda.

1. Lewat Jalan Kapuk Kayu Besar-Kamal Raya-Benda Raya-Atang Sanjaya-Hussein Sastranegara-Terminal 3.

2. Lewat Jalan Kapuk Kayu Besar-Kamal Raya-Benda Raya-Atang Sanjaya-Hussein Sastranegara-Terminal 3.

3. Lewat Jalan Lingkar Luar Barat-Utama Raya-Utan Jati- Peta Barat-Hussein Sastranegara-Terminal 3.

4. Lewat Jalan Lingkar Luar Barat-Daan Mogot-Peta Selatan-Peta Barat-Hussein Sastranegara-Terminal 3.

Berdasarkan live traffic di Google Maps, saya ambil rute pertama meski tampak merah akibat macet. Pasalnya, lebih dekat ketimbang rute dua atau tiga dan bahkan empat yang harus memutar dan sama-sama macet. 

Ya, namanya juga jam pulang kerja. Jumat pula, yang memang jadi puncak hari macet setiap pekannya.

Namun, ketika baru tiga-empat km, feeling saya merasa ada yang aneh. Sebab, arah Tangerang macet hingga ga gerak, sebaliknya arah Kapuk malah lenggang.

Ternyata, di depan suatu pabrik, banjir. Waduh...

Truk, mobil, dan motor, semua tertahan. Beberapa di antaranya pilih putar balik.

Saya tanya warga setempat yang bawa gerobak, katanya banjir hingga setengah meter. Gawat.

Pasti, motor ga bisa lewat. Saya pun inisiatif mutar balik.

Pada saat yang sama, penumpang mengatakan apakah bisa tiba di Bandara sebelum pukul 21.30 WIB. Sebab, pesawatnya berangkat pukul 22.00 WIB. 

Belum harus jalan dari Terminal 3 dan boarding pass.

Saat itu, menunjukkan pukul 20.11 WIB. Jika normal, dari Kapuk ke Bandara estimasinya 30-45 menit.

Nah, ini banjir. Ga mungkin terkejar sekitar 1 jam 15 menit.

Penumpang itu pun juga panik. Sebab, dia harus segera terbang ke luar pulau karena ada tugas mendadak.

Pria berusia 40 tahunan ini mengaku tadinya naik taksi online dengan dua kawan. Namun, tol banjir hingga kendaraan terpaksa keluar di Jalan Kayu Besar hingga naik ojol.

Saya pun beralih ke rute kedua. Sekitar 1-2 km, situasi sama seperti rute pertama. Arah Tangerang macet, sebaliknya Kapuk lancar dengan beberapa motor lewat.

Termasuk, yang didorong dengan mematikan mesin.

Saya tanya, banjir sebetis. Alias, sekitar 30 cm. Bisa dilewati, tapi pelan-pelan dan knalpot harus ditutup agar tidak kemasukan air hingga mogok.

Saya pun mengikuti saran tersebut. Menutup knalpot agar aman dari banjir. 

Tak lupa, saya izin ke penumpang agar dia jalan kaki. Sementara, saya mendorong motor.

Penumpang itu mengiyakan. Pelan-pelan kami menyusuri jalan yang tergenang bersama beberapa pengendara lain.

Situasi benar-benar mencekam. Sebab, sepanjang jalan gelap akibat listrik padam.

Saya yang awam daerah tersebut pun deg-degan. Takutnya ada lobang atau binatang.

Kekhawatiran saya terbukti. Saat itu ada truk yang melintas hingga menimbulkan riak gelombang. 

Meski truk itu jalannya pelan, tapi efek riak airnya membuat stang motor goyang. Nyaris saja saya tersungkur. 

Ga bisa dibayangkan jika gagal menahannya, saya dan motor harus terbalik. Apalagi, situasi gelap banget.

Namun, yang lebih mendebarkan lagi saat mendengar bunyi byur dari arah jam 11. Ternyata, penumpang kecebur got!.

Ampun...

Saya mau menolong tapi jalanan ga rata. Motor pun sulit distandar miring atau tengah.

Beruntung, penumpang langsung bangkit. Meski, pakaiannya basah kuyup. 

Termasuk, tas ransel di punggung dan bungkusan plastik basah. 

Astaghfirullah...

Sumpah, ga tega banget liatnya.

Apalagi pas tahu ranselnya itu berisi laptop, hp, gps, dan perangkat lain. Waduh...

...


*       *       *


SINGKAT cerita, kami bisa melewati banjir tersebut. Istirahat sejenak di ruko pinggir jalan dengan penerangan temaram tapi cukup aman karena dekat lokasi penduduk.

Penumpang langsung mengecek isi ransel. Alhamdulillah, aman.

Semua bisa berfungsi. Termasuk, hp yang langsung digunakan untuk menelepon koleganya.

Syukurlah...

Saya pun lega. Apalagi, pas tahu laptopnya ga kebasahan karena tertutup tas yang kedap air.

...

Usai seperminuman teh, kami pun tiba di Terminal 3 dengan waktu menunjukkan pukul 21.20 WIB. Dengan selamat dan tak kurang apa pun.

Hanya basah saja. Celana panjang saya hingga sepaha masih belum kering akibat menerobos banjir.

Sementara, penumpang justru basah kuyup. Saya pun jadi ga enak.

Namun, dia memaklumi. Yang penting, katanya sudah tiba di bandara tepat waktu.

Sebelum pamit, tak lupa saya kembali minta maaf atas insiden kecebur itu. Meski, bukan kesalahan langsung dari saya terkait force majeur.

Namun, sebagai ojol yang bergerak di bidang jasa, wajar jika saya harus minta maaf. Penumpang itu menolak.

Menurutnya, itu murni kesalahannya akibat jalanan gelap hingga tidak melihat selokan. Yang terpenting, katanya lagi, dia sudah tiba tepat waktu untuk mengejar pesawat. 

Agar bisa terbang ke luar pulau demi tugas. Sebab, jika terlambat, tiketnya hangus dan harus beli baru dengan jadwal siang.

Penumpang itu pun berterima kasih sambil memberi tip yang tentu saya tolak. Bukan maksud nolak rezeki, tapi ga enak aja bikin orang kecebur got.

Namun, usai menyerahkan helm, dia menyelipkan selembar merah ke dashboard motor. Tak lama, langsung berlalu dengan cepat.

Saya panggil untuk mengembalikannya, tapi dia bergeming. Ya sudah, saya pun teriak untuk mengucapkan terima kasih.

Lumayan, tipnya dua kali ongkos ojol. Rezeki menerobos banjir.


*       *       *


SAYA beristirahat sejenak di Parimeter Utara sambil ngemil bala-bala dan kerupuk mie yang sudah jadi bubuk akibat ketindihan di jok motor. Untung sambal kacangnya masih utuh dan saya cium ga basi.

Langit saat itu masih temaram.

Saya pun menyalakan seluruh aplikasi ojol dan kurir. Berharap ada orderan ke Jakarta.

Dari atas kepala, tampak hilir-mudik pesawat. Sementara, jalanan dari dan menuju bandara cukup ramai.

Tak lama, bunyi orderan di salah satu aplikasi. Hmm...

Ongkosnya lumayan. Jaraknya pun oke.

Hanya, setelah mengecek lebih teliti, ada yang janggal.

Saya seperti mencium bau amis.

...


*       *       *


- Jakarta, 26 Maret 2024















,

Kamis, 21 Maret 2024

Terima Kasih, Orang Baik (3)

 Terima Kasih, Orang Baik (3)

Terima Kasih, Orang Baik (3)

Bungkusan makanan yang siap dibagikan
(Foto: @roelly87)




"SELAMAT sore, pak. Ini saya ojol XXX yang mau antar makanan.

Untuk pesanan, sudah sesuai ya?" Demikian sapaan saya melalui chat kepada customer di salah satu aplikasi ojek online, Jumat (15/3).

"Ya, pak. Sesuai," jawabnya. "Bentar lagi, saya telepon ya. Sudah di resto, kah?"

"Ya, pak. Siap."

Sambil bersiap menuju restoran di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, saya pun menepikan sepeda motor. Maklum, Jalan Satrio lumayan padat pada hari keempat Ramadan 1445 Hijriah tersebut.

Saya chat lebih dulu untuk konfirmasi pesanan yang lumayan banyak. 30 bungkus nasi dengan aneka lauk di suatu Resto Ayam dan Bebek Goreng.

Ada perasaan ragu untuk mengambil orderan tersebut. Sebab, jaraknya lumayan dekat dengan resto. 

Kurang dari 10 meter!

Alias, merem pun sampai ke tempat customer.

Itu mengapa, saya khawatirnya customer salah pilih lokasi tujuan. Hal yang lumrah saya temui sepanjang lima tahun jadi ojol.

Pasalnya, pelanggan sering asal memasukkan alamat yang namanya sama tapi lokasi berbeda. Misal, Kebun Jeruk di Kecamatan Kebun Jeruk, dan Kebun Jeruk di Kecamatan Taman Sari.

Meski sama-sama ada di Jakarta Barat, lokasi keduanya terpaut 10 km lebih.

Kedua, terkait nunggu pesanan. Sore saat  Ramadan sudah pasti resto, rumah makan, warung, dan sebagainya dipenuhi pelanggan. Baik untuk beli dibungkus atau via ojol.

Kadang, satu atau dua bungkus aja antrenya bisa memakan waktu 15 menit. Nah, apalagi ini 30 bungkus.

Saya melirik arloji di tangan kiri, menunjukkan pukul 15.30 WIB. Saya berharap, pesanan ini tidak makan waktu lama agar bisa cari orderan lagi.

Mestakung. Semesta mendukung.


*       *       *


"HALLO, pak. Saya ZZZ yang order." 

Terdengar dari seberang telepon suara wanita. Sepertinya masih muda. 

Mungkin sekitar 20-an tahun atau 30 tipis-tipis. Awalnya, saya kira pria, secara namanya identik dengan kaum Adam. 

Kendati, banyak juga wanita yang punya nama tersebut. Contoh, ini contoh saja: Rian.

Bisa pria, seperti Rian Hidayat atau Rian Ardianto. Atau wanita, kependekan dari Ariani.

"Pak, udah beli buat buka puasa?"

"Belum, kenapa ka?"

"Nanti, bapak ambil makananya terserah. Sekalian, buat keluarga di rumah. Sisanya, bapak bisa berikan kepada yang membutuhkan. Siapa aja ya, pak. Bebas."

Saya agak kaget pas customer tanya apakah sudah beli takjil buat buka puasa. Jawaban saya belum, karena saat itu masih sore. 

Biasanya, saya beli mendekat Maghrib di pedagang yang sepi. Kecuali, jika keluar ngojol dari awal, sudah dibekali Ibu dengan gorengan dan kolak yang santannya dipisah agar tak basi.

"Nanti, makanannya ga usah diantar ke saya ya pak. Titik alamat hanya patokan aja," customer itu melanjutkan. "Kalau berkenan, saya minta tolong agar bapak bisa langsung bagiin kepada yang mau buka puasa. Mumpung masih sore. Oh ya, ga usah difoto buat bukti. Terima kasih, sebelumnya."

"Ini maksudnya, bagiin di jalan ka? Atau ke panti?"

"Iya pak. Kalo panti, udah ada tim lain. Ini khusus di jalanan. Maaf ya pak, merepotkan."

"Siap, ka. Terima kasih."

"Terima kasih, kembali."

Saya pun bergegas menuju resto. Sebagian besar orderan sudah dibuat, tinggal nunggu beberapa yang akan dibungkus lagi.

Menunya bervariasi. Ada ayam goreng sambal ijo, penyet, bebek bumbu hitam, ucus, ampela, ati, tahu, dan tempe.

Wow... Mencium aromanya yang sedap saat digoreng bikin ngiler!

...

Setelah jadi, saya segera membagikannya di kawasan tersebut. Baik ke sesama ojol, pemulung, pengemis, dan sebagainya.

Sisa satu, saya taroh jok motor untuk disantap jam 9an malam. Sebab, biasanya saat maghrib, saya hanya makan ringan seperti kolak atau gorengan agar tidak terlalu kenyang yang bikin ngantuk di jalan. 

Selain itu, saya juga nggak bawa pulang karena di rumah juga masak. Apalagi, sebagai ojol, saya tidak tentu kapan baliknya. 

Tergantung arah orderan. Biasanya menjelang Subuh. 

Terlebih, jika ada orderan luar Jakarta, seperti yang rutin ke Tambun, Bekasi, Depok, Teluk Naga, dan sebagainya. Bisa mubazir jika bawa bungkusan banyak tapi malah ga dimakan.



*       *       *


USAI menyelesaikan orderan, aplikasi ojol saya bunyi. Tanda ada dana masuk.

Wow... Nominalnya sangat besar. 

Terima kasih, orang baik!

Mungkin tip itu sebagai tanda terima kasih dari customer tersebut untuk saya yang mau mengambil orderan dan membagikannya.

Sebagai ojol, saya ga anti pemberian dari customer. Dikasih, ya terima.

Asal jangan minta. Pantangan. Berasa hina banget saya kalau seperti itu.

Sebab, tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah.

Pemberian tip itu juga bisa jadi karena customer puas atas layanan ojol. Sebab, ojol itu profesi di bidang jasa.

Bagi saya pribadi, tip dari customer ibarat subsidi silang. Yaitu, untuk menutupi pengeluaran yang berkaitan saat pengantaran baik makanan atau paket.

Misalnya, parkir resmi mal atau resto yang rata-rata Rp 2.000 per jam. Ada juga Rp 3.000 untuk beberapa Pasar Jaya yang dikelola BUMD (Sumber: https://www.instagram.com/p/ChHSPvVrimK/?igsh=Nm85bDlvaHZzYnZl).

Aneh, perusahaan milik daerah tapi tarif parkirnya lebih mahal dari mal sekelas PI, GI, PIM, dan elite lainnya. 

Lebih ga masuk akal lagi di Markas Kepolisian Daerah Metro Jaya, yang per jam Rp 4.000! (Sumber https://www.instagram.com/p/CySufvYSaeD/?igsh=NWk2ajJsenZrd3c4)

Mau heran kepada Pasar Jaya dan Polda Metro Jaya, tapi langsung inget. Bahwa, negara ini punya mereka... Ha ha ha!

...

Lanjut... Jadi, pendapatan dari tip sebagai subsidi silang memang wajar. Setidaknya, menurut saya sejak ngojol 2019 silam.

Selain parkiran resmi, adakalanya parkiran ga jelas saat masuk komplek. Ya, pungutan liar (pungli) memang merajalela. Contoh, sepanjang ruko di kawasan Kapuk, Teluk Gong, Bandengan, Jembatan Dua dan Tiga, hingga Pangeran Jayakarta. 

Setiap sepeda motor yang masuk, dikenakan parkir. Mending kalo resmi ada struknya. 

Lah, ini cuma selembar kertas yang disablon doang (Sumber: https://www.instagram.com/p/CsLIgujStxi/?igsh=b3NkOXlpemEyZ2Q1). 

Bahkan, ada yang hingga Rp 3.000! Bangsat!

Itu ulah akamsi pecundang dan ormas sampah. Para orang malas yang nyari duit ga mau capek kerja bersama kang parkir liar dan pak ogah.

Saya menyebutnya, Gerombolan Makhluk Hidup Nirguna (GMHN).  

Hasil duitnya mereka? Kalo ga dipake buat judi, main sloth, mabuk, nyabu, hingga ngewe alias Open BO!

Kasar? Itu fakta.

Apalagi, menjelang Idul Fitri ini. GMHN ini yang terdepan untuk minta Tunjangan Hari Raya (THR) ke berbagai toko, ruko, pasar, warung, resto, minimarket, dan sebagainya.

Aneh, kerja di sana juga nggak, tapi tiap tahun rutin minta THR. Anjing!


*       *       *


BEGITULAH kehidupan di Tanah Air, khususnya Jakarta, jelang Idul Fitri. Serba keras.

Banyak orang malas yang selalu ingin enaknya doang. Mudah dapat duit tanpa mau usaha. 

Sampah!

Pada saat yang sama, saya sangat mengapresiasi jika ada individu atau instansi yang rela berbagi kepada sesama di jalan. Yaitu, takjil seperti kolak, gorengan, hingga makanan berat.

Banyak yang sudah saya saksikan aktivitas mulia mereka sepanjang Ramadan dalam lima tahun sebagai ojol. Beberapa di antaranya saya abadikan di media sosial, termasuk Instagram:

- https://www.instagram.com/p/CRYImbFrHNF/?igsh=aHJtZmpxZTJvbGJq

- https://www.instagram.com/p/Cc7oJjuLExX/?igsh=MXdxOGM5bnE2cmxp

- https://www.instagram.com/p/ComdwGKSHAV/?igsh=ZTJ1Yzd2ZGl2aDg=

Semua list itu saya ambil dari instagram pribadi, @roelly87. Bukan dari blog.

Sebab, baru mulai aktif lagi ngeblog setelah sebelumnya jarang-jarang. Apalagi, di Kompasiana yang hiatus sejak 2018 hingga baru kembali Oktober lalu.

Sebagai bloger, tentu saya tertarik mengabadikan berbagai peristiwa terkini. Termasuk, soal niat mulia orang yang berbagi di bulan penuh berkah ini.

Akhir kata, terima kasih, wahai para orang baik!


*       *       *


- Jakarta, 21 Maret 2024


*       *       *


Artikel Terkait:


- https://www.roelly87.com/2022/09/terima-kasih-orang-baik.html (1)

- https://www.roelly87.com/2023/02/terima-kasih-orang-baik.html (2)

- https://www.kompasiana.com/roelly87/55091051a33311f6432e3af3/ramadhan-ketika-sang-bos-konveksi-kepusingan-ditagih-thr-pemuda-kampung

- https://www.kompasiana.com/roelly87/54f71562a3331100258b4893/mengusir-pak-ogah-solusi-atau-benci


...

Jumat, 15 Maret 2024

Belilah Kolak dan Cemilan Buka Puasa di Pedagang yang Sepi

Belilah Kolak dan Cemilan Buka Puasa di Pedagang yang Sepi

 Belilah Kolak dan Cemilan Buka Puasa di Pedagang yang Sepi



Ilustrasi dagangan di rumah
(Foto: @roelly87)



RAMADAN merupakan bulan penuh berkah. Baik itu untuk mendapatkan pahala dengan beribadah maupun dalam mencari rezeki.

Ya, setiap Ramadan, memang perputaran roda ekonomi sangat menggeliat. Di awal bulan, dengan banyaknya warga yang berdagang makanan untuk berbuka puasa.

Baik itu kolak, gorengan, cemilan, kurma, minuman segar, dan sebagainya. Biasanya, berjejer di pinggir jalan yang menggugah selera.

Sementara, pertengahan bulan diramaikan dengan belanja busana jelang Lebaran. Baik itu baju, sepatu, busana muslim, dan sebagainya.

Jelang Idul Fitri, giliran moda transportasi yang kebanjiran berkah masyarakat yang ingin mudik. Pulang ke kampung halaman bisa dengan bus, kereta api, pesawat, ferry, atau travel.

Intinya, sepanjang 30 hari pada Ramadan, perputaran ekonomi di Tanah Air sangat menggeliat. Termasuk, saya sebagai ojek online (ojol) yang turut dapat berkah bulan puasa.


*       *       *


RINAI yang membasahi ibu kota sejak Sore membuat suasana kian syahdu. Di jalan raya, kemacetan mengular karena hari ini, pertama masuk kerja setelah libur cukup panjang.

Pada saat yang sama, suara jemaah di Masjid dan Musala terdengar merdu. Sahut-sahutan saat melaksanakan Salat Tarawih.

Tepatnya, saat saya melintasi kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Kebetulan, saya baru selesai mengantar makanan dari mal di Senayan.

Setelah buka puasa, saya langsung tancap gas menyalakan aplikasi ojol. Hari kedua Ramadan 1445 H, Rabu (13/3) saya absen Tarawih.

Buka pun di pinggir jalan disela-sela mengantar orderan. Beda dengan hari pertama, saya sahur dan buka di rumah bersama keluarga yang dilanjutkan Tarawih.

Setiap buka, menu saya identik. Air putih, kolak, dan gorengan.

Saya tidak bisa langsung makan berat seperti nasi, karena bikin ngantuk. Biasanya, baru santap usai Tarawih atau pukul 21.00 WIB.

Nah, saat itu, saya buka di Rawabelong, Jakarta Barat. Cukup air mineral, kolak pisang, dan bala-bala yang dibuat Ibu di rumah.

Usai nganter orderan, saya duduk sejenak di emperan toko. Lanjut ngemil bala-bala dengan dicocol cengek.

Ketika itu, jalanan lumayan macet. Dari  belakang, terdengan jemaah yang sedang menunaikan Salat Tarawih.

Pada saat yang sama, arah Jam 9 dari posisi saya duduk, terdapat seorang pedagang. Saya amati sedang termenung duduk depan meja kayu panjang.

Tampak, dagangannya masih banyak. Terlihat bungkus lontong, kolak, dan kerupuk mie.

Saya pun spontan melirik jam di tangan kanan. Menunjukkan pukul 20.39 WIB.

Alias, sudah lewat dua jam lebih sejak buka puasa. Namun, dagangan tersebut masih cukup banyak.

Sementara, berjarak beberapa meter di sampingnya ada deretan meja jualan yang sudah sepi. Pertanda, sang pemiliknya sudah pulang karena dagangannya habis.

Beda dengan ibu tersebut yang masih duduk. Meski jalanan ramai, tidak ada yang singgah untuk beli.

Maklum, buka puasa sudah lewat. Jarang ada yang mau beli kolak atau gorengan. 

Seketika, saya terpantik. Jadi teringat Ibu saya yang jualan depan rumah pada 1996-2019.

Saya pun beranjak menuju dagangan tersebut. Engga ada niat apa-apa.

Sekadar ingin beli buat santap berat. Secara, sejak buka puasa hanya ngemil kolak dilanjutkan bala-bala.

Ternyata, menunya cukup lengkap. Ada Mie Goreng, Kwetiaw, Bihun, Tahu Isi, Lontong, dan Kerupuk Mie.

Saya beli sebungkus Kwetiaw, dua Tahu Isi, dan Kerupuk Mie. Sambalnya dipisah.

Ibu itu melayani dengan cekatan. Tampak, rautnya sangat semringah.

Usai mendapat kembalian, saya pun mengucapkan terima kasih. Disambut sang penjual dengan khidmat.

Tak lama, bunyi orderan di salah satu aplikasi. Saya pun bergegas meninggalkan lokasi tersebut.

Sepanjang jalan saya jadi ingat pengalaman Ibu yang jualan lebih dari 20 tahun. Sebagai single parents, Ibu merupakan wanita yang luar biasa.

Tanpa kenal lelah dalam membesarkan dua anaknya. Juga anak angkatnya sejak 2013 silam.

Setiap Senin-Jumat sejak pagi hingga Sore, jualan nasi, lauk, dan sayur. Kebetulan, dekat rumah banyak usaha konveksi, sablon, dan percetakan yang karyawannya pada makan di tempat kami.

Sabtu, Minggu, dan Libur, ganti dengan kue atau cemilan. Belinya, di Pasar Kue Subuh Senen, Jakarta Pusat.

Ketika Ramadan, jam dagang Ibu pun berubah dengan dua kali. Mulai pukul 15.00 hingga selesai buka dan 02.00 WIB sampai jelang imsak.

Seperti halnya pedagang, adakalanya ramai. Jualan cepat habis.

Di sisi lain, kadang juga harus siap saat sepi. Dagangan numpuk, bahkan tidak balik modal sama sekali.

Ya, itu risiko sebagai pedagang. Dulu, seusai Tarawih saya sering melihat Ibu saya merenung depan dagangannya yang masih banyak.

Ketika ditanya, pasti dijawab, "Udah dikit. Mau abis, kok. Tenang aja."

Padahal, aslinya masih banyak. 

Sumpah, masih banyak banget. 

Kejadian ini bukan sekali dua kali. 

Namun, Ibu berkata gitu bukan bermaksud bohong.

Melainkan, untuk membesarkan hati kami, anak-anaknya. Bahwa, dagangannya habis atau tidak, Ibu ingin memastikan kepada kami, bahwa dunia tetap baik-baik saja.

Itu mengapa, saya kalau melihat pedagang, khususnya saat Ramadan ini, jualannya masih banyak meski sudah lewat Maghrib, saya usahakan beli. Minimal kolak atau gorengan yang memang bisa dinikmati hingga Sahur.

Ya, tidak ada salahnya untuk melariskan dagangan mereka yang sepi. Terutama, jika yang jualan adalah tetangga atau masih satu lingkungan.


*       *       *


- Jakarta, 15 Maret 2024



*       *       *


Artikel Terkait


- https://www.roelly87.com/2024/02/simulasi-jualan-kolak-untuk-sambut.html


- https://www.kompasiana.com/roelly87/552b035bf17e614660d623b6/menikmati-jajanan-di-bursa-kue-subuh-pasar-senen?page=all#section2


- https://www.kompasiana.com/roelly87/55090d50a33311b4422e3b10/idul-fitri-sisi-lain-akibat-lebaran-diundur-ketupat-ibu-bisa-bisa-basi




*       *       *





...



Selasa, 05 Maret 2024

Anak Perwira Dijambret di Samping Polda Metro Jaya

Anak Perwira Dijambret di Samping PoldaMetro Jaya


Depan Polda Metro Jaya sebelum Semanggi
(Foto: @roelly87)




TEMPAT paling aman adalah tempat yang berbahaya. Demikian adagium lawas yang populer.

Saya jadi ingat saat baca novel cerita silat (cersil), Kembalinya Pendekar Pemanah Rajawali. Di Tanah Air pada dekade 1980-an dikenal dengan Sia Tiauw Hiap Lu, yang alihbahasa Hokkian, Cina, atau Inggrisnya, The Return of the Condor Heroes (ROCH).

Tentang Kiu Cian Ce, adik dari "si Tapak Besi" Kiu Cian Jin, yang menyembunyikan pil obat pemunah racun Lembah Putus Cinta. Korbannya, Yo Ko (Yang Guo, Mandarin), bersama Bibi Lung.

Pasangan murid dan guru itu sudah mencari obatnya di seluruh pelosok Lembah Cinta Putus. Namun, ternyata pil itu ada di aula utama di depan kursi Kiu Cian Ce.

Tempat yang terang benderang. Sekaligus, yang setiap hari didatangi Yo Ko dan Bibi Lung.

Adaptasi novelnya populer dalam serial tv Tanah Air pada pertengahan 1990-an. OST-nya pun terkenal berkat dibawakan Yuni Shara.

Demikian, mukadimah artikel ini. Lalu, apa hubungannya keberadaan Yo Ko di Lembah Putus Cinta dengan Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Metro Jaya?


*       *       *


MALAM itu, menjelang pergantian Phalguna, cuaca tampak dingin. Rinai membuat suasana ibu kota jadi lebih sejuk.  

Saya yang berprofesi sebagai ojek online (ojol) pun kian semangat melajukan kuda besi. Dari pusat bisnis Tanah Air menuju ke salah satu rumah dinas petugas berwarna cokelat.

Kebetulan, customer saya di salah satu aplikasi itu merupakan anak polisi. Jadi, saya iseng bertanya terkait kedinasan orang tuanya.

Hingga, saya syok mendengar pengalamannya beberapa waktu lalu. Tepatnya, saat melewati patung ikonik di jantung ibu kota, yang membuat saya mengernyitkan dahi.

Yaitu... Nyaris dijambret!

Kok, bisa ya?

Itu kan, markas polisi. Masa, sampe terjadi di tempat yang konon paling angker di Jakarta?


*       *       *


BEGINI, ceritanya. Penumpang saya itu, -sebut saja- Mawar, punya pengalaman buruk saat jalan kaki dari Stasiun MRT Istora menuju Halte Mapolda Metro Jaya untuk naik bus.

Menurutnya, saat itu belum larut. Cukup sore, untuk waktu Jakarta. 

Sekitar pukul 21.00-22.00 WIB. Ya, berkisar seperti itu.

Hanya, di samping Mapolda memang sepi. Lampu jalan pun sangat temaram.

Saya membuktikannya sendiri. Setelah mengantarnya ke mes di pinggiran, saya iseng foto samping Mapolda yang bersisian dengan Jembatan Semanggi arah Patung Pemuda.

Lanjut...

Mawar cerita saat jalan kaki dihampiri orang tak dikenal (OTK) 

Pria.

Usia tidak tahu. Namun, katanya berkisar 30-40 tahunan.

Pria tersebut mendekatinya. Perlahan.

Mawar pun ga begitu sadar. Dipikirnya, orang lewat.

Maklum, sisi timur laut Mapolda kan memang pedestrian tempat lalu-lalang pejalan kaki. Wajar, jika Mawar tidak menganggap aneh.

Hingga, ketika OTK menarik tasnya. Mawar pun kaget.

Beruntung, reaksinya cepat. Mawar tetap memegang tasnya dengan erat.

"Kami sampe tarik-tarikan, pak. Tahu kan, gimana besarnya tenaga cowo?" kata Mawar merekonstruksi insiden tak terlupakan itu.

Syukurnya, adu tarik itu tak berlangsung lama. OTK tersebut pun sipat kuping.

Mungkin, menyadari kalo targetnya gigih. OTK itu enggan ambil risiko.

Sebab, lokasi penjambretan tepat di samping Mapolda Metro Jaya. 

Sekali lagi, MARKAS KEPOLISIAN!

OTK itu pun kabur. Sementara, Mawar yang syok langsung menghubungi orangtuanya yang juga polisi.

Entah Perwira Tinggi (Pati) atau Perwira Menengah (Pamen). Yang pasti, orang tua Mawar punya jabatan lumayan di kepolisian.

Bagaimana kisah selanjutnya? 

Entahlah.

Yang pasti, Mawar sudah lapor ke orang tuanya. Apalagi, di sekitar Mapolda Metro Jaya terpasang CCTV.

Namun, yang saya ga habis pikir, kok bisa ya. Ada orang nekat berbuat kriminal di sekitar markas polisi.

Apalagi, ini Mapolda. Levelnya sudah tinggi. 

Di atas Pos Lalin, Pospol Subsektor, Mapolsek, dan Mapolres.

Apa tidak ada anggotanya yang keliling. Atau, minimal mengamati CCTV.

Ya, seperti yang saya ulas pada awal artikel. Tempat paling aman, bisa jadi tempat yang berbahaya.

Termasuk, di kawasan Ring Satu Istana Negara. Kebetulan, saya pernah menulisnya di Kompasiana pada 2013 silam, tentang maraknya balap liar di Jalan Medan Merdeka Utara yang kerap menimbulkan korban jiwa.

Termasuk, pengendara yang lewat dan pedagang yang tak bersalah harus jadi korban. 

Kalo pembalapnya? Sebodo teuing. Menyusahken bebaturan wae!

Lokasinya? Hanya seperlemparan batu dari Markas Besar TNI AD!

Wow...

Serius? Yoi.

Ini linknya, artikel saya pada 2013 lalu, https://www.kompasiana.com/roelly87/552c62e86ea83417078b456e/ketika-kawasan-istana-jadi-arena-balap-liar?page=all.

Artikel itu juga masuk Harian Kompas dalam edisi Freez. Yaitu, lembaran khusus untuk memuat hasil karya Kompasianer -penulis Kompasiana- pada dekade lalu.

Linknya di Kompas masih ada, https://nasional.kompas.com/read/2013/05/01/04044622/kawasan.istana.jadi.arena.balap.liar.

Nah, 11 tahun berselang, balap liar itu masih ada. Serius.

Yongkru, kan saya ojol. Sering nongki-nongki di Stasiun Gambir.

Kendati, rute balap liar sedikit dimodifikasi. Alias, tidak lagi lewat Medan Merdeka Utara. Sebab, jalan tersebut kalo Jumat, Sabtu, dan Minggu malam atau libur, diblokade dengan pagar kawat.

Alhasil, balap liar muter dari Medan Merdeka Timur ke Jalan Perwira dan Taman Pejambon.

Btw, di kawasan itu kan ada Markas Komando Garnisun 1 Jakarta dan Markas Komando Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad).

MARKAS KOSTRAD...

Eh?

Kok...

Waduh!


*       *       *


JADI, apa konklusinya dari artikel ini? Entahlah.

Intinya, ya tempat paling aman, bukan berarti tidak bahaya.

Alhasil, kita harus hati-hati. Contohnya nyata.

Di samping Mapolda Metro Jaya aja rawan jambret. Juga depan Markas Kostrad kerap balap liar yang bisa menimbulkan korban.

Duh...

Bener2 seram!

Jadi ingin ikut Yo Ko dan Bibi Lung ke Lembah Putus Cinta!


*       *       *

Samping Polda Metro Jaya arah Patung Pemuda
(Foto: @roelly87)


*       *       *


- Jakarta, 5 Maret 2023


*       *       *

*       *       *




...


Selasa, 27 Februari 2024

Catatan sebagai Anggota KPPS: Drama Pemilu 22 Jam

Catatan sebagai Anggota KPPS: 

Drama Pemilu 22 Jam

Saya dan anggota KPPS melakukan proses
penghitungan dengan memastikan kotak
suara kosong di hadapan panwas dan saksi
(Foto: Anggota KPPS TPS 06)



AKHIRNYA, 14 Februari pun tiba. Pesta demokrasi yang ditunggu rakyat Indonesia ini pun berlangsung sukses.

Yaitu, Pemilihan Umum (Pemilu) 2024. Yang berlangsung tiap lima tahunan untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden diikuti calon legislatif (caleg) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).

Suatu kebanggaan bisa jadi bagian dari hajatan akbar ini sebagai anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS). Ya, saya dan enam orang lainnya bertugas di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 06, Jakarta Barat.

Kami didampingi dua Pengamanan Langsung (Pamsung), satu Panitia Pengawas (Panwas), dan lima saksi.

Untuk saksi di setiap TPS berbeda. Tergantung tim calon presiden (capres), caleg, atau partai yang menunjuknya.

Di tempat saya ada lima yang bertugas untuk Pemilu 2024. Dua dari capres dan tiga caleg.

Nah, jadi bagian pesta demokrasi ini benar-benar hal baru untuk saya. Maklum, pada edisi sebelumnya memang tidak pernah.

Alhasil, pada Hari-H sempat diwarnai drama. Yah, namanya juga hidup.

Ibarat Sayur Asem yang jadi makanan favorit saya, kurang lengkap jika tanpa bumbu dan cabe. Pun demikian situasi sepanjang Rabu (14/2) hingga Kamis (15/2) dini hari WIB.

Mulai dari kurang tidur. Ya, saya hanya bisa tidur kurang dari dua jam jelang pencoblosan.

Maklum, saya termasuk golongan nokturnal yang berkebalikan dengan mayoritas individu lainnya. Ngojol (ngojek online) aja tiap hari sebagai kalong: Beroperasi dari sore hingga pagi.

Pun dengan menulis di blog. Saya lebih lancar saat menuangkan ide pada dini hari ketimbang siang atau sore.

Nah, pas bangun tidur, rumah saya kebanjiran. Waduh, pertanda apa ini?

Pun demikian ketika mengangkut kotak suara dan bilik dari kelurahan ke TPS. Hujan masih menggelayuti dengan ramah.

Kondisi TPS? Jangan tanya. Acak-acakan akibat diterpa angin kencang. 

Beberapa informasi terkait pencoblosan yang ditempel basah semua. Duh...

Puncaknya, terjadi kekeliruan hitung suara. Tak heran, kami yang mulai pukul 05.00 WIB untuk bolak-balik TPS dari dan ke Kelurahan harus berakhir pukul 02.45 WIB!

Alias, nyaris 24 jam nongki-nongki di bawah tenda! Sumpah, benar-benar pengalaman baru...

Eit, kita sudahi mukadimahnya. Sekaligus, menyambung dua artikel sebelumnya yang masuk dalam Trilogi Catatan sebagai Anggota KPPS.

Untuk postingan pamungkas ini bakal lebih panjang. Anda bisa skip jika artikel ini terasa lama dibaca mengingat saya juga harus merekonstruksi kejadian lebih dari sepekan terakhir.

Saya cek, artikel ini memuat seribu lebih kata. Lumayan panjang. 

Namun, masih jauh dari Catatan Harian Ojol: Semesta Ekalaya yang per artikelnya berkisar 2.000-4.000 kata.


*       *       *


SALAH satu syarat keberadaan TPS adalah dengan didirikannya tenda di pinggir jalan. Untuk apa?

Agar aman pas hujan. Baik pemilih yang akan mencoblos juga anggota KPPS dalam melakukan penghitungan suara.

Sumpah, baru kali ini saya ikhlas melihat tenda di pinggir jalan. Sebelumnya, selalu memaki hingga sumpah serapah jika ada yang melakukannya UNTUK HAJATAN!

Aneh aja, mereka yang nikah, tapi pengguna jalan yang direpotkan. Sebab, dengan adanya tenda kawinan itu membuat pengendara harus memutar lebih jauh.

Khusus untuk pemilu, wajar. Sebab, ini berlangsung lima tahun sekali.

Apalagi, sesuai rekomendasi Komisi Pemilihan Umum (KPU), setiap TPS harus memiliki luas tertentu. Gunanya, demi menampung warga yang menggunakan hak pilih.

Malam sebelum pencoblosan, tenda di tempat saya sudah siap dibangun. Pun demikian dengan meja, kursi, triplek, alat peraga, dan sebagainya.

Sejak Selasa (13/2) sore, kami bersembilan anggota KPPS dan Pamsung kerja bakti. Memasang berbagai instrumen di TPS hingga lewat tengah malam.

Saat itu, cuaca masih bersahabat. Kami pun pulang ke rumah masing-masing untuk istirahat.

Sebab, pukul 04.30 WIB, dijadwalkan sudah harus kumpul di TPS. Sebagian ke kelurahan untuk ambil kotak suara dan bilik coblos.

Sisanya, memasang perangkat seperti printer, speaker, laptop, dan sebagainya. Rencananya, seperti itu.

Namun, adakalanya ekspekstasi tak sesuai dengan kenyataan. Sebab, pukul 03.00 WIB, ibu kota diguyur hujan lebat! 


*       *       *


SAYA bangun pukul 04.15 WIB saat alarm di hp bergema. Mata masih 5 watt akibat tidur kurang dari dua jam.

Namun, kantuk langsung hilang ketika keluar kamar, kaki menginjak genangan. Wow... Banjir!

Buka pintu, hujan terdengar deras. Air pun mengalir kencang.

Di depan gang tampak genangan di mana-mana. Padahal, halaman rumah sudah dibuat tanggul dari semen untuk mengatasi banjir terdahulu.

Ternyata, rembes. Duh...

Mata pun langsung segar. Sebab, harus olahraga membuang air di rumah dengan gayung dan ember.

Kerja bakti sebelum bertugas di TPS. Wkwkwkwk...

Setelah berpeluh keringat hampir sejam, saya pun menemui sesama anggota KPPS dan pamsung, yang sudah bersiap di tenda. Kami pergi ke kelurahan untuk ambil empat kotak suara, yaitu presiden, DPR, DPD, dan DPRD, juga empat bilik pencoblosan.

Di kelurahan, ternyata sudah ramai. Kami pun antre untuk bergiliran ambil.

Skip...

Skip...

Pukul 06.30 WIB, kami tiba di TPS dengan basah kuyup akibat kehujanan di jalan. Beruntung, kotak suara dan bilik aman karena ditutup plastik.

Langsung, kami bersembilan sat-set. Bagi tugas masing-masing.

Panwas dan saksi turut berdatangan.

Ada yang pasang ulang lembar informasi pemilihan  Ada yang menyiapkan sarapan, khususnya kopi.

Dan lain-lain.

Waktu sudah mepet. 

Namun, wajar mengingat ini force majeur.

Pukul 07.15 WIB, kami melakukan sumpah janji anggota KPPS dan Pamsung. Dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Di luar tenda, sudah ramai. Masyarakat antre sambil membawa payung untuk memberikan haknya sebagai warga negara pada Pemilu 2024.

Kami pun bongkar kotak suara disaksikan panwas, saksi, dan warga. Yang pertama, kotak suara presiden, lalu urutannya DPR, DPD, dan DPRD.

Selesai.

Ini akhir dari awal. Saatnya memulai tugas sebagai anggota KPPS pada Pemilu 2024.


*       *       *


Skip



*       *       *


ALHAMDULILLAH, pelaksanaan Pemilu 2024 di TPS kami berlangsung sukses. Ini berkat kerja sama semua pihak.

Mulai dari kami seluruh anggota KPPS, Pamsung, Panwas, Saksi, warga, Pengurus RT, RW, hingga perwakilan Kelurahan yang ikut berpartisipasi.

Terima kasih untuk semua pihak...

Pemungutan suara untuk warga yang menggunakan hak pilih Daftar Pemilih Tetap (DPT), Daftar Pemilih Tambahan (DPTb), dan Daftar Pemilih Khusus (DPK) sejak pukul 07.30 WIB hingga 13.00 WIB berlangsung sesuai rencana.

Kendati, untuk penghitungan diwarnai drama. Pasalnya, dimulai usai kami makan pukul 13.30 WIB hingga baru rampung pukul 02.45 WIB!

Alias, 22 jam nongki-nongki di bawah tenda. Pantat pegal akibat kebanyakan duduk.

Mata sepat karena harus teliti memelototi ribuan lembar kertas. Tangan keriting akibat bolak-balik halaman.

Termasuk, saya sebagai ketua harus mengisi lebih dari 200 lembar surat suara dengan pulpen disertai tanda tangan. Masing-masing dikali empat tipe surat suara untuk presiden, DPR, DPD, dan DPRD.

Puji Tuhan, semua terbayar lunas. Tidak ada kesalahan fatal.

Yupiii...


*       *       *


KAMI tidak sempurna. Apalagi, saya dan anggota KPPS lainnya masih baru kali ini berpartisipasi dalam pemilu.

Jadi, meski tidak ada kesalahan fatal, tetap memiliki kekeliruan. Minor sih.

Namun, dampaknya bikin waktu selesai jadi molor. Saya sebagai ketua, udah komitmen penghitungan suara rampung sebelum pukul 22.00 WIB.

Apa daya, harus molor empat jam!

Maaf ya, kepada semua pihak. Khususnya, panwas dan saksi yang harus lama menanti kami selesai.

Kami harus menghitung ulang pada surat suara DPR. Sebab, ada hasil partai yang tidak sinkron dengan calon legislatif (caleg).

Contoh penjabarannya gini, Partai Anime dapat 40 suara di TPS kami. Untuk caleg:

1. Son Goku = 19 suara

2. Nobita = 11 suara

3. Ninja Hattori = 8 suara

4. Tuxedo Bertopeng = 8 suara

5. Pegasus Seiya = 5 suara

Nah, jika dijumlahkan lima caleg itu berjumlah 41 suara. Lebih euy.

Harusnya, kelimanya dapat 40 suara seperti total Partai Anime.

Gimana solusinya?

Ya, harus hitung ulang. Tidak mungkin kami asal tebak seperti cenayang, mana yang lebih atau kurang.

Alhasil, hitung ulang memakan waktu. 

Capek...

Tentu.

Harus bongkar kotak suara lagi. Meneliti lembar demi lembar.

Dan, yang penting harus izin panwas serta saksi. Sebab, mereka memegang peranan penting.

Agar, tidak ada dugaan manipulasi. Kami memang salah, tapi ga mau sampe difitnah menggelembungkan suara.

Ketika panwas dan saksi setuju, hitung ulang pun dimulai. Tetesan keringat sebesar biji jagung terlihat di salah satu anggota.

Maaf ya...

Sebagai ketua KPPS, saya yang bertanggung jawab penuh di TPS 06. Termasuk, jika ada kesalahan.

Namun, bagaimanapun hitung ulang harus dilakukan agar hasilnya sesuai. Secapek apa pun itu.

Apalagi, seperti yang saya tegaskan pada artikel pertama dari trilogi ini, bahwa kami supertim. Bukan superman yang one man show.

Salah satu, ya salah semua. Jika sukses, juga sukses semua.


*       *       *


TERNYATA, satu suara nyelip di Hattori. Harusnya, caleg itu dapat 7 suara.

Namun, saat penghitungan lebih satu. Ya, manusiawi mengingat kami sudah cukup lelah.

Yang pasti, ketika penyakit itu sudah diketemukan, selanjutnya selesai. Hitungan cocok seluruhnya dengan Partai Anime tetap dapat 40 suara. 

Yang berubah hanya komposisi caleg. Huff, lega...

Selesai?

Tentu saja, belum. Sebab, Aplikasi Sirekap error terus. 

Memang, sejak pertama kali Bimbingan Teknologi (Bimtek) sudah diwanti-wanti untuk antisipasi. Itu mengapa, setiap TPS ada dua anggota KPPS tugasnya berkaitan dengan laporan di Sirekap.

Yaitu, anggota 3 (tiga) yang utama pegang aplikasi dan 5 (lima) sebagai back-up. Apa daya, sejak H-14 aplikasi tersebut kerap error.

Grup WA Ketua KPPS di kelurahan pun kerap heboh. Puncaknya, pas Hari-H. 

Sejak sore, aplikasi Sirekap masih error. Itu barakibat kami kesulitan untuk mengirim laporan.

Maklum, pada Pemilu 2024 ini, memang hasilnya bisa langsung dilihat siapa saja di TPS. Baik itu saksi, wartawan, perwakilan tim survei, hingga warga pun berhak mengabadikan hasilnya, entah lewat foto maupun rekaman video.

Bebas.

Lalu, bagaimana saat pencoblosan? Apakah warga boleh untuk foto dan merekam ketika sedang menusuk kertas suara dengan paku?

Tidak!

Sesuai regulasi KPU, dilarang merekam di bilik suara. Kami pun mengikuti arahan tersebut.

Meski, ada saja yang secara diam-diam mencoba. Namun, ada anggota kami yang memberi tahu secara sopan.

Alhamdulillah, tidak ada masalah. Mereka mengerti dan langsung menyimpannya di saku.

Prosesi pencoblosan selama 5,5 jam pun berlangsung kondusif. Khususnya, pagi saat masih rinai.

Mereka antre dan duduk sesuai undangan surat memilih yang dibagikan pada h-3 sebelumnya. Kendati, di lapangan kami sepakat untuk memprioritaskan tiga tipe pemilih, yaitu:

1. Penyandang disabilitas

2. Ibu hamil

3. Lansia

Kebetulan, di TPS kami tingkat partisipasi warga cukup tinggi. Nyaris 200 pemilih yang hadir untuk menyalurkan suaranya.

Termasuk tiga di antaranya DPTb dan satu DPK.

Bagaimana dengan yang sudah hadir tidak bawa surat undangan? 

Tidak masalah.

Ada lebih dari 20 orang. 

Selama NIK tercantum di DPT Online dan bawa KTP asli atau fotokopinya, silakan. Setiap warga negara punya hak untuk memilih dan kami sebagai petugas, wajib melayaninya.

Bahkan, kami bangga karena beberapa pemilih ada yang jauh-jauh datang dari luar kota. Mereka masih 1 KK yang sedang tugas atau kuliah di luar kota tapi menyempatkan diri untuk hadir di DPT terdaftar.

Ya, satu suara sangat berharga demi menentukan arah negara ini dalam lima tahun ke depan. Salut dengan partisipasi warga!


*       *       *


SEBELAS hari setelah pencoblosan, akhirnya tugas saya dan anggota KPPS lainnya selesai. Tepatnya, setelah Minggu (25/2) grup antarketua diinfokan clear.

Alias, di kelurahan kami yang terdapat lebih dari 50 TPS sudah dilakukan penghitungan berjenjang di kecamatan. Hasilnya pun bisa diketahui di web resmi KPU.

Btw, penghitungan hasil coblosan untuk Presiden, DPR, DPD, dan DPRD memang bertingkat secara manual. Itu mengapa, KPU baru mengumumkan hasil resminya pada 20 Maret mendatang.

Bagi saya, sebagai warga negara, siapa pun presidennya, berharap mampu membawa Indonesia lebih baik ke depannya. Begitu juga dengan anggota legislatif (Aleg) terpilih di DPR, DPD, dan DPRD, semoga bisa menyuarakan aspirasi rakyat.

Akhir kata, Pemilu 2024 sudah selesai. Namun, jangan lupa masih ada satu lagi pada akhir tahun.

Yaitu, Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang berlangsung 27 November mendatang. Termasuk, di DKI Jakarta yang dalam dua tahun terakhir dipimpin PJ Gubernur.

Saya berharap, pilkada nanti juga berlangsung damai. Secara pribadi, saya belum berencana untuk ikut serta lagi sebagai anggota KPPS.

Maklum, masih cukup lama. Sekarang, fokus mencari nafkah untuk menyambut Bulan Suci Ramadan.

Sampai jumpa!


*       *       *

Pemasangan tenda sehari 
sebelum pencoblosan
(Foto: Anggota KPPS TPS 06)


*       *       *

Foto bersama seluruh anggota KPPS dan 
Pamsung sebelum memulai pencoblosan
(Foto: Anggota KPPS TPS 06)


*       *       *

Antrean warga untuk memilih dengan
sebelumnya menyimak informasi
pencoblosan Pemilu 2024 di depan TPS
(Foto: Anggota KPPS TPS 06)


*       *       *

Penyandang disabilitas, Lansia, dan
Ibu Hamil mendapat prioritas lebih awal
dalam pencoblosan pukul 07.30 WIb
(Foto: Anggota KPPS TPS 06)


*       *       *

Proses penghitungan suara yang
berlangsung hingga tengah malam
(Foto: Anggota KPPS 06 TPS)


*       *       *

Laporan ke grup WA KPPS
bahwa kotak suara, bilik, dan
perlengkapan pencoblosan
selesai dikembalikan ke kelurahan
(Foto/SS: @roelly87


*       *       *

Alhamdulillah, perhitungan suara
di tingkat kelurahan rampung


*       *       *

*       *       *


banjir euy


*       *       *




*       *       *





*       *       *





*       *       *





*       *       *






*       *       *







*       *       *





*       *       *



*       *       *



*       *       *


*       *       *


*       *       *


*       *       *


*       *       *

*       *       *

*       *       *


- Jakarta, 27 Februari 2024


*       *       *


Artikel Trilogi sebagai Anggota KPPS 


- Sehari Jadi Abdi Negara (I)

- Jadi Ketua dan Menerapkan Demokrasi Versi Mikro (II)


*       *       *


Artikel Terkait: 


- https://www.roelly87.com/2014/10/sosialisasi-pemilu-melalui-sepak-bola.html


- https://www.kompasiana.com/roelly87/54f7134aa3331146228b4759/pesan-ketua-kpu-untuk-dua-kandidat-calon-presiden?page=all#sectionall


...

Senin, 19 Februari 2024

Catatan sebagai Anggota KPPS: Jadi Ketua dan Menerapkan Demokrasi Versi Mikro

Catatan sebagai Anggota KPPS: 

Jadi Ketua dan Menerapkan

Demokrasi Versi Mikro

Saya sedang mengecek surat suara presiden
didampingi seluruh anggota KPPS 

(Foto: @roelly87)



JADI anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) merupakan kebanggaan yang luar biasa. Apalagi, dipercaya sebagai ketua di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 06, lokasi saya berada.

Ketua?

Wow...

Mengatur diri sendiri aja masih kesulitan. Apalagi, harus mengurus delapan anggota lainnya?

Btw, setiap TPS terdapat tujuh anggota KPPS dan dua Pengamanan Langsung (Pamsung). Itu belum termasuk Panitia Pengawas (Panwas), saksi, dan sukarelawan.

Untuk saksi di setiap TPS berbeda. Tergantung tim calon presiden (capres), caleg, atau partai yang menunjuknya.

Di tempat saya ada lima yang bertugas untuk Pemilu 2024. Dua dari capres dan tiga caleg.


*       *       *


DEMIKIAN mukadimah artikel ini. Sekaligus, menyambung postingan blog sebelumnya.

Intinya, sebagai ketua, saya memiliki tanggung jawab yang lebih besar dibanding anggota lainnya. Di sisi lain, honornya pun beda.

Yoi... Meski terpaut selembar merah.

Anggota dapat Rp XXX. Sementara, saya sebagai ketua terima Rp ZZZ.

Hanya, ketua ini bukan soal duit. Kompleksnya situasi dan kondisi dalam mengemban tanggung jawab jadi tantangan tersendiri.

Seperti yang saya singgung pada awal paragraf. Menyatukan sembilan kepala bukan tugas mudah.

Apalagi, ini terkait pemilu. Jelas, pesta demokrasi ini tidak boleh main-main.

Sebagai manusia, kita tentu punya ego. Termasuk, saya sebelum menentukan rencana terkait penyelenggaraan pemilu di TPS 06 sejak Januari lalu.

Adakalanya, dalam eksekusi, saya ingin A. Pada saat yang sama, anggota Y ingin B, si X ingin C, dan lainnya.

Di sisi lain, sebagai ketua, tentu saya punya hak veto. Wkwkwkwk udah kayak di PBB aja!

Namun memang benar, sebagai ketua, memiliki diskresi dalam penentuan sesuatu di TPS masing-masing. Hanya, kembali lagi demi kelancaran bersama wajib dibicarakan ke semua anggota.

Nah, sebagai negara demokrasi, tentu saya harus menekankan musyawarah mufakat. Alias, berembuk ke seluruh anggota.

Apa pun itu soalnya. Baik terkait teknis, misalnya untuk penentuan rapat, atau anggaran seperti pemasangan tenda, konsumsi, dan sebagainya.

Jika mentok, mau tidak mau harus dilakukan opsi pamungkas: 

Voting!

Suara terbanyak yang dipilih.

Yuppiii... Ini wujud demokrasi bernegara dalam versi mikro.


*       *       *


SEBAGAI ketua yang honornya lebih besar selembar, tentu saya tidak bisa nyantai. Alias, harus ikut kerja bersama anggota lain.

Apa pun itu. Misalnya, saat keliling untuk memberikan surat undangan ke tiga RT pada lokasi berbeda.

Saya wajib ikut. Kendati, harus mengorbankan rutinitas sebagai ojek online (ojol). 

Ya, saya empat hari harus libur ngojol. Pusing juga sih, ga ada pemasukan.

Sebab, ojol merupakan mata pencaharian satu-satunya. Namun, tetap semangat mengingat setelah Pemilu 2024 selesai, honor cair.

Mata pun langsung ijo melihat duit. Tuing... Tuing... Tuing...

Oh ya, sejak anggaran turun dari KPU kepada setiap TPS, saya langsung meminta kepada salah satu anggota KPPS untuk jadi bendahara. Tugasnya, seperti biasa mencatat pengeluaran.

Alhamdulillah, ada yang bersedia. Maklum, saya ogah megang duit.

Sebab, ribet bawa uang tunai di jalanan saat ngojol. Belum lagi harus beli ini dan itu.

Itu mengapa, saya butuh bendahara. Yang bersedia megang uang sekaligus belanja keperluan untuk TPS.

Btw, anggaran dari KPU untuk Pemilu 2024 cukup besar. Nilainya, Rp XXX yang dibagikan kepada setiap ketua KPPS.

Yaitu, untuk sewa tenda, printer, bangku, meja, penerangan, konsumsi, cemilan, ATK, dan sebagainya. Ini belum termasuk honor ya.

Alhamdulillah, dengan pengeluaran anggaran yang teliti dan hemat, kami tidak jadi nombok. Bahkan, masih ada sisa yang bisa untuk makan-makan dengan dibagi rata antara tujuh anggota KPPS dan dua Pamsung.

Kalo soal duit, memang bikin semangat... Mata pun ijo lagi. 

:)


*       *       *


SELALU ada harga yang harus dibayar. Ya, sebagai anggota KPPS membuat saya wajib istirahat untuk menulis di blog terkait politik.

Bisa dipahami mengingat saya merupakan penggemar Prabowo Subianto. Namun, sejak resmi dilantik 25 Januari lalu, saya tidak lagi menulisnya.

Terakhir, 8 Januari yang berlangsung sehari setelah Debat Capres Kedua. Sejak itu, saya hanya menulis soal makanan tiga kali dan sepak bola (sekali).

Gatal sih tangan, ingin menulis lagi mengingat draft sudah banyak. Beberapa artikel yang akhirnya terbengkalai yaitu, berjudul Dinasti Prabowi, Pemilu 2024 Tidak Hanya Pilpres, Kembalinya si Sesat Timur, Adu Kuat PDIP dengan PSI, dan sebagainya. 

Sebagai bloger yang hobi nulis apa saja sejak 2009 silam, situasi ini jadi dilema. Namun, saya harus istirahat sejenak memposting artikel terkait Pemilu 2024.

Pasalnya, sebagai anggota KPPS, jelas saya harus menjaga etika. Misalnya, saya yang jadi penggemar 02, tidak boleh memperlihatkan kepada publik.

Cukup dalam hati saja. Sebab, jika nekat, bisa mencoreng nama baik KPPS dan KPU.

Bagaimana dilemanya saat pencoblosan? Ga ada urusan.

Saya tidak terpengaruh saat mendengar 02 menang. Biasa saja.

Sebab, saya hanya menggemari. Bukan pendukung, simpatisan, relawan, dan sejenisnya.

Seperti yang saya tegaskan pada artikel "Prabowo: Sang Penculik yang Berharap Mandat Langit". Saya selalu menilai sesuatu dengan objektif.

Ada garis batas.

Contohnya, Juventus yang jadi klub favorit saya sejak 1994. Jika bagus saya puji. 

Ketika main buruk pun saya terima. Termasuk, legawa saat kalah dari AC Milan, FC Internazionale, Real Madrid, dan Barcelona.

Begitu juga dengan pilpres. Kendati pilihan saya keok dalam dua edisi beruntun, tapi saya tetap rasional.

Ga sekalipun saya ikut menjelek-jelekkan Jokowi hingga baper. Prabowo kalah pada 2014 dan 2019 ya sudah, memang garis takdirnya seperti itu.

Sementara, untuk kritik sudah pasti. Yang membangun alias konstruktif, baik lewat blog ini atau media sosial.

Itu mengapa, saya juga kerap diajak dalam beberapa acara yang berkaitan dengan pemerintahan Jokowi. Beberapa di antaranya bisa dilihat dalam artikel "Catatan Dua Tahun Kepemimpinan Jokowi-JK" dan "Antara Presiden Jokowi, Asian Games 2018, Blogger, dan Tantangan Menghadapi Revolusi Industri 4.0".

Saya juga turut diundang Sekretariat Kabinet untuk menyaksikan langsung kehidupan di perbatasan pada 2018 lalu. Saat itu, kementerian yang dipimpin Pramono Anung ini mengajak blogger untuk menengok lebih jelas kehidupan masyarakat di Entikong, Kalimantan Barat, yang berbatasan langsung dengan Malaysia (Selengkapnya di Halaman http://www.roelly87.com/p/selamat-datang-di-halaman-khusus.html).

Jadi, saya berusaha untuk fair. Ada garis batas dalam mencintai sesuatu.


*       *       *


AKHIRNYA, 14 Februari pun tiba. Pesta demokrasi yang ditunggu rakyat Indonesia ini pun berlangsung sukses.

Suatu kebanggaan bisa jadi bagian dari hajatan akbar ini. Meski, saat itu sempat diwarnai tantangan.

Mulai dari kurang tidur. Ya, saya hanya bisa tidur kurang dari dua jam jelang pencoblosan.

Maklum, saya termasuk golongan nokturnal yang berkebalikan dengan mayoritas individu lainnya. Ngojol aja tiap hari sebagai kalong: Beroperasi dari sore hingga pagi.

Pun dengan menulis di blog. Saya lebih lancar saat menuangkan ide pada dini hari ketimbang siang atau sore.

Nah, Rabu (14/2) pas bangun tidur, rumah saya kebanjiran. Waduh, pertanda apa ini?

Pun demikian ketika mengangkut kotak suara dan bilik dari kelurahan ke TPS. Hujan masih menggelayuti dengan ramah.

Kondisi TPS? Jangan tanya. Acak-acakan akibat angin kencang. 

Beberapa informasi terkait pencoblosan yang ditempel basah semua. Duh...

Puncaknya, terjadi kekeliruan hitung suara hingga dua kali. Tak heran, kami yang mulai pukul 05.00 WIB untuk bolak-balik TPS ke Kelurahan harus berakhir pukul 02.45 WIB!

Alias, nyaris 24 jam nongki-nongki di bawah tenda! Cukup? 

Lalu...

Panjang kalo diceritain dalan saru postingan.

Selengkapnya, pada artikel pamungkas dari trilogi sebagai Anggota KPPS...


*       *       *

Mengecek surat undangan memilih
 sebelum dibagikan kepada warga
(Foto: @roelly87)


*       *       *

Pemasangan tenda selesai malam sebelum 
pencobolsan (Foto: @roelly87)


*       *       *

Menjelang pencoblosan, situasi acak-acakan
akibat sebelumnya hujan (Foto: @roelly87)



*       *       *

Tanda tangan untuk lebih dari 260 surat pemilih × 4
(Presiden, DPR, DPD, dan DPRD)
(Foto: Anggota KPPS)


*       *       *

Pemilihan Ketua TPS 06
yang demokratis kepada
seluruh anggota KPPS


*       *       *

Penentuan waktu dan lokasi
rapat secara demokratis 


*       *       *

Voting seluruh anggota untuk
memilih waktu rapat antara
jam 2 siang atau 7 malam

 

*       *       *

Hasil voting, rapat diputuskan
malam hari


*       *       *

Bagi-bagi tugas, ada yang
 jadi bendahara, logistik, dll


 

*       *       *



*       *       *



*       *       *



*       *       *


*       *       *


*       *       *


*       *       *


*       *       *


*       *       *


*       *       *

Artikel Trilogi sebagai Anggota KPPS 

- Sehari Jadi Abdi Negara (1)

- Pemilu Kerja 22 Jam (III)


*       *       *


Artikel Terkait: 

- https://www.roelly87.com/2014/10/sosialisasi-pemilu-melalui-sepak-bola.html


- https://www.kompasiana.com/roelly87/54f7134aa3331146228b4759/pesan-ketua-kpu-untuk-dua-kandidat-calon-presiden?page=all#sectionall


...